Anda di halaman 1dari 35

KEPERAWATAN DEWASA 3 ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN RHINITIS

OLEH KELOMPOK 18 : REZA SITI MARYAM DITA FEBRINA ERA SUCHI DARMA FRIZ OKTALIZA NICY GUSVITA SARI 1110323015 1110323027 1110323038 1110323056 1110323053

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG, 2013 BAB I


1

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang

Rongga hidung oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagian atas mukosa pernapasan (mukosarespiratori) dan mukos hidung (mukosaolfaktori). Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar pada rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel sel goblet.

Alergi hidung adalah keadaan atopi yang aling sering dijumpai ,menyerang 20% dari populasi anak anak dan dewasa muda di AmerikaUtara dan Eropa Barat . Di tempat lain,alergi hidung dan penyakit atopi lainnyakelihatannya lebih

rendah,treutama pada Negara-negara yang kurang berkembang. Penderita rhinitis alegika akan mengalami hidung tersumbat berat,sekresihidung yang berlebihan atau rhinore,dan bersin yang terjadi berulang cepat.

1.2 Tujuan Tujuan umum : Mahasiswa mmampu menerangkan asuhan keperawatan pada pasien dengan rhinitis. Tujuab khusus : 1. Mampu melakukan pengkajian terhadap pasien rhinitis. 2. Mampu merumuskan diagnose keperawatan. 3. Mampu menetapkan indicator keberhasilan. 4. Mampu merumuskan intervensi.

BAB II
2

TINJAUAN TEORITIS

1.3 Landasan Teoritis Penyakit. 1. Anatomi fisiologi organ.

Hidung luar
3

Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah Pangkal hidung ( bridge ) Dorsum nasi Puncak hidung ( apeks ) Ala nasi Kolumela Lubang hidung ( nares anterior ) Hidung luar dibentuk oleh tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung.

Kerangka tulang terdiri dari : 1. Sepasang os nasalis ( tulang hidung ) 2. Prosesus frontalis os maksila 3. Prosesus nasalis os frontalis Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak dibagian bawah hidung, yaitu : 1. Sepasang kartilago nasalis lateralis superior 2. Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior ( kartilago alar mayor) 3. Beberapa pasang kartilago alar minor 4. Tepi anterior kartilago septum nasi Otot-otot ala nasi terdiri dari dua kelompok yaitu : 1. Kelompok dilator : 2. m. dilator nares ( anterior dan posterior ) m. Proserus kaput angulare m. kuadratus labii superior

Kelompok konstriktor : m.nasalis m. depresor septi

Hidung dalam a. Vestibulum Terletak tepat dibelakang nares anterior, dilapisi oleh kulit yang

mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrisae. b. Septum nasi Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Bagian tulang terdiri dari : lamina perpendikularis os etmoi vomer krista nasalis os maksila krista nasalis os palatina

Bagian tulang rawan terdiri dari : c. kartilago septum ( lamina kuadrangularis ) kolumela

Kavum nasI Dasar hidung Dasar hidung dibentuk oleh prosesus palatina os maksila dan prosesus horisontal os palatum. Atap hidung Terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior,os nasal, prosesus frontalis os maksila, korpus osetmoid dan korpus os sfenoid. Sebagian besar atap hidung dibentuk oleh lamina kribrosa yang dilalui filamen-filamen n.olfaktorius yang berasal dari permukaan bawah bulbus olfaktorius berjalan menuju bagian teratas septum nasi dan permukaan kranial konka superior Dinding lateral Dinding lateral dibentuk oleh permukaan dalam prosesus frontalis os maksila, os lakrimalis, konka superior, konka media, konka inferior, lamina perpendikularis os palatum dan lamina

pterigoideus medial. Konka Pada dinding lateral hidung terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil ialah konka media dan konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka suprema.
5

Konka suprema

ini

biasanya

rudimenter.

Konka

inferior

merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid. Meatus nasi Diantara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Meatus inferior terletak diantara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara duktus

nasolakrimalis. Meatus media terletak diantara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Disini terdapat muara sinus maksila, sinus frontal dan sinus etmoid anterior. Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.

2. Definisi Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada membran mukosa di hidung. (Dipiro, 2005 ) Rhinitis adalah peradangan selaput lendir hidung. ( Dorland, 2002 ) Rinitis adalah suatu inflamasi membran mukosa hidung dan mungkin dikelompokan baik sebagai rinitis alergik atau non-alergik. (Keperawatan Medikal-Bedah: Suzanne C. Smeltzer dan Brenda G. Bare, 2002)

3. Etiologi Beberapa hal yang pada umumnya menjadi penyebab rinitis antara lain : Alergi Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang diawali oleh dua tahap sensitisasi yang diikuti oleh reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari dua fase yaitu :

Immediate Phase Allergic Reaction : Berlangsung sejak kontak dengan allergen hingga 1 jam setelahnya.

Late Phase Allergic Reaction : Reaksi yang berlangsung pada dua hingga empat jam dengan puncak 6-8 jam setelah pemaparan dan dapat berlangsung hingga 24 jam.

Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas : Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau sengatan lebah Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan

Dengan masuknya allergen ke dalam tubuh, reaksi alergi dibagi menjadi tiga tahap besar : Respon Primer,terjadi eliminasi dan pemakanan antigen, reaksi non spesifik Respon Sekunder,reaksi yang terjadi spesifik, yang membangkitkan system humoral,system selular saja atau bisa membangkitkan kedua system terebut, jika antigen berhasil dihilangkan maka berhenti pada tahap ini, jika antigen masih ada, karena efek dari ketiga mekanisme system tersebut maka berlanjut ke respon tersier Respon Tersier ,Reaksi imunologik yang tidak meguntungkan. Menurut sifatnya dapat dibedakan menjadi dua: b. Rhinitis akut (coryza, commond cold) merupakan peradangan membran mukosa hidung dan sinus-sinus aksesoris yang disebabkan oleh suatu virus dan bakteri. Penyakit ini dapat mengenai hampir setiap orang pada suatu waktu dan sering kali terjadi pada musim dingin dengan insidensi tertinggi pada awal musim hujan dan musim semi.

c. Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang berulang, karena alergi, atau karena rinitis vasomotor. Berdasarkan penyebabnya : Rhinitis alergi Rinitis alergi adalah penyakit umum yang paling banyak di derita oleh perempuan dan laki-laki yang berusia 30 tahunan. Merupakan inflamasi mukosa saluran hidung yang disebabkan oleh alergi terhadap partikel, seperti: debu, asap, serbuk/tepung sari yang ada di udara. Rhinitis alergi Adalah istilah umum yang digunakan untuk menunjukkan setiap reaksi alergi mukosa hidung, dapat terjadi bertahun-tahun atau musiman. (Dorland,2002 ) Rhinitis alergi musiman (Hay Fever), Biasanya terjadi pada musim semi.Umumnya disebabkan kontak dengan allergen dari luar rumah, seperti benang sari dari tumbuhan yang menggunakan angin untuk penyerbukannya, debu dan polusi udara atau asap. Gejala : Hidung, langit-langit mulut, tenggorokan bagian belakang dan mata terasa gatal, baik secara tiba-tiba maupun secara berangsur-angsur. Biasanya akan diikuti dengan mata berair, bersin-bersin dan hidung meler. Beberapa penderita mengeluh sakit kepala, batuk dan mengi (bengek); menjadi mudah tersinggung dan deperesi; kehilangan nafsu makan dan mengalami gangguan tidur. Terjadi peradangan pada kelopak mata bagian dalam dan pada bagian putih mata

(konjungtivitis). Lapisan hidung membengkak dan berwarna merah kebiruan, menyebabkan hidung meler dan hidung tersumbat. Rhinitis alergi yang terjadi terus menerus (perennial)

Disebabkan bukan karena musim tertentu ( serangan yang terjadi sepanjang masa (tahunan)) diakibatkan karena kontak dengan allergen yang sering berada di rumah misalnya kutu debu rumah, bulu binatang peliharaan serta bau-bauan yang menyengat. Gejala : Hidung, langit-langit mulut, tenggorokan bagian belakang dan mata terasa gatal, baik secara tiba-tiba maupun secara berangsur-angsur. Biasanya akan diikuti dengan mata berair, bersin-bersin dan hidung meler. Beberapa penderita mengeluh sakit kepala, batuk dan mengi (bengek); menjadi mudah tersinggung dan deperesi; kehilangan nafsu makan dan mengalami gangguan tidur. Jarang terjadi konjungtivitis. Lapisan hidung membengkak dan berwarna merah kebiruan, menyebabkan hidung meler dan hidung tersumbat. Hidung tersumbat bisa menyebabkan terjadinya penyumbatan tuba eustakiusdi telinga, sehingga terjadi gangguan pendengaran, terutama pada anak-anak. Bisa timbul komplikasi berupa sinusitis (infeksi sinus) dan polip hidung. Rhinitis non alergi Rhinitis non allergidisebabkanoleh :infeksisalurannapas (rhinitis viral dan rhinitis bakterial, masuknyabendaasingkedalamhidung,

deformitasstruktural, neoplasma, danmassa, penggunaankronikdekongestan nasal, penggunaankontrasepsi oral, kokaindan anti hipertensif. Gejala : o o o o o Kongesti nasal Rabas nasal (purulent dengan rhinitis bakterialis) Gatalpada nasal Bersin-bersin Sakitkepala

Rhinitis vasomotor

Rhinitis vasomotor adalah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh bertambahnya aktivitas parasimpatis. Penyebab : Belum diketahui, diduga akibat gangguankeseimbangan vasomotor. Keseimbangan vasomotor ini dipengaruhi berbagai hal : o Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis, seperti: ergotamin, klorpromazin, obat antihipertensi, dan obat vasokontriktor lokal. o Faktor fisik, seperti iritasi asap rokok, udara dingin, kelembapan udara yang tinggi, dan bau yang merangsang o Faktor endokrin, seperti : kehamilan, pubertas, dan hipotiroidisme o Faktor psikis, seperti : cemas dan tegang ( kapita selekta)

Tanda dan gejala : Hidung tersumbat, bergantian kiri dan kana, tergantung pada posisi pasien. Terdapat rinorea yang mukus atau serosa, kadang agak banyak. Jarang disertai bersin, dan tidak disertai gatal di mata. Gejala memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur karena perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab, juga karena asap rokok dan sebagainya. Berdasarkan gejala yang menonjol, dibedakan atas golongan obstruksi dan rinorea. Pemeriksaan rinoskopi anterior menunjukkan gambaran klasik berupa edema mukosa hidung, konka berwarna merah gelap atau merah tua, dapat pula pucat. Permukaannya dapat licin atau berbenjol. Pada rongga hidung terdapat sekret mukoid, biasanya sedikit. Namun pada golgongan rinorea, sekret yang ditemukan biasanya serosa dan dalam jumlah banyak. ( kapita).

