Anda di halaman 1dari 16

PRESENTASI KASUS 5

Combutio Grade II

Disusun oleh : Nadya Kuncaraning (1102009198) Prisca Ockta Putri (1102009220) Dokter Penguji :

Dr. Herry Setya Yudha Utama Sp.B FInaCS MHKes

SMF ILMU BEDAH RSUD ARJAWINANGUN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


2014

1. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Alamat Agama Pekerjaan Tanggal Pemeriksaan

: An. S : 2 tahun : Palimanan Barat : Islam :: 9 Januari 2014

2. ANAMNESA - Keluhan Utama: Luka bakar karena tersiram minyak panas - Riwayat penyakit Sekarang: Pasien datang ke IGD RSUD Arjawinangun dengan keluhan adanya luka bakar karena tersiram minyak panas, 30 menit SMRS pasien dibawa ke puskesmas dan diberi obat burnadzin. Riwayat Penyakit Dahulu : - Riwayat Penyakit paru-paru : disangkal - Riwayat Penyakit Jantung : disangkal - Riwayat Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi) : disangkal - Riwayat Penyakit gula (DM) : disangkal - Riwayat Asma : disangkal Riwayat Penyakit Keluarga : - Riwayat Penyakit paru-paru : disangkal - Riwayat Penyakit Jantung : disangkal - Riwayat Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi) : disangkal - Riwayat Penyakit gula (DM) : disangkal - Riwayat Asma : disangkal

3. PEMERIKSAAN FISIK 1. Status Generalis Keadaan umum : Sedang, tidak tampak anemis, Kesadaran : CM Vital sign : T 110/80 S 36.5 0C N 128 x/mnt R 20 x/mnt Kepala : Normochepal, rambut hitam, panjang, tidak mudah dicabut. Mata : Conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), edema palpebra (-/-). Hidung : DBN Telinga : DBN
2

Mulut Leher

: :

DBN JVP tidak meningkat, tidak ada pembesaran KGB. Kontraktur (-) Bullae (+) Dasar merah pucat

Thoraks COR Inspeksi Palpasi Perkusi Aus Pulmo Inspeksi Palpasi Perkusi Aus

: Ictus cordis tidak tampak : Ictus cordis tidak teraba : Konfigurasi jantung dalam batas normal : BJ I/II Reguler M (-) G (-) : Simetris, tidak ada ketinggalan gerak : Fremitus taktil dan vocal kiri kanan simetris : Sonor seluruh lapangan paru : VBS (+/+) Ronkhi (-/-) Wheezing (-/-)

Abdomen Inspeksi Palpasi : Tidak ada tanda peradangan dan bekas luka : Nyeri tekan (-), tidak teraba massa, nyeri tekan lepas (-) Perkusi Auskultasi Extremitas 2. Status lokalis Bullae (+) a/r colli, a/r thorax, a/r brachii et antebrachii dextra. Dasar merah dan pucat. D. PEMERIKSAAN PENUNJANG Rontgen Thorax: Cor & Pulmo dalam batas normal Laboratorium Hematologi (2 Januari 2014): HB : 12.4 gr/dl Hematokrit : 35.6 % WBC : 19.6 x 10^3/ul Limfosit : 59.1 % Monosit : 10.1 %
3

: Nyeri ketuk (-) : Bising usus (+) normal : Akral hangat, Capillary refill time (CRT) < 2

Granulosit PLT

: 30.8 % : 371 x 10^3/ul

F. DIAGNOSIS Combutio grade II H. PENATALAKSANAAN IVFD RL 15 tpm makro Cefotaxim 3 x 700 mg Ketorolac amp 2 x 15 mg Ranitidin 2 x 15 mg Bernadzin salep I. PROGNOSIS Dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA DEFINISI Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering terjadi. Jenis dan berat memperlihatkan morbiditas dan derajat cacat yang relatif tinggi dibanding dengen cedera oleh sebab lain. ETIOLOGI Kobaran api di tubuh (flame) Jilatan api ke tubuh (flash) Terkena air panas (scald) Tersentuh benda panas (kontak panas) Akibat sengatan listrik Akibat bahan kimia Sengatan matahari (sun burn)

