Anda di halaman 1dari 7

1

HARALD MOTZKI DAN PENGEMBANGAN TEORI COMMON LINK

Muhamad Ridwan Nurrohman

A. Pendahuluan Pengkajian hadis di Barat masih memiliki suatu hal yang menarik untuk diperhatikan. Selain membuktikan begitu menariknya kajian-kajian Islam, atau ketimuran (oriental) bagi orang-orang Barat. Namun juga memberikan tantangan pemikiran yang cukup menarik sebagai bukti bahwa musuh-musuh Islam belum menyerah untuk membongkar Islam. Meskipun ada sebuah pergeseran yang cukup besar dari para peneliti, atau orientalis ini. Jika pada awalnya pendekatan mereka adalah via negativa (dasar asumsi tidak percaya), maka hari ini kebanyakan mereka melakukan pendekatan via positiva (dasar asumsi percaya), sebagaimana Motzki kutip dari Coulson.1 Khususnya dalam kajian hadis di Barat, tentu nama-nama seperti Ignaz Goldziher, Joseph Schacht, dan Juynboll mustahil tidak disebut-sebut. Mereka layaknya para nabi bagi para pengkaji hadis dan kaitannya dengan hukum Islam khususnya di Barat. Goldziher menetapkan kaidah dasar pemahaman terhadap hadis yaitu teori projecting backnya, yang kelak disempurnakan dengan metode common link dan argumentum e-silentio Schacht untuk menegaskan pembengkakan jumlah sanad pada masa belakangan, lalu teori common link dimodifikasi oleh Juynboll dengan melacak akar kesejarahan hadis tersebut. Namun sejak Goldziher hingga Juynboll, mereka berangkat dari asumsi dasar bahwa hadis itu tidak layak dinyatakan otentik. Jika ada common link, ungkap Schacht dan Juynboll, maka pasti dia yang pertama kali membuat sanad ke belakang, sampai kepada Rasulullah saw. Hal ini tidak begitu saja berhenti sampai di sana, karena memang terbukti banyak tokoh muslim yang kemudian muncul menentang teori-teori tersebut, katakan saja Mustafa al-Siba`i dan M. M. Azami sebagai penentang yang gigih. Kesadaran para peneliti Barat berikutnya, yang mulai lebih banyak mendapat pencerahan tentang kajian hadis ini, mulai mencium bau busuk kepentingan di balik teori ilmiah para orientalis pendahulu. Wael B. Hallaq mengistilahkan dengan nada sinis dalam salah satu artikelnya, The Quest for Origins or Doctrine? Islamic Legal Studies as Collonialist Discourse [Melacak Asal-Usul ataukah Doktrin? Studi-studi Hukum Islam sebagai Wacana Kolonialis].2 Salah satu tokoh yang paling ampuh menjawab skeptisistik pendapat Schacht dan Juynboll, adalah Harald Motzki. Bagaimana sanggahan-sanggahannya tentang doktrin para orientalis madzhab via negativa, lalu apa yang ditawarkannya tentang pengkajian hadis. Menarik pula untuk disimak. B. Mengenal Sosok Harald Motzki Berbagai upaya penulis tempuh untuk menggali lebih dalam sosok Harald Motzki, mulai dari referensi literer yang berupa majalah, buku bahkan dunia maya, namun tidak menghasilkan hasil yang memuaskan. Beberapa sumber yang bisa dicapai penulis adalah sebagai berikut: Dia dikenal sebagai sosok sarjana studi Islam yang concern terhadap materi hadis dan berbagai keilmuan penyangganya, dan berupaya untuk mengkritisinya dengan objektif. Dan ia adalah seorang orientalis yang menjadi Guru Besar Hadis sekaligus Profesor di Institut Bahasa dan Budaya dari Timur Tengah, Universitas Nijmegen, Belanda. Motzki adalah sosok yang dikenal para pemerhati orientalisme sebagai sosok yang banyak mengkaji hadis, sirah dan sejarah asal-usul hukum Islam.3
Syamsuddin Arif, Orientalis & Diabolisme Pemikiran. (Jakarta: GIP, 2008) hlm. 36. Pengantar buku Joseph Schacht, The Origins of Muhammadan Jurisprudence: Tentang Asal-usul Hukum Islam dan Masalah Otentisitas Sunah. (Yogjakarta: Insan Madani, 2010) hlm. xii. 3 Lihat pengantarnya dalam buku Kamarudin Amin, Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis. (Bandung: Hikmah, 2009) hlm. ix. Lihat juga, Harald Motzki, The Origins of Islamic Jurisprudence Meccan Fiqh Before the Classical Schools. (Leiden: Brill, 2002). Lihat juga Wael B. Hallaq dalam pengantar The Origins of Muhammadan Jurisprudence. Hlm. xli. Lihat juga, Syamsuddin Arif, Orientalis & Diabolisme Pemikiran. Hlm. 35-36 dan 42-44.
1 2

