Anda di halaman 1dari 26

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.

OVERCURRENT & EARTH FAULT PROTECTION


Kuliah Minggu ke-5

10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

INTRODUKSI
Proteksi overcurrent (OC) harus dibedakan dari proteksi beban lebih (overload), dimana proteksi overload lebih ditekankan pada kemampuan termal dari peralatan. Tujuan proteksi OC adalah mendeteksi gangguan hubung singkat, dan memberi signal untuk membuka circuit breaker (CB) untuk mengisolasi bagian yang terganggu dari sistem. Karena itu proteksi OC harus diskriminatif, yaitu sedapat mungkin hanya mengisolasi bagian yang terganggu saja, dan membiarkan bagian sistem lainnya tetap beroperasi normal. Diskriminasi dapat dilakukan dengan arus, atau waktu, atau kombinasi arus + waktu. beban beban F1 F2 beban F3 beban

Untuk meminimalkan pemadaman, usahakan relai yang terdekat dengan lokasi gangguan bekerja lebih dulu.
10/9/2003 PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK 2

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

PENGAMAN LEBUR (FUSE)


waktu
pendekatan : I2t = konstan

Kelebihan : - Sederhana - Dapat sangat cepat - Membatasi energi gangguan h.s. Kekurangan : - Memerlukan koordinasi - Kurang sensitif untuk gangguan EF - Satu fasa - Karakteristik tidak dapat diubah - Perlu diganti

10 ms pre-arc time

arus

Prospective fault current

total operating time

10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

10.000 Karakteristik typical pengaman lebur (fuse). Lihat buku manual/publikasi dari pabrik pembuat
100A 80A

1000

100
Pre-arcing time (seconds)

10

63A 50A

1,0

0,1 10 100 1.000 10.000 A


Prospective current [rms] 4

0,01
10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

DISKRIMINASI DENGAN FUSE


Fuse A
major fuse rated current = IFA

Fuse B
minor fuse rated current = IFB

Jika tidak ada arcing, arus rating dari minor fuse dapat 90% dari major fuse dan masih dapat diperoleh diskriminasi. Namun pada kenyataannya akan ada arcing time, karena pada umumnya sirkit bersifat induktif. Rule of thumb sederhana untuk grading adalah I FA =2 x I FB Perlu diperhatikan : Total I 2t : minor fuse Pre-arcing I 2t : major fuse Gunakan diagram bullrush dari pabrik !
PRE-ARC MINOR
PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

I2 t

TOTAL

MAJOR

10/9/2003

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

OVERCURRENT RELAYS (OCR)


DATA YANG DIPERLUKAN UNTUK PENYETELAN RELAI : 1. Diagram-satu-garis dari sistem tenaga yang menggambarkan jenis dan rating setiap relai proteksi yang ada, termasuk CT yang digunakan 2. Peta impedansi dalam ohm, atau p.u., dari semua trafo, mesin dan feeder 3. Nilai maksimum dan minimum dari arus hubung singkat yang mungkin melewati setiap relai proteksi 4. Arus start yang diperlukan motor-motor, dan waktu start serta waktu stall dari motor induksi 5. Arus beban puncak yang melewati relai proteksi 6. Kurva yang menggambarkan laju peluruhan arus h.s. yang diberikan oleh generator 7. Kurva karakteristik CT

10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

ALTERNATIF PEMASANGAN OCR / EFR

EFR TRIP

OCR

OCR

OCR

OCR

OCR

EFR

EFR

Speed : seketika (instantaneous), atau ditunda (delayed) Diskriminasi : Setting arus, setting waktu, setting arus dan waktu Biaya : biasanya lebih murah d/p jenis proteksi lain yang lebih canggih
10/9/2003 PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK 7

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

Instantaneous OCR (50):


B F2 A F1

50

50

Mengandalkan perbedaan level arus h.s. pada lokasi yang berbeda Setting arus dipilih sedemikian sehingga hanya relai yang terdekat dengan gangguan yang bekerja Permasalahan : Level arus h.s. di F1 dan F2 pada dasarnya sama, karena itu tidak dapat menciptakan diskriminasi

