Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Pada hakikatnya tujuan adanya negara adalah untuk mewujudkan

kesejahteraan rakyat negara yang bersangkutan. Agar kesejahteraan rakyat dapat terwujud perlu dilakukan pembangunan, namun praktek pembangunan yang tampak cendrung berupa pembangunan ekonomi dan fisik, sementara dampak dari pembangunan sering diabaikan. Pembangunan adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan manusia untuk menciptakan keadaan hidup yang lebih baik. Pembangunan merupakan proses yang pada umumnya direncanakan dengan sengaja dalam masyarakat untuk menuju pada keadaan hidup yang lebih baik. Untuk merealisasikan pembangunan pasti memanfaatkan sumber daya alam sebagai bagian dari sumber daya lingkungan. Pemanfaatan atau eksploitasi terlihat ada yang berupa pemanfaatan sumber daya alam yang langsung, dan ada yang melalui proses pengolahan atau pengubahan bahan mentah menjadi bahan jadi serta menghasilkan benda-benda atau barang konsumsi yang bisa digunakan untuk pemenuhan kehidupan manusia yang mempunyai nilai ekonomis. Jika kita bandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, lingkungan di sekitar kita masih begitu alami dan sejuk, banyaknya lahan hutan yang menjadi habitat bagi berbagai jenis hewan kini sudah berubah menjadi pemukiman-pemukiman penduduk, pabrik, area perbelanjaan, lahan pertanian, dan sebagainya. Hal ini akan menimbulkan dampak yang luas bagi kehidupan kita dimasa yang akan datang. Seperti banjir, tanah longsor kepunahan berbagai satwa langka, ketersediaan air bersih yangterbatas dan sebagainya, hingga berujung pada pemanasan global. Pembangunan tidak dapat dihentikan, sebab pembangunan berbanding lurus dengan bertambahnya jumlah penduduk dan jumlah kebutuhan masyarakat. Semakin banyak penduduk, maka semakin banyak pula lahan yang harus digunakan untuk membuat pemukiman tempat tinggal mereka, semakin banyak penduduk maka semakin banyak pula kebutuhan akan bahan pokok yang menyebabkan pembangunan industry dan lahan pertanian akan semakin

menjamur. Oleh karena itu, dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk yang ikut menambah jumlah pembangunan, kita hanya dapat melakukan pembangunan yang ramah terhadap lingkungan, dan saling menguntungkan antara kehidupan manusia dan kehidupan makhluk hidup lainnya serta lingkungan sekitar kita tinggal agar terjaga selalu keseimbangan lingkungan .

1.2

Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam makalah ini antara lain : 1. Apa saja dampak dari pembangunan gedung? 2. Apa saja solusi yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi dampak negatif dari pembangunan gedung?

1.3

Tujuan Penulisan 1. Mengetahui dampak dari pembangunan gedung 2. Mengetahui solusi yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi dampak negatif dari pembangunan gedung

BAB II ISI

Pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik (benda hidup) misalnya manusia, hewan, dan tumbuhan dan lingkungan abiotik (benda mati). Seringkali lingkungan yang terdiri dari sesama manusia disebut juga sebagai lingkungan sosial. Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem pergaulan yang besar peranannya dalam membentuk kepribadian seseorang. Secara khusus, kita sering menggunakan istilah lingkungan hidup untuk menyebutkan segala sesuatu yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup segenap makhluk hidup di bumi. Adapun berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Berdasarkan faktor penyebabnya, bentuk kerusakan lingkungan hidup dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: 1. Bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Peristiwa Alam Berbagai bentuk bencana alam yang akhir-akhir ini banyak melanda Indonesia telah menimbulkan dampak rusaknya lingkungan hidup. Dahsyatnya gelombang tsunami yang memporak-porandakan bumi Serambi Mekah dan Nias, serta gempa 5 skala Ritcher yang meratakan kawasan DIY dan sekitarnya, merupakan contoh fenomena alam yang dalam sekejap mampu merubah bentuk muka bumi. 2. Kerusakan Lingkungan Hidup karena Faktor Manusia Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan sederhana sampai ke bentuk kehidupan modern seperti sekarang ini. Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan pemikiran

akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Banyak kemajuan yang diraih oleh manusia membawa dampak buruk terhadap kelangsungan lingkungan hidup. Beberapa ulah manusia yang baik secara langsung maupun tidak langsung membawa dampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain: a. Penebangan hutan secara liar (penggundulan hutan). b. Perburuan liar. c. Merusak hutan bakau. d. Penimbunan rawa-rawa untuk pemukiman. e. Pembuangan sampah di sembarang tempat. f. Bangunan liar di daerah aliran sungai (DAS). g. Pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan di luar batas.

