Anda di halaman 1dari 6

Demokrasi Terpimpin (1957-1958)

Rakyat Indonesia mendapatkan kemerdekaan seutuhnya pada tahun 1945. Tibalah saat dimana bangsa Indonesia harus membenahi keadaan negara setelah lama terjajah. Banyak terjadi perpecahan dan konflik di dalam sebuah negara tunggal ini dan Indonesia mencoba memaparkan suatu demokrasi yang diharapkan dapat memuaskan keinginan semua golongan. Pada pemilihan umum tahun 1955, menghasilkan partai-partai politik yang membentuk suatu sistem pemerintahan tidak stabil. Sementara pihak militer tetap pada semangat revolusi. Pemilihan umum tahun 1955 tidak dapat langsung menyelesaikan penyesuaian dalam pembentukan sistem pemerintah. Di tubuh parlemen banyak menghadapi kesulitan. Ditengah-tengah krisis tahun 1957, Presiden Soekarno membentuk sistem pemerintahan yang dikenal dengan istilah Demokrasi Terpimpin. Suatu istilah yang didapat dari Ki Hajar Dewantara dalam penerapannya di sekolah-sekolah taman siswa. Demokrasi terpimpin adalah suatu sistem demokrasi yang keputusan serta pemikirannya berasal dari satu pusat yaitu pemimpin negara. Maka dapat disimpulkan bahwa Demokrasi Terpimpin di Indonesia didominasi oleh kepribadian Soekarno, walaupun prakarsa untuk pelaksanaannya ditindak lanjuti bersama-sama dengan pimpinan angkatan bersenjata. Pada bulan April 1957, Soekarno mengumumkan Kabinet karya. Dimana didalam Kabinet Karya tercantum beberapa nama dan jabatan sebagai berikut : Djuanda Kartawijaya sebagai Perdana Menteri Chaerul Saleh sebagai Menteri Urusan Veteran Dr. Subandrio sebagai Menteri Luar Negeri Dan diangkat tiga orang sebagai Wakil Perdana menteri yaitu : Hardi dari PNI (Partai Nasional Indonesia) Kyai Haji Idham Chalid dari NU (Nahdatul Ulama) Dr. Johannes Leimena dari Parkindo (Partai Kristen Indonesia) Soekarno dan Djuanda menerapkan bahwa kabinet bertanggung jawab kepada DPR (Dewan Perwakilan Rakyat).

Pada bulan Mei 1957, dibentuklah Dewan Nasional yang terdiri dari 41 wakil golongan Fungsionil yaitu : Pemuda Kaum tani Kaum buruh Kaum Wanita Para cendekiawan Tokoh-tokoh Agama dan kelompok-kelompok Daerah Beberapa anggota Ex Officio (anggota dewan karena jabatannya)

Kebanyakan partai politik secara tidak langsung diwakili melalui golongan fungsional dan Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan partai terbanyak didalamnya. Soekarno menjadi ketua sementara wakil ketua ditunjuk Roeslan Abdulgani, seorang arsitek ideologi demokrasi terpimpin. Sistem pemerintahan baru telah terbentuk, PKI dan kalangan Militer mengambil kesempatan untuk memperkuat langkah-langkah mereka, maka terjadi persaingan antara PKI dan Tentara. Hal tersebut dapat terlihat dengan adanya seorang anggota PKI mulai menyusup kedalam Militer, demikian pula intelijen militer menyusup ke dalam organisasi PKI. Penyusup dari PKI bernama Sjam (Kamarusaman bin Ahmad Mubaidah), kehidupan dan karirnya kurang jelas seperti hubungannya dengan Aidit. Kalangan Militer meningkatkan peranannya pada golongan-golongan fungsional. A.H. Nasution mulai membentuk badan-badan kerjasama antara sipil dan tentara guna memisahkan sipil dengan golongan partai.

Militer melalui Badan-badan tersebut menjalin hubungan dengan : Pemuda Rakyat dari PKI kelompok pemuda dari PNI Masyumi (Majelis Syuro Muslim Indonesia)

