Anda di halaman 1dari 65

Cermin

Dunia Kedokteran
International Standard Serial Number: 0125 – 913X

113. Gigi Daftar Isi :


Desember 1996 2. Editorial
4. English Summary
Artikel
5. Periodontologi dari Masa ke Masa – SW Prayitno
10. Peranan Splin Permanen dalam Perawatan Periodontal -
Yuniarti Soeroso
15. Status Penyakit Gigi dan Mulut dan Perilaku Anak terhadap
Kesehatan Gigi di Klinik Afia, Beji, Depok I - Yuyus Ru-
siawati
17. Kalkulus - Hubungannya dengan Penyakit Periodontal dan
Penanganannya - Sri Lelyati SU
21. Frekuensi Nyeri pada Perawatan Saluran Gigi Anterior
Sekali Kunjungan - penelitian pendahuluan - Wiwi
Werdiningsih, Narlan Sumawinata, Ansar Bansar
23. Regenerasi Jaringan Periodontium Setelah Perawatan Perio-
dontal - Yuniarti Syafril
28. Antiseptik Sebagai Obat Kumur - peranannya terhadap
pembentukan plak gigi dan radang gusi - Prijantojo
33. Peranan Chlorhexidine terhadap Kelainan Gigi dan Rongga
Mulut - Prijantojo
Karya Sriwidodo WS 38. Pencemaran Air Raksa di Lingkungan Kerja Dokter Gigi -
Harmas Yazid Yusuf
41. Efek Merokok terhadap Rongga Mulut - Gupran Ruslan
44. Perilaku Mantan Pengguna Sarana Air Bersih (SAB) di
Jawa Tengah, Kalimantan Selatan dan di Sulawesi Selatan -
Siti Sapardiyah Santoso, Riris Nainggolan, Sunanti ZS
48. Kartu Menuju Sehat Untuk Menilai Cara Hidup Sehat – An-
dri Sudjatmoko
51. Proses Penemuan Obat Baru - Boenjamin Setiawan
54. Perhitungan Waktu Untuk Penyinaran Tumor dengan Pe-
sawat Teleterapi Cobalt-60 Susetyo Tijoko
58. Indeks Karangan Cermin Dunia Kedokteran tahun 1996
61. Pengalaman Praktek
62. Abstrak
64. RPPIK
Cermin Dunia Kedokteran kali ini muncul dengan topik pemba-
hasan yang agak berbeda, yaitu mengenai berbagai aspek kesehatan
gigi - selain untuk menyegarkan kembali pengetahuan para dokter
gigi yang menjadi pembaca majalah kami, juga sekaligus untuk mem-
perluas wawasan para sejawat dokter - umum maupun spesialis -
mengenai hal yang sebenarnya pernah didapat semasa pendidikan
dahulu.
Selamat membaca.

Redaksi

2 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


Cermin
Dunia Kedokteran
International Standard Serial Number: 0125 – 913X

KETUA PENGARAH REDAKSI KEHORMATAN


Prof. Dr Oen L.H. MSc
– Prof. DR. Kusumanto Setyonegoro – Prof. DR. Sumarmo Poorwo Soe-
KETUA PENYUNTING Guru Besar Ilmu Kedokteran Jiwa darmo
Dr Budi Riyanto W Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Staf Ahli Menteri Kesehatan,
Jakarta. Departemen Kesehatan RI,
PEMIMPIN USAHA Jakarta.
Rohalbani Robi – Prof. Dr. Sudarto Pringgoutomo
Guru Besar Ilmu Patologi Anatomi – Prof. DR. B. Chandra
PELAKSANA Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Guru Besar Ilmu Penyakit Saraf
Sriwidodo WS Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga,
Surabaya.
TATA USAHA – Prof. Drg. Siti Wuryan A. Prayitno
Sigit Hardiantoro SKM, MScD, PhD. – Prof. Dr. R. Budhi Darmojo
Bagian Periodontologi Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam
ALAMAT REDAKSI Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro,
Fakultas Kedokteran Gigi
Majalah Cermin Dunia Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Semarang.
Gedung Enseval
Jl. Letjen Suprapto Kav. 4, Cempaka Putih – Prof. DR. Hendro Kusnoto Drg.,Sp.Ort – DR. Arini Setiawati
Jakarta 10510, P.O. Box 3117 Jkt. Laboratorium Ortodonti Bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
NOMOR IJIN Universitas Trisakti, Jakarta Jakarta,
151/SK/DITJEN PPG/STT/1976
Tanggal 3 Juli 1976
DEWAN REDAKSI
PENERBIT
Grup PT Kalbe Farma
– Dr. B. Setiawan Ph.D - Prof. Dr. Sjahbanar Soebianto
PENCETAK Zahir MSc.
PT Temprint – DR. Ranti Atmodjo
PETUNJUK UNTUK PENULIS
Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan
aspek kesehatan, kedokteran dan farmasi, juga hasil penelitian di bidang- yang jelas. Bila terpisah dalam lembar lain, hendaknya ditandai untuk meng-
bidang tersebut. hindari kemungkinan tertukar. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan
Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk pemunculannya dalam naskah; disusun menurut ketentuan dalam Cummulated
diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran; bila telah pernah dibahas atau di- Index Medicus dan/atau Uniform Requirements for Manuscripts Submitted
bacakan dalam suatu pertemuan ilmiah, hendaknya diberi keterangan mengenai to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979; 90 : 95-9). Contoh:
nama, tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. Basmajian JV, Kirby RL. Medical Rehabilitation. 1st ed. Baltimore. London:
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris; bila menggunakan William and Wilkins, 1984; Hal 174-9.
bahasa Indonesia, hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang Weinstein L, Swartz MN. Pathogenetic properties of invading microorganisms.
berlaku. Istilah media sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia Dalam: Sodeman WA Jr. Sodeman WA, eds. Pathologic physiology: Mecha-
yang baku, atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Redaksi berhak nisms of diseases. Philadelphia: WB Saunders, 1974; 457-72.
mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Setiap naskah harus di- Sri Oemijati. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Cermin
sertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. Untuk memudahkan para pem- Dunia Kedokt. l990 64 : 7-10.
baca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak Bila pengarang enam orang atau kurang, sebutkan semua; bila tujuh atau lebih,
dalam bahasa Inggris. Bila tidak ada, Redaksi berhak membuat sendiri abstrak sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk.
berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran,
Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ Gedung Enseval, JI. Letjen Suprapto Kav. 4, Cempaka Putih, Jakarta 10510
folio, satu muka, dengan menyisakan cukup ruangan di kanan-kirinya, lebih P.O. Box 3117 Jakarta. Telp. 4208171/4216223
disukai bila panjangnya kira-kira 6 - 10 halaman kuarto. Nama (para) penga- Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan, akan diberitahu
rang ditulis lengkap, disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat secara tertulis.
bekerjanya. Tabel/skema/grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas- Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai
jelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi, diberi nomor dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup.

Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis


dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat
kerja si penulis.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 3
English Summary
THE ROLE OF PERMANENT SPLINT MERCURY POLLUTION IN DENTISTS’ EFFECTS OF SMOKING ON ORAL
IN PERIODONTAL CARE WORKING ENVIRONMENT CAVITY

Yuniarti Soeroso Harmas Yazid Yusuf Gupran Ruslan


Perlodontology Dept.. Faculty of Dentistry, Muaroteweh General Hospital, Central
University of Indonesia, Jakarta. Indonesia Dept. of Dental and Oral Medicine, Hasan Kalimantan, Indonesia
Sadikin General Hospital, Bandung, Indo-
Splint is a device used to stabi- nesia The literature related to the ef-
lize unstable teeth due to injury or fects of tobacco smoking on the
disease. Environmental contamination oral cavity is reviewed. In this pa-
Splint can be temporary of by mercury may cause some per, the review is restricted only to
permanent, extracoronal or intra- hazardous effects on human the effects of smoking on oral mu-
coronal. fixed or removable. Per- health. It is usually caused by in- cosa, oral bacteria, oral hygiene
manent splint includes fixed dustrial waste but also can be and periodonhium. The elucidation
bridge, removable partial pros- found in the dentist working envi- of those effects is presented where
thesis or resin composite filling. ronment. the characterishics of tobacco
Some data showed that per- component are expounded previ-
Hyy
manent splint combined with Cermin Dunia Kedokt. 1996:113:38-40 ously. The other effects have been
maintenance therapy can en well described elsewhere and be-
hance the recovery of periodon- yond the scope of this literature
al fissue. review.

Brw Gr
Cermin Dunia Kedokt. 1996; 113: 10-4 Cermin dunia Kedokt. 1996: 113:41-3

Everyone hears only what he understands


(Goethe)

4 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


Artikel
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Periodontologi
dari Masa ke Masa
S.W. Prayitno
Max Joseph Herman
Bagian Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta

PENDAHULUAN sering dibahas, dan penyakit sistemik sering diperkirakan se-


Periodontologi adalah cabang Ilmu Kedokteran Gigi yang bagai penyebab penyakit periodontal. Tetapi pembahasan me-
mempelajari pengetahuan mengenai jaringan gusi, tulang ngenai penyebab dan metode perawatannya baru muncul pada
penyangga gigi dan jaringan ikat di sekitar gigi dalam keadaan abad 15.
sehat dan sakit yang meliputi juga cara pencegahan dan pe- Lama sebelum Pierre Fauchard (1678–1761), Bapak Ilmu
rawatannya. Kedokteran Gigi Modern, menganjurkan pencegahan penyakit
Berbagai bentuk penyakit jaringan ini telah mulai di- gusi dengan obat-obat kumur Besar kita Muhammad SAW
kenal manusia sejak permulaan sejarah. Kemudian berdasarkan yang dilahirkan di Mekah pada tahun 570 telah mengenalkan
hasil pengamatan maupun penelitian-penelitian yang dilakukan dasar-dasar kebersihan mulut kepada kaumnya dengan cara me-
para ahli ilmu ini terus berkembang melalui berbagai macam masukkannya ke dalam syariah agama. Islam telah mengajarkan
perubahan konsep. pentingnya kebersihan raga dan jiwa. Di antara tugas orang
Selama beberapa dasawarsa terakhir ini perkembangannya muslim yang ditentukan (Hadits) adalah keharusan membersih-
demikian pesat, lebih-lebih dengan kecanggihan teknologi di kan din lima kali setiap hari, termasuk melakukan kumur-
bidang diagnostik sehingga misteri-misteri mengenai periodon- kumur 5 x 3 atau 15 kali sehani, sebelum menunaikan ibadah
tologi dapat terungkap. shalat. Nabi juga menganjurkan membersihkan gigi dengan
Dalam makalah ini akan dibahas secara bertahap perkem- siwak atau miswak, tangkai pohon Salvadora Persica, yang
bangan periodontologi dan waktu ke waktu, didahului secara kayunya mengandung natrium bikarbonat dan asam tanin dan
singkat mengenai garis besar sejarah perkembangannya. juga adstringen yang mempunyai efek menyehatkan gusi. Cara-
cara yang dianjurkan oleh Nabi tersebut sampai sekarang masih
SEJARAH PERIODONTOLOGI(1) digunakan.
Studi dalam paleopatologi menjelaskan bahwa penyakit Bukti lain yang dapat diungkapkan adalah bahwa pada abad
periodontal dengan tanda-tanda kehilangan tulang telah menye- 15 bangsa Inggris masih kurang memberikan perhatian pada ma-
rang manusia dan berbagai macam suku bangsa dan kebudayaan, salah kebersihan pribadi. Ratu Elizabeth I sendiri menjelaskan
seperti antara lain yang ditemukan pada orang-orang Mesir purba bahwa beliau hanya mandi satu kali dalam satu bulan. Sabun
dan penduduk asli Amerika pra Columbus. Praktek-praktek sangat mahal dan jumlahnya sangat terbatas karena merupakan
mengenai pencegahan penyakit ini telah dibuktikan semenjak barang impor. Meskipun demikian perlunya membersihkan
300 tahun S.M. di Sumeria dengan ditemukannya peninggalan mulut sering ditekankan dalam tulisan-tulisan pada waktu itu.
kuno berupa tusuk gigi emas. Pada hampir semua tulisan zaman Sikat gigi ternyata tidak biasa digunakan meskipun beberapa
dahulu yang dapat diselamatkan, ditemukan banyak bab yang orang membersihkan giginya dengan jan yang dibungkus kain.
menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan penyakit perio- Penggunaan tusuk gigi sangat populer di antara orang-orang
dontal. Hubungan antara karang gigi dan penyakit periodontal pandai dan kaya, yang mengimpor barang tersebut dari Perancis,

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 5


Spanyol dan Portugal. Hal ini semua sangat erat hubungannya Tabel 2.. Klasifikasi Penyakit Periodontal (Genco,Goldman,Cohen, 1990)(3)
dengan penyakit periodontal. Gingival diseases and conditions
Akhirnya pada abad 20 ini bermunculan para klinisi dan A. Gingivitis
ahli yang meminati bidang Periodontologi. Dewasa ini perkum- l. Marginal gingivitis
pulan dokter gigi yang berminat di bidang Periodontologi telah 2. Acute necrotizing ulcerative gingivitis (ANUG)
B. Gingivitis and other gingival changes with systemic involvement
banyak terbentuk di seluruh dunia, antara lain yang terkenal 1. Gingival changes associated with sex hormnones
dengan nama International Academy of Periodontology. Mereka 2. Gingival changes associated with diseases of the skin and mucous
saling tukar menukar pengetahuannya melalui seminar, kongres membranes
atau majalah-majalah international yang terkenal. Puncaknya 3. Gingivitis in generalized systemic diseases
4. Infective gingivo stomatitis
pada akhir tahun 1992 telah diselenggarakan International 5. Drug associated gingival changes
Conference on Periodontal Research (ICPR) IX di Jepang C. Miscellanous gingival conditions
dengan tema Pathologic Features of Host Responses and Their 1. Gingival cysts
Use in Diagnostic Strategies. Pembahasannya meliputi Bacte- 2. Gingival fistulas
3. Neoplasms
rial Pathogenesis, Immunopathogenesis (cellular and mo- 4. Gingival clefts
lecular), Clinical Diagnostic Strategies dan Periodontal Tissue 5. Gingival recession
Regeneration ( cellular and molecular biology), sebagai hasil 6. Aberrant frena or muscle attachments
penelitian dengan menggunakan teknologi tinggi. Dan pada 7. Epulis or gingival pyogenic of granuloma
8. Gingival abscesses
tahun 1995 ini ICPR X diadakan lagi di Rochester Amerika Periodontal diseases and conditions
Serikat dengan tema Molecular Basis of Periodontal Pathology Periodontitis in adults
and Therapy. 1. AAP classification I, II, III, IV
2. Epidemiologic : moderately and rapidly progressing periodontitis
3. Clinical based on treatment : refractory and recurrent
BIDANG DIAGNOSTIK 4. Clinical based on history : recurrent acute necrotizing ulcerative
Apabila perkembangan periodontologi ditelusuri, dapat periodontitis and post localized juvenile periodontitis.
diamati perkembangan konsep mengenai diagnostik. Dalam ber-
bagai literatur, bidang diagnostik ini sering dijelaskan melalui ‘90 tidak terungkap. ini bukan berarti masalah oklusi traumatik
pembagian penyakit atau klasifikasi. tidak penting, tetapi karena tidak banyak pembuktian yang di-
Goldman, Schluger dan Fox (1956) mengklasifikasikan pe- laporkan bahwa oklusi traumatik merupakan salah satu penyebab
nyakit periodontal sebagai berikut(2) (Tabel 1). itama terjadinya marginal periodontitis seperti yang diperkira-
Tabel 1. Klasifikasi Penyakit Periodontal (Goldman, Schiuger, Fox, 1956)(2) kan semula.
Akhir-akhir ini dengan mengkaitkan faktor penyakit siste-
I. Inflammation mik dan sistem pertahanan tubuh Ranney (1993) telah menyusun
A. Gingivitis (with or without gingival enlargement acute or chronic)
kiasifikasi yang lebih jelas dan rinci sebagai berikut(4).
II. Dystrophy
A. Disuse Tabel 3. Klasifikasi Penyakit Periodontal (Ranney, 1993)(4)
B. Occlusal traumatism - accentuated or initiated by habits (bruxism,
clenching etc) A. Gingivitis
1. Malfunctional occlusion 1. Gingivitis, plaque bacterial
2. Faulty restorations Non-aggravated
3. Secondary to marginal periodontitis where clinical crown be Systemically aggravated
comes greater than clinical root. Related to sex hormones
4. Secondary to periodontitis. Related to drugs
C. Degenerative disease of the attachment apparatus - periodontosis. Related to systemic disease
2. Necrotizing ulcerative gingivitis
Systemic determinants unknown
Setelah lebih dari 30 tahun melalui berbagai penelitian dan Related to HIV
pengamatan, baik secara laboratorik maupun klinik, Genco, 3. Gingivitis, non-plaque
Goldman dan Cohen (1990) dalam bukunya yang berjudul Con- Associated with skin disease
Allergic
temporary Periodontics telah menyarankan kiasifikasi penyakit Infectious
periodontal sebagai berikut(3) (Tabel 2). B. Periodontltis
Apabila diamati, ada kesan bahwa pada kiasifikasi ‘56 mar- 1. Adult periodontitis
ginal periodontitis dianggap merupakan lanjutan gingivitis yang Non-aggravated
Systemically aggravated
tidak: terawat. Demikian juga faktor-faktor lokal yang dianggap Neutropenias
sebagai penyebab gingivitis juga dianggap sebagai penyebab Leukemias
marginal periodontitis. Istilah idiopathic dimasukkan dalam Lazy leukocyte syndrome
klasifikasi ‘56 dan tidak muncul dalam kiasifikasi ‘90. Hal ini di- AIDS
Diabetes mellitus
sebabkan karena perkembangan yang demikian pesat di bidang Crohn's disease
etiologi sehingga berbagai faktor risiko telah banyak diketahui. Addison's disease
Masalah oklusi traumatik yang pada klasifikasi ‘56 merupa- 2. Early-onset periodontitis
kan bagian yang cukup mendapatkan perhatian, pada klasifikasi Localized early-onset periodontitis

6 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


Neutrophil abnormality sebagai penyebab utama penyakit periodontal, maka peran daya
Generalized early-onset periodontitis tahan dan imunitas tubuh tidak dapat dipisahkan. Dewasa ini
Neutrophil abnormality mikroorganisme tertentu seperti Porphyromonas gingivalis,
Immunodeficient
Early-onset periodontitis related to systemic disease
Actinobacillus actinomycetemcomitans dan beberapa bakteri
Leukocyte adhesion deficiency anaerob lain sering ditemukan mendominasi daerah jaringan
Hypophosphatasia periodontium yang mengalami keradangan Atas dasar pe-
Papillon-Lefevre syndrome nemuan tersebut masalah konsep spesifik dan nonspesifik pada
Neutropenias
Leukemias
penyakit periodontal menjadi bahan perdebatan.
Chediak-Higashi syndrome Dewasa ini para ahli banyak menaruh perhatian terhadap
AIDS penyakit periodontal lanjut yang terjadi pada usia muda seperti
Diabetes mellitus type I Trisomy 21 yang dikelompokkan dalam juvenile periodonritis dan rapidly
Histiocytosis X
Ehlers-Danlos syndrome (Type VIII)
progressive periodontitis. Pengelompokan ini antara lain ber-
Early-onset periodontitis, systemic determinants unknown dasarkan macam organisme yang ditemukan dalam poket. Kasus
3. Necrotizing ulcerative periodontitis ini sangat mengganggu baik fisik maupun mental penderita,
Systemic determinants unkown dan diperkirakan prevalensinya cukup tinggi (5%).
Related to HIV
Related to nutrition
Di samping mikroorganisme dan sistem pertahanan, faktor-
4. Periodontal abscess faktor risiko lain seperti penyakit sistemik, hormonal, kebiasaan
merokok dan lain-lain dapat memperberat penyakit periodontal.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa etiologi penyakit
Klasifikasi menurut Ranney ini didasari oleh berbagai hasil
periodontal sangat kompleks sehingga memerlukan pemilihan
penelitian yang dikaitkan dengan perkembangan mutakhir tekno-
dengan seksama terapi yang harus dilakukan. Yang menarik
logi canggih bidang diagnostik khususnya mikrobiologi dan
adalah mengenai faktor merokok yang pada beberapa publikasi
imunologi. Meskipun demikian diagnosis yang tegas dan pe-
aianggap sebagai faktor risiko, akhir-akhir ini dilaporkan ke-
nyakit periodontal tampaknya belum atau tidak dapat ditegakkan
mungkinan faktor suseptibilitas lebih berperan daripada rokok-
untuk masa sekarang maupun di masa mendatang. ini membukti-
nya sendiri. Mereka yang merokok tetapi tidak ada masalah
kan bahwa memang benar penyakit periodontal sifatnya sangat
suseptibilitas tidak akan terkena penyakit periodontal, sebalik-
kompleks.
nya apabila ada masaláh suseptibilitas, manifestasi penyakit
periodontal akan timbul(9).
ETIOLOGI PENYAKIT PERIODONTAL
TERAPI PENYAKIT PERIODONTAL
Meskipun sejak permulaan abad ke 18 mikroorganisme
Sejalan dengan perkembangan di bidang diagnostik dan
pada permukaan gigi telah ditemukan oleh Anton V. Leeuwenhoek
etiologi, bidang terapi juga mengalami beberapa perubahan.
(1682–1723) dengan menggunakan mikroskop pertama hasil
ciptaannya(5), hingga tahun 1956 Goldman dkk. dalam buku 1) Skeling dan Penghalusan Akar
teksnya yang berjudul Periodontal Therapy, belum menjelaskan Skeling dan penghalusan akar sejak lama merupakan suatu
peran mikroorganisme yang telah ditemukan tersebut. Baru pada kesatuan yang tidak dapat dipisahkan untuk perawatan penyakit
tahun 1965 bertitik tolak pada suatu penelitian kiasik terkenal periodontal. Skeling merupakan bagian dan prosedur perawat-
yang dilakukan oleh Loe dkk.(6) keberadaan mikroorganisme an yang penting untuk menghilangkan endapan yang lunak dan
tersebut mulai dikaitkan dengan terjadinya keradangan gingiva. keras pada daerah koronal dan epitel perbatasan (junctional
Apabila kita menelusuri kembali etiologi penyakit perio- epithelium). Skeling saja sebenarnya sudah cukup untuk mem-
dontal di masa sebelum penemuan Loe dkk. (1965), jelas sekali bersihkan kalkulus dan permukaan email, tetapi apabila pasien
belum ada ketegasan mengenai faktor penyebabnya sehingga telah menderita penyakit periodontal diperlukan juga penghalus-
istilah idiopathic masih banyak digunakan. Diagnosis pada an permukaan akar, karena permukaan akar merupakan tempat
umumnya hanya berdasarkan perbedaan gambaran klinik tanpa timbunan bakteri yang dapat masuk dalam tubuli dentin. Peng-
dibarengi den.gan penjelasan mengenai faktor penyebab. Se- halusan permukaan akar yang sempurna, yang meliputi pember-
bagai akibatnya istilah ‘periodontosis" selalu dipergunakan sihan bakteri dan toksinnya, pembersihan kalkulus serta semen-
untuk segala bentuk kerusakan jaringan periodontal pada usia dan dentin yang sakit, dapat menghasilkan pennukaan akar yang
muda dengan tambahan penyebabnya idiopatik. secara biologis masih dapat diterima. Meskipun demikian ang-
Tampaknya penemuan Loe dkk. merupakan titik awal dari gapan tersebut masih perlu dipertanyakan karena penghalusan
penyelidikan yang lebih intensif mengenai mikroorganisme se- permukaan akar dengan sempurna secara taktil belum menjamin
bagai penyebab utama penyakit periodontal. Didukung oleh per- kebersihan secara mikroskapis. Oleh karena itu dalam beberapa
kembangan teknoiogi yang demikian pesat dalam dua dasawarsa dasawarsa terakhir ini di samping melakukan skeling dan peng-
terakhir ini para ahli lebih dapat memperkirakan macam mikro- halusan permukaan akar, dianjurkan juga mengevaluasi efek-
organisme yang berbeda pada kelainan periodontal yang secara tifitas dan hasil penghalusan sisa akar tersebut dengan melihat
klinis menunjukkan gambaran kelainan yang serupa. secara visual kondisi jaringan.
Apabila telah disepakati bahwa mikroorganisme tertentu Apabila setelah skeling dan penghalusan permukaan akar

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 7


kesembuhan jaringan belum sempurna, hal ini dapat dipakai se- dapat kontak prematur atau bloking tidak perlu dilakukan pe-
bagai salah satu indikator bahwa penghalusan perrnukaan akar nyesuaian oklusi kecuali apabila terjadi pada gigi yang ekstrusi.
juga kurang sempurna. Pada prinsipnya penyesuaian oklusi dilakukan dengan ke-
tentuan-ketentuan sebagai berikut:
2) Antibakteri
Telah dijelaskan bahwa akhir-akhir ini peran berbagai ma-
cam mikroorganisme terhadap penyakit periodontal sangat me-
nentukan. Oleh karena itu banyak dilakukan penelitian untuk
menentukan macam obat apa yang paling efektif terhadap
bakteri patogen periodontal.
Apabila pada masa-masa lalu obat-obat kumur yang dianjur-
kan antara lain adalah NaCl atau peroxida, pada dua dasawarsa
terakhir ini obat kumur yang mengandung heksitidin atau
klorheksidin, yang telah terbukti di samping dapat mematikan
bakteri patogen periodontal juga dapat menghambat terbentuk-
nya plak dental, sangat dianjurkan penggunaannya. Umumnya
terapi ini diberikan untuk kasus gingivitis dan periodontitis
ringan. Untuk kasus periodontitis lanjut di samping pemberian
obat-obat kumur tersebut juga diberikan antibiotika secara sis-
temik. Obat pilihan untuk kasus ini adalah tetrasiklin, tetapi
akhir-akhir ini obat yang mengandung metronidazol telah di- a) Apabila ada hubungan oklusi yang tidak normal pada daerah
buktikan sangat efektif terhadap bakteri patogen periodontal. 1, pengasahan dilakukan pada tonjol miring bukal gigi rahang
Pengalaman klinik menunjukkan bahwa metronidazol dikom- bawah.
binasikan dengan amoksisilin sangat efektif untuk perawatan b) Apabila ada hubungan oklusi yang tidak normal pada daerah
periodontitis lanjut dan hasilnya sangat menjanjikan(10). Pem- 2, pengasahan dilakukan pada tonjol miring bagian lingual gigi
berian metronidazol gel dan tetrasiklin juga banyak dipergunakan rahang atas.
untuk terapi lokal. c) Apabila ada hubungan oklusi yang tidak normal pada daerah
3, gigi rahang atas biasanya yang disesuaikan tetapi dalam be-
3) Bedah Periodontal berapa kasus kadang-kadang perlu dilakukan juga penyesuaian
Pada prinsipnya kuretase adalah merupakan suatu tindakan pada rahang bawah.
membersihkan bagian dalam dari dinding poket dengan tujuan Sebaliknya apabila kegoyangan disebabkan berkurangnya ke-
menyembuhkan jaringan dan keradangan. Kuretase dapat dila- tinggian jaringan pendukung, penyesuaian oklusi tidak akan
kukan bersamaan dengan skeling pada kasus-kasus psedopoket memberikan efek. Dalam keadaan demikian satu-satunya cara
atau sebagai bagian dan perawatan bedah flap. Sebelum dasawarsa adalah dengan splinting.
lima-puluhan berbagai tindakan bedah untuk perawatan penyakit Dengan berkembangnya ilmu di bidang bahan kedokteran
periodontal telab banyak diperkenalkan. Teknik-teknik bedah gigi, dewasa ini splinting dapat dengan mudah dilakukan. Apa-
untuk perawatan lesi jaringan tulang dan jaringan lunak seperti bila dahulu dilakukan dengan penggunaan kawat halus, seka-
osteotektomi, osteoplasti, gingivektomi dan gingivoplasti me- rang dapat dilakukan dengan komposit yang lebih stabil.
rupakan cara-cara pilihan pada masa itu. Banyak dan prosedur
tersebut diperkenalkan tanpa melalui percobaan pada binatang BAHAN BANTU REGENERASI
maupun pada manusia. Pada sekitar tahun tujuh dan delapan pu- Pada prinsipnya perawatan penderita penyakit periodontal
luhan beberapa peneliti membuktikan terjadinya beberapa risiko meliputi terapi anti infeksi, terapi rekonstruksi dan terapi pe-
pada jaringan pendukung setelah teknik-teknik bedah tersebut di meliharaan. Dalam fase rekonstruksi diharapkan terjadinya
atas dilakukan. Akibat hasil penelitian klinik ini, beberapa fase regenerasi jaringan yang mengalami kerusakan setelah tindakan
perawatan bedah seperti osteotektomi yang telah dianjurkan, bedah. Pada permulaan terapi bedah periodontal diperkenal-
ditangguhkan atau ditunda. Sebaliknya pentingnya skeling dan kan, rekonstruksi atau regenerasi jaringan diharapkan terjadi
penghalusan akar dewasa ini sedang diteliti, yang mungkin akan melalui proses kesembuhan murni. Kemudian diperkenalkan
dipergunakan sebagai cara atau model yang definitif untuk pe- bahan-bahan bantu regenerasi (graft) seperti penggunaan tulang
rawatan periodontal. alveolar, atau bahan-bahan lain untuk memperoleh regenerasi
4) Penyesuaian Oklusi dan Splinting tulang alveolar yang lebih baik.
Karena oklusi traumatik dianggap sebagai penyebab pe- Akhir-akhir ini penggunaan bahan GTR (guided tissue
nyakit periodontal, maka pada masa lalu tindakan penyesuaian regeneration) dilaporkan telah membantu regenerasi dan pe-
oklusi selalu dilakukan bila ditemukan oklusi prematur atau lekatan jaringan baru ke permukaan akar dengan lebih baik. Pada
bloking. Akhir-akhir ini dibuktikan bahwa oklusi traumatik tidak prinsipnya GTR dapat menghambat pertumbuhan jaringan epitel
menyebabkan kelainan periodontal sehingga terdapat pembatasan melekat pada permukaan akar selama proses kesembuhan setelah
pembatasan dalam melakukan penyesuaian oklusi. Apabila ter- dilakukan bedah periodontal atau penghalusan permukaan akar.

8 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


Dengan bahan bantu regenerasi yang lain GTR juga diharapkan yang terjadi pada kasus-kasus hiperkeratosis yang lain tetapi
dapat mengembalikan bentuk dan jaringan alveolar setelah ke- kemungkinan disebabkan oleh mutasi gen lain yang masih me-
sembuhan. merlukan penelitian lebih lanjut(13).
Demikian antara lain perkembangan penelitian-penelitian
PERKEMBANGAN MUTAKHIR DI BIDANG PERIO- mutakhir di bidang periodontologi untuk membuka tabir-tabir
DONTOLOGI yang selama ini masih tertutup.
Di atas telah dijelaskan berbagai macam gambaran klinik
penyakit periodontal yang sering ditemukan, khususnya yang KESIMPULAN
tampaknya berhubungan dengan faktor intrinsik. Dengan pesatnya kemajuan di bidang ilmu dan teknologi,
Hasil berbagai macam studi yang dilakukan akhir-akhir ini serta meningkatnya jumlah peneliti yang berminat melakukan
memberikan kesan bahwa perbedaan genetik antar individu me- studi di bidang penodontologi, diharapkan di masa mendatang
megang peran penting dalam suseptibilitas terhadap periodon- akan ditemukan cara-cara pencegahan dan perawatan yang lebih
titis yang terjadi pada usia muda (early onset periodontitis)(11). sederhana dan efektif, khususnya untuk kasus-kasus penyakit
Studi ini memusatkan penyelidikan mengenai pertahanan tubuh periodontal lanjut yang ditemukan pada usia muda yang dewasa
keturunan (inherited hostdefenses) sebagai pelengkap dan studi- ini masih cukup memprihatinkan para klinisi.
studi terdahulu yang mempelajari interaksi bakteri, imunologi, Para klinisi diharapkan selalu mengikuti perkembangan
sitologi dan mekanisme biokimiawi dan patogenesis penyakit ilmu di bidang penodontologi dan mengetrapkannya, agar dapat
pada daerah kerusakan jaringan. Dari hasil penelitian-penelitian memberikan umpan balik kepada para peneliti untuk penelitian-
tersebut dapat disimpulkan bahwa etiologi penyakit periodontal penelitian lebih lanjut.
sifatnya sangat kompleks dan heterogen dengan berbagai macam
interaksi antara faktor keturunan dan faktor risiko lingkungan,
dan karena disebabkan oleh berbagai mekanisme patogenik, KEPUSTAKAAN
menghasilkan berbagai bentuk kelainan yang sampai dewasa ini
secara klinis belum dapat dibedakan. 1. Prayitno SW. Periodontologi, cabang ilmu kedokteran gigi, peranannya
Dengan mengacu pada pengetahuan mengenai faktor gene- dalam menunjang pembangunan nasional bidang kesehatan. Pidato Pengu
kuhan, Februari 1993.
tik dan bentuk penyakit lain dalam tubuh seperti karsinoma dan 2. Goldman, Schluger, Fox. Periodontal therapy. CV. Mosby Company. St.
penyakit kardiovaskuler, dewasa ini sedang banyak dilakukan Louis, 1956: 15–18.
penyelidikan serupa untuk penyakit periodontal, mempelajari 3. Genco RJ, Goldman HM, Cohen DW. Contemporary Periodontics. CV.
implikasi dari hasil pengetahuan yang diperoleh, untuk bahan pe Mosby Company. St. Louis, 1990 : 63–65, 427–429.
4. Ranney RR. Classification of periodontal diseases. Periodontology 2000
nelitian di masa datang, penegakan diagnosis dan cara perawat- Ed. by Harold Loe & L. Jackson Brown. Munksgard. Copenhagen Vol.2,
annya. 1993 : 13–4.
Risiko terhadap perkembangan periodontitis tidak sama 5. Malvin ER. Dentistry an illustrated history. Hany N. Abrams Inc. New
pada setiap individu. Individu-individu tertentu mempunyai York, 1985.
6. Loe H, Theilade E, Jensen SB. Experimental gingivitis in man, J Periodon
risiko yang lebih tinggi datipada individu yang lain. Risiko ini tol 1965; 5/177–15/187.
mungkin sebagian di bawah pengaruh genetik. Bukti yang paling 7. Tanner ACR, Socransky SS, Goodson JM. Microbiodata of periodontal
jelas mengenai risiko genetik pada periodontitis dapat dilihat dari pockets losing crestal alveolar bone. .1 Periodon Res 1984; 19: 279–91.
timbulnya periodontitis pada usia muda. Hal ini memberikan ke- 8. Scots J, Genco RJ. Black pigmented bacteroides soeçies, Capnocytophage
species and Actinobacillus IinomycctemcomitanS human periodontal
san bahwa penyakit-penyakit ini merupakan model yang sangat disease Virulence factors in lonization survival and tissue destanction J
berharga untuk mempelajari peran genetik pada suseptibilitas Den Res 1984; 63: 412–21.
penodontitis. Sebagai salah sam contoh adalah studi genetik 9. Seymour Gg. Komunikasi pribadi. 1995.
mengenal sindrom Papillon-Lefevre dan sindrom Haim-Monk. 10. Prayitno SW. klinik 1995.
11. Scott R. Some thoughts on what might be learned by comparison of early
Pada kedua sindrom tersebut terdapat gambaran klinik yang onset periodontitis with other complex human disease. Abstracts I.C.P.R.
hampir minip sehingga kedua penyakit tersebut dikelompokkan Western New York, U.S.S. September 1995.
dalam diagnosis banding dengan tanda-tanda klinik kerusakan 12. Hart TC, Stabhotz A, Meyle J, Shapira L, van Dyke TE, Cutler CW,
jaringan periodontium yang hebat pada usia 1–5 tahun dan ter- Soshone A. Genetic Studies of Syndromes with Severe Periodontitis and
Palpoj,lantarHyperkeratosis. Abstracts I.C.P.R. Western New York, U.S.A.
dapat hiperkeratosis pada telapak tangan(12). Hasil studi genetik September 1995.
ini memberikan kesan bahwa efek dan gen pada sindrom Haim- 13. Hart TC, ShapiraL. Papillon-Lefevre syndrome: Periodontology 2000. Ed.
Monk bukan disebabkan oleh mutasi dari gen keratin seperti van Dyke TE. Munksgaard-Copenhagen Vol 6, 1994 : 88–100.

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 9


TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Peranan Splin Permanen


dalam Perawatan Periodontal
Yuniarti Soeroso
Bagian Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas indonesia, Jakarta

PENDAHULUAN pula merupakan kombinasi keduanya. Kegoyangan juga terjadi


Splin merupakan alat yang dibuat untuk menstabilkan atau karena kerusakan tulang angular akibat keradangan atau pe-
mengencangkan gigi-gigi yang goyang akibat suatu injuri atau nyakit periodontal lanjut. Trauma oklusi dapat memperberat
penyakit(1,2). Pada perawatan periodontal splin digunakan pada kehilangan perlekatan dan bertambahnya kerusakan tulang serta
keadaan kegoyangan gigi akibat berkurangnya tinggi tulang meningkatkan kegoyangan gigi(4). Setelah keberhasilan suatu
alveolar, sehingga kegoyangan tersebut mengganggu fungsi perawatan periodontal, kegoyangan gigi yang masih terjadi di-
penderita. Bila terdapat peningkatan kegoyangan gigi dengan anggap sebagai kegoyangan patologis.
gambaran ligamentum periodontal normal, dan kegoyangan ter- Hipermobilitas pada gigi dengan jaringan periodonsium
sebut tidak mengganggu fungsi pengunyahan atau kenyamanan sehat, terjadi akibat berkurangnya tinggi tulang alveolar dan
penderita maka keadaan ini tidak membutuhkan splin(2). Sering- pelebaran ligamentum periodontal. Keadaan ini dianggap se-
kali splin dibuat tanpa melihat penyebab kegoyangan gigi ter- bagai suatu kegoyangan fisiologis(5). Kegoyangan ini dapat di-
sebut dan desain yang cocok untuk sisa gigi yang ada. kurangi dengan penyesuaian oklusi atau splinting.
Splin periodontal dapat bersifat temporer atau sementara Splinting merupakan perawatan pendukung yang dilakukan
dan permanen atau tetap. Bentuk splin dapat berupa splin cekat bersama dengan perawatan periodontal lainnya. Splinting juga
atau lepasan, dan dapat diletakkan ekstrakoronal (eksternai) dapat dilakukan pada fase pertama perawatan periodontal, se-
maupun intrakoronal (internal). Splin permanen antara lain belum tindakan bedah. Dalam hal ini digunakan splin temporer
berupa fixed bridge, protesa sebagian lepas, atau penggabungan atau provisional splint. Pemakaian splin permanen berupa
tambalan dengan komposit resin(3). restorasi, dilakukan sebagai bagian dan fase restorasi atau re-
Beberapa data klinis menunjukkan keberhasilan pemakaian konstruktif dari perawatan periodontal(6).Splin periodontal bukan
splin permanen pada penderita dengan penyakit periodontal merupakan satu-satunya metode untuk menstabilkan gigi geilgi.
lanjut dan kehilangan gigi geligi, penggunaan splin permanen Sebelum dilakukan splinting, perlu diketahui penyebab kego-
yang dikombinasi dengan terapi pemeliharaan, akan menghasil- yangan gigi atau migrasi patologis yang terjadi. Bila kegoyangan
kan jaringan periodonsium yang sehat. Dalam makalah ini akan gigi disebabkan atau diperberat oleh tekanan oklusal yang abnor-
dibahas mengenai splin permanen dalam perawatan periodontal. mal, maka splinting dilakukan setelah tindakan penyesuaian
oklusi(2). Kadang-kadang setelahdilakukan penyesuaian tekanan
SPLINTING SEBAGAI PENUNJANG TERAPI PERIO- oklusal, kegoyangan gigi berkurang dan posisi gigi menjadi lebih
DONTAL stabil sehingga splinting tidak diperlukan lagi. Pada gigi yang
Derajat pergerakan gigi ditentukan oleh 2 faktor, yaitu tinggi displint tekanan oklusal akan dibagikan pada seluruh gigi. Ke-
jaringan pendukung dan lebarnya ligamentum periodontal. Ke- kakuan alat splin kadang-kadang dapat memungkinkan terjadi-
goyangan gigi dapat terjadi akibat berkurangnya tinggi tulang nya gerakan mengungkit, sehingga tekanan yang jatuh pada
alveolar, atau karena pelebaran ligamentum periodontal, dapat beberapa gigi lebih besar daripada sebelum pemakaian splin.

