Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN EFUSI PLEURAL

Pengertian

Efusi pleural adalah Pengumpulan cairan dalam dalam ruang pleura (selaput yang menutupi permukaan paru-paru) yang terletak di antara permukaan visceral (selaput)dan parietal (dinding). (Brunner and Suddarth edisi 8 volume 1,2001)

Efusi pleura adalah adalah Cairan yang terkumpuk dalam rongga pleura . (Sylvia A.Price , 2006) Efusi pleural adalah Terkumpulnya cairan abnormal dalam kavum pleura (Arief mansjoer 1999)

Efusi pleural adalah Cairan yang tertumpuk dalam rongga pleura. (Dr. HendraLaksman, 2003)

Kesimpulan : Efus pleura adalah penumpukan cairan dalam rongga pleura yang disebakan oleh banyak faktor seperti penyakit dan tekanan abnormal dalamparu-paru.

Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural, proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane, 2000). Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak

diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne, 2002). Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. (Price C Sylvia, 1995) Terdapat empat tipe cairan yang dapat ditemukan pada efusi pleura, yaitu : 1. Cairan serus (hidrothorax) 2. Darah (hemothotaks) 3. Chyle (chylothoraks) 4. Nanah (pyothoraks atau empyema) 1. Hemotoraks (darah di dalam rongga pleura) Biasanya terjadi karena cedera di dada. Penyebab lainnya adalah: a. pecahnya sebuah pembuluh darah yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura b. kebocoran aneurisma aorta (daerah yang menonjol di dalam aorta) yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura c. gangguan pembekuan darah. Darah di dalam rongga pleura tidak membeku secara sempurna, sehingga biasanya mudah dikeluarkan melalui sebuah jarum atau selang. 2. Empiema (nanah di dalam rongga pleura) Bisa terjadi jika pneumonia atau abses paru menyebar ke dalam rongga pleura. Empiema bisa merupakan komplikasi dari: a. Infeksi pada cedera di dada b. Pembedahan dada c. Pecahnya kerongkongan d. Abses di perut e. Pneumonia 3. Kilotoraks (cairan seperti susu di dalam rongga dada) Kilotoraks disebabkan oleh suatu cedera pada saluran getah bening utama di dada (duktus torakikus) atau oleh penyumbatan saluran karena adanya tumor. Rongga pleura yang terisi cairan dengan kadar kolesterol yang tinggi terjadi karena efusi pleura menahun yang disebabkan oleh tuberkulosis atau artritis rematoid.

Etiologi Kelainan pada pleura hampir selalu merupakan kelainan sekunder. Kelainan primer pada pleura hanya ada dua macam yaitu infeksi kuman primer intrapleura dan tumor primer pleura. Timbulnya efusi pleura dapat disebabkan oleh kondisikondisi :

Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis, penyakit ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior. Peningkatan produksi cairan berlebih, karena radang (tuberculosis, pneumonia, virus), bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura, karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di Indonesia 80% karena tuberculosis. Secara patologis, efusi pleura disebabkan oleh keadaan-keadaan:

Meningkatnya tekanan hidrostatik (misalnya akibat gagal jantung) Menurunnya tekanan osmotic koloid plasma (misalnya hipoproteinemia) Meningkatnya permeabilitas kapiler (misalnya infeksi bakteri) Berkurangnya absorbsi limfatik Penyebab efusi pleura dilihat dari jenis cairan yang dihasilkannya adalah:

Transudat Gagal jantung, sirosis hepatis dan ascites, hipoproteinemia pada nefrotik sindrom, obstruksi vena cava superior, pasca bedah abdomen, dialisis peritoneal, dan atelektasis akut.

Eksudat Infeksi (pneumonia, TBC, virus, jamur, parasit, dan abses) Neoplasma (Ca. paru-paru, metastasis, limfoma, dan leukemia) Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik, tromboembolik, kardiovaskuler, dan infeksi. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu

dari empat mekanisme dasar : a. Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik b. Penurunan tekanan osmotic koloid darah c. Peningkatan tekanan negative intrapleural d. Adanya inflamasi atau neoplastik pleura Perbedaan cairan transudat dan eksudat (Somantri, 2008: 99)

Penyebab lain dari efusi pleura adalah: Kadar protein darah yang rendah Sirosis Pneumonia Abses dibawah diafragma Artritis rematoid Pankreatitis Emboli paru Tumor Lupus eritematosus sistemik Pembedahan jantung Cedera di dada Obat-obatan (hidralazin, prokainamid, isoniazid, fenitoin,klorpromazin, nitrofurantoin, bromokriptin, dantrolen, prokarbazin) Pemasanan selang untuk makanan atau selang intravena yang kurang baik. Efusi pleura dapat terjadi karena terjadinya inflamasi oleh bakteri atau tumor yang mengenai permukaann pleural juga dapat terjadi karena ketidak seimbangan tekanan hidrostatik dan osmotic.