HARALD MOTZKI DAN PENGEMBANGAN TEORI COMMON LINK __________________________________________

C. Bantahan Motzki Pada Skeptisitik Orientalis Kritik paling mendasar dari kajian Motzki kepada Schacht dan Juynboll adalah dari dasar pendekatan mereka terhadap kajian hadis dalam Islam yang memang via negativa, sehingga menutupi pemikiran mereka dari kebenaran yang ada, menuju pendekatan yang via positiva. Kemudian ia pun membantah tesis Schacht dan Juynboll tentang awal munculnya hadis, yang keduanya sama-sama tidak ingin mempercayai bahwa hadis, terlebih lagi isnad, dari abad pertama. Ia membuktikan sanggahannya itu melalui kajian seriusnya terhadap kitab al-Mushannaf karya Ibn Abi Syaibah. Berdasarkan hasil analisis beliau terhadap sanad maupun matan hadis beliau menyimpulkan bahwa hadis-hadis yang terdapat dalam kitab al-Mushannaf karya Abdurrazzaq asShanani (w. 211 H/826 M) adalah kecil sekali kemungkinan adanya keberagaman data periwayatan hadis adalah suatu hasil pemalsuan yang terencana. Dengan demikian beliau menyatakan bahwa suatu matan hadis dan isnadnya dalam kitab-kitab hadis tersebut layak dipercaya.4 Dengan demikian kesimpulan Motzki berbeda dengan Schacht dan Ignaz Golzher yang menganggap semua hadis adalah palsu. Motzki juga membantah teori Schacht yang mengungkapkan bahwa isnad makin ke belakang cenderung membengkak jumlahnya, dan teorinya bahwa isnad yang paling lengkap adalah yang paling belakangan munculnya.5 Berkenaan dengan sejarah munculnya hukum Islam Motzki juga tidak sependapat dengan Schacht. Menurut Motzki, al-Quran dan hadis sudah dipelajari semenjak abad kedua hijriyah atau bahkan sejak Nabi Muhammad saw masih hidup, karena para fuqaha di Hijaz sudah menggunakan hadis sejak abad pertama hijriyah.6 Oleh karena itu, Motzki pun sepakat dengan Coulson, yang mengusulkan agar para orientalis membalik tesis Schacht, dari via negativa menjadi via positiva. yakni jika Schacht berkata semua hadis harus dianggap tidak otentik hingga terbukti keotentikannya, maka harus dibalik menjadi menjadi pernyataan semua hadis harus dianggap otentik kecuali jika terbukti ketidak otentikannya.7 Lebih dalam, kritikan Motzki kepada teori common link yang diajukan oleh Schacht dan Juynboll adalah dari tesis mereka yang menyatakan bahwa common link sebagai pemalsu hadis. Ungkap Motzki, hal tersebut sama sekali tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, dari sisi kajian sanad maupun matan. Hal yang tepat, lanjutnya, adalah bahwa posisi common link itu adalah sebagai kolektor hadis sistematis pertama. Ada banyak hal yang dapat mendukung tesisnya ini. Penjelasan Juynboll dalam teori common link-nya hanya mengkaji tentang orang yang ada di bawah common link, bukan mengkaji tentang fenomena common link itu sendiri.8 Lalu kesimpulan Juynboll, bahwa sedikit sekali, untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali, common link itu terjadi di masa tabi`in, hal ini dikarenakan Juynboll dan Schacht sama sekali tidak memperhitungkan jalur-jalur tunggal selain common link (baca: single strand; syawahid atau mutabi`). Padahal jika hal itu dilakukan, ungkap Motzki, tentu akan ditemukan jumlah common link dalam fase tabi`in ini lebih banyak dari yang Juynboll kira.9 Adapun mengapa harus ada jalur tunggal di bawah common link adalah karena pada saat itu belum ada tuntutan untuk menyebutkan beberapa sumber informan si common link tersebut, selain tentu ada keyakinan dalam diri common link bahwa riwayat yang disebutkannya adalah jalur yang paling ia yakini kebenarannya. Meskipun masih menyisakan kemungkinan bahwa jalur sanad yang lain itu hilang, karena tidak terkodifikasikan.10 Bisa saja yang terjadi itu adalah mudraj isnad; mursal; atau bisa juga mazid fi mutashil asanid dalam tradisi ilmiah Islam.
4 5

