Anda di halaman 1dari 4

BAB I PENDAHULUAN

Kolestasis masih menjadi permasalahan dibidang ilmu kesehatan anak disebabkan spektrum penyebabnya sangat luas dengan gejala klinis serupa. Kemajuan dibidang teknik diagnosa dengan adanya ultrasonografi, skintigrafi, pemeriksaan histopatologis, dan biologi molekuler tidak serta merta dapat menegakkan diagnosa dengan cepat sebab pada kelainan ini tidak ada satupun pemeriksaan yang superior. Kesadaran akan adanya kolestasis pada bayi dengan ikterus berumur lebih dari 14 hari merupakan kunci utama dalam penegakan diagnosa dini yang berperan penting terhadap prognosa.1 Kolestasis terjadi bila didapatkan hambatan sekresi berbagai substansi yang seharusnya disekresikan ke dalam duodenum, sehingga menyebabkan tertahannya substansi tesebut di dalam hati dan menimbulkan kerusakan sel-sel hati.2,3 Parameter yang paling banyak digunakan adalah kadar bilirubin direk serum >1 mg/dL bila bilirubin total <5 mg/dL atau bilirubin direk >20% dari bilirubin total bila kadar bilirubin total >5 mg/dL.4 Kolestasis bukan merupakan suatu diagnosis melainkan suatu sindroma yang etiologinya bemacam-macam mulai dari pembentukan empedu di hepatosit, transport keluar dari hepatosit, saluran empedu intrahepatik dan saluran empedu ekstrahepatik sampai muara keluarnya di duodenum.5 Diagnosis dini kolestasis sangat penting karena tatalaksana dan prognosis dari masing-masing penyebab sangat berbeda.6 Kolestasis yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan terjadinya kerusakan hati yang kronis

dengan berbagai komplikasinya. Salah satunya adalah hipertensi portal dengan venektasi dinding abdomen sebagai salah satu tandanya.7 Penyebab utama kolestasis neonatal adalah hepatitis neonatal, yaitu suatu hepatopati neonatal berupa proses inflamasi nonspesifik jaringan hati karena gangguan metabolik, endokrin, dan infeksi intra-uterin. Penyebab lainnya adalah obstruksi saluran empedu ekstraheptik dan sindroma paucity intrahepatik. Kerusakan fungsional dan struktural dari jaringan hati disamping disebabkan primer oleh proses penyakitnya, juga disebabkan sekunder oleh adanya kolestasis itu sendiri dimana dalam hal ini yang sangat berperan adalah asam empedu hidrofobik dengan kapasitas detergenik.1 Diagnosis dini kolestasis sangat penting karena terapi dan prognosa dari masing-masing penyebab sangat berbeda.2 Pada atresia bilier, bila pembedahan dilakukan pada usia lebih dari 8 minggu mempunyai prognosa buruk.3 Salah satu tujuan diagnostik yang paling penting pada kasus kolestasis adalah menetapkan apakah gangguan aliran empedu intrahepatik atau ekstrahepatik.1 Ensefalopati adalah istilah klinis tanpa menyebutkan etiologi di mana bayi mengalami gangguan tingkat kesadaran pada waktu dilakukan pemeriksaan. Hipoksia merupakan istilah yang menggambarkan turunnya kadar oksigen dalam darah arteri, sedangkan iskemia menggambarkan penurunan aliran darah ke sel atau organ yang menyebabkan insufisiensi fungsi pemeliharaan organ tersebut. Ensefalopati hipoksik iskemik adalah suatu sindrom yang ditandai dengan adanya kelainan klinis dan laboratorium yang timbul karena adanya cedera otak akut yang disebabkan asfiksia.8

Insiden HIE di Amerika Serikat terjadi pada 2-9 per 1000 bayi aterm yang lahir hidup. Angka kejadian di negara berkembang per 1000 bayi aterm lahir hidup yaitu Malaysia 18, Kuwait 18, India 59, dan Nigeria 265. Angka kematiannya tinggi sekitar 50%, angka kecacatan berhubungan dengan beratnya penyakit.8 Diagnosis ensefalopati hipoksik iskemik berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis. Tidak ada satupun tes yang spesifik untuk menyingkirkan atau menegakkan diagnosis ensefalopati hipoksik iskemik. Semua pemeriksaan dikerjakan untuk mengetahui beratnya cedera otak yang terjadi dan memonitor fungsi dari organ sistemik lainnya.8 Sindrom gawat napas neonatus (SGNN) atau respiratory distress syndrome (RDS) merupakan penyebab morbiditas utama pada anak. Sindrom ini paling banyak ditemukan pada BBLR terutama yang lahir pada masa gestasi < 28 minggu. Di Amerika Serikat diperkirakan 1% dari seluruh kelahiran hidup, yang artinya 4000 bayi mati akibat SGNN setiap tahunnya.4,5 Di Indonesia, dari 950.000 BBLR yang lahir setiap tahun diperkirakan 150.000 bayi diantaranya menderita SGNN.9 Gejala dan tanda klinis yang ditemui pada SGNN adalah: dispneu, merintih (grunting), takipnu (pernafasan lebih 60x/menit), retraksi dinding toraks dan sianosis. Gejala gejala ini timbul dalam 24 jam pertama sesudah lahir dengan derajat yang berbeda, tetapi biasanya gambaran sindrom gawat nafas sudah nyata pada usia 4 jam. Tanda yang hampir selalu didapat adalah dispneu yang akan diikuti dengan takipnu, pernafasan cuping hidung, retraksi dinding toraks, dan

sianosis. Diagnosis dini dapat ditegakkan bila telah ada gambaran sindrom tersebut, terlebih lagi bila disertai dengan adanya faktor-faktor risiko.9 Dalam tulisan ini akan dilaporkan sebuah kasus bayi gawat nafas dengan HIE dan kolestasis.