Anda di halaman 1dari 12

TUGAS INI UNTUK MELENGKAPI MATA KULIAH MINERALOGI DAN PETROGRAFI

BATUAN METAMORF

OLEH : Maryana Ramadhani Hakim 104274216 Geografi 2010 C

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI 2012

BATUAN METAMORF Batuan metamorf ( batuan malihan/ metamorphic rocks ) adalah salah satu kelompok utama batuan yang merupakan hasil transformasi atau ubahan dari suatu tipe batuan yang telah ada sebelumnya, protolith, oleh suatu proses yang disebut metamorfisme, yang berarti "perubahan bentuk". Protolith yang dikenai panas (lebih besar dari 150 Celsius) dan tekanan ekstrem akan mengalami perubahan fisika atau kimia yang besar. Protolith dapat berupa batuan sedimen, batuan beku, atau batuan metamorf lain yang lebih tua. Beberapa contoh batuan metamorf adalah gneis, batu sabak, batu marmer, dan skist. Batuan metamorf menyusun sebagian besar dari kerak Bumi dan digolongkan berdasarkan tekstur dan dari susunan kimia dan mineral (fasies metamorf) Mereka terbentuk jauh dibawah permukaan bumi oleh tegasan yang besar dari batuan diatasnya serta tekanan dan suhu tinggi. Mereka juga terbentuk oleh intrusi batu lebur, disebut magma, ke dalam batuan padat dan terbentuk terutama pada kontak antara magma dan batuan yang bersuhu tinggi. Batuan metamorf dapat dibedakan menjadi berikut ini : a. Batuan Metamorf Kontak/sentuh/termal Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari adanya suhu yang sangat tinggi (sebagai akibat dari aktivitas magma). Adanya suhu yang sangat tinggi menyebabkan terjadinya perubahan bentuk maupun warna batuan. Contohnya batu kapur (gamping) menjadi marmer.

b. Batuan Metamorf Dinamo/tekan/katalastik Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari adanya tekanan yang tinggi (berasal dari tenaga endogen) dalam waktu yang lama. Contohnya batu lumpur (mud stone) menjadi batu tulis (slate). Batuan ini banyak dijumpai di daerah patahan atau lipatan.

c. Batuan Metamorf Kontak Pneumatolistis Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari adanya pengaruh gas-gas yang ada pada magma. Contohnya kuarsa dengan gas fluorium berubah menjadi topas. TIPE METAMORFOSA Bucher & Frey (1994) mengemukakan bahwa berdasarkan tatanan geologinya, metamorfosa dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : 1. Metamorfosa regional/ dinamothermal Metamorfosa regional/dinamothermal merupakan metamorfosa yang terjadi pada daerah yang sangat luas. Metamorfosa ini dibedakan menjadi tiga, yaitu metamorfosa orogenik, burial dan dasar samudera(Ocean-floor). 1.a. Metamorfosa Orogenik Metamorfosa ini terjadi pada daerah sabuk orogenik dimana terjadi proses deformasi yang menyebabkan rekristalisasi. Umumnya batuan metamorf yang dihasilkan mempunyai butiran mineral yang teroreintasi dan membentuk sabuk yang melampar dari ratusan sampai ribuan kilometer. Proses metamorfosa memerlukan waktu yang sangat lama berkisar antara puluhan juta tahun. 1.b. Metamorfosa Burial Metamorfosa ini terjadi oleh akibat kenaikan tekanan dan temperatur pada daerah geosinklin yang mengalami sedimentasi intensif, kemudian terlipat. Proses yang terjadi adalah rekristalisasi dan reaksi antara mineral dengan fluida. 1.c. Metamorfosa dasar Samudera(Ocean-Floor) Metamorfosa ini terjadi akibat adanya perubahan pada kerak samudera di sekitar punggungan tengah samudera (mid oceanic ridges). Batuan metamorf yang dihasilkan umumnya berkomposisi basa dan ultrabasa. Adanya pemanasan air laut menyebabkan mudah terjadinya reaksi kimia antara batuan dan air laut tersebut.