Rhinitis medikamentosa Rhinitis medikamentosa adalah suatu kelainan hidung berupa gangguan respon normal vasomotor sebagai akibat pemakaian

10

vasokonstriktor topical (obat tetes hidung atau obat semprot hidung) dalam waktu lama dan berlebihan. Tanda dan gejala : Penderita mengeluh hidungnya tersumbat terus menerus dan berair. Pada pemeriksaan konka dengan secret hidung yang berlebihan. Apabila diuji dengan adrenalin, adema konka tidak berkurang. Rhinitis atrofi Rhinitis Atrofi adalah satu penyakit infeksi hidung kronik dengan tanda adanya atrofi progesif tulang dan mukosa konka. Penyebab Belum jelas, beberapa hal yang dianggap sebagai penyebabnya seperti infeksi oleh kuman spesifik, yaitu spesies Klebsiella, yang sering Klebsiella ozanae, kemudian stafilokok, sreptokok, Pseudomonas aeruginosa, defisiensi Fe, defisiensi vitamin A, sinusitis kronik, kelainan hormonal, dan penyakit kolagen. Mungkin berhubungan dengan trauma atau terapi radiasi.

Tanda dan geajala : Keluhan subyektif yang sering ditemukan pada pasien biasanya nafas berbau (sementara pasien sendiri menderita anosmia), ingus kental hijau, krusta hijau, gangguan penciuman, sakit kepala, dan hidung tersumbat. Pada pemeriksaan THT ditemukan rongga hidung sangat lapang, konka inferior dan media hipotrofi atau atrofi secret purulen hijau dan krusta berwarna hijau.

4. Manifestasi Klinik Bersin berulang-ulang, terutama setelah bangun tidur pada pagi hari (umumnya bersin lebih dari 6 kali). Hidung tersumbat.
11

Hidung meler. Cairan yang keluar dari hidung meler yang disebabkan alergi biasanya bening dan encer, tetapi dapat menjadi kental dan putih keruh atau kekuning-kuningan jika berkembang menjadi infeksi hidung atau infeksi sinus. Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata, telinga dan tenggorok. Badan menjadi lemah dan tak bersemangat.

Gejala klinis yang khas adalah terdapatnya serangan bersin yang berulang-ulang terutama pada pagi hari, atau bila terdapat kontak dengan sejumlah debu. Sebenarnya bersin adalah mekanisme normal dari hidung untuk membersihkan diri dari benda asing, tetapi jika bersin sudah lebih dari lima kali dalam satu kali serangan maka dapat diduga ini adalah gejala rhinitis alergi. Gejala lainnya adalah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak. Hidung tersumbat, mata gatal dan kadang-kadang disertai dengan keluarnya air mata.

Tanda dan gejala rinitis adalah rongesti nasal, nafas nasal (purulen dengan renitis bakterialis ) gatal pada nasal, dan bersin-bersin. Sakit kepala dapat saja terjadi, terutama jika terdapat juga sinusitis. (Smeltzer, Suzanne C. 2002. Hal 548).

5. Pemeriksaan Penunjang dan Diagnostik Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan kadar IgE pada serum serta hitung jenis oesinofil pada spesimen sekret hidung. Tes Alergi Tes ini dilakukan untuk menegakkan bukti secara objektif akan adanya penyakit atopi. Ia juga dapat menentukan agen penyebab reaksi alergitersebut, yang akan dapat membantu dalam penanganan secara spesifik.Terdapat dua tipe pemeriksaan yang sering digunakan bagi menilai secarakausatif maupun kuantitatif sensitifitas suatu alergen: tes kulit dan esai serumin vitro (in vitro serum assay). a. Tes Kulit dapat dilakukan secara epikutan, intradermal atau kombinasi keduanya. Tes cukit kulit merupakan tes kulit secara epikutan yang palingsering digunakan. Secara umumnya tes ini tergolong cepat,spesifik, aman
12

dan ekonomis.Dengan adanya sistem tesmultipel yang tersedia, tes ini mudah dilaksanakan danprosedurnya selalu tidak pernah

berubah.Namun bila hasil tesini diragukan, selanjutnya dilakukan tes secara intradermal. Tes cukit kulit secara intradermal menggunakan pengenceranberseri yang kuantitatif 1:5 merupakan tes pilihan bagikebanyakan ahli spesialis THT setelah dilakukan tes cukit kulitsecara epikutan. Tipe tes yang dikenal sebagaiintradermaldilutional testing (IDT), dulunya dikenal sebagaiserialendpoint titration (SET) ini sangat berguna dalam menentukantahap sensitifitas alergen, dan dalam rangka itu, amatbermanfaat dalam penentuan terapi imunal yang tepat danaman bagi penderita rhinitis alergi.

b. Tes in vitro: Tes ini melibatkan IgE serum yang spesifik dengan alergen dan merupakan teknik yang mudah dikerjakan serta akurat dalam mendeteksiadanya pengaruh atopi pada pasien dengan rhinitis alergi. Teknologi in vitrojuga sudah sangat dikembangkan sedemikian rupa sehingga efektifitasnyasudah kurang lebih sama dengan tes cukit kulit. Tes ini aman, murah dancukup spesifik sehingga penderita tidak perlu bebas dari pengaruhantihistamin atau obat-obat lain pada saat pada saat pemeriksaan dijalankan,yang kalau pada tes cukit kulit, dapat mengganggu penilaian.Tes ini juga sangat mudah dan cepat dikerjakan sehingga menjadi pilihan dalammenangani pasien anakanak maupun dewasa yang disertai gangguananxietas. Walaupun tes in vitro yang pertama yaituradioallergosorbent test(RAST) sudah tidak dikerjakan lagi, terminologiRAST ini masih digunakansecara umum dalam menjelaskan pemeriksaan IgE spesifik darah. Saat ini,sudah banyak tipe esai in vitro yang ditinggalkan, karena peralihan ke tipebaru yang lebih cepat, dapat diandalkan dan lebih efisien contohnyaImmunoCap.Dengan tidak menggunakan tes yang dapat diandalkan, dapatberakibat buruk kepada diagnosis atopi yang seterusnya membawa kepadapenanganan yang tidak adekuat. Dibawah merupakan bagan pelaksanaan tesin vitro
13

