Anda di halaman 1dari 28

METODE OPERASI WANITA

1.
2.

3.

Informasi consent Periksa kembali tanda-tanda vital dan riwayat alergi ataupun penyakit yang tidak terdeteksi sebelumnya. Berikan Sulfas Atropin 0,5 mg setengah jam sebelum tindakan

ASEPSIS DAN ANTISEPSIS


1.

2.

3.

Pasien dibaringkan di meja operasi. Usapkan kasa yang telah dibasahi dengan larutan antiseptik (Providon Iodin) pada medan operasi dari sub-umbilikus hingga ke dinding lateral perut dengan gerakan melingkar dari tengah ke luar dan 1/3 tungkai atas sampai genetalia eksterna dan perineum. Ganti kasa (yang telah dibasahi dengan larutan antiseptik) kemudian masukkan ke dalam vagina dan usap dinding vagina dan porsio.

PEMERIKSAAN PANGGUL DAN PEMASANGAN ELEVATOR 1. Lakukan katerisasi. 2. Lakukan pemeriksaan panggul secara bimanual. 3. Nilai posisi dan besar uterus serta kemungkinan kelainan lain dalam panggul. 4. Pasang speculum dan nilai porsio dan vagina. 5. Pasang tenakulum lakukan sondase untuk konfirmasi ulang dalam dan arah kavum uteri.

6.

7.

8.

9.

Pasang elevator uterus dengan lengkung yang sesuai dengan arah kavum uteri. Bila posisi uterus retrofleksi, putar gagang elevator melalui sumbu kerucut sehingga fundus uteri mendekati dinding perut. Ikatkan gagang elevator pada gagang tenakulum untuk mempertahankan posisi uterus. Uji hasil pemasangan elevator dengan jalan menggerak-gerakkan elevator ke arah dinding perut. Ganti sarung tangan dengan yang baru.

PENENTUAN TEMPAT SAYATAN


1. 2.

Injeksi Diazepam 10 mg iv, tunggu 3 menit. Pasang doek berlubang untuk batasi medan operasi.

3.

Posisi operator di sebelah kiri pasien dan asisten di sebelah kanan pasien.
Tentukan tempat sayatan pada dinding perut dengan jalan menggerakkan gagang elevator uterus ke bawah sehingga fundus uteri menyentuh dinding perut.

4.

PEMBUKAAN DINDING PERUT


1.

2.
3.

4.

5.

Suntikkan lidokain sebanyak 3 cc subkutan di tempat sayatan. Buat sayatan melintang di kulit sepanjang 3 cm di linea mediana di atas simfisis. Pada MOW post partum sayatan dilakukan dengan sayatan semilunar panjang 3 cm di atas fundus yang masih besar pada linea mediana distal dari pusat. Sisihkan lapisan lemak di bawah kulit secara tumpul dengan refraktor sampai terlihat fasia. Suntikkan anestesi local secara infiltrasi sebanyak 3 cc pada fasia

6.

Masukkan refraktor dengan arah melintang terhadap sayatan, bersihkan sisa jaringan lemak di atas fasia dengan ujung-ujung bilah refraktor. Jepit fasia dengan kocher pada 2 tempat dalam arah membujur dengan jarak 2 cm. Angkat kedua kocher, lakukan sayatan melintang di antara kedua kocher sampai terlihat lapisan otot, perlebar ke kiri dan ke kanan sepanjang sayatan kulit.

7.

8.

Suntikkan anestesi local secara infiltrasi sebanyak 2 cc pada otot.

9.

Pisahkan jaringan otot secara tumpul pada garis tengah dengan bilah refractor sehingga tampak peritoneum, tempatkan refractor di antara otot yang sudah terpisah.
Gerakkan gagang elevator ke arah bawah sehingga peritoneum tampak menonjol ke arah luka sayatan. Jepit peritoneum dengan pinset, angkat sampai terlepas dari fundus uteri dan jaringan di bawahnya. Jepit kembali peritoneum dengan kocher di atas jepitan pinset.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

Lepaskan jepitan pinset, angkat kocher dan pilih bagian yang bebas kemudian jepit lagi dengan kocher 2 cm dari jepitan pertama. Angkat kedua kocher dengan tangan kiri, lakukan transluminasi untuk identifikasi peritoneum dan memastikan tidak ada omentumatau usus yang terjepit. Gunting peritonium dengan ujung gunting, kemudian perlebar dengan arah arah membujur 2 cm ke atas dan 1 cm ke bawah (hati-hati kandung kemih). Masukkan refractor ke dalam rongga peritoneum kemudian tarik ke arah kiri dan kanan untuk menempatkan uterus pada lapangan operasi.

MENCAPAI TUBA
1.

2.

3.

Gerakkan gagang elevator uterus sampai fundus uteri tampak pada lapangan operasi. Bila tertutup omentum atau usus, ubah posisi klien ke posisi Trandelenberg. Bila meja operasi tidak bisa diubah, sisihkan omentum atau usus dengan memakai kasa gulung dan jepit ujung kasa pada kain penutup operasi. Tampakkan salah satu komu uteri dan ligamentum rotundum pada lapangan operasi dengan menggerakkan gagang elevator.

4.

5. 6.

