Anda di halaman 1dari 26

Askep Penyakit Addison

Askep Penyakit Addison


by Heri Setiawan

A. Definisi Penyakit Penyakit Addison merupakan penyakit isufiensi adrenal yang mengakibatkan sindrom klinik ( Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Endokrin, 1999 ). Penyakit Addison Merupakan suatu proses patologik akibat dari isufiensi dikorteks adrenal. ( Patofisiolagi Vol 2, 2005 ) Penyakit Addison Adalah Kegagalan korteks adrenal memproduksi hormon adrenokortikal yang disebabkan oleh atropi primer pada korteks adrenal akibat automunitas (www.goegle.co.id) Penyakit Addison ( insufiensi adrenokortikal ) terjadi jika adrenal yang kurang aktif menghasilkan kortikosteroid dalam jumlah yang tidak memadai (www.Medicastore.com). B. Etiologi Etiologi dari penyakit Addison antara lain adalah : - Autoimmune ( Idiopatik ). - Pengangkatan Kelenjar adrenal. - Infeksi pada kelenjar adrenal. - Tuberkulosis. - Isufiensi ACTH Hipofise ( Ilmu Penyakit Dalam I edisi 3, 1996 ) C. Web Of Caution Penyakit Addison atau isufiensi adrenokortikal terjadi bila fungsi hormone-hormon korteks adrenal. Atrofi otoimun atau idiopatik pada kelenjar adrenal merupakan penyebab pada 75% kasus penyakit Addison ( stren & tuek, 1994 ). Penyebab lainnya adalah mencakup operasi pengangkatan kedua kelenjar adrenal atau infeksi pada kedua kelenjar tersebut. Tuberkulosis (TB) dan hitoplasma merupakan infeksi yang paling sering ditemukan dan menyebabkan kerusakan pada kelenjar adrenal, sekresi ACTH yang tidak adekuat dari kelenjar hipofisis juga akan menimbulkan isufiensi adrenal akibat penurunan stimulasi

korteks adrenal. Gejala isufiensi adrenokartikal dapat pula terjadi akibat penghentian mendadak terapi hormon adrenokortikal yang akan menekan respons normal tubuh terhadap keadaan stress dan mengganggu mekanisme umpan balik normal. Terapi denganb pemberian kortikosteroid setiap hari selama 2 minggu 4 minggu dapat menekan fungsi adrenal ; Oleh sebab itu, kemungkinan penyakit adddison harus diantisipasi pada pasien yang mendapat pengobatan kortikosteroid. ( Keperawatan Medikal Bedah II, edisi 8,2001 ) D. Manifestasi Klinis Penyakit Addison ditandai oleh kelemahan otot anoreksia, gejala gastrointestinal, keluhan mudah lelah, emasiasi ( Tubuh kurus kering ); Pigmentasi pada kulit, bulu-bulu jari, lutut, siku serta membran mukosa ;hipotensi, kadar glukosa darah dan natrium serum rendah; dan kadar kalium serum yang tinggi. Pada kasus yang berat, gangguan metabolisme natrium natrium dan kalium yang dapat ditandai oleh pengurangn natrium dan air,serta dehidrasi yang kronis dan berat. Dengan berlanjutnya penyakit yang disertai hipotensi akut akibat dari hipokortikoisme, pasien akan mengalami krisis addisonian yang ditandai oleh sianosis, panas dan tanda-tanda syok, pucat, perasaan cemas, dennyut nadi cepat dan lemah, pernafasan cepat serta tekanan darah rendah. Disamping itu, pasien dapat mengeluh sakit kepala, mual, nyeri abdomen serta diare , dan memperlihatkan tanda-tanda kebingungan serta kegilasahan. Bahkan aktivitas jasmani ynag sedikit berlebihan, terpajan udara dingin, infeksi yang akut atau penurunan asapan garam.( keperawatan Medikal Bedah II, edisi 8, 2001 ) E. Pemerikasaan Penunjang - Kadar kortisol dan aldosteron serum - Kadar ACTH serum - BUN - Kadar glukosa darah - Pemeriksaan urine - Pemeriksaan radiologi, anteriografi, sken - Pemeriksaan Ekce F. Penata laksanaan Terapi darurat ditujukan untuk mengatasi syok, memulihkan sirkulasi darah, memberikan cairan, melakukan terapi penggantian,kortisteroid, memantau tanda-tanda fital dan memempatkan pasien pada posisi setengah duduk dengan kedua tungkai ditingggikan.Hidrokortison ( Solu-cortef) disuntikkan secara intravena yang kemudian diikuti dengan pemberian infus dektrosa 5% dalam larutan normal salin. Preparat vasopretor amina mungkin diperlukan jika kedaan

