Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI

A. KONSEP DASAR ANATOMI FISIOLOGI

1.

Latar Belakang

Dengan kemajuan teknologi, kematian yang disebabkan penyakit infeksi berkurang sedang penyakit system kardiovaskuler terus meningkat. Berkurang penyakit infeksi ini disebabkan beberapa faktor, yaitu: 1. Perbaikan sosioekonomi masyarakat 2. 3. 4. Pemberantasan kuman penyakit yang efektif Ditemukan obat-obat antibiotika yang baru Meningkatnya penyuluhan kesehatan

Pada saat ini di Negara maju penyakit system kardiovaskuler merupakan penyebab kematian yang paling utama. Penyakit kardiovaskuler yang merupakan masalah di masyarakat adalah penyakit hipertensi. Bila penyakit hipertensi tidak diobati, tekanan darah semakin meningkat dengan bertambahnya umur penderita. Tekanan darah terus meningkat dapat menimbulkan komplikasi jantung, ginjal, dan otak.

1. Anatomi a. Jantung Berukuran sekitar satu kepalan tangan dan terletak didalam dada, batas kanannya terdapat pada sternum kanan dan apeksnya pada ruang intercostalis kelima kiri pada linea midclavicular. Hubungan jantung adalah: 1. Atas : pembuluh darah besar 2. 3. 4. b. Arteri Adalah tabung yang dilalui darah yang dialirkan pada jaringan dan organ. Arteri terdiri dari lapisan dalam: lapisan yang licin, lapisan tengah jaringan elastin/otot: aorta dan cabangBawah : diafragma Setiap sisi : paru Belakang : aorta desendens, oesophagus, columna vertebralis

cabangnya besar memiliki laposan tengah yang terdiri dari jaringan elastin (untuk menghantarkan darah untuk organ), arteri yang lebih kecil memiliki lapisan tengah otot (mengatur jumlah darah yang disampaikan pada suatu organ).

Arteri merupakan struktur berdinding tebal yang mengangkut darah dari jantung ke jaringan. Aorta diameternya sekitar 25mm(1 inci) memiliki banyak sekali cabang yang pada gilirannya tebagi lagi menjadi pembuluh yang lebih kecil yaitu arteri dan arteriol, yang berukuran 4mm (0,16 inci) saat mereka mencapai jaringan. Arteriol mempunyai diameter yang lebih kecil kirakira 30 m. Fungsi arteri menditribusikan darah teroksigenasi dari sisi kiri jantung ke jaringan. Arteri ini mempunyai dinding yang kuat dan tebal tetapi sifatnya elastic yang terdiri dari 3 lapisan yaitu : 1. Tunika intima. Lapisan yang paling dalam sekali berhubungan dengan darah dan terdiri dari jaringan endotel. 2. Tunika Media. Lapisan tengah yang terdiri dari jaringan otot yang sifatnya elastic dan termasuk otot polos 3. Tunika Eksterna/adventisia. Lapisan yang paling luar sekali terdiri dari jaringan ikat gembur yang berguna menguatkan dinding arteri. (Syaifuddin, 2006)

c. Arteriol Adalah pembuluh darah dengan dinding otot polos yang relatif tebal. Otot dinding arteriol dapat berkontraksi. Kontraksi menyebabkan kontriksi diameter pembuluh darah. Bila kontriksi bersifat lokal, suplai darah pada jaringan/organ berkurang. Bila terdapat kontriksi umum, tekanan darah akan meningkat. d. Pembuluh darah utama dan kapiler Pembuluh darah utama adalah pembuluh berdinding tipis yang berjalan langsung dari arteriol ke venul. Kapiler adalah jaringan pembuluh darah kecil yang membuka pembuluh darah utama. Kapiler merupakan pembuluh darah yang sangat halus. Dindingnya terdiri dari suatu lapisan endotel. Diameternya kira-kira 0,008 mm. Fungsinya mengambil hasil-hasil dari kelenjar, menyaring darah yang terdapat di ginjal, menyerap zat makanan yang terdapat di usus, alat penghubung antara pembuluh darah arteri dan vena.

e. Sinusoid Terdapat limpa, hepar, sumsum tulang dan kelenjar endokrin. Sinusoid tiga sampai empat kali lebih besar dari pada kapiler dan sebagian dilapisi dengan sel sistem retikulo-endotelial. Pada tempat adanya sinusoid, darah mengalami kontak langsung dengan sel-sel dan pertukaran tidak terjadi melalui ruang jaringan.

