Anda di halaman 1dari 32

KEKURANGAN CAIRAN

Seorang mahasiswa 19 tahun dibawa ke IGD RS YARSI karena pingsan saat mengikuti orientasi pengenalan kampus. Pada pemeriksaan fisik: tampak lemas, bibir dan lidah kering. Sebelum dibawa ke rumah sakit, temannya telah memberikan larutan pengganti cairan tubuh. Di RS, penderita segera diberikan infus cairan elektrolit. Hasil pmeriksaan laboratorium menunjukkan: Kadar Natrium: 130 mEq/L (Normal = 135-147), Kalium: 2.5 mEq/L (N = 3.5-5.5) dan Klorida: 95 mEq/L (N = 100-106). Setelah kondisi membaik pasien diperbolehkan pulang dan dianjurkan untuk minum sesuai dengan etika Islam.

Sasaran Belajar L.O.1 Memahami dan Menjelaskan Larutan dan Cairan dalam Tubuh L.I.1.1 Definisi L.I.1.2 Klasifikasi L.I.1.3 Perbedaan dan Persamaan L.I.1.4 Fungsi L.I.1.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Larutan L.O.2 Memahami dan Menjelaskan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit pada Tubuh Manusia L.I.2.1 Komposisi dan Fungsi Cairan dan Elektrolit L.I.2.2 Mekanisme Cairan dan Elektrolit pada Manusia L.I.2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keseimbangan L.O.3 Memahami dan Menjelaskan Dehidrasi (Gangguan Keseimbangan Cairan dalam Tubuh Manusia) L.I.3.1 Definisi Dehidrasi L.I.3.2 Jenis-Jenis Dehidrasi L.I.3.3 Tingkatan Dehidrasi L.I.3.4 Penyebab Dehidrasi L.I.3.5 Gejala Klinis Dehidrasi L.I.3.6 Mekanisme Dehidrasi L.I.3.7 Pencegahan dan Penanganan Dehidrasi L.O.4 Memahami dan Menjelaskan Gangguan Keseimbangan Elektrolit dalam Tubuh Manusia L.I.4.1 Hiponatremia L.I.4.2 Hipernatremia L.I.4.3 Hipokalemia L.I.4.4 Hiperkalemia L.O.5 Memahami dan Menjelaskan Etika Minum dalam Islam L.I.5.1 Al-Quran L.I.5.2 Hadits
2

L.O.1 Memahami dan Menjelaskan Larutan dan Cairan dalam Tubuh L.I.1.1 Definisi Definisi Larutan Campuran homogen (komposisinya sama), serba sama (ukuran partikelnya), tidak ada bidang batas antara zat pelarut dengan zat terlarut (tidak dapat dibedakan secara langsung antara zat pelarut dengan zat terlarut), partikel-partikel penyusunnya berukuran sama (baik ion, atom, maupun molekul) dari dua zat atau lebih.Dalam larutan fase cair, pelarutnya (solvent) adalah cairan, dan zat yang terlarut didalamnya disebut zat terlarut (solute), bisa berwujud padat, cair, atau gas. Dengan demikian, larutan = pelarut (solvent) +zat terlarut (solute). Khusus untuk larutan cair, maka pelarutnya adalah volume terbesar. Definisi Cairan Istilah yang dipakai dalam kedokteran untuk menyebutkan cairan-cairan tubuh,sebenarnya lebih tepat didefenisikan sebagai campuran yang bersifat heterogen . Sifat heterogen ini terlihat dari partikel-partikel pembentuknya(solute dan solvent) yang masih menunjukkan sifat dari masing partikel-partikel pembentuk tersebut. Selain itu, cairan khususnya cairan tubuh, biasanya bersifat koloid ataupun suspensi, dimana ukuran partikel pembentuknya lebih besar dari ukuran partikel pembentuk larutan solute (terlarut). L.I.1.2 Klasifikasi Larutan merupakan campuran zat dengan sifat homogen yang terdiri dari solute dan solvent. Solute dan solvent dapat berupa zat padat, zat cair, dan zat gas. Macam-macam larutan dapat diklasifikasikan menjadi: 1) Berdasarkan fasanya (wujud zat)

2) Berdasarkan kejenuhannya Larutan Tak jenuh Jenuh Sangat Jenuh Secara Kualitatif Secara Kuantitatif Solute masih bisa larut dalam solvent Qc < Ksp Keadaannya berada dalam kesetimbangan Qc = Ksp Mengendap semua (sudah terdapat Qc > Ksp endapan)

3) Berdasarkan daya hantar listriknya Kekuatannya bergantung pada nilai (koefisien ionisasi). Nilai berkisar antara 0-1. Larutan Elektrolit Nilai - Elektrolit kuat = 1; karena larutan terionisasi dengan sempurna - Elektrolit lemah 0 1 = 0; karena tidak ada yang terionisasi

Non elektrolit

4) Berdasarkan kepekatan a) Larutan encer: larutan yang mengandung relative sedikit solute dalam larutan b) Larutan pekat: larutan yang mengandung banyak solute dalam larutan Cairan adalah bahan yang langsung mengalir secara alamiah,bukan padat atau gas [Kimia Kedokteran Edisi 2] Jenis-Jenis Cairan a) Cairan intraselular (CIS) : kurang lebih dua per tiga cairan tubuh b) Cairan ekstraselular (CES) : sepertiga dari cairan tubuh Terdiri dari : 1. Cairan interstitial adalah cairan disekitar tubuh sel dan limfe adalah cairan dalam pembuluh limfatik.Gabungan kedua cairan ini mencapai tiga per empat CES 2. Plasma darah adalah bagian cair dari darah dan mencapai seperempat CES 3. Cairan transeluler,sekitar 1% samapi 3% berat badan,meliputi seluruh cairan tubuh yang dipisahkan dari CES oleh lapisan sel epitel. Cairan ini meliputi keringat, cairan serebrospinal, cairan sinovial, cairan dalam peritoneum, perikardium, dan rongga pleura, cairan dalam ruang-ruang mata dan cairan dalam system pencernaan,pernafasan,dan urinaria. L.I.1.3 Perbedaan dan Persamaan Persamaan Larutan dan Cairan sama-sama terdiri dari pelarut dan zat terlarut yang terdiri dari 2 atau lebih kompartemen-kompartemen penyusunnya.

Perbedaan Larutan adalah campuran yang homogen, antara pelarut dan zat terlarutnya tidak dapat dibedakan lagi. Sedangkan cairan, adalah campuran yang heterogen yaitu antara pelarut dan zat terlarutnya masih dapat dibedakan. Partikel-partikel pembentuknya solute maupun solventnya masih menunjukkan sifat dari masing-masing partikel tersebut. L.I.1.4 Fungsi Fungsi Larutan : Secara umum larutan berfungsi untuk membentuk suatu zat baru antara solut(zat yang dilarutkan) dan solvent(zat pelarut). Selain itu, larutan juga berfungsi sebagai: 1. Darah Sebagai Larutan Penyangga Ada beberapa faktor yang terlibat dalam pengendalian pH darah, diantaranya penyangga karbonat, penyangga hemoglobin dan penyangga fosfat. a. Penyangga Karbonat Penyangga karbonat berasal dari campuran asam karbonat (H konjugasi bikarbonat (HCO 3 ). H 2 CO 3 (aq) --> HCO 3(aq) + H +(aq) Penyangga karbonat sangat berperan penting dalam mengontrol pH darah. Pelari maraton dapat mengalami kondisi asidosis, yaitu penurunan pH darah yang disebabkan oleh metabolisme yang tinggi sehingga meningkatkan produksi ion bikarbonat. Kondisi asidosis ini dapat mengakibatkan penyakit jantung, ginjal, diabetes miletus (penyakit gula) dan diare. Orang yang mendaki gunung tanpa oksigen tambahan dapat menderita alkalosis, yaitu peningkatan pH darah. Kadar oksigen yang sedikit di gunung dapat membuat para pendaki bernafas lebih cepat, sehingga gas karbondioksida yang dilepas terlalu banyak, padahal CO 2 dapat larut dalam air menghasilkan H 2 CO 3 . Hal ini mengakibatkan pH darah akan naik. Kondisi alkalosis dapat mengakibatkan hiperventilasi (bernafas terlalu berlebihan, kadang-kadang karena cemas dan histeris). b. Penyangga Hemoglobin Pada darah, terdapat hemoglobin yang dapat mengikat oksigen untuk selanjutnya dibawa ke seluruh sel tubuh. Reaksi kesetimbangan dari larutan penyangga oksi hemoglobin adalah: HHb + O 2 (g) HbO 2- + H + Asam hemoglobin ion aksi hemoglobin
2