10 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


Splinting pada gigi goyang yang diperberat trauma oklusi, tidak
akan memperbaiki kerusakan yang terjadi(2).
Splin permanen sangat terbatas penggunaannya. Splin per-
manen ini hanya digunakan bila benar-benar diperlukan untuk
menambah stabilitas tekanan oklusal dan menggantikan gigi
yang hilang(1). Selain menstabilkan gigi yang goyang, splin ini
juga harus mendistribusikan kekuatan oklusi, mengurangi serta
mencegah trauma oklusi, membantu penyembuhan jaringan
periodontal, dan memperbaiki estetika(3,7). Splin permanen
dapat berupa splin lepasan eksternal atau splin cekat internal.

SPLIN PERMANEN TIPE LEPASAN EKSTERNAL


Gigi tiruan sebagian lepas dapat berfungsi sebagai splin
permanen. Untuk mencapai stabilitas yang maksimum diguna-
kan cengkram tipe continuous dan menyertakan seluruh gigi
yang ada (Gambar 1).

Gambar 3. Therapeutic splinting of teeth, showing a bilateral splint with


resistance to force in all directions, a. Forces applied bucco-
lingually; b.transmission of forces around anterior segment of
arch; c. point of resistance to forces applied to opposite tide of
arch.

Ditinjau dan sudut kesehatan jaringanperiodonsium protesa


cekat merupakan pilihan utama untuk menggantikan gigi-gigi
Gambar 1. Cengkram tipe continuous
yang hilang. Pada keadaan tertentu penggunaan protesa lepas
Splin unilateral adalah splin yang menyertakan dua atau tidak dapat dihindari untuk menggantikan gigi yang hilang.
lebih gigi geligi pada 1 sisi rahang. Splin ini terutama menahan Splin permanen lepasan eksternal ini desainnya merupakan
tekanan arah mesio distal. Sedang splin bilateral atau tipe cross bagian dan gigi tiruan kerangka logam. Splin lepasan tidak
arch melibatkan dua sigmen atau lebih dari lengkung lawan, boleh digunakan pada gigi-gigi goyang yang mempunyai ten-
sehingga dapat menahan tekanan dari segala arah(2,6) (Gambar densi besar untuk bermigrasi, apalagi splin tersebut hanya di-
2,3). gunakan pada malam hari(3). Splin lepasan unilateral sebaiknya
digunakan pada keadaan kelainan periodontal ringan.
Pemakaian splin pennanen lepas pada keadaan tidak bergigi
dikombinasikan dengan gigi tiruan. Beberapa laporan menun-
jukkan keadaan gigi penjangkaran dan penderita yang meng-
gunakan gigi tiruan sebagian lepas, ternyata mengalami ke-
rusakan jaringan periodonsium lebih besar dibandingkan gigi
yang lain. Penderita yang memakai GTS lepas juga mempunyai
kesehatan jaringan periodonsium lebih buruk, dibanding pen-
derita tidak bergigi yang tidak menggunakan GTS lepas(1).
Dengan mempertimbangkan keadaan-keadaan yang dapat
menunjang keberhasilan perawatan periodontal, pemakaian GTS
lepas tidak akan menambah kerusakan jaringan periodonsium.
Dalam hal ini penjagaan kebersihan mulut harus diperhatikan.
Klamer harus pasif dan tidak menekan gigi penjangkaran. Untuk
mengurangi tekanan dapat digunakan stress breakers, yang meng-
Gambar 2. Therapeutic splinting of teeth, showing a unilateral splint that hubungkan retainer dan saddle dengan suatu alat seperti sendi
has excellent resistance to mesiodistal displacement but less yang fleksibel. Occlusal rest mutlak diperlukan untuk
resistance to buccolingual movement; a. Forces applied meslo-
distally; b. forces applied buccolingually. meneruskan tekanan vertikal(3,8).

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 11


Beberapa Contoh Splin Permanen Tipe Lepasan

Gambar 4. Removable cast splint with occiusal rests. These splints may be
constructed of either metal or clear acrylic. Appliance is rigid
and does not irritate lips, cheek, or tongue. If aesthetics becomes
a factor and metal is desirable because of its durability, one may
eliminate maxillary anterior portion. This type of extracoronal
splint has the advantage of being removable, allowing patient to
cleanse thoroughly.

SPLIN PERMANEN CEKAT INTERNAL dan mahkota 3/4. Jumlah gigi yang diperlukan untuk menstabil-
Splin ini merupakan splin permanen yang paling efektif dan kan gigi goyang bergantung kepada derajat kegoyangan dan arah
tahan lama. Splin ini merupakan penggabungan dan restorasi kegoyangan, se gigi yang goyang pada lengkung rahang.
yang membentuk suatu kesatuan rigid dan direkatkan dengan Jumlah gigi tidak goyang yang diikutsertakan dalam splinting,
penyemenan. Splin cekat ini dapat berupa multiple crown, inlay tergantung juga kepada masing-masing kondisi penderita. Bila

12 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


terdapat kegoyangan lebih dari satu gigi, dapat digunakan bebe- sertakan gigi depan saja. Untuk ini dibutuhkan splint dengan per-
rapa gigi untuk stabilisasi. luasan ke bagian posterior. Perluasan ini dapat mencegah
Pemakaian bridge dapat sebagai splinting dan pengganti pergerakan gigi ke arah anterior(4) (Gambar 5).
gigi yang hilang. Jika gigi penjangkaran sebelah distal merupa-
kan gigi terakhir dan mengalami kegoyangan, dibutuhkan bebe-
rapa gigi di daerah anterior sebagai gigi penjangkaran. Sebelum
diputuskan pembuatan suatu splin permanen harus dilakukan
pemakaian splin sementara dahulu. Setelah itu dievaluasi 2 bulan
hingga 6 bulan apakah terdapat penurunan derajat kegoyangan.
Gigi-gigi dengan sisa jaringan periodonsium yang sedikit
tidak dapat dijadikan penyangga untuk splin bridge internal atau
gigi tiruan sebagian lepas. Bila gigi yang ada benar-benar akan
dipertahankan maka splinting tersebut dapat mengikutsertakan
gigi-gigi dan lengkung yang berlawanan (cross arch design).
Desain ini dibuat untuk mengatasi tekanan oklusi nonnal yang
datang dari berbagai arah(4). Penelitian oleh Nyman & Ericsson
selama 8 hingga 11 tahun, mengamati gigi-gigi penyangga suatu
bridge dengan kehilangan jaringan penodonsium yang cukup
berat. Hasilnya memperlihatkan bahwa gigi-gigi penyangga
tersebut tidak mengalami kerusakan lebih lanjut. Keadaan ini
didukung dengan penjagaan kebersihan mulut secara sempurna
termasuk pembersihan secara profesional pada masa-masa ter-
tentu(9).
Pada beberapa kasus kadang-kadang terlihat bahwa setelah
Beberapa Contoh Splin Permanen Cekat
dilakukan pembuatan bridge, kegoyangan gigi penjangkaran
tetap sepert semula. Dalam hal ini sangatlah penting diperhati- Gambar 5. A, Removable palatal bar bracing bilateral maxillary splints.
kan desain oklusinya agar tidak menambah kegoyangan. Untuk Notice the occlusal anatomy and the contour of the casting on
the right cuspid. B, Fixed splints without removable bar. C,
igi anterior misalnya overbite gigi penjangkarannya dikurangi. Palatal bar, copings and superstructure. D, Buccal aspect of
Stabilisasi gigi anterior dengan kerusakan jaringan periodon- prosthesis with extension of palatal bar to provide catch for
sium yang cukup berat tidak cukup dengan hanya mengikut removal (Courtesy of Dr. Morton Amsterdam).

Gambar 5.

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 13


RANGKUMAN Saunders 1990 : 943–54.
2. Lindhe J. Textbook of Periodontology. 1st ed. Munksgaard: WB Saunders
Splin periodontal merupakan perawatan pendukung yang 1985 454–64.
dilakukan bersama dengan perawatan periodontal lainnya. Pe- 3. (Hickman I. Clinical Periodontology. 4th ed. Philadelphia: WB Saunders
makaian splin permanen merupakan bagian dari fase restorasi 1972 : 917–24.
atau fase rekonstruktif dan perawatan periodontal. Splin per- 4. Nyman SR, Lang NP. Tooth mobility and the biological rationale of
splinting teeth. Periodontology 2000. 1994; 4: 15–22.
manen sangat terbatas penggunaannya. Hanya digunakan bila 5. Ericsson J,Lindhe J. Effect of longstanding jiggling on experimental marginal
benar-benar dipergunakan untuk menambah stabilitas tekanan periodontitis in the beagle dog. J Clin Periodontol 1982; 9: 497–533.
oklusal dan menggantikan gigi-gigi yang hilang. Splin perma- 6. Grant DA, Stern 18, Everett FO. Othans Periodontics: a concept, theory
nen dapat berupa splin lepasan eksternal atau splin cekat internal. and practice. 4th ed. St Louis: Mosby, 1972 : 657–72.
7. Ramfyord SP, Ash MM. Periodontology & Periodontics 1979 : 489–97.
8. Goldman HM, Cohen DW. Periodontal Therapy. 6th ed. The CV Mosby
KEPUSTAKAAN
Company, 1980: 1121–54.
9. Nyman S, Ericsson I. The capacity of reduced periodontal tissues to
1. Carranza FA.Glickman's Clinical Periodontology. 7th ed.Philadelphia: WB support fixed bridge work, J. Clin. Periodontol 1982; 9: 409–14.

14 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


HASIL PENELITIAN

Status Penyakit Gigi Mulut dan


Perilaku Anak
terhadap Kesehatan Gigi
di Klinik Afia, Beji, Depok I
Yuyus. R
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Jakarta

PENDAHULUAN Beji Depok 1 pada bulan Januari–Desember 1992. Jumlah yang


Pembangunan Kesehatan bertujuan meningkatkan kesadar- datang berobat 156 anak, terdiri 84 anak perempuan dan 72 anak
an, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar laki-laki yang diperiksa keadaan gigi dan mulutnya. Pemeriksa-
terwujud derajat kesehatan. Untuk mencapai tujuan tersebut di- an dilakukan dengan kaca mulut dan sonde, anak diperiksa di
perlukan peningkatan sumber daya manusia serta kualitas hidup, poliklinik gigi dan diterangi dengan lampu dental unit kemudian
peningkatan kesejahteraan keluarga dan masyarakat serta mem- dicatat pada kartu status keadaan gigi berlubang, gigi dicabut,
pertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. gigi ditambal, saku gusi, abses, yang terkena tetrasiklin, anomali
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral kesehatan dentofasial. Perilaku diketahui melalui wawancara langsung
secara keseluruhan dan perihal hidup sehingga perlu dibudaya- pada anak dan orang tua sebagai pendamping sewaktu datang
kan di seluruh lapisan masyarakat(1). berobat, lalu dicatat pada formulir perawatan kesehatan gigi dari
Apabila masalah karies dibiarkan dan kecenderungan pe- UKGS. Anak dikelompokkan menjadi lima kelompok usia 4–6
ningkatannya di masa mendatang tidak dicegah, dampaknya tahun, 7–8 tahun, 9–10 tahun, 11–12 tahun dan 13–18 tahun(5).
akan sangat merugikan seluruh masyarakat. Akibat penyakit
karies antara lain : rasa sakit, gangguan fungsi kunyah yang HASIL
menghambat konsumsi makanan/nutrisi, gangguan kenyaman- Hasil pemeriksaan diketemukan beberapa penyakit gigi
an berupa gangguan tidur, gangguan konsentrasi belajar dan yaitu karies gigi, gigi yang hilang, gigi ditambal, abses, saku
produktivitas kerja. hilangnya kesempatan menerjuni bidang gusi, warna coklat/kuning terkena obat tetrasiklin, anomali
karier tertentu misalnya masuk ABRI, penerbang atau pra- dentalfasial. (Tabel 1)
mugari, yang akhirnya mempengaruhi kualitas sumber daya Pada kelompok umur 7–8 tahun karies di molar permanen
manusia(2). bawah, rata-rata DMFT 0.2, lebih banyak daripada molar atas
Survai Badan Litbangkes dan Dinas Kesehatan DKI pada dengan rata-rata DMFT 0.04. Pada kelompok umur 9–10 tahun,
tahun 1993, dengan sampel 1000 anak balita di Posyandu di 5 karies di molar permanen rahang atas rata-rata DMFT 0.05
Wilayah DKI menemukan, 85.9% gigi berlubang/karies, 20.3% sedangkan molar permanen bawah rata-rata DMFT 1.7, kelompok
sering mengeluh sakit, 15.6% sering rewel/susah makan(3). umur 11–12 tahun rata-rata DMFT 2.3, pada molar rahang bawah
Penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita anak-anak dan rata-rata DMFT 1.8 pada molar rahang atas. (Tabel 2)
maupun dewasa adalah penyakit pada jaringan keras gigi yaitu Anak laki-laki yang mengikuti program sikat gigi sesuai
karies, yang dipengaruhi oleh konsumsi refined carbohydrate anjuran Depkesada 3 3,3% (Tabel 3) sedangkan anak perempuan
seperti gula-gula/biskuit, makanan lunak tidak berserat, yang ada 34,5% dan yang lain-lain termasuk sikat gigi bangun pagi
bersifat kariogenik. dan setiap habis mandi, sil gigi sehabis mandi pagi dan sore,
Tujuan WHO pada tahun 2000 untuk DMF-T pada usia 12 baik pada anak laki-laki dan perempuan lebih 50-%.
tahun kurang atau sama dengan 3(4). Anak pria dan anak wanita semua mempunyai sikat gigi,
sikat gigi ni1ik sendiri pada anak pria 94,4% dan pada anak
BAHAN DAN CARA wanita 04,0%, berarti yang punya sikat gigi, belum tentu milik
Data didapat dari laporan kasus klinik gigi AFIA daerah sendiri, satu sikat gigi dapat dipakai berganti-ganti (Tabel 4).

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 15


Tabel 1. Macam Penyakit di Klinik Gigi AFIA, Januari–Desember 1992 tangga di perkotaan dan pedesaan menunjukkan bahwa persen-
Pria Wanita tase penduduk yang selama satu bulan yang lalu sakit gigi paling
Jenis Penyakit Gigi tinggi di perkotaan Propinsi Kalimantan Tengah 7,46% dan yang
n n paling rendah di Propinsi Sulawesi Utara 1,98% dan di pedesa
Karies Dentis 49 62 an yang paling tinggi di Kalimantan Timur 7,57% yang paling
Abses 12 10 rendah di Propinsi Nusa Tenggara Barat 1,60%(9).
Saku Gusi 3 4 Kesadaran dan perilaku masyarakat dalam mencari peng-
Coklat/kuning pada gigi 2 3
Anomali DentoFasial 11 9
obatan masih rendah, dapat diukur dengan ratio tindakan pe-
nambalan berbanding pencabutan di puskesmas adalah 1:4(9).
Tabel 2. Jumlah DMFT pada Kelompok Umur di Klinik Gigi AFIA,
Januari–Desember 1992 KESIMPULAN DAN SARAN
Persepsi masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut
Kelompok Umur N Mean DMFT
masih rendah, motivasi masyarakat untuk pergi berobat belum
4 - 6 tahun 54 2.7 sedini mungkin. Melihat besarnya angka karies gigi, usaha
7 - 8 tahun 57 3.2 preventif perlu ditingkatkan melalui penyuluhan di sekolah-
9 - 10 tahun 20 3.4 sekolah di PKK dan di Posyandu.
11 - 12 tahun 11 2.1
13 - 18 tahun 14 2.8 Tindakan kuratif perlu ditingkatkan terutama dalam ke-
giatan tumpatan/penambalan selain itu pendayagunaan guru/
dokter kecil perlu lebih dipertajam dengan petunjuk yang lebih
Tabel 3. Perilaku Mengenal Waktu Sikat Gigi Januari–Desember 1992
praktis dan UKGS (Usaha Kesehatan Gigi Sekolah). Perlu ada-
Sesudah sarapan dan sesudah makan malam Lain-lain
nya pembinaan yang sistematis agar kegiatan UKOS lebih sera-
N n % n % gam dan lebih intensif, baik dan segi kualitas maupun kuantitas.
Laki-laki 72 24 33,3 48 66,7 Penyuluhan kesehatan gigi pada orang dewasa terutama ibu-
Perempuan 84 29 34,5 55 65,5
ibu hamil/orangtua murid lebib ditingkatkan dan disarankan agar
mengutamakan makanan-makanan berserat yang lebih menarik
Tabel 4. Jumlah anak dan % dalam perilaku mempunyai sikat gigi
untuk anak-anak daripada makanan yang lunak bersifat karioge-
Januari-Desember 1992 nik.
Punya sikat gigi Milik sendiri
n % n % KEPUSTAKAAN
Laki-laki 72 100 68 94,4%
1. Sistim Kesehatan Nasional. Departemen Kesehatan RI, 1982.
Perempuan 84 100 79 94,0% 2. Leimena SL. Kebijaksanaan Program Kesehatan Gigi dan Mulut
Masyarakat, Seminar Sehari tentang Peningkatan Pemanfaatan Sarana
Pelayanan Kesgig OIeh Masyarakat. Jakarta, 1994.
PEMBAHASAN 3. Andreas. Cara Pemeliharaan Gigi Yang Baik. Seminar Sehari Peningkatan
Pada penelitian di JawaTengah(1985) 14,8% menyikat gigi Pemanfaatan Sarana Pelayanan Kesgigi Oleh Masyarakal. Jakarta, 1994,
sesudah makan, 4,3% menyikat gigi sebelum tidur malam dan hal 17–21.
13,6% menyikat gigi sesudah makan dan sebelum tidur, 67,3% 4. Towards a Better Oral Health Future. The Information Material Produced
by the Oral Health Unit, WHO Head Quarters, 1994; p 120–30.
jawaban yang salah berdasarkan tahap UKGS. Jumlah anak 5. Oral Health Survey, Basic Method, 2nd ed. WHO Geneva, 1977.
yang menyatakan lama sakit gigi dan lama tidak masuk sekolah 6. Buku Pedoman UKGS. Direktorat Kesehatan Gigi, Departemen Kesehatan
selama 1 hari ada 67,3%, berarti anak tidak menunggu beberapa RI, 1992.
hari untuk pergi berobat(7). 7. Kristanti. Survei Perilaku Kesehatan Gigi Anak SD di Daerah Jawa
Tengah, 1985.
Hasil Survai Sosial Ekonomi Kesehatan tahun 1992, lapor- 8. Ratna. Survei Kesehatan Rumah Tangga Badan Litbangkes, Jakarta, 1986.
an BPS dan Badan Litbang Kesehatan yang melakukan survai 9. Hasil Survei Sosial Ekonomi Kesehatan. BPS dan Badan Penelitian dan
Kesehatan Rumah Tangga dengan jumlah sampel 65.664 rumah Pengembangan Kesehatan, Jakarta, 1992.

It is the highest wisdom not to be always wise


(M. Opitz)

16 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


ULASAN

Kalkulus
Hubungannya dengan Penyakit
Periodontal dan Penanganannya
Sri Lelyati, S.U.
Bagian Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia, Jakarta

PENDAHULUAN - Penelitian morfologi kalkulus menggunakan scanning


Hubungan kalkulus dan penyakit periodontal telah sering electron microscopy (SEM) menunjukkan bahwa kalkulus
dibahas. Kalkulus yang melekat pada permukaan gigi akan supragingival dan kalkulus subgingival kasar dan porus serta
mengintasi gingiva(1).Dahulu orang beranggapan bahwa kalkulus terdapat retensi dan plak gigi(7,8,9). Permukaan luar kalkulus
merupakan penyebab penyakit periodontal. Tetapi ternyata bukan selalu diliputi oleh organisme-organisme bentuk filamen dan
kalkulusnya yang berperan langsung, akan tetapi yang berperan bulat, sedangkan permukaan dalam kalkulus tidak(8). Ada per-
adalah bakteri plak pada plak gigi yang melekat pada permukaan bedaan jumlah koloni pada plak gigi dengan atau tanpa kalkulus
kalkulus(2). Hal ini dimungkinkan oleh struktur permukaan supragingival(10). Pada plak gigi kelompok kalkulus terdapat
kalkulus yang kasar sehingga memudahkan timbunan plak gigi lebih banyak spesies Bacteroides intermedius, Bacteroides me-
pada permukaan kalkulus. laninogenicus serta Capnocytophaga. Organisme yang terdapat
Dalam praktek sehari-hari, sering dijumpai ketidak sem- pada plak gigi yang sudah matang juga terdapat pada kalkulus(11);
purnaan perawatan kalkulus. Oleh karena itu, dalam makalah ditemukan ada 22 mikroorganisme di dalamnya. Bakteri plak
ini akan diuraikan mengenai kalkulus, hubungannya dengan diperkirakan memegang peranan penting dalam pembentukan
penyakit periodontal serta penanganannya. kalkulus, yaitu dalam proses mineralisasi, meningkatkan ke-
jenuhan cairan di sekitarnya sehingga lingkungannya menjadi
KALKULUS tidak stabil atau merusak faktor penghambat mineralisasi. Sum-
Rongga mulut manusia tidak pernah bebas dari bakteri dan ber mineral untuk kalkulus supragingival diperoleh dan saliva,
umumnya bakteri plak memegang peranan penting dalam me- sedangkan kalkulus subgingival dan serum darah(5).
nentukan pembentukan kalkulus; pelekatan kalkulus dimulai Kalkulus terjadi karena pengendapan ganam kalsium fosfat,
dengan pembentukan plak gigi, sedangkan permukaan kalkulus kalsium karbonat dan magnesium fosfat(5). Komposisi kalkulus-
supragingival dan kalkulus subgingival selalu diliputi oleh plak dipengaruhi oleh lokasi kalkulus dalam mulut serta waktu pem-
gigi. bentukan kalkulus(3). Pada suatu saat kalkulus dapat cepat terben
Kalkulus merupakan suatu endapan amorfatau kristal lunak tuk, sedangkan pada saat yang lain lambat atau tidak terbentuk
yang terbentuk pada gigi atau protesa dan membentuk lapisan kalkulus(12).
konsentris(6). Beberapa macam teori dikemukakan oleh para peneliti
Kalkulus disebut juga "tartar" merupakan endapan keras mengenai proses terbentuknya kalkulus, antara lain:
hasil mineralisasi plak gigi, melekat erat mengelilingi mahkota 1) Teori CO2
dan akar gigi(3,4,5). Selain pada permukaan gigi, kalkulus juga Menurut teori ini; pengendapan garam kalsium fosfat terjadi
terdapat pada gigi tiruan dan restorasi gigi dan hanya bisa hilang akibat adanya perbedaan tekanan CO2 dalam rongga mulut
dengan tindakan skeling(3,4,5). dengan tekanan CO2 dari duktus saliva, yang menyebabkan pH

Disajikan pada Seminar Perkembangan Pedodontik dan Periodontologi Masa


Kini, yang diselenggarakan oleh PDGI Cabang Bekasi pada tanggal 10 Juli
1993.

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 17


saliva meningkat sehingga larutan menjadi jenuh(3,4,13,14). yang telah dibersihkan dan plak gigi dan dipoles permukaannya
2) Teori protein ternyata tidak menimbulkan keradangan gusi dibandingkan
Pada konsentrasi tinggi, protein koloida saliva bersinggung- dengan regio kalkulus yang tidak dipoles(15).
an dengan permukaan gigi maka protein tersebut akan keluar dari Banyak faktor yang merupakan predisposisi terbentuknya
saliva, sehingga mengurangi stabilitas larutannya dan terjadi plak gigi. Plak gigi dan kalkulus mempunyai hubungan yang erat
pengendapan garam kalsium fosfat(3,4,5,13,14). dengan keradangan gusi; bila keradangan gusi ini tidak dirawat,
3) Teori fosfatase akan berkembang menjadi periodontitis atau keradangan tulang
Fosfatase berasal dari plak gigi, sel-sel epitel mati atau penyangga gigi, akibatnya gigi menjadi goyang atau tanggal.
bakteri. Fosfatase membantu proses hidrolisa fosfat saliva se- Tetapi akhir-akhir ini dilaporkan bahwa baik pada penelitian kli-
hingga terjadi pengendapan garam kalsium fosfat(3,4,5,13,14). nis(16) maupun epidemiologis(11) ternyata tidak semua gingivitis
4) Teori esterase selalu berkembang menjadi periodontitis. Penyakit periodontal
Esterase terdapat pada mikroorganisme, membantu proses bersifat kronis dan destruktif, umumnya penderita tidak menge-
hidrolisis ester lemak menjadi asam lemak bebas yang dengan tahui adanya kelainan dan datang sudah dalam keadaan lanjut
kalsium membentuk kalsium fosfat(5). dan sukar disembuhkan.
5) Teori amonia Kalkulus dan gingivitis terdapat lebih banyak pada para
Pada waktu tidur, aliran saliva berkurang, urea saliva akan perokok daripada bukan perokok(17). Sedangkan Sheiham(17)
membentuk amonia sehingga pH saliva naik dan terjadi peng- melaporkan bahwa para perokok mempunyai skor plak, kalkulus
endapan garam kalsium fosfat(3). dan derajat penyakit periodontal yang lebih tinggi dibandingkan
6) Teori pembenihan dengan bukan perokok.
Plak gigi merupakan tempat pembentukan inti ion-ion
kalsium dan fosfor yang akan membentuk kristal inti hidroksi PENANGANAN KALKULUS
apatit dan berfungsi sebagai benih kristal kalsium fosfat dari Skeling dan penghalusan akar adalah bagian dari terapi awal
saliva jenuh(13). yang paling sering dilakukan. Terapi awal perawatan non bedah
Diketahui ada dua macam kalkulus menurut letaknya terha- periodontal bertujuan menghilangkan seluruh faktor penyebab
dap gingival margin yaitu kalkulus supragingival dan kalkulus lokal, faktor yang memperberat serta pengaruh faktor lokal(17).
subgingival. Kalkulus supragingival terletak di atas margin Perawatan non bedah periodontal dilakukan pada kelainan pe-
gingiva, dapat terlihat langsung di dalam mulut, warnanya putih riodontal dengan poket 4-6 mm. Perawatan ini dapat dilakukan
kekuning-kuningan dan distribusinya dipengaruhi oleh muara oleh dokter gigi praktek umum dan dokter gigi puskesmas karena
duktus saliva mayor. Kalkulus subgingival terletak di bawah tidak memerlukan keahlian khusus dan dapat dilakukan dengan
margin gingiva, tidak dapat terlihat langsung di dalam mulut, peralatan yang sederhana(18,19).
dan warnanya kehitaman(5). Endapan kalkulus supragingival ter- Skeling adalah suatu tindakan pembersihan plak gigi,kalkulus
banyak adalah pada permukaan bukal gigi molar pertama maksila, dan deposit-deposit lain dari permukaan gigi. Penghalusan akar
dan pada permukaan lingual gigi insisivus pertama dan kedua dilakukan untuk mencegah akumulasi kembali dari deposit-
mandibula Endapan kalkulus subgingival paling banyak deposit tersebut(5,19). Tertinggalnya kalkulus supragingival
terdapat pada gigi insisivus pertama dan kedua mandibula, di- maupun kalkulus subgingival serta ketidak sempurnaan peng-
ikuti oleh gigi molar pertama maksila, kemudian gigi-gigi halusan permukaan gigi dan akar gigi mengakibatkan mudah
anterior maksila(5,12). terjadi rekurensi pengendapan kalkulus pada permukaan gigi.
Pembentukan kalkulus supragingival pada orang Asia (ten- Skeling subgingiva lebih sulit dilakukan daripada skeling
tara Indonesia) lebih banyak, dan gigi yang terkena juga lebih supragingiva karena sangat diperlukan kepekaan perabaan. Ke-
banyak dibandingkan dengan orang Eropa (Oslo)(10); perbedaan berhasilan tindakan pembersihan di daerah subgingiva me-
pembentukan tersebut tidak disebabkan oleh umur, jenis kela- nyebabkan hilangnya peradangan, terjadi penyembuhan lesi
min, frekuensi menyikat gigi atau daya abrasif dari pasta gigi. periodontal melalui proses pengerutan gusi serta regenerasi
Diperkirakan perbedaan tersebut karena kebiasaan makan dan jaringan periodonsium yang rusak(5).
jenis makanannya; beras mengandung silikon yang daya abrasif- Skeling dan peaghalusan akar dapat dilakukan mengguna-
nya rendah sehingga meningkatkan rata-rata pembentukan kan alat tangan atau alat ultrasonik. Alat-alat tangan yang umum
kalkulus pada orang Asia. Silika yang ditambahkan dalam ma- dipakai adalah skeler sickle, alat kuret, skeler hoe, chisel dan file.
kanan tikus akan meningkatkan pembentukan kalkulus(10). Skeler sickle dipakai untuk membuang kalkulus supragingival,
bila shank nya lurus digunakan untuk gigi anterior dan gigi
HUBUNGAN KALKULUS DENGAN PENYAKIT PERIO- premolar, sedangkan bila shank nya contra angle untuk gigi
DONTAL posterior. Alat-alat kuret digunakan untuk membuang kalkulus
Kalkulus secara langsung tidak berpengaruh terhadap ter- subgingival yang letaknya dalam, penghalusan permukaan
jadinya penyakit periodontal; akan tetapi karenakalkulus terben- sementum akar dan menghilangkan dinding poket jaringan lu-
tuk dan plak gigi yang termineralisasi karena pengaruh kom- nak. Skeler hoe untuk menghaluskan permukaan akar dengan
ponen saliva, maka secara tidak langsung kalkulus juga dianggap membuang sisa-sisa kalkulus dari jaringan lunak sementum.
sebagai penyebab keradangan gusi (gingivitis). Regio kalkulus Alat-alat ultrasonik digunakan untuk skeling, kuret dan meng-

18 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


hilangkan stain. Cara kerja alat ini melalui gerakan vibrasi(5). periodontal, tetapi yang berperan adalah plak gigi yang terdapat
Alat penghalus permukaan gigi yang umum dipakai adalah pada permukaan luar kalkulus. Karena permukaan kalkulus
rubber dan brush (sikat), digunakan dengan kecepatan rendah. kasar dan porus maka memudahkan plak gigi melekat pada
Pemakaian bubuk yang mempunyai daya abrasif harus hati-hati, permukaan kalkulus.
karena dapat mengiritasi jaringan gigi dan gusi. Pencegahan terhadap terbentuknya kalkulus bertujuan
Skeling dengan menggunakan alat tangan membutuhkan mengurangi jumlah massa bakteri yang berperan dalani proses
ketrampilan tersendiri. Alat ini sederhana, mudah dibawa dan kalsifikasi, antara lain dengan penyuluhan atau pemberian obat
disiapkan. Skeling dengan cara ini murah dan banyak dilakukan kumur. Perawatan terhadap kalkulus dapat dilakukan mengguna-
di lapangan,tetapi tanpa ketrampilan operator bagian tepi gingiva kan alat tangan atau alat ultrasonik. Dalam perawatan tersebut
akan rusak atau sering masih dijumpai adanya kalkulus. Tepi perlu diperhatikan bahwa permukaan mahkota dan akar gigi
gingiva rusak oleh bagian tajam dan skeler akibat tekanan serta telah bebas dan kalkulus supragingival maupun subgingival,
arah gerakan yang salah dan tanpa tumpuan jan di tempat yang dan permukaan gigi harus halus. Dalam hal ini ketrampilan
tepat sehingga menimbulkan celah gingiva(22). Keadaan ini operator serta pemilihan alat yang benar dan sesuai memegang
mengakibatkan terjadi peradangan dengan rasa perih dan sakit. peranan penting untuk keberhasilan perawatan penyakit perio-
Skeling menggunakan alat ultrasonik sekarang sudah ba- dontal.
nyak dilakukan di Indonesia. Pengaruh dan pemakaian alat ultra-
sonik serta pemolesan permukaan ggi dengan mesin berkece-
patan tinggi (jet) mengakibatkan jaringan gigi turut terambil, se-
hingga bakteri dapat masuk ke tubulus dentin yang terbuka(10,20).
Jadi penggunaan harus dengan tekanan ringan dan mengenai
sedikit mungkin daerah. Pada ujung alat ultrasonik terdapat KEPUSTAKAAN
semprotan air yang bertujuan untuk menghilangkan panas yang
umumnya terjadi akibat vibrasi ultrasonik, selain itu juga ber- 1. Feldman RS, Bravacos JS, Rose CL. Association between smoking
fungsi sebagai pembersih permukaan gigi(5). different tobacco products and penodontal disease indexes. J. Periodontol.
1982; 54: 553–562.
Beberapa peneliti membandingkan skeling menggunakan 2. Sheiham A. A Review of Methods of Prevention and control of Penodon
alat tangan dan alat ultrasonik. Mereka menyimpulan bahwa tal Disease. International Conference Workshop on Research in the
skeler ultrasonik efektif membersihkan deposit bakteri sub- Biology of Periodontal Disease. Chicago, Illionis, 1977.
gingival pada permukaan gizi. Pada pemeriksaan mikrobiologi 3. Manson JD. Periodontics. 3rd ed. London: Henry Kimpton Publishers,
1975; 27–30.
diperlihatkan bahwa pembersihan daerah subgingival dengan 4. Grant DA, Stem lB. Everett FG. Periodontics. 5th ed. St. Louis, London:
alat ultrasonik dapat merubah komposisi mikrobia pada plak CV. Mosby Co, 1979; 152–170.
gigi(23). Beberapa peneliti menyimpulkan bahwa tidak ada per- 5. Carranza FA. Glickmans Clinical Periodontology. 7th ed. Tokyo: Igaku
bedaan data mikroskopik(21), juga antara penggunaan alat ultra- Shoin/Saunders, 1990.
6. Coolidge ED, Hine MK. Periodontology. 3rd ed. Philadelphia: Lea and
sonik dan alat tangan(10). Febiger, 1958; 141–160. –
Cara penanganan yang lain terhadap kalkulus, dan tidak ka- 7. Mandel I, Gaffar A. Calculus Revisited. A Review J. Clin Periodontol.
lah pentingnya, adalah pencegahan. Cara pencegahannya yaitu 1986; 13: 249–57.
dengan menghambat pembentukan kalkulus pada tingkatan plak 8. Baumhammers A, Conway JC, Saltzberg D, Matta RK. Scanning Electron
Microscopy of Supragingival Calculus. J. Periodontol. 1973; 44: 92–95.
gigi serta menghambat proses mineralisasi. Pencegahan pem- 9. Friskopp J, Hammarstrom L. A comparative, Scanning Electron Micro
bentukan kalkulus dapat dilakukan dengan mengurangi terjadi- scopy Study of Supragingival and Subgingival Calculus. J. Periodontol.
nya akumulasi plak gigi yang berperan dalam proses kalsifikasi. 1980; 51: 553–562.
Pencegahan bisa dengan penyuluhan kesehatan jaringan perio- 10. Ten Cate JM. Recent Advance in The Study of Dental Calculus. Oxford
University Press. Tokyo, 1989.
dontal, pemakaian obat kumur atau pasta gigi yang bersifat 11. Prayitno SW. A Comparison of The Periodontal Health of Two Groups of
antiseptik. Young Adult Indonesian and Characterizatipn of Advanced Periodontal
Pembentukan plak gigi dapat dikurangi dengan pemakaian obat Disease. Thesis Ph.D. Wales. United Kingdcm, 1990.
kumur(22,23); pemakaian larutan 0,2% chlorhexidine sebagai 12. Schroeder NE. Formation and Inhibition of Delital Calculus. Vienna: Hans
HuberPubl. 1969; 15–18.
obat kumur selama satu minggu dapat menghambat pertumbuh- 13. Macphee T. Essentials of Periodontology and Periodontics. 3rd ed.
an plak gigi sampai 85%(23). Bila dibandingkan dengan larutan Melbourne: Blackwell Scient. PubI. 1979; 42–68.
0,1% hexetidine (Bactidol®), maka larutan 0,2% chlorhexidine 14. Allen, Mc. Fall, Hunter. Periodontics for Dental Hygienist. 3rd ed.
(Minosep®) lebih efektif untuk menghambat pertumbuhan plak Philadelphia: Lea and Febiger, 1980; 72–7.
15. LoeH, Theilade E, Jensen SB. Experimental Gingivitis in Man. J. Periodon-
dan keradangan gusi(24). Peneliti lain melaporkan bahwa pema- tol. 1965; 36: 177–87.
kaian pasta gigi yang mengandung zinc sitrat dapat mengurangi 16. Lindhe J, Hamp SE, Loe H. Experimental Periodontitis in Beagle Dog. J.
pertumbuhan bakteri plak sampai 30%(10). Dengan demikian Period. Res. 1973; 8: 1–10.
diharapkan pembentukan kalkulus juga dapat dihambat. 17. Prayitno SW. Periodontologi, Cabang Ilmu Kedokteran Gigi, Peranannya
Dàlam Menunjang Pembangunan Nasional Bidang Kesehatan. Pidato
Pengukuhan, 1993.
KESIMPULAN DAN SARAN 18. Rateitschak EM. Color Atlas of Periodontology. New York, Stuttgart,
Kalkulus tidak berperan secara langsung terhadap penyakit Georg. Thieme Verlag, 1985.

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 19


19. Sunarto H, Sukardi Al. Tehnik Perawatan Non Bedah pada Poket 4-6 mm. Chlorhexidine sebagai Obat Kumur. Buku Naskah Kongres PDGI1 Se-
Buku Naskah llmiah KPPIKG IX, 1991; 351–54. marang, 1992.
20. Dewi Nurul M. Keadaan latrogenik yang umum teijadi dalam Bidang 23. Prijantojo. Hambatan Pembentukan Plakoleh Larutan 0,2% Chlorhexidine
Periodontologi. Buku Naskah llniiah KPPIKG IX, 1991; 417–19. sebagai Obat Kumur. Buku Naskah Ilmiab KPPIKG IX, 1991; 355–61.
21. Baehni P, Thilo, Pemet D, Effect of Ultrasonic and Sonic Scalers on Dental 24. Prijantojo. Perbandingan Pengaruh Chlorhexidine dan Hexetidine terhadap
Plaque Microflora in vitro and in vivo. J. din. Period. 1992; 19: 455–59. Radang Gingiva secara JUinis. Buku Naskah Ilmiah KPPIKG IX, 1991;
22. Prijantojo. Penurunan Radang Gingiva dengan Pemakaian Larutan 0,2% 240-49.

