Anda di halaman 1dari 31

UU KETENTUAN UMUM PERPAJAKAN DAN UU PENGADILAN PAJAK

I.

Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak Berdasarkan UU no 16 tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, pemeriksaan dan penyidikan pajak didefinisikan sebagai berikut: Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan professional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (UU no 16 tahun 2009 pasal 1 angka 25). Penyidikan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan yang terjadi serta menemukan tersangkanya (UU no 16 tahun 2009 pasal 1 angka 31).

1.1.Pemeriksaan Pajak 1.1.1. Pemeriksa pajak Berdasarkan pasal 29 ayat 1 dan 3, yang berwenang untuk menyelenggarakan pemeriksaan pajak adalah Direktur Jenderal Pajak, dan dilaksanakan oleh petugas pemeriksa yang memiliki tanda pengenal pemeriksa dan dilengkapi dengan Surat Perintah Pemeriksaan. 1.1.2. Tujuan pemeriksaan Tujuan utama pemeriksaan: 1. Menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak, dan/atau 2. Tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Tujuan lain pemeriksaan: 1. Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak secara jabatan 2. Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak 3. Pengukuhan atau pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak 4. Wajib Pajak mengajukan keberatan 5. Pengumpulan bahan guna penyusunan Norma Perhitungan Penghasilan Neto 6. Pencocokan data dan/atau alat keterangan

7. Penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil 8. Penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak Pertambahan Nilai 9. Pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak 10. Penentuan saat mulai berproduksi sehubungan dengan fasilitas perpajakan 11. Pemenuhan permintaan informasi dari Negara mitra perjanjian penghindaran pajak berganda 1.1.3. Macam dan jenis pemeriksaan Berdasarkan kriteria yang merupakan alasan atau dasar dilakukannya pemeriksaan, terdapat dua macam pemeriksaan: 1. Pemeriksaan rutin Pemeriksaan rutin, merupakan pemeriksaan yang dilakukan sehubungan dengan pemenuhan hak dan/atau pelaksanaan kewajiban perpajakan Wajib Pajak atau karena diwajibkan oleh Undang-Undang KUP. 2. Pemeriksaan khusus Pemeriksaan khusus merupakan pemeriksaan yang dilakukan terhadap Wajib Pajak yang berdasarkan hasil analisis risiko secara manual atau secara komputerisasi menunjukkan adanya indikasi ketidakpatuhan pemenuhan

kewajiban perpajakan. Menurut jenisnya, pemeriksaan dapat digolongkan menjadi: 1. Pemeriksaan lapangan; Pemeriksaan lapangan dilakukan dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) bulan dan dapat diperpanjang 4 (empat) bulan lagi sehingga menjadi paling lama 8 (delapan) bulan yang dihitung sejak tanggal penyampaian Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan disampaikan kepada Wajib Pajak dan/atau kuasanya sampai dengan tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan. 2. Pemeriksaan kantor. Pemeriksaan kantor dilakukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan dan dapat diperpanjang 3 (tiga) bulan lagi sehingga menjadi 6 (enam) bulan, terhitung sejak tanggal WP datang memenuhi surat panggilan dalam rangka pemeriksaan sampai dengan tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan. 1.1.4. Hak dan kewajiban Wajib Pajak dalam pemeriksaan Kewajiban Wajib Pajak antara lain: 1. memenuhi panggilan untuk datang menghadiri pemeriksaan sesuai dengan waktu yang ditentukan, khususnya untuk jenis pemeriksaan kantor;

2. memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya, dan dokumen lain termasuk data yang dikelola secara elektronik, yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas WP, atau objek yang terutang pajak. Khusus untuk pemeriksaan lapangan, WP wajib memberikan kesempatan untuk mengakses dan/atau mengunduh data yang dikelola secara elektronik; 3. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruang yang dipandang perlu dan memberi bantuan lainnya guna kelancaran pemeriksaan; 4. menyampaikan tanggapan secara tertulis atas Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan; 5. meminjamkan kertas kerja pemeriksaan yang dibuat oleh Akuntan Publik, khususnya untuk pemeriksaan kantor; dan 6. memberikan keterangan lain baik tertulis maupun lisan. Keterangan tertulis misalnya: a. surat pernyataan tidak diaudit oleh kantor akuntan public b. keterangan bahwa fotokopi dokumen yang dipinjamkan sesuai dengan aslinya c. surat pernyataan tentang kepemilikan harta d. surat pernyataan tentang perkiraan biaya hidup Keterangan lisan misalnya: a. wawancara tentang proses pembukuan wajib pajak b. wawancara tentang proses produksi wajib pajak c. wawancara dengan manajemen tentang transaksi-transaksi yang bersifat khusus Hak Wajib Pajak antara lain: 1. melihat Surat Perintah Pemeriksaan; 2. melihat Tanda Pengenal Pemeriksa; 3. mendapat penjelasan mengenai maksud dan tujuan pemeriksaan; 4. meminta rincian perbedaan antara hasil pemeriksaan dan SPT; 5. hadir dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan dalam batas waktu yang ditentukan; 6. mengajukan permohonan untuk dilakukan pembahasan oleh Tim Pembahas, dalam hal terdapat perbedaan pada saat pembahasan akhir hasil pemeriksaan; dan 7. memberikan pendapat atau penilaian atas pelaksanaan pemeriksaan oleh Pemeriksa Pajak melalui pengisian kuisioner. Dalam hal pemeriksaan lapangan,

WP berhak meminta Pemeriksa untuk memberikan pemberitahuan secara tertulis terkait pelaksanaan pemeriksaan.

1.1.5. Tata cara pemeriksaan Tata cara pemeriksaan, mencakup norma dan pedoman pemeriksaan pajak, diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia no 17/PMK.03/2013. 1.1.6. Metode dan Teknik pemeriksaan pajak Metode dan teknik pemeriksaan pajak diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak no PER-04/PJ/2013.

1.2.Penyidikan Pajak (UU no 16 tahun 2009 pasal 44) 1.2.1. Penyidik pajak dan wewenang Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan hanya dapat dilakukan oleh Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik. Wewenang yang dimaksud antara lain: 1. Menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan 2. Meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan 3. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan 4. Memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan 5. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut 6. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan 7. Menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang, benda, dan/atau dokumen yang dibawa 8. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang perpajakan

9. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi 10. Menghentikan penyidikan 11. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan 1.2.2. Penghentian penyidikan Penghentian penyidikan dilakukan apabila: 1. Wajib pajak sudah melunasi utang pajak yang tidak atau kurang dibayar atau yang tidak seharusnya dikembalikan dan ditambah dengan sanksi administrasi berupa denda sebesar 4 kali jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar atau yang tidak seharusnya dikembalikan 2. Tidak terdapat cukup bukti 3. Peristiwa tersebut bukan tindak pidana di bidang perpajakan 4. Peristiwa telah kadaluarsa 5. Tersangka meninggal dunia 1.2.3. Hasil penyidikan Hasil penyidikan disampaikan kepada penuntut umum melalui penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia sesuatu dengan ketentuan yang diatur UU Hukum Acara Pidana.