hipotensi bertahan. Anti biotik dapat diberikan jika infeksi memicu krisis adrenal pada penderita insufiensi kronis adrenal. Asupan per oral dapat dimulai segera setelah pasien dapat menerimanya, secara perlahan-lahan. Pemberian infus dikurangi ketika asupan cairan per oral sudah adekuat, untuk mencegah hipokolemia jika kelenjar adrenal tidak dapat berfungsi kembali. Pasien memerlukan terapi penggantian seumur hidup untuk mencegah timbul kembali isufiensi adrenal serta krisis adisonia pada keadaan stress atau sakit. Selain itu pasien mungnkin akan memerlukan suplemen makanan penembahan garam, pada saat terjadi kehilangan cairan dari saluran cerna akibat muntah dan diare. ( Keperawatan medikal Bedah II, edisi 8.2001 ) G. Konsep Keperawatan 1. Pengkajian ( data focus ) a. Riwayat penyakit yang dapat menggali kemungkinan penyebab dan faktor yang mempermudah seperti operasi intra abdominal, radiasi kepala, pengangkatan hipofise atau adrenal. b. Keluhan yang biasanya mencakup kelelahan, tetapi dan tidak mampu beraktivitas juga tidak nafsu makan, mual, muntah, diare dan nyeri abdomen. c. Tanyakan pada klien pakah terjadi penuruanan berat badan selama enam bulan terakhir. Bagaimana masukan garamnya d. Pada klien wanita tanyakan pola menstruasinya, pada klien pria tanyakan apakah mengeluh impotensi. e. Tanyakan apakah klien menderita tuberculosis, karsinoma paru atau infeksi menahun kuman gram negatif, karena kesemuanya ini dapat menyebabkan hipofungsi idiopatik f. Penggunaan obat-obatan baik masa lalu maupun sekarang seperti golongan steroid, anti kuagulan dan obat sitotoknik g. Pemeriksaan fisik mencakup pigmentasi pada klit yang disebabkan oleh peransangan MSH akibat mekanisme kontrol hipofise yang terganggu. h. Kerontokon rambut tubuh. i. Banyak berkeringat, nyeri kepala, takikardia dan tremor dapat dijumpai bila klien mengalami hipoglikemia. j. Kaji juga tanda-tanda dehidrasi seperti turgor kulit yang buruk, mukosa kering dan penurunan berat badan. k. Pengkajian psikososial : Apakah klien tampak lertagi atau apasis, bingung atau psikosa; kaji bagaimana orientasi klien terhadap orang,tempat dan

waktu, keluarga mungkin akan mengeluh emosi klien labil dan sangat lemah. l. Pemeriksaan Laboratorium Mencakup : - Kadar kartisol dan aldosteron serum - Kadar ACTH serum - BUN - Kadar glukosa darah - Pemeriksaan urine terhadap 17 OHC dan 17 ketosteroid. - Pemeriksaan radiologi, anteriografi, sken-CT - Pemeriksaan EKG ( dapat dijumpai gelombang QRS yang melebur, interval PR memanjang dan elevasi gelombang ). Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem endokrin. 1999 ) 2. Diagnosa Keperawatan 1. Intoleransi aktivitas ( kelelehan ) berhubungan dengan ketidakseimbangan elektrolit. ( Carpenito, Lynda Juall. 1998 ) Definisi : Intoleransi aktifitas : Penurunan kapasitas fisiologi seseorang untuk mempertahankan aktivitas sampai ketingkat yang diinginkan atau diperlukan ( magnam, 1987 ) Batasan Karekteristik - Mayor : - Frekuensi nafas meningkat. - Pernafasan cepat - Nadi cepat dan lemah. - Minor : - Kelemahan Kelelahan. - Pucat atau sianosis - Kacau mental.

Faktor-faktor yang berhubungan. - Berhubungan dengan meningkatnya kebutuhan metabolisme sekunder terhadap : kelainan metabolic atau endokrin. - Situsional berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolic sekunder terhadap stress. 2. Kekurangan Volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan melalui ginjal / kelenjar keringat, saluran gastrointestinal ( Carpenito, Lynda Juall, 1998 ). Definisi Kekurangan volume cairan : keadaan dimana seseorang yang tidak makan dan minum peroral mempunyai resiko terjadinya dehidrasi vaskuler, interstisial atau intraseluler. Batasan karekteristik. - Mayor : - Ketidakcukupan masukan cairan peroral. - Tidak adanya keseimbangan antara asupan dan saluran. - Membran mukosa / kulit kering. - Berat badan kurang. - Minor : - Meningkatnya natrium darah. - Menurunnya saluran urine atau saluran urine berlebihan. - Sering berkemih. - Turgor kulit menurun. - Haus / mual/ anoreksia. Faktor faktor yang berhubungan. - Situsional Berhubungan dengan muntah / mual.

Berhubungan dengan menurunnya motivasi untuk minum, sekunder terhadap keletihan dan depresi - Berkurangnya asupan cairan yang dengan - Mual atau anoreksia, keletihan 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia ( carpenito, Lynda Juall. 1998 ) Definisi : Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh kondisi ini dilami oleh individu yang tidak mengalami puasa atau berisiko mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan tidak cukupnya masukan atau metabolisme nutrisi untuk kebutuhan metabolisme. Batasan karakteristik - Mayor : Seseorang yang mengalami puasa dilaporkan atau mempunyai ketidakcukupan masukan makanan, kurang dari ynag dianjurkan sehari-hari (RDA) dengan atu tanpa terjadinya penurunan berat badan dan /atau kebutuhan metabolic aktual atau potensial pada kelebihan masukan terhadap penurunan terhadap berat badan. - Minor : - Berat badan 10%-20% dibawah normal dan tinggi serta kerangka tubuh dibawah ideal. - Lipatan kulit trisep, lingkar lengan tengah, dan lingkar otot pertengahan lengan kurang dari 60% dari ukuran standart. - Penurunan albumin serum. Faktor-faktor yang berhubungan - Patofisiologi Berhubungan dengan muntah disengaja bahkan fisik berlebihan dari masukan kalori, atau menolak makan sekunder terhadap anoreksia. - Situsional Berhubungan denga menurunnya nafsu makan sekunder terhadap : - Anoreksia

