Anda di halaman 1dari 109

INFEKSI SALURAN KEMIH

INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) A. Definisi Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001). Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001). Infeksi Saluran Kemih adalah merupakan infeksi traktus urinarius yang disebabkan karena adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius dengan atau disertai tanda dan gejala, infeksi ini sering mengenai kandung kemih, prostate, uretra, dan ginjal.(Brunner & Suddarth,2002: 1438) Infeksi Saluran Kemih adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih. (Enggram, Barbara, 1998). Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang di sebabkan oleh bakteri terutama escherichia coli: resiko dan beratnya meningkat dengan kondisi seperti refluksvesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis perkemihan, pemakaian instrumen baru,septikemia. (Susan Martin Tucker, dkk,1998). Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi yang sering dijumpai pada perempuan setelah infeksi saluran nafas. Dalam setiap tahun, 15% perempuan mengalami ISK. Kejadian ISK makin sering terjadi pada masa kehamilan. Perubahan mekanis dan hormonal yang terjadi pada kehamilan meningkatkan risiko keadaan yang membuat urin tertahan di saluran kencing. Juga adanya peningkatan hormon progesterone pada kehamilan akan menambah besar dan berat rahim serta mengakibatkan pengenduran pada otot polos saluran kencing. Perubahan-perubahan tersebut mencapai puncak pada akhir trimester dua dan awal trimester tiga yang merupakan factor yang memudahkan terjangkitnya ISK pada kehamilan. Saluran kencing yang pendek pada perempuan dan kebersihan daerah sekitar kelamin luar yang menjadi bagian yang sulit dipantau pada perempuan hamil akan mempermudah ISK. ISK postpartum adalah infeksi bakteri pada traktus urinarius, terjadi sesudah melahirkan, ditandai kenaikan suhu sampai 38 derajat celcius atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama.

B. Tanda dan Gejala Tanda-tanda ISK tidak khas, sebagian diantaranya bahkan tanpa gejala. Biasanya, keluhan yang sering dijumpai antara lain: Nyeri saat kencing (disuria) Kencing sedikit-sedikit dan sering (polakisuria) dalam bahass jawa: anyanganyangen Nyeri di atas tulang kemaluan atau perut bagian bawah (suprapubik) Tanda-tanda tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan bagian saluran kencing yang terinfeksi. 1. ISK bagian bawah: biasanya ditandai dengan keluhan nyeri atau rasa panas saat kencing, kencing sedikit-sedikit dan sering, rasa tidak nyaman di atas tulang kemaluan (suprapubik). 2. ISK bagian atas: ditandai dengan keluhan nyeri atau rasa tidak nyaman di pinggang, mual, muntah, lemah, demam, menggigil, sakit kepala. C. Etiologi Etiologi ISK sebagian besar didominasi bakteri gram negatif, seperti E. coli (pada hampir 80% kasus), sedangkan bakteri gram positif lebih jarang menyebabkan ISK. Berdasarkan Toronto Notes 2008, kelompok bakteri yang dapat menyebabkan ISK adalah bakteri-bakteri KEEPS, yaitu : K = Klebsiella, E = E. Coli, E = Enterobacter, P = Pseudomonas, S = S. aureus Namun secara garis besar Organisme yang menyerang traktus urinarius akibat persalinan adalah penghuni normal dari area perineum, mungkin juga dari luar. Faktor predisposisi infeksi saluran kemih postpartum yaitu: 1. Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh, seperti perdarahan, dan kurang gizi atau malnutrisi 2. Adanya hambatan pada aliran urin 3. Tindakan bedah vaginal yang menyebabkan perlukaan jalan lahir. 4. Anemia, higiene, kelelahan 5. Proses persalinan bermasalah : Partus lama/macet, korioamnionitis, persalinan traumatik, kurang baiknya proses pencegahan infeksi, manipulasi yang berlebihan, dapat berlanjut ke infeksi dalam masa nifas. D. Patofisiologi Terdapat 2 hal utama mengapa ISK dapat terjadi: 1. Rute infeksi

Terdapat 3 rute invasi bakteri ke dalam saluran kemih, antara lain: Ascending route. Bakteri periurethral melalui uretra bermigrasi ke atas menuju vesika urinaria yang jika terus berlanjut dapat mencapai ureter hingga ginjal. Dapat pula terjadi akibat aktivitas seksual atau pada pemasangan kateter yang tidak higienis. Hematogenik. Sering kali disebabkan oleh Staphylococcus aureus; Sering ditemukan pada pasien immunocompromised Lymphogenic. Rute infeksi ini masih memiliki bukti scientific yang minimal. 2. Host-defence Normalnya, ISK dapat dicegah dengan adanya proses wash-out oleh saluran kemih sehingga bakteri-bakteri yang ada dapat dikeluarkan melalui urin. Di dalam urin juga terdapat pH, osmolalitas, dan kadar urea yang dapat menghambat perkembangan bakteri.Jika mekanisme pertahanan host tersebut terganggu, misalkan akibat retensi urin, statis atau refluks urin, bakteri-bakteri tersebut dapat berkembang biak dan berkolonisasi sehingga bisa menimbulkan infeksi. Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran kemih pada dapat pula melalui : a. Penyebaran endogen yaitu kontak langsung dari tempat terdekat. b. Hematogen. c. Limfogen. d. Eksogen sebagai akibat pemakaian alat berupa kateter. Cara terjadinya infeksi: 1) Tangan penderita atau penolong yang tetutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri ke traktus urinarius. Kemungkinan lain ialah bahwa sarung tangan atau alat-alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman-kuman. 2) Peralatan tidak steril, missal sarung tangan, gunting epis, hingga kateter sehingga terkontaminasi bakteri dan invasi ke traktus urinarius. 3) Infeksi rumah sakit (hospital infection)/lingkungan inpartum. Dalam rumah sakit banyak sekali kuman-kuman patogen berasal dari penderita-penderita di seluruh rumah sakit. Kuman-kuman ini terbawa oleh air, udara, alat-alat dan benda-benda rumah sakit yang sering dipakai para penderita (handuk, kain-kain lainnya). Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya infeksi saluran kemih antara lain: anatomi konginetal, batu saluran kemih, oklusi ureter (sebagian atau total). Infeksi tractus urinarius terutama berasal dari mikroorganisme pada faeces yang naik dari perineum ke uretra dan kandung kemih serta menempel pada permukaan mukosa. Agar infeksi dapat terjadi, bakteri harus mencapai kandung kemih, melekat pada

dan mengkolonisasi epitelium traktus urinarius untuk menghindari pembilasan melalui berkemih, mekanisme pertahan penjamu dan cetusan inflamasi. Inflamasi, abrasi mukosa uretral, pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap, gangguan status metabolisme (diabetes, kehamilan, gout) dan imunosupresi meningkatkan resiko infeksi saluran kemih dengan cara mengganggu mekanisme normal. Infeksi saluran kemih memiliki, yaitu, uretritis, sistisis, pielonefritis. 1. Uretritis merupakan suatu inflamasi yang biasanya adalah suatu infeksi yang menyebar naik yang digolongkan sebagai general atau mongonoreal. 2. Sistitis (inflamasi kandung kemih) yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya infeksi dari uretra. Hal ini dapat disebabkan oleh aliran balik urine dari uretra ke dalam kandung kemih (refluks urtrovesikal), kontaminasi fekal, pemakaian kateter atau sistoskop. 3. Pielonefritis (infeksi traktus urinarius atas) merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tobulus dan jaringan intertisial dari salah satu atau kedua ginjal. Bakteri mencapai kandung kmih melalui uretra dan naik ke ginjal. Pielonefritis dapat dibagi menjadi dua, yaitu pielonefritis akut dan pielonefritis kronik. Pielonefritis akut biasanya terjadi akibat infeksi kandung kemih asendens. Pielonefritis akut juga dapat terjadi melalui infeksi hematogen. Infeksi dapat terjadi di satu atau di kedua ginjal. Pielonefritis kronik dapat terjadi akibat infeksi berulang, dan biasanya dijumpai pada individu yang mengidap batu, obstruksi lain, atau refluks vesikoureter. E. Pencegahan Infeksi Saluran Kemih saat Nifas 1) Masa kehamilan a. Mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi seperti anemia, malnutrisi dan kelemahan serta mengobati penyakit-penyakit yang diderita ibu. b. Pemeriksaan dalam jangan dilakukan kalau tidak ada indikasi yang perlu. c. Koitus pada hamil tua hendaknya dihindari atau dikurangi dan dilakukan hatihati karena dapat menyebabkan pecahnya ketuban. Kalau ini terjadi infeksi akan mudah masuk dalam jalan lahir. 2) Selama persalinan Usaha-usaha pencegahan terdiri atas membatasi sebanyak mungkin masuknya kuman-kuman dalam jalan lahir : a. Menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin. b. Perlukaan-perlukaan jalan lahir karena tindakan baik pervaginam maupun perabdominam dibersihkan, dijahit sebaik-baiknya dan menjaga sterilitas.

c. Mencegah terjadinya perdarahan banyak, bila terjadi darah yang hilang harus segera diganti dengan tranfusi darah. d. Alat-alat dan kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus steril e. Hindari pemeriksaan dalam berulang-ulang, lakukan bila ada indikasi dengan sterilisasi yang baik, apalagi bila ketuban telah pecah. 3) Selama nifas a. Luka-luka dirawat dengan baik jangan sampai kena infeksi, begitu pula alat-alat dan pakaian serta kain yang berhubungan dengan alat kandungan harus steril. b. Penderita dengan infeksi nifas sebaiknya diisolasi dalam ruangan khusus, tidak bercampur dengan ibu sehat. c. Pengunjung-pengunjung dari luar hendaknya pada hari-hari pertama dibatasi sedapat mungkin. F. Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih Postpartum 1. Penanganan umum Antisipasi setiap kondisi (faktor predisposisi dan masalah dalam proses persalinan) yang dapat berlanjut menjadi penyulit/komplikasi dalam masa nifas. Berikan pengobatan yang rasional dan efektif bagi ibu yang mengalami infeksi nifas. Lanjutkan pengamatan dan pengobatan terhadap masalah atau infeksi yang dikenali pada saat kehamilan ataupun persalinan. Jangan pulangkan penderita apabila masa kritis belum terlampaui. Beri catatan atau instruksi tertulis untuk asuhan mandiri di rumah dan gejalagejala yang harus diwaspadai dan harus mendapat pertolongan dengan segera. Lakukan tindakan dan perawatan yang sesuai bagi bayi baru lahir, dari ibu yang mengalami infeksi pada saat persalinan. Dan Berikan hidrasi oral/IV secukupnya. 2. Pengobatan secara umum Sebaiknya segera dilakukan pembiakan (kultur) dan sekret vagina, luka operasi dan darah serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang tepat dalam pengobatan., Berikan dalam dosis yang cukup dan adekuat. Karena hasil pemeriksaan memerlukan waktu, maka berikan antibiotika spektrum luas (broad spektrum) menunggu hasil laboratorium. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh penderita, infus atau transfusi darah diberikan, perawatan lainnya sesuai dengan komplikasi yang dijumpai. 3. Penanganan infeksi postpartum :

Suhu harus diukur dari mulut sedikitnya 4 kali sehari. Berikan terapi antibiotic (kolaborasi dengan dokter), Perhatikan diet. Lakukan transfusi darah bila perlu, Hati-hati bila ada abses, jaga supaya nanah tidak masuk ke dalam rongga perineum.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)

A. Pengertian Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah suatu keadaan adanya kemih. kemih. (Enggram, Barbara, 1998) B. Klasifikasi Klasifikasi infeksi saluran kemih sebagai berikut : 1. Kandung kemih (sistitis) 2. Uretra (uretritis) 3. Prostat (prostatitis) 4. Ginjal (pielonefritis) Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut, dibedakan menjadi: 1. ISK uncomplicated (simple) ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik, anatomic maupun fungsional normal. ISK ini pada usi lanjut terutama mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih. 2. ISK complicated Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis dan shock. ISK ini terjadi bila terdapat keadaan-keadaan sebagi berikut: a. Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko uretral obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung kencing menetap dan prostatitis. b. Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK. c. Gangguan daya tahan tubuh urease. d. Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen sperti prosteus spp yang memproduksi infasi mikroorganisme pada saluran (Agus Tessy, 2001)

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran

C. Etiologi 1. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain: a. Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : penyebab ISK complicated Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan-lain-lain. 2. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain: a. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang kurang efektif b. Mobilitas menurun c. e. f. Nutrisi yang sering kurang baik Adanya hambatan pada aliran urin Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat d. Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral

. Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple)

D. Patofisiologi Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui : kontak langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen. Ada dua jalur utama terjadinya ISK, asending dan hematogen. Secara asending yaitu: masuknya mikroorganisme dalm kandung kemih, antara lain: factor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi, factor tekanan urine saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat ke dalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi. Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal Secara hematogen yaitu: sering terjadi pada pasien yang system imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu: adanya bendungan total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan parut, dan lain-lain. Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya: Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap atau kurang efektif. Mobilitas menurun

Nutrisi yang sering kurang baik System imunnitas yng menurun Adanya hambatan pada saluran urin Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensii yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri, kemudian keadaan ini secara hematogen menyebar ke suluruh traktus urinarius. Selain itu, beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK, antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang menakibtakan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefroses. Penyebab umum obstruksi adalah: jaringan parut ginjal, batu, neoplasma dan hipertrofi prostate yang sering ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun.

a Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah adalah : Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih Spasame pada area kandung kemih dan suprapubis Hematuria Nyeri punggung dapat terjadi Tanda dan gejala ISK bagian atas adalah : Demam Menggigil Nyeri panggul dan pinggang Nyeri ketika berkemih Malaise Pusing Mual dan muntah E. Pemeriksaan Penunjang 1. Urinalisis Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih

Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.

2. Bakteriologis Mikroskopis Biakan bakteri

3. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik 4. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi. 5. Metode tes Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka psien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit. Tes Penyakit Menular Seksual (PMS): Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek). Tes- tes tambahan: Urogram intravena (IVU). Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten. F. Penatalaksanaan Penanganan Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhaap flora fekal dan vagina. Terapi Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut dapat dibedakan atas: Terapi antibiotika dosis tunggal Terapi antibiotika konvensional: 5-14 hari Terapi antibiotika jangka lama: 4-6 minggu Terapi dosis rendah untuk supresi Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan infeksi. Jika kekambuhan disebabkan oleh bakteri persisten di awal infeksi, factor kausatif (mis: batu,

abses), jika muncul salah satu, harus segera ditangani. Setelah penanganan dan sterilisasi urin, terapi preventif dosis rendah. Penggunaan medikasi yang umum mencakup: sulfisoxazole (gastrisin), trimethoprim/sulfamethoxazole (TMP/SMZ, bactrim, septra), kadang ampicillin atau amoksisilin digunakan, tetapi E. Coli telah resisten terhadap bakteri ini. Pyridium, suatu analgesic urinarius jug adapt digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat infeksi. Pemakaian obat pada usia lanjut perlu dipikirkan kemungkina adanya: Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan Interansi obat Efek samping obat Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal Resiko pemberian obat pada usia lanjut dalam kaitannya dengan faal ginjal: 1. Efek nefrotosik obat 2. Efek toksisitas obat G. Pengkajian 1. Pemerikasaan fisik: dilakukan secara head to toe 2. Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko: Adakah riwayat infeksi sebelumnya? Adakah riwayat obstruksi pada saluran kemih? Bagaimana dengan pemasangan folley kateter ? Imobilisasi dalam waktu yang lama. Apakah terjadi inkontinensia urine? Bagaimana pola berkemih pasien? untuk mendeteksi factor predisposisi terjadinya ISK pasien (dorongan, frekuensi, dan jumlah) Adakah disuria? Adakah urgensi? Adakah hesitancy? Adakah bau urine yang menyengat? Bagaimana haluaran volume orine, warna (keabu-abuan) dan konsentrasi urine? Adakah nyeri-biasanya suprapubik pada infeksi saluran kemih bagian bawah Adakah nyesi pangggul atau pinggang-biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas Peningkatan suhu tubuh biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas.

3. Adanya faktor predisposisi pasien terhadap infeksi nosokomial

4. Pengkajian dari manifestasi klinik infeksi saluran kemih

5. Pengkajian psikologi pasien:

Bagaimana perasaan pasien terhadap hasil tindakan dan pengobatan yang telah dilakukan? Adakakan perasaan malu atau takut kekambuhan terhadap penyakitnya. H. Diagnosa Keperawatan Yang Timbul

1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih dan sruktur traktus urinarius lain. 2. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain. 3. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi. I. Intervensi 1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih dan struktur traktus urinarius lain. Kriteria Hasil : Nyeri berkurang / hilang saat dan sesudah berkemih Intervensi: a. Pantau perubahan warna urin, pantau pola berkemih, masukan dan keluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang Rasional: untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan b. Catat lokasi, lamanya intensitas skala (1-10) nyeri. Rasional: membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan penyebab nyeri c. Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan. Rasional: meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot. d. Berikan perawatan perineal Rasional: untuk mencegah kontaminasi uretra e. Jika dipaang kateter, perawatan kateter 2 kali per hari. Rasional: Kateter memberikan jalan bakteri untuk memasuki kandung kemih dan naik ke saluran perkemihan. f. Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan Rasional : relaksasi, menghindari terlalu merasakan nyeri. 2. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain. Kriteria Hasil :

Pola eliminasi membaik, tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (urgensi, oliguri, disuria) Intervensi: a. Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristi urin Rasional: memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi b. Dorong meningkatkan pemasukan cairan Rasional: peningkatan hidrasi membilas bakteri. c. Kaji keluhan pada kandung kemih Rasional: retensi urin dapat terjadi menyebabkan distensi jaringan (kandung kemih/ginjal) d. Observasi perubahan tingkat kesadaran Rasional: akumulasi sisa uremik dan ketidakseimbangan elektrolit dapat menjadi toksik pada susunan saraf pusat e. Kolaborasi: Awasi pemeriksaan laboratorium; elektrolit, BUN, kreatinin Rasional: pengawasan terhadap disfungsi ginjal Lakukan tindakan untuk memelihara asam urin: tingkatkan masukan sari buah berri dan berikan obat-obat untuk meningkatkan aam urin. Rasional: aam urin menghalangi tumbuhnya kuman. Peningkatan masukan sari buah dapt berpengaruh dalm pengobatan infeksi saluran kemih. 3. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi. KriteriaHasil : menyatakan mengerti tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, rencana pengobatan, dan tindakan perawatan diri preventif. Intervensi: a. Berikan waktu kepada pasien untuk menanyakan apa yang tidak di ketahui tentang penyakitnya. Rasional : Mengetahui sejauh mana ketidak tahuan pasien tentang penyakitnya. b. Kaji ulang proses penyakit dan harapan yang akan datang Rasional: memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan beradasarkan informasi. c. Berikan informasi tentang: sumber infeksi, tindakan untuk mencegah penyebaran, jelaskan pemberian antibiotik, pemeriksaan diagnostik: tujuan, gambaran singkat, persiapan ynag dibutuhkan sebelum pemeriksaan, perawatan sesudah pemeriksaan. Rasional: pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan membantu mengembankan kepatuhan klien terhadap rencan terapetik.

d. Anjurkan pasien untuk menggunakan obat yang diberikan, minum sebanyak kurang lebih delapan gelas per hari. Rasional: Pasien sering menghentikan obat mereka, jika tanda-tanda penyakit mereda. Cairan menolong membilas ginjal. e. Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan dan masalah tentang rencana pengobatan. Rasional: Untuk mendeteksi isyarat indikatif kemungkinan ketidakpatuhan dan membantu mengembangkan penerimaan rencana terapeutik.

DAFTAR PUSTAKA Doenges, Marilyn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Alih Bahasa: I Made Kariasa, Ni made Sumarwati. Edisi: 3. Jakrta: EGC. Enggram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Nugroho, Wahyudi. (2000). Keperawatan Gerontik. Edisi: 2. Jakarta: EGC. Parsudi, Imam A. (1999). Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: FKUI Price, Sylvia Andrson. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit: pathophysiologi clinical concept of disease processes. Alih Bahasa: Peter Anugrah. Edisi: 4. Jakarta: EGC Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddart. Alih Bhasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC. Tessy Agus, Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi Saluran Kemih. Edisi: 3. Jakarta: FKUI.

Obstruksi Saluran Kemih/Kencing


26FEB

Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001)Infeksi saluran kemih dapat mengenai baik laki-laki maupun perempuan dari semua umur baik pada anak-anak remaja, dewasa maupun pada umur lanjut. Akan tetapi, dari dua jenis kelamin ternyata wanita lebih sering dari pria dengan angka populasi umu, kurang lebih 5 15 %. Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang disebabkan oleh bakteri terutama scherichia coli ; resiko dan beratnya meningkat dengan kondisi seperti refluks vesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis perkemiha, pemakaian instrumen uretral baru, septikemia. (Susan Martin Tucker, dkk, 1998) Obstruksi lintas air kemih menyebabkan gerak alir air kemih tertahan (retensi). Hal ini dapat terjadi di sepanjang lintasan dari hulu pada piala sampai ke muara pada uretra. Gangguan penyumbatan ini bisa disebabkan olelr kelainan mekanik di dalam liang, pada dinding atau tindisan dari luar terhadap dinding lintasan atau disebabkan kelainan dinamik (neuromuskuler) yang masing-masing bisa karena kelainan dibawa lahir atau diperdapat. Selanjutnya penyumbatan ini bisa menyumbat sempurna (total) atau tidak sempurna (sub-total) dengan masing-masing bisa tampil dengan mendadak, menahun atau berulang timbul. Adanya rintangan penyumbatan lintas air kemih mengakibatan gerak alir tertahan sehingga air kemih pada hulu sumbatan terbendung dan menumpuk seluruhnya pada penyumbatan total. Pada penyumbatan sub-total melewatkan sebagian air kemih dan menahan sebagian lain yang berangsur-angsur menumpuk. Tumpukan air kemih ini meregangkan lintasan pada hulu obstruksi sehingga melebar. Bagian hulu saluran ini berusaha meningkatkan tenaga dorong untuk mengungguli hambatan sumbatan dengan menambah kuat kontraksi jaringan otot dinding saluran agar penyaluran air kemih dapat berlangsung sempuma seperti biasanya (kompensasi). Bila keadaan ini berlangsung lama, tenaga dorong mengkompenser menjadi lelah hingga tak berdaya lagi mendorong air kemih dengan sempurna seperti biasa (dekompensasi). Selanjutnya pada perlangsungan obstrusi biasanya mengundang kehadiran bakteri dan pembentukan batu yang menyebabkan penyulit-penyulit yang lebih memberatkan keadaan. Rentetan kejadian makin ke hulu melibatkan ginjal sehingga terjadi gangguan faal ginjal, hidronefrosis, pielonefritis atau pyonefrosis. Obstruksi yang lebih ke hulu dekat kepada ginjal, harnbatan yang lebih sempurna dan berlangsung sudah lama melibatkan kerusakan ginjal lebih cepat. Bagaimana meningkatkan kemampuan agar mengetahui dan mengelola gejala, tanda dan penyulit yang sedini mungkin sebagai daya-upaya membangun diganostik. Gejala Klinis

Tanda klinis dari obstruksi saluran kemih bervariasi. Dari penurunan halus dalam aktivitas mental sampai letargi yang progresif atau oleh karena anorexia yang berkaitan dengan nausea. Beberapa pasien mengeluhkan anuria yang mendadak atau menderita sepsis. Perubahan dalam pola kencing dan kualitas urine mungkin akan terdekteksi. Nyeri tidak selalu ada, dan bila hal itu terjadi, hal itu dapat diklasifikasikan dari ketidaknyamanan yang minimal di punggung sampai nyeri akut yang hebat yang bersama dengan retensi urine. Riwayat pasien dan penemuan dalam pemeriksaan klinis sering memberikan dokter perbedaaan tingkatan dari obstruksi dan perlu untuk mempertimbangkan pemeriksaan lebih lanjut. Seperti obstruksi di organ organ yang lain, adalah penting untuk mencari tahu penyebabnya : ganas atau tidak, dan screening akan adanya metastase jika curiga ganas. Gejala dan tanda obstruksi saluran kemih secara umum antara lain:

flank pain, ipsilateral back pain, dan ipsilateral groin pain pada obstruksi akut dapat timbul nausea dan vomiting obstruksi kronik biasanya indolen dan asimtomatik bila terjadi infeksi, demam, menggigil, dan disuria hematuria bila obstruksi berat, dapat timbul tanda-tanda uremia (lemah, edema perifer, perubahan status mental, pucat) pada hidronefrosis berat, ginjal dapat teraba pada pyelonefritis, terdapat costovertebral angle tenderness 1. Pemeriksaan Laboratorium Diagnosa uremia dapat ditegakkan dengan pemeriksaan rutin. USG abdomen dan pelvis dapat menunjukkan adanya hidronefrosis, dan tebalnya korteks renalis menunjukkan indikasi dari kemampuannya. USG mungkin juga menunjukkan lokasi dari obstruksi tanpa kemampuan investigasi yang invasif seperti retrograde pielografi. Kontras intravena harus digunakan dangan hati hati pada permukaan ginjal yang rusak. Pada perlangsungan penyakit yang menahun dijumpai anemia. Pada infeksi yang menahun lekosit meninggi atau hanya sedikit saja. Kegagalan ginjal memberikan gambaran darah kreatinin meninggi, ureum meninggi, fosfor meninggi, sedang kalsium menurun demikian juga kalsium. Air kemih mengandung zat putih telor, darah atau sel-sel nanah dan bakteri pada bakteriuri dan pyuri. Pemeriksaan penunjang, meliputi:

Pemeriksaaan urin dan darah USG ginjal dan kandung kemih

Foto x-ray foto polos perut dan pyelografi infravena (IVP)

Foto ikhtisar kesan besar ginjal, keadaan tulang, setiap pengapuran atau batu. Urogram ekskretoris buat melihat funksi dan lintasan air kemih, seperti pelebaran saluran, penyumbatan, tumbuhan dan menunjukkan batu yang tidak menahan sinar. Terlintas dugaan adanya refluks kandung kemih ureter bila gambar menunjukkan pelebaran ureter yang bertahan pada bagian bawah, bagian yang melebar pada ureter, keseluruhan ureter tergambar jelas, hidronefrosis dengan penyempitan ureter-kandung kemih, gambaran penyembuhan penderita pielonefritis, kalises melebar dan korteks menipis. Pada kandung kemih tampak divertikula atau permukaan yang tidak rata. Sistografi retrograde buat melihat perubahan-perubahan pada dinding kandung kemih karena hambatan pengaliran dari kandung kemih ke uretra seperti trabekulasi dan divertikula, keadaan katub ureter-kandung kemih tidak kompeten yang menggambarkan ureter dan piala karena refluks atau bila disuruh buang air kecil lebih jelas. Urografi retrograde dapat memberikan gambaran yang lebih baik dari ekskretoris, tetapi banyaknya bahan yang dimasukkan memberikan penilaian yang bisa keliru. Pengobatan Terapi antibiotik untuk membunuh bakteri gram positif maupun gram negatif. Apabila pielonefritis kroniknya disebabkan oleh obstruksi atau refluks, maka diperlukan penatalaksanaan spesifik untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Dianjurkan untuk sering minum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas microorganisme yang mungkin naik ke uretra, untuk wanita harus membilas dari depan ke belakang untuk menghindari kontaminasi lubang urethra oleh bakteri faeces. Penyingkiran penyumbatan untuk pengaliran kemih yang tak-terhalang. Pemberantasan infeksi Tata laksana gagal ginjal karena obstruksi adalah bersifat jangka panjang. Apabila pasien dihadapkan pada kondisi yang irreversible dan kondisi terminal, maka tidak baik menunda melakukan usaha tata laksana obstruksi dan membiarkan pasien meninggal dalam kegagalan pengaturan elektrolit. Kematian tersebut biasanya terjadi dengan tenang, tetapi mungkin tidak segera. Twitching dapat dikontrol dengan pemberian benzodiasepine, seperti clonazepam. Adalah tidak umum anti konvulsan digunakan untuk mengatasi serangan tersebut. Diagnosa Banding Yang penting adalah membedakan antara pielonefritis dan sistitis. Ingat akan pielonefritis apabila didapatkan infeksi dengan hipertensi, disertai gejala-gejala umum, adanya faktor predisposisi, fungsi konsentrasi ginjal menurun, respons terhadap antibiotik kurang baik.