II. 2.1

Ketetapan Pajak Fungsi Surat ketetapan pajak Surat ketetapan pajak berfungsi sebagai : 1. Sarana untuk melakukan koreksi fiskal terhadap WP tertentu yang nyata-nyata atau berdasarkan hasil pemeriksaan tidak memenuhi kewajiban formal dan atau kewajiban materiil dalam memenuhi ketentuan perpajakan. 2. Sarana untuk mengenakan sanksi administrasi perpajakan 3. Sarana administrasi untuk melakukan penagihan pajak. 4. Sarana untuk mengembalikan kelebihan pajak dalam hal lebih bayar. 5. Sarana untuk memberitahukan jumlah pajak yang terutang.

2.2

Jenis-jenis surat ketetapan pajak

2.2.1 Surat ketetapan pajak kurang bayar Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) Adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan

pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar (UU no 16 tahun 2009 pasal 1 angka 16) Berdasarkan UU no 16 tahun 2009 pasal 13, SKPKB diterbitkan apabila: 1. Berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar 2. Surat pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana

dimaksud dalam pasal 3 ayat 3 (20 hari setelah tanggal akhir masa pajak untuk SPT Masa, 3 bulan setelah akhir tahun pajak untuk SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi, dan 4 bulan setelah akhir tahun pajak untuk SPT Tahuhan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan) dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam surat teguran 3. Berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain mengenai PPN dan PPnBM tidak seharusnya dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya dikenai tariff 0% 4. Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 dan 29 tentang pembukuan dan pemeriksaan wajib pajak tidak dipenuhi sehingga tidak diketahui besarnya pajak yang terutang 5. Kepada wajib pajak diterbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak secara jabatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 4(a). 2.2.2 Surat Ketetapan Pajak kurang bayar tambahan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan sebelumnya (UU no 16 tahun 2009 pasal 1 angka 17) SKPKBT diterbitkan apabila ditemukan data baru yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak yang terutang setelah dilakukannya tindakan pemeriksaan dalam rangka penerbitan SKPKBT (UU no 16 tahun 2009 pasal 15) 2.2.3 Surat ketetapan pajak lebih bayar Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang (UU no 16 tahun 2009 pasal 1 angka 19).

SKPLB diterbitkan apabila jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang. SKPLB masih dapat diterbitkan lagi apabila berdasarkan hasil pemeriksaan dan/atau data baru ternyata pajak yang lebih dibayar jumlahnya lebih besar daripada kelebihan pembayaran pajak yang telat ditetapkan (UU no 16 tahun 2009 pasal 17).

2.2.4

Surat ketetapan pajak nihil Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) Adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak (UU no 16 tahun 2009 pasal 1 angka 16). SKPN diterbitkan apabila jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar sama dengan jumlah pajak yang terutang atau tidak terutang dan tidak ada kredit pajak atau tidak ada pembayaran pajak (UU no 16 tahun 2009 pasal 17A)

2.3

Surat Tagihan Pajak Surat tagihan pajak adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda (UU no 16 tahun 2009 pasal 1 angka 20). Berdasarkan UU no 16 tahun 2009 pasal 14, Surat Tagihan Pajak (STP) diterbitkan apabila: 1. Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar; 2. Dari hasil penelitian SPT terdapat kekurangan pembayaran pajak akibat salah tulis dan/atau salah hitung; 3. WP dikenakan sanksi administrasi denda dan/atau bunga; 4. Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, tetapi tidak membuat faktur pajak atau membuat faktur pajak, tetapi tidak tepat waktu; 5. Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak yang tidak mengisi faktur pajak secara lengkap, selain: a. identitas pembeli (Nama, alamat, dan NPWP pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak) atau b. identitas pembeli (Nama, alamat, dan NPWP pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak) serta nama dan tandatangan (Nama, jabatan dan tandatangan yang berhak menandatangani faktur pajak) dalam hal penyerahan dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak pedagang eceran; 6. Pengusaha Kena Pajak melaporkan faktur pajak tidak sesuai dengan masa penerbitan faktur pajak;

7. Pengusaha Kena Pajak yang gagal berproduksi dan telah diberikan pengembalian Pajak Masukan. Surat Tagihan Pajak mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan surat ketetapan pajak, sehingga dalam hal penagihannya dapat dilakukan dengan Surat Paksa. 2.4. Daluwarsa penetapan pajak Daluwarsa penetapan pajak ditentukan dalam jangka waktu 5 tahun sesudah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak atau tahun Pajak.

III. 3.1.

Penagihan Pajak Dasar penagihan pajak Surat tagihan pajak. Surat ketetapan pajak kurang bayar, surat ketetapan pajak kurang hayar tambahan, surat keputusan pembetulan, surat keputusan keberatan, putusan banding, serta putusan peninjauan kembali yang menyebabkan jumlah pajak yang masih harus dibayar bertambah merupakan dasar penagihan pajak (UU no 16 tahun 2009 pasal 18)

3.2.

Pelaksanaan penagihan pajak Penagihan pajak dilaksanakan apabila Surat tagihan pajak. Surat ketetapan pajak kurang bayar, surat ketetapan pajak kurang hayar tambahan, surat keputusan pembetulan, surat keputusan keberatan, putusan banding, serta putusan peninjauan kembali yang menyebabkan jumlah pajak yang masih harus dibayar bertambah tidak dilunasi dalam jangka waktu sesuai dengan pasal 9 ayat 3 yaitu 1 bulan sejak tanggal diterbitkan (UU no 16 tahun 2009 pasal 20 ayat 1). Apabila utang pajak sampai dengan tanggal jatuh tempo pembayaran belum dilunasi, akan dilakukan tindakan penagihan pajak sebagai berikut: 1. Surat Teguran a. Dalam hal WP tidak menyetujui sebagian atau seluruhnya jumlah pajak yang masih harus dibayar dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan dan WP tidak mengajukan keberatan atas SKPKB atau SKPKBT, kepada WP disampaikan Surat Teguran setelah lewat 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pengajuan keberatan; b. Dalam hal WP tidak menyetujui sebagian atau seluruh jumlah pajak yang masih harus dibayar dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, dan WP mengajukan permohonan banding atas keputusan keberatan sehubungan

dengan SKPKB atau SKPKBT, kepada WP disampaikan Surat teguran setelah 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pengajuan banding; c. Dalam hal WP tidak menyetujui sebagian atau seluruh jumlah pajak yang masih dibayar dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, dan mengajukan permohonan banding atas keputusan keberatan sehubungan dengan SKPKB atau SKPKBT, kepada WP disampaikan Surat teguran setelah 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pelunasan pajak yang masih harus dibayar berdasarkan Putusan Banding; d. Dalam hal WP menyetujui seluruh jumlah pajak yang masih harus dibayar dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, kepada WP disampaikan Surat Teguran setelah 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pelunasan; e. Dalam hal WP mencabut pengajuan keberatan atas SKPKB atau SKPKBT setelah tanggal jatuh tempo pelunasan tetapi sebelum tanggal diterima Surat Pemberitahuan Untuk Hadir oleh WP, kepada WP disampaikan Surat Teguran setelah 7 (tujuh) hari sejak tanggal pencabutan pengajuan keberatan tersebut; dan f. Dalam rangka Penagihan Pajak atas utang Bumi dan Bangunan dan/atau Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang tercantum dalam STPPBB, SKBKB, SKBKBT, STB atau Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, atau Putusan Banding, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, kepada WP disampaikan Surat teguran setelah 7 (tujuh) hari sejak tanggal jatuh tempo pelunasan. Penyampaian Surat Teguran dapat dilakukan secara langsung, melalui pos atau melalui jasa ekspedisi atau jasa kurir dengan bukti pengiriman surat. 2. Surat Paksa Utang pajak setelah lewat 21 (dua puluh satu) hari dari tanggal Surat Teguran tidak dilunasi, diterbitkan Surat Paksa yang diberitahukan oleh Jurusita Pajak dengan dibebani biaya penagihan pajak dengan Surat Paksa sebesar Rp50.000,00 (lima puluh ribu rupiah). Utang pajak harus dilunasi dalam jangka waktu 2 x 24 jam setelah Surat Paksa diberitahukan oleh Jurusita Pajak. 3. Surat Sita Utang pajak dalam jangka waktu 2 x 24 jam setelah Surat Paksa diberitahukan oleh Jurusita Pajak tidak dilunasi, Jurusita Pajak dapat melakukan tindakan

