Anda di halaman 1dari 19

BAB II PEMBAHASAN A.

Sel Eukariotik Eukariota adalah Organisme dengan sel yang mengandung inti dikelilingi oleh membran dan DNA yang diikat oleh protein (histon) ke dalam kromosom. Sel-sel eukariota juga mengandung retikulum endoplasma dan berbagai organel khusus yang tidak hadir dalam prokariota, terutama mitokondria, badan Golgi, lisosom dan. Organel tertutup di membran tiga bagian (disebut membran Unit) yang terdiri dari lapisan lipid terjepit di antara dua lapisan protein. Semua organisme kecuali bakteri dan archaea adalah eukariota. Struktur Sel Eukariotik

1)

Fungi

Fungi merupakan organisme eukariotik, memproduksi spora, tidak mempunyai klorofil, mengambil nutrisi secara absorpsi. Pada umumnya reproduksi dilakukan secara seksual dan aseksual serta strukturnya terdiri atas filamen yang bercabang cabang, dinding selnya terdiri atas khitin, selulosa ataupun keduanya (Alexopoulos et al., 1996). Fungi dapat hidup sebagai parasit, saprofit maupun bersimbiosis dan hidup di lingkungan yang lembab dengan suhu antara 20 30 oC. (Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009.). Sebagian besar fungi merupakan organisme terrestrial dan bersifat parasit pada tanaman serta beberapa fungi juga bersifat pathogen pada hewan. Namun, ada beberapa fungi yang bersimbiosis dengan tanaman, termasuk dalam hal memperoleh mineral dari tanah. Selain itu, fungi juga banyak bermanfaat untuk manusia, dimana membantu dalam proses fermentasi dan biosintesis antibiotik (Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009.). Berdasarkan struktur dasarnya, fungi dibagi menjadi 3 kelompok yaitu: a. Khamir (Yeast)

Yeast merupakan sel tunggal (uniseluler) yang membentuk tunas dan pseudohifa (Webster dan Weber, 2007). Hifanya panjang, dapat bersepta atau tidak bersepta dan tumbuh di miselium. Yeast memiliki ciri khusus bereproduksi secara aseksual dengan cara pelepasan sel tunas dari sel induk. Beberapa khamir dapat bereproduksi secara seksual dengan membentuk aski atau basidia

dan dikelompokkan ke dalam Ascomycota dan Basidiomycota. (Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009). Dibawah ini disajikan gambar 1, tomogram elektron sel yeast.

Gambar 1. Tomogram elektron sel yeast. Gambar ini menunjukkan membran plasma, mikrotubulus dan vakoula cahaya (hijau), nucleus, vakuola dan vesikula gelap (emas), mitokondria gelap dan besar (biru) dan vesikel muda (merah muda). (Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009). Dibawah ini dojajikan gambar 2, sel Yeast.

Gambar 2. Gambar 2. Sel Yeast (Madigan et al., 2012). b. Kapang (mold)

Kapang adalah jenis lain dari fungi, sebagian memiliki tekstur yang tidak jelas dan biasanya ditemukan pada permukaan makanan yang membusuk atau hangat, dan tempat-tempat lembab. Sebagian besar kapang berreproduksi secara aseksual, tetapi ada beberapa spesies yang bereproduksi secara seksual dengan menyatukan dua jenis sel untuk membentuk zigot dengan produk uniselular sel (Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009). Talusnya terdiri dari filamen panjang yang bergabung bersama membentuk hifa. Hifa dapat tumbuh banyak sekali, hifa fungi tunggal di oregon dapat mencapai 3,5 mm. Sebagian besar kapang, hifanya bersepta dan bersifat uniseluler. Hifanya disebut hifa bersepta. Pada beberapa kelas fungi, hifanya tidak bersepta dan di sepanjang selnya terdapat banyak nukleus yang disebut coenocytic hyphae. (Viegas, 2004). Dibawah ini disajikan gambar 3, Rhizopus sp.

Gambar 3. Rhizopus sp. c. Cendawan (Mushroom)

Cendawan merupakan salah satu kelompok dalam phylum fungi yang biasa disebut dengan mushroom. Cendawan (mushroom) adalah fungi makroskopis yang memiliki tubuh buah dan sering digunakan untuk konsumsi. Cendawan sedikit berbeda. Cendawan memiliki bagian yang disebut dengan tubuh buah. Tubuh buah tersebut terdiri dari holdfast atau bagian yang menempel pada substrat, lamella, dan pileus (Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009). Menurut Schlegel dan Schmidt (1994), cendawan merupakan organisme yang berinti, mampu menghasilkan spora, tidak mempunyai klorofil karena itu jamur mengambil nutrisi secara absorbsi. Pada umumnya bereproduksi secara seksual dan aseksual, struktur somatiknya terdiri

dari filamen yang bercabang-cabang. Cendawan memiliki dinding sel yang terdiri atas kitin atau selulosa ataupun keduanya. (Viegas, 2004). Dibawah ini disajikan gambar 4, Struktur Cendawan (Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009).

