Anda di halaman 1dari 15

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA SCHOOL PHOBIA PADA ANAK USIA PRASEKOLAH (3-6 TAHUN) DI TAMAN KANAK-KANAK RESTU

DAN ANAK SALEH MALANG Achdiat Agoes*, Retno Lestari**, Diena Fithriana Sadi***

ABSTRAK School phobia merupakan suatu ketakutan emosional yang menyebabkan anak menjadi sangat takut untuk berangkat sekolah yang bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor eksternal maupun internal. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor kondisi fisik, urutan kelahiran, inteligensi, lingkungan sekolah, dan pola asuh. School phobia apabila tidak segera diatasi dapat menyebabkan kondisi yang tidak sehat bagi perkembangan mental, sosial, intelektual dan perkembangan anak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor mana dari faktor internal dan eksternal tersebut yang paling mempengaruhi terjadinya school phobia pada anak usia prasekolah di TK Restu dan Anak Saleh Malang. Rancangan penelitian ini adalah analisis observasional dengan pendekatan cross sectional study. Teknik pengambilan data dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah responden 139 anak. Instrumen yang digunakan sebagai pengumpul data adalah kuesioner dan lembar observasi. Dari hasil pengolahan data menggunakan uji statistik Spearman Rank pada SPSS for windows 16 dengan taraf signifikansi 95% ( = 0,05) diperoleh nilai korelasi positif sebesar 0,324 dan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh dengan school phobia sedangkan faktor kondisi fisik, urutan kelahiran, inteligensi dan lingkungan sekolah tidak terdapat hubungan yang bermakna karena p-value dari masing-masing faktor tersebut lebih besar dari nilai . Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi gambaran bagi orang tua untuk memperhatikan kondisi anak baik fisik, mental dan sosial dalam memperkenalkan dunia sekolah sebagai salah satu persiapan anak serta dapat meningkatkan peran serta tenaga pengajar dalam mengantisipasi dan menanggulangi terjadinya school phobia. Kata kunci: Faktor-Faktor yang Mempengaruhi, Usia Prasekolah, Taman Kanak-Kanak School Phobia

ABSTRACT School phobia is an emotional fear causing children fear to go to school that can be influenced by some factors, external or internal. The factors such as physical condition, birth order, intelligence, school environment, and care pattern. If school phobia does not overcome, it can cause unhealthy condition of childrens mental, social, and intellectual development. The research done to know of which the greatest influence, either internal or external factors at Restu Kindergarten and Anak Saleh Malang Kindergarten. The design of the research is observational analysis with cross sectional approach. The data collection use purposive sampling with 139 respondents. The instrument used to collect data is questionnaire and observation sheets. Based on the data analysis by Spearman Rank at SPSS For Windows 16 with 95% significance level ( =0.05) obtained positive correlation value of 0.324, and have significance level of 0.000 (p<0.05). The research conclusion is there is significant relation between care pattern with school phobia, while physical condition, birth order, intelligence, and school environment do not have significant relation to school phobia because the p-value of each factor more than . From the result of research, it is expected it can be used as a description for parents to consider the children condition, either physic, mental, and social in introducing the school world as one of children preparation and to improve the role of teacher in anticipating and overcoming the school phobia. Keywords: factors that influence, pre school age, kindergarten, school phobia * ** Departemen PSIK FKUB *** Jurusan Ilmu Keperawatan FKUB

PENDAHULUAN

menunjukkan bahwa fobia sekolah terjadi pada sekitar 6,3% anak usia 3-5 tahun, 2,8% pada anak usia 6-11 tahun dan 0,9% pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Rahmadi, 2007). Sementara itu, sebuah studi yang dilakukan secara internasional mengungkapkan sekitar 2,4% anak-anak mengalamai fobia sekolah. Rata-rata anak yang mengalami school phobia berusia 3-5 tahun dimana pada usia ini anak sedang menempuh pendidikan praformal atau

Ketakutan atau keengganan anak untuk bersekolah sebenarnya merupakan hal yang biasa terjadi. Rasa takut tersebut umumnya merupakan respon untuk

melindungi diri terhadap sesuatu. Tetapi pada beberapa anak, ketakutan tersebut bisa menjadi hal yang irasional dan

berdampak sangat besar pada keinginan anak untuk tidak bersekolah. Hal irasional inilah yang disebut dengan fobia sekolah (school phobia). Karakteristik anak yang mengalami fobia sekolah antara lain sulit berinteraksi dengan orang lain, tidak mau bermain dengan teman sebayanya, anak menangis ketika tiba di sekolah, tidak mau masuk ke dalam kelas dan bahkan ingin pulang, anak juga mulai mengeluh sakit perut, sakit kepala, dan sebagainya, tetapi keluhan tersebut hilang begitu anak kembali ke rumah. Hal ini bisa terjadi pada saat awal sekolah dan bisa berlanjut bermingguminggu. tersebut Pada justru anak-anak terjadi tertentu hal