Indikator

Transudat

Eksudat

Warna Bekuan

Kuning pucat dan jernih (-)

Jernih, keruh, purulen, dan hemoragik (-)/(+)

Berat Jenis Leukosit Eritrosit Hitung jenis Protein Total LDH Glukosa 10. Fibrinogen 11. Amilase 12. Bakteri

<1018 <1000 /uL sedikit MN (limfosit/mesotel) <50% serum <60% serum =plasma 10. 0,3-4% 11. (-) 12. (-)

>1018 Bervariasi, >1000/uL Biasanya banyak Terutama PMN >50% serum >60% serum = / < plasma 10. 4-6 % atau lebih 11. >50% serum 12. (-) / (+)

ANALISIS DATA No. 1 Data Etiologi Masalah

S : Pasien mengatakan Ca paru Bersihan jalan batuk sesekali napas tidak efektif. O : sesekali batuk tetapi Massa di broncus tidak efektif. Terdapat ronkhi pada bagian apeks Respon silia berusaha dextra. menghilangkan massa sekret (+) putih dengan hipersekresi mukus kekuningan, kental batuk produktif, tidak Secret/mucus tertahan di efektif saluran napas Ronkhi (+)

Bersihan jalan napas tidak efektif 2. S : Pasien mengeluh sesak napas saat bernapas. O: RR = 26 x/ menit Denyut nadi = 96 x/menit Pasien bernapas tersengal-sengal cepat, pendek ICS melebar dekstra retraksi (-) otot bantu nafas (-) fremitus raba perkusi redup (D) Efusi Pleura Akumulasi cairan pada rongga pleura Ekspansi paru menurun RR meningkat Pola napas tidak efektif Pola napas tidak efektif.

3.

S : Pasien mengeluh nyeri Efusi Pleura dada sesak saat beraktifitas yang berat. Ekspansi paru tidak O : Pasien tampak maksimal lemah. sesak nyeri saat Suplai oksigen menurun dipindahkan posisinya dari duduk ke berdiri RR meningkat Distribusi oksigen ke seluruh tubuh menurun Terjadi metabolisme anaerob dalam tubuh Timbul asam laktat Nyeri Intoleransi aktifitas

Intoleransi aktifitas

4.

S : Pasien mengeluh nyeri Efusi Pleura Nyeri pada bagian dada (D). P : perpindahan posisi Cairan menekan dinding Q : nyeri sedang pleura R : dada (D) S : 5 Rangsangan pada nosiseptor T : muncul saat aktivitas nyeri O : Nadi 96x/menit, ekspresi wajah Nyeri menyeringai/ kesakitan saat dipindahkan posisinya dari duduk ke berdiri.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Muhammad dkk (ed). 1989. Ilmu penyakit paru. Surabaya : Airlangga University Press Baughman, C Diane. 2000. Keperawatan medical bedah. Jakarta: EGC Doenges, E Mailyn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Ed3. Jakarta: EGC Hudak,Carolyn M. 1997. Keperawatan kritis : pendekatan holistic. Vol.1, Jakarta: EGC

PERENCANAAN KEPARAWATAN A. 1. Prioritas masalah Pola nafas tidak efektif

2. 3. B.

Ganguan rasa Nyaman nyeri Gangguan pemenuhan istirahat tidur Rencana keperawatan

Nama pasien : TnM tangg al 22/5/ 2012 D tujuan x 1 Setelah dilakukan tindakan 2 x 24 jam pola nafas tidak efektif klien teratasi. Criteria evaluasi: - klien tidak mengeluh sesak - frkuensi nafas 20 x/menit 5.menstabilkan pola nafas - tidak tampak peningkatan kerja oto t bantu sternodeido mastedeus - pergerakan 5.latih nafas dalam 6.posisi semi fowler 6.atur posisi semi fowler pada klien dengan meningkatkan ekspansi paru. 4.memenuhi kebutuhan 4.beri oksigen tambahan oksigen. Rencana tindakan rasional

1.observasi K/U

1.mengetahui keadaan umum klien.