Gerakan pemuda NU, Anshor (didirikan tahun 1934 berasal dari kata Al-Ansar atau kaum penolong) Pada bulan Agustus 1959, A.H. Nasution berhasil mempersatukan liga veteran di bawah kekuasaan militer, dimana sebelumnya PKI banyak mempengaruhi kalangan kaum veteran yang merasa terpukul oleh langkah militer tersebut. PKI akhirnya harus kehilangan satu-satunya pendukung yang terorganisasi dan memiliki nilai militer yang potensial, yaitu veteran karena langkah dari A.H. Nasution menyatukan liga veteran tersebut. Pada bulan Juni 1957, Soekarno juga membentuk organisasi massa. Sistem satu partai dari Uni Soviet di usungnya dan menghidupkan kembali gagasan yang dahulu pernah gagal dilaksanakan oleh pihak Jepang pada bulan juli 1945 yaitu Gerakan Rakyat Baru. Soekarno membentuk sebuah Gerakan Hidup Baru dan berharap menghidupkan kembali bangsa Indonesia yang bertemakan nasionalis. PKI mendukung sepenuhnya gerakan tersebut namun gagal dan tidak terjadi sesuatu dari gerakan yang berarti. Namun demikian Soekarno bersikeras bahwasannya budaya Barat yang bersifat merusak kepribadian Indonesia harus benar-benar ditinggalkan dan bahkan dimusnahkan. Konon banyak lagu-lagu dalam bentuk kepingan kaset asal budaya barat dimusnahkan melalui operasi razia untuk di bakar. Ketegangan politik meningkat saat PBB (Perdamaian Bangsa-Bangsa) tidak dapat menemukan resolusi yang nyata agar pihak Belanda merundingkan penyelesaian masalah Irian.

Soekarno segera memperingatkan internasional bahwa Indonesia akan segera bertindak tegas yang dapat menggoncangkan dunia apabila resolusi tersebut gagal. Tak lama kemudian radikalisme anti Belanda dikobarkan oleh Soekarno. Pada tanggal 3 Desember 1957, Serikat Buruh PKI dan PNI mulai mengambil alih perusahaan-perusahaan dan kantor-kantor dagang milik Belanda. KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschapij) perusahaan milik Belanda pertama yang di sita. Pada tanggal 5 Desember 1957, Kementerian Kehakiman melaksanakan pengusiran terhadap sekitar 46.000 warga belanda yang berada di Indonesia, termasuk karyawan Royal Dutch Shell yaitu perusahaan Inggris Belanda yang berada di Indoneisa.

Pada tanggal 13 Desember 1957, A.H. Nasution mengambil alih perusahaan-perusahaan Belanda dan memerintahkan agar pihak tentara bersedia mengelola perusahaan yang telah disita. Salah satu pengelola bernama Kolonel Dr. Ibnu Sutowo, yang memimpin perusahaan minyak yang diberi nama Permina (Perusahaan Minyak Negara). PKI memberi tekanan secara politik kepada pihak Belanda yang terus menerus menguasai Irian sebagai status semikolonial Indonesia. Lagi-lagi peran A.H. Nasution di bawah kendali pihak tentara membentuk Front Nasional Pembebasan Irian Barat yang terdiri dari badan-badan kerjasama tentara-sipil dan Soekarno berpengaruh di dalam Front Nasional. Kejadian tersebut menimbulkan identitas Indonesia sebenarnya, dimana suatu perasaan nasional didukung atas keutuhan wilayah bangsa yang masih dikuasai pihak Belanda yaitu Irian namun PKI dan Militer, berupaya merebutnya dalam satu kesatuan negara Republik Indonesia dan di pertanggung jawabkan sepenuhnya oleh Soekarno sebagai pemimpin negara. Pada awal tahun 1958, PSI dan Masyumi daerah Sumatera menuntut pembubaran kabinet Djuanda Kartawijaya, guna menghadapi permasalahan bangsa. Diadakannya pertemuan di Sumatera yang terletak di dekat Padang dan dihadiri oleh : Simbolon Lubis (para perwira lainnya) Sumitro Djojohadikusumo (Pemimpin PSI) Natsir dan Sjarifuddin (Para pemimpin Masyumi)

Menimbulkan isu adanya pemberontakan. Nasution, pemimpin PSI dan Masyumi yang berada di Jakarta berusaha mencegah terjadinya pemberontakan. Pada tanggal 10 Februari 1958, kaum pembangkang di Padang mengirimkan ultimatum pembubaran kabinet dalam waktu lima hari kepada pemerintah. Soekarno harus kembali ke posisi konstitusionalnya yaitu presiden sebagai lambang saja yang tidak dapat memutuskan suatu sistem pemerintahan. Kabinet menolak ultimatum tersebut dan para perwira tentara yang bersangkutan dalam pemberontakan segera ditangkap serta diberhentikan dengan tidak hormat. Kemudian pada tanggal 15 Februari 1958 diumumkanlah suatu pemerintahan pemberontak di Sumatera yang bermarkas besar di wilayah Bukittinggi.