CO

) dengan basa

Keberadaan oksigen pada reaksi di atas dapat memengaruhi konsentrasi ion H +, sehingga pH darah juga dipengaruhi olehnya. Pada reaksi di atas O 2 bersifat basa. Hemoglobin yang telah melepaskan O 2 dapat mengikat H + dan membentuk asam hemoglobin. Sehingga ion H + yang dilepaskan pada peruraian H 2 CO 3 merupakan asam yang diproduksi oleh CO 2 yang terlarut dalam air saat metabolisme. c. Penyangga Fosfat Pada cairan intra sel, kehadiran penyangga fosfat sangat penting dalam mengatur pH darah. Penyangga ini berasal dari campuran dihidrogen fosfat (H 2 PO 4- ) dengan monohidrogen fosfat (HPO 32- ). H 2 PO 4-(aq) + H +(aq)-->H 2 PO 4(aq) H 2 PO 4 - (aq) + OH -(aq) --> HPO 42-(aq)) + H 2 O (aq) Penyangga fosfat dapat mempertahankan pH darah 7,4. Penyangga di luar sel hanya sedikit jumlahnya, tetapi sangat penting untuk larutan penyangga urin. Fungsi cairan: a. Mengatur suhu tubuh Bila kekurangan air, suhu tubuh akan menjadi panas dan naik. b. Melancarkan peredaran darah Jika tubuh kita kurang cairan, maka darah akan mengental. Hal ini disebabkan cairan dalam darah tersedot untuk kebutuhan dalam tubuh. Proses tersebut akan berpengaruh pada kinerja otak dan jantung. c. Membuang racun dan sisa makanan Tersedianya cairan tubuh yang cukup dapat membantu mengeluarkan racun dalam tubuh. Air membersihkan racun dalam tubuh melalui keringat, air seni, dan pernafasan. d. Kulit Air sangat penting untuk mengatur struktur dan fungsi kulit. Kecukupan air dalam tubuh berguna untuk menjaga kelembaban, kelembutan, dan elastisitas kulit akibat pengaruh suhu udara dari luar tubuh.

e. Pencernaan Peran air dalam proses pencernaan untuk mengangkut nutrisi dan oksigen melalui darah untuk segera dikirim ke sel-sel tubuh. Konsumsi air yang cukup akan membantu kerja sistem pencernaan di dalam usus besar karena gerakan usus menjadi lebih lancar, sehingga feses pun keluar dengan lancar.

f. Pernafasan Paru-paru memerlukan air untuk pernafasan karena paru-paru harus basah dalam bekerja memasukkan oksigen ke sel tubuh dan memompa karbondioksida keluar tubuh. Hal ini dapat dilihat apabila kita menghembuskan nafas ke kaca, maka akan terlihat cairan berupa embun dari nafas yang dihembuskan pada kaca. g. Sendi dan Otot Cairan tubuh melindungi dan melumasi gerakan pada sendi dan otot. Otot tubuh akan mengempis apabila tubuh kekurangan cairan. Oleh sebab itu, perlu minum air dengan cukup selama beraktivitas untuk meminimalisir resiko kejang otot dan kelelahan. h. Pemulihan penyakit Air mendukung proses pemulihan ketika sakit karena asupan air yang memadai berfungsi untuk menggantikan cairan tubuh yang terbuang. L.I.1.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Larutan 1. Sifat dari solute dan solvent Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar juga. Misalnya garam-garam anorganik. 2. Cosolvensi Peristiwa kenaikan kelarutan zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. 3. Kelarutan Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut, sedangkan yang sukar larut memerlukan banyak pelarut. 4. Temperatur Kelarutan gas umumnya berkurang pada tempertaur yang tinggi. Misalnya jika air dipanaskan, maka timbul gelembung-gelembung gas yang keluar dariair, sehingga gas yang terlarut air tersebut menjadi berkurang. 5. Salting Out Peristiwa adanya zat terlarut tertentu mempunyai kelarutan lebih besar daripada zat utama, akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena reaksi kimia. 6. Salting in Peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zatutama dalam solvent menjadi lebih besar. 7. Pembentukan kompleks Peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dalam pembentukan garam kompleks. 8. Efek ion-ion sejenis Sebuah endapan secara umum lebih dapat larut dalam air murni dibandingkan di dalam sebuah larutan yang mengandung satu dari ion-ion endapan. Dengan banyaknya ion sejenis yang berlebihan, kelarutan dari sebuah endapan bisa jadi lebihbesar dari pada nilai yang telah diperkirakan melalui tetapan kelarutan produk. 9. Tekanan
7

Tidak berpengaruh pada zat padat dan cair, tapi gas dalam cairan sangat berpengaruh. Semakin tinggi tekanan yang diberikan terhadap gas, semakin tinggi kelarutan gas dalam zat cair. L.O.2 Memahami dan Menjelaskan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit pada Tubuh Manusia L.I.2.1 Komposisi dan Fungsi Cairan dan Elektrolit A. Distribusi cairan Cairan tubuh didistribusi dalam dua kompartemen yang berbeda, yakni : cairan Ekstrasel (CES) dan cairan intrasel (CIS)

1.

Cairan Ekstrasel (CES)

Cairan yang berada di luar sel disebut cairan ekstraselular. Jumlah relatif cairan ekstraselular berkurang seiring dengan usia. Pada bayi baru lahir, sekitar setengah dari cairan tubuh terdapat di cairan ekstraselular. Setelah usia 1 tahun, jumlah cairan ekstraselular menurun sampai sekitar sepertiga dari volume total. Ini sebanding dengan sekitar 15 liter pada dewasa muda dengan berat rata-rata 70 kg. Cairan ekstrasel diklasifikasikan menjadi beberapa macam : a. Cairan Interstitial

Cairan yang mengelilingi sel termasuk dalam cairan interstitial, sekitar 11-12 liter pada orang dewasa. Cairan limfe termasuk dalam volume interstitial. Relatif terhadap ukuran tubuh, volume ISF adalah sekitar 2 kali lipat pada bayi baru lahir dibandingkan orang dewasa. b. Cairan Intravaskular

Merupakan cairan yang terkandung dalam pembuluh darah (contohnya volume plasma). Rata-rata volume darah orang dewasa sekitar 5-6L dimana 3 liternya merupakan plasma, sisanya terdiri dari sel darah merah, sel darah putih dan platelet.

c.

Cairan transeluler

Merupakan cairan yang terkandung diantara rongga tubuh tertentu seperti serebrospinal, perikardial, pleura, sendi sinovial, intraokular dan sekresi saluran pencernaan. Pada keadaan sewaktu, volume cairan transeluler adalah sekitar 1 liter, tetapi cairan dalam jumlah banyak dapat masuk dan keluar dari ruang transeluler. 2. Cairan intrasel (CIS)

Cairan yang terkandung di antara sel disebut cairan intraselular. Pada orang dewasa, sekitar duapertiga dari cairan dalam tubuhnya terdapat di intraselular (sekitar 27 liter rata-rata untuk dewasa laki-laki dengan berat badan sekitar 70 kilogram), sebaliknya pada bayi hanya setengah dari berat badannya merupakan cairan intraselular. Prosentase Total Cairan Tubuh Dibandingkan Berat Badan

Distribusi Cairan Tubuh

Nilai Rata-Rata Cairan Ekstraseluler (Ces) Dan Cairan Intraseluler (Cis) Pada Dewasa Normal Terhadap Berat Badan

