Anda di halaman 1dari 11

SIROSIS HEPATITIS A.

Pengertian Sirosis hepatis adalah penyakit hati menahun yang ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Biasanya dimulai dengan adanya proses peradangan nekrosis sel hati yang luas, pembentukan jaringan ikat dan usaha regenerasi nodul. Distorsi arsitektur hati akan menimbulkan perubahan sirkulasi mikro dan makro menjadi tidak teratur akibat penambahan jaringan ikat dan nodul tersebut (Suzanne C. Smeltzer dan Brenda G. Bare, 200 !. Sirosis hepatis adalah penyakit hati kronik yang di"irikan dengan distorsi arsitektur hati normal oleh lembar#lembar jaringan ikat dan nodul#nodul regenerasi sel hati, yang tidak berkaitan dengan $askulatur normal (%ri"e & 'illson, 200(, hal ) *+,!. Sirosis hepatis adalah penyakit kronik hati yang dikarakteristikkan oleh gangguan struktur dan perubahan degenerasi, gangguan -ungsi seluler, dan selanjutnya aliran darah ke hati (Doenges, dkk, 2000, hal) (**!. B. Etiologi .da , tipe sirosis atau pembentukan parut dalam hati ) . Sirosis portal laenne" (alkoholik nutrisional!, dimana jaringan parut se"ara khas mengelilingi daerah portal. Sering disebabkan oleh alkoholis kronis. 2. Sirosis pas"anekrotik, dimana terdapat pita jaringan parut yang lebar sebagai akibat lanjut dari hepatitis $irus akut yang terjadi sebelumnya. ,. Sirosis bilier, dimana pembentukan jaringan parut terjadi dalam hati di sekitar saluran empedu. /erjadi akibat obstruksi bilier yang kronis dan in-eksi (kolangitis!. *. Bagian hati yang terlibat terdiri atas ruang portal dan periportal tempat kanalikulus biliaris dari masing#masing lobulus hati bergabung untuk membentuk saluran empedu baru. Dengan demikian akan terjadi pertumbuhan jaringan yang berlebihan terutama terdiri atas saluran

empedu yang baru dan tidak berhubungan yang dikelilingi oleh jaringan parut. C. Patofisiologi 0onsumsi minuman beralkohol dianggap sebagai -aktor penyebab yang utama. Sirosis terjadi paling tinggi pada peminum minuman keras. 1eskipun de-isiensi gizi dengan penurunan asupan protein turut menimbulkan kerusakan hati pada sirosis, namun asupan alkohol yang berlebihan merupakan -aktor penyebab utama pada perlemakan hati dan konsekuensi yang ditimbulkannya. 2amun demikian, sirosis juga pernah terjadi pada indi$idu yang tidak memiliki kebiasan minum dan pada indi$idu yang dietnya normal tapi dengan konsumsi alkohol yang tinggi. 3aktor lain diantaranya termasuk pajanan dengan zat kimia tertentu (karbon tetraklorida, na-talen, terklorinasi, arsen atau -os-or! atau in-eksi skistosomiastis dua kali lebih banyak daripada 4anita dan mayoritas pasien sirosis berusia *0 5 60 tahun. Sirosis laenne" merupakan penyakit yang ditandai oleh nekrosis yang melibatkan sel#sel hati dan kadang#kadang berulang selama perjalanan penyakit sel#sel hati yang dihan"urkan itu se"ara berangsur#angsur digantikan oleh jaringan parut yang melampaui jumlah jaringan hati yang masih ber-ungsi. %ulau#pulau jaringan normal yang masih tersisa dan jaringan hati hasil regenerasi dapat menonjal dari bagian#bagian yang berkonstriksi sehingga hati yang sirotik memperlihatkan gambaran mirip paku sol sepatu berkepala besar (hobnail appearan"e! yang khas. Sirosis hepatis biasanya memiliki a4itan yang insidus dan perjalanan penyakit yang sangat panjang sehingga kadang#kadang mele4ati rentang 4aktu ,0 tahun7lebih. D. Manifestasi Klinis %enyakit ini men"akup gejala ikterus dan -ebris yang intermiten. %embesaran hati. %ada a4al perjalanan sirosis, hati "enderung membesar dan sel#selnya dipenuhi oleh lemak. 8ati tersebut menjadi keras dan memiliki tepi