Gambar 4. Struktur Cendawan (Mushroom). Struktur Sel Fungi a. Hifa Fungi secara morfologi tersusun atas hifa. Dinding sel hifa bebentuk tabung yang dikelilingi oleh membran sitoplasma dan biasanya berseptat. Fungi yang tidak berseptat dan bersifat vegetatif biasanya memiliki banyak inti sel yang tersebar di dalam sitoplasmanya. Fungi seperti ini disebut dengan fungi coenocytic, sedangkan fungi yang berseptat disebut monocytic (Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009). Kumpulan hifa akan bersatu dan bergerak menembus permukaan fungi yang disebut miselium. Hifa dapat berbentuk menjalar atau menegak. Biasanya hifa yang menegak menghasilkan alat perkembangbiakan yang disebut spora. Septa pada umumnya memiliki pori yang sangat besar agar ribosom dan mitokondria dan bahkan nukleus dapat mengalir dari satu sel ke sel yang lain. Miselium fungi tumbuh dengan cepat, bertambah satu kilometer setiap hari. Fungi merupakan organisme yang tidak bergerak, akan tetapi miselium mengatasi ketidakmampuan bergerak itu dengan menjulurkan ujung-ujung hifanya denagan cepat ke tempat yang baru (Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009). Pada ujung batang hifa mengandung spora aseksual yang disebut konidia. Konidia tersebut berwarna hitam, biru kehijauan, merah, kuning, dan cokelat. Konidia yang menempel pada ujung hifa seperti serbuk dan dapat menyebar ke-tanah dengan bantuan angin. Beberapa fungi yang makroskopis memiliki struktur yang disebut tubuh buah dan mengandung spora. Spora tersebut juga dapat menyebar dengan bantuan angin, hewan, dan air (Madigan et al., 2012). Kavanagh (2011) melaporkan bahwa sebagian besar hifa pada yeast berbentuk lembaran, seperti pada Cythridomycetes dan Sacharomyces cerreviceae. Hifa mengandung struktur akar seperti rhizoid yang berguna sebagai sumber daya nutrisi. (Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009). Dibawah ini disajikan gambar 5, Struktur Dasar Hifa.

Gambar 5. Struktur Dasar Hifa. Hifa dapat dijadikan sebagai ciri taksonomi pada fungi. Beberapa jenis fungi ada yang memiliki hifa berseptat dan ada yang tidak. Oomycota dan Zygomycota merupakan jenis fungi yang memiliki hifa tidak berseptat, dengan nuklei yang tersebar di sitoplasma. Berbeda dengan kedua

jenis tersebut, Ascomycota dan Basidiomycota berasosiasi aseksual dengan hifa berseptat yang memiliki satu atau dua nuklei pada masing-masing segmen (Webster dan Weber, 2007). Hifa yang tidak bersepta disebut hifa senositik, memiliki sel yang panjang sehingga sitoplasma dan organel-organelnya dapat bergerak bebas dari satu daerah ke daerah lainnya dan setiap elemen hifa dapat memiliki beberapa nukleus. Hifa juga dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsinya. Hifa vegetatif (miselia), bertanggungjawab terhadap jumlah pertumbuhan yang terlihat di permukaan substrat dan mempenetrasinya untuk mencerna dan menyerap nutrisi. Selama perkembangan koloni fungi, hifa vegetatif berkembang menjadi reproduktif atau hifa fertil yang merupakan cabang dari miselium vegetatif. Hifa inilah yang bertanggungjawab terhadap produksi tubuh reproduktif fungi yaitu spora (Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009). Hifa tersusun dari dinding sel luar dan lumen dalam yang mengandung sitosol dan organel lain. Membran plasma di sekitar sitoplasma mengelilingi sitoplasma. Filamen dari hifa menghasilkan daerah permukaan yang relatif luas terhadap volume sitoplasma, yang memungkinkan terjadinya absorpsi nutrien. (Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009). b. Dinding Sel

Sebagian besar dinding sel fungi mengandung khitin, yang merupakan polimer glukosa derivatif dari N-acetylglucosamine. Khitin tersusun pada dinding sel dalam bentuk ikatan mikrofibrillar yang dapat memperkuat dan mempertebal dinding sel. Beberapa polisakarida lainnya, seperti manann, galaktosan, maupun selulosa dapat menggantikan khitin pada dinding sel fungi. Selain khitin, penyusun dinding sel fungi juga terdiri dari 80-90% polisakarida, protein, lemak, polifosfat, dan ion anorganik yang dapat mempererat ikatan antar matriks pada dinding sel (Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009). Dinding sel fungi berfungsi untuk melindungi protoplasma dan organel-organel dari lingkungan eksternal. Struktur dinding sel tersebut dapat memberikan bentuk, kekuatan seluler dan sifat interaktif membran plasma. Selain khitin, dinding sel fungi juga tersusun oleh fosfolipid bilayer yang mengandung protein globular. Lapisan tersebut berfungsi sebagai tempat masuknya nutrisi, tempat keluarnya senyawa metabolit sel, dan sebagai penghalang selektif pada proses translokasi. Komponen lain yang menyusun dinding sel fungi adalah antigenik glikoprotein dan aglutinan, senyawa melanins berwarna coklat berfungsi sebagai pigmen hitam. (Kavanagh, 2011). Dibawah ini disajikan gambar 6, Struktur dinding sel Fungi,dan tabel perbedaan komponen dinding sel pada setiap kelas Fungi. Gambar 6. Struktur dinding sel Fungi,dan tabel perbedaan komponen dinding sel pada setiap kelas Fungi. c. Nukleus