20 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


HASIL PENELITIAN

Frekuensi Nyeri
pada Perawatan Saluran Gigi Anterior
Sekali Kunjungan
Penelitian Pendahuluan
Wiwi Werdiningsih, Narlan Sumawinata, Ansar Bansar
Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia, Jakarta

PENDAHULUAN dengan kondisi awal pulpa vital. Penelitian banyak yang me-
Keinginan pasien untuk mempertahankan giginya daripada nyatakan bahwa kegagalan perawatan endodontik sekali kun-
dicabut kini makin meningkat ialah dengan perawatan endodon- jungan berkisar antara 2, 3 sampai dengan 30%.
tik. Tidak selesainya perawatan endodontik dalam satu atau lebih Kriteria klinik untuk menilai keberhasilan perawatan ada-
dari satu kali kunjungan sering menjadi alasan terhentinya pe- 1ah(7) :
rawatan, di samping tentu saja faktor biaya perawatan itu sendiri. 1) Tidak adanya rasa nyeri
Dalam kaitannya dengan jumlah kunjungan, perawatan se- 2) Hilangnya fistel
kali kunjungan dengan pemberian analgetika untuk menekan 3) Fungsi tetap baik
rasa nyeri tidak mendukung, sementara perawatan multi visit me- 4) Tidak ada tanda kerusakan jaringan.
mungkinkan operator menilai keadaan kesehatan jaringan saat Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah melihat salah
akan dilakukan pengisian(1). Dalam pada itu O1iet(2) dan Pekruhn(3) satu aspek keberhasilan, yaitu absennya rasa nyeri, pada satu dan
mengatakan tidak ada hubungan yang jelas antara keberhasilan/ tujuh hari setelah pengisian saluran akar gigi dengan diagnosis
kegagalan perawatan dengan jumlah kunjungan. awal nekrosis dengan atau tanpa kelainan periapeks.
Sementara itu ternyata keberhasilan perawatan sekali kun-
jungan ini mencapai 40,5% gigi non vital. 33,5% gigi dengan METODA DAN CARA KERJA
kelainan periapeks, dan 56,2% pada gigi dengan fistel. Sedang 1) Perawatan dilakukan terhadap 15 gigi anterior dengan pulpa
dalam hal timbulnya rasa nyeri dinyatakan bahwa pada gigi vital nekrosis, di FKGUI dan praktek sore.
terdapat 35,5% kasus dan gigi non vital pada 57,6% kasus(4). 2) Mula-mula ditentukan panjang kerja.
Mengapa rasa nyeri setelah perawatan timbul belum diperoleh 3) Tentukan file awal (initial file).
jawaban yang pasti, tetapi dinyatakannya, bahwa dan 63 dokter 4) Preparasi dilakukan dengan metoda double flare supaya
gigi yang melakukan perawatan endodontik ternyata dijumpai tidak mendorong jaringan nekrotik ke periapeks. Setiap kali
12 penderita yang mengalami flare up. penggantian alat dilakukan irigasi dengan NaC1 2,5% sampai
Lain lagi yang dikemukakan oleh Pekruhn(5) dikatakan dicapai file utama (master apical file) dan file terbesar. Saluran
bahwa rasa nyeri pada pasien setelah perawatan sekali kun- akar dikeringkan dengan poin kertas isap dan dicobakan bahan
jungan, ternyata secara statistik tidak berbeda bermakna diban- pengisian utama dan guttaperca dan dibuat radiograf.
dingkan dengan perawatan dalam banyak kunjungan. Sementara 5) Pengisian dilakukan dengan semen saluran akar AH-26
itu Fox yang merawat 291 pasien dengan perawatan sekali dengan metoda kondensasi lateral, dipotong secukupnya dan
kunjungan menyatakan bahwa dalam pemeriksaan ulang 1,2 dan ditumpat sementara dengan semen. Radiograf dibuat kembali
7 hari setelah pengisian, rasa nyeri hanya terdapat pada 10% untuk evaluasi pengisian.
kasus saja dengan intensitas berat pada hari pertama, 8% kasus Kontrol rasa sakit dilakukan 1 dan 7 hari setelah pengisian.
pada hari kedua, dan pada hari ke 7 tidak satupun yang masih Yang dilakukan adalah anamnesis, pemeriksaan subyektif dan
merasa nyeri. Ternyata rasa nyeri hebat terdapat pada penderita obyektif pada gigi tersebut dan jaringan sekitarnya.

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 21


HASIL keluarnya, akan menekan jaringan sekitar dan menimbulkan rasa
Rasa sakit hart ke sakit. Hal ini tentu saja tidak akan terjadi pada gigi dengan fistel,
No. Pasien Perkusi Palpasi sehingga Balaban cenderung menganjurkan pada perawatan
1 3 7
1
endodontik seyogyanya pada kunjungan pertama hanya sampai
- - - - - preparasi selesai dan diberi obat dahulu, untuk mempersiapkan
2
- - - - -
3
- - - - -
jaringan periapeks lebih kondusif terhadap perawatan.
4 Tidak adanya rasa nyeri pada hari ke 7 setelah perawatan
+ + + +(1, 3, 7) +(1, 3)
5
6
- - - - - tetapi masih agak nyeri pada perkusi walaupun palpasi tidak
- - - - - sakit, menunjukkan hal yang sesuai dengan masa penyembuhan
7
- - - - -
8
- - - - -
di daerah periapeks. Penyembuhan di daerah ini memerlukan
9 waktu antara 5 s/d 7 hari, dan telah terjadi resorpsi eksudat yang
- - - - -
10
I1
- - - - - menekanjaringan. Tetapi Se1tzer(9) mengingatkan adanya faktor-
- - - - - faktor lain yang mungkin saling berhubungan dengan rasa sakit
12
- - - - -
13
- - - - -
yang diderita pasien setelah perawatan satu kali kunjungan,
14 antara lain adanya perbedaan perorangan terhadap sindrom
- - - - -
15
adaptasi lokal, dan faktor immunologi dan psikologik penderita.
Rasa sakit dirasakan pada 1/15 = 6,67% pasien. Dengan demikian kepribadian dan kedewasaan pasien sangat
menentukan persepsi rasa nyeri ini. Di samping itu komunikasi
DISKUSI antara operator dan pasien sebelum perawatan dilakukan, ter-
Faktor yang mempengaruhi keberhasilan perawatan antara utama kejujuran operator dalam menerangkan kemungkinan-
lain adalah(7) : kemungkinan yang dapat timbul karena perawatan tersebut, juga
• Anatomi gigi meliputi morfologi saluran akar, adanya kanal sangat berperan.
tambahan, dan lain-lain. Rasa nyeri setelah perawatan juga dapat timbul karena
• Keadaan jaringan pulpa dan periapeks, keterampilan opera- instrumentasi yang tidak tepat yaitu panjang kerja yang terlalu
tor, teknik dan bahan yang dipakai. 1ama(10).
• Kesalahan yang mungkin terjadi dalam perawatan misalnya
timbul birai (ledge) atau perforasi. KESIMPULAN DAN SARAN
Sedikit rasa nyeri yang timbul pada hasil di atas mungkin Perawatan endodontik sekali kunjungan mungkin sekali
disebabkan sedikitnya faktor penyulit misalnya morfologi akar, dilakukan bila didukung oleh kemampuan, pengetahuan, dan
jenis gigi yang memudahkan instrumentasi dan radiografi, serta diagnosis operator kasus yang terpilih dan tepat, ditunjang kerja
prosedur perawatan yang memenuhi syarat seperti panjang kerja yang asepsis, sehingga kemungkinan terjadi flare up dapat diku-
yang tepat, dan perawatan yang asepsis. rangi.
Untuk menunjang keberhasilan suatu perawatan endodontik Rasa sakit setelah pengisian lebih banyak dikarenakan tin-
sekali kunjungan mutlak diperlukan diagnosis kasus yang tepat, dakan operator misalnya prosedur kerja yang tidak baik atau
karena diagnosis itu sendiri telah menentukan keberhasilan pe- perhitungan panjang kerja yang terlalu panjang sehingga me-
rawatan(4). Dari data Calhoun terungkap keberhasilan 82% dan nimbulkan inflamasi di jaringan periapeks.
pada penelitian ini sebesar 93,34%. Selain itu dinyatakan bahwa
KEPUSTAKAAN
keberhasilan untuk gigi nekrosis hanya 40,5%, yang diperinci
33,5% untuk gigi nekrosis dengan kelainan periapeks dan 56,2% 1. Flatley CJ. Incidence of post operative pain following one appointment
untuk gigi dengan fistel, lainnya gigi nekrosis tanpa kelainan(4). treatment of painful pulpitis without apical radiographic involvement,
Di lain pihak Pekruhn(3), mengemukakan bahwa hasil pe- dalam Gerstein H : Techniques in Clinical Endodontics. Philadelphia:
Saunders, 1983; 67.
rawatan gigi anterior dan posterior secara statistik tidak berbeda 2. Oliet S. Single visit endodontic, dalam Valle G : Principles and Practice of
bermakna. Yang perlu diperhatikan adalah keadaan gigi dan sa- Endodontics (ed. Walton and Torabinejad). Philadelphia: Saunders; 1989;
luran akar yang akan dirawat. Tentu saja yang sangat menentu- 310.
kan keberhasilan perawatan sekali kunjungan ini secara umum 3. Pekruhn RB. The Incidence of failure following single visit endodontic
therapy. J. Endodontics 1986; 12(2): 68–72.
ialah keterampilan dan pengetahuan operator ditunjang dengan 4. Calhoun RL. One appointment endodontic therapy, a nationwide survey of
alat-alat yang tepat, bahan/obat yang dipakai dan tindakan se- endodontists.
asepsis mungkin(7). 5. Pekruhn RB. Single visit endodontic therapy, a preliminary clinical study.
Rasa sakit yang diderita 1 pasien pada hari ke 1 s.d 7, walau JADA 1981; 12(2): 875–77.
6. Seltzer S. Bender lB. Endodontic Succ Dalaxn: Principles and Practice of
semakin berkurang menunjukkan masih adanya infeksi di daerah Endodontics (ads. Walton dan Torabinejad). Philadelphia: Saunders, 1989;
periapeks yang membutuhkan waktu untuk penyembuhannya. 312.
Kasus tersebut adalah gigi nekrosis disertai abses periapeks yang 7. Valle G. Evaluation of success and failure. Dalam: Principles and Practice
kemungkinan masih dalam keadaan akut. Fox mengungkapkan of Endodontics (ads. Walton dan Torabinejad). Philadelphia: Saunders,
1989; 311–19.
dalam hasil penelitian bahwa rasa sakit pada hari ke I sebesar 8. Balaban FS. Acute exacerbations following initial treatment of necrotic
10%, mungkin disebabkan oleh adanya reaksi jelas yang me- pulps, J. Endodont. 1984; 10(2): 78–81.
nyebabkan keluarnya eksudat dan karena tidak mendapat jalan 9. Seltzer S. Pain in endodontics. J. Endodont. 1986.

22 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Regenerasi Jaringan Periodontium


Setelah Perawatan Periodontal
Yuniarti Syafril
Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta

PENDAHULUAN dasarnya sama untuk setiap jenis perawatan. Proses regenerasi


Tujuan utama perawatan periodontal tidak hanya meng- jaringan, perbaikan jaringan, pembentukan perlekatan baru me-
hentikan penyakit periodontal, tetapi juga dapat meramalkan rupakan aspek yang terdapat pada penyembuhan setelab pera-
regenerasi jaringan periodontium pada sisi yang mengalami ke- watan periodontal.
rusakan. Regenerasi yang diharapkan antara lain terbentuknya Beberapa istilah perlu dibedakan dalam hubungannya
sementum, ligamentum periodontal dan tulang alveolar. Proses dengan proses penyembuhan dan regenerasi jaringan periodon-
regenerasi jaringan, perbaikan jaringan, pembentukan perlekat- tium. Istilah reattachment atau perlekatan kembali digunakan
an baru, merupakan aspek yang terdapat pada proses penyem- untuk menerangkan proses regenerasi struktur jaringan penyangga
buhan setelah perawatan periodontal. Regenerasi jaringan gigi setelah suatu perawatan. Perlekatan kembali lebih ditujukan
periodontium merupakan proses fisiologis yang terus berlanjut. untuk menerangkan adanya reunion jaringan ikat dengan akar
Beberapa istilah perlu dibedakan dalam hubungannya de- gigi yang terpisah karena adanya injury atau insisi(1). Keadaan
ngan proses penyembuhan dan regenerasi jaringan, antara lain tersebut misalnya: setelah suatu tindakan bedah, trauma daerah
reattachment atau perlekatan kembali, new attachment atau per- sementum, fraktur gigi, atau perawatan lesi periapikal(2).
lekatan baru, adaptasi epitel. Akhir-akhir ini prosedur perawat- Istilah new attachment atau perlekatan baru menerangkan
an periodontal dengan guided tissue regeneration banyak di- proses reunion jaringan ikat dengan permukaan akar gigi yang
lakukan. Perawatan periodontal dengan "GTR" diharapkan dapat terbuka karena proses patologis. Pada keadaan ini terjadi pem-
mencegah kehilangan jaringan penyangga pada batas tertentu. bentukan serat ligamentum baru yang tertanam pada sementum
baru dan melekatnya epitel gingiva pada permukaan akar gigi
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEM- yang terbuka sebelumnya karena proses penyakit(1,3).
BUHAN Adaptasi epitel atau epithelial adaptation berbeda dengan
Tujuan perawatan periodontal tidak hanya bermaksud perlekatan baru. Pada keadaan ini epitel gingiva melekat ke per-
menghentikan penyakit periodontal, tetapi juga menggantikan mukaan akar gigi, karena perawatan poket yang tidak sempurna
bagian jaringan penyangga yang mengalami kerusakan(1). sebelumnya. Probe tidak dapat masuk ke dalam celah poket.
Keberhasilan perawatan periodontal sangat bergantung ke- Menurut penelitian sulkus gingiva yang dalam ini dibatasi oleh
pada kesempurnaan dalam menghilangkan keradangan gingiva, epitel yang panjang, tipis, tahan terhadap penyakit dan merupa-
perdarahan gingiva, mengurangi kedalaman poket, menghenti- kan perlekatan jaringan ikat sebenarnya(4). Tetapi Nyman dan
kan proses infeksi, menghentikan pembentukan pus, menghenti- kawan-kawan menyatakan bahwa jaringan ikat gingiva tidak
kan kerusakan jaringan lunak dan tulang, mengurangi kegoyang- mempunyai kemampuan untuk membentuk perlekatan jaringan
an gigi, memperbaiki fungsi oklusi, memperbaiki jaringan yang ikat baru pada permukaan gigi yang terbuka karena proses
mengalami kerusakan, mencegah rekurensi penyakit, serta penyakit(5).
mengurangi hilangnya gigi-geligi(2). Proses penyembuhan pada Proses penyembuhan dipengaruhi oleh faktor lokal dan

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 23


sistemik. Faktor lokal seperti kontaminasi mikroorganisme, sementum yang ada, tetapi oleh jaringan ikat atau prekursor-
oklusi merupakan faktor yang sering menghambat nya(1,2). Bentuk penyembuhan yang sering terjadi setelah tindakan
penyembuhan jaringan. Menghilangkan plak dan semua faktor bedah adalah pertumbuhan long junctional epithelium atau epitel
yang mempermudah retensi plak serta menghilangkan tekanan penghubung panjang dan perlekatan jaringan ikat. Keadaan ini
yang berlebihan, dapat meningkatkan regenerasi tulang dan secara klinis menunjukkan hasil yang memuaskan, tetapi proses
menghasilkan perlekatan jaringan baru(2,6,7). Kelainan sistemik regenerasi yang terjadi tidak menunjukkan hasil yang memuas-
dapat mempengaruhi atau menghambat penyembuhan jaringan kan(13).
setelah perawatan periodontal; penyembuhan jaringan akan ter- Regenerasi juga merupakan rekonstitusi perlekatan jaringan
hambat pada penderita dengan infeksi menyeluruh, penderita periodontium termasuk perlekatan gingiva, sementum, ligamen-
Diabetes Meilitus, pada keadaan defisiensi nutrisi tertentu, pen- tum periodontal, dan tulang alveolar yang mengelilingi gigi(14,15).
derita dengan penyakit infeksi yangt melemahkan tubuh(1,2,6). Regenerasi jaringan penodonsium merupakan proses fisiologis
Faktor hormonal juga berpengaruh; pemberian glukokortikoid yang terus berlanjut. Pada keadaan normal sel-sel baru dan ja-
seperti kortison dapat menghalangi proses perbaikan jaringan, ringan terbentuk secara tetap, menggantikan jaringan matang
menekan reaksi radang atau menghambat pertumbuhan fibro- dan mati. Hal ini terjadi karena aktivitas mitotik epitel gingiva
bias, pembentuk kolagen dan sel endotel. Stres sistemik, peng- dan jaringan ikat ligamentum periodontal. Aktivitas ini berupa
angkatan kelenjar tiroid, pemberian hormon testosteron, hormon pembentukan tulang baru serta deposisi terus menerus dan se-
adenokortikotropik dan estrogen dalam dosis besar, akan me- mentum(2).
nekan pembentukan jaringan granulasi serta menghambat Penelitian Gottlow dan kawan-kawan memisahkan per-
penyembuhan. tumbuhan jaringan granulasi yang berasal dari ligamentum pe-
riodontal dengan permukaan akan gigi; epitel dan jaringan ikat
PENYEMBUHAN JARINGAN PERIODONTIUM gingiva dicegah untuk berkontak dengan akar gigi selama penyem-
Perawatan bedah periodontal dilakukan dengan menghi- buhan. Hasilnya adalah pembentukan sementum baru yang ter-
langkan jaringan lunak dan keras yang mengalami kerusakan tanam di antara serat-serat kolagen pada permukaan akar yang
karena proses penyakit periodontal. Penyembuhan luka jaringan telah terbuka sebelumnya(16). Di sini terlihat bahwa jaringan
periodonsium setelah tindakan bedah merupakan proses yang granulasi yang berasal dari ligamentum periodontal mempunyai
kompleks; setelah insisi dan pengangkatan jaringan granulasi, kemampuan membentuk jaringan ikat baru. Jadi regenerasi
maka permukaan gigi akan diisi oleh 4 bentuk sel yang berbeda ligamentum periodontal merupakan kunci terjadinya perlekatan
yaitu: sel epitel, sel yang berasal dari jaringan ikat gingiva, sel baru, karena ligamentum periodontal merupakan penghubung
tulang dan sel yang berasal dari ligamentum peniodontal(8). Bila antara sementum dan tulang baru(16,17,18), ligamentum periodontal
sel yang berasal dari oral epithelium berproliferasi sepanjang juga mengandung sel yang dapat mensintesis dan membentuk
perrnukaan akar sampai batas epitel poket, maka yang terbentuk kembali ke tiga jenis jaringan ikat yang merupakan bagian
adalah long junctional epithelium atau epitel penghubung yang alveolar dan jaringan periodontium, serta mempunyai kemam-
panjang. Epitel ini dapat berproliferasi dengan cepat ke arah puan membentuk sementum baru(8).
apikal, dan menghalangi perlekatan jaringan ikat ke semen- Dengan adanya kemampuan ligamentum periodontal mem-
tum(7,9,10).Bila sel yang berasal dari jaringan ikat gingiva berkum- bentuk jaringan ikat baru, tidak hanya migrasi epitel dento-
pul pada permukaan akar, maka sejenis jaringan ikat akan melekat gingival saja yang dapat dicegah pada saat penyembuhan;migrasi
di antara jaringan lunak dan jaringan keras. Jika sel tulang jaringan granulasi yang berasal dari jaringan ikat gingiva juga
bermigrasi hingga berkontak dengan akar, maka akan terjadi dihambat berkontak dengan permukaan akar selama penyem-
resorbsi permukaan akar gigi dan ankilosis(11). Keadaan yang buhan. Hal ini dibuktikan pada binatang percobaan monyet yang
paling ideal adalah, jika sel dan ligamenturn periodontal ber- permukaan bukal gigi kaninusnya diinsisi berbentuk U. Di-
prolifereasi ke arah korona, menutup permukaan akar yang ter- lakukan flap mukopenosteal di daerah korona hingga tulang
buka(8). alveolar terbuka, dan neseksi tulang alveolar serta pengangkatan
Selama penyembuhan,, proliferasi sel epitel untuk mencapai seluruh sementum seluas 3 mm ke arah apeks hingga 2 mm dari
setinggi epitel poket sebelum tindakan bedah, adalah 1 minggu tepi puncak tulang alveolar. Tujuannya agan selama penyem-
setelah operasi(12). Migrasi epitel ini berfungsi sebagai barier buhan tidak terdapat gangguan yang berupa migrasi epitelden-
pelindung agar tidak terjadi resorbsi akar dan ankilosis(13). togingival. Untuk mencegah jaringan ikat gingiva berkontak
Regenerasi adalah pertumbuhan serta pembelahan sel-sel dengan permukaan akar selarna penyembuhan, dilakukan penu-
baru dan substansi interseluler yang membentuk jaringan baru. tupan fenestrasi daerah alveolar dengan filter millipore. Setelah 3
Regenerasi terdiri dari fibroplasia, proliferasi endotel, deposisi bulan penyembuhan, secara histologis terlihat adanya pemben-
dan substansi dasar intersisial dan kolagen, epitelisasi dan pe- tukan perlekatan baru termasuk pembentukan sementum baru,
matangan jaringan ikat. Regenerasi terjadi dari pertumbuhan perlekatan jaringan fibrous dan tulang alveolar(19). Kemampuan
jaringan dari jenis yang sama atau prekursornya. Jaringan perio- iigamentum periodontal untuk beregenerasi hanya terjadi jika sel
donsium, epitel gingiva digantikan oleh epitel, Jaringan ikat di epitel, sel tulang dan sel jaringan ikat gingiva dicegah berkontak
bawahnya serta ligamentum periodontal digantikan oleh jaring- dengan akan selama penyembuhan(12,19,20).
an ikat. Tulang serta sementum tidak digantikan oleh tulang dan Setelah tindakan bedah regeneratif yang dilakukan pada

24 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


binatang percobaan dengan kerusakan daerah furkasi, regenerasi tingkat tertentu.
tulang pertama kali terjadi di daerah yang paling dekat dengan Gottlow dan kawan-kawan menggunakan membran teflon
permukaan akar, diikuti daerah sentral interadikular. Ankilosis yang diletakkan pada permukaan akan yang terbuka, pada waktu
terjadi pada 24 area dan 39 sampel, serta mengenai daerah flap operasi. Hasilnya menunjukkan adanya penyembuhan be-
dengan kerusakan yang luas. Seluruh sampel menunjukkan rupa penutupan akan yang terbuka, dan pembentukan perlekatan
adanya penyembuhan berupa perlekatan jaringan ikat yang baru(20). Sedang Warrer dan Karring mengevaluasi pemakaian
mengelilingi daerah furkasi(19). graft tulang (Tissel) yang dikombinasi dengan membran GTR
Perlekatan baru hanya akan terbentuk jika sel yang berasal (Zitex) pada poket supraboni. Hasilnya menunjukkan bahwa pe-
dari ligamentum periodontal mengisi daerah luka yang berde- makaian membran yang terlalu besar serta kontaminasi daerah
katan dengan permukaan akar(16). Jaringan granulasi yang berasal operasi, menyebabkan penyembuhan daerah operasi kurang baik
dari jaringan periodontium lainnya seperti dari tulang alveolar dan keluamya materi graft tulang. Hal ini karena kegagalan pe-
atau dari jaringan ikat gingiva, bila berkontak dengan permuka- nutupan tepi bukal dan lingual pada daerah interproksimal pada
an akan selama penyembuhan akan menghasilkan resorbsi akar waktu penyembuhan. Selanjutnya terjadi resesi dan terbukanya
daripada pembentukan, perlekatan jaringan ikat baru(5,22). Ke- membran yang menyebabkan terjadinya pengumpulan plak serta
mampuan ligamentum periodontal untuk beregenerasi dan sisa-sisa makanan(24). Dari penelitian di atas dapat disimpulkan
membentuk perlekatan baru, telah dibuktikan pada penderita bahwa membran harus benar-benar tertutup jaringan selama pe-
dengan penyakit periodontal lanjut disertai terbukanya permuka- nyembuhan dengan menghindari pemakaian membran yang
an akar(13,20). terlalu besar. GTR menghasilkan penambahan jaringan yang
cukup bermakna selama 4 sampai 6 minggu setelah tindakan
PENCEGAHAN MIGRASI EPITEL PENGHUBUNG bedah. Penambahan jaringan yang mengalami mineralisasi pada
DAN EPITEL POKET penyakit periodontal lanjut setelah pembedahan dengan GTR,
Perlekatan baru dengan regenerasi tulang merupakan hasil dapat menyèmpurnakan penyembuhan atau perbaikan jaring-
yang terbaik setelah suatu perawatan. Pengangkatan junctional an(25).
epithelium atau epitel penghubung dan epitel poket, serta pen- Pemakaian asam sitrat pada binatang percobaan menunjuk-
cegahan migrasi epitel pada saat penyembuhan setelah suatu kan bahwa tertanamnya matriks dentin yang mengalami demine-
tindakan bedah sangatlah penting(13,20). Adanya epitel poket dan ralisasi ke dalam jaringan ikat, akan merangsang sel mesensim
epitel penghubung akan mengganggu aposisi jaringan ikat dan untuk berdiferensiasi menjadi osteoblas dan kemudian terjadi
sementum, yang selanjutnya akan menghambat pertumbuhan, proses osteogenik. Pemakaian asam sitrat pada pH 1 selama 2
serat periodontium yang tertanam di antara sementum. Beberapa sampai 3 menit pada permukaan akan gigi, akan menghasilkan
metode dapat digunakan untuk pengangkatan epitel penghubung permukaan akan yang terdemineralisasi. Keadaan ini akan me-
dan epitel poket, antana lain tindakan bedah dengan kuretase, rangsang proses sementogenesis dan perlekatan serat-serat
modified widman flap, internal bevel incision tanpa pembukaan kolagen(2) tetapi pemakaian asam sitrat pada permukaan akar
area operasi, gingivektomi ke arah puncak tulang alveolar serta tidak meningkatkan penyembuhan setelah bedah periodontal(26).
pengangkatan, debridemen seluruh iritan(2). Kombinasi fibronektin dan asam sitrat telah diteliti terhadap
Pengangkatan epitel penghubung dan epitel poket saja, hewan percobaan. Pemberian fibronektin pada permukaan akar
kadang-kadang tidaklah cukup untuk menghasilkan penyem- dapat meningkatkan perlekatan baru. Pada penelitian ini fibro-
buhan yang baik. Hal ini disebabkan karena epitel yang berasal nektin diletakkan pada daerah flap, kemudian ditambahkan asam-
dari potongan daerah tepi sangat cepat berproliferasi ke apikal, sitrat pada permukaan akan. Hasilnya menunjukkan penyembuh-
menyilang di antara jaringan ikat dan sementum. Bedah re- an yang lebih cepat disertai dengan peningkatan proliferasi sel(27).
konstruktif pada perawatan periodontal dibutuhkan untuk mem-
bantu regenerasi tulang. Bedah rekonstruktif dibagi menjadi dua EVALUASI KEBERHASILAN PERAWATAN JARINGAN
yaitu tanpa graft dan dengan graft yang keduanya berhubungan PERIODONTIUM
dengan pembentukan perlekatan baru. Beberapa peneliti telah Evaluasi keberhasilan perawatan periodontal kadang-ka-
mengembangkan penggunaan graft tulang yang semuanya ber- dang agak sukar diketahui secara klinik maupun eksperimental.
tujuan untuk mencegah migrasi epitel. Keberhasilan perawatan dapat dilihat secara klinis, radiografis,
Guided tissue regeneration atau GTR merupakan salah tindakan bedah, atau secara histologis.
satu teknik yang digunakan untuk mencegah migrasi epitel se- Metode klinis yang digunakan dengan membandingkan ke-
panjang dinding semen dan poket periodontal, berupa peletakan adaan sebelum dan sesudah probing. Tiga cara probing yang di-
suatu barier yang menutup tulang alveolar dan ligamentum lakukan yaitu pengukuran kedalaman poket, tinggi perlekatan,
periodontal(13,20). Selama penyembuhan migrasi epitel dento- dan tinggi tulang. Menentukan tinggi perlekatan lebih penting
gingival juga dapat membahayakan pembentukan perlekatan daripada pengukuran poket. Hal ini disebabkan karena adanya
jaringan ikat baru(23). Pemakaian membran millipore telah di- perubahan tepi gingiva setelah perawatan. Beberapa penelitian
lakukan pada binatang percobaan dengan hasil memuaskan(19). telah dilakukan terhadap pengaruh penetrasi probing kedalaman
Teknik GTR telah membuka kemungkinan baru untuk memper- poket. Penetrasi probing ini sangat bervariasi bergantung kepada
baiki atau mengembalikan kehilangan jaringan penyangga pada derajat keradangan jaringan, yang secara langsung berpengaruh

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 25


terhadap dasar poket. Probing mungkin tidak mencatat keda- baru merupakan aspek-aspek yang terdapat pada penyembuhan.
laman poket yang sebenarnya, tetapi merupakan hasil penetrasi Setelah perawatan regenerasi terjadi dan pertumbuhan jaringan
probe ke jaringan periodontium, sehingga menghasilkan per- dari jenis yang sama atau prekursornya. Bedah rekonstruktif di-
kiraan yang berlebihan dan kedalaman poket(28). perlukan untuk membantu regenerasi tulang, antara lain dengan
Penilaian klinis jaringan keras memerlukan re-entry surgery graft tulang dan guided tissue regeneration. Penilaian regenerasi
atau pembedahan kedua setelah periode penyembuhan. Tindakan jaringan dapat dilihat secara klinis, radiografis, tindakan bedah
ini biasanya dilakukan 6 sampai 12 bulan setelah pembedahan atau re-entry surgery dan pemeriksaan histologis.
pertama. Pembedahan kedua ini biasanya berjalan lebih cepat
dan trauma yang terjadi lebih sedikit. Jika pengukuran ini di-
kombinasi dengan penilaian klinis jaringan lunak, dapat mem- KEPUSTAKAAN
berikan informasi yang bermanfaat sesuai tujuan perawatan yaitu
regenerasi jaringan periodontium. Penilaian dilakukan dengan 1. Lindhe J. ed. Textbook of Clinical Penodontology. Philadelphia: WB
membuat model cetakan tulang pada waktu pembedahan per- Saunders 1983; 410–30.
2. Carranza Jr FA. Glickman’s clinical pei-iodontology. 7th ad. Philadelphia:
tama dan pembedahan kedua,yang kemudian dibandingkan(1,2,14). WB Saunders 1990; 555–562, 836–59.
Teknik pengukuran secara linear terhadap perubahan jaring- 3. Nyman S, Lindhe J, Karnng T, Rylander H. New attachment following
an keras gigi, ditentukan dan beberapa titik yaitu: 1) Tinggi surgical treatment of human periodontal disease. J Clin Periodontol 1982;
puncak tulang alveolar, yaitu jarak dan batas semen enamel ke 9: 290–96.
4. Weinstrom J, Lindhe J. Plaque-induced gingival inflammation in the
puncak tulang alveolar, 2) Kehilangan tulang, yaitu jarak dari absence of attached gingiva in dogs. J Clin Periodontol 1983; 10: 266–76.
batas semen enamel ke dasar kerusakan tulang, 3) Dalamnya ke- 5. Nyman S, Karring T, Lindhe J, Planten S. Healing following implantation
rusakan, yaitu jarak dan puncak tulang alveolar ke dasar keru- of periodontitis affected roots into gingival connective tissue. J Clin
sakan tulang, 4) Kedalaman probing pada kerusakan daerah Periodontol 1’ 0; 7: 394–401.
6. Goldman HM, Cohen DW. Periodontal therapy. 6th ad. St Louis: CV.
furkasi horizontal, yaitu jarak dan permukaan bukal atau lingual Mosby 1980; 721–32.
daerah furkasi yang mengalami kerusakán, ke permukaan luar 7. Wikesjo U ME, Nilveus RE, Selvig KA. Significance of early healing
dan kedudukan probe pada lekukan furkasi(14). events on periodontal repair : A review. J Periodontol 1992; 63: 158–65.
Perlu adanya standar teknik pemotretan, untuk menilai 8. Melcher AH. On the repair potential of periodontal tissue. In Lindhe J.
Textbook of Clinical Periodontology. Philadelphia: WB Saunders 1983;
regenerasi tulang alveolar. Walaupun terdapat standar teknik pe- 410-30.
motretan, gambaran radiografis tidak dapat memperlihatkan 9. Ramfyord SP. Experimental periodontal treatment in rhesus monkeys. In
topografi keseluruhan daerah tulang sebelum dan sesudah pe- Carranza Jr FA. Glikman’s Clinical Periodontology. 7th ed. Philadelphia:
rawatan. Beberapa peneliti menyatakan bahwa pemeriksaan WB Saunders 1990; 836–59.
10. Wirthlin MR. The current status of New Attachment Therapy. J
radiografis kurang akurat dibanding probing secara klinis(29). Periodontol 1981; 52: 529-44.
Pemakaian teknik digital komputer substraction radiography 11. Karring T, Nyman S. Lindhe J. Healing following implantation of perio-
akan menghasilkan gambar yang baik. Hasilnya dapat memper- dontitis affected roots into bone tissue. J Clin Periodontol 1980; 7:96–105.
lihatkan perubahan tinggi puncak tulang dan dasan kerusakan 12. Proye M, Poison AM. Effect of root surface alterations on periodontal
healing. 1. Surgical denudation. J Clin Periodontol 1982; 9: 428–40.
yang berdekatan dengân permukaan akar, perubahan kepadatan 13. Caffesse RG, Nasjleti CE, Anderson GB, Lopatin DE, Smith BA,
tulang, perubahan persentasi jaringan penyangga gigi pada setiap Morrison EC. Periodontal healing following Guided tissue regeneration
akar gigi(14). with citric acid and fibronectin application. J Periodontol 1991; 62: 21–29.
Analisis radiografis dan re-entry operations dilakukan un- 14. Lynch SE. Methods for evaluation of regenerative procedures. J Periodon
tol 1992; 63: 1085–92.
tuk mengukun regenerasi tulang pada kerusakan tulang angular 15. Isidor F, Attstrom R, Karnng T. Regeneration of alveolar bone following
sebelum dan sesudah perawatan. Analisis ini tidak dapat mem- surgical and non surgical periodontal treatment. J Ciin Periodontol 1985;
perlihatkan adanya pembentukan sementum baru pada permukaan 12: 687–96.
akar dan ligamentum periodontal baru(1). 16. Gottlow J, Nyman S, Karring T, Lindhe J. New attachment formation as
the result of controlled tissue regeneration. J Clin Periodontol 1984; 11:
Regenerasi jaringan periodontium dan perlekatan baru hanya 494-503.
dapat ditentukan secara tepat melalui pemeriksaan mikroskopis. 17. Karring T, Nyman S. Lindhe J. Healing following implantation of perio-
Penilaian regenerasi jaringan diperlukan bukti adanya sementum dontitis affected roots into bone tissue. J Clin Periodontol 1980; 7:96–105.
baru dan pertumbuhan ligamentum periodontal ke arah koronal 18. Isidor F, Karr ngT, Nyman S. Lindhe J. The significance of coronal growth
of periodontal ligament tissue for new attachment formation. I Clin Perio-
tulang alveolar, serta pembentukan perlekatan baru secara se- dontol 1986; 13: 145–150.
mpurna. Penilaian histologis perlekatan baru hanya membutuhkan. 19. Nyman S, Gottlow J, Karring T, Lindhe J. The regenerative potential of the
bukti terbentuknya sementum baru dengan pertumbuhan serat periodontal ligament. An experimental study in the monkey. J Clin Perio-
kolagen di antaranya(14). dontol 1982; 9: 157–265.
20. Gottlow J, Nyman S, Lindhe J, Karnng T, Wennstrom J. New attachment
formation in the human periodontium by guided tissue regeneration. J Clin
RINGKASAN Periodontol 1986; 13: 604–16.
Tujuan perawatan periodontal tidak hanya bermaksud meng- 21. Klinge B, Nilveus R, Engelberg I. Bone regeneration pattern and ankylosis
hentikan penyakit periodontal, tetapi juga menggantikan bagian in experimental furcation defects in dogs. I Clin Periodontol 1985; 12:
456–64.
jaringan penyangga yang mengalami kerusakan. Proses regene- 22. Karring T, Nyman S. Lindhe J. Healing following implantation of perio-
rasi jaringan, perbaikan jaringan dan pembentukan perlekatan dontitis affected roots into bone tissue. J Clin Penodontol 1980; 7:96-105.

26 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


23. KarringT, Isidor F, Nyman S. Lindhe J. New attachment formation on conditioning with citric acid and wound closure including an expanded
teeth with a reduced but healthy periodontal ligament. J Clin Periodontol PTFE membrane. J Periodontol 1992; 63: 876–882.
1985; 12: 51–60. 27. Caffesse RG, Holden M, Kon S, Nasjleti CE. The effect of citric acid and
24. Warrer K, Karnng T. Effect of tisseel on healing after periodontal flap fibronectin application on healing following surgical treatment of natur-
surgery. J Clin Periodontol 1992; 19: 449–54. rally occurring periodontal disease in beagle dogs. J Clin Periodontol
25. Flores-de-Jacoby L, Zimmermann A, Tsalikis L. Experiences with Guided 1985; 12: 578–590.
tissue regeneration in the treatment of advanced periodontal disease. J Clin 28. Listgarten MA. Periodontal probing: What does it mean?. J Clin Periodon-
Penc,dontol 1994; 21: 113–17. tol 1980; 7: 165–176.
26. Kersten BG, Chamberlain AD, Sam Khorsandi, Wikesjo UM, Selvig K, 29. Lang NP, Hill RW. Radiographs in periodontics. J Clin Periodontol 1976;
Nilveus R. Healing of the intrabony periodontal lesion following root 4: 16.

