Anda di halaman 1dari 13

1

BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA GRADE II-LUTS BERAT + BATU STAGHORN D/S

BAB I PENDAHULUAN Benigna Prostatic Hiperplasia (BPH) dan Batu Saluran Kemih (BSK) merupakan dua dari tiga masalah penyakit terbayak dalam bidang urologi selain infeksi saluran kemih. BPH adalah kelainan yang sering terdapat pada kelenjar prostat, dimana merupakan hiperplasi kelenjar periurethal ( sel sel glanduler dan interstitial ) dari prostat. Sedangkan BSK adalah penyakit dimana didapatkan masa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih baik saluran kemih atas (ginjal dan ureter) dan saluran kemih bawah (kandung kemih dan uretra). BPH merupakan penyakit pada pria tua dan jarang ditemukan sebelum usia 40 tahun. Berdasarkan angka autopsi, perubahan mikroskopik pada prostat sudah dapat ditemukan pada usia 30-40 tahun. Pada BSK Berdasarkan data dari Urologic Disease in America pada tahun 2000, insidens rate tertinggi kelompok umur berdasarkan letak batu yaitu saluran kemih atas adalah pada kelompok umur 55-64 tahun 11,2 per-100.000 populasi, tertinggi kedua adalah kelompok umur 6574 tahun 10,7 per-100.000 populasi. Penyebab BPH dan BSK sampai saat ini masih belum jelas, namun terdapat beberapa faktor resiko umur dan hormon androgen pada BPH. Sedangkan pada BSK, penyakit ini disebabkan oleh banyak faktor yang dilibatkannya, seperti teori fisiko kimiawi dan teori vaskuler. Tanda dan gejala yang ditimbulkan dari BPH disebut sebagai sindroma prostatisme atau disebut juga LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms), yang dibagi menjadi dua yaitu gejala obstruktif dan gejala iritatif. Manisfestasi klinik adanya BSK bergantung pada adanya obstruksi, infeksi, dan edema. Ketika batu menghambat aliran urine, terjadi obstruksi yang dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter proksimal. Infeksi biasanya disertai gejala demam, menggigil, dan dysuria. Namun, beberapa batu jika ada gejala tetapi hanya sedikit dan secara perlahan akan merusak unit fungsional (nefron) ginjal, dan gejala lainnya adalah nyeri yang luar biasa ( kolik). Penatalaksanaan dari BPH Berdasarkan derajat IPSS, terapi BPH dibagi menjadi 3, yaitu Konservatif, Medikamentosa, dan Operatif. Tujuan dasar
SMF ANASTESI RSUPM | 1

BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA GRADE II-LUTS BERAT + BATU STAGHORN D/S

penatalaksanaan medis BSK adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi, dan mengurangi obstruksi yang terjadi.30 Batu dapat dikeluarkan dengan cara medikamentosa, pengobatan medik selektif dengan pemberian obat-obatan, tanpa operasi, dan pembedahan terbuka. Pada laporan kasus ini akan dibahas mengenai bagaimana pengaruh spinal anastesi yang dipilih untuk melakukan tindakan operatif terhadap Benigna Prostatic Hiperplasia dan Batu Saluran Kemih (batu Staghorn) terhadap pasien.

SMF ANASTESI RSUPM |

BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA GRADE II-LUTS BERAT + BATU STAGHORN D/S

BAB II PEMBAHASAN Anastesi Anestesi (pembiusan; berasal dari bahasa Yunani an- yang berarti tidak, tanpa dan aesthetos yang berarti persepsi, kemampuan untuk merasa). Kata anestesi pertama kali diperkenalkan oleh Oliver Wendell Holmes pada tahun 1846, yang menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersifat sementara, karena pemberian obat dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pembedahan. Anestesi memungkinkan pasien untuk mentoleransi prosedur bedah yang akan menimbulkan sakit yang tak tertahankan, mempotensiasi eksaserbasi fisiologis yang ekstrim, dan menghasilkan kenangan yang tidak menyenangkan. Anestesi (pembiusan) mempunyai beberapa tipe. Beberapa tipe anestesi adalah:

Pembiusan total (umum) hilangnya kesadaran total Pembiusan lokal hilangnya rasa pada daerah tertentu yang diinginkan (pada sebagian kecil daerah tubuh). Pembiusan regional hilangnya rasa pada bagian yang lebih luas dari tubuh oleh blokade selektif pada jaringan spinal atau saraf yang berhubungan dengannya A. Anastesi Umum

SMF ANASTESI RSUPM |

BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA GRADE II-LUTS BERAT + BATU STAGHORN D/S

