Anda di halaman 1dari 11

Kelas : Rabu Pagi Nama : Moh.

Maruf Mudofir NU : 6

Islamisasi Nusantara Di Indonesia

I.

Pendahuluan Islamisasi di Indonesia terjadi sejak Zaman Prasejarah melalu jalan

pelayaran dan perdagangan wilayah barat nusantara dan malaka ( sejak abad ke -7 M). ada tiga fase perkembangan islam di Nusantara yaitu perdagangan asing singgah di pelabuhan nusantara, adanya komunitas Islam di beberapa daerah kepulauan di Indonesia dan berdirinya kerajaan kerajaan Islam. Bukti terjadinya Islamisasi Nusantara Di Indonesia yaitu denggan muculnya permukima permukiman Muslim di kota pesisir. Islamisasi mulai masuk ke tanah jawa sejak abad ke 11 M dengan adanya bukti bukti proses islamisasi di jawa, terbentuknya masyarakat muslim dan pertumbuhan masyarakat isalam di majapahit. Tetapi sebelum para muslimin ingin menyebarkan agama islam di Nusantara mereka mempelajari aspek geografis dan geografi terlebih dahhulu untuk dapat membuat penduduk asli Nusantara tertarik dengan agama islam. Keberhasilan Islamisasi di Nusantara memaksa islam sebagai pendatang. Untuk mendapatkan simbol - simbol kultural yang selaras dengan kemampuan penangkapan penduduk asli Nusantara. Jadi Islam beradabtasi dengan apa yang di gemari dan di sukai oleh penduduk Nusantara.

II.

Uraian Islamisasi di Nusantara melewati saluran dan cara yang bermacam

macam seperti kedatangan islam kepada golongan bangsawan dan rakyat umumnya dilakukan secara damai contohnya dengan menggunakan islam sebagai alat politik dan alat ekonomi/ perdagangan. Tetapi menurut pendapat Uka Tjandrasasmita saluran saluran islamisasi ada 6 antara lain: 1. Saluran Perdagangan Pada taraf permulaan saluran Islamisasi adalah perdagangan. Saluran ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam

kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham. Dan para pedagang muslim banyak bermukim di pesisir pulau jawa yang penduduknya masih kafir. Dan berhasil mendirikan masjid masjid dan mendatangkan mullahmullah dari kaur sehingga jumlah mereka makin banyak, dan karenanya anak anak muslim menjadi orang jawa dan kaya. 2. Saluran Perkawinan. Para pedagang muslim memiliki status social yang lebih baik daripada kebanyakan pribumi, maka puteri bangsawan tertarik menjadi istri saudagar itu. Sebelum kawin mereka di islamkan lebih dahulu. Kemudian timbul kampungkampong, daerah daerah dan kerajaan kerajaan muslim. 3. Saluran Tasawuf. Pengajar pengajar tasawuf atau para sufi mengajarkan teosofi yang bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal dengan luas masyarakat Indonesia. Dianatara mereka juga ada yang mengawinkan puteri puteri bangsawan setempat. 4. Saluran pendidikan. Pesantren maupun pondok yang diselanggarakan oleh guru-giri agama, kyai kyai dan ulama ulama. Dimana para santri di didik kekampung masing-

masing mampu berdakwah mengajarkan islam. Seperti pesantren yang didirikan Raden Rahmat di Ampel Denta Surabaya, dan sunan Giri di Giri. 5. Saluran Kesenian. Melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang. Sunan kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang, dana tidak pernah memintah upah, tetapi meminta penonton untuk mengikuti kalimat syahadat. 6. Saluran Politik. Di Maluku dan Sulawesi selatan, rakyat masuk islam setelah rajanya membrntuk Islam. Pengaruh politik raja sangat dominan. Kerajaan islam memerangi kerajaan non-islam. Kemenangan islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan islam itu masuk islam. Pedagang pedagang muslim asal Arab, Persia dan India berdagang sejak abad ke 7 M Islam pertama kali berkembang Timur tengah, Malaka, sebelum ditaklukan portugis (1511) merupakan pusat utama lalu lintas perdagangan dan pelayaran tetapi terdapat perguncingan di dalam Islamisasi di Nusantara. Sejauh menyangkut kedatangan Islam di nusantara, terdapat diskusi dan perdebatan panjang di antara para ahli mengenai tiga masalah pokok : Tempat asal kedatangan Islam, para pembawanya, dan waktu kedatangannya. Berbagia teori dan pembahasan yang berusaha menjawab ketiga masalah pokok ini jalas belum tuntas, tidak hanya krena kurangnya data yang dapat mendukung suatu suatu teori tertentu, tetapi juga karena sifat sepihak dari berbagai teori yang ada. Terdapat kecenderungan kuat, suatu teori tertentu menekankan hanya aspek-aspek khusus dari ketiga masalah pokok, sementara mengabaikan aspek-aspek lainnya. Karena itu, kebanyakan teori yang ada dalam segi-segi tertentu gagal menjelaskan kedatangan Islam, konvensi agama yang terjadi, dan proses-proses Islamisasi yang terlibat di dalamny. Bukanya tidak biasa jika suatu teori tertentu tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tandingan yang di ajukan teori-teori lain.

