Anda di halaman 1dari 25

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Diare akut pada orang dewasa merupakan tanda dan gejala penyakit yang umum dijumpai dan bila terjadi tanpa komplikasi, secara umum dapat di obati sendiri oleh penderita. Namun, bila terjadi komplikasi akibat dehidrasi atau toksik menyebabkan morbiditas dan mortalitas, meskipun penyebab dan penanganannya telah diketahui dengan baik serta prosedur diagnostiknya juga semakin baik.Meskipun diketahui bahwa diare merupakan suatu respon tubuh terhadap keadaan tidak normal, namun anggapan bahwa diare sebagai mekanisme pertahanan tubuh untuk mengekskresikan mikroorganisme keluar tubuh, tidak sepenuhnya benar. Terapi kausal tentunya diperlukan pada diare akibat infeksi, dan rehidrasi oral maupun parenteral secara simultan dengan kausal memberikan hasil yang baik terutama pada diare akut yang menimbulkan dehidrasi sedang sampai berat. Acapkali juga diperlukan terapi simtomatik untuk menghentikan diare atau mengurangi volume feses, karena berulang kali buang air besar merupakan suatu keadaan/kondisi yang menggganggu akitifitas sehari-hari. Diare atau mencret didefinisikan sebagai buang air besar dengan feses yang tidak berbentuk (unformed stools) atau cair dengan frekwensi lebih dari 3 kali dalam 24 jam. Bila diare berlangsung kurang dari 2 minggu, di sebut sebagai Diare Akut. Apabila diare berlangsung 2 minggu atau lebih, maka digolongkan pada Diare Kronik. Pada feses dapat dengan atau tanpa lendir, darah, atau pus. Gejala ikutan dapat berupa mual, muntah, nyeri abdominal, mulas, tenesmus, demam dan tanda-tanda dehidrasi.

B. TUJUAN Makalah ini bertujuan untuk: 1. 2. 3. 4. Mengetahui penyebab dan patologi dari diare akut. Mengetahui manifestasi klinik dari diare akut. Mengetahui metode diagnosis klinik dalam mendeteksi penyebab diare akut. Mengetahui terapi pengobatan diare akut.

PEMBAHASAN
DIARE AKUT PADA DEWASA Diare adalah adalah kondisi di mana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal (lebih dari 3 kali per hari) serta perubahan dalam isi (lebih dari 200 gram per hari) dan konsistensi (feses cair). Pada definisi ini jelas menyebutkan frekuensi diare terjadi lebih dari 3 kali dalam sehari. (Smeltzer,2002). Diare juga merupakan keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja (WHO,1980).1 Diare merupakan keadaan dimana seseorang menderita mencret-mencret, tinjanya encer, dapat bercampur darah dan lendir kadang disertai muntah-muntah. Sehingga diare dapat menyebabkan cairan tubuh terkuras keluar melalui tinja. Bila penderita diare banyak sekali kehilangan cairan tubuh maka hal ini dapat menyebabkan kematian terutama pada bayi dan anakanak usia di bawah lima tahun (Ummuauliya. 2008). Beberapa definisi yang telah disebutkan di atas, menjelaskan definisi diare berdasarkan konsistensi dan bentuk tinja (feses) yang melembek dengan atau tanpa menunjuk pada frekuensi diarenya.Bahkan definisi diare yang diberikan WHO secara spesifik juga menyebutkan diare dengan feses yang berwarna hijau, bercampur lendir dan atau darah.Dengan demikian, secara umum berdasarkan beberapa definisi diare dapat disebutkan bahwa diare adalah penyakit yang ditandai dengan buang air besar yang sering melebihi keadaan biasanya dengan konsistensi tinja yang melembek sampai cair dengan atau tanpa darah dan atau lendir dalam tinja.2 PEMERIKSAAN ANAMNESIS Pasien dengan diare akut dengan berbagai gejala klinik tergantung dengan penyakit dasarnya. Keluahan diarenya berlangsung kurang dari 15 hari. Diare karena penyakit usus halus biasanya berjumlah banyak, diare air, dan sering berhubungan dengan malabsorpbsi, dan

