Anda di halaman 1dari 25

TUGAS MIKROBIOLOGI

Disusun oleh :

1. Rizky Yulianto 12.26.001
2. Asmirantih Waissamolah 12.26.004
3. Rifky Fahli Hidayatullah 12.26.006
4. Taufiq Arafat 12.26.014
5. Taufiqurrahman 12.26.015
6. Zata Zulfatin 12.26.016
7. Mona Marthika Liani 12.26.018
8. Adrian Rizali Saputra 12.26.022
9. Rizki Ageng Fahrizal 12.26.023
10. Yuliyani F.Mochtar 10.26.001
11. Yoseph Sabon Roga 10.26.002
12. Mardan Ibadi 10.26.027
13. Maria F.Bia Nono 10.26.022




JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
MALANG
2013

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Manusia serta tata kehidupannya tidaklah lepas dari masalah air, serta
semua unsur lingkungannya. Pertumbuhan industri dan teknologi juga
menyebabkan semakin besarnya kebutuhan akan air bersih. Dalam konteks ini
penyediaan air bersih perlu disiapkan untuk keperluan kesejahteraan hidup
manusia. Dengan perkembangan peradaban serta semakin bertambahnya jumlah
penduduk di dunia, dengan sendirinya menambah aktifitas kehidupannya
diantaranya yang mana menambah pengotoran atau pencemaran air yang pada
hakekatnya adalah dibutuhkan. Ketika populasi manusia masih sedikit, air
buangan yang dihasilkan dari aktifitas manusia juga kecil, sehingga alam masih
mampu menerima buangan tersebut yang kemudian diuraikan secara alami
menjadi komponen-komponen tanah. Penguraian secara alami ini membutuhkan
waktu yang cukup lama sehingga tidak efektif bila digunakan untuk menguraikan
air buangan yang berjumlah besar.
Pencemaran yang ditimbulkan akibat air buangan tersebut jelas dapat
membahayakan kesehatan manusia karena merupakan faktor penyakit, selain itu,
dari segi ekonomi juga merugikan karena dapat menimbulkan kerusakan pada
bangunan dan tanaman. Air yang dihasilkan juga berbahaya bagi organisme lain
karena bersifat racun terhadap organisme tersebut. Limbah tersebut juga
menimbulkan bau yang tidak sedap dan merusak pemandangan dengan demikian
merugikan jika ditinjau dari segi estetika.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui proses pengolahan air limbah secara biologis
(Oxidation Pond).
2. Mengetahui Mekanisme atau proses kerja dari Oxidation Pond.
3. Mengetahui Bangunan penunjang dalam pengolahan air limbah secara
biologis

1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses pengolahan secara biologis dengan Oxidation Pond
2. Bangunan penunjang apa saja yang mendukung proses pengolahan air
limbah.

























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori
Air buangan atau sering juga disebut air limbah adalah semua cairan yang
dibuang baik yang mengandung kotoran manusia, hewan, bekas tumbuh-tumbuhan maupun
yangmengandung sisa-sisa proses industri.Limbah adalah buangan tidak
diinginkan karena tidak menghasilkan nilai ekonomisyang dihasilkan dari suatu
proses produksi baik itu industri maupun dari rumah tangga.Atau dalam kata lain, air
limbah merupakan seluruh buangan cair yang berasal dari proses seluruh kegiatan yang
meliputi limbah domestic cair yakni buangan kamar mandi,dapur, air bekas
pencucian pakaian, limbah perkantoran, serta limbah industry. (http.www.scribd.com)







Gambar 2.1. Skema Komposisi Air Buangan
( Sumber : TNY . Tebbot . Principles of Water Quality Control . 1970 )