Sumbatan atau Obstruksi Saluran Kemih


Obstruksi urinaria atau sumbatan padasistem perkemihan dapat menjadi sebuah presentasi adanya gangguan kesehatan pada saluran perkemihan ringan hingga

kondisikesehatan yang serius. Kedua kondisi tersebut, baik ringan, sedang maupun kondisi serius/berat harus mendapatkan perhatian medis karena hal ini dapat menyebabkan gagal ginjal jika tidak dilakukan pengobatan.

Obstruksi dapat terjadi di mana saja darisaluran atau system perkemihan, yaitu:

Ginjal Ureter (tabung berupa saluran antara ginjal dan kandung kemih) Kandung kemih Prostat (pada pria) Uretra (tabung antara kandung kemih dan pintu keluar urin) Tanda dan gejala adanya obstruksi perkemihan meliputi: Ketidakmampuan untuk buang air kecil (retensi urin) Lemahnya aliran atau pancaran urin Aliran urin terputus-putus (Interrupted) Adanya darah dalam urin Nyeri, baik pada sisi atau di belakang Nyeri perut dan / atau bengkak Penyebab obstruksi perkemihan meliputi: Pembesaran prostat (pada pria), yang mungkin jinak atau ganas Batu (bisa pada ginjal, ureter, atau kandung kemih) Tumor (bisa di mana saja di atau di luar saluran kemih, sehingga dapat menekan) Infeksi saluran kemih Gumpalan darah Pembesaran rahim pada wanita hamil Kandung kemih yang lemah yang tidak dapat mendorong urin keluar (karena obat tertentu atau kondisi neurologis) Struktur bawaan yang abnormal (jaringan abnormal yang menghalangi hubungan antara ginjal dan ureter, atau dalam uretra), terutama terjadi pada anak-anak dengan kelainan bawaan pada struktur organ perkemihan. Jaringan abnormal yang dihasilkan dari instrumentasi saluran kemih (juga disebut striktur) Benda asing Trauma dengan fraktur panggul Penentuan Diagnosis Sumbatan/Obstruksi Perkemihan Diagnosis obstruksi perkemihan sering didirikan oleh pemeriksaan radiologis (x-ray). Studi ini mencakup ginjal polos x-ray USG ginjal, CT scan, pyelogram intravena (IVP) dan magnetic resonance imaging (MRI). Beberapa pemeriksaan lainnya yang mungkin diperlukan, terutama untuk diagnosis pembesaran prostatatau striktur uretra, meliputi:

Cystoscopy-prosedur untuk melihat adanya obstruksi/sumbatan melalui uretra ke dalam kandung kemih Pemeriksaan dan uji Urodinamik-pasokan saraf ke kandung kemih dan tekanan dalam kandung kemih Pemeriksaan Uroflow yaitu pemeriksaan tekanan dan aliran urin dari kandung kemih USG-untuk mengetahui berapa banyak urin yang tersisa di dalam kandung kemih setelah pasien merasa kandung kemih telah dikosongkan/setelah buang air kecil Pengobatan Pengobatan obstruksi perkemihan tergantung pada penyebabnya.

Pemasangan kateter pada kandung kemih mungkin diperlukan pada semua kasus untuk meringankan obstruksi (kateter adalah pipa lunak yang dimasukkan ke dalam urethra). Obat terkadang dapat membantu jika obstruksi/sumbatan yang terjadi disebabkan karena infeksi, atau kadang-kadang dalam kasus pembesaran prostat. Jika penyumbatan dalam ginjal atau ureter, maka tabung (juga disebut stent) dapat ditempatkan dalam ureter antara ginjal dan kandung kemih untuk membantu aliran urin. Hal ini ditempatkan dengan bantuan alat berupa scope yang dimasukkan ke dalam uretra. Alternatif lain adalah tabung yang dimasukkan melalui belakang ke dalam ginjal. Dengan menempatkan tabung ini memberikan bantuan sementara dari penyumbatan ureter. Prosedur kedua dilakukan setelah gejala dn gangguan sumbatan teratasi untuk sementara waktu dan kondisi tabil. Prosedur kedua ini adalah untuk sepenuhnya menghilangkan penyebab obstruksi atau sumbatan tersebut yaitu melalui operasi Menempatkan scope ke dalam ginjal melalui belakang atau ke ureter melalui kandung kemih memungkinkan dokter untuk membuang seperti lesi penyumbatan seperti batu (atau kadang-kadang tumor). Atau, prosedur shock-wave (gelombang kejut) dapat digunakan untuk membantu memecah batu-batu kecil penyebab obstruksi. Kadang-kadang operasi terbuka diperlukan untuk menghilangkan obstruksi pada saluran kemih. Hal ini kadang-kadang berlaku untuk batu ginjal yang sangat besar, dan relatif sering terjadi pembesaran prostat. Hambatan dari ureter oleh jaringan fibrosa adalah striktur yang mungkin harus diperbaiki dengan operasi terbuka. Masalah bawaan penyempitan persimpangan antara ginjal dan ureter sering membutuhkan operasi terbuka kecil pada anakanak harus diperbaiki dengan benar. Obstruksi hanya pada satu ginjal biasanya didiagnosis karena nyeri dan kemungkinan infeksi dari sisi yang sakit tersebut dan tidak mengancam fungsi ginjal secara keseluruhan jika ginjal lainnya adalah normal. Obstruksi pada kedua ginjal pada saat yang sama, dapat menyebabkan gagal ginjal dan merupakan keadaan darurat yang membutuhkan perhatian segera.

Paling umum dan sering terjadinya obstruksi adalah karena pembesaran prostat atau kegagalan kandung kemih, atau penyebab lain dari penyumbatan uretra. Pengobatan awal biasanya dilakukan pemasangan kateter kandung kemih untuk drainase, dan pengobatan pepada obstruksi akan dilakukan setelah situasi dan keadaan pasien stabil.

Operasi yang paling umum yang diperlukan pada situasi ini adalah Transurethral Resection of the Prostate (TURP), di mana sebuah scope digunakan untuk memvisualisasikan prostat dari dalam, dan untuk membuang sepotong demi sepotong jaringan yang menjadi sumber obstruksi, seperti mengupas apel dari dalam. Prosedur dengan menggunakan menggunakan laser juga merupakan salah satu alternative operasi untuk menghilangkan adanya sumbatan atau obstruksi perkemihan.

Kesimpulannya adalah bahwa obstruksi pada sistem perkemihan yang paling sering terjadi adalah disebabkan oleh batu atau pembesaran dari jaringan sekitar yang biasa ataupun bersifat ganas. Gangguan akibat obstruksi dapat sementara teratasi dengan pemasangan kateter drainase, tapi operasi sering diperlukan untuk menghilangkan sumbatan secara permanen. Kerusakan pada ginjal, kadang-kadang bersifat sementara dan kadang-kadang bisa permanen apabila obstruksi tidak diobati.

Urination problems
Swelling or bruising of the tissues surrounding the bladder and urethra can lead to difficulty urinating. Fearing the sting of urine on the tender perineal area can have the same effect. Difficulty urinating usually resolves on its own. In the meantime, it might help to pour water across your vulva while you're sitting on the toilet. Contact your health care provider if you have any symptoms of a urinary tract infection. For example:

It hurts to urinate You don't think you're emptying your bladder fully You have an unusually frequent urge to urinate

Pregnancy and birth stretch the connective tissue at the base of the bladder and can cause nerve and muscle damage to the bladder or urethra. You might leak urine when you cough, strain or laugh. Fortunately, this problem usually improves within three months. In the meantime, wear sanitary pads and do Kegel exercises to help tone your pelvic floor muscles. To do Kegels, tighten your pelvic muscles as if you're stopping your stream of urine. Try it for five seconds at a time, four or five times in a row. Work up to keeping the muscles contracted for 10 seconds at a time, relaxing for 10

seconds between contractions. Aim for at least three sets of 10 repetitions a day.

Hemorrhoids and bowel movements


If you notice pain during bowel movements and feel swelling near your anus, you might have hemorrhoids stretched and swollen veins in the anus or lower rectum. To ease any discomfort while the hemorrhoids heal, soak in a warm tub and apply chilled witch hazel pads to the affected area. Your health care provider might recommend a topical hemorrhoid medication as well. If you find yourself avoiding bowel movements out of fear of hurting your perineum or aggravating the pain of hemorrhoids or your episiotomy wound, take steps to keep your stools soft and regular. Eat foods high in fiber including fruits, vegetables and whole grains and drink plenty of water. It's also helpful to remain as physically active as possible. Ask your health care provider about a stool softener or fiber laxative, if needed. Another potential problem for new moms is the inability to control bowel movements (fecal incontinence) especially if you had an unusually long labor. Frequent Kegel exercises can help. If you have persistent trouble controlling bowel movements, consult your health care provider.
What Causes Urinary Tract Infections?

A urinary tract infection may be caused by one or more of the following conditions:

A new sex partner or multiple partners More frequent intercourse A history of diabetes, sickle-cell anemia, stroke, kidney stones or any problem that causes the bladder not to empty completely Pregnancy increases your risk for developing a UTI. (See Urinary Tract Infections During Pregnancy.) Use of products such as harsh skin cleansers Use of contraceptives such as diaphragms and spermicides

A history of UTIs, especially if the infections were less then six months apart Waiting too long to urinate

What Are The Signs And Symptoms Of Urinary Tract Infections?

If you have a urinary tract infection, you may experience one or more of the following symptoms:

Pain or burning (discomfort) when urinating The need to urinate more often than usual A feeling of urgency when you urinate Blood or mucus in the urine Cramps or pain in the lower abdomen Pain during sexual intercourse Chills, fever, sweats, leaking of urine (incontinence) Waking up from sleep to urinate Change in the amount of urine, either more or less Urine that looks cloudy, smells foul or unusually strong Pain, pressure, or tenderness in the area of the bladder If bacteria spreads to the kidneys you may experience: back pain, chills, fever, nausea, and vomiting.

How Do I Know If I Have A Urinary Tract Infection (UTI)?

The number of bacteria and white blood cells in a urine sample is the basis for diagnosing a UTI. Proper diagnosis is vital since these symptoms can also be caused by other problems such as infections of the vagina or vulva. Only your physician can make the distinction and make a correct diagnosis.
What Is The Treatment For Urinary Tract Infections?

Urinary tract infections are most commonly treated by antibiotics. You may take a single dose antibiotic, or you may take an antibiotic for 3 -

10 days. Take all your medications as prescribed, even after the symptoms are gone. If you stop taking your medication before the scheduled end of treatment, the infection may come back. Pyridium may be prescribed to relieve painful urination while the antibiotics are treating the infection (this medication may turn your urine a dark orange color). Symptoms usually will subside within 2 -3 days, but if symptoms continue for more than 3 days you will need to contact your health provider again.
How Can I Prevent Urinary Tract Infections?

You may do everything right and still experience a urinary tract infection, but you can reduce the likelihood by doing the follo wing:

Drink 6-8 glasses of water each day. Eliminate refined foods, fruit juices, caffeine, alcohol, and sugar. Take vitamin C (250 to 500 mg), beta-carotene (25,000 to 50,000 IU per day) and zinc (30-50 mg per day) to help fight infection. Develop a habit of urinating as soon as the need is felt, and empty your bladder completely when you urinate. Urinate before and after intercourse. Avoid intercourse while you are being treated for a UTI. After urinating, blot dry (do not rub), and keep your genital area clean. Make sure you wipe from the front toward the back. Avoid using strong soaps, douches, antiseptic creams, feminine hygiene sprays, and powders. Change underwear and pantyhose every day. Avoid wearing tight-fitting pants. Wear all cotton or cotton-crotch underwear and pantyhose. Dont soak in the bathtub longer than 30 minutes or more than twice a day.

http://americanpregnancy.org/womenshealth/urinarytractinfection.html

Postpartum infections are caused by bacteria entering the uterine cavity, the urinary tract, or the site of an incision or tear. But there are also other kinds of infections that can occur during postpartum, such as breast infections and respiratory infections. Since infections can be serious, it's important to be on the lookout for fever and other signs of infection during postpartum. If you have any concerns, be sure to get in touch with your care provider immediately. Uterine Infection Right after you've had a baby, your body is especially vulnerable to infections of the lining of the uterus, or endometrium. If you've had a c-section, or if you've had a long labor accompanied by the early rupture of your amniotic sac, you are at a higher risk of developing a uterine infection. Symptoms of a uterine infection include fever, lower abdominal pain, or bad-smelling lochia. If you experience any of these symptoms after you've gone home, call your doctor or midwife right away uterine infections can be serious. Alert Your uterus is usually a sterile area, but sometimes during labor and birth particularly when there has been a lot of interference from hands or other objects in your vagina during or after labor bacteria from your bowel, vagina, perineum, or cervix may enter the uterus and lead to an infection. Prevention The more hands or objects enter your vagina during labor or after birth, the more risk there is that infection-causing bacteria could be pushed upward toward your uterus. Limit internal exams during labor some midwives and doctors don't do internal exams at all unless you ask for one and resist the use of internal fetal monitoring, forceps, and any other procedure that would introduce an object into your vagina unless truly medically necessary. Once your baby's born, be religious about caring for your perineal area. Always use your peri bottle to rinse, wipe front to back after using the bathroom, and change your sanitary pad frequently, as pads can be a breeding ground for bacteria. Treatment Uterine infections can be dangerous and need to be treated with antibiotics. If it's a serious infection, you may need to be hospitalized to receive intravenous antibiotics. If you're hospitalized for infection, you should be able to bring your baby along with you, as long as your husband or another support person is there to help you care for him. If you're nursing, be sure to ask your doctor about antibiotics that are safe for breastfeeding they may not be part of the usual protocol, but your doctor should be able to find medications that will work for you. Urinary Tract Infection Sometimes bacteria from your vagina or perineum can move into your urinary tract, causing an infection that can involve just the urethra, or sometimes the bladder and kidneys, too. If you have difficulty urinating, if it hurts while you urinate (besides the initial stinging when

your urine touches an abrasion, tear, or episiotomy site), or if your urine is cloudy, dark, scanty, or bloody, it could be that you've got a UTI. Other symptoms include fever, chills, pain in your back or side, and feelings like you have to go to the bathroom all the time, but then little or nothing actually comes out. Prevention Frequent trips to the bathroom and drinking enough water are crucial to keeping your urinary tract healthy. Again, using your peri bottle, wiping from front to back after using the bathroom, and frequently changing your sanitary pad will help keep bacteria from your vagina and anus from entering your urethra. If you had an epidural during labor or had trouble urinating afterward, you may have had a catheter inserted, which also raises the risk of UTIs. Unsweetened cranberry juice and cranberry pills have both been shown to help prevent UTIs. Treatment Your treatment will depend on how far into your urinary tract the infection has moved. You'll probably be given antibiotics, and depending on how serious the infection, they may need to be given intravenously. You'll be told to drink a lot of water to flush the bacteria out of your urinary tract, and your urine will usually be tested at the beginning and end of the treatment to see how the medication worked. Incision, Episiotomy, or Tear Site Infection Incision sites from a c-section or episiotomy are susceptible to infection. If you notice redness, tenderness, or discharge from or swelling around the site of a wound, it could indicate an infection. Prevention Avoid an episiotomy if you can. Many experts now agree that routine episiotomy is not justified, and the deep, intramuscular wounds they create can become infected. Pushing gently, with your body's signals, and in the position of your choice, instead of forced purple-faced pushing can help you avoid or reduce tearing and lessen the chances of this type of infection. If you've had a c-section, keep your stitches dry and clean. For both tears and episiotomies, follow the infection-fighting rules of peri care, wiping front to back, and changing your sanitary pad often. Treatment Sometimes, the sutures at an infected incision site will have to be opened and the wound drained and restitched. You'll probably receive a local anesthetic, similar to the one you received when it was originally stitched, for this procedure. You may also be given antibiotics, depending on how serious the infection is. Remember to ask your doctor for antibiotics that are safe for breastfeeding. Breast Infection Engorgement, cracked nipples, and clogged ducts, which are common in the early days of breastfeeding, can lead to mastitis, or breast infections. If you feel like you're getting the flu, with fever or chills, muscle aches, or fatigue, and these symptoms are coupled with a painful, swollen, red, hard area or red streaks on the breast that may feel warm to the touch, you probably have a breast infection.

Fact Giving birth in water is a growing trend in the United States and has been linked with fewer and less severe perineal tearing during pushing. Some experts feel that warm water helps the perineal tissues open and stretch, while others hypothesize that the slow, low-intervention nature of water birth means fewer hands and objects in the way that could cause tearing. Being able to move about freely and adjust instinctively to your baby's descent and emergence also helps. Prevention Avoid underwire bras or anything that's tight on your breasts (if it leaves marks, that's a good indicator that it's too tight). If you start to feel under the weather, go to bed, nurse often, drink plenty of fluids, and rest. Treatment If you develop mastitis, drink lots of fluids, eat nutritious food, and rest, rest, rest. Tylenol or Motrin can help relieve discomfort and bring fever down, and vitamin C may help boost your immunity to help you fight off the infection. Use heat to keep the ducts open, and massage your breasts to keep the milk flowing. Some doctors advise women to wean if they develop mastitis. This is not necessary and can actually make things worse! If your care provider prescribes an antibiotic, insist on a breastfeeding-friendly one.

http://www.netplaces.com/postpartum-care/postpartum-complications-and-healthconcerns/infections.htm

POST PARTUM NORMAL A. Pengertian Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat alat kandungan kembali seperti pra-hamil. Lama masa nifas ini yaitu 6 8 minggu. (Rustam Mochtar,1998) Masa nifas adalah periode sekitar 6 minggu sesudah melahirkan anak, ketika alat alat reproduksi tengah kembali kepada kondisi normal. (Barbara F. weller 2005). Post partum adalah proses lahirnya bayi dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam. (Abdul Bari Saifuddin,2002 ) Masa post partum terbagi 3 tahap, yaitu : 1. Immediet post partum periode (24 jam pertama setelah melahirkan) 2. Early post partum periode (hari kedua sampai ketujuh setelah melahirkan) 3. Late post partum (minggu kedua/ketiga sampai keenam setelah melahirkan) B. Adaptasi Fisiologi

Adaptasi atau perubahan yang terjadi pada ibu post partum normal, yaitu : 1. System reproduksi a. Involusi uterus Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan disebut involusi. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Dalam waktu 12 jam, tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm diatas umbilicus. Dalam beberapa hari kemudian, perubahan involusi berlangsung dengan cepat. Fundus turun kira-kira 1 sampai 2 cm setiap 24 jam. Pada hari pascapartum keenam fundus normal akan berada dipertengahan antara umbilicus dan simpisis pubis. Uterus tidak bisa dipalpasi pada abdomen pada hari ke-9 pascapartum. b. Kontraksi Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir, diduga terjadi sebagai respons terhadap penurunan volume intrauterine yang sangat besar. Hemostasis pascapartum dicapai terutama akibat kompresi pembuluh darah intramiometrium, bukan oleh agregasi trombosit dan pembentukan bekuan. Hormone oksigen yang dilepas kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengkompresi pembuluh darah, dan membantu hemostasis. Selama 1 sampai 2 jam pertama pascapartum intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Karena penting sekali untuk mempertahankan kontraksi uterus selama masa ini, biasanya suntikan oksitosin ( pitosin ) secara intravena atau intramuscular diberikan segera setelah plasenta lahir. c. Afterpains Pada primipara, tonus uterus meningkat sehingga fundus pada umumnya tetap kencang. Relaksasi dan kontraksi yang periodik sering dialami multipara dan bisa menimbulkan nyeri yang bertahan sepanjang masa awal puerperium. d. Lokia Pengeluaran darah dan jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus selama masa nifas disebut lokia. Lokia ini terdiri dari lokia rubra (1-4 hari) jumlahnya sedang berwarna merah dan terutama darah, lokia serosa (4- 8 hari) jumlahnya berkurang dan berwarna merah muda (hemoserosa), lokia alba (8-14 hari) jumlahnya sedikit, berwarna putih atau hampir tidak berwarna. e. Serviks Servik mengalami involusi bersama-sama uterus. Setelah persalinan ,ostium eksterna dapat dimasuki oleh dua hingga tiga jari tangan; setelah 6 minggu postnatal, serviks menutup.

f. Vulva dan vagina Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama setelah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu, vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia menjadi lebih menonjol. g. Perineum Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh karena tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada postnatal hari ke 5, perineum sudah mendapat kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dari pada keadaan sebelum melahirkan. h. Payudara Payudara mencapai maturasi yang penuh selama masa nifas kecuali jika laktasi disupresi, payudara akan menjadi lebih besar, lebih kencang dan mula mula lebih nyeri tekan sebagai reaksi terhadap perubahan status hormonal serta dimulainya laktasi. i. Traktus urinarius Buang air kecil sering sulit selama 24 jam pertama. Kemungkinan terdapat spasme (kontraksi otot yang mendadak diluar kemaluan) sfingter dan edema leher buli buli sesudah bagian ini mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 36 jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormone estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan yang mencolok. Keadaan ini menyebabkan diuresis. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6 minggu. 2. Tanda tanda vital Suhu pada hari pertama (24 jam pertama) setelah melahirkan meningkat menjadi 380C sebagai akibat pemakaian tenaga saat melahirkan dehidrasi maupun karena terjadinya perubahan hormonal, bila diatas 380C dan selama dua hari dalam sepuluh dari pertama post partum perlu dipikirkan adanya infeksi saluran kemih, endometriosis dan sebagainya. Pembengkakan buah dada pada hari ke 2 atau 3 setelah melahirkan dapat menyebabkan kenaikan suhu atau tidak. 3. System kardiovaskuler a. Tekanan darah

Tekanan darah sedikit berubah atau tetap. Hipotensi ortostatik, yang diindikasikan oleh rasa pusing dan seakan ingin pingsan segera berdiri, dapat timbul dalam 48 jam pertama. b. Denyut nadi Nadi umumnya 60 80 denyut permenit dan segera setelah partus dapat terjadi takikardi. Bila terdapat takikardi dan badan tidak panas mungkin ada perdarahan berlebihan atau ada penyakit jantung. Pada masa nifas umumnya denyut nadi lebih labil dibanding suhu. Pada minggu ke 8 sampai ke 10 setelah melahirkan, denyut nadi kembali ke frekuensi sebelum hamil. c. Komponen darah Hemoglobin, hematokrit dan eritrosit akan kembali kekeadaan semula sebelum melahirkan. 4. System endokrin Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan signifikan hormone hormone yang diproduksi oleh organ tersebut. Kadar estrogen dan progesterone menurun secara mencolok setelah plasenta keluar, kadar terendahnya tercapai kira kira satu minggu pascapartum. Pada wanita yang tidak menyusui kadar estrogen mulai meningkat pada minggu kedua setelah melahirkan dan lebih tinggi dari pada wanita yang menyusui pada pascapartum hari ke 17 (bowes ,1991) Kadar prolaktin meningkat secara progresif sepanjang masa hamil. Pada wanita menyusui, kadar prolaktin tetap meningkat sampai minggu keenam setelah melahirkan (Bowes, 1991). Kadar prolaktin serum dipengaruhi oleh kekerapan menyusui, lama setiap kali menyusui, dan banyak makanan tambahan yang diberikan. 5. System perkemihan Perubahan hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang tinggi) turut menyebabkan peningkatan fungsi ginjal, sedangkan penurunan kadar steroid setelah wanita melahirkan sebagian menjelaskan sebab penurunan fungsi ginjal selama masa pascapartum. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Diperlukan kira kira 2 sampai 8 minggu supaya hipotonia pada kehamilan dan dilatasi ureter serta pelvis ginjal kembali kekeadaan sebelum hamil. (Cunningham, dkk; 1993) pada sebagian kecil wanita, dilatasi traktus urinarius bisa menetap selama tiga bulan. 6. System gastrointestinal Ibu biasanya lapar setelah melahirkan, sehingga ia boleh mengkonsumsi makan makanan ringan. penurunan tonus dan mortilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anestesi bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas keadaan normal. Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama

proses persalinan dan pada awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan atau dehidrasi. Ibu sering kali sudah menduga nyeri saat defekasi karena nyeri yang dirasakannya diperineum akibat episiotomy, laserasi atau hemoroid. 7. System muskuloskletal Adaptasi ini mencakup hal hal yang membantu relaksasi dan hipermobilitas sendi dan perubahan pusat berat ibu akibat pembesaran rahim. Stabilisasi sendi lengkap pada minggu keenam sampai ke 8 setelah wanita melahirkan. 8. System integument Kloasma yang muncul pada masa kehamilan biasanya menghilang saat kehamilan berakhir. Hiperpigmentasi diareola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya. Kulit yang meregang pada payudara, abdomen, paha dan panggul mungkin memudar tapi tidak hilang seluruhnya. C. Adaptasi psikologis Rubin (1961) membagi menjadi 3 fase : 1. Fase taking in yaitu fase ketergantungan, hari pertama sampai dengan hari ketiga post partum, fokus pada diri sendiri, berperilaku pasif dan ketergantungan, menyatakan ingin makan dan tidur, sulit membuat keputusan. 2. Fase taking hold yaitu fase transisi dari ketergantungan kemandiri, dari ketiga sampai dengan kesepuluh post partum, fokus sudah ke bayi, mandiri dalam perawatan diri, mulai memperhatikan fungsi tubuh sendiri dan bayi, mulai terbuka dalam menerima pendidikan kesehatan. 3. Fase letting go yaitu fase dimana sudah mengambil tanggung jawab peran yang baru, hari kesepuluh sampai dengan enam minggu post partum, ibu sudah melaksanakan fungsinya, ayah berperan sebagai ayah dan berinteraksi dengan bayi. D. Penatalaksanaan medis 1. Tes diagnostic a. Jumlah darah lengkap, hemoglobin/hematokrit (Hb/Ht) b. Urinalisis; kadar urin, darah. 2. Therapy a. Memberikan tablet zat besi untuk mengatasi anemia b. Memberikan antibiotik bila ada indikasi