Saluran Limfe mengumpulkan, menyaring dan menyalurkan kembali cairan limfe ke dalam darah yang ke luar melalui dinding kapiler halus untuk membersihkan jaringan. Pembuluh limfe sebagai jaringan halus yang terdapat di dalam berbagai organ, terutama dalam vili usus. f. Vena dan venul Venul adalah vena kecil yang dibentuk gabungan kapiler. Vena dibentuk oleh gabungan venul. Vena memiliki tiga dinding yang tidak berbatasan secara sempurna satu sama lain. (Gibson, John. Edisi 2 tahun 2002, hal 110) Vena merupakan pembuluh darah yang membawa darah dari bagian atau alat-alat tubuh masuk ke dalam jantung. Vena yang ukurannya besar seperti vena kava dan vena pulmonalis. Vena ini juga mempunyai cabang yang lebih kecil disebut venolus yang selanjutnya menjadi kapiler. Fungsi vena membawa darah kotor kecuali vena pulmonalis, mempunyai dinding tipis, mempunyai katup-katup sepanjang jalan yang mengarah ke jantung.

PENGERTIAN
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer,2001) Menurut WHO ( 1978 ), tekanan darah sama dengan atau diatas 160 / 95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastolik 120 mmHg (Sharon, L.Rogen, 1996). Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg (Luckman Sorensen,1996).

KLASIFIKASI
Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas : ( Darmojo, 1999 ) Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg. Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu : Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain

ETIOLOGI
Etiologi Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik (idiopatik). Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi: 1. Na. Genetik: Respon neurologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau transport

2. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan tekanan darah meningkat. 3. Stress Lingkungan.

4. Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterosklerosis pada orang tua serta pelebaran pembuluh darah. Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu: 1. Hipertensi Esensial (Primer) Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, system rennin angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok dan stress. 1. Hipertensi Sekunder Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vaskuler renal. Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll. Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan perubahan pada : 1. 2. Elastisitas dinding aorta menurun Katub jantung menebal dan menjadi kaku

3. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. 4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah Hal ini terjadi karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut : Faktor keturunan Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi Ciri perseorangan

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah: Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat ) Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan ) Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih ) Kebiasaan hidup Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah :

7. 8. 9. 10. 11.

Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr ) Kegemukan atau makan berlebihan Stress Merokok Minum alcohol

12. Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin ) Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. Ginjal Glomerulonefritis Pielonefritis Nekrosis tubular akut Tumor Vascular Aterosklerosis Hiperplasia Trombosis Aneurisma Emboli kolestrol Vaskulitis Kelainan endokrin DM Hipertiroidisme Hipotiroidisme Saraf Stroke Ensepalitis SGB Obat obatan Kontrasepsi oral Kortikosteroid

PATOFISIOLOGI / PATHWAY
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang

berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi. Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001). Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya hipertensi palsu disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo, 1999).

Patofisiologi hipertensi
Daftar
hipertensi pneumonia diabetes melitus stroke gagal jantung diare nyeri anemia katarak kangker payudara kangker kangker serviks kangker ovarium katarak senilis kangker kolon kardiovaskuler bblr bph batu ginjal bronchopneumonia batuk bronkritis bayi prematur batu ureter

asma prematur asma anemia apendisitis aterosklerosis asam urat asam bronkial angina pektoris aritmia aids

kangker hati kangker paru diare diare pada anak diare akut pada anak diare akut diare kronis diare skretorik diarepada anak diare pada bayi diare pada anak

bronchitis batu saluran kemih ca nasofaring chf cidera kepala ckd, campak capd combustio cidera kepala ringan ca kolon ca mamae

Tabel (1.1)patofisiologi
Menurunnya tonus vaskuler merangsang saraf simpatis yang diteruskan ke sel jugularis. Dari sel jugularis ini bisa meningkatkan tekanan darah. Dan apabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat meningkatkan hormone aldosteron yang menyebabkan retensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanan darah. Dengan peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan pada organ-organ seperti jantung. ( Suyono, Slamet. 1996 )