2.1

Dampak Dari Pembangunan Gedung Terhadap Lingkungan Pembangunan gedung-gedung bertingkat maupun bangunan gedung

komersil seperti ruko dan mall merupakan bagian penting dalam perkembangan infrastruktur dan industri. Industri konstruksi sebagai badan usaha yang bergerak dalam pembangunan sarana dan prasarana fisik kerap kali menyebabkan masalah pada lingkungan. Aktivitas manusia dalam pelaksanaan proyek konstruksi bangunan dapat menimbulkan dampak yang positif mapun negatif. Pembangunan gedung-gedung pencakar langit di kota-kota besar atau tempat-tempat komersial di satu sisi menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi, bukti bahwa sektor riil terus bergerak. Namun, industri konstruksi tetap membangun struktur yang lebih tinggi, lebih panjang, dan lebih dalam setiap tahunnya sehingga menimbulkan dampak yang merugikan (negatif) terhadap lingkungan di sekitarnya Dampak negatif tersebut kurang mendapat perhatian dari para pelaku bidang konstruksi yang lebih memperhatikan biaya, mutu, dan waktu. Padahal dampak negatif tersebut dapat mengganggu, merugikan, bahkan dapat membahayakan masyarakat di sekitar lokasi proyek konstruksi tersebut. Dampak-dampak pembangunan gedung tersebut dapat dikelola dan dipantau, seperti diuraikan dibawah ini. 1. Dampak Terkait Lokasi Pembangunan Gedung 2. Dampak Pembangunan Gedung terhadap Lalu Lintas

3. Dampak Pembangunan Gedung Terhadap Limbah Bangunan dan Polusi Udara 4. Dampak Pembangunan Gedung Terhadap Kerusakan Tanah dan Resapan Air Tanah

2.1.1

Dampak Terkait Lokasi Pembangunan Gedung Pada tahap Prakonstruksi, sumber kegiatan yang berpotensi menimbulkan

dampak berkaitan dengan lokasi adalah perubahan pemanfaatan lahan dan ruang, keberadaan objek khusus, pembebasan lahan, penerimaan masyarakat, hubungan antarpenduduk, dan hak dan kepemilikan masyarakat. Lahan yang digunakan untuk gedung ataupun bangunan komersial biasanya memilih lokasi yang strategis. Hotel, perkantoran dan mal biasanya dekat dengan pusat keramaian. Dampak yang timbul dari pembebasan lahan sudah pasti akan merubah peruntukan lahan yang sudah ada. Komponen lingkungan terkena dampak karena perubahan peruntukan lahan adalah pemanfaatan lahan dan ruang. Pembangunan akan merubah pemanfaatan lahan dan ruang atau akan mengancam keberadaan objek khusus seperti pasar tradisional, atau mungkin lokasi yang memiliki nilai sejarah, seperti gedung atau bangunan bersejarah. Dalam pembebasan lahan, hambatan datang dari pemilik lahan yang tidak rela melepaskan lahannya. Pemilik lahan merasa harga jual-beli tanah tidak sesuai dengan keinginan mereka. Jika tidak tertangani dengan baik, hambatan ini dapat mengganggu tingkat penerimaan masyarakat terhadap rencana pembangunan gedung. Muara hambatan dapat berwujud pada menguatnya tingkat penolakan masyarakat terhadap rencana tersebut. Urusan perolehan lahan tak jarang menimbulkan sengketa di antara penduduk. Masyarakat yang menolak menjual lahan akan berseberangan posisi dengan masyarakat lain yang mau menjual lahannya. Hal ini tentu dapat merusak hubungan antar-penduduk. Persengketaan antar-penduduk dapat juga terjadi akibat status kepemilikan tanah yang tidak jelas. Lahan yang sama diakui oleh dua pihak atau lebih. Transaksi jual-beli lahan akan mempengaruhi tingkat pendapatan masyarakat. Sebagai konsekuensi, hak dan kepemilikan masyarakat ter-hadap lahan tersebut akan hilang. Jika kebetulan lahan itu merupakan bagian dari sumber