tajam yang dapat diketahui melalui palpasi. 2yeri abdomen dapat terjadi sebagai akibat dari pembesaran hati yang "epat dan baru saja terjadi sehingga mengakibatkan regangan pada selubung -ibrosa hati (kapsula Glissoni!. %ada perjalanan penyakit yang lebih lanjut, ukuran hati akan berkurang setelah jaringan parut menyebabkan pengerutan jaringan hati. .pabila dapat dipalpasi, permukaan hati akan teraba benjol#benjol (noduler!. 9bstruksi %ortal dan .sites. 1ani-estasi lanjut sebagian disebabkan oleh kegagalan -ungsi hati yang kronis dan sebagian lagi oleh obstruksi sirkulasi portal. Semua darah dari organ#organ digesti- praktis akan berkumpul dalam $ena portal dan diba4a ke hati. 0arena hati yang sirotik tidak memungkinkan pelintasan darah yang bebas, maka aliran darah tersebut akan kembali ke dalam limpa dan traktus gastrointestinal dengan konsekuensi bah4a organ#organ ini menjadi tempat kongesti pasi- yang kronis: dengan kata lain, kedua organ tersebut akan dipenuhi oleh darah dan dengan demikian tidak dapat bekerja dengan baik. %asien dengan keadaan sema"am ini "enderung menderita dispepsia kronis atau diare. Berat badan pasien se"ara berangsur#angsur mengalami penurunan. Cairan yang kaya protein dan menumpuk di rongga peritoneal akan menyebabkan asites. 8al ini ditunjukkan melalui per-usi akan adanya shi-ting dullness atau gelombang "airan. Splenomegali juga terjadi. ;aring#jaring telangiektasis, atau dilatasi arteri super-isial menyebabkan jaring ber4arna biru kemerahan, yang sering dapat dilihat melalui inspeksi terhadap 4ajah dan keseluruhan tubuh. <arises Gastrointestinal. 9bstruksi aliran darah le4at hati yang terjadi akibat perubahan -ibro-ik juga mengakibatkan pembentukan pembuluh darah kolateral sistem gastrointestinal dan pemintasan (shunting! darah dari pernbuluh portal ke dalam pernbuluh darah dengan tekanan yang lebih rendah. Sebagai akibatnya, penderita sirosis sering memperlihatkan distensi pembuluh darah abdomen yang men"olok serta terlihat pada inspeksi abdomen (kaput medusae!, dan distensi pembuluh darah di seluruh traktus gastrointestinal. =so-agus, lambung dan rektum bagian ba4ah merupakan daerah yang sering