TANDA DAN GEJALA


Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : Tidak ada gejala Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur. Gejala yang lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala, pusing Lemas, kelelahan, Sesak nafas, Gelisah, Mual Muntah, Epistaksis, Kesadaran menurun.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Hemoglobin / hematokrit Untuk mengkaji hubungan dari sel sel terhadap volume cairan ( viskositas ) dan dapat mengindikasikan factor factor resiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia. 2. BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal 3. Glukosa Hiperglikemi ( diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi ) dapat diakibatkan oleh peningkatan katekolamin ( meningkatkan hipertensi ) 4. Kalium serum Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama ( penyebab ) atau menjadi efek samping terapi diuretik. 5. Kalsium serum Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi 6. Kolesterol dan trigliserid serum Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler ) 7. Pemeriksaan tiroid Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi 8. Kadar aldosteron urin/serum Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab ) 9. Urinalisa Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes. 10. Asam urat Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi 11. Steroid urin Kenaikan dapat mengindikasikan hiperadrenalisme 12. IVP Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal, batu ginjal / ureter 13. Foto dada Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran jantung 14. CT scan Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati 15. EKG Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi

PENATALAKSANAAN
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.

Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi : Terapi tanpa Obat Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa obat ini meliputi : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Diet Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah : Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh Penurunan berat badan Penurunan asupan etanol Menghentikan merokok Latihan Fisik

Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu : Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda, berenang dan lainlain Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Lamanya latihan berkisar antara 20 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu Edukasi Psikologis Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi : 1. Tehnik Biofeedback Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan. 2. Tehnik relaksasi Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan ) Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Terapi dengan Obat

Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi ( JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988 ) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita. Pengobatannya meliputi : Step 1 Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE inhibitor Step 2 Alternatif yang bisa diberikan : Dosis obat pertama dinaikkan Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama Ditambah obat ke 2 jenis lain, dapat berupa diuretika , beta blocker, Ca antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator Step 3 : Alternatif yang bisa ditempuh Obat ke-2 diganti Ditambah obat ke-3 jenis lain Step 4 : Alternatif pemberian obatnya Ditambah obat ke-3 dan ke-4 Re-evaluasi dan konsultasi Follow Up untuk mempertahankan terapi Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan ( perawat, dokter ) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas kesehatan adalah sebagai berikut : 1. Setiap kali penderita periksa, penderita diberitahu hasil pengukuran tekanan darahnya 2. Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai mengenai tekanan darahnya 3. Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat sembuh, namun bisa dikendalikan untuk dapat menurunkan morbiditas dan mortilitas 4. Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan tingginya tekanan darah atas dasar apa yang dirasakannya, tekanan darah hanya dapat diketahui dengan mengukur memakai alat tensimeter

Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan lebih dahulu Sedapat mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup penderita Ikutsertakan keluarga penderita dalam proses terapi 5. Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan bila penderita atau keluarga dapat mengukur tekanan darahnya di rumah 6. Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal 1 x sehari atau 2 x sehari 7. Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi, efek samping dan masalah-masalah yang mungkin terjadi 8. Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis atau mengganti obat untuk mencapai efek samping minimal dan efektifitas maksimal 9. 10. 11. Usahakan biaya terapi seminimal mungkin Untuk penderita yang kurang patuh, usahakan kunjungan lebih sering Hubungi segera penderita, bila tidak datang pada waktu yang ditentukan.

12. Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka sangat diperlukan sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang pemahaman dan pelaksanaan pengobatan hipertensi.

Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah :


1. Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg 2. 2. Sakit kepala 3. Pusing / migrain 4. Rasa berat ditengkuk 5. Penyempitan pembuluh darah 6. Sukar tidur 7. Lemah dan lelah 8. Nokturia 9. Azotemia 10. Sulit bernafas saat beraktivitas

PENGKAJIAN
Aktivitas / istirahat Gejala : 1. Kelemahan

2. 3. 4. Tanda : 1. 2. 3.