mata pencaharian seperti pasar tradisional, maka perubahan hak dan kepemilikan lahan akan bisa berdampak langsung pada pola mata pencarian mereka sebelumnya. Berkaitan dengan uraian di atas menunjukkan bahwa gedung bertingkat dan bangunan komersial mempunyai potensi dampak negatif terhadap: 1. pemanfaatan lahan dan ruang, 2. keberadaan objek khusus, 3. pola mata pencarian, 4. hubungan antarpenduduk, dan 5. hak dan kepemilikan masyarakat.

Di sisi lain, potensi dampak positif akan terasa pada meningkatnya pendapatan masyarakat, dan biasanya masyarakat akan memiliki uang kontan, dari hasil pembebasan lahan yang dapat digunakan untuk menaikkan skala usahanya.

2.1.2

Dampak Pembangunan Gedung terhadap Lalu Lintas Dalam pembangunan gedung-gedung bertingkat diperlukan mobilisasi alat

dan bahan yang dapat berupa kendaraan-kendaraan yang membawa alat berat dan bermuatan besar.. Mobilisasi alat dan bahan berpotensi untuk mengganggu tingkat kenyamanan kawasan. Gangguan kenyamanan kawasan khususnya diakibatkan oleh lalu lalangnya kendaraan pengangkut saat konstruksi gedung berjalan. Ketika gedung beroperasi juga terjadi peningkatan arus lalu lintas dari kendaraan karyawan, relasi, penghuni, atau pengunjung. Selain merusak kondisi fisik jalan yang dilaluinya, frekuensi kendaraan yang tinggi akan mengurangi tingkat kelancaran berlalu-lintas dan keselamatan berlalu-lintas.

2.1.3

Dampak Pembangunan Gedung Terhadap Limbah Bangunan, Polusi Udara Dalam pembangunan gedung, pemrakarsa harus melengkapi prasarana

berupa instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan tempat pembuangan sampah sementara (TPS). Aktivitas pekerja yang jumlahnya cukup banyak selama konstruksi, akan banyak menghasilkan limbah padat maupun cair. Limbah berasal

dari aktivitas kegiatan manusia sehari-hari. Untuk sementara, selama tahap konstruksi, perlu sarana jamban untuk pekerja, dilengkapi dengan tangki septik yang dapat dikuras secara berkala. Limbah cair harus diolah dalam IPAL sebelum dilepas ke saluran perairan terbuka atau perairan umum agar tidak mempengaruhi kualitas air permukaan. Jika kualitas air limbah yang dilepas ke perairan terbuka masih di atas baku mutu, dikhawatirkan akan mencemari kualitas air di sekitarnya, sehingga akan mempengaruhi populasi dan keragaman flora dan fauna perairan sekitarnya. Dalam kegiatan, dari pra kostruksi, konstruksi, hingga operasional gedung akan banyak meng-operasikan kendaraan dan peralatan mesin. Dalam proses tersebut akan dihasilkan limbah berupa asap dari kendaraan, mesin, dan genset yang akan mempengaruhi kualitas udara. Komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak pada kegiatan tersebut adalah kebisingan dan getaran. Dampak yang juga muncul dan sangat mengganggu kualitas udara biasanya berkaitan dengan penggunaan penerangan yang berlebihan. Di sekitar gedung yang menggunakan tata cahaya kurang baik akan terjadi kebocoran cahaya sehingga berpengaruh pada kenyamanan sekitar. Penduduk yang bermukim di sekitar gedung mungkin mengalami gangguan karena silau dengan cahaya berlebihan yang dihasilkan dari lampu penerangan gedung. Limbah padat sisa kegiatan pekerja sehari-hari, berupa sampah domestik sisa makanan, plastik pembungkus, dan lainnya, akan mengganggu lingkungan sekitar karena menimbulkan bau yang tidak sedap dan mempengaruhi kualitas udara. Limbah padat lainnya adalah sisa bahan bangunan yang jumlahnya juga cukup banyak. Penanganan limbah padat baik dari aktivitas pekerja maupun sisa bahan bangunan selama konstruksi maupun dari kegiatan lainnya harus baik. Penanganan yang kurang baik akan berdampak pada kebersihan dan keapikan kawasan, bahkan ketika musim hujan bisa mempengaruhi kualitas air permukaan.