dehidrasi sering didapatkan. Diare dengan kelainan kolon sering kali dengan kelainan tinja berjumlah kecil tapi sering, bercampur darah dan ada sensasi ingin ke belakang. Pasien dengan daare akut infektif biasanya datrang dengan gejala khas yaitu nausea, muntah, nyeri abdomen, demam, dan tinja yang yang sering bisa air, malabsorpsi, atau berdarah tergantung bakteri

patogen yang spesifik. Secara umum parogen usus halus tidak invasif, dan patogen ileokolon lebih mengarah ke invasif. Pasien yang memakan taksigenik biasanya datang dengan gejala nausea dan muntah sebagai gejala prominen bersamaan dengan diare air tapi jarang mengalami demam. Muntah yang mulai beberapa jam dari masuknya makanan mengarahkan kita kepada keracunan makanan karena toksin yang dihasilkan, parasit yang tidak menginvasi mukosa usus, seperti Giardia lambia dan Cryptosporodium, biasanya menyebabkan rasa tidak nyaman di abdomen yang ringan, perut bergas dan kembung.1 Bakteri invasif seperti Campylobacter, Salmonella dan Shigella, dan organisme yang menghasilkan sitotoksin seperti Colostridium difficile and Enterohemoragic E coli (serotipe O157:H7) menyebabkan inflamasi usus yang berat. Organisme Yersinia sering kali menginfeksi ileum terminal dan caecum dan memiliki gejala nyeri perut kuadran kanan bawah menyerupai appendicitis akut. Infeksi Campylobacter jejuni sering bermanifestasi sebagai diare, demam dan kadangkala kelumpuhan anggota badan dan badan (sindrom Guillain-Barre). Kelehuan lumpuh pada infeksi usus ini sering disalahtafsirkan sebagai malpraktek dokter karena ketidaktahuan masyarakat. Diare air merupakan gejala tipikal dari organisme yang menvasi epitel usus dengan inflamasi minimal, seperti virus enterik atau organisme yang menmpel tetapi tidak menghancurkan epitel seperti Enteropahogenic E coli, protozoa, dan helminths. Beberapa organisme seperti Campylobacter, Aeoromonas,Shigella, and Vibrio species dalam beberapa jam atau hari.3 Sindrom hemilitik uremik dan purpura trompbositopenik trombotik (TTP) dapat timbul pada infeksi dengan bakteri E.coli enterohemoragik dan Shigella, terutama anak kecil dan orang tua. Infeksi Yersinia dan bakteri enterik lainnya dapat disertai sindrom Reiter (artritism uretritis, dan konjungtivitis), tiroiditis, perikarditis, atau glumeronefritis. Demam enterik, disebabkan Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi, merupakan penyakit sistemik yang berat yang bermanifestasi sebagai demam tinggi yang lama, prostasi, bingung, dan gejala respiratorik diikuti nyeri tekan abdomen, diare dan kemerahan (rash).2 menghasilkan

enterotoksin dan menginvasi mukosa usus pasien, karena itu menunjukan gejala diare berdarah

Dehidrasi dapat timbul jika diare berat dan konsumsi oral terbatas, karena nausea dan muntah terutama pada anak kecil dan usia lanjut. Dehidrasi bermanifestasi sebagai rasa haus yang meningkat, berkurangnya jumlah buang air kecil dengan urine berwarna gelap. Pada keadaan berat dapat mengarah ke gagal ginjal akut dan perubahan status jiwa seperti kebingungan dan pusing kepala. Dehidrasi menurut keadaan klinisnya dapat dibagi menjadi 3 tingkatan:4 Dehidrasi ringan (hilang cairan 2-5% BB). Gambaran klinisnya turgor kurang, suara serak (vox cholerica) pasien belum jatuh dalam presyok Dehidrasi sedang (hilang cairan 5-8% BB). Turgor buruk, suara serak, pasien atuh dalamm presyok atau syok, nadi cepat, napas cepat dan dalam. Dehidrasi berat ( hilang cairan 8-10%) tanda dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun (apatis sampai koma), otot-otot kaku, sianosis. Dalam hal ini pasien harus di rawat inap dan memerlukan penanganan cepat seperti rehidrasi parenteral. PEMERIKSAAN FISIK Kelainan-kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat berguna dalam menentukan beratnya diare, dari pada menentukan penyebab diare. Status volume dengan memperhatikan perubahan ortostatik pada tekanan darah dan nadi, temperatur tubuh dan tanda toksisitas. Pemeriksaan abdomen yang seksama merupakan hal yang penting ada atau tidak adanya bising usus dan ada atau tidak adanya distensi abdomen dan nyeri tekan merupakan clue bagi penentu etiologi. Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa : berat badan, suhu tubuh, frekuensi denyut jantung dan pernafasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tanda-tanda utama dehidrasi : kesadaran, rasa haus dan turgor kulit abdomen dan tanda-tanda tambahan lainnya.2 Pernafasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asidosis metabolik. Bising usus yang lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemi. Pemeriksaan ekstrimitas perlu karena perfusi dan capillary refill dapat menentukan derajat dehidrasi yang terjadi.3 Simtom Minimal atau tanpa dehidrasi (Kehilangan BB <3 % ) baik Dehidrasi ringan-sedang (Kehilangan BB 3%- 9% ) Normal,lelah,gelisah,irri Dehidrasi berat Kehilangan BB> 9% Apatis,letargi,tidak