- Stress - Mual dan muntah 4. Gangguan rasa nyaman nyeri kronis berhubungan dengan peningkatan asam lambung. Definisi : - Perubahan kenyamanan : Suatu keadaan dimana individu mengalami perasaan yang tidak nyaman dalam berespon terhadap stimulus yang berbahaya. Batasan Karekteristik - Mayor : Induvidu mengatakan atau terlihat tidak nyaman - Minor : Respon otonomi pada nyeri akut Tekanan darah meningkat. 5. Ganguan Pola istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri kronis ( Carpenito, Lynda Juall, 1998 ) Definisi : Gangguan pola tidur : suatu keadaan dimana individu mengalami atau mempunyai resiko mengalami istirahat yang menyebabkan ketidaknyamanan atau mengganggu gaya hidup yang diinginkan. Batasan karakteristik - Mayor : - Kesulitan jatuh atau tetap tertidur. - Minor : - Lelah pada saat bangun atau sepanjang hari. - Agitasi - Mengantuk sepanjang hari. - Perubahan atau perasaan. Faktor faktor yang berhubungan

- Patofiologis Berhubungan dengan sering kerusakan eliminasi yaitu diare. - Situsional Berhubungan dengan nyeri. 3. Rencana Tindakan Keperawatan 1. Diagnosa keperawatan : Intoleransi aktivitas ( kelelahan ) berhubungan dengan ketidakseimbangan elektronik.(Doenges,Marylin E.1999) Tujuan : o Menyatakan mampu untuk beristirahat,peningkatan tenaga dan penurunan rasa. o Mampu menunjukkan faktor yang berpengaruh terhadap kelelahan . o Menunjukkan peningkatan kemampuan dan berpartisipasi dalam aktifitas. Intervensi a. Kaji / diskusikan tinggkat kelemahan klien dan identifikasi aktifitas yang dapat dilakukan klien. Rasional : Pasien biasanya telah mengalami penurunan tenaga kelelahan otot menjadi terus memburuk setiap hari karena proses penyakit dan munculnya ketidakseimbangan natrium dan kalsium. b. Pantau tanda vital sebelum dan sesudah melakukan aktivitas,observasi adanya takikardi, hipotensi dan perifer yang dingin. Rasional : Kolapsnya sirkulasi dapat terjadi sebagai akibat dari stes aktifitas jika curah jantung berkurang. c. Diskusikan kebutuhan aktivitas dan rencanakan jadwal aktivitas bersama sama dengan pasien. Identifikasi aktivitas yang menyebabkan kelelahan. Rasioanal : terbangun sekunder terhadap

Aktivitas yang kurang selama menerima terapi hormon pengganti untuk memperbaiki tonus dan kekuatan otot, menurunnya kelelahan . Selain itu hal tersebut memberikan harapan bahwa kemampuan untuk melakukan aktivitas yang baik akan kembali seperti semula. d. Sarankan pasien untuk menentukan masa / periode antara dan melakukan aktivitas. Rasional : Mengurangi kelelahan dan mencegah ketegangan pola jantung . e. Berikan kesempatan kepada pasien untuk ikut berpartisipasi secara adekuat untuk melakukan aktifitasnya sehari hari sebagian atau seluruhnya. Tingkatkan keterlibatkan pasien sesuai kemampuan. Rasional : Menambahkan kenyakinan pasien dan harga dirinya secara baik sesuai dengan tingkat aktivitas yang dapat ditoleransinya . 2. Diagnosa keperawatan Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan kehilangan cairan melalui ginjal,kelenjar keringat. Saluran gastrointestional. (Doenges marylin E.1999) Tujuan Menunjukkan adanya perbaikan keseimbangan cairan dengan kriteria : pengeluaran urine yang adekuat (batas normal) , tanda-tanda vital stabil ,tekanan nadi periver jelas, turgor kulit baik , pengertian kapiler baik dan membran mukosa lembab / basah. Intervensi : a. Dapatkan riwayat dari pasien atau keluarga yang berhubungan dengan lama dan intensitas dari gejala yang muncul seperti contoh ; muntah, pengeluaran urine yang berlebihan Rasional: Membantu memperkirakan penurunan volume total cairan. b. Pantau tanda vital, catat perubahan tekanan darah pada perubahan posisi, kekuatan dari nadi perifer Rasional

Hipotensi postural merupakan bagian hipovolemia akibat kekurangan hormon aldosteron dan penurunan curah jantung sebagai akibat dari penurunan kortisol ,nadi mungkin melemah yang dengan mudah dapat hilang . c. Ukur dan timbang berat badan setiap hari Rasional Memberikan perkiraan kebutuhan akan penggantian volume cairan dan keefektifan pengobatan. Peningkatan berat badan yang cepat disebabkan oleh adanya retensi cairan dan natrium yang berhubungan dengan pengobatan steroid. d. Kaji pasien mengenai adanya rasa haus, kelelahan, nadi cepat, pengisian kapiler memanjang, turgor kulit jelek, membran mukosa kering, catat warna kulit dan temperaturnya. Rasional Untuk mengindikasikan berlanjutnya hipovolemia dan mempengaruhi kebutuhan volume pengganti. e. Auskultasi bising usus (peristaltik usus ). Catat dan laporkan adanya mual, muntah dan diare. Rasional : Kerusakan fungsi saluran cerna dapat meningkatkan kehilangan cairan dan elektrolik dan mempengaruhi cara untuk pemberian cairan dan nutrisi . f. Anjurkan cairan oral diatas 3000 ml / hari segera mungkin sesuai dengan kemampuan pasien. Rasional : Adanya perbaikan pada saluran cerna dan kenbalinya fungsi saluran cerna tersebut memungkinkan untuk memberikan cairan dan elektrolit melalui oral. g. Kolaborasi dalam memeberikan cairan 0,9% NaCI ( normal salin ) Rasional : Pasien mungkin memerlukan cairan pengganti 4-6 liter dengan pemberian cairan NaCL 0,9 % Melalui IV Sebanyak 500 1000 ml/jam dapat mengatasi kekurangan natrium yang telah terjadi. 3. Diagnosa Keperawatan :