6. Penatalaksanaan medis dan keperawatan Penatalaksanaan medis. Terapi medikamentosa yaitu antihistamin, dekongestan dan kortikosteroid Antihistamin Antihistamin yang sering digunakan adalah antihistamin oral. Antihistamin oral dibagi menjadi dua yaitu generasi pertama (nonselektif) dikenal juga sebagai antihistamin sedatif serta generasi kedua (selektif) dikenal juga sebagai antihistamin nonsedatif. Efek sedative antihistamin sangat cocok digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan tidur karena rhinitis alergi yang dideritanya. Selain itu efek samping yang biasa ditimbulkan oleh obat golongan antihistamin adalah efek antikolinergik seperti mulut kering, susah buang air kecil dan konstipasi. Penggunaan obat ini perlu diperhatikan untuk pasien yang mengalami kenaikan tekanan intraokuler, hipertiroidisme, dan penyakit kardiovaskular. Antihistamin sangat efektif bila digunakan 1 sampai 2 jam sebelum terpapar allergen. Penggunaan antihistamin harus selalu diperhatikan terutama mengenai efek sampingnya. Antihistamin generasi kedua memang

memberikan efek sedative yang sangat kecil namun secara ekonomi lebih mahal. Dekongestan Dekongestan topical dan sistemik merupakan simpatomimetik agen yang beraksi pada reseptor adrenergic pada mukosa nasal, memproduksi vasokonstriksi. Topikal dekongestan biasanya digunakan melalui sediaan tetes atau spray. Penggunaan dekongestan jenis ini hanya sedikit atau sama sekali tidak diabsorbsi secara sistemik (Dipiro, 2005). Penggunaan obat ini dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan rhinitis medikamentosa (rhinitis karena penggunaan obat-obatan). Selain itu efek samping yang dapat ditimbulkan topical dekongestan antara lain rasa terbakar, bersin, dan kering pada mukosa hidung. Untuk itu penggunaan obat ini memerlukan konseling bagi pasien. Sistemik dekongestan onsetnya tidak secepat dekongestan topical. Namun durasinya biasanya bisa lebih panjang. Agen yang biasa digunakan adalah
14

pseudoefedrin. Pseudoefedrin dapat menyebabkan stimulasi sistem saraf pusat walaupun digunakan pada dosis terapinya (Dipiro, 2005). Obat ini harus hatihati digunakan untuk pasien-pasien tertentu seperti penderita hipertensi. Saat ini telah ada produk kombinasi antara antihistamin dan dekongestan. Kombinasi ini rasional karena mekanismenya berbeda. Nasal Steroid Merupakan obat pilihan untuk rhinitis tipe perennial, dan dapat digunakan untuk rhinitis seasonal. Nasal steroid diketahui memiliki efek samping yang sedikit. Obat yang biasa digunakan lainnya antara lain sodium kromolin, dan ipatropium bromida. Operatif : Konkotomi merupakan tindakan memotong konka nasi inferior yang mengalami hipertrofi berat. Lakukan setelah kita gagal mengecilkan konka nasi inferior menggunakan kauterisasi yang memakai AgNO3 25% atau triklor asetat. Imunoterapi : Jenisnya desensitasi, hiposensitasi & netralisasi. Desensitasi dan hiposensitasi membentuk blocking antibody.

Keduanya untuk alergi inhalan yang gejalanya berat, berlangsung lama dan hasil pengobatan lain belum memuaskan. Netralisasi tidak membentuk blocking antibody dan untuk alergi ingestan. Pemberian antibiotik dalam 5-7 hari (untuk Sinusitis akut) yaitu: 1. 2. 3. 4. c. Ampisilin 4 X 500 mg Amoksilin 3 x 500 mg Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet Diksisiklin 100 mg/hari. Pemberian obat simtomatik. Contohnya parasetamol., metampiron 3 x 500 mg. Untuk Sinusitis kronis, bisa dengan: 1. 2. 3. Cabut geraham atas bila penyebab dentogen Irigasi 1 x setiap minggu (10-20) Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi).

15

Penatalaksanaan keperawatan. 1. Instruksikan pasien yang allergik untuk menghindari allergen atau iritan seperti (debu, asap tembakau, asap, bau, tepung, sprei) 2. Sejukkan membran mukosa dengan menggunakan sprey nasal salin. 3. Melunakkan sekresi yang mengering dan menghiangkan iritan. 4. Ajarkan tekhnik penggunaan obat-obatan spt sprei dan serosol. 5. Anjurkan menghembuskan hidung sebelum pemberian obat apapun terhadap hidung.

7. Komplikasi Polip hidung. Rinitis alergi dapat menyebabkan atau menimbulkan kekambuhan polip hidung. Otitis media. Rinitis alergi dapat menyebabkan otitis media yang sering residif dan terutama kita temukan pada pasien anak-anak. Otitis media dan sinusitis kronik ini disebabkan penyumbatan pada hidung sehingga menghambat drainase.

