Anda di halaman 1dari 6

A.

SEJARAH FORAMINIFERA Foraminifera adalah salah satu organisme dari kingdom protista dengan alat gerak berupa pseudopodia atau yang sering disebut dengan rhizopoda (kaki semu). Foraminifera biasanya termasuk dalam kingdom Protozoa meskipun beberapa taksonomi menempatkan mereka di setara Protoctista atau Protista. Ada juga bukti yang meyakinkan, terutama didasarkan pada bukti molekuler, untuk mereka kelompok utama dalam Protozoa yang dikenal sebagai Rhizopoda. Sebelum pengakuan dari Rhizopoda sebagai takson, Foraminifera umumnya terdapat dikelas

Granuloreticulosa, Phylum Rhizopodea (Sarcodina). Foraminifera mulai berkembang pada jaman Kambrium sampai Resen dimana mayoritas anggotanya hidup pada lingkungan laut dan mempunyai ukuran yang beragam mulai dari 3 m sampai 3 mm (Haq and Boersma, 1983). Posisi taksonomi Foraminifera bervariasi sejak pengakuan mereka sebagai protozoa (protista) oleh Schultze pada 1854. Meskipun belum didukung oleh korelasi morfologi, data molekuler menyebutkan bahwa Foraminifera terkait erat dengan Cercozoa dan Radiolaria, yang keduanya juga termasuk amoeboids dengan kerang yang komplek. Foraminifera merupakan organisme bersel satu yang telah mampu membangun cangkang kalsit yang sangat kompleks. Cangkang foraminifera terbuat dari kalsium karbonat (CaCO 3) atau partikel sedimen agglutinated. Foraminifera memiliki sekitar 275.000 spesies yang diakui, baik yang masih hidup maupun yang sudah jadi fosil. B. CIRI-CIRI FORAMINIFERA Foraminifera yang merupakan salah satu anggota dari filum protozoa memiliki beberapa ciri-ciri yang membedakannya dengan anggota-anggota filum protozoa lainnya, diantaranya: 1. Merupakan organisme bersel tunggal yang dibagi menjadi endoplasma granular dan ektoplasma transparan dimana pseudopodia muncul melalui lubang tunggal.

2. Siklus hidup Foraminifera melibatkan pergantian antara haploid dan diploid, meskipun mereka sebagian besar serupa dalam bentuk haploid atau gamet awalnya memiliki satu nukleus dan membagi untuk memproduksi berbagai gamet, yang biasanya memiliki dua flagella. Diploid atau skhizon adalah multinukleat, dan setelah meiosis fragmen untuk menghasilkan gamet baru. 3. Foraminifera hampir sama dengan amoeba, hanya saja foraminifera mempunyai kemampuan membentuk cangkang dari zat-zat yang berasal dari dirinya sendiri atau dari benda asing di sekelilingnya. Dinding cangkang tersebut mempunyai komponen dan struktur yang bervariasi. Cangkang foraminifera berguna untuk melindungi protoplasmanya dan biasanya juga dijadikan sebagai penunjuk dalam pencarian sumberdaya minyak, gas alam atau mineral. Cangkang foraminifera sangat beragam mulai dari 5 mikron hingga beberapa centimeter. Tipe dinding cangkang foraminifera dibagi menjadi 3 yaitu : a) Cangkang pasiran (arenaceous) b) Gampingan tanpa pori (porcelaneous) c) Gampingan berpori (hyaline) 4. Foraminafera memili alat gerak yang berupa pseudopodia atau yang

sering disebut dengan rhizopoda (kaki semu). Kaki semu tersebut juga digunakan untuk menangkap mangsanya (makanannya) dengan menjulurjulurkannya ke segala arah melalui pori-pori atau mulut. Makanan yang tertangkap akan melekat pada kaki semu tersebut dan langsung dicerna, kemudian sisa makanan akan dilepas. 5. Persebarannya sangat luas yaitu mulai dari perairan tawar, payau, laut dangkal hingga laut dalam. Foraminifera yang hidup di laut mempunyai kerangka dari zat kapur. Kerangkanya dapat mengedap di dasar laut menjadi tanah globigerina yang dapat digunakan sebagai indikator dalam pencarian minyak bumi. Kebanyakan foraminifera hidup dan tumbuh secara optimal pada daerah yang memiliki sedimen dasar pasir maupun lumpur pasiran (Boltovskoy and Wright, 1976).

6. Foraminifera mempunyai dua macam pertumbuhan, yakni pertumbuhan periodik dan nonperiodik.

C. JENIS-JENIS FORAMINIFERA Foraminifera dibagi menjadi 2 jenis yaitu : 1. Foraminifera Planktonik Foraminifera planktonik hidupnya mengapung dan bergerak bebas di laut beriklim tropik, dan ada juga yang hidup di daerah kutub dan sub kutub. Foraminifera planktonik memiliki jumlah genus yang sedikit,

tetapi memiliki jumlah spesies yang banyak. Foraminifera Planktonik umumnya hidup secara mengambang di permukaan laut. (Boltovskoy and Wright, 1976) Kehidupan foraminifera planktonik sangat dipengaruhi salinitas, kedalaman, fosfat, nitrat, oksigen, gelombang, serta arus. Faktor faktor