prasekolah dan berakhir pada usia 14-15 tahun (Sakinah, 2009). Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa persentase

kejadian school phobia terbesar terjadi pada usia prasekolah dimana pada usia ini anak mulai belajar bersosialisasi di lingkungan yang baru. Besarnya persentase school phobia pada usia prasekolah bisa jadi disebabkan kesulitan lingkungan keluarganya. Menurut Hurlock (2002) terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tejadinya school phobia pada anak antara lain inteligensi, kondisi fisik anak, karena anak mengalami diri di

dalam baru

menyesuaikan di luar

lingkungan

beberapa

bulan

setelah masuk sekolah dimana anak lainnya sudah terbiasa dengan lingkungannya.

Kondisi ini nantinya akan berpengaruh terhadap perkembangan anak (Sally, 2003). Menurut King (2001), 5% anak usia prasekolah Sebuah mengalami penelitian school di phobia. Indonesia 2

lingkungan, urutan kelahiran dan pola asuh orang tua. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang paling

mempengaruhi terjadinya school phobia pada anak usia prasekolah. Penelitian ini diharapkan dapat

HASIL PENELITIAN 1. Gambaran Responden 1.1 Usia Responden Karakteristik Umum

menjadi masukan bagi para guru agar bisa mengantisipasi dan mengatasi school

phobia lebih dini. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi masukan dan informasi bagi masyarakat khususnya orang tua tentang school phobia dan faktor yang paling mempengaruhi.
Gambar

20 14,4% 57 41 %
1.

62 44,6%

4 tahun 4,5 tahun 5 tahun

Distribusi

frekuensi

responden

berdasarkan usia

METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam

Berdasarkan gambar 1 didapatkan bahwa frekuensi tertinggi terdapat pada usia 4 tahun yaitu sebanyak 62 anak dengan persentase 44,6%.

penelitian ini adalah cross sectional study dimana jenis penelitian jenis penelitian ini menekankan waktu pengukuran atau

observasi data variabel independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat. Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas nol kecil sebagai subyek yang

1.2 Jenis Kelamin

diobservasi di TK Restu dan Anak Saleh, Malang dan orang tua murid sebagai responden yaitu sebanyak 139 orang.

76 54,7%

63 45,3%

Laki-laki Perempuan

Sampel dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling yaitu pemilihan sampel sesuai dengan kriterian inklusi dan eksklusi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang telah disusun mungkin berdasarkan faktor-faktor school yang phobia

Gambar 2. Distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin

responden

mempengaruhi

Berdasarkan gambar 2 didapatkan frekuensi responden berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan dengan responden laki-laki yaitu sebanyak 76 anak dengan persentase sebesar 54,7%.

pada anak.

ANALISA DATA 1. Analisa Data Kondisi Fisik

3. Analisa Data Inteligensi


50 35,97%
cukup baik

12 8,6% 127 91,4%


baik

19 13,67% 70 50,36%
Kurang Cukup Baik

Gambar 5. Distribusi berdasarkan inteligensi frekuensi responden

frekuensi

responden

Gambar 3. Distribusi berdasarkan kondisi fisik

Gambar 3 menunjukkan bahwa dari 139 responden didapatkan bahwa sebanyak 127 anak (91,4%) memiliki kondisi fisik yang baik. Tidak ada responden yang memiliki kondisi fisik yang kurang baik. 2. Analisa Data Urutan Kelahiran Anak

Dari gambar 5 didapatkan bahwa 50,36% responden memiliki tingkat inteligensi yang baik sedangkan 35,97% memiliki tingkat inteligensi yang cukup baik dan 13,67% sisanya memiliki tingkat inteligensi kurang. 4. Analisa Data Lingkungan Sekolah 29 20,9% 110 79,1%
Kurang baik Baik
Gambar 6. Distribusi frekuensi berdasarkan lingkungan sekolah responden

31 22,3%

3 1 2,2% 0,7% 39 28,1%

Pertama

65 46,8%

Kedua Ketiga Keempat Kelima

Gambar 4. Distribusi frekuensi berdasarkan urutan kelahiran anak

responden

Berdasarkan gambar 4 dapat dilihat bahwa distribusi urutan kelahiran terbanyak terdapat pada anak pertama yaitu sebanyak 65 anak dengan persentase sebesar 46,8% sedangkan distribusi terkecil terdapat pada anak kelima dengan persentase sebesar 0,7%.