8. WOC

16

2.2 Landasan Teoritis Asuhan Keperawatan. 1. Pengkajian. a. Identitas pasien. Nama Umur Jenis kelamin Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat Tannggal masuk rumah sakit Penanggung jawab Hubungan No. MR : : : : : : : : : : :

b. Riwayat kesehatan. Keluhan Utama. Biasanya klien mengeluh nyeri kepala sinus dan tenggorokan.

Riwayat Kesehatan Sekarang Klien masuk rumah sakit dengan keadaan klien mengeluh hidung tersumbat, pilek yang sering kambuh, demam, pusing, ingus kental di hidung, nyeri di antara dua mata, penciuman berkurang, bersin pada malam hari atau pagi harii terutama pada suhhu udara dingin, saat menyapu lantai/ membersihkan tempat tidur, klien mengeluh mengganggu tidur dan aktivitas yang dilakukannya. Klien tampak lemas karena hidung yang tersumbat.

Riwayat kesehatan dahulu. Klien memiliki riwayat penyakit perdarahan pada hidung atau trauma pada hidung. Klien juga memilki riwayat penyakit THT.

Riwayat kesehatan keluarga. Ayah klien juga menderita penyakit yang sama dengan klien.
17

c. Pemeriksaan fisik. 1. Keadaan umum. Klien tampak pilek keluar ingus dari hidung klien. 2. Head to toe. Telinga. Inspeksi : Bentuk dan ukuran : normal. Tidak terdapat benjolan. Tidak terdapat serumen. Tidak terdapat edema. Hidung. Inspeksi. Tidak terdapat kelainan congenital pada hidung. Tidak terdapat jarinagn parut dalam hidung. Tidak terdapat deviasi septum. Tampak pembengkakan dan hiperemis pada konka hidung. Tidak tampak udem mukosa. Mukosa hidung hiperemis. Terdapat secret.

Palpasi. Tidak terdapat nyeri tekan. Tidak ada krepitasi. Tenggorokan. Inspeksi. Mukosa lidah dalam batas normal, tidak terdapat gambaran peta. Mukosa faring : hiperemis (+), granuler (+), oedem (+). Ovula : tidak ada kelainan. Tonsil : tidak membesar, tidak hiperemis. Detritus (-)

18

Palpasi. Pembesaran submandibula (-), nyeri tekan (-)

3. Pengkajian 11 fungsional Gordon.

1. Pola persepsi dan manajemen kesehatan. Klien tidak mengetahui penyebab penyakit nya ini. Klien sangat sensitive dengan keadaan seperti banyak debu. Bangun di pagi hari membuat pilek klien makin menjadi, bersin-bersin yang dikeluhkan klien juga bertambah. Klien selalu menjaga diri nya agar tidak terhirup debu yang begitu banyak. Pada saat klien merasakan hal yang demikian, klien hanya menggunakan obat resep apotik dan warung.

2. Pola nutrisi dan metabolic. Biasanya pola nutrisi metabolic pada klien yang mengalami

hipersensitivitas akan menjadi terganggu, nafsu makan klien akan menjadi berkurang, dan biasanya klien yang mengalami hipersensitivitas tidak dapat memakan sembarang makanan, sehingga mengakibatkan penurunan berat badan pada klien.

3. Pola eliminasi. Pola perkemihan klien lancer dank lien juga tidak mengalami masalah pad BAB nya.

4. Pola aktivitas dan latihan. Aktifitas klien berjalan seperti biasanya, namun terganggu bila pasien telah bersin-bersin pada saat dingin.

5. Pola istirahat dan tidur. Klien mengatakan bahwa istirahatnya terganggu pada malam hari karena bersin-bersin yang berlebihan pada malam hari dan pilek yang melanda klien, sehingga membuat klien susah tidur.

19

6. Pola kognitif dan persepsi. Klien memiliki penglihatan yang masih baik, pendengaran yang masih baik, dan pengecapan klien masih baik, namun pada penciuman klien kadangkadang terganggu karena hidung klien yang sering tersumbat dan karena pilek yang klien alami.

7. Pola persepsi dan konsep diri. Klien tidak merasa rendah diri. Klien tetap berusaha dan percaya bahwa penyakitnya bisa sembuh.

8. Pola peran dan hubungan. Karena penyakit yang diderita oleh klien sekarang mengganggu pekerjaan nya, maka klien tidak dapat membantu penghasilan untuk keluarganya lagi. Klien mem iliki hubungan yang sangat baik dengan anggota keluarga yang lain.

9. Pola seksualitas dan produksi. Kebutuhan seksualitas klien tidak terganggu.

10. Pola koping dan toleransi stress. Untuk menangani stress yang dialami klien, klien sealu bercerita dengan keluarga nya dan keluarga klien pun memberikan perhatian lebih kepada klien.

11. Pola nilai dan keyakinan. Klien mengaku agama penting dalam hidup, klien tidak merasa kesulitan dalam beribadah. Klien tetap melaksanakan ibdah dengan baik, dank lien selalu berdoa dan meminta kepada Yang Maha Kuasa agar klien dapat segera sembuh dari penyakit yang diderita nya sekarang.