penyitaan, dengan dibebani biaya pelaksanaan Surat Perintah Melakukan Penyitaan sebesar Rp 100.000,00 (seratus ribu rupiah). 4. Lelang Dalam jangka waktu paling singkat 14 (empat belas) hari setelah tindakan penyitaan, utang pajak belum juga dilunasi akan dilanjutkan dengan pengumuman lelang melalui media massa. Pengumuman lelang untuk barang bergerak dilakukan 1 (satu) kali dan untuk barang tidak bergerak dilakukan 2 (dua) kali. Penjualan secara lelang melalui Kantor Lelang Negara terhadap barang yang disita, dilaksanakan paling singkat 14 (empat belas) hari setelah pengumuman lelang. Dalam hal biaya penagihan paksa dan biaya pelaksanaan sita belum dibayar maka akan dibebankan bersama-sama dengan biaya iklan untuk pengumuman lelang dalam surat kabar dan biaya lelang pada saat pelelangan. Catatan Barang dengan nilai paling banyak Rp.20.000.000,- tidak harus diumumkan melalui media massa. 3.3. Penagihan seketika dan sekaligus Dalam UU no 16 tahun 2009 pasal 20 ayat 2, penagihan seketika dan sekaligus dilakukan apabila: 1. Penanggung pajak akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya atau berniat untuk itu 2. Penanggung pajak memindahtangankan barang yang dimiliki atau yang dikuasai dalam rangka menghentikan atau mengecilkan kegiatan perusahaan atau pekerjaan yang dilakukannya di Indonesia 3. Terdapat tanda-tanda bahwa penanggung pajak akan membubarkan badan usaha atau menggabungkan atau memekarkan usaha, atau memindahtangankan perusahaan yang dimiliki atau yang dikuasainya, atau melakukan perubahan bentuk lainnya. 4. Badan usaha akan dibubarkan oleh negara 5. Terjadi penyitaan atas barang penanggung pajak oleh pihak ketiga atau terdapat tanda-tanda kepailitan 3.4 Daluwarsa penagihan pajak Berdasarkan UU no 16 tahun 2009 pasal 22, daluwarsa penagihan pajak 5 tahun dihitung sejak surat Surat tagihan pajak. Surat ketetapan pajak kurang bayar, surat ketetapan pajak kurang hayar tambahan, surat keputusan pembetulan, surat keputusan keberatan, putusan banding, serta putusan peninjauan kembali yang menyebabkan

jumlah pajak yang masih harus dibayar bertambah diterbitkan. Dapat melebihi 5 tahun (tertangguh) apabila: 1. Diterbitkan surat paksa 2. Ada pengakuan utang pajak dari wajib pajak 3. Diterbitkan surat ketetapan pajak kurang bayar atau surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan 4. Dilakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan

IV.

Sanksi Pajak Ada 2 macam sanksi dalam perpajakan yaitu: 1. Sanksi Administrasi Pelanggaran terhadap kewajiban perpajakan yang dilakukan wajib pajak sepanjang menyangkut tindakan administrasi perpajakan dikenai sanksi

administrasi dengan menerbitkan surat ketetapan pajak atau surat tagihan pajak (Penjelasan pasal 38 UU no 16 tahun 2009). Sanksi administrasi terdiri dari: a. Sanksi Administrasi Berupa Denda Sanksi administrasi berupa denda merupakan jenis sanksi yang paling banyak ditemukan dalam UU perpajakan. Terkait besarannya denda dapat ditetapkan sebesar jumlah tertentu, persentase dari jumlah tertentu atau suatu jumlah tertentu. Berikut merupakan jenis sanksi administrasi berupa denda, bentuk pengenaan denda dan besarnya denda: SPT tidak disampaikan sesuai atas waktu penyampaian atau batas waktu perpanjangan penyampaian SPT, yang tertulis pada Pasal 7 ayat (1) UU KUP Rp 500.000 untuk SPT Masa PPN Rp 100.000 untuk SPT Masa Lainnya Rp 1.000.000 untuk SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Badan Rp 100.000 untuk SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi Apabila telah dilakukan pemeriksaan, tetapi belum dilakukan tindakan penyidikan, Wajib Pajak dengan kemauan sendiri mengungkapkan

ketidakbenaran tentang data yang dilaporkan dalam SPT dengan disertai pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang sebenarnya terutang, tertulis pada pasal 8 ayat (3) UU KUP dengan denda 150% dari jumlah pajak yang kurang dibayar.

Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP, tetapi tidak membuat faktur pajak atau membuat faktur pajak tetapi tidak tepat waktu, tertulis pada pasal 14 ayat (4) UU KUP dengan denda 2% dari dasar pengenaan pajak.

PKP tidak mengisi faktur pajak secara lengkap sesuai dengan ketentuan pasal 13 ayat (5) UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang perubahan Ketiga atas UU Nomor 8 Tahun 19983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (UU PPN), selain Identitas pembeli, dalam hal penyerahan dilakukan oleh PKP pada umumnya, atau identitas pembeli serta nama dan tanda tangan, dalam hal penyerahan dilakukan oleh PKP pedagang eceran, tertulis pada pasal 14 ayat (4) UU KUP dengan denda 2% dari dasar pengenaan pajak.

PKP melaporkan faktur pajak tidak sesuai dengan masa penerbitan faktur pajak, tertulis pada pasal 4 ayat (4) UU KUP dengan denda 2% dari dasar pengenaan pajak.

Keberatan wajib pajak ditolak atau dikabulkan sebagaia sesuai dengan pasal 25 ayat (9) UU KUP dengan denda 50% dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan. Sanksi administrasi berupa denda 50% tersebut tidak dikenakan dalam hal wajib pajak mengajukan banding

Permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian, tertulis pada pasal 21 ayat (5d) UU KUP dengan denda 100% dari jumlah pajak berdasarkan putusan banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.

Setiap orang yang karena kealpaan tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT, tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan yang pertama kali sebagaimana dimaksud dalam pasal 13A UU KUP dan sanksi ini tertulis pada pasal 33 UU KUP yang didenda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibiayai atau dipidana kurungan paling sinkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 1 (satu) tahun.