Nukleus atau inti sel fungi bersifat haploid, memiliki ukuran 1-3 mm, di dalamnya terdapat 3 40 kromosom. Membrannya terus berkembang selama pembelahan Nuclear associated organelles (NAOs). Terkait dengan selubung inti, berfungsi sebagai pusat-pusat pengorganisasian mikrotubula selama mitosis dan meiosis. Nucleus pada fungi juga mempengaruhi kerja kutub benang spindel dan sentriol. (Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009). d. Organel-organel Sel Lainnya

Fungi memiliki mitokondria yang bentuknya rata atau flat seperti krista mitokondria. Badan golgi terdiri dari elemen tunggal saluran cisternal. Pada struktur sel fungi juga memiliki ribosom, retikulum endoplasma, vakuola, badan lipid, glikogen partikel penyimpanan, badan mikro, mikrotubulus, vesikel. (Viegas, 2004). Dibawah ini disajikan gambar 7, Struktur sel fungi.

Gambar 7. Struktur sel fungi. Struktur Sel Kelas-Kelas Fungi Menurut Maligan et al. (2012), fungi secara filogenetik dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu chytridiomycetes, zygomycetes, glomeromycetes, ascomycetes, dan basidiomycetes. Pembagian kelompok tersebut berdasarkan cara reproduksi. (Viegas, 2004). Dibawah ini disajikan gambar 8, Pohon Filogenetik Fungi (Madigan et al., 2012).

Gambar 8. Pohon Filogenetik Fungi (Madigan et al., 2012).

a.

Chytridiomycota

Sel berflagela pada minimal satu siklus hidupnya, bisa memiliki satu atau lebih flagela. Dinding sel mengandung kitin dan -1,3-1,6-glukan; glikogen sebagai bentuk cadangan karbohidrat. Reproduksi seksual sering menghasilkan satu zigot yang sporangium; saprofit atau parasit. (Viegas, 2004). Dibawah ini disajikan gambar 9, Chytridiomycota.

Gambar 9. Chytridiomycota b. Zygomycota

Talus biasanya filamentus dan nonseptat, tanpa silia, reproduksi seksual menghasilkan zigospora berdinding tebal yang berornamen. (Viegas, 2004). Dibawah ini disajikan gambar 10, apophysomyces.

Gambar 10. Apophysomyces sp. c. Ascomycota

Reproduksi seksual meiosis dengan nukleus diploid dalam askus, berkembang menjadi askospora, sebagian besar juga mengalami reproduksi aseksual dengan pembentukan konidiospora dengan hifa aerial khusus disebut konidiopora. Banyak yang memproduksi aski dengan tubuh buah kompleks disebut askokarp. Termasuk saprofit, parasit, sebagian mutualisme dengan mikroba fototropik membentuk liken. Dinding sel terbuat dari kitin. (Viegas, 2004). Dibawah ini disajikan gambar 11, Struktur sel ascomycotina.

Gambar 11. Struktur sel Ascomycotina. d. Basidiomycota Umumnya termasuk cendawan. Reproduksi seksual meliputi pembentukan basidium dengan basidiospora haploid. Umumnya 4 spora per basidium tapi kadang 1 8. Reproduksi seksual dengan fusi membentuk miselium dikariotik menghasilkan sepasang nukleus induk tapi tidak berfungsi. (Viegas, 2004). Dibawah ini disajikan gambar 12, struktur se basidiomycota.

Gambar 12. Struktur sel Basidiomycota

e.

Glomeromycota

Filamentus, sebagian besar endomikoriza, arbuskular, tidak bersilia, bentuk spora aseksual di luar inang, tidak bersentriol, konidia dan spora aerial. (Viegas, 2004). Dibawah ini disajikan gambar 13, glomus claroideum.