Letih Napas pendek Gaya hidup monoton

Frekuensi jantung meningkat Perubahan irama jantung Takipnea

4. Sirkulasi Gejala : Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner / katup, penyakit serebrovaskuler Tanda : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kenaikan TD Nadi : denyutan jelas Frekuensi / irama : takikardia, berbagai disritmia Bunyi jantung : murmur Distensi vena jugularis Ekstermitas

7. Perubahan warna kulit, suhu dingin( vasokontriksi perifer ), pengisian kapiler mungkin lambatIntegritas Ego 8. Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, marah, faktor stress multiple ( hubungsn, keuangan, pekerjaan ) Tanda : 1. Letupan suasana hati

2. Gelisah Penyempitan kontinue perhatian Tangisan yang meledak otot muka tegang ( khususnya sekitar mata ) Peningkatan pola bicara 3. Eliminasi Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi, obstruksi, riwayat penyakit ginjal ) Makanan / Cairan Gejala : 1. Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam, lemak dan kolesterol

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Gejala : 1. 2. 3. 4. 5. Tanda :

Mual Muntah Riwayat penggunaan diuretic Tanda : BB normal atau obesitas Edema Kongesti vena Peningkatan JVP glikosuria Neurosensori

Keluhan pusing / pening, sakit kepala Episode kebas Kelemahan pada satu sisi tubuh Gangguan penglihatan ( penglihatan kabur, diplopia ) Episode epistaksis

1. Perubahan orientasi, pola nafas, isi bicara, afek, proses pikir atau memori ( ingatan ) 2. 3. 4. Gejala : 1. 2. Gejala : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas Takipnea Ortopnea Dispnea nocturnal proksimal Batuk dengan atau tanpa sputum Riwayat merokok nyeri hilang timbul pada tungkai sakit kepala oksipital berat nyeri abdomen Pernapasan Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman Perubahan retinal optic Nyeri/ketidaknyamanan

Tanda : 1. 2. Distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan Bunyi napas tambahan ( krekles, mengi )

3. SianosisKeamanan Gejala : Gangguan koordinasi, cara jalan 1. Gejala : 1. Factor resiko keluarga ; hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM , penyakit serebrovaskuler, ginjal 2. 3. Faktor resiko etnik, penggunaan pil KB atau hormon lain Penggunaan obat / alcohol Tanda : Episode parestesia unilateral transienPembelajaran / Penyuluhan

Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laborat 1) Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor resiko, seperti : hipokoagulabilitas, anemia. 2) BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal. 3) Glukosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin. 4) Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan adanya DM. b. CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati c. EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi. d. IVP : Mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal, perbaikan ginjal. e. Photo dada : Menunjukan destruksi klasifikasi pada area katup, pembesaran jantung. Penatalaksanaan

a. Penatalaksanaan Non Farmakologi 1) Diet pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat menurunkan tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam plasma dan kadar aldosteron dalam plasma. 2) Aktivitas Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan

denganbatasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging, bersepeda atau berenang. b. Penatalaksanaan Farmakologis Secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:

1) Mempunyai efektivitas yang tinggi. 2) Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal. 3) Memungkinkan penggunaan obat secara oral. 4) Tidak menimbulkan intoleransi. 5) Harga obat relatif murah sehingga terjangkau oleh klien. 6) Memungkinkan penggunaan jangka panjang. Golongan obat obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi, seperti golongan diuretik misalnya lasik, golongan betabloker, Inhibitor simpatis ( Propanolol,metroprolol ), Anti Adrenergik (minipres,hytrin).

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam. Kriteria hasil : Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan TD Mempertahankan TD dalam rentang yang dapat diterima Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil Intervensi :

Pantau TD, ukur pada kedua tangan, gunakan manset dan tehnik yang tepat Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler Catat edema umum Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas, batasi jumlah pengunjung. Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur/kursi Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher, meninggikan kepala tempat tidur. Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan

Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi

Diuretik Tiazid misalnya klorotiazid ( Diuril ), hidroklorotiazid ( esidrix, hidrodiuril ), bendroflumentiazid ( Naturetin )