Setiap orang dengan sengaja: o Tidak mendaftarkan diri untuk diberikan NPWP atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP, o Menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak NPWP atau Nomor Pengukuhan Kena Pajak (NPPKP), o Tidak menyampaikan SPT o Menyampaikan SPT dan atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap, o Menolak untuk dilakukan pemeriksaan o Memperlihatkan pembukuan, pencatatan atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar atau tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya, o Tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan di Indonesia, tidak memperlihatkan atau meminjam buku, catatan atau dokumen lain, o Tidak menyimpan buku, catatan atau dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau diselenggarakan secara program aplikasi online di Indonesia o Tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut, sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, Tertulis pada pasal 39 ayat (1) dan ayat (2) UU KUP dan didenda paling sedikit dua kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar, dan dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 6 tahun. Pidana di atas ditambahkan satu kali menjadi dua kali sanksi pidana apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat satu tahun, terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan.

Setiap orang yang: o Melakukan pencobaan menyalah gunakan tanpa hak NPWP atau pengukuhan PKP atau

o Menyampaikan SPT dan atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap dalam rangka mengajukan permohonan restitusi atau melakukan kompensasi pajak atau pengkreditan pajak Tertulis pada pasal 39 ayat (3) UU KUP dan didenda paling sedikit dua kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan atau kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan , paling banyak 4 kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan atau kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan, dan dipidana penjara paling singkat 6bulan dan paling lama dua tahun. Setiap orang dengan sengaja menerbitkan dan atau menggunakan faktur pajak, bukti pemungutan pajak, bukti emotongan pajak dan atau bukti setoran pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya atau menerbitkan faktur pajak tetapi belum dikukuhkan sebagai PKP, tertulis pada pasal 39A UU KUP dan didenda paling sedikit dua kali jumlah pajak dalam faktur pajak, bukti pemungutan pajak, bukti pemotongan pajak, dan atau bukti setoran pajak dan paling banyak 6 kali jumlah pajak dalam faktur pajak, bukti pemungutan pajak, bukti pemotongan pajak, dan atau bukti setoran pajak, serta dipidana dengan pidana penjara paling singkat dua tahun dan paling lama 6 tahun, Bank, akuntan publik, notaris, konsultan pajak, kantor administrasi dan atau pihak ketiga lainnya yang mempunyai hubungan dengan WP yang sedang diperiksa, ditagih pajaknya dan disidik karena adanya tindak pidana perpajakan-dengan sengaja tidak memberi keterangan atau bukti, atau memberikan keterangan atau bukti yang tidak benar, tertulis dalam pasal 41a UU KUP dan didenda paling banyak Rp 25.000.000 dan dipidana dengan pidana kurungan paling lama satu tahun. Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi atau mempersulit penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan, tertulis pada pasal 41B UU KUP dan didenda paling banyak Rp 75.000.000 dan pidana penjara paling lama tiga tahun. Setiap orang dalam instansi pemerintah, lembaga, asosiasi dan pihak lain yang dengan sengaja tidak memberikan data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan kepada Dirjen Pajak tertulis dalam pasal 41C ayat (1) UU KUP dan didenda paling banyak Rp 1.000.000.000 kurungan paling lama satu tahun. atau dipidana dengan pidana

Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan tidak terpenuhinya kewajiban pejabat dan pihak lain di instansi pemerintah, lembaga, asosiasi dan lainnya yang tertulis pada pasal 41C ayat (2) UU KUP dan didenda paling banyak Rp 800.000 atau pidana kurungan paling lama 10 bulan. Setiap orang yang dengan sengaja tidak memberikan data dan informasi yang diminta oleh Dirjen Pajak yang tertulis pada pasal 41C ayat (3) UU KUP dan didenda didenda paling banyak Rp 800.000 atau pidana kurungan paling lama 10 bulan. Setiap orang yang dengan sengaja menyalahgunakan data dan informasi perpajakan sehingga menimbulkan kerugian pada negara, tertulis pada pasal 41C ayat (4) UU KUP dan didenda didenda paling banyak Rp 500.000 atau pidana kurungan paling lama satu tahun. Wajib pajak yang sedang dilakukan tindakan penyidikan pajak namun kemudian emmilih untuk melunasi utang pajak yang tidak atau kurang dibayar atau yang tidak seharusnya dikembalikan, tertulis pada pasal 44B UU KUP dan didenda empat kali jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar atau yang tidak seharusnya dikembalikan. b. Sanksi Administrasi Berupa Bunga Sanksi administrasi berupa bunga dikenakan atas pelanggaran yang menyebabkan utang pajak menjadi lebih besar. Jumlah bunga dihitung berdasarkan persentase tertentu dari suatu jumlah, mulai dari saat bunga itu menjadi hak/kewajiban sampai dengan saat diterima dibayarkan. Sanksi administrasi berupa bunga, bentuk pengenaan bunga dan besarnya bunga sebagai berikut: WP membetulkan sendiri SPT pasal 8 ayat (2) UU KUP tahunan yang mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar dan tertulis pada pasal 8 ayat (2) UU KUP sebesar 2% per bulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar, dihitung sejak saat penyampaian SPT berakhir sampai dengan tanggal pembayaran dan bagian dari bulan dihitung penuh satu bulan WP membetulkan sendiri SPT Masa yang mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar pasal 8 ayat (2a) UU KUP sebesar 2% per bulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar, dihitung sejak jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh satu bulan.

Pembayaran atau penyetoran pasal 9 ayat (2a) UU KUP pajak berdasakan SPT Masa yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak tertulis pada pasal 9 ayat (2a) UU KUP 2% per bulan dihitung sejak jatuh tempo pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh satu bulan. Pembayaran atau penyetoran pajak berdasarkan SPT Tahunan yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo penyampaian SPT tahunan, yang tertulis pada pasal 9 ayat (2b) UU KUP sebesar 2% per bulan dihitung mulai dari berakhirnya batas waktu penyampaian SPT Tahunan sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh satu bulan. Dari hasil pemeriksaan atau keterangan lain, pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar tertulis pada pasal 13 ayat (2) UU KUP sebesar 2% per bulan dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar, paling lama 24 bulan, dihitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak atau tahun pajak sampai dengan diterbitkannya SKPKB. Apabila WP diterbitkan NPWP dan atau dikukuhkan PKP secara jabatan pada pasal pasal 13 ayat (2) UU KUP sebesar 2% per bulan dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar, paling lama 24 bulan, dihitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak atau tahun pajak sampai dengan diterbitkannya SKPKB. SKPKB yang diterbitkan setelah melewati jangka waktu 5 tahun, yang diterima oleh WP yang dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berdasar putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, tertulis pada pasal 13 ayat (5) UU KUP sebesar 48% dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar. Dari penelitian rutin PPh dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar dan SPT salah tulis/salah hitung sehingga terdapat kekurangan pembayaran pajak, tertulis pada pasal 14 ayat (3) UU KUP sebesar 2% selama-lamanya 24 bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak atau bagian tahun pajak atau tahun pajak sampai dengan diterbitkannya STP. Bagi PKP yang gagal berproduksi dan telah diberikan pengembalian Pajak Masukan seperti yang tertulis pada pasal 14 ayat (5) UU KUP sebesar 2% per bulan dari jumlah yang ditagih kembali, dihitung dari tanggal penerbitan Surat

Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak sampai dengan tanggal penerbitan STP, dan bagian dari bulan dihitung penuh satu bulan. c. Sanksi Administrasi berupa kenaikan Sanksi administrasi berupa kenaikan adalah sanksi yang paling ditakuti oleh wajib Pajak. Hal ini karena bila dikenakan sanksi tersebut, jumlah pajak yang harus dibayar bisa menjadi berlipat ganda. Sanksi berupa kenaikan pada dasarnya dihitung dengan angka persentase tertentu dari jumlah pajak yang tidak kurang dibayar. Berikut merupakan Sanksi Berupa Kenaikan, bentuk pengenaan kenaikan dan besarnya kenaikan: WP mengungkapkan ketidakbenaran pengisian SPT setelah jangka waktu pembetulan SPT berakhir dan belum pernah diterbitkan surat ketetapan pajak, yang mengakibatkan pajak kurang bayar dan tertulis pada pasal 8 ayat (5) UU KUP sebesar 50% dari pajak yang kurang dibayar. SPT tidak disampaikan sesuai jangka waktu penyampaiannya dan setelah ditegur secara tertulis SPT tetap tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran tertulis pada pasal 13 ayat (1) huruf b UU KUP sebesar 50% dari PPh yang tidak atau kurang dibayar dalam satu tahun pajak dan 100% dari PPh yang tidak atau kurang dipotong, tidak atau kurang dipungut tidak atau kurang disetor dan dipotong atau dipungut tetapi tidak atau kurang disetor. Berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain mengenai PPN dan PPn BM, ternyata tidak seharusnya dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya dikenai tarif 0% seperti yang tertulis pada pasal 13 ayat (1) huruf c UU KUP sebesar 100% dari PPN atas barang dan jasa dan Ph BM yang tidak atau kurang dibayar. Apabila wajib pajak tidak melakukan pembukuan atau ketika diperiksa wajib pajak tidak memperlihatkan dan atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya, dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas WP atau objek yang terutang pajak, memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruang yang dipandang perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan dan atau memberikan keterangan lain yang diperlukan, sehingga tidak dapat diketahu besarnya yang terutang, tertulis pada pasal 13 ayat (3) UU

KUP sebesar 50% dari PPh yang tidak atau kurang dibayar dalam satu tahun pajak dan 100% dari PPh yang tidak atau kurang dipotong, tidak atau kurang dipungut tidak atau kurang disetor dan dipotong atau dipungut tetapi tidak atau kurang disetor. WP yang jarena keadaannya tidak menyampaikan SPT atau emnyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar, sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. Kealpaan yang dilakukan ini adalah keaplaan yang pertama kali dlakukan oleh WP, tertulis pada pasal 13A UU KUP dikenai sanksi sebesar 200% dari jumlah pajak yang kurang dibayar yang ditetapkan melalui penerbitan SKPKB. Diterbitkan SKPKBT, karena ditemukan data baru dan atau data yang semula belum terungkap tertulis pada pasal 15 ayat (2) UU KUP sebesar 100% dari jumlah kekurangan pajak. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap WP dengan kriteria tertentu telah mendapat pengembalian pendahuluan kelebihan pajak, diterbitkan SKPKB tertulis pada pasal 17C ayat (5) UU KUP sebesar 100% dari jumlah kekurangan pajak. 2. Sanksi Pidana Pengenaan sanksi pidana dilakukan pada tindakan yang menyangkut tindak pidana di bidang perpajakan, baik yang dilakukan oleh wajib pajak maupun oleh pejabat pajak. Di bidang perpajakan, tindak pelanggaran disebut dengan kealpaan, yaitu tidak sengaja, lalai, tidak hati-hati, atau kurang mengindahkan kewajiban pajak sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. Sedangkan tindak kejahatan adalah tindakan dengan sengaja tidak mengindahkan kewajiban pajak sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. Meski dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, tindak pidana di bidang perpajakan tidak dapat dituntut setelah jangka waktu 10 tahun sejak saat terutangnya pajak, berakhirnya masa pajak, berakhirnya bagian tahun pajak, atau berakhirnya tahun pajak yang bersangkutan. Penetapan jangka waktu 10 (sepuluh) tahun ini disesuaikan dengan daluarsa penyimpanan dokumen-dokumen perpajakan yang dijadikan dasar penghitungan jumlah pajak yang terutang, yaitu selama 10 (sepuluh) tahun.

Sanksi pidana diatur dalam UU no 16 tahun 2009 bab VIII pasal 38 sampai dengan 43A. V. Restitusi Pajak Pengembalian kelebihan pembayaran pajak (restitusi) terjadi apabila jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang atau telah dilakukan pembayaran pajak yang tidak seharusnya terutang, dengan catatan WP tidak punya hutang pajak lain. 5.1. Tata Cara Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak : Wajib Pajak (WP) dapat mengajukan permohonan restitusi ke Direktur Jenderal Pajak melalui Kantor Pelayanan Pajak (KPP) setempat. Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan, menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) dalam hal: 1. Untuk PPh, jika jumlah Kredit Pajak lebih besar dari jumlah pajak yang terutang atau telah dilakukan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang; 2. Untuk PPN, jika jumlah Kredit Pajak lebih besar dari jumlah pajak yang terutang atau telah dilakukan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang. Apabila terdapat pajak terutang yang dipungut oleh Pemungut PPN , maka jumlah pajak yang terutang adalah jumlah pajak Keluaran setelah dikurangi Pajak yang dipungut oleh Pemungut PPN tersebut; 3. Untuk PPnBM, jika Pajak yang dibayar lebih besar dari jumlah pajak yang terutang, atau telah dilakukan pembayaran pajak yang tidak seharusnya terutang. SKPLB diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak paling lambat 12 (dua belas) bulan sejak surat permohonan diterima secara lengkap, kecuali untuk kegiatan tertentu ditetapkan lain dengan keputusan Direktur Jenderal Pajak. Apabila dalam jangka waktu 12 bulan sejak permohonan restitusi, Direktur Jenderal Pajak tidak memberikan keputusan, maka permohonan dianggap dikabulkan, dan SKPLB diterbitkan dalam waktu paling lambat 1 (satu) bulan setelah jangka waktu berakhir. 5.2. Pengembalian Pendahuluan Wajib pajak dengan kriteria tertentu dapat mengajukan restitusi dan Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak. Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak adalah surat

keputusan yang menentukan jumlah pengembalian pendahuluan kelebihan pajak untuk Wajib Pajak tertentu. Wajib Pajak dengan kriteria tertentu adalah WP yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak dengan syarat: 1. SPT disampaikan tepat waktu dalam 2 (dua) tahun terakhir. 2. Dalam tahun terakhir penyampaian SPT Masa yang terlambat tidak lebih dari 3 (tiga) masa pajak untuk setiap jenis pajak dan tidak berturut-turut. Untuk SPT Masa yang terlambat tersebut harus telah disampaikan tidak lewat dari batas waktu penyampaian SPT Masa masa pajak berikutnya; 3. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak kecuali telah memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak dan tidak termasuk tunggakan pajak sehubungan dengan STP yang diterbitkan untuk 2 (dua) masa pajak terakhir. 4. Tidak pernah dijatuhi hukuman tindak pidana di bidang perpajakan dalam jangka waktu 10 tahun terakhir. 5. Laporan Keuangan diaudit oleh akuntan publik atau BPKP dengan: a. pendapat Wajar Tanpa Pengecualian atau pendapat Wajar Dengan Pengecualian, sepanjang pengecualian tersebut tidak mempengaruhi laba rugi fiskal; b. laporan audit disusun dalam bentuk panjang (long form report) dan menyajikan rekonsiliasi laba rugi komersial dan fiskal.