E. Asuhan keperawatan Menurut Marylnn E. Doengous, 2001 : 1. Pengkajian a. Aktivitas/istirahat Insomnia mungkin teramati. b. Sirkulasi Episode diaforetik lebih sering terjadi pada malam hari. c. Integritas ego Peka rangsang, takut/menangis (postpartum bluessering terlihat kira-kira 3 hari setelah melahirkan). d. Eliminasi Diuresis diantara hari kedua dan kelima e. Makanan/cairan Kehilangan nafsu makan mungkin dikeluhkan kira-kira hari ketiga f. Nyeri/ketidaknyamanan Nyeri tekan payudara/pembesaran dapat terjadi diantara hari 3 sampai ke-5 pascapartum. g. Seksualitas Uterus 1 cm diatas umbilicus pada 12 jam setelah kelahiran menurun kira-kira 1 lebar jari setiap harinya. Lokhea rubra berlanjut sampai hari ke2 3 , berlanjut menjadi lokhea serosa dengan aliran tergantung pada posisi (mis, rekumben versus ambulasi berdiri) dan aktivitas (mis, menyusui). Payudara : produksi kolostrum 48 jam pertama, berlanjut pada susu matur, biasanya pada hari ke 3; mungkin lebih didini, tergantung kapan menyusui dimulai. 2. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia ( status kesehatan atau resiko perubahan pola ) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (carpenito, 2000)

Diagnose keperawatan yang muncul pada klien postpartum menurut Marilyn doengoes, 2001 yaitu : a. Nyeri (akut)/ketidaknyamanan berhubungan dengan trauma mekanis, edema/pembesaran jaringan atau distensi, efek-efek hormonal. b. Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL berhubungan dengan kelemahan tubuh. c. Menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan, pengalaman sebelumnya, usia gestasi bayi, tingkat dukungan, struktur karakteristik fisik payudara ibu. d. Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan biokimia, fungsi regulator (misal hipotensi ortostatik, terjadinya HKK atau eklamsia); efek anestesia; tromboembolisme; profil darah abnormal (anemia, sensivitas rubella,inkompabilitas Rh). e. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan dan/atau kerusakan kulit, penurunan Hb prosedur invasive dan /atau peningkatan peningkatan lingkungan, rupture ketuban lama, mal nutrisi. 3. Perencanaan Asuhan Keperawatan Perencanaan merupakan tahap ketiga dari proses keperawatan yang meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnose keperawatan. a. Nyeri (akut)/ ketidaknyamanan berhubungan dengan trauma mekanis, edema/pembesaran jaringan atau distensi, efek-efek hormonal. Tujuan nyeri teratasi : Setelah dilakukan tindakan keperawatan rasa

Kriteria hasil : Mengidentifikasi dan mengunakan intervensi untuk mengatasi ketidaknyamanan dengan tepat, mengungkapkan berkurangnya ketidaknyamanan. Intervensi :

Mandiri : 1) Tentukan adanya lokasi, dan sifat ketidaknyamanan. Tinjau ulang persalinan dan catatan kelahiran. 2) Inspeksi perbaikan perineum dan episiotomy. Perhatikan edema, ekimosis, nyeri tekan local, eksudat purulen, atau kehilangan perlekatan jaringan. 3) Berikan kompres es pada perineum, khusus nya selama 24 jam pertama setelah kelahiran.

4) Berikan kompres panas lembab (misal rendam duduk/bak mandi) diantara 100o dan 105o F (38o sampai 43,2o C) selam 20 menit, 3-4 kali sehari, setelah 24 jam 1. 5) Anjurkan duduk dengan otot gluteal terkontraksi diatas perbaikan episiotomy. 6) Infeksi hemoroid pada perineum. Anjurkan penggunaan kompres es selama 20 menit setiap 4 jam, penggunaan kompres witch hazel, dan menaikan pelvis pada bantal. 7) Kaji nyeri tekan uterus; tentukan adanya dan frekuensi/intensitas afterpain. 8) Anjurkan klien berbaring tengkurap dengan bantal dibawah abdomen, dan melakukan tehnik visualisasi atau aktivitas pengalihan. 9) Inspeksi payudara dan jaringan putting; jika adanya pembesaran dan/atau pitung pecah pecah. 10) Ajurkan untuk mengunakan bra penyokong 11)Berikan informasi mengenai peningkatan frekuensi temuan, memberikan kompres panas sebelum member makan, mengubah posisi bayi dengan tepat, dan mengeluarkan susu secara berurutan , bila hanya satu putting yang sakit atau luka. 12)Berikan kompres es pada area aksila payudara bila klien tidak merencanakan menyusui. 13) Kaji klien terhadap kepenuhan kandung kemih. 14) Evaluasi terhadap sakit kepala, khususnya setelah anesthesia subaraknoid. Hindari member obat klien sebelum sifat dan penyebab dari sakit kepala ditentukan. Kolaborasi : 15) Berikan bromokriptin mesilat (parlodel) dua kali sehari dengan makan selama 2 3 minggu. Kaji hipotensi pada klien; tetap dengan klien selama ambulasi pertama. 16) Berikan analgesic 30 60 menit sebelum menyusui. Untuk klien yang tidak menyusui, berikan analgesic setiap 3 4 jam selama pembesaran payudara dan afterpain. 17) Berikan sprei anestetik, salep topical, dan kompres witc hazel untuk perineum bila dibutuhkan. 18) Bantu sesuai dengan injeksi salin atau pemberian blood patch pada sisi pungsi dural. Pertahankan klien pada posisi horizontal setelah prosedur. b.Menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan, pengalaman sebelumnya, usia gestasi bayi, tingkat dukungan, struktur karakteristik fisik payudara ibu.

Tujuan : setelah dilakukan demostrasi tentang perawatan payudara diharapkan tingkat pengetahuan ibu bertambah. Kriteria hasil : mengungkapkan pemahaman tentang proses menyusui, mendemonstrasikan tehnik efektif dari menyusui, menunjukan kepuasan regimen menyusui satu sama lain, dengan bayi dipuaskan setelah menyusui. Intervensi :

Mandiri : 1) Kaji pengetahuan dan pengalaman klien tentang menyusui sebelumnya. 2) Tentukan system pendukung yang tersedia pada klien, dan sikap pasangan/keluarga. 3) Berikan informasi, verbal dan tertulis, mengenai fisiologis dan keuntungan menyusui, perawatan putting dan payudara, kenutuhan diet khusus, dan factor factor yang memudahkan atau mengganggu keberhasilan menyusui. 4) Demostrasikan dan tinjauan ulang tehnik tehnik menyusui. Perhatikan posisi bayi selama menyusui dan lama menyusui. 5) Kaji putting klien; anjurkan klien melihat putting setiap habis menyusui. 6) Anjurkan klien untuk mengeringkan putting dengan udara selama 20 30 menit setelah menyusui. 7) Instruksikan klien untuk menghindari pengunaan putting kecuali secara khusus diindikasi. 8) Berikan pelindung putting payudara khusus untuk klien menyusui dengan putting masuk atau datar. Kolaborasi : 9) Rujuk klien pada kelompok pendukung; misal posyandu 10) Identifikasi sumber sumber yang tersedia dimasyarakat sesuai indikasi c. Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL berhubungan dengan kelemahan fisik.

1.) Tujuan : Pemenuhan ADL terpenuhi.

2.) Kriteria hasil : Klien dapat memenuhi kebutuhannya (mandi, makan, dan minum).

3.) Rencana tindakan Kaji tingkat kemampuan pasien dalam memenuhi kebutuhannya. Bantu klien dalam memenuhi kebutuhannya. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien. Libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhannya.

4.) Rasionalisasi Sebagai indikator untuk melanjutkan tindakan selanjutnya. Agar kebutuhan klien dapat terpenuhi. Agar klien mudah menjangkau kebutuhannya. Dengan adanya hubungan dan kerjasama dari keluarga klien terpenuhi.

d. Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan biokimia, fungsi regulator ( misal hipotensi ortostatik, terjadinya HKK atau eklamsia); efek anestesia; tromboembolisme; profil darah abnormal (anemia, sensivitas rubella, inkompabilitas Rh). Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko cidera teratasi.

Kriteria hasil : mendemonstrasikan perilaku untuk menurunkan factor factor risiko/melindungi diri dan bebas dari komplikasi. Intervensi :

Mandiri : 1) Tinjau ulang kadar hemoglobin (Hb) darah dan kehilangan darah pada waktu melahirkan. Catat tanda tanda anemia. 2) Anjurkan ambulasi dan latihan dini kecuali pada klien yang mendapatkan anesthesia subaraknoid, yang mungkin yetap berbaring selama 6 8 jam, tanpa penggunaan bantal atau meninggikan kepala. Bantu klien dengan ambulasi awal. Berikan supervise yang adekuat pada mandi shower atau rendam duduk. Berikan bel pemanggil dalam jangkauan klien. 3) Berikan klien terhadap hiperrefleksia, nyeri kuadran kanan atas (KKaA , sakit kepala, atau gangguan penglihatan. 4) Catat efek efek magnesium sulfat (MgSO4), bila diberikan, kaji respon patella dan pantau status pernapasan.

5) Inspeksi ekstremitas bawah terhadap tanda tanda tromboflebitis, perhatikan ada atau tidaknya tanda human.6) Berikan kompres panas local; tingkatkan tirah baring dengan meninggikan tungkai yang sakit. 7) Evaluasi status rubella pada grafik prenatal, kaji klien tehadap alergi pada telur atau bulu. Kolaborasi : 8) Berikan MgSO4 melalui pompa infuse, sesuai indikasi. 9) Berikan kaus kaki penyokong atau balutan elastic untuk kaki bila risiko risiko atau gejala gejala flebitis terjadi. 10)Berikan antikoagulasi; evaluasi factor factor koagulasi, dan perhatikan tanda tanda kegagalan pembekuan. 11)Berikan Rh0 (D) imun globulin (RhlgG) LM.dalam 72 jam pascapartum, sesuai indikasi. e. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan dan/atau kerusakan kulit, penurunan Hb prosedur invasive dan /atau peningkatan peningkatan lingkungan, rupture ketuban lama, mal nutrisi. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi.

Kriteria hasil : mendemonstrasikan tehnik tehnik untuk menurunkan risiko/meningkatkan penyembuhan, menunjukan luka yang bebas dari drainase purulen dan bebas dari infeksi, tidak febris, dan mempunyai aliran lokhial dan karakter normal. Intervensi :

Mandiri : 1. Kaji catatan prenatal dan intrapartal, perhatikan frekuensi pemeriksaan vagina dan komplikasi seperti ketuban pecah dini (KPD), persalinan lama, laserasi, hemoragi, dan tertahannya plasenta. 2. Pantau suhu dan nadi dengan rutin dan sesuai indikasi ; catat tanda-tanda menggigil, anoreksia atau malaise. 3. Kaji lokasi dan kontraktilitis uterus ; perhatikan perubahan involusional atau adanya nyeri tekan uterus ekstrem.Catat jumlah dan bau rabas lokhial atau perubahan pada kemajuan normal dari rubra menjadi serosa. 4. Evaluasi kondisi putting, perhatikan adanya pecah-pecah, kemerahan atau nyeri tekan. Anjurkan pemeriksaan rutin payudara. Tinjau perawatan yang tepat dan tehnik pemberian makan bayi. (rujuk pada DK : Nyeri (akut)/ketidaknyamanan).

5. Inspeksi sisi perbaikan episiotomy setiap 8 jam. Perhatikan nyeri tekan berlebihan, kemerahan, eksudat purulen, edema, sekatan pada garis sutura (kehilangan perlekatan), atau adanya laserasi. 6. Perhatikan frekuensi/jumlah berkemih. 7. Kaji terhadap tanda-tanda infeksi saluran kemih (ISK) atau sisitis (mis : peningkatan frekiensi, doronganatau disuria). Catat warna dan tampilan urin, hematuria yang terlihat, dan adanya nyeri suprapubis. 8. Anjurkan perawatan perineal, dengan menggunakan botol atau rendam duduk 3 sampai 4 kali sehari atau setelah berkemih/defekasi. Anjurkan klien mandi setiap hari ganti pembalut perineal sedikitnya setiap 4 jam dari depan ke belakang. 9. Anjurkan dan gunakan tehnik mencuci tangan cermat dan pembuangan pembalut yang kotor, pembalut perineal dan linen terkontaminasi dengan tepat. 10. Kaji status nutrisi klien. Perhatikan tampilan rambut, kuku, kulit, dan sebagainya. Catat berat badan kehamilan dan penambahan berat badan prenatal. 11. Berikan informasi tentang makanan pilihan tinggi protein, vitamin C, dan zat besi. Anjurkan klien untuk meningkatkan masukan cairan sampai 2000 ml/hari. 12. Tingkatkan tidur dan istitahat. Kolaborasi : 13. Kaji jumlah sel darah putih (SDP). 4. Pelaksanaan/ Implementasi Pelaksanaan keperawatan merupakan proses keperawatan yang mengikuti rumusan dari rencana keperawatan. Pelaksanaan keperawatan mencakup melakukan, membantu, memberikan askep untuk mencapai tujuan yang berpusat pada klien, mencatat serta melakukan pertukaran informasi yang relevan dengan perawatan kesehatan berkelanjutan dari klien. Proses pelaksanaan keperawatan mempunyai lima tahap, yaitu : a. Mengkaji ulang klien Fase pengkajian ulang terhadap komponen implementasi memberikan mekanisme bagi perawat untuk menentukan apakah tindakan keperawatan yang diusulkan masih sesuai. b.Menelaah dan modifikasi rencana asuhan keperawatan yang ada Modifikasi rencana asuhanyang telah ada mencakup beberapa langkah. Pertama, data dalam kolom pengkajian direvisi sehingga mencerminkan status kesehatan terbaru klien.

Kedua, diagnose keperawatan direvisi. Diagnose keperawatan yang tidak relevan dihapuskan, dan diagnose keperawatan yang terbaru ditambah dan diberi tanggal. Ketiga, metoda implementasi spesifik direvisi untuk menghubungan dengan diagnose keperawatan yang baru dan tujuan klien yang baru. c. Mengidentifikasi bidang bantuan Situasi yang membutuhkan tambahan tenaga beragam. Sebagai contoh, perawat yang ditugaskan unutk merawat klien imobilisasi mungkin membutuhkan tambahan tenaga untuk membantu membalik, memindahkan, dan mengubah posisi klien karena kerja fisik yang terlibat. d. Mengimplementasikan intervensi keperawatan Berikut metode untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan : 1) Membantu dalam melakukan aktivitas sehari hari 2) Mengonsulkan dan menyuluhkan pasien dan keluarga 3) Mengawasi dan mengevaluasi kerja anggota staf lainnya. ( Potter, 2005 ) 5. Evaluasi Evaluasi merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil implementasi dengan criteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat keberhasilannya. Evaluasi disusun dengan mengunakan SOAP yang operasional dengan pengertian : S : adalah ungkapan perasaan dan keluhan yang dirasakan subjektif oleh klien dan keluarga setelah diberikan implementasi keperawatan. O :adalah keadaan objektif yang didefinisikan menggunakan pengamatan yang objektif setelah implementasi keperawatan. oleh secara

perawat

A :adalah merupakan analisis perawat setelah mengetahui respon subjektif dan objektif klien yang dibandingkan dengan criteria dan standar yang telah ditentukan mengacu pada tujuan rencana keperawatan klien. P : analisis. adalah perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan

Adapun evaluasi dari semua tindakan keperawatan mengenai Asuhan Keperawatan Post Partum Normal (episiotomi) yaitu :

1) 2) 3) 4) 5) No

Rasa nyeri teratasi Tingkat pengetahuan ibu bertambah mengenai perawatan payudara Pemenuhan ADL terpenuhi. Resiko cidera tidak terjadi Infep style=text-align: justify;ksi tidak terjap style=text-align: justify;di. DATA ANALISA DATA MASALAH ETIOLOGI

1.

DS : klien mengatakan, nyeri pada luka jahitan di jalan lahir Skala nyeri 4 5 (nyeri sedang) DO : Klien tampak berhati-hati untuk bergerak/berjalan. Klien mengungkapkan rasa ketidaknyamanannya /nyeri.

Nyeri akut

Agen injury fisik (episiotomi)

3.

DS : Klien mengatakan, dijalan lahir saya ada luka jahitan. DO : Terlihat jahitan episiotomi, luka kelihatan kering di perineum. Genetalia eksterna kelihatan kotor Resiko infeksi DS : Klien mengatakan, bagaimana tentang perawatan setelah melahirkan dan juga perawatan bayi? DO : Klien mengungkapkan secara verbal tentang informasi yang tepat untuk perawatan nifas dan perawatan bayi. Kurang pengetahuan Klien tampak tertarik tentang perawatan ibu dengan informasi tersebut. nifas dan perawatan bayi DIAGNOSA KEPERAWATAN Nyeri akut b.d agen injuri fisik (episiotomi) Risiko infeksi b.d tindakan invasif, paparan lingkungan patogen

Tindakan infasif dan Paparan lingkungan patogen

4. 1. 2.

Kurangnya informasi

3. Kurang pengetahuan tentang perawatan ibu nifas dan perawatan bayi b/d kurangnya sumber informasi RENCANA KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil

No

Tanggal/Jam

Intervensi 1. Managemen nyeriLakukan pengkajian nyeri secara komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, awitan, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau berat dan faktor presipitasiEkspresikan penerimaan tentang nyeriKurangi rasa takut dengan meluruskan setiap misinformasi2. Manajemen lingkunganImplementasikan tindakan untuk kenyamanan fisik seperti menciptakan suasana yang nyaman, meminimalkan stimulasi lingkungan3. Edukasi : prosedur/perawatanDemonstrasikan pereda nyeri non invasif/ non farmakologis : massage, distraksi/imajinasi, relaksasi, pangaturan posisi yang nyaman

20/09/05 1 10.00

Nyeri akut b.d agen injuri fisik (episiotomi)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 124 jam klien akan menunjukkan respon kontrol terhadap nyeri dengan indikator :Klien mampu menerapkan teknik penurunan nyeri non invasif farmakologisKlien menunjukkan respon penurunan rasa nyeri, rileks, denyut nadi dalam batas normal

4.

Edukasi : proses penyakit

Berikan penjelasan tentang penyebab timbulnya nyeri Berikan penjelasan tentang proses/waktu penyembuhan / rencana / intervensi 5. Manajemen medikasi

Berikan analgetik sesuai program Evaluasi keefektifan analgetik

Evaluasi tindakan perencanaan sesuai kebutuhan 1. Infection controlTerapkan pencegahan universalBerikan hygiene yang baik2. Infection protectionMonitor tanda dan gejala infeksi lokal/sistemikAmati faktor-faktor yang menaikkan infeksi/memperlambat penyembuhan luka : infeksi luka, nutrisi dan hidrasi tidak adekuat, penurunan suplai darah3. Vital sign monitoringPantau suhu tubuh dan denyut nadi tiap 8 jam 4. Environmental management

Batasi pengunjung yang sedang demam Jaga kebersihan tempat tidur, lingkungan 5. Incision site care

Setelah diberikan tindakan keperawatan klien menunjukkan kontrol terhadap risiko dengan indikator : klien bebas dari tanda dan gejala infeksi 20/09/05 2. 10.00 Risiko infeksi b.d tindakan invasif, paparan lingkungan patogen klien mampu menjelaskan tanda dan gejala infeksi

Rawat luka post operasi dengan cara steril. Pantau kondisi luka, waspadai tanda-tanda infeksi 6. Post partal care

Pantau produksi lochea, pantau kondisi vagina Pantau kondisi uterus

7. Urinary elimination management Monitor potensi kateter, pantau karakteristik urine, jaga

hygiene genetalia. 8. Health Education

Berikan penjelasan tentang mengapa klien menghadapi risiko infeksi, tanda dan gejala infeksi 9. Administrasi medikasi

Berikan antibiotik sesuai program Pendidikan kesehatanKaji Pengetahuan klien tingkat pengetahuan klien.Kurang tentang perawatan Jelaskan tentang cara perawatan pengetahuan ibu nifas dan ibu nifas dan perawatan bayi tentang perawatan bayi akan dengan bahasa yang sederhanaperawatan ibu meningkat dengan Diskusikan tentang perubahan nifas dan indikator:gaya hidup pada pasien yang perawatan bayi Mampu menjelaskan mungkin dibutuhkan.20/09/05 b/d kurangnya tentang perawatan Klarifikasi informasi yang sumber ibu nifas dan diberikan oleh tim kesehatan lain 3. 10.00 informasi perawatan bayi. sebelum informasi kita berikan. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluasi S: 10.00 Klien mengatakan nyeri pada jahitan Melakukan pengkajian episiotomi dengan skala 4, nyeri lokasi, karakteristik, durasi, bertambah ketika klien berjalan frekuensi, kualitas, intensitas atau O: berat dan faktor presipitasi nyeri Klien masih tampak menahan Menciptakan suasana yang nyeri ketika berjalan nyaman dengan meminimalkan TD : 110/70 mmHg N : 80 stimulasi lingkungan x/menit Mengajarkan tekhnik Klien dapat relaksasi dan distraksi untuk mendemonstrasikan tekhnik relaksasi mengurangi nyeri untuk mengurangi nyeri Memberikan penjelasan A: Masalah teratasi sebagian tentang penyebab timbulnya nyeri P : Lanjutkan intervensi Berikan analgetik sesuai Kaji keefektifan tindakan perawatan program nyeri 11.00 Menerapkan tindakan pencegahan universal ketika S: Klien mampu menjelaskan tandatanda infeksi

20/9/05

Dx 1

20/9/05

Dx 2

melakukan kegiatan Memantau suhu tubuh dan denyut nadi Menjaga kebersihan tempat tidur dan lingkungan perawatan Merawat luka post operasi dengan cara steril. Memantau kondisi luka, waspadai tanda-tanda infeksi meliputi tanda REEDA Memantau produksi lochea, pantau kondisi vagina Memberikan penjelasan tentang mengapa klien menghadapi risiko infeksi, tanda dan gejala infeksi 11.00 Mengkaji tingkat pengetahuan klien. Menjelaskan tentang cara perawatan ibu nifas Melakukan diskusikan tentang perubahan gaya hidup pada pasien yang mungkin dibutuhkan. 21.30 Melakukan pengkajian lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau berat dan faktor presipitasi nyeri Mengurangi rasa takut klien dengan meluruskan setiap misinformasi Memberikan penjelasan tentang proses/waktu penyembuhan / rencana / intervensi Memberikan analgetik sesuai program Mengevaluasi keefektifan analgetik 21.30 Mengkaji tingkat

O: Tidak terdapat tanda-tanda REEDA pada klien Produksi lochea rubra Tanda vital dalam batas normal TD : 110/70 mmHg N : 80 x/menit S : 36,5 o C A: Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan intervensi Pantau tanda-tanda infeksi

20/9/05

Dx 3

S: Klien mengatakan sudah mengerti cara perawatan ibu nifas O: Klien dapat menjelaskan cara merawat ibu nifas A: Masalah teratasi sebagian P: Lanjutkan intervensi Jelaskan cara perawatan bayi baru lahir

20/9/05 20/9/05

Dx 1 Dx 3

S: Klien mengatakan nyerinya sudah berkurang O: Ekspresi klien tampak lebih rileks TD : 110/70 mmHg N : 84 x/menit A: Masalah teratasi sebagian P: Lanjutkan intervensi Pantau terus tanda dan gejala nyeri S: Klien mengatakan sudah mengerti

pengetahuan klien tentang perawatan bayi baru lahir. Menjelaskan tentang cara perawatan bayi baru lahir

cara perawatan bayi baru lahir O: Klien dapat menjelaskan cara merawat bayi baru lahir A: Masalah teratasi P: Lanjutkan intervensi

21/9/05

Dx 1

06.00 Melakukan pengkajian lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau berat dan faktor presipitasi nyeri Mengurangi rasa takut klien dengan meluruskan setiap misinformasi Memberikan penjelasan tentang proses/waktu penyembuhan / rencana / intervensi Memberikan analgetik sesuai program Melakukan evaluasi keefektifan tindakan perawatan yang diberikan 06.15 Menerapkan tindakan pencegahan universal ketika melakukan kegiatan Memantau suhu tubuh dan denyut nadi Menjaga kebersihan tempat tidur dan lingkungan perawatan Merawat luka post operasi dengan cara steril. Memantau kondisi luka, waspadai tanda-tanda infeksi meliputi tanda REEDA Memantau produksi lochea, pantau kondisi vagina Memerikan penjelasan tentang mengapa klien menghadapi risiko infeksi, tanda dan gejala infeksi
Daftar Pustaka

S: Klien mengatakan nyerinya sudah berkurang Klien mengatakan nyeri sudah berkurang jika berjalan O: Ekspresi klien tampak lebih rileks TD : 110/70 mmHg N : 80 x/menit A: Masalah teratasi sebagian P: Lanjutkan intervensi Pantau tanda-tanda nyeri

21/9/05

Dx 2

S: Klien mampu menjelaskan tandatanda infeksi O: Tidak terdapat tanda-tanda REEDA pada klien Kondisi luka dan jahitan epis baik Produksi lochea rubra Tanda vital dalam batas normal TD : 110/70 mmHg N : 80 x/menit S : 36,7 o C A: Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan intervensi Pantau terus tanda-tanda infeksi

Doengoes, Marlin E.2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Jakarta : EGC Helen Farrer, 1996. Perawatan Maternitas. Jkarta : EGC Ida Bagus Gde Manuaba. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB untuk

Pendidikan Bidan : Jakarta EGC Judi Januadi Endjun.2002. Persalinan Sehat. Puspa Swara Mansjoer, Arief. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III Jilid I. Jakarta : Media

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA NY. Y P1A0 POST PARTUM HARI KE 1 DENGAN NIFAS NORMAL DI RB CITRA PRASASTI SUKOHARJO
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil. Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas nerlangsung selama kira-kira emam minggu. Wanita yang melalui periode puerperium disebut puerpura. Puerperium (nifas) berlangsung selama enam minggu / 42 hari, merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat kandungan pada keadaan yang normal (Ambarwati, dkk, 2009). Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Dengan demikian asuhan pada masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis baik ibu maupun bayinya (Saefudin,2001). Angka kematian ibu di Indonesia masih sangat tinggi, menurut survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003 pada angka 307/100.000 kelahiran hidup atau setiap 2 jam terdapat 2 orang ibu bersalin yang meninggal dunia karena berbagai sebab. Penyebab kematian di Indonesia adalah trias klasik yaitu perdarahan (40-90%), eklampsi (20-30%), dan infeksi (20-30%) (Saefudin,2000). Tingginya angka kematian ibu tidak dapat dipisahkan dari profil wanita Indonesia dan peran serta seorang tenaga kesehatan yang khususnya bidan. Bidan adalah seorang petugas kesehatan yang terlatih secara formal ataupun tidak, dan bukan seorang dokter, yang membantu kelahiran bayi serta memberi perawatan maternal terkait (Soepardan cit Churchil, 2004).

