Anda di halaman 1dari 32

ADIKSI ROKOK DITINJAU DARI KEDOKTERAN ISLAM

Oleh: Dr. H. Zuhroni, MA

TOPIK KAJIAN Hukum Merokok menurut Syariat Islam dan fikih Islam? Batasan Umum Hukum Islam tentang hukum merokok. Adakah larangan atau pembolehan merokok dalam Nash yang sharih ? Apa pendapat Ulama klasik dan kontemporer tentang hukum merokok. Pendapat Ulama Indonesia ? Mengapa terjadi perbedaan pendapat tentang hukumnya? Hukum bagi pihak-pihak yang terlibat dalam prosesnya.

PRINSIP DASAR PENENTUAN HUKUM ISLAM


Benda tidak ada hukumnya, yang ada hukumnya adalah mengkonsumsi, menggunakan, memperjualbelikannya, dst. Hukum atas perbuatan manusia ada lima: Wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Pihak yang berhak menentukan hukum sesuatu adalah Pembuat syariat (Allah dan Rasulullah). Ulama sebagai pewaris Nabi memiliki otoritas dan kompetensi berijtihad untuk menentukan hukum sesuatu yang belum ditentukan hukumnya secara jelas dalam nash dengan tetap berpijak pada Alquran dan Sunnah.

PERBEDAAN POKOK ANTARA SYARIAH DAN FIKIH


SYARIAH
Berasal dari Alquran dan As-sunah Hukumnya bersifat Qath'i (tidak berubah) Hukumnya hanya Satu (Universal) Langsung dari Allah dalam Alquran dan Hadis Nabi

FIKIH

Karya manusia yang bisa berubah Hukumnya dapat berubah Hukumnya beragam Berasal dari Ijtihad para Mujtahid

Rokok menurut Syariat Islam atau menurut Fikih Islam ?

ROKOK MENURUT SUMBER HUKUM ISLAM


Rokok belum dikenal di Zaman Nabi, Khulafaur Rasyidun, bahkan era 4 mazhab fikih = Tidak ada ayat, hadis, hukum fikih dari para pendiri Mazhab Fikih. Rokok = Tidak pernah disebut dalam majlis Nabi, Sahabat, tidak ada dalam Alquran dan Hadis Nabi. Rokok dikenal sekitar 16 M, di dunia Islam sejak akhir abad X XI H
Merokok = Masalah ijtihadiyah

PENDAPAT ULAMA TENTANG HUKUM MEROKOK DAN ISTILAH YANG DIGUNAKAN Haram/Al-Karahah at-Tahrimiyyah/ Dilarang dan haram (Mayoritas). Makruh/Karahah. Mubah/ibahah/jaiz/halal. Tawaqquf/Abstain. Tergantung konteks (Illat).

SEBAB PERBEDAAN PENTAPAN HUKUM MEROKOK = PERBEDAAN METODE PENETAPAN HUKUM ISTINBATH HUKUM DAN ISTIDLAL
Bidang syariah atau fikih Ada dan tidaknya dalam nash yang sharih. Pertimbangan maslahah dan mafsadah Perbedaan penerapan dalil umum (kulliyyat) dan khusus (juziyyat) dalam nash Perbedaan penggunaan kaidah hukum Islam (Qawaid Islamiyyah) Mengacu pada penyebutan nama dan sifat
Di setiap mazhab terdapat perbedaan pendapat: Haram, Makruh, dan mubah Masing-masing menyatakan pendapatnya yang kuat.

ULAMA KLASIK YANG MENGHARAMKAN MEROKOK SECARA MUTLAK

Mazhab Hanafi
Syeikh asy-Syarnabulasi, Ismail an-Nabulisi, al-Musiri, al-Imadi, Muhammad Najmuddin Az-Zahidi, Syekh Mahmud al-Ini, Abul Hasan alMisri al-Hanafi, Muhammad al-Marisyi (Sajaqli Zadah), Muhammad Alauddin al-Hashkafi, Rajab bin Ahmad, Muhammad bin ash-Shiddiq azZubaidi, Muhammad bin Saduddin, Muhammad Abdul Azhim al-Makki, Muhammad Abdul Baqi al-Makki, Muhammad as-Sanadi, Muhammad al-Aini,.Syeikh Muhammad Khawajah dan Syeikh Muhammad asySyahawi (Daulah Usmaniyyah), Ahmad Sanhuri al-Bahuti, dan Ibrahim al-Laqqani (Mesir) 1601. dll.