Padat 0,1% Cair 99,9%
An organik organik
lemak karbohidrat protein Bahan
butiran
garam logam
Air limbah
2.2 Karakteristik Air Buangan
Kerakteristik air buangan secara umum dapat ditinjau dari segi :
1. Secara Kimia
Kandungan zat kimia organik yang didapat dari penguraian tinja, sampah
dan zat kimia yang berupa logam berat.
2. Secara Fisik
Air buangan 99,9% berupa air yang sisanya padatan tersuspensi yang
menimbulkan bau, warna keruh dan jarang terdapat padatan lain.
3. Secara Biologis
Kandungan berbagai mikroorganisme sangat tinggi terutama
mikroorganisme pathogen dan air merupakan media yang bagus bagi
pengembangbiakan mikroorganisme.
Banyak sekali dampak negatif yang dapat ditimbulkan apabila air buangan
tidak diolah dengan baik, antara lain :
- Gangguan estetika atau keindahan
- Bau yang tidak sedap
- Mencemari air tanah dan permukaan
- Sebagai media berkembangnya mikroorganisme yang bersifat pathogen
- Kekeruhan
- pH
- Kandungan logam berat
- Kandungan zat organik
- COD ( Chemical Oxygen Demand )
- BOD ( Biological Oxygen Demand )
- TOD ( Total Oxygen Demand )
Adapun standar yang digunakan sangat tergantung dari lokasi dan regulasi
setempat. Untuk Jawa Timur ada beberapa Regulasi yang digunakan, diantaranya:
Undang-undang No.23 tahun 1992 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
Undang-undang No.20 tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air
Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur No. 154 tentang Baku Mutu Air
Limbah
Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur No. 28 tahun 2000 dan No. 5 tahun
2000 tentang Pengendalian Pencemaran Air.

2.3 Jenis- Jenis Air Buangan
Air buangan dapat dibedakan atas ( SNI,2000) :
1. Air kotor
Air buangan yang berasal dari kloset, peturasan, bidet dan air
buanganmengandung kotoran manusia yang berasal dari alat plambing
lainnya.
2. Air bekas
Air buangan yang berasal dari alat-alat plambing lainnya, seperti: bak mandi(bath tub),
bak cuci tangan, bak dapur, dan lain-lain.
3. Air hujan
Air hujan yang jatuh pada atap bangunan.
4. Air buangan khusus
Air buangan ini mengandung gas, racun atau bahan-bahan berbahaya,
seperti:yang berasal dari pabrik, air buangan dari laboratorium, tempat
pengobatan.
2.4 Teknologi Pengolahan Air Limbah
2.4 Pengolahan Air Buangan
Pengolahan air buangan bertujuan mengolah air buangan dengan sebaik
mungkim agar didapat effluent atau air hasil olahan dengan mutu yang memenuhi
standart air bersih.. Terdapat beberapa macam cara pengolahan yang dapat
dilakukan, pada umumnya alternatif yang digunakan adalah :
2.4.1. Pengolahan Primer (Pengolahan Pendahuluan)
Pengolahan primer meliputi:
Penyaringan kasar :
Bangunan ini melakukan penyaringan terhadap benda-benda kasar (plastik,
logam, kayu, daun-daun, dan lainnya) yang tercampur dalam air limbah yang
akan diolah.

Penangkap pasir
Pasir yang terbawa oleh air limbah akan menghadap pada dasar bangunan
penangkap pasir ini.
Pengendapan I
Butiran halus dan partikel kasar dari lumpur yang terlarut dalam air limbah
akan diendapkan pada bangunan pengendapan ini. Diharapkan air limbah yang
keluar dari bangunan pengendapan ini sudah tidak mengandung benda-benda
kasar, pasir kasar dan pasir halus (butir halus).
2.4.2 Pengolahan Sekunder
Pengolahan sekunder meliputi :
Pembentukan partikel lumpur
Pada bangunan pengolahan pembentuk lumpur ini ada dua tangki pengolahan
yang terdiri dari :
Tangki Aerasi
Pada tangki ini, partikel-partikel halus lumpur dan melayang-layang pada
air limbah yang tidak dapat ditahan (diproses) pada pengolahan primer.
Partikel-partikel ini akan diusahakan untuk dapat membentuk partikel
lumpur yang lebih besar melalui bantuan mikroorganisme yang
pertumbuhannya dipacu dengan aerasi. Selain itu dengan melakukan
aerasi pada air limbah diharapkan terjadi pengikatan oleh oksigen terhadap
unsur maupun senyawa yang terdapat pada air limbah.
Partikel-partikel yang terbentuk secara aktif kemudian dialirkan menuju tangki
pengendapan.
Pengendapan II (Secondary Clarifier)
Secondary Clarifier untuk memisahkan Lumpur aktif dari trickling filter pada
air limbah. Dapat berbentuk persegi panjang atau lingkaran, ini merupakan
langkah terakhir untuk menghasilkan effluent yang stabil dengan konsentrasi
BOD rendah dan suspended solid yang rendah pula.