Wajib Pajak yang laporan keuangannya tidak diaudit akuntan publik, juga dapat mengajukan permohonan untuk ditetapkan sebagai wajib Pajak kriteria tertentu paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum tahun buku berakhir dengan syarat memenuhi kriteria pada angka 3 huruf a, b, dan c, d (diatas) ditambah dengan syarat : 1. dalam 2 (dua) tahun pajak terakhir menyelenggarakan pembukuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 UU tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan; 2. Apabila dalam 2 (dua) tahun terakhir terhadap Wajib Pajak pernah dilakukan pemeriksaan pajak, maka koreksi fiskal untuk setiap jenis pajak yang terutang tidak lebih dari 10% (sepuluh persen).

Kepala Kantor Wilayah DJP atas nama Direktur Jenderal Pajak menetapkan Wajib Pajak yang memenuhi kiteria tertentu setiap bulan Januari dan berlaku untuk jangka waktu 2 (dua) tahun. Wajib Pajak yang penghitungan jumlah peredaran usahanya mudah diketahui karena berkaitan dengan pengenaan cukai sepanjang memenuhi persyaratan WP kriteria tertentu, dapat diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran PPN. Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak diterbitkan paling lambat 3 (tiga) bulan untuk PPh dan 1 (satu) bulan untuk PPN, sejak permohonan diterima lengkap Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan pemeriksaan dan menerbitkan surat ketetapan pajak berupa SKPKB atau SKPLB atau SKPN dalam jangka waktu 10 tahun, terhadap WP yang telah memperoleh pengembalian pendahuluan kelebihan pajak. SKPKB yang diterbitkan ditambah dengan sanksi administrasi kenaikan 100% dari jumlah kekurangan pembayaran pajak.

VI.

Tata cara keberatan Keberatan merupakan suatu cara yang dilakukan oleh wajib pajak kepada direktorat jenderal pajak apabila merasa kurang/tidak puas atas suatu ketetapan pajak yang dikenakan kepadanya atau atas pemotongan/pemungutan oleh pihak ketiga. Berdasarkan UU no 16 tahun 2009 pasal 25, wajib pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada direktur jenderal pajak atas suatu: 1. Surat ketetapan pajak kurang bayar 2. Surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan 3. Surat ketetapan pajak nihil 4. Surat ketetapan pajak lebih bayar 5. Pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak ketiga berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Tata cara pengajuan keberatan diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia no 9/PMK.03/2013.

6.1.

Syarat pengajuan keberatan Pengajuan keberatan untuk tahun pajak 2008 dan sesudahnya harus memenuhi persyaratan: 1. Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia

2. Mengemukakan jumlah pajak yang terutang atau jumlah pajak yang dipotong atau dipungut atau jumlah rugi menurut perhitungan wajib pajak dengan disertai alasan-alasan yang menjadi dasar perhitungan 3. 1 keberatan diajukan hanya untuk 1 surat ketetapan pajak, untuk 1 pemotongan pajak, atau untuk 1 pemungutan pajak 4. Wajib pajak telah melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui wajib pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan atau pembahasan akhir hasil verifikasi sebelum surat keberatan disampaikan 5. Diajukan dalam jangka waktu 3 bulan sejak tanggal: a. Surat ketetapan pajak dikirim b. Pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak ketiga Kecuali wajib pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu tersebut tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaan wajib pajak seperti bencana alam, kebakaran, huru hara, diterbitkan surat keputusan pembetulan, atau keadaan lain berdasarkan pertimbangan Dirjen Pajak. 6. Surat keberatan ditandatangani oleh wajib pajak dan dalam hal surat keberatan ditandatangani oleh bukan wajib pajak, surat keberatan tersebut harus dilampiri dengan surat kuasa khusus sebagaimana dimaksud dalam pasal 32 ayat 3 UU no 16 tahun 2009. 7. Wajib pajak tidak mengajukan permohonan sebagaimana dimaksud dalam pasal 36 UU no 16 tahun 2009 Surat keberatan yang telah memenuhi persyaratan disampaikan ke KPP tempat wajib pajak terdaftar dan/atau tempat PKP dikukuhkan yang dapat dilakukan secara langsung, mealui pos, atau cara lain yaitu melalui perusahaan jasa ekspedisi atau efilling. 6.2. Kewenangan Direktur Jenderal Pajak dalam penyelesaian keberatan Dalam proses penyelesaian keberatan, Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk: 1. Meminjam buku, catatan, data, dan informasi terkait dengan materi yang disengketakan 2. Meminta keterangan terkait dari wajib pajak dan/atau pihak ketiga yang mempunyai hubungan dengan wajib pajak 3. Meninjau tempat wajib pajak 4. Melakukan pembahasan dan klarifikasi atas hal-hal yang diperlukan

5. Melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan data yang objektif untuk dasar pertimbangan.

6.3.

Putusan penyelesaian keberatan Keputusan atas keberatan yang diajukan dikeluarkan paling lama 12 bulan sejak tanggal surat keberatan diterima. Keputusan atas keberatan dapat berupa: 1. Mengabulkan seluruhnya 2. Mengabulkan sebagian 3. Menolak 4. Menambah besarnya jumlah pajak yang masih harus dibayar Hasil keputusan ini dituangkan dalam surat keputusan keberatan. Apabila jangka waktu 12 bulan terlewati dan Direktur jenderal pajak tidak memberi keputusan, maka keberatan yang diajukan dianggap dikabulkan.

VII.

Tata cara banding Banding atau Gugatan adalah upaya hukum berikutnya apabila keputusan keberatan, pengurangan dan/atau penghapusan sanksi administasi, serta pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak masih belum dapat diterima oleh Wajib Pajak. Upaya hukum banding atau gugatan memiliki lingkup yang spesifik dengan aturan tertentu guna memenuhi syarat formal dalam pengajuan banding atau gugatan tersebut. Tata cara banding diatur dalam pasal 35 sampai dengan 39 UU no 14 tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak.

7.1.

Syarat pengajuan banding Dalam mengajukan surat banding harus memenuhi persayaratan berikut: 1. Ditulis dalam bahasa Indonesia 2. Diajukan dalam jangka waktu 3 bulan sejak tanggal diterima keputusan yang dibanding, kecuali diatur lain dalam perundang-undangan perpajakan 3. Banding diajukan dengan disertai alas an yang jelas dan dicantumkan tanggal terima surat keputusan yang dibanding 4. Pada surat banding, dilampirkan salinan keputusan yang dibanding 5. Banding hanya dapat diajukan apabila besarnya jumlah pajak yang terutang telah dibayar sebesar 50% dengan melampirkan SSP atau Pemindah Bukuan. Surat banding diajukan kepada pengadilan pajak dan paling lambat 14 hari sebelum persidangan dimulai, pemohon banding mendapat pemberitahuan siding.

7.2.

Pemohon banding Banding dapat diajukan oleh wajib pajak, ahli warisnya, seorang pengurus, atau kuasa hukumnya. Apabila selama proses banding pemohon banding meninggal dunia, banding dapat dilanjutkan oleh ahli warisnya, kuasa hukum dari ahli warisnya, atau pengampunya dalam hal pemohon banding pailit. Apabila selama proses banding pemohon banding melakukan penggabungan, peleburan, pemecahan/pemekaran usaha, atau likuidasi, permohonan banding dapat dilanjutkan oleh pihak yang menerima pertanggungjawaban karena penggabungan, peleburan,

pemecahan/pemekaran usaha, atau likuidasi.

