Anda di halaman 1dari 2

RETINOPATI PREMATURITAS

Bayi prematur beresiko tinggi menderita retinopati prematuritas (ROP) atau gangguan pembentukan pembuluh darah retina pada bayi prematur. Selama ini ROP menjadi penyebab utama kebutaan pada anak anak di negara berkembang. Pengobatan ROP berat atau stadium progresi dapat dilakukan dengan krioterapi (terapi pembekuan bagian pinggir retina) atau fotokoagulasi laser retina. Retinopati pada bayi prematur adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan pada pembentuka pembuluh darah retina pada bayi premature. Retinopati yang berat ditandai dengan proliferasi pembuluh darah retina, pembentukan jaringan parut, dan pelepasan retina. Pembuluh darah retina mulai terbentuk pada 3 bulan setelah pembuahan dan terbentuk sempurna saat lahir. Jika bayi lahir prematur, maka perkembangannya terganggu. Pembuluh darah retina akan terbentuk lagi pada saat keadaan umum bayi membaik dan kebanyakan akan berkembang secara sempurna. Pada retinopati, karena prematuritas, pembuluh darah tumbuh secara abnormal yaitu ke dalam cairan jernih yang mengisi mata bagian belakang. Di sini pembuluh darah tidak memiliki jaringan penyokong sehingga sangat rapuh dan sering mengalami perdarahan ke dalam mata. Hal ini akan diikuti pembentukan jaringan parut yang menarik retina dari lapisan bagian dalamnya kea rah pusat bola mata sehingga retina terlepas. Bisa terjadi gangguan penglihatan, jika keadaannya berat bias menyebabkan buta total. Bayi prematur banyak yang mengalami pertumbuhan retina abnormal yang sifatnya sementara dan akan diikuti oleh pertumbuhan yang normal tanpa harus menjalani pengobatan. Pemakaian oksigen yang berlebihan bias merangsang pertumbuhan pembuluh darah yang abnormal sehingga pemakaian oksigen harus dipantau secara akurat. Terjadinya resiko prematuritas sebanding dengan beratnya prematuritas, semakin kecil bayi, resiko retinopatinya semakin tinggi. Retinopati yang berat dapat menyebabkan gejala sebagai berikut : leukoria (pupil berwarna putih), nistagmus, myopia, strabismus. Retinopati prematuritas dapat didiagnosis dengan bantuan oftalmoskopi. Pemeriksaan mata pada bayi baru lahir dilakukan dalam waktu 6 minggu setelah persalinan dan kemudian dilakukan setiap beberapa minggu sampai pembuluh darah retina terbentuk sempurna. Pada bayi yang memiliki jaringa parut akibat retinopati, pemeriksaan mata harus dilakukan setiap 1 tahun seumur hidupnya. Retinopati yang ringan seringkali mengalami proses penyembuhan yang spontan. Tetapi meskipun telah terjadi penyembuhan, bayi memiliki resiko menderita rabun dekat, juling, dan gangguan penglihatan. Pada retinopati yang berat, krioterapi dapat mengurangi resiko terjadinya pelepasan retina dan gangguan penglihatan. Jika telah terjadi pelepasan retina dilakukan pembedahan untuk mengembalikan retina ke tempatnya.

Pencegahan yang paling efektif adalah mencegah terjadinya kelahiran prematur. Jika bayi lahir prematur dan menderita gangguan pernafasan, maka dilakukan pemantauan ketat terhadap pemakaian oksigen untuk mencegah terlalu tingginya kadar oksigen dalam darah.