20

2. Perumusan Diagnosa NANDA, NOC, NIC. No. 1. NANDA NOC NIC PEMBERSIHAN JALAN

Bersihan Jalan nafas KEADAAN tidak berhubungan adanya sekret

efektif PERNAFASAN: JALAN NAFAS YANG TIDAK dengan NAFAS YANG JELAS EFEKTIF yang Indikator: Nilai pada pernafasan skala yang Masuknya udara

mengental.

pada jalan nafas dan stabilisasi Penatalaksanaan jalan nafas Pengurangan tingkat kegelisahan PENGATURAN NAFAS Membuka jalan JALAN

ditentukan Pengeluaran dahak keluar nafas Tidak ada demam dari jalan

KEADAAN PERNAFASAN: PERTUKARAN GAS Indikator: Kemudahan bernafas Tekanan O2 dalam batas normal Tekanan CO2

nafas dengan cara dagu diangkat atau rahang ditinggikan. Memposisikan pasien mendapatkan ventilasi maksimal. Mengidentifikasi pasien berdasarkan nafas yang agar

dalam batas normal KEADAAN PERNAFASAN: VENTILASI Nilai pada pernafasan skala yang

penghirupan

yang potensial pada jalan nafas. Penghirupan nafas

ditentukan Tingkat kedalaman inspirasi Kemudahan bernafas

melalui mulut atau nasopharing. PEMBERSIHAN JALAN NAFAS


21

Pengeluaran dahak dari jalan nafas Pengeluaran udara Tidak adanya

Menentukan kebutuhan penyedotan mulut trakea. pada dan/atau

pengumpulan nafas melalui bibir Tidak adanya

Mendengarkan bunyi nafas sebelum dan penyedotan. sesudah

pernafasan dangkal Tidak adanya dyspnea pada saat Istirahat

Menginformasikan pada pasirn dan

keluarga

mengenai

penyedotan tersebut. Poemberian penenang. Melakukan pencegahan umum: memakai tangan, sarung kacamata obat

debu, dan masker. Menyisipkan bunyi sengau memfasilitasi penyedotan nasotrake. 2. Gangguan pola tidur TINGKAT berhubungan dengan KENYAMANAN penyumbatan hidung pada Indicator : - Melaporkan pada untuk

PENINGKATAN TIDUR Anjurkan klien untuk

menghindari mengkonsumsi makanan dan minuman

perkembangan kepuasan yang - Melaporkan perkembangan tidur.

dapat

mengganggu

- Ajarkan kepada klien dan


22

psikologi - Mengekspresikan perasaan

keluarga faktor

klien yang

tentang dapat gangguan

dengan menimbulkan pola tidur -

lingkungan fisik sekitar

Fasilitasi pemeliharaan

rutinitas klien sebelum tidur Bantu klien membatasi

waktu tidur siang dengan memberi aktivitas yang

meningkatkan keterjagaan, jika diperlukan.

MANAJEMEN ENERGI - Tentukan pembatasan

aktivitas fisik pasien - Monitor pola tidur - Monitor lokasi

ketidaknyamanan/nyeri - Bantu pasien membuat

jdwal istirahat - Jelaskan apa dan

bagaimana aktivitas yang dibutuhkan membangun energi - Monitor intake untuk

nutrisi yang adekuat

3.

Kurangnya pengetahuan berhubungan ketidak informasi dengan

PENGETAHUAN : proses Indikator : proses penyakit.

MEMPERSIAPKAN PERBAIKAN PENGETAHUAN Aktivitas: - Sediakan lingkungan yang aman

tahuan - menjelaskan

terjadinya penyakit - mendeskripsikan

23

penyebab faktor-faktor pendukung - mendeskripsikan faktor resiko - mendeskripsikan akibat penyakit - mendeskripsikan tanda dan gejala - mendiskripsikan tindakan meminimalkan perkembangan penyakit - mendeskripsikan

atau

- Adakan hubungan - fokus pada masalah pasien yang spesifik - bantu klien untuk

menyadarai kerentanan komplikasi - beri kesempatan pada klien untuk bertanya untuk

untuk

1. Mengajarkan penyakit Aktivitas: - hargai

proses

tingkat

pengetahuan pasien - jelaskan perjalanan

tindakan pencegahan komplikasi

suatu penyakit - jelaskan tanda-tanda dan gejala penyakit

PENGETAHUAN KEBIASAAN SEHAT Indikator : - Mendeskripsikan kebiasaan pemenuhan nutrisi - Mendeskripsikan

- jelaskan penyakit

proses

- identifikasi penyebab yang mungkin - sediakan mengenai kepada pasien - diskusikan pemikiran yang yang direkomendasikan manajemen (terapi/pengobatan) - jelaskan komplikasi ketinggalan informasi kondisi

pola tidur bangun yang efektif - Mendeskripsikan efek kesehatan dari penggunaan alkohol, zat kimia, kafein

24

- Mendeskripsikan keamanan penggunaan obbta-obatan. resep

yang mungkin terjadi

MENGAJARKAN MENENTUKAN PENGOBATAN

PENGETAHUAN Sumber Indikator : - Mendeskripsikan tindakan

Aktivitas: - informasikan pasien dari pada yang

tindakan.

umum dan berbagai jenis nama di setiap pengobatan - informasikan pada

dalam

keadaan darurat. - Mendeskripsikan sumber untuk

pasien maksud dari tindakan pengobatan - informasikan pasien pada takaran, disetiap

perlindungan dalam keadaan darurat.