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual/muntah, anoreksia.( Doenges, Marylin E. 1999) Tujuan : o Tidak ada mual dan muntah. o Menunjukkan berat badan stabil atau menungkat sesuai dengan yang diharapkan nilai laboratorium normal. Intervensi : a. Auskultasi bising usus dan kaji apakah nyeri perut mual atau muntah. Rasional : Kekurangan kortisol dapat menyebabkan gejala gastrointestinal berat yang mempengaruhi pencernaan dan absorbsi dari makanan. b. Catat adanya kulit yang dingin atau basah, perubahan tingkat kesadaran, nadi yang cepat, peka ransang,nyeri kepala sempoyongan. Rasional : Gejala hipoglikemia dengan timbulnya tanda tersebut mungkin perlu pemberian glukosa dan mengindikasikan pemberian tambahan glukokortikoid. c. Pantau pemasukan makanan dan timbang berat badan setiap hari. Rasional : Anoreksia, kelemahan dan kehilangan pengaturan metabolisme oleh kortisol terhadap makanan dapat mengakibatkan penurunan berat badan dan terjadinya malnutrisi yang serius. Perhatikan : Berat badan yang meningkat dengan cepat merupakan indikasi terjadinya retensi cairan atau pengaruh dari pemberian glukokortikoid. d. Catat muntah mengenai jumlah kejadian, atau karekteristik lainnya. Rasional : Ini dapat membantu menentukan derajat kemampuan pencernaan atau absorbsi makanan. e. Berikan informasi tentang menu pilihan. Rasional :

Pencernaan menu yang disukai pasien dapat menstimulasi nafsu makan dan meningkatkan pemasukan makanan. f. Kolaborasi dengan ahli gizi. Rasional : Bermanfaat menentukan penggunaan / kebutuhan kalori dengan tepat. g. Tingkatkan diet natrium, contoh : Daging, ikan, susu, telur. Rasional : Dapat menolong mencegah / memperbaiki hiponatremia. h. Pantau Hb,Ht. Rasional : Anemia dapat terjadi akibat defisit nutrisi atau pencernaan (difusi ) yang terjadi akibat retensi cairan sehubungan pemberian glukokortikoid. 4. Gangguan rasa nyaman nyeri kronis berhubungan dengan peningkatan asam lambung (Doenges, Marylin E. 1999) Tujuan : o Menyatakan nyeri abdomen hilang / terkontrol. o Menunujukkan menurunya tegangan, rileks, mudah bergerak. Intervensi : a. Pantau / catat karekteristik nyeri, catat laporan verbal, petunjuk non verbal, dan respon hemodinamik ( contoh meringis, menangis, gelisah, berkeringat, nafas cepat,TD / frekuensi jantung berubah. Rasional : Variasi penampilan dan perilaku pasien karena nyeri terjadi sebagai temukan pengkajian. b. Lingkungan yang tenang, aktivitas perlahan dan tindakan nyaman. Rasional : Menurunkan ransangan eksternal. c. Kolaborasi dalam pemberian analgasik.

Rasional : Untuk mengurangi nyeri pada abdomen. 5. Gangguan pola istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri kronis ( Doenges, marylin E. 1999 ) Tujuan : o Kebutuhan istirahat tidur dapat terpenuhi. o Kebutuhan tidur kurang lebih 7 -8 jam perhari. o Klien tidak lesu dan tidak gelisah. o Klien merasa nyaman. Intervensi : a. Jelaskan pada klien tentang pentingnya istirahat tidur bagi kesehatan. Rasional : Klien bisa mengerti manfaat tidur, sehingga termotivasi untuk memenuhi kebutuhan istirahat tidurnya. b. Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi. Rasional : Untuk mengalihkan dan mengurangi rasa nyeri yang dialami klien. c. Kaji kebutuhan istirahat tidur pasien. Rasional : Mengetahui sejauh mana pasien / klien mengalami gangguan dalam pemenuhan istirahat tidur. d. Batasi jumlah pengunjung dan ciptakan lingkungan yang aman. Rasional : Mendukung usaha pemenuhan istirahat tidur klien. DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Lynda Juall. 1998. Diagnosa Keperawatan Edisi 6. Jakarta : EGC

Doenges, Marylin E. 1999. Rencana asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta : EGC Rumaharbo, Hotman. 1999. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan sistem Endokrin. Jakarta : EGC Suddarth & Burmmer. 2001. Keperawatan Medikal Bedah II Edisi 8 Vol 2. Jakarta : EGC Suparman. 1996. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi III. Jakarta : FKUI Wilson, Loraine & Sylvia A. Price. 2005. Patofisiologi Vol II Edisi 6. Jakarta : EGC