Gambar 13. Glomus claroideum. f. Microsporidia

Microsporidia adalah parasit obligat intraseluler berukuran kecil yang awalnya dianggap protozoa eukariot primitif tetapi sekarang diklasifikasikan sebagai fungi. Tidak memiliki mitokondria, peroksisom, kinetosom, silia dan sentriol; spora memiliki dinding dalam kitin dan dinding luar protein, produksi tabung untuk penetrasi inang. Contoh : Enterocytozoon bieneusi dan E. intestinalis. Fungi ini diketahui bertanggungjawab pada kasus diare pasien penderita AIDS dan pasien pencangkokan (Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009). Jamur lendir (myxomycota) seluruh jamur menghasilkan sel-sel yang hidup bebas pada sebagian siklus hidupnya.sel-sel yang bebas ini di sebut amoeboid karena memiliki bentuk seperti amoeba. Saat kondisi makanan jamur lendir kurang, sel-sel yang kelaparan bergabung membentuk massa yang berlendir. (Verweij et al., 2007). Jamur Lendir (Myxomycotina) : Pengertian Ciri-ciri Reproduksi Contoh Struktur Sel - Pada umumnya, jamur lendir berwarna (berpigmen) kuning atau orange, walaupun ada sebagian yang berwarna terang. Jamur ini bersifat heterotrof dan hidup secara bebas. Tahapan memperoleh makan dalam siklus hidup jamur lendir merupakan suatu massa ameboid yang disebut plasmodium.Plasmodium ini dapat tumbuh besar hingga diameternya mencapai beberapa sentimeter. (Verweij et al., 2007). Walaupun berukuran besar, plasmodium bukan multiseluler. Plasmodium merupakan massa tunggal sitoplasma yang mengandung banyak inti sel. Plasmodium menelan makanan melalui fagositosis. Mereka melakukan ini sambil menjulurkan pseudopodia melalui tanah yang lembab, daun-daunan, atau kayu yang membusuk. Jika habitat jamur lendir mulai mengering atau tidak ada makanan yang tersisa, plasmodium akan berhenti tumbuh dan berdiferensiasi menjadi tahapan siklus hidup yang berfungsi dalam tahapan reproduksi seksual. (Verweij et al., 2007). Contoh jamur lendir adalah jenis Dyctyostelum discridium. Daur hidup jamur lendir selengkapnya dapat kalian pelajari dari Gambar 1 dan 2. (Baca juga : Protista yang Mirip Jamur). Dibawah ini disajikan gambar 14, Siklus hidup Dyctystelum discridium.

Gambar 14. Siklus hidup Dyctystelum discridium (Copyright, M.J. Grimson & R.L. Blanton. Biological Sciences Electron Microscopy Laboratory, Texas Tech University).Dibawah ini disajikan gambar 15, siklus hidup jamur lendir.

Gambar 15. Siklus hidup jamur lendir (Myxomicotina) 2) Ganggang atau Algae

Secara anatomi sel alga dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

(1) Membran plasma, (2) Sitoplasma dan Organel Sel, (3) Inti Sel (Nukleus), Seperti yang ditunjukkan pada gambar 16 (Anonim, 2011; Haas et al., 2009).

Gambar 16. Struktur sel alga. 1. Membran Plasma

Membran plasma terletak paling luar dan tersusun oleh lipoprotein (gabungan lipid dan protein). Membran plasma bersifat selektif permeabel, yang berarti hanya dapat dilewati oleh molekul tertentu saja dan bertanggungjawab dalam transportasi zat dari dalam sel ke lingkungan (Barsanti and Gualtieri, 2006). Sel alga memiliki dinding sel di luar membran sel. Sebagian besar dinding sel alga tersusun atas selulosa, meskipun terkadang mengandung silika atau kalsium karbonat. Sebagian alga juga memiliki dinding sel yang mengandung manan, xylan, asam alginat, agaros, dan lain sebagainya. Dinding sel dapat berbentuk filamen, seperti pada fungi, atau tersusun atas plat-plat yang disekresikan oleh badan golgi. Terdapat kelompok tertentu yang tidak memiliki dinding sel padat, tetapi selnya dilindungi oleh pelikel protein yang fleksibel di- bawah membran plasma. Materi dinding sel diproduksi dan disekresi oleh badan golgi. (Barsanti and Gualtieri, 2006). 2. Sitoplasma dan organel sel

Bagian cair di dalam sel disebut dengan sitoplasma. Pada sitoplasma terdapat organela yang mempunyai fungsi tertentu (Graham and Wilcox, 2000). Organel sel tersebut antara lain : Retikulum Endoplasma (RE)

Retikulum endoplasma merupakan jalinan saluran, dibatasi oleh membran yang kontinyu dengan selubung luar nukleus. Fungsi RE adalah sebagai alat transportasi zat-zat di dalam sel itu sendiri. (Graham and Wilcox, 2000). 3. Ribosom (Ergastoplasma)

Ribosom terdiri dari subunit protein besar dan kecil. Sebagian ribosom melekat sepanjang RE, sebagian lain bebas di sitoplasma. Fungsi ribosom adalah sebagai tempat sintesis protein. (Graham and Wilcox, 2000).

Mitokondria (The Power House)

Mitokondria mempunyai dua lapis membran. Membran dalam yang berlekuk-lekuk dan disebut krista. Fungsi mitokondria merupakan pusat respirasi seluler yang menghasilkan banyak ATP (energi). Mitokondria pada alga mempunyai 2 tipe, sep0erti yang ditunjukkan pada gambar 2 : 1) Flat lamellar cristae (pada Rhodophyta, Crytophyta, Euglenophyta, dan Chlorophyta) dan 2) tubular cristae (pada Chrysophyta, Raphidophyta, Prymnesiophyta, Eustigmatophyta, dan Xanthophyta. (Graham and Wilcox, 2000).