ULAMA KLASIK YANG MENGHARAMKAN MEROKOK SECARA MUTLAK

Mazhab Maliki
Syeikh Abdul Malik al-Isami, Syeikh Ibrahim Allaqqani, Syekh Khalid bin Ahmad al-Maliki, Salim an-Sanhuri, Salim al-Masnuri, Khalid al-Suwaidi, Muhammad bin Fathullah bin Ali al-Maghribi, Abu Ghaits al-Qasysyasyi al-Maghribi, Khalid bin Muhammad Abdullah al-Jafari.

ULAMA KLASIK YANG MENGHARAMKAN MEROKOK SECARA MUTLAK

Mazhab Syafii
Syeikh Najm al-Ghazzi, Syihabuddin al-Qulyubi, Sulaiman al-Bujairimi, Muhammad Syihabuddin alLaqqani, Umar bin Abdurrahman al-Husaini, Ibrahim bin Jaman, syeikh Amir, dll.

ULAMA KLASIK YANG MENGHARAMKAN MEROKOK SECARA MUTLAK

Mazhab Hanbali:
Musthafa al-Rahibani, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Syekh Muhammad bin Ibrahim Mufti Arab Saudi, Mushthafa ar-Rahibani, Muhammad al-Hanbali, Manshur alBahuti, Ahmad al-Sanhuri, Abdullah bin al-Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab, dll.

ULAMA YANG MENGHARAMKAN MEROKOK SECARA MUTLAK ULAMA KONTEMPORER YANG MENGHARAMKAN MEROKOK
Lajnah Fatwa al-Azhar (Mesir). Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal-Isfta Kerajaan Arab Saudi. Mutamar Islam International tentang Melawan Penggunaan Zat yang Memabukkan dan Adiktif

Pusat fatwa di al-Syabakah al-Islamiyyah Syeikh Dr. Muhammad Thayyib an-Najjar, anggota Majma al-Buhuts alIslamiyyah, lembaga fatwa di Al-Azhar (1979) Muhammad Yusuf al-Qaradhawi, Nashr Farid Washil (Mufti ad-Diyar al-Mishriyyah) Abdullah bin Bazz dan wakilnya:Abdur Razzaq al-Afifi. Syeikh Muhammad bin Shalih bin Utsaimin Bin Jibrin Jafar Ahmad ath-Thahawi Ahmad Muhammad Kanan

BERBAGAI ILLAT (ALASAN) HARAMNYA MEROKOK


Bersifat adiktif dan dikategorikan pada batasan memabukkan dan dan merusak Membahayakan kesehatan (dharar bagi agama, badan, nyawa, harta, akal, nasab). Termasuk khabais (sesuatu yang tidak baik). Merupakan perbuatan tabzir/menyia-nyiakan harta . Bau tidak sedap. Rokok bukan makanan atau obat, tetapi penyakit dan racun. Rokok perbuatan sia-sia, lahwun, main-main. Rokok termasuk bidah, setiap bidah adalah haram. Menyerupai perbuatan orang kafir dan penghuni neraka Dapat melalaikan shalat. Tindakan berlebih-lebihan. Tidak ada manfaatnya, jika bermanfaat mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya.
Sejalan dengan pendapat ulama klasik yang mengharamkannya dari berbagai Mazhab dan ulama kontemporer dan pendapat ahli kesehatan.

Alasan lain:
Sanggahan kelompok yang mengharamkan terhadap yang memubahkannya

Tidak semua yang tidak disebutkan dalam nash berarti halal, sebab banyak jenis makanan dan minuman haram yang tidak disebutkan namanya, benar bahwa hukum asal sesuatu itu halal, tetapi yang tidak termasuk mengandung mudarat, mubazir, dan membuang-buang harta. Alquran dan sunah hanya menyebutkan global, tidak langsung disebutkan namanya, tetapi sifatnya, seperti al-Khabaits,

NEGARA YG MENGHARAMKAN MEROKOK


Mayoritas Ulama Saudi.

Ulama Mesir, Yordania, Yaman, dan Syiria. Kementerian Kehakiman dan Hal Ihwal Islam Emirat Arab.
Muzakarah Jawatan kuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-37 yang bersidang pada 23 Mac 1995. Brunei Darussalam . Dll.

MEROKOK BERTENTANGAN DENGAN MAQASHID ASY-SYARIAH

1. 2. 3. 4. 5.