Bagi manusia, air berfungsi sebagai bahan pembangunan disetiap sel tubuh. Cairan manusia memiliki fungsi yang sangat vital, yaitu untuk mengontrol suhu tubuh dan menyediakan lingkungan yang baik bagi metabolisme. Cairan tubuh bersifat elektrolit (mengandung atom bermuatan listrik) dan alkalin (basa). Dengan demikian air digunakan dalam tubuh sebagai pelarut, bagian dari pelumas, pereaksi kimia, mengatur suhu tubuh, sebagai sumber mineral, serta membantu memelihara bentuk dan susunan tubuh. Air yang dibutuhkan manusia berasal dari makanan dan minuman serta pertukaran zat dalam tubuh. Air mempunyai berbagai fungsi dalam proses vital tubuh, yaitu :

Pelarut dan alat angkut. Air dalam tubuh berfungsi sebagai pelarut zat-zat gizi berupa monosakarida, asam amino, lemak, vitamin dan mineral serta bahan-bahan lain yang diperlukan tubuh seperti oksigen, dan hormon-hormon. Katalisator. Air berperan sebagai katalisator dalam berbagai reaksi biologik dalam sel, termasuk didalam saluran cerna. Air diperlukan pula untuk memecah atau menghidrolisis zat gizi kompleks menjadi bentuk-bentuk lebih sederhana. Pelumas. Air berperan sebagai pelumas dalam cairan sendi-sendi tubuh. Fasilitator pertumbuhan. Air sebagai bagian jaringan tubuh diperlukan untuk pertumbuhan. Dalam hal ini air berperan sebagai zat pembangun. Pengatur suhu. Karena kemampuan air untuk menyalurkan panas, air memegang peranan dalam mendistribusikan panas didalam tubuh. Peredam benturan. Air dalam mata, jaringan syaraf tulang belakang, dan dalam kantung ketuban melindungi organ-organ tubuh dari benturan-benturan.

Kebutuhan air sehari dikatakan sebagai proporsi terhadap jumlah energi yang dikeluarkan tubuh dalam keadaan lingkungan rata-rata. Untuk orang dewasa dibutuhkan sebanyak 1.0-1.5 ml/kkal, sedangkan untuk bayi 1.5 ml/kkal. B. Distribusi elektrolit 1) Ion positif ( kation ) Kation utama dalam cairan ekstraselular adalah sodium (Na+), sedangkan kation utama dalam cairan intraselular adalah potassium (K+). Suatu sistem pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa keluar sodium dan potassium ini. (Na+) Natrium adalah kation utama ekstrasel, penting dalam memepertahankan tekanan darah, kerja persarafan dan otot.

10

Kadar normal

Fungsi natrium: 1. Solute utama yang secara osmotic aktif bertanggung jawab mempertahankan volume intravaskuler dan interstitial 2. Natrium intraseluler berperan dalam memodifikasi aktivitas enzim intraseluler tertentu. 3. Menentukan status volume air dalam tubuh. Mekanisme natrium: 1. Absorbsi: Terjadi di seluruh saluran pencernaan, paling sedikit di lambung dan paling banyak di jejunum. Absorbsi mungkin berlangsung dengan system adenosine trifosfat (ATPase) yang diaktivasi natrium-kalium. Sistem ini memudahkan gerakan gerakan natrium oleh protein transport yang merangkain natrium dengan glukosa. Mekanisme transport natrium di usus di tingkatkan oleh aldosterone dan desoksikortikosteron asetat. 2. Ekskresi: Ekskresi natrium terjadi melalui urin, keringat dan tinja. Ginjal merupakan organ utama untuk pengaturan fakultatif keluaran natrium. Dalam keadaan normal, konsentrasi natrium dalam keringat berkisar antara 5-40 mEq/L. Kadar yang lebih tinggi dapat dijumpai pada kistik fibrosis, yang dapat berperan untuk terjadinya kehilangan natrium tubuh, dan pada penyakit Addison. Sedangkan kadar yang lebih rendah dapat dijumpai pada kekurangan natrium dan hiperaldosteronisme. Hanya ada sedikit bukti yang menunjukan bahwa perubahan kadar natrium keringat adalah merupakan bagian dari mekanisme ekskresi untuk mengatur kandungan natrium tubuh dalam keadaan normal. Tanpa adanya diare, konsentrasi natrium tinja rendah. - Kerja terintegrasi semua segmen nefron mengatur ekskresi natrium ginjal. Pengelolaan natrium ginjal ditandai oleh dua proses tubulus yang terkoordinasi. Pertama, reabsorbsi natrium di tubulus proksimalis dan lengkung henle menghantarkan proporsi tertentu beban filtrasi natrium ke nefron distal. Kedua, reabsorbsi natrium di tubulus distalis dan duktus koligentes merupakan pengatur jumlah natrium yang di ekskresi, yang jumlahnya mendekati jumlah natrium yang dimakan. Pada keadaan normal, sekitar dua pertiga natrium yang difiltrasi di rebasorbsi oleh tubulus kontortus proksimal. (K+) Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan ekstraseluler berperan penting di dalam terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit. Jumlah kalium dalam tubuh sekitar 53 mEq/kgBB dimana 99% dapat berubah-ubah sedangkan yangtidak dapat berpindah adalah kalium yang terikat dengan protein didalam sel.
11

Kadar kalium plasma 3,5-5,0 mEq/liter, kebutuhan setiap hari 1-3 mEq/kgBB.Keseimbangan kalium sangat berhubungan dengan konsentrasi H+ ekstraseluler. Ekskresi kalium lewat urine 6090 mEq/liter, faeces 72 mEq/liter dan keringat 10mEq/liter. 2) Ion negative ( anion )

Anion utama dalam cairan ekstraselular adalah klorida (Cl-) dan bikarbonat (HCO3-), sedangkan anion utama dalam cairan intraselular adalah ion fosfat (PO43-). (Cl-) Kadar ion klorida berlebih di ruang ekstrasel, dan merupakan komponenutama dari sekresi kelenjar gaster. Berfungsi dalam membantu proses keseimbangannatrium. Sumber ion klorida banyak terdapat dalam garam dapur. Kadar normal 95-108 mEq/L.

L.I.2.2 Mekanisme Cairan dan Elektrolit pada Manusia Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urin sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. 1. Pengaturan volume cairan ekstrasel Penurunan volume cairan ekstrasel menyebabkan penurunan tekanan darah arteri dengan menurunkan volume plasma. Sebaliknya, peningkatan volume cairan ekstrasel dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri dengan memperbanyak volume plasma. Pengontrolan volume cairan ekstrasel penting untuk pengaturan tekanan darah jangka panjang. Pengaturan volume cairan ekstrasel dapat dilakukan dengan cara: a. Mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran (intake & output) air Untuk mempertahankan volume cairan tubuh kurang lebih tetap, maka harus ada keseimbangan antara air yang ke luar dan yang masuk ke dalam tubuh. Hal ini terjadi karena adanya pertukaran cairan antar kompartmen dan antara tubuh dengan lingkungan luarnya.

12

Pengaturan keseimbangan air oleh ginjal dan otak disajikan pada diagram berikut : Ginjal Otak

ADH dikeluarkan bilamana konsentrasi garam tubuh terlalu tinggi, atau bila volume darah atau tekanan darah terlalu rendah. ADH merangsang ginjal untuk menahan atau menyerap air kembali dan mengedarkannya kembali kedalam tubuh. Jadi, semakin banyak air dibutuhkan tubuh, semakin sedikit yang dikeluarkan. Bila terlalu banyak air keluar dari tubuh, volume darah dan tekanan darah akan turun. Sel-sel ginjal akan mengeluarkan enzim renin. Renin mengaktifkan protein di dalam darah yang dinamakan angiotensin kedalam bentuk aktifnya angiotensin. Angiotensin akan mengecilkan diameter pembuluh darah sehingga tekanan darah akan naik. Disamping itu angiotensin mengatur pengeluaran hormon aldosteron dari kelenjar adrenalin. Aldosteron akan mempengaruhi ginjal untuk menahan natrium dan air. Akibatnya bila dibutuhkan lebih banyak air, akan lebih sedikit air dikeluarkan tubuh.