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN ADDISON DISEASE I. KONSEP DASAR MEDIS A. Pendahuluan Addison Disease (AD) terjadi bila fungsi korteks adrenal tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan pasien akan hormon korteks adrenal. Penyebab terbanyak (75%) atrofi otoimun dan idiopatik, penyebab lain: operasi dua keelenjar adrenal atau infeksi kelenjar adrenal, TB kelenjar adrenal, sekresi ACTH tidak adekuat. Penghentian mendadak terapi hormon adrenokortika akan menekan respon normal tubuh terhadap stress dan menggangu mekanisme umpan balik normal. Terapi kortikosteroid selama dua sampai empat minggu dapat menekan fungsi korteks adrenal. B. Epidemiologi Insiden penyakit Addison adalah 4 per 100.000 penduduk, 50% pasien dengan penyakit addison, kerusakan korteks adrenalnya merupakan manifestasi dari proses atoimun. C. Definisi 1. Penyakit Addison adalah gangguan yang melibatkan terganggu fungsi bagian dari kelenjar adrenal disebut korteks. Hal ini menyebabkan penurunan produksi dua penting bahan kimia (hormon) biasanya dirilis oleh korteks adrenal: kortisol dan aldosteron. 2. Penyakit Addison adalah penyakit yang terjadi akibat rusaknya korteks adrenal.

3.

Addison Disease merupakan suatu penyakit hormonal yang disebabkan karena sekresi hormon korteks adrenal menurun karena penyakit primer atau insufisiensi korteks adrenal dan kekurangan sekresi ACTH.

D. Anatomi Adrenals dua kelenjar, masing-masing bertengger di atas bagian dari dua ginjal. Bagian luar dari kelenjar dikenal sebagai korteks; bagian dalam yang dikenal sebagai medula. Masing-masing bagian dari kelenjar adrenal adalah bertanggung jawab untuk memproduksi berbagai jenis hormon. Kortisol adalah hormon yang sangat kuat yang dihasilkan oleh korteks adrenal. Hal ini terlibat dalam mengatur fungsi yang hampir setiap jenis organ dan jaringan di seluruh tubuh, dan dianggap sebagai salah satu dari beberapa hormon mutlak diperlukan untuk hidup. Kortisol terlibat dalam: 1. proses yang sangat kompleks dan pemanfaatan nutrisi banyak, termasuk gula (karbohidrat), lemak, dan protein 2. fungsi normal dari sistem sirkulasi dan jantung 3. fungsi otot 4. fungsi normal ginjal 5. produksi sel darah 6. proses normal yang terlibat dalam rangka mempertahankan system 7. tepat fungsi otak dan saraf 8. respon normal dari sistem kekebalan tubuh Aldosteron, juga diproduksi oleh korteks adrenal, memainkan peran sentral dalam mempertahankan proporsi yang sesuai air dan garam dalam tubuh. Ketika keseimbangan ini marah, volume darah yang beredar di seluruh tubuh akan jatuh berbahaya yang rendah, disertai dengan penurunan tekanan darah. penyakit Addison juga disebut insufisiensi adrenocortical primer . Dengan kata lain, proses beberapa mengganggu langsung dengan kemampuan korteks adrenal untuk menghasilkan nya hormon. Tingkat kortisol dan aldosteron baik drop, dan banyak fungsi seluruh tubuh adalah terganggu.

Penyakit Addison terjadi pada sekitar pukul empat setiap 100.000 orang. Ini pemogokan baik laki-laki dan perempuan dari segala usia E. Etiologi Penyebab paling umum penyakit Addison adalah Kerusakan dan menyusut (atrofi) dari adrenal korteks. F. Patofisiologi Kerusakan pada korteks adrenal mempengaruhi insufisiensi kortisol yang menyebabkan hilangnya glukoneogenesis, glikogen hati menurun yang mengakibatkan hipoglikemia, insufisiensi kortisol mengakibatkan ACTH dan sehingga merangsang sekresi melanin meningkat sehingga timbulMSH hiperpigmentasi. Defisiensi aldosteron dimanifestasikan dengan peningkatan

kehilangan natrium melalui ginjal dan peningkatan reabsorpsi kalium oleh ginjal kekurangan garam dapat dikaitkan dengan kekurangan air dan volume. Penurunan volume plasma yang bersirkulasi akan dikaitkan dengan kekurangan air dan volume mengakibatkan hipotensi. Pada sekitar 70% dari semua kasus, atrofi ini diduga terjadi karena adanya gangguan autoimun. Dalam gangguan autoimun, sistem kekebalan tubuh, bertanggung jawab untuk mengidentifikasi penyerbu asing seperti virus atau bakteri dan membunuh mereka, sengaja dimulai untuk mengidentifikasi sel-sel dari korteks adrenal sebagai asing, dan menghancurkan mereka. Pada sekitar 20% dari semua kasus, perusakan korteks adrenal disebabkan oleh tuberkulosis. Itu sisa kasus penyakit Addison dapat disebabkan oleh infeksi jamur, seperti histoplasmosis, coccidiomycosis, dan kriptokokosis, yang mempengaruhi adrenal kelenjar dengan memproduksi merusak, massa tumor seperti disebut Granuloma; penyakit amiloidosis disebut, di zat tepung yang disebut amiloid diendapkan pada abnormal tempat seluruh tubuh, mengganggu fungsi apa struktur itu hadir dalam; atau Invasi kelenjar adrenal oleh kanker. Pada sekitar 75% dari semua pasien, penyakit Addison cenderung menjadi sangat bertahap, perlahan-lahan berkembang penyakit. gejala signifikan tidak dicatat sampai sekitar 90% dari korteks adrenal telah dihancurkan. Yang paling umum termasuk gejala kelelahan dan hilangnya energi, penurunan nafsu makan, mual, muntah, diare, sakit perut, penurunan berat badan, lemah otot, pusing ketika berdiri, dehidrasi, tidak biasa bidang gelap (pigmen) kulit, dan freckling gelap. Sebagai penyakit berlangsung, pasien mungkin tampak telah sangat disamak, atau kulit berwarna perunggu, dengan penggelapan lapisan mulut, vagina, dan rektum, dan gelap pigmentasi daerah sekitar puting susu (aereola). Sebagai dehidrasi menjadi lebih parah, tekanan darah akan terus untuk drop dan