Diuretic Loop misalnya Furosemid ( Lasix ), asam etakrinic ( Edecrin ), Bumetanic ( Burmex )Diuretik hemat kalium misalnay spironolakton ( aldactone ), triamterene ( Dyrenium ), amilioride ( midamor ) Inhibitor simpatis misalnya propanolol ( inderal ), metoprolol ( lopressor ), Atenolol ( tenormin ), nadolol ( Corgard ), metildopa ( aldomet ), reserpine ( Serpasil ), klonidin ( catapres )Vasodilator misalnya minoksidil ( loniten ), hidralasin ( apresolin ), bloker saluran kalsium ( nivedipin, verapamil )Anti adrenergik misalnya minipres, tetazosin ( hytrin ), Bloker nuron adrenergik misalnya guanadrel ( hyloree ), quanetidin ( Ismelin ), reserpin ( Serpasil ), Inhibitor adrenergik yang bekerja secara sentral misalnya klonidin ( catapres ), guanabenz ( wytension ), metildopa ( aldomet ,)Vasodilator kerja langsung misalnya hidralazin ( apresolin ), minoksidil, loniten, Vasodilator oral yang bekerja secara langsung misalnya diazoksid ( hyperstat ), nitroprusid ( nipride, nitropess ), Bloker ganglion misalnya guanetidin ( ismelin ), trimetapan ( arfonad ), ACE inhibitor ( captopril, captoten ) Nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral Tujuan : Nyeri atau sakit kepala hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : 1. 2. 3. Intervensi : 1. 2. 3. 4. Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala Pasien tampak nyaman TTV dalam batas normal

5. Beri tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala seperti kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher, posisi nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi dan distraksi

6. Hilangkan / minimalkan vasokonstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala misalnya mengejan saat BAB, batuk panjang, membungkuk 7. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : analgesik, antiansietas (lorazepam, ativan, diazepam, valium )Resiko perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan adanya tahanan pembuluh darah Tujuan : Tidak terjadi perubahan perfusi jaringan : serebral, ginjal, jantung setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima, tidak ada keluhan sakit kepala, pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas normal. Haluaran urin 30 ml/ menit Tanda-tanda vital stabil Intervensi : 1. 2. Pertahankan tirah baring Tinggikan kepala tempat tidur

3. Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan; tidur, duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia 4. 5. 6. 7. Ambulasi sesuai kemampuan; hindari kelelahan Amati adanya hipotensi mendadak Ukur masukan dan pengeluaran Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai program

8. Pantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai programIntoleransi aktifitas berhubungan penurunan cardiac output Tujuan : Tidak terjadi intoleransi aktifitas setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : 1. 2. Intervensi : 1. Berikan dorongan untuk aktifitas / perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi. 2. Berikan bantuan sesuai kebutuhan Meningkatkan energi untuk melakukan aktifitas sehari hari Menunjukkan penurunan gejala gejala intoleransi aktifitas

3. 4. 5. 6.

Instruksikan pasien tentang penghematan energy Kaji respon pasien terhadap aktifitas Monitor adanya diaforesis, pusing Observasi TTV tiap 4 jam

7. Berikan jarak waktu pengobatan dan prosedur untuk memungkinkan waktu istirahat yang tidak terganggu, berikan waktu istirahat sepanjang siang atau soreGangguan pola tidur berhubungan adanya nyeri kepala Tujuan : Tidak terjadi gangguan pola tidur setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : 1. 2. 3. Intervensi : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Ciptakan suasana lingkungan yang tenang dan nyaman Beri kesempatan klien untuk istirahat / tidur Evaluasi tingkat stress Monitor keluhan nyeri kepala Lengkapi jadwal tidur secara teratur Berikan makanan kecil sore hari dan / susu hangat Lakukan masase punggung Putarkan musik yang lembut Mampu menciptakan pola tidur yang adekuat 6 8 jam per hari Tampak dapat istirahat dengan cukup TTV dalam batas normal

9. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasiKurangnya perawatan diri berhubungan dengan adanya kelemahan fisik. Tujuan : Perawatan diri klien terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam Kriteria hasil : 1. 2. Intervensi : 1. Kaji kemampuan klien untuk melakukan kebutuhan perawatan diri Mampu melakukan aktifitas perawatan diri sesuai kemampuan Dapat mendemonstrasikan tehnik untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri

2. 3.