b. Memperhatikan keseimbangan garam Seperti halnya keseimbangan air, keseimbangan garam juga perlu dipertahankan sehingga asupan garam sama dengan keluarannya. Permasalahannya adalah seseorang hampir tidak pernah memperhatikan jumlah garam yang ia konsumsi sehingga sesuai dengan kebutuhannya. Tetapi, seseorang mengkonsumsi garam sesuai dengan seleranya dan cenderung lebih dari kebutuhan.Kelebihan garam yang dikonsumsi harus diekskresikan dalam urin untuk mempertahankan keseimbangan garam. Ginjal mengontrol jumlah garam yang diekskresi dengan cara: 1. Mengontrol jumlah garam (natrium) yang difiltrasi dengan pengaturan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)/ Glomerulus Filtration Rate(GFR).
13

2. Mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjal Jumlah Na+ yang direabsorbsi juga bergantung pada sistem yang berperan mengontrol tekanan darah. Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur reabsorbsi Na+ dan retensi Na+ di tubulus distal dan collecting. Retensi Na+ meningkatkan retensi air sehingga meningkatkan volume plasma dan menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri. Selain sistem renin-angiotensin-aldosteron, Atrial Natriuretic Peptide (ANP) atau hormon atriopeptin menurunkan reabsorbsi natrium dan air. Hormon ini disekresi oleh sel atrium jantung jika mengalami distensi akibat peningkatan volume plasma. Penurunan reabsorbsi natrium dan air di tubulus ginjal meningkatkan eksresi urin sehingga mengembalikan volume darah kembali normal. 2. Pengaturan osmolaritas cairan ekstrasel Osmolaritas cairan adalah ukuran konsentrasi partikel solut (zat terlarut) dalam suatu larutan. Semakin tinggi osmolaritas, semakin tinggi konsentrasi solute atau semakin rendah konsentrasi air dalam larutan tersebut. Air akan berpindah dengan cara osmosis dari area yang konsentrasi solutnya lebih rendah (konsentrasi air lebih tinggi) ke area yang konsentrasi solutnya lebih tinggi (konsentrasi air lebih rendah). Osmosis hanya terjadi jika terjadi perbedaan konsentrasi solut yang tidak dapat menembus membran plasma di intrasel dan ekstrasel. Ion natrium merupakan solut yang banyak ditemukan di cairan ekstrasel, dan ion utama yang berperan penting dalam menentukan aktivitas osmotik cairan ekstrasel. Sedangkan di dalam cairan intrasel, ion kalium bertanggung jawab dalam menentukan aktivitas osmotik cairan intrasel. Distribusi yang tidak merata dari ion natrium dan kalium ini menyebabkan perubahan kadar kedua ion ini bertanggung jawab dalam menentukan aktivitas osmotik di kedua kompartmen ini. Pengaturan osmolaritas cairan ekstrasel oleh tubuh dilakukan melalui: a. Perubahan osmolaritas di nefron Di sepanjang tubulus yang membentuk nefron ginjal, terjadi perubahan osmolaritas yang pada akhirnya akan membentuk urin yang sesuai dengan keadaan cairan tubuh secara keseluruhan di duktus koligen. Glomerulus menghasilkan cairan yang isosmotik di tubulus proksimal ( 300 mOsm). Dinding tubulus ansa Henle pars desending sangat permeable terhadap air, sehingga di bagian ini terjadi reabsorbsi cairan ke kapiler peritubular atau vasa recta. Hal ini menyebabkan cairan di dalam lumen tubulus menjadi hiperosmotik. Dinding tubulus ansa henle pars asenden tidak permeable terhadap air dan secara aktif memindahkan NaCl keluar tubulus. Hal ini menyebabkan reabsorbsi garam tanpa osmosis air. Sehingga cairan yang sampai ke tubulus distal dan duktus koligen menjadi hipoosmotik. Permeabilitas dinding tubulus distal dan duktus koligen bervariasi bergantung pada ada tidaknya vasopresin (ADH). Sehingga urin yang dibentuk di duktus koligen dan akhirnya di keluarkan ke pelvis ginjal dan ureter juga bergantung pada ada tidaknya vasopresin/ ADH.
14

b. Mekanisme haus dan peranan vasopresin (anti diuretic hormone/ ADH) Peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel (> 280 mOsm) akan merangsang osmoreseptor di hypothalamus. Rangsangan ini akan dihantarkan ke neuron hypothalamus yang menyintesis vasopressin. Vasopresin akan dilepaskan oleh hipofisis posterior ke dalam darah dan akan berikatan dengan reseptornya di duktus koligen. Ikatan vasopressin dengan resptornya di duktus koligen memicu terbentuknya aquaporin, yaitu kanal air di membrane bagian apeks duktus koligen. Pembentukan aquaporin ini memungkinkan terjadinya reabsorbsi cairan ke vasa recta. Hal ini menyebabkan urin yang terbentuk di duktus koligen menjadi sedikit dan hiperosmotik atau pekat, sehingga cairan di dalam tubuh tetap dapat dipertahankan. Selain itu, rangsangan pada osmoreseptor di hypothalamus akibat peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel juga akan dihantarkan ke pusat haus di hypothalamus sehingga terbentuk perilaku untuk mengatasi haus, dan cairan di dalam tubuh kembali normal. Pengaturan Neuroendokrin dalam Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Sebagai kesimpulan, pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit diperankan oleh system saraf dan sistem endokrin. Sistem saraf mendapat informasi adanya perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit melali baroreseptor di arkus aorta dan sinus karotiikus, osmoreseptor di hypothalamus, dan volumereseptor atau reseptor regang di atrium. Sedangkan dalam sistem endokrin, hormon-hormon yang berperan saat tubuh mengalami kekurangan cairan adalah Angiotensin II, Aldosteron, dan Vasopresin/ ADH dengan meningkatkan reabsorbsi natrium dan air. Sementara, jika terjadi peningkatan volume cairan tubuh, maka hormone atripeptin (ANP) akan meningkatkan ekskresi volume natrium dan air . Faktor-faktor lain yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit diantaranya ialah umur, suhu lingkungan, diet, stress, dan penyakit.

L.I.2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keseimbangan

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan dan elektrolit diantaranya adalah: 1. Usia Variasi usia berkaitan dengan luas permukaan tubuh, metabolisme yang diperlukan dan berat badan. selain itu sesuai aturan, air tubuh menurun dengan peningkatan usia. Berikut akan disajikan dalam tabel perubahan pada air tubuh total sesuai usia.

15

2. Jenis kelamin Wanita mempunyai air tubuh yang kurang secara proporsional, karena lebih banyak mengandung lemak tubuh 3. Sel-sel lemak Mengandung sedikit air, sehingga air tubuh menurun dengan peningkatan lemak tubuh 4. Stres Stres dapat menimbulkan peningkatan metabolisme sel, konsentrasi darah dan glikolisis otot, mekanisme ini dapat menimbulkan retensi sodium dan air. Proses ini dapat meningkatkan produksi ADH dan menurunkan produksi urine 5. Sakit Keadaan pembedahan, trauma jaringan, kelainan ginjal dan jantung, gangguan hormon akan mengganggu keseimbangan cairan 6. Temperatur lingkungan Panas yang berlebihan menyebabkan berkeringat. Seseorang dapat kehilangan NaCl melalui keringat sebanyak 15-30 g/hari 7. Diet Pada saat tubuh kekurangan nutrisi, tubuh akan memecah cadangan energi, proses ini akan menimbulkan pergerakan cairan dari interstisial ke intraselular.