Peranan bidan dalam memberikan asuhan masa nifas adalah memberikan asuhan yang konsisten, ramah dan memberikan dukungan pada setiap ibu dalam proses penyembuhannya dari stress fisik akibat persalinan dan meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam merawat bayinya. Dalam proses penyesuaian ini, dituntut kontribusi bidan dalam melaksanakan kompetensi, ketrampilan dan sensitivitas terhadap kebutuhan dan harapan setiap ibu dan keluarga. Bidan harus dapat merencanakan asuhan yang dapat diberikan pada ibu sesuai dengan kebutuhan ibu tersebut (Ambarwati, dkk, 2009). Pada periode ini bidan dituntut untuk dapat memberikan asuhan kebidanan terhadap perubahan fisik dan psikologis ibu, dimana asuhan fisik lebih mudah diberikan karena dapat dilihat dan dinilai secara langsung, apabila terjadi ketidaknormalan bidan langsung dapat mendeteksi dan memberikan intervensi, sedangkan pemberian asuhan terhadap emosi dan psikologi ibu membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang lebih dari bidan. Untuk mencapai hasil yang optimal membutuhkan kerjasama yang baik antara bidan dan keluarga (BR. Sweet, 1997). Salah satu tujuan dari SDKI adalah mewujudkan persalinan yang sehat dan aman.Salah satu upayanya adalah dengan melakukan pemantauan dalam 24 jam pertama pada ibu post partum, oleh karena itu penulis mengambil kasus yang berjudul Asuhan Kebidananan Pada Ibu Nifas Ny. Y umur 25 tahun P1 Ao dalam masa nifas hari ke-1. B. Tujuan 1. Tujuan Umum Untuk memberikan Asuhan Kebidanan pada Ny. Y P1A0 Umur 30 Tahun Dengan Nifas Normal Hari Ke I RB CITRA PRASASTIMojolaban, Sukoharjo dengan menerapkan manajemen Varney. 2. Tujuan Khusus a. Untuk melakukan pengkajian pada Ny. Y dengan nifas normal b. Untuk menginterpretasi data dasar pada Ny. Y dengan nifas normal c. Untuk mengidentifikasi diagnosa potensial pada Ny. Y dengan nifas normal d. Untuk mengidentifikasi tindakan segera pada Ny. Y dengan nifas normal e. Untuk merencanakan tindakan yang akan dilakukan pada Ny. Y dengan nifas normal f. Untuk melaksanakan rencana tindakan pada Ny. Y dengan nifas normal g. Untuk melakukan evaluasi terhadap tindakan yang diberikan pada Ny.Y dengan nifas normal BAB II TINJAUAN TEORI

A.

Pengertian Masa Nifas


Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali ke keadaan seperti pra hamil, lama nifas yaitu 6-8 minggu.(Rustam, 1998). Masa nifas ( puerperium) dimulai setelah kelahiran placenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira selama 6 minggu (Saifudin,2001).

Menurur Sarwono, (2006) masa nifas (puerperium) dimulai setelah placenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu, yang disertai perubahan fisik antara lain : 1. Involusio uterus dan bagian-bagian lain dari traktus genitaia 2. Pengeluaran ASI 3. Perubahan fisiologis dan sistem lain di dalam tubuh

B. Periode Masa Nifas


Menurut Rustam, (1998) masa nifas dibagi dalam 3 periode,yaitu : 1. Puerpurium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan jalan-jalan. 2. Puerpurium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu. 3. Puerperium remote ( remote puerperium) adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu minggu. C. Perubahan Fisiologi Masa Nifas 1. Sistem reproduksi Dalam masa nifas,alat-alat genetalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Perubahan-perubahan alat-alat genetalia ini dalam keseluruhannya disebut involusi (Sarwono,2006). Setelah bayi dilahirkan, uterus yang selama persalinan mengalami kontraksi dan relaksasi, akan menjadi keras sehingga dapat menutup pembuluh darah besar yang bermuara pada bekas implantasi placenta. a. Uterus mengalami involusi yang dimulai dengan segera setelah placenta lahir akibat kontraksi otot polis. Jumlah sel miometrium tidak berubah, tapi ukuran uterus berubah. 1) Segera setelah lahir : 1000 gr (sejajar pusat) 2) Setelah 1 minggu : 500 gr (antara pusat dengan symphisis) 3) Setelah 2 minggu : 350 gr (telah masuk PAP) 4) Setelah 3 minggu : 100 gr 5) Setelah 6 minggu : 50-60 gr Dimana fundus uteri turun 1-2 cm setiap hari. b. Kontraksi Intensitas kontraksi uterus meningkat segera setelah bayi lahir, sebagian respon terhadap penurunan volume intra uterin yang sangat besar. Karena intensitas kontraksi tidak teratur, maka pertu dipertahankan timbul afterpains (rasa mules-mules) yang disebabkan kontraksi dan relaksasi. 2. Perubahan sistem pencernaan. Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah persalinan. Hal ini disebabkan karena pada waktu melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan kolon menjadi

kosong, pengeluaran cairan yang berlebihan pada waktu persalinan (dehidrasi), kurang makan, haemoroid, laserasi jalan lahir. Agar buang air besar teratur dapat diberikan diet/makanan yang mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup. Apabila ini tidak berhasil dapat di berikan supositoria biskodil per rektal untuk melunakkan tinja ( Derek Liewellyn Jones, 2002). Wanita yang menderita haemoroid selama kehamilan sering mengeluh bahwa mereka lebih merasakan nyeri pada masa post partum. Satu dari 20 wanita mengalami haemoroid untuk pertama kali sewaktu melahirkan , tetapi kebanyakan kasus ini akan hilang dalam waktu dua atau tiga minggu (Derrek Liewellyn Jones,2002) Nafsu makan meningkat konstipasi mungkin terjadinya karena : a. Efek relaksasi progesteron dalam waktu singkat. b. Pengobatan yang mungkin menghambat peristaltik c. Tonus otot abdomen yang menurun setelah meregang selama kehamilan. d. Nyeri jahitan perineum / jahitan post SC. e. Dehidrasi/ intake makanan yang kurang. 3. Perubahan sistem perkemihan Kesulitan miksi mungkin terjadi dalam 24 jam setelah melahirkan karena refleks penekanan aktivitas detrusor yang disebabkan oleh tekanan pada basis kandung kemih selama melahirkan. Jika tidak dapat mengeluarkan urin mungkin diperlukan kateterisasi ( Derek Liewellyn-Jones, 2002). Kandung kencing dalam puerperium kurang sensitif dan kapasitasnya bertambah, sehingga kandung kencing penuh atau sesudah kencing masih tertinggal urine residual (normal + 15 cc). Sisa urine dan trauma pada kandung kencing waktu persalinan memudahkan terjadinya infeksi (Ambarwati, Eny Retna, dkk, 2009) Kandung kemih bisa trauma akibat kehamilan dan persalinan (mukosa menjadi oedema dan hiperemik). Anastesi epidural dapat meningkatkan rasa penuh pada kandung kemih dan nyeri perineum terasa lebih lama. Dengan mobilisasi dini bisa mengurangi hal tersebut diatas. Seringkali dengan adanya residu terjadi overdistensi. Dan pada miksi sering meninggalkan residu akibatnya sering Infeksi saluran kemih. Protein uri bisa terdapat pada 50% wanita post partum pada hari ke 1 sampai ke 2 post partum. 4. Perubahan tanda-tanda vital a. Suhu badan. Satu hari (24jam) postprtum suhu badan akan naik sedikit (37,5C - 38C) sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan, sehingga dapat berefek dehidrasi. Apabila keadaan normal suhu badan menjadi biasa. Biasanya pada hari ketiga suhu badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI, buah dada menjadi bengkak, berwarna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu tidak turun kemungkinan adanya infeksi pada endometrium, mastitis, tractus genitalis atau sistem lain.

b. Nadi Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali permenit. Sehabis melahirkan yaitu pada jam pertama post partum biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat atau meningkat c. Tekanan darah Biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah ibu melahirkan karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi pada postpartum dapat menandakan terjadinya preeklampsi postpartum. Tekanan darah 48 jam pertama, hypotensi ortostastik (pusing seakan ingin pingsan segera setelah berdiri). d. Respirasi Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu nadi tidak normal, pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran pernafasan (Ambarwati, Eny Retna, dkk, 2009). D. Persiapan Laktasi Laktasi dapat diartikan dengan pembentukan dan pengeluaran air susu ibu (ASI), yang merupakan makanan pokok (http://midwivesari.blogspot.com/). terbaik bagi bayi yang bersifat alamiah

Berbagai hormon, misalnya estrogen, progesteron, korionik gonadotropin manusia, kortisol, insulin, prolaktin, dan laktogen placenta memainkan peran yang penting dalam mempersiapkan payudara untuk laktasi. Pada saat kelahiran ada dua kejadian yang merupakan alat untuk memulai laktasi. Pertama penurunan hormon placenta (terutama estrogen) memungkinkan terjadinya laktasi. Kedua, menyusui akan merangsang pelepasan prolaktin dan oksitosin (Hacker/Moore,2001). Menurut Ambarwati, Eny Retna, dkk (2009) produksi ASI masih sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan, ibu yang selalu dalam keadaan tertekan, sedih, kurang percaya diri dan berbagai ketegangan emosional akan menurunkan volume ASI bahkan tidak terjadi produksi ASI. Ada 2 refleks yang sangat dipengaruhi oleh keadaan jiwa ibu, yaitu: 1. Refleks Prolaktin Pada waktu bayi menghisap payudara ibu, ibu menerima rangsangan neurohormonal pada putting dan areola, rangsangan ini melalui nervus vagus diteruskan ke hypophysa lalu ke lobus anterior, lobus anterior akan mengeluarkan hormon prolaktin yang masuk melalui peredaran darah sampai pada kelenjar-kelenjar pembuat ASI dan merangsang untuk memproduksi ASI. 2. Refleks Let Down Refleks ini mengakibatkan memancarnya ASI keluar, isapan bayi akan merangsang putting susu dan areola yang dikirim lobus posterior melalui nervus vagus, dari glandula pituitary posterior dikeluarkan hormone oxytosin ke dalam peredaran darah yang menyebabkan adanya kontraksi otot otot myoepitel dari saluran air susu, karena adanya kontraksi ini maka ASI akan terperas ke arah ampula.

Untuk menghadapi masa laktasi /menyusui sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mamma yaitu : 1. Proliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar,alveoli, dan jaringan lemak bertambah. 2. Keluaran cairan susu jolong dari duktus laktiferus disebut colostrum, berwarna kuning-putih susu. 3. Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam, dimana vena-vena berdilatasi sehingga tampak jelas. 4. Setelah persalinan,pengaruh supresi estrogen dan progesteron hilang. Maka timbul pengaruh hormon Laktogenik (LH) atau prolaktin yang merangsang air susu. Disamping itu, pengaruh oksitosin menyebabkan mio-epitel kelenjar susu berkonsentrasi sehingga air susu keluar. Produksi akan banyak sesudah 2-3 hari post partum. Bila bayi mulai disusui, isapan pada puting susu merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris mengakibatkan oksitosin dikeluarkan oleh hipofise. Produksi air susu ibu (ASI) akan lebih banyak. Sebagai efek positif adalah involusio uteri akan lebih sempurna. Disamping ASI merupakan makanan utama bayi yang tidak ada bandingnya, menyusukan bayi sangat baik untuk menjelmakan rasa kasih sayang antara ibu dan anaknya (Rustam,1998). Cara menyusui yang benar dengan posisi duduk antara lain adalah sebagai berikut : 1. lbu duduk dengan telapak kaki menapak lurus, menggendong bayi setinggi payudara ibu, jika kurang tinggi, dapat disangga bantal. 2. Mengeluarkan sedikit Asl kemudian diolesi ke puting susu dan areola sekitarnya sebagai pelumas 3. Bayi digenclong dengan satu lengan, kepala pada lengkung siku dan bokong ditahan ditelapak tangan ibu 4. Saku tangan bayi diletakkan di belakang badan, perut bayi menempel perut ibu, kepala menghadap payudara dan pastikan telinga dan lengan bayi lurus (tidak hanya membelokkan kepala bayi saja) 5. Memegang payudara dengan ibu jari berada di bagian atas dan empat jari lain menyangga payudara 6. Bayi dirangsang membuka mulut dengan cara menyentuh pipi bayi dengan puting susu ibu, setelah bayi membuka mulut dengan cepat masukkan puting susu serta areolanya. 7. Tanda bayi kecukupan ASI adalah ibu merasakan perubahan tegangan payudara dan merasa aliran ASI deras saat bayi menyusu dan bayi tampak puas sehingga dapat tidur nyenyak setelah menyusu. 8. Cara nrelepas puting yaitu dengan menekan dagu bayi kebawah sampai mulut bayi terbuka. 9. Setelah selesai menyusui, keluarkan sedikit ASI kemudian oleskan ke putting susu dan areola. 10. Jangan lupa, sendawakan bayi dengan cara gendong agak tinggi dan sandaran ke pundak ibu agar tidak gumoh. 11. Untuk menyusui berikutnya mulailah dari payudara yang terakhir disusukan.

E. Waktu Kunjungan Ibu Nifas 1. 6-8 jam setelah persalinan. a. c. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri. Memberi konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri d. Pemberian ASI awal. e. f. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia. Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan stabil. 2. 6 hari setelah persalinan a. Memastikan involusi uterus berjalan normal: uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau. b. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal. c. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat. d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan memperlihatkan tanda-tanda penyulit. e. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat,menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari. 3. 2 minggu setelah persalinan. Sama seperti 6 hari setelah persalinan. 4. 6 minggu setelah persalinan. a. Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia alami atau bayi alami. b. Memberikan konseling untuk KB secara dini BAB III TINJAUAN KASUS ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA Ny. Y P 1 A 0 POST PARTUM HARI KE 1 DENGAN NIFAS NORMAL DI RB CITRA PRASASTI I. PENGKAJIAN No Register Tgl masuk Di rawat di ruang : 002 : 4 Agustus 2010 : VK Jam : 11.00 WIB b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan.

1. DATA SUBYEKTIF
BIODATA Nama Umur Agama Ibu : Ny. Y : 30 Tahun : Islam Suami : Tn. A : 35 Tahun : Islam

Pendidikan : SMP Pekerjaan/penghasilan : Ibu Rumah Tangga Suku/bangsa Alamat No. Telp/HP : Jawa/Indonesia

: SMA : Swasta : Jawa/Indonesia :Jatimalang,Mojolaban : Tidak ada

:Jatimalang,Mojolaban : Tidak ada

a. Kunjungan saat ini Kunjungan Awal Kunjungan Ulang Keluhan utama : Ibu mengatakan telah melahirkan anaknya 6 jam yang lalu, ibu juga mengatakan badannya lemas dan perutnya terasa mules. 2. Riwayat perkawinan Kawin 1 kali. Kawin pertama umur 29 tahun. Dengan suami

sekarang 1 tahun

3. Riwayat Mentruasi Menarche umur 15 tahun. Siklus 28 hari (teratur). Lama haid 6-7 hari. Sifat darah encer. Bau khas, tidak terdapat flour abuse. Tidak disminore. Banyaknya 2 3 kali ganti pembalut perhari. HPHT : 28 Oktober 2009. 4. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit berat seperti DM, hipertensi, jantung, asma, TBC, HIV, Malaria, Anemia atau penyakit lainnya. b. Riwayat kesehatan lalu Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit berat seperti DM, hipertensi, jantung, asma, TBC, HIV, Malaria, Anemia atau penyakit lainnya. c. Riwayat kesehatan keluarga Ibu mengatakan bahwa keluarga tidak pernah / sedang menderita menderita penyakit berat seperti DM, hipertensi, jantung, asma, TBC, HIV, Malaria, Anemia atau penyakit lainnya. d. Riwayat keturunan kembar Ibu mengatakan bahwa dalam keluarganya tidak ada riwayat keturunan kembar.

5. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu (P1A0 h0)


Ibu mengatakan ini merupakan kelahiran anaknya yang pertama, belum pernah abortus.

No Tgl lahir

Umur kehamilan

Jenis

Persalinan Peno Komplikasi

Jenis

BB

Nifas Laktasi Komp

1.

04/08/10 39 Minggu

persalinan long Spontan Bidan

Ibu Tdk ada

Bayi kelamin lahir Tdk Laki3000 ada laki gr

Baik

likasi Tidak ada

6. Riwayat kehamilan dan persalinan terakhir


a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Riwayat ANC : TM I: 3 x keluhan mual muntah, sering BAK. TM 2 : 4 x tidak ada keluhan. TM 3 : 6 x keluhan pegel-pegel. Umur kehamilan : 39 minggu Tempat persalinan : RB CITRA PRASASTI, Penolong: Bidan Jenis pertolongan : spontan Komplikasi : tidak ada Plasenta : lengkap, lahir: spontan, berat : 3500 gr. tali pusat : panjang 45 cm. Kelainan : tidak ada Perinium : tidak ada episiotomi, jahitan jelujur. Perdarahan kala I : 10 cc. kala II : 50 cc. kala III : 100 cc. kala IV : 40 cc. Tindakan lain : infus Lama persalinan : kala I : 16 jam. kala II : 1,5 jam. kala III : 5 menit. kala IV : 15 menit

7. Riwayat KB Ibu mengatakan bahwa ibu belum pernah KB 8. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Kebutuhan Sebelum nifas Nutrisi; a. Makan Frekuensi makan; 3x/hari nasi, sayur, lauk, 1 porsi habis 6-8 gelas /hari (air putih, susu) b. Minum

Selama nifas Makan 1 kali (nasi,sayur,lauk) 1 porsi habis 4 gelas, (air putih. Teh)

Keluhan Tidak ada

Tidak ada

Eliminasi a. BAK b. BAB Istirarahat

5-6 kali/hari jernih, bau khas, encer 1 kali sehari (kuning, padat, bau khas) Tidur siang 2jam Tidur malam 8 jam Baik (ibu bisa duduk, bangun

1 kali jernih, bau khas, encer Belum BAB Tidur 1,5 jam Belum tidur malam Ibu sudah bisa

Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Ambulasi

Tidak ada

dari tidur dan jalan-jalan sendiri) Personal hygine Mandi 2 kali/hari, ganti baju dan celana dalam 2 kali/hari, membersihkan genetalia tiap habis BAB/BAK, gosok gigi 2 kali/hari Frekuensi 1 kali /minggu

miring, duduk, dan berdiri serta mulai berjalan Disibin 1 kali setelah melahirkan, genetalia dibersihkan Belum melakukan

Tidak ada

Pola seksual

Takut

9. Keadaan Psikologis a. Kehamilan (diinginkan/direncanakan/tidak) Ibu mengatakan kehamilan ini sangat di inginkan dan direncanakan b. Kondisi perasaan ibu sekarang Ibu mengatakan kondisi perasaannya bahagia c. Kecemasan Ibu mengatakan khawatir apabila kelak tidak bias merawat anaknya dengan baik. d. Harapan Ibu mengatakan semoga kelak anaknya berbakti pada orangtua dan berguna bagi nusa dan bangsa. 10. Keadaan Sosial dan Kulturalluarga baik a. Hubungan dengan suami Ibu mengatakan hubungan dengan suami baik b. Hubungan dengan keluarga Ibu mengatakan hubungan dengan keluarga baik c. Hubungan dengan masyarakat Ibu mengatakan hubungan dengan masyarakat baik d. Adat/kebiasaan keluarga/masyarakat Ibu mengatakan adat/kebiasaan keluarga/masyarakat baik 11. Keagamaan Ibu mengatakan rajin mengerjakan sholat 5 waktu 12. Lingkungan Ibu mengatakan lingkungannya bersih dan nyaman B. DATA OBYEKTIF 1. Pemeriksaan umum

1) Keadaan umum 2) Kesadaran


S : 36,5 C 2) TB

: Baik : Composmentis

1) Tanda vital TD : 110/80 mmHg. N : 84 x/menit. R : 20 x/menit. : 152 cm. BB : Saat hamil : 62 kg BB nifas : 57 kg. LILA : 24 cm

2. Pameriksaan fisik : a. Inspeksi


1) Kepala dan leher

b.

Rambut/Kulit kepala : kulit kepala tampak bersih, rambut hitam lurus, bersih tidak berketombe, tidak teraba benjolan. Wajah : tidak edema, tidak pucat, terdapat cloasma gravidarum. Mata : konjungtiva tidak anemis, simetris, sklera tidak ikterik. Hidung : tampak bersih, tidak ada sekret, tidak ada polip. Mulut : Bibir merah muda, lembab, tidak sumbing, tidak terdapat stomatitis, gusi tidak bengkak, tidak terdapat gigi caries. Telinga : Simetris, tidak ada serumen, tampak bersih, tidak ada benjolan. Leher : tampak bersih, tidak teraba pembesaran kelenjar tyroid, limfe/vena jugularis. Dada : tampak simetris, bersih, dengan auskultasi tidak terdengar ronkhi. Payudara : tampak simetris, bersih, putting susu menonjol, ASI keluar lancar, tidak teraba benjolan/kelainan, areola kehitaman. Abdomen Bekas luka : tidak ada Striae gravidarum: ada Genetalia Edema: Tidak ada Varices: tidak ada Perinium: terdapat robekan Jahitan: jelujur Pengeluaran Lochea: ada Anus/hemoroid : anus bersih, berlubang, tidak ada hemoroid. Palpasi Muka: teraba tidak edema, tidak pucat, terdapat cloasma gravidarum. Leher: teraba tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, limfe/vena jugularis. Payudara: teraba simetris, bersih, putting susu menonjol, ASI keluar lancar, tidak teraba benjolan/kelainan, areola kehitaman. Abdomen Bekas luka: tidak ada TFU: 2 jari dibawah pusat

c.

Kandung Kemih: kosong Auskultasi Dada: Paru-paru: tidak terdengar rhonki Jantung : detak jantung taratur

d. 3.

Perkusi Abdomen: tidak ada kembung Ekstremitas (reflek patela): +/+ Pemeriksaan penunjang/LAB a.protein urine: negatif b. urine reduksi : tidak dilakukan c. Hb : 11 gr dL d. Lain-lain : tidak dilakukan

B. INTERPRETASI DATA DASAR Tanggal: 4 Agustus 2010 Jam : 11.15 WIB 1. Diagnosa : Ny. Y umur 30 tahun dengan nifas normal hari ke-1 Dasar a. Data subyektif 1) Ibu mengatakan usianya 30 tahun 2) Ibu mengatakan melahirkan anaknya 6 jam yang lalu dengan persalinan normal pada tanggal 4 Agustus 2010, pukul 05.00 WIB 3 jam post partum b. Data obyektif 1) Keadaan umum : baik, kesadaran : composmentis 2) Tanda-tanda vital : TD : 110/80 mmHg. N : 84 x/menit. R : 20 x/menit. S : 36,5 C c. Pemeriksaan fisik didapat putting susu menonjol dan ASI sudah keluar d. Pemeriksaan abdomen : TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi baik, kandung kemih kosong. e. Dari vagina keluar lokhea rubra, perineum bersih, terdapat jahitan. 2. Masalah Tidak ada Dasar Tidak ada

3. Kebutuhan Tidak ada Dasar

Tidak ada C. DIAGNOSA /MASALAH POTENSIAL TINDAKAN ANTISIPASI Tanggal: 4 Agustus 2010 Jam : 11.17 WIB

1. Diagnosa potensial tidak ada 2. Dasar tidak ada 3. Tindakan antisipasi tidak ada
D. IDENTIFIKASI TINDAKAN SEGERA Tanggal: 4 Agustus 2010 Tidak ada E. PERENCANAAN Tanggal : 4 Agustus 2010 1. Beritahu pada ibu mengenai hasil pemeriksaan 2. Anjurkan ibu senantiasa menjaga kebersihan dirinya 3. Anjurkan ibu untuk menyajikan makanan bergizi 4. Beri tahu ibu bahwa mules yang dirasakan adalah fisiologis 5. Anjurkan ibu untuk melakukan mobilisasi dini 6. Jelaskan pada ibu bagaimana cara posisi menyusui yang benar 7. Jelaskan tanda bahaya masa nifas 8. Jelaskan mengenai lokhea yang akan keluar dari vagina Jam : 11.20 WIB Jam : 11.19 WIB

F. PELAKSANAAN Tanggal : 4 Agustus 2010 a. VS : TD : 110/80 mmHg N S Jam : 11.25 WIB : 84 x/menit : 36,5 C 1. Menginformasikan pada ibu mengenai hasil pemeriksaan R : 20 x/menit b. Reflek patella : +/+

c. TFU 2 jari dibawah pusat d. Ppv/lochea : terdapat lokhea rubra, warna merah segar, 20 cc bau khas

2. Menganjurkan ibu untuk senantiasa menjaga kebersihan dirinya yaitu dengan mandi 2x sehari, mengganti pakaian dan pembalut secara rutin dan teratur, menjaga kekeringan daerah genetalia agar jahitan cepat kering dan tidak terjadi infeksi. 3. Menganjurkan ibu untuk menyajikan makanan bergizi, yaitu makanan yang mengandung gizi seimbang (karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral) dalam jumlah yang cukup. 4. Memberitahu ibu bahwa mules yang dirasakannya adalah fisiologis/normal dan menjelaskan pada ibu bahwa rasa mules tersebut disebabkan kontraksi rahim dalam proses pengembalian rahim seperti semula. 5. Mengajari ibu untuk melakukan mobilisasi dini, yaitu dengan istirahat, tidur terlentang, selama 1 jam pasca persalinan, miring ke kanan, miring ke kiri, untuk mencegah penyumbatan pembuluh darah, diperbolehkan duduk dan jalan jalan pada hari pertama 6. Menjelaskan pada ibu bagaimana posisi cara menyusui yang benar salah satunya dengan posisi duduk: a. Ibu duduk dengan telapak kaki menapak lurus b. Bayi digendong sejajar dengan payudara dengan satu lengan, kepala bayi pada lengkung siku dan bokong di telapak tangan ibu c. Satu tangan bayi diletakkan dibelakang badan d. Badan bayi dimiringkan ke arah payudara e. Memegang payudara dengan ibu jari berada di atas dan 4 jari yang lain menyangga payudara f. Mengoleskan sedikit ASI pada puting susu, areola dan sekitarnya. Rangsang bayi membuka mulut dengan cara menyentuh pipinya dengan puting susu, kemudian memasukkan puting susu dan areola ke mulut bayi g. Cara melepas puting susu yaitu dengan menekan dagu bayi kebawah h. Jangan lupa sendawakan bayi dengan menggendong bayi di pundak ibu, kemudian punggungnya ditepuk agar tidak gumoh

i. 7. a. b. c. 8. a. b. c. d. e. f.