Dari gambar 5.1.6 terlihat bahwa sebanyak 110 dari 139 responden memiliki lingkungan sekolah yang baik sedangkan 29 sisanya memiliki lingkungan sekolah yang kurang baik. 5. Analisa Data Pola Asuh Orang Tua
79 56,8% 31 22,3%

Otoriter Permisif

29 20,9%
Gambar 7. Distribusi frekuensi berdasarkan pola asuh orang tua

Demokratis

responden

Gambar 7 menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden menerapkan pola asuh yang demokratis sedangkan pola asuh otoriter memiliki nilai persentase 2% lebih besar dibandingkan dengan pola asuh permisif. 6. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia dan School Phobia
Tabel 1 Distribusi frekuensi berdasarkan usia dan school phobia responden

Dari tabel 2 terlihat bahwa frekuensi tertinggi terdapat pada anak perempuan yaitu sebanyak 76 anak dengan persentase 54,7% sedangkan anak laki-laki sebanyak 63 anak dengan persentase 45,3%. 8. Analisis Hubungan Kondisi dengan School Phobia Fisik

Tabel 3 Tabulasi silang antara kondisi fisik dengan school phobia

Dari tabel 3 terlihat bahwa pada kondisi fisik baik terdapat 6 anak yang mengalami Dari tabel 1 terlihat bahwa frekuensi school phobia berat, 30 anak mengalami school phobia sedang dan 91 anak tertinggi terdapat pada usia 4 tahun yaitu sebanyak 62 anak (44,6%) dan frekuensi terendah terlihat pada anak usia 5 tahun yaitu sebanyak 20 anak dengan persentase 14,4%. Dari tabel tersebut juga terlihat bahwa baik anak yang berusia 4 tahun, 4,5 tahun maupun 5 tahun memiliki school phobia ringan sebagai frekuensi tertinggi. 7. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin dan School Phobia
Tabel 2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin dan school phobia

mengalami school phobia ringan. Pada kondisi fisik cukup baik, dari tabel di atas diperoleh data bahwa dari 12 anak 10 orang diantaranya mengalami school phobia

ringan, 2 orang mengalami school phobia sedang dan tidak ada yang mengalami school phobia berat. Dari hasil korelasi Spearman diperoleh hasil p-value = 0,361 dimana p-value > 0,05 sehingga Ho

diterima yang berarti tidak ada hubungan antara kondisi fisik dengan school phobia. 9. Analisis Hubungan Urutan Kelahiran Anak dengan School Phobia
Tabel 4 Tabulasi silang antara urutan kelahiran dengan school phobia

10. Analisis Hubungan dengan School Phobia

Inteligensi

Tabel 5 Tabulasi silang antara inteligensi dengan school phobia

Dari tabel tersebut diketahui bahwa school phobia berat hanya terdapat pada anak pertama, ketiga dan kelima dengan persentase 1,4% pada anak pertama, 2,2% pada anak ketiga dan 0,7% pada anak kelima. Sedangkan untuk school phobia ringan terdapat pada anak pertama, kedua dan ketiga dengan persentase 12,2% pada anak pertama, 6,5% pada anak kedua dan 4,3% pada anak ketiga. Dari tabel tersebut juga terlihat bahwa school phobia ringan terdapat pada hampir semua urutan Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa baik anak yang memiliki inteligensi

kurang,cukup dan baik memiliki school phobia yang ringan, sedang dan berat. Untuk inteligensi dilakukan sehingga dan mengetahui school hubungan maka

phobia

analisis

korelasi

Spearman relasi

didapatkan

koefisien

sebesar 0,103 dan p-value = 0,226 dimana p-value > 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara inteligensi dengan

kelahiran kecuali pada urutan kelahiran kelima. Hasil analisis data dengan

school phobia. 11. Analisis Hubungan Lingkungan Sekolah dengan School Phobia
Tabel 6 Tabulasi silang antara lingkungan sekolah dengan school phobia

menggunakan korelasi Spearman Rank didapatkan koefisien relasi -0,003 dan pvalue = 0,974 dimana p-value > 0,05 sehingga bisa disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara urutan kelahiran anak dengan school phobia.

Tabel 6 menunjukkan bahwa baik anak yang memiliki lingkungan baik maupun 6

kurang baik memiliki school phobia yang ringan dengan persentase 15,1% untuk lingkungan kurang baik dan 57,6% untuk lingkungan baik. Dari tabel tersebut dapat disimpulkan kecenderungan bahwa tidak ada antara

silang tersebut juga terlihat bahwa anak yang mengalami school phobia berat pada pola asuh otoriter dan permisif memiliki frekuensi yang sama besar yaitu sebanyak tiga anak. Pada pola asuh permisif tiga anak yang mengalami school phobia berat ternyata tidak mengikuti playgroup

hubungan

lingkungan dengan school phobia. Untuk mengetahui hubungan antara lingkungan school phobia maka dilakukan analisis korelasi Spearman dan didapatkan hasil p-value = 1,000 dan koefisien relasi 0,000. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara faktor lingkungan dengan school phobia.