2.1.4 Dampak Pembangunan Gedung Terhadap Kerusakan Tanah dan Resapan Air Tanah Kerusakan tanah salah satunya terjadi sebagai dampak negatif

pembangunan. Dampak kerusakan tanah tersebut merupakan masalah bagi

pembangunan yang pada akhirnya kan mempengaruhi jalannya proses pembangunan itu sendiri. Kerusakan tanah secara garis besar terjadi oleh pengaruh proses erosi, penjernihan tanah, kehilangan unsur hara, serta terakumulasinya zat pencemar dalam tanah. Proses-proses tersebut terjadi diantaranya dipicu oleh adanya pembangunan yang tidak memperhatikan segi lingkungan. Pembangunan gedung-gedung serta infrastuktur lain di daerah peresapan / tangkapan hujan serta pembangunan infrastruktur di daerah buffer yang melebihi kapasitas maksimal kepadatan misalnya, hal ini akan berujung pada dampak terjadinya banjir dimana air hujan yang seharusnya dapat meresap terhalang dan menjadi suatu aliran permukaan. Terjadinya banjir tersebut pada akhirnya akan menimbulkan erosi yang pada akhirnya akan membawa dampak pada kerusakan tanah. Sebagai contoh kasus pembangunan vila-vila, dan infrastruktur lain di daerah Puncak, Bogor dapat dikategorikan merupakan Pembangunan Tak Berkelanjutan karena secara lebih detail dan lebih lanjut dilihat pembangunan tersebut kurang bertumpu pada lingkungan; mulai dari pembukaan lahan vegetasi sebagai daerah peresapan air dan penahan air sampai pada perubahan ekosistem dataran kaki pegunungan. Pembangunan infrastruktur di daerah Puncak memang menawarkan prospek ekonomi yang cukup besar, terkait dengan fakta kawasan Puncak sebagai tempat wisata. Keindahan panorama, kesejukkan, dan juga daya tarik alam merupakan daya tarik utama daerah Puncak. Namun dalam kenyataannya intervensi manusia tersebut sering kali merusak daya tarik alam tersebut. Fakta Puncak sebagai tempat wisata menjadi salah satu pemicu maraknya pembangunan sarana infrastruktur pendukung, vila-vila serta

infrastruktur lain yang berkembang seiring prospek ekonomi yang ditawarkan. Aspek lingkungan adalah dimensi khusus yang sebenarnya berfungsi sebagai alat penjaga dan penyelaras pola pembangunan, terutama dari peran lingkungan yang mensejahterakan dan melindungi kehidupan manusia.

Setidaknya pembangunan berkelanjutan mensyaratkan 3 aspek pembangunan yang harus diperhatikan yaitu, ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan, yang ketiganya harus terimplementasikan di dalam program pembangunan negaranegara di dunia.