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 27


TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Antiseptik Sebagai Obat Kumur -


Peranannya terhadap Pembentukan
Plak Gigi dan Radang Gusi
Prijantojo
Laboratorium Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta

PENDAHULUAN PEMBAHASAN
Peranan plak gigi terhadap terjadinya kelainan periodontal Antiseptik merupakan suatu senyawa yang dapat mengham-
sudah dikenal selama hampir 80 tahun(1,2,3). Kelainan periodontal bat pertumbuhan atau perkembangan mikroorganisme tanpa
yang lanjut biasanya ditandai dengan adanya radang jaringan merusak secara keseluruhan(6). Sebagai antibakteri, pemakaian
lunak, kerusakan mcmbran periodontal, kerusakan tulang serta antiseptik sebagai obat kumur bertujuan untuk menghambat
bergeraknya epithelial attachment ke arah apikal(4). pertumbuhan bakteri plak(7). Karena bakteri plak merupakan
Sebelum ditemukan bahan-bahan kimia khususnya anti- penyebab kelainan periodontal maka diharapkan pemakaian obat
septik yang dapat menghambat pertumbuhan plak gigi, usaha kumur akan dapat mengurangi terjadinya kelainan periodontal(8).
untuk mengurangi/mencegah pertumbuhan plak dilakukan se- Para dokter gigi yang bekerja di klinik ternyata mendukung
cara mekanis dengan memakai sikat gigi(5). Cara ini ternyata pendapat beberapa peneliti bahwa kontrol plak secara kimia
kurang efektif, karena hanya berperan terhadap plak gigi yang dengan menggunakan antiseptik sangat membantu kontrol plak
supragingival. Di samping itu cara ini tidak mungkin dilakukan secara mekanis(9-12).
secara sempurna pada tiap individu karena adanya beberapa Dalam makalah ini dikemukakan beberapa macam anti-
faktor misalnya letak gigi yang berjejal. Untuk mencegah ter- septik yang digunakan sebagai bahan dasar obat kumur yang
jadinya plak yang merupakan kumpulan mikroorganisme secara dipasarkan di Indonesia.
sempurna, maka para pakar di bidang periodontologi mengada-
kan penelitian-penelitian menggunakan antiseptik yang mem- LISTERIN
punyai sifat antibakteri. Kebanyakan antiseptik dikemas dalam Listerin dipasarkan dengan merek dagang Listerin®, me-
bentuk obat kumur, walaupun ada beberapa yang dikemas dalam rupakan antiseptik yang efektif sebagai anti plak. Uji coba klinis
bentuk gel/pasta gigi. antara 7–60 hari menunjukkan adanya hambatan pembentukan
Pemakaian antiseptik sebagai obat kumur mempunyai peran plak dan radang gingiva bila digunakan untuk membantu kontrol
ganda yaitu sebagai pencegahan langsung pertumbuhan plak plak secara mekanis(13,14,15). Hasil penelitian ini didukung oleh
gigi supragingiva dan sebagai terapi langsung terhadap plak gigi penelitian Lamser dkk. selama 6 bulan, yang menunjukkan
subgingiva(5). Sampai sekarang kontrol plak secara kimia bahwa listerin dapat mengurangi penimbunan plak dan menu-
dengan menggunakan antiseptik sebagai obat kumur runkan derajat keradangan gingiva(16,17).
berkembang de- ngan pesat baik di lingkungan dokter gigi Gordon dkk.(18) melakukan penelitian untuk membuktikan
maupun di kalangan masyarakat. pengaruh listerin terhadap pembentukan plak dan gingivitis.
Pada makalah ini akan dibahas peran beberapa macam anti- Pada penelitian ini dilibatkan 144 mahasiswa kedokteran gigi
septik yang merupakan bahan dasar obat kumur dalam upaya dan staf Fakultas Kedokteran Gigi di Dickinson, umur antara
mencegah atau mengurangi terjadinya kelainan periodontal ter- 18–54 tahun. Orang percobaan kumur-kumur dengan larutan
masuk radang gusi. listerin 2 kali sehari sebanyak 20 ml tiap kali kumur selama 30

Dibacakan pada Seminar Sehari tentang Periodontogi (One Day Course on


Periodontogy), Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Bandung.
12 Agustus 1993.

28 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


detik. Selama 6 bulan penggunaan obat kumur diawasi oleh percobaan menunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna dari
petugas kecuali hari libur dan 3 bulan terakhir. Evaluasi di- indeks plak antara kedua kelompok, namun didapatkan penurun-
lakukan pada bulan 1, 3,6,9. Hasilnya menunjukkan penurunan an jumlah bakteri dalam ludah sebanyak 39,2% bakteri aerob dan
skor plak yang bermakna pada bulan 1, 3 dan 6 bila dibanding- 31,3% bakteri anaerob. Penurunan terjadi 1–2 jam setelah
kan dengan kelompok kontrol (kumur dengan air) sebesar 12,1%, kumur-kumur. Bila dibandingkan dengan chlorhexidine penu-
18,3%, 18% pada bulan 1, 3 dan 6. Pada 3 bulan terakhir hanya runan jumlah bakteri jauh berkurang(24). Penelitian menyimpul-
85 orang percobaan dievaluasi. Hasil evaluasi menunjukkan kan bahwa povidon iodin tidak dianjurkan untuk membantu
adanya penurunan indeks plak yang bermakna yaitu sebanyak kebersihan mulut dan perawatan gingivitis karena tidak dapat
15,5%, 20,9%, 23,7% dan 19,5% pada bulan 1, 3, 6 dan 9. menurunkan terjadinya penumpukan plak sehingga radang gusi
Terhadap radang gingiva, didapat penurunan indeks radang se- akan terus berlangsung(22).
banyak 0,9%, 7,9%, 10,4% pada bulan 1, 3 dan 6. Bila diban-
dingkan dengan kelompok kontrol (kumur dengan air) maka HEXETIDINE
penurunan indeks radang ini tidak bermakna. Pada bulan ke 9, Hexetidine sebagai obat kumur dipasarkan dengan merek
85 orang dan 144 orang percobaan dievaluasi perubahan indeks dagang Bactidol® termasuk golongan antiseptik dan merupakan
radang gingivanya; hasilnya didapat penurunan indeks radang derivat piridin(25). Mempunyai sifat antibakteri, bermanfaat un-
gingiva sebanyak 5,1%, 9,0%, 20,8% dan 23,9% pada bulan 1,3, tuk bakteri Gram positif dan Gram negatif, dan dapat digunakan
6, dan 9. Bila dibandingkan dengan kelompok kontrol (kumur untuk mengurangi terjadinya keradangan. Hexetidine merupakan
dengan air) hasil ini menunjukkan perbedaan yang bermakna. antibakteri dengan spektrum luas dengan konsentrasi rendah
Penelitian 1ain melibatkan 131 orang percobaan yang pada bermanfaat untuk mikroorganisme rongga mu1ut(26). Hexetidine
akhir percobaan tinggal 103 orang. Orang percobaan dibagi dapa digunakan pada penderita dengan radang rongga mulut dan
dalam 3 kelompok yaitu kelompok I kumur dengan listerin 4 kali nasopharynx(26,27,28). Pernyataan ini dibuktikan pada percobaan
sehari. kelompok II kumur dengan listerin 2 kali sehari dan dengan larutan 0,1 % hexetidine sebagai obat kumur pada orang-
kelompok III kumur dengan air/plasebo 2 kali sehari. Penelitian orang Anglo di Amerika yang menderita radang rongga mulut;
dilakukan selama 2 minggu dan menunjukkan hasil sebagai ternyata radang dapat sembuh dengan baik. Hal ini berarti
berikut: Pada kelompok kumur 4 kali sehari terjadi penurunan hexetidine akan bermanfaat untuk penderita dengan kelainan
indeks plak sebanyak 48,2%, kelompok 2 kali kumur sebanyak periodontal yang disebabkan oleh mikroorganisme. Penelitian
38,8%. Bila dibandingkan dengan kelompok kontrol didapatkan 1ain(29) membuktikan bahwa hexetidine dapat mengikat protein
perbedaan yang bermakna. mukosa mulut sehingga dapat menguntungkan hexetidine seba-
Hasil evaluasi radang gingiva mendapatkan penurunan in- gai antibakteri. Pendapat ini diperkuat oleh Bourgonet(30) yang
deks radang gingiva sebanyak 59,6% pada kelompok kumur 4 mengatakan bahwa hexetidine dapat memperpanjang efek anti-
kali sehari dan 56,4% pada kelompok kumur 2 kali sehari. Bila bakteri karena adanya ikatan dengan protein mukosa. Ikatan pro-
dibandingkan dengan kelompok kontrol maka didapatkan per- tein tersebut akan menghambat metabolisme mikroorganisme
bedaan yang bermakna; namun bila kelompok kumur 4 kali se- yang berada pada permukaan mukosa dan plak. Ikatan dengan
hari dibandingkan dengan kelompok kumur 2 kali sehari tidak mukosa dan plak ini terjadi selama 7 jam setelah kumur(31). Pe-
didapatkan perbedaan yang bermakna. nelitian menggunakan larutan 0,1% hexetidine sebagai obat
kumur pada orang-orang percobaan selama 14 hari dapat menu-
POVIDONE IODINE runkan radang gingiva sampai 34% pada hari ke 7 dan 38% pada
Povidone Iodine 1 % sebagai obat kumur yang dipasarkan hari ke 15(37), tergantung dari keparahan keradangan maka rata-
dengan merek dagang Betadine® (untuk selanjutnya kami sebut rata akan sembuh selama 4 minggu(33).
betadine) sebagai antiseptik mempunyai sifat antibakteri. Obat Hexetidine juga dapat menghambat pertumbuhan plak, te-
kumur ini dapat dipakai untuk mengurangi bakteremia setelah tapi kurang efektif bila dibandingkan dengan chlorhexidine(31).
pencabutan gigi atau setelah perawatan bedah(20,21). Efek betadine Penelitian dengan menggunakan larutan 0,1% hexetidine se-
terhadap bakteri rongga mulut sangat cepat dan pada konsentrasi bagai obat kumur yang dipakai 2 kali sehari sebanyak 10 ml tiap
yang tinggi dapat mematikan bakteri rongga mu1ut(22). Bila di- kali kumur selama 30–60 detik, menyebabkan penurunan indeks
bandingkan dengan chlorhexidine, betadine hanya sedikit mem- plak sebanyak 25% pada hari ke 3 dan 52% pada hari ke 7. Bila
punyai sifat anti p1ak(23). dibandingkan dengan plasebo penurunan terjadinya akumulasi
Addy dkk.(22) mengadakan penelitian untuk membuktikan plak tidak ada berbeda bermakna(32,34).
pengaruh povidone iodine (Betadin) terhadap pembentukan plak
dan jumlah bakteri dalam ludah. Penelitian dilakukan terhadap
18 orang percobaan yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu ke- HIDROGEN PEROKSIDA
lompok yang kumur dengan betadin dan kelompok lain kumur Hidrogen peroksida (H,0 merupakan antiseptik karena
dengan plasebo/air. Masing-masing orang percobaan kumur- dapat melepaskan oksigen sebagai zat aktif(35). Sebagai obat
kumur dengan betadine/plasebo 2 kali sehari sebanyak 10 ml tiap kumur biasanya dipakai konsentrasi 3%.
kali kumur selama 1 menit. Percobaan dilakukan selama 10 hari Pemakaian hidrogen peroksida sebagai obat kumur dapat
dengan kontrol pada hari 2,4,5,6,9. Hasil evaluasi sampai akhir mencegah/menghambat pertumbuhan bakteri plak(36,37,38). Ham-

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 29


batan ini dimungkinkan karena oksigen yang dilepaskan oleh Cara pemberian, frekuensi pemakaian serta konsentrasi
hidrogen peroksida akan mengoksidasi protein kuman sehingga chlorhexidine ternyata mempunyai pengaruh. Aplikasi 0,2%
enzim kuman sebagai penyebab radang gingiva menjadi tidak larutan chlorhexidine dibandingkan dengan kumur-kumur mem-
aktif(35). Hampir 50% mikroorganisme anaerob terdapat pada berikan hasil yang sama efektif(50). Cara aplikasi ini tidak selalu
radang gingiva dan sangat sensitif terhadap oksigen. Penggunaan dapat dilakukan di tiap individu, tergantung dari keadaan klinis
larutan hidrogen peroksida 3% sebagai obat kumur 3 kali sehari penderita. Untuk hasil yang baik dari menyikat gigi 2 kali sehari
selama 2 minggu dapat menurunkan pembentukan plak sebanyak menggunakan 1% chlorhexidine gel di daerah dengan pem-
50% dan menurunkan indeks radang gingiva sebanyak 22%. bentukan poket perlu dilakukan skeling(51). Aplikasi pasta
Pemakaian hidrogen peroksida 1% selama 5 hari juga dapat chlorhexidine pada sekelompok anak-anak muda sekali sehari
mengurangi terjadinya radang gingiva dan menghambat pem- menghasilkan penurunan indeks baik plak maupun radang gingiva,
bentukan plak(37). Penggunaan larutan hidrogen peroksida 3% tetapi kurang baik bila dibandingkan dengan pemberian 2 (dua)
sebagai obat kumur selama 4 hari menunjukkan penurunan kali sehari. Pemakaian chlorhexidine pada anak-anak yang ter-
indeks plak sebanyak 34% dan mengurangi terjadinya radang belakang (mentally retarded) juga memberikan hasil yang ku-
gingiva(39). Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa rang memuaskan walaupun ada penurunan indeks plak dan ra-
hidrogen peroksida sangat membantu kontrol plak secara mekanis. dang gingiva(53). Penelitian lain menyatakan bahwa ada pertum-
buhan plak pada pemakaian chlorhexidine dengan konsentrasi
CHLORHEXIDINE yang rendah, walaupun tidak menunjukkan tanda-tanda akan
Chlorhexidine merupakan derivat disquanid dan yang terjadi radang gingiva(54). Percobaan yang dilakukan terhadap
umumnya digunakan dalam bentuk glukonatnya. Mempunyai mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi di Norwegia selama 2
antibakteri dengan spektrum luas, efektif terhadap Gram positif tahun menunjukkan perbedaan yang kurang bermakna antara
an Gram negatif meskipun untuk jenis yang terakhir efektivi- grup kontrol yang melakukan penyikatan gigi dengan baik di-
tasnya sedikit lebih rendah(6). Chlorhexidine sangat efektif bandingkan kelompok percobaan yang mcnggunakan obat ku-
mengurangi radang gingiva dan akumulasi p1ak(40), pendapat ini mur chlorhexidine 0,2%(22). Hasil ini menunjukkan bahwa
sesuai pendapat bahwa larutan chlorhexidine sangat efektif di- kontrol plak secara khemis pada penderita dengan kebersihan
gunakan untuk plak kontrol pada perawatan radang gingiva(42-44). mulut yang baik, tidak mempengaruhi kondisi gingiva secara
Efek anti plak chlorhexidine tidak hanya bakteriostatik nyata.
tetapi juga mempunyai daya lekat yang lama pada permukaan
gigi sehingga memungkinkan efek bakterisid(45,46). Dengan MEKANISME KERJA CHLORHEXIDINE
demikian akumulasi plak dapat dicegah, sehingga mengurangi Seperti telah disebutkan di atas chlorhexidine mempunyai
terjadinya radang gingiva. pengaruh yang luas terutama untuk bakteri Gram positif dan
Berbagai percobaan klinis menggunakan obat kumur me- Gram negatif, bakteri ragi juga jamur(56). Pada pH fisiologis
ngandung chlorhexidine telah banyak dilakukan dan ternyata chlorhexidine mengikat bakteri di permukaan rongga mulut;
chlorhexidine berpengaruh terhadap gingivitis dan periodontitis. tergantung konsentrasinya, dapat bersifat bakteriostatik atau
Pengaruh ini pertama-tama dilaporkan oleh Loe dan Schiott(47) bakterisid. Sifat bakteriostatik bila konsentrasi antara 4–32 ug/
pada golongan Aarthus bahwa chlorhexidine dapat mengham- m1(57); konsentrasi yang lebih tinggi akan menyebabkan efek
bat pertumbuhan plak dan mencegah terjadinya radang gingiva. bakterisid, karena terjadinya presipitasi protein sitoplasma. Efek
Pembentukan plak dapat dicegah dengan kumur-kumur larutan bakterisid kurang penting dibandingkan dengan efek bakterio-
chlorhexidine 0,2%,dan tidak tampak tanda-tanda radang gingiva statik(58).
setelah beberapa minggu walaupun tanpa membersihkan mulut Hambatan pertumbuhan plak oleh chlorhexidine dihu-
secara mekanis. Dinyatakan pula bahwa perawatan radang gingiva bungkan dengan sifat chlorhexidine untuk membentuk ikatan
dapat dilakukan dengan menggunakan obat kumur chlorhexidine. dengan komponen-komponen pada permukaan gigi(45,46). Ikatan
Pernyataan ini menguatkan percobaan yang telah dilakukan di tersebut terjadi 15–30 detik setelah kumur dan lebih dari 1/3
beberapa negara, bahwa chlorhexidine dapat menghainbat per- bagian chlorhexidine diserap dan melekat, namun jumlah pe-
tumbuhan plak dan mencegah terjadinya radang gingiva(48). lekatan sebanding dengan konsentrasinya(59). Penelitian menun-
Percobaan terhadap sekelompok anggota militer menggunakan jukkan bahwa pelekatan akan terjadi sampai 24 jam, yang berarti
obat kumur chlorhexidine dua kali sehari untuk membantu sebanding dengan efek bakteriostatik terhadap bakteri(60).
melakukan kebersihan mulut selama 4 (empat) bulan, hasilnya Dasar yang kuat untuk mencegah terbentuknya plak adalah
menunjukkan penurunan pertumbuhan plak(49). Namun di regio terjadinya ikatan antara chlorhexidine dengan molekul-molekul
yang terdapat poket dengan kedalaman 3 mm penurunan indeks permukaan gigi antara lain polisakarida, protein, glikoprotein
keradangan kurang bermakna. dan saliva, pelikel, mukosa serta permukaan dari hidroxiapatit.
Dapat disimpulkan bahwa pengaruh chlorhexidine terhadap Akibat terjadinya ikatan-ikatan tersebut maka pembentukan plak
plak subgingival berkurang dibandingkan dengan plak supra- yang merupakan penyebab utama dan radang gingiva diham-
gingival. Untuk meningkatkan pengaruh chlorhexidine terhadap bat(58). Penelitian menunjukkan bahwa larutan 0,2% chlorhexidine
radang jaringan periodonsium yang mengandung poket perlu sebagai obat kumur selama 1 minggu menurunkan indeks plak
dilakukan skeling. sebanyak 72% pada hari ke 3 dan 85% pada hari ke 7, dan terjadi

30 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


penurunan indeks radang gingiva sebanyak 32% pada hari ke 3 gingivitis and canes Result after one and two years. J. Clin. Periodontol.
1974; 1: 126–38.
dan 77% pada hari ke 7(61). 9. Suomi JD, Greene JC, Vermillion JR. Doyle J, Chang ii, Leatherwood EC.
The effect of controlled oral hygiene procedures on the progression of
Tabel penurunan indeks plak dan indeks radang gingiva dari beberapa periodontal disease in adults : Results after third and final year. J.
antiseptik dibandingkan dengan plasebo/air Periodont. l97l;42: 152–60.
Antiseptik Lama Penurunan Penurunan 10. Lang NP. The implications of antiseptics, enzymes and vaccines in plaque
(Obat kumur) Pemakaian Indeks plak Indeks radang control. Chicago, Quintesse Books. 1980; 57–65.
(dalam %) gingiva 11. Hull PS. Chemical inhibition on plaque. J. Clin. Penodontol. 1980; 7: 431–
(dalam % ) 42.
12. Tehranirad M. A review of antimicrobial agent in plaque disease. J.
Listerin® 1 bulan 15,5 5,1 Periodont. 1980; 4: 145–65.
3 bulan 20,9 9 13. Patters MR. Anerud K, TrummelCL, Koinman KS, Nalbandian J,
6 bulan 23,7 20,8 Robertson PB. Inhibition of plaque formation in humans by octinidine
9 bulan 19,5* 23,9* mouthrinse. J. Penodont. Res. 1983; 18: 212–19.
Povidone Iodine 10 hari Kurang Kurang 14. Fornell J, Sundin Y, Lindhe J. Effect of listerine on dental plaque and
(Betadine(&) bermakna bermakna gingivitis. Scrod. J. Dent. Res. 1975; 83: 18–25.
Hexetidine 3 hari 25 24 15. Carter H, Barnes GP. Effects of three mouthwashes on existing dental
(Bactidol ®) 7 hari 52* 37 plaque accumulations. J. Prey. Dent. 1975; 2: 6–lI.
14 hari - 58* 16. Menaker L, Weatherford, Pills G, Ross NM, Lamm R. The effects of
Hidrogen Peroksidase 14 hari 50* 22* listerine antiseptic on dental plaque. Alabama J. Med. Sciences. 16:71–77.
(H2O2 3%) Lamster lB. Alfano MC, Seiger MC, Gordon JM. The effect of listerine
Chlorhexidine 3 hari 72* 32 antiseptic on reduction of existing plaque and gingivitis. Clin. Prey. Dent.
Gluconate 0,2% 7 hari 85* 77* 5: 12–6.
(Minosep®) 18. Gordon JM, Lamter. Sieger MC. Efficacy of listerine antiseptic inhibiting
the development of plaque and gingivitis. J. Clin. Periodontol. 1985; 12:
697–704.
Keterangan: 19. Mankodi S, Ross NM, Mostler K. Clinical efficacy of listenne in inhibiting
* Bermakna and reducing plaque and experimental gingivitis. J. Clin. Periodontol.
1987; 14: 285–88.
20. Brenman HS, Randall E. Local degerming with povidone-iodine II. Prior
RINGKASAN DAN KESIMPULAN to gingivectomy. J. Periodontol. 1974; 45: 870.
Bakteri plak merupakan penyebab utama terjadinya radang 21. VanderWyk RW. Killing efficiency of povidone iodine in vivo and in vitro
gusi; mencegah atau mengurangi akumulasi plak akan dapat studies of microbial activity. Am. Dent. Ass. Miami Beach. Florida. Oct.
mengurangi terjadinya radang gusi. 1968.
22. Addt M, Gnffiths C. Isaac R. The effect of povidone iodine on plaque and
Bahan antiseptik sebagai obat kumur sangat membantu salivary. Adouble-blindcrossovertrial. J. Periodontol. 1977; Nov: 730–732.
mencegah terjadinya akumulasi plak dan menurunkan radang 23. Saxen L, Harjola 0. Ainamo J. The effect of two commercial antibacterial
gusi. mouthrinses on plaque growth in vivo. J. Clin. Periodont. 1976; 3: 195.
Listerin, Hexetidine, Hidrogen peroksida, dan Chlorhexi- 24. Schiott CR, Loe H, Jensen SB, Kilian M, Davies RM, Glavind. The effect
of chlorhexidine on the human oral flora. J. Penodont. Res. 1970; 5: 84.
dine dapat membantu kontrol plak secara mekanis. 25. Wdde A, Renolds JEF. The Extra Pharmacopoeia. 27th ed. The pharma
Povidone iodine (Betadine®) bukan untuk membantu kon- ceutical press London. 1977; 647.
trol plak secara mekanis karena menurunkan indeks plak dan 26. Raymond A. Symposium on hexetidine. N.W.U. Chicago. 1958.
indeks radang gusi secara tidak bermakna, meskipun dapat 27. Utji R, ChatimA. Antibacterial properties of hexetidine against microorgan
ism isolated from patients mouth. Clinical trial. 1982.
mengurangi jumlah bakteri dalam ludah. 28. Lionetti FJ. Communications A.C.S. Conversion (Medical Div.) Miami.
1957. April 8.
KEPUSTAKAAN 29. Fosdick LS. Symposium on hexetidine. Northwestern University. Chicago
ill. 1958; October.
1. Axelsson P. Lindhe J. Effect of controlled oral hygiene procedures on caries 30. Bourgonet. Dikutip dan Kuhr W. The use of hexetidine in the treatment of
and periodontal disease in adults-results after 6 years. J. Clin. Periodontol. inflammations in the oral cavity. Zahnartl. WeltZahnartl Reform. 1969; 78:
1981; 8: 239–48. 560.
2. Loe H, Theilade E. Jensen SB. Experimental gingivitis in man. J. Periodon. 31. Bergenholtz A Hanstrom. The plaque-inhibiting effect of hexetidine
1965; 36: 177–87. (Oraldene) mouthwash compared to that of chlorhexidine. Community
3. Theilade E. Wright WH, Jensen SB, Loe H. Experimental gingivitis in Dent. Epidemiol. 1974; 2: 70–74.
man. II. A longitudinal clinical and bacteriological investigation. J. 32. Prijantojo. Pengaruh hexetidine terhadap peradangan gingiva. Clinical
Periodon. Res. 1966; 1: 1–13. trial. 1985.
4. Page. Schroeder HE. Pathogenesis of inflammatory oeriodontal disease. A 33. Kuhr HW, Harle F, Schmidt H, Schwalber J. The use of hexetidine on the
summary of current work. Lab. Invest. 34: 235–249. treatment of iunflammations in oral cavity. Translated from the German.
5. Addy M. Chlorhexidine compared with other locally delivered antimicro Zahnaerzt. Welt-Zahnaerzt. Reform. 1969; 78: 506. June 25.
bial. J. Clin. Penodontol. 1986; 13: 957–64. 34. Prijantojo. Hambatan peinbentukan plak gigi dengan larutan 0,1% hexeti
6. Kartanegara SS. Farmakologi beberapa qptiseptik dan infeksi nosokomial. dine sebagai obat.kumur. Clinical trial. 1991.
Penataran Pengelolaan/lsolasi Penderita Penyakit Menular. Dit. P3M Dep. 35. Dewi Fatma S. Antiseptik dan desinfektan dalam kedokteran gigi. K.P.P.
Kes. RI. Jakarta 26-31 Maret 1984. 1KG IX. 363–371.
7. Lusk SS, Bower GM, Watso Wi, Moffitt WC, Tow HD. Effect of an oral 36. Reddy J, Salkin LM. The effect ofa urea peroxide rinse of dental plaque
rinse on experimental gingivitis, plaque formation and formed plaque. J. and gingivitis. J. Periodontol. 1976; 10: 607–10.
Am. Soc. Preventive Dentistry 1974; 4: 31–4. 37. Wennstrom J, Lindhe J. Effect of hydrogen peroxide on developing plaque
8. Axelsson P. Lindhe J. The effect of preventive program on dental plaque, and gingivitis in man. J. Clin. Periodont. 1979; 6: 115–30.

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 31


38. Cerra MB, Killoy WJ. The effect of sodium bicarbonate and hydrogene chlorhexidine on the bacterial colonization on the teeth and gingiva. J.
peroxode on the microbial flora of periodontal pockets. J. Periodontol. Periodont. Res. 1970; 5: 96–101.
1982; 10: 599–603. 51. Bassiouny MA, Grant AA. The toothbrush application on chlorhexidine. A
39. Gjermo P, Baastad K, Rolla G. The plaque inhibiting capacity 11 anti clinical trial. Br. Dent. J. 1975; 139: 322–27.
bacterial compounds. J. Periodont. Res. 1970; 5: 102–109. 52. Hansen F, Gjermo P. Eriksen HM. The effectofachlorhexidine containing
40. Hellden L, Lundgren D, Heyden G. Effect of chlorhexidine gluconate on gel on oral cleanliness and gingival health in young adults. J. Clin.
granulation tissuc. J. Periodont. Res. 1974; 9: 225. Periodont. 1975; 2: 153–59.
41. HirstR. Chlorhexidine a review of literature. J. West. Soc. Periodont. 1972; 53. Usher PJ. Oral hygiene in mentally handicapped children. A pilot study of
20: 52. the use of chlorhexidine gel. Br. Dent. J. 1975; 138: 217–21.
42. Ochsenbein H. Chlorhexidine in der Zahnheil Kunde, Eine Literatur 54. Gjermo P. Habitan in peridontal diseases. J. Clin. Periodont. 1977; 4:
Ubersicht-Schweiz Monatsschr Zahn Keilkd. 1973; 83: 113–22. 74–101.
43. Gjermo P. Chlorhexidine in dental practice. J. Clin. Periodont. 1974; 55. Johansen JR. Gjermo P. Erikson HM. Effect of2 years use of chlorhexidine
143–52. and caries. Scan. J. Dent. Res. 1975; 83: 288–92.
44. Gjermo P, Baastad KL, Rolla G. The plaque inhibiting capacity of 11 56. Davies A. The mode of action of chlorhexidine. J. Periodont. Res. 1973; 8:
antibacterial compounds. J. Periodont. Res. 1970; 5: 102–09. suppl 13. 68–75.
45. Rolla G, Loe H, Schiott CR. The affinity of chlorhexidine for hydro 57. Schiott CR, Loe H. The sensitivity of oral Streptococci to chlorhexidine. J.
xyapatite and salivary mucins. J. Periodont. Res. 1970; 5: 9. Periodont. Res. 1972; 7: 192.
46. Rolla G, Gjermo P. Plaque inhibition, antibacterial activity and toxicity of 58. Gjermo P. Bonesvoll P. Rolla G. Relationship between plaque inhibiting
6 bisbisquanide J. Dent. Res. (l.A.D.R. abstr 204) 1972. effect and relation of chlorhexidine in the human orak cavity. Arch. Oral
47. Loe. Schiott R. The effect of supression of the oral microflora upon the Biol. 1974; 19: 1031.
development of dental plaque and gingivitis in dental plaque. Symposium 59. Bonesvoll P, Lokien P, Rolla G. Retention of chlorhexidine in the human
1969. Ed. by McHugh, WDE and S. Livingstone Ltd. Edinburg 1970; oral cavity after mouthrinses. Arch. Oral Biol. 1974; 19: 209.
247–55. 60. Loe H, Schiott CR. The effect of mouthrinses and topical application of
48. Nagle PJ, Turnbull. Chlorhexidine : An ideal plaque inhibiting agent?. chlorhexidine on the development of dental plaque and G.l. in man. J.
Literature Review. J. Canad. Dent. Assn. 1978; 2: 73–5. Periodont. Res. 1970; 5: 79–83.
49. Flotra L, Gjermo P, Rolla G, Waerhaug J. A 4 month study on the effect of 61. Prijantojo. Penurunan radang gingiva dengan pemakaian larutan 0,2%
ehiorhexidine mouthwashcs on 50 soldiers. Scand. J. Dent. Res. 1972; 80: chlorhexidine sebagai obat kumur. Kumpulan Makalah llmiah Kongres
10–17. PDGI XVII 1992. 329–34.
50. Davies RM. Jensen SB, Schiott R. The effect of topical application on

It is easy to preach fasting with a full belly

32 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Peranan Chlorhexidine terhadap


Kelainan Gigi dan Rongga Mulut
Prijantojo
Bagian Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta

PENDAHULUAN Cara kerja


Chlorhexidine telah dipakai secara luas di kalangan ke- Telah dibuktikan bahwa chlorhexidine dapat mengikat
dokteran, baik oleh para dokter umum, spesialis maupun dokter bakteri, mungkin disebabkan adanya interaksi antara muatan
gigi, sebagai antibakteri, selama lebih dari 25 tahun. Akhir-akhir positif dan molekul-molekul chlorhexidine dengan dinding sel
ini chlorhexidine dipakai secara luas di kalangan kedokteran yang bermuatan negatif(1). Interaksi ini akan meningkatkan
gigi sebagai obat untuk menyembuhkan serta mencegah kelain- permeabilitas dinding sel bakteri yang menyebabkan terjadinya
an rongga mulut. Lebih dari 500 artikel tentang chlorhexidine penetrasi ke dalam sitoplasma yang menyebabkan kematian
yang merupakan hasil penelitian dan pakar-pakar di bidang ke- mikroorganisme. Streptokokus tertentu dapat terikat oleh
dokteran seluruh dunia telah dipublikasikan. Tujuan penelitian chlorhexidine pada media polisakarida di luar se1(2,3), sehingga
kebanyakan untuk menguji efektivitas dan chlorhexidine, baik dapat meningkatkan sensitivitas streptokokus dalam rongga
sebagai obat kumur maupun dalam bentuk pasta gigi serta mem- mulut terhadap chlorhexidine(4,5).
bandingkan dengan antiseptik yang lain. Makalah ini merupakan Penyelidikan secara in vitro menunjukkan bahwa
ringkasan dan berbagai penelitian serta uji coba secara klinis chlorhexidine diserap oleh hydroxiapatit permukaan gigi dan
untuk membuktikan peranan chlorhexidine guna mencegah serta mucin dari saliva, kemudian dilepas perlahan-lahan dalam
terapi dan kelainan rongga mulut dan karies. bentuk yang aktif. Keadaan ini merupakan dasar aktivitas
chlorhexidine untuk menghambat pembentukan plak (anti-plak)(6).
CHLORIIEXIDINE Kumur-kumur dua kali sehari dengan menggunakan 0,2% la-
Chlorhexidine mulai dikenal sejak 1950 sebagai antimikroba rutan chlorhexidine akan mengurangi jumlah mikroorganisme
dengan rumus kimia: dalam saliva sebanyak 80% dan apabila pemakaian obat kumur
dihentikan bakteri akan kembali seperti semula dalam waktu 24
jam(7,8).

PLAK GIGI (DENTAL PLAQUE)


Merupakan kumpulan berbagai macam bakteri di atas pe-
Sejak diperkenalkan, chlorhexidine digunakan di rumah likel permukaan gigi. Banyaknya plak sangat tergantung dari
sakit berbagai negara sebagai antiseptik. Sangat efektif sebagai macam makanan dan kebersihan mulut seseorang. Pembentukan
disinfektan pada kulit sebelum operasi, cuci tangan sebelum plak didahului oleh pe1ikel yang terdiri dari glikoprotein dari
operasi serta sebagai disinfektan dan alat-alat kedokteran, ter- saliva.Di atas pelikel ini akan menempel berbagai macam bakteri
utama alat-alat operasi. Chlorhexidine merupakan antibakteri yang membentuk koloni. Plak ini tidak bisa dihilangkan dengan
dengan spektrum yang luas dan sangat efektif untuk bakteri kumur-kumur air(9). Pada permulaannya sebagian besar bakteri
Gram (+), Gram (–), bakteri ragi, jamur serta protozoa; algae dalam plak adalah bakteri streptokokus Gram (–), cocci dan
dan virus dapat juga dihambat oleh chlorhexidine. bakteri basil (bacilli). Filamen mulai ditemukan setelah beberapa

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 33


hari. Spiral dan spirocheta mulai terlihat setelah 1–2 minggu. hexidine. Uji coba klinis selama 4 bulan yang melibatkan 50
Komposisi dari plak yang telah matang terdiri dari(10) : orang anggota militer menunjukkan bahwa larutan 0,2% chlor-
– Gram (+) cocci dan basil 50% hexidine sebagai obat kumur dapet menurunkan terjadinya
– Gram (–) cocci dan basil 30% akumulasi plak sebanyak 66% bila sebelumnya tidak dilakukan
– Fusobakteri 8% terapi, sedang setelah dilakukan skeling baik supra maupun
– Filamen-8% subgingiva akan terjadi penurunan indeks plak sebanyak 85%(17).
– Vibrio 2% Penelitian lain juga menunjukkan bahwa chlorhexidine efektif
– Spirocheta 2% sebagai antiplak, tetapi hasilnya akan lebih baik setelah dilaku-
Sampai saat ini plak masih dianggap penyebab utama kelainan kan skeling baik supra maupun subgingiva(14). Banyak penelitian
periodontal, di samping itu plak juga dapat memudahkan ter- yang hasilnya mendukung penelitian terdahulu yaitu bahwa
jadinya karies dari gigi(11,22). chlorhexidine efektif untuk menurunkan/mencegah pembentuk-
an plak dan meningkatkan derajat kesehatan gingiva(16,20).
PEMAKAIAN CHLORHEXIDINE DI BIDANG KEDOK- Chlorhexidine sangat efektif untuk plak kontrol secara khemis
TERAN GIGI SECARA KLINIS sehingga dapat mencegah terjadinya gingivitis dari kerusakan
Kelainan periodontal kronis bila tidak diobati akan berkem- jaringan periodonsium(19). Bila dibandingkan dengan obat kumur
bang progresif dan akan merusak jaringan periodonsium. Biasa- lain, chlorhexidine ternyata lebih efektif untuk menurunkan ter-
nya kelainan periodontal dimulai dengan keradangan gingiva jadinya akumulasi plak(21).
(gingivitis), pada suatu saat akan terjadi kerusakan tulang alveo-
lar dan jaringan kolagen (periodontal membrane) dan terjadilah Indeks plak rata-rata pada 60 penderita setelah pemakaian berbagai
macam obat kumur selama 4 hari
penodontitis.
Gingivitis tidak selalu menjadi periodontitis(13). walaupun Obat kumur Indeks plak rata-rata
begitu bukan tidak mungkin akan berlanjut menjadi periodon- Kontrol : obat kumur sukrosa 1,75
titis. Kelainan periodontal ini merupakan penyebab utama 1. Chlorhexidine gluconat 0,2% 0,23
tanggalnya gigi pada usia muda. 2. Chlorhexidine asetat 0,2% 0,19
Chlorhexidine telah dibuktikan sebagai antiplak yang sa- 3. Cetylpyridinium chlorida 0,1 % 1,93
4. Dequalinim chlorida 0,1 % 1,88
ngat efektif sehingga mempunyai peranan penting pada terapi 5. Benzalkonium chlorida 0,1 % 0,47
gingivitis dan pencegahan kelainan periodontal. Pemakaian obat 6. Aminocridine hydrochiorid 0,2% 1,43
kumur dengan larutan 0,2% chlorhexidine glukonat untuk 7. Mepacrine hydrochlorida 0,2% 1,65
membantu pembersihan gigi secara konvensional akan me- 8. Proguanil hydrochlorida 0,2% 1,50
9. Dibromopropamidine diisothionate 0,2% 1,36
ningkatkan kesehatan gingiva secara bermakna terutama di 10. Hidrogen peroxida 3% 1,15
daerah interdental(14). 11. Ethanol 50% u/w 1,92

Uji coba klinis Penelitian lain yang membandingkan efek obat kumur
Hambatan pembentukan plak dan berkurangnya radang chlorhexidine dengan hexetidine terhadap kebersihan mulut
gingiva setelah pemakaian larutan 0,2% chlorhexidine sebagai menunjukkan bahwa chlorhexidine lebih efektif dibandingkan
obat kumur 2 kali sehani pertama-tama dibuktikan oleh Loe dengan hexetidine untuk menurunkan derajat akumulasi plak dan
dan Schiott (1970)(15). Uji coba klinis dengan larutan 0,2% derajat keradangan gingiva(22). Hasil penelitian ini didukung oleh
chlorhexidine glukonat sebagai obat kumur selama satu minggu Prijantojo pada penelitiannya terhadap siswa sekolah dasar yang
menghasilkan penurunan pembentukan plak sebanyak 72% pada berumur antana 10–15 tahun untuk membandingkan pengaruh
hari ke 3 dan sebanyak 85% pada hari ke 7 (Gambar 1). larutan 0,2% chlorhexidine sebagai obat kumur (Minosep®)
dengan hexetidine 0,1% (Bactidol®). Hasil dan penelilian ini
menunjukkan perbedaan yang bermakna, dengan chlorhexidine
memberikan hasil yang lebih efektif dibandingkan dengan
hexetidine(23).
Penelitian Bosman & Powell membandingkan efek ini chlor-
hexidine dengan pembersihan rongga mulut secara konvensional
memakai sikat gigi pada penderita gingivitis. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa dengan menyikat gigi sekali sehani kese-
hatan gingiva akan menjadi normal setelah 10 hari, sedangkan
dengan kumur-kumur larutan chlorhexidine 0,2% sekali sehari
Keterangan:
gingiva akan menjadi normal dalam waktu 4 hari(24).
––––––––– : Tidak menyikat gigi ------------- : Kumur Chlorhexidine
Grafik 1. Indeks plak rata-rata setelah kumur-kumur 0,2% chlorhexidine Pemakaian pasca bedah
2 X 1 hari Penutup luka setelah operasi periodontal telah lama diguna-
kan dengan tujuan untuk melindungi terhadap trauma dan luar
Skeling ternyata dapat meningkatkan pengaruh chlor serta mencegah terbentuknya jaringan granulasi yang berlebih

34 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


an. Namun kekurangannya yaitu kadang-kadang terjadi pe- kuman dan akan menghambat atau mempengaruhi pengobatan.
numpukan sisa makanan/plak pada luka operasi, sehingga Uji coba klinis menggunakan larutan 0,2% chlorhexidine dapat
penyembuhan menjadi lama. Larutan chlorhexidine dapat mencegah terjadinya invasi kuman-kuman, sehingga pengobatan
membantu kebersihan rongga mulut, hingga kesembuhan akan antileukemia dapat lebih efektif.
lebih cepat(25,26,27). Larutan 0,2% chlorhexidine sebagai obat Gigi tiruan sebagian merupakan predisposisi untuk terjadi-
kumur 3 kali sehari memberikan hasil yang lebih efektif di- nya akumulasi plak yang memungkinkan kelainan periodontal
bandingkan dengan penutup luka setelah operasi(28,29). yang lebih lanjut. Walaupun desain gigi tiruan bagus, rasa sakit
dan kurangnya kebersihan mulut akan memberikan efek yang
Ulkus mukosa (Aphthous Ulcers) kurang baik. Kebérsihan mulut perlu ditekankan untuk me-
Penyebab ulkus mukosa ini belum jelas dan perawatannya ningkatkan kesehatan gingiva dan memperpanjang pemakaian
pada umumnya dilakukan secara simptomatis dengan tujuan gigi tiruan(38). Pemakaian larutan 0,2% chlorhexidine sangat
menghilangkan faktor predisposisi. Pengalaman klinis menun- membantu meningkatkan kebersihan mulut pada penderita
jukkan bahwa pada penderita ini sering mengabaikan kebersihan dengan gigi tiruan sebagian(39). Hal ini telah dibuktikan pada
mulut karena sakit pada waktu menyikat gigi. Keadaan ini akan 153 penderita dengan pemakaian gigi tiruan sebagian.
meningkatkan akumulasi plak yang tentunya akan menambah Gigi tiruan penuh sering menyebabkan terjadinya perubah-
keparahan ulkus. an pada mukosa muiut (denture stomatitis); biasanya disebabkan
Chlorhexidine dapat membantu penyembuhan ulkus (sa- karena jamur Candida terutama Candida albicans. Stomatitis
riawan), mungkin disebabkan karena berkurangnya kolonisasi terjadi oleh karena tekanan gigi tiruan pada permukaan mukosa
bakteri yang berkontaminasi dengan luka dan mengurangi ter- sehingga terjadi perubahan lingkungan mikroorganisme rongga
jadinya infeksi sekunder(30). Hal ini telah dibuktikan pada pe- mulut dan menyebabkan infeksi pada mukosa. Kira-kira 65%
nelitian terhadap penderita ulkus mukosa (sariawan). Orang per- penderita dengan gigi tiruan penuh (GTP) mengalami stomatitis
cobaan dibagi tiga kelompok: Kelompok I menggunakan yang dimulai dengan infeksi ringan di permukaan mukosa tertentu
chlorhexidine glukonat 0,2% sebagai obat kumur, kelompok II dan lama kelamaan melebar ke daerah sekitarnya. Larutan 0,2%
menggunakan astringen sebagai obat kumur, sedangkan ke- - chlorhexidine efektif untuk membantu kesembuhan dari infeksi
lompok ke III menggunakan plasebo sebagai obat kumur; ter- ini(40). Pernyataan ini telah dibuktikan pada 137 pasien dengan
nyata chlorhexidine 0,2% memberikan hasil yang lebih baik dari pemakaian gigi tiruan penuh. Hasil dari penelitian ini ternyata
kelompok-kelompok 1ainnya(30,31) (Grafik 2). sangat memuaskan.