sebelumnya. Untuk membuktikan hasil hubungan tabulasi silang terebut maka digunakan analisis korelasi Spearman. Hasil korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh dengan school phobia dengan p-value = 0,000 yang kurang dari 0,05 dan besar hubungan

12. Analisis Hubungan Pola Asuh dengan School Phobia


Tabel 3 Tabulasi silang antara pola asuh dengan school phobia

yang terbentuk adalah 0,324. Adanya hubungan antara pola asuh orang tua dengan school phobia dapat digambarkan sebagai berikut :

Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa pola asuh yang permisif dan
Gambar 8. Distribusi responden berdasarkan hubungan pola asuh orang tua dengan school phobia

demokratis cenderung menyebabkan anak memiliki school pola phobia asuh yang yang ringan. otoriter

Sedangkan

Berdasarkan gambar 8 dapat diketahui bahwa school phobia ringan pada pola asuh demokratis lebih tinggi daripada pola asuh permisif dan otoriter. Sedangkan school phobia ringan pada pola asuh permisif lebih 7

menyebabkan anak memiliki school phobia sedang hingga ringan. Tidak satupun anak yang diberi pola asuh demokratis memiliki school phobia yang berat. Pada tabulasi

tinggi daripada school phobia ringan pada pola asuh otoriter. Dari gambar tersebut juga terlihat bahwa school phobia sedang pada pola asuh otoriter lebih tinggi

menanamkan dasar-dasar pada anak usia prasekolah yang nantinya akan menentukan perkembangan anak selanjutnya, baik

pemahaman maupun ketertarikan anak. Dari tabel 2 menunjukkan bahwa bahwa baik anak laki-laki maupun anak perempuan memiliki frekuensi tertinggi pada school phobia ringan dan memiliki frekuensi serta nilai persentase yang sama pada school phobia sedang dan berat. Hal ini berbeda dengan pendapat Setzer (2003) dimana disebutkan bahwa school phobia lebih sering terjadi pada anak perempuan tetapi tidak dijelaskan lebih jauh tentang pada tingkatan mana anak perempuan lebih sering mengalami school phobia. Tetapi dari tabel 2 tersebut dapat disimpulkan bahwa baik anak laki-laki mau pun anak

dibandingkan dengan pola asuh permisif. School phobia pada pola asuh permisif dan otoriter sama banyak, sedangkan school phobia berat pada pola asuh demokratis tidak dapat terdeteksi karena tidak adanya responden yang masuk dalam kategori tersebut. Penerapan pola asuh demokratis cenderung membuat anak mengalami

school phobia yang ringan. Sedangkan semakin ke arah pola asuh otoriter maka anak cenderung mengalami school phobia sedang hingga ringan.

PEMBAHASAN 1. Karakteristik Responden Berdasarkan tabel 1 tentang usia anak dan school phobia dimana didapatkan anak berusia 4 tahun lebih banyak mengalami school phobia dengan persentase sebesar 44,6%. Menurut Hawadi (2002) pada

perempuan memiliki peluang yang sama untuk mengalami school phobia. Hal ini bisa jadi disebabkan karena school phobia lebih menekankan pada krisis psikologis oleh karena faktor internal dan eksternal

(Pearce, 2000).

rentang umur tersebut anak berada pada tahap pertumbuhan fisik dan perkembangan psikososial, intelektual, motorik, fantasi dan bermain. Menurut Freud dalam

2. Faktor-Faktor School Phobia

yang

Mempengaruhi

2.1 Kondisi Fisik Berdasarkan hasil uji statistik maka diperoleh hasil signifikansi p = 0,361 (p > 0,05) dan koefisien korelasi sebesar 0,078 sehingga dapat

perkembangan sosial, anak belajar menjalin kontak dengan orang-orang sekitar

misalnya di lingkungan sekolah dimana kesiapan anak pada lingkungan baru

disimpulkan bahwa tidak ada hubungan

tergantung pada bagaimana orang tua 8

antara phobia.

kondisi

fisik

dengan

school

(Abramovitch, 1986 dalam Santrock 2007). Tetapi dari hasil uji korelasi

Kondisi fisik yang dimaksudkan dapat menimbulkan school phobia ialah kondisi dimana anak memiliki penyakit medis baik minor ataupun mayor yang menyebabkan anak tidak dapat masuk sekolah dalam waktu yang cukup lama, kecelakaan menyebabkan dan operasi yang