Tanah secara umum merupakan suatu benda alami heterogen yang terdiri atas komponen-komponen padat, cair, gas, dan mempunyai sifat serta perilaku yang dinamik. Tanah merupakan akumulasi tubuh alam yang bebas yang menduduki sebagian besar permukaan bumi dan mempunyai sifat-sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan organisme yang bekerja pada batuan induk pada relief tertentu dan dalam jangka waktu tertentu. Dari berbagai unsur yang terkandung, tanah merupakan unsur yang penting dalam Geografi. Dampak Negatif Pembangunan Terhadap Struktur Tanah: 1. 2. 3. 4. 5. Erosi. Kekeruhan tanah Hilangnya unsur hara Terakumulasinya zat pencemar dalam tanah Terganggunya kestabilan ekosistem alam dan permasalahan lingkungan Faktor dan proses terjadinya kerusakan tanah: Terjadinya kerusakan tanah merupakan akibat proses alam yang berjalan tidak seimbang sehingga bersifat destruktif yang dipengaruhi oleh adanya pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dan tidak terkendali. Pembangunan gedunggedung serta infrastuktur lain di daerah peresapan/tangkapan hujan serta pembangunan infrastruktur di daerah buffer yang melebihi kapasitas maksimal kepadatan misalnya, hal ini akan berujung pada dampak terjadinya banjir dimana air hujan yang seharusnya dapat meresap terhalang dan menjadi suatu aliran permukaan. Terjadinya banjir tersebut akan menimbulkan erosi yang pada akhirnya akan membawa dampak pada kerusakan tanah. Eksplorasi lahan yang tidak terkendali menyangkut pembukaan lahan hutan secara tidak terkendali guna mendukung pembangunan infrastruktur serta kepentingan industri, akan menimbulkan terganggunya kestabilan ekosistem alam. Faktor penyabab terjadinya kerusakan tanah juga dipicu oleh akibat adanya pencemaran tanah oleh akumulasi berbagai zat pencemar. Pembangunan infrastruktur terutama menyangkut industrialisasi yang tidak memperhatikan dan kuran bertumpu pada aspek lingkungan sering kali menimbulkan pencemaran termasuk juga pencemaran tanah oleh limbah yang dihasilkan. Zat pencemar tersebut pada akhirnya akan menyebabkan kerusakan tanah. Tanah yang tercemar

mengalami perubahan fisik, struktur, maupun tekturnya. Selain itu juga akan berdampak pada kematian organisme yang menggunakan tanah sebagai medium hidupnya sehingga produktifitas ekosistem menurun. Dampak bagi manusia terjadi secara tidak langsung oleh zat polutan yang pada akhirnya akan berpengaruh pada kesehatan.

2.1.4

Dampak Kerusakan Tanah Terhadap Ekosistem Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan

masyarakat di segala bidang yang menyangkut kehidupan manusia. Pembangunan dalam prosesnya tidak terlepas dari penggunaan sumberdaya alam, baik sumberdaya alam yang terbarukan maupun sumberdaya alam tak terbarukan. Seringkali di dalam pemanfaatan sumberdaya alam tidak memperhatikan kelestanannya, bahkan cenderung memanfaatkan dengan sebanyak-banyaknya. Di sisi lain, pembangunan itu sendiri dapat menimbulkan dampak terhadap sumberdaya seperti air. Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Danau, sungai, lautan dan air tanah adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Selain mengalirkan air juga mengalirkan sedimen dan polutan. Manfaat terbesar danau, sungi, lautan dan air tanah adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya berpotensi sebagai objek wisata. Akibat dari pencemaran air adalah terjadinya banjir, erosi, kekurangan sumber air, dapat membuat sumber penyakit, tanah longsor, dapat merusak ekosistem sungai.

2.1.5

Dampak Pembangunan Terhadap Perubahan Iklim dan Cuaca Cuaca adalah keadaan atmosfer secara keseluruhan pada suatu saat

termasuk perubahan, perkembangan dan menghilangnya suatu fenomena. Keadaan variable atmosfer secara keseluruhan disuatu tempat dalam selang waktu yang pendek. Keadaan atmosfer yang dinyatakan dengan nilai berbagai parameter, antara lain suhu, tekanan, angin, kelembaban dan berbagai fenomena hujan,

disuatu tempat atau wilayah selama kurun waktu yang pendek (menit, jam, hari, bulan, musim, tahun). Faktor penyebab perubahan iklim tak lain adalah manusia sendiri. Kegiatan-kegiatan manusia seperti konsumsi energi, meningkatnya industri dan transportasi, dan pembukaan lahan baru merupakan pemicu awal dari perubahan iklim. Dampak Perubahan Iklim antara lain: 1. 2. 3. Meningkatnya suhu permukaan bumi sepanjang lima tahun mendatang. Mengakibatkan gunung es mencair. Panen gagal, yang hingga tahun 2050 membuat 130 juta penduduk dunia terutama di Asia akan mengalami kelaparan. 4. 5. 6. Permukaan laut meningkat, Lenyapnya beberapa spesies, Bencana nasional yang makin meningkat.