Candidiasis rongga mulut (Oral Candidiasis)


Mikroorganisme Candida terdapat ± 50%, orang dewasa
tanpa menunjukkan gejala infeksi. Candida dapat berubah men-
jadi patogen menyebabkan terjadinya infeksi dan rongga mulut;
perubahan ini disebabkan karena adanya perubahan situasi
rongga mulut misalnya karena adanya gigi tiruan, selama peng-
obatan dengan antibiotik atau terapi dengan radiasi. Candidiasis
rongga mulut sering sulit dikontrol dengan metoda konven-
sional. Chlorhexidine yang merupakan antibakteri efektif meng-
Keterangan:
A = Astringen; C = Placebo; H = Chlorhexidine obati/mencegah terjadinya infeksi Candida(41). Uji coba klinis
Grafik 2. Hasil penyembuhan ulkus pada pemakaian chlorhexidine, terhadap 8 penderita Candidiasis yang akut. serta 5 penderita
astringen, plasebo leukemia akut dengan kumur larutan 0,2% chlorhexidine infeksi
akan sembuh dalam waktu 2-4 hari.
Pemakaian pada penderita yang tidak dapat melakukan ke- Uji coba klinis juga dilakukan terhadap penderita dengan
bersihan mulut dengan baik fiksasi rahang karenã fraktur(42) untuk memperbaiki hubungan
Kelompok ini termasuk penderita yang terbelakang (men- oklusi antara gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah; penderita
tally retarded) atau penderita dengan kelainan umum yang ini tidak mungkin melakukan pembersihan rongga mulut secara
serius, serta penderita setelah operasi rongga mulut. Pada ke- sempurna. Untuk membantu kebersihan mulut digunakan larut -
lompok ini chlorhexidine 0,2% sangat efektif untuk membantu an 0,2% chlorhexidine sebagai obat kumur dengan tujuan men-
kebersihan mulut(32,33,34). Banyak masalah yang sering timbul cegah atau mengurangi terjadinnya akumulasi plak dan memper-
pada penderita yang dirawat secara intensif karena penyakit cepat kesembuhan luka. Kumur-kumur dilakukan 3–8 kali se-
umum yang serius; misalnya pada penderita haemophili, Leukemia hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa akumulasi plak
Myeloid Akut (LMA) sering terjadi perdarahan gingiva. Keadaan berkurang, sedangkan kesembuhan luka menjadi lebih cepat bila
ini menyulitkan dokter atau perawat yang menangani penderita dibandingkan dengan menggunakan larutan salin (Gambar 3).
ini. Terjadinya perdarahan ini diperberat dengan meningkat-
nya akumulasi plak, yang tentunya akan meningkatkan radang Karies gigi
gingiva. Perdarahan ini akan menyebabkan terjadinya invasi Karies gigi terjadi karena demineralisasi jaringan gigi yang

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 35


untuk pengobatan serta pencegahan kelainan rongga mulut dan
kelainan gigi (karies).

KEPUSTAKAAN

1. Hugo WB, Longworth AR. Cytological aspects of the mode of action of


chlorhexidine. J. Pharm. Pharmacol 1965; 17: 28.
2. Hjeljord LG, Rolla G. 14-C-chlorhexidine interactions with in vitro plaque
components. J. Dent. Res. 1973; 52: (Supp 1).
3. Bonesvoll P. Hjeljord LO. Gjermo P. Rolla 0. Olsen 1. 14-C-chlorhexidine
to plaque and teeth in vitro and in vivo. J. Dent. Res. 1974; IADR Abstract
No. 360.
4. Hennessey TD. Some antibacterial properties of chlorhexidine. J. Pe-
riodont. Res 1973; (Supp 12), 61.
Gambar 3. Indeks plak rata-rata pada penderita dengan fiksasi inter– 5. Schiott CR. Effect of chlorhexidine on the microflora of the oral cavity. J.
maxilary setelah pemakaian saline dan chlorhexidine 3X sehari. Periodont. Res 1973; (Supp 12), 7.
6. Loesche Wi. Antimicrobial agents for the treatment of dental caries. J. Am.
secara klinis akan tampak adanya lubang pada gigi. Say. Prey. Dent 1975; 5: 17–24.
Karies dapat disebabkan oleh mikroorganisme dan plak gigi 7. Schiott CR, Loe H, Jensen SB, Kilian M, Davies R.M, Glavind K. The
effect of chlorhexidine mouthrinses on the human oral flora. J. Periodont.
dan dapat diperberat oleh makanan mengandung karbohidrat; Res 1970; 5: 84–89.
namun tidak ada hubungan langsung antara terjadinya karies dan 8. Loe H, Schiott CR. The effect of mouthrinses and topical application of
konsumsi gula. Bakteri plak akan meragikan gula dan meng- chlorhexidine on the development of dental plaque and gingivitis in man.
hasilkan asam organik dengan pH rendah; suasana asam akan J. Periodont. Res 1970; 5: 79.
9. Mandel ID. New approachestoplaqueprevention. Dent. Clin. N. Am 1972;
menyebabkan terjadinya kerusakan enamel yang 95% di an- 16: 661–71.
taranya adalah hydroksiapatit dan menyebabkan terjadinya 10. Theilade E, Wright WH, Jensen SB. Experimental gingivitis in man. A
demineralisasi dan karies. Chlorhexidine efektif sebagai anti- longitudinal clinical and bacteriological investigation. J. Periodont. Res
plak sehingga dapat mencegah terjadinya karies. 1977; 1.
11. Dolles OK, Gjermo P. Scand J. Dent. Res 1980; 88: 22–7.
Percobaan dilakukan pada mahasiswa dengan kumur- 12. Gjermo P. Chlorhexidine in dental practice. 1. Clin. Periodontol 1974; 1:
kumur sebanyak 9 kali sehari dengan 50% larutan sukrosa; 143–52.
ternyata akumulasi plak meningkat dengan hebat sedangkan 13. Prayitno SW. Konsultasi pribadi, 1993.
indeks karies meningkat sampai 86%. Bila perlakuan dengan 14. Nagle PJ, Turnbull. Chlorhexidine : An ideal plaque inhibiting agent?.
Literature review. J. Canad. Dent. Assn 1978; 2: 73–75.
sukrosa dikombinasikan dengañ kumur-kumur larutan 0,2% 15. Schiott CR, L.oe H, Jensen S et al. The effect of chlorhexidine mouthrinses
chlorhexidine sebanyak 2 kali sehari akumulasi plak akan di- on the human oral flora. J. Periodont. Res 1970; 5: 84.
hambat dan hanya sedikit terjadi peningkatan karies; dapat 16. Prijantojo. Hambatan pembentukan plak oleh larutan 0,2% chlorhexidine
disimpulkan bahwa chlorhexidine menghambat pembentukan sebagai obat kumur. KPPIKG Ul 1991; 355–59.
17. Flotra L, Gjermo P. A 4 month study on the effect of chlorhexidine
asam akibat fermentasi sukrosa oleh bakteri. Penelitian yang di- rnouthwashes on 50 soldiers. Scand. J. Dent. Res 1972; 80: 10.
lakukan terhadap 73 mahasiswa dengan menggunakan larutan 18. Cohen PN, Frank RM, Klewansky P. Effects of chlorhexidine mouth-
0,1% dan 0,4% chlorhexidine sebagai obat kumur selama 2 tahun washes on man. J. Dent. Res 1973; 52: 607 (Abstr).
dan 0,5% pasta gigi yang mengandung chlorhexidine ternyata 19. Daniesmand H. Act. Ned. Tran 1978; 21: 81–6.
20. Comming BR, Loe H. Optimal dosage and method of delivering
dapat menghambat terbentuknya karies(44,45). chlorhexidine solutions forthe inhibiting of dental plaque. J. Periodont. Res
Aplikasi topikal menggunakan pasta 1% chlorhexidine ter- 1973; 8: 57, 62.
hadap 5 penderita wanita dengan infdeks karies tinggi untuk 21. Gjermo P, Baastad KL, Rolla 0. The plaque-inhibiuting capacity of 11
menurunkan jumlah bakteri Streptococcus mutan yang diduga antibacterial compounds. J. Periodont. Res 1970; 5: 102–09.
22. Bergenholtz A, Hanstrom L. The plaque inhibiting effect of chlorhexidine
merupakan penyebab utama dan karies(46). Sebelum percobaan (Oraldere (R)-mouthwash compared to that ofchlorhexidine. Comm. Dent.
jumlah Streptococcus mutan 105 unit/koloni dalam 1 ml air Oral Epidemiol. 1974; 2: 70-4.
ludah. Pasta gigi dioleskan dan ditunggu sampai 5 menit, ke- 23. Prijantojo. Pethandingan pengaruh chlorhexidine dan hexetidine terhadap
mudian cairan ludah diambil dan diperiksa. Percobaan dilaku- radang gingiva secara klinis. KPPIKG IX 1991; 240–47.
24. BosmanCW, Powell RH. The reversal of localized experimental gingivitis.
kan selama 2 minggu. Hasil pemeriksaan setelah 2 minggu A comparison between mechanical toothbrushing procedures and a 0,2%
terlihat bahwa Streptococcus mutan menurun sampai 700 koloni. chlorhexiditie mouthrinse. J. Clin. Periodont 1977; 4: 161–72.
Penelitian selama 2 tahun terhadap siswa suatu sekolah 25. Davies A. The mode of action of chlorhexidine. J. Periodont. Res 1973; 8:
dengan menggunakan kombinasi chlorhexidine dan fluor se- (Supp 12), 68.
26. Langebaek 1, Bay L. Anvendelse afklotheksidin I. Periodontal kirurgien.
bagai obat kumur menunjukkan terjadinya penurunan karies Tandlaegebladet 1976; 80: 361–63.
bila dibandingkan dengan menggunakan larutan fluor sebagai 27. Gouk DN. The effect of chemical control plaque on the healing of
obat kumur(11). periodon tal surgical wound. B.D.A. Library. A copy of Thesis, 1973.
28. Addy M, Dolby AE. The use of chiothexidine-containing meshacrylic gel
as a periodontal dressing, I. Periodontol. 1975; 46: 465-468.
KESIMPULAN 29. Newman DS, Addy M. A comparison of a periodontal dressing and
Penelitian bertahun-tahun yang dilakukan oleh para ahli chlorhexidine gluconate mouthwash after the internal bevelled flap proce
Menunjukkan bahwa chlorhexidine memegang peranan penting dure. I. Periodontol. 1978; 49; I 576–79.
30. Addy M, Tapper-Jones L, Seal M. Thai of astrigont and antibacterial

36 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


mouthwashes in the management of recurrent aphthous ulceration. Br. Periodontol. 1977; 4: 41–7.
Dent. J. 1974; 136: 452–55. 39. Budtz J, Loe H. Chlorhexidine as a denture disinfectant in the treatment of
31. Addy M, Carpenter R, Roberts WR. Management of recurrent aphthous denture stomatitis. Scand. J. Dent. Res 1975 (I.A.D.R. Abstract No. L. 526).
ulcerations. A trial of chlorhexidine gluconate gel. Br. Dent. J. 1976; 141: 40. Olsen 1. Denture stomatitis. The clinical effect of chlorhexidine and
118–20. amphotericin B. Acta Odont Scand 1975; 33: 47–52.
32. Usher PJ. Oral hygiene in mentally handicapped children. A pilot study of 41. Langslet A, Olsen I, Lie SO, Lokken P. Chlorhexidine treatment of oral
the use of chlorhexidine gel. Br. Dent. J. 1975; 138: 217–21. candidiasis in seriously diseased children. Acta Paediatr. Scand. 1974; 63:
33. Flotra L. Different modes of chlorhexidine application and related local 809-11.
side effects. J. Penodont. Res 1973; supp 12: 41–4. 42. Nash E, Addy M. The use of chlorhexidine gluconate mouthrinses in
34. Bay L, Russel B. The effect of oral rinsing with chlorhexidine on the patients with intermaxillary fixation. Br. J. Oral Surg 1979; 17: 251–55.
development of plaque and gingivitis in mentally retarded children. J. 43. Loe H, vander Fehr FR, Schiott RC. The effect of chlorhexidine rinses on
Dent. Res. 1973; 52: 991 (Supp 5). experiment caries in man. J. Dent. Res 1971; 50: 706.
35. Gaya H, Jameson B, Stomng RA. Chemotherapy 1, 1976; 93–98. 44. Johansen JR, Gjermo P, Eriksen HM. Effect of 2-years use of chlorhexidine
36. Stomng RA, Jameson B, McElwain TJ, Wilshaw E, Spiers ASD, Gaya H. containing dentrifrices on plaque, gingivitis and caries. Scand. Dent. Res
Lancet (Oct) 1977; 837–840. 1975; 83: 288–292.
37. LindheJ. Microbiology of plaque associated periodontal disease. Textbook 45. Emilson CG, Fornall J. Studies on salivary microorganisms by use of a
of Clinical Periodontology.Munksgaard Philadelphia 1983; 125–49. chlorhexidine containing toothpaste. J. Dent. Res 1976; 84: 308–19.
38. Addy M, Bates JF. The effect of partial dentures and chlorhexidine 46. Emilson CO. Susceptibility of various microorganisms to chlorhexidine.
gluconate gel on plaque accumulation in the absence of oral hygiene. J. Clin. Scand. J. Dent. Res 1979; 85: 255–65.

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 37


ULASAN

Pencemaran Air Raksa


di Lingkungan Kerja Dokter Gigi
Harmas Yazid Yusuf
SMF Gigi dan Mulut, Rumah Sakit Umum dr. Hasan Sadikin, Bandung

ABSTRAK
Pencemaran lingkungan oleh air raksa telab diketahni mempunyai dampak yang
sangat berbahaya bagi kesehatan. Pencemaran tersebut umumnya diakibatkan dan pem-
buangan limbah industri pengguna yang tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan
namun dapat pula teijadi di lingkungan kerja dokter gigi.

PENDAHULUAN gam merupakan pencampuran dari bahan alloy dengan air


Air raksa atau merkuni (Hg) merupakan suatu bahan kimia raksa. Reaksi yang timbul antara air raksa dan alloy amalgam
yang diperlukan dan dipakai oleh banyak industri seperti indus- disebut proses amalgamasi, yang secara garis besar adalah
tri cat, pestisida, farmasi serta dipakai sebagai bahan campuran sebagai ber-ikut:
tumpatan gigi yaitu amalgam. Amalgam sebagai bahan tumpatan Ag3Sn + Hg –> Ag2Hg3 + Sn7Hg + Ag3Sn
gigi geligi terutama gigi bagian posterior masih banyak diper- Pencampuran kedua macam bahan tersebut dapat secara
gunakan, baik di dalam maupun di mar negeri karena mempunyai manual atau melalui alat(1).
berbagai keuntungan yang tidak dipunyai bahan tumpatan lain- Keracunan air raksa seperti halnya dengan logam berat
nya antara lain dalam hal kekuatan menahan daya kunyah, lainnya dapat terjadi melalui berbagai jalan antara lain melalui
ekonomis, mempunyai masa kadaluarsa yang panjang serta teknik pernapasan, suntikan serta makanan dan minuman yang terce -
manipulasi yang mudah. mar(2,3). Di lingkungan kerja dokter gigi, air raksa dapat masuk ke-
Meskipun demikian, pemakaian amalgam sebagai bahan dalam tubuh, baik tubuh operator maupun tubuh pasien yang
tumpatan gigi mempunyai risiko terjadinya pencemaran air raksa se- dang dirawat melalui pernapasan, kulit melalui kontak
terutama bila cara penanganannya kurang baik. langsung atau melalui saluran cerna akibat tumpahan air raksa
yang tidak segera dibersihkan, pemerasan rutin air raksa yang
TINJAUAN MENGENAI PENCEMARAN AIR RAKSA berlebihan dari amalgam, sisa-sisa amalgam atau air raksa yang
Pencemaran air raksa terhadap lingkungan hidup akan me- dibuang secara sembarangan, peredaran kembali udara dalam
nimbulkan dampak negatif pada kesehatan manusia. Pencemar- ruang kerja tanpa adanya ventilasi, wadah air raksa yang tidak
an tersebut akan mengakibatkan tenjadinya toksisitas atau ke- tertutup rapat, kebocoran kapsul amalgam, pemasangan karpet
racunan tubuh manusia. lantai ruang. kerja, penggunaan sterilisator panas kering (dry
Pencemaran air raksa di lingkungan kerja dokter gigi, dapat heat), serta penggunaan alat ultrasonik(4,5,6).
terjadi pada pemakaian amalgam sebagai tumpatan gigi. Amal- Selain dan hal tersebut di atas, air raksa yang telah terikat

Dibawakan pada Seminar Nasional Kedokteran Lingkungan (Environmental


Medicine) tanggal 24–25 Januari 1994 di Bandung Jabar.

38 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


menjadi amalgam dapat terlepas sewaktu tindakan tersebut di halusinasi, depresi mental dan lain-lain(2,10,11).
bawah ini(1,7,8). Pada rongga mulut, gejala keracunan air raksa akan me-
1) Sewaktu tindakan kondensasi, burnishing dan pemolesan nunjukkan gejala-gejala seperti perubahan warna gusi menjadi
amalgam. abu-abu yang menyebar, stomatitis, gigi geligi menjadi goyang,
Pelepasan air raksa pada waktu kondensasi terjadi karena nekrosis tulang alveolaris, saliva menjadi kental, mulut terasa
proses penguapan. Air raksa tersebut sebagian akan menguap panas, rasa gatal dan rasa logam di lidah, ulserasi pada membran
dan sebagian lagi akan larut dalam ludah. Menurut Paffenbarger mukosa, palatum, faring, lidah bengkak, sakit dan mengalami
(1982), air raksa yang terlepas sewaktu kondensasi berkisar ulserasi, kelenjar ludah dan limfe membengkak dan sakit(10,11,12).
antara 0,06–0,63% berat. Pada waktu tindakan burnishing, te- Perawatan keracunan akut adalah mengatasi anurla dan syok
kanan yang dilakukan akan mengangkat kelebihan air raksa ke yang terjadi, inaktivasi dan pengeluaran air raksa dan saluran
permukaan yang kemudian akan terlepas. Pada waktu pemoles- cerna dengan kuras lambung dan pemberian antidotum yang
an, air raksa dan unsur-unsur logam lainnya akan terlepas karena adekuat. Antidotum yang adekuat untuk keracunan air raksa
terjadinya friksi antara permukaan logam dengan batu poles. adalah dimekaprol, EDTA dan penisilamin(2,4,9,11).
2) Sewaktu pemakaian di dalam mulut.
Pelepasan air raksa dapat terjadi karena adanya friksi dan UPAYA PENCEGAHAN
abrasi pada permukaan amalgam. Konsentrasi uap air raksa yang Secara umum untuk rnencegah dan menanggulangi masalah
terdapat di dalam rongga mulut setelah periode stimulasi pe- pencemaran lingkungan hidup termasuk pencemaran oleh air
ngunyahan adalah 29,8 ug pada subyek yang memiliki 12 tam- raksa, telah dibuat Undang-undang maupun peraturan mengenai
bahan amalgam atau 1ebih(7). lingkungan hidup. Kriteria Nilai Ambang Batas untuk bahan-
3) Karena proses korosi. bahan yang berbahayapun telah dikeluarkan oleh berbagai
Korosi adalah peristiwa kerusakan suatu logam karena reaksi instansi yang terkait. Hanya masalahnya sekarang, apakah hal-
kimia atau elektrokimia dengan lingkungannya. Hal ini terjadi hal tersebut sudah diterapkan atau dijalankan dengan seharus-
karena mulut merupakan lingkungan ideal untuk terjadinya proses nya.
korosi pada logam atau alloy karena terdapat cairan, fluktuasi Nilai Ambang Batas untuk air raksa atau uapnya di udara
suhu, pH yang berubah-ubah akibat diet makanan serta dekom- adalah 0,05mg/cm3 udara dan untuk merkuri organik di udara 0,01
posisi bahan makanan. Proses korosi dapat diperbesar dengan mg/cm3. Parameter yang banyak dipakai untuk mendeteksi pe-
adanya beberapa tambalan logam yang berlainan, permukaan makaian air raksa yang berlebih adalah darah dan urine. Tingkat
restorasi logam yang tidak homogen, penimbunan plak dan air raksa normal dalam urine adalah antara 0-0,02 mgHg/l dan
kalkulus. Jumlah total air raksa yang terlepas pada proses ini dalam darah 0-0,05 mgHg/l. Parameter lain yang dianjurkan se-
berkisar antara 62–1.650 ug/cm2 setelah periode 35 minggu(5). bagai indikator pencemaran air naksa di dalam tubuh adalah air
4) Sewaktu pembongkaran tambalan amalgam. ludah, rambut dan kuku(2,4).
Air raksa dapat terlepas dan tambalan amalgam sewaktu di- Secara umum upaya pencegahan keracunan air raksa pada
masukkan maupun dibongkar. Pembongkaran amalgam meng- lingkungan pekerjaan dapat dilakukan dengan upaya sebagai
gunakan bor kecepatan tinggi tanpa air pendingin dan aspirator beriikut(13) :
akan menghasilkan uap mengandung air raksa pada daerah per- 1) Unit-unit kerja yang menimbulkan gas atau uap air raksa
napasan operator berkisar antara 0–1 mg/cm3 udara(6). ke udara harus memakai sistem ventilasi keluar yang tertutup
Keracunan air raksa terjadi karena terbentuknya senyawa agar supaya tidak terjadi pencernaran udara.
yang mudah diserap yaitu air raksa yang teroksidasi atau terikat 2) Ventilasi keluar yang tertutup tersebut harus dapat menutupi
dengan sulfida. Uap air raksa cepat sekali teroksidasi sehingga proses kerja dengan sempurna.
pada dosis berlebih akan menimbulkan keracunan. Air raksa 3) Bahan-bahan yang mengandung bahan berbahaya termasuk
mudah pula diabsorpsi melalui kulit karena mudah larut dalam air raksa harus diangkut dengan alat angkut yang tertutup baik.
lemak. Dalam darah, air raksa diikat oleh protein plasma dan 4) Tempat-tempat pengolahan bahan berbahaya termasuk air
eritrosit. Air raksa akan dikeluarkan dalam waktu 6 hari setelah raksa harus mempunyai lantai yang tidak tembus oleh bahan
masuk ke dalam tubuh akan tetapi dapat pula tinggal sampai tersebut, serta mudah dibersihkan dengan sempurna untuk
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun(9). mencegah penimbunan bahan-bahan tersebut.
Keracunan akut air raksa menunjukkan gejala-gejala seperti 5) Air raksa yang tumpah atau tercecer harus diambil dengan
berkurangnya pengeluaran air seni sampai berhenti sama sekali, alat penghisap vakum.
rasa haus, adanya rasa sakit dan terbakar pada kerongkongan dan 6) Air raksa yang turnpah harus dibersihkan dengan kain
perut, pusing, penyempitan lapang pandang, tremor, muntah basah atau minyak serta harus segera dicuci.
darah, diarhea disertai lendir dan darah, sukar berbicara, menelan 7) Sedapat mungkin gantilah pemakaian air raksa dengan
dan bernapas, nadi cepat dan tidak teratur serta kulit pucat dan bahan lain yang kurang beracun.
dingin. Sedangkan pada keracunan kronis akan tampak gejala 8) Suhu udara harus diatur karena air raksa mudah menguap
mirip Parkinsonism seperti terjadi perubahan kepribadian, tremor pada suhu tinggi.
dan kejang, albuminuria, radang selaput mata serta kebutaan, ke- 9) Nilai Ambang Batas tidak beleh melebihi dari yang telah
tidakteraturan bunyi jantung, urtikaria, erythema, polineuropati, ditentukan pemerintah.

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 39


Upaya pencegahan pencemaran air raksa pada lingkungan hampa biasa.
kerja dokter gigi, mutlak diperlukan karena mengingat pemakai- Sedangkan untuk mencuci barang-barang yang terkontami-
an amalgam sebagai bahan tumpatan sampai saat ini masih nasi, dapat dipakai bubuk sulfida air raksa yang larut dalam air,
sangat banyak. bahan yang mengandung hydrated calcium oxide dan belerang
Upaya pencegahan pencemaran air raksa di lingkungan ke- yang dicampur dengan air membentuk pasta maupun larutan
dokteran gigi dapat dilakukan dengan jalan antara lain(2,4,5,13) : natrium tiosulfat dalam 10% campuran air.
1) Monitoring tingkat air raksa baik di dalam udara ruang kerja
maupun di dalam tubuh petugas yang bekerja di lingkungan KESIMPULAN
kerja kedokteran gigi. Pekerjaan di lingkungan kedokteran gigi dapat menimbul-
2) Semua petugas yang bekerja di lingkungan kedokteran gigi kan pencemaran yang berbahaya yaitu pencemaran air raksa.
harus mendapatkan pendidikan dan latihan bagaimana mena- Pencemaran ini akan membahayakan baik kesehatan petugas,
ngani limbah air raksa dengan cara yang benar. kesehatan gigi maupun kesehatan penderita yang dirawat.
3) Ruangan kerja atau praktek harus mempunyai ventilasi yang Pencegahan pencemaran air raksa perlu diupayakan, untuk
baik. mencegah kemungkinan terjadinya toksisitas atau keracunan
4) Hindarkan pemakaian karpet pada ruang kerja atau ruang yang sangat merugikan kesehatan.
praktek.
KEPUSTAKAAN
5) Air raksa harus disimpan dalam botol atau wadah yang
tidak gampang pecah dan mempunyai tutup yang baik. 1. Ahmad R, Staunord JG. Mercury release from amalgam, J. Operative
6) Jangan memeras amalgam dengan tangan telanjang. Dentistry, 15: 207–218.
7) Selalu memakai masker terutama dalam menangani 2. Bergman M. Side effects of amalgam and its alternatives. Internat Dental J.
1990; 40(1): 4–10.
tumpatan amalgam. 3. KagaMetal. Cytotoxicityof amalgam, alloy and theirelement and phases. J.
8) Buanglah amalgam yang tidak terpakai dalam wadah yang Dental Material 1991; 7: 68–72.
mengandung air. 4. Jones DE. Mercury, A review of the literature. Br. Dent. J. 1991 (Septem-
9) Bila memakai amalgamator, kapsul tidak boleh bocor. ber) 151: 134–48.
5. Langan DC. The use of mercury in dentistry, a critical view of recent
10) Hindarkan pemakaian alat-alat yang dapat menimbulkan literature. JADA. 1987; 115.
suhu tinggi pada waktu menangani tumpatan amalgam. 6. Richard JM. Mercury vapour release during the removal of old amalgam
11) Lakukan pemeriksaan teratur terhadap kadar air raksa di restoration. Br. Dent, J. 1985; 231–32.
dalam tubuh petugas yang berhubungan dengan air raksa secara 7. Vimy HJm Lorscheider FL. Serial measurement of intra oral air mercury;
estimation of daily dose from dental amalgam. J. Rest. Dent. 1985; 64(8):
teratur. 1072–75.
12) Lakukan pemeriksaan konsentrasi uap air raksa pada 8. Chew CL et al. Long term dissolution of mercury from a non mercury
tempat kerja atau praktek secara teratur. releasing amalgam. Clinical Preventive Dent. 1991; 13(3): 5–7.
Jika terjadi penumpahan air raksa, hal yang utama dilakukan 9. Istiantoro YH. Logam Berat dan Antagonis. Farmakologi dan Terapi. Ed.
2. FKUI. Jakarta. 1980.
adalah membuang sebanyak mungkin air raksa yang tercecer. 10. Burket LW. Oral Medicine. Diagnosis and Treatment. 6th ed. Philadel
Tumpahan air raksa tersebut dapat diambil dengan cara(1,5) : phia: JB LippincottrCo. 1971. h. 141–4.
1) Menyedot dengan menggunakan pipa berdiameter kecil 11. Chatton MJ. Handbook of Medical Treatment. 16th ed. Maruzen Asian Ed.
yang dihubungkan dengan aspirator unit gigi. Singapore. 1979.
12. Shafer et al. A Textbook of Oral Pathology, 5th ed. Tokyo Igaku Shoin
2) Menggunakan pita perekat. Saunders. 1983.
3) Menggunakan penyedot hampa yang mempunyai saringan 13. SumamurPK. Higiene perusahaan dan kesehatan kerja, Cetakan 3, Gunung
khusus dan mempunyai daya hisap yang lebih kuat dan penyedot Agung, Jakarta, 1980, 1980, hal. 37–47.

He who knows nothing, doubts nothing

40 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


ULASAN

Efek Merokok
terhadap Rongga Mulut
Gupran Ruslan
Rumah Sakit Umum Daerah Muara Teweh, Kalimantan Tengah

yang merupakan suatu sebab mengapa seorang perokok sulit


PENDAHULUAN untuk berhenti merokok(7). Filter yang baik sudah tentu dapat-
Merokok merupakan kebiasaan yang memiliki daya meru- mengurangi bahan-bahan ini.
sak cukup besar terhadap kesehatan. Hubungan antara merokok Nikotin berbentuk cairan, tidak berwarna, merupakan basa
dengan berbagai macam penyakit seperti kanker paru, penyakit yang mudah menguap(8). Nikotin berubah warna menjadi coklat
kardiovaskuler, risiko terjadinya neoplasma larynx, esophagus dan berbau mirip tembakau setelah bersentuhan dengan udara;
dan sebagainya, telah banyak diselidiki(1-3). kadannya dalam tembakau antana 1–2%(8). Nikotin mendorong
Kebiasaan merokok juga diasosiasikan dengan berbagai terjadinya adhesi platelet yang diasosiasikan dengan penyakit
macam perubahan yang berbahaya dalam rongga mulut seperti kardiovaskuler dan hipertensi(4). Nikotin merupakan bahan yang
kaitannya dengan kanker mu1ut(2,4). Penelitian-penelitian me- mempunyai aktifitas biologi yang poten yang akan menaikkan
ngenai hubungan merokok dengan penyakit periodontal juga tingkat epinefrin dalam danah, menaikkan tekanan darah, me-
sudah dilaporkan; perokok menderita periodontitis yang lebih nambah denyut jantung dan menginduksi vasokonstriksi peri-
parah dan mempunyai insidens acute ulcerative gingivitis yang fer(8,9). Nikotin selain dimetabolisme di hati, paru-paru dan ginjal,
lebih tinggi daripada bukan perokok(5). juga diekskresi melalui air susu. Pada perokok berat, kadar
Tulisan ini dimaksudkan untuk mengulas efek merokok nikotin dalam air susu dapat mencapai 0,5 mg/l(8).
terhadap mukosa mulut, bakteri mulut, kebersihan mulut dan Kandungan Tar dalam rokok di negara-negana yang sedang
periodontium; sebelumnya diuraikan lebih dahulu karakteristik berkembang cukup tinggi(6). Di Cina, Indonesia dan India mi-
komponen tembakau rokok. salnya, kandungan Tar berkisar antana 19 – 33 mg, sedang di
negara-negara industri, kandungan Tar berkisar antara 0,5 –20
KARAKTERISTIK KOMPONEN TEMBAKAU ROKOK mg(10). Kandungan Tar dan- -nikotin di pasaran Inggris dan
Asap rokok tembakau mengandung gas dan bahan-bahan Amerika Serikat telah menurun(6), sedangkan salah satu merek
kimia yang bersifat racun dan atau karsinogenik(5,6). Komposisi rokok di Indonesia mengandung 55 mg Tar/batang rokok(6).
kimia dan asap rokok tergantung pada a) jenis tembakau, Selain bahan-bahan tersebut di atas, masih banyak terdapat
b) disain rokok, seperti ada tidaknya filter, bahan-bahan tam- zat-zat kimia lainnya yang berefek buruk yang dihasilkan pada
bahan, dan sebagainya, c) pola merokok individu(6). pembakaran tembakau di antaranya : piridin, fenol, hidrogen
Dari satu batang rokok yang dibakar/disulut, dihasilkan sianida, amonia, benzene, benz(a) anthracene, benzo(a) pyrene,
kira-kira 500 mg gas (92%) dan bahan-bahan partikel padat dan sebagainya(6,8). Bahan-bahan ini tentu menambah sifat toksik
(8%)(4). Sebagian besar fase gas adalah karbondioksida, oksigen dan asap rokok(8). Lebih dari 1000 macam bahan telah diidenti-
- dan nitrogen(4). Meskipun persentase karbonmonoksida rendah, fikasi dalam tembakau(4).
tetapi menaikkan tekanan darah secara bermakna yang akan Banyak penelitian labocatoris mengungkapkan bahwa bebe-
berpengaruh pada sistem pertukaran hemoglobin(4). Tar (hidrokar- rapa hidrokarbon yang diisolasi dari hasil produk tembakau
bon aromatik) berkisan antara < 1 –35 mg dan dalam kelompok dapat menginduksi karsinoma bukal pada binatang-binatang
ini terdapat bahan karsinogen yang paling poten(4). Kandungan percobaan dalam kondisi-kondisi ekspenimen tertentu(4). Telah
nikotin berkisar dari <1 – 3 mg, mempunyai efek farmakologis diketahui bahwa benz(a) anthracene merupakan hidrokarbon
yang mendorong faktor habituasi atau ketergantungan psikis(4,7,8), yang bersifat karsinogenik(11,12). Sementara itu, benzo(a) pyrene-

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 41


selain bersifat mutagenik, juga karsinogenik(4,12) mengikat diri keratinisasi(15).
ke nukleoprotein. Di samping itu, enzim AHH (Aryl Hydro- Karsinoma mukosa mulut terutama disebabkan oleh karsi-
carbon Hydroxylase) yang terutama dihasilkan pada lekosit nogen bahan kimia di samping fisik dan virus(17,18). Berkembang-
manusia dalam jumlah yang berbeda-beda, menambah sifat nya neoplasma pada individu akibat stimulus karsinogenik ini
karsinogenik dan benzo(a) pyrene(4). Karena itu, perokok yang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti keturunan/genetik, diet,
mempunyai enzim ini dalam jumlah banyak mungkin mem- hormonal, jenis kelamin, dan sebagainya(18). Merokok mem-
punyai risiko yang lebih besar untuk terkena kasus keganasan punyai efek karsinogenik pada mukosa mulut(15). Tembakau me-
pada bagian-bagian "zona tembakau" dalam mu1utnya(4). ngeluarkan efek karsinogenik yang tampaknya bersifat kimia(15).
Dari setiap kepu Ian asap rokok, perokok menghirup kira Terdapat hubungan yang bermakna antara merokok dengan
kira 50 mg bahan, 18 mg darinya berupa bahan partikel padat kanker di berbagai bagian mulut(19). Keller (1967) mengungkapkan
yang berupa droplet aerosol cair dan partikel Tar padat sub- adanya asosiasi yang bermakna antara merokok dengan kanker
mikroskopik dengan diameter mikron atau lebih kecil. Sisanya mulut (tidak termasuk bibir)(19), juga melaporkan adanya asosiasi
terdini dari karbondioksida dan sampai 5% karbonmonoksida, yang bermakna secara statistik antana merokok dengan kanker
tercampur déngan oksigen dan nitrogen dan udara(5). bibir(6).
Merokokdiperkirakandapatmeningkatkan terjadinyakanker
EFEK MEROKOK TERHADAP MUKOSA MULUT mulut sebanyak dua sampai empat kali(20). Sementara itu, peneli-
Bahan-bahan kimia dan gas dalam asap rokok, seperti : tiän prospektif di Universitas California, San Fransisco meng-
amonia, hidrogen Sianida, nikotin, dan sebagainya, merangsang ungkapkan bahwarisiko terkena kanken mulut bagi perokok kira-
infeksi mukosa. Merokok dapat memperlambat penyembuhan kira lima kali daripada bukan perokok(4).
luka. Dry Socket terjadi empat kali lebih banyak pada perokok
daripada bukan perokok(13). EFEK MEROKOK TERHADAP BAKTERI MULUT
Merokok menyebabkan perubahan panas pada jaringan Perubahan variasi potensial reduksi-oksidasi (Eh) di daerah
mukosa mulut(14). Initasi kronis dan panas menyebabkan per - gingivadan rongga mulut merupakan indikasi adanya anaenobio-
ubahan vaskularisasi dan sekresi kelenjar liur(14). Rangsangan sis. Merokok dapat menyebabkan penurunan Eh dan ini akan
asap rokok yang lama dapat menyebabkan perubahan-per- mengakibatkan peningkatan bakteri plak yang anaerobik. Hipo-
ubahan yang bersifat merusak bagian mukosa mulut yang ter - tesis ini telah diuji oleh Kenney et al. pada tahun 1975. Kenney
kena, yang bervariasi dan penebalan menyeluruh bagian epitel melaporkan adanya penurunan nilai potensial reduksi-oksidasi
mulut (smoker’s keratosis) sampai bercak putih keratotik yang yang bermakna, baik pada regio gingiva molar pertama rahang
menandai leukoplakia dan kanker mulut(5). Leukoplakia ber- atas maupun pada dasar mulut dan 19 orang perokok dan 19
variasi dan lesi putih yang rata/halus sampai lesi yang tebal dan orang bukan perokok, Iangsung setelah merokok sebatang siga -
keras. Kira-kira 3% – 5% kasus yang didiagnosis leukoplakia ret(9). Efek penurunan tersebut tampaknya mendorong pertum-
akan berkembang menjadi kanker(13). Oral leukoplakia merupa- buhan mikro-organisme yang anaerobik(5).
kan lesi prekanker(4). Colman et at. 1976, menemukan bahwa Neissena (Gram-
Tembakau merupakan penyebab keratosis yang paling negatif aerob) lebih sedikit jumlahnya pada plak, lidah dan
sering dalam mulut. Pasien sering kali mempunyai kebersihan mulut palatum dari 5 orang sampel laki-laki muda yang merokok lebih
yang buruk dan berada pada dekade kehidupan ke lima atau dari 20 batang sigaret sehani bila dibanding dengan 4 orang
enam. Lebih sering menyerang pria daripada wanita dan ada sampel lainnya yang tidak merokok(9). Mereka meny bahwa
hubungan antara jumlah rokok dan jumlah serta keparahan perubahan-penubahan tersebut mungkin akibat kondisi anaero-
lesi(15). Jumlah rokok yang dihisap lebih penting daripada lama- bik yang lebih banyak tendapat pada perokok atau sifat anti-
nya merokok. Kerentanan individu tampaknya menjadi faktor bakteri dan asap rokok tembakau. Asap rokok tembakau
yang penting dalam menentukan derajat dan sifat dan hiperkera- mengandung fenol dan sianida yang berpengaruh terhadap sifat-
tosis(16). sifat toksik dan anti-bakteri(9).
Pada perokok yang menggunakan pipa, sering dijumpai Bastian dan Waite (1978) melaporkan jumlah proporsi bakteri
adanya stomatitis nikotina(13). Gejalanya antara lain adanya pewarnaan Gram pada perkembangan plak d 10 perokok dan
kemerahan di daerah palatum, yang akhirnya menjadi keabu- 10 bukan perokok. Dilaporkan bahwa pada hari ke 3 tahap awal
abuan dan kemungkinan mengkerut. Pada waktunya, terlihat pembentukan plak, pada kelompok perokok terdapat pening-
pertumbuhan bercak putih yang kecil pada palatum molle dekat katan persentase bakteri Gram-positif terhadap bakteri Gram-
duktus kelenjar liur. Stomatitis seperti in janang berkembang negatif yang bermakna secara statistik daripada kelompok bukan
menjadi kanker. Menghentikan kebiasaan merokok dengan pipa, perokok. Sedang pada hari ke 7 dan ke 10 pembentukan plak,
biasanya akan menyelesaikan masalah ini(13). persentase bakteri Grain positif terhadap persentase bakteri
Pada perokok sigaret, perubahan mulut biasanya lebih luas. Gram negatif tidak berbeda bermakna pada kedua kelompok
Mukosa bukal pipi tampak berwanna putih susu, terutama pada tersebut(21).
daerah cominisura, dan menghilang ke daerah gigi geraham Sementara itu, penetitian Bandell secara in vitro mengkon-
besar. Pasien yang sering membiarkan sigaret tetap tergantung firmasikan bahwa bakteri Gram positif tampaknya kurang rentan
di bibir sering mengalami pembentukan groove yang dapat ter- terhadap asap rokok tembakau danipada bakteri Gram negatif(5).

