Anda di halaman 1dari 38

MEDICAL SCIENCE

CESTODA

KELOMPOK
MUTIARA PUSPITA. N
NUR INDRAWANI RESTI ASTIDA. P WAHYU MULYANI ZIA DEVI

(06) (14) (21) (36) (42)

CESTODA
Cacing dalam klas cestoidea disebut juga cacing pita karena bentuk tubuhnya yang panjang dan pipih menyerupai pita. Cacing ini

tidak mempunyai saluran pencernaan ataupun pembuluh darah. Tubuhnya memanjang terbagi atas segmen-segmen yang disebut proglotida dan segmen ini bila sudah dewasa berisi alat reproduksi jantan dan betina.

A. Morfologi
~Kepala/scolec, terdapat batil isap dan lekuk isap

~Leher, yaitu tempat untuk pertumbuhan badan ~Strobila, adalah merupakan badan yang terdiri dari segmen proglotida.

B. KLASIFIKASI
Divisi yang dibagi kedalam 2 subclass yaitu, cestodaria dan eucestoda. 1. Diphyllobotrium latum Sering ditemukan berparasit pada hewancarnivora pemakan ikan, terutama di Eropa Utara. Sering menginfeksi anjing, kucing, beruang dan pada orang.

Lanjutan...
Panjang cacing dapat mencapai 9 m dan mengeluarkan jutaan telur/hari. Tubuhnya panjang yang terdiri dari segmen-segmen disebut proglotida yang berisi testes dan folicel. 2. Taeniarinchus Sagitanus Cacing pita ini adalah cacing pita yang paling sering ditemukan pada manusia dan ditemukan di semua negara yang orangnya mengkonsumsi daging sapi.

Lanjutan...
Cacing ini panjangnya sekitar 3-5 m dan terdiri dari 2000 proglotida. Scolexnya mempunyai 4 batil isap yang dapat menghisap sangat kuat.

3. Taenia solium
Cacing pita babi yang paling berbahaya pada orang, karena kemungkinan terjadinya infeksi sendiri oleh cysticercus dapat terjadi. Cacing dewasa panjangnya 1,8-3 m.

4. Echinococcus granulosus

Cacing ini termasuk cacing yang kecil dari famili Taeniidae. Cacing muda dapat menginfeksi manusia yang menyebabkan hydatidosis, yang merupakan penyakit yang serius pada orang. E. granulosus menggunakan hewan karnivora sebagai hospes definitif, sedangkan mamalia lain sebagai hospes intermedier. Jenis herbivora dapat terinfeksi karena memakan rumput yang tercemar telur cacing.

Lanjutan...
Cacing dewasa hidup dalam usus halus hospes definitif, panjangnya sekitar 3-6 mm yang terdiri dari skolex, leher yang pendek dan 3 segmen proglotida. 5. Echinococcus multiloocuralis Daur hidup hampir sama dengan E. granulosus, tetapi kantong cyste hanya sedikit memproduksi protoscolic.

6. Vampirolepsis nana
Parasit ini merupakan cacing pita yang cosmopolitan dan sering dijumpai pada manusia, terutama anak-anak dengan rata-rata infeksi sekitar 1-9% di Amerika Serikat dan Argentina. Cacing berukuran 40 mm, lebar 1 mm.

7. Haemenolepis diminuta Cacing ini juga merupakan cacing cosmoploitan yang terutama berparasit pada tikus rumah, tetapi banyak kasus dilaporkan menginfeksi pada orang. Ukuran lebih besar daripada V. nana, yaitu sampai 90 cm.

8. Cacing Ascariasis Penyakit kecacingan disebut juga helminthiasis akan menyebabkan kerugian secara ekonomis, karena unggas penderita mengalami hambatan pertumbuhan, penurunan produksi telur, berat telur tidak bisa mencapai maksimal dan awal waktu bertelur yang tidak semestinya. Helminthiasis pada unggas disebabkan oleh cacing, yang secara umum terdiri dari tiga klas, yaitu klas Nematoda, Trematoda dan Cestoda. Penyakit helminthiasis akibat cacing Nematoda disebut Nematodosis, yang disebabkan Trematoda disebut Trematodosis dan yang disebabkan oleh Cestoda disebut Cestodosis.

Lanjutan...
Ascariasis adalah penyakit cacing yang menyerang unggas dan disebabkan oleh Ascaridia galli. Cacing ini terdapat di usus dan duodenum hewan unggas. Pada ternak ayam sering menyerang baik tipe pedaging maupun tipe petelur, sedangkan pada ayam buras kemungkinan tertular lebih besar karena system pemeliharaan yang bebas berkeliaran. Beberapa faktor yang mempengaruhi infeksi cacing A. Galli diantaranya adalah umur, jenis ayam, dosis infeksi, tipe kandang, nutrisi, sistem pemeliharaan dan cuaca.