Ibid.

Harald Motzki, The Muannaf of Abd al-Razzq al-Sann as a Source of Authentic Adth of the First Century A. H. dalam Journal of Near Easern Studies, vol. 50. No. 1. (Chicago Journal: Januari 1991) hlm. 12. 6 Harald Motzki, The Origins of Islamic Jurisprudence Meccan Fiqh Before the Classical Schools . Hlm. 295. 7 Syamsuddin Arif, Orientalis & Diabolisme Pemikiran . Hlm. 36. 8 Ali Masrur, Teori Common Link G.H.A. Juynboll: Melacak Akar Kesejarahan Hadis Nabi . (Yogyakarta: LKiS, 2007) hlm. 176. 9 Ibid. Hlm. 177. 10 Ibid. Hlm. 177-178.

HARALD MOTZKI DAN PENGEMBANGAN TEORI COMMON LINK __________________________________________

Namun yang pasti, jalur tunggal di bawah common link itu tidaklah benar-benar satu jalur saja, hanya saja jalur-jalur lainnya tidak diriwayatkan. Hal ini ia ambil dari tradisi yang berlaku di kalangan ahli hadis, yaitu fenomena rihlah fi thalabil hadis awil isnad.11 Maka sebenarnya tidak mengherankan jika misalnya terjadi fenomena diving strand, dengan status hadis aly dan nazil dalam khazanah Islam. Namun jikalah memang ia hanya satu jalur saja, maka tidak ada alasan logis untuk menolaknya begitu saja. Sedangkan faktor-faktor yang akan mendukung simpulan kebalikannya justru sangat banyak. Misalnya saja dilihat dari aspek sumber yang terbatas maupun jarak geografis para perawi itu akan sangat mempegaruhi hal tersebut. Hal ini terjadi pada kasuskasus hadis gharib, dan belum tentu itu muncul karena pemalsuan dari common link.12 Motzki lalu menawarkan sebuah pendekatan baru terhadap teori common link ini, yaitu dengan mempergunakan metode isnad cum matan. Maksudnya adalah, bahwa apa yang dilakukan Juynboll dengan bundel isnad-nya itu ternyata tidak mampu menilai asal-usul dan otentisitas matan hadis yang melampaui common link. Justru melalui kajian matan (versi riwayat dan sumbersumbernya) yang lebih produktif dan aplikatif untuk mengkaji asal-usul dan otentisitas matan hadis.13 Hal ini insyaAllah akan disampaikan pada pembahasan khusus. D. Metode Pembuktian Otentisitas Hadis Motzki Melalui Kitab al-Mushannaf Ibn Abi Syaibah Motzki dalam penelitiannya menemukan tiga sumber dominan yang sering dirujuk oleh Abd arRazaq, yang memberikan kontribusi ribuan