42 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


Dilaporkan bahwa tiga spesies bakteri Gram negatif yaitu KESIMPULAN
Branhamella catarrhalis, Neisseriaperiava dan Neisseria sicca Kandungan asap rokok tembakau terdiri dari gas dan
lebih rentan terhadap asap rokok daripada tiga spesies bakteri bahan- bahan kimia yang bersifat toksik dan atau karsinogenik.
Gram positif, yaitu Streptococcus mitis, Streptococcus salivarius Merokok dapat menimbulkan efek yang merugikan pada
dan Streptococcus sanguis(9). jaringan di dalam rongga mulut, di samping kesehatan secara
umum.
Dokter gigi sebagai pemberi pelayanan kesehatan gigi dan
mulut, tentunya dapat memainkan peranan yang penting dalam
EFEK MEROKOK TERHADAP KEBERSIHAN MULUT menyadarkan masyarakat terhadap bahaya merokok, khususnya
DAN PERIODONTIUM untuk alasan-alasan kesehatan mulut.
Pindborg et al. menyimpulkan bahwa terdapat hubungan
antara konsumsi tembakau dan deposisi ka1ku1us Analisis
selanjutnya dan data yang sama oleh Kowalski menunjukkan
bahwa bukan perokok mempunyai kalkulus supragingival yang
lebih kecil(9).
Arno et al. (1958) dan Sumners dan Oberman (1968), me-
KEPUSTAKAAN
laporkan bahwa frekuensi merokok berkorelasi positif dengan
penyakit periodontal. Pada penelitian selanjutnya, diketahui 1. Ismail Al, Burt BA, Ekiund SA. Epidemiologic patterns of smoking and
bahwa kehilangan tulang alveolar bertambah dengan bertam- periodontal disease in the United States. JADA, 1983; 106: 617–21.
bahnya penggunaan tembakau(9). 2. Knight JF. Jantung Sehat; tezj. Panjaitan M. Bandung: Indonesia Pubi.
House, 1990: 109–15.
Preber dan Kant (1973), meneliti efek merokok pada anak 3. Solomon HA, Piiore RL, Bross IDJ. Cigarette smoking and periodontal
sekolah usia 15 tahun dan melaporkan peningkatan indeks keber- disease. JADA 1968; 77: 1081–4.
sihan mulut pada perokok bila dibanding dengan kontrol bukan 4. Silverman Sir, Shillitoe EJ. Etiology and Predisposing Factors. Dalam:
perokok. Silvennan Sir, ed. Oral Cancer. 2nd ed., Ch 2. New York: The American
Cancer Society, 1985: 7–36.
Orang yang merokok lebih dari 10 batang sigaret per hari 5. Macgregor 1DM. Effects of Smoking on Oral Ecology. Dalam: Lyon HE,
mempunyai kesempatan 10 kali lebih besar untuk mendapat ed. Dental Review. Hong Kong : Dental Review Asia, 1990; 2: 4–8.
acute necrotizing ulcerative gingivitis. Ulkus ini diakibatkan 6. World Health Oitganization. LARC Monographs On The Evaluation Of
oleh pengurangan aliran darah ke daerah jaringan gingiva, atau The Carcinogenic Risk Of Chemicals To Humans, Tobacco Smoking- Vol.
38. Lyon, France, WHO, 1985; 65, 81, 86, 87, 271–274, 309, 313.
seringkali akibat gabungan efek nikotin, stres dan pengabaian 7. Ciancio SG, Bourgault PC. Clinical Pharmacology For Dental Pmfessio
kesehatan mulut(13). nals. 3rd ed. Chicago: Year Book Medical Publ. Inc. 1989: 362–366.
Penelitian-penelitian epidemiologis lainnya juga menun- 8. Gan 5, Darmansjah I. Obat Ganglion. Dalam: Gan S, ed. Farmakologi Dan
jukkan bahwa deposisi kalkulus, debris dan stain makin bertam- Terapi. ed. 3. Jakarta: Bagian Farmakologi FKUI, 1987: 97–102.
9. Rivera - Hidalgo F. Smoking and Periodontal Disease. J Periodontol 1986;
bah pada perokok daripada bukan perokok(9). Akumulasi plak 57: 6 17–24.
dalam rongga mulutjuga lebih besar pada perokok daripada bu- 10. Setiadi L. Smokii in Saraphee District, Chiang Mai, Thailand. Major -
kan perokok(1,22). Perokok juga lebih mudah mengalami gingivi- Paper. Bangkok: l Mahidol University, 1988:6–10. 11: Basmajian JV e al.
tis daripada orang yang tidak merokok(2). (eds.) Stedman’s Medical Dictionary. 27th ed. Balti more: Williams &
Wilkins, 1982: 165.
Merokok tampaknya memperburuk status kebersihan mulut 12. Whelan E. Preventing Cancer. New York: WW Norton & Co. 1980:64–69.
seorang individu dan bersama-sama dengan kebersihan mulut 13. McCann D. Tobacco use and oral health. JADA, 1989; 118: 19–25.
yang buruk, ia bertindak sebagai ko-faktor untuk terjadinya 14. Goldman HM, Cohen DW. Periodontal Therapy. 6th ed. St. Louis: CV
gingivitis dan periodontitis(9). Mosby Co. 1980: 142–144, 231,232.
15. Gayford ii, Haskell R. Penyakit Mulut; teij. Yuwono L. Jakarta: EGC,
Banyak penelitian sebelumnya tidak mempertimbangkan 1990: 79–82, 133–140.
perbedaan status kebersihan mulut perokok dan bukan perokok, 16. Burket LW. Oral Medicine. Diagnosis and Treatment. 6th ed. Philadelphia:
sehingga hasil penelitian-penelitian tersebut meragukan. JB Lippincott, 1971: 100.
Bradtzaeg, Jamison, Sheiham dan Ainamo, semuanya menyim- 17. Boyd NM, Reade PC. Mechanisms of carcinogenesis with particular
reference to the oral mucosa. J Oral Pathol 1988; 17: 193–201.
pulkan bahwa orang-orang yang merokok mempunyai lebih 18. Boyd NM. Reade PC. Factors associated with the development of neo
banyak kalkulus, debris, gingivitis dan periodontitis daripada plasm. JOral Pathol 1988; 17: 202–207.
orang-orang yang tidak merokok, tetapi bila perokok dan bukan 19. Smith Ci. Global Epidemiology and Aetiology of Oral Cancer. Dalam: A
perokok dengan tingkat kebersihan mulut yang sama dibanding - Symposium On The Early Diagnosis of Oral Cancer. London: Federation
Dentaire Inteniationale, 1973: 82–7.
kan maka tidak ditemukan perbedaan yang bermakna secara 20. Bolden TE. Epidemiology of and Factors Related to Oral Cancer. Dalam:
statistik antara status periodontal mereka(1). Stallard RE. ATextbookofPi Dentistry. 2nded. Philadelphia: WB Saunders
Ismail et al. melaporkan adanya asosiasi negatif antara me- Company, 1982: 7 1–89.
rokok dengan penyakit periodontal pada populasi penelitian 21. Bastiaan Ri, Waite IM. Effects of tobacco smoking on plaque development
and gingivitis. J Periodontol 1978; 49: 480–82.
sebanyak kurang lebih 3000 individu dengan usia antara 25 –74 22. Osterberg T, Mellstmm D. Tobacco Smoking: a major risk factor for loss
tahun. Asosiasi ini juga masih jelas setelah penyesuaian variabel of teeth in three 70-year-old cohorts. Community Dent Oral Epidemiol
usia, jenis kelamin, ras, kebersihan mulut dan status ekonom(1). 1986; 14: 367–70.

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 43


HASIL PENELITIAN

Perilaku Mantan Pengguna


Sarana Air Bersih (SAB)
di Jawa Tengah, Kalimantan Selatan,
dan di Sulawesi Selatan
Siti Sapardiyah Santoso, Riris Nainggolan, Sunanti Z.S.
Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta

ABSTRAK
Pembangunan sarana air bersih (SAB) telah dilakukan sejak tahun 1974 di daerah
pedesaan di Indonesia meliputi sistem perpipaan, sumur pompa tangan (SPT) dangkal,
penampungan air hujan (PAll), dan saranajaringan pasir lambat.
Namun karena SAB yang dibangun pemerintah tersebut banyak yang sudah tidak
berfungsi (rusak atan tidak keluar air), masyarakat banyak yang beralih ke sumur gali.
Untuk memperoleh gambaran/informasi mengenai faktor-faktor termasuk sosio
budaya yang berperan dalam pemanfaatan dan pemeliharaan SAB tersebut telah dilaku-
kan penelitian di propinsi Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan. Respon-
den adalah 360 ibu runah tangga dan mantan pengguna SAB. Data dikumpulkan secara
kuantitatif dan kualitatif. Untuk pengumpulan data kuantitatif dengan cara wawancara
menggunakan kuesioner dan untuk pengumpulan data kualitatif digunakan focus group
discussion.
Alasan tidak menggunakan SAB lagi karena jarak terlalu jauh, SAB tidak keluar air,
terlalu banyak pemakal, air tidak bersih.
Disarankan agar penempatan SAB lebih sesuai dengan melihat lapisan tanah, sert
terletak tidak jauh dan pemukiman dan penanggungjawabnya, penentuan jumlah pe-
makai 1 SAB 10 kepala keluarga.

PENDAHULUAN selesai dan diharapkan dapat berdaya guna dan berhasil guna
Air merupakan salah satu kebutuhan hidup yang paling bagi masyarakat yang mendapat sarana tersebut; tetapi dan ber-
penting. Tanpa air berbagai proses kehidupan mustahil dapat bagai laporan hasil kunjungan/monitoring petugas Direktorat
berlangsung. Meskipun air termasuk sumberdaya alam yang PAIR, Ditjen PPM & PLP, Dep.Kes. RI, ternyata kurang berdaya
dapat diperbaiki (renewable resource), namun kenyataan me- guna dan berhasil guna(2). Hal ini tercermin dan keadaan sarana
nunjukkan bahwa ketersediaan air tanah tidak pernah bisa ber - (kran umum) yang tidak berfungsi baik, dan masyarakat masih
tambah, bahkan cenderung terus menurun baik dan segi kuanti- banyak memanfaatkan air sumur gali walaupun telah dibangun
tas maupun kua1itasnya(1). sumur pompa tangan (SFT).
Sejak tahun 1974/1975 melalui Inpres di daerah pedesaan Dalam kaitan tersebut, telah dia,iakan penelitian oleh Badan
telah dibangun berbagai sarana penyediaan air bersih, yang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan bekerjasama dengan
meliputi pómbangunan sistem perpipaan, sumur pompa tangan Direktorat PAIR, Ditjen Pencegahan Penyakit Menular dan
dangkal (SPTDK), penampungan air hujan (PAH) dan sarana Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Penelitian ini bertujuan
saringan pasir lambat. Pembangunan sarana tersebut kini telah antara lain untuk mengungkapkan perilaku masyarakat yang

44 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


menyebabkan sarana penyediaan air bersih kurang berguna dan Dilakukan dengan cara deskriptif kuantitatif dan kualitatif.
berhasil guna. Hasil penelitian diharapkan akan digunakan se-
bagai bahan penyusunan program intervensi komunikasi dan HASIL
bagi pembinaan tentang mantan pengguna sarana air bersih di
1) Karakteristik Responden
Indonesia, pada khususnya di Jawa Tengah, Kalimantan Selatan,
Karakteristik responden meliputi pendidikan dan pekerjaan
Sulawesi Selatan.
(Tabel 1).
Penelitian ini hanya dibatasi pada mantan pengguna sarana
air bersih, yang merupakan bagian dan penelitian mengenai Tabel 1. Karakteristik Responden Mantan Pengguna SAB
sosio budaya kelompok pembinaan pemakai sarana air bersih.
Jawa Tengah Kalsel
BAHAN DAN CARA n % n % n %

1) Penentuan Daerah Penelitian Pendidikan


Tidak sekolah 13 16,0 4 5,2 17 22,1
Daerah penelitian dipilih dan 3 propinsi yaitu Jawa Tengah, Tidak tamat SD 23 28,4 26 33,8 18 23,4
Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Pemilihan daerah Tamat SD 25 30,9 24 31,2 15 19,5
penelitian berdasarkan keadaan daerah dengan sosio budaya TamatSLTP 9 11,1 10 12,9 15 19,5
Tamat SLTA 8 9,9 11 14,3 10 13,0
yang berbeda.
Tamat Akademi 1 1,2 - - - -
Di Kabupaten Cilacap pembangunan sarana air bersih besar- Tidak tahu 2 2,5 2 2,6 2 2,5
besaran tetapi tidak diketahui mengapa banyak yang ditinggal-
Jumlah 81 100,0 77 100,0 77 100,0
kan atau tidak dilanjutkan. Di Kalimantan Selatan dipilih sebagai
daerah kumuh perkotaan, sedangkan Sulawesi Selatan dipilih Pekerjaan
59 77,6 53 69,8
Petani pemilik 12 15,8
karena merupakan daerah bantuan UNICEF. Petani buruh 34 44,7
6 8,0 1 1,3
Dari masing-masing propinsi dipilih salah satu kabupaten, 8 10,5 13 17,1
Peg. Negeri/ABRI 10 13,2
1 1,3 - -
dan kabupaten terpilih dipilih satu kecamatan (pada penelitian Peg. Swasta 6 7,9
2 2,6 9 11,8
ditentukan 1 kecamatan kota yaitu di Kalimantan Selatan dan 2 Wiraswasta 13 17,1
- - - -
Nelayan 1 1,3
kecamatan desa yaitu di Jawa Tengah dan di Sulawesi Selatan),
dan dari setiap kecamatan terpilih dipilih 4 desa. Jumlah 76 100,0 76 100,0 76 100,0
Desa-desa terpilih diperkirakan mempunyai kriteria ber-
2) Sarana Air Bersih yang Pernah Digunakan
ikut:
Sarana air bersih yang pennah digunakan di ketiga daerah
1) Masyarakat pernah memakai sarana air bersih umum yang
penelitian: sebanyak 52,0% menggunakan sumur pompa tangan
ada.
(SFT) dalam, sebanyak 26,6% menggunakan sumur pompa
2) Masyarakat belum memakai sarana air bersih yang ada.
tangan (SFT) dangkal, 2,1% menggunakan saningan pasir ketat/
3) Masyarakat belum/tidak menggunakan sarana air bersih
cepat dan 19,3% menggunakan sumur gali.
umum maupun pribadi.
Karena penulisan ini hanya menyajikan responden mantan 3) Sarana Air Bersih yang Digunakan Sekarang (Tabel 2)
pengguna SAB, makapenyajian desa terpilih hanyapada masya- Tabel 2. Sarana Air Bersih yang Digunakan Sekarang
rakat yang pernah memakai sarana air bersih umum yang ada.
Jawa Tengah Kalsel Sulsel
Jenis Sarana
2) Pengumpulan Data n % n % n %
Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara
Jenis Sarana
menggunakan kuesioner dan focus group discussion (FGD) atau 1. Pipa/kran umum 8 9,8 5 8,8 - -
diskusi kelompok terarah. FGD dilakukan di setiap propinsi. 2. Sumur pompa 1 12 - - 2 2,6
tangan dalam
3) Jumlah Sampel 3. Sumur pompa - - 1 1,8 1 1,3
• Data Kuantitatif tangan dangkal
Dari setiap desa penelitian dipilih 20 responden mantan 4. Sumur bor - - - - 1 1,3
5. Sumurgali 71 86,6 24 42,1 53 68,8
pengguna SAB, karena di setiap kecamatan dipilih 4 desa, maka 6. Air sekitar kali - - 20 35,1 16 20,8
jumlah responden berjumlah 80 orang untuk mewakili setiap 7. Lain-lain (kom- 2 2,4 7 12,2 4 5,2
propinsi. Karena ada 4 propinsi maka jumlah responden mantan binasi berbagai
pengguna SAB, menjadi 360 responden. sarana)
Untuk FGD mantan pengguna SAB dilakukan 2 kali di Jumlah 82 100,0 57 100,0 77 100,0
setiap kecamatan.
4) Alasan Tidak Menggunakan Sarana Air Bersih (SAB)
4) Pengumpulan Data Lagi (Tabel 3)
Pengumpul dan tim pusat yaitu peneliti Puslit Ekologi Ke-
sehatan dan dan Direktorat PAIR. Hasil Focus Group Discussion Mantan Pengguna
1) Jawa Tengah
5) Anallsis Data Di Jawa Tengah, menurut peserta FGD sumur yang di-

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 45


Tabel 3. Alasan Tidak Menggunakan Sarana Air Bersih (SAB) Sumber daya air merupakan unsur dasar semua perikehidupan
Jawa Tengah Kalsel Sulsel di bumi, mengingat air memiliki nilai penting bagi keberlanjutan
Alasan
n % n % n %
ekosistem dan manfaat sosial ekonomi(4).
Dilihat dari hasil penelitian ini baik di Jawa Tengah, di Ka-
Jenis Sarana limantan Selatan maupun di Sulawesi Selatan, responden yang
1. Terlalu jauh 34 44,8 6 8,3 31 44,29
2. Terlalu banyak 6 7,9 1 1,4 22 31,43 tadinya menggunakan sarana air bersih dan sumur pompa tangan
pemakai dalam (SPTDL), sumurpompatangan dangkal (SPTDK), saring-
3. Terlalu lama - - - - 4 5,71 an pasir ketat/cepat, sekanang di Jawa Tengah sebagian besar
antri berganti menggunakan sumur gali, bahkan di Kalimantan Se-
4. Tidak keluar air 22 28,9 43 59,7 12 17,14
5. Air tidak bersih 11 14,5 22 30,6 1 1,43 latan dan Sulawesi Selatan selain sebagian besar menggunakan
6. Rusak total 3 3,9 - - - - sumur gali juga kembali menggunakan air sungai baik untuk
masak, mandi, dan cuci.
Jumlah 76 100,0 72 100,0 70 100,0 Bila dilihat dari hasil Survai Kesehatan Rumah Tangga 1992
memang sebanyak 9,8% (6.539 dan 66.560 responden) meng-
bangun oleh pemerintah kebanyakan sudah rusak atau tidak gunakan air bersih dan sumur pompa, yang menggunakan sumur
keluar airnya. Masyarakat bila kekurangan mengambil air dari terlindung sebanyak 28,6% (19.041 dan 66.560 responden) dan
sumur bor (artesis) dan kadang-kadang meminta air tetangga yang menggunakan sungai 6,8% (4.506 dart 66.560 responden).
yang telah mempunyai sambungan PAM. Hasil ini menunjukkan bahwa yang menggunakan sarana air
2) Kalimantan Selatan bersih dati sumur, baik terlindung maupun tidak terlindung
Di Kalimantan Selatan, peserta FGD menyatakan bahwa masih banyak, demikian juga masih ada yang menggunakan air
mereka kebanyakan mengambil air untuk mandi dan mencuci di sungai untuk masak, mandi, dan cuci(5).
sungai serta sebagian untuk air minum, air sungai untuk minum Menurut hasil Susenas 1992, dalam penyediaan air bersih
di daerah tersebut sudah merupakan kebiasaan. terdapat 37,0% penduduk masih menggunakan air minum dari
Penduduk yang menggunakan air PAM karena kuantitas sarana yang tidak terlindung(8).
dan kualitasnya baik sepanjang tahun, sementara air sumur bila Walaupun mantan pengguna sarana air bersih yang tadinya
musim hujan kadang-kadang kotor (merah) dan musim kemarau menggunakan sumur pompa kemudian beralih menggunakan
airnya kering, sedangkan air pompa rasanya asam, berbau dan sumur gali, kedua jenis sumur tersebut (sumur pompa dan sumur
kadang-kadang berwarna keabu-abuan. gali) masih termasuk sarana air yang terlindung. Responden yang
3) Sulawesi Selatan kembali menggunakan air untuk masak dan minum menggunakan
Di Sulawesi Selatan, peserta FGD menyatakan bahwa sa- air sungai terutama di Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan,
rana (SPT) yang dibangun pemerintah sudah rusak, tidak keluar sangat disayangkan karena air sungai termasuk sarana air yang
air sehingga masyarakat mengambil air dan sumur gali tetangga. tidak terlindung dan dan segi kesehatan bisa mendatangkan ber-
bagai macam penyakit antara lain diare.
PEMBAHASAN Adapun alasan dan mantan pengguna sarana air bersih di
Pendidikan responden tergolong rendah karena sebagian Jawa Tengah tidak menggunakan sarana tersebut karena jarak-
besar tidak sekolah sampai dengan tamat SD (65% – 75,3%). nya terlalu jauh, kemudian air tidak keluar, air tidak bersih, ter-
Pekerjaan paling banyak sebagai petani baik sebagai petani lalu banyak yang memakai dan ada yang menyatakan rusak total.
pemilik maupun sebagai buruh tani, berkisar antara 60,5% – Hasil FGD (Focus Group Discussion) menyatakan sarana
85,6%. Pendidikan dan pekerjaan sangat mempengaruhi cara dan pemenintah sudah rusak dan tidak keluan airnya sehingga
berpikir, dengan kenyataan seperti ini orang-orangnya mem- masyarakat kadang-kadang meminta air dan tetangga yang
punyai sifat pemikiran yang sangat sederhana, meskipun sudah mempunyai PAM. Di Kalimantan Selatan alasan tidak
menggunakan air bersih, karena tidak mau repot dan mau yang menggunakan sarana air bersih karena tidak keluar air, air dan
dekat saja, mereka kembali menggunakan sumur gali atau air bersih, terlalujauhjanaknya dan rumah, terlalu banyak pemakai.
sungai yang terdekat dengannya. Masyarakat Kalimantan Selatan menggunakan air dan sungai
Sarana air bersih yang disediakan pemerintah sebagian untuk masak, mandi, merupakan kebiasaan (folkways) di sam-
berupa sumur pompa tangan. Sumur pompa tangan ada yang ping rasa air pompa dikatakan asam, berbau dan kadang-kadang
dalam, sedang, dan dangkal. Sumur pompa tangan dangkal berwarna keabu-abuan.
(SPTDK) merupakan sumur dilengkapi dengan pompa tangan Di Sulawesi Selatan alasan tidak menggunakan air bersih
yang bisa mengisap air secara teonitis dengan tekanan atmosfir, lagi karena jaraknya terlalu jauh, terlalu banyak yang memakai,
tetapi dalam praktek (setelah dikurangi daya gesek dan lainnya) tidak keluar air, terlalu lama antri dan air tidak bersih. Hasil
dapat menaikkan air dan kedalaman 7 meter atau kurang; pompa FGD menyatakan bahwa sarana air bersih dan pemerintah tidak
tangan dapat dipasang pada sumur gali, atau membuat Jubang keluar airnya dan sudah rusak, sehingga masyarakat mengambil
atau sumuran dengan jalan pemboran maupun penyidukan. Sumur air dari tetangga yang mempunyai sumur gali.
pompa tangan sedang untuk kedalaman antara 7–20 m, dan su- Responden Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan tidak
mur pompa tangan dalain (SPTDL) untuk kedalaman 20–30 m(3). menggunakan air bersih dan pemerintah terutama karena jarak

46 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


terlalu jauh, sedangkan alasan responden dan Kalimantan Sela-
tan karena air tidak keluar sehingga kembali lagi menggunakan
air sungai. KEPUSTAKAAN

1. Retno Soetaryono, Program Kali Bersih (Prokasih), Simposium Air, Uni-


KESIMPULAN versitas Tarumanagara, Jakarta, 1994.
1) Sarana air bersih yang pernah digunakan di ketiga daerah 2. Direktorat Jenderal PPM & PLP Dep.Kes RI. Laporan Hasil Monitoring
penelitian sebagian besar sumur pompa tangan dalam; yang lain Dir. PA11 ke Propinsi JawaTengah (Unpublished), 1988.
menggunakan sumur pompa tangan, saringan pasir/ketat/cepat 3. Direktorat Jenderal PPM & PLP Dep.Kes RI. Pola Pedoman Pelaksana dan
Program Pemberantasan dan Pengembangan Desa Percontohan Kesehatan
dan sumur gali. Lingkungan, 1990.
2) Sarana air bersih yang digunakan sekarang di ketiga daerah 4. Sarwono Kusumaatmaja. Pengelolaan Sumberdaya Air Berwawasan Ling-
penelitian adalah sumur gali. Khusus di Kalimantan Selatan dan kungan, Simposium Air, Universitas Taruma Negara, Jakarta, 1994.
Sulawesi Selatan kembali menggunakan air sungai di sekitarnya 5. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Dep.Kes RI, Biro Pusat
Statustilc, Survai Kesehatan Rumah Tangga, 1992.
karena sudah merupakan kebiasaan. 6. Anwar Musadad dkk. Studi Evaluasi Pengembangan Desa Percontohan
3) Alasan tidak menggunakan sarana air bersih lagi di Jawa Kesehatan Lingkungan di Bengkulu dan Jawa Barat (Laporan Penelitian),
Tengah dan Sulawesi Selatan karena terlalu jauh, air tidak ke Puslit Ekologi Kesehatan Badan Utbangkes, 1994.
luar. Alasan dan mantan pengguna SAB di Kalimantan Selatan 7. Horton PB et al. Sosiologi jiid I, edisi keenam, Konteks kebudayaan. AIih
bahasa Aminudin Rawi, Tita Sobari, 1992.
karena air tidak keluar dan air tidak bersih. 8. Susenas 1992.

Kalender Peristiwa

January 6–11, 1997 - BASIC SCIENCES IN ONCOLOGY AND PEDIATRIC


ONCOLOGY Ill
COURSE AND WORKSHOP
Jakarta, Indonesia
Secr.: Indonesian Society of Oncology
c/o Bagian Patologi Anatomok FKUI/RSCM
Jl. Salemba Raya 6
Tromol Pos 3225
Jakarta 10002
INDONESIA
Tel/Fax: (62-2 1) 3154175

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 47


ULASAN

Kartu Menuju Sehat Untuk Menilai


Cara Hidup Sehat
Andri Sudjatmoko
Puskesmas Bangil, Pasuruan, Jawa Timur

Dengan keberhasilan pembangunan bidang kesehatan se- Kartu Swadarma 3 K diberikan kepada bayi dan ibu hamil
lama PJP I telah tampak berbagai keberhasilan dengan peme- dalam satu keluarga mengingat angka kematian bayi/bumil men-
rataan pelayanan kesehatan dasar, dukungan peran serta masya- jadi prioritas utama; kartu ini diberikan pada sejumlah 190 kepala
rakat dalam daya dan dana misal Dana Sehat, Polindes. Upaya keluarga dalain wilayah kerja. Kader mempunyai peran penting
upaya ini belum dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat dalam pelaksanaan kartu Swadarma 3 K sebagai motivator dan
terutama yang berpenghasilan rendah, masyarakat daerah ku- juga sebagai dokter kecil dalam tugas upaya preventif, promotif,
muh, masyarakat daerah terpencil. Yang terpenting menjadi kuratif yang sederhana misal penggunaan Oralit /LGC, peng-
tujuan dalam kehidupan bermasyarakat di bidang kesehatan ter- obatan batuk pilek sederhana dan rehabilitatif sesuai pengetahu-
utama peran puskesmas untuk dapat menyehatkan lingkungan an pembinaan. Kartu Swadarma 3 K sebagai kartu potret diri
serta masyarakat yang ada dalam wilayah kerjadapat berperilaku keluarga tentang gambaran keluarga sehat sejahtera; merupakan
hidup sehat. alat menilai status kesehatan.dalam keluarga, diberikan secara
Untuk menilai perilaku hidup sehat memang tidak mudah, bertahap pada kepala keluarga dengan sasaran bumil/bayi. Ke-
penulis mencoba membagi pengalaman sesuai pengetahuan dan luarga miskin/masyarakat daerah kumuh/terpencil dapat meng-
kemampuan dengan menggunakan kartu Swadarma 3 K yang gunakan kartu Swadarma 3 K sebagai Kartu Sehat, juga kartu
memuatberbagai informasi tentang program prioritas kesehatan, menuju sehat. Kartu menuju sehat (KMS) atau kartu sehat ter-
kependudukan, kebersihan. masuk benda berharga yang memberi informasi pentmg tentang
Kartu Swadarma 3 K mempunyai nilai dan merupakan ke- gambaran potret diti sasaran yang ada artinya selama sasaran itu
butuhan cara hidup sehat, karena kartu Swadarma 3 K memuat menikmati kehidupan menuju sehat.
data kesehatan Calon Pengantin Wanita (CPW), Bumil, Bayi, Jadi KMS berfungsi selama sasaran itu hidup sehat misal
Balita, Pra Sekolah, Anak Sekolah, Buteki, PUS, Manula, Pro- KMS Bumil merupakan gambaran kehamilan yang berbeda
gram Imunisasi, Program Gizi, Program Kesling (Sarana), Pesan- dalam keluarga anak ke 1 atau ke 2, termasuk juga KMS Balita
pesan yang disampaikan, Waktu pemakaian, Deteksi status ke- tidak untuk 5 tahun masa berlaku tetapi selama sasaran itu me-
luarga. Kartu Swadarma 3K adalah Kartu Menuju Sehat (KMS), nikmati kehidupan sehat. KMS sebagai bukti monitor, menilai
alat penilai perubahan keadaan sehat sejahtera. Kartu Swadarma dan cara kebutuhan hidup sehat, merupakan benda berharga.
3 K perlu dibawa dalam setiap kegiatan Posyandu pelayanan Kartu Swadarma 3 K merupakan KMS yang lebih lengkap
kesehatan seperti juga KMS, untuk diisi oleh petugas kesehatan/ meskipun ada sedikit kekurangan termasuk pengadaannya.
kader kesehatan dalam wilayah kerja dengan memberi tanda Gambaran fungsi KMS yang ada
Centang (V) pada kolom yang telah tersedia pada saat pelayanan Yang menarik dari fungsi kartu Swadarma 3 K adalah se-
kesehatan. bagai berikut:
Kartu Swadarma 3 K dengan segi tiga emas sama sisi mem- 1) Data sasaran yang terperinci sesuai keperluan.
punyai arti yang sama-sama penting dan masing-masing pro- 2) Deteksi risiko secara dini baik petugas ataupun kepala ke-
gram kesehatan kependudukan, kebersihan serta warna emas/ luarga.
logam mulia menandakan sampai kapan pun kartu ini tetap ber- 3) Program kesling (sarana) juga merupakan prioritas.
fungsi. 4) Ada pesan yang sederhana dan punya makna penting.

48 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


Fungsi Kartu Menuju Sehat 6) Pendeteksian status kesehatan keluarga atau perorangan ter-
Kartu
masuk kesimpulan sehat sejahtera di dalam keluarga.
Kartu Kartu Kartu Kartu Swadarma 3 K sebagai kartu sehat dapat berfungsi
No. Indikator Swadarma
Balita Bumil Rumah
3K sebagai keterangan tidak mampu untuk keluarga yang kurang
1 Identitas penduduk + + + + mampu agar mendapatkan pelayanan kesehatan dasar secara
2 Data sasaran cuma-cuma, dengan tujuan dapat meningkatkan kemampuan
CPW + – + – menuju hidup sehat serta lebih produktif dan aktif. Kepala ke-
Bumil + – + –
Bayi + + + – luarga yang bertanggungjawab langsung kepada sasaran dibantu
Anak balita + + – – oleh petugas kesehatan/kader kesehatan dalam wilayah kerja;
Anak pra sekolah + – – – selain itu kartu Swadarma 3 K sebagai kartu sehat untuk mem-
Anak sekolah + – – – bentuk dana sehat atau jimpitan; kartu Swadarma 3 K dapat men-
Ibu meneteki + – – –
PUS + – – – catat hasil kegiatan/partisipasi kegiatan bidang kesehatan/keada-
Manula + – – – an keluarga.
Jumlah jiwa + – – + Sebagai kartu yang baru (kartu Swadarma 3 K) dengan se-
3 Riwayat/latar belakang gala keterbatasan cukup penting karena:
sasaran
Riwayat kehamilan – – + – 1) Seperti kartu keluarga dengan komponen sasaran program
Riwayat kelahiran – + + – prioritas, kepala keluarga dapat memantau status pada saat itu
Riwayat gejala/kasus penyakit – + + – dan gambaran yang akan datang.
4 Program imunisasi 2) Bentuk dan warna menarik seperti KMS yang dapat dipa-
CPW + – – –
Bumil + – + – sangldisimpan sesuai keperluan.
Bayi + + – – 3) Pesan yang cukup sederhana dan Swadarma 3 K
5 Program gizi a) Kewajiban sendiri melaksanakan kesehatan, kependuduk-
Deteksi risiko bumil + – + – an, kebersihan dengan baik.
Deteksi risiko bayi + + – –
Deteksi risiko buteki + – + – b) Perlu dibawa setiap kali kegiatan posyandu bersama KMS
Pemberian gizi – + + – sasaran.
(Vit A) (Fe) c) Perintah untuk senantiasa minta nasihat/manfaat kegiatan
(PMT) (PMT) hari ini dan akan datang kepada petugas.
6 Program kesling (sarana)
Pendanaan (dana sehat/ + – – – 4) Mendapatkan kesimpulan yang sederhana tentang status
jimpitan kesehatan keluarga sehat sejahtera.
Keadaan rumah + – – +
Sarana rumah + – – +
Pekerjaan KK + + + +
Sarana air bersih + – – +
Pemeriksaan
Ventilasi rumah – – – +
Kelembaban – – – +
Kepadatan penghuni + – – +
Kebersihan pekarangan – – – +
7 Pesan–pesan yang + + + –
disampaikan
8 Jangka waktu kegunaan
kartu
Satu tahun – – + –
Dua tahun – – – –
Tigatahun – – – + PENUTUP
Empat tahun – – – – Kartu menuju sehat (KMS) penting untuk menilai cara hidup
Lima tahun + + – –
9 Pendeteksian status
sehat. Menuju sehat adalah harapan semua orang, KMS perlu
kesehatan dimiliki oleh setiap sasaran dan dipergunakan sesuai keperluan
Perorangan/satu sasaran + + + – untuk menuju hidup sehat.
Satu keluarga + – – – KMS adalah alat monitor/sumber data perorangan atau
Jumlah + (27) + (12) + (15) + (11) kelompok terhadap program prionitas kesehatan, kependudukan,
– (11) – (26) – (18) – (26) kebersihan dengan jangka waktu yang tidak terbatas. KMS ini
Dalam prosentase 71% 31.5% 39% 29% adalah kartu Swadarma 3 K.
Kartu Swadarma 3 K sebagai KMS dapat juga sebagai kartu
Keterangan : + = Ya/ada
– = Tidak ada
sehat, dengan segala kelebihan dari kekurangannya; untuk itu
kartu Swadarma 3 K sebagai pendamping KMS yang telah ada
5) Jangka waktu pemakaian kartu lebih dari 5 tahun sesuai perlu dibawa dalam setiap kegiatan posyandu untuk memperoleh
keperluan. pelayanan dasar sesuai jadual.

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 49


HUBUNGAN
No. NAMA LENGKAP JENIS KELAHIRAN PENDIDIKAN PEKERJAAN
DENGAN AGAMA
Urut (Kaum / Kecil) KELAMIN TGL. / BLN. / THN. TEMPAT TERAKHIR JABATAN
KELUARGA
1 2 3 4 5 6 7 8

1.
2.
3.
4.
5.
6.