Kesadaran

denyut jantung kualitas nadi pernapasan Air mata Mulut dan lidah Cubitan kulit Capillary refill Ektremitas Kencing

Normal Normal Normal Ada Basah Segera kembali Normal

table Normal-meningkat Normal-melemah Normal-cepat Berkurang Kering Kembali < 2 detik Memanjang

sadar Takikardi,bradikar di pada kasus berat Lemah, kecil, tidak teraba Dalam Tidak ada Sangat kering

Kembali > 2 detik Memanjang,minim al Hangat Dingin Dingin, sianotik Normal Berkurang Minimal Tabel 1.Penentuan derajat dehidrasi menurut MMWR 2003

PEMERIKSAAN PENUNJANG Untuk diare yang berlangsung lebih dari beberapa hari atau diare dengan dehidrasi perlu dilakukan pemeriksaan penunjang seperti dibawah ini.1,4 1. Pemeriksaan darah tepi: kadar hemoglobin, hematokrit, hitung leukosit, hitung diferensial leukosit. Penting untuk mengetahui berat ringannya hemokonsentrasi darah dan respon leukosit. Contohnya pada diare karena Salmonella dapat terjadi neutropenia. Pada diare karena kuman yang bersifat invasif dapat terjadi shift to the left leukosit. 2. Elektrolit darah. Diperlukan untuk mengobservasi dampak diare terhadap kadar elektrolit darah. 3. Ureum dan kreatinin. Untuk memeriksa adanya kekurangan cairan dan mineral tubuh. Diperlukan untuk memonitor adanya gagal ginjal akut. 4. Pemeriksaan tinja untuk mencari penyebab diare. Pada infeksi bakteri, ditemukan leukosit pada tinja, memiliki leukosistosis dengan kelebihan darah putih. Dapat pula ditemukan telur cacing maupun parasit dewasa. Dapat pula dilakukan pengukuran toksin Closstridium difficile pada pasien yang telah mendapatkan terapi antibiotik dalam jangka waktu tiga bulan terakhir. Tinja dengan pH 5,5 menunjukkan adanya intoleransi karbohidrat yang umumnya terjadi sekunder akibat infeksi virus. Pada infeksi oleh organisme enteroinvasif, leukosit feses yang ditemukan umumnya berupa neutrofil. Tidak ditemukannya netrofil tidak mengeliminasi kemungkinan infeksi enteroinvasif, tetapi

