Anda di halaman 1dari 12

Pokok Bahasan

1. 2. 3. 4. Pengertian Perilaku Kolektif & Perilaku Kerumunan Faktor Penyebab Perilaku Kerumunan Pengertian Gerakan Sosial Faktor Penyebab Gerakan Sosial

Perilaku Kolektif
Dalam sosiologi Perilaku Kolektif, diartikan sebagai perilaku yang tidak berpedoman pada institusi yang terdapat dalam masyarakat. Yaitu perilaku yang:
1. 2. 3. Dilakukan bersama oleh sejumlah orang Tidak bersifat rutin Merupakan tanggapan terhadap rangsangan tertentu (suatu peristiwa, benda atau ide).

Dalam perilaku kolektif selalu melibatkan perilaku sejumlah orang yang berkerumun.

PERILAKU KERUMUNAN
Menurut Le Bon (1966) kerumunan (crowd) dalam pengertian sehari-hari berarti sejumlah individu yang karena satu dan lain hal kebetulan berkumpul bersama. Sedangkan dari segi psikologis berarti sekumpulan orang yang mempunyai ciri baru yang berbeda sama sekali dengan ciri individu yang membentuknya. Kumpulan orang yang menjadi kerumunan terorganisasi (organized crowd) atau kerumunan psikologis (psychological crowd) - menjadi suatu makhluk tunggal yang tunduk pada kesatuan mental kerumunan (the law of mental unity of crowds).Suatu kerumunan mempunyai ciri baru yang semula tidak dijumpai pada masing-masing anggotanya. Kerumunan menurut Kornblum (1988) menekankan pada segi jarak, diartikan sebagai sejumlah besar orang yang berkumpul bersama dengan jarak dekat. Definisi Giddens menitikberatkan pada segi interaksi dan tempat dilangsungkannya interaksi tersebut, dalam definisi ini kerumunan terdiri atas sekumpulan orang dalam jumlah relatif besar yang langsung berinteraksi satu dengan yang lain di tempat umum.

Jenis-jenis Kerumunan
Blumer membuat klasifikasi jenis-jenis kerumunan, yaitu: 1. Kerumunan sambil lalu ( casual crowd) Para anggota kerumunan datang dan pergi, hanya secara sambil lalu memberikan perhatian pada suatu sasaran tertentu, dan interaksi satu dengan yang lain terjadi sangat terbatas. contoh: mengamati pedagang kaki lima menjual obat, kecelakaan 2. Kerumunan konvensional (conventional crowd) yaitu sekumpulan orang yang berada di suatu tempat untuk suatu tujuan yang sesuai dengan aturan yang berlaku. Contoh: para penumpang yang berkumpul di terminal bus, penonton pertandingan olahraga 3. Kerumunan ekspresif ( expressive crowd) Para anggotanya menyatakan perasaan mereka secara meluap-luap dan menampilkan perilaku yang biasanya tidak ditampilkan di tempat lain. Contoh: Para suporter yang meluapkan perasaan setiakawan dengan menari-nari, berteriak, bernyanyi-nyanyi. 4. Kerumunan bertindak (acting crowd) Sekumpulan orang yang memusatkan perhatian pada suatu hal yang merangsang kemarahan mereka dan membangkitkan hasrat untuk bertindak. Contoh: Adanya desas-desus tentang kolor ijo, seorang tamu di suatu wilayah Jawa Barat karena dianggap sebagai pelaku kolor ijo dianiaya oleh sejumlah warga.

FAKTOR PENYEBAB PERILAKU KERUMUNAN


Le Bon menyebutkan tiga faktor penyebab terjadinya kerumunan: 1. Karena kebersamaannya dengan banyak orang lain individu memperoleh perasaan kekuatan yang luar biasa yang mendorongnya untuk tunduk pada dorongan naluri. 2. Penularan (contagion), bahwa dalam suatu kerumunan tiap perasaan dan tindakan bersifat menular. Teorinya sering dinamakan teori penularan (contagion theory). 3. Suggestibility, bahwa dalam kerumunan individu mudah dipengaruhi, percaya, taat. Ia seakan-akan telah dihipnosis. Turner dan Killian mengemukakan bahwa dalam kerumunanpun muncul aturan baru (emergent norm theory), bahwa dalam interaksi yang tidak ada aturannya sering muncul aturan baru yang diikuti para anggota kerumunan. Contoh: pada demonstrasi anti Tionghoa di Bandung (1963), muncul aturan perusakan toko dibenarkan asal tidak terjadi pengambilan barang.