Definite (Independent) Time OCR (51):


B A

51

51

0.9 sec 0.5 sec Waktu kerja relai tidak tergantung besar arus h.s. Relai yang paling jauh dari sumber bekerja dengan waktu paling singkat Permasalahan : Waktu kerja paling lama terjadi pada relai yang terdekat sumber dimana level arus h.s.-nya justru paling besar
10/9/2003 PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK 8

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

KARAKTERISTIK KERJA OCR

Waktu

Waktu

IDMT *) IS (Setting arus) arus IS (Setting arus)

arus

DEFINITE TIME OCR (INDEPENDENT)

INVERSE TIME OCR *) Inverse Definite Minimum Time

10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

Prosedur Dasar Setting relai arus lebih, atau over current relay (OCR), pertama-tama ditetapkan untuk memperoleh waktu kerja yang paling cepat untuk arus hubung singkat maksimum, kemudian di-cek apakah waktu kerja masih memuaskan untuk arus hubung singkat minimum. Disarankan untuk menggambar/membuat plot karakteristik kerja OCR-OCR yang terhubung serie (termasuk fuse - jika ada), dengan menggunakan satu skala yang sama. Skala yang sama misalnya menggunakan arus pada voltage base yang terendah, atau gunakan voltage yang paling dominan sebagai base. Gunakan OCR dengan karakteristik-kerja yang sama untuk OCR-OCR yang terhubung serie Pastikan bahwa OCR yang terjauh dari sumber mempunyai setting arus yang lebih kecil atau paling tidak sama dengan OCR di belakangnya.

10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

10

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D 100

Standard IDMT Very Inverse


10 LONG TIME SBEF

: :

Extremely Inverse : Long Time SBEF :

3 2 1

STANDARD INVERSE VERY INVERSE

0 ,14 I0 ,02 1 13,5 t= I 1 80 t= 2 I 1 120 t= I 1 t=

dimana t = waktu (seconds), dan I = arus (perkalian dari Plug Setting) Karakteristik pada arus < 2x Plug Setting tidak dijamin pabrik

EXTREMELY INVERSE

0.1 2

10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

10

20

11

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

STANDARD INVERSE TIME


Dipergunakan secara luas di semua tegangan sistem, sebagai proteksi back-up pada sistem EHV, dan sebagai proteksi utama pada sistem distribusi MV. Secara umum, OCR dengan karakteristik ini dipakai bila : Tidak ada keperluan koordinasi dengan jenis proteksi lain di bagian yang lebih hilir dari sistem, seperti fuse, relai termal untuk trafo, motor, dsb. Level arus h.s. pada ujung yang jauh dan tempat yang dekat sumber tidak banyak berbeda. Arus inrush tidak besar. Walau pada dasarnya relai tidak dapat diset diatas arus inrush ini, namun arus inrush ini harus cepat mengecil ke nilai yang lebih kecil d/p setting arus sebelum relai bekerja.

10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

12

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

VERY INVERSE TIME


OCR dengan karakteristik jenis ini biasanya dipakai untuk memperoleh selektivitas waktu yang lebih besar, dan bila besar arus h.s. dimanapun tidak banyak bervariasi dengan kondisi sistem. Jenis ini terutama sangat cocok untuk situasi dimana terdapat penurunan arus h.s. yang besar jika menjauh dari sumber. Kurva inverse yang lebih terjal memberikan interval time grading yang lebih besar. Waktu kerja relai kira-kira menjadi dua kali untuk pengurangan arus dari sekitar 7 ke 4 x setting arus. Hal ini memungkinkan penggunaan time multiplier yang sama untuk beberapa relai yang serie.

