Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Berbagai macam kasus tindakan kriminal yang terjadi di berbagai Negara, misalnya saja kasus penyiksaan anak. Penyiksaan fisik anak merupakan kasus yang sering terjadi di dunia bahkan di Indonesia, namun dalam kenyataannya penyiksaan fisik anak masih sering diabaikan karena ketidaktahuan. Anak sebagai sasaran utama dalam kekerasan ini tentunya sangat memiliki resiko tinggi dalam kerugian fisik maupun mental. Seperti kasus Rina (14) yang disiksa oleh ibunnya Nurhaema (60) selama 10 tahun dengan cara dipukuli, diperbudak dan tidak disekolahkan. Di Indonesia sendiri telah terdapat

beberapa data kasus mengenai penyiksaan anak. Beberapa data statistik kekerasan anak di Indonesia adalah: 1. Angka dari Sakernas (2003) menunjukkan para pekerja anak yang di daerah perdesaan jauh lebih banyak yakni sebesar 79% dibanding di perkotaan yakni sebesar 21%. 2. Dilihat dari jenis pekerjaannya, sebanyak 62% bekerja di sektor pertanian, 19% di industri dan, dan 19% di sektor jasa. 3. Sebanyak 74% pekerja anak merupakan pekerja yang tak dibayar karena memang statusnya adalah membantu bisnis orangtuanya. Sementara sebanyak 14% berstatus pekerja tetap di berbagai industri. Golongan yang disebut terakhir ini umumnya dibayar dengan upah yang relatif rendah. 4. Data Biro Pusat Statistik (BPS) pada 2004 mencatat perokok pada usia anakanak cukup tinggi, yaitu perokok aktif pada usia 13-15 tahun sebanyak 26, 8% dan pada usia 5-9 tahun sebanyak 2, 8%. Ini menunjukkan bahwa banyak anak di Indonesia yang kurang mendapat perhatian dari orangtuanya.

5. Selama tahun 2006, data dari komnas Perlindungan Anak (PA) menyebutkan, jumlah kasus kekerasan fisik sebanyak 247 kasus, kekerasan seksual 426 kasus sedangkan kekerasan psikis 451 kasus tercatat dilakukan terhadap anak di Indonesia. 6. Selama kurun 2008, sebanyak 150 ribu anak menjadi korban trafficking. Jumlah tersebut tersebar dalam berbagai modus kejahatan seperti sindikat pelacuran, pedofolia, pornografi dan sebagainya. 70% dari korban adalah anak yang berusia 14-16 tahun. Karena maraknya penyiksaan fisik kepada anak di Indonesia, kelompok kami memilih judul Penyiksaan Anak untuk dijadikan bahan diskusi dilihat dari kasus Rina. B. Analisa Masalah 1. Kasus penyiksaan anak tersebut oleh seorang ibunya selama 10 tahun. 2. Penyiksaan anak tersebut berdampak pada tumbuh kembang anak. 3. Polisi kurang tegas dalam mengatasi masalah tersebut. 4. Penyiksaan tersebut dilakukan dengan sengaja untuk memperbudak anaknya. 5. Warga yang mengetahui peristiwa tersebut menyembunyikan anak tersebut untuk melindunginya. C. Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. D. Apakah penyiksaan anak diatas terdapat pelanggaran agama ? Apakah penyiksaan anak diatas terdapat pelanggaran moral dan etika? Apakah penyiksaan anak diatas terdapat pelanggaran hukum ? Apakah penyiksaan anak diatas terdapat pelanggaran HAM? Apa dampak dari penyiksaan anak diatas? Bagaimana penyelesaian kasus penyiksaan anak diatas?

Tujuan penulisan 1. 2. Mengetahui penyiksaan anak diatas terdapat pelanggaran agama Mengetahui penyiksaan anak diatas terdapat pelanggaran moral dan etika

3. 4. 5. 6.

Mengetahui penyiksaan anak diatas terdapat pelanggaran hukum Mengetahui penyiksaan anak diatas terdapat pelanggaran HAM Mengetahui dampak dari penyiksaan anak diatas Mengetahui penyelesaian kasus penyiksaan anak diatas

Beri Nilai