hadis, mereka adalah Mamar, Ibn Jurayj, dan Sufyan As-Sauri. Guna membuktikan masalah ini, Motzki meneliti empat tokoh sebagai sumber otoritas utama dari Abd ar-Razzaq, yakni Mamar di mana ar-Razzaq meriwayatkan materinya sekitar 32%, Ibnu Jurayj 29%, As-Sauri 22%, dan Ibn Uyainah 4%. Sisanya adalah sekitar 13% yang berasal dari 90% tokoh yang berbeda dan kurang dari 1% tokoh yang berasal dari abad ke-2 H seperti Abu Hanifah 0,7%, dan Imam Malik sebesar 0,6%.14 Dari pemilahan tersebut, menurut Motzki setiap koleksi memiliki karakteristik tersendiri, dan hampir mustahil seorang pemalsu dapat memberikan sumber yang begitu bervariasi, apalagi jika penelitian ini difokuskan pada asal perawi dan karakter teks yang diriwayatkan. Guna mendukung pandangannya bahwa ar-Razzaq bukan seorang pemalsu, maka Motzki mengutip biografinya khususnya terkait dengan guru-gurunya ar-Razzaq. Lebih lanjut, Motzki mengklasifikasikan riwayat yang terdapat dalam Musannaf Abd ar-Razzaq sebagai berikut: 1. Mamar (w. 153 H) 32% dengan konfigurasi materi yang berasal darinya adalah Ibn Syihab az-Zuhri 28%, Qatadah bin Diama 25%, Ayyub bin Abi Tamima 11%, orang tanpa nama (anynamous) 6%, Ibn Tawus 5%, Mamar 1%, 77 orang 24% jumlah total 100%. 2. Ibn Jurayj (w. 150 H) 29% dengan konfigurasi materi yang berasal darinya adalah Ata ibn Rabah 39%, orang tanpa nama (anynamous) 8%, Amr bin Dinar 7%, Ibn Syihab az-Zuhri 6%, Ibn Tawus 5%, Ibn Jurayj 1%, 103 orang 34%, jumlah total 100%. 3. Sufyan as-Sauri (w. 161 H) 22%. Profil teks yang yang berasal darinya mencakup pendapat hukum as-Sauri sendiri yang lebih dominan, yakni Sufyan as-Sauri 19%, Mansur bin alMutamir 7%, Jabir bin Yazid 6%, orang tanpa nama (anynamous) 3%, 161 informan 65%, jumlah total 100%. 4. Ibn Uyayna 4% sumber hadis riwayatnya adalah Amr bin Dinar 23%, Ibn Abi Najih 9%, yahya bin Said al-anshari 8%, Ismail bin Abi Khalid 6%, orang tanpa nama (anynamous) 4%, 37 orang 50%, jumlah total 100%. 5. 90 orang 13% jumlah keseluruhan dari poin a hingga point e adalah 100%.15
Ibid. Ibid. Hlm. 182. 13 Ibid. Hlm. 179.
11 12

Harald Motzki, The Muannaf of Abd al-Razzq al-Sann as a Source of Authentic Adth of the First Century A. H. hlm. 2-3. 15 Ibid. Hlm. 5.
14