ditemukannya

neutrofil

feses

mengeliminasi

kemungkinan

infeksi

organisme

enterotoksin dan virus. 5. Apabila ditemukan leukosit pada feses, lakukan kultur feses untuk menentukan apakah penyebab diare adalah Salmonella, Shigella, Campylobacter, atau Yersenia. 6. Pemeriksaan serologis untuk mencari amoeba. 7. Foto rontgen abdomen. Untuk melihat morfologi usus yang dapat membantu diagnosis. 8. Rektoskopi, sigmoideoskopi, dapat dipertimbangkan pada pasien dengan diare berdarah, pasien diare akut persisten. Pada pasien AIDS, kolonoskopi dipertimbangkan karena ada kemungkinan diare disebabkan oleh infeksi atau limfoma di area kolon kanan. Biopsy mukosa sebaiknya dilakukan bila dalam pemeriksaan tampak inflamasi berat pada mukosa. 9. Biopsi usus. Dilakukan pada diare kronik, atau untuk mencari etiologi diare pada AIDS. ETIOLOGI Penyebab gastroenteritis diantaranya yaitu:5 1. Makanan dan Minuman Kekurangan zat gizi; kelaparan (perut kosong) apalagi bila perut kosong dalam waktu yang cukup lama, kemudian diisi dengan makanan dan minuman dalam jumlah banyak pada waktu yang bersamaan, terutama makanan yang berlemak, terlalu manis, banyak serat atau dapat juga karena kekurangan zat putih telur. 2. Tidak tahan terhadap makanan tertentu (Protein, Hidrat Arang, Lemak) yang dapat menimbulkan alergi. Keracunan makanan Infeksi atau Investasi Parasit Bakteri, virus, dan parasit yang sering ditemukan: Vibrio cholerae, E. coli, Salmonella, Shigella, Compylobacter, Aeromonas. Enterovirus (Echo, Coxsakie, Poliomyelitis), Adenovius, Rotavirus, Astovirus. Beberapa cacing antara lain: Ascaris, Trichurius, Oxyuris, Strongyloides, Protozoa seperti Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Tricomonas hominis. Gastroenteritis yang disebabkan oleh virus berlangsung selama satu sampai dua hari. Sementara itu, gastroenteritis yang disebabkan oleh bakteri berlangsung dalam periode yang lebih lama.

3. Jamur (Candida albicans) 4. Infeksi diluar saluran pencernaan yang dapat menyebabkan Gastroenteritis adalah encephalitis (radang otak), OMA (Ortitis Media Akut radang dikuping), tonsilofaringitis (radang pada leher tonsil), Bronchopeneumonia (radang paru). 5. Perubahan udara Perubahan udara sering menyebabkan seseorang merasakan tidak enak dibagian perut, kembung, diare dan mengakibatkan rasa lemas, oleh karena cairan tubuh yang terkuras habis. 6. Faktor Lingkungan Kebersihan lingkungan tidak dapat diabaikan. Pada musim penghujan, dimana air membawa sampah dan kotoran lainnya, dan juga pada waktu kemarau dimana lalat tidak dapat dihindari apalagi disertai tiupan angin yang cukup besar, sehingga penularan lebih mudah terjadi. Persediaan air bersih kurang sehingga terpaksa menggunakan air seadanya, dan terkadang lupa cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Akibat Yang Dapat Terjadi: 1,3 Radang pada saluran cerna dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh, diare dengan berbagai macam komplikasi yaitu dehidrasi, baik ringan, sedang atau berat. Selain itu diare juga menyebabkan berkurangnya cairan tubuh (Hipovolemik), kadar Natrium menurun (Hiponatremia), dan kadar gula dalam tubuh turun (Hipoglikemik), sebagai akibatnya tubuh akan bertambah lemas dan tidak bertenaga yang dilanjutkan dengan penurunan kesadaran, bahkan dapat sampai kematian. Kondisi seperti ini akan semakin cepat apabila diare disertai dengan muntah-muntah, yang artinya pengeluaran cairan tidak disertai dengan masukkan cairan sama sekali. Pada keadaan tertentu, infeksi akibat parasit juga dapat menyebabkan perdarahan. Kuman mengeluarkan racun diaregenik yang menyebabkan hipersekresi (peningkatan volume buangan) sehingga cairan menjadi encer, terkadang mengandung darah dan lendir.4

Infeksi 1. Enteral Bakteri: Aeromonas, Campylobacter jejuni, E.coli patogen, Pseudomonas, Shigella sp.,
Salmonella sp., Staphylococcus aureus, Vibrio cholerae, dan Yersinia enterocolytica, V. parahaemoliticus, Streptococcus, Klebsiella, Proteus. Virus: Rotavirus, Norwalk virus, Norwalk like virus, cytomegalovirus (CMV), echovirus, virus HIV. Parasit: - Protozoa:Balantidium coli, Cryptosporidium parvum, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia. Cacing:A. lumbricoides, Cacing tambang, Trichuris trichiura, S. sternocalis, cestodiasis, dll. Fungus:Kandida/moniliasis.