Luas luka bakar dinyatakan sebagai presentase terhadap luas permukaan tubuh. Untuk menghitung secara cepat dipakai Rule of Nine dari Wallace. Perhitungan cara ini hanya dapat diterapkan pada orang dewasa, karena anak-anak mempunyai proporsi tubuh yang berbeda. Untuk keperluan pencatatan medis, digunakan kartu luka bakar dengan cara LUND & BROWDER. 1,8 Perhitungan luas luka bakar berdasarkan Rule Of Nine oleh Polaski dan Tennison dari WALLACE : 1. Kepala dan leher : 9% 2. Ekstremitas atas : 2 x 9% (kiri dan kanan) 3. Paha dan betis-kaki : 4 x 9% (kiri dan kanan) 4. Dada, perut, punggung, bokong : 4 x 9% 5. Perineum dan genitalia : 1% Pada keadaan darurat dapat digunakan cara cepat yaitu dengan menggunakan luas telapak tangan penderita. Prinsipnya yaitu luas telapak tangan = 1% luas tubuh.

KLASIFIKASI Penderita LB dapat digolongkan berdasarkan dalamnya jaringan yang terbakar. Klasifikasi ini selalu dikaitkan dengan luas permukaan tubuh yang terbakar dan kita kenal sebagai derajat luka bakar. Derajat luka bakar ditentukan oleh kedalaman jaringan tubuh yang rusak oleh trauma panas dan tergantung oleh 2 faktor berikut : 1. Intensitas dan lamanya panas mengenai tubuh. 2. Rambatan panas pada jaringan (dipengaruhi oleh sifat local jaringan). Jaringan yang tidak mampu merambatkan panas akan menderita kerusakan hebat (nekrosis) sebaliknya jaringan yang dapat meneruskan panas ke jaringan sekitarnya yang cukup mengandung air akan cepat menurunkan suhu sehingga kerusakan bisa lebih ringan. Jaringan yang rusak Epidermis

Klasifikasi

Klinis

Tes Jarum Pin prick Hiperalgesi

Waktu Sembuh 7 hari

Hasil

Sakit

Normal
6

Merah Kering Hiperalgesi atau normal 7 14 hari Normal, pucat, berbintik

II Dangkal

Sebagian dermis, folikel, rambut dan kelenjar keringat utuh Hanya kelenjar keringat yang utuh

Sakit merah/kuning, basah, bula

Dalam

Sakit merah/kuning, basah, bula

Hipoalgesi

14 31 hari

Pucat, depigmentasi, rata, mengkilat, rambut (-), cicatrix, hipertropi Cicatrix, hipertropi

III

Dermis seluruhnya

Tidak sakit, putih, coklat, hitam, kering

Analgesi

21 hari persekundam

Untuk keperluan klinik terdapat juga klasifikasi yang didasari ketebalan luka kerusakan kulit dan perlu tidaknya penderita LB mendapat perawatan intensif, yaitu : 3 1. Luka bakar sebagian tebal kulit (Partial thickness burn). 2. Luka bakar seluruh tebal kulit (full thickness burn). Karena LB sangat bervariasi baik mengenai luas permukan tubuh maupun dalamnya jaringan yang terbakar, maka perlu ditetapkan keadaan-keadaan yang memerlukan perawtan dan pengobatan di Rumah Sakit. Dalam hal ini dapat dipakai patokan sebagai berikut : LB kritis (perlu dirawat di RS dan mendapat pengobatan intensif 1. 2. 3. LB II > 30 % LPT LB III > 10% LPT LB dengan komplikasi pada asaluran nafas, fraktur, trauma jaringan lunak
7

yang hebat. 4. 5. LB akibat sengatan listrik LB III yang mengenai bagian tubuh yang kritis seperti muka, tangan dan kaki. LB sedang (perlu dirawat di RS untuk mendapat pengobatan yang baik, biasanya tak seintensif LB kritis) 1. 2. 3. LB II dangkal > 15% LPT (dewasa); 10% LPT (anak-anak) LB II dalam antara 15 30% LPT LB III <>