perjalanan dan waktu pengobatan - evaluasi kemampuan pasien melakukan pengobatan sendiri - informasikan pasien akibat pada dari yang untuk

pengobatan tidak dilakukan. - instruksikan

pada

pasien efek samping dari pengobatan

25

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN BERDASARKAN KASUS


Kasus: Ny E umur 28 tahun datang ke Rumah Sakit Umum DR M Djamil Padang pada tanggal 27 Juli 2013 dengan keluhan hidung meler dan bersin-bersin sejak seminggu yang lalu, mata merah berair yang tidak berhenti-henti, lapisan hidung membengkak warna merah kebiruan, mudah tersinggung, nafsu makan menurun, dan susah tidur, klien bernafas melalui mulut. Saat ini Ny E dirawat di ruang THT Rumah Sakit Umum DR M Djamil Padang. 3.1 Pengkajian a. Identitas Klien Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Agama Pekerjaan No. RM Tanggal masuk Diagnosa medis : Ny E : 28 tahun : Perempuan : Pasar Baru : Islam : Ibu rumah tangga : 804290 : 27 Juli 2013 : Rhinitis

b. Riwayat Kesehatan Keluhan Utama

Klien mengeluhkan hidung meler dan bersin-bersin sejak seminggu yang lalu, mata merah berair yang tidak berhenti-henti. Riwayat Kesehatan Sekarang

Klien memgalami bersin-bersin, lapisan hidung membengkak warna merah kebiruan, tidak nafsu makan, susah tidur, hidung tersumbat sehingga klien bernafas melalui mulut.

Riwayat Kesehatan Dahulu

Klien tidak memiliki riwayat penyakit ini ataupun penyakit lain sebelumnya.

26

Riwayat Kesehatan Keluarga

Tidak ada diantara keluarga klien yang menderita penyakit yang sama dengan klien. c. Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon 1. Pola Persepsi Manajemen Keperawatan Klien tidak mengetahui penyebab penyakit yang sedang dideritanya. Ketidaktahuan klien membuat klien mengganggap penyakitnya itu hanya flu biasa. 2. Pola Nutrisi dan Metabolik Klien tidak nafsu makan sehingga mengakibatkan penurunan berat badan, hal tersebut juga mengakibatkan gangguan pada metabolisme klien. 3. Pola Eliminasi Klien tidak mengalami gangguan eliminasi. BAK dan BAB klien normal dengan warna dan bau yang khas. 4. Pola Aktivitas dan Latihan Klien tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasanya karena sering bersinbersin, mata merah berair yang tidak berhenti-henti, hidung tersumbat sehingga klien tidakdapat bernapas melalui hidung. 5. Pola Istirahat dan Tidur Klien mengalami susah tidur karena hidung tersumbat yang disertai bersinbersin 6. Pola Kognitif-Persepsi Klien mengalami gangguan pada indra penciumannya, yang dikarenakan hidung tersumbat sehingga menyulitkan klien untuk bernapas melalui hidung. 7. Pola Persepsi-Konsep Diri Klien merasa terbebani dengan penyakit yang sedang dideritanya. 8. Pola Peran-Hubungan Klien tidak dapat melakukan perannya dengan baik sedangkan hubungan klien dengan keluarga terjalin cukup baik. 9. Pola Seksual-Reproduksi Klien tidak dapat melakukan hubungan seksual seperti biasa. 10. Pola koping-Toleransi Stres Klien merasa sedikit stres dengan penyakit yang sedang dideritanya. 11. Pola Nilai-Keyakinan
27

Klien melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinannya. d. Pemeriksaan Fisik Kulit Rambut Telinga

: turgor kulit baik. : tidak mudah dicabut, penyebaran rata. : simetris ka/ki, tidak ada peradangan. : kedua mata simetris ka/ki, sclera tidak ikserik, konjungtiva tidak anemis. : Mukosa lembab, terdapat peradangan, hidung memerah, terdapat banyak

Mata

Hidung sekret. Mulut Leher Toraks Paru Palpasi Perkusi

: Mukosa dan lidah kering : KGB tidak terjadi pembesaran. : Simetris ka/ki. : Inspeksi : Simetris ki = ka

: Fremitus ki = ka : Sonor : Bronkovesikuler. : Inspeksi : Simetris ka = ki

Auskultasi Perut Palpasi Perkusi Auskultasi Ekstremitas Genitalia Kesadaran

: Hati tidak teraba, limpa tidak teraba, tidak ada nyeri tekan) : Timpani : Bising usus (+). : Normal. : Tidak dikaji. : Compos Mestis

3.2 Diagnosa NANDA, NOC, NIC NANDA 1 Bersihan Tidak Jalan Efektif NOC NIC

Napas Status Respirasi : Kepatenan Manajemen Jalan Napas b.d Jalan Napas Tidak ada demam Tidak ada cemas Buka jalan nafas

penumpukan sekret DO: Klien bersin-bersin Klien

dengan teknik mengangkat dagu atau dengan

Frekuensi napas dalam mendorong rahang sesuai keadaan Posisikan pasien

tampak batas normal -

bernapas dari mulut Hidung

Bebas dari suara napas untuk

klien tambahan

memaksimalkan
28

membengkak kebiruan DS: Klien

merah Status Respirasi: Ventilasi Rata-rata

ventilasi yang potensial Identifikasi masukan nafas baik yang

pernapasan jalan

dalam rentang yang diharapkan mengatakan -

Irama napas dalam rentang aktual ataupun potensial Masukkan jalan nafas/ sesuai

hidungnya sehingga bernapas Klien sulit

tersumbat yang diharapkan untuk mengatakan Mudah bernapas Tidak ada bunyi napas

nasofaringeal kebutuhan Keluarkan batuk

Tidak ada mulut terbuka dengan

sekret atau

sering bersin-bersin

saat bernapas

suction/pengisapan Monitor Pernapasan Monitor frekuensi, irama, dan usaha

rata-rata, kedalaman bernafas Monitor seperti

bising ribut

pernafasan

atau dengkuran Monitor sekresi

pernafasan pasien Monitor pola nafas

seperti bradipnu, takipnu, hiperventilasi, pernafasan kussmaul, Ceyne stokes, apnu, biot dan pola ataksi Penghisapan Jalan Napas Tentukan kebutuhan suction mulut