mengalami pembentukan pembuluh darah kolateral. Distensi pembuluh darah ini akan membentuk $arises atau temoroid tergantung pada lokasinya. 0arena -ungsinya bukan untuk menanggung $olume darah dan tekanan yang tinggi akibat sirosis, maka pembuluh darah ini dapat mengalami ruptur dan menimbulkan perdarahan. 0arena itu, pengkajian harus men"akup obser$asi untuk mengetahui perdarahan yang nyata dan tersembunyi dari traktus gastrointestinal. 0urang lebih 2(> pasien akan mengalami hematemesis ringan: sisanya akan mengalami hemoragi masi- dari ruptur $arises pada lambung dan eso-agus. =dema Gejala lanjut lainnya pada sirosis hepatis ditimbulkan oleh gagal hati yang kronis. 0onsentrasi albumin plasma menurun sehingga menjadi predisposisi untuk terjadinya edema. %roduksi aldosteron yang berlebihan akan menyebabkan retensi natrium serta air dan ekskresi kalium. De-isiensi <itamin dan .nemia. 0arena pembentukan, penggunaan dan penyimpanan $itamin tertentu yan tidak memadai (terutama $itamin ., C dan 0!, maka tanda#tanda de-isiensi $itamin tersebut sering dijumpai, khususnya sebagai -enomena hemoragik yang berkaitan dengan de-isiensi $itamin 0. Gastritis kronis dan gangguan -ungsi gastrointestinal bersama#sama asupan diet yang tidak adekuat dan gangguan -ungsi hati turut menimbulkan anemia yang sering menyertai sirosis hepatis. Gejala anemia dan status nutrisi serta kesehatan pasien yang buruk akan mengakibatkan kelelahan hebat yang mengganggu kemampuan untuk melakukan akti$itas rutinsehari#hari. 1ani-estasi klinik lainnya adalah kemunduran -ungsi mental dengan ense-alopati dan koma hepatik yang membakat. 0arena itu, pemeriksaan neurologi perlu dilakukan pada sirosis hepatis dan men"akup perilaku umum pasien, kemampuan kogniti-, orientasi terhadap 4aktu serta tempat, dan pola bi"ara. E. Komplikasi Bila penyakit sirosis hati berlanjut progresi-, maka gambaran klinis, prognosis, dan pengobatan tergantung pada 2 kelompok besar komplikasi )

0egagalan hati (hepatoseluler! ) timbul spider ne$i, eritema %almaris, atro-i testis, ginekomastia, ikterus, ense-alopati, dll. 8ipertensi portal ) dapat menimbulkan splenomegali, pemekaran pembuluh $ena esophagus7"ardia, "aput medusa, hemoroid, $ena kolateral dinding perut. Bila penyakit berlanjut maka dari kedua komplikasi tersebut dapat timbul komplikasi dan berupa ) . .sites. 2. =nse-alopati. ,. %eritonitis ba"terial spontan. *. Sindrom hepatorenal. (. /rans-ormasi kea rah kanker hati primer (hepatoma!. F. Pemeriksaan Pen n!ang . %emeriksaan ?aboratorium a. %ada darah dijumpai 8B rendah, anemia normokrom nomosister, hipokrom mikrosister7hipokrom makrosister. b. 0enaikan kadar enzim transaminase#SG9/, SG%/ bukan merupakan petunjuk berat ringannya kerusakan parenkim hati, kenaikan kadar ini timbul dalam serum akibat kebo"oran dari sel yang rusak, pemeriksaan billirubin, transaminase dan gamma G/ tidak meningkat pada sirosis inakti-. ". .lbumin akan merendah karena kemampuan sel hati yang berkurang, dan juga globulin yang naik merupakan "erminan daya tahan sel hati yang kurang dan menghadapi stress. d. %emeriksaan C8= (kolinesterasi!. @ni penting karena bila kadar C8= turun, kemampuan sel hati turun, tapi bila C8= normal7tambah turun akan menunjukkan prognosis jelek. e. 0adar elektrolit penting dalam penggunaan diureti" dan pembatasan garam dalam diet, bila ense-alopati, kadar 2a turun dari * meg7? menunjukkan kemungkinan telah terjadi sindrom hepatorenal. -. %eningggian kadar gula darah. 8ati tidak mampu membentuk glikogen, bila terus meninggi prognosis jelek.