10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

13

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

TERMINOLOGI : PLUG SETTING MULTIPLIER (PSM)


Hanya ada dua setting yang harus dilakukan terhadap OCR, yaitu : setting arus, dan time multiplier setting Secara historis dimana OCR merupakan relai elektromekanis (yaitu induction disk), setting arus dilakukan dengan menancapkan plug pada lubang-lubang board yang biasanya terdiri dari 7 step. Jika plug ini dicabut, tap tertinggi secara otomatis akan terpilih, hal ini memungkinkan perubahan setting dilakukan dalam kondisi berbeban tanpa takut open circuit pada sirkit CT. Pada relai digital terdapat fasilitas setting arus yang lebih halus, dilakukan dengan switch digital atau key pad di relai. Key pad ini dipakai untuk memilih setting dari sistem menu yang diprogram ke dalam relai. Ada bermacam range untuk setting arus, dan kita biasanya menggunakan range sebagai persentase dari rating CT, misalnya 50-200%, atau 10-40%. Jika CT mempunyai rating (sekunder) 5 A, maka setting range 50-200% berarti current range 2,5 10 A. Jika rating arus CT adalah 1 A, maka range 50-200% berarti range 0,5 2 A.

10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

14

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

TERMINOLOGI : TIME MULTIPLIER SETTING (TMS)


Pada relai elektromekanis (yaitu induction disk), time multiplier setting berupa penyetelan mekanis dari kontak gerak dan dikalibrasi dari 0,1 1,0. Penyetelan ini hanya mengubah jarak yang ditempuh oleh disk untuk menutup kontak. TMS ini memberikan faktor pengali terhadap waktu kerja relai pada arus 10x plug setting. Sebagai contoh, apabila relai bekerja dalam 3 detik pada arus 10x plug setting dan pada TMS = 1, maka relai akan bekerja dalam 0,3 detik jika TMS diset 0,1. Perhatikan bahwa relasi ini hanya benar untuk arus sebesar 10x plug setting, sedangkan untuk arus-arus lain kita sebaiknya melihat kurva karakteristik yang dibuat pabrik.

10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

15

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

Karakteristik inverse time dari OCR biasanya digambar pada kertas log-log, dimana sumbu Y = second dan sumbu X = arus yang dinyatakan dengan kelipatan dari plug seting. Contoh : CT ratio 500/5A, setting range OCR 50 200% (2,5 10A), arus h.s. primer 5000 A. Jika relai diset 100% (yaitu 5 A), maka : Arus h.s. sekunder = (5/500) x 5000 A = 50 A. Arus ini adalah 10 kali setting arus. Dari kurva dapat dilihat bahwa jika arus = 10x setting relai akan bekerja dalam 3 detik (asumsi TMS = 1). Jika arus h.s. adalah 7500 A primer, atau 75 A sekunder, maka arus ini = 15x setting relai akan bekerja dalam waktu sekitar 2,5 detik (asumsi TMS=1).

10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

16

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

10.0 8.0 6.0

STANDARD INVERSE

OPERATING TIME (seconds)

4.0 3.0 2.4 2.0 1.8 1.2

TMS bukan setting waktu dalam second Merupakan faktor pengali terhadap karakteristik kerja dasar OCR Untuk grading :
TMS
1.0 0.8 0.6

Waktu Waktu kerja = TMS x kerja yang pada diperlukan TMS = 1

0.4

Waktu kerja yang diperlukan TMS = Waktu kerja pd TMS=1

0.6 0.2 2 10/9/2003 4

CURRENT (Multiples of Plug Setting)


PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK 17

8 10

20

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

PEMILIHAN SETTING ARUS


Biasanya diset > arus beban penuh maksimum I FL Diberikan toleransi 10% untuk error Diberikan toleransi tambahan untuk relai reset bila gangguan h.s. diisolir oleh CB di sisi yang lebih hilir

IFL I S > 1.1 R


Setting arus (pick-up current) Arus drop off

dimana R = ratio dropoff/ pick-up. Nilai R pada OCR modern adalah sekitar 0,9 0,95

10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

18

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

KOORDINASI RELAI IDMT

R1 T (Log)

51

R2

51

Grading margin IS2 IS2 Max Fault Level I (Log)

Lakukan diskriminasi pada arus h.s. maksimum. Jika ini erpenuhi, maka OCR akan diskriminatif untuk semua arus h.s < h.s. maksimum. Setting arus OCR di sisi hulu harus lebih besar d/p setting arus OCR pada sisi hilir
PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