16

L.O.3 Memahami dan Menjelaskan Dehidrasi (Gangguan Keseimbangan Cairan dalam Tubuh Manusia) L.I.3.1 Definisi Dehidrasi Kehilangan air dari tubuh atau jaringan atau keadaan yang merupakan akibat kehilangan air abnormal (Ramali & Pamoentjak 1996). Hilangnya cairan dari semua pangkalan cairan tubuh (Guyton 1995) L.I.3.2 Jenis-Jenis Dehidrasi 1. Menurut Long 1992 Dehidrasi isotonis Dehidrasi dimana kekurangan air lebih dominan disbanding kekurangan elektrolit. Pada dehidrasi jenis ini terjadi pemekatan cairan ekstraselullar, sehingga terjadi perpindahan air dari intrasel ke ekstrasel yang menyebabkan terjadi dehidrasiintraselullar. Bila cairan intrasel berkuranglebih dari 20%, maka sel akan mati. Dehidrasi jenis ini terjadi bila seseorang minum air laut pada saat kehausan berat. Dehidrasi hipertonik Dehidrasi dimana kekurangan elektrolit lebih dominan dibanding kekurangan air. Pada dehidrasi jenis ini cairan ekstraselullar bersifat hipotonis, sehingga terjadi perpindahan airdari ekstrasel ke intrasel yang menyebabkan terjadi edema intrasel. Dehidrasi jenis ini terjadi bila seseorang yang mengalami kekurangan cairan hanya diatasi dengan minum air murni tanpa mengandung elektrolit. 2. Buku Vade MecumPediatri Dehidrasi isotonic (isonatremia) Terjadi kehilangan air dan natrium secara proporsional (natrium serum 130-150 mmol/L). pertahankan konsentrasi cairan tubuh dan osmolalitas dalam batas normal. Dengan demikian, tidak ada perbedaan tekanan osmotic antara cairan intraselular dengan ekstraselular, dan kehilangan cairan terbatas pada cairan ekstraselular. Dehidrasi hipotonik (hiponatremia) Pada dehidrasi hipotonik, natrium yang hilang lebih banyak disbanding airnya (natrium serum <130 mmol/L). cairan yang sebenarnya hilang bersifat hipertonik sehingga cairan ekstraselular mula-mula menjadi hipotonikdibanding cairan intraselular. Air berpindah dari ruang ekstraselular ke intraselular. Peningkatan volume intraselular akan menyebabkan peningkatan volume dalam otak dan kadangkadang menimbulkan kejang, sedangkan kehilangan cairan ekstraselular yang nyta menyebabkan syok yang lebih besar untuk setiap unit air yang hilang. Dehidrasi hipertonik (hipernatremia) Pada dehidrasi hipertonik (hipernatremia), terdapat kehilangan cairan dan natrium yang tidak proporsional (natrium serum >150 mmol/L). cairan yang hilang hipotonik, biasanya karena kehilangan cairan insensible yang tinggi (demam tinggi atau lingkungan yang panas dan kering, poliuriapada diabetes insipidus atau diare rendah natrium yang kadang-kadang diperberat dengan pemberian diet yang terlalu encer
17

atau kandungan protein yang tinggi). Mula-mula cairan ekstraselularmenjadi hipertonik disbanding intraselular sehingga terjadi pergeseran air dari ruang intraselular ke ekstraselular. Meskipun tanda-tanda akibat kehilangan cairan ekstraselular per unit cairan yang hilang berkurang,air yang tertarik keluardari otak dan pelisutan jaringan serebral dapat menyebabkan perdarahan di beberapa bagian otak dan menimbulkan kejang. L.I.3.3 Tingkatan Dehidrasi 1. Dehidrasi Ringan. Yaitu kehilangan cairan 2-5% dari berat badan semula. Tanda ciri dehidrasi yang masuk dalam kategori ini bisa kita kenali dengan gejala-gejala semacam mulut dan bibir kering serta lengket, turgor kulit normal, denyut jantung meningkat, tenggorokan kering, sakit kepala. Pada anak atau bayi tanda cirinya bisa dikenali dengan bayi menjadi rewel dan juga bayi menangis, mata terlihat cekung, meningkatnya rasa haus. 2. Dehidrasi Sedang. Kehilangan cairan 5-10% dari berat badan semula. Ciri dehidrasi sedang terlihat dengan orang yang mengantuk, pusing, otot lemah, mata kering, haus, produksi urin sedikit dan mulai berwarna kuning tua, silau melihat sinar, suhu tubuh meningkat (demam). 3. Dehidrasi Berat. Kehilangan cairan > 10% dari berat badan semula. Gejala orang mengalami dehidrasi berat adalah sebagai berikut : urine berwarna kuning gelap sampai oranye tua, hipotensi, ekstremitas dingin, kram otot, kondisi fisik sangat lemah, lidah bengkak, nadi cepat (takikardia), elastisitas hilang, mata cekung, menggigil, penurunan fungsi ginjal, kulit kering, terkadang bisa sampai terjadi pingsan. Tanda Kehilangan cairan Warna kulit Turgor kulit Membrane mukosa Haluaran urine Tekanan darah Denyut nadi Ringan <5% Pucat Menurun Kering Menurun Normal Normal atau meningkat Sedang 5-9% Abu-abu Tidak elastic Sangat kering Oliguria Normal atau semakin rendah Meningkat Berat >10% Bercak-bercak Sangat tidak elastic Pecah-pecah Oliguria nyata Semakin rendah Cepat dan panjang

L.I.3.4 Penyebab Dehidrasi Pada orang dewasa: 1. Aktivitas Orang yang banyak aktivitasnya lebih banyak mengeluarkan cairan tubuh melalui keringat dari pada orang yang tidak beraktivitas.
18

2. Diare Diare merupakan keadaan yang paling sering menyebabkan kehilangan cairan dalam jumlah besar. Di seluruh dunia, 4 juta anak meninggal setiap tahun karena dehidrasi akibat diare. 3. Usia Semakin tua usianya, kerja organ semakin menurun. 4. Muntah Muntah sering menyebabkan dehidrasi, karena sangat sulit untuk menggantikan cairan yang keluar dengan cara minum. 5. Berkeringat Tubuh kehilangan banyak cairan saat berkeringat. Kondisi lingkungan yang panas akan menyebabkan tubuh berusaha mengatur suhu tubuh dengan mengerluarkan keringat. Bila keadaan ini berlangsun lama, sementara pemasukan cairan kurang maka tubuh dapat jatuh ke dalam kondisi dehidrasi. 6. Diabetes Peningkatan kadar gula darah pada penderita diabetes atau kencing manis akan menyebabkan banyak gula dan air yang dikeluarkan melalui kencing sehingga penderita diabetes akan mengeluh sering kebelakang untuk kencing. 7. Luka bakar Penderita luka bakar dapat mengalami dehidrasi akibat keluarnya cairan berlebihan pada pada kulit yang rusak oleh luka bakar. 8. Kesulitan Minum Orang yang mengalami kesulitan minum oleh karena suatu sebab rentan untuk jatuh ke kondisi dehidrasi. 9. Gastroenteritis Ini adalah penyebab paling umum dehidrasi. Jika disertai muntah dan diare,dehidrasi akan semakin mudah terjadi. 10. Stomatitis Nyeri dapat membatasi asupan oral. 11. Diabetic ketoasidosis (DKA) Dehidrasi ini disebabkan oleh diuresis osmotik. Penurunan berat badandisebabkan oleh kehilangan cairan yang berlebihan dan katabolisme jaringan. Rehidrasi cepat, dapat
19

menimbulkan hasil neurologis yang buruk. DKA sangat spesifik dan memerlukan perawatan yang intensif. 12. Demam Demam mengakibatkan peningkatan insensible loss water dan dapat mempengaruhi nafsu makan. 13. Pharyngitis Ini dapat mengurangi asupan oral. 14. Congenital adrenal hiperplasia Berhubungan dengan hipoglikemia, hipotensi,hiperkalemia, dan hiponatremia. 15. Heat stroke Hyperpyrexia, kulit kering, dan perubahan status mental dapat terjadi. 16. Cystic Fibrosis Mengakibatkan kerugian natrium dan klorida keringat,menempatkan pasien pada risiko hiponatremia, hipokloremia dan dehidrasi parah. 17. Diabetes insipidus Output urin yang berlebihan yang sangat encer dapat mengakibatkan kerugian besar air bebas dan hipernatremia. 18. Tirotoksikosis Berat badan yang diamati, meskipun nafsu makan meningkat, Diare tetap terjadi Pada anak-anak : 1. Diare

Pada saat mengalami diare, anak kerap kehilangan nafsu makan dan seringkali tidak mau minum. Akibatnya, cairan yang masuk dan keluar dari tubuh tidak seimbang. Tak hanya itu, sejumlah mineral penting, sepertisodium, potasium, dan klorida juga ikut terbuang. 2. Pneumonia