Teori lain dikemukakan oleh Horton dan Hunt, yaitu teori konvergensi; menurut teori ini perilaku kerumunan muncul dari sejumlah orang yang mempunyai dorongan, maksud, kebutuhan serupa. Smelser mengidentifikasikan enam faktor penentu perilaku.
1) Structural conducivenesss, faktor struktur situasi sosial yang memudahkan terjadinya perilaku kolektif Ketegangan struktural (structural strain) Berkembang dan menyebarnya suatu kepercayaan umum (growth and spread of a generalized belief) Faktor yang mendahului (percipitating factors) Mobilisasi para peserta untuk melakukan tindakan Berlangsungnya pengendalian sosial (the operation of social control)

2) 3)
4) 5) 6)

GERAKAN SOSIAL
Jary dan Jary (1995: 614-615) mendefinisikan gerakan sosial sebagai any broad social alliance of people who are associated in seeking to effect or to block an aspect of social change within a society__suatu aliansi sosial sejumlah besar orang yang berserikat untuk mendorong ataupun menghambat suatu segi perubahan sosial dalam suatu masyarakat. Berbeda dengan perilaku kolektif, Gerakan sosial ditandai oleh adanya tujuan atau kepentingan bersama. Gerakan sosial juga ditandai adanya tujuan jangka panjang yaitu untuk mengubah atau mempertahankan masyarakat atu institusi yang ada di dalamnya. Ciri lain gerakan sosial yaitu penggunaan cara yang berada di luar institusi yang ada (Giddens (1989), Light, Keller dan Calhoun (1989))

Dengan menggunakan kriteria tipe perubahan yang dikehendaki (perubahan peseorangan atau perubahan sosial) dan besarnya perubahan yang diinginkan (perubahan untuk sebagian atau perubahan menyeluruh), Aberle membedakan empat tipe gerakan sosial,
1. Alterative movement, merupakan gerakan yang bertujuan mengubah sebagian perilaku perseorangan. Contoh: gerakan anti narkoba 2. Redemptive movement, gerakan ini lebih luas daripada alterative movement, karena yang hendak dicapai ialah perubahan menyeluruh pada perilaku perseorangan. Contoh: gerakan di bidang agama, misal perseorangan diharapkan untuk bertobat dan mengubah cara hidupnya sesuai ajaran agama 3. Reformative movement, yang hendak diubah bukab perseorangan melainkan masyarakat namun ruang lingkup yang hendak diubah hanya segi-segi tertentu masyarakat. Contoh; Gerakan kaum perempuan untuk memperjuangkan persamaan hak dengan laki-laki 4. Transformative movement, merupakan gerakan untuk mengubah masyarakat secara menyeluruh. Contoh: Gerakan kaum Khmer Merah untuk menciptakan masyarakat komunis di Cambodia.

Kornblum, menggunakan kriteria gerakan sosial berdasarkan tujuan yang hendak dicapai. Atas dasar kriteria ini Kornblum membedakan ada empat, yaitu: 1. Revolutionary movement, yaitu apabila gerakan sosial bertujuan mengubah institusi dan stratifikasi masyarakat. Contoh: Revolusi di Rusia (1917) dan di Tiongkok (1949), karena dikedua masyarakat tersebut sistem budaya, sosial, politik dan ekonomi lama dirombak menjadi sistem komunis. Giddens, suatu revolusi harus memenuhi tiga kriteria: (1) melibatkan gerakan sosial secara massal, (2) menghasilkan proses reformasi atau perubahan, (3) melibatkan ancaman atau penggunaan kekerasan. Reformist movement, yaitu jika suatu gerakan hanya bertujuan mengubah sebagian institusi dan nilai. Contoh: gerakan Boedi Oetomo (1908) karena terutama bertujuan memberikan pendidikan Barat formal kepada masyarakat pribumi. Conservative movement, yaitu gerakan yang berupaya mempertahankan nilai dan institusi masyarakat. Reaksionary movement, yaitu gerakan dimana tujuannya ialah untuk kembali ke institusi dan nilai di masa lampau dan meninggalkan institusi dan nilai masa kini. Contoh: gerakan Ku Klux Klan di AS, dimana berusaha mengembalikan keadaan di AS ke masa lampau dikala institusi sosial mendukung asa keunggulan kulit putih di atas orang kulit hitam (white supremacy).

2.

3. 4.

FAKTOR PENYEBAB GERAKAN SOSIAL


1. Deprivasi ekonomi dan sosial (Giddens (1990), Kornblum (1988), Light, Keller dan Calhoun (1989)). Bahwa orang melibatkan diri dalam gerakan sosial karena menderita deprivasi (kehilangan, kekurangan, penderitaan). 2. Deprivasi relatif (James Davies), yaitu kesenjangan antara pemenuhan kebutuhan yang diinginkan masyarakat dengan apa yang diperoleh secara nyata. Apabila kesenjangan relatif ini semakin melebar sehingga melewati batas toleransi masyarakat, misalnya karena pertumbuhan ekonomi dan sosial diikuti dengan kemacetan atau bahkan kemunduran. Sejumlah ahli sosiologi berpendapat bahwa perubahan sosial memerlukan pengerhan sumber daya manusia maupun alam. Tanpa adanya pengerahan sumber daya suatu gerakan sosial tidak akan terjadi, meskipun deprivasi tinggi.