Untuk menyusui berikutnya mulailah dari payudara yang terakhir disusukan Menjelaskan tanda bahaya masa nifas Perdarahan pervaginam yang hebat tidak berhenti hingga membuat ibu tidak sadarkan diri Badan ibu demam dan panas Tekanan Darah melebihi batas normal (Hipertensi) Menjelaskan mengenai lokhea yang akan keluar dari vagina Lokhea rubra : berisi darah segar dan sisa selaput ketuban, vernik casoasa, lanugo dan meconeum, terjadi selama 2 hari pasca persalinan Lokhea sanguinolenta : warna merah kuning berisi darah dan lendir, terjadi pada hari ke 3 7 Lokhea serosa : berwarna kuning dan cairannya tidak berdarah lagi, terjadi pada hari ke 7 14 Lokhea alba : cairan putih yang terjadi pada hari setelah 2 minggu Lckhea parulenta : jika terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk Lokhiotosis : lokhea tidak lancar keluarnya.

G. EVALUASI

Tanggal : 4 Agustus 2010 Jam : 11.35 WIB a. Subyektif : Ibu mengatakan bersedia senantiasa menjaga kebersihan dirinya b. Ibu mengatakan bersedia untuk mengkonsumsi makanan bergizi c. Ibu mengatakan mengerti dan paham bahwa mules yang dirasakannya adalah fisiologis/normal pusing boleh berdiri e. f. a. Ibu mengatakan mengerti dan paham mengenai cara menyusui yang benar dengan posisi duduk Ibu mengatakan mengerti dan paham mengenai lokhea rubra yang akan keluar dari vagina Keadaan umum : baik N S : 84 x/menit : 36,5 C 1. Obyektif b. Kesadaran : composmentis c. VS TD : 110/80 mmHg R : 20 x/menit d. Kandung kemih kosong e. TFU 2 jari dibawah pusat f. lokhea : terdapat lokhea rubra, warna merah segar, 20 cc bau khas g. Asi lancar, diawali dengan pengeluaran kolostrum h. Mobilisasi : ibu sudah bisa miring, duduk, dan jalan 2. Diagnosa Ny. Y umur 30 tahun dengan nifas normal hari ke 1 3. Perencanaan a. Ajari ibu untuk senantiasa merawat tali pusat bayi b. Anjurkan ibu untuk senantiasa memberikan ASI eksklusif saja sampai dengan usia 6 bulan c. Beri imunisasi hepatiris B pada bayi d. Beri tahu ibu mengenai tanda bahaya masa nifas e. f. Jelaskan pada ibu mengenai macam macam metode KB Jadwalkan kepulangan pasien DATA PERKEMBANGAN Tanggal : 4 Agustus 2010 1. Subyektif Ibu mengatakan perutnya tidak terasa mules lagi dan badannya pun tidak terasa lemas 2. Obyektif a. c. Keadaan umum VS N R TD : baik : 110/80 mmHg : 84 x/menit : 20 x/menit b. Kesadaran : composmentis jam : 16.00WIB d. Ibu mengatakan bersedia untuk melakukan mobilisasi dinu,yaitu miring, duduk apabila tidak

S : 36,5 C d. Reflek patella : baik (+) e. f. TFU 2 jari dibawah pusat Lokhea : terdapat lokhea rubra , warna merah segar, 20 cc bau khas

g. Asi lancar, diawali dengan pengeluaran kolostrum h. Mobilisasi : ibu sudah bisa miring, duduk, dan jalan 3. Diagnosa Ny. Y umur 30 tahun dengan nifas normal hari ke 1 4. Perencanaan a. b. c. d. Mengajari ibu untuk senantiasa merawat tali pusat bayinya, yaitu dengan mengganti balutan dengan kasa bersih dan kering sehabis mandi atau jika tali pusat basah atau kotor Ibu mengatakan bersedia untuk senantiasa merawat tali pusat bayinya Menganjurkan ibu untuk senantiasa memberikan ASI eksklusif, yaitu memberikan ASI saja sampai umur 6 bulan Ibu mengatakan bersedia memberikan ASI eksklusif pada bayinya Memberikan hepatitis B pada bayi, yaitu dengan uniject 0,5ml secara IM pada paha kanan Bayi telah diberi imunisasi hepatitis B Memberi tahu ibu mengenai tanda bahaya masa nifas, yaitu seperti perdarahan banyak dari vagina, bau menyengat dari vagina, demam, suhu > 38 C, pusing, kaki bengkak Ibu paham dan mengerti mengenai tanda bahaya masa nifas dan mampu menyebutkannya kembali

e. -

Menjelaskan pada ibu mengenai macam macam metode KB, yaitu : Metode KB sederhana : ~ Kondom ~ Amenore laktasi : dengan pemberian ASI selama 6 bulan ~ Metode kalender ~ Coitus interuptus Metode modern : ~ Hormonal ~ IUD/AKDR : pil, suntik, implan : rentang berkala : senggama terputus

f. -

~ Kontrasepsi mantab : Tubektomi (untuk wanita), Vasektomi (untuk pria) Ibu mengerti mengenai metode KB sederhana dan modern Menjadwalkan pasien pulang pada pukul 16.30 WIB Ibu bersedia pulang pada pukul 16.30 WIB BAB IV PEMBAHASAN

Dalam data subyektif terdiri dari biodata yang mencakup identitas klien serta suami yang terdiri dari Nama yang jelas dan lengkap. Hal ini untuk mengetahui identitas ibu dan suami. bila perlu ditanyakan nama panggilan sehari-hari hal ini untuk mencegah kekeliruan bila ada nama yang sama. Dalam lahan pasien kami bernama Ny Y dan suaminya Tn A. Dalam praktek dan teori sudah sesuai kami melakukan anamnesa identitas ibu dan suami hal ini untuk mencegah kekeliruan dengan pasien yang lain. Dalam biodata juga tercantum umur dicatat dalam tahun. Sebaiknya juga tanggal lahir klien, umur berguna mengetahui apakah ibu tergolong dalam primi para tua atau primi para muda. Primi para tua yaitu hamil pertama saat umur 35 tahun dan untuk primi para muda adalah umur kurang dari 16 tahun saat hamil pertama. Dalam lahan kami mendapati umur Ny Y 30 tahun. Tidak ada kesenjangan antara teori dan lahan umur ibu tidak masuk dalam daftar resti yaitu kurang dari 16 tahun dan lebih dari 35 tahun. Alamat perlu dicatat untuk mempermudah hubungan bila keadaan mendesak. Misalnya ibu yang dirawat memerlukan bantuan keluarga. Dengan adanya alamat tersebut keluarga klien dapat segera dihubungi. Demikian juga alamat dapat memberikan petunjuk tentang keadaan lingkungan tempat tinggal klien. Dalam lahan kami juga menanyakan alamat ibu kami mendapati alamat ibu di desaJatimalang,Mojolaban. Sehingga tidak ada kesenjangan antara teori dan lahan. Dalam teori biodata juga dilengkapi dengan pekerjaan yang dicatat untuk mengetahui taraf sosial ekonomi ibu tersebut. Sejauh mana pengaruh pekerjaan dengan permasalahan kesehatan klien berkaitan dengan aktivitasnya sehari-hari dan juga pembiayaan hidupnya yang berkaitan dengan gizi, perencanaan tempat persalinan. Dilahan kami mencatat pekerjaan ibu sebagai ibu rumah tangga dan suami bekerja swasta. Dengan demikian kami dapat menilai taraf social ibu termasuk katagori menengah sehingga pembiayaan hidup dan gizi ibu cukup baik. Tidak ada kesenjangan antara teori dan lahan karena dalam lahan pekerjaan juga ditanyakan. Agama perlu dicatat karena hal ini sangat berpengaruh dalam kehidupan termasuk kesehatan. Dengan diketahuinya agama klien, akan memudahkan bidan melakukan pendekatan dalam melakukan asuhan kebidanan. Dilahan Agama juga kami tanyakan dan ibu dan suami beragama Islam sehingga pendekatan yang kami lakukan dengan menganjurkan ibu banyak berdoa dan sholat agar persalinannya dapat berjalan dengan lancar. Tidak ada kesenjangan antara teori dan lahan. Dalam teori pendidikan klien ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya, tingkat pendidikan dan mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang. Dalam lahan kami ibu dan suami pendidikan terakhirnya adalah SMP sehingga hal ini dapat menjadikan acuan bagi bidan untuk memberikan asuhan dan pengarahan sesuai tingkat pendidikan agar mudah dimengerti. Oleh karena hal tersebut, tidak ada kesenjangan antara teori dengan lahan karena dilahan pendidikan juga menjadi daftar pertanyaan.

Sesuai teori keluhan yang mungkin dapat terjadi dan dirasakan oleh ibu perlu ditanyakan agar dapat memberikan pelayanan yang tepat sesuai dengan keluhan ibu. Normalnya ibu mengalami mulas setelah melahirkan. Dilahan ibu juga mengatakan bahwa perutnya terasa mulas, hal ini fisiologis karena merupakan proses involusio uteri/kembalinya uterus seperti semula. Dari hal tersebut, tidak ada kesenjangan antara teori dengan lahan. Pengeluaran pervaginam harus dikaji untuk mengetahui apakah terjadi perdarahan serta infeksi atau tidak. Dilahan ditemui bahwa ibu mengeluarkan darah segar yang merupakan sisa selaput ketuban, vernik caseosa, lanugo, dan mekodium. Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa selama 2 hari pasca persalinan ibu akan mengeluarkan lochia rubra. Status perkawinan ditanyakan pada klien untuk mengetahui sudah berapa lama ibu menikah dan berapa kali ibu menikah. Untuk kemungkinan pengaruh status perkawinan terhadap masalah kesehatan dan psikologis. Demikian juga dengan status anak yang dilahirkan dan psikologis ibu selama hamil dan bersalin. Dilahan kami menanyakan status perkawinan ibu dan hasilnya ibu mengatakan Kawin 2 kali. Kawin pertama umur 21 tahun. Dengan suami sekarang 1 tahun. Riwayat menstruasi yang perlu ditanyakan adalah menarche normalnya 10 tahun - 16 tahun, siklusnya normal 25-32 hari, teratur, lamanya menstruasi normalnya 3-7 hari, banyaknya darah yang keluar normalnya 16 cc / 2 kali ganti pembalut tiap hari, dismenorrhoe atau tidak. Hal ini perlu ditanyakan terutama untuk mengetahui usia kehamilan. Hasil anamnesa kami adalah Menarche umur 15 tahun. Siklus 28 hari (teratur). Lama haid 6-7 hari. Sifat darah encer. Bau khas, tidak terdapat flour abuse. Tidak disminore. Banyaknya 2 3 kali ganti pembalut perhari. HPHT : 25 Oktober 2009. Riwayat kesehatan sekarang perlu ditanyakan untuk mengetahui apakah ibu sedang menderita suatu penyakit atau tidak, guna mengidentifikasi kemungkinan komplikasi yang timbul. Di lahan inu mengatakan tidak sedang menderita penyakit berat seperti jantung, hipertensi, DM, TBC, Malaria, HIV dll. Hal ini sesuai dengan teori bahwa dalam riwayat kesehatan, riwayat kesehatan sekarang perlu ditanyakan pada ibu/pasien. Riwayat kesehatan yang lalu perlu ditanyakan untuk mengetahui apakah ibu pernah menderita suatu penyakit atau tidak, guna mengidentifikasi kemungkinan komplikasi yang timbul. Di lahan ini mengatakan tidak pernah menderita penyakit berat seperti jantung, hipertensi, DM, TBC, Malaria, HIV dll. Hal ini sesuai dengan teori bahwa dalam riwayat kesehatan, riwayat kesehatan sekarang perlu ditanyakan pada ibu/pasien. Riwayat kesehatan keluarga perlu ditanyakan untuk mengetahui apakah keluarga ada yang menderita suatu penyakit atau tidak, guna mengidentifikasi kemungkinan komplikasi yang timbul. Serta adanya penyakit menurun. Di lahan ibu mengatakan keluarga tidak ada yang menderita penyakit berat seperti jantung, hipertensi, DM, TBC, Malaria, HIV dll. Hal ini sesuai dengan teori bahwa dalam riwayat kesehatan, riwayat kesehatan sekarang perlu ditanyakan pada ibu/pasien.

Riwayat keturunan kembar perlu ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan adanya keturunan kembar pada persalinan ibu. Di lahan ibu mengatakan bahwa tidak pernah memiliki riwayat keturunan kembar baik dari keluarha ibu maupun suami. Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa riwayat keturunan kembar perlu ditanyakan pada ibu/pasien. Riwayat persalinan dan nifas yang lalu perlu ditanyakan. Untuk megidentifikasi adanya kemungkinan komplikasi.Hasilnya ibu mengatakan ini merupakan kelahiran anaknya yang pertama, belum pernah hamil/abortus, anaknya lahir pada tanggal 8 Maret 2010, umur kehamilan 42 minggu 5 hari, jenis persalinan normal, ditolong oleh bidan, BB lahir 3500 gr, tidak ada komplikasi pada ibu maupun bayi, jenis kelamin bayi laki-laki, laktasi baik/lancar. Hal ini sesuai dengan teori bahwa riwayat persalinan dan nifas yang lalu perlu ditanyakan. Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu, yang perlu ditanyakan pada klien yang pernah hamil adalah untuk menentukan faktor risiko. Faktor resiko 4T yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, terlalu banyak. Pada klien yang pernah melahirkan yaitu tempat melahirkan, cara melahirkan BB anak saat lahir, PB anak saat lahir, usia saat ini, kelainan saat nifas dan riwayat meneteki. Di lahan kami juga menanyakan riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu Ny Y. Hasilnya, ini merupakan kehamilan dan persalinan pertama, umur kehamilan 42 minggu 5 hari, tempat persalinan di BPS Nur Saadatul, ditolong oleh bidan, jenis pertolongan spontan, tidak ada komplikasi, plasenta lengkap, perinium terdapat jahitan jelujur, perdarahan kala I 10 cc, kala II 50 cc, kala III 100 cc, kala IV 40 cc, tindakan lain adalah infus, lama persalinan kala I 16 jam, kala II 1,5 jam, kala III 5 menit, kala IV 15 menit. Pola pemenuhan kebutuhan salah satunya menanyakan nutrisi ibu, Tanyakan kebiasaan makan dirumah selama hamil biasanya berapa kali dalam satu hari normalnya 3x sehari, berapa piring dalam satu kali makan, jenis makanan yang bergizi dan berserat tinggi, dan adakah makanan yang berpantang selama hamil. Hal ini perlu ditanyakan karena kebiasaan makan mempengaruhi kesehatan klien .Dalam praktek kami mananyakan tentang nutrisi ibu selama hamil dan selama nifas, selama hamilibu mengatakan makan 3x sehari porsi ibu hamil jenis : nasi, lauk, sayur, buah-buahan dan minum 6-8 gelas /hari (air putih dan susu). Selama nifas (6 jam) ibu mengatakan makan 1x nasi, lauk sayur dan buah satu porsi habis, serta minum 4 gelas (air putih dan teh hangat). Kebutuhan nutrisi ibu sudah baik sesuai dengan teori sehingga tidak ada kesenjangan antara keduanya. Eliminasi juga perlu ditanyankan karena bila ada gangguan ini akan mengganggu berjalannya mas nifas Sela masa nifas (6 jam) ibu mengatakan BAK 1x jernih, encer bau khas. Tidak ada kesenjangan antara teori dan lahan karena yang dialami ibu dalam batas normal. Pola istirahat ibu juga perlu ditanyakan, hal ini untuk mengkaji kenyamanan dan mengembalikan tenaga ibu setelah persalinan. Di lahan ibu mengatakan telah tidur selama 1,5 jam. Dari hal tersebut diketahui tidak ada kesenjagan antara teori dan lahan.

Pola sexual perlu ditanyakan untuk mengkaji perasaan ibu terhadap hubungan seksual, dilahan kami dapati ibu belum melakukan hubungan seksual karena masih merasa takut. Dari hal tersebut diadapati bahwa tidak ada kesenjangan antara lahan dengan teori. Dalam data objective berisi data-data dari hasil pemeriksaan ibu meliputi inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Pemeriksaan Fisik yang diperiksa Keadaan umum ibu, Normalnya Baik dan Kesadaran normalnya Compos mentis. Tanda-tanda vital, Normalnya : Tekanan Darah : 120/ 80 mmHg, bila lebih dari normal ini akan menjadi tanda terjadinya preeklamsi-eklamsi. Denyut Nadi : 84-88 x/m,Pernafasan : 12-20 x/m, Suhu :36,5-37,5 C , bila lebih dari normal ini akan menjadi tanda adanya infeksi persalinan. Dilahan :Baik hasil pemeriksaan Ny. Y hasilnya Keadaan Umum Kesadaran : Composmentis. Tanda vital : Tekanan Darah : 110/80

mmHg. Nadi : 84 x/m, Pernafasan : 20 x/m, Suhu : 36,5 C. Hasil pemeriksaan ibu menunjukan normal sehingga tidak ada kesenjangan antara lahan dan teori. Pada pemeriksaan selanjurnya, hasil pemeriksaan Ny. S hasilnya Keadaan Umum :Baik, Kesadaran : Composmentis. Tanda vital : Tekanan Darah : 120/80 mmHg. Nadi : 85 x/m, Pernafasan : 20 x/m, Suhu : 37 C. Hasil pemeriksaan ibu menunjukan normal sehingga tidak ada kesenjangan antara lahan dan teori. Pemeriksaan berikutnya adalah tinggi badan dan berat badan ibu. Normalnya tinggi badan lebih dari 145 cm, bila kurang dari normal ini akan menjadi resiko panggul sempit. Normalnya berat badan selama nifas mengalami penurunan 4-5 kg. Normalnya LILA lebih dari 23,5 cm, bila kurang dari normal ini termasuk KEK (kekurangan energy kronis). Dilahan kami memeriksa tinggi badan, berat badan dan LILA hasilnya Tinggi badan : 152 cm, Berat badan saat hamil : 62 kg setelah melahirkan : 57 kg, LILA : 24cm. Tidak ada kesenjangan antara teori dan lahan hasilnya normal. Pemeriksaan Kepala dan Leher, Normalnya : Muka : Pucat, terdapat chloasma gravidarum atau tidak, ekspresi wajah serta ada oedema atau tidak. Kulit kepala : Bersih, tidak teraba benjolan. Mata : Conjungtiva an anemis, sclera an ikterik, simetris. Mulut : Terdapat stomatitis atau tidak, pada gigi terdapat caries atau tidak serta kebersihannya, simetris. Telinga : simetris, tidak ada secret.Hidung : simetris, tidak ada secret, tidak ada polip, tidak ada nyeri tekan. Leher : Pembesaran kelenjar tiroid tidak ada , pembesaran vena jugularis tidak ada. Dada: Bentuk dada simetris, tidak ada retraksi dinding dada. Payudara: Terlihat simetris, bentuk putting susu menonjol, serta colostrum sudah keluar, ada hyperpigmentasi pada areola mamae, tidak ada massa (benjolan). Rambut/ kulit kepala : Rambut hitam, terlihat bersih, tidak ada ketombe, tidak ada benjolan Dilahan pemeriksaan kami mendapatkan hasil Wajah : Simetris, terlihat tidak pucat, tidak ada oedema, tidak ada kelainan. Mata : Konjungtiva terlihat an anemis, sclera an ikterik, simetris, tidak ada kelainan. Hidung : Simetris, tidak terlihat ada secret, tidak ada polip, tidak ada nyeri tekan. Mulut : bersih, tidak ada stomatitis , tidak ada caries gigi. Telinga : Tidak ada

secret, terlihat simetris, tidak ada kelainan, tidak ada nyeri tekan. Leher : Tidak teraba ada pembesaran kelenjar limfe dan tyroid. Dada : Terlihat Simetris, tidak ada retraksi dinding dada, tidak ada kelainan. Payudara : Hiperpigmentasi pada putting dan areola mamae, putting menonjol, tidak teraba benjolan, colostrum sudah keluar, simetris. Semua normal sesuai dengan teori tidak ada kesenjangan antara teori dan lahan. Abdomen : bekas luka tidak ada, palpasi TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi baik, kandung kemih tidak penuh. Pemeriksaan abdomen telah dilakukan hasilnya tidak terdapat kesenjangan antara teori dan lahan. Ekstermitas atas dan bawah normalnya tidak ada oedema bila ada oedema ini menandakan adanya preeklamsi, tidak ad varices, reflek patella +/+ bila hasilnya -/- ini menandakan adanya preeklamsi, kuku bersih dan kemerahan jika pucat ini menandakan ibu menderita anemia, tidak ada kelainan. Genetalia luar normalnya tidak ada oedem, tidak ada avarices, tidak ada peradangan kelenjar bartholini, pengeluaran lendir darah normal (lochea rubra). Dari semua hasil pemeriksaan yang telah kami lakukan semuanya masuk dalam batasan normal sesuai dengan teori sehingga tidak ada kesenjangan. Anus normalnya bersih, berlubang, tidak ada hemoroid, dilahan kami dapati hasil dalam batas normal sehingga tidak terdapat kesenjangan. Pemeriksaan penunjang normalnya protein urine negative bila positif ini menandakan adanya preeklamsi, Hb > 11 gram% bila kurang ini dapat menyebabkan perdarahan. Dalam lahan kami juga melakukan pemeriksaan penunjang dan hasilnya protein urine negative dan Hb 11gram%. Hasilnya masih dalam batasan normal sesuai dengan teori. Interpretasi data dasar berisi diagnosa kebidanan adalah hasil dari perumusan masalah yang diputuskan oleh bidan. Diagnosa kebidanan sebagai dasar dalam menanggulangi ancaman kehidupan klien. Contoh diagnosa kebidanan dalam ibu bersalin Ny umur P A dengan .... Dalam lahan diagnosa kebidanan yang kami buat pada N y. Y adalah Ny Y umur 30 tahun P I AO dengan nifas normal hari ke I Dasar data subyektif 1. Ibu mengatakan usianya 30 tahun 2. ibu mengatakan melahirkan anaknya 6 jam yang lalu dengan persalinan normal pada tanggal 4 Agustus 2010, pukul 05.00 WIB Dasar Data obyektif Keadaan umum : baik, kesadaran : composmentis VS : TD : 110/80 mmHg N : 84 x/menitR : 20 x/menit 36,5 C Pemeriksaan fisik didapat putting susu menonjol dan ASI sudah keluar Pemeriksaan abdomen : TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi baik, kandung kemih kosong Dari vagina keluar lokhea rubra, perineum bersih, terdapat jahitan

1. 2. 3. 4. 5.

S :

Masalah normalnya tidak ada masalah. Namun bila ditemukan masalah maka kita harus membuat diagnose potensial dan juga menentukan tindakan segera apa yang harus segera diberikan kepada ibu. Di lahan Ny Y Tidak memiliki masalah. Sehingga tidak ada kesenjangan antara teori dan lahan. Identifikasi diagnosa potensial ini dibuat untuk menentukan kemungkinan yang akan terjadi apabila ibu memiliki masalah yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Pada persalinan Normal tidak ada diagnose potensial. Dilahan tidak ada diagnose potensial sehingga tidak ada kesenjangan. Identifikasi tindakan segera ini dibuat untuk memberikan tindakan yang sesegera mungkin yang tepat untuk menangani masalah potensial yang dialami ibu. Normalnya tidak ada tindakan segera karena normalya tidak ada diagnose potensial. Dalam lahan tidak ada identifikasi tindakan segera. Perencanaan yang diberikan untuk ibu nifas ini disesuaikan dengan keadaan ibu pada saat nifas seperti :

1. Observasi meliputi keadaan umum, kesadaran, tanda-tanda vital, tinggi fundus uteri, kontraksi uterus, anjurkan ibu untuk segera berkemih, observasi mobilisasi dini, jelaskan manfaatnya. 2. Kebersihan diri : menjaga kebersihan seluruh tubuh terutama daerah genetalia, ganti pembalut minimal dua kali sehari arau setiap kali selesai BAK. 3. Istirahat : cukup istirahat, beri pengertian manfaat istirahat, kembali mengerjakan pekerjaan sehari-hari. 4. Gizi : makanan bergizi, bermutu dan cukup kalori, minum 3 liter air atau segalas setiap habis menyusui. Minum tablet Fe/zat besi. Minum vitamin A . 5. Perawatan payudara : menjaga kebersihan payudara, beri ASI eksklusif sampai umur 6 bulan. 6. Hubungan sexual : beri pengertian kapan hubungan seksual boleh dilakukan. 7. Keluarga berencana : anjurkan pada ibu untuk mengikuti KB sesuai dengan keinginannya.
Disini tidak didapati kesenjangan antara lahan dengan teori. Pelaksanaan yang diberikan juga disesuaikan dengan perencanaan yang diberikan pada ibu, tidak didapati kesenjangan antara lahan dan teori. Evaluasi ini dilakukan untuk menilai semua tindakan yang kita berikan apakah sudah sesuai dengan yang dibutuhkan ibu dan juga menilai keadaan ibu. Dilahan setelah melakukan evalusi semua kebutuhan ibu telah diberikan dan semua tindakan telah diberikan dengan baik. Keadaan ibu dan bayinya baik. Tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek.