Spearman diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,974 dan koefisien korelasi sebesar 0,03. Dengan demikian dari uji korelasi tersebut didapatkan bahwa

tidak terdapat hubungan antara urutan kelahiran dengan school phobia. Hal ini dapat disebabkan karena terdapat beberapa faktor lain yang tentunya berpengaruh terhadap perilaku anak seperti model perilaku yang

perubahan

fisik pada

anak. Pada saat penelitian ini dilakukan, tidak ada responden yang dapat

dimasukkan dalam kategori tersebut sehingga school phobia pada anak yang memiliki kondisi fisik kurang baik tidak dapat diukur. 2.2 Urutan Kelahiran Beberapa pendapat menyatakan bahwa urutan kelahiran pasti

ditunjukkan orang tua pada anak setiap hari, pengaruh sebaya, pengaruh variasi

sekolah, budaya.

sosioekonomi

dan

2.3 Inteligensi Hartstein

(2010)

dalam

Coman

berhubungan

dengan

karakteristik

(2012) mengatakan bahwa anak yang mengalami school phobia kebanyakan memiliki tingkat inteligensi di atas ratarata. Hal ini disebabkan karena anak sangat peduli pada hasil pekerjaan dan tugas sekolah mereka. Anak merasakan adanya tekanan dan beban untuk selalu menjadi yang terbaik di sekolah dan merasa takut untuk gagal. Berdasarkan tabel 5 diperoleh

anak, misalnya saudara yang lebih tua lebih dominan yang dan lebih kuat daripada Anak

saudara

muda.

pertama lebih berorientasi dewasa, penolong, menyesuaikan, cemas dan lebih memiliki pengendalian saudara diri

dibandingkan

mereka

sedangkan karakteristik anak tunggal banyak digambarkan sebagai anak manja yang memiliki sifat buruk seperti ketergantungan, kurangnya

bahwa frekuensi tertinggi terdapat pada tingkat inteligensi yang cukup baik. Dari tabel tersebut juga dapat dilihat bahwa baik anak yang memiliki inteligensi kurang,cukup dan baik memiliki school 9

pengendalian diri dan perilaku yang berpusat pada diri sendiri

phobia yang ringan, sedang dan berat. Setelah dilakukan uji stastistik Rank pvalue

pengalaman anak terhadap sekolah. Dengan memiliki lingkungan demikian, meskipun negatif respon anak di anak

menggunakan didapatkan hasil

Spearman bahwa

pengalaman sekolah,

memiliki nilai lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,226, dengan demikian dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan antara kejadian tersebut mengalami tingkat school inteligensi phobia. dengan hasil yang memiliki

terhadap pengalaman tersebut akan berbeda-beda karena adanya pengaruh dari respon dan tindakan yang diberikan orang tua terhadap anaknya. 2.5 Pola Asuh Orang Tua Setiap pola asuh yang diterapkan pada anak, akan menghasilkan anak dengan karakteristik yang berbeda.

Dari

didapatkan school

anak

phobia

tingkat inteligensi rata-rata. Hal ini bisa disebabkan tingkat school phobia pada anak yang memiliki tingkat inteligensi sangat baik tidak bisa diukur karena tidak ada responden yang masuk dalam kategori tersebut.

Secara teori, pola asuh demokratis lebih baik daripada pola asuh yang non demokratis (pola asuh permisif dan otoriter) (Balson, 1992 dalam Santrock, 2007). Pola asuh yang diterapkan akan mempengaruhi hubungan dan

2.4 Lingkungan Sekolah Dari hasil tabulasi silang dan analisa data didapatkan lingkungan sekolah yang baik dan kurang baik sama-sama memiliki menimbulkan kecenderungan school phobia untuk yang

kedekatan orang tua dengan anak. Berdasarkan tabel 5.7 hasil tabulasi data dari bab 5 diperoleh data sebanyak 79 responden menggunakan pola asuh demokratis (56,8%), pola 29 asuh 31 pola responden permisif responden asuh otoriter

ringan. Setelah dilakukan analisa data menggunakan uji Spearman Rank

menggunakan (20,9%), dan

didapatkan nilai p-value sebesar 1,000 (p > 0,05) dimana hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara lingkungan sekolah dengan school phobia. Menurut Sheppard (2007) dalam Gradinson kebijakan dan (2011) harapan menyatakan orang tua

menggunakan

(22,3%). Apabila dilihat jenis pola asuh dengan frekuensi tertinggi terdapat pada jenis pola asuh demokratis.