pasien akan merasa semakin lemah dan pusing. Beberapa pasien memiliki gejala kejiwaan, termasuk depresi dan mudah tersinggung. Perempuan kehilangan kemaluan dan rambut ketiak, dan berhenti setelah menstruasi normal periode. Ketika pasien menjadi sakit dengan infeksi, atau ditekankan oleh cedera, penyakit ini tibatiba dan kemajuan pesat, menjadi hidup mengancam. Gejala dari krisis "Addisonian" termasuk jantung abnormal irama, rasa sakit parah di punggung dan perut, tak terkendali mual dan muntah, penurunan drastis dalam darah tekanan, gagal ginjal, dan pingsan. Tentang25% dari pasien penyakit semua Addison diidentifikasi karena terhadap perkembangan krisis Addisonian. G. Manifestasi Klinik 1. Hipotensi 2. Pusing 3. Hiperpigmentasi pada kulit 4. Hipoglikemia 5. Anoreksia 6. Dehidrasi 7. Mual muntah 8. Cemas 9. Kelelahan dan kelemahan otot 10. Keringat dingin dan gemetar 11. Penurunan kesadaran Krisis Addison Manifestasi krisis Addison adalah sianosis, panas, tanda klasik syok (pucat,perasaan cemas, denyut nadi cepat dan lemah, pernapasan cepat, tekanan darah rendah). Krisis addison dapat dipicu oleh persiapan pemeriksaan diagnostik/pembedahan.Sakit kepala, mual, nyeri abdomen serta diare, bingung dan gelisah. Aktivitas berlebihan, terpajan udara dingin, infeksi akut, penurunan garam menyebabkan kolaps sirkulasi, sehingga terjadi syok dan kematian. H. Penatalaksanaan

1. Terapi darurat ditujukan untuk mengatasi syok, memulihkan sirkulasi, memberikan caiaran, pergantian kortikosteroid. 2. Pantau tanda-tanda vital. 3. Menempatkan klien pada posisi stengah duduk dengan kedua tungkai ditinggikan. 4. Hidrokortison disuntikan IV, kemudian IVFD D5% dalam larutan normal saline. 5. Kaji stress/keadaan sakit yang menimbulkan serangan akut. 6. Bila asupan oral (+), IVFD perlahan dikurangi 7. Bila Kelenjar adrenal tidak berfungsi lagi, perlu dilakukan terapi penggantian preparat kortikosteroid dan mineralokortikoid seumur hidup. 8. Suplemen penambah garam untuk menghindari kehilangan cairan dari saluran cerna akibat muntah dan diare.

I.

Pemeriksaan diagnostic 1. Hipoglikemia 2. Hiponatremia 3. Hiperkalemia 4. Leukositosis 5. Diagnosis pasti: ditegakkan berdasarkan kadar hormon adrenokortikal yang rendah dalam darah dan urin, kortisol serum turun. 6. Bila adrenokortikal sdh rusak: penyuntuikan ACTH tidak menaikkan kadar kortisol.

J. 1.

Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Dari tes laboratorium, penderita mengalami penurunan eksresi dari hasil pemecahan atau metabolit dari kortisol yaitu 17 hidrosikartikoid kadar-kadar kortisol plasma merah, sedangkan kadar ACTH plasma meningkat.

2. Inspeksi

Terdapat hiperpigmentasi pada permukaan esktremitas, mukosa pipi, lidah, lipatan telapak tangan dan sendi-sendi jari, puting susu, tampak gemetar, keluar keringat dingin. G. Diagnosa Banyak pasien tidak mengakui memperlambat kemajuan gejala dan penyakit ini akhirnya diidentifikasi ketika pemberitahuan dokter bidang pigmentasi meningkat kulit. Setelah dicurigai, sejumlah darah tes dapat menyebabkan diagnosis penyakit Addison. Hal ini tidak cukup untuk menunjukkan tingkat kortisol darah yang rendah, sebagai tingkat kortisol normal bervariasi cukup luas. Sebaliknya, pasien diberi dosis hormon lain pengujian disebut kortikotropin (ACTH). ACTH diproduksi di tubuh oleh kelenjar hipofisis, dan biasanya bertindak dengan mempromosikan pertumbuhan di dalam korteks adrenal dan merangsang produksi dan pelepasan kortisol. Pada penyakit Addison, bahkan dosis ACTH sintetik tidak meningkatkan tingkat kortisol. Untuk membedakan antara primer adrenocortical insufisiensi (penyakit Addison's) dan sekunder adrenocortical insufisiensi (yang disebabkan oleh kegagalan ACTH hipofisis untuk menghasilkan cukup), tingkat ACTH dalam darah diperiksa. Normal atau tingkat tinggi ACTH hipofisis menunjukkan bahwa bekerja dengan benar, tapi korteks adrenal biasanya tidak menanggapi ke kehadiran ACTH. Ini mengkonfirmasikan diagnosis Penyakit Addison. H. Prognosa Prognosis untuk pasien ditangani dengan tepat hidrokortison dan aldosteron sangat baik. Ini pasien dapat mengharapkan untuk menikmati masa hidup yang normal. Tanpa pengobatan, atau dengan perlakuan kurang lancar, pasien selalu berisiko terkena krisis Addisonian. Kekurangan vol.cairan Kehilangan cairan dan elektrolit Resiko penurunan curah jantung Hipotensi kecemasan P vol darah yg beredar Perubahan fungsi fisiologis Syok sirkulasi pd situasi stress Ketokolamin tidak memicu terjadinya vaso kontriksi