untuk

dan/atau trakea. Auskultasi dan nafas sesudah

sebelum pengisapan. -

Memberitahukan

29

kepada keluarga pengisapan. -

pasien

dan tentang

Aspirasi nasoparing tabung syringe

dengan

atau bulb atau alat yang sesuai. Sediakan pemberian

obat yang sesuai 2 Nutrisi Kebutuhan berhubungan Kurang dari Status Nutrisi Tubuh dengan Asupan zat gizi Asupan makanan dan Monitoring Cairan Monitor intake dan

output cairan Monitor berat badan Kaji tentang riwayat

penurunan berat badan. DO: Klien

cairan Energi Indeks masa tubuh Berat badan

hanya porsi -

jumlah dan tipe intake cairan dan pola eliminasi Monitor TTV

menghabiskan makanannya DS: Klien

Manajemen Nutrisi mengatakan penyerapan makanan/cairan dan Mengontrol

tidak nafsu makan

menghitung intake kalori harian, jika diperlukan Memantau ketepatan makanan untuk

urutan

memenuhi nutrisi harian kalori

kebutuhan

Menentukan jimlah dan jenis zat

makanan yang diperlukan untuk memenuhi

kebutuhan nutrisi, ketika

30

berkolaborasi dengan ahli makanan, jika diperlukan Anjurkan pasien untuk

memilih makanan ringan, jika kekurangan air liur mengganggu menelan Mengatur pemasukan proses

makanan, jika diperlukan Monitor Nutrisi klien dan badan Jadwalkan perawatan, Monitor kehilangan pertambahan berat Timbang berat badan

dan tindakan keperawatan agar tidak mengganggu

jadwal makan Monitor turgor kulit Monitor adanya mual

dan muntah Monitor tingkat

energi, lelah, lesu, dan lemah Monitor intake kalori

dan nutrisi

Gangguan Istirahat Tidur Tingkat Kenyamanan b.d penyumbatan pada -

Peningkatan Tidur Anjurkan klien untuk

Melaporkan -

hidung. DO:

perkembangan kepuasan -

menghindari makanan

Melaporkan mengkonsumsi

31

Klien

tampak perkembangan psikologi -

dan minuman yang dapat

bernapas melalui mulut Hidung

Mengekspresikan perasaan mengganggu tidur Ajarkan kepada klien

klien dengan lingkungan fisik sekitar -

tersumbat DS: susah Klien mengatakan karena

dan keluarga klien tentang faktor yang dapat gangguan

menimbulkan pola tidur pemeliharaan

tidur

hidungnya tersumbat

Fasilitasi rutinitas

klien sebelum tidur Bantu waktu klien tidur

membatasi siang

dengan

memberi yang

aktivitas

meningkatkan keterjagaan, jika diperlukan Manajemen Energi Tentukan pembatasan

aktivitas fisik pasien Monitor pola tidur Monitor lokasi

ketidaknyamanan/nyeri Bantu pasien

membuat jdwal istirahat Jelaskan apa dan

bagaimana aktivitas yang dibutuhkan membangun energi Monitor intake nutrisi untuk

yang adekuat

32

BAB IV PEMBAHASAN
Ny E datang ke Rumah Sakit Umum DR M Djamil dengan keluhan hidung meler dan bersin-bersin sejak seminggu yang lalu, mata merah berair yang tidak berhenti-henti, lapisan hidung membengkak warna merah kebiruan, mudah tersinggung, nafsu makan menurun, dan susah tidur, klien bernafas melalui mulut. Saat ini Ny E dirawat di ruang THT Rumah Sakit Umum DR M Djamil Padang. Dengan keluhan yang diderita oleh Ny E sekarang serta dengan terjadinya penumpukan secret sehingga mengganggu jalan nafas Ny E, tidak tertutup kemungkinan bahwa Ny E dapat di diagnose oleh Dokter dengan penyakit Rhinitis.

No 1.
DO: -

Data
Klien bersin-bersin Klien tampak bernapas dari mulut Hidung klien membengkak merah

Diagnosa
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif b.d penumpukan sekret

kebiruan DS: Klien mengatakan hidungnya

tersumbat sehingga sulit untuk bernapas - Klien mengatakan sering bersinbersin

2.

DO: Klien hanya menghabiskan porsi

Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan penurunan berat badan

makanannya DS: Klien mengatakan tidak nafsu makan

3.
DO:

33

DS: -

Klien tampak bernapas melalui mulut Hidung klien tersumbat

Gangguan pola tidur berhubungan dengan penyumbatan pada hidung

Klien mengatakan susah tidur karena hidungnya tersumbat

34

BAB V PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Rhinitis adalah suatu inflamasi (peradangan) pada membrane mukosa di hidung ,berdasarkan cara masuknya allergen adalah : Alergen Inhalan,yang masuk bersama dengan udara pernafasan misalnya debu rumah,tungau,serpihan epitel,dari bulu binatang serta jamur Alergen ingesten,yang masuk susu,telur,coklat,ikan dan udang Allergen kontaktan,yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa,misalnya bahan kosmetik dan perhiasai. kesaluran cerna,berupa makanan,mislnya

4.2 Saran. Penyusun sangat membutuhkan saran demi meningkatkan kualitas makalah yang kami buat dilain waktu,sehingga penyusun dapat member informasi yang lebih berguna untuk penyusun khususnya dan pembaca umumnya .

35