2.observasi TTV

2.mengetahui TTV.

3.kaji pola nafas,bunyi,frekuen si,kedalaman pernapasan

3.perubahan pola nafas,bunyi,frek uensi,kedalaman pernapasan dapat diobservasi.

dada simetris

diganjal 2 bantal 7.menentukan obat yang tepat untuk klien 7.kolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya

8.mengetahui tindakan selanjutnya

8.evaluasi keadaan klien

23/5/ 2012

Setelah dilakukan tindakan 2 x 24 jam gangguan rasa aman nyaman nyeri klien teratasi. Dengan criteria eveluasi: - klien tidak mengeluh nyeri pada dada - klien berhenti meringis

1.observasi K/U

1.mengetahui keadaan umum klien

2.observasi TTV

2.mengetahui TTV klien

3.atur posisi yang nyaman bagi klien.

3.diharapkan rasa nyeri berkurang

4.ajarkan dan anjurkan untuk melakukan tehnik distraksi dan

4.klien diharapkan tidak berfokus pada nyeri dan nyerinya berkurang

5.diharapkan dengan menahan dada nyeri dapat

-skala nyeri berkurang menjadi 2 dari skala 0-5

relaksasi.

berkurang.

5.anjurkan dan bantu klien untuk menahan dada dengan bantal saat batuk.

6.diharapkan nyeri dapat dihindari.

7.mengetahui tindakan selanjutnya

6.anjurkan hindari aktivitas yang memberatkan klien

7.evaluasi keadaan klien 24/5/ 2012 3. Setelah dilakukan tindakan 1x24 jam diharapkan pengetahuan klien tentang penyakitnya bertambah. Dengan criteria evaluasi: - klien tau tentang penya kit yang dialaminya . 1.kaji tingkat pengetahuan Klien tentang penyakitnya 1.mengetahui seberapa besar pengetahuan klien tentang penyakitnya.

2.mengetahui masalah deficit pengetahuan 2.identifikasi masalah defisit pengetahuan

3.pengetahuan klien tentang penyakitnya bertambah

3.jelaskan kepada klien tentang penyakitnya

4.mengetahui mengetahui hasil tindakan sebelumnya.

- pasien tidak gelisah dan cemas lagi. 4.tanyakankembali kepada klien tentang penyakitnya.

5.meningkatkan harga diri klien

6.mengurangi kecemasan klien tentang pengobatan yang dijalaninya.

5. berikan pujian 7.mengetahui hasil tindakan sebelumnya. 6.jelaskan kepada klien tentang pengobatan yang dijalani

8.meningkatkan harga diri klien. 9.mengetahui mengetahui tingkat pengetahuan klien

7.tanya kembali tentang pengobatan yang diberikan

8. berikan pujian

9.evaluasi tingkat pengetahuan klien

IV.IMPLEMENTASI DX NO TANGGAL JAM CATATAN KEPERAWAT RESPON HASIL

1.

22/5/2012

20.30 1.mengobservasi K/U

1.K/U sedang

20.45 2.mengkaji pola

2.pola nafas tidak teratur,frekuensi nafas,bunyi,frekuensi,kedalaman 22 pernapasan. x/menit,kedalaman pernafasan sedang.

21.00

3. melatih nafas dalam

3.klien mengatakan merasa nyaman dan sesak berkurang.

21.10

4.mengatur posisi semi fowler pada klien dengan diganjal 2 bantal. 4.dengan posisi semi fowler pasien mengatakan sesak berkurang. 1.pasien tampak rileks

22/5/2012

22.10 1. mengatur posisi yang nyaman bagi klien.

22.15

2. mengajarkan dan anjurkan untuk melakukan tehnik distraksi dan relaksasi. 2.klien mau melakukan tehnik distraksi dan relaksasi

22.30

3. mengevaluasi keadaan klien

.klien terlihat lebih

tenang. 1. 2 23/5/22012 14.10 1.mengatur posisi semi fowler pada klien dengan diganjal 2 bantal 1.klien merasa nyaman dan sesaknya berkurang

14.20 2. mengkolaborasikan pengobatan dengan tenaga kesehatan lainnya

3. mengevaluasi keadaan klien 14.50

2.dokter melakukan tindakan fungsi pleura pada klien` dengan hasil 1000 cc

3.pola nafas klien tampak lebih stabil.