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Asuhan kebidanan pada ibu nifas yang diberikan oleh bidan dengan cara pengumpulan data, menetapkan diagnosis dan rencana tindakan serta melaksanakanya untuk mempercepat pemulihan dan mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama periode nifas. Berdasarkan tujuan penulisan, penulis memeberikan kesimpulan : 1. Telah dilakukan pengkajian pada Ny. Y yang meliputi data subyektif dan Obyektif, dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik, dan hasilnya dalam batas normal. 2. Intepretasi data dasar dalam kasus adalah asuhan kebidanan pada Ny. Y dengan nifas normal hari ke-1. Tidak ditemukan masalah pada Ny. Y 3. Identifikasi diagnosa potensial pada Ny. Y telah dilakukan, hasilnya tidak ditemukan diagnosa potensial. 4. Identifikasi tindakan segera pada Ny. Y telah dilakukan, hasilnya tidak didapati tindakan segera. 5. Perencanaan asuhan pada Ny. Y telah dilakukan, hasilnya meliputi : observasi, kebersihan diri, Istirahat, gizi, perawatan payudara, hubungan sexual, dan keluarga berencana 6. Pelaksanaan pada Ny. Y telah dilakukan sesuai dengan rencana tindakan yang diberikan. 7. Evaluasi telah pada Ny. Y telah dilakukan, hasilnya Ny. Y dalam keadaan batas normal, Ny. Y mengerti dan paham mengenai penjelasan bidan, serta bersedia melaksanakan anjurananjuran bidan. B. Saran 1. Bagi ibu nifas Diharapkan bagi setiap ibu nifas lebih memperhatikan kebersihan diri, bekerjasama dengan bidan dan antusias mengikuti saran bidan dengan baik sehingga dalam nifas tidak ada komplikasi/bila terjadi komplikasi dapat terdeteksi secara dini. 2. Bagi bidan

Diharapkan dalam memberikan asuhan kebidanan menggunakan manajemen 7 langkah Varney serta selalu meningkatkan pengetahuan dan bisa menerapkannya dalam melaksanakan asuhan pada pasien, sehingga dapat terjalin keselarasan antara ibu nifas dengan bidan.

DAFTAR PUSTAKA

Ilmu Kesehatan Anak Jilid 1, 1985. Bagian Ilmu Kesehatan anak FKUI. Manuaba, IBG.1998.Ilmu Kebidanan dan Kandungan . Jakarta : EGC.

Prawirohardjo, Sarwono.2002. Acuan Maternal dan Neonatal. Jakarta Prawirohardjo, Sarwono.Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. Rustam, Mochtar.1998.Sinopsis Obstetri Jilid 1. Jakarta : EGC.

:Yayasan Bina Pustaka.

Pengertian Perawatan Luka Perinium Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, sosial dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat (Aziz, 2004). Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus (Danis, 2000). Post Partum adalah selang waktu antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil (Mochtar, 2002). Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil. Tujuan Perawatan Perineum Tujuan perawatan perineum menurut Hamilton (2002), adalah mencegah terjadinya infeksi sehubungan dengan penyembuhan jaringan. Sedangkan menurut Moorhouse et. al. (2001), adalah pencegahan terjadinya infeksi pada saluran reproduksi yang terjadi dalam 28 hari setelah kelahiran anak atau aborsi. Bentuk Luka Perineum Bentuk luka perineum setelah melahirkan ada 2 macam yaitu : 1. Rupture Rupture adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses persalinan. Bentuk rupture biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan penjahitan. (Hamilton, 2002). 2. Episotomi Episiotomi adalah sebuah irisan bedah pada perineum untuk memperbesar muara vagina yang dilakukan tepat sebelum keluarnya kepala bayi (Eisenberg, A., 1996). Episiotomi, suatu tindakan yang disengaja pada perineum dan vagina yang sedang dalam keadaan meregang. Tindakan ini dilakukan jika perineum diperkirakan akan robek teregang oleh kepala janin, harus dilakukan infiltrasi perineum dengan anestasi lokal, kecuali bila pasien sudah diberi anestasi epiderual. Insisi episiotomi dapat dilakukan di garis tengah atau mediolateral. Insisi garis tengah mempunyai keuntungan karena tidak banyak pembuluh darah besar dijumpai disini dan daerah ini lebih mudah diperbaiki (Jones Derek, 2002).

Pada gambar berikut ini dijelaskan tipe episotomi dan rupture yang sering dijumpai dalam proses persalinan yaitu : 1. Episiotomi medial 2. Episiotomi mediolateral Sedangkan rupture meliputi 1. Tuberositas ischii 2. Arteri pudenda interna 3. Arteri rektalis inferior

Gambar 1. Tipe-Tipe Episiotomi Lingkup Perawatan Lingkup perawatan perineum ditujukan untuk pencegahan infeksi organ-organ reproduksi yang disebabkan oleh masuknya mikroorganisme yang masuk melalui vulva yang terbuka atau akibat dari perkembangbiakan bakteri pada peralatan penampunglochea (pembalut) (Feerer, 2001). Sedangkan menurut Hamilton (2002), lingkup perawatan perineum adalah 1. Mencegah kontaminasi dari rektum 2. Menangani dengan lembut pada jaringan yang terkena trauma 3. Bersihkan semua keluaran yang menjadi sumber bakteri dan bau. Waktu Perawatan Menurut Feerer (2001), waktu perawatan perineum adalah 1. Saat mandi Pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut, setelah terbuka maka ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada pembalut, untuk itu maka perlu dilakukan penggantian pembalut, demikian pula pada perineum ibu, untuk itu diperlukan pembersihan perineum. 2. Setelah buang air kecil Pada saat buang air kecil, pada saat buang air kecil kemungkinan besar terjadi kontaminasi air seni padarektum akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri pada perineum untuk itu diperlukan pembersihan perineum. 3. Setelah buang air besar.

Pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan sisa-sisa kotoran disekitar anus, untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke perineum yang letaknya bersebelahan maka diperlukan proses pembersihan anus dan perineum secara keseluruhan. Penatalaksanaan 1. Persiapan a. Ibu Pos Partum Perawatan perineum sebaiknya dilakukan di kamar mandi dengan posisi ibu jongkok jika ibu telah mampu atau berdiri dengan posisi kaki terbuka. b. Alat dan bahan Alat yang digunakan adalah botol, baskom dan gayung atau shower air hangat dan handuk bersih. Sedangkan bahan yang digunakan adalah air hangat, pembalut nifas baru dan antiseptik (Fereer, 2001). 2. Penatalaksanaan Perawatan khusus perineal bagi wanita setelah melahirkan anak mengurangi rasa ketidaknyamanan, kebersihan, mencegah infeksi, dan meningkatkan penyembuhan dengan prosedur pelaksanaan menurut Hamilton (2002) adalah sebagai berikut: a. Mencuci tangannya b. Mengisi botol plastik yang dimiliki dengan air hangat c. Buang pembalut yang telah penuh dengan gerakan ke bawah mengarah ke rectum dan letakkan pembalut tersebut ke dalam kantung plastik. d. Berkemih dan BAB ke toilet e. Semprotkan ke seluruh perineum dengan air f. Keringkan perineum dengan menggunakan tissue dari depan ke belakang. g. Pasang pembalut dari depan ke belakang. h. Cuci kembali tangan 3. Evaluasi Parameter yang digunakan dalam evaluasi hasil perawatan adalah: a. Perineum tidak lembab b. Posisi pembalut tepat c. Ibu merasa nyaman Faktor yang Mempengaruhi Perawatan Perineum 1. Gizi Faktor gizi terutama protein akan sangat mempengaruhi terhadap proses penyembuhan luka pada perineum karena penggantian jaringan sangat membutuhkan protein. 2. Obat-obatan a. Steroid : Dapat menyamarkan adanya infeksi dengan menggangu respon inflamasi normal. b. Antikoagulan : Dapat menyebabkan hemoragi. c. Antibiotik spektrum luas / spesifik : Efektif bila diberikan segera sebelum pembedahan untuk patolagi spesifik atau kontaminasi bakteri. Jika diberikan setelah luka ditutup, tidak efektif karena koagulasi intrvaskular.

3. Keturunan Sifat genetik seseorang akan mempengaruhi kemampuan dirinya dalam penyembuhan luka. Salah satu sifat genetik yang mempengaruhi adalah kemampuan dalam sekresi insulin dapat dihambat, sehingga menyebabkan glukosa darah meningkat. Dapat terjadi penipisan protein-kalori. 4. Sarana prasarana Kemampuan ibu dalam menyediakan sarana dan prasarana dalam perawatan perineum akan sangat mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya kemampuan ibu dalam menyediakan antiseptik. 5. Budaya dan Keyakinan Budaya dan keyakinan akan mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya kebiasaan tarak telur, ikan dan daging ayam, akan mempengaruhi asupan gizi ibu yang akan sangat mempengaruhi penyembuhan luka. Dampak Dari Perawatan Luka Perinium Perawatan perineum yang dilakukan dengan baik dapat menghindarkan hal berikut ini : 1. Infeksi Kondisi perineum yang terkena lokia dan lembab akan sangat menunjang perkembangbiakan bakteri yang dapat menyebabkan timbulnya infeksi pada perineum. 2. Komplikasi Munculnya infeksi pada perineum dapat merambat pada saluran kandung kemih ataupun pada jalan lahir yang dapat berakibat pada munculnya komplikasi infeksi kandung kemih maupun infeksi pada jalan lahir. 3. Kematian ibu post partum Penanganan komplikasi yang lambat dapat menyebabkan terjadinya kematian pada ibu post partum mengingat kondisi fisik ibu post partum masih lemah (Suwiyoga, 2004).

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dinegara maju, kebanyakan perempuan hamil dalam keadaan sehat dan bergizi baik. Mereka melahirkan bayinya dirumah sakit atau rumah sakit bersalin dan sedikit yang menjadi subjek dari berbagai prosedur diagnostic yang infasif seperti dialami oleh kebanyakan pasien rumah sakit. Bahkan untuk mereka yang memerlukan secsio sesarea, pembedahannya berlangsung singkat (kurang dari satu jam), biasanya tidak ada komplikasi, kateterisasi urin, kalau perlu sebentar (1-2 hari), dan jarang sekali memerlukan bantuan ventilasi pasca bedah. Disamping itu, kebanyakan perempuan hamil tidak menggunakan antibiotic sistemik dan tidak memerlukan perawatan lama sebelum persalinan

(Tietjen, L, Bossemeyer, D & McIntosh, N, 2004). Dinegara-negara yang sedang berkembang infeksi pasca persalinan tetap menjadi nomor dua dari perdarahan pasca persalinan yang menjadi penyebab kematian maternal, dan menjadi penyebab utama komplikasi maternal dari persalinan. Hal ini masih tetap terjadi sekalipun lebih dari 150 tahun yang lalu. Semmelweis dan holmes secara terpisah mengatakan bahwa tidak hanya demam anak, sepsis puerperalis, juga disebarkan dari perempuan lain keperempuan dari tangan dokter (Tietjen, L, Bossemeyer, D & McIntosh, N, 2004). Morbiditas postpartum dikatakan ada bila seorang ibu bersalin mengalami demam yang bersuhu sekurangnya 380C (100,4F) pada dua kesempatan atau lebih dalam masa 10 hari setelah melahirkan, tidak termasuk 24 jam pertama (Rayburn,WF & Carey, JC, 2001). Infeksi pascapartum terjadi pada sekitar 6 % kelahiran di Amerika serikat dan kemungkinan besar merupakan penyabab utama morbiditas dan mortalitas maternal diseluruh dunia. Organism yang paling sering menginfeksi ialah organisme streptococcus dan bakteri anaerobic. Infeksi staphylococcus aureus, gonococcus, koliformis, dan klosrtidia lebih jarang terjadi, tetapi merupakan organism pathogen serius yang menyebabkan infeksi pascapartum. Insidensi morbiditas demam berpariasi besar, berkisar dari 1% untuk wanita yang tergolong tidak miskin yang melahirkan melalui vagina sampai setinggi 87% untuk wanita miskin yang melahirkan melalui bedah sesar. Factor-faktor yang secara pasti telah dikenali dan yang dapat meninggikan resiko infeksi adalah bedah sesar darurat, persalinan darurat, dan ketuban pecah sudah 6 jam atau lebih, dan status sosio ekonomi yang rendah. Factor-faktor lain yang bisa mempengaruhi risiko infeksi tetapi yang korelasinya terbukti kurang kuat adalah anemia, anastesia umum, keadaan gizi yang buruk, obesitas, dan banyak kali mengalami pemeriksaan melalui vagina. Semua factor-faktor lain serupa, pemakaian monitoring janin secara internal tampaknya tidak mempengaruhi risiko infeksi rahim (Rayburn,WF & Carey, JC, 2001). Seratus tahun yang lalu sekitar satu dalam 50 wanita yang melahirkan dirumah sakit, meninggal karena infeksi yang biasanya terjadi pada masa puerperium. Hal ini sekarang sudah jauh berkurang, pertama akibat pengertian asepsis dan antisepsis yang lebih baik dan kedua karena diperkenalkannya kemoterapi dan antibiotika (Chamberlain,G & Dewhurst, SJ, 1994). B. Tujuan 1. Tujuan umum Menjelaskanj asuhan keperawatan pada klien dengan infeksi post partum

2. Tujuan khusus a. Menjelaskan pengertian infeksi post partum b. Menjelaskan etiologi dari infeksi post partum c. Menjelaskan factor predisposisi d. Menjelaskan manifestasi klinis infeksi post partum e. Menjelaskan patifisiologi infeksi post partum f. Menjelaskan jenis-jenis infeksi postpartum. BAB II TINJAUAN TEORI A. Definisi Infeksi adalah berhubungan dengan berkembang-biaknya mikroorganisme dalam tubuh manusia yang disertai dengan reaksi tubuh terhadapnya (Zulkarnain Iskandar, 1998 ). Infeksi pascapartum (sepsis puerperal atau demam setelah melahirkan) ialah infeksi klinis pada saluran genital yang terjadi dalam 28 hari setelah abortus atau persalinan (Bobak, 2004). B. Etiologi Infeksi ini terjadi setelah persalinan, kuman masuk dalam tubuh pada saat berlangsungnya proses persalinan. Diantaranya, saat ketuban pecah sebelum maupun saat persalinan berlangsung sehingga menjadi jembatan masuknya kuman dalam tubuh lewat rahim. Jalan masuk lainnya adalah dari penolong persalinan sendiri, seperti alat-alat yang tidak steril digunakan pada saat proses persalinan. Infeksi bisa timbul akibat bakteri yang sering kali ditemukan didalam vagina (endogenus) atau akibat pemaparan pada agen pathogen dari luar vagina (eksogenus) (Bobak, 2004). Namun biasanya infeksi ini tidak menimbulkan penyakit pada persalinan, kelahiran, atau pascapersalinan. Hampir 30 bakteri telah diidentifikasi ada disaluran genital bawah (vulva, vagina dan sevik) setiap saat (Faro 1990). Sementara beberapa dari padanya, termasuk beberapa fungi, dianggap nonpatogenik dibawah kebanyakan lingkungan, dan sekurangkurangnya 20, termasuk e.coli, s. aureus, proteus mirabilis dan clebsiela pneumonia, adalah patogenik (Tietjen, L; Bossemeyer, D, & McIntosh, N, 2004). Bermacam-macam jalan kuman masuk ke dalam alat kandungan seperti eksogen (kuman datang dari luar), autogen (kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh) dan endogen (dari jalan lahir sendiri). Penyebab yang terbanyak

dan lebih dari 50% adalah streptococcus anaerob yang sebenarnya tidak patogen sebagai penghuni normal jalan lahir. Kuman-kuman yang sering menyebabkan infeksi antara lain adalah : 1. Streptococcus haemoliticus anaerobic Masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat. Infeksi ini biasanya eksogen (ditularkan dari penderita lain, alat-alat yang tidak suci hama, tangan penolong, infeksi tenggorokan orang lain). 2. Staphylococcus aureus Masuknya secara eksogen, infeksinya sedang, banyak ditemukan sebagai penyebab infeksi di rumah sakit dan dalam tenggorokan orang-orang yang nampaknya sehat. Kuman ini biasanya menyebabkan infeksi terbatas, walaupun kadang-kadang menjadi sebab infeksi umum. 3. Escherichia Coli Sering berasal dari kandung kemih dan rektum, menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva, dan endometriurn. Kuman ini merupakan sebab penting dari infeksi traktus urinarius 4. Clostridium Welchii Kuman ini bersifat anaerob, jarang ditemukan akan tetapi sangat berbahaya. Infeksi ini lebih sering terjadi pada abortus kriminalis dan partus yang ditolong oleh dukun dari luar rumah sakit. C. Cara terjadinya infeksi pasca partum Infeksi dapat terjadi sebagai berikut : 1. Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. Kemungkinan lain ialah bahwa sarung tangan atau alat-alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman-kuman. 2. Droplet infection. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau petugas kesehatan lainnya. Oleh karena itu, hidung dan mulut petugas yang bekerja di kamar bersalin harus ditutup dengan masker dan penderita infeksi saluran pernafasan dilarang memasuki kamar bersalin. 3. Dalam rumah sakit terlalu banyak kuman-kuman patogen, berasal dari penderita-penderita dengan berbagai jenis infeksi. Kuman-kuman ini bisa dibawa oleh aliran udara kemana-mana termasuk kain-kain, alat-alat yang suci hama, dan yang digunakan untuk merawat wanita dalam persalinan atau pada waktu nifas. 4. Koitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting, kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban.

D. Faktor predisposisi Beberapa faktor dalam kehamilan atau persalinan yang dapat menyebabkan infeksi pascapersalinan antara lain : 1. Anemia Kekurangan sel-sel darah merah akan meningkatkan kemungkinan infeksi. Hal ini juga terjadi pada ibu yang kurang nutrisi sehingga respon sel darah putih kurang untuk menghambat masuknya bakteri. 2. Ketuban pecah dini Keluarnya cairan ketuban sebelum waktunya persalinan menjadi jembatan masuknya kuman keorgan genital. 3. Trauma Pembedahan, perlukaan atau robekan menjadi tempat masuknya kuman pathogen, seperti operasi. 4. Kontaminasi bakteri Bakteri yang sudah ada dalam vagina atau servik dapat terbawa ke rongga rahim. Selain itu, pemasangan alat selama proses pemeriksaan vagina atau saat dilakukan tindakan persalinan dapat menjadi salah satu jalan masuk bakteri. Tentunya, jika peralatan tersebut tidak terjamin sterilisasinya. 5. Kehilangan darah Trauma yang menimbulkan perdarahan dan tindakan manipulasi yang berkaitan dengan pengendalian pendarahan bersama-sama perbaikan jaringan luka, merupakan factor yang dapat menjadi jalannya masuk kuman. E. Manifestasi klinis Rubor (kemerahan), kalor (demam setempat) akibat vasodilatasi dan tumor (benngkak) karena eksudasi. Ujung syaraf merasa akan terangsang oleh peradangan sehingga terdapat rasa nyeri (dolor). Nyeri dan pembengkan akan mengakibatkan gangguan faal, dan reaksi umum antara lain berupa sakit kepala, demam dan peningkatan denyut jantung (Sjamsuhidajat, R. 1997). F. Patofisiologi Reaksi tubuh dapat berupa reaksi lokal dan dapat pula terjadi reaksi umum. Pada infeksi dengan reaksi umum akan melibatkan syaraf dan metabolik pada saat itu terjadi reaksi ringan limporetikularis diseluruh tubuh, berupa proliferasi sel fagosit dan sel pembuat antibodi (limfosit B). Kemudian reaksi lokal yang disebut inflamasi akut, reaksi ini terus berlangsung selama menjadi proses pengrusakan jaringan oleh trauma. Bila penyebab pengrusakan jaringan bisa diberantas, maka sisa jaringan yang rusak disebut debris akan difagositosis dan

dibuang oleh tubuh sampai terjadi resolusi dan kesembuhan. Bila trauma berlebihan, reksi sel fagosit kadang berlebihan sehingga debris yang berlebihan terkumpul dalam suatu rongga membentuk abses atau bekumpul dijaringan tubuh yang lain membentuk flegman (peradangan yang luas dijaringan ikat). (Sjamsuhidajat, R, 1997 ). G. Jenis-jenis infeksi post partum 1. Infeksi uterus a. Endometritis Endometritis adalah infeksi pada endometrium (lapisan dalam dari rahim). infeksi ini dapat terjadi sebagai kelanjutan infeksi pada serviks atau infeksi tersendiri dan terdapat benda asing dalam rahim (Anonym, 2008). Endometritis adalah infeksi yang berhubungan dengan kelahiran anak, jarang terjadi pada wanita yang mendapatkan perawatan medis yang baik dan telah mengalami persalinan melalui vagina yang tidak berkomplikasi. Infeksi pasca lahir yang paling sering terjadi adalah endometritis yaitu infeksi pada endometrium atau pelapis rahim yang menjadi peka setelah lepasnya plasenta, lebih sering terjadi pada proses kelahiran caesar, setelah proses persalinan yang terlalu lama atau pecahnya membran yang terlalu dini. Juga sering terjadi bila ada plasenta yang tertinggal di dalam rahim, mungkin pula terjadi infeksi dari luka pada leher rahim, vagina atau vulva. Tanda dan gejalanya akan berbeda bergantung dari asal infeksi, sedikit demam, nyeri yang samar-samar pada perut bagian bawah dan kadang-kadang keluar dari vagina berbau tidak enak yang khas menunjukkan adanya infeksi pada endometrium. Pada infeksi karena luka biasanya terdapat nyeri dan nyeri tekan pada daerah luka, kadang berbau busuk, pengeluaran kental, nyeri pada perut atau sisi tubuh, gangguan buang air kecil. Kadang-kadang tidak terdapat tanda yang jelas kecuali suhu tunbuh yang meninggi. Maka dari itu setiap perubahan suhu tubuh pasca lahir harus segera dilakukan pemeriksaan. Infeksi endometrium dapat dalam bentuk akut dengan gejala klinis yaitu nyeri abdomen bagian bawah, mengeluarkan keputihan, kadang-kadang terdapat perdarahan dapat terjadi penyebaran seperti meometritis (infeksi otot rahim), parametritis (infeksi sekitar rahim), salpingitis (infeksi saluran tuba), ooforitis (infeksi indung telur), dapat terjadi sepsis (infeksi menyebar), pembentukan pernanahan sehingga terjadi abses pada tuba atau indung telur (Anonym, 2008). Terjadinya infeksi endometrium pada saat persalinan, dimana bekas implantasi plasenta masih terbuka, terutama pada persalinan terlantar dan persalinan dengan tindakan pada saat terjadi keguguran, saat pemasangan alat rahim

yang kurang legeartis (Anonym, 2008). Kadang-kadang lokia tertahan oleh darah, sisa-sisa plasenta dan selaput ketuban. Keadaan ini dinamakan lokiametra dan dapat menyebabkan kenaikan suhu. Uterus pada endometritis agak membesar, serta nyeri pada perabaan dan lembek. Pada endometritis yang tidak meluas, penderita merasa kurang sehat dan nyeri perut pada hari-hari pertama. Mulai hari ke-3 suhu meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa hari suhu dan nadi menurun dan dalam kurang lebih satu minggu keadaan sudah normal kembali. Lokia pada endometritis, biasanya bertambah dan kadang-kadang berbau. Hal ini tidak boleh dianggap infeksinya berat. Malahan infeksi berat kadang-kadang disertai oleh lokia yang sedikit dan tidak berbau. Untuk mengatasinya biasanya dilakukan pemberian antibiotik, tetapi harus segera diberikan sesegera mungkin agar hasilnya efektif. Dapat pula dilakukan biakkan untuk menentukan jenis bakteri, sehingga dapat diberikan antibiotik yang tepat. b. Miometritis (infeksi otot rahim) Miometritis adalah radang miometrium. Sedangkan miometrium adalah tunika muskularis uterus. Gejalanya berupa demam, uterus nyeri tekan, perdarahan vaginal dan nyeri perut bawah, lokhea berbau, purulen. Metritis akut biasanya terdapat pada abortus septik atau infeksi postpartum. Penyakit ini tidak brerdiri sendiri akan tetapi merupakan bagian dari infeksi yang lebih luas yaitu merupakan lanjutan dari endometritis. Kerokan pada wanita dengan endometrium yang meradang dapat menimbulkan metritis akut. Pada penyakit ini miometrium menunjukkan reaksi radang berupa pembengkakan dan infiltarsi sel-sel radang. Perluasan dapat terjadi lewat jalan limfe atau lewat tromboflebitis dan kadang-kadang dapat terjadi abses. Metritis kronik adalah diagnosa yang dahulu banyak dibuat atas dasar menometroragia dengan uterus lebih besar dari bisa, sakit pnggang, dan leukore. Akan tetapi pembesaran uterus pada multipara umumnya disebabkan oleh pemanbahan jaringan ikat akibat kehamilan. Terapi dapat berupa antibiotik spektrum luas seperti amfisilin 2gr IV per 6 jam, gentamisin 5 mg kg/BB, metronidasol mg IV per 8 jam, profilaksi anti tetanus, efakuasi hasil konsepsi. c. Parametritis (infeksi daerah di sekitar rahim). Parametritis adalah radang dari jaringan longgar di dalam lig latum. Radang ini biasanya unilatelar. Tanda dan gejala suhu tinggi dengan demam tinggi, Nyeri unilateral tanpa gejala rangsangan peritoneum, seperti muntah. Penyebab Parametritis yaitu : a. Endometritis dengan 3 cara yaitu :