HARALD MOTZKI DAN PENGEMBANGAN TEORI COMMON LINK __________________________________________

Berdasarkan data ini Moztki menyatakan bahwa profil masing-masing periwayat hadis tersebut menunjukkan bahwa keempat koleksi teks tersebut memiliki karakteristik tersendiri. Kekhasan masing-masing struktur mengindikasikan tidak mungkin seseorang melakukan pemalsuan (forge) dalam menyusun materi, karena jika demikin tentu dalam teks hadis tersebut akan ditemukan perbedaan-perbedaan yang signifikan. Di samping itu, semakin detail dan mendalam penelusuran terhadap teks-teks tersebut mengenai kekhasan teks dan asal muasal sumber informasi, maka akan semakin signifkan perbedaan-perbedaan yang dijumpai.16 Selanjutnya, Motzki berkesimpulan bahwa materi-materi hadis yang disandarkan kepada Abd ar-Razzaq kepada keempat informan utamanya adalah otentik (murni). Gaya penyajian materi arRazzaq yang kerap kali mengekspresikan keraguanya atas sumber yang pasti terhadap sebuah hadis menunjukan sikapnya yang terbuka dan jujur. Hal ini menjadi takid keotentikannya. Sebab , tidak mungkin seorang pemalsu akan menunjukkan sikap seperti itu yang hanya akan melemahkan riwayat yang disampaikannya. Motzki kemudian menganalisa lebih jauh mengenai hubungan guru antara Ar-Razzaq dengan perawi di atasnya yakni Ibn Jurayj. Distribusi otoritas yang tidak seimbang dan keinginan Jurayj menyampaikan pendapatnya sendiri merujuk otoritas yang lebih awal, menunjukkan bahwa ia bukan pemalsu. Hal ini didukung oleh pengujian sumber Jurayj meliputi: perbedaan isi (misal, pengunaan rayu didistribusikan secara tidak seimbang); perbedaan pengunaan riwayat guru-murid, anak-bapak, maula-patron, perbedaan proporsi hadis dari nabi, sahabat, dan tabiin; perbedaan penggunaan isnad dan perbedaan terminologi periwayatan (misal, penggunaan istilah an atau samitu).17 Lebih lanjut, Motzki memfokuskan dari sumber yang sering diikuti Jurayj, yakni Ata. Dalam hal ini ia menggunakan teori External Criteria dan argument internal formal criteria of Authenticity yang merupakan dua alat analisa yang dihasilkan ketika Motzki meneliti penyandaran (transformasi ilmu) yang dilakukan Jurayj kepada Ata. Sementara External Criteria dibagi menjadi dua, yakni pertama, Magnitude (banyak sanad dan penyebarannya). Dalam konteks ini, proporsi sumber Jurayj pada klasifikasi Motzki di atas bertentangan dengan asumsi bahwa ia adalah pemalsu. Sebab ia memilih cara yang sangat complicated dengan menyandarkan materi hukumnya kepada sumber yang ia sebutkan. Jika ia pemalsu, tentunya ia akan memilih satu atau beberapa informan saja dari fuqaha atau perawi terkenal.18 Dilihat dari frekuensi gaya pertanyaan (direct, indirect, anonymous, and not-anonymous), menunjukkan jika Jurayj tidak melakukan projection back atau telah mengatribusikan pendapatnya kepada generasi sebelumnya. Dengan bahasa sederhana, analisis Motzki atas gaya penyajian materi Ata oleh Jurayj menunjukkan implausibility asumsi bahwa ia telah melakukan pemalsuan. Sementara dilihat dari kualitas dan kuantitas responsa Ata atas pertanyaan Jurayj menunjukkan keduanya terdapat korelasi historis yang panjang.19 Motzki juga menggunakan teori argument internal formal criteria of authenticity yang menunjukkan keotentikan materi Jurayj dengan Ata. Ia kemudian menginventarisir enam hal yang ia kategorikan sebagai internal formal criteria of authenticity. Yaitu sebagai berikut:20 1. Jurayj tidak hanya menyajikan pendapat hukum dari generasi sebelumnya, namun juga menyajikan pendapat hukumnya sendiri. 2. Jurayj tidak hanya menyajikan materi dari Ata, melainkan juga memberikan tafsir, komentar, dan bahkan kritik terhadap materi tersebut. Motzki membayangkan tidak rasional Jurayj membuat teks sendiri, kemudian menyandarkannya secara palsu kepada Ata, dan pada saat bersamaan ia memberi komentar dan kritik.
Ibid. Ibid. 18 Ibid. 19 Ibid. 20 Ibid.
16 17