2.4.3 Pengolahan Lanjutan
Hasil pengolahan primer dan pengolahan sekunder adalah lumpur
dan air yang keduanya dapat diproses lebih lanjut sehingga bisa bermanfaat.
Air yang telah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) merupakan air
baku yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan irigasi, air minum, industri dan
sebagainya. Sedangkan lumpurnya yang telah terpisah dari air limbahnya akan
diproses pada Tangki Pembusuk Lumpur (tangki Imhoff) sehingga dapat
mengalami dekomposisi. Hasil dari tangki Imhoff ini adalah : lumpur yang dapat
dijadikan sebagai pupuk dan gas yang dapat digunakan sebagai bakar.





















BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pengolahan Biologis
Pengolahan (treatment) air limbah dengan mendayagunakan
mikroorganisme untuk mendekomposisi bahan-bahan organik yang terkandung
dalam air limbah menjadi bahan yang kurang menimbulkan potensi bahaya
(misalnya keracunan, kematian biotik akibat penurunan DO, maupun kerusakan
ekosistem). Pengolahan secara biologi seringkali merupakan pengolahan tahap
kedua (secondary treatment) dalam sebuah IPAL. (Wikipedia.com)
Pengolahan air buangan secara biologis adalah salah satu cara pengolahan
yang diarahkan untuk menurunkan atau menyisihkan substrat tertentu yang
terkandung dalam air buangan dengan memafaatkan aktivitas mikroorganisme
untuk melakukan perombakan substrat tersebut. Proses pengolahan air buangan
secara biologis dapat berlangsung dalam tiga lingkungan utama, yaitu :
Lingkungan aerob, yaitu lingkungan dimana oksigen terlarut (DO)
didalam air cukup banyak, sehingga oksigen bukan merupakan faktor
pembatas;
Lingkungan anoksik, yaotu lingkungan dimana oksigen terlarut (DO)
didalam air ada dalam konsentrasi yang rendah.
Lingkungan anaerob, merupakan kebalikan dari lingkungan aerob, yaitu
tidak terdapat oksigen terlarut, sehingga oksigen menjadi faktor pembatas
berlangsungnya proses metabolisme aerob.
Berdasarkan pada kondisi pertumbuhan mikroorganisme yang
bertanggung jawab pada proses penguraian yang terjadi, reaktor dapat
dibedakanmenjadi 2 bagian, yaitu :
+ Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reactor), yaitu
reaktor dimana mikroorganisme yang berperan pada prosses biologis
tumbuh dan berkembang biak dalam keadaan tersuspensi.
+ Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reactor), yaitu reaktor
dimana mikroorganisme yang berperan pada proses penguraian substrat
tumbuh dan berkembang biak dalam keadaan yang tersuspensi.
Faktor faktor yang mempengaruhi mekanisme proses biologi secara
anaerob diantaranya ialah, Temperatur, pH (Keasaman), Waktu Tinggal,
Komposisi Kimia Air Limbah, Kompetisi Metanogen dan Bakteri Pemakan
Sulfat, Serta Zat Toksik, namun yang akan dijelaskan disini hanya faktor faktor
yang berhubungan dengan materi yang akan kita bahas yaitu mengenai proses
penyesuaian pH, Pelepasan senyawa penghambat dan suplmentasi nutrien ialah
sebagai berikut :
a. Keasaman (pH)
Kebanyakan pertumbuhan bakteri metanogenik berada pada kisaran pH
antara 6,7 7,4, tetapi optimalnya pada kisaran pH antara7,0 -7,2 dan proses
dapat gagal jika pH mendekati 6,0. Bakteri acidogenik mengahasilkan asam
organik, yang cenderung menurunkan pH bioreaktor. Pada kondisi normal,
penurunan pH ditahan oleh bikarbonat yang dihasilkan oleh bakteri metanogen.
Dibawah kondisi lingkungan yang berlawanan kapasitas buffering dari sistem
dapat terganggu, dan bahkan produksi metan dapat terhenti. Salah satu metode
untuk memperbaikikeseimbangan pH adalah dengan meningkatkan alkaliniti
dengan menambah bahan kimia seperti lime (kapur), anhydrous ammonia, sodium
hidroksida , atau sodium bikarbonat.
b. Zat Toksik
Zat toksik kadang kadang dapat menyebabkan kegagalan pada proses
penguraian limbah dalam proses anaerobik. Terhambatnya pertumbuhan bakteri
metanogen pada umumnya ditandaidengan penurunan produksi metan dan
meningkatnya konsentrasi asam asam volatil. Berikut ini adalah beberapa zat
toksik yang dapat menvghambat pembentukan metan, yaitu :
- Oksigen
- Amonia
- Hidrokarbon terklorinasi
- Senyawa Benzen
- Formaldehid
- Asam volatil
- Asam lemak rantai panjang
- Logam Berat
- Sianida
- Sulfida
- Tanin
- Salinitas
- Dan Efek Balik( Feedback Inhibition )