Tdk adanya efek permisif untuk banyak aktifitas metabolik Atropi idiopatik kelenjar Desrtuksi otoimun pd kelenjar Kesalahan produksi A.B yg menyerang korteks adrenal kelemahan Tdk terjadi metabolism produksi energy (asam laktat) Menghambat pengeluaran glikogen yg tersimpan di hati/otot Harga diri rendah Kulit menjadi hitam hiperpigmentasi Pproduksi melanin Merangsang pengeluaran MSH P glucagon hati Insufisiensi sekresi ACTH Insufisiensi kortisoldi hipofisis Pengeluaran natrium dlm urine P peneluaran K dalam urine Deplesi natrium hiponatriumia) Retensi Kalium(hiperkalemia Defisiensi aldostero di ginjal Defesiensi korteks adrenal

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian 1. Data subyektif : a. Mengeluh pusing b. Cepat lelah

2. Data obyektif : a. Hipotensi b. Hiponatrimia c. Keringat dingin d. Gemetar e. Mual-mual f. Hiperpigmentasi g. Kecemasan h. Nampak lemah i. Kadang-kadang terjadi penurunan kesadaran B. Diagnosa keperawatan 1. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit melalui ginjal. 2. Harga diri rendah berhubungan dengan hyperpigmentasi 3. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dan perubahan fungsi fisiologi 4. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolisme (kadar glucosa darah) 5. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung. C. Intervensi dan rasional Dx.1. Kekurangan volume cairan dari elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan dan natrium melalui ginjal. 1. Kriteria Evaluasi Yang Diharapkan: Pasien menunjukkan adanya perbaikan keseimbangan cairan, 2. Ditandai dengan : a. pengeluaran urine yang adekuat (batas normal)

b. tanda-tanda vital stabil c. tekanan nadi parifer jelas d. turgor kulit baik e. pengisian kapiler baik dan membran mukosa lembab/basah. 3. Intervensi dan Rasionalisasi a) Dapatkan riwayat dari pasien atau orang terdekat yang berhubungan dengan lama dan intensitas dari gejala yang muncul. R/ Membantu memperkirakan volume total cairan b) Kaji pasien mengenai rasa haus, kelelahan, nadi cepat, pengisian kapiler memanjang turgor kulit jelek, membran mukosa kering. Catat warna kulit dan temperaturnya. R/ Untuk mengindikasikan berlanjutnya hipovolemia dan mempengaruhi kebutuhan volume pengganti. c) Pantau tanda vital, catat perubahan tekanan darah pada perubahan posisi, kekuatan dari nadi perifer. R/ Hipotensi postural merupakan bagian hipovolemia akibat kekurangan hormon aldosteron dan penurunan curah jantung sebagai akibat dari penurunan kortisol. Nadi mungkin melemah yang mudah dapat hilang. d) Ukur dan timbang berat badan setiap hari. R/ Memberikan perkiraan kebutuhan akan penggantian volume cairan dan keefektifan pengobatan. Peningkatan berat badan yang cepat disebabkan oleh adanya retensi cairan dan natrium yang berhubungan dengan pengobatan steroid. e) Periksa adanya perubahan dalam status mental dan sensori. R/ Dehidrasi berat menunjukkan curah jantung dan perfusi jaringan terutama jaringan otak. f) Auskultasi bising usus/peristaltik usus. Catat dan laporkan adanya mual, muntah dan diare. R/ Kerusakan fungsi saluran cerna dapat meningkatkan kehilangan cairan dan elektrolit dan mempengaruhi cara untuk pemberian cairan dan nutrisi.

g) Kolaboratif dalam pemberian cairan, larutan gula dan obat-obatan. R/ Cairan dan obat-obatan akan membantu pemenuhan kekurangan cairan dan elektrolit tubuh Dx.2. Harga diri rendah berhubungan dengan hipopigmentasi 1. Kriteria evaluasi yang diharapkan: Pasien mampu mengungkapkan penerimaan terhadap keadaan diri sendiri diungkapkan secara verbal. 2. Ditandai dengan : Pasien menunjukkan kemampuan adaptasi terhadap perubahan yang ditandai pasien berpartisipasi aktif dalam bekerja/bermain/berhubungan dengan orang lain. 3. Intervensi dan Rasionalisasi a) Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan perasaan tentang keadaannya, tunjukkan perhatian, bersikap tidak menghakimi. R/ Membina hubungan dan peningkatan keterbukaan dengan pasien, membentuk dalam mengevaluasi berapa banyak masalah yang dapat diubah oleh pasien. b) Dorong pasien untuk membuat daftar bantuan orang terdekat. R/ Pasien tidak merasa sendirian dan merasa berguna dalam berhubungan dengan orang lain. c) Dorong pasien untuk membuat pilihan dan berpartisipasi dalam perawatan diri. R/ Data membantu meningkatakn tingkat kepercayaan diri, memperbaiki harga diri dan meningkatkan perasaan terhadap pengendalian diri. d) Sarankan pasien untuk menggunakan ketrampilan management stres, misal: teknik relaksasi, visualisasi dan bimbingan imajinasi. R/ Meminimalkan perasaan stres, frustasi, meningkatkan kemampuan koping dan kemampuan untuk mengendalikan diri. e) Sarankan untuk mengunjungi seseorang yang penyakitkan telah terkontrol. R/ Dapat menolong pasien untuk melihat hasil dari pengobatan yang telah dilakukan.