10/9/2003

19

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

GRADING MARGIN
SECARA TRADISIONAL : CB Relay overshoot Error Safety Margin TOTAL

0.10 sec 0.05 sec 0.15 sec 0.10 0.40 sec

Atau gunakan formula : MARGIN = 2Er + E CT t + t + t + t CB 0 S 100 dimana : Er = relay timing error ECT = error trafo arus t = waktu kerja relai terdekat lokasi gangguan tCB = CB interuupting time t0 = relay overshoot time tS = safety margin
10/9/2003 PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK 20

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

CONTOH
B 200/5A A 100/5A IF MAX = 1400 A

51

51

IS=5A

IS=5A, TMS = 0.05

Koordinasikan relai di B dengan relai di A, kedua relai adalah jenis IDMT. RELAI A : Setting 5 A (sek) atau 100 A (pri). I FMAX = 1400 A = 14 x setting (PSM = 14). Dari kurva, waktu kerja relai pada arus = 14xsetting dan TMS=0.05 adalah 0.13 sec. Relai B : Setting 5 A (sek) atau 200 A (pri). I FMAX = 1400 A = 7 x setting. Waktu kerja relai pada arus = 7x setting dan TMS = 1 adalah 3.6 sec. Waktu kerja yang diinginkan = 0.13 + 0.4 = 0.53 sec, karena itu TMS = 0.53/3.6 = 0.147 Pilih TMS = 0.15

10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

21

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

KOORDINASI OCR DAN FUSE

FUSE OCR

IFMAX

TIME

Gunakan Extremely Inverse atau Very Inverse untuk koordinasi dgn Fuse Setting OCR harus 3 4 x dari fuse rating untuk menjamin koordinasi Margin = 0.4xwaktu kerja fuse + 0.15 sec meliputi seluruh daerah kerja relay dan fuse


RELAY FUSE

tRMIN = 0.15 sec


CURRENT

10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

22

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

PERTIMBANGAN UNTUK TRAFO DELTA - STAR

ILINE = I

I =

IY I = 3 2

E 3 E N IY = = = 0.866 I 2X t 2X t

Gangguan fasa-fasa di sisi Y menimbulkan arus dengan distribusi 2:1:1 di sisi delta Harus memakai sebuah OCR pada setiap fasa Harus dipastikan adanya current grading margin yang cukup antara sisi Y (pada 0,866 x level arus 3 fasa), dan relay pada sisi delta (pada arus 3 fasa).
10/9/2003 PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK 23

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

51 HV2

51 HV1

51 LV

HV2 LV HV1

IF(LV)

1.2IF(LV)

IF(HV)

10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

24

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

EARTH FAULT PROTECTION


Arus hubung singkat ke tanah mungkin kecil Sensitivitas dan speed mungkin tidak dapat dipenuhi oleh OCR fasa Gunakan relay terpisah untuk deteksi gangguan tanah EFR mengukur zero sequence current Karena itu dapat diset < arus beban Solid grounded : Setting ~ 30% (EFR biasanya mempunyai range 20 - 80%) Resistance grounded : < 30% (biasanya antara 10 40%) Karena setting arus yang rendah, diperlukan jumlah lilitan yang banyak pada EFR agar diperoleh torque yang cukup (khusus relai elektromekanis). Lilitan banyak kawat lebih kecil impedansi relai lebih besar

10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

25

FT UI Jurusan Elektro Ir. Djoko Prasetyo, Ph.D

A B C

OCR OCR OCR

EFR V

Tegangan V yang timbul pada EFR akan mengenai sirkit CT di fasa B dan C, karena itu CT ini ikut menelan magnetizing current (disamping CT fasa A). Akibatnya setting efektif dari EFR adalah : IEFF = CT ratio (ISETTING + 3 I MAG) Besar I MAG dapat dilihat pada kurva magnetisasi CT, yaitu I MAG dibaca untuk tegangan eksitasi V yang timbul pada pada posisi setting. Contoh, relai 3 VA pada setting 0.25A menghasilkan tegangan V = 12 volt.

10/9/2003

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

26