C. TANDA DAN GEJALA


kekurangan gizi berat badan menurun perut terasa mulas dan mual, kadang perih dan

tajam menusuk-nusuk tetapi akan hilang sesudah makan Selain itu muka pucat sering pusing kurang nafsu makan feses berlendir

D. PATOLOGI
1. Diphyllobotrium latum

Kasus penyakit banyak dilaporkan di daerah yang orangnya suka mengkonsumsi ikan mentah. Kebanyakan kasus penyakit tidak memperlihatkan gejala yang nyata. Gejala umum yang sering ditemukan adalah gangguan sakit perut, diaree, nausea dan kelemahan. Pada kasus infeksi yang berat dapat menyebabkan anemia megaloblastic.

2. Taeniarinchus Sagitanus
Penyakit yang disebabkan oleh infeksi T. saginata hampir sama dengan penyakit yang disebabkan oleh parasit cacing pita lainnya, kecuali gejala yang disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 seperti yang disebabkan oleh infeksi D. latum tidak ditemukan. Intoksikasi yang disebabkan oleh absorpsi dari ekskreta cacing sering terjadi, dengan gejala sakit perut, nausea dan hipersensitif. Diaree dan obstruksi intestinal jarang dijumpai, tetapi gejala anoreksia sering ditemukan.

3. Echinococcus granulosus Patologi yang terjadi bergantung pada lokasi cyste berparasit. Bilamana ukuran hydatid membesar akan mendesak jaringan yang ditempati sehingga fungsi jaringan terganggu. Bila hydatid tumbuh dalam sumsum tulang maka parasit tersebut tidak dapat membesar karena terbatasi oleh tulang. Tetapi bila terjadi infeksi kronis, maka akan menyebabkan nekrosis tulang, sehingga tulang menjadi tipis dan mudah patah.
Bila hydatid tumbuh pada lokasi yang tidak terbatas, maka cyste akan bertambah besar dan berisi cairan dan mengandung jutaan protoscolic dan dapat menimbulkan kematian mendadak bila cyste tersebut pecah. Cairan hydatid berupa protein yang akan dapat merangsang terjadinya shock anapylaktic.

4. Echinococcus multiloocuralis Penyakit ini banyak dilaporkan di Eropa, Asia dan Amerika Utara. Kasus infeksi pada orang dilaporkan di beberapa negara bagian Amerika Serikat, Amerika Selatan dan New Zealand. Cacing dewasa sangat mirip dengan E. granulosus, tetapi ukurannya lebih kecil, panjangnya hanya 1,2-3,7 mm. Orang bukanlah merupakan hospes definitif yang cocok, orang dapat tertular karena kebiasaan mereka berhubungan dengan anjing liar yang memakan tikus liar.

5. Vampirolepsis nana Perubahan patologi jarang ditemukan oleh infeksi cacing ini, kecuali pada infeksi berat yang jarang dijumpai. Infeksi berat dapat terjadi pada kasus autoinfeksi dengan gejala mirip dengan intoksikasi T. saginatus. 6. Haemenolepis diminuta Sebagai hospes intermedier adalah beberapa spesies arthropoda, misalnya jenis kumbang (Tribolium spp) adalah hospes intermedier yang sangat berperan terhadap infeksi pada tikus dan manusia.

7. Cacing Ascariasis

Penyakit cacing oleh Ascaridia galli menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi peternak. Cacing dewasa hidup di saluran pencernaan, apabila dalam jumlah besar maka dapat menyebabkan sumbatan dalam usus. Penjelasan selanjutnya menyebutkan bahwa kerugian disebabkan oleh karena cacing menghisap sari makanan dalam usus ayam yang ditumpangi sehingga ayam akan menderita kekurangan gizi.

E. DIAGNOSIS
1. Diphyllobotrium latum Dengan menemukan telur cacing atau progotida didalam feses, diagnosis dinyatakan positif.

2. Taeniarinchus Sagitanus Diagnosis tepat ditentukan bila dijumpai proglotid yang penuh telur atau skolek. Proglotid terciri dengan adanya cabang lateral disetiap masing-masing sisi yang mempunyai cabang sekitar 15-20.

Lanjutan...
Tetapi cabang tersebut biasanya sulit terlihat pada proglotid yang lama, sehingga diagnosis lebih akurat bila ditemukan proglotid yang masih baru. 3. Taenia solium Cysticerci sering ditemukan dalam jaringan subcutaneus, mata, otak, otot, jantung, hati dan paru. Kapsul fibrosa mengelilingi metacestoda ini, kecuali bila cacing berkembang dalam kantong mata.

Pengaruh cysticercus terhadap tubuh bergantung pada lokasi cysticercus tinggal. Bila berlokasi di jaringan otot, kulit atau hati, gejala tidak begitu terlihat, kecuali pada infeksi yang berat. Bila berlokasi di mata dapat menyebabkan kerusakan retina, iris, uvea atau choroid. Perkembangan cysticercus dalam retina dapat dikelirukan dengan tumor, sehingga kadang terjadi kesalahan pengobatan dengan mengambil bola mata. Pengambilan cysticercus dengan operasi biasanya berhasil dilakukan.

