Anda di halaman 1dari 2

Kelahiran pervaginam dapat dipertimbangkan dengan syarat: 1. Selama kehamilan penderita menjalani perawatan prenatal 2.

Viral load <1000 kopi/ml pada minggu ke-36 kehamilan 3. Penderita menjalani pengobatan HIV selama kehamilan. a. Seksio Sesaria Pada saat direncanakan seksio sesaria secara elektif, harus diberikan antibiotik profilaksis. Infus zidovudin harus dimulai 4 jam sebelum seksio sesaria dan dilanjutkan sampai tali pusat diklem. Sampel darah ibu diambil saat itu dan diperiksa viral load-nya. Tali pusat harus diklem secepatnya pada saat seksio sesaria dan bayi harus dimandikan segera. Kelahiran secara seksio sesarea direkomendasikan dengan syarat: 1. Wanita hamil penderita HIV dengan viral load >1000 kopi/ml atau viral load tidak diketahui pada minggu ke-36 kehamilan 2. Penderita yang tidak menjalani pengobatan HIV selama kehamilan 3. Penderita yang tidak menjalani perawatan prenatal sebelum usia kehamilan 36 minggu 4. Belum terjadi ruptur membran (pecah ketuban). Diskusi mengenai pilihan seksio sesarea harus dimulai secepat mungkin pada wanita hamil dengan infeksi HIV untuk memberikan kesempatan adekuat pada penderita untuk mempertimbangkan pilihan dan rencana untuk prosedur. 3.6 Pasca Persalinan Resiko transmisi vertikal meningkat dengan menyusui. Secara umum tidak

direkomendasi pada wanita yang positif HIV (Read and co-workers,2003). Kemungkinan transmisi HIV dalam 1 liter ASI yang diminum mempunyai resiko yang bersamaan dengan hubungan seks secara heteroseksual pada dewasa. Kebanyakan transmisi terjadi dalam 6 bulan pertama, dan sebanyak dua per tiga adalah melalui ASI.
21

Setelah bayi yang menyusui dari ibu yang terinfeksi HIV berusia 2 tahun, kadar infeksi virus HIV menjadi 37 persen di mana lebih tinggi dari bayi yang mengkonsumsi susu formula yaitu sekitar 21 persen. Dukungan sosial juga amat dibutuhkan dalam penanganan post partum.

3.7 Terapi Antiretrovirus direkomendasikan untuk semua wanita yang terinfeksi HIV-AIDS yang sedang hamil untuk mengurangi resiko transmisi perinatal. Hal ini berdasarkan bahwa resiko transmisi perinatal meningkat sesuai dengan kadar HIV ibu dan resiko transmisi dapat diturunkan hingga 20% dengan terapi antiretrovirus. Tujuan utama pemberian antiretrovirus pada kehamilan adalah menekan perkembangan virus, memperbaiki fungsi imunologis, memperbaiki kualitas hidup, mengurangi morbiditas dan mortalitas penyakit yang menyertai HIV. Pada kehamilan, keuntungan pemberian antiretrovirus ini harus dibandingkan dengan potensi toksisitas, teratogenesis dan efek samping jangka lama. Akan tetapi, efek penelitian mengenai toksisitas, teratogenesis, dan efek samping jangka lama antiretrovirus pada wanita hamil masih sedikit. Efek samping tersebut diduga akan meningkat pada pemberian kombinasi antiretrovirus, seperti efek teratogenesis kombinasi antiretrovirus dan antagonis folat yang dilaporkan Jungmann, dkk. Namun penelitian terakhir oleh Toumala, dkk menunjukkan bahwa dibandingkan dengan monoterapi, terapi kombinasi antiretrovirus tidak meningkatkan resiko prematuritas, berat badan lahir rendah atau kematian janin intrauterine.

A. Monoterapi Zidovudine Obat antiretrovirus yang pertama kali diteliti untuk mengurangi resiko transmisi perinatal adalah zidovudin (ZDV). Pada Pediatric Virology Committee of the AIDS Clinical Trials Group (PACTG) 076, zidovudin yang diberikan peroral mulai minggu ke-14 kehamilan, dilanjutkan zidovudin intravena pada saat intrapartum untuk ibu, diikuti dengan zidovudin sirup yang diberikan pada bayi sejak usia 6-12 jam sampai 6 minggu.

22