Anda di halaman 1dari 4

Kolerasi klinis Kelainan esofagus Atresia esofagus dan/atau fistula trakeoesofagus terjadi akibat deviasi posterior spontan septum

trakeoesofageale atau akibat suatu faktor mekanis yang mendorong dinding dorsal usus depan ke arah interior. Dalam bentuknya yang tersering, bagian proksimal esofagus berakhir sebagai suatu kantong buntu, dan bagian distal berhubungan dengan trakea melalui suatu saluran sempit tepat di atas percabangan (bifurkasio). Lihat gambar (14.7A). Jenis-jenis cacat lainnya di regio ini jauh lebih jarang dijumpai (gambar 14.7B-E)

Atresia esofagus mencegah lewatnya cairan amnion ke dalam saluran cerna sehingga terjadi akumulasi berlebihan cairan di kantong amnion (polihidramnion). Selain atresia, lumen esofagus mungkin sempit, menimbulkan stenosis esofagus, biasanya di sepertiga bawah. Stenosis dapat disebabkan oleh rekanalisasi yang tidak sempurna, kelainan vaskular, atau kelainan yang mengganggu aliran darah. Kadang-kadang esofagus gagal mencapai panjang yang memadai dan lambung tertarik ke atas ke dalam hiatus esofagus melalui diafragma. Yang terjadi adalah hernia hiatus kongenital Lambung Lambung muncul sebagai pelebaran fusi form usus depan pada minggu keempat perkembangan(lihat gambar 14.8). Selama minggu-minggu selanjutnya penampakan dan posisinya berubah banyak akibat perbedaan kecepatan pertumbuhan di berbagai bagian dari dindingnya dan perubahan posisi organ-organ sekitar(gambar 14.8). Lambung berputar 90 searah jarum jam mengelilingi sumbu longintudinal, menyebabkan sisi kirinya menghadap anterior dan sisi kanan menghadap posterior(gambar 14.8A-C). Nervus vagus kiri yang pada awalnya menyarafi sisi kiri lambung, kini menyarafi dinding anterior demikian juga, nervus

vagus kanan menyarafi dinding posterior. Selama pemutaran ini, dinding posterior lambung semula tumbuh lebih pesat daripada bagian anteriornya, membentuk kurvatura mayor dan minor(gambar 14.8C). Ujung sefalik dan kaudal lambung pada awalnya terletak di garis tengah, tetapi selama pertumbuhan selanjutnya lambung berputar mengelilingi suatu sumbu anteroposterior, sedemikian sehingga bagian pilorus atau kaudal bergerak ke kanan dan atas dan bagian kardia atau sefalik bergerak ke kiri dan sedikit ke bawah.(gambar14.8D-E)

Karena lambung melekat ke dinding tubuh dorsal melalui mesogastrium dorsal dan ke dinding tubuh ventral melalui mesogastrium ventral, rotasi dan pertumbuhannya yang disproporsional mengubah posisi mesenterium-mesenterium ini. Rotasi mengelilingi sumbu

longitudinal menarik mesogastrium dorsal ke arah kiri, menciptakan suatu ruang di belakang lambung yang disebut bursa omentalis (kantong peritonium minor) (lihat gambar 14.9 dan 14.9A). Rotasi ini juga menarik mesogastrium ventral ke arah kanan. Sewaktu proses ini berlanjut pada minggu kelima perkembangan, muncul primordium limpa sebagai suatu proliferasi mesoderm diantara dua lembaran mesogastrium dorsal(gambar 14.10dan14.11). Dengan berlanjutnya perputaran lambung, mesogastrium dorsal memanjang, dan bagian antara limpa dan garis tengah dorsal berayun ke kiri dan menyatu dengan peritoneum dinding abdomen posterior(gambar 14.10 dan 14.11). Lembar posterior mesogastirum dorsal dan peritoneum di sepanjang garis penyatuan ini mengalami degenerasi. Limpa yang menetap berada intraperitoneum, kemudian dihubungkan ke dinding tubuh di regio ginjal kiri oleh ligamentum lienorenale dan ke lambung oleh ligamentum gastrolienale(gambar 14.10 dan 14.11).Pemanjangan dorsal ke dinding tubuh posterior juga menentukan posisi akhir pankreas. Pada awalnya organ ini tumbuh ke dalam mesoduodenum dorsal, tetapi akhirnya kauda pankreas meluas ke dalam mesogastrium dorsal (gambar 14.10A)

Sadler .T.W .2010. Langman Embriologi Kedokteran Edisi 10. pp243-247