2. Parenteral: infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan. Otitis media akut (OMA),
pneumonia. Travelers diarrhea: E. coli, Giardia lamblia, Shigella, Entamoeba histolytica dll. Makanan: Intoksikasi makanan: Makanan beracun atau mengandung logam berat, makanan mengandung bakteri/toksin: Clostrodium perfringens, B. cereus, S. aureus, Streptococcus anhaemolyticus, dll. Alergi: susu sapi, makanan tertentu. Malabsorpsi/maldigesti: karbohidrat: monosakarida (glukosa,laktosa,galaktosa), disakarida (sakarosa,laktosa), lemak: rantai panjang trigliserida protein: asam amino tertentu, celiacsprue gluten malabsorption, protein intolerance, cows milk, vitamin dan mineral. Imunodefisiensi: hipogamaglobulinemia, panhipogamaglobulinemia (Bruton), granulomatose kronik, defisiensi IgA, imunodefisiensi IgA heavycombination. Terapi obat. Antibiotik, kemoterapi, antacid dll. Tindakan tertentu seperti gastrektomi, gastroenterostomi, dosis tinggi terapi radiasi. Lain-lain: Sindrom Zollinger-Ellison,neuropati autonomic (neuropati diabetik). penyakit

Tabel 2. Etiologi diare akut EPIDEMIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO a. Epidemiologi Pada tahun 1995 diare akut karena infeksi sebagai penyebab kematian pada lebih dari 3 juta penduduk dunia. Kematian karena diare akut dinegara berkembang terjadi terutama pada anakanak berusia kurang dari 5 tahun, dimana dua pertiga diantaranya tinggal didaerah/lingkungan yang buruk, kumuh dan padat dengan sistem pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat, keterbatasan air bersih dalam jumlah maupun distribusinya, kurangnya sumber bahan makanan disertai cara penyimpanan yang tak memenuhi syarat, tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya fasilitas pelayanan kesehatan. Di Amerika Serikat dengan perbaikan sanitasi dan tingkat pendidikan, prevalensi diare karena infeksi berkurang. Data dariCenters for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa infeksi karena Salmonella, Shigella,

Listeria, Escherichia coli, dan Yersinia berkurang berkisar 20-30% berkat perhatian atas kebersihan dan keamanan makanan. Sementara di beberapa rumah sakit di Indonesia data menunjukkan diare akut karena infeksi masih menduduki peringkat pertama sampai dengan keempat pasien dewasa yang datang berobat ke rumah sakit. Beberapa faktor epidemiologis penting dipandang untuk mendekati pasien diare akut yang disebabkan oleh infeksi. Makanan atau minuman terkontaminasi, berpergian, penggunaan antibiotik, HIV positif atau AIDS, merupakan petunjuk penting dalam mengidentifikasi pasien beresiko tinggi untuk diare infeksi.1,3 Perantara (vehicle)
Air

Pathogen klasik
Vibriocholerae,Norwalk agent, Giardia lamblia, Cryptospordium species (termasuk makanan yang dicuci dengan air tersebut).

Makanan Unggas Salmonella, Campylobacter, dan Shigella spp. Sapi, juice buah yg tidak dipasteurisasi Enterohemoragic escherichia coli, Taenia saginata Cacing pita (tape worm) Babi Seafood dan kerang(termasuk sushi dan ikan V . c h o l e r a e , V . p a r a h a e m o l y t i c u s ; v i b r i o s p p , Salmonella spp., cacing pita, mentah) Hepatitis A,B,C. Listeria spp. Keju,susu Salmonella spp. Telur Staphylococcus dan Clostridium Mayoinase + makanan &cream Bacillus cereus Nasi goreng Cycklospora spp. Berrie segar Clostridium spp. Sayuran atau buah-buahan kaleng Enterohemorrhagic E. coli dan Salmonella spp. Kecambah Lingkungan Hewan ke manusia Manusia ke manusia (termasuk seksual kontak) Rumah sakit/antibiotik Kolam renang Wisatawan asing

Salmonella, Campylobacter, Cryptosporodium, Giardia spp. Semua bakteri enterik, virus, parasit. C. difficile Giardia dan Crytosporodium spp. E. coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Giardia,Entamoeba histolytica.