LB ringan 1. 2. 3. LB I LB II <> LB III <>

PATOFISIOLOGI Pada luka bakar perubahan suhu pada tubuh terjadi baik karena kondisi panas langsung atau radiasi elektromagnetik. Derajat luka bakar berhubungan dengan beberapa faktor, termasuk kondisi jaringan yang terkena sewaktu kontak dengan sumber tenaga panas dan pigmentasi permukaan. Saraf dan pembuluh darah merupakan struktur yang kurang tahan terhadap konduksi panas, sedang tulang yang paling tahan. Sumber-sumber radiasi elektromagnetik meliputi sinar X, gelombang mikro, sinar UV dan cahaya tampak. Radiasi ini dapat merusak jaringan baik dengan panas (gelombang mikro) atau ionisasi (sinar X). Sel-sel dapat menahan temperatur hingga 44oC tanpa kerusakan bermakna. Antara 44oC-51oC, kecepatan kerusakan jaringan berlipat ganda untuk tiap derajat kenaikan temperatur dan waktu penyinaran yang terbatas yang dapat ditoleransi. Di atas 51oC, protein mengalami denaturasi dan kerusakan jaringan sangat hebat. Temperatur di atas 70oC menyebabkan kerusakan selular yang sangat cepat dan hanya periode penyinaran yang dapat ditahan. Pada rentang panas yang lebih rendah, tubuh dapat mengeluarkan tenaga panas dengan perubahan sirkulasi, tetapi pada rentang panas yang lebih tinggi, hal ini tidak efektif. Respon Metabolisme terhadap Luka Bakar

Sekresi katekolamin, kortisol, glukagon, renin angiotensin, antidiuretic hormon, dan aldosteron meningkat. Energi berasal dari pemecahan simpanan glikogen dan pada proses glikolisis anaerob. Hipermetabolisme sering terjadi pada periode sesudah luka bakar. Tandatandanya adalah peningkatan basala rate menjadi dua kali lipat. Evaporasi air dapat mencapai 300 mL/m2/jam (normal 15 mL/m2/jam. DIAGNOSIS Anamnesis : Adanya riwayat terkena paparan sinar matahari, api, air panas, zat kimia, listrik, radiasi atau suhu dingin. Harus ditanyakan dengan jelas tanggal, jam dan lokasi geografis dari cedera. Perlu pula diketahui keadan pasien sebelum sakit, penyakit kronis sebelumnya, penyakit pembuluh darah koroner, DM, penyakit paru kronis, penyakit serebrovaskular, dan AIDS, karena memperburuk prognosis. Pemeriksaan Fisik : Pengamatan pertama yang tepat dapat mengenali kesulitan seperti cedera inhalasi yang berat, yang menimbulkan kerusakan jalan napas atas dan obstruksi, atau keracunan karbon monoksida yang mendekati letal. Pengamatan kedau yang menyeluruh dapat dideteksi adanya cedera-cedera lain yang menyertainya. Pemeriksaan penunjang : Hitung darah lengkap, elektrolit dan profil biokimia standar perlu diperoleh segera. AGD dan karboksihemoglobin perlu segera diukur oleh karena pemberian oksigen dapat menuutupi keparahan keracunan karbon monoksida yang dialami penderita. PENATALAKSANAAN Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api pada tubuh, misalnya dengan menyelimuti dan menutupi bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen pada api yang menyala. Korban dapat mengusahakanya dengan cepat menyjatuhkan diri dan berguling agar bagian yang terbakar tidak meluas. Kontak dengan dahan yang panas juga harus cepat diakhiri, misalnya dengan mencelupkan bagian yang terbakar atau menceburkan diri keair dingin , atau melepaskan baju yang tersiram air panas. Pertolongan pertama setelah sumber panas dihilangkan adalah merendam daerah luka bakar dalam air atau menyiramnya dengan air yang mengalir selama sekurang- kurangnya lima belas menit. Proses koagulasi protein sel dijaringan yang terpajan suhu tinggi berlangsung terus setelah api dipadamkan sehingga destruksi cepat meluas. Proses ini dapat dihentikan dengan mendinginkan daerah yang terbakar dan
9