Sejumlah sarjana, kebanyakan asal Belanda, memegang teori bahwa asal-muasal Islam di nusantara adalah Anak Benua India, bukanya Persia atau Arabia. Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah Pijnappel, ahli dari Universitas Leiden. Dia mengaitkan asal-muasal Islam di Nusantara dengan wilayah Gujarat dan Malabar. Menurut dia, adalah orang-orang Arab bermazhab SyafiI yang bermigrasi dan menetap di wilayah India tersebut yang kemudian membawa Islam ke Nusantara. Moquette, seorang sarjana Belanda lainnya, berkesimpulan bahwa tempat asal Islam di Nusantara adalah Gujarat. Ia mendasarkan kesimpulan ini setelah mengamati bentuk batu nisan di pasai, kawasan utara Sumatra, khususnya yang bertanggal 17 Dzul Al-Hijjah 831 H/ 27 September 1428. batu nisan yang kelihatannya mirip dengan batu nisan lain yang di temukan di makam Mawlana Mlik Ibrahim (w. 822/1419) di Gresik, jawa timur ternyata sama bentuknya dengan batu nisan yang terdapat di cambay, Gujarat. Berdasarkan contoh-contoh batu nisan ini ia berkesimpulan, bahwa batu nisan di Gujarat dihasilkan bukan hanya untuk pasar lokal, tetapi juga untuk impor ke kawasan lain, term,asuk Sumatra dan Jawa. Selanjutnya, dengan mengimpor batu nisan dari Gujarat, orang-orang Nusantara juga mengambil Islam dari sana. Kesimpulan Moquette ini di tentang keras oleh fatimi yang beragumen bahwa keliru mengaitkan seluruh batu nisan di pasai, termasuk batu nisan Malik Al-Shalih, dengan batu nisan di Gujarat. Menurut penelitiannya, bentuk dan gaya batu nisan Malik Al-Shalih berbeda sepenuhnya dengan batau nisan yang terdapat di Gujarat dan batu-batu nisan lain yang ditemukan di Nusantara. Fatimi berpendapat, bentuk dan gaya batu nisan itu justru mirip dengan batu nisan yang terdapat di Bengal. Ini menjadi alasan utamanya untuk menyimpulkan, bahwa asal Islam yang datang ke Nusantara adalah wilayah Bengal. Dalam kaitannya dengan teori batu nisan ini, Fatimi mengeritik para ahli yang kelihatannya mengabaikan batu nisan Siti Fatimah (bertanggal 475/1082) yang di temukan di Leran, Jawa Timur.