Dibawah ini disajikan gambar 17. Tipe mitokondria yang terdapat pada alga (a) flat lamelar cristae dan (b) tubular cristae.

Gambar 17. Tipe mitokondria yang terdapat pada alga (a) flat lamelar cristae dan (b) tubular cristae (sumber: Chapman, 1941) Lisosom

Lisosom adalah penghasil dan penyimpan enzim pencernaan seluler. Vakuola Kontraktil

Sebagian besar alga berflagela mempunyai dua vakuola kontraktil pada bagian anterior sel, yaitu diastole (saluran masuk) dan sistole (saluran pengeluaran), fungsinya untuk membuang sisa produk dari sel. (Graham and Wilcox, 2000). 4. Badan Golgi (Apparatus Golgi = Diktiosom)

Organel ini melaksanakan fungsi produksi dan sekresi polisakarida.

Sentrosom (Sentriol)

Sentrosom bertindak sebagai benda kutub dalam mitosis dan meiosis. Plastida

Plastida merupakan tempat fotosintesis serta jalur biokimia asam amino aromatik, heme, isophrenoids, dan asam lemak. Plastida utama pada alga adalah kloroplas. Kloroplas mengandung sistem membran yang bernama tilakoid, yang sering membentuk tumpukan membran yang disebut grana. Enzim yang mengendalikan fotosintesis terdapat di membran tilakoid dan stroma. Plastida dibedakan menjadi tipe primer dan sekunder. Plastida tipe primer hanya diselubungi oleh dua lapis membran, sedangkan plastida sekunder dikelilingi empat atau tiga lapis membran. Plastida sekunder secara fisik tidak terletak di sitoplasma sebagaimana plastida primer, tetapi terletak di lumen sistem endomembran (Haas et al., 2009). Selain klorofil, terdapat pigmen lain dalam plastida. Pigmen ini menyerap panjang gelombang yang berbeda dari klorofil. Hal ini berguna pada alga yang hidup di perairan lebih dalam, yang tidak mampu ditembus oleh spektrum cahaya biru. Pigmen-pigmen tersebut adalah: a. Fikosianin (pigmen warna biru) b. Xantofil (pigmen warna kuning) c. Karoten (pigmen warna keemasan) d. Fikosantin (pigmen warna cokelat) e. Fikoeritrin (pigmen warna merah).

Mikrotubulus

Berbentuk benang silindris, kaku, berfungsi untuk mempertahankan bentuk sel dan sebagai rangka sel. Contoh organel ini antara lain benang-benang gelembung pembelahan. Selain itu, mikrotubulus berguna dalam pembentakan sentriol, flagel dan silia. (Haas et al., 2009). Stigma atau bintik mata

Stigma merupakan area sitoplasma dengan konsentrasi pigmen tinggi (biasanya karoten). Stigma terdapat di dekat pangkal flagela. Stimulasi stigma oleh cahaya akan menstimulasi flagela pula, sehingga terjadi gerakan mendekati sumber cahaya. (Haas et al., 2009). 5. Inti Sel (Nukleus)

Nukleus mengandung bahan genetik sel dan dikelilingi oleh membran ganda. Nukleus terdiri dari selaput inti (karioteka), nukleolus, kromosom, dan bahan pendukung atau karyolimph (Graham and Wilcox, 2000). Alga uniseluler dan sel reproduksi alga multiseluler memiliki flagela. Flagela terdapat di bagian apikal, lateral, ataupun posterior sel. Flagela dapat berupa satu berkas cambuk, ataupun memiliki struktur berambut atau sisik. Pergerakan dapat ke samping atau spiral. (Haas et al., 2009). Dibawah Ini disajikan Gambar 18, Tipe flagela pada algae (a) fibrous solid hair, (b) tubular hair.

Gambar 18. Tipe flagela pada algae (a) fibrous solid hair, (b) tubular hair. (Chapman, 1941) Terdapat dua tipe flagela, seperti yang ditunjukkan pada gambar 5, yaitu fibrous solid hair dan tubular hair. Fibrous solid hair mengelilingi flagela, meningkatkan luas permukaan, dan efisiensi dari tenaga penggerak. Tersusun atas glikoprotein dan terdapat pada Euglenophyta dan Dinoflagellata. Tubularhair tersusun atas protein dan glikoprotein, terdapat pada: Chrysophyta, Phaeophyta, dan Chlorophyta (Chapman, 1941). 3) Protozoa Protozoa merupakan jenis protista yang menyerupai hewan. Protozoa berasal dari bahasa Yunani, yaitu proto yang berarti pertama dan zoa yang berarti hewan. Sifat umum protozoa adalah uniselluler, heterotrofik, dan merupakan cikal bakal hewan yang lebih kompleks. (Chapman, 1941). a. Ukuran dan bentuk tubuh

Protozoa berukuran mikroskopis, yaitu sekitar 10 200 . Bentuk selnya sangat bervariasi, ada yang tetap dan ada yang berubah-ubah. Sebagian besar protozoa memiliki alat gerak berupa kaki semu (pseudopodia), bulu getar (silia), atau bulu cambuk (flagellum). Beberapa protozoa memiliki cangkang. (Chapman, 1941).

b.