mempertahankan suhu dingin ini pada jam pertama. Oleh karena itu merendam bagian yang terbakarselama lima belas menit pertama dalam air sangat bermanfaat untuk menurunkan suhu jaringan sehingga kerusakan lebih dangkal dan diperkecil. Dengan demikian, luka yang sebenarnya menuju derajat dua dapat berhenti pada derjat satu. Pencelupan dan penyiraman dapat dilakukan dengan air apa saja yang dingin tidak usah steril. Pendinginan luka baker harus dilakukan sesegera mungkin dan cukup lama. Pada luka baker ringan, prisip penanganan adalah mendinginkan daerah yang terbakar dengan air, mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa sel epitel untuk berplorifikasi, dan menutup permukaan luka. Luka dapat dirawat secara tertutup atau terbuka. Pada luka bakar berat, selain penanganan umum seperti pada luka baker ringan, dilakukan resusitasi segera bila penderita menunjukan gejala syok, bila penderita menunjukan gejala terbakarnya jalan nafas, diberikan campuran udara lembab dan oksigen. Kalau terjadi udem laring, dipasang pipa endotrakea atau buat trakeostomi. Trakeostomi berfungsi untuk membebaskan jalan nafas, mengurangi ruang mati, dan memudahkan pembersihan jalan nafas dari lendir atau kotoran. Bila ada dugaan keracunan CO, diberikan oksigen murni. Perawatan lokal adalah mengoleskan luka dengan antiseptik dan membiarkannya terbuka untuk perawatan terbuka atau menutupnya dengan pembalut steril untuk perawatan tertutup. Kalau perlu, penderita dimandikan dahulu, penderita dimandikan dahulu. Selanjutnya, diberikan pencegahan tetanus berupa ATS dan/ atau toksoid. Analgetik diberikan bila penderita kesakitan. Resusitasi pada Penderita Luka Bakar Terapi dasar penderita luka bakar yang besar dengan menghindari komplikasi defisiensi cairan dan elektrolit pada periode pasca-luka bakar dini. Penentuan presentase TBSA luka menjadi tahap awal dalam menghitung kebutuhan cairan. Juga pasien harus ditimbang beratnya pada awal terapi untuk menentukan berat dasar sebagai pedoman terapi. Kateter urina digunakan sebagai indeks perfusi ginjal dan untuk mengevaluasi keefektifan resusitasi cairan. Pada penderita luka bakar dengan inahalasi paru atau pada penderita dengan penyakit kardiovaskular dan paru, pemantauan tekan sentral dengan kateter Swan-Ganz harus dilakukan. Dua sistem yang paling sering digunakan dalam menghitung kebutuhan cairan saat ini adalah Modifikasi Brooke dan Parkland. Kedua rumus ini menghitung kebutuhan cairan berdasarkan luas daerah luka bakar dikali berat pasien dalam kilogram, dikali volume larutan RL yang akan diberikan dalam 24 jam pasca luka bakar. Pada kedua perhitungan, setengah jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama resusitasi, seperempat dari seluruh jumlah semula diberikan tiap 8 jam berikutnya. Volume larutan RL yang dianjurkan pada rumus modifikasi Brooke dan Parkland masing-masing 4cc kg per luka bakar dan 2 cc per kg persen luka
10

besar . Keduannya memberikan cukup cairan untuk perhitungan awal kebutuhan resusitasi, seperti terlihat dengan keberhasilan pada sebagian besar penderita. Tetapi dokter yang ikut serta menangani resusitasi pasien luka bakar harus waspada bahwa masing-masing rumus dapat digunakan hanya sebagai pedoman untuk menentukan kebutuhan cairan. Pemantau yang teliti dan cermat atas sensorium, pengeluaran urin, dan tekanan vaskular sentral dengan perubahan terapi berikutnya dalam terapi cairan yang ditentukan oleh respon pasien, adalah metode resusitasi yang tepat. Perubahan kesadaran pada awal pasca luka bakar pada penderita dengan gas darah arteri yang normal, harus membuat dokter mewaspadai adanya penurunan aliran serebrovaskular. Urin output harus 30-50 cc per jam pada penderita luka bakar yang berhidrasi baik, dengan fungsi ginjal yang normal. Bila output urin rendah atau ada ketidakstabilan kardiovaskular pada pemberian volume intra vena yang tampaknya cukup besar, maka pemasangan kateter termodilusi Swan-Ganz untuk memantau tekana jantung kiri dan kanan serta curah jantung, merupakan tindakan yang tepat. Walaupun kateter ini dapat menimbulkan komplikasi vaskular dan septik, namun manfaatnya sering melebihi resiko penggunaan jangka pendek selama resusitasi awal. Resisutasi pada anak membuthkan perubahan parameter. Rumus yang sama dapat digunakan berdasarkan berat badan dalam kilogran dikalikan persentase TBSA dari bagan seperti bagan Lund-Bower. Kebutuhan cairan keseluruhan untuk 24 jam pertama 3 ml per kg per TBSA dan diberikan setengah pada 8 jam pertama dan seperempat pada tiap jam berikutnya. Natrium bikarbonat ditambahkan pada tiap liter RL. Resusitasi cairan yang cukup dapat diperiksa denagn memantau tanda-tanda vital dan pengeluaran urin. Pada anak, berat 30 kg atau kurang, pengeluaran urin harus tetap 1ml per kg per jam. Cara terbaik untuk menentukan kebutuhan awal cairan pada penderita luka bakar adalah dengan menggunakan 2-4ml per kg, per TBSA. Rentang ini dapat digunakan sebgai pedoman untuk pemberian cairan berdasarkan indeks perfusi.2 Periode Post Resusitasi Cairan intravena selam 24 jam perlu disertai dengan glukosa ada cairan garam hipotonik untuk menggantikan kehilangan akibat evaporasi dan juga diberikan protein plasma untuk menjaga agar volume sirkulasi tetap adekuat. Evaporasi akan terus dipertimbangkan sampai luka telah sembuh atau dilakukan skin grafted. Dapat diestimasi dengan (25 x % burn) x m2 TBS Perawatan bertujuan untuk menurunkan stimulasi dari katekolamin dan menyediakan kalori yang cukup untuk melawan efek hipermetabolisme. Hipotermia, nyeri dan ansietas harus dikontrol ketat. Hipovolemia harus dicegah dengan cairan yang cukup.
11