Teori yang dikemukakan Marisson kelihatan mendukung pendapat yang di pegang Arnold. Menulis jauh sebelum Marisson, Arnold berpendapat bahwa Islam di bawa ke nusantara antara lain juga dari Coromandel dan Malabar. Ia menyokong teori ini dengan menunjuk kepada persamaan mazhab fiqih di antara kedua wilayah tersebut. Mayoitas Muslim di Nusantara adalah pengikut mazhab Syafi'i, yang juga cukup dominan di wilayah Coromandel dan Malabar, seperti di saksikan oleh Ibn Bathuthah ktika ia mengunjungi kawasan ini. Mennurut Arnold, para pedagang dari Coromandel dan Malabar mempunyai peran penting dalamperdagangan antara India dan Nusantara. Sejumlah besar pedagang ini mendatangi pelabuhan-pelabuhan dagang dunia Melayu-Indonesia di mana mereka ternyata tidakhanya terlubat dalam perdagangan, tetapi juga dalam penyebaran Islam. Tetapi penting dicata, menurut Arnold, Coromandel dan Mlabar bukan satu-satunya tempat asal Islam di bawa, tetapi juga dari Arab. Dalam pandanganya, para pedagang Arab juga menyebarkan Islam ketika mereka dominan dalam perdagangan Barat-Timur sejak abad ke-7 dan ke-8 Maswhi. Meski yidak terdapat catatan-catatan kegiatan mereka dalam penyebaran Islam, cukup pantas mengasumsikan bahwa mereka terlibat pula dalam penyebaran Islam kepada penduduk Nusantara. Sebagian orang-orang Arab melakukan perkawinan dengan wanita lokal, sehingga membentuk sebuah komunitas Muslim yand terdiri dari orang-orang Arab pendatang dan penduduk lokal. Menurut Arnold, anggotaanggota komunitas Muslim ini juga melakukan kegiatan-kegiatan penyebaran Islam. Teori tntang Gujarat sebagai tempat asal Islam di Nusantara terbukti mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu. Ini dibiktikan misalnya oleh Marison. Ia beraguman, meski batu-batu nisan nyang ditemukan di tempat-tempat terteneu di Nusantara boleh jadi berasal dari Gujarat atau dari Bengal. Seperti di kemukakan Fatimi itu tidak lantass berarti Islam juga didatangkan dari sana. Marison mematahkan teori ini drngan mununjukan kepada kenyataan bahwa pada masa Islamisasi Samudra-Pasai, yang raja pertamanya wafat pada 698/1297,

Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu. Barulah setahun kemudian 699/1298 cambay, Gujarat ditaklukan kekuasaan Muslim. Jika Gujarat adalah pusat Islam, yang dari tempat itu para penyebar Islam datang ke Nusantara, maka Islam pastilah telah mapan dan berkembang di Gujarat sebelum kematian Malik AlShalih, tegasnya sebelum 698/1297. marrison selanjutnya mencatat, meski lascar Muslim menyerang Gujarat beberapa kali, masing-masing 415/1024, 574/1178, dan 595/1197, raja Hindu di sana mampui mempertahankan kekuasaannya hingga 698/1297. mempertimbangkan semua ini, Marrison mengemukakan teorinya bahwa Islam di Nusantara bukan berasal dari Gujarat, melainkan di bawa para penyebar Muslim dari pantai Coromandel pada akhir abad ke-13. Teori bahwa Islam juga di bawah langsung dari Arabia di pegang pula oleh Crawfurd, walaupun ia menyarankan bahwa interaksi pnduduk Nusantara dengan kaum Muslimin yang berasal dari pantai timur India juga merupakan faktor penting dalam penyebaran Islam di Nusantar. Sementara itu, Keijzer memandang Islam di Nusantara berasal dari Mesir atas dasar pertimbangan kesamaan kepemelukan penduduk Muslim di kedua wilalayah kepada mazhab Syafii. Teori Arabh ini juga dipegang oleh Niemanndan De Hollander dengan sedikit revisi; mereka memandang bukan Mesir sebagai sumber Islam di Nusantara, melainkan Hadhramawt. Sebagian ahli Indonesia detuju dengan Teori Artab INI. Dalam seminar yang diselenggarakan pada 1969 dan 1978 tentang kedatangan Islam kr Indonesia mrreka menyimpulkan, Islam datang langsung dari Arabia, tidak dari India, tidak pada abad ke-12 atau ke-13 melainkan dalam abad pertama hijri atau abad ke-7 Masehi. Dalam kinteks Hinduisasi masyarakat Asia Tenggara, kedatangan Islam bergantung kepada penyebaran masyarakat Muslim yang telah berlangsung lebih awal di Arabia dan di daerah Samudera India dan bergantung kepada kuatnya hubungan dengan antara Asia Tenggara. Meskipun beberapa kontak yang paling awal antara Asia Tenggara dengan dunia Muslim bisa jadi bersandar pada keterlibatan para pedagang Muslim perdagangan Cina, namun tidak lama setelah konsolidasi Islam di anak benua India para pedagang Muslim dan misionari Sufi

