Anda di halaman 1dari 4

Surat Kabar Harian KEDAULATAN RAKYAT, terbit di Yogyakarta, Edisi: 7 Agustus 1995

____________________________________________________________________ TATA KRAMA DAN PROBLEMA KULTURAL DISIPLIN NASIONAL Oleh : Ki Supriyoko

Setelah Presiden RI Soeharto berkenan mencanangkan Gerakan Disiplin Nasional pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional beberapa waktu yang lalu maka sudah menjadi kewajiban bangsa Indonesia untuk berupaya membudayakannya. Gerakan Disiplin Nasional tidak hanya menjadi slogan kosong belaka tetapi harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya disiplin nasional merupakan perilaku sosial yang sesuai dengan peraturan serta norma sosio-kultural masyarakat setempat; yang dalam hal ini adalah masyarakat Indonesia. Disiplin nasional merupakan manifestasi atau perwujudan kepatuhan kepada hukum dan ketaatan kepada norma-norma sosial yang berlaku dalam kelompok masyarakat tertentu. Secara politis disiplin nasional mempunyai posisi yang benar-benar sangat strategis. Apabila sekarang bangsa Indonesia sedang gencar berupaya untuk mensukseskan pembangunan nasional di segala bidang kehidupan maka disiplin nasional diformat menjadi salah satu dari delapan faktor dominan yang harus diperhatikan untuk memperlancar pencapaian sasaran pembangunan nasional. Penempatan disiplin nasional sebagai salah satu faktor dominan dalam upaya memperlancar pencapaian sasaran pembangunan nasional menunjukkan posisi politis yang benar-benar strategis. Posisi politis ini makin strategis lagi manakala disiplin nasional menjadi salah satu krida, tepatnya krida kedua, dari Panca Krida Kabinet Pembangunan VI yang masih dan sedang berjalan saat ini. Adapun keempat krida yang lain adalah kontinuitas pembangunan nasional (krida pertama), pembudayaan mekanisme kepemimpinan nasional (krida ketiga), pelaksanaan politik luar negeri yang bebas dan aktif (krida keempat), serta pelaksanaan pemilihan umum (krida kelima). Posisi politis disiplin nasional tersebut semakin strategis setelah Presiden Soeharto berkenan mencanangkan Gerakan Disiplin Nasional secara resmi bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1995 yang lalu. Peringatan Hari Kebangkitan Nasional itu sen-diri merupakan momentum yang sangat penting karena mempratandai bangkitnya kembali semangat perjuangan bangsa kita untuk mencapai kemajuan agar dapat sejajar dengan bangsa lain yang lebih dulu maju. Secara empirik segala sesuatu yang telah mempunyai posisi politis secara strategis biasanya akan mendapatkan dukungan birokratis yang sangat kuat; meski

demikian perlu kita ingat bahwa kuatnya dukungan birokratis ini bukan jaminan tercapainya keberhasilan. Bahwa kuatnya dukungan birokratis merupakan salah satu unsur keberhasilan memang benar tetapi bukan berarti merupakan sebuah jaminan. Keberhasilan suatu gerakan akan sangat tergantung pada sejauh mana upaya pembudayaan dapat dicapai. Dalam kasus ini keberhasilan Gerakan Disiplin Nasional sangat tergantung pada sejauh mana kita dapat membudayakan disiplin itu sendiri.

Tiga Aspek Disiplin Disiplin itu sendiri pada dasarnya merupakan sikap dan perilaku tertib yang mencerminkan tanggung jawab terhadap perikehidupan tanpa adanya unsur paksaan. Di dalam bersikap dan berperilaku ini terdapat unsur pengendalian diri untuk menyesuaikan diri dengan peraturan dan norma sosial yang dijunjung tinggi oleh kelompok masyarakat tertentu. Dari pengertian tersebut selanjutnya muncullah terminologi disiplin pribadi dan disiplin nasional. Disiplin pribadi merupakan sikap dan perilaku tertib seseorang sebagai pribadi untuk menyesuaikan diri dengan peraturan dan norma masyarakat setempat; pada sisi yang lain disiplin nasional merupakan sikap dan perilaku tertib dari sekelompok orang dalam kapasitas nasional untuk menyesuaikan diri dengan pera-turan dan norma masyarakat setempat. Disiplin nasional tidak mung-kin dicapai tanpa adanya disiplin pribadi. Oleh karena itu Gerakan Disiplin Nasional akan berhasil kalau setiap individu dapat menjalani disiplin pribadinya masing-masing. Gerakan Disiplin Nasional itu sendiri dimaksudkan agar pembinaan disiplin nasional bisa dipicu dan dipacu secara terpadu, serentak dan komprehensif untuk mendukung upaya peningkatan pemahaman, penghayatan dan pengamalan segenap peraturan dan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara baik oleh pimpinan formal dan pimpinan nonformal maupun oleh anggota masyarakat itu sendiri. Oleh karena sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang menyangkut aspek yang sangat luas maka dalam masa-masa awal ini Gerakan Disiplin Nasional difokuskan pada tiga aspek saja; masing-masing adalah aspek ketertiban, aspek kebersihan, dan aspek kerja. Dalam jangka pendek Gerakan Disiplin Nasional ditujukan untuk meningkatkan budaya tertib, budaya bersih dan budaya kerja. Harus diakui bahwa dalam ketiga aspek tersebut masyarakat kita belum bisa berdisiplin secara optimal; itu berarti bahwa masyarakat kita belum mampu mencapai ketiga budaya tersebut secara optimal. Tingkat kedisiplinan sekolompok masyarakat berkorelasi positif dan berelasi asimetris terhadap perilaku sosial masyarakat itu sendiri; artinya makin tinggi tingkat kedisiplinan makin positif perilaku sosial masyarakat, dan sebaliknya makin rendah tingkat kedisiplinan makin negatif perilaku sosial masyarakat. Keadaan ini berlaku pada aspek ketertiban, kebersihan, dan kerja. Dalam soal ketertiban misalnya; secara komparatif kalau situasi dan pelayanan