Struktur dan Fungsi Tubuh

Sel protozoa umumnya terdiri dari membrane sel, sitoplasma, vakuola makanan, vakuola kontraktil (vakuola berdenyut), dan inti sel. Membran Sel Fungsi : sebagai pelindung serta pengatur pertukaran makanan dan gas. Vakuola Makanan

Fungi Fungsi : mencerna makanan. Vakuola makanan terbentuk dari proses makan sel atau sel dengan cara menelan oleh setiap bagian membrane sel atau melalui sitostoma (mulut sel). Zat-zat makanan hasil cernaan dalam vakuola makanan masuk ke dalam sitoplasma secara difusi. Sedangkan sisa makanan dikeluarkan dari vakuola ke luar sel melalui membrane plasma. (Chapman, 1941). Vakuola Kontraktil Fungsi : mengeluarkan sisa makanan berbentuk cair ke luar sel melalui membrane sel serta mengatur kadar air dalam sel. Vakuola kontraktil merupakan vakuola yang selalu mengembang dan mengempis. (Chapman, 1941). Inti Sel Fungsi : mengatur aktivitas sel.

c.

Ciri ciri umum protozoa

Ukuran protozoa bervariasi, yaitu mulai kurang dari 10 mikron(m) dan ada yang mencapai 6 mm,meskipun jarang. Struktur tubuh Organel organel untuk melakukan kegiatan hidup antara lain, membrane plasma, sitoplasma dan mitokondria. Beberapa jenis protozoa memiliki inti lebih dari satu. (Chapman, 1941). Alat gerak Alat gerak berupa bulu cambuk (flagella), bulu getar (silia) dan kaki semu (pseudopodia). Reproduksi Reproduksi aseksual (Vegetatif ) pada kebanyakan protozoa adalah dengan membelah diri. Namun adapula jenis protozoa yang bereproduksi secara konjugasi yaitu perpaduan antara dua individu yang belum dapat dibedakan jenis kelaminnya. (Chapman, 1941). d. Protozoa dibagi menjadi 4 kelas berdasarkan alat gerak 1. Rhizopoda Amuba

Struktur tubuh amuba

sel dilindungi oleh membrane sel. Didalam selnya terdapat organel organel, diantaranya inti sel, vakuola kontraktil, dan vakuola makanan. (Chapman, 1941). a. Membrane sel atau membrane plasma

Membrane sel disebut juga plasmalema dan berfungsi melindungi protoplasma. Ektoplasma merupakan lapisan luar sitoplasma yang letaknya berdekatan dengan membrane plasma dan umumnya ektoplasma merupakan bagian dalam plasma, umumnya bergranula. (Chapman, 1941). b. Inti sel (nucleus)

Berfungsi mengatur seluruh kegiatan yang berlangsung didalam sel. c. Rongga berdenyut (Vakuola Kontraktil)

Berfungsi sebagai organ ekskresi sisa makanan. Vakuola kntraktil juga menjaga agar tekanan osmosis sel selalu lebih tinggi dari tekanan osmosis disekitarnya. (Chapman, 1941). d. Rongga makanan (vakuola makanan ) Berfungsi sebagai alat pencernaan. Makanan yang tidak dicernakan akan dikleuarkan melalui rongga berdenyut.

2. Flagellata atau Mestigospora Alat geraknya berupa bulu cambuk atau flagella. Sebagian besar hidup bebas dan adapula yang sebagai parasit pada manusia dan hewan , atau saprofit pada organism mati. Flagellata dibedakan menjadi dua yaitu Fitoflagellata

Adalah flagellate yang dapat melakukan fotosintesis karena memiliki kromotafora. Fitoflagellata mencernakan makananya dengan berbagai cara, menelan lalu mencernakan didalam tubuhnya (holozoik), membuat sendiri makanannya (holofitrik), atau mencernakan oirganisme yang sudah mati(saprofitik). Habitat fitoflagellata adalah diperairan bersih dan diperairan kotor. Fitoflagellata bergerak menggunakan flagella. Zooflgellata

Adalah flagellate yang tidak berkloroplas dan menyerupai hewan. Ada yang hidup bebas namun kebanyakan bersifat parasit. (Chapman, 1941). 3. Ciliata

Alat geraknya berupa rambut getar (silia), sebagian besar ciliate berukuran mikroskopis, tetapi spesies yang terbesar berukuran 3 mm sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang. 1. 2. Struktur Tubuh Kebanyakan ciliata berbentuk simetris kecuali ciliate primitive, simetrinya radial. Tubuhnya diperkuat oleh perikel, yaitu lapisan luar yang disusun oleh sitoplasma padat.