Lanjutan...
Bila cysticercus mati dalam jaringan, akan menimbulkan reaksi radang, hal tersebut dapat mengakibatkan fatal pada hospes, terutama bila cacing berada dalam otak. Reaksi seluler lain dapat terjadi yaitu dengan adanya kalsifikasi. Bila ini terjadi pada mata pengobatan dengan operasi akan sulit dilakukan.

4. Echinococcus granulosus Dengan sinar rontgen akan terlihat cysta hydatid. Tes intradermal dapat dilakukan bila ada kasus yang dicurigai. Tes lain seperti CFT, haem aglutinasi, latex aglutination tes dan sebagainya dapat dilakukan walaupun tidak 100% akurat.
5. Echinococcus multiloocuralis Diagnosis sangat sulit dilakukan. Terutama karena protoscolic sering tidak ditemukan.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Melalui mikroskop memeriksa sample tinja apakah ada telur cacing parasit, ookista protozoa dan takizoit. Teknik Pemeriksaan Parasit-Parasit Cacing 1. Pemeriksaan secara kualitatif, yang meliputi: a) Pemeriksaan secara natif (direct slide) Bahan dan Alat: Feses Larutan NaCl fisiologis 0,9%

Gelas obyek Gelas penutup Pipet tetes

Lidi
Mikroskop

Cara kerja: Meneteskan 2 tetes NaCl fisiologis 0,9% pada gelas obyek Mengambil feses dengan menggunakan lidi, dan meletakkannya pada gelas obyek yang

Lanjutan~
telah diberi larutan NaCl fisiologis 0,9%, kemudian ditutup dengan gelas penutup. Mengamati preparat tersebut dibawah mikroskop dengan perbesaran 100 x.

b) Pemeriksaan dengan metode apung (floation methode) Bahan dan Alat: Feses (19 gr) 200 ml NaCl jenuh Beaker glass

Lanjutan~
Pengaduk Jarum ose

Saringan
Gelas obyek Gelas penutup

Mikroskop

Cara kerja: Memasukkan 10 gr tinja ke dalam 200 ml NaCl jenuh didalam beaker glass, dan diaduk hingga larut

Didiamkan hingga terlihat endapan kira-kira

20-30 menit Menyaring serat selulosa Mengambil larutan diatas pada bagian permukaannya dengan menggunakan jarum ose, dan meletakkannya di obyek glass dan ditutup dengan gelas penutup Mengamati di bawah mikroskop

2. Pemeriksaan secara kuantitatif Modifikasi HARADA MORI Alat dan Bahan: Feses Aquades steril Kertas saring ukuran 3 x 15 cm Kantong plastik Lidi Sentrifuge Gelas obyek Gelas penutup Mikroskop

Cara kerja: Mengisi kantong plastik dengan aquades 5 cc Mengoleskan tinja pada kertas saring dengan menggunakan lidi Melipat kertas saring dengan membujur Memasukkan lipatan kertas yang telah diolesi tinja tadi ke dalam plastik yang telah berisi aquades Menutup kantong plastik Menutup kantong plastik Menyimpan selama 7 hari Membuka kantong plastik

Melakukan sentrifuge pada aquades yang telah

disimpan persama kertas saring yang telah diolesi tinja di atas Membuang lapisan atas cairan hingga tinggal sedimen Mengambil sedimen tersebut Meletakkan diatas gelas objek Mengamati di bawah mikroskop

G. PENATALAKSANAAN & PENCEGAHAN


1. Diphyllobotrium latum

Obat yang diberikan ialah: Aspidium oleoresin Mepacrim Diclorophen Extract biji labu (Cucurbita spp)

Lanjutan~~
Niclosamide (Yomesan); pilihan obat yg

diberikan dewasa ini, makanismenya adl menghambat reaksi pertuklaran fosfat inorganik ATP, rekasi ini berhubungan dengan transport elektron secara anaerobik yang dilakukan oleh cacing. 2. Taenia solium Pencegahan infeksi cacing ini lebih utama yaitu mencegah kontaminasi air minum, makanan dari feses yang tercemar.

Lanjutan~~
Sayuran

yang biasanya dimakan mentah harus dicuci berish dan hindarkan terkontaminasi terhadap telur cacing ini.

H. IDENTIFIKASI TELUR CACING


Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi dan ukuran telur cacing dari hasil pengamatan yang disesuaikan dengan literature sehingga dapat diketahui jenis cacing berdasarkan telur cacing yang ditemukan. Untuk menentukan infeksi cacing parasit ringan sedang dan berat menggunakan standar derajat infeksi (DI) dan TTGT (Total Telur Pergram Tinja).

TERIMA KASIH

Beri Nilai