di Bandara Narita, Tokyo, Jepang lebih tertib daripada di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Indonesia hal ini secara global menggambarkan disiplin nasional masyarakat (Tokyo) Jepang lebih tinggi daripada masyarakat (Jakarta) Indonesia. Begitu pula sebaliknya kalau situasi dan pelayanan di Bandara Ninoy, Manila,Philippina lebih "semrawut" daripada di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Indonesia hal ini secara global menggambarkan disiplin nasional masyarakat (Manila) Philippina lebih rendah daripada masyarakat (Jakarta) Indo-nesia. Bila lalu lintas di Jakarta, Indonesia lebih tidak tertib dibanding lalu lintas di Amsterdam, Belanda kiranya hal ini memberi gambaran mengenai lebih rendahnya tingkat disiplin nasional masyarakat (Jakarta) Indonesia dibanding masyarakat (Amsterdam) Belanda. Untuk aspek kebersihan sama saja; kalau kota Manila Philippina terkesan lebih tidak bersih dibanding Melbourne Australia atau kota Klaten lebih tidak bersih daripada Temanggung hal ini menggambar-kan bahwa kedisiplinan masyarakat Philippina lebih rendah dibanding masyarakat Australia pada umumnya; atau kedisiplinan warga kota Klaten lebih rendah dibanding warga kota Temanggung. Hal yang de-mikian ini juga berlaku untuk aspek kerja; yang berarti perilaku kerja masyarakat juga dapat dilihat dari kedisiplinnya.

Problematika Kultural Sesungguhnya disiplin nasional itu merupakan masalah budaya; dengan demikian meskipun disiplin nasional tersebut telah mempunyai posisi politis yang sangat strategis namun untuk merealisasikannya diperlukan strategi yang benar-benar tepat karena sampai kini disiplin nasional itu sendiri masih menghadapi berbagai problematika kultural. Setidak-tidaknya ada tiga problematika kultural yang menjadi kendala dalam merealisasi disiplin nasional yang mantap. Pertama. Rendahnya tingkat adaptabilitas masyarakat kita dalam ber-bagai bidang kehidupan menjadikan sulit berdisiplin. Sekarang ini kita sedang dalam masa peralihan dari masyarakat pertanian ke masyarakat industri; yang mana dalam masa peralihan ini telah bermunculan nilai-nilai baru yang acapkali menggeser peraturan dan norma sosial masyarakat. Oleh karena banyak anggota masyarakat yang belum siap dengan nilai-nilai, peraturan, dan norma-norma sosial yang baru maka jadilah mereka berperilaku sosial yang acapkali antinilai, antiperatur-an dan antinorma. Perilaku semacam inilah yang merupakan antitesis terhadap konsep disiplin nasional. Kedua. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat telah menyebabkan kurangnya kesadaran untuk berdisiplin nasional secara optimal. Pada dasarnya Gerakan Disiplin Nasional merupakan upaya untuk memicu dan memacu masyarakat agar berperilaku sesuai dengan peraturan dan norma masyarakat. Rendahnya pendidikan sering dijadikan "excuse" mengenai ketidaktahuan dan ketidakfahaman terhadap peraturan baru dan norma baru; dengan demikian disiplin nasional menjadi amat sulit untuk dioptimalkan realisasinya. Ketiga. Terdapatnya kesenjangan sosial di masyarakat juga berakibat kurang konstruktif terhadap disiplin nasional. Kesenjangan sosial acap kali telah

menumbuhkan kecemburuan sosial di kalangan anggota ma-syarakat; hal ini dapat menimbulkan perilaku antisosial pada anggota masyarakat kelas bawah (grass root level) sebagai cerminan protes terhadap keadaan. Perilaku antisosial ini jelas bertentangan dengan konsep disiplin nasional. Oleh karena disiplin nasional mengandung problematika kultural yang cukup kompleks maka realisasi dan optimalisasi disiplin nasional tidak mungkin dilakukan secara revolusioner, akan tetapi bisa dicapai secara evolusioner. Di samping dibarengi dengan berbagai bimbingan, tuntunan, peraturan, serta "sanksi", maka realisasi dan optimalisasi disiplin nasional kiranya akan lebih tepat dicapai melalui keteladanan para tokoh dan pemimpin masyarakat; baik pemimpin formal maupun pemimpin nonformal.

---------------------------------BIODATA SINGKAT; *: DR. Ki Supriyoko, M.Pd *: Ketua Pendidikan dan Kebudayaan Majelis Luhur Tamansiswa; Direktur Lembaga Studi Pembangunan Indonesia (LSPI); serta Ketua Pusat Kerja Sama Ilmiah (PKSI) Yogyakarta *: Pengamat dan peneliti masalah-masalah pendidikan

NB: Dimuat di SKH "Kedaulatan Rakyat" edisi 7/8/95 judul: "TATA KRAMA DAN PROBLEMATIKA KULTURAL DISIPLIN NASIONAL"