Faktor faktor yang mempengaruhi iklim di Indonesia, yaitu 1. Perairan laut Indonesia Indonesia adalah negara yang memiliki wilayah laut yang sangat luas, sehingga terbentuk iklim laut yang sangat berpengaruh di Indonesia. 2. Topografi Indonesia memiliki topografi wilayah yang sangat bervariasi seperti dataran rendah, dataran tinggi, dan pegunungan yang memiliki suhu yang berbedabeda. Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan iklim secara vertikal seperti iklim panas, sedang, sejuk, dan dingin. 3. Letak Astronomis Posisi wilayah Indonesia secara Astronomis berada di antara 6 Lintang Utara 11 Lintang Selatan dan 95 141 Bujur Timur. Keberadaan wilayah Indonesia dalam posisi ini menyebabkan Indonesia memiliki iklim tropis dengan matahari yang bersinar sepanjang tahun. 4. Letak Geografis Indonesia berada di antara benua Asia dan Australia sehingga menjadi tempat perlintasan arah angin yang berubah setiap enam bulan. Hal ini menyebabkan terjadinya dua musim di Indonesia, yaitu musim kemarau dan musim

penghujan. Angin dari benua Australia yang kering menyebabkan musim kemarau, sedangkan angin yang bertiup dari Samudera Pasifik melewati Laut Cina Selatan yang basah menyebabkan musim penghujan di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, iklim di Indonesia juga dipengaruhi oleh iklim musim. Hubungan Pembangunan dan Iklim Secara umum pasti kita sudah pernah mendengar tentang rumah kaca. Rumah yang dibangun dengan konstruksi khusus pada bagian atapnya ini biasa digunakan untuk lahan proses pembibitan pada kegiatan perkebunan dan berfungsi untuk menghangatkan tanaman yang berada di dalamnya. Hal di atas juga terjadi pada bumi, di mana radiasi yang dipancarkan oleh matahari, menembus lapisan atmosfer dan masuk ke bumi. Radiasi matahari yang masuk ke bumi dalam bentuk gelombang pendek, menembus atmosfer bumi dan berubah menjadi gelombang panjang ketika mencapai permukaan bumi. Setelah mencapai permukaan bumi, sebagian gelombang dipantulkan kembali ke atmosfer. Akibatnya radiasi matahari tersebut terperangkap di atmosfer bumi. Karena peristiwa ini berlangsung berulang kali, maka kemudian terjadi akumulasi radiasi matahari di atmosfer bumi yang menyebabkan suhu di bumi menjadi semakin hangat. Peristiwa alam ini dikenal dengan Efek Rumah Kaca (ERK), karena peristiwanya serupa dengan proses yang terjadi di dalam rumah kaca. Dampak pembangunan terhadap perubahan iklim daerah perkotaan 1. Perubahan karakteristik permukaan fisik tanah dan akibat sampingan dari kegiatan tersebut adalah perubahan unsur iklim. 2. Adanya gedung-gedung yang menjulang tinggi ini dapat menghambat gerakan angin. Angin yang bergerak keatas ini akan membawa partikel-partikel (polutan, debu, asap kendaraan dan sebagainya) dan partikel-partikel ini berfungsi sebagai inti kondensasi. 3. Pembangunan gedung-gedung yang berdinding kaca juga akan memantulkan radiasi panas dari matahari, sehingga daerah sekitar gedung ini akan mengalami peningkatan panas.

2.2 Solusi Yang Dapat Dilakukan Untuk Meminimalisasi Dampak Negatif Dari Pembangunan Gedung Salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi dampak negatif dari pembangunan gedung yaitu dengan melakukan Pembangunan Berkelanjutan dengan upaya pelestarian lingkungan. Melestarikan lingkungan hidup merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi dan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemimpin negara saja, melainkan tanggung jawab setiap insan di bumi, dari balita sampai manula. Setiap orang harus melakukan usaha untuk menyelamatkan lingkungan hidup di sekitar kita sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Sekecil apa pun usaha yang kita lakukan sangat besar manfaatnya bagi terwujudnya bumi yang layak huni bagi generasi anak cucu kita kelak Upaya pemerintah untuk mewujudkan kehidupan adil dan makmur bagi rakyatnya tanpa harus menimbulkan kerusakan lingkungan ditindaklanjuti dengan menyusun program pembangunan berkelanjutan yang sering disebut sebagai pembangunan berwawasan lingkungan. Pembangunan berwawasan lingkungan adalah usaha meningkatkan kualitas manusia secara bertahap dengan memerhatikan faktor lingkungan. Pembangunan berwawasan lingkungan dikenal dengan nama Pembangunan Berkelanjutan. Konsep pembangunan berkelanjutan merupakan kesepakatan hasil KTT Bumi di Rio de Jeniro tahun 1992. Di dalamnya terkandung 2 gagasan penting, yaitu: 1. Gagasan kebutuhan, khususnya kebutuhan pokok manusia untuk menopang hidup. 2. Gagasan keterbatasan, yaitu keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan baik masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Adapun ciri-ciri Pembangunan Berwawasan Lingkungan adalah sebagai berikut: a. Menjamin pemerataan dan keadilan b. Menghargai keanekaragaman hayati. c. Menggunakan pendekatan integratif. d. Menggunakan pandangan jangka panjang.