3.2 Proses Pengolahan Limbah Secara Biologis
Pengolahan air limbah secara biologi merupakan pengolahan air limbah
dengan memanfaatkan mikroorganisme. Mikroorganisme ini dimanfaatkan untuk
menguraikan bahan-bahan organic yang terkandung dalam air limbah menjadi
bahan yang lebih sederhana dan tidak berbahaya. Pemakaian mikroorganisme
disebabkan karena mikroorganisme memiliki enzim, enzim inilah yang berfungsi
untuk menguraikan bahan organic tersebut. Jenis mikroorganisme yang umum
dipergunakan dalam pengolahan air limbah adalah BAKTERI.
Kehidupan mikroorganisme sangat dipengaruhi oleh lingkungannya, sehingga
dalam pengolahan air limbah secara biologi harus memperhatikan lingkungan
mikroorganisme yaitu : derajat keasaman (pH), temperature, bahan makanan
(nutrient) dan kebutuhan oksigen.
Berdasarkan kebutuhan oksigen, pengolahan air limbah secara biologi dapat
dibedakan menjadi 3 (tiga) proses yaitu :
Pengolahan air limbah secara biologi aerob, yaitu pengolahan air limbah
dengan mikroorganisme disertai dengan injeksi oksigen (udara) kedalam
proses. Pada proses ini jenis mikroorganisme yang dipergunakan adalah
mikroorganisme yang hidup dengan adanya Oksigen Oksigen yang
diinjeksikan dimanfaatkan oleh kehidupan mikroorganisme dan proses
oksidasi.
Pengolahan air limbah secara biologi anaerob, yaitu pengolahan air
limbah dengan mikroorganismeTanpa injeksi oksigen (udara) kedalam
proses. Pada proses ini jenis mikroorganisme yang dipergunakan adalah
mikroorganisme yang dapat hidup tanpa adanya Oksigen.
Pengolahan air limbah secara biologi Fakultatif, yaitu pengolahan air
limbah dengan mikroorganismeTanpa injeksi oksigen (udara) secara
langsung kedalam proses. Pada proses ini terdapat dua jenis
mikroorganisme yang dipergunakan yaitu mikroorganisme aerob dan
anaerob. Pada proses ini, umumnya pada bagian atas kolam (tangki) akan
bersifat aerob sedangkan pada bagian bawah kolam akan bersifat anaerob.
Berdasarkan metode pertumbuhunan mikroorganisme, pengolahan air limbah
secara biologi dapat dibedakan menjadi 2 (dua) metode yaitu:
- Metode Pertumbuhan Tersuspensi. Pada metode ini mikroorganisme hidup
tersuspensi (tercampur secara merata) didalam air limbah. Pada metode ini
dibutuhkan clarifier yang berfungsi untuk memisahkan mikroorganisme
setelah proses, dan mikroorganisme yang terpisah sebagian besar
dipergunakan kembali (recycle) kedalam proses dan sebagian kecil
dibuang. Pembuangan mkroorganisme dilakukan untuk mengendalikan
jumlah mikroorganisme dalam proses sehingga jumlah mikroorganisme
dalam proses tidak berlebih maupun kurang karena hal ini akan
mempengaruhi kinerja pengolahan air limbah. Contoh Metode
Pertumbuhan Tersuspensi seperti pada gambar berikut :