mulai melancarkan hubungan dagang dan menyebar secara luas. Pada abad tiga belas, Asia Tenggara mulai menjalin hubungan dengan Muslim Cina, Bengal, Gujarat, Iran, Yaman dan Arabia Selatan. Kenyataannya bahwasanya warga Muslim Malay dan Indonesia adalah pengikut Syafii membuktikan bahwasanya India Selatan merupakan sumber utama pengaruh Islam. Terdapat tiga toeri yang diharapkan dapat membantu menjelaskan penerimaan Islam yang sebenarnya : Teori pertama menekankan peran kaum pedagang yang telah

melembagakan diri mereka di beberapa wilayah pesisir Indonesia, menikah dengan beberapa keluarga penguasa lokal, dan yang telah menyumbangkan peran diplomatik. Kedua, menekankan peran kaum dari Gujarat, Bengal, dan Arabia. Kedatangan para Sufi bukan hanya sebagai guru tetapi sekaligus juga sebagai pedagang yang memasuki lingkunagan istana para penguasa, perkampungan kaum pedagang, dan memasuki perkampungan wilayah pedalaman. Mereka mampu berkomunikasi tentang misi Agama yang mereka yakini. Teori ketiga lebih menekankan makna Islam bagi masyarakat umum daripada elite pamerintah. Islam telah bersosialisasi dengan kaum tani dan komunitas pedagang. Agaknya teori ketiga ini bisa jadi berlaku semuanya, sekalipaun dalam kondisi yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Tidak terdapat sebuah proses tunggal atau sumber tunggal bagi penyebaran Islan di Asia Tenggara, namun para pedagang dan kaum sufi pengembara, pengaruh para murid, dan penyebaran berbagai sekolah agaknya merupakan faktor penyebaran Islam yang sangat penting. Dan ada beberapa teori datangnya Islam Di Indonesia yaitu: Teori Gujarat Teori berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar dari teori ini adalah: a) Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran

Islam di Indonesia. b) Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia Cambay Timur Tengah Eropa.

c)

Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297

yang bercorak khas Gujarat.

Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard H.M. Vlekke. Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya. Pada saat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai. Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah singgah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang menyebarkan ajaran Islam.

Teori Makkah Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama yaitu teori Gujarat. Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir). Dasar teori ini adalah: a) Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat

perkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan berita Cina. b) Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafii, dimana pengaruh mazhab Syafii terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi. c) Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut

berasal dari Mesir. Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahli yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.

Teori Persia Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya berasal dari Persia (Iran). Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia seperti: a) Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein

cucu Nabi Muhammad SAW, yang sangat di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran. Di Sumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut. Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro. b) Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu Al Hallaj. c) Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk

tandatanda bunyi Harakat.

III.

Penutup

a. Kesimpulan Menyangkut kedatangan Islam ke Nusantara, ada beberapa nama dan beberapa pendapat dengan argumennya masing-masing dan dengan segala teori yang mereka katakan. Tetapi dengan segala teori dan pendapat mereka ungkapkan, menurut saya, teori yang di ungkapkan Arnold lah yang bisa di benarkan, di karenakan Islam datang ke Nusantara melalui perdagangan yang di lakukuan oleh orang-orang Arab lalu mereka menyebarkan Islam ke Nusantara. Jadi islamisasi di lakukan dengan menggunakan saluran saluran yang telah di sebutkan di atas. Teori tersebut, pada dasarnya masing-masing memiliki kebenaran dan kelemahannya. Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke-7 dan mengalami perkembangannya pada abad 13. b. Saran Dengan di tarik kesimpulan di atas bahwa teori yang memperguncingan Islamisasi Di Nusantara ini memang banyak dan dimana yang sesungguhnya pernah terjadi dan tidak pernah terjadi dengan bukti bukti yang ada dan ditemukan. Tetapi terjadinya Islamisasi di Nusantara memang terjadi karena sekarang Indonesia adalah Negara yang paling besar beragama Islam entah darimana datangnya menurut teori teori di atas.

Pustaka Tambahan a. Maya


http://syawalelsakti.blogspot.com/2010/09/islamisasi-nusantara-danimflikasinya.html http://th3di4n.wordpress.com/2010/08/20/teori-islamisasi-nusantara/

b. Fana Buku Induk AIK III