Definisi Anestesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat reversibel. Dengan anestesi umum akan diperoleh trias anestesia, yaitu:2 Hipnotik (tidur) Analgesia (bebas dari nyeri) Relaksasi otot (mengurangi ketegangan tonus otot) Hanya eter yang memiliki trias anestesia. Karena anestesi modern saat ini menggunakan obat-obat selain eter, maka anestesi diperoleh dengan menggabungkan berbagai macam obat. Metode I. Parenteral Anestesia umum yang diberikan secara parenteral baik intravena maupun intramuskular biasanya digunakan untuk tindakan yang singkat atau untuk induksi anestesia. II. Perektal Metode ini sering digunakan pada anak, terutama untuk induksi anestesia maupun tindakan singkat. III. Perinhalasi Yaitu menggunakan gas atau cairan anestetika yang mudah menguap (volatile agent) dan diberikan dengan O2. Konsentrasi zat anestetika tersebut tergantunug dari tekanan parsialnya; zat anestetika disebut kuat apabila dengan tekanan parsial yang rendah sudah mampu memberikan anestesia yang adekuat.

Keuntungan Mengurangi kesadaran pasien intraoperatif Memungkinkan relaksasi otot yang tepat untuk jangka waktu yang lama Memfasilitasi kontrol penuh terhadap jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi
SMF ANASTESI RSUPM | 4

BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA GRADE II-LUTS BERAT + BATU STAGHORN D/S

Dapat digunakan dalam kasus sensitivitas terhadap agen anestesi local Dapat disesuaikan dengan mudah untuk prosedur durasi tak terduga Dapat diberikan dengan cepat Dapat diberikan pada pasien dalam posisi terlentang

Kekurangan Memerlukan beberapa derajat persiapan pra operasi pasien Terkait dengan komplikasi yang kurang serius seperti mual atau muntah, sakit tenggorokan, sakit kepala, menggigil, dan memerlukan masa untuk fungsi mental yang normal Terkait dengan hipertermia di mana paparan beberapa (tetapi tidak semua) agen anestesi umum menyebabkan kenaikan suhu akut dan berpotensi mematikan, hiperkarbia, asidosis metabolik, dan hiperkalemia.

Indikasi Infant dan anak usia muda Dewasa yang memilih anestesi umum Pembedahan luas Penderita sakit mental Pembedahan lama Pembedahan dimana anestesi local tidak praktis atau tidak memuaskan Riwayat penderita toksik/alergi obat anestesi local Penderita dengan pengobatan antikoagulaAnastesi lokal

SMF ANASTESI RSUPM |

BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA GRADE II-LUTS BERAT + BATU STAGHORN D/S

B. Anastesi Lokal

Definisi Ialah obat yang menghasikan blokade konduksi atau blokade lorong natrium pada dinding saraf secara sementara terhadap rangsang transmisi sepanjang saraf, jika digunakan pada saraf sentral atau perifer.

Struktur Anastetik lokal ialah gabungan dari garam larut dalam air dan alkaloid dalamlemak dan terdiri dari bagian kepala cincin aromatik tak jenuh bersifat lipofilik, bagian badan sebagai penghubung terdiri dari cincin hidrokarbon dan bagian ekor yang terdiri dari amino tersier bersifat hidrofilik.

Jenis Anastetik lokal dibagi menjadi dua golongan Golongan ester (-COOC-) Kokain, benzokain, ametocaine, prokain, tetrakain,kloprokain. Golongan amida (-NHCO-) Lidokain, mepivakain, prilokain, bupivacain, etidokain, dibukain, ropivakain, levobupivacaine.
SMF ANASTESI RSUPM | 6

BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA GRADE II-LUTS BERAT + BATU STAGHORN D/S

Obat baru pada dasarnya adalah obat lama dengan mengganti, mengurangi, atau menambah bagian kepala, badan dan ekor. Di indonesia yang paling banyak digunakan ialah lidokain dan bupivakain.