Pemberian nutrisi dapat dimuai sedini mungkin untuk memaksimalkan penyembuhan luka dan meminimalisasi defisiensi imun. Profilaksis penisilin pada pasien luka bakar masih kontroversial. Vitamin A, E, C dan Zinc diberikan sampai lukanya tertutup. Dosis rendah heparin mungkin juga menguntungkan seperti pada pasein dengan cedera jaringan lunak.3 Permasalahan Pasca Luka Bakar Setelah sembuh dari luka, masalah berikutnya adalah akibat jaringan parut yang dapat berkembang menjadi cacat berat, kontraktur kulit dapat mengganggu fungsi dan menyebabkan kekakuan sendi, atau menimbulkan cacat estetis yang jelek sekali, terutama bila parut tersebut berupa keloid. Kekakuan sendi memerlukan program fisioterpi intensif dan kontraktur yang memerlukan tindakan bedah. Pada cacat estetik yang berat mungkin diperlukan ahli ilmu jiwa untuk mengembalikan rasa percaya diri penderita, dan diperlukan pertolongan ahli bedah rekonstruksi, terutama jika cacat mengenai wajah atau tangan. Bila luka bakar merusak jalan nafas akibat inhalasi, dapat terjadi ateletaksis, pneumonia, atau insufisiensi fungsi paru pasca trauma. Luka sengatan listrik Kecelakaan akibat arus listrik dapat terjadi karena arus listik mengaliri tubuh, karena adanya loncatan arus atau karena tegangan tinggi, antara lain akibat petir. Arus listrik Arus listrik menimbulkan kelainan karena rangsangan terhadap syaraf dan otot. Energi panas yang timbul akibat tahanan jaringan yang dilalui arus menyebabkan luka bakar pada jaringan tersebut.Energi panas dari loncatan arus listrik tegangan tinggi yang mengenai tubuh akan menimbulkan luka bakar yang dalam karena suhu bunga api listrik dapat mencapai 2.500 C. Kejang tetanik yang kuat pada otot skelet dapat menimbulkan fraktur kompresi vetebra, pada otot dada (m,interkostal) keadaan ini menyebabkan gerakan nafas terhenti sehingga penderita dapat mengalami asfiksia. Urutan tahanan jaringan dimulai dari yang paling rendah adalah saraf, pembuluh darah., otot, kulit, tendo dan tulang. Jaringan yang tahanannya tinggi akan lebih banyak dialiri arus dan panas yang timbul lebih tinggi. Panas yang timbul pada pembuluh darah akan merusak intima sehingga terjadi trombosis yang timbul pelen-pelan, pada kecelakaan tersengat arus listrik didaerah kepala, penderita dapat pingsan lama dan dapat henti nafas, dapat juga terjadi udem otak. Pengobatan
12