VIII.

Pengadilan pajak Pengadilan pajak adalah badan peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi wajib pajak atau penanggung pajak yang mencari keadilan terhadap sengketa pajak (UU no 14 tahun 2002 pasal 2).

8.1.

Kedudukan pengadilan pajak Pengadilan pajak berkedudukan di ibukota negara (UU no 14 tahun 2002 pasal 3).

8.2.

Pembinaan pengadilan pajak Pembinaan teknis peradilan bagi pengadilan pajak dilakukan oleh Mahkamah Agung sedangkan pembinaan organisasi, administrasi, dan keuangan bagi pengadilan pajak dilakukan oleh Departemen Keuangan (UU no 14 tahun 2002 pasal 5).

8.3.

Susunan pengadilan pajak Berdasar UU no 14 tahun 2002 pasal 6, susunan pengadilan pajak terdiri dari: 1. Pimpinan (1 orang ketua dan paling banyak 5 orang wakil ketua) 2. Hakim anggota 3. Sekretaris 4. Panitera Pengadilan pajak mempunyai tugas dan wewenang memeriksa dan memutus sengketa pajak (UU no 14 tahun 2002 pasal 31). Pengadilan pajak merupakan pengadilan tingkat pertama dan terakhir dalam memeriksa dan memutus sengketa pajak (UU no 14 tahun 2002 pasal 33).

8.4.

Putusan pengadilan pajak Putusan pengadilan pajak merupakan putusan akhir dan mempunyai kekuatan hukum tetap (UU no 14 tahun 2002 pasal 77). Berdasarkan UU no 14 tahun 2002 pasal 80, putusan pengadilan dapat berupa:

1. Menolak 2. Mengabulkan sebagian atau seluruhnya 3. Menambah pajak yang harus dibayar 4. Tidak dapat menerima 5. Membetulkan kesalahan tulis dan/atau kesalahan hitung 6. Membatalkan Terhadap putusan ini tidak dapat lagi diajukan gugatan, banding, atau kasasi. Putusan pengadilan pajak harus memuat hal-hal yang ada dalam pasal 84 ayat 1 UU no 14 tahun 2002, jika tidak maka putusan dimaksud tidak sah dan diadakan persidangan kembali dengan acara cepat kecuali putusan dimaksud telah melampaui jangka waktu 1 tahun. Putusan pengadilan pajak diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum (UU no 14 tahun 2002 pasal 83) dan dapat langsung dilaksanakan dengan tidak memerlukan lagi keputusan pejabat yang berwenang kecuali peraturan perundang-undangan mengatur lain (UU no 14 tahun 2002 pasal 86).

IX.

Peninjauan kembali pajak Berdasarkan UU no 14 tahun 2002 pasal 91, peninjauan kembali pajak dilakukan apabila: 1. putusan Pengadilan Pajak didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu muslihat pihak lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus atau didasarkan pada bukti-bukti yang kemudian oleh hakim pidana dinyatakan palsu 2. terdapat bukti tertulis baru yang penting dan bersifat menentukan, yang apabila diketahui pada tahap persidangan di pengadilan Pajak akan menghasilkan putusan yang berbeda; 3. telah dikabulkan suatu hal yang tidak, dituntut atau lebih dari pada yang dituntut, kecuali yang diputus berupa mengabulkan sebagian atau seluruhnya atau menambah Pajak yang harus dibayar; 4. mengenai suatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan sebabsebabnya; 5. terdapat suatu putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku Permohonan peninjauan kembali hanya dapat diajukan 1 kali kepada Mahkamah Agung melalui pengadilan pajak (UU no 14 tahun 2002 pasal 89) dan dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 3 bulan terhitung sejak diketahuinya/ditemukan

alasan-alasan pengajuan permohonan peninjauan kembali (UU no 14 tahun 2002 pasal 92). Berdasar UU no 14 tahun 2002 pasal 93, mahkamah agung memeriksa dan memutus permohonan peninjauan kembali dengan ketentuan: 1. dalam jangka waktu 6 bulan sejak permohonan peninjauan kembali diterima oleh Mahkamah agung dalam hal pengadilan pajak mengambil putusan melalui pemeriksaan acara biasa 2. dalam jangka waktu 1 bulan sejak permohonan peninjauan kembali diterima oleh mahkamah agung dalam hal pengadilan pajak mengambil putusan melalui acara cepat. Putusan permohonan peninjauan kembali ini harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.

KASUS SENGKETA PAJAK, KEBERATAN, DAN BANDING

PT Asian Agri Group (AAG) adalah salah satu induk usaha terbesar kedua di Grup Raja Garuda Mas, perusahaan milik Sukanto Tanoto. Di Asia, PT AAG merupakan salah satu penghasil minyak sawit mentah terbesar, yaitu memiliki 19 pabrik yang menghasilkan 1 juta ton minyak sawit mentah selain tiga pabrik minyak goreng. Terdapat kasus pengecilan laba perusahaan dalam negeri agar terhindar dari beban pajak yang semestinya dengan cara mengalirkan labanya ke luar negeri (Mauritius, Hongkong Macao, dan British Virgin Island), yang terindikasi adanya money loundering.

Investigasi wartawan Tempo memperlihatkan adanya transaksi mencurigakan melalui perbankan untuk mengalirkan uang hasil penggelapan pajak dan penggelapan pajak Asian Agri Group ke afiliasinya di luar negeri yang ternyata adalah perusahaan fiktif, misalnya Twin Bonus Edible Oil and Fat, yang setelah dilakukan pengecekan rupanya menggunakan alamat pabrik payung yang berkedudukan hukum di Hongkong. Transaksi keuangan yang tidak beres dan adanya transaksi ke perusahaan fiktif merupakan bukti permulaan yang bisa digunakan untuk memperkuat dugaan tindak pidana pencucian uang dan penggelapan pajak. Penyidikan selanjutnya dilakukan dengan menyelusuri tiga tahapan dalam kejahatan pencucian uang, yaitu : 1. Menggelembungkan biaya perusahaan hingga Rp 1,5 triliun. 2. Meningkatkan kerugian transaksi ekspor Rp 232 miliar. 3. Memperkecil hasil penjualan Rp 889 miliar.

Melalui ketiga modus ini, Asian Agri diduga telah menggelapkan pajak penghasilan untuk badan usaha senilai total Rp 2,6 triliun. Perhitungan SPT Asian Agri yang digelapkan berasal dari SPT periode 2002-2005. Hitungan terakhir menyebutkan penggelapan pajak itu diduga berpotensi merugikan keuangan negara hingga Rp 1,5 triliun.

Pada 13 November 2006, Polda Metro Jaya menerima laporan atas kasus pembobolan dana PT AAG di Bank Fortis Singapura senilai US$ 3,1 juta oleh Vincentius Amin Sutanto (VAS) yang menjabat sebagai group financial controller di PT AAG. Pada tanggal 1 Desember 2006 VAS sengaja datang ke KPK untuk membeberkan permasalahan keuangan PT AAG yang dilengkapi dengan sejumlah dokumen keuangan dan data digital.