( memelihara agama) ( memelihara nyawa) ( memelihara keturunan (kehormatan) ( memelihara akal) ( memelihara harta)

ULAMA YANG MEMAKRUHKAN MEROKOK


Ulama Mazhab Hanafi = Syekh Musthafa ar-Rahibani al-Hanbali dan Syekh Hamid bin Ali bin Ibrahim al-Imadi, Syeikh Musthafa az-Zarqa. Ulama Mazhab Maliki = Syeikh Muhammad Aisy. Ulama Mazhab Syafii = Syeikh Abdullah asy-Syarqawi Mazhab Hanbali= Syeikh Mushthafa al-Rahibani dan Manshur alBahuti. Alasan: Hampir sama dengan argumentasi kelompok yang menyatakan haram dengan pemahaman bahwa dlarar/madharatnya belum sampai ketingkat yang layak diharamkan. Menghamburkan atau mengurangi harta Bau mulut
Mengurangi muruah

ULAMA YANG MENGHALALKAN MEROKOK SECARA MUTLAK


Ulama Klasik: Ulama Hanafiyah = Syeikh Muhammad Amin, Muhammad abbasi alMahdi, Syeikh Abdul Ghani an-Nabilisi (ahli fikih terkenal dari Mazhab Hanafi angkatan mutaakhkhirin), Ibnu Abidin (pengarang Radd al-Muhtar Ala ad-Durr al-Muhtar). Ulama Malikiyah = Syeikh Ali al-Ajhuri, Syeikh Manshur al-Bahuti alHanbali Ulama Syafii = Syeikh Jamal az-Ziyadi, Asyar wani. Ulama Hanbali = Mari al-Karami.
Alasan: Asal segala sesuatu adalah boleh, dan tidak ada dalil yang mengharamkannya. Keharaman dan makruhnya sesuatu mesti ada dalil, di sini tidak ada dalil, baik dari Alquran, Hadis, Ijmak khusus dan qiyas. Unsur memabukkan, adiktif dan merusak tidak mutak. Bukan namanya ihtiyath (kehati-hatian) mengharamkan atau memakruhkannya pada sesuatu yang tida ada dalilnya. Asal setiap yang bermanfaat adalah boleh, termasuk rokok. Semua yang di bumi halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Merokok termasuk sesuatu yang baik yang tidak diharamkan

HUKUM MEROKOK DAPAT BERGESER SEIRING DENGAN PERGESERAN ILLATNYA

Mubah = Seperti teh, kopi, tidak berpengaruh serius terhadap keuangan dan kesehatan. Makruh = bagi yang yang hidupnya pas-pasan,Jika tidak berpengaruh terhadap kebutuhan hidupnya, orang yang menjadi tanggungannya, serta pada kesehatannya. Haram = Orang miskin yang sangat memerlukan uang, demikian juga yang berpengaruh buruk pada kesehatannya. Sunnah = Bagi orang yang menjadikannya lebih bersemangat dalam pekerjaannya, seperti minum kopi. Wajib = Jika tuntutan kesehatan untuk mengobati suatu penyakit tertentu demi kesehatan.

PENDAPAT ULAMA KONTEMPORER


TENTANG FLEKSIBELITAS HUKUM MEROKOK

Hasanain Makhluf (Ulama Mesir)= Hukum asalnya halal, tetapi dapat berubah seiring dengan kondisinya dapat menjadi haram atau makruh.

Hukum Merokok Tergantung dari Dampak: 1. Jika pasti menyebabkan bahaya pada dirinya, maka dilarang merokok, karena bahaya yang jelas. 2. Bila dilakukan di dalam masjid, hukumnya makruh. Juga jika di tempat umum yang berpotensi mengganggu orang lain. 3. Jika tidak menimbulkan dlarar yang pasti pada dirinya, serta dilakukan di tempat atau komunitas yang tidak mengganggu orang lain, hukumnya boleh

Sayyid Alawi bin Sayyid Ahmad as-Saqqaf:


Hukum merokok: Haram, makruh, mubah, wajib, dan sunnat
Haram = Jika membahayakan kondisi ekonomi atau kesehatan seseorang. tidak punya uang, makan saja susah. Seseorang yang kesehatannya akan terganggu karena merokok, hukumnya haram. Makruh = Jika efek negatifnya tidak fatal. Mubah = Bagi seseorang yang sehat, banyak uang; sehingga dengan merokok, ekonomi dan kesehatannya tidak akan terganggu. Sunat atau wajib sesuai dengan illat yang mengirinya.

Mahmud Syaltut:

Halal tetapi bisa menjadi haram (Al-Fatawa, h. 383-384) Sebagian ulama menghukumi tembakau halal karena tidak memabukkan dan sejatinya bukan benda yang memabukkan. Tembakau juga tidak membawa mudarat bagi setiap orang yang mengkonsumsinya. Pada dasarnya tembakau adalah halal, tetapi bisa jadi haram bagi orang yang memungkinkan terkena mudharat dan dampak negatifnya.

Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhailiy (Ulama Suriah):


Tergantung tujuan
Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh (Jilid 6, h.166-167) mengenai kopi dan rokok: Kopi dan rokok itu sarana. Setiap sarana sesuai dengan tujuannya. Jika sarana itu dimaksudkan untuk ibadah, ia menjadi ibadah. Untuk yang mubah, menjadi mubah.

KEMASLAHATAN ROKOK
Dipakai dalil oleh kelompok yang membolehkannya
Besarnya tenaga kerja yang terserap dalam industri rokok. Merokok dapat membangkitkan semangat berpikir dan bekerja seperti yang dirasakan oleh para perokok. Rokok adalah satu-satunya industri yang dikaitkan langsung sebagai penerimaan APBN.

FATWA 4 LEMBAGA FATWA DI INDONESIA TENTANG MEROKOK


1. 23-26 Januari 2009, (MUI) = Rokok makruh dan haram, haram untuk anak-anak, di tempat umum, dan wanita hamil. 2. 9 Maret 2010, Majlis Tarjih dan Tajdid PP. Muhammadiyah merevisi fatwa 2005, hukum merokok mubah, kemudian menjadi haram. 3. Dewan Hisbah PERSIS= Makruh 4. Bahtsul Masail NU = Mubah, makruh, dan bisa haram.

KOMISI FATWA MUI


MUNAS MUI di Padang Panjang 28 Feb 2008 bahwa merokok hukumnya haram bila: 1. Dilakukan dewasa di muka umum 2. Dilakukan anak kecil dan remaja 3. Dilakukan wanita yang sedang hamil Alasan = Aspek kemudharatan, membahayakan anak-anak, kehamilan dan kaum remaja di Indonesia,

MAJLIS TARJIH DAN TAJDID

MUHAMMADIYAH
2005 Muhammadiyah lewat Majlis Tarjih dan Tajdid telah menerbitkan fatwa hukum merokok mubah. Fatwa tersebut kemudian direvisi atau dianggap tidak berlaku lagi semenjak dikeluarkannya fatwa hasil dari Kesepakatan dalam Halaqah Tarjih tentang Fikih Pengendalian Tembakau yang diselenggarakan Maret 2010 M yang isinya mengatakan bahwa merokok adalah haram.

FATWA BAHTSUL MASAIL NU TENTANG MEROKOK


Bahstul Masail NU: Hukum merokok bersifat relatif: Mubah, makruh, dan bisa haram, tergantung yang diakibatkannya: 1. Mubah = hakikat rokok bukanlah benda yang memabukkan, 2. Makruh = rokok membawa mudhaat yang relatif kecil, 3. Haram = jika secara mutlak dipandang banyak membawa mudharat sesuai informasi dari hasil penelitian medis. Hukum memproduksi dan mendistribusikannya adalah mubah, lebih mendahulukan kepada aspek ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia.

PERNYATAAN KH. ARWANI (NU)


Hukum merokok adalah mubah atau boleh, karena rokok dipandang tidak membawa mudarat. Hakikat rokok bukanlah benda yang memabukkan. Hukum merokok adalah makruh karena rokok membawa mudarat relatif kecil yang tidak signifikan untuk dijadikan dasar hukum haram. Hukum merokok adalah haram karena rokok secara mutlak dipandang membawa banyak mudarat. Berdasarkan informasi mengenai hasil penelitian medis, bahwa rokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit dalam, seperti kanker, paru-paru, jantung dan lainnya setelah sekian lama membiasakannya.

DEWAN HISBAH PERSIS:


Hukum merokok adalah makruh

Alasan: Tidak ada dalil (nash), Alquran maupun hadits yang secara langsung melarang dan mengharamkan merokok, dan tidak ada illat yang jelas dan kuat, juga karena rokok mengandung zat-zat kimia yang membahayakan jiwa. Hal yang melatarbelakangi melalui pendekatan maslahah dan mudarat didasarkan pada nash dan kaidah hukum Islam

Kesimpulan
Pendapat-pendapat ulama tentang hukum merokok statusnya zhanni. Sebab, dalil-dalil yang dipergunakan oleh masing-masing pihak dilalahnya tidak ada yang qathi, sehingga melahirkan putusan hukum yang berbeda (khilafiah). Para ulama yang mengharamkan merokok karena mempertimbangkan dampat mudarat atau dharar (termasuk adiktif) yang ditimbulkannya, melalui metode burhani berdasarkan pendapat pakar bidang kedokteran dan mengacu pada dalil-dalil nash.