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mempunyai tujuan di antaranya: a. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan. b. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat. c. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan. Sebagai warga negara yang baik, masyarakat harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Beberapa upaya yang dapat dilakuklan masyarakat berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup antara lain: a. Pelestarian tanah (tanah datar, lahan miring/perbukitan) Terjadinya bencana tanah longsor dan banjir menunjukkan peristiwa yang berkaitan dengan masalah tanah. Banjir telah menyebabkan pengikisan lapisan tanah oleh aliran air yang disebut erosi yang berdampak pada hilangnya kesuburan tanah serta terkikisnya lapisan tanah dari permukaan bumi. Tanah longsor disebabkan karena tak ada lagi unsur yang menahan lapisan tanah pada tempatnya sehingga menimbulkan kerusakan. Jika hal tersebut dibiarkan terus berlangsung, maka bukan mustahil jika lingkungan berubah menjadi padang tandus. Upaya pelestarian tanah dapat dilakukan dengan cara menggalakkan kegiatan menanam pohon atau penghijauan kembali (reboisasi) terhadap tanah yang semula gundul. Untuk daerah perbukitan atau pegunungan yang posisi tanahnya miring perlu dibangun terasering atau sengkedan, sehingga mampu menghambat laju aliran air hujan.

b. Pelestarian udara Udara merupakan unsur vital bagi kehidupan, karena setiap organisme bernapas memerlukan udara. Kalian mengetahui bahwa dalam udara terkandung beranekaragam gas, salah satunya oksigen. Udara yang kotor karena debu atau pun asap sisa pembakaran menyebabkan kadar oksigen berkurang. Keadaan ini sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup

setiap organisme. Maka perlu diupayakan kiat-kiat untuk menjaga kesegaran udara lingkungan agar tetap bersih, segar, dan sehat. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga agar udara tetap bersih dan sehat antara lain: 1) Menggalakkan penanaman pohon atau pun tanaman hias di sekitar kita 2) Tanaman dapat menyerap gas-gas yang membahayakan bagi manusia. Tanaman mampu memproduksi oksigen melalui proses fotosintesis. Rusaknya hutan menyebabkan jutaan tanaman lenyap sehingga produksi oksigen bagi atmosfer jauh berkurang, di samping itu tumbuhan juga mengeluarkan uap air, sehingga kelembapan udara akan tetap terjaga. 3) Mengupayakan pengurangan emisi atau pembuangan gas sisa pembakaran, baik pembakaran hutan maupun pembakaran mesin Asap yang keluar dari knalpot kendaraan dan cerobong asap merupakan penyumbang terbesar kotornya udara di perkotaan dan kawasan industri. Salah satu upaya pengurangan emisi gas berbahaya ke udara adalah dengan menggunakan bahan industri yang aman bagi lingkungan, serta pemasangan filter pada cerobong asap pabrik. 4) Mengurangi atau bahkan menghindari pemakaian gas kimia yang dapat merusak lapisan ozon di atmosfer Gas freon yang digunakan untuk pendingin pada AC maupun kulkas serta dipergunakan di berbagai produk kosmetika, adalah gas yang dapat bersenyawa dengan gas ozon, sehingga mengakibatkan lapisan ozon menyusut. Lapisan ozon adalah lapisan di atmosfer yang berperan sebagai filter bagi bumi, karena mampu memantulkan kembali sinar ultraviolet ke luar angkasa yang dipancarkan oleh matahari. Sinar ultraviolet yang berlebihan akan merusakkan jaringan kulit dan menyebabkan meningkatnya suhu udara. Pemanasan global terjadi di antaranya karena makin menipisnya lapisan ozon di atmosfer. c. Pelestarian hutan Eksploitasi hutan yang terus menerus berlangsung sejak dahulu hingga kini tanpa diimbangi dengan penanaman kembali, menyebabkan kawasan hutan menjadi rusak. Pembalakan liar yang dilakukan manusia merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan hutan. Padahal hutan merupakan penopang kelestarian kehidupan di bumi, sebab hutan bukan hanya menyediakan bahan