HARALD MOTZKI DAN PENGEMBANGAN TEORI COMMON LINK __________________________________________

3. Jurayj terkadang mengekspresikan ketidakyakinannya atas maksud dan perkataan Ata. Keraguan Jurayj dinilai Motzki sebagai sesuatu yang positif, yakni sebagai bukti kejujurannya dalam memproduksi ajaran dari gurunya. 4. Jurayj terkadang meriwayatkan materi Ata dari orang lain. 5. Jurayj menyajikan materi secara tepat dan verbatim. 6. Jurayj terkadang menunjukan kelemahan sumber informasinya.21 Berangkat dari dua External Criteria dan enam point argument internal formal criteria of Authenticity di atas, Motzki kemudian membuat kesimpulan berikut: 1. Materi Ibn Jurayj dari Ata yang diabadikan dalam Musannaf Abd ar-Razzaq adalah benarbenar sumber otentik. 2. Sumber tersebut dapat dikatakan sebagai historically reliable source untuk fase perkembangan hukum di Makkah pada dekade pertama abad ke-2 H.22 Kemudian setelah Motzki melanjutkan penelitian dan analisanya mengenai sejauh mana Ata menerima materinya. Motzki pun mengambil kesimpulan bahwa hirarki sumber otoritas Ata adalah Sahabat nabi 15%, al-Qur'an 10%, anynamous traditions 3%, dan tokoh yang semasa dengannya 1,5%. Hasil penelitian Motzki tersebut juga menunjukkan bahwa Ibn Abas adalah di antara sahabat yang sering dirujuk oleh Ata.23 Adapun hasil analisa Motzki terhadap periwayatan Ata adalah sebagai berikut: 1. Responsa, rujukan Ata kepada ibn Abbas hanya bersifat supplementary dan confirmative untuk mendukung pendapat Ata. Artinya, rujukan Ata kepada Abbas atau sahabat lain tidak dimaksudkan untuk memberikan muatan otentisitas pada pendapat hukumnya. Realita ini Motzki pahami sebagai indikasi kredibilitas Ata. 2. Secara umum, Ata mengutip Ibn abbas secara langsung (direct references), meskipun tidak menutup kemungkinan ia mengutip secara tidak langsung (indirect references). 3. Dalam beberapa kasus, Ata merujuk Ibn Abbas bukan untuk mengkonfirmasikan pendapatnya, melainkan untuk berbeda pendapat dengannya. 4. Di samping sebagian besar riwayat Ata dari Ibn Abbas menurut legal dicta, terdapat pula sejumlah teks yang memuat qisas. Dalam qisas ini Ata mempresentasikan dirinya sebagai murid Ibn Abbas. Hal ini menurut Motzki kriteria isi tersebut menunjukkan otentisitasnya. 5. Mengingat jumlah hadis Nabi yang allegedy diriwayatkan oleh Ibn Abas dalam literatur hadis yang sangat besar (sekitar 1.660 hadis), maka Ata tidak mengutip dalam materi hukumnya. Dengan kata lain, materi Ata dari Ibn Abbas yang terekam dalam Musannaf, status Ibn Abbas bukan sebagai perawi hadis Nabi. Melainkan materi tersebut otentik dari pendapatnya Ibn Abbas sendiri.24 Dari kelima hal ini, Motzki berpendapat bahwa ada indikasi otentisitas riwayat Ata dari Ibn Abas. Selain dari materi Ata yang didapat dari Ibn Abbas, Motzki juga menganalisa dari materi Ata yang lain, yakni Umar, Abu Hurairah, Jabir dan lain-lain. Motzki melihat ada indikasi kuat kejujuran Ata dalam penyebutan sumber otoritasnya. Sampai di sini, maka Motzki berkesimpulan bahwa Musanaf karya Abd ar-Razzaq adalah dokumen hadis otentik abad pertama Hijriyah.25

Ibid. Hlm. 6. Ibid. 23 Ibid. Hlm. 7. 24 Ibid. Hlm. 7. 25 Ibid.