f) Tindakan kolaborasi dengan: rujuk ke pelayanan sosial, konseling dan kelompok pendukung sesuai kebutuhan R/ Pendekatan komprehensif dapat membantu memenuhi kebutuhan pasien untuk memelihara tingkah laku. Dx.3. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dan perubahan fungsi fisiologis. 1. Kriteria evaluasi yang diharapkan : a. Pasien tampak rileks b. Pasien melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi 2. Ditandai dengan : Mampu mengidentifikasi cara hidup yang sehat untuk membagikan perasaannya. 3. Intervensi dan Rasionalisasi a) Observasi tingkat laku yang menunjukkan tingkat ansietas R/ Ansietas ringan dapat ditunjukkan dengan peka rangsang dan insomnia. Ansietas berat yang berkembang ke dalam keadaan panik dapat menimbulkan perasaan terancam, teror, ketidak mampuan untuk bicara dan bergerak. Berteriak-teriak/bersumpah-sumpah. b) Pantau respon fisik, palpitasi, gerakan yang berulang-ulang, hiperventilasi, insomnia. R/ Peningkatan pengeluaran penyekat beta-adrenergik pada daerah reseptor, bersamaan dengan efek-efek kelebihan hormon tiroid, menimbulkan manifestasi klinik dari peristiwa kelebihan ketekolamin ketika kadar epinefrin/norepinefrin dalam keadaan normal. c) Kurangi stimulasi dari luar: tempatkan pada ruangan yang tenang, berikan kelembutan, musik yang nyaman, kurangi lampu yang terlalu terang, kurangi jumlah orang yang berhubungan dengan pasien. R/ Menciptakan lingkungan yang terapeutik; menunjukkan penerimaan bahwa aktivitas unit/personal dapat meningkatkan ansietas pasien. d) Bicara singkat dengan kata yang sederhana. R/ Rentang perhatian mungkin menjadi pendek, konsentrasi berkurang, yang membatasi kemampuan untuk mengasimilasi informasi.

e) Jelaskan prosedur, lingkungan sekeliling atau suara yang mungkin didengar oleh pasien. R/ Memberikan informasi akurat yang dapat menurunkan distorsi/kesalahan interpretasi yang dapat berperanan pada reaksi ansietas atau ketakutan. f) Tekankan harapan bahwa pengendalian emosi itu harus tetap diberikan sesuai dengan perkembangan terapi obat. R/ Memberikan informasi dan meyakinkan pasien bahwa keadaan itu adalah sementara dan akan membaik dengan pengobatan. Dx.4. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolisme (gula darah) 1. Kriteria evaluasi yang diharapkan : Pasien menyatakan mampu untuk beristirahat, peningkatan tenaga dan penurunan rasa 2. Ditandai dengan : a. Mampu menunjukkan faktor yang berpengaruh terhadap kelelahan. b. Pasien mampu menunjukkan peningkatan kemampuan dan berpartisipasi dalam aktifitas. 3. Intervensi dan Rasionalisasi a) Kaji/diskusikan tingkat kelemahan klien dan identifikasi aktifitas yang dapat dilakukan klien. R/ Pasien biasanya telah mengalami penurunan tenaga, kelelahan otot menjadi terus memburuk setiap hari karena proses penyakit dan munculnya ketidakseimbangan natrium dan kalium. b) Pantau tanda vital sebelum dan sesudah melakukan aktivitas observasi adanya takikardia hipotensi dan perifer yang dingin. R/ Kolapsnya sirkulasi dapat terjadi sebagai akibat dari stres aktifitas jika curah jantung berkurang c) Sarankan pasien untuk menentukan masa/periode antara istirahat dan melakukan aktifitas R/ Mengurangi kelelahan dan mencegah ketegangan pada jantung. d) Diskusikan cara untuk menghemat tenaga (misal: duduk lebih baik daripada berdiri selama melakukan aktifitas/latihan), jika perlu biarkan pasien melakukannya sendiri. R/ Pasien akan dapat melakukan lebih banyak kegiatan dengan mengurangi pengeluaran tenaga pada setiap kegiatan yang dilakukannya.

Dx.5. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung 1. Kriteria evaluasi yang diharapkan : Menunjukkan curah jantung yang adekuat . 2. ditandai dengan:

a. tanda vital dalam batas normal b. nadi perifer teraba dengan baik c. pengisian kapiler 3. Intervensi dan Rasional

a) Kaji pengisian kapiler dan nasi perifer R/ Pengisian kapiler yang memanjang, nadi yang lambat & lemah merupakan indikasi terjadi syok. b) Pantau tanda vital: tensi, irama jantung R/ Krisis addison mungkin menyebabkan tekanan darah menurun. Frekwensi jantung yang tidak teratur akan menimbulkan penurunan curah jantung. c) Ukur jumlah haluaran urine. R/ Walaupun biasanya ada poliuria penurunan haluaran urine menggambarkan penurunan perfusi ginjal oleh penurunan curah jantung. d) Kolaborasi pemberi O2 R/ Kadar O2 yang maksimal dapat membantu menurunkan kerja jantung. DAFTAR PUSTAKA Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan PasiEdisi 3. Jakarta : EGC. Sherwood, Laualee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC. Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawtan Medikal Bedah Brunner & Suddarth edisi 8 Vol. 2. Jakarta : EGC.