Bayi atau balita yang mengalami pneumonia atau radang paru-paru biasanya mengalami demam tinggi dan napas terengah-engah. Hal ini akan membuat cairan, berupa uap air, yang keluar dari paru-paru juga meningkat. Penanganan yang terlambat atau tidak tepat bisa mengakibatkan dehidrasi. 3. Kurang Makan dan Minum

20

Kondisi ini jarang terjadi, pasalnya kalau lapar atau haus umumnya bayi akan menangis minta makan atau minum. Namun mungkin saja saatanak sedang sakit, ia kehilangan nafsu makan dan minum. Jika hal initerjadi selama 3 - 5 hari maka dehidrasi bisa terjadi. L.I.3.5 Gejala Klinis Dehidrasi Tanda dan gejala Dehidrasi ringan Dehidrasi sedang 6-9 Haus,gelisah atau letargis Haus,sadarvhipotensi postural tekanan Cepat dan lemah Dehidraasi berat 10 atau lebih

3-5 Kehilanagan berat badan Kesan dan Haus,sadar,gelisah kondisi umum , Anak besar Haus,sadar,gelisah dandewasa Kecepatan dan Nadi radial normal Respirasi Fontanella anterior Tekanan darah sistolik Elastisitas kulit Mata Air mata Membran mukosa Keluaran Kencing Normal normal normal cibiran norma adal lembab normal segera

Mengantuk, ekstreminitas lemas ,dingin sianotik Sadar kuatir ,sianotik,kulit jari tanagan dan kaki berkerut Dalam mungkin cepat Cepat sangat lemah , Cekung Dalam dancepat Sangat cekung Normal atau rendah Rendah mungkin Cubitan kembali tidak terukur kenmbali perlahan Cubitan tidak segera Cekung kembali Kering Sangat cekung Kering Sangat kering Jumlah berkurang dan Anuria olgiria tepat tepat

normal Pengesian kembali kapiler 30-50 Perkiraan defisit cairan L.I.3.6 Mekanisme Dehidrasi

2 detik 60-90

3 detik 100 atau lebih

Kehilangan cairan ekstrasel secara berlebihan menyebabkan volume ekstrasel berkurang (hipo volume). Berkurangnya volume air tanpa elektrolit (natrium) Osmolaritas (Konsentrasi Na di ekstrasel) Cairan intrasel berpindah ke ekstrasel Volume cairan intrasel berkurang (dehidrasi) melalui: Keringat, penguapan dari kulit, saluran intestinal,
21

diabetes insipidus (sentral dan nefrogenik), diuresis osmotik Timbulnya rasa haus untuk mengadaptasi kekurangan cairan dengan meminum air. L.I.3.7 Penanganan Dehidrasi Prinsip utama pengobatan dehidrasi adalah penggantian cairan. Penggantian cairan ini dapat berupa banyak minum, bila minum gagal maka dilakukan pemasukan cairan melalui infus. Tapi yang utama disini adalah penggantian cairan sedapat mungkin dari minuman. Keputusan menggunakan cairan infus sangat terggantung dari kondisi pasien berdasarkan pemeriksaan dokter. Keberhasilan penanganan dehidrasi dapat dilihat dari produksi kencing. Penggunaan obat obatan diperlukan untuk mengobati penyakit penyakit yang merupakan penyebab dari dehidrasi seperti diare, muntah dan lain lain. Dehidrasi dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Dehidrasi sangat mudah dikenali saat awal kejadian sehingga makin cepat dilakukan koreksi maka akan semakin baik hasil yang didapatkan. Koreksi yang paling cepat tentu dapat dilakukan di rumah. Beberapa langkah yang dapat dilakukan di rumah untuk mencegah terjadinya dehidrasi antara lain : Penderita diare dan muntah muntah dapat diberikan pengobatan awal untuk mencegah kehilangan cairan yang lebih lanjut. Obat obatan ini terutama untuk mengurangi gejala yang terjadi. Obat penurun panas dapat diberikan untuk menurunkan suhu tubuh. Penderita diberikan minum sebanyak mungkin dengan cara bertahap namun frekuensinya ditingkatkan. Jika dengan tindakan diatas, gejala dehidrasi tidak membaik atau bertambah buruk, segeralah menuju rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Derajat Dehidrasi ringan (kehilangan cairan 2 -5 % BB) Dehidrasi Sedang ( kehilangan cairan 5 - % BB) Tanda dan Gejala Membrane mukosa kering, meningkatnya rasa haus, turgor kulit menurun Pre syok / syok. Turgor kulit buruk, tekanan darah menurun, takikardi, nadi lemah, napasc epat, kulit lembab dan dingin Tanda dan gejala pada dehidrasi sedang dengan kesadaran menurun, sianosis, danotot kaku. Pencegahan Output cairan = input cairan Penanganan Memberikan cairan 50 ml/kg BB per oral setial interval 4 jam

Memberikan cairan 100 ml/kg BB ataulebih setiap 4 jam peroral

Dehidrasi berat (kehilangan cairan 8 10 % BB)

Dilakukan pemasangan IV access, dan pemberian cairan pada dewasa diberikan bolus 20 cc/kgBB/jam, bila hemodinamikbelum stabil kombinasikan pemberian cairan dengan koloid

22

L.O.4 Memahami dan Menjelaskan Gangguan Keseimbangan Elektrolit dalam Tubuh Manusia L.I.4.1 Hiponatremia

Kadar Na+ serum < 135 mEq/L Hiponatremia : depletional and dilutional Depletional Hiponatremia (kehilangan Na) Diuretik Muntah Diare kronis Aldosterone Intake Na Hiperglikemia Dilutional Hiponatremia: -Disfungsi ginjal dengan intake cairan hipotonik -Keringat banyak rasa haus intake air berlebihan -Gangguan ekskresi air oleh ginjal (oliguric renal failure, severe congestive heart failure)
23

Manifestasi klinik: Turgor kulit buruk Mucosa kering Produksi saliva kurang Hipotensi ortostatik Mual/kram abdomen Status mental berubah

Bahaya apabila konsentrasi natrium terlalu rendah, ia menjadi hipotonik kemudian berlakunya osmosis air dari ekstraselular ke intraselular yang akan menyebabkan sel hemolysis. Air masuk ke dalam sel otak edema serebral Tanda : <125 mEq/L nausea and malaise <120 mEq/L headache, lethargy, obtundation <115 mEq/L seizure and coma (neurological symptoms) L.I.4.2 Hipernatremia Plasma Na > 145 mEq/L Keadaan dengan defisit cairan relatif. Eksresi air > ekskresi natrium Asupan natrium > jumlah cairan tubuh Pada keadaan: Demam dengan banyak keringat Kehilangan air melalui saluran nafas Diabetes polyuria Sedikit minum hypodipsia Cairan bergerak dari Intrasel ekstrasel Gejala: Haus, letargy, dehidrasi sel otak dan penurunan volume pembuluh darah.