Pemerintahan yang menamakan dirinya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) mengangkat Sjarifuddin sebagai perdana menterinya. PRRI mendapat dukungan dari Amerika Serikat dengan dalih cemas akan hubungan Soekarno dan PKI. Selain itu Amerika Serikat juga berupaya melindungi perusahaan-perusahaan minyak lainnya seperti Caltex, Stanvac dan Shell, yang berada di wilayah Sumatera.

Pihak Militer segera bertindak menguasai wilayah PRRI. Angkatan Udara membombardir instalasi PRRI di Padang, Bukittinggi dan Menado. Pasukan dari divisi Diponegoro dan divisi Siliwangi di bawah pimpinan Achmad Yani menguasai daratan Sumatera. Penguasaan tersebut dimaksudkan untuk menjaga keutuhan negara dari pihak pembangkang yang di dukung secara mutlak oleh Amerika Serikat. Pihak Amerika Serikat mengusulkan kepada Pemerintah Indonesia untuk mendaratkan pasukan tempurnya guna melindungi warga Amerika yang berada di pertambangan minyak milik Amerika serikat itu namun usulan tersebut ditolak. Pada tanggal 12 maret 1958, pasukan Indonesia telah mengamankan ladang-ladang minyak Caltex guna mencegah terjadinya aksi sepihak dari Amerika Serikat. Kemudian perhatian Pemerintah Indonesia beralih ke wilayah Sulawesi Utara. Pertempuran yang terjadi cukup menyita waktu. Divisi Brawijaya diterjunkan langsung untuk menguasai Gorontalo pada pertengahan bulan Mei serta Manado pada akhir bulan Juni dan berhasil. Pemberontakan PRRI dapat segera dipatahkan, instalasi-instalasi penting dikuasai militer, PRRI hanya mampu melakukan sistem gerilya saja yang sudah pasti lebih dikuasai oleh tentara Indonesia. Pemberontakan PRRI dapat segera dilumpuhkan.

Perang yang terjadi akibat pemberontakan PRRI menimbulkan dampak yang kurang baik atas hubungan luar negeri Indonesia. Perang saudara yang telah banyak menelan korban jiwa maupun materi, tidak mudah dilupakan begitu saja. Campur tangan pihak Amerika Serikat yang mendukung pemberontakan menimbulkan hubungan Amerika dan Indonesia berjalan kurang Harmonis. Malaya yang merdeka pada tahun 1957 juga membantu pihak PRRI. Malaya menjadi pemasok utama persenjataan PRRI. Singapura, Filipina, Taiwan dan Korea Selatan juga menyatakan simpati atas perjuangan PRRI. Hal tersebut membuat kebijakan luar negri yang bersifat netral tidak mudah terwujud oleh Pemerintah Indonesia yang pada saat itu sedang di upayakan oleh Soekarno secara serius. Kemenangan militer menguasai pemberontakan tidak menjadikan tentara disukai oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Penanganan masalah yang dihadapi pemerintah, dibawah undang-undang darurat perang, menyudutkan pihak militer pada kecaman dan membatasi kekuasaan militer agar tidak semena-mena.

Sistem politik yang tengah tumbuh, menjadi suatu tatanan bentuk pemerintahan demokrasi terpimpin, menjadi lebih bersifat persaingan, antara Soekarno dan pihak tentara. Presiden Soekarno tidak lagi menghargai para pemimpin PNI, seperti Ali Sastroamidjojo. Bahkan hubungan Soekarno terlihat semakin dekat dengan PKI. Menurut Soekarno, PKI yang juga telah memperoleh banyak suara dalam hasil pemilu tahun 1955, sebaiknya diberi peran penting juga dalam pemerintahan. Pada tahun 1957 hingga tahun 1958 adalah awal sejarah Indonesia melangkah dalam suatu bentuk pemerintahan demokrasi terpimpin. Pro dan kontra dari berbagai kalangan partai politik yang ada, menimbulkan sistem pemerintahan yang tidak tetap dan akan kami bahas selanjutnya dalam Perjalanan Demokrasi Indonesia. Jadikanlah sejarah demokrasi Indonesia sebagai tolok ukur guna mencapai persatuan Indonesia selamalamanya. Merdeka!!! Narasumber : Buku Sejarah Indonesia modern karya M. C. Ricklefs, Wikipedia.org Penulis : Tangguh Sutjaksono Editor : Nunik Sumasni, Ardiatmiko