pangan maupun bahan produksi, melainkan juga penghasil oksigen, penahan lapisan tanah, dan menyimpan cadangan air. Upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan hutan: 1) Reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul. 2) Melarang pembabatan hutan secara sewenang-wenang. 3) Menerapkan sistem tebang pilih dalam menebang pohon. 4) Menerapkan sistem tebangtanam dalam kegiatan penebangan hutan. 5) Menerapkan sanksi yang berat bagi mereka yang melanggar ketentuan mengenai pengelolaan hutan.

d. Pelestarian laut dan pantai Seperti halnya hutan, laut juga sebagai sumber daya alam potensial. Kerusakan biota laut dan pantai banyak disebabkan karena ulah manusia. Pengambilan pasir pantai, karang di laut, pengrusakan hutan bakau, merupakan kegatan-kegiatan manusia yang mengancam kelestarian laut dan pantai. Terjadinya abrasi yang mengancam kelestarian pantai disebabkan telah hilangnya hutan bakau di sekitar pantai yang merupakan pelindung alami terhadap gempuran ombak. Adapun upaya untuk melestarikan laut dan pantai dapat dilakukan dengan cara: 1) Melakukan reklamasi pantai dengan menanam kembali tanaman bakau di areal sekitar pantai. 2) Melarang pengambilan batu karang yang ada di sekitar pantai maupun di dasar laut, karena karang merupakan habitat ikan dan tanaman laut. 3) Melarang pemakaian bahan peledak dan bahan kimia lainnya dalam mencari ikan. 4) Melarang pemakaian pukat harimau untuk mencari ikan.

e. Pelestarian flora dan fauna Kehidupan di bumi merupakan sistem ketergantungan antara manusia, hewan, tumbuhan, dan alam sekitarnya. Terputusnya salah satu mata rantai dari sistem tersebut akan mengakibatkan gangguan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, kelestarian flora dan fauna merupakan hal yang mutlak diperhatikan demi kelangsungan hidup manusia. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian flora dan fauna di antaranya adalah: 1. 2. 3. Mendirikan cagar alam dan suaka margasatwa. Melarang kegiatan perburuan liar. Menggalakkan kegiatan penghijauan.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan dari makalah ini yaitu, masalah pembangunan di satu pihak menunjukkan dampak positif terhadap lingkungan dan masyarakat seperti tersedianya jaringan jalan, telekomunikasi, listrik, air, kesempatan kerja serta produknya sendiri memberi manfaat bagi masyarakat luas dan juga meningkatkan pendapatan bagi daerah yang bersangkutan. Masyarakat sekitar pabrik langsung atau tidak langsung dapat menikmati sebagian dari hasil pembangunannya. Di

pihak lain apabila pembangunan ini tidak diarahkan akan menimbulkan berbagai masalah seperti konflik kepentingan, pencemaran lingkungan, kerusakan, pengurasan sumberdaya alam, masyarakat konsumtif serta dampak sosial lainnya yang pada dasarnya merugikan masyarakat.

5.2 Saran Pembangunan adalah salah satu usaha yang sebenarnya sangat membantu manusia. Tetapi bila pembangunan tidak sesuai dengan tata aturan yang ada, dimana manusia tidak memperhitungkan dampak-dampak yang terjadi dimasa mendatang maka dampak dari perubahan itu akan ditanggung sendiri oleh manusia. Pembangunan yang ada sekarang mempunyai hubungan dengan semuanya, baik itu, iklim, sosial, struktur tanah dan sebagainya.