Bila tuba tidak tampak (hanya tampak fundus uteri) pergunakan pengait tuba, masukkan ke arah belakang fundus menempel pada dinding uterus, geser sampai melewati bagian lateral uterus, angkat ujung pengait ke arah lubang sayatan agar tuba yang terkait dapat terlihat. Identifikasi tuba dengan menggunakan pinset tidak bergigi. Jepit tuba dengan klem Babcock dan dengan pinset tidak bergigi tarik pelan-pelan ke luar melalui lubang sayatan sampai terlihat fundus.

TUBEKTOMI A. CARA IRVING


1.

2.
3.

4.
5.

Jepit tuba dengan klem Babcock dan dengan pinset tidak bergigi, angkat sampai tuba melengkung, tentukan daerah mesosalfing yang avaskuler. Ambil bagian tuba yang cukup jauh dari uterus. Ikat tuba dengan catgut di dua tempat dengan jarak 2 cm. Mesosalfing yang avaskuler disayat dari ikatan pertama ke ikatan kedua. Biarkan benang pada ikatan tuba proksimal cukup panjang.

6.
7.

8.
9. 10.

11.

Potong tuba di antara kedua ikatan. Periksa perdarahan pada tunggul tuba dan periksa lumen tuba untuk meyakinkan tuba telah terpotong. Buat sayatan kecil pada lapisan serosa fundus uteri. Dengan klem hemostat yang panjang lekukan diseksi sepanjang 2 cm ke dalam miometrium. Jarum pada benang di ikatkan proksimal pertama dimasukkan ke dalam lubang sampai miometrium lalu keluar menembus lapisan serosa. lakukan hal yang sama untuk benang satunya lalu beri jarak 1 3 cm dengan benang pertama.

12.

Tarik kedua benang sehingga tuba proksimal masuk ke dalam lubang sampai miometrium. Ikat kedua benang sampai tuba dalam miometrium terfiksir dengan baik. Buat ikatan dengan catgut pada tempat masuknya tuba di fundus uteri

13.

14.

CARA IRVING

B. CARA POMEROY
1.

2.

3.

Jepit tuba dengan klem Babcock dan dengan pinset tidak bergigi, angkat sampai tuba melengkung, tentukan daerah mesosalfing yang evaskuler. Klem Babcock dipegang oleh asisten, lalu tusukkan jarum bulat dengan benang plain catgut no 0 pada jarak 1 cm dari puncak lengkungan di daerah mesosalfing yang evaskuler. Ikat salah satu pangkal lengkung tuba kemudian ikat kedua pangkal lengkung tuba secara bersama-sama dengan menggunakan benang yang sama.

4. 5.

Potong tuba 0,5 cm di atas ikatan benang. Periksa perdarahan pada tunggul tuba dan periksa lumen tuba untuk meyakinkan tuba telah terpotong. Potong benang cat gut 1 cm dari tuba dan masukkan kembali tuba ke dalam rongga perut.

6.

7.

Lakukan langkah mencapai tuba dan tubektomi untuk tuba sisi yang lain.

CARA POMEROY

C. CARA UCHIDA
1. 2.

Identifikasi tuba dan cari tuba pars ampularis. Adrenalin 1:100.000 diencerkan dalam normal saline dengan menggunakan jarum kecil no. 26-27 disuntikkan ke dalam mesosalfing di daerah ampula. Daerah suntikan akan mengembung.

3.

4.

Buat sayatan kecil di daerah yang kembung tersebut

5.

6. 7.

8.

9.

Serosa dibebaskan dari tuba sepanjang kira-kira 4 5 cm. Tuba dijepit, diikat, lalu digunting. Ujung tuba proksimal dibiarkan tertarik masuk ke dalam lapisan subserosa mesosalfing. Tuba distal fiksasi ke arah kavum peritoneal. Bekas sayatan pada mesosalfing dijahit jelujur agar tuba proksimal tetap di retroperitoneal.

CARA UCHIDA

D. CARA KROENER/FIMBRIEKTOMI
1.

2.

3. 4.

5.

Identifikasi tuba pars ismika. Sebelah distal dari ismus diikat, dipotong lalu dijahit dua kali, satu mengelilingi tuba dan yang lain mengelilingi tuba sebelah proksimal dari jahitan sebelumnya. Potong daerah di antara kedua ikatan. Seluruh fimbria dipisahkan dari struktur di sekelilingnya lalu diangkat. Setelah yakin tidak ada perdarahan, maka tuba dikembalikan ke dalam rongga perut

CARA KROENER/FIMBRIEKTOMI

E. CARA MADLENER
1.

Angkat bagian tengah tuba dengan cunam Pean sampai tuba melengkung sehingga terbentuk suatu lipatan terbuka.

2.

Dasar lipatan dijepit dengan cunam kuatkuat.


Ikat dasar jepitan dengan benang sutera (tidak dapat diserap).

3.

CARA MADLENER

PENUTUP DINDING PERUT


1.

2.

3.

4.

Jepit peritoneum pada jam 3, 6, 9, 12 dan jahit dengan jahitan kantung tembakau (Tobac Sac) memakai benang plain catgut nomor 0. Jahit fasia dengan jahitan angka 8 memakai benang chromic catgut nomot 1. Jahit subkutis dengan jahitan satu-satu memakai benang plain catgut nomor 0. Jahit kulit dengan jahitan satu-satu memakai benang sutera nomor 0.

PASCA OPERASI
1.

Bersihkan luka sayatan dan dinding perut dengan Iodin, tutup luka dengan kasa steril dan plester. Lepaskan tenakulum dan elevator uterus. Instruksi post op.

2. 3.