Tabel 3. Epidemiologi diare infeksi b. Faktor resiko2 1. Baru saja bepergian/melancong: ke negara berkembang, daerah tropis, kelompok perdamaian dan pekerja sukarela, orang yang sering berkemah (dasar berair).

2. Makanan atau keadaan makan yang tidak biasa: makanan laut dan shell fish, terutama yang mentah, restoran dan rumah makan cepat saji (fast food), banket dan piknik. 3. Homoseksual, pekerja seks, pengguna obat intravena, resiko infeksi HIV, sindrom usus homoseks (Gay bowel syndrome) sindrom defisiensi kekebalan didapat. 4. Baru saja menggunakan obat antimikroba pada institusi kejiwaan/mental, rumah perawatan, rumah sakit. PATOFISISOLOGI Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih dari patofisologi/patomekanisme sebagai berikut:3,4 1. Osmolaritas intraluminal yang meninggi, yang disebut diare osmotik 2. Sekresi cairan dan elektrolit meninggi, disebut diare sekretorik 3. Malabsorpsi asam empedu, malabsorpsi lemak 4. Defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit 5. Motilitas dan waktu transit usus abnormal 6. Gangguan permeabilitas usus 7. Inflamasi dinding usus, disebut diare inflamatorik 8. Infeksi dinding usus, disebut diare infeksi Diare osmotik: diare tipe ini disebabkan meningkatnya tekanan osmotik intralumen dari usus halus yang disebabkan oleh obat-obat/zat kimia yang hiperosmotik (a.l MgSO4, Mg(OH)2, malabsorpsi umum dan defek dalam absorpsi mukosa usus misal pada defisiensi dasakaridase, malabsorpsi glukosa/galaktosa. Diare sekretorik: diare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi air dan elektrolit dari usus, menurunnya absorpsi. Yang khas pada diare ini yaitu secara klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak sekali. Diare tipe ini akan tetap berlangsung walaupun dilakukan pusa makan/minum. Penyebab dari dire tipe ini antara lain karena efek enterotoksin pada infeksi Vibrio cholera, atau Escherichia coli, penyakit yang menghasilkan hormon (VIPoma), reseksi ileum (gangguan absorpsi garam empedu), dan efek obat laksatif (dioctyl sodium sulfosuksinat dll).2 Malabsorpsi asam empedu, malabsorpsi lemak: diare tipe ini didapatkan pada gangguan pembentukan/produksi micelle empedu dan penyakit-penyakit saluran bilier dan hati.

Defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit: diare tipe ini disebabkan adanya hambatan mekanisme transport aktif Na+ K+ ATP ase di enterosit dan absorpsi Na+ dan air yang abnormal. Motalitas dan waktu transit usus abnormal: diare tipe inidisebabkan hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga menyebabkan absorpsi yang abnormal di usus halus. Penyebab gangguan motilitas antara lain: diabetes mellitus, pasca vagotomi,hipertiroid. Gangguan permebiabilitas usus: diare ini disebabkan permeabilitas usus yang abnormal disebabkan adanya kelainan morfologi merman epitel spesifik pada usus halus. Inflamasi dinding usus ( diare inflamatorik): diare tipe ini disebabkan adanya kerusakan mukosa usus karena proses inflamasi, sehingga terjadi produksi mukus yang berlebihan dan eksudasi air dan elektrolit ke dalam lumen, gangguan absorpsi air-elektrolit,. Inflamasi mukosa usus halus dapat disebabkan infeksi (disentri Shigella) atau non infeksi (colitis ulseratif dan penyakit Chron).5 Diare infeksi: Infeksi oleh bakteri merupakan penyebab tersering dari diare. Dari sudut kelainan usus, diare oleh bakteri dibagi atas non-invasif (tidak merusak mukosa) dan invasif (merusak mukosa). Bakteri non-invasif menyebabkan diare karena toksin yang disekresi oleh bakteri tersebut, yang disebut diare toksigenik.Contoh diare toksigenik a.l kolera (Eltor). Enterotoksin yang dihasilkan kuman Vibrio cholera/eltor merupakan protein yang dapat menempel pada epitel usus, yang lalu membentuk adenosine monofospat siklik (AMF siklik) di dinding usus dan menyebabkan sekresi aktif anion klorida yang diikuti air, ion bikarbonat dan kation natrium dan kalium. Mekanisme absorpsi ion natrium melalui mekanisme pompa natrium tidak terganggu karena itu keluarnya ion klorida (diikuti ion bikarbonat, air, natrium, ion kalium) dapat dikompensasi oleh meningginya absorpsi ion natrium (diiringi oleh air, ion kalium, dan ion bikarbonat, klorida).Kompensasi ini dapat dicapai dengan pemberian larutan glukosa yang diabsorpsi secara aktif oleh dinding sel usus.2,3,5 Yang berperan pada terjadinya diare akut terutama karena infeksi yaitu faktor kausal (agent) dan faktor pejamu (host). Faktor pejamu adalah kemampuan tubuh untuk mempertahankan diri terhadap organisme yang dapat menimbulkan diare akut, terdiri dari faktorfaktor daya tangkis atau lingkungan internal saluran cerna a.l keasaman lambung, motilitas usus, imunitas juga lingkungan mikriflora usus. Faktor kausal yaitu daya penetrasi yang dapat merusak