21 22

HARALD MOTZKI DAN PENGEMBANGAN TEORI COMMON LINK __________________________________________

E. Teori Isnad cum Matan Motzki Setelah selesai dengan kritikannya kepada orientalis sebelumnya, khususnya Schacht dan Juynboll, Motzki mulai merembah ranah yang tidak disentuh oleh keduanya, yaitu analisis matan dari perspektif teori common link. Hal ini berawal dari keberagaman versi matan yang bersumber dari satu informan yang sama, yaitu common link. Hal ini bisa jadi sangat membingungkan, padahal perbedaan-perbedaan tersebut bersumber dari orang yang sama. Maka dengan memperhatikan terhadap versi matan ini, the real common link itu akan lebih bisa dilacak dengan tepat.26 Inilah mengapa penulis menyimpulkan bahwa isnad cum matan milik Motzki27 ini sebagai pengembangan teori common link Schacht dan Juynboll. Maksud dari teori isnad cum matan Motzki ini adalah metode mengumpulkan bundel isnad dengan cara memperhatikan isi matan hadis, maka ia tidak mempermasalahkan apakah posisinya itu sebagai common link, single strand atau pun diving strand. Sederhananya, meskipun jalur matan itu tunggal, selama inti kajiannya adalah matan hadisnya, bukan sanadnya, maka ia bisa digunakan dalam proses dating hadith atau mencari the real common link.28 Berbagai variasi matan, seperti yang ditemukan Motzki, ada yang (1) berbeda dari panjang dan pendeknya (bil ikhtishar); (2) hanya berbeda dialek atau diksi namun memiliki makna yang sama; dan ada juga yang sampai (3) terjadi pergeseran makna.29 Hal ini hanya bisa dipahami, jika perbedaan tersebut ditimbang dengan khazanah Islam sebagai metode riwayat bil ma`na atau fenomena mukhalafah. Dalam metode Motzki, perbedaan tersebut dijadikan bukti adanya proses transmisi nyata antara para perawi tersebut. Hal ini menagaskan kenyataan sejarah, atau penanggalan hadis, yang sampai kepada orang-orang yang dengan ke-khasannya masing-masing saling menguatkan (syawahid atau mutabi`).30 F. Sisi Abu-abu Pemikiran Hadis Motzki Meski dari satu sisi, Motzki telah berhasil menjawab skeptisistik para orientalis sekelas Schacht dan Juynboll. Namun di sisi yang lain, Motzki seperti kebingungan dengan keyakinannya semula. Tercatat dalam artikelnya The Prophet and The Cat: On Dating Malik`s Muwatta` and Legal Traditions, ia menyatakan bahwa I call this an authentic hadith of the first/seventh century. That

does not necessarily imply that such a tradition can always be proved to go back to the Prophet or a Companion, singkatnya otentifikasi hadis yang menegaskan bahwa hadis-hadis itu berasal dari
Nabi adalah sangat sulit dibuktikan.31 Dalam artikelnya Whither Hadith-Studies?, Motzki mengungkapkan, bahwa meskipun posisi jalur tunggal di bawah common link itu belum pasti kepalsuan yang terencana, namun juga jelas tidak menghilangkan kemungkinan tersebut terjadi.32 Saat membantah prinsip metodologis Juynboll The more people the better. Setelah Motzki menjelaskan bahwa secara sepintas hal ini bisa saja dianggap logis, namun hal ini juga tidak realistis, tegasnya. Tidak logis jika misalnya pengkaji hadis menolak seluruh jalur tunggal, yang jumlahnya biasanya lebih banyak, hanya dikarenakan adanya beberapa jalur yang tergabung dalam sebuah jaringan isnad.33 Lalu ia melanjutkan, prinsip Juynboll bisa saja dibenarkan, jika memang ada yang
Kamarudin Amin, Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis. Hlm. 253. Meskipun sebenarnya Motzki bukan satu-satunya pengusung teori ini, karena memang teori ini juga dikembangkan oleh Jan Hendrik Kramers, Joseph van Ess dan Gregor Schoeler. Namun memang posisi Motzki lebih diperhitungkan oleh para peneliti, dikarenakan keseriusannya dalam kajian hadis. Maka tidak heran, teori ini lebih dikenal sebagai teori Motzki. Lihat, Syamsuddin Arif, Orientalis & Diabolisme Pemikiran. Hlm. 35. 28 Kamarudin Amin, Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis. Hlm. 253. 29 Harald Motzki, The Origins of Islamic Jurisprudence Meccan Fiqh Before the Classical Schools . Hlm. 180. 30 Kamarudin Amin, Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis. Hlm. 459-461. 31 Syamsuddin Arif, Orientalis & Diabolisme Pemikiran . Hlm. 43. 32 Ali Masrur, Teori Common Link G.H.A. Juynboll. Hlm. 178. 33 Ibid. Hlm. 179.
26 27