Gambar 3.1 Pertumbuhan Tersuspensi
Pada gambar tersebut diatas, mikroorganisme tersuspensi dalam air limbah,
tersupensinya mikroorganisme dilakukan dengan menginjeksikan udara sehingga
mikroorganisme teraduk dalam air limbah. Metode distribusi oksigen (udara)
kedalam air limbah seperti gambar berikut :

Gambar 3.2 Metode Distribusi Oksigen
Model Distribusi udara didalam air limbah, distributor diletakkan pada bagian
dasar bak

Gambar 3.3Metode Distribusi Oksigen
(Sumber: http://ketutsumada.blogspot.com)





3.3 Oxidation Pond (Kolam Oksidasi)
3.3.1 Pengertian Kolam Oxidation Pond
Kolam oksidasi adalah bentuk reaktor pengolahan air limbah secara
biologis aerobic yang paling sederhana. Reaktor berbentuk kolam biasa, dari tanah
yang digali dan air limbah dimasukkan kedalamnya dengan suatu waktu tinggal
tertentu (sekitar 7-10 hari. Kedalaman kolam tidak lebih dari 1,0 m (0,4 1,0 m).
Pemenuhan oksigen dapat diperoleh dari :
- Absorpsi ke permukaan air di kolam melalui proses difusi,
- Adanya mixing/pengadukan pada permukaan kolam akibat pengaruh angin
dan permukaan kolam yang cukup luas
- Photosyntesa dari keberadaan algae
3.3.2 Proses Pengolahan Kolam Oksidasi
Prinsip. Sistem kolam (pola sistem) atau sering disebut juga sebagai kolam
oksidasi merupakan salah satu sistem pengolahan limbah cair tertua, dan
merupakan perkembangan dari cara pembuangan limbah cair secara langsung ke
badan air. Pada sistem kolam. konsentrasi mikroorganisme relatif kecil, suplai
oksigen dan pengadukan berlangsung secara alami, sehingga proses perombakan
bahan organik berlangsung relatif lama dan pada area yang luas.
Berbagai jenis mikroorganisme berperan dalam proses perombakan, tidak
terbatas mikroorganisme aerobik, tetapi juga mikroorganisme anaerbik.
Organisme heterotrof aerobik dan aerobik berperan dalam proses konversi bahan
organik; organisme autotrof (fitoplankton, alga, tanaman air) mengambil bahan-
bahan anorganik (nitrat dan fosfat) melalui proses fotosintetsis (Gambar 3.4
Karena lamanya waktu tinggal limbah cair, maka organisme dengan waktu
generasi tinggi (zooplankton, larva insekta, kutu air, ikan kecil) juga dapat tumbuh
dan berkembang dalam sistem kolam. Organisme tersebut hidup aktif di dalam air
atau pada dasar kolam. Komposisi organisme sangat tergantung pada temperatur,
suplai oksigen, sinar matahari, jenis dan konsentrasi substrat. (Sumber: Direktorat
J enderal I ndustri Kecil Menengah Departemen Perindustrian)