1. Per continuitatum : endometritis metritis parametitis 2. Lymphogen 3. Haematogen : phlebitis periphlebitis parametritis b. Dari robekan serviks c. Perforasi uterus oleh alat-alat ( sonde, kuret, IUD ) 2. Syok bakteremia Infeksi kritis, terutama yuang disebabkan oleh bakteri yang melepaskan endotoksin, bisa mempresipitasi syok bakteremia (septic). Ibu hamil, terutama mereka yang menderita diabetes mellitus atau ibu yang memakai obat imunosupresan, berada pada tingkat resiko tinggi, demikian juga mereka yang menderita endometritis selama periode pascapartum. Demam yang tinggi dan mengigil adalh bukti patofisiologi sepsis yang serius. Ibu yang cemas dapat bersikap apatis. Suhu tubuh sering kali sedikit turun menjadi subnormal. Kulit menjadi dingin dan lembab. Warna kulit menjadi pucat dan denyut nadi menjadi cepat. Hipotensi berat dan sianosis peripheral bisa terjadi. Begitu juga oliguria. Temuan laboratorium menunjukkan bukti-bukti infeksi. Biakan darah menunjukian bakteremia, biasanya konsisten dengan hasil enteric gram negative. Pemeriksaan tambahan bisa menunjukkan hemokonsentrasi, asidosis, dan koagulopati. Perubahan EKG menunjukkan adanya perubahan yang mengindikasikan insufisiensi miokard. Bukti-bukti hipoksia jantung, paru-paru, ginjal, dan neurologis bisa ditemukan. Penatalaksanaan terpusat pada antimicrobial, demikian juga dukungan oksigen untuk menghilangkan hipoksia jaringan dan dukungan sirkulasi untuk mencegah kolaps vascular. Fungsi jantung, usaha pernafasan, dan fungsi ginjal dipantau dengan ketat. Pengobatan yang cepat terhadap syok bakteremia membuat prognosis menjadi baik. Dan morbiditas dan mortilitas maternal diturunkan dengan mengendalikan distrees pernafasan, hipotensi dan DIC (Bobak, Lowdermilk & Jensen, 2004). 3. Peritonitis Peritonitis nifas bisa terjadi karena meluasnya endometritis, tetapi dapat juga ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforitis dan sellulitis pelvika. Selanjutnya, ada kemungkinan bahwa abses pada sellulitis pelvika mengeluarkan nanahnya ke rongga peritoneum dan menyebabkan peritonitis. Peritonitis, yang tidak menjadi peritonitis umum, terbatas pada daerah pelvis. Gejala-gejalanya tidak seberapa berat seperti pada peritonitis umum. Penderita

demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan umum tetap baik. Pada pelvioperitonitis bisa terdapat pertumbuhan abses. Nanah yang biasanya terkumpul dalam kavum douglas harus dikeluarkan dengan kolpotomia posterior untuk mencegah keluarnya melalui rektum atau kandung kencing. Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat patogen dan merupakan penyakit berat. Suhu meningkat menjadi tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire. Muka penderita, yang mula-mula kemerah-merahan, menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingin; terdapat apa yang dinamakan facies hippocratica. Mortalitas peritonitis umum tinggi. 4. Infeksi saluran kemih Infeksi saluran kemih (ISK) terjadi pada sekitar 10% wanita hamil, kebanyakan terjadi pada masa prenatal. Mereka yang sebelumnya mengalami ISK memiliki kecenderungan mengidap ISK lagi sewaktu hamil. Servisitis, vaginitis, obstruksi ureter yang flaksid, refluks vesikoureteral, dan trauma lahir mempredisposisi wanita hamil untuk menderita ISK, biasanya dari escherichia coli. Wanita dengan PMS kronis, trutama gonore dan klamidia, juga memiliki resiko. Bakteriuria asimptomatik terjadi pada sekitas 5% nsampai 15% wanita hamil. Jika tidak diobati akan terjadi pielonefritis pada kira-kira 30% pada wanita hamil. Kelahiran dan persalinan premature juga dapat lebih sering terjadi. Biakan dan tes sensitivitas urin harus dilakukan di awal kehamilan, lebih disukai pada kunjungan pertama, specimen diambil dari urin yang diperoleh dengan cara bersih. Jika didiagnosis ada infeksi, pengobatan dengan antibiotic yang sesuai selama dua sampai tiga minggu, disertai peningkatan asupan air dan obat antispasmodic traktus urinarius. 5. Septicemia dan piemia Pada septicemia kuman-kuman yang ada di uterus, langsung masuk ke peredaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum. Adanya septicemia dapat dibuktikan dengan jalan pembiakan kuman-kuman dari darah. Pada piemia terdapat dahulu tromboflebitis pada vena-vena diuterus serta sinussinus pada bekas tempat plasenta. Tromboflebitis ini menjalar ke vena uterine, vena hipogastrika, dan/atau vena ovarii (tromboflebitis pelvika). Dari tempattempat thrombus itu embolus kecil yang mengandung kuman-kuman dilepaskan. Tiap kali dilepaskan, embolus masuk keperedaran darah umum dan dibawa oleh aliran darah ketempat-tempat lain, antaranya ke paru-paru, ginjal, otak, jantung, dan sebagainya, dan mengakibatkan terjadinya abses-abses ditempat-tempat tersebut. Keadaan ini dinamakan piemia. Kedua-duanya merupakan infeksi berat namun gejala-gejala septicemia lebih mendadak dari piemia. Pada septicemia, dari permulaan penderita sudah sakit

dan lemah. Sampai tiga hari postpartum suhu meningkat dengan cepat, biasanya disertai menggigil. Selanjutnya, suhu berkisar antara 39 40C, keadaan umum cepat memburuk, nadi menjadi cepat (140 160 kali/menit atau lebih). Penderita meninggal dalam enam sampai tujuh hari postpartum. Jika ia hidup terus, gejala-gejala menjadi seperti piemia. Pada piemia, penderita tidak lama postpartum sudah merasa sakit, perut nyeri, dan suhu agak meningkat. Akan tetapi gejala-gejala infeksi umum dengan suhu tinggi serta menggigil terjadi setelah kuman-kuman dengan embolus memasuki peredaran darah umum. Suatu ciri khusus pada piemia ialah berulang-ulang suhu meningkat dengan cepat disertai menggigil, kemudian diikuti oleh turunnya suhu. Ini terjadi pada saat dilepaskannya embolus dari tromboflebitis pelvika. Lambat laun timbul gejala abses pada paru-paru, pneumonia dan pleuritis. Embolus dapat pula menyebabkan abses-abses di beberapa tempat lain. H. Komplikasi 1. Peritonitis (peradangan selaput rongga perut) 2. Tromboflebitis pelvika (bekuan darah di dalam vena panggul), dengan resiko terjadinya emboli pulmoner. 3. Syok toksik akibat tingginya kadar racun yang dihasilkan oleh bakteri di dalam darah. Syok toksik bisa menyebabkan kerusakan ginjal yang berat dan bahkan kematian. I. Pencegahan dan penanganan 1. Mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi seperti anemia, malnutrisi dan kelemahan serta mengobati penyakit-penyakit yang diderita ibu. 2. Pemeriksaan dalam jangan dilakukan kalau tidak ada indikasi yang perlu. 3. Koitus pada hamil tua hendaknya dihindari atau dikurangi dan dilakukan hatihati karena dapat menyebabkan pecahnya ketuban. Kalau ini terjadi infeksi akan mudah masuk dalam jalan lahir. Hindari partus terlalu lama dan ketuban pecah lama/menjaga supaya persalinan tidak berlarut-larut. 4. Menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin. 5. Perlukaan-perlukaan jalan lahir karena tindakan baik pervaginam maupun perabdominam dibersihkan, dijahit sebaik-baiknya dan menjaga sterilitas. 6. Mencegah terjadinya perdarahan banyak, bila terjadi darah yang hilang harus segera diganti dengan tranfusi darah. 7. Semua petugas dalam kamar bersalin harus menutup hidung dan mulut dengan masker; yang menderita infeksi pernafasan tidak diperbolehkan masuk ke kamar bersalin.

8. Alat-alat dan kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus suci hama. 9. Hindari pemeriksaan dalam berulang-ulang, lakukan bila ada indikasi dengan sterilisasi yang baik, apalagi bila ketuban telah pecah. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ENDOMETRITIS A. Pengkajian 1. Data demografi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, agama, suku bangsa, alamat. 2. Keluhan utama : adanya nyeri perubahan fungsi seksual, luka. 3. Riwayat penyakit dahulu : apakah klien dan keluarga pernah menderita penyakit yang sama. 4. Riwayat penyakit sekarang : klien mengalami infeksi alat kelamin 5. Riwayat seksual, termasuk riwayat PMS sebelumnya, jumlah pasangan seksual pada saat ini, frekuensi aktifitas seksual secara umum. 6. Gaya hidup, penggunaan obat intravena atau pasangan yang menggunakan obat intravena; merokok, alcohol, gizi buruk, tingkat stress yang tinggi. 7. Pemeriksaan fisik bagian luar, Inspeksi : Rambut pubis, distribusi, bandingkan sesuai usia perkembangan klien Kulit dan area pubis, adakah lesi eritema, visura, lekoplakia, dan eksoria. Labia mayora, minora, klitoris, meatus uretra terhadap pembengkakan ulkus, keluaran, dan nodul. Pemeriksaan bagian dalam, Inspeksi : Serviks : ukuran, laserasi, erosi, nodula, massa, keluaran, dan warnanya Palpasi : Raba dinding vagina : nyeri tekan dan nodula Serviks : posisi, ukuran, konsistensi, regularitas, mobilitas, dan nyeri tekan Uterus : ukuran, bentuk, konsistensi, dan mobilitas. Ovarium : ukuran, mobilitas, bentuk, konsistensi, dan nyeri tekan. B. Diagnosa keperawatan : Gangguan rasa nyaman nyeri b.d proses inflamasi Hipertermi b.d peningkatan tingkat metabolisme Ansietas b.d perubahan status kesehatan

C. Intervensi No Diagnosa Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional 1 Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d proses inflamasi Setelah dillukakan tindakan selama 1x 24 jam di harapkan klien : Nyeri berkurang Klien mengtakan : Menunjukkan ekspresi wajah rileks Meresa nyaman a. Kaji skala/intensitas nyeri P: Provoking Incident Q: Quality or Quantity of Pain R : Region : radiation, relief S : Severity (scale) of Pain T : Time b. Anjurkan klien untuk menggunakan teknik relaksasi.distraksi,relaksasi,kompres, Berikan instruksi bila perlu. c. Kolaborasi dalam pemberian analgetik d. Pertahankan posisi semifowler sesuai indikasi a. Untuk mengetahui tingkatan nyeri b. relaksasi dapat membantu menurunkan tegangan dan rasa takut, yang memperberat nyeri. c. Metode IV sring digunakan pada awal untuk memaksimalkan efek obat d. Memudahkan drainase atau luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan 2 Hipertermi b.d peningkatan tingkat metabolisme Setelah dilakukan tindakan selama 1x 24 jam diharapakaSuhu tubuh klien dalam batas normal Klien tamapak : Tidak mengalami komplikasi Suhu tubuh normal 36-37o c a. Kaji TTV Suhu,TD,RR.nadi b. Pantau suhu klien (derajat dan pola), perhatikan menggigil atau diaphoresis c. Pantau suhu lingkungan, batasi/ tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi d. Kolaborasi dalam pemberian antipiretik (aspirin, asetaminofen) a. untuk mengtahui keadaan umum klien b. Suhu 38,90- 41, 10C menunjukkan proses penyakit infeksius akut. Pola demam dapat membentu dalam diagnosis, misalnya kurva demam lanjut berakhir lebih dari 24jam menunjukkan pneumonia pneumokokal. c. Suhu ruangan atau jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal

d. Untuk mempermudah dalam pembirian tindakan 3 Ansietas b.d perubahan status kesehatan setelah dilkukan tindakan selama 1x 24 jam klien tampkan rileks Klien tampak: Kesadaran terhadap perasaan, dam cara yang sehat untuk menghadapi masalah Kecamasan klin berkurang Klien tidak tampak sedih Klien tampak rileks a. Evaluasi tingkat ansietas, catat respon verbal, dan nonverbal klien. Dorong ekspresi bebas akan emosi. b. Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan a. Ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat, meningkatkan perasaan sakit, penting pada prosedur diagnostic dan kemungkinan pembedahan b. Mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan ansietas. D. IMPLIMENTASI no diagnosa impelimentasi evaluasi 1 Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d proses inflamasi a. mengkaji skala/intensitas nyeri P: Provoking Incident Q: Quality or Quantity of Pain R : Region : radiation, relief S : Severity (scale) of Pain T : Time b. menganjurkan klien untuk menggunakan teknik relaksasi.distraksi,relaksasi,kompres, Berikan instruksi bila perlu. c. Kolaborasi dalam pemberian analgetik d. mempertahankan posisi semifowler sesuai indikasi S : Klien Mengatakan Nyeri Berkurang O: Klien Tampak Nyaman A: intervensi di optimalakan P: masalah teratasi 2 Hipertermi b.d peningkatan tingkat metabolisme a. mengkaji TTV Suhu,TD,RR.nadi b. memantau suhu klien (derajat dan pola), perhatikan menggigil atau

diaphoresis c. memantau suhu lingkungan, batasi/ tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi d. Kolaborasi dalam pemberian antipiretik (aspirin, asetaminofen) S: klien mengatakan panasnya menurun O: klien tampak rileks A : masalah teratasi P: intervensi di hentikan 3 Ansietas b.d perubahan status kesehatan a. mengevaluasi tingkat ansietas, catat respon verbal, dan nonverbal klien. Dorong ekspresi bebas akan emosi. b. memberikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan S: klien mengatakan tidak cemas O: klien tamapk rileks A: masalah teratasi P: intervensi di hentikan e. EVALUASI no diagnosa Evaluasi 1 Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d proses inflamasi S : Klien Mengatakan Nyeri Berkurang O: Klien Tampak Nyaman A: intervensi di optimalakan P: masalah teratasi 2 Hipertermi b.d peningkatan tingkat metabolisme S: klien mengatakan panasnya menurun O: klien tampak rileks A : masalah teratasi P: intervensi di hentikan 3 Ansietas b.d perubahan status kesehatan S: klien mengatakan tidak cemas O: klien tamapk rileks A: masalah teratasi P: intervensi di hentikan BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan Infeksi adalah berhubungan dengan berkembang-biaknya mikroorganisme dalam tubuh manusia yang disertai dengan reaksi tubuh terhadapnya (Zulkarnain Iskandar, 1998 ). Infeksi pacapartum (sepsis puerperal atau demam setelah melahirkan) ialah infeksi klinis pada saluran genital yang terjadi dalam 28 hari setelah abortus atau persalinan. Infeksi bisa timbul akibat bakteri yang sering kali ditemukan didalam vagina (endogenus) atau akibat pemaparan pada agen pathogen dari luar vagina (eksogenus), (Bobak, Lowdermilk, Jensen, 2004). Kuman-kuman yang sering menyebabkan infeksi antara lain adalah Streptococcus haemoliticus anaerobic, Staphylococcus aureus, Escherichia Coli, Clostridium Welchii. Selain itu ada juga beberapa faktor dalam kehamilan atau persalinan yang dapat menyebabkan infeksi pascapersalinan antara lain : anemia, KPD, trauma, kontaminasi bakteri dan kehilangan darah. Adapun jenis-jenis infeksi pasca partum adalah : infeksi uterus (endometritis, miometritis, dan parametritis), syok bakteremia, peritonitis,infeksi saluran kemih dan septicemia. Penanganan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi pasca partum dapat berupa : Mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi seperti anemia, malnutrisi dan kelemahan serta mengobati penyakit-penyakit yang diderita ibu, Pemeriksaan dalam jangan dilakukan kalau tidak ada indikasi yang perlu, Koitus pada hamil tua hendaknya dihindari atau dikurangi dan dilakukan hati-hati karena dapat menyebabkan pecahnya ketuban. Kalau ini terjadi infeksi akan mudah masuk dalam jalan lahir. Hindari partus terlalu lama dan ketuban pecah lama/menjaga supaya persalinan tidak berlarut-larut, Menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin, Perlukaan-perlukaan jalan lahir karena tindakan baik pervaginam maupun perabdominam dibersihkan, dijahit sebaik-baiknya dan menjaga sterilitas, Mencegah terjadinya perdarahan banyak, bila terjadi darah yang hilang harus segera diganti dengan tranfusi darah, Semua petugas dalam kamar bersalin harus menutup hidung dan mulut dengan masker; yang menderita infeksi pernafasan tidak diperbolehkan masuk ke kamar bersalin, Alat-alat dan kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus suci hama, Hindari pemeriksaan dalam berulang-ulang, lakukan bila ada indikasi dengan sterilisasi yang baik, apalagi bila ketuban telah pecah. B. Saran 1. Bagi keluarga a. Di harapkan keluarga dapat membantu ,mensupport, dan berpartisispasi dalam proses persalinan. b. Di harapkan keluarga memberikan perhatian terhadap klien.

2. Bagi Perawat a. Di harapkan perawat dapat melaksanakan tugas dan perannya sebagai perawat yang professional dengan melaksanakan prosedur dan asuhan keperawatan yang menitikberatkan pada aspek psikologis bukan pada farmakologi. b. Diharapkan perawat, dokter, maupun petugas medis lainnya dapat berkolaborasi dengan baik. c. Diharapkan perawat, dokter, maupun petugas medis lainnya dapat bekrja dan menjalankan perannya dengan maksimal. 3. Bagi rumah sakit a. Diharapkan rumah sakit dapat meningkatkan mutu keperawatan dan kesehatan dengan memberikan fasilitas yang memadai. 4. Bagi institusi pendidikan a. Diharapkan agar lebih meningkatkan mutu pendidikan khusunya dibidang keperawatan guna menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas. Daftar Pustaka Rayburn, WF dan Carey, JC. (2001). Obstetri dan Ginekologi. Jakrta: Widya Medika Chamberlain, G dan Dewhurst, SJ. (1994). Obstetri dan Ginekologi Praktis, Jakarta: Widya Medika Tiejen, L, Bossemeyer, D dan Mcintosh, N. (2004). Panduan Pencegahan Infeksi untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Sumber Daya Terbatas. Jakrta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo Kasdu dan Dini. (2005). Solusi Problem Persalinan. Jakarta : Puspa Swara

Infeksi Postpartum
Posted on March 30, 2011

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi postpartum adalah infeksi bakteri pada traktus genitalia, terjadi sesudah melahirkan, ditandai kenaikan suhu sampai 38 derajat selsius atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama.

Kasus infeksi pada post partum sering terjadi. Pada dasarnya prognosisnya baik bila diatasi dengan pengobatan yang sesuai. Menurut derajatnya, septikemia merupakan infeksi paling berat dengan mortalitas tinggi, diikuti peritonitis umum dan piemia.Infeksi post partum bila tidak diatasi dengan baik dan profesional sering mengalami morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Terutama bila sumber infeksi telah menjalar pada organ-organ vital.Dengan majunya ilmu keperawatan, mahasiswa keperawatan diharapkan mampu mengetahui asuhan keperawatan yang komprehensif yang dapat di manifestasikan dengan memberikan perawatan post partum untuk mencegah terjadinya infeksi dan komplikasi. Mahasiswa perawat juga diharapkan mampu dalam memberikan penyuluhan kesehatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan, pengalaman dan keterampilan untuk membantu pasien mencapai kesehatan yang optimal. 1.2 Rumusan Masalah Bagaimana asuhan keperawatan pada infeksi post partum?

1.3 Tujuan 1.3.1 1.3.2 partum Mahasiswa mengetahui implementasi berdasarkan diganosa NANDA, NIC dan NOC. Tujuan Umum Tujuan Khusus Mahasiswa mengetahui landasan teori tentang infeksi post partum Mahasiswa mengetahui WOC infeksi post partum Mahasiswa mengetahui pengkajian pada infeksi post partum Mahasiswa mampu menganalisa data pada infeksi post partum Mahasiswa mampu menentukan prioritas diagnose pada infeksi pada infeksi post Mahasiswa mampu mengetahui Asuhan Keperawatan dengan infeksi post partum

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Infeksi postpartum adalah infeksi bakteri pada traktus genitalia, terjadi sesudah melahirkan, ditandai kenaikan suhu sampai 38 derajat selsius atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama. Diukur peroral sedikitnya 4 kali sehari disebut morbiditas puerperalis. Kenaikan suhu tubuh yang terjadi di dalam masa nifas, dianggap sebagai infeksi nifas jika tidak diketemukan sebab-sebab ekstragenital.

2.2 Etiologi Organisme yang menyerang bekas implantasi plasenta atau laserasi akibat persalinan adalah penghuni normal serviks dan jalan lahir, mungkin juga dari luar. Biasanya lebih dari satu spesies. Kuman anaerob adalah kokus gram positif (peptostreptokok, peptokok, bakteriodes dan clostridium). Kuman aerob adalah berbagai macam gram positif dan E. coli. Mikoplasma dalam laporan terakhir mungkin memegang peran penting sebagai etiologi infeksi nifas.

Penyebab Infeksi Nifas :


Streptococcus haemolitikus aerobicus (penyebab infeksi yang berat). Staphylococcus aureus. Escherichia coli. Clotridium Welchii

2.3 Faktor predisposisi Faktor predisposisi infeksi postpartum yaitu:

Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh, seperti perdarahan, dan kurang gizi atau malnutrisi Partus lama, terutama partus dengan ketuban pecah lama. Tindakan bedah vaginal yang menyebabkan perlukaan jalan lahir. Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban dan bekuan dara Anmia, higiene, kelelahan Proses persalinan bermasalah :

Partus lama/macet, korioamnionitis, persalinan traumatik, kurang baiknya proses pencegahan infeksi, manipulasi yang berlebihan, dapat berlanjut ke infeksi dalam masa nifas.

Cara terjadinya infeksi 1. Tangan penderita atau penolong yang tetutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. Kemungkinan lain ialah bahwa sarung tangan atau alat-alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman-kuman. 2. Droplet infeksion. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau pembantu-pembantunya. Oleh karena itu, hidung dan mulut petugas harus ditutup dengan masker. 3. Infeksi rumah sakit (hospital infection) 4. Dalam rumah sakit banyak sekali kuman-kuman patogen berasal dari penderitapenderita di seluruh rumah sakit. Kuman-kuman ini terbawa oleh air, udara, alat-alat

dan benda-benda rumah sakit yang sering dipakai para penderita (handuk, kain-kain lainnya). 5. Koitus pada akhir kehamilan sebenarnya tidak begitu berbahaya, kecuali bila ketuban sudah pecah. 6. Infeksi intrapartum, sering dijumpai pada kasus lama, partus terlantar, ketuban pecah lama, terlalu sering periksa dalam. Gejalanya adalah demam, dehidrasi, lekositosis, takikardi, denyut jantung janin naik, dan air ketuban berbau serta berwarna keruh kehijauan.

2.4 Patofisiologis Infeksi nifas setelah pervaginam terutama mengenai tempat implantasi plasenta dan desidua serta miometrium didekatnya. Pada sebagian kasus, duh yang keluar berbau, banyak, berdarah dan kadang-kadang berbusa. Pada kasus lain duh hanya sedikit. Involusi uterus dapat terhambat. Potongan mikroskopis munghkin memperlihatkan lapisan bahan nkrotik di superficial yang mengandung bakteri dan sebukan leukosit padat. Sewaktu persalinan, bakteri yang mengkoloni servik dan vagina memperoleh akses ke cairan amnion, dan post partum bakteri-bakteri ini akan menginvasi jaringan mati di tempat histerektomi. Kemudian terjadi seluletis para metrium dengan infeksi jaringan ikat fibroareolar retroperitonium panggul. Hal ini dapat disbabkan oleh penyebaran limfogen ogranisme dari tempat laserasi servik atau insisi/ laserasi uterus yang terinfeksi. Proses biasanya terbatas jaringan para vagina dan jarang meluas kedalam panggul

Perjalanan penyakit Apabila timbul demam post partum kita harus mencurigai kemungkinan infeksi uterus. Demnam mungkin setara dengan luas infeksi, dan apabila terbatas di endometrium (desidua) dan miometrium superficial, kasus biasanya ringan dan demamnya minimal. Biasanya suhu lebih dari 38 sampai 39 0C. demam dapat disertai menggigil dan mengisyaratkan adanya bakterimia, yang terbukti yang terjadi pada 10-20 % wanita dengan infeksi panggul setelah seksio sesaria. Denyut nadi biasanya mengikuti kurva sushu.

Wanita yang bersangkutan biasanya mengeluh nyeri abdomen, dan pada pemeriksaan abdomen dan bimanual di jumpai nyeri tekan tekan parametrium. Karena nyeri insisi, nyeri tekan abdomen dan fundus uterus mungkin lebih bermanfaat untuk memastikan diagnosis metrititis setelah perlahiran pervaginam daripada seksio sesaria. Bahkan pada tahap awal sudah dapat timbuh duh berbau; namun, pada banyak wanita dijumpai lokea berbau tidak enak tanpa tanda-tanda infeksi yang lain. Sebagian infeksi dan terutama yang disebabkan oleh streptokokus hemolitikus grup A, sering disertai dengan lokea yang sedikit dan tidak berbau. Lekositosis dapat berkisar dari 15000-30000 sel/l. Rata-rata peningkatan hitung leukosit post partum adalah 22 % (hartmann dkk.,2000). Dengan demikian, setelah mengeksklusi kausa lain, demam merupakan criteria terpenting untuk diagnosis metrititis post partum. Apabila proses terbatas diuterus, sushu dapat kembali ke normal tanpa terapi antimikroba. Memang metritis local mungkin salah didiagnosis sebagai infeksi saluran kemih, pemmbengkakan payudara, atau atelektaksisi paru. Tanpa terapi, selulitis uterus dan panggul akan memburuk: namun, dengan terapi antimikroba yang sesuai penyebuhan biasanya cepet terjadi.

2.5 Manifestasi klinis Infeksi postpartum dapat dibagi atas 2 golongan, yaitu : 1. Infeksi yang terbatas pada perineum, vulva, vagina, serviks, dan endometrium.

Gejalanya berupa rasa nyeri dan panas pada tempat infeksi, kadang-kadang perih saat kencing. Bila getah radang bisa keluar, biasanya keadaannya tidak berat, suhu sekitar 38 derajat selsius dan nadi dibawah 100 per menit. Bila luka yang terinfeksi, tertutup jahitan dan getah radang tidak dapat keluar, demam bisa naik sampai 39-40 derajat selsius, kadang-kadang disertai menggigil.

1. Penyebaran dari tempat-tempat tersebut melalui vena-vena, jalan limfe dan permukaan endometrium. Endometritis :

Kadang-kadang lokia tertahan dalam uterus oleh darah, sisa plasenta dan selaput ketuban yang disebut lokiometra dan dapat menyebabkan kenaikan suhu. Uterus agak membesar, nyeri pada perabaan dan lembek. Sejak permulaan, pasien sudah sakit dan lemah. Sampai 3 hari pasca persalinan suhu meningkat dengan cepat, biasanya disertai menggigil. Suhu sekitar 39-40 derajat selsius, keadaan umum cepat memburuk, nadi cepat (140160 kali per menit atau lebih). Pasien dapat meninggal dalam 6-7 hari pasca persalinan. Tidak lama pasca persalinan, pasien sudah merasa sakit, perut nyeri dan suhu agak meningkat. Gejala infeksi umum dengan suhu tinggi serta menggigil terjadi setelah kuman dengan emboli memasuki peredaran darah umum. Ciri khasnya adalah berulang-ulang suhu meningkat dengan cepat disertai menggigil lalu diikuti oleh turunnya suhu. Lambat laun timbul gejala abses paru, pneumonia dan pleuritis. Pada peritonotis umum terjadi peningkatan suhu tubuh, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, dan ada defense musculaire. Muka yang semula kemerah-merahan menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingin; terdapat fasies hippocratica. Pada peritonitis yang terbatas didaerah pelvis, gejala tidak seberat peritonitis umum. Peritonitis yang terbatas : pasien demam, perut bawah nyeri tetapi keadaan umum tidak baik. Bisa terdapat pembentukan abses. Bila suhu tinggi menetap lebih dari satu minggu disertai rasa nyeri di kiri atau kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, patut dicurigai adanya selulitis pelvika. Gejala akan semakin lebih jelas pada perkembangannya.