L.I.4.3 Hipokalemia Hipokalemia merupakan kejadian yang sering dijumpai. Penyebab hipokalemia dapat dibagi sebagai berikut (Unit Pendidikan Kedokteran-Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan FKUI, 2007) : 1) Asupan Kalium Kurang
24

Asupan kalium normal berkisar antara 40-120 mEq per hari. Hipokalemia akibat asupan kalium kurang biasanya disertai oleh masalah lain misalnya pada pemberian diuretik atau pemberian diet rendah kalori pada program menurunkan berat badan (Unit Pendidikan KedokteranPengembangan Keprofesian Berkelanjutan FKUI, 2007). 2) Pengeluaran Kalium Berlebihan Pengeluaran kalium berlebihan terjadi melalui saluran cerna, ginjal atau keringat. Pada saluran cerna bawah (diare, pemakaian pencahar), kalium keluar bersama bikarbonat (asidosis metabolik). Pengeluaran kalium yang berlebihan melalui ginjal dapat terjadi pada pemakaian diuretik. Pengeluaran kalium berlebihan melalui keringat dapat terjadi bila dilakukan latihan berat pada lingkungan yang panas sehingga produksi keringat mencapai 10 L (Unit Pendidikan Kedokteran-Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan FKUI, 2007). 3) Kalium Masuk ke Dalam Sel Kalium masuk ke dalam sel dapat terjadi pada alkalosis ekstrasel, pemberian insulin, peningkatan aktivitas beta-andrenergik, paralisis periodik hipokalemik, hipotermia. Defisit ion kalium tergantung pada lamanya kontak dengan penyebab dan konsentrasi ion kalium serum (Unit Pendidikan Kedokteran-Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan FKUI, 2007). Tanda-tanda dan gejala yang terjadi pada hipokalemia yaitu keletihan, kelemahan otot, kram kaki, otot lembek atau kendur, mual, muntah, ileus, parestesia, peningkatan efek digitalis, penurunan konsentrasi urin (mis; poliuria) (Horne, 2001). L.I.4.4 Hiperkalemia Istilah hiperkalemia digunakan bila kadar kalium dalam plasma lebih dari 5 mEq/L. Dalam keadaan normal jarang terjadi hiperkalemia oleh karena adanya mekanisme adaptasi oleh tubuh. Hiperkalemia dapat disebabkan oleh keluarnya kalium dari intrasel ke ekstrasel dan berkurangnya ekskresi kalium melalui ginjal (Unit Pendidikan Kedokteran-Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan FKUI, 2007). L.O.5 Memahami dan Menjelaskan Etika Minum dalam Islam L.I.5.1 Al-Quran Q.S. Al- Waqiah : 68-70 (70) ( 68) (69)

Artinya : Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah kami yang menurunkan? Kalau kami kehendaki niscaya kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? (Q.S. Alwaqiah : 68-70) Dalam ayat-ayat ini, kembali Allah SWT mengungkapkan salah satu dari pada nikmat Nya yang agung, untuk direnungkan dan dipikirkan oleh manusia apakah mereka mengetahui tentang fungsi air yang mereka minum.
25

Apakah mereka yang menurunkan air itu dari langit yaitu air hujan ataukah Allah SWT yang menurunkannya. Air hujan itu manakala direnungkan oleh manusia, tahulah mereka bahwa ia berasal dari uap air yang terkena panas matahari. Setelah menjadi awan dan kemudian menjadi mendung yang sangat hitam bergumpal-gumpal, maka turunlah uap air itu sebagai air hujan yang sejuk dan tawar, tidak asin seperti air laut. Air tawar tersebut menyegarkan badan serta menghilangkan haus. Bila tak ada hujan, pasti tak ada sungai yang mengalir, tak akan ada mata air dan berapa meter pun dalamnya orang menggali sumur, niscaya tak akan keluar airnya. Dan bila tak ada air, rumputpun tidak akan tumbuh, apalagi tanaman yang ditanam orang. Apabila tidak ada hujan, pasti tidak ada air yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Kalau tanaman dan tumbuh-tumbuhan tidak tumbuh, maka binatang ternakpun tak ada. Tak akan ada ayam, tak akan ada kerbau dan sapi, tak akan ada kambing dan domba. Sebab hidup memerlukan makan dan minum. Kalau tak ada yang dimakan, dan tak ada yang diminum, bagaimana bisa hidup? Dan kalau tak ada tanaman dan tumbuh-tumbuhan, dan tak ada air tawar untuk diminum, bagaimana manusia bisa hidup? Apakah mesti makan tanah? Dan apakah yang akan diminum? Kalau ada air, jika air tersebut dijadikan Tuhan asin rasanya, pasti tidak bisa menghilangkan haus dan tak dapat dipergunakan untuk menyiram atau mengairi tanaman. Dan siapakah yang menurunkan hujan tersebut? Bukankah hanya Allah SWT saja yang dapat menurunkan hujan sehingga mengalir dan sumur dapat mengeluarkan air? Mengapakah manusia tidak bersyukur kepada Allah? Padahal Dialah yang menurunkan hujan yang demikian banyak manfaatnya sebagaimana firman-Nya: Artinya: Dialah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Q.S. An Nahl: 10, 11) Dalam hubungan ini terdapat hadis yang berbunyi: :

Artinya: Sesungguhnya Nabi saw apabila beliau selesai minum air, beliau mengucapkan: "Segala puji adalah bagi Allah yang telah memberikan minuman kepada kita air tawar

26

yang menyegarkan dengan rahmat-Nya dan tidak dijadikannya air asin disebabkan dosadosa kita". (H.R. Ibnu Abi Hatim dari Abu Ja'far) L.I.5.2 Hadits 1. Gunakan Tangan Kanan

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam (SAW) mengajar untuk kita makan dan memegang bekas minuman menggunakan tangan kanan dan melarang umatnya menggunakan tangan kiri kerana ia adalah sifat syaitan dan ciri-ciri orang yang bongkak. Dari Jabir r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda; Jangan engkau makan dengan (tangan) kirimu, sesungguhnya syaitan itu makan dan minum dengan (tangan) kirinya. (HR Muslim) Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; Jika salah seorang dari kamu hendak makan, hendaklah makan dengan tangan kanan. Dan apabila ingin minum, hendaklah minum dengan tangan kanan. Sesungguhnya syaitan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya. (HR. Muslim) 2. Niat Karena Allah SWT

Hendaklah ketika minum berniat bagi menyegar dan menyihatkan tubuh badan supaya memudahkan beribadah dan kerana Allah SWT. Hadis daripada Umar bin al-Khattab r.a, Rasulullah SAW bersabda; Sesungguhnya setiap amalan itu hanya dengan niat. Dan sesungguhnya setiap orang hanya mendapat balasan mengikut apa yang diniatkan. (Riwayat al-Bukhari). 3. Baca Basmallah

Memulai minum dengan Basmalah: Bismillahir-rahmanir-rahim Membaca Basmalah sebelum makan untuk mengelakkan penyakit. Kerana bakteria dan racun ada membuat perjanjian dengan Allah swt, apabila Basmalah dibaca maka bakteria dan racun akan musnah dari sumber makanan itu. Apabila seseorang di antara kamu minum dan memakan makanan, katakanlahBismillah. Apabila lupa pada permulaannya, katakanlah Bismillahi fii awwalihi wa aakhirihi. (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi) 4. Membaca Doa

Doa minum air;


27

Ya Allah! Sesungguhnya daku meminumnya dengan harapan Dikau mengampuni daku dan mengabulkan maksudku; Maka ampunilah daku serta kabulkanlah. 5. Minum Dengan Tiga Nafas

Minum dengan tiga kali tegukan dan elakkan bernafas ke dalam bekas minuman. Setiap kali berhenti minum hendaklah diarahkan pernafasan ke tempat lain.Dari Abu Qatadah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Jika kamu minum maka janganlah bernafas dalam bekas air minumnya. (HR. Bukhari dan Muslim r.a.). Nabi SAW sering meminum dengan tiga kali teguk, sambil bernafas di luar gelas dan mengucapkan Alhamdulillah di antara tiga kali tegukan. Baginda SAW juga akan teruskan minum dengan setiap tegukan diselangi bernafas di luar gelas sehingga habis. Diriwayatkan dari Anas radhiyalaahu anhu (r.a.) bahawa Rasulullah SAW bernafas tiga kali ketika minum, Rasulullah SAW biasa bernafas tiga kali sewaktu minum. (HR. Muttafaq alaih). Anas bin Malik r.a. berkata lagi; Baginda SAW bersabda: Sungguh, ini lebih mengenyangkan, menyembuhkan, dan menyegarkan. (HR Bukhari dan Muslim) Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu beliau mengatakan, Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam minum beliau mengambil nafas di luar bekas air minum sebanyak tiga kali. Dan Baginda SAW bersabda, Hal itu lebih segar, lebih sedap dan lebih nikmat. Anas mengatakan, Oleh kerana itu ketika aku minum, aku bernafas tiga kali. (HR. Bukhari no. 45631 dan Muslim no. 2028) 6. Dilarang Meniup Minuman