CARA PENGISIAN KARTU SWADARMA 3 K


• Isilah sesuai tanggal kegiatan posyandu seperti pada KMS.
• Mintalah NASEHAT MANFAAT kegiatan Hari ini dan Akan datang.
KESIMPULAN SWADARMA 3 K SEBAGAI UPAYA MENILAI STATUS KESEHATAN

KELUARGA SEHAT SEJAHTERA TANGGAL / BULAN / TAHUN PETUGAS TANDA TANGAN

PRA SEJAHTERA …………………………………………………… ……………………… ……………………………


KELUARGA SEJAHTERA TAHAP I …………………………………………………… ……………………… ……………………………
KELUARGA SFJAHTERA TAHAP II …………………………………………………… ……………………… ……………………………
KELUARGA SEJAHTERA TAHAP III …………………………………………………… ……………………… ……………………………
KELUARGA SEJAHTERA TAHAP III PLUS …………………………………………………… ……………………… ……………………………
MAKALAH

Proses Penemuan Obat Baru


dr. Boenjamin Setiawan, Ph. D.
PT Kalbe Farma, Jakarta, Indonesia

PENDAHULUAN bahwa mereka sekarang mampu mensknin puluhan ribu zat kimia
Obat tidak dapat dipisahkan dan hidup manusia sejak jaman per hari. Dengan demikian maka dalam tahun-tahun yang akan
nenek-moyang sampai jaman modern di masa yang akan datang. datang kecepatan penemuan obat baru akan sangat bertambah.
Karena obat, maka banyak penderitaan umat manusia dapat Karena Indonesia memiliki keanekaragaman hayati sangat
dikurangi, dicegah, bahkan dapat ditiadakan. Rasa nyeri pada besar maka kita perlu menguasai teknologi HTS sehingga di
operasi dapat dihilangkan dengan anestesi dan analgetika. tahun-tahun yang akan datang juga dapat ikut berbicara dalam
Berbagai penyakit infeksi dapat dilawan dengan antibiotika. kancah penemuan obat baru.
Pasien dengan hipertensi dapat ditolong dengan berbagai obat Singapore sudah mempunyai unit peneinuan obat baru dan
antihipertensi, seperti betabloker, diuretika, antagonis kalsium sumber alam. Mereka telah mendapatkan sumbangan 50 juta
dan ACE-inhibitor. Tukak lambung dan tukak duodenum yang US$ dari Glaxo untuk melakukan penelitian berbagai tanaman
dahulu (sebelum 1976) dapat menimbulkan berbagai komplikasi obat. Institute of Cellular and Molecular Biology merupakan
dan membutuhkan pengobatan lama, sekarang dengan omepra- lembaga penelitian bertaraf internasional dengan puluhan peneliti
zol, amoksisilin atau kiaritromisin dan metronidazol dapat di- tamu ternama dunia. Dengan mengundang peneliti bertaraf
sembuhkan dalam satu minggu. internasional maka dengan cepat akan terjadi alih teknologi dan
Ratusan obat telah ditemukan dan memperkaya formu- alih budaya penelitian yang di4ndonesia masih merupakan
larium dan pilihan para dokter dalam usaha mengurangi komoditi sangat langka. Lembaga Eykman akan mengembangkan
penderitaan orang sakit. Tetapi masih banyak penyakit yang unit high throughput screen dan Kalbe Farma sedang mempelajari
masih belurn dapat diberantas. Penyakit kanker, HIV, athero- sebaiknya memfokuskan kepada HTS dalam kelas terapeutik
skierosis pembuluh darah jantung maupun otak sampai sekarang yang mana. Supaya secepatnya dapat menghasilkan suatu pro-
masih menjadi momok dunia modern, Proses penuaan dengan duk yang mempunyai nilai tambah cukup besar dan mengingat
segala akibatnya, seperti osteoporosis, kegagalan fungsi berba- keterbatasan peneliti berpengalaman dan sumber dana maka
gai organ dan penyakit Alzheimer sampai sekarang tidak ada perlu diadakan koordinasi dan kerjasama yang baik antara
obatnya. Berbagai penyakit bawaan/genetik seperti Thalasemia, Lembaga Penelitian Pemerintah, Laboratorium Universitas
Sindrom Down dan berbagai penyakit kejiwaan tidak ada obat- dan Laboratorium Penelitian Industri.
nya. Banyak tantangan yang masih dihadapi dunia kedokteran
pada umumnya dan dunia farmasi khususnya untuk dapat meng- PROSES PENEMUAN OBAT BARU
atasi berbagai macam penyakit. Sejak umat manusia diciptakan dan mulai mengembangkan
Dalam makalah ini saya ingin meinbahas proses penemuan kemampuan menulis maka ditemukan berbagai catatan mengenai
obat baru. OIeh para pembicara lain akan dibahas teknologi cara-cara pengobatan dengan tumbuh-tumbuhan, mineral dan
penemuan obat baru high throughput screen dan "combinatorial berbagai organ binatang. Buku tertua ialah Huang Ti Nei Ching
chemistry" yang saya kira akan mempunyai dampak cukup Su Wen, (The Yellow Emperor’s Medicine), yang ditulis lebih dari
besar dalam proses pénemuan obat baru. Dengan cara ini, yang 4000 tahun yang lalu (2697 Sebelum Masehi)1. Mesir, India dan
baru dikembangkan beberapa tahun terakhir, maka proses men- Yunani juga telah menggunakan berbagai tanaman untuk peng-
can molekul bioaktif dapat dipercepat. Glaxo mengumumkan obatan dan mengembangkan berbagai teori mengena sebab

Makalah untuk Seminar HUT 30 tahun Kalbe Farma, 9 Oktober 1996

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 51


penyakit dan cara-cara untuk mengatasinya. Dunia pengobatan ekstrak oleh kimia medisinal dan kimia kombinatorial maka HTS
modern berkembang dan berbagai teori yang telah dikemukakan akan mampu menghasilkan lead compounds dengan cepat dan
oleh Hippocrates, Bapak Dunia Kedokteran Modern, yang efisien. Dengan demikian maka dapat diharapkan bahwa dalam
kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh para ahli dari Eropa tahun-tahun yang akan datang puluhan obat baru akan dihasilkan
sejak abad ke-16 terus sampai sekarang. oleh cara ini.
Dengan mempelajari pengobatan tradisional telah ditemukan Penelitian lain yang akan mempunyai dampak cukup besar
berbagai obat, seperti digitalis, ephedrine, curare, cocain, morfin, terhadap dunia pengobatan ialah proyek Penelitian Genom
fisostigmin dan lain sebagainya. Tetapi sejak observasi Paul Manusia. Pada akhir abad-20, empat tahun lagi, diharapkan
Ehrlich pada akhir abad ke-19 bahwa berbagai zat warna mem- seluruh genom manusia telah selesai diteliti. Kita akan mempu-
pünyai afinitas selektif terhadap berbagai jaringan dan usahanya nyai peta genom manusia dan berbagai penyakit herediter akan
melakukan skrining berbagai zat kimia terhadap kuman sifilis diketahui dasar genetiknya. Bilamana hal ini telah dicapai maka
dan penemuannya bahwa Salvarsan dapat membunuh kuman kita akan masuki fase cara pengobatan baru, Terapi Gen.
sifihis, maka terjadilah revolusi dalam dunia farmasi. Paul Her- Cara penemuan obat yang diidam-idamkan ialah Rational
lichmelalui hipotesanya bahwa semua obat harus bergabung Structure Based Drug Design atau Computer Ass isted Drug
dengan suatu )reseptor, baru terjadi efek yang diinginkan, me- Design. Cara ini akan dimungkinkan bila struktur molékul resep-
nyebabkan perubahan cara berpikir dunia kedokteran. Karena tor telah diketahui secara tiga dimensi dan kita mengetahui cara
jasa-jasanya inilah maka Paul Ehrlich sering disebut sebagai kerjanya obat pada taraf molekul, cara bergabungnya dan peran
Father of Pharmacotherapy. Dengan teori Magic Bullets, maka berbagai kekuatan fisik dan kimia terhadap penggabungan
molekul obat dapat disamakan seperti peluru, atau lebih baik kompleks reseptor-agonis. Mengingat keterbatasan kemampuan
sebagai roket, yang setelah ditembakkan mencari mangsanya kita untuk dapat mengukur dan melihat pada taraf nanomter
atau reséptor dan menimbulkan efeknya. Dengan penemuan maka pembuatan molekul obat secara rasional masih akan
Salvarsan melalui sknining berbagai zat kimia maka industri membutuhkan beberapa puluh tahun.
farmasi mulai mencari berbagai molekul obat melalui cara ini.
Lahirlah industri farmasi seperti Bayer, Hoechst, Sandoz dan BIAYA PENEMUAN OBAT BARU
sebagainya yang tadinya merupakan industri kimia. Setelah ditemukan molekul obat dengan efek farmakologi
Ratusan obat telah ditemukan melalui proses skrining yang tertentu masih diperlukan perjalanan panjang sebelumnya zat
biasanya dilakukan secara acak. Setelab ditemukan molekul obat potensial ini dapat dipakai dalam klinik. Kita dapat membagi
yang mempunyai efek farmakologi tertentu, (lead compound) tahapan proses penemuan obat baru sebagai berikut:
maka dilakukan SAR, Structure Activity Relationship studies. a) Tahap sintesa dan ekstraksi
Tujuannya ialah untuk menemukan zat kimia dengan efek far- b) Tahap skrin biologi dan farmakologi
makologi tinggi dan efek toksik rendah. c) Tahap test toksikologi dan keamanan
Cara lain yang juga telah menghasilkan penemuan berbagai d) Tahap formulasi dosis dan stabilitas
obat ialah secara kebetulan (serendipity). Penisilin telah ditemukan e) Tahap test klinik fase I, II, dan IH
secara kebetulan oleh Fleming sewaktu ia sedang melakukan f) Tahap evaluasi klinik fase IV
penelitian mengenai berbagai vanan kuman Staphylococcus g) Tahap proses manufaktur dan kontrol kualitas
pada tahun 1928, di laboratorium Rumah Sakit St. Mary di h) Tahap pendaftaran IND dan NDA
London. Secara kebetulan ia melihat bahwa dalam salah satu i) Tahap penelitian bioavailabiliiy
petri ada bercak jemih di mana Staphylococcus tidak tumbuh. j) Lain-lain
Obsevasi kebetulan inilah yang kemudian menghasilkan pe- Tahap pertama, sintesa dan ekstraksi menghabiskan waktu
nisilin. Mengapa? Karena otak Fleming setelah observasi 2-10 tahun dan mengeluarkan biaya sampai 12,1% atau rata-rata
bercak jernih itu mulai bekerja dan bertanya. Apakah yang 40 juta US$ untuk setiap molekul obat yang berhasil dipakai
menyebabkan kuman Staphylococcus tidak tumbuh di tempat itu dalam klinik(3).
? Kalau yang mengobservasi bercak jernih itu bukan seorang Tahap b, sknin biologi dan farmakologi, yang sekarang
yang terlatih maka tidak akan timbul pertanyaan yang kemudian sedang mengalami penubahan dengan HTS, menghabiskan biaya
disusul oleh tindak lanjutan, ialah mengambil sampel dan tempat 17,4%, atau 62juta US$ per NCE (New Chemical Entity).
jernih itu dan membiakkannya lebih lanjut. Dengan demikian Tahap c dan d, yang juga disebut tahap penelitian preklinik
ditemukanlah bahwa lisis Staphylococcus disebabkan jamur menghabiskan dana 14,5% seluruh biaya penelitian obat yang
Penicillium. Tetapi baru tahun 1941, tigabelas tahun kemudian, berhasil dipasankan yang jumlahnya rata-rata 359 juta US$ per
dihasilkan cukup banyak zat penisilin untuk dicobakan pada obat
seorang polisi dengan infeksi campuran Staphylococcus dan Tahap e yaitu penelitian klinik menghabiskan 27,9% atau
Streptococcus, dengan hasil yang sangat menakjubkan(2). 100 juta US$ per obat. Tahap selanjutnya, evaluasi klinik fase IV,
Cara baru yang sedang banyak dibahas untuk menemukan menyerap dana 5,3%, proses manufaktur dan kontrol kualitas
molekul obat baru ialah yang disebut high throughput screen. 9,7%, pendaftanan 3,5%,bioavailability3,0% dan lain-lain 6,6%.
Cara ini pada dasarnya ialah otomatisasi proses skrining se- Waktu keseluruhan mulai dan sintesa/ekstraksi, skrin far-
hingga menjadi sangat efisien. Dikombinasi dengan penyediaan mako1og selanjutnya sampai pada fase klinik dan persetujuan

52 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


pendaftaran memakan waktu 14,8 tahun dan rata-rata 10.000 181, Spanyol 175 dan Belanda 168(9). Walaupun PDB kita masih
bahan kimia yang diskrin dengan seluruh biaya 359 juta US$ relatif kecil, hanya 200 milyarUSD, tetapi kalau dihitung dengan
pada tahun 1990(6). Purchasing Power Parity (PPP) 3 kali maka kita punya PDB
sama dengan 600 milyar USD. Bilamana pertumbuhan per tahun
USAHA PENEMUAN OBAT BARU DI INDONESIA 7% maka pada 2000 PDB kita dihitung dengan PPP adalah
Setiap tahun ditemukan antara 40 sampai 60 molekul obat sebesar S40 milyar USD, dan pada 2020,jumlahnya 3,258 milyar
baru (NCE). Pada tahun 1995 telah ditemukan 40 NCE(6), Dari USD. Kalau kita berasumsi bahwa konsumsi obat adalah 1%
jumlah ini 9 adalah obat neoplastik, 6 obat SSP, 5 obat anti- PDB maka jumlahnya 32,58 milyar USD atau sama dengan
infeksi, 4 masing-masing obat kardiovaskuler dan obat paru/ konsumsi obat Perancis (USD 15 milyar) dan Jerman Barat (USD
antialergi 14,5 milyar) pada 1995, digabung menjadi satu(10).
Dari 40 NCE ini yang di-"launch" pertama, adalah di Eropa Mengingat bahwa Asia pada umumnya dan ASEAN pada
35% atau 14 obat, di Jepang 32,5% atau 13 obat, di AS 25% atau khususnya akan berkembang dengan cepat di masa yang akan
10 obat dan di berbagai negara lain 7,5% atau 3 obat(7). datang sehingga konsumsi obat di negara-negara ini terus akan
Seluruh pasar obat dunia tahun 1995 diperkirakan 250 naik dan Indonesia dengan penduduk 200 juta merupakan pasar
milyar US$. Pasar obat USA adalah lebih dari 30%, Eropa kurang obat yang potensial maka kita perlu mempersiapkan din untuk
dari 30% dan Jepang sekitar 27%. Sisanya adalah Australia, ikut bermain sebagai produsen bahan baku obat. Bahkan kita
Afrika dan Amerika Selatan. Mengingat konsumen terbesar obat perlu meningkatkan kemampuan untuk juga berperan dalam
adalah USA, Eropa dan Jepang maka tidak mengherankan bahwa penelitian dan penemuan bahan baku obat.
mereka juga yang mendapatkan obat baru pada tahun 1991 yang Indonesia memiliki fauna dan flora yang sangat ber-
diperkirakan berjumlah 25 milyarUS$, AS mengeluarkan 32,6%, anekaragam. Menurut kepustakaan kurang dari 5% dan lebih
Jepang 20,6%, Jerman 11,6%, Perancis 8,0%, Inggris 7,7%, 250.000 tanaman telah diskrin efek farmakologinya. Alam telah
Swiss 5,7%, Italia 5,6% dan negara lain menciptakan jutaan molekul yang sangat beranekaragam, jauh
Asia, di luar Jepang, perannya sebagai konsumen maupun lebih bervariasi dan yang mampu diciptakan oleh umat manusia.
sebagai produsen obat masih sangat kecil. Korea dan Taiwan Kekayaan alam ini yang penlu diteliti, dan teknologi HTS akan
mulai berkembang, tetapi mengingatjumlahpendukungnya yang sangat membantu untuk mempercepat proses skrining.
relatif kecil maka pasar obat domestiknya tidak akan banyak Dengan kerja sama yang baik maka semoga kita akan
berkembang. Cina, India, Indonesia dan Brazil akan menjadi mampu menggali dan memanfaatkan megabiodiversity untuk
pemain yang perlu diperhatikan dalam dunia produsen obat di meningkatkan kesejahteraan masyarakat dunia pada umumnya
abad ke-21. Cina dan India yang relatif akan cepat berkembang dan masyanakat Indonesia pada khususnya.
karena sekarang mereka sudah menguasi teknologi dasar kimia
maupun bioteknologi. Mereka beruntung karena memiliki sum- KEPUSTAKAAN
ber daya manusia terdidik yang cukup banyak. Cina sekarang
1. Ilza Veith, The Yellow Emperors Classic of Internal Medicine, Univ. of
sudah mampu membuat semua bahan baku obat penting. De- California Press, 1972, p6.
mikian juga halnya dengan India. 2. Goodman LS., Gilman A., The Pharmacological Basis of Therapeutics,
Indonesia yang paling terbelakang dalam kemampuan Fifth ed. p. 130
memproduksi bahan baku obat. Untuk kemampuan sintesa, kita 3. America's Pharmaceutical Research Companies. PhRMA Home Page.
4. Idem.
belum memiliki SDM terlatih, maupun infrastruktur dasar indus- 5. Idem.
tri kimia. Dengan jumlah penduduk 200juta orang dan konsumsi 6. Drug News and Perspectives 9 (1). Prous, JR. The Years New Drugs.
obat 1 milyar US$ pada tahun 1995, maka konsumsi oba per February 1996, p19.
kapita hanya 5US$, sedangkan Malaysia USD 12, Thailand USD 7. ldem.
8. Centre for Medicines Research, U.K., 1995.
13, Filipina USD 13,4, Vietnam USD 2,50 dan Singapore USD 9. Purchasing Power Parity $US, OECD Health Data, PhRMA Home Page.
42. Konsumsi obat negara maju adalah sebagai berikut : Jepang http://www.phrma. prg/index.html.
USD400, Jerman 335, Perancis 309, USA 280, Italia 275, U.K. 10. World PharmaceuticalMarket 1995.

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 53


TEKNIK

Perhitungan Waktu
untuk Penyinaran Tumor
dengan Pesawat Teleterapi Cobalt-60
Susetyo Trijoko
PSPKR BATAN, Pasar Jumat, Jakarta

PENDAHULUAN METODA PERHITUNGAN


Pada saat ini terdapat 17 rumah sakit negeri dan swasta yang Menurut peraturan yang berlaku laju dosis setiap pesawat
tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia telah memiliki teleterapi wajib dikalibrasi oleh Fasititas Kalibrasi Tingkat
pesawat teleterapi Cobalt-60 untuk tujuan terapi kanker. Pada Nasional (FKTN), PSPKR BATAN, sekurang-kurangnya sekali
dasarnya, inti pesawat teleterapi Cobalt-60 adalah satu sumber dalam 2 (dua) tahun. Pelaksanaan kalibrasi FKTN selalu meng-
radioisotop Co-60 yang memancarkan sinar gamma berenergi gunakan peralatan dan mengacu pada prosedur yang dikeluarkan
rata-rata 1250 MeV. Sinar gamma dan Co-60 tersebut mem- oleh Badan Tenaga Atom Intemasional (IAEA)(2).Setelah melak-
punyai daya tembus sangat tinggi, sehingga mampu menembus sanakan kalibrasi, FKTN akan menerbitkan sertifikat keluaran
jaringan/organ yang berada di dalam tubuh sekalipun. Telah di- sumber radiasi pesawat yang menyatakan besarnya laju dosis
ketahui pula bahwa sel kanker bersifat lebih sensitif terhadap acuan. Laju dosis acuan pesawat teleterapi Cobalt-60 ditetapkan
sinar gamma daripada sel normal. Karena daya tembusnya yang pada kedalaman (d) 0.5 cm air untuk lapangan penyinaran (FS)
begitu besar dan bisa mematikan sel kanker, maka sinar gamma 10cm x 10cm dan jarak sumber-permukaan tubuh (SSD) 80cm.
bisa dimanfaatkan untuk membunuh sel-sel kanker yang berada Kedalaman dosis acuan ini biasanya selalu diambil berdasarkan
di dalain tubuh tanpa harus melalui operasi/pembedahan. Inilah kedalaman dosis maksimumnya.
salah satu keuntungan penggunaan pesawat teleterapi Cobalt-60,
yaitu pengobatan/terapi kanker dan luar tubuh tanpa pembedah-
an pasien.
Dalam proses penyinaran (treatment) tumor dengan radiasi
gamma harus setalu diupayakan agar sel-sel kanker mendapatkan
dosis radiasi sesuai dengan yang dikehendaki oleh dokter ahli
radioterapi (radiotherapist). Untuk mencapai maksud tersebut
maka penentuan letak/posisi tumor dan laju dosis radiasi yang
keluar dari pesawat adalah sanga penting dan mutlak diperlukan.
Informasi yang berkaitan dengan posisi tumor, seperti kedalam-
an dan luas permukaan tumor, sangat diperlukan guna pemilihan
metoda dan parameter-parameter penyinaran. Sedangkan laju
dosis keluaran pesawat diperlukan untuk inenentukan waktu
penyinaran, sehingga tercapai dosis seperti yang dikehendaki.
Makatah ini akan menjelaskan dan memberikan contoh praktis
bagaimana cara menghitung waktu penyinaran tumor dengan
pesawat teteterapi Cobalt-60 yang dengan mudah bisa diikuti
oleh para fisikawan medik di bagian unit radioterapi.

54 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


Pada kenyataannya tumor bisa terjadi di mana saja dalam untuk penyinaran tumor berbeda dengan SSD saat kalibrasi,
tubuh dengan berbagai ukuran. Dalam hal in misalkan saja maka pertama kali harus ditentukan besarnya luas lapangan
suatu tumor terletak di kedalaman d cm, harus disinari dengan penyinaran (FS) pada jarak SSD kalibrasi. Untuk SSD penyi-
luas lapangan radiasi w x w dan jarak sumber-permukaan tubuh naran = f; FS penyinaran = w dan SSD kalibrasi = fo maka
f cm. Kondisi penyinaran seperti yang diminta dalam contoh Wk = (fo/f) x w (1)
tersebut dapat dihubungkan dengan kondisi kalibrasi laju dosis
Wk adalah FS penyinaran pada jarak SSD kalibrasi.
acuan. Untuk itu perhatikan rangkaian pada Gambar 2.
Dari Gambar 2a dan 2b, hubungan antara dosis di titik A
(DA) dengan dosis di titik B (DB) hanya tergantung pada keda-
laman, sehingga dapat dirumuskan(3)
(DA/DB) = PDD (d, w, f)
PDD (d, w, f) adalah prosentase dosis kedalaman untuk kedalaman d, pada
lapangan penyinaran w x w dari jarak sumber-permukaan tubuh (SSD) = f.

Nilai PDD pesawat teleterapi cobalt-60 untuk jarak sumber-


permukaan (SSD) 60 cm, 80 cm dan 100 cm diambil dan BJR
Suppl No. 17(3) dan berturut-turut ditampilkan pada Tabel 1,2
dan 3. Perbandingan nilai PDD menurut BJR(3) dengan literatur
lain(4) terdapat deviasi maksimum 21.5%.
Kemudian dari Gambar 2b dengan 2c, dosis di titik B (DB)
dan dosis di titik C (DC) sama-sama berada di kedalaman dosis
maksimum (kedalaman acuan = d0) namun luas lapangan penyi-
narannya berbeda. Dengan demikian perbedaan antara DB dan
Gambar 2. llustrasi hubungan antara kondisi penyinaran secara umum DC hanya tergantung pada kontribusi hamburan kolimator dan
dengan kondisi pada seat kalibrasi hamburan fantom (tubuh)(5). dan dituliskan,
(DB/DC) = Sk (wk) x Sp (w)
Kondisi penyinaran yang diminta diperlihatkan dengan
Gambar 2a, sedangkan kondisi penentuan laju dosis acuan di- Sk (wk) adalah faktor kontribusi hamburan kolimator untuk luas kolimator wk x wk
pada jarak fo dan Sp (w) adalah faktor kontribusi hamburan fantor untuk luas
tunjukkan pada Gambar 2d yang identik dengan Gambar 1. lapangan penyinaran w x w.
Besar dosis yang diminta pada tumor disebut DA dan dosis acuan
diberi notasi D,. Karena jarak sumber-permukaan tubuh (SSD) Faktor-faktor kontribusi hamburan tersebut dinormalisasi-
Tabel 1. Nilai Prosentase dosis kedalaman (PDD), untuk Jarak permukaan-sumber (SSD) 60 cm(3)

Kedalaman Luas lapangan penyinaran (cm x cm)


(cm) 5x5 6x6 7x7 8x8 9x9 10x10 12x12 15x15 20x20 25x25 30x30
0.5 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0
1 97.0 97.3 97.5 97.7 97.7 97.8 97.8 97.9 97.9 98.0 98.1
2 910 91.5 91.9 922 92.4 92.6 92.8 93.0 932 93.4 93.6
3 847 85.4 86.0 86.3 86.6 87.0 87.3 87.7 88.2 88.5 88.8
4 78.6 79.4 80.1 80.6 81.0 81.5 82.1 82.6 83.3 83.7 84.0
5 72.7 73.7 74.6 752 757 76.2 76.9 77.7 786 79.0 79.4
6 67.0 68.1 69.1 69.8 70.5 71.1 71.9 72.9 738 74.5 74.9
7 61.8 63.0 64.0 64.8 655 66.2 67.2 68.2 69.3 69.9 70.5
8 569 58.1 59.2 60.0 60.7 61.4 62.5 63.7 65.0 65.9 66.4
9 524 53.6 54.7 55.6 56.4 57.1 582 59.5 60.9 61.8 62.5
10 48.1 49.3 50.5 51.5 52.2 53.0 54.2 55.5 57.0 58.0 58.7
11 44.3 45.4 46.4 47.3 48.2 49.0 50.3 51.6 53.3 54.3 55.1
12 407 41.8 42.9 43.9 44.7 45.5 46.8 48.2 49.8 50.9 51.7
13 37.3 38.5 39.6 40.5 41.4 42.2 43.4 44.9 46.6 47.8 48.6
14 34.3 35.6 36.5 37.4 38.2 39.0 40.3 41.8 43.6 44.7 45.6
15 31.6 32.6 33.6 34.5 353 36.1 37.4 38.9 40.7 41.9 42.8
16 29.1 30.0 310 31.9 327 33.5 34.8 36.3 38.1 39.2 402
17 26.7 27.7 28.7 295 303 31.0 32.3 33.7 35.5 36.7 376
18 24.6 25.6 26.5 273 28.0 28.7 29.9 31.4 33.1 34.3 352
19 226 23.5 24.4 25.2 25.9 26.6 27.8 29.2 30.9 32.1 33.1
20 20.8 21.6 22.4 23.2 23.9 24.6 25.7 27.2 28.8 30.0 31.0
22 17.7 18.4 19.2 19.9 20.5 21.2 22.2 23.6 25.2 26.4 27.3
24 15.0 15.7 16.4 17.0 17.6 18.2 19.2 20.5 22.0 23.2 24.0
26 127 13.4 14.0 14.6 151 15.7 16.6 17.8 19.2 20.3 21.1
28 10.8 11.4 12.1 12.5 13.0 13.5 14.4 15.5 16.9 17.9 18.6
30 9.3 9.7 10.2 10.7 11.2 11.7 12.4 13.4 14.8 15.7 16.3

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 55


Tabel 2. Nilai Prosentase dosis kedalaman (POD), untuk Jarak permukaan-sumber (SSD) 80 cm(3)
Kedalaman Luas lapangan penyinaran (cm x cm)
(cm) 5x5 6x6 7x7 8x8 9x9 10x10 12x12 15x15 20x20 25x25 30x30
0.5 100.0 1000 100.0 1000 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0
1 971 97.7 97.8 97.9 98.0 98.1 982 98.3 98.3 984 98.5
2 92. 92.6 93.0 93.2 93.4 93.7 939 94.1 94.3 94.5 94.7
3 86.3 87.0 876 880 884 88.7 89.1 89.5 90.1 90.3 90.5
4 80.7 81.6 82.3 82.8 832 83.7 84.3 84.9 85.6 86.0 86.3
5 752 762 77.1 77.8 783 78.8 79.5 80.3 81.3 81.7 82.1
6 69.7 70.8 71.9 72.6 733 73.9 74.9 75.9 76.9 77.5 78.1
7 647 66.0 67.0 679 686 69.3 70.3 71.5 726 73.3 73.9
8 59.9 61.2 62.3 63.2 64.0 64.7 65.8 67.1 686 69.5 70.1
9 55.5 56.8 57.9 58.8 59.7 60.5 61.7 63.0 '64 6 65.6 66.3
10 51.2 52.5 53.8 54.8 55.7 56.4 57.7 59.2 60.8 61.9 63.6
1I 47.4 48.7 49.8 50.7 51.6 52.5 53.8 55.3 57.2 583 59 1
12 43.8 45.0 46.2 47.2 48.1 48.9 50.3 51.9 537 55.0 558
13 40.4 41.6 428 43.8 44.7 45.6 47.0 48.6 505 51.8 528
14 37.3 38.7 397 40.7 41.6 42.4 43.7 45.4 474 48.7 49.8
15 34.5 35.7 36.7 37.6 38.5 39.4 408 42.5 445 45.9 46.9
16 31.9 33.0 34.0 35.0 35.9 36.8 38.1 397 41.8 43.2 44.2
17 29.5 30.5 31.5 325 33.3 34.1 35.5 37.1 39.2 40.5 41.6
18 27.3 283 29.3 30.2 309 317 33.1 347 36.7 38.1 39.2
19 25.1 26.1 27.1 280 28.8 29.5 30.8 32.4 34.4 35.8 36.9
20 23.2 241 25.0 25.8 26.6 274 28.7 30.2 322 33.5 34.7
22 19.9 20.7 21.5 223 23.0 23.7 25.0 26.5 284 29.8 30.8
24 17.0 17.7 18.5 192 19.9 20.5 217 23.1 24.9 26.2 27.3
26 14.5 15.2 159 16.6 17.2 17.8 18.9 202 219 23.2 24.2
28 12.5 13.1 13.8 14.4 14.9 15.4 16.4 17.7 193 20.6 21.5
30 107 112 11.8 12.3 12.8 13.3 14.2 154 17.0 18.2 19.0
Tabel 3.Nilai Prosentase dosis kedalaman (POD), untuk Jarak permukaan-sumber (SSD) 100 cm(3)
Kedalaman Luas lapangan penyinaran (cm x cm)
(cm) 5x5 6x6 7x7 8x8 9x9 10x10 12x12 15x15 20x20 25 25 30x30
0.5 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0
1 97.7 98.0 98.2 98.3 984 98.5 98.5 98.6 98.6 98.7 98.7
2 928 93.2 936 938 94.0 941 945 948 95 0' 952 954
3 87.3 88.1 88.6 89.0 89.3 88.7 90.1 905 91.1 91.4 91.6
4 82.0 82.9 83.6 84.1 84.5 85.0 85.7 86.3 87.0 87.4 87.7
5 767 77.7 78.6 79.3 79.8 804 81.1 82.0 83.0 83.4 83.9
6 71.4 72.6 73.6 74.4 75.1 75.8 76.7 77.8 78.8 79.5 80.0
7 66.6 67.8 689 69.8 70.5 71.2 72.3 73.5 74.7 75.5 76.1
8 61.9 63.1 64.3 65.2 66.0 66.8 68.0 69.3 70.8 71.8 72.5
9 57.5 58.8 60.0 61.0 61.9 62.7 64.0 653 67.0 68.0 68.8
10 53.3 54.6 55.9 57.0 57.9 587 600 61.6 63.3 64.4 65.2
11 49.4 50.8 52.0 52.9 53.9 54.8 56.2 57.8 59.7 609 61.8
12 45.9 47.1 48.3 49.4 50.4 51.2 52.7 54.3 56.3 57.6 58.6
13 42.5 43.7 44.9 46.0 47.0 479 49.3 510 53 1 545 556
14 39.4 407 41.9 42.8 43.7 44.6 46.1 47.8 50.0 51.4 52.5
15 36.5 37.7 38.8 39.7 40.7 41.6 41.1 44.9 47.1 486 49.7
16 33.9 35.0 36.0 371 38.0 18.9 40.4 42.1 443 45.8 47.0
17 31.4 32.5 33.5 34.5 35.4 36.2 37.7 39.4 416 43.2 44.4
18 291 30.2 31.3 121 33.0 33.8 35.2 37.0 39.2 40.7 41.9
19 26.9 27.9 28.9 29.9 30.7 31.5 32.9 34.6 36.8 38.4 39.6
20 24.9 25.9 26.8 27.6 28.5 293 30.7 32.4 34.5 360 37.3
22 21.5 223 23.2 24.0 247 25.5 26.9 28.4 30.6 32 1 33.3
24 18.4 19.2 20.0 20.7 21.4 22.2 23.4 24.9 27.0 28.4 29.7
26 15.8 16.5 17.3 18.0 18.6 19.3 20.5 21.9 23.8 25.2 26.4
28 13.6 14.3 15.0 157 16.2 168 17.8 19.3 21 1 22.5 23.6
30 11.8 123 12.9 13.5 140 146 15.6 16.9 18.6 19.9 20.9

kan ke luas lapangan 10 cm x 10 cm. Nilai-nilai Sk dan Sp untuk luas lapangan penyinaran 10cm x 10cm. Perbandingan nilai Sk
pesawat teleterapi cobalt-60 diperlihatkan dalam Tabel 4. Nilai (Tabel 4) terhadap literatur 1ain(6) terdapat perbedaan maksimum
Sk diambil dan Khan et a1(5),sedangkan nilai Sp dihitung dan nilai tidak lebih dari 1.0%. Dan perbandingan nilai Sp (Tabel 4) ter-
fakktor hamburan maksimum (PSF)(3) yang dinormalisasikan ke hadap literatur Iain(7) juga terdapat deviasi maksimum 1.0%.

56 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


Tabel 4. Faktor koreksi hamburan kolimator (Sk) dan hamburan fantom (3) Dari Tabel 4 diperoleh,
(Sp)
Sk (16) = 1.035 (intepolasi) dan
Luas Lapangan Penyinaran Faktor koreksi Faktor koreksi Sp(20) = 1.023
(cm x cm) (Sk)(4) (Sp)(3) (4) Dari Tabel 3 diperoleh,
PDD (10, 20, 100) = 63.3%
5x5 0.957 0.984
6x6 0.968 0.987 (5) Waktu penyinaran,
7x7 0.977 0.990 200
8x8 0.989 0.994 T= menit
9x9 0.995 0.997 120 x 0.6416 x 1.035 x 1.023 x 63.3%
= 3.876 menit
10 x 10 1.000 1.000
11 x 11 1.008 1.003
12 x 12 1.015 1.006
13 x 13 1.021 1.009 Dalam perhitungan ini harus selalu diingat bahwa laju dosis
14 x 14 1.026 1.011
acuan yang digunakan adalah laju dosis acuan pada saat penyi-
15 x 15 1.032 1.014
18 x 18 1.043 1.019 naran. Laju dosis acuan berkurang sekitar 1.1% per bulan karena
20 x 20 1.051 1.023 radioisotop Co-60 meluruh dengan waktu paruh (T1/2) = 5.27
25 x 25 1.059 1.030 tahun(9). Penggabungan semua tingkat ketelitian/kesalahan dari
30 x 30 1.059 1.034 setiap parameter yang diambil untuk perhitungan dengan meng-
gunakan persamaan (6) di atas akan memberikan kesalahan
Selanjutnya dari Gambar 2c dan 2d, perbedaannya hanya
terletak pada janak sumber-permukaan (SSD). Dengan maksimum 3.9%. Tingkat kesalahan ini masih lebih kecil dari
tingkat kesalahan maksimum yang diperbolehkan oleh IAEA(2)
demikian hubungan keduanya menuruti hukum kuadrat jarak
yang besarnya 5%.
dan bisa dinyatakan sebagai berikut,
(Dc/Do) = [(fo+ do) / (f + do) ]2 (4) KESIMPULAN
Penggabungan persamaan (2), (3), (4)
dengan Sf = [(fo + do) / (f + do)]2 akan diperoleh,
Secara ringkas telah dijelaskan cara menghitung waktu pe-
DA = Do x Sf x Sk (wk) x Sp (w) x PDD (d, w, f) (5) nyinaran tumor dengan pesawat teleterapi Cobalt-60 yang telah
dikalibrasi oleh FKTN, PSPKR BATAN. Untuk penyinaran
Dari persamaan (5) di atas jikalau dosis tumor yang diminta tumor dengan teknik jarak sumber-permukaan (SSD) seperti
di titik A dinyatakan dengan DT dan laju dosis acuan dinyatakan yang diuraikan dalam tulisan i, thaka para fisikawan medik
dengan Do(cGy/menit), maka waktu penyinaran (T) dapat dihitung yang mengendalikan penggunaan pesawat Cobalt-60 yang ter-
dengan perumusan berikut; sebar di seluruh Indonesia dapat menerapkan dan mengikuti
DT (6)
T= cara perhitungan ini dengan tingkat kesalahan masih dalam batas
DA = Do x Sf x Sk (wk) x Sp (w) x PDD (d, w, f)
yang diijinkan.
Telah diketahui bahwa kalibrasi laju dosis acuan menggu-
nakan alat ukur radiasi yang ada di pasanan dan prosedur yang
diberikan oleh IAEA(2) akan memiliki tingkat ketelitian 2.5%.
Perhitungan nilai Sf diasumsikan memiliki tingkat ketelitian
0,5%(8) dan penunjukan waktu dan pesawat teleterapi Cobalt-60 KEPUSTAKAAN
umumnya memiliki kesalahan tidak lebih dari 0,5%(2).
1. Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Peraturan tentang kalibrasi alat
ukur radiasi dan keluaran sumber radiasi, Standardisasi radionuklida dan
APLIKASI PRAKTIS fasilitas kalibrasi, Jakarta, 1992.
Misal satu pesawat teleterapi Cobalt-60 milik suatu rumah 2. International Atomic Energy Agency (IAREA). Absorbed dose determina
sakit telah dikalibrasi oleh FKTN dan diberikan sertifikat laju tion in photon and electron beams, An International Code of Practice,
Techn Rep Ser No. 277, Vienna, 1987.
dosis acuan sebesar 120 cGy/menit. (Ingat, laju dosis acuan yang
3. The British Institute of Radiology. Central axis depth dose data for use in
diberikan adalah untuk do = 0.5 cm, wo = 10 cm, dan fo = 80cm). radiotheraphy, Br J Radiol Suppl No. 17, 1983.
Pesawat tersebut akan digunakan untuk menyinari tumor dengan 4. Leung PMK. The Physical Basis of Radiotherapy, The Ontario Cancer
dosis 2100 cGy yang terletak di kedalaman 10cm dengan meng- Institute and The Princess Margaret Hospital, Ontario, 1978.
5. Khan FM, Sewchand W, Lee J, Williamson JF. Revision of tissue-
gunakan luas lapangan radiasi 20 cm x 20 cm dan jarak sumber-
maximum ratio and scatter-maximum ratio concepts for cobalt-60 and
permukaan tubuh 100 cm Selanjutnya harus dihitung waktu higher energy x-ray beams, Med. Phys. 1980; 7(3).
(lama) penyinarannya 6. HiswaraE. Penentuan Karakter Pesawat Teleterapi Co-60, Maj BATAN
Langkah-Iangkah yang dilakukan, 1985; XVIII(4).
7. Spicka J, Heffon D, Orton C. Separating output factor into collimator
(1) wk = (80/100) x 20cm
factor and phantom scatter factor for megavoltage photon calculations,
= 16cm Medical Dosimetry 1988; 13(1).
(2) Sf = { (80 + 0.5) / (100 + 0.5)2} 8. Holt JG, Laughlin JS, Moroney JP. The extension of the concept of tissue-
= 0.6416 air- ratio (TAR) to high-energy X-ray beams, Radiology 1970; 96.
9. General Electric, Chart of the nuclides, Thirteenth ed, California, 1983.