ini juga mempenagruhi pola

penyebaran dan perkembangannya. Foraminifera plankton tidak selalu hidup di permukaan laut, tetapi pada kedalaman tertentu : Antara 30 50 meter Antara 50 100 meter Pada kedalaman 300 meter Pada kedalaman 1000 meter Beberapa golongan foraminifera plankton selalu menyesuaikan diri terhadap temperatur dilingkungannya sehingga pada waktu siang hari hidupnya hampir di dasar laut dan pada malam hari hidup di permukaan air laut. Lingkungan yang baik bagi kehidupan foraminifera plankton adalah pada temperatur 20-250 C serta salinitas 30 -36%. Contohnya adalah Globigerina pachyderma di Laut Atlantik Utara hidup pada kedalaman 30 sampai 50 meter, sedangkan di Laut Atlantik Tengah hidup pada kedalaman 200 sampai 300 meter. 2. Foraminifera Bentik Secara umum hampir seluruh zona samudera dihuni oleh foraminifera bentik. Foraminifera bentik adalah protozoa yang membangun cangkang

dari kalsium karbonat (pada jenis gampingan) hasil sekresi sel tunggal tersebut atau membangun cangkang dengan melekatkan partikel-partikel sedimen (agglutinin atau arenaceous). Kondisi sedimen ini sangat dipengaruhi oleh mineral penyusun dan sifat fisiknya. Mineral kuarsa dan fragmen batuan beku merupakan pembatas populasi foraminifera. (Ongkosongo, 1978) Agglutinin mengalami pengurangan pada sedimen yang berasal dari laut dalam tertentu, sebaliknya pada hampir seluruh sedimen oceanik (kecuali pada zona abisal) dapat terawetkan secara baik dengan jenis gampingan. Secara umum di perairan dengan turbitas tinggi, populasi foraminifera bentik akan berkurang. Berikut ini beberapa genus atau spesies foraminifera bentik yang dapat hidup di lingkungan laut secara umum adalah : Asterorotalia trispinosa dan Ammonia beccarii banyak dijumpai pada sedimen pasir dan lumpur pasiran dengan turbiditas yang rendah. Turbiditas dapat mempengaruhi penetrasi cahaya matahari di perairan, sehingga akan mempengaruhi fotosintesis. Akibatnya jumlah oksigen akan berkurang pada turbiditas tinggi. (Dewi, 1984) Elphidium, Potalia, Quingueloculina, Eggerella, Ammobaculites dan bentuk-bentuk lain yang dinding cangkangnya dibuat dari pasiran banyak dijumpai pada kedalaman 0 5 m ( 0-27 C). Cilicides, Proteonina, Ephidium, Cuttulina, Bulimina, Quingueloculina dan Triloculina dijumpai pada kedalaman 15 90 m (3-16 C). Gandryna, Robulus, Nonion, Virgulina, Cyroidina, Discorbis, Eponides dan Textularia dijumpai pada kedalaman 90 300 m (9-13 C). Listellera, Bulimina, Nonion, Angulogerina, Uvigerina, Bolivina dan Valvulina dijumpai Pada kedalaman 300 1000 m (5-8 C).

D. KEGUNAAN FORAMINIFERA Foraminifera memiliki beberapa manfaat atau kegunaan sebagai berikut: 1. Foraminifera biasa digunakan untuk mengetahui umur relatif dari suatu lapisan atau batuan, yaitu untuk menyusun biokronologi batuan dengan menggunakan keberadaan foraminifera planktonik sebagai penciri. (Berger and Winterer, 1974) 2. Fosil foraminifera dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah geologi, antara lain : Sebagai fosil petunjuk, yaitu fosil Foraminifera sangat berguna untuk biostratigrafi yang dapat memberikan tanggal relatif terhadap batuan. Penentuan lingkungan pengendapan yaitu tipe perairan. Contohnya perairan dangkal, perairan payau, laut dalam, abisal, batial, dan lainlain. Karena keanekaragaman, kelimpahan, dan morfologi mereka sangat kompleks, dan akurat (Berger and Winterer, 1974) 3. Untuk menemukan deposit minyak potensial, yaitu foraminifera digunakan sebagai penunjuk dalam eksplorasi minyak bumi sejak perang dunia pertama, pada saat revolusi industri dimulai. 4. Foraminifera juga dapat dimanfaatkan dalam arkeologi diprovenancing beberapa jenis bahan baku batu. Beberapa jenis batu, seperti batu gamping, biasanya ditemukan mengandung fosil foraminifera. Jenis dan konsentrasi fosil dalam sampel batu dapat digunakan untuk mencocokkan bahwa sampel ke sumber diketahui mengandung fosil yang sama.

E. DAFTAR PUSTAKA Boltovskoy, E. and R. Wright. 1976. Recent Foraminifera. Dr. W. June, B. V. Netherland: The Haque. Haq, B.U. and Boersma. 1983. Introduction to Marine Micropaleontology. Elsevier Biomedical. London: Oxford. Dewi, T. 1984. Ecology of Recent Benthic Foraminifera from the North Java Central Zones. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ongkosongo, O.S.R., Soemoenar, dan Susmiati. 1978. Foraminifera resen dari daerah kehidupan hutan bakau di Teluk Ambon. Jakarta. Berger and Winterer. 1974. Foraminifera. Notes for a Short Course. Louisiana: Department of Geological Science University of Tennessee.