Berdasarkan tabel 5.7 dan gambar 5.8 dapat disimpulkan bahwa penerapan pola asuh demokratis cenderung school

tentang sekolah akan mempengaruhi 10

membuat

anak

mengalami

phobia yang ringan. Sedangkan pola asuh non demokratis (permisif dan otoriter) mengakibatkan anak cenderung mengalami school phobia sedang

2.6 Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengn School Phobia Seperti yang kita ketahui, lingkungan paling dekat dengan anak dan tempat anak berinteraksi pertama kali adalah lingkungan keluarga. Terdapat banyak faktor dalam keluarga yang dapat mempengaruhi perkembangan anak. Salah satu fakor tersebut adalah pola asuh orang tua yang diterapkan pada anak. Selama penerapan pola asuh ini, orang tua tidak lepas dari aturan, pengakuan hukuman berdasarkan kemampuan dan pujian anak, sehingga

hingga ringan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari (2011) tentang hubungan pola asuh dengan fobia sekolah bahwa orang tua yang menerapkan memiliki pola asuh non

demokratis

kecenderungan

untuk mengalami school phobia. Pada tabel 7 juga terlihat bahwa anak yang mengalami school phobia berat pada pola asuh permisif dan otoriter menunjukkan frekuensi yang sama yaitu sebanyak tiga anak. Tetapi terdapat perbedaan pada anak school phobia berat yang mendapat pola asuh otoriter dengan school phobia berat pada pola asuh permisif. Pada pola asuh permisif, anak yang mengalami school phobia berat tidak memiliki

analisis

menggunakan

rumus korelasi Spearman diperoleh hasil adanya hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan school phobia. School phobia terjadi salah satunya karena adanya hubungan yang tidak sehat antara orang tua dan anak. Sikap orang tua yang tidak memperlakukan anak sebagai pribadi seutuhnya. Orang tua cenderung overprotective, selalu mengatur, pilih kasih atau sebaliknya, orang tua kurang peduli, terlalu sibuk dengan pekerjaan sendiri dan

riwayat playgroup sebelumnya. Anak yang mengikuti playgroup sebelumnya memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk mengalami school phobia berat karena mereka telah lebih dulu

mendapat gambaran tentang sekolah melalui pendidikan playgroup sehingga mereka akan lebih siap dan lebih cepat beradaptasi saat memasuki pendidikan taman kanak-kanak.

mengabaikan tanggung jawab dalam rumah tangga. Hubungan yang tidak sehat ini dapat ditemui pada pola asuh yang non demokratis (permisif dan otoriter).

11

Dari data statistik yang diperoleh peneliti, dapat dilihat bahwa pola asuh yang demokratis akan memperkecil

berpengaruh faktor

dibandingkan Hal ini

dengan bisa jadi

internal.

disebabkan karena faktor eksternal juga dapat mempengaruhi faktor

peluang anak mengalami school phobia sedangkan pola asuh yang non

internal itu sendiri. Misalnya saja faktor internal urutan kelahiran yang menurut beberapa pendapat dapat memprediksi perilaku anak, tetapi ternyata pada kenyataannya perilaku anak pada tiaptiap urutan kelahiran oleh pola tersebut asuh yang

demokratis akan memperbesar peluang anak mengalami school phobia karena tekanan dan tindakan mengabaikan

orang tua terhadap proses tumbuh kembang anak. Sebaliknya, pola asuh demokratis menyebabkan anak merasa nyaman memasuki dan tidak takut baru, dalam yaitu

dipengaruhi

diberikan orang tua seperti model perilaku yang ditunjukkan orang tua sehari-hari pada anak, pengaruh

lingkungan

lingkungan sekolah. Orang tua dapat mengajak memberikan pentingnya anak berpikir dan tentang memberi

sebaya dan pengaruh sekolah.

pengertian sekolah serta

3. Keterbatasan Penelitian Peneliti menyadari bahwa

dukungan yang besar pada anak. Orang tua yang demokratis apa yang juga menjadi keinginan

pelaksanaan penelitian ini masih banyak kekurangan disebabkan karena: a. Penelitian ini menggunakan teknik sampling purposive sampling, yaitu sampel dipilih kriteria peneliti oleh yang sehingga peneliti telah hal

mendengarkan keinginan anak,

apabila

tersebut belum waktunya untuk dituruti atau dikabulkan maka orang tua akan cenderung mengajak anak berdiskusi untuk mempengaruhi jalan pikiran anak yang kurang tepat dan mengarahkan pemikiran seharusnya. kesulitan, anak Saat anak ke arah yang

berdasarkan ditetapkan

tersebut tidak sepenuhnya terbebas dari unsur subjektivitas. b. Pembuatan faktor-faktor school kuesioner yang penelitian

anak akan

menemui cenderung

mempengaruhi anak usia belum untuk

menceritakan kesulitan tersebut pada orang tua sehingga orang tua dapat memecahkan kesulitan yang dihadapi. Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa faktor eksternal lebih banyak 12

phobia

pada peneliti

prasekolah, menemukan

standar

buku

instrumen variabel tersebut sehingga instrumen penelitian dibuat

berdasarkan pemahaman

pengetahuan dari peneliti

dan sendiri

penelitian diperoleh bahwa pola asuh yang terkecil phobia. 3. Tidak terdapat hubungan antara kondisi fisik dengan school phobia di TK Restu dan Anak Saleh Malang yang demokratis untuk memiliki peluang school