Gambar 3.4 . Mekanisme perobakan bahan organik dalam sistem kolam
(Loehr, 1974)
Bidang Aplikasi. Sistem kolam dapat diterapkan untuk pengolahan limbah
industri pang-an dengan konsentrasi bahan organik rendah, terutama di daerah
yang cukup tersedia lahan. Sistem kolam berfungsi untuk pengolahan limbah cair,
sekaligus pengolahan sludge. Alga yang tumbuh dapat dipanen dan digunakan
sebagai hail samping yang bermanfaat.
Desain dan Operasi. Faktor pembatas sistem kolam adalah suplai oksigen.
Sistem kolam umumnya dirancang untuk tingkat pembebanan rendah. sehingga
laju pasokan oksigen dari atmosfir mencukupi kebutuhan oksigen bakteri, dan
paling t1dak bagian permukaan atas kolam selalu pada kondisi aerobik, Karena
suplai oksigen merupakan faktor pembatas, pembebanan sistem serine didasarkan
pada luas permukaan kolam dan dinyatakan dalam P- BOD,,/m-,hari. dan tidak-
didasarkan pada volume kolam atau jumlah blomassa. Sistem kolam umumnya
dirancang dewan kedalaman maksimum 1,0 - 1,5 m, sehingga pencahayaan dan
pengadukan oleh angin CALIP. Waktu tinggal h1drolik dalam kolam sekitar 20
hari. Dianjurkan untuk membagi kolam menjadi tiga bagian, sehingga dalam
masing-masing bagian organisme dapat tumbuh secara optimum dan proses
perombakan berlangsung lebih cepat.
Kelebihan dan Kekurangan. Sistem kolam merupakan sistem pengolahan
limbah cair sederhana yang tidak memerlukan peralatan mekanis, mudah
dioperasikan dan tidak memerlukan biaya tinggi. Kekurangan sistem ini adalah
sangat tergantung pada cuaca, dan memerlukan lahan luas, serta berpotensi
menimbulkan bau busuk terutama pada malam hari dimana suplai oksigen tidak
mencukupi untuk proses aerobik. Selain itu, kolam juga dapat digunakan sebagai
tempat berkembang biak nyamuk.
3.4 Contoh Perhitungan Kebutuhan Oksigen
Kriteria desain yang digunakan dalam perencanaan ini adalah :
~ Sludge retention time = 10 30 hari
~ Ratio F/M = 0,05 0,3 per hari
~ BOD influen (So) = 252 mg/l
~ Aeration loading = 0,3 0,6 kg BOD/m
3
. hari
~ Volumetrik loading = 0,8 2,0 kg BOD/ m
3
. hari
~ MLSS (x) = 3000 6000 mg/L
~ HRT = 4 8 jam
~ Rasio resirkulasi (Q
R
/Q) = 0,75 1,5
~ Efisiensi proses = 85 95 %
~ Y
b
= 0,3 0,7 VSS/BOD
~ Kd = 0,03 0,07 per hari
~ td = 8 jam
C. Direncanakan :
~ Debit (Q) = 0.009 m
3
/det = 32,4 m
3
/jam
~ V = Q . td
= 32,4 m
3
/ jam x 8 jam
= 259,2 m
3

- Luas bak
A =
h
volume

=
4
2 , 259
3
m

= 64,8 m
2

- Dimensi bak
A = P x L P : L = 2 : 1
A = 2 L x L
A = 2 L
2

64,8 m
2
= 2 L
2
L =
2
8 , 64

= 5,69 m
P = 2 x 5,69 m
= 11,38 m
Maka lebar bak Oxidation Ditch 5,69 m;panjang bak 11,38 m dan tinggi
bak 4m
~ Q
R
/Q = 0,75
~ MLSS (x) = 4000 mg/L
~ Efisiensi proses = 85 %
~ Y
b
= 0,5 VSS/BOD
~ Kd = 0,05 per hari
~ Faktor konversi dari BOD
5
ke BOD
0
(f) = 68 kg / m
3
. hari
~ x = 3000 mg/l
Q = Q + Q
R

Q
R
/Q = 0,75
Q
R
= 0,75 x 259,2 m
3
/jam
Q
R
= 24,30 m
3
/jam
Q = 32,4 m
3
/jam + 24,30 m
3
/jam
= 56,7 m
3
/jam