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 57


Indeks
Karangan Cermin Dunia Kedokteran
tahun 1996
CDK 106. MALARIA Gemuk dan Kanker Ovarium Lancet 1995; 345: 1087-88 63
Semprot Hidung untuk Migren Inpharma 1995; 983: 14 63
English Summary 4 Keracunan Litium Clin Pharmacokinet. 1995; 29(3): 174 63
Rita Marleta Dewl, Harijani A. Marwoto, Sustriayu Nalim,
Sekartuti, EmillanaTjitra: Penelitian Malaria di Kecamatan
Teluk Dalam, Nias Sumatera Utara 5-9
Sahat Ompusunggu, Harijani A. Marwoto, Mursiatno, Rita 107. DENGUE
Marleta Dewi, Marvel Renny: Penelitian Pemberantasan Ma-
laria di Kabupaten Sikka, Flores. Penelitian Entomologi 2: Bi- English Summary 4
onomik Anopheles Setelah Gempa Bumi 10 - 14 Husein Albar, Azis Tanra, Dasni Daud: Manfaat Pemeriksaan
Barodji, Widiarti, Ima Nurisa, Suinardi, Tri Suwarjono, Radiologik Toraks sebagai Alat Bantu Diagnosis Demam Berda-
Sutopo: Kepadatan Vektor dan Malaria di Desa Waiklibang, Ke- rah Dengue di Rumah Sakit Kabupaten 5-9
camatan Tanjung Bunga, Flores Timur Sebelum dan Sesudah Faisal Yatim: Hasil Uji Coba Dengue Stick lgG 9 - 10
Gempa Bumi 15 - 18 Amrul Munif, M. Soekirno, A. Madjid: Efek Residu Per-
Damar Tri Boewono , Sustriayu Nalim : Anopheles hyrca- methrin yang Dipoles pada Berbagai Macam Benda Tempat Isti-
mus group dan Potensinya Sebagai Vektor Malaria di Kecamatan rahat Aedes aegypti dalam Upaya Pemberantasan Demam Ber-
Teluk Dalam , Nias, Sumatera Utara 19 - 25 darah Dengue 11 - 16
Blondine Ch.P., Umi Widyastuti, Subiantoro, Sukarno: Uji Hasan Boesri, Hadi Suwasono, Tri Sumaryono: Pengaruh
Patogenisitas Bacillus thuringiensis yang Diisolasi dari Tanah Jarak Pengasapan ULV dengan Beberapa lnsektisida dalam Uji
Pohon Kelengkeng (Euphoric langan) terhadap Jentik Nyamuk Hayati terhadap Aedes aegypti 17 - 19
Vektor di Laboratorium 26 - 29 Eni Ratna Mintarsih, Ludfi Santoso, Hadi Suwuono: Pen-
Amrul Munif, Pranoto: Pengujian Metoda Larvasida Teknar garuh Suhu dan Kelembaban Udara Alami terhadap Jangka
1500 S terhadap Larva Anopheles maculatus yang Merupakan Hidup Aedes aegypti Retina di Kotamadya Salatiga dan Sema-
Vektor Malaria di Daerah Aliran Sungai 30 - 33 rang 20 - 22
Rabea Pangerti Jekti, Edhie Sulaksono, Siti Sundari Yuwono, IG Seregeg: Kepadatan Aedes albopictus di Lingkungan Be-
Rita Marleta Dewi, Subahagio: Pengaruh Pasase tcrhadap Ge- berapa Rumah Sakit di Jakarta Selatan 23 - 25
jala Klinis Mencit strain Swiss derived yang Diinfeksi dengan Nunik Sri Aminah, Enny W. Lastan, Amrul Munif, Koesnin-
Plasmodium berghei ANKA 34 - 36 dar, Mardiana: Respon Aedes aegypti terhadap Ekstrak Jamur
Rita Marleta Dewi, Harijani A. Marwoto, Emiliana Tjitra, Beauveria bassiana, Mucor haemalis dan Geogrichum candidum 26 - 30
Suwarni, Rabea Pangerti Jekti: Keadaan Hematologis Mencit Amrul Munif Supraptini: Perbedaan Virulensi Cendawan
yang Diinfeksi dengan Plasmodium berghei ANKA 37 - 40 Metarhizum anisopilae yang Dikultur pada Berbagai Medium
Amrul Munif: Cendawan Patogen pada Larva C. quinquefascia- Terhadap Larva Aedes aegypti 31 - 36
tus yang Berasal dari Kubangan Air Limbah Rumah Tangga Un- Umi Widyastuti, Blondine Ch. P., Subiantoro: Pengujian Pa-
tuk Menunjang Pengendalian Hayati 41 - 44 togenisitas Isolat Bacillus thuringiensis terhadap Jentik Nyamuk
Barodji, Sumardi, Tri Suwardjono, Rabardjo, Heru Prijanto, Vektor secara Semi Kuantitatif 37 - 39
Sutopo: Penentuan Vektor Filariasis bancrofti di Kecamatan M. Syafei Hamzah: Dermatitis Kontak Karena Pestisida 40 - 43
Tanjung Bunga, Flores Timur 45 - 48 RS Siregar: Dermatosis Akibat Kerja 44 - 47
Budi Riyanto W: Nyeri Kepala Tipe Tegang 49 - 51 Prijantojo: Kondisi Jaringan Periodonsium pada Kelompok
Monang Panjaitan: Pengaruh Pemberian Obat Kumur Mengan- Masyarakat dengan Perbedaan Frekuensi Penyikatan Gigi 48 - 52
dung Fluor terhadap Perkembangan Karies Gigi Narapidana Sitoresmi Triwibowo, Hestining Pupus Pangastuti: Penelitian
Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta, Medan 52 - 54 Proses Pembuatan Tempe Kedelai: I. Pengaruh lama perenda-
Prijantojo: Hambatan Pembentukan Plak Gigi dengan Larutan man, perebusan dan pengukusan terhadap kandungan asam fitat
Obat Kumur Hexetidine 0,1% (secara klinis) 55 - 59 dalam tampa kedelai 53 - 56
Abstrak Budi Riyanto W.: Nyeri Kepala Klaster 57 - 60
Efek Samping Kombinasi Pengalaman Praktek 61
Cisapnid dengan Ketokonazol Scrip 1995; 2008: 25 62 Abstrak
Kematian Akibat N.Engl J. Med. 1995; 332: 1399-404 62 Terapi ALS Inpharma 1995; 989: 9 62
Malaria Asam Lemak Tak Jenuh Scrip 1995; 2002: 15 62
Donor Ginjal Lancet 1995; 345: 1067-70 62 Obat Terlaris 1994 Scrip 1995; 2040; 23 62
Ace Inhibitors dan Hipoglikemi Lance: 1995; 345: 1195-98 62 Famotidin dalam Biskuit Inpharma 1995; 989-20 62
Mikroemboli pada Stroke Stroke 1995; 26: 1588-92 62 Tiamin untuk Penyakit Jantung Inpharma 1995; 991. 19 62
Profllaksis Ulkus di Perawatan Ganja Untuk Terapi Inpharma 1995; 983: 5 62
Intensif Inpharma 1995; 989: 5 62 ASI Mengurangi Risiko Atopi Lancet 1995; 346: 1065-69 62
Ganciclovir untuk lnfeksi Scrip 1995; 2009: 22 63 Faktor Risiko Perdarahan
CMV Intraserebral Spontan Stroke 1995; 26: 155-64 63
Penyebab Diare N. Engl. J. Med. 1995; 332: 728 63 Skizofreni Scrip 1995; 2020: 25 63

58 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


Jumlah Penulis Naskah Ilmiah Lancet 1995; 345: 1242 63 M. Wien Winarno, Dian Sundari: Pemanfaatan Tumbuhan se-
Preskripsi Obat Asma Scrip 1995; 2022: 4 63 bagai Obat Diare di Indonesia 25 - 32
Efektivitas Vaksinasi Inpharma 1995; 981: 5 63 D. Anwar Musadad: Sistim Penyediaan Air Bcrsih di Beberapa
Koyo Anti Nafsu Makan Scrip OTC 1995; 17: 6 63 Rumahsakit 33 - 34
Permen Nikotin Scrip 1995; 2038: 23 63 Ketut Ngurah: Pengaruh Magnesium Sulfat Proanalisis dan Ga-
ram Inggris serta Periode Opsional terhadap Efektivitas Pe-
meriksaan Pemeriksaan Tinja Flotasi 35 - 38
Kusnindar Atmosukarto: Peran Sumber Air Minum dan Kakus
Saniter dalam Pemberantasan Diare di Indonesia 30 - 41
108. OBAT TRADISIONAL M. Ramly Bandy, Suhardjo: Sikap dan Perilaku Pemuda di
DKI Jakarta dan di DI Yogyakarta mengenai Masalah Kesehatan
English Summary 4 Lingkungan 42 - 46
Djoko Hargono: Sekelumit Mengenai Obat Nabati dan Sistim Djohansjah Marzoeki: Kebutuhan Dokter Spesialis di Indonesia
Imunitas 5-9 (Pelayanan dan Dosen) dengan Acuan Dokter Spesialis Bedah 47 - 49
Nurendah PS-Praswanto, B. Dzulkarnain, Dian Sundari: In- Nawazir Bustami: Perforasi Divertikel Jejunum -laporan kasus 50 - 52
formasi Penelitian Komponen Jamu Pengatur Haid 10 - 16 Sitoresmi Triwibowo, Hestining Pupus Pangastuti: Penelitian
Dian Sundari, M. Wien Winarno: Efek Farmakologi dan Fi- Proses Pembuatan Tempe Kedelai. III. analisis mikrbbiologi 53 - 56
tokimia Komponen Penyusun Jamu Keputihan 17 - 20 Prijantojo: Evaluasi Klinis Perawatan Hipersensitivitas Dentin
B. Dzulkarnain, B. Wahjoedi: Informasi Ilmiah Kegunaan dengan Potasium Nitrat 57 - 61
Kosmetika Tradisional 21 - 26 Abstrak
Suratman, Sri Adi Sumiwi, Dolih Gozali: Pengaruh Ekstrak ESPS-2 Scrip 1995; 2061: 22 62
Daun Antanan dalam Bentuk Salep, Krim dan Jelly terhadap Riluzole Untuk ALS Scrip 1995; 2063: 23 62
Penyembuhan Luka Bakar 31 - 36 Stres Menghambat Penyem-
Max Joseph Herman: Antijamur Sistemik 37 - 44 buhan Luka Lancet 1995; 346: 1194-96 62
Akmal, Helmi Arifin, Armeiny Romita: Isolasi Mikroba Tanah Sumatriptan Untuk Migren Lancet 1995; 346: 923-26 62
Penghasil Antibiotika dan Sampel Tanah pada Lokasi Penumpu- Heparin Untuk Trombosis
kan Sampah 45 - 49 Vena Dalam Lancet 1995; 346: 459-61 62
Agus Sjahrurachman: Resistensi Bakteri terhadap Amino- Nifedipin Meningkatkan Inpharma 1995; 1015: 21 63
glikosida 49 - 53 Mortalitas?
Sitoresmi Triwibowo, Hestining Pupus Pangastuti: Penelitian Diabetes Wanita Hamil N. Engl. J. Med. 1995; 333: 123 7-41 63
Proses Pembuatan Tempe Kedelai. II. Pengaruh lama fermentasi Alat Bantu Dengar di Kedua Telinga MCHL 1995; 13(12): 8 63
terhadap kandungan asam fitat dalam tempe kedelai 54 - 57 Angioplasti VS. Streptokinase Am. J. Cardiol. 1995; 830-33 63
Prijantojo: Pengaruh Klinis Pasta Sodium Khlorida dan Sodium Bahaya Hiperkolesterolemi N. Engl. J. Med. 1995:333: 621-7 63
Bikarbonat terhadap Radang Gingiva 58 - 61
Abstrak
Tanaman Obat Inpharma 1995; 1011: 3-4 62
Obat Untuk Alzheimer Scrip 1995; 2028: 27 62 110. PENYAKIT HATI
Obat Untuk ALS Scrip 1995; 2022: 23 62
Interaksi Kafein dengan Litium Inpharma 1995; 984: 21 62 English Summary 4
Gangguan Visus Akibat Suwarso: Biologi Molekuler Hepatitis C dan Aplikasi Diag-
Kompresi Khiasma Lancel 1995; 346: 1402 62 nostiknya 5-8
Penggantian Obat Antihipertensi Scrip 1995; 2050: 22 62 Djoko Yuwono, Retno Iswari: Upaya Pengembangan Vaksin
Zn Untuk Diare N. Engl. J Med. 1995; 333: 873-4 63 Hepatitis C 9 - 14
Jahe Untuk Mual Inpharma 1995; 1001: 15 63 Zulkarnain Arsyad: Evaluasi Faal Hati pada Penderita Tu-
Botak Neurogenik? Lancet 1995; 346: 639 63 berkulosis Paru yang Mendapat Terapi Obat Anti Tuberkulosis 15 - 18
Trombolitik Untuk Stroke Nuchsan Umar Lubis: Program Imunisasi Masal Hepatitis B di
Iskhemik Lancet 1995; 346: 1509-14 63 Indonesia 19 - 20
Prevalensi Depresi Pharm. Bus. News 1995; 11(253): 8 63 AB Wardoyo: Penyakit Hati pada Kehamilan 21 - 25
Risiko Kanker Scrip 1995; 2023: 27 63 Sunarto: Diagnostik Thalassemia dengan Polymerase Chain Re-
Obat Migren Scrip 1995; 2032: 22 63 action 26 - 31
Rochman Na’im: Pengembangan Uji Diagnostik melalui Teknik
Molekuler 32 - 34
B. Dzulkarnain, Dian Sundari, Ali Chozin: Tanaman Obat
109. DIARE DAN LINGKUNGAN Bersifat Antibakteri di Indonesia 35 - 48
Budi Riyanto W: Obat-obat Antiepilepsi Baru 49 - 55
English Summary 4 Benyamin Lumenta, Reflinar: Berbagai Detcnninan yang
SM Salendu-Warouw: Evaluasi Klinis Sindrom Disentri Anak Mempengaruhi Penilaian Pasien terhadap Pelayanan Medis 56-60
di RS Gunung Wenang, Manado 5-9 Pengalaman Praktek
Charles Darwin Siregar: Pola Penyakit Anak Rawat Inap di Abstrak
RSU Panyabungan, Tapanuli Selatan 10 - 12 Usia Ibu dan Kematian Janin N.Engl J Med. 1995;333:953-7 62
Pudjarwoto Triatmodjo: Infeksi Bakteri Enteropatogen pada Alprostadil Pharm. Jus. News 1995; 11(246/247): 9
Balita Penderita Diare di Jawa Barat dan Pola Resistensinya ter- Untuk Impotensi 62
hadap Beberapa Antibiotik 13 - 17 Pembedahan Untuk Kasus
Sa’roni, Pudjiastuti, Adjirni: Efek Antidiare Infus Daun Ke- Epilepsi Lancet 1995; 346: 1445-49 62
sembukan (Paederia foetida L) pada Tikus Putih dan Toksisitas Penyebab Penyakit Huntington Scrip 1995; 2083: 27 62
Akutnya pada Mencit 18 - 20 Vitamin A Dosis Tinggi N.Engl J Med. 1995; 333: 1369-73 63
Imam Masduki: Efek Antibakteri Ekstrak Biji Pinang (Areca Efek Samping Omeprazol Scrip 1995; 2083: 27 63
catechu) terhadap S. aureus dan E. coli in vitro 21 - 24 Cuka Apel Untuk Antnitis? MCHL 1995; 13(12): 8 63

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 59


NSAID Untuk Osteoartritis Sriana Azia, Titik Ratih Rahayu: Dasar Formulasi Jamu Ma-
Lutut J. Rheumatof 1995; 22: 1941-46 63 Jun/Kuat Pria 17 - 18
Piracetam Untuk Stroke Scrip 1995; 2072: 30 63 Rochman Na’im: Aktivitas Antimikroba Plasma Semen 19 - 20
Chriadiono M. Achadiat: Tumor-tumor Ovarium Borderline 21 - 24
P. Gonta: Osteoporosis sebagai Problema Klimakterium 25 - 28
Dwi Djuwantoro: Osteoporosis 29 - 31
111. GIZI DAN MAKANAN Yoseph: Perdarahan Selama Kehamilan 32 - 35
Paul Zakaria Dagomez: Terapi Imun pada Kasus Abortus
English Summary 4 spontan - Infeksi Fetomaternal Dipandang dan Sudut Imunologi 36 - 40
Laurentia C. Miharja: Defisiensi Zat Besi dan Pola Makan Soebandiri: Pengaruh Umur pada Hasil Terapi Limfoma Non
serta Hubungan dengan Absorpsi Laktosa pada Anak 1-2 Tahun Hodgkin 41 - 43
Tanpa KKP di Pos Yandu Kelurahan Utan Kayu Selatan 5-8 Sarjaini Jamal: Karakteristik Kesehatan di Daerah Pedesaan dan
Geertruida Sihombing: Komposisi Zat Gizi dan Bahan Baku Perkotaan 44 - 48
Lainnya dari Berbagai Macam Kiupuk Retno Gitawati, Nani Sukasediati, Ondri D. Sampurno, Puji
Rianawati Aminah, Cornelis Adimunca: Penentuan Nilai Bi- Lastari: Jenis Informasi yang Dapat Diperoleh dari Rekam
ologik Tempe Bosok pada Tikus Putih strain Wistar 13 - 16 Medik di Beberapa Rumahsakit Umum Pemerintah - data retro-
Geertruida Sihombing: Komposisi Zat Gizi dan Mutu berbagai spektif 1988/1989 dan 1992/1993 49 - 53
Macam Jajanan Ditinjau dan Penggunaan Bahan Tambahan Rivai: Program Pertemuan dan Penyuluhan Keluarga Klien da-
Makanan 20 - 24 lam Konteks Asuhan Keperawatan di RSJP Bogor 54 - 56
Geertruida Sihombing, Marice Sihombing: Mutu Jajanan Susetyo Trijoko: Penentuan Faktor Kalibrasi Berkas Pesawat
Goreng Ditinjau dan Minyak yang Diserap 25 - 27 Terapi Cs-137 dengan Metoda Interpolasi 57 - 59
Gusbakti Rusip, Rabindarjeet Singh, Ang Boon Suen: Sudibyo Supardi: Pengambilan Keputusan dan Pemilihan Sum-
Pengaruh Minuman Karbohidrat Berelektrolit terhadap ber Pengobatan 60 - 61
Performance Olahraga Sepeda dalam suasana Abatrak
Lembab 28 -32 Asma Akibat Mainan Lego Lancet 1996; 334: 406 62
Sarjaini Jamal: Penggunaan VitaRIM sebagai Software dalam Pen Altematif Lancet 1996; 347: 569-73 62
Menentukan Prevalensi Xerophthalmia di Satu Daerah 33 - 37 Risiko Chorionic Villus Sampling Lancet 1996; 347: 489-94 62
Akmal, Marlina: Cemaran Mikroba pada Produk Perikanan 38 - 41 Relaps pada Epilepsi Pediatrics 1996; 97: 192-7 62
Iswiasih Hldayatun, Barodji, Ludfi Santoso: Spesies yang Dapat Obat Antihiperlipidemi Inpharma 1996; 1028: 5 62
Berkembang Biak di Dalam Daging Ikan yang Di- Terapi Neuralgia
keringkan untuk Pembuatan Ikan Asin 41 - 43 Trigeminus N. Engl. J. Med. 1996; 324: 1077-83 62
Harrizul Rivai: Hubungan Antara Kadar Kafeina Plasma den- Mortalitas Pasien
gan Kebiasaan Minum Kopi 44 - 48 Parkinsonisme N Engl. J. Med. 1996; 334: 71-6 63
B. Dzulkarnain, Lucie Widowati: Dukungan Ilmiah Penggu- Malaria Akibat Jarum Suntik Lancet 1995; 346: 1361 63
naan Ramuan untuk Obesitas 49 - 54 Risiko Kontrasepsi Oral (1) Lancet 1995: 346: 15 75-82 63
Iwan Harjono Utama: Lektin - Sifat dan Aplikasinya dalam Risiko Kontrasepsi Oral (2) Lancet 1995; 346: 1589-63 63
Biologi/Biomedis 55 - 58 Furosemid Untuk Antikonvulsan Science 1995; 270: 99-102 63
Sudibyo Supardi: Sakit dan Perilaku Sakit 59-60
Pengalaman Praktek 61
Abstrak
Thalidomid Drug News 1996; 5(11): 5 62
Kontrasepsi Pria Drug News 1996; 5(16): 7 62 113. GIGI
Selegilin Merugikan D&TP 1996; 7(4): 10 62
Manfaat Pravastatin Inpharma 1996; 1031: 13-4 62 English Summary 4
Balsem Cap Macan Untuk SW Prayitno: Peniodontologi dan Masa ke Masa 5-9
Nyeri Kepala Inpharma 1996; 1030: 14 62 Yuniarti Soeroso: Peranan Splin Permanen dalam Perawatan
Pengalaman Merawat Periodontal 10 - 14
AIDS N.Engl J.Med. 1996; 334:701-6 62 Yuyus Rusiawati: Status Penyakit Gigi dan Mulut dan Perilaku
Serangan Jantung Akibat N.Engl J Med 1996; 334: 62 Anal terhadap Kesehatan Gigi di Klinik Alfa, Beji, Depok I 15 - 16
Gempa Bumi 413-9 Sri Lelyati SU: Kalkulus - Hubungannya dengan Penyakit
Keracunan Clin. Drug Invest. 1996:11(2): 117-19 Periodontal dan Penanganannya 17 - 20
Omeprazol 63 Wiwi Werdiningsih, Narlan Sumawinata, Ansar Bansar:
Paroxetine Pharmacotherapy 1995; 15(6): 778-80 63 Frekuensi Nyeri pada Perawatan Saluran Gigi Anterior Sekali
Obat Baru Scrip 1995; 2081: 26 63 Kunjungan - penelitian pendahuluan 21 - 22
Hipertrofi Pnostat Scrip 1995; 2081: 27 63 Yuniarti Syafril: Regenerasi Jaringan Periodontium Setelah Pe-
Saat Hubungan rawatan Periodontal 23 - 27
Seksual dan Kehamilan N Engl. J. Med 1995; 333: 1517-21 63 Prijantojo: Peranan Chlorhexidine terhadap Kelainan Gigi dan
Lemak dan Kanker Rongga Mulut 33 - 37
Payudara N. Engl. 1. Med 1995; 334: 356.61 63 Harmas Yazid Yusuf: Pencemaran Air Raksa di Lingkungan
Kerja Dokter Gigi 38 - 40
Gupran Ruslan: Efek Merokok terhadap Rongga Mulut 41 - 43
Siti sapardiyah Santoso, Riris Nainggolan, Sunanti ZS: Peri-
laku Mantan Pengguna Sarana Air Bersih (SAB) di Jawa Ten-
112. FERTILITAS gah, Kalimantan Selatan dan di Sulawesi Selatan 44 - 47
Andri Sudjatmoko: Kartu Menuju Sehat Untuk Menilai Cara
English Summary 4 Hidup Sehat 48 - 50
Max Joseph Herman: Pemanfaatan Hormon dalam Kontrasepsi 5 - 11 Boenjamin Setiawan: Proses Penemuan Obat Baru 51 - 53
Cornelis Adimunca: Kemungkinan Pemanfaatan Ekstrak Buah Susetyo Trijoko: Perhitungan Waktu Untuk Penyinaran Tumor
Pare sebagai Bahan Kontrasepsi Pria 12 - 15 dengan Pesawat Teterapi Cobalt-60 54 - 57

60 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


Pengalaman Praktek

Lupa dipus-pus….!
Seperti biasa, pagi itu suasana di puskesmas ramai oleh pasien. Saya harus cepat
cepat menyelesaikan karena siang itu akan ada rapat dinas. Sesampainya pasien ke..
sekian .., datang seorang ibu yang sudah cukup berumur.. sebut saja bu Painem, dengan
keluhan gatal-gatal. Setelah saya lakukan anamnesa ala kadarnya.. segera saja saya
diagnosa dan membuat resep untuknya, sambil berkata:
"Sudah bu Painem, ini obatnya .. tidak usah disuntik ya ?"
Lho .., saya ke sini kan mau disuntik to, pak dokter
"Ya .., sudah ke sana bu, biar disuntik bu mantri," kata saya mengalah. Beberapa saat
bu Painem tidak beranjak, tapi malah memandangi saya
"Ada apa bu Painem ?"
"Lho .. pak dokter ..., saya ‘kan belum dipus-pus ‘Di pus-pus bagaimana, bu?"
"ini lho pak dokter" (sambil menunjuk ke arah tensimeter).
"Oh .. iya .., mari sini bu .. maaf ya, tadi saya lupa
Bu Painem pun tersenyum lega seakan gatalnya hilang.
"Hasilnya normal bu Painem …atasnya 120, bawah 80…"
"Terima kasih pak dokter ... terima kasih ..." Ia pun berlalu menuju ke kamar suntik.
Febianto Ary P.
Madiun

(Sambungan dari halaman 60)

Indeks Karangan Cermin Dunia Kedokteran tahun 1996 58-61 Pravastatin untuk
Pengalaman Praktek 61 Hiperkolesterolemi N. Engl. J. Med. 1995; 333: 1301-7 63
Abstrak Exercise untuk
Hirudin Scrip 1995; 2078: 21 62 Hipertensi N Engl .J. Med 1995; 333: 1462-7 63
Miastenia Gravis Akibat Suplementasi Vitamin untuk
Kontrasepsi Oral Lancet 1995; 346: 1556 62 Angina Pektoris JAMA 1996; 275: 693-98 63
Karakteristik Pria dan Wanita Propofol untuk Status
Pasien Infark Miokard Akut JAMA 1996; 275: 777-82 62 Epileptikus Inpharma 1996; 1020: 12 63
Merokok untuk Parkinson Lancet 1996; 347: 527 62 Bahaya Tamoksifen Scrip 1995; 2087: 22 63
Indikasi Bedah Caesar Lancet 1996; 347: 544 62

Happiness is theirs who are sufficient for themselves


(Aristotle)

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 61


ABSTRAK
HIRUDIN KARAKTERISTIKPRIA DAN WA- menerangkan efek di atas.
Hirudin – suatu thrombin inhibitor – NITA PASIEN INFARK MIOKARD Di lain pihak, para peneliti mengaju-
agaknya kurang bermanfaat untuk pasien AKUT kan kemungkinan bahwa penurunan
infark miokard akut. Karakteristik 10315 wanita dan 30706 aktivitas MAO-B yang meningkatkan
Studi yang melibatkan 3002 pasien pria penderita infark miokard akut pe- kadar dopamin mungkin merupakan
infark miokard akut membandingkan serta GUSTO-1 yang berasal dari 15 faktor penyebab adiksi di kalangan pe-
efek heparin dengan dosis 5000 U bolus negara, diperbandingkan. rokok atau alkoholisme karena dopamin
diikuti dengan infus 1000 U/jam, de- Ternyata, pasien-pasien wanita rata- diketahui berperan dalam memperkuat/
ngan hirudin dosis 0,1 mg/kgbb/jam rata berusia 7 tahun lebih tua, dan 18 memotivasi tingkah laku.
lama 96 jam. menit (median) lebih lama tiba di rumah- Lancet 1996; 347: 527
hk
Setelah 30 hari, kematian, reinfark sakit setelah serangan. Para wanita lebih
atau gagal jantung terdapat pada 11,8% banyak yang mempunyai riwayat diabe- INDIKASI BEDAH CAESAR
pasien dengan hepanin dan pada 12,8% tes, hipertensi dan merokok. Suatu studi mengenai bedah caesar
pasien dengan hirudin (tidak bermakna); Pengobatan lebih lambat di kalangan dilakukan di kalangan ahli kebidanan di
sedangkan kematian dan/atau reinfark wanita (1,2jam vs. 1 jam, p <0,001), se- Inggris; sebanyak 282 ahli kebidanan
terdapat pada 9,3% pasien heparin dan lain itu wanita lebih sering mengalami darn 31 klinik di London dikirimi per-
pada 9,6% pasien hirudin (tidak ber- komplikasi non fatal seperti shock (9% tanyaan:cara persalinan apa yang dipilih
makna). Perdarahan terjadi pada 4 vs. 5%, p < 0,01), payah jantung ko- bila anda/partner anda primigravida
pasien dengan hepanin dan pada 4,4% ngestif (22% vs. 19%, p < 0,001), perda- tanpa komplikasi, bayi tunggal letak
pasien dengan hirudin (tidak bermakna), rahan senius (15% vs. 7%, p <0,001), kepala.
sedangkan perdarahan intrakrainal ter- reinfark (5,1% vs. 3,6%, p <0,001) dan Sebanyak 73% mengirimkan jawab-
jadi pada 0,7% pasien dengan heparin stroke (2,1% vs. 1,2%, p <0,001). Ke- an; dan 17% memilih bedah caesar.
dan pada 0,4% pasien dengan hirudin. matian juga lebih sering di kalangan Sebanyak 31% ahli kebidanan wanita
Risiko perdarahan untuk obat trom- wanita (11,3% vs. 5,5%,. p <0,001) de- memilih bedah caesar, dibandingkan
bolitik lain ialah 3,8% untuk kombinasi ngan relative risk sebesar 1,15 (95%CI: dengan hanya 8% di kalangan ahli ke
streptokinase + heparin, 5,7% untuk 1,0– 1,31). bidanan pria (p <0,001). Di antara yang
TPA + heparin, 3,7% untuk strepto- Tindakan angiografi tidak berbeda memilih bedah caesar,80% karena alasan
kinase + hirudin dan 4,7% untuk TPA bermakna, tetapi angioplasti lebih ba- komplikasi persalinan per vaginam
+ hirudin. nyak dilakukan di kalangan wanita (35% (ruptur perineum, kerusakan sphincter),
Scrip 995; 2078: 21 vs. 32%, p <0,001), sebaliknya operasi 58% karena kekuatiran fungsi seksual,
Brw
by-pass lebih sedikit di kalangan wanita 39% karena alasan risiko pada bayi dan
MIASTENIA GRAVIS AKIBAT (7% VS. 9%, p <0,001). 27% karena menginginkan pemilihan
KONTRASEPSIORAL JAMA 1996; 275: 777–82 saat bersalin.
brw
Sebuah surat pembaca di Lancet me- Preferensi bedah caesar lebih me-
laporkan satu kasus wanita 37 tahun nonjol pada risiko persalinan, meskipun
mendenita miastenia gravis kira-kira 6 MEROKOK UNTUK PARKINSON bukan indikasi bedah; bila kedudukan
bulan setelah menggunakan implan Satu-satunya data statistik yang bayi sungsang, meskipun dapat dila-
levonorgestrel; gejalanya memberat mendukung para perokok ialah rendah- hirkan per vaginam, 57% tetap memilih
selama 10 bulan, tetapi dapat diatasi nya kejadian penyakit Parkinson di bedah bila merupakan persalinan per-
dengan piridostigmin 4 dd 60 mg. per- kalangan perokok dibandingkan dengan tama; bila merupakan persalinan ke dua,
hari. pada populasi normal. 40% tetap memilih tindakan bedah. Se-
Setahun kemudian, implan tersebut Para peneliti di New York mengguna- banyak 68% memilih bedah bila taksir-
diangkat dan dalam beberapa minggu kan PET mendapatkan bahwa aktivitas an berat bayinya lebih dani 4,5 kg; se-
gejala miastenia gravisnya berkurang MAO-B isoenzim di kalangan perokok dangkan bila beratnya 4–4,5 kg., 30%
dan penggunaan piridostigmin dapat di- 40% lebih rendah dibandingkan dengan tetap memilih bedah, meskipun presen-
kurangi sampai separuhnya. populasi normal, padahal enzim itu tasi kepala.
Lancet 1995; 346: 1556 diketahui berperan dalam metabolisme 1996: 347: 544
Hk dopamin; hal ini yang mungkin dapat hk

62 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996


ABSTRAK
PRAVASTATIN UNTUK HIPER- rata-rata 88 ± 7 mmHg menjadi 83 ± 8 PROPOFOL UNTUK STATUS
KOLESTEROLEMI mmHg, sedangkan di kalangan tanpa EPILEPTIKUS
Mengingat penurunan kadar koleste- aerobik justru naik dan 88 ± 6 mmHg Bila selama ini kita menggunakan
rol darah dapat menurunkan risiko pe- menjadi 90 ± 7 mmHg (p 0,002); te- diazepam untuk mengatasi status epi-
nyakit jantung koroner, para peneliti kanan diastolik ini tetap bertahan sam- leptikus, dokter di Finlandia mencoba
memberikan 40 mg. pravastatin secara pai 32 minggu meskipun antihipertensi propofol: 8 pasien yang gagal diatasi
buta-ganda kepada 6595 pria berusia dikurangi dosisnya. dengan diazepam, diberi 30 mg. pro-
45–64 tahun yang menderita hiperko- Selain itu terdapat pengurangan kete- pofol tiap 30 detik sampai kejangnya
lesterolemi tetapi tanpa riwayat infark balan septum interventrikuler (p = 0,03), terhenti; dosis total yang diperlukan
miokard. Setelah rata-rata 4,9 tahun, massa ventrikel kiri (p = 0,02) dan index berkisar antara 100–200 mg.
kadar kolesterol darah rata-rata turun massa ventrikel kin (p = 0,04) secara Hanya satu pasien yang masih me-
20%, kadar LDL-kolesterol rata-rata bermakna setelah 16 minggu menjalani merlukan perawatan intensif setelah ke-
turun 26% di kelompok studi, sedang- exercise. jangnya teratasi, dan tujuh pasien kem-
kan di kelompok plasebo tidak ditemui N. Engl .J. Med 1995; 333: 1462-7 bali ke keadaan semula tanpa gejala
hk
penurunan. sisa.
Terdapat 248 kejadian koroner di Inpharma 1996; 1020: 12
kelompok plasebo dan 174 dikelompok SUPLEMENTASI VITAMIN UN- brw
pravastatin (relative reduction risk 31%, TUK ANGINA PEKTORIS
95%CI: 17-43%, p <0,001); juga ter- Sebagai bagian dan studi atas 29133 BAHAYA TAMOKSLFEN
dapat penurunan kejadian infark miokard pria perokok berusia 50–69 tahun di Dua studi yang dilaksanakan di AS
sebesar 31% (p < 0,001), penurunan Finlandia, 22269 pria tanpa riwayat dan Skotlandia menunjukkan bahwa
kejadian kematian akibat penyakit jan- angiunapektoris diberi 50 mg. alfatokof- penggunaan tamoksifen selama lebih
tung koroner – untuk kasus pasti erol/hari, atau 20mg. beta karoten/hari, dari 5 tahun untuk pengobatan kanker
penurunan sebesar 28% (p = 0,13) dan atau keduanya, atau plasebo. payudara dapat memberikan efek me-
untuk kasus pasti + tersangka sebesar Selama 4,7 tahun (96427 person- rugikan.
33% (p = 0,042). Sethngkan risiko ke- years) tercatat 1983 kasus angina pekto- Studi di AS yang melibatkan 1166
matian akibat semua sebab turun 22% di ris baru. Analisis perbandingan antara wanita pasien kanker payudara yang
kalangan pravastatin (95%CI: 0–40%, kelompok alfa-tokoferol dengan kelom- node-negative, estrogen receptor posi-
p = 0,05 1). pok non alfa-tokoferol menunjukkan tive menunjukkan bahwa mereka yang
Para peneliti menyimpulkan bahwa relative-risk 0,91 (95%CI: 0,834-0,99, menggunakan tamoksifen selama 5
pravastatin secara bermakna menurun- p = 0,04), antara kelompok beta-karoten tahun, 92% masih bebas kanker sampai
kan kejadian infark miokard dan kemati- dengan kelompok non beta-karoten re- 4 tahun setelah menghentikan peng-
an akibat kejadian kardiovaskuler pada lative risknya 1,06 (95%CI: 0,971,16, obatan, sedangkan di kalangan yang
pria dengan hiperkolesterolemi sedang p = 0,19). Dibandingkan dengan ke- menggunakan tamoksifen selama lebih
tanpa niwayat infark miokard. lompok plasebo, kelompok alfa-toko- dari 5 tahun, hanya 86% yang masih
ferol relative risknya 0,97 (95%CI: bebas kanker; selain itu di kelompok ini
N. Engl .J. Med. 1995; 333: 1301–7 0,85–1,10), kelompok álfa-tokoferol + juga ditemukan 6 kasus kanker endo-
hk beta-karoten sebesar 0,96 (95%CI: metrium, dibandingkan dengan hanya 2
0,85–1,09), sedangkan untuk kelompok kasus di kelompok kurang dan 5 tahun,
EXERCISE UNTUK IHPERTENSI beta-karoten sebesar 1,13 (95%CI: 6 kasus kanker payudara baru kontra-
Sejumlah 46 pria Afrika-Amerika 1,00-1,27, p = 0,06). lateral vs. 2 kasus, dan 12 kasus kanker
berusia 35–76 tahun penderita hipertensi Alfa-tokofenol hanya sedikit menu- primer lain vs. 9 kasus.
menjalani dua cara pengobatan, yaitu runkan kejadian angina pektoris, se- Penurunan efek terapeutik ini dapat
obat antihipertensi (23 pria) atau anti- dangkan beta-karoten berkaitan dengan disebabkan oleh adaptasi tumor; ke-
hipertensi + aerobik menggunakan sedikit peningkatan kejadian angina pastiannya masih memerlukan peneliti-
sepeda statis (23 pria). pektoris. an lanjutan.
Setelah 16 minggu, tekanan diastolik JAMA 275:693–98 Scrip 1995; 2087: 22
brw brw
rata-rata di kalangan aerobik turun dari

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 63


Ruang
Penyegar dan Penambah
Ilmu Kedokteran
Dapatkah saudara menjawab
pertanyaan-pertanyaan di bawah ini?
1. Yang merupakan tanda keracunan akut Hg: a) Kumur-kumur
a) Anuria b) Sikat gigi
b) Dispnoe c) Suplementasi fluor
c) Polineuropati d) Penggunaan antiseptik
d) Tremor e) Semua bisa
e) Diare 6. Antibiotik pilihan untuk penyakit periodontal:
2. Yang digunakan sebagai antidotum pada keracunan Hg: a) Tetrasiklin
a) Arang aktif b) Ampisilin
b) EDTA c) Amoksisilm
c) Heparin d) Metronidazol
d) Laksan e) Sulfametoksazol
e) Susu 7. Obat kumur yang dianjurkan untuk mencegah penyakit
3. Tingkat Hg dalam urine tidak boleh melampaui : periodontal:
a) 0,01 mg/l a) NaCl
b) 0,02 mg/l b) H202
c) 0,03 mg/l c) Khlorhexidine
d) 0,05 mg/l d) Tetrasiklin
e) 0,1 mg/l e) Metronidazol
4. Bakteri yang dominan terdapat dalam plak: 8. Tindakan periodontal dapat berupa sebagai berikut,
a) Grain + kecuali:
b) Gram - a) Kuretase
c) Spirochatea b) Osteotektomi
d) Vibno c) Gingivoplasti
e) Fusobakteri d) Gmgivektomi
5. Pembentukan plak tidak dapat dicegah dengan cara: e) Tanpa kecuali

8. E 4. A
7. C 3. B
6. A 2. B
5. C 1. C JAWABAN RPPIK :

Genius invent, wit merely finds


(Weber)

64 Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996

Beri Nilai