3. Tubuhnya diselimuti oleh silia, yang menyelubungi seluruh tubuh utama disebut silia somatic. 4. 5. Ciliate mempunyai dua tipe inti sel (nucleus), yaitu makro nucleus dan mikro nucleus. Ciliate tidak mempunyai struktur khusus pertukaran udara dan sekresi. (Chapman, 1941).

Terdapat dua macam mulut pada cilliata, yaitu berupa: a. Mulut membrane berombak / membrane yang bergerak; merupakan cilliata uyang menyatu dalam barisan panjang. b. Membrane yang berupa barisan pendek dari cilia yang bersatu membentuk piringan. Fungsi cilliata pada mulut adalah untuk menghasilkan makanan dan mendorong partikel makanan menuju sitofaring. Contoh anggota cilliata yanhg terkenal misalnya paramecium. (Chapman, 1941). 4. Sporozoa Hewan ini tidak memiliki alat gerak. Merupakan golongan protista yang menyerupai jamur, karena sporotozoa dapat membentuk spora yang dapat menginfeksi inangnya dan tidak memiliki alat khusus, sehingga geraknya mengubah ubah kedudukan tubuh, sporozoa hidup sebagai parasit. Respirasi dan eksresi terjadi secara difusi. Struktur tubuh a. Tubuhnya berbentuk bulat panjang, b. Ukuran tubuhnya hanya beberapa micron, tetapi didalam usus manusia atau hewan yang dapat mencapai 10 mm. (Chapman, 1941). c. Tubuh dari kumpulan tropozoid berbentuk memanjang dan dibagian anterior kadang kadang terdapat kait pengikat atau filament sederhana untuk melekatkan diri pada inang. (Chapman, 1941). B.II Hubungan atau Peranan Sel Eukariotik Dalam Peternakan

1.

Peranan Protozoa Dalam Kehidupan

Protozoa berperan penting dalam mengontrol jumlah bakteri di alam karena Protozoa adalah pemangsa bakteri. Di perairan, protozoa juga merupakan zooplankton dan bentos. Zooplankton dan bentos adalah sumber makanan hewan air termasuk udang, kepiting, dan ikan yang secara ekonomi bermanfaat bagi manusia. (Chapman, 1941). a. Protozoa lain menguntungkan antara lain sebagai berikut :

Foraminifera, cangkang atau kerangkanya merupakan petunjuk dalam pencarian sumber daya minyak, gas alam, dan mineral. Radiolaria, kerangkanya jika mengendap di dasar laut menjadi tanah radiolarian yang dapat digunakan sebagai bahan penggosok. b. Protozoa yang merugikan manusia, yaitu menyebabkan penyakit antara lain : Entamoeba histolyca, penyebab disentri. Trypanosoma brucei, penyebab penyakit tidur di Africa

Trypanosoma evansi, penyebab penyakit pada hewan ternak, misalnya pada sapi, kambing, dan kuda Leishmania, penyebab penyakit kala azar Trichomonas vaginalis, parasit pada alat kelamin. Balantidium coli, penyebab diare. Toxopalsma gondii, penyebab toksopalsmosis Plasmodium, Penyebab penyakit malaria.

Entamoeba coli hidup dalam usus besar dan membantu proses pembusukan sisa-sisa makanan dan mensintesis vitamin K. Ganggang merupakan anggota Protista yang memberikan kontribusi, baik dalam penyediaan energi jaring-jaring makanan maupun dalam bidang industri. Pada ekosistem perairan, ganggang bertindak sebagai fitoplankton yang dapat menghasilkan energi bagi organisme heterotrof karena kemampuannya untuk melakukan fotosintesis. Sedangkan dalam bidang industri, ganggang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dalam industri es krim, agaragar, kosmetik, bahan pembuatan dinamit, dan sebagai bahan penggosok. (Baca juga : Peranan Protista). Dinding sel ganggang coklat (Phaeophyta) mengandung asam alginat yang dapat dimanfaatkan sebagai pengemulsi dalam industri es krim, sebagai obat-obatan, dan cat. Laminaria lavaniea mengandung kalsium, dapat dimanfaatkan sebagai pupuk pertanian dan makanan ternak.

Sedangkan Laminaria digitalis dapat dimanfaatkan sebagai penghasil yodium, untuk obat penyakit gondok. (Chapman, 1941).

2. a.