g. %emeriksaan marker serologi seperti $irus, 8bs.g78bs.b, 8b".g, 8"$A2., untuk menentukan etiologi sirosis hati dan pemeriksaan .3% (.l-a 3eto %rotein! penting dalam menentukan apakah telah terjadi trans-ormasi ke arah keganasan. 2. %emeriksaan %enunjang ?ainnya a. Aadiologi ) dengan barium s4allo4 dapat dilihat adanya $arises esophagus untuk kon-irmasi hipertensi portal. b. =so-agoskopi ) dapat dilihat $arises esophagus sebagai komplikasi sirosis hati7hipertensi portal. ". Bltrasonogra-i ) pada saat pemeriksaan BSG sudah mulai dilakukan sebagai alat pemeriksaan rutin pada penyakit hati. ". AS#HA$ KEPERA%ATA$ SIROSIS HEPATIS . %engkajian a. @dentitas klien b. Ai4ayat 0esehatan Sekarang ". Ai4ayat 0esehatan Sebelumnya d. Ai4ayat 0esehatan 0eluarga e. Ai4ayat Sosial =konomi -. %emeriksaan 3isik !. 0esadaran dan keadaan umum pasien 2!. /anda 5 tanda $ital ,!. %emeriksaan -isik 0epala 5 kaki a! 8ati ) perkiraan besar hati, bila ditemukan hati membesar tanda a4al adanya "irosis hepatis, tapi bila hati menge"il prognosis kurang baik, konsistensi biasanya kenyal 7 -irm, pinggir hati tumpul dan ada nyeri tekan pada perabaan hati. b! ?impa) ada pembesaran limpa, dapat diukur dengan 2 "ara ) S"hu--ner, hati membesar ke medial dan ke ba4ah menuju umbili"us (S#@#@<! dan dari umbili"us ke S@.S kanan (S <#<@@@!. 8a"ket, bila limpa membesar ke arah ba4ah saja.

"! %ada abdomen dan ekstra abdomen dapat diperhatikan adanya $ena kolateral dan a"ites, mani-estasi diluar perut) perhatikan adanya spinder ne$i pada tubuh bagian atas, bahu, leher, dada, pinggang, "aput medussae dan tubuh bagian ba4ah, perlunya diperhatikan adanya eritema palmaris, ginekomastia dan atropi testis pada pria, bias juga ditemukan hemoroid. 2. Diagnosa 0epera4atan a. b. ". %erubahan status nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia dan gangguan gastrointestinal. @ntoleransi akti$itas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan berat badan. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pembentukan edema.

,. @nter$ensi 0epera4atan a. %erubahan status nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat (anoreksia, nausea, $omitus! /ujuan ) Status nutrisi baik @nter$ensi ) ! 0aji intake diet, Bkur pemasukan diit, timbang BB tiap minggu. Aasional) 1embantu dalam mengidenti-ikasi de-isiensi dan kebutuhan diet. 0ondisi -isik umum, gejala uremik (mual, muntah, anoreksia, dan ganggguan rasa! dan pembatasan diet dapat mempengaruhi intake makanan, setiap kebutuhan nutrisi diperhitungan dengan tepat agar kebutuhan sesuai dengan kondisi pasien, BB ditimbang untuk mengetahui penambahan dan penuruanan BB se"ara periodik. 2! Berikan makanan sedikit dan sering sesuai dengan diet. Aasional) 1eminimalkan anoreksia dan mual sehubungan dengan status uremik.

,! /a4arkan pera4atan mulut (berkumur7gosok gigi! dengan larutan asetat 2( > sebelum makan. Berikan permen karet, penyegar mulut diantara makan. Aasional) 1embran mukosa menjadi kering dan pe"ah. %era4atan mulut menyejukkan, dan membantu menyegarkan rasa mulut, yang sering tidak nyaman pada uremia dan pembatasan oral. %en"u"ian dengan asam asetat membantu menetralkan ammonia yang dibentuk oleh perubahan urea (Bla"k, & 8a4k, 200(!. *! @denti-ikasi makanan yang disukai termasuk kebutuhan kultural. Aasional) ;ika makanan yang disukai pasien dapat dimasukkan dalam peren"anaan makan, maka dapat meningkatkan na-su makan pasien. (! 1oti$asi pasien untuk menghabiskan diet, anjurkan makan#makanan lunak. Aasional) 1embantu proses pen"ernaan dan mudah dalam penyerapan makanan, karena pasien mengalami gangguan sistem pen"ernaan. 6! Berikan bahan penganti garam pengganti garam yang tidak mengandung amonium. Aasional) Garam dapat meningkatkan tingkat absorsi dan retensi "airan, sehingga perlu men"ari alternati- penganti garam yang tepat. C! Berikan diet karbohidrat. Aasional) %engendalian asupan kalori total untuk men"apai dan mempertahankan berat badan sesuai dan pengendalian kadar glukosa darah D! Berikan obat sesuai dengan indikasi ) /ambahan $itamin, thiamin, besi, asam -olat dan =nzim pen"ernaan. Aasional) 8ati yang rusak tidak dapat menyimpan <itamin ., B kompleks, D dan 0, juga terjadi kekurangan besi dan asam -olat yang menimbulkan anemia. Dan 1eningkatkan pen"ernaan lemak dan dapat menurunkan diare. C00 kkal (sesuai terapi! dengan tinggi serat dan tinggi