sel mukosa, kemampuan memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan usus halus serta daya lekat kuman. Patogenesis diare karena infeksi bakteri/parasit terdiri atas: Diare karena bakteri non-invasif (enterotoksigenik).Bakteri yang tidak merusak mukosa misal V. cholera Eltor, Enterotoxigenic E. Coli (ETEC) dan C. perfringens. V. Cholera eltor mengeluarkan toksin yang terikat pada mukosa usus halus 15-30 menit sesudah diproduksi vibrio. Enterotoksin ini menyebabkan kegiatan berlebihan nikotinamid adenine dinukleotid pada dindidng sel usus, sehingga meningkatkan kadar adenosine 3, 5 siklik monofosfat (siklik AMP) dalam sel yang menyebabkan sekresi aktif anion klorida ke dalam lumen usus yang diikuti oleh air, ion bikarbonat, kation natrium dan kalium.1,4 Diare karena bakteri/parasit invasive (enterovasif).Bakteri yang merusak (invasif) antara lain Enteroinvasive E. coli (EIEC), Salmonella, Shigella, Yersinia, C. perfringens tipe C. Diare disebabkan oleh kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan ulserasi. Sifat diarenya sekretorik eksudatif. Cairan diare dapat tercampur lender dan darah. Walaupun demikian infeksi kumankuman ini dapat juga bermanifestasi sebagai diare koleriformis.Kuman Salmonella yang sering menyebabkan diare yaitu S. paratyphi B, S.typhimurium, S. enterritidis, S. choleraesuis. Penyebab parasit yang sering yaitu E. histolitika dan G. lamblia.

GEJALA KLINIS Penularan diare akut karena infeksi melalui transmisi fekal oral langsung dari penderita diare atau melalui makanan/minuman yang terkontaminasi bakteri patogen yang berasal dari tinja manusia/hewan atau bahan muntahan penderita. Penularan dapat juga berupa transmisi dari manusia ke manusia melalui udara (droplet infection) misalnya: rotavirus, atau melalui aktivitas seksual kontak oral-genital atau oral-anal.2 Diare akut karena infeksi bakteri yang mengandung/produksi toksin akan menyebabkan diare sekretorik (watery diarrhea) dengan gejala-gejala: mual, muntah, dengan atau tanpa demam yang umumnya ringan disertai atau tanpa nyeri/kejang perut, dengan feses lembek/cair. Umumnya gejala diare sekretorik timbul dalam beberapa jam setelah makan atau minuman yang terkontaminasi. Diare sekretorik yang berlangsung beberapa waktu tanpa penanggulangan medis yang adekuat dapat menyebabkan kematian karena kekurangan cairan yang mengakibatkan renjatan hipovolemik atau karena gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang lanjut. Karena