dengan mengambil beberapa referensi tentang perkembangan dan

menyebabkan

pertumbuhan anak, namun sebelum menyebarkan kuesioner sudah

dilakukan uji validitas terlebih dahulu. c. Pada penelitian ini tingkat inteligensi tidak diukur dengan alat ukur

ditunjukkan dengan nilai p-value 0,361 dan koefisien relasi 0,078. Kondisi fisik yang baik maupun kurang baik memiliki peluang yang sama untuk menimbulkan shool phobia. 4. Tidak terdapat hubungan antara faktor urutan kelahiran anak dengan school phobia di TK Restu dan Anak Saleh Malang dengan hasil uji statistik p = 0,974 dan r = - 0,03. Pada semua urutan kelahiran baik anak pertama, kedua, dan seterusnya memiliki peluang yang sama besar untuk mengalami school phobia. 5. Tidak terdapat hubungan antara faktor inteligensi dengan kejadian school

inteligensi yang biasa digunakan tetapi diukur dengan menggunakan catatan perkembangan anak karena

keterbatasan waktu daan biaya tetapi poin-poin penialian pada catatan

perkembangan anak tersebut memiliki kemiripan dengan alat ukur inteligensi yang biasa digunakan. d. Penelitian ini hanya meneliti faktorfaktor yang mempengaruhi school phobia tanpa meneliti faktor-faktor lain yang mungkin berpengaruh terhadap faktor-faktor tersebut.

KESIMPULAN 1. Dari perbandingan nilai p-value dan koefisien korelasi didapatkan bahwa faktor pola asuh merupakan faktor yang paling mempengaruhi terjadinya school phobia. 2. Terdapat hubungan yang signifikan

phobia yang ditunjukkan dengan nilai signifikansi 0,226 dan koefisien korelasi 0,013. Tingkat school phobia pada anak dengan tingkat inteligensi sangat baik tidak dapat diukur karena tidak ada anak yang masuk kategori tersebut. 6. Tidak terdapat hubungan dengan antara school

antara faktor pola asuh dengan school phobia yang dibuktikan dengan nilai pvalue sebesar 0,000 (p<0,05) dan

lingkungan

sekolah

phobia dimana diperoleh nilai p-value 1,000 dan koefisien korelasi 0,000. Respon anak terhadap pengalaman di 13

koefisien relasi sebesar 0,324. Dari hasil

lingkungan

sekolah

berbeda-beda

karena adanya pengaruh dari respond an tindakan yang diberikan orang tua pada anaknya.

SARAN a. Hendaknya terkait institusi pendidikan yang suatu pihak

mampu dua

mengadakan arah antara

komunikasi

sekolah dan orang tua dalam memantau tumbuh kembang anak dalam bentuk bimbingan konseling. b. Diharapkan meningkatkan informasi ini dapat perawat

kemampuan

dalam praktik pelayanan keperawatan pediatrik sebagai bentuk pelayanan yang holistic dan komprehensif dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan c. Mengingat adanya hubungan pola asuh dengan tingkat school phobia diharapkan informasi ini dapat lebih meningkatkan perawat dalam memberikan advokasi mengenai pola asuh yang tepat kepada keluarga sehingga masa depan anak akan lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA 1. Adiyanti. 2006. Menyiapkan Hari Pertama sekolah. Yogyakarta: Kanisius. 2. Alimul, A. 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta: Salemba Medika. 3. Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek). Jakarta: Rineka Cipta. 4. Armaliani, R. 2008. Fobia Sekolah Pada Anak Sekolah Dasar. 14