Mekanisme Obat bekerja pada reseptor spesifik pada saluran natrium (sodium channel) mencegah peningkatan permeabilitas sel saraf terhadap ion natrium dan kalium, sehingga terjadi depolarisasi pada selaput saraf dan hasilnya tidak terjadi konduksi saraf. Potensi dipengaruhi oleh kelarutan dalam lemak, makin larut makin poten. Ikatan dengan protein (protein binding) mempengaruhi lama kerja dan konstanta dissosiasi (pKa) menentukan awal kerja. Konsentrasi minimal anastetika lokal (analog dengan mac, minimum alveolar concentration) dipengaruhi oleh : 1. Ukuran, jenis dan mielinisasi saraf 2. pH (asidosis menghambat blokade saraf) 3. Frekuensi stimulasi saraf

Anastetik lokal yang ideal: 1. Poten dan bersifat sementara (reversible) 2. Tak menimbulkan reaksi lokal, sistemik atau alergik 3. Mula kerja cepat dengan durasi memuaskan 4. Stabil, dapat disterilkan 5. Harganya murah

Toksisitas bergantung pada : 1. Jumlah larutan yang disuntikkan

SMF ANASTESI RSUPM |

BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA GRADE II-LUTS BERAT + BATU STAGHORN D/S

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Konsentrasi obat Ada tidaknya adrenalin Vaskularisasi tempat suntikkan Absorbsi obat Laju destruksi obat Hipersensitivitas Usia Keadaan umum

10. Berat badan

C. Anastesi Regional Anestesi regional diberikan pada dan di sekitar saraf utama tubuh untuk mematikan bagian yang lebih besar. Pada prosedur ini pasien mungkin tidak sadarkan diri selama periode waktu yang lebih panjang dibandingkan anastesi lokal. Di sini, obat anestesi disuntikkan dekat sekelompok saraf untuk menghambat rasa sakit selama dan setelah prosedur bedah. Ada dua jenis utama dari anestesi regional, yang meliputi: 1. Blok sentral (blok neuroaksial), yaitu meliputi blok spinal, epidural, dan kaudal. Tindakan ini sering dikerjakan. 2. Blok perifer (blok saraf), misalnya blok pleksus brakialis, aksiler, analgesia regional intravena, dan lain-lainnya. Kali ini hanya akan dibahas mendalam mengenai salah satu jenis anastesi regional, yakni anastesi spinal mengingat tindakan inilah yang dipilih oleh dokter kepada penderita dalam kaus ini.

SMF ANASTESI RSUPM |

BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA GRADE II-LUTS BERAT + BATU STAGHORN D/S

ANASTESI SPINAL

Definisi Anestesi spinal (subaraknoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan intratekal. Hal-hal yang mempengaruhi anestesi spinal adalah jenis obat, dosis yang digunakan, efek vasokonstriksi, berat jenis obat, posisi tubuh, tekanan intraabdomen, lengkung tulang belakang, operasi tulang belakang, usia pasien, obesitas, kehamilan, dan penyebaran obat. obat anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid. Anestesi spinal/subaraknoid disebut juga sebagai analgesi/blok spinal intradural atau blok

Indikasi Anastesi spinal dapat diberikan pada tindakan yang melibatkan tungkai bawah, panggul, dan perineum. Anestesi ini juga digunakan pada keadaan khusus seperti bedah endoskopi urologi, bedah rektum, perbaikan fraktur tulang panggul, bedah obstetri, dan bedah anak. Anestesi spinal pada bayi dan anak kecil dilakukan setelah bayi ditisurkan dengan anestesi.
9

SMF ANASTESI RSUPM |

10

BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA GRADE II-LUTS BERAT + BATU STAGHORN D/S

Kontraindikasi Kontraindikasi mutlak meliputi infeksi kulit pada tempat dilakukan

pungsilumbal, bakteremia, hipovolemia berat (syok), koagulopati, dan peningkatan tekanan intrakaranial. Kontraindikasi relatif meliputi neuropati, prior spine surgery, nyeri punggung, penggunaan obat-obatan praoperasi golongan AINS (aantiinflamasi nonsteroid seperti aspirin, novalgin, parasetamol), heparin subkutan dosis rendah, dan pasien yang tidak stabil, dan a resistant surgeon.

Persiapan Pasien Pasien sebelumnya diberi informasi tentang tindakan ini (informed

concent)meliputi pentingnya tindakan ini dan komplikasi yang mungkin terjadi. Pemeriksaan fisis dilakukan meliputi daerah kulit tempat penyuntikan untuk menyingkirkan adanya kontraindikasi seperti infeksi. Perhatikan juga adanya skoliosis atau kifosis. Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan adalah penilaian hematokrit. Masa protrombin (PT) dan masa tromboplastin parsial (PTT) dilakukan bila diduga terdapat gangguan pembekuan darah. Kunjungan praoperasi dapat menenangkan pasien. Dapat dipertimbangkan pemberian obat premedikasi agar tindakan anestesi dan operasi lebih lancar. Namun, premedikasi tidak berguna bila diberikan pada waktu yang tidak tepat.