Terlebih dahulu, sebelum penderita ditangani, arus listrik harus diputus, harus diingat penderita mengandung muatan listrik selama masih berhubungan dengan sumber arus, kalau perlu dilakukan resusitasi jantung dengan masase jantung dan nafas buatan dari mulut kemulut, umumnya perlu pemberian cairan lebih banyak dari yang diperkirakan karena sering kerusakan jauh lebih luas dari yang disangka, kalau banyak terjadi kerusakan otot, urin akan berwarna gelap oleh mioglobin: penderita ini perlu diberi manitol dengan dosis awal 25gr, disusul dosis rumat 12,5 gram/jam, kalau perlu manitol diberikan sampai enam kali, bila ada udem otak diberikan diuretik dan kortikosteroid. Pada luka bakar yang dalam dan berat, perlu pembersihan jaringan mati secara bertahap, bila luka pada ekstremitas mungkin perlu fisiotomi pada hari pertama untuk mencegah sindrom kompartemen. Tersambar petir Patogenesis, petir bervoltase 20-100 juta volt dan arus dapat mencapai 20.000 ampere dengan suhu inti sampai 30.000 kelvin, kecelakaan tersambar petir dapat terjadi melalui empat cara. Cara pertama terjadi bila seseorang secara terbuka berada dilapangan luas sehingga orang itulah yang dicapai oleh muatan listrik dari awan sebelum mencapai bumi, kecelakaan ini disebut tersambar langsung. Cara kedua terjadi bila seseorang berada didalam daerah paling jauhdua meter sekitar batang pohon yang tersambar petir karena terjadi loncatan arus listrik dari batang pohon, ini disebut tersambar samping. Cara yang ketiga terjadi bila korban bersandar pada pohon atau didanau yang tersambar petir yang disebut tersambar kontak Cara yang keempat terjadi bila melangkah berdiri, berdiri, atau jongkok dekat tanah yang tersambar petir, kejadian ini disebut tersambar langkah. Biasanya pada kejadian tersambar langsung atau tersambar samping, arus listrik masuk dikepala melalui lubang kepala, yaitu telinga, mata atau mulut, dan mencapai bumi melalui leher, tubuh dan kaki. Pada jalan arus listrik terdapat sebagian otak, pusat pernafasan, dan jantung sehingga korban dapat pingsan, henti nafas, maupun henti jantung. Resusitasi, biasanya orang akan sadar kembali dalam tertentu, sedangkan kelumpuhan pusat nafas juga akan berlalu setelah lima sampai sepuluh menit, biasanya asistolik juga akan pulih bila nafas buatan mulut kemulut dilakukan secara memadai. Oleh karena itu, korban korban akan selamat bila diberikan resusitasi berupa nafas buatan segera setelah kecelakaan. Penyulit, penyulit dini pada kecelakaan tersambar petir langsung dan tersambar petir samping merupakan perforasi membran timpani dan konjungtivitis, dan katarak lensa sebagai penyulit lama.
13

Pencegahan sewaktu datang guntur dapat dicari perlindungan dirumah, gedung atau sangkar faraday, seperti mobil. Luka akibat zat kimia Luka akibat zat kimia biasanya merupakan luka bakar, ini dapat terjadi akibat kelengahan, pertengkaran, kecelakaan kerja, dan kecelakaan diindustri atau dilaboratorium, dan akibat penggunaan jat beracun akibat peperangan Zat kimia seperti kaporit, kalium permanganas, dan asam kromat dapat bersifat oksidator, bahan korosif, seperti fenol dan fosfor putih, serta larutan basa, seperti kallium hidroksida menyebabkan denaturasi protein. Denaturasi akibat penggaramandapat disebabkan oleh asam formiat, asetat, tanat, flourat,dan klorida. Asam sulfat merusak sel karena bersifat cepat menarik air. Gas yang dipakai dalam peperangangan menimbulkan luka bakar dan menyebabkan anoksia sel bila berkontak dengan kulit atau mukosa, asam flourida dan oksalat dapat menyebabkan hipokalsemia, asam tanat, kromat, formiat, pikrat dan fosfor dapat merusak hati dan ginjal kalau diabsorbsi. Lisol menyebabkan methhemoglobinemia. pengobatan pada umumnya penanganan dilakukan dengan mengencerkan zat kimia secara massif, yaitu dengan mengguyur penderita dengan air mengalir sambil kalau perlu, diusahakan membersihkan pelan-pelan secara mekanis. Sebagai tindakan lanjut kalau perlu dilakukan resusitasi perbaikan keadaan umum, serta pemberian cairan serta elektrolit. Pada kecelakaan akibat sam flourida, pemberian kalsium glukonat 10% dibawah jaringan yang terkena berman faat mencegah ion flour menembus jaringan dan menyebabkan dekalsifikasi tulang. Ion flour akan terikat menjadi kalsium flourida yang tidak larut. Jika ada luka dalam, mungkin diperlukan luka debridemen yang disusul cangkok kulit dan rekonstruksi. Pejanan jat kimia pada mata perlu tindakan darurat segera berupa irigasi dengan air atau sebaliknya larutan garam 0,9% secara terus-menerus sampai penderita dirawat dirumah sakit. Cedera suhu dingin Cedera akibat suhu dingin terutama terjadi pada bagian ujung tubuh yang langsung terkena suhu dingin, seperti jari kaki dan tangan, telinga, dan hidung. Factor kelembaban udara yang rendah serta angina kencang memperberat kerusakan pada daerah yang tidak terlindung pakaian, seperti hidung, telinga, dan tangan. Baju dan pakaian yang ketat dan kaku, atau yang lembab dan basah,seperti kaos kaki dan sepatu basah, berpengaruh buruk.beratnya kerusakan dibagi menjadi berapa derajat, pada derjat satu ditemukan hyperemia dan udem, seperti pada luka bakar derajat satu. Pada derajat dua terjadi nekrosis kulit dan
14