+! 0olaborasi pemberian antiemetik Aasional) untuk menghilangkan mual 7 muntah dan dapat meningkatkan pemasukan oral. b. @ntoleransi akti$itas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan berat badan. /ujuan @nter$ensi ) ! /a4arkan diet tinggi kalori, tinggi protein (/0/%!. Aasional ) 1emberikan kalori bagi tenaga dan protein bagi proses penyembuhan. 2! Berikan suplemen $itamin (., B kompleks, C dan 0! Aasional ) 1emberikan nutrien tambahan. ,! 1oti$asi pasien untuk melakukan latihan yang diselingi istirahat Aasional ) 1enghemat tenaga pasien sambil mendorong pasien untuk melakukan latihan dalam batas toleransi pasien. *! 1oti$asi dan bantu pasien untuk melakukan latihan dengan periode 4aktu yang ditingkatkan se"ara bertahap. Aasional ) 1emperbaiki perasaan sehat se"ara umum dan per"aya diri. ". Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pembentukan edema. /ujuan ) @ntegritas kulit baik @nter$ensi ) ! Batasi natrium seperti yang diresepkan. Aasional ) 1eminimalkan pembentukan edema. 2! Berikan perhatian dan pera4atan yang "ermat pada kulit. Aasional ) ;aringan dan kulit yang edematus mengganggu suplai nutrien dan sangat rentan terhadap tekanan serta trauma. ,! Bbah posisi tidur pasien dengan sering. Aasional ) 1eminimalkan tekanan yang lama dan meningkatkan mobilisasi edema. ) %eningkatan energi dan partisipasi dalam akti$itas.

*! /imbang berat badan dan "atat asupan serta haluaran "airan setiap hari. Aasional ) 1emungkinkan perkiraan status "airan dan pemantauan terhadap adanya retensi serta kehilangan "airan dengan "ara yang paling baik (! ?akukan latihan gerak se"ara pasi-, tinggikan ekstremitas edematus. Aasional ) 1eningkatkan mobilisasi edema. 6! ?etakkan bantalan busa yang ke"il diba4ah tumit, maleolus dan tonjolan tulang lainnya. Aasional ) 1elindungi tonjolan tulang dan meminimalkan trauma jika dilakukan dengan benar.

DAFTAR P#STAKA Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. (200 !. 0epera4atan medikal bedah 2. (=d D!. ;akarta) =GC. Doenges, 1arilynn =, 1ary 3ran"es 1oorhouse dan .li"e C. Geisser. ( +++!. Aen"ana asuhan kepera4atan ) pedoman untuk peren"anaan dan pendokumentasian pera4atan pasien. ;akarta) =GC. /jokronegoro dan 8endra Btama. ( ++6!. @lmu penyakit dalam jilid . ;akarta) 30B@. %ri"e, Syl$ia . dan ?orraine 1. 'ilson. ( ++*!. %ato-isiologi, konsep klinis proses# proses penyakit. ;akarta) =GC.