2. Metamorfosa Lokal Metamorfosa lokal merupakan proses metamorfosa yang terjadi pada daerah yang sempit berkisar antara beberapa meter sampai kilometer saja. Metamorfosa ini dapat dibedakan menjadi : 2.a. Metamorfosa Kontak Metamorfosa kontak terjadi pada batuan yang mengalami pemanasan di sekitar kontak massa batuan beku intrusif maupun ekstrusif. Perubahan terjadi karena pengaruh panas dan material yang dilepaskan oleh magma serta kadang oleh deformasi akibat gerakan magma. Zona metamorfosa kontak disebut contact aureole. Proses yang terjadi umumnya berupa rekristalisasi, reaksi antar mineral, reaksi antara mineral dan fluida serta

penggantian/penambahan material. Batuan yang dihasilkan umumnya berbutir halus. 2.b. Pirometamorfosa/ Metamorfosa optalic/Kaustik/Thermal Metamorfosa ini adalah jenis khusus metamorfosa kontak yang menunjukkan efek hasil temperatur yang tinggi pada kontak batuan dengan magma pada kondisi volkanik atau quasi volkanik, contohnya pada xenolith atau pada zona dike. 2.c. Metamorfosa Kataklastik/Dislokasi/Kinematik/Dinamik Metamorfosa kataklastik terjadi pada daerah yang mengalami deformasi intensif, seperti pada patahan. Proses yang terjadi murni karena gaya mekanis yang mengakibatkan penggerusan dan granulasi batuan. Batuan yang dihasilkan bersifat non-foliasi dan dikenal sebagai fault breccia, fault gauge, atau milonit. 2.d. Metamorfosa Hidrotermal/Metasomatisme Metamorfosa hidrothermal terjadi akibat adanya perkolasi fluida atau gas yang panas pada jaringan antar butir atau pada retakan-retakan batuan sehingga menyebabkan perubahan komposisi mineral dan kimia. Perubahan juga dipengaruhi oleh adanya confining pressure.

2.e. Metamorfosa Impact Metamorfosa ini terjadi akibat adanya tabrakan hypervelocity sebuah meteorit. Kisaran waktunya hanya beberapa mikrodetik dan umumnya ditandai dengan terbentuknya mineral coesite dan stishovite. 2.f. Metamorfosa Retrogade/Diaropteris Metamorfosa ini terjadi akibat adanya penurunan temperatur sehingga kumpulan mineral metamorfosa tingkat tinggi berubah menjadi kumpulan mineral stabil pada temperatur yang lebih rendah. Struktur Batuan Metamorf 1. Struktur Foliasi a. Slatycleavage : Sabak

Terjadi jika tipe metamorfismenya burial atau dinamo yaitu perubahan batuan karena dipengaruhi tekanan yang sangat tinggi, dan temperatur yang rendah.

Asal Warna

: Metamorfisme Shale dan Mudstone : Abu-abu, hitam, hijau, merah

Ukuran butir : Very fine grained Struktur : Foliated (Slaty Cleavage)

Komposisi

: Quartz, Muscovite, Illite

Derajat metamorfisme : Rendah Ciri khas b. Filitik : filit : Mudah membelah menjadi lembaran tipis

Terjadi jika tipe metamorfismenya burial atau dinamo yaitu perubahan batuan karena dipengaruhi tekanan yang sangat tinggi, dan temperatur yang rendah. Asal Warna : Metamorfisme Shale : Merah, kehijauan

Ukuran butir : Halus Stuktur Komposisi : Foliated (Slaty-Schistose) : Mika, kuarsa

Derajat metamorfisme : Rendah Intermediate Ciri khas : Membelah mengikuti permukaan gelombang

c. Skistosa : sekis

Terjadi jika tipe metamorfismenya burial atau dinamo yaitu perubahan batuan karena dipengaruhi tekanan yang sangat tinggi, dan temperatur yang rendah. Asal Warna : Metamorfisme siltstone, shale, basalt : Hitam, hijau, ungu

Ukuran butir : Fine Medium Coarse Struktur Komposisi : Foliated (Schistose) : Mika, grafit, hornblende

Derajat metamorfisme : Intermediate Tinggi Ciri khas : Foliasi yang kadang bergelombang, terkadang terdapat kristal garnet

d. Gneissa : gneiss

Terjadi jika tipe metamorfismenya regional yaitu perubahan batuan karena dipengaruhi tekanan yang sangat tinggi, dan temperatur yang rendah.