Peranan Gangang atau Algae dalam kehidupan Algae menguntungkan

- Ganggang merah (Rhodophyta) dapat dimanfaatkan sebagai sebagai pemadat media pertumbuhan bakteri. Contoh spesies yang sering dimanfaatkan antara lain Gracilaria sp., Gellidium sp., dan Eucheuma spinosum. - Tanah diatom merupakan deposit silika dari cangkang ganggang keemasan (Chrysophyta). Bahan ini dapat digunakan sebagai agen penyaring untuk menjernihkan cairan, sebagai ampelas, dan penggosok perak. Tanah diatom juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan isolasi, bahan pembuat dinamit, bahan pembuat saringan, dan bahan pasta gigi. - Chlorella Sebagai Sumber Makanan. Alternatif Bergizi Tinggi Ganggang hijau Chlorella, terutama dari jenis Chlorella vulgaris mengandung klorofil yang dapat mencapai 2-3% dari beratnya. Chlorella juga mengandung protein dengan kadar 55-60%, Vitamin C, Vitamin E, Kalsium, Kalium dan Magnesium. Kandungan klorofil dan nutrien pada Chlorella inilah yang bermanfaat bagi kesehatan bila dikonsumsi. (Chapman, 1941). b. Algae merugikan

Beberapa anggota Protozoa yang bersifat parasit sering menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Entamoeba ginggivalis menyebabkan kerusakan gigi dan gusi (penyakit ginggivitis), sedangkan Entamoeba hystolitica menyebabkan desentri. Beberapa jenis Trypanosoma juga menyebabkan penyakit pada hewan dan manusia. Organisme tersebut antara lain Trypanosoma gambiense dan Trypanosoma rhodesiense, menyebabkan penyakit tidur pada manusia di benua Afrika. Hospes perantara Trypanosoma gambiense adalah lalat Tse tse jenis Glosina palpalis, sedangkan hospes perantara Trypanosoma rhodesiense adalah lalat Tse tse jenis Glosina morsitans. Trypanosoma evansi menyebabkan penyakit surra (malas) pada hewan ternak. (Baca juga : Manfaat Protista) Trypanosoma cruzi, menyebabkan penyakit chagas (anemia) pada anak-anak. Trypanosoma brucei, menyebabkan penyakit nagana pada hewan ternak. Leismenia donovani, menyebabkan penyakit kala azar (leishmaniasis) pada manusia. Penyakit ini ditandai dengan gejala hati dan limpa membengkak, serta demam yang berkepanjangan. Hospes perantaranya adalah nyamuk Pholobotomus. Anggota Sporozoa yang sering menyebabkan penyakit adalah Plasmodium dan Toxoplasma. Plasmodium menyebabkan penyakit malaria, sedangkan Toxoplasma dapat menyebabkan penyakit toxoplasmosis yang menyerang manusia, kucing, babi, dan kambing. (Chapman, 1941).

Toxoplasmosis dapat menyebabkan radang pada hati, paru-paru, otot, saraf pusat, dan keguguran. Toxoplasma masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan atau minuman yang tercemar kista Toxoplasma dan tidak dimasak secara sempurna dan dapat hidup bertahun-tahun dalam tubuh manusia.Protista menyerupai jamur yang sering menimbulkan masalah antara lain Saprolegnia yang bersifat parasit pada sisik dan insang ikan yang terluka dan Phytoptora infestans yang menyebabkan penyakit late blight pada kentang. (Chapman, 1941).

BAB III PENUTUP A.III Kesimpulan Alga memiliki keragaman struktur selulernya, terutama pada dinding sel, mitokondria, flagela, dan plastidanya. Karakteristik yang digunakan untuk mengelompokkan alga antara lain keberadaan pigmen klorofil, cadangan karbon dan komponen dinding sel. Fungi merupakan mikroorganisme eukariota yang sebagian besar bersifat multiseluler. Fungi atau cendawan terdiri dari kapang dan khamir. Secara umum Fungi hidup dengan 3 cara yaitu sebagi saprofit, parasitik dan diomorfis. Fungi adalah heterotrof yang mendapatkan nutriennya melalui penyerapan (absorpsi).

Fungi menempati lingkungan yang sangat beragam yang berasosiasi secara simbiotik dengan banyak organisme baik di darat maupun di air. Sebagian besar fungi adalah organisem multiseluler dengan hifa yang dibagi menjadi sel-sel oleh dinding yang bersilangan atau septa. Dinding sel pada fungi dilindungi olehSelulosa dan Kitin (polisakarida yang mengandung unsur N). Fungi dapat berkembang biak dengan dua cara yaitu cara seksual dan aseksual. Fungi secara filogenetik dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu chytridiomycetes, zygomycetes, glomeromycetes, ascomycetes, dan basidiomycetes. B.III Saran Semoga makalah ini dapat menjadikan tambahan ilmu bagi pembaca pada umumnya penulis pada khususnya. Namun, penyusun juga membutuhkan kritik yang membangun untuk menjadikan tambahan bagi penyusunnya.

Daftar Pustaka

-Martin, E.A., ed (1983). Macmillan Dictionary of Life Sciences (2nd ed.).

-Nelson, David L.; Cox, Michael M. (2005). Lehninger Principles of Biochemistry (4th ed.). New York: W.H. Freeman. ISBN 0716743396.

-Oungson, Robert M. (2006). Collins Dictionary of Human Biology. Glasgow: HarperCollins. ISBN 0-00-722134-7.

-Volk & wheeler.,1988. Mikrobiologi Dasar Edisi Kelima,, jilid 1..Erlangga, jl. Kramat IV No.11, Jakarta 10420.

-Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas X. Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Pusat