Septikemia :

Piemia :

Peritonitis :

Selulitis pelvik :

Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri di sebelah uterus. Di tengah jaringan yang meradang itu bisa timbul abses dimana suhu yang mula-mula tinggi menetap, menjadi naik turun disertai menggigil. Pasien tampak sakit, nadi cepat, dan nyeri perut.

2.6 Prognosis Prognosis baik bila diatasi dengan pengobatan yang sesuai. Menurut derajatnya, septikemia merupakan infeksi paling berat dengan mortalitas tinggi, diikuti peritonitis umum dan piemia.

2.7 Diagnosis Untuk penegakan diagnosa diperlukan pemeriksaan seksama. Perlu diketahui apakah infeksi terbatas pada tempat masuknya kuman ke dalam badan atau menjalar keluar ke tempat lain. Pasien dengan infeksi meluas tampak sakit, suhu meningkat, kadang-kadang menggigil, nadi cepat dan keluhan lebih banyak. Jika fasilitas ada, lakukan pembiakan getah vagina sebelah atas dan pada infeksi yang berat diambil darah untuk maksud yang sama. Usaha ini untuk mengetahui etiologi infeksi dan menentukan pengobatan antibiotik yang paling tepat.

2.8 Diagnosis banding


Radang saluran pernapasan (bronkitis, pneumonia, dan sebagainya) Pielonefritis Mastitis.

2.9 Penatalakasanaa

1. a. Pencegahan

Masa Persalinan Hindari pemeriksaan dalam berulang, lakukan bila ada indikasi dengan sterilitas yang Hindari partus terlalu lama dan ketuban pecah lama. Jagalah sterilitas kamar bersalin dan pakailah masker, alat-alat harus suci hama. Perlukaan-perlukaan jalan lahir karena tindakan baik pervaginam maupun Pakaian dan barang-barang atau alat-alat yang berhubungan dengan penderita harus Perdarahan yang banyak harus dicegah, bila terjadi darah yang hilang harus segera Masa Nifas Luka-luka dirawat dengan baik jangan sampai kena infeksi, begitu pula alat-alat dan Penderita dengan infeksi nifas sebaiknya diisolasi dalam ruangan khusus, tidak Tamu yang berkunjung harus dibatasi.

baik, apalagi bila ketuban telah pecah.

perabdominal dibersihkan, dijahit sebaik-baiknya dan menjaga sterilitas. terjaga kesuci-hamaannya. diganti dengan transfusi darah.

pakaian serta kain yang berhubungan dengan alat kndung kencing harus steril. bercampur dengan ibu sehat. Masa Kehamilan:

Mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi seperti anemia, malnutrisi dan kelemahan serta mengobati penyakit-penyakit yang diderita ibu. Pemeriksaan dalam jangan dilakukan kalau tidak ada indikasi yang perlu. Begitu pula koitus pada hamil tua hendaknya dihindari atau dikurangi dan dilakukan hati-hati karena dapat menyebabkan pecahnya ketuban, kalau ini terjadi infeksi akan mudah masuk dalam jalan lahir.

1. b. Pencegahan infeksi postpartum :

Anemia diperbaiki selama kehamilan. Berikan diet yang baik. Koitus pada kehamilan tua sebaiknya dilarang. Membatasi masuknya kuman di jalan lahir selama persalinan. Jaga persalinan agar tidak berlarut-larut. Selesaikan persalinan dengan trauma sesedikit mungkin. Cegah

perdarahan banyak dan penularan penyakit dari petugas dalam kamar bersalin. Alatalat persalinan harus steril dan lakukan pemeriksaan hanya bila perlu dan atas indikasi yang tepat.

Selama nifas, rawat higiene perlukaan jalan lahir. Jangan merawat pasien dengan tanda-tanda infeksi nifas bersama dengan wanita sehat yang berada dalam masa nifas.

1. Penanganan umum

Antisipasi setiap kondisi (faktor predisposisi dan masalah dalam proses persalinan) yang dapat berlanjut menjadi penyulit/komplikasi dalam masa nifas. Berikan pengobatan yang rasional dan efektif bagi ibu yang mengalami infeksi nifas. Lanjutkan pengamatan dan pengobatan terhadap masalah atau infeksi yang dikenali pada saat kehamilan ataupun persalinan. Jangan pulangkan penderita apabila masa kritis belum terlampaui. Beri catatan atau instruksi tertulis untuk asuhan mandiri di rumah dan gejala-gejala yang harus diwaspadai dan harus mendapat pertolongan dengan segera. Lakukan tindakan dan perawatan yang sesuai bagi bayi baru lahir, dari ibu yang mengalami infeksi pada saat persalinan. Dan Berikan hidrasi oral/IV secukupnya.

1. d. Pengobatan secara umum

Sebaiknya segera dilakukan pembiakan (kultur) dan sekret vagina, luka operasi dan darah serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang tepat dalam pengobatan., Berikan dalam dosis yang cukup dan adekuat. Karena hasil pemeriksaan memerlukan waktu, maka berikan antibiotika spektrum luas (broad spektrum) menunggu hasil laboratorium. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh penderita, infus atau transfusi darah diberikan, perawatan lainnya sesuai dengan komplikasi yang dijumpai.

1. e. Penanganan infeksi postpartum :

Suhu harus diukur dari mulut sedikitnya 4 kali sehari.

Berikan terapi antibiotik, Perhatikan diet. Lakukan transfusi darah bila perlu, Hati-hati bila ada abses, jaga supaya nanah tidak masuk ke dalam rongga perineum.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Pengkajian 1. Identitas Klien 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Kesehatan Dahulu Kemungkinan klien pernah menderita infeksi tenggorokan Riwayat Kesehatan Sekarang Biasanya klien mengeluh badan lemah, demam, nadi cepat, nafas sesak, badan menggigil, gelisah, nyeri pada daerah luka operasi Riwayat Kesehatan Keluarga Kemungkinan salah satu anggota keluarga ada yang menderita infeksi tenggorokan 1. Pemeriksaan Fisik Aktivitas / istirahat Biasanya klien mengeluh malaise, letargi, kelelahan / keletihan yang terus menerus (persalinan lama, stressor pasca partum multiple) Sirkulasi Biasanya tachikardi dari berat sampai bervariasi

Eliminasi Biasanya BAB klien diare / konstipasi Makanan / Cairan Biasanya anoreksia, mual / muntah, haus, membran mukosa kering, distensi abdomen, kekakuan, nyeri lepas Neurosensori Biasanya klien mengeluh sakit kepala Pernafasan Biasanya pernafasan cepat / dangkal

Nyeri / Ketidaknyamanan Biasanya nyeri abdomen bawah / uteri, nyeri tekan / nyeri local, disuria, ketidaknyamanan abdomen, sakit kepala Integritas Ego Biasanya klien ansietas, gelisah Keamanan Biasanya terjadi peningkatan suhu tubuh yang merupakan tanda infeksi dan dapat pula terjadi menggigil berat atau berulang Seksualitas Biasanya pecah ketuban dini / lama, persalinan lama, subinvolusi uterus mungkin ada, lochea bau busuk dan banyak / berlebihan, tepi insisi kemerahan, edema, keras, nyeri tekan / memisah dengan drainase purulen

1. Kebiasaan Sehari hari Kebiasaan perorangan Biasanya kebersihan perorangan tidak terjaga sehingga kuman kuman mudah masuk / pathogen ada dalam tubuh Makan / Minum Biasanya klien mengeluh anoreksia, mual / muntah, sering merasa haus Tidur Biasanya tidur klien mengalami gangguan karena suhu badan meningkat dan badan menggigil 1. Data Sosial Ekonomi Biasanya penyakit ini banyak ditemukan pada ekonomi rendah dengan stressor bersamaan 1. Data Psikologis Biasanya klien dengan penyakit ini gelisah karena terjadinya peningkatan suhu tubuh dan nyeri tekan pada abdomen

BAB IV PENUTUP

4.2 Kesimpulan Infeksi postpartum adalah infeksi bakteri pada traktus genitalia, terjadi sesudah melahirkan, ditandai kenaikan suhu sampai 38 derajat selsius atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama. Ini disebakan oleh kuman aerob juga kuman anaerob. Infeksi bisa terjadi melalui tangan penderita, droplet infeksion, infeksi rumah sakit (hospital infection), dalam rumah sakit, dan Koitus karena ketuban pecah. Manifestasi yang muncul bergantung pada tempat-tempat infeksi, ada infeksi yang terbatas pada perineum, vulva, vagina, serviks, dan endometrium kemudian bisa menyebar dari tempat-tempat tersebut melalui vena-vena, jalan limfe dan permukaan endometrium. Bila menyebar maka manifestasi yang muncul juga dapat memperburuk keadaan penderita. Peristiwa terjadinya infeksi setelah persalinan yaitu dimana sewaktu persalinan, bakteri yang mengkoloni servik dan vagina memperoleh akses ke cairan amnion, dan post partum bakteri-

bakteri ini akan menginvasi jaringan mati di tempat histerektomi. Kemudian terjadi seluletis para metrium dengan infeksi jaringan ikat fibroareolar retroperitonium panggul. Hal ini dapat disbabkan oleh penyebaran limfogen ogranisme dari tempat laserasi servik atau insisi/ laserasi uterus yang terinfeksi. Dengan ini dapat mengakibatkan berbagai masalah keperawatan seperti hipertemi dan nyeri, dan untuk intervensi keperawatannya merujuk pada diagnose nanda, nic dan noc. .

4.2 Saran Dengan makalah ini penulis berharap, mahasiswa dapat memahami konsep teori beserta asuhan keperawatan pada infeksi post partum, karena infeksi post partum rentan ditemui terutama pada wanita yang mengalami gangguan pada sistem imun, sebagai tim medis harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah terjadinya infeksi pada post partum, sehingga secara tidak langsung dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas.

Infeksi Saluran Kemih (ISK)


Patofisiologi Infeksi Saluran Kemih

11MAY2008 77 Comments

by GungWie in Info Kesehatan Tags: Ginjal, Infeksi Saluran Kemih, ISK, obat isk

Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang mengatur keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit dalam tubuh, dan sebagai pengatur volume dan komposisi kimia darah dengan mengeksresikan air yang dikeluarkan dalam bentuk urine apabila berlebih.(1) Diteruskan dengan ureter yang menyalurkan urine ke kandung kemih. Sejauh ini diketahui bahwa saluran kemih atau urine bebas dari mikroorganisme atau steril.(1) Masuknya mikroorganisme kedalam saluran kemih dapat melalui : - Penyebaran endogen yaitu kontak langsung dari tempat infeksi terdekat (ascending) - Hematogen

- Limfogen
- Eksogen

sebagai akibat pemakaian berupa kateter.(1)

Dua jalur utama terjadinya ISK adalah hematogen dan ascending, tetapi dari kedua cara ini ascendinglah yang paling sering terjadi.(1) Kuman penyebab ISK pada umumnya adalah kuman yang berasal dari flora normal usus. Dan hidup secara komensal di dalam introitus vagina, prepusium penis, kulit perineum, dan di sekitar anus. Mikroorganisme memasuki saluran kemih melalui uretra prostate vas deferens testis (pada pria) buli-buli ureter, dan sampai ke ginjal (Gambar 1).(2)

Gambar 1. Masuknya kuman secara ascending ke dalam saluran kemih, (1) Kolonisasi kuman di sekitar uretra, (2) masuknya kuman melalui uretra ke buli-buli, (3) penempelan kuman pada dinding buli-buli, (4) masuknya kuman melalui ureter ke ginjal.(2) Meskipun begitu,faktor-faktor yang berpengaruh pada ISK akut yang terjadi pada wanita tidak dapat ditemukan. Mikroorganisme yang paling sering ditemukan adalah jenis bakteri aerob. Selain bakteri aerob, ISK dapat disebabkan oleh virus dan jamur.(3) Terjadinya infeksi saluran kemih karena adanya gangguan keseimbangan antar mikroorganisme penyebab infeksi sebagai agent dan epitel saluran kemih sebagai host. Gangguan keseimbangan ini disebabkan oleh karena pertahanan tubuh dari host yang menurun atau karena virulensi agentmeningkat. (2) Kemampuan host untuk menahan mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adalah :

1. pertahanan lokal dari host 2. peranan dari sistem kekebalan tubuh yang terdiri atas kekebalan humoral maupun imunitas seluler. (2)

Gambar 2. Faktor predisposisi terjadinya ISK (1) Bermacam-macam mikroorganisme dapat menyebabkan ISK. Penyebab terbanyak adalah Gram-negatif termasuk bakteri yang biasanya menghuni usus yang kemudian naik ke sistem saluran kemih. Dari gram-negatif Escherichia coli menduduki tempat teratas.(1) Sedangkan jenis gram-positif lebih jarang sebagai penyebab ISK sedangkan enterococcus dan staphylococcus aureus sering ditemukan pada pasien dengan batu saluran kemih.(1)

Gambar 3. Beberapa jenis mikroorganisme penyebab ISK (1) Kuman Escherichia

coli yang menyebabkan ISK mudah berkembang biak di dalam

urine, disisi lain urine bersifat bakterisidal terhadap hampir sebagian besar kuman dan spesies Escherichia coli . Sebenarnya pertahanan sistem saluran kemih yang paling baik adalah mekanisme wash-out urine, yaitu aliran urine yang mampu membersihkan kuman-kuman yang ada di dalam urine bila jumlah cukup. Oleh karena itu kebiasaan jarang minum menghasilkan urine yang tidak adekuat sehingga memudahkan untuk terjadinya infeksi saluran kemih. (2) ISK juga banyak terjadi melalui kateterisasi yang terjadi di rumah sakit. Berikut data dari infeksi nosokomial terbanyak yang terjadi di rumah sakit

Gambar 3. infeksi nosokomial yang paling sering terjadi (4) Gejala klinis ISK sesuai dengan bagian saluran kemih yang terinfeksi sebagai berikut :
- pada

ISK bagian bawah, keluhan pasien biasanya berupa rasa sakit atau rasa panas di uretra sewaktu kencing dengan air kemih sedikit-sedikit serta rasa tidak enak di daerah suprapubik (1)

- Pada ISK bagian atas dapat ditemukan gejala sakit kepala, malaise, mual, muntah, demam, menggigil, rasa tidak enak, atau nyeri di pinggang.(1) Obat Tepat Indikasi untuk Infeksi Saluran Kemih Pada ISK yang tidak memberikan gejala klinis tidak perlu pemberian terapi, namun bila sudah terjadi keluhan harus segera dapat diberikan antibiotika.(5)Antibiotika yang diberikan berdasarkan atas kultur kuman dan test kepekaan antibiotika.(1) Tujuan pengobatan ISK adalah mencegah dan menghilangkan gejala, mencegah dan mengobati bakteriemia, mencegah dan mengurangi risiko kerusakan jaringan ginjal yang mungkin timbul dengan pemberian obat-obatan yang sensitif, murah, aman dengan efek samping yang minimal. (6) Banyak obat-obat antimikroba sistemik diekskresikan dalam konsentrasi tinggi ke dalam urin. Karena itu dosis yang jauh dibawah dosis yang diperlukan untuk mendapatkan efek sistemik dapat menjadi dosis terapi bagi infeksi saluran kemih.(7) Untuk menyatakan adanya ISK harus ditemukan adanya bakteri di dalam urin. Indikasi yang paling penting dalam pengobatan dan pemilihan antibiotik yang tepat adalah mengetahui jenis bakteri apa yang menyebabkan ISK.(8) Biasanya yang paling sering menyebabkan ISK adalah bakteri gram negatif Escherichia coli . Selain itu diperlukan pemeriksaan penunjang pada ISK untuk mengetahui adanya batu atau kelainan anatomis yang merupakan faktor predisposisi ISK sehingga mampu menganalisa penggunaan obat serta memilih obat yang tepat.(1) Bermacam cara pengobatan yang dilakukan pada pasien ISK, antara lain : - pengobatan dosis tunggal - pengobatan jangka pendek (10-14 hari) - pengobatan jangka panjang (4-6 minggu) - pengobatan profilaksis dosis rendah - pengobatan supresif (1) Berikut obat yang tepat untuk ISK :

Sulfonamide : Sulfonamide dapat menghambat baik bakteri gram positif dan gram negatif. Secara struktur analog dengan asam p-amino benzoat (PABA).(7) Biasanya diberikan per oral, dapat dikombinasi dengan Trimethoprim, metabolisme terjadi di hati dan di ekskresi di ginjal. Sulfonamide digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih dan bisa terjadi resisten karena hasil mutasi yang menyebabkan produksi PABA berlebihan. (9) Efek samping yang ditimbulkan hipersensitivitas (demam, rash, fotosensitivitas), gangguan pencernaan (nausea, vomiting, diare), Hematotoxicity (granulositopenia, (thrombositopenia, aplastik anemia) dan lain-lain. (9,10)Mempunyai 3 jenis berdasarkan waktu paruhnya : - Short

acting acting

- Intermediate - Long

acting (9)

Trimethoprim : Mencegah sintesis THFA, dan pada tahap selanjutnya dengan menghambat enzim dihydrofolate reductase yang mencegah pembentukan tetrahydro dalam bentuk aktif dari folic acid . Diberikan per oral atau intravena, di diabsorpsi dengan baik dari usus dan ekskresi dalam urine, aktif melawan bakteri gram negatif kecuali Pseudomonas spp. Biasanya untuk pengobatan utama infeksi saluran kemih. Trimethoprim dapat diberikan tunggal (100 mg setiap 12 jam) pada infeksi saluran kemih akut (7,11) Efek samping : megaloblastik anemia, leukopenia, granulocytopenia. (9) Trimethoprim + Sulfamethoxazole (TMP-SMX): Jika kedua obat ini dikombinasikan, maka akan menghambat sintesis folat, mencegah resistensi, dan bekerja secara sinergis. Sangat bagus untuk mengobati infeksi pada saluran kemih, pernafasan, telinga dan infeksi sinus yang disebabkan oleh Haemophilus influenza dan Moraxella catarrhalis. (7,9,10) Karena Trimethoprim lebih bersifat larut dalam lipid daripada Sulfamethoxazole, maka

Trimethoprim memiliki volume distribusi yang lebih besar dibandingkan dengan Sulfamethoxazole. Dua tablet ukuran biasa (Trimethoprim 80 mg + Sulfamethoxazole 400 mg) yang diberikan setiap 12 jam dapat efektif pada infeksi berulang pada saluran kemih bagian atas atau bawah. (7) Dua tablet per hari mungkin cukup untuk menekan dalam waktu lama infeksi saluran kemih yang kronik, dan separuh tablet biasa diberikan 3 kali seminggu untuk berbulan-bulan sebagai pencegahan infeksi saluran kemih yang berulang-ulang pada beberapa wanita. (7) Efek samping : pada pasien AIDS yang diberi TMP-SMX dapat menyebabkan demam, kemerahan, leukopenia dan diare.(9) Fluoroquinolones : Mekanisme kerjanya adalah memblok sintesis DNA bakteri dengan menghambat topoisomerase II (DNA gyrase) topoisomerase IV. Penghambatan DNA gyrase mencegah relaksasi supercoiled DNA yang diperlukan dalam transkripsi dan replikasi normal. (9) Fluoroquinolon menghambat bakteri batang gram negatif termasuk enterobacteriaceae , Pseudomonas, Neisseria. Setelah pemberian per oral, Fluoroquinolon diabsorpsi dengan baik dan didistribusikan secara luas dalam cairan tubuh dan jaringan, walaupun dalam kadar yang berbedabeda. (7)Fluoroquinolon terutama diekskresikan di ginjal dengan sekresi tubulus dan dengan filtrasi glomerulus. Pada insufisiensi ginjal, dapat terjadi akumulasi obat.(7) Efek samping yang paling menonjol adalah mual, muntah dan diare.Fluoroquinolon dapat merusak kartilago yang sedang tumbuh dan sebaiknya tidak diberikan pada pasien di bawah umur 18 tahun. (7) - Norfloxacin : Merupakan generasi pertama dari fluoroquinolones dari nalidixic untuk infeksi saluran kemih. (9) - Ciprofloxacin : Merupakan generasi kedua dari fluoroquinolones, mempunyai efek yang bagus dalam melawan bakteri gram negatif dan juga melawan gonococcus,

acid, sangat baik

mykobacteria, termasuk Mycoplasma pneumoniae. (9)

- Levofloxacin Merupakan generasi ketiga dari fluoroquinolones. Hampir sama baiknya dengan generasi kedua tetapi lebih baik untuk bakteri gram positif. (9) Nitrofurantoin : Bersifat bakteriostatik dan bakterisid untuk banyak bakteri gram positif dan gram negatif. Nitrofurantoin diabsorpsi dengan baik setelah ditelan tetapi dengan cepat di metabolisasi dan diekskresikan dengan cepat sehingga tidak memungkinkan kerja antibakteri sistemik.(12) Obat ini diekskresikan di dalam ginjal. Dosis harian rata-rata untuk infeksi saluran kemih pada orang dewasa adalah 50 sampai 100 mg, 4 kali sehari dalam 7 hari setelah makan. (7) Efek samping : anoreksia, mual, muntah merupakan efek samping utama.Neuropati dan anemia hemolitik terjadi pada individu dengan defisiensi glukosa-6-fosfat

dehidrogenase.(7)
Obat tepat digunakan untuk pasien ISK dengan kelainan fungsi ginjal Ginjal merupakan organ yang sangat berperan dalam eliminasi berbagai obat sehingga gangguan yang terjadi pada fungsi ginjal akan menyebabkan gangguan eliminasi dan mempermudah terjadinya akumulasi dan intoksikasi obat. (1) Faktor penting dalam pemberian obat dengan kelainan fungsi ginjal adalah menentukan dosis obat agar dosis terapeutik dicapai dan menghindari terjadinya efek toksik. (13) Pada gagal ginjal, farmakokinetik dan farmakodinamik obat akan terganggu sehingga diperlukan penyesuaian dosis obat yang efektif dan aman bagi tubuh. Bagi pasien gagal ginjal yang menjalani dialisis, beberapa obat dapat mudah terdialisis, sehingga diperlukan dosis obat yang lebih tinggi untuk mencapai dosis terapeutik.(1) Gagal ginjal akan menurunkan absorpsi dan menganggu kerja obat yang diberikan secara oral oleh karena waktu pengosongan lambung yang memanjang, perubahan PH lambung, berkurangnya absorpsi usus dan gangguan metabolisme di hati.(1) Untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan berbagai upaya antara lain dengan mengganti cara pemberian, memberikan obat yang merangsang motilitas lambung dan menghindari pemberian bersama dengan obat yang menggangu absorpsi dan motilitas.(1)

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian obat pada kelainan fungsi ginjal adalah : - penyesuaian dosis obat agar tidak terjadi akumulasi dan intoksikasi obat
- pemakaian

obat yang bersifat nefrotoksik seperti aminoglikosida,

Amphotericine B, Siklosporin. (1) Bentuk dan dosis obat yang tepat untuk diberikan kepada pasien ISK dengan kelainan fungsi ginjal Pada pasien ISK yang terinfeksi bakteri gram negatif Escherichia

coli dengan

kelainan fungsi ginjal adalah dengan mencari antibiotik yang tidak dimetabolisme di ginjal. Beberapa jurnal dan text book dikatakan penggunaanTrimethoprim + Sulfamethoxazole (TMP-SMX) mempunyai resiko yang paling kecil dalam hal gangguan fungsi ginjal. Hanya saja penggunaanya memerlukan dosis yang lebih kecil dan waktu yang lebih lama. (9) Pada ekskresi obat perlu diperhatikan fungsi ginjal, yang diikuti dengan penurunan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG), terutama obat yang diberi dengan jangka panjang harus selalu memperhitungkan fungsi ginjal pasien. Secara praktis dapat diukur dengan creatine clearance test.(1) LFG sangat berguna untuk menilai fungsi ginjal karena kreatinin merupakan zat yang secara prima difiltrasi dengan jumlah yang cuma sedikit akan tetap bervariasi terhadap bahan yang disekresi. (1) Trimethoprim + Sulfamethoxazole (TMP-SMX) : Dosis yang diberikan pada pasien ISK dengan kelainan fungsi ginjal haruslah lebih rendah. Pada pasien dengan creatine clearance 15 hingga 30 ml/menit, dosis yang diberikan adalah setengah dari dosis Trimethoprim 80 mg + Sulfamethoxazole 400 mg yang diberikan tiap 12 jam. (9) Cara pemberiannya dapat dilakukan secara oral maupun intravena. (7,9) Penghitungan creatine
72 x kreatinin serum

clearance : TKK = (140 umur) x berat badan


Daftar Pustaka

1. Tessy A, Ardaya, Suwanto. Infeksi Saluran Kemih. In: Suyono HS. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam 3rd edition. Jakarta, FKUI. 2001. 2. Purnomo BB: Dasar-Dasar Urologi 2nd Edition . Jakarta, Sagung Seto. 2003 3. Hooton TM, Scholes D, Hughes JP, Winter C, Robert PL, stapleton AE, Stergachis A, Stamm WE. A Prospective Study of Risk Factor for Symtomatic Urinary Tract Infection in Young Women. N Engl J Med 1996; 335: 468-474. 4. Burke JP. Infection Control- A Problem for Patient Safety. N Engl J Med 2008; 348: 651-656. 5. Kennedy ES. Pregnancy,Urinary Tract infections. http://www.eMedicine.com. last updated 8 August 2007. accesed 22 February 2008. 6. Stamm WE. An Epidemic of Urinary Tract Infections? N Engl J Med 2001; 345: 1055-1057. 7. Jawetz E. Sulfonamid dan trimetoprim. In: Katzung BG (Ed): Farmakologi dasar dan klinik. Jakarta, EGC.2002. 8. Hanno PM et al. Clinical manual of Urology 3rd edition. New york, Mcgrawhill.2001. 9. Trevor AJ, Katzung BG, Mastri SB. Katzung and Trevors Pharmacology Examination and Board Review 7th Edition. Newyork, Mcgrtaw-hill.2005. 10. Katzung BG (Ed). Lange Medical Book. Basic and Clinical Pharmacology 9thEdition, Newyork, Mcgraw-hill.2001. 11. Carruthers SG et al. Melmon and Morrellis Clinical Pharmacology 4th edition, Newyork, Mcgraw-hill.2000. 12. Urinary Tract Infection. http://www.wikipedia.com. last updated on February 19 2008. accesed on February 22 2008. 13. Fihn SD. Acute Uncomplicated Urinary Tract Infection in Women. N Engl J Med 2003; 349: 259-265. 14. Winotopradjoko M et al. Antifektikum kombinasi in: ISO Indonesia Informasi Spesialite Obat Indonesia Vol.40 Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. 2005 ;01.06