Asal Warna

: Metamorfisme regional siltstone, shale, granit : Abu-abu

Ukuran butir : Medium Coarse grained Struktur Komposisi : Foliated (Gneissic) : Kuarsa, feldspar, amphibole, mika

Derajat metamorfisme: Tinggi Ciri khas : Kuarsa dan feldspar nampak berselang-seling dengan lapisan tipis kaya amphibole dan mika. 2. Struktur Non-Foliasi a. Hornfelsik

Terjadi jika tipe metamorfismenya kontak yaitu perubahan batuan karena dipengaruhi tekanan yang rendah, dan temperatur yang sangat tinggi. Batuan ini terjadi pada daerah terubah di dekat intrusi magma yang panas. Asal Warna : Metamorfisme kontak shale dan claystone : Abu-abu, biru kehitaman, hitam

Ukuran butir : Fine grained Struktur Komposisi : Non foliasi : Kuarsa, mika

Derajat metamorfisme : Metamorfisme kontak

Ciri khas b. Marmer

: Lebih keras dari pada glass, tekstur merata

Tipe metamorfosanya kontak karena mengalami tekanan yang rendah dan terbentuk ketika batu gamping mendapat tekanan dan panas sehingga mengalami perubahan dan rekristalisasi kalsit. Utamanya tersusun dari kalsium karbonat. Marmer bersifat padat, kompak dan tanpa foliasi. Asal Warna : Metamorfisme batu gamping, dolostone : Bervariasi

Ukuran butir : Medium Coarse Grained Struktur Komposisi : Non foliasi : Kalsit atau Dolomit

Derajat metamorfisme : Rendah Tinggi Ciri khas dengan HCl. c. Kuarsit : Tekstur berupa butiran seperti gula, terkadang terdapat fosil, bereaksi

Adalah salah satu batuan metamorf yang keras dan kuat. Terbentuk ketika batupasir (sandstone) mendapat tekanan dan temperatur yang tinggi. Ketika batupasir

bermetamorfosis menjadi kuarsit, butir-butir kuarsa mengalami rekristalisasi, dan biasanya tekstur dan struktur asal pada batupasir terhapus oleh proses metamorfosis . Asal Warna : Metamorfisme sandstone (batupasir) : Abu-abu, kekuningan, cokelat, merah

Ukuran butir : Medium coarse Struktur Komposisi : Non foliasi : Kuarsa

Derajat metamorfisme : Intermediate Tinggi Ciri khas d. Milonit : Lebih keras dibanding glass

Milonit merupakan batuan metamorf kompak. Terbentuk oleh rekristalisasi dinamis mineral-mineral pokok yang mengakibatkan pengurangan ukuran butir-butir batuan. Butirbutir batuan ini lebih halus dan dapat dibelah seperti schistose. Asal Warna : Metamorfisme dinamik : Abu-abu, kehitaman, coklat, biru

Ukuran butir : Fine grained Struktur Komposisi : Non foliasi : Kemungkinan berbeda untuk setiap batuan

Derajat metamorfisme : Tinggi Ciri khas e. Filonit : Dapat dibelah-belah

Merupakan batuan metamorf dengan derajat metamorfisme lebih tinggi dari Slate. Umumnya terbentuk dari proses metamorfisme Shale dan Mudstone. Filonit mirip dengan milonit, namun memiliki ukuran butiran yang lebih kasar dibanding milonit dan tidak memiliki orientasi. Selain itu, filonit merupakan milonit yang kaya akan filosilikat (klorit atau mika) Asal Warna : Metamorfisme Shale, Mudstone : Abu-abu, coklat, hijau, biru, kehitaman

Ukuran butir : Medium Coarse grained Struktur Komposisi : Non foliasi : Beragam (kuarsa, mika, dll)

Derajat metamorfisme : Tinggi Ciri khas f. Serpetinit : Permukaan terlihat berkilau

Serpentinit, batuan yang terdiri atas satu atau lebih mineral serpentine dimana mineral ini dibentuk oleh proses serpentinisasi (serpentinization). Serpentinisasi adalah proses proses metamorfosis temperatur rendah yang menyertakan tekanan dan air, sedikit silica mafic dan batuan ultramafic teroksidasi dan ter-hidrolize dengan air menjadi serpentinit. Asal Warna : Batuan beku basa : Hijau terang / gelap

Ukuran butir : Medium grained Struktur Komposisi Ciri khas : Non foliasi : Serpentine : Kilap berminyak dan lebih keras dibanding kuku jari.