Beri pasien waktu untuk mengerjakan tugas Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri

4. Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan klien / atas keberhasilannya 5. Kecemasan berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya hipertensi yang diderita klien Tujuan: Kecemasan hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 Jam Kriteria hasil : 1. 2. 3. Intervensi : 1. Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku misalnya kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan 2. Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan konsentrasi, peka rangsang, penurunan toleransi sakit kepala, ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah 3. Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya 4. Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan 5. 6. 7. 8. 9. 10. Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas atau tujuan hidup Kaji tingkat kecemasan klien baik secara verbal maupun non verbal Observasi TTV tiap 4 jam Dengarkan dan beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaanya Berikan support mental pada klien Anjurkan pada keluarga untuk memberikan dukungan pada klien Klien mengatakan sudah tidak cemas lagi / cemas berkurang Ekspresi wajah rilek TTV dalam batas normal

Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit Tujuan : Klien terpenuhi dalam informasi tentang hipertensi setelah dilakukan tindakan ekperawatan

selama 1 x 24 jam Kriteria hasil: 1. 2. Intervensi : 1. 2. Jelaskan sifat penyakit dan tujuan dari pengobatan dan prosedur Jelaskan pentingnya lingkungan yang tenang, tidak penuh dengan stress Pasien mengungkapkan pengetahuan akan hipertensi Melaporkan pemakaian obat-obatan sesuai program

3. Diskusikan tentang obat-obatan : nama, dosis, waktu pemberian, tujuan dan efek samping atau efek toksik 4. Jelaskan perlunya menghindari pemakaian obat bebas tanpa pemeriksaan dokter 5. Diskusikan gejala kambuhan atau kemajuan penyulit untuk dilaporkan dokter : sakit kepala, pusing, pingsan, mual dan muntah. 6. 7. 8. Diskusikan pentingnya mempertahankan berat badan stabil Diskusikan pentingnya menghindari kelelahan dan mengangkat berat Diskusikan perlunya diet rendah kalori, rendah natrium sesuai program

9. Jelaskan penetingnya mempertahankan pemasukan cairan yang tepat, jumlah yang diperbolehkan, pembatasan seperti kopi yang mengandung kafein, teh serta alcohol 10. 11. Jelaskan perlunya menghindari konstipasi dan penahanan Berikan support mental, konseling dan penyuluhan pada keluarga klien

a. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular. b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. c. Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral. (Doenges,1999)
1. Gangguan nutrisi berhubungan dengan masukan berlebihan sehubung dengan kebutuhan metabolic. 1. Kurang Pengetahuan (kebutuhan belajar),mengenai kondisi,rencana pengobatan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan/daya ingat.
3. Intervensi

Diagnosa Keperawatan Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular. Tujuan : Afterload tidak meningkat, tidak terjadi vasokonstriksi, tidak terjadi iskemia miokard. Kriteria Hasil : Klien berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah / bebankerja jantung , mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapatditerima, memperlihatkan norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentangnormal pasien. Intervensi :

a. Pantau TD, ukur pada kedua tangan, gunakan manset dan tehnik yang tepat.
Rasional : Untuk mengetahui keadaan umum

b. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer.


Rasional : Untuk mengetahui denyut karotis,jugularis,radialis dan femoralis mungkin terpalpasi

c. Auskultasi bunyi jantung dan bunyi napas.

Rasional : Untuk mengetahui bunyi jantung S4(adanya hypertrofi atrium)dan S3 (Hypertrofi ventrikel dan kerusakan fungsi),adanya krakles

d. Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler


Rasional : Adanya pucat,dingin,kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat mungkin berkaitan dengan vasokontriksi

e. Catat edema umum.


Rasional : Mengindikasi gagal jantung,kerusakan ginjal atau vaskuler

f.

Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas.

Rasional : Membantu untuk menurunkan rangsang simpatis: Meningkatkan relaksasi

g. Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur/kursi


Rasional : Menurunkan stress dan ketegangan yang mempengaruhi TD dan perjalan penyakit hypertensi

h. Lakukan tindakan yang nyaman seperti pijatan punggung dan leher


Rasional : Mengurangi ketidaknyaman dan dapat menurunkan rangsangan simpatis

i. Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah Rasional : Untuk mengetahui respon terhadap reaksi obat j. Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi

Rasional : Menangani retensi cairan dengan respon hypertensi dengan demikian dapat menurunkan beban kerja jantung
Diagnosa Keperawatan Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. Tujuan : klien dapat melakukan aktivitas Kriteria Hasil :Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan / diperlukan,melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas. Intervensi : 1. Kaji respon pasien terhadap aktivitas Rasional : Mengkaji respon fisiologi terhadap stress aktivitas dan indicator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas 1. Instruksikan pasien tentang teknik penghematan energy, misalnya: menggunakan kursi saat mandi, duduk saat menyisir rambut Rasional : Menghemat energy,mengurangi penggunaan energy juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. 1. Dorong memajukan aktivitas / toleransi perawatan diri. Rasional : Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba. Diagnosa Keperawatan Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral Tujuan : Tekanan vaskuler serebral tidak meningkat. Kriteria Hasil asien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala dan tampak nyaman. Intervensi : 1. Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan Rasional : Meningkatkan relaksasi 1. Batasi aktivitas. Rasional : Aktivitas yang meningkatkan vasokonstriksi menyebabkan sakit kepala karena adanya peningkatan tekanan vaskuler serebral 1. c. Beri obat analgesic dan antiansietas(Diazepam) sesuai indikasi Rasional : Menurunkan nyeri dan menurunkan rangsang system saraf simpatik dan dapat mengurangi ketegangan serta ketidaknyamanan yang diperberat oleh stress. Diagnosa Keperawatan

Gangguan nutrisi berhubungan dengan masukan berlebihan sehubung dengan kebutuhan metabolik Tujuan : Mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dengan kegemukan Kriteria Hasil :Menunjukkan perubahan pola makan dan mempertahankan berat badan yang diinginkan dengan pemeliharaan kesehatan yang optimal Intervensi : 1. Kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung antara hipertensi dan kegemukan Rasional:kegemukan adalah resiko tambahan pada hipertensi b. Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet Rasional :Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dalam program diet terakhir c. Instruksikan da bantu memilih makanan yang tepat,hindari makanan dengan kejenuhan lemak tinggi dan kolestrol Rasional: Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolestrol d. Berkolaborasi dengan ahli gizi sesuai indikasi Rasional :Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individu Diagnosa Keperawatan Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kondisi, rencana pengobatan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan/daya ingat Tujuan : Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan pengobatannya Kriteria Hasil : pasien dapat mengidentifikasi efek samping obat. Intervensi : 1. Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar,termasuk orang terdekat Rasional :Untuk mengetahui sejauh mana pasien paham tentang penyakitnya 1. Tetapkan dan nyatakan batas TD normal,menjelaskan tentang hipertensi dan efek pada jantung, Rasional : Memberi dasar untuk pemahaman tentang peningkatan TD 1. Bantu pasien untuk mengidentifikasi faktor-faktor resiko kardiovaskuler yang dapat diubah Rasional : Untuk menunjukkan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskuler 1. Atasi masalah pasien untuk mengidentifikasi cara perubahan gaya hidup dan membahas bahayanya merokok

Rasional : Membantu mengarahkan pola hidup yang lebih sehat

4.

Evaluasi

Resiko penurunan jantung tidak terjadi, intoleransi aktivitas dapat teratasi, gangguan rasa nyeri klien berkurang bahkan hilang, gangguan nutrisi dapat teratasi, dan pengetahuan dapat teratasi.

A. KESIMPULAN

Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastolik 120 mmHg (Sharon, L.Rogen, 1996). Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:Genetik, obesitas, stress lingkungan, hilangnya elastisitas jaringan dan arterisklerosis pada orang tua serta pelebaran pembuluh darah. Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu: hipertensi esensial (primer) penyebab tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhi, seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, system rennin angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok dan stress, hipertensi sekunder dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vaskuler renal. Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll. Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah : peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg, sakit kepala,epistaksis pusing / migrain rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang kunang, lemah dan lelah, nokturia, azotemia. Pemeriksaan Penunjang seperti pemeriksaan laborat: Hb/Ht, BUN / kreatinin, glukosa, urinalisa, CT Scan, EKG, IUP , foto dada Penatalaksanaan enatalaksanaan Non Farmakologis seperti diet pembatasan atau pengurangan konsumsi garam,aktivitas seperti klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan dengan batasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging,bersepeda atau berenang.Penatalaksanaan Farmakologis. Dalam pengkajian pada klien yang menderita hipertensi yang harus dikaji seperti : aktivitas/ Istirahat, sirkulasi, integritas ego,eliminasi, makanan/cairan, neurosensori, nyeri/ ketidaknyamanan, keamanan, pernafasan. Diagnosa Keperawatan yang sering muncul, resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular, intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2, gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan

dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral, potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol 2. Jakarta: EGC. Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien. Jakarta: EGC. Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk mahasiswa keperawatan. Jakarta: EGC Suyono, Slamet. 1996. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Gaya Baru