Salah satu dokumen tersebut adalah dokumen yang berjudul AAA-Cross Border Tax Planning (Under Pricing of Export Sales), disusun pada sekitar 2002. Dokumen ini memuat semua persiapan transfer pricing PT AAG secara terperinci. Modusnya dilakukan dengan cara menjual produk minyak sawit mentah (Crude Palm Oil) keluaran PT AAG ke perusahaan afiliasi di luar negeri dengan harga di bawah harga pasar untuk kemudian dijual kembali ke pembeli riil dengan harga tinggi. Dengan begitu, beban pajak di dalam negeri bisa ditekan. Selain itu, rupanya perusahaan-perusahaan luar negeri yang menjadi rekanan PT AA sebagian adalah perusahaan fiktif.

Pengakuan VAS ini kemudian ditindaklanjuti oleh KPK dengan menyerahkan permasalahan tersebut ke Direktorat Pajak karena memang permasalahan PT AAG tersebut terkait erat dengan perpajakan. Menindaklanjuti hal tersebut, Direktur Jendral Pajak, Darmin Nasution, kemudian membentuk tim khusus yang terdiri atas pemeriksa, penyidik dan intelijen. Tim ini bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan Kejaksaan Agung. Tim khusus tersebut melakukan serangkaian penyelidikan.

Terdakwa kasus penggelapan pajak PT Asian Agri, Suwir Laut (Tax Manager), mengajukan berkas pembelaannya (Pledoi) kepada majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dalam pleidoi setebal kurang lebih 50 halaman tersebut, Suwir Laut, melalui kuasa hukumnya mengatakan bahwa semua tuntutan yang diajukan terhadap dirinya tidaklah tepat. Sebelumnya, Suwir dituntut dengan hukuman penjara selama tiga tahun oleh Jaksa Penuntut Umum, karena telah terbukti bersalah melanggar pasal 39 ayat 1 huruf c UU No 16/2000 tentang Pajak. Tax manager, PT Asian Agri tersebut dituding telah melakukan manipulasi data ketika melakukan pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT).

Dalam nota pembelaan yang dibacakan oleh tim kuasa hukumnya dikatakan, bahwa laporan pajak yang tertuang dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) tersebut, sudah diisi dengan benar, karena diisi berdasarkan Laporan Keuangan perusahaan yang telah diaudit dengan opini wajar tanpa pengecualian.

Pernyataan ini merupakan bantahan atas tudingan Jaksa Penuntut Umum, yang menuduhnya telah menyusun SPT tidak benar atau tidak lengkap untuk tahun pajak 2002 hingga 2005. Kuasa hukum Suwir Laut juga menganggap tuduhan jaksa tersebut tidak beralasan. Karena jaksa memeriksa laporan pajak PT Asia Agri hanya berdasarkan laporan BPKP.

Suwir juga menyatakan tidak ada kekurangan perhitungan dalam penyusunan SPT PT Asian Agri. Karena nilai kewajiban pajak ke-14 perusahaan Asian Agri dalam SPT, sama dengan nilai kewajiban pajak dalam laporan keuangan yang telah diaudit. Kalaupun ada perbedaan hitung, itu karena adanya perbedaan kebijakan pengenaan differed charges (biaya yang ditangguhkan).

Biaya ditangguhkan menurut prinsip akuntansi dapat dibagi, kemudian dibebankan pada setiap tahun berikutnya selama manfaatnya masih ada. Adapun kewajiban pajak dalam SPT sebesar Rp 1,13 triliun, sedangkan dalam laporan keuangan sebesar Rp 969,3 miliar.

Selain itu kubu Suwir juga menilai perkara ini seharusnya merupakan sengketa pajak biasa, yang dipaksakan menjadi perkara pidana. Sebab, sesuai dengan Undang-undang mengenai Ketentuan Umum Perpajakan (KUP), sistem perpajakan di Indonesia berdasarkan prinsip self assessment. Di mana pemerintah memberikan kepercayaan penuh kepada wajib pajak (WP) untuk menghitung dan membayar pajaknya.

Dalam kasus ini, PT Asian Agri telah dengan sengaja melakukan memperlihatkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar, atau tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya sehingga menimbulkan kerugian negara. Sesuai dengan UU no 16 tahun 2009 pasal 39 ayat 1, sanksi pidana bagi pelakunya adalah pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 6 thaun dan denda paling sedikit 2 kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. Ketentuan pada pasal 39 ini juga berlaku bagi wakil, kuasa, pegawai dari wajib pajak atau pihak lain yang menyuruh melakukan, yang turut serta melakukan, yang menganjurkan, atau yang membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan (pasal 43).

Atas pelanggaran yang dilakukannya, Asian Agri dan 14 anak usahanya diharuskan membayar denda Rp 2,5 triliun lebih atau senilai dua kali lipat dari pajak yang digelapkan. Denda tersebut harus dibayar tunai dalam waktu satu tahun. Kewenangan penagihan sanksi denda ada di tangan Kejaksaan Agung. Denda ini belum termasuk dengan utang kekurangan pajak sebesar Rp 1,959 triliun. Sehingga total yang ditagihkan pada PT Asian Agri sebesar Rp 4,4 triliun. Mahkamah Agung juga memvonis mantan manajer Pajak Asian Agri, Suwir

Laut, dengan hukuman dua tahun penjara, karena terbukti menggelapkan pajak selama empat tahun berturut-turut dari 2002 hingga 2005 senilai Rp 1,259 triliun.

Atas penetapan utang kekurangan pajak, PT Asian Agri mengaku keberatan meskipun besarnya penetapan pajak sudah diputuskan oleh Mahkamah Agung. Keberatan ini muncul karena pihak perusahaan merasa bahwa jumlah ini melebihi dari besarnya keuntungan yang mereka peroleh selama periode 2002-2005. Juli 2013, PT Asian Agri sudah membayar utang pajak 50% sebesar Rp 950 miliar dan sudah diijinkan untuk mengajukan keberatan serta banding, apabila keberatan yang diajukan ditolak, ke pengadilan pajak. Namun Direktur Jenderal Pajak, Fuad Rahmany, menyatakan bahwa keberatan yang diajukan oleh PT Asian Agri ini sudah pasti akan ditolak dan ia tetap optimis bahwa dapat memaksa PT Asian Agri untuk membayar utang pajaknya beserta denda yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pada 28 Agustus 2013, PT Asian Agri secara resmi telah mengajukan keberatan atas tagihan terutang pajak sebesar Rp 1,959 triliun. Dalam Ketentuan Umum Perpajakan disebutkan Ditjen Pajak diberikan waktu maksimal setahun sejak surat keberatan diterima. Bila tidak ditanggapi keberatan dianggap dikabulkan. Jika Ditjen Pajak menolak keberatan, PT Asian Agri tampaknya akan mengajukan banding ke pengadilan pajak termasuk peninjauan kembali. Dalam jeda waktu itu tagihan PT Asian Agri tidak dapat dikatakan terdapat potensi kerugian negara karena wajib pajak masih punya hak keberatan, dan Direktorat Jenderal Pajak masih punya hak untuk menagih.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.pajak.go.id/content/kenali-hak-dan-kewajiban-anda-jika-diperiksa-pajak http://www.pajak.go.id/content/seri-kup-utang-pajak-dan-penagihannya http://www.pajak.go.id/dmdocuments/RESTITUSI.pdf Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia no 17/PMK.03/2013 tentang Tata Cara Pemeriksaan Pajak Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia no 9/PMK.03/2013 tentang Tata Cara Pengajuan Keberatan Pajak UU no 14 tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak UU no 16 tahun 2009 tentang Ketentuan Umum Perpajakan