Jangan bernafas dan meniup air minum di dalam bekas, terutama meniup air yang panas, kerana perbuatan itu akan menjadikan minuman bertoksid disebabkan Co2 yang dihembuskan ke dalamnya. Ubay bin Kaab berkata: Rasulullah SAW tidak pernah meniup makanan dan minuman, tidak bernafas di dalam cawan. Bahkan beliau melarang meniup makanan dan minuman. Dari Ibnu Abbas, Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang untuk bernafas atau meniup bekas air minum. (HR. Turmudzi no. 1888 dan Abu Dawud no. 3728, hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani) Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi mengatakan, Larangan bernafas dalam bekas air minum adalah termasuk etika kerana dikhuatirkan hal tersebut mengotori air minum atau menimbulkan bau yang tidak enak atau dibimbangkan ada sesuatu dari mulut dan hidung yang terjatuh ke dalamnya dan hal-hal semacam itu. 7. Hindari Menonggak
28

Rasulullah SAW telah mengajarkan adab meminum air dengan cara duduk, menempelkan bibir ke air, bernafas di luar gelas serta tidak minum dengan cara menonggang. Maksudnya adalah mencegah masuknya udara ke dalam perut. 8. Minum Dalam Keadaan Duduk Janganlah kita minum dalam keadaan berdiri walaupun ia dibolehkan tetapi ia makruh yang menghampiri kepada haram. Anas juga berkata: Rasulullah SAW telah melarang minum sambil berdiri. (HR Muslim) Jika tidak ada tempat untuk duduk adalah diharuskan minum sambil berdiri. Adapun Rasulullah SAW pernah sekali minum sambil berdiri, oleh kerana ada sesuatu yang menghalangi Baginda SAW untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali kerana darurat! Dari Ibnu Abbas beliau mengatakan, Aku memberikan air zam-zam kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Maka Baginda SAW lantas minum dalam keadaan berdiri.(HR. Bukhari dan Muslim r.a.) . 9. Larangan Minum Dalam Bekas Besar

Elakkan diri kita meminum dari bekas yang besar seperti teko dan cerek. Apabila kita minum dari bekas yang besar, lumrahnya kita akan meneguk air dan dalam proses minum itu, kita tentu akan bernafas dan menghembuskan nafas dari hidung kita. Sewaktu kita hembus, kita akan mengeluarkan CO2 iaitu carbon dioxide, yang apabila bercampur dengan air H20, akan menjadi H2CO3, iaitu sama dengan cuka, menyebabkan minuman itu menjadi acidic. Ibnu Abbas menambahkan: Rasulullah SAW telah melarang minum dari mulut teko. (HR Bukhori dan Ibnu Majah) Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Janganlah kamu minum sambil berdiri. Sesiapa terlupa sehingga minum sambil berdiri, maka hendaklah ia berusaha untuk memuntahkannya. (HR. Ahmad r.a.) 10. Menutup makanan dan minuman Tutuplah tempat minuman terutama pada malam hari. Rasulullah SAW mewajibkan menutup makanan untuk melindunginya dari pencemaran, sebagaimana dinyatakan dalam hadis Nabi SAW:Tutuplah makanan dan minuman. (HR. Bukhari r.a.) Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Tutupilah bejana-bejana dan wadah air. Kerana dalam satu tahun ada satu malam, ketika itu turun wabak,
29

tidaklah ia melalui bejana-bejana yang tidak tertutup, ataupun wadah air yang tidak diikat melainkan akan turun padanya sesuatu penyakit.(HR. Muslim r.a.) 11. Ucapkan Hamdalah, Alhamdulillah Setiap kali berhenti minum (pada setiap penafasan) dan setelah selesai minum bacalah Alhamdullilah tanda kita bersyukur atas nikmat yang Allah SWT kurniakan. Adab yang beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ajarkan kepada umatnya sangatlah berfaedah bagi mereka jika mereka mau mengamalkannya, karena cara minum seperti ini lebih memuaskan dan menghilangkan dahaga/haus dengan lebih sempurna. Dan cara ini juga aman dari kerusakankerusakan yang bisa terjadi dengan minum sekali teguk. Karena minum hanya dengan sekali teguk hingga selesai tanpa diselingi dengan bernafas dapat memadamkan suhu panas di dalam tubuh atau melemahkannya sehingga bisa menyebabkan rusaknya kestabilan lambung dan hati, kemudian mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang kronis khususnya di negeri yang bersuhu panas atau pada musim-musim panas. Selain dampak negatif yang telah dijelaskan tadi, minum dengan sekali teguk dapat menutup tempat jalan air karena banyaknya air yang melewatinya, sehingga menyebabkan tercekiknya tenggorokan. Maka apabila minum dengan beberapa kali teguk dampak negatif tersebut --Insya Allah-- tidak terjadi. Perlu diketahui tatkala seseorang sedang minum, maka seketika itu pula naik/menguap uap panas yang ada di dalam lambung dan hatinya karena masuknya air yang dingin ke dalamnya. Apabila minum hanya dengan sekali teguk hingga selesai terjadilah benturan air yang diminum yang turun ke lambung dengan uap panas yang naik yang berasal dari dalam tubuhnya sehingga keduanya saling dorong yang dapat mengakibatkan tercekiknya tenggorokan. Sungguh telah dilakukan percobaan ilmiyah bahwa masuknya air dalam jumlah yang banyak tanpa dilakukan dengan bertahap ke dalam limpa/hati dapat menyakitkan dan melemahkan suhu panasnya. Yang demikian dikarenakan terjadinya benturan uap panas di dalam tubuh dengan banyaknya air dingin yang memasukinya.

30

Daftar Pustaka Adab-adab makan yang sering dilupakan http://www.ilmusunnah.com/adab-adab-makan-yangsering-dilupakan . Diakses 11 Februari 2014. Aziz,abdul. 2007.Ensiklopedia adap islam. Jakarta : Pustaka imam asy-syafii. Behrman R.E., et al (1999), Ilmu Kesehatan Anak Nelson edisi 15,ab.A.Samik Wahab, Jakarta:EGC Body Fluids Homeostasis http://www.nanocal.com/homeostasis.html . Diakses 11 Februari 2014. A.hartono, Biokimia Harper, edisi 25, Jakarta. EGC. Darwis, moenadjat, et al (2008). Gangguan Keseimbangan Air-Elektrolit dan Asam-Basa. Jakarta:UPK-PKB FKUI Davey,Patrick. 2003. Medicine at a glance. Jakarta : Erlangga. FKUI. 2008. Gangguan Keseimbangan Air-Elektrolit dan Asam Basa, edisi ke-2, Jakarta: FKUI. Fluid Balance http://staff.ui.ac.id/system/files/users/kuntarti/publication/fluidbalance.pdf . Diakses 11 Februari 2014. Ganong, WF. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran ,edisi 21, Jakarta: EGC. Guyton AC, Hall JE. (2008). Fisiologi Kedokteran 11th Ed,ab. Setiawan dkk, Jakarta: EGC Horne Mima, Swearingen Pamela. 2002. Keseimbangan cairan, elektrolit dan asam-basa, Jakarta: EGC. Hyponatremia or Hypernatremia http://flylib.com/books/en/3.31.1.6/1/ Diakses 11 Februari 2014. Kee JL, Paulanka BJ. (2000). Handbook of Fluid, Electrolyte, and Acid Base Imbalances. Canada: Delmar, Thomson Learning. Maxwell, Morton H. Clinical Disorders of Fluid and Electrolyte Metabolism, 4th ed. McGraw Hill, 1987, p.9. Muscari,mary E. 2005. Keperawatan pediatrik. Jakarta : EGC. Oxorn,harry and Forte,William R.2010.Patologi dan Fisiologi Persalinan. Jakarta: Yayasan esensia medica. Sherwood L. (2012). Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem, edisi 2. Jakarta: EGC Siregar, P. Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I edisi kelima. (2009). Sudoyo dkk (eds), halaman 175-189

31

Sudoyo, W Aru, Bambang setiyohadi, Idrus Alwi (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1 Ed.5. hal: 175-182. Jakarta:Interna Publishing Yaswir Rismawati, Ferawati Ira. 2012. Fisiologi dan Gangguan Keseimbangan Natrium, Kalium dan Klorida serta Pemeriksaan Laboratorium. http://jurnal.fk.unand.ac.id 80. Diakses 11 Februari 2014.

32