23/5/2012

16.00 .1.menganjurkan dan bantu klien untuk menahan dada dengan bantal saat batuk.

2.menganjurkan hindari aktivitas 16.05 yang memberatkan klien

3. mengevaluasi keadaan klien

16.10

1. mengkaji tingkat pengetahuan Klien tentang penyakitnya.

1.

23/5/2012

2. mengidentifikasi masalah 19.20 defisit pengetahuan.

3. menjelaskan kepada klien tentang penyakitnya 19.30 4. menanyakankembali kepada klien tentang penyakitnya. 19.35 5. memberikan pujian

6. menjelaskan kepada klien 19.50 tentang pengobatan yang dijalani.

7. menanya kembali tentang pengobatan yang diberikan. 20.00 8. memberikan pujian 20.01

9. mengevaluasi tingkat pengetahuan klien 20.12

20.13

20.14

Adapun tanda dan gejala khas dari efusi pleura adalah : 1. Dispnea bervariasi 2. Nyeri pleuritik biasanya mendahului efusi sekunder akibat penyakit pleura. 3. Trakhea bergeser menjauhi sisi yang mengalami efusi. 4. Ruang interkostal menonjol. 5. Pergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang terkena. 6. Perkusi meredup diatas efusi pleura. 7. Egofoni diatas paru-paru yang tertekan dekat efusi. 8. Suara nafas berkurang diatas efusi. 9. Fremitus fokal berkurang.

Pemeriksaan Diagnostik 1. Pemeriksaan Radilogik Pada permulaan didapati menghilangnya sudut kostofrenik. Bila cairan lebih dari 300 ml, akan terlihat cairan dengan permukaan melengkung. Mungkin terdapat pergeseran dimediastinum. 2. Pemeriksaan mikrobiologik (kultur) dengan menggunakan percobaan Rivalta. 3. Biopsi pleura.

V. Penatalaksanaan Pengobatan Obati penyakit penyebabnya. Bila disebabkan oleh TB, berikan obat-obat anti TB dan kortikosteroid untuk menekan reaksi alergis dan mencegah reaksi

perlengketan, selam 3 minggu pertama. Aspirasi cairan pleura dilakukan dalam hal-hal sebagai berikut : 1. Adanya gejal sujektif seperti sakit/nyeri , dispnea, rasa berat dalam dada. 2. Cairan melewati sela iga 2, terutama bila dihemithoraks kanan. 3. Bila suhu tetap/makin tinggi setelah tiga minggu. 4. Bila penyerapan cairan terlambat (lebih dari 8 minggu).

DIAGNOSIS 1. BANDING Konsolidasi paru karena pneumonia. Neoplasma dengan kelops paru. Pneumothoraks. Fibrosis pleura. 2. KLINIS 300 cc tanda-tanda fisik tidak ada. 500 cc pergerakan dada menurun, fremitus suara, suara nafas menurun. 1000 cc dada cembung timbul. 2000 cc suara nafas menurun, mediastinum terdorong. 3. RADIOLOGIS dari 300 cc tidak tampak. Bila cairan masih sedikit lebih jelas dengan lateral decubitus. 4. LABORATORIUM : analisa cairan pleura a. Makroskopis. Aspirasi cairan dan biopsi dapat di pergunakan untuk mendiagnosa penyakit sebagai bahan biakan. Kadang-kadang dilakukan pemeriksaan torakoskopi untuk membantu diagnosis dilihat dengan mata normal / telanjang, efusi normal berwarna jernih. b. Mikroskopis. - Cairan pleura dapat dipakai untuk pemeriksaan sitologi dan hitung jenis efusi yang banyak mengandung sel darah merah kemungkinan karena keganasan atau infark paru. 5. PATOLOGIS ANATOMIS - Didapatkan dari biopsi pleura dan cairan pleura.

7. 1. 2.

PENATALAKSANAAN Pengobatan kausal : di tujukan pada penyakit primernya. Aspirasi cairan pleura dilakukan untuk mengurangi sesak nafas dan

discomfort. 3. Memasukkan kemoterapi intra pleura untuk keganasan. 4. Apabila cairan sudah kental dan terdapat nanah maka dilakukan tindakan WSD 5. Pemberian steroid di tambah dengan anti tuberkulosi dapat menyerap efusi pleura yang disebabkan oleh TB paru secara tepat dan mengurangi fibrosis. 8. PROGNOSIS - Biasanya sembuh setelah di beri pengobatan adekuat terhadap penyakit dasar. - Empiema mungkin timbul akibat paru seperti pneumonia.