Perlengkapan Tindakan anestesi spinal harus diberikan dengan persiapan perlengkapan operasi yang lengkap untuk monitor pasien, pemberian anestesi umum, dan tindakan resusitasi.
10

SMF ANASTESI RSUPM |

11

BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA GRADE II-LUTS BERAT + BATU STAGHORN D/S

Jarum spinal dan obat anestetik spinal disiapkan. Jarum spinal memiliki permukaan yang rata dengan stilet di dalam lumennya dan ukuran 16-G sampai dengan 30-G. Obat anestetik lokal yang digunakan adalah prokain, tetrakain, lidokain, atau bupivakain. Berat jenis obat anestetik lokal mempengaruhi aliran obat dan perluasan daerah yang teranestesi. Pada anestesi spinal jika berat jenis obat lebih besar dari berat jenis cairan serebrospinal (hiperbarik), akan terjadi perpindahan obat ke dasar akibat gaya gravitasi. Jika lebih kecil (hipobarik), obat akan berpindah dari area penyuntikan ke atas. Bila sama (isobarik), obat akan berada di tingkat yang sama di tempat penyuntikan. Pada suhu 37C cairan serebrospinal memiliki beratjenis 1,003-1,008. Perlengkapan lain berupa kain kasa steril, povidon iodine, alkohol, dan duk. a. Jarum spinal Dikenal 2 macam jarum spinal, yaitu jenis yang ujungnya runcing seperti ujung bambu runcing (jenis Quinke-Babcock atau Greene) dan jenis yang ujungnya seperti ujung pensil (Whitacre). Ujung pensil banyak digunakan karena jarang menyebabkan nyeri kepala pascapenyuntikan spinal. b. Teknik 1. Posisi pasien duduk atau dekubitus lateral. Posisi duduk merupakan posisi termudah untuk tindakan punksi lumbal. Pasien duduk di tepi meja operasi dengan kaki pada kursi, bersandar ke depan dengan tangan menyilang di depan. Pada posisi dekubitus lateral pasien tidur berbaring dengan salah satu sisi tubuh berada di meja operasi. Panggul dan lutut difleksikan maksimal. Dada dan leher didekatkan ke arah lutut. 2. 3. 4. Posisi penusukan jarum spinal ditentukan kembali, yaitu di daerah antara vertebra lumbalis (interlumbal). Lakukan tindakan asepsis dan antisepsis kulit daerah punggung pasien. Lakukan penyuntikan jarum spinal di tempat penusukan pada bidang medial dengan sudut 10-30 terhadap bidang horizontal ke arah kranial. Jarum lumbal akan menembus ligamentum supraspinosum,
SMF ANASTESI RSUPM | 11

12

BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA GRADE II-LUTS BERAT + BATU STAGHORN D/S

ligamentum interspinosum, ligamentum flavum, lapisan duramater dan lapisan subaraknoid. 5. 6. Cabut stilet lalu cairan serebrospinal akan menetes keluar. Suntikkan obat anestetik lokal yang telah dipersiapkan ke dalam ruang subaraknoid. Kadang-kadang untuk memperlama kerja obat ditambahkan vasokonstriktor seperti adrenalin.

Komplikasi Komplikasi yang mungkin terjadi adalah nyeri saat penyuntikan, nyeri punggung, sakit kepala, retensio urin, meningitis, cedera pembuluh darah dan saraf, serta anestesi spinal total.

12

SMF ANASTESI RSUPM |

13

BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA GRADE II-LUTS BERAT + BATU STAGHORN D/S

DAFTAR PUSTAKA

1. Purnomo, Basuki B. Dasar-Dasar Urologi : Hiperplasia Prostat Benigna. Fakultas Kedokteran Univ. Brawijaya. Malang . Sagung Seto : 2011. Hal. 123-142. 2. Purnomo, Basuki B. Dasar-Dasar Urologi : Batu Saluran Kemih. Fakultas Kedokteran Univ. Brawijaya. Malang . Sagung Seto : 2011. Hal. 85-98. 3. Schwartz, Seymour I. Principles of Surgery : Benign Prostatic Hyperplasia. United State of America. Sixth Edition. McGraw-Hill Inc : 1994. Page 1752-1757. 4. Prostate Gland Enlargement. Available by : http://www.mayoclinic.com/health/prostate-gland-enlargement/DS00027 5. BPH : Management (Benign Prostatic Hyperplasia/Enlarged Prostate). Available from : http://www.urologyhealth.org/urology/index.cfm?artcle=144 6. Batu Saluran Kemih by Repository USU. Filetype : PDF 7. Latief, Said A, dkk. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi kedua. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2007. Hal. 29-111. 8.

13

SMF ANASTESI RSUPM |