(http://www.gunadarma.ac.id/library/articl es/psychology/2008/Artikel_10504149.pd f) Diakses tanggal 10 November 2011 5. Astuti, N. P. A. W. 2008. Hubungan Playgroup dengan School Phobia Pada Anak Usia Prasekolah Di Taman KanakKanak Islam Assalam Kelurahan Tlogomas Kecamatan Lowokwaru Malang. Tugas Akhir. Tidak Diterbitkan, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang. 6. Clark, N. 1971. School Phobia. (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/ PMC2370109/?tool=pubmed.) diakses tanggal 20 Oktober 2011 7. Clark, M., S. Borg, et al. 2005. School Attendance Improvement. (http://www.education.gov.mt/attendance. htm) Diakses tanggal 18 Agustus 2012 8. Davies, L. 2002. Overcoming School Phobia. (http://.kellybear.com.) Diakses tanggal 25 November 2011 9. Darsono, P. 2004. Mendampingi Anak Menghadapi Rasa Takut. Bandung: Pustaka Setia. 10. Handayani, Y. 2006. Mengenal Ketakutan dan Kecemasan Anak Saat Masuk Sekolah. Jakarta: Pustakakarya 11. Grandinson, K. J. 2011. School Refusal and Reintegration from Short Stay School to Mainstream.(http://etheses.bham.ac.uk/1 517/1/Grandinson_11_EdPsychD.pdf) diakses tanggal 1 Agustus 2012 12. Hawadi, R. A. 2001. Psikologi Perkembangan Anak (Mengenal Sifat, Bakat dan Kemampuan Anak. Jakarta: Grasindo.. 13. Hogan, M. 2003. School Phobia. (http://www.fenichel.org.) diakses tanggal 25 Mei 2011 14. Hurlock, E. B. 1997. Perkembangan Anak Jilid 1 Edisi Ke Enam. Jakarta: Erlangga. 15. Jacinta, R. 2003. Fobia Sekolah. (http://www.e-psikologi.com.) diakses tanggal 24 Mei 2011 16. Kearney, C. A. and W. K. Silverman 1993. Measuring The Function of School Refusal Behavior. Journal of Clinical Child Psychology. 22: 85-96.

17. King, N. J. 2001. School Refusal in children and Adolescent a Review of The Past 10 Years. (http://www.educations.org.uk.) diakses tanggal 24 Mei 2011 18. Keifer, K. L. 2005. Exceptional Children. (http://faculty.frostburg.edu/mbradley/EC/ schoolphobia.html) diakses tanggal 10 Agustus 2012 19. Kolvin, I., T. P. Berney, et al. 1984. Classification and Diagnosis of Depression in School Phobia. British Journal of Psychiatri 145: 347-357. 20. Lowe, B. A. 2003. Arkansaa Childrens Health Comer Ask Dr. Lowe. (http://www.acms.uams.edu.) diakses tanggal 25 Mei 2011 21. Lyon, A. R. 2007. School Refusal Behavior in Ecological Context: Broadening Sample Demographics and Methods of Assessment. Departement of Psychology. Chicago, DePaul University. 22. Maldonado, M. 2010. School Refusal in Children and Adolescents (School Phobia). (http://www.kaimh.org/files/schoolrefusal. pdf) diakses tanggal 21 Agustus 2012 23. Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. 24. Nursalam. 2009. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. 25. Paige, L. Z. 1998. School Phobia/School Avoidance/School Refusal. (http://www.napscenter.org.) diakses tanggal 24 Mei 2011 26. Pearce, J. 2000. Mengatasi Kecemasan dan Ketakutan Anak. Jakarta: Arca. 27. Pillitteri, A. 1992. Maternal and Child Nursing: The Nursing Role in Health Promotion for The Children Family, The Family With a Preschooler. Philadelphia, William & Walkins 28. Potter, P. A. and A. G. Perry 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: 15

Konsep, Proses dan Praktik. Edisi Keempat. Jakarta: EGC. 29. Sakinah. 2009. Peran Orang Tua Dalam Menghadapi Fobia Sekolah Pada Anak Pendidikan Pra Formal Di TK Anak Saleh Malang. http://www.widyagamahusada.ac.id/wpcontent/uploads/2010/06/kti-aq1.pdf. diakses tanggal 13 November 2011 30. Sally, S. L. 2003. Peran Orang Tua Dalam Membantu Penyesuaian Diri Anak di Kelompok Bermain dan Taman KanakKanak (http://www.artikel2.htm.) diakses tanggal 24 Mei 2011 31. Sandoz, B. 2001. School Phobia. (http://www.xtra.co.ns.) diakses tanggal 25 Mei 2011 32. Santrock, J. W. 2007. Perkembangan Anak Jilid 2, Edisi Ke Sebelas. Jakarta: Erlangga 33. Sari, R. M. A. 2011. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Fobia Sekolah Pada Anak Prasekolah Usia 3-6 Tahun di PAUD Fatahillah Pangkalan Jati Tahun 2011 http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/3kepera watanpdf/207312057/bab6.pdf. diakses tanggal 13 November 2011 34. Schaefer, C. 1997. Mempengaruhi Bagaimana Anak, R.Tarman Sirait & Conny Semiawan (penerjemah). Semarang: Dahara Prize. 35. Semiawan, C. R. 2002. Perkembangan dan Belajar Peserta Didik. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti. 36. Setzer, N. 2003. Understanding School Refusal (http://www.aboutourkids.org) diakses tanggal 25 Mei 2011 37. Sutadi,et al., 1996. Permasalahan Anak Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Depdikbud 38. Witts, B. and D. Houlihan. 2007. Recent Perspective Concerning School Refusal Behavior. Electronic Journal of Research in Educational Psychology 5: 381-398. 39. Yusuf, S. 2002. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: Rosdakarya.