Efisiensi removal BOD
BOD terambil = 0,85 x 252 mg/l
= 214,2 mg/l
Hasil penurunan = 252 mg/l 214,2 mg/l
= 37,8 mg/l
Sr = Q x konsentrasi BOD x efisiensi removal BOD
= (56,70 m
3
/jam x 24 jam/hari x 1000 L/m
3
) x (252 mg/l x 10
-6
kg/mg) x 0,85
= 291,48 kg BOD/hari
Perhitungan Volatile Solid
X =
f K
S Y
d
r b


=
hari m kg hari
hr kg
. / 8 , 0 / 05 , 0
/ 48 , 291 5 , 0
3


= 3643,54 kg/hari
Umur Lumpur
V =
) 1 (
) (
c
b c
kd x
S So Y Q
u
u
+


259,2 m
3
=
) 05 , 0 1 ( / 3000
) / 8 , 37 / 252 ( 6 , 0 / 24 / 7 , 56
3
c
c
l mg
l mg l mg hari jam jam m
u
u
+


uc = 20 hari
Cek rasio sirkulasi
jam m
jam m
Q
Q
R
/ 4 , 32
/ 30 , 24
3
3
= = 0,75.OK
Hidraulik Retention Time (HRT)
HRT =
) 1 ( C Q
V
+

=
( ) 75 , 0 1 / 7 , 56
2 , 259
3
3
+ jam m
m

= 8 jam .OK (4 8 jam)
Kontrol rasio F/M
MLSS V
So Q
M
F

=
=
l mg m
l mg hari m
/ 3000 2 , 259
/ 252 / 6 , 777
3
3



= 0,25 /hariOK (0,2 0,4/hari)
Volumetrik Loading
V
L
=
V
Q So

=
3
6 3 3
2 , 295
10 / 1 / 1000 / 24 / 70 , 56 / 252
m
mg kg m l hari jam jam m l mg



= 1,32 kg BOD / m
3
.hariOK (0,8 2,0 kg BOD/m
3
.hari)
Produksi lumpur (Px)
( )
25 , 0
20 05 , 0 1
5 , 0
. 1
=
+
=
+
=
c kd
Y
Y
obs
u

hari m hari kg jam kg
m kg jam m
S So Q Y
Px
obs
/ 86 , 0 / 52 , 881 / 73 , 36
1000
/ ) 8 , 37 252 ( / 70 , 56 34 , 0
1000
) ( .
3
3 3
= ~ =

=

=

Kebutuhan Oksigen
Dengan asumsi konsentrasi N dan P diabaikan
Kg O
2
/hari =
( )
Px
f
S So Q

42 , 1
=
( )
hari kg
mg kg
l mg hari m
/ 52 , 881 42 , 1
/ 1000 8 , 0
/ 8 , 37 252 / 8 , 1360
3



= 887,40 kg/hari
Perhitungan Standar Oksigen Requirement (SOR)
SOR kg/hari =
( ) { } ( )
20
024 , 1 / '


T
SW a SW
C C F C
N
o |

Dimana :
N = Kebutuhan oksigen teoritis
C
SW
= kelarutan oksigen di tangki aerasi (mg/l)
C = oksigen terlarut minimum yang dipertahankan dalam
tangki aerasi
| = salinitas surface tension factor (0,9 untuk air buangan)
o = factor koreksi oksigen transfer (0,8 0,9)
T = temperatur air buangan rata-rata
F
a
=Faktor koreksi oksigen terlarut terhadap ketinggian tempat
= 1 9998 , 0
9450
5 , 1
1
9450
) (
= =
m m ketinggian

Ditentukan :
- Temperatur = 35
0
C
- C
SW
= 7,08 mg/l
- C
SW
= 9,15 mg/l
- C = 1 mg/l
- o = 0,9
- | = 0,9
- F
a
= 0,9998
Jadi nilai SOR :
SOR kg/hari =
( ) { } ( )
20
024 , 1 / '