Proses penyakit
TEKANAN HIDROSTATIK

Cairan masuk

Cairan tertimbun dalalm jaringan / Ruangan

Kongesti jantung (transudat) paru /Penumonia dll (elsudat)

Abses paru/ kangker paru/TB

Efusi pleura

4.

Komplikasi

a. fibrosis paru : 1) Pleural Parietal 2) Pleura Viseral 5. Penatalaksanaan Medis Pada pemeriksaan fisik, dengan bantuan stetoskop akan terdengar adanya penurunan suara pernafasan.

Untuk membantu memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksaan berikut: 1. Rontgen dada Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura, yang hasilnya menunjukkan adanya cairan. 2. CT scan dada CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa menunjukkan adanya pneumonia, abses paru atau tumor

3.

USG dada USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya sedikit, sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan.

4. Torakosentesis Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis (pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada dibawah pengaruh pembiusan lokal).

5. Biopsi Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya, maka dilakukan biopsi, dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk dianalisa.

Pada sekitar 20% penderita, meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan. 6. Bronkoskopi Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang terkumpul. 8.Pemerikasaan Laboratorium seperti: Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri,Pewarnaan Gram,basil tahan asam(utuk tuberkolusis), hitung sel darah meram dan putih, Pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase, laktat dehidrogenase [LDH], Protein), Analisis sitologi utuk sel Malignan dan pH. 2. Terapi Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidak nyamanan serta dispena, Terapi yang di berikan adalah : Pada empiema diberikan antibiotik dan dilakukan pengeluaran nanah. Jika nanahnya sangat kental atau telah terkumpul di dalam bagian fibrosa, maka pengaliran nanah lebih sulit dilakukan dan sebagian dari tulang rusuk harus diangkat sehingga bisa dipasang selang yang lebih besar. Kadang perlu dilakukan pembedahan untuk memotong lapisan terluar dari pleura (dekortikasi).

Pengaliran cairan dan pemberian obat antitumor kadang mencegah terjadinya pengumpulan cairan lebih lanjut. Jika pengumpulan cairan terus berlanjut, bisa dilakukan penutupan rongga pleura. Seluruh cairan dibuang melalui sebuah selang, lalu dimasukkan bahan iritan (misalnya larutan atau serbuk doxicycline) ke dalam rongga pleura. Bahan iritan ini akan menyatukan kedua lapisan pleura sehingga tidak lagi terdapat ruang tempat pengumpulan cairan tambahan. Jika darah memasuki rongga pleura biasanya dikeluarkan melalui sebuah selang. Melalui selang tersebut bisa juga dimasukkan obat untuk membantu

memecahkan bekuan darah (misalnya streptokinase dan streptodornase). sJika perdarahan terus berlanjut atau jika darah tidak dapat dikeluarkan melalui selang, maka perlu dilakukan tindakan pembedahan. Pengobatan untuk kilotoraks dilakukan untuk memperbaiki kerusakan saluran getah bening. Bisa dilakukan pembedahan atau pemberian obat antikanker untuk tumor yang menyumbat aliran getah bening.
Penatalaksanaan 1. Drainase cairan jika efusi pleura menimbulkan gejala subyektif seperti nyeri,dispnea dan lain-lain. Cairan efusi sebanyak 1- 1,5 liter perlu dikeluarkan segera untuk mencegah meningkatnya edema paru,jika jumlah cairan efusi lebih bayak maka pengeluran cairan berikutnya baru dapat dilakukan 1 jam kemudian. 2. Antibiotik,jika terdapat empiema 3. Pleurodesis 4. Operatif. Komplikasi Infeksi dan Fibrosis Paru Perbedaan Transudat dan Eksudat Transudat Eksudat Kadar Protein dalam efusi ( g/dl)<3 >3 Kadar Protein dalam efusi <0,5 >0,5 Kadar Protein dalam Serum Kadar LDHdalam efusi (IU) <200 >200 Kadar LDH dalam efusi <0,6 >0,6 Kadar LDHdalam Serum Berat jenis cairan efusi < 1,016 >1,016 Hasil tes Rivalta Negatif Positif