HARALD MOTZKI DAN PENGEMBANGAN TEORI COMMON LINK __________________________________________

bisa membuktikan bahwa tidak terjadi pembuatan jalur palsu yang sempurna seperti itu. Jika jalur yang tunggal itu bisa dipalsukan, maka tidak mustahil jalur yang banyak, melalui partial common link pun bisa mereka palsukan.34 Intinya, dikarenakan awal penelitian mereka berawal dari sikap skeptis maka berakhir dengan kesimpulan yang skeptis pula.35 G. Penutup Pada akhirnya, pembelaan Motzki terhadap single strand dan diving strand itu hanya dilakukan untuk memperkuat teori isnad cum matan-nya. Adapun untuk fenomena jalur tunggal selain single strand dan diving strand ia tetap tidak menganggapnya sebagai otentik. Teori yang ditawarkan oleh Motzki bukanlah teori yang mandiri dan sepenuhnya original. Akan tetapi teorinya ini hanya sebagai pengembangan atau revisi dari teori Schacht dan Juynboll. Apa yang dilakukan Motzki dengan isnad cum matan-nya sama dengan misi yang diambil oleh Juynboll yaitu dating hadith atau penanggalan hadis. Dengan kata lain, ia mencari awal mula hadis itu mulai tersebar. Ia berhasil dalam beberapa tempat menegaskan bahwa hadis-hadis itu bersumber dari Nabi secara otentik, namun dalam banyak tempat lainnya, ia hanya mampu membuktikan bahwa hadis tersebut bersumber dari sahabat saja, tidak sampai kepada Nabi (fenomena mauquf). Pembuktian bundel isnad yang dilakukan Motzki itu berawal dari mukharrij, bukan dari atas, atau Rasulullah saw. Hal ini berangkat dari tesis Motzki bahwa common link itu adalah kolektor hadis pertama. Metode itu akan lebih memudahkan untuk mencari single strand dan diving strand sebagai pendukung terhadap common link (versi Juynboll). Sekali lagi perlu diulang disini, sikap Motzki sedikit-banyak masih sama dengan orientalis lainya. Ia berawal dari sikap tidak percaya maka berakhir dengan kesimpulan yang tidak percaya pula.

Wallahu a`lam bi shawwab.


Daftar Pustaka Ali Masrur. 2007. Teori Common Link G.H.A. Juynboll: Melacak Akar Kesejarahan Hadis Nabi. Yogyakarta: LkiS. Kamarudin Amin. 2009. Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis. Bandung: Hikmah. Motzki, Harald. 2002. The Origins of Islamic Jurisprudence Meccan Fiqh Before the Classical Schools. Leiden: Brill. _______________. The Muannaf of Abd al-Razzq al-Sann as a Source of Authentic Adth of the First Century A. H. dalam Journal of Near Easern Studies, vol. 50. No. 1. Chicago Journal: Januari 1991. Schacht, Joseph. 2010. The Origins of Muhammadan Jurisprudence: Tentang Asal-usul Hukum Islam dan Masalah Otentisitas Sunah. Yogjakarta: Insan Madani. Syamsuddin Arif. 2008. Orientalis & Diabolisme Pemikiran. Jakarta: Gema Insani Press. Makalah Pemikiran Harald Motzki Tentang Hadis: Telaah Metodologi Penelitian Harald Motzki Terhadap Kitab Al-Musannaf Karya Abdurrazzaq As-Sanani karya Shohibul Adib di download dari http://islamuna-adib.com pada tanggal 17 Oktober 2013.

34 35

Ibid. Hlm. 182.


Syamsuddin Arif, Orientalis & Diabolisme Pemikiran. Hlm. 43-44.

HARALD MOTZKI DAN PENGEMBANGAN TEORI COMMON LINK __________________________________________