T
SW a SW
C C F C
N
o |

=
( ) { } ( )
20 35
024 , 1 9 , 0 / 20 , 9 / / 1 9998 , 0 9 , 0 / 08 , 7
/ 87 , 598

l mg l mg l mg
hari kg

= 1310,57 kg/hari
Kebutuhan debit udara
Q
udara
=
) ( udara kandungan prosentase udara berat
SOR


Asumsi :
- Berat Udara = 1,3 kg/m
3

- % kandungan udara dalam berat = 0,21 g O
2
/g udara
Q
udara
=
) / 21 , 0 / 3 , 1 (
/ 57 , 1310
2
3
udara g O g m kg
hari kg


= 4827,1 m
3
/hari

- Asumsi efisiensi difusi udara = 8 %
Debit Udara Teoritis = hari m
hari m
/ 75 , 60338
08 , 0
/ 1 , 4827
3
3
=
- Diasumsikan kebutuhan udara 150 % kebutuhan udara teoritis
Sehingga :
Kebutuhan Udara = 1,5 x 60338,75 m
3
/hari
= 90508,12 m
3
/hari x 1 hari/24 jam
= 3771,17 m
3
/jam x 1 jam/60 menit
= 62,85 m
3
/menit
Kontrol SVI (Sludge Volume Index)
MLSS
V
SVI
1000
=
Q
R
= 24,30 m
3
/jam
Q = 56,70 m
3
/jam
Return Sludge :

1000
V
Q Q
Q
R
R
=
+

1000 30 , 24 70 , 56
30 , 24 V
=
+

V = 0,26 x 1000
V = 260 ml/L


Jadi :

MLSS
V
SVI
1000
=

3000
1000 / 260
=
L ml
SVI
SVI = 87 ml/g < 100 ml/gOK (mengendap)
(Sumber: Hasil Perhitungan Tugas Perencanaan Bangunan Pengolahan Limbah
Cair. 2013)
3.5 Bangunan Penunjang Pengolahan Air Limbah
Adapun bangunan pengolahan yang direncanakan beserta fungsi dan
alasan pemakaian adalah sebagai berikut :
1) Bar Screen
Fungsi : menyaring benda-benda padat dan kasar agar tidak mengganggu
pengaliran limbah cair, mencegah timbulnya kerusakan dan penyumbatan
dalam saluran.
2) Communitor
Fungsi : menghancurkan/mencacah padatan kasar dari bar screen sehingga
mempunyai ukuran yang lebih kecil.
3) Bak equalisasi/bak pengumpul
Fungsi : untuk mengatasi masalah operasional yang disebabkan oleh debit
yang bervariasi dan berfungsi untuk menetralisasi, pendingin, dan
memperkecil kandungan beban limbah sebelum masuk ke pengolahan
biologis.
4) Oxidation Pond
Fungsi : untuk menurunkan organik karbon atau organik nitrogen pada
limbah cair dengan menggunakan bakteri aerobik yang dibiakkan pada
tangki aerasi.
- BOD yang dihasilkan rata-rata = (< 400 mg/l) sehingga
menggunakan pengolahan aerobik
- Efisiensi BOD removal sebesar 75-95 %
- Konstruksinya mudah dan masih banyaknya lahan kosong di
daerah perencanaan.
- Lumpur yang dihasilkan sedikit
- Proses ini bisa dioperasikan dalam kondisi stabil dan bertahan
fluktuasi loading dan juga fluktuasi temperatur.
- Karena tergantung pada posisi dalam ditch konsentrasi DO
(Dissolved Oxygen, Oksigen terlarut) berbeda, sehingga bisa
mengadakan tidak hanya reaksi aerobik, akan tetapi reaksi
anaerobik,maka bisa menghilangkan nitrogen sampai derajat
tertentu.
5) Bak sedimentasi
Fungsi : untuk mengendapkan patikel-partikel halus seperti lumpur dari
bangunan pengolahan sebelumnya.
6) Sludge drying bed/pengolahan Lumpur
Fungsi : untuk mengolah dan mengeringkan lumpur hasil pengolahan
gabungan .