subkutis, terdapat juga nyeri seperti pada luka bakar yang biasanya berlangsung sampai lima minggu, kemudian terbentuk kropeng yang berwarna hitam dan mngelupas. Luka ditangani seperti luka bakar derajat tiga. Pada derajat empat terjadi kerusakan seluruh jaringan, terjadi mumifikasi yaitu bagian tubuh tersebut berwarna hitam dan mengkerut, batas jaringan mati menjadi jelas dan dalam waktu satu bulan tampak demarkasi bagian tubuh yang mati sehingga dapat dilakukan amputasi. Pengobatan semua pakaian dan baju yang ketat dilonggarkan, bagian yang sakit secara perlahan-lahan dihangatkan kembali dengan merendamnya dalam air suamsuam kuku (kira-kira 30 C), selanjutnya diberikan perawatan pada luka bakar biasa. KOMPLIKASI Gagal ginjal akut Gagal respirasi akut Syok sirkulasi Sindrom kompartemen Ileus paralitik Ulkus curling

PROGNOSIS Prognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas permukaan badan yang terkena luka bakar, adanya komplikasi seperti infeksi, dan kecepatan pengobatan medikamentosa. Luka bakar minor dapat sembuh 5-10 hari tanpa adanya jaringan parut. Luka bakar moderat dapat sembuh dalam 10-14 hari dan mungkin menimbulkan luka parut. Luka bakar mayor membutuhkan lebih dari 14 hari untuk sembuh dan akan membentuk jaringan parut. Jaringan parut akan membatasi gerakan dan fungsi. Dalam beberapa kasus, pembedahan diperlukan untuk membuang jaringan parut.

15

DAFTAR PUSTAKA Gallagher JJ, Wolf SE, Herndon DN. Burns. In: Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL. Editors. Sabiston Textbook of Surgery. 18th Ed. Philadelphia: Saunders Elsevier. 2008. Gibran NS. Burns. In: Mulholland MW, Lillemoe KD, Doherty GM, Gerard M, Ronald V, Upchurch GR. Editors. Greenfields Surgery: Scientific Principles and Practice. 4th Ed. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins. 2006. Klein MB. Thermal, Chemical and Electrical Injuries. In: Thorne CH, Beasley RW, Aston SJ, Bartlett SP, Gurtner GC, Spear SL. Editors. Grab and Smiths Plastic Surgery. 6th Ed. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins. 2007. R Sjamsuhidajat. Wim De Jong. 2007. Buku Ajar Ilmu Bedah Penerbit Buku Kedokteran. EGC. Rue, L.W. & Cioffi, W.G. 1991. Resuscitation of thermally injured patients. Critical Care Nursing Clinics of North America, 3(2),185 Wachtel & Fortune 1983, Fluid resuscitation for burn shock. In T.L. Wachtel et al (Eds.), Current topic in burn care (p. 44). Rockville,MD: Aspen Publisher, Inc. A. Bambang Darwono; F. Sutoko, Protokol Pengelolaan Luka Bakar, Bagian Bedah, FK Undip/RS dr. Kariadi. Bisono, Pusponegoro AD; Luka, Trauma, Syok dan Bencana. Dalam : Syamsuhidajat R, Jong WD ed Buku Ajar Ilmu Bedah, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1997 : 81-91. http://www.dokterbedahherryyudha.com/2012/12/luka-bakar-combustiodan-penatalaksanaan.html

16