kehilangan cairan seseorang akan merasa haus, berat badan berkurang, mata menjadi cekung, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit turun, serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan deplesi air yang isotonik. Sedangkan kehilangan bikarbonat, menyebabkan perbandingan bikarbonat dan asam karbonat berkurang yang menyebabkan penurunan pH darah. Penurunan ini akan merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi napas menjadi lebih cepat dari biasa (pernapasan Kussmaul). Reaksi ini adalah usaha badan untuk mengeluarkan asam karbonat agar pH darah dapat kembali normal. Gangguan kardiovaskular pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan denga tanda-tanda denyut nadi yang cepat lebih dari 120x/mnt, tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, ujung-ujung eksterimitas dingin, dan kadang sianosis. Karena kehilangan kalium, pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung. Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun dengan sangat dan akan timbul anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatasi akan timbul penyulit berupa nekrosis tubulus ginjal akut, yang dapat mengakibatkan gagal ginjal akut.5 Sedangkan keadaan asidosis metabolik menjadi lebih berat, akan terjadi kepincangan pada pembagian darah dengan pemusatan darah yang lebih banyak dalam sirkulasi paru-paru. Observasi ini penting sekali karena dapat menyebabkan edema paru pada pasien yang menerima rehidrasi cairan intravena tanpa alkali. Bakteri yang invasif akan menyebabkan diare yang disebut sebagai diare inflamasi dengan gejala mual, muntah dan demam yang tinggi, disertai nyeri perut, tenesmus, diare disertai darah dan lendir. Pada diare akut karena infeksi, dugaan terhadap bakteri penyebab dapat diperkirakan berdasarkan anamnesis makanan atau minuman dalam beberapa jam atau hari terakhir, dan anamnesis/observasi bentuk diare. Yersinia dapat menginvasi mukosa ileum terminalis dan kolon bagian proksimal, dengan nyeri abdomen disertai nyeri tekan di regio titik Mc.Burney dengan gejala seperti apendisitis akut.2 Diare akut karena infeksi dapat disertai gejala-gejala sistemik lainnya seperti Reiterssyndrome (arthritis, uretritis, dan konjungtivitis) yang dapat disebabkan oleh Salmonella, Campylobacter, Shigella, dan Yersinia. Shigella dapat menyebabkan hemolytic-uremic syndrome. Diare akut dapat juga sebagai gejala utama beberapa infeksi sistemik antara lain hepatitis virus akut, listeriosis, legionellosis, dan toksik renjatan sindrom.3

DIAGNOSIS Untuk mendiagnosis pasien diare akut infeksi bakteri diperlukan pemeriksaan yang sistematik dan cermat. Kepada pasien perlu ditanyakan riwayat penyakit, latar belakang dan lingkungan pasien, riwayat pemakaian obat terutama antibiotik, riwayat perjalanan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Untuk mengetahui mikroorganisme penyebab diare akut dilakukan pemeriksaan feses rutin dan pada keadaan dimana feses rutin tidak menunjukkan adanya mikroorganisme. Indikasi pemeriksaan kultur feses antara lain, diare berat, suhu tubuh > 38,50C, adanya darah dan/atau lendir pada feses, ditemukan leukosit pada feses, laktoferin, dan diare persisten yang belum mendapat antibiotik.3,5. Beberapa petunjuk anamnesis yang mungkin dapat membantu diagnosis:1.) Bentuk feses (watery diarrhea atau inflammatory diare)2.)Makanan dan minuman 6-24 jam terakhir yang dimakan/minum oleh penderita.3.) Adakah orang lain sekitarnya menderita hal serupa, yang mungkin oleh karena keracunan makanan atau pencemaran sumber air.4.) Dimana tempat tinggal penderita.5.) Pola kehidupan seksual. Umumnya diare akut besifat ringan dan merupakan self-limited disease. Indikasi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut yaitu diare berat disertai dehidrasi, tampak darah pada feses, panas > 38,5oC, diare > 48 jam tanpa tandatanda perbaikan, kejadian luar biasa (KLB). Nyeri perut hebat pada penderita berusia > 50 tahun, penderita usia lanjut >70 tahun, dan pada penderita dengan daya tahan tubuh yang rendah.2 WORKING DIAGNOSIS Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah. Diare akut adalah diare yang onset gejalanya tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 14 hari, sedang diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari. Diare dapat disebabkan infeksi maupun non infeksi. Dari penyebab diare yang terbanyak adalah diare infeksi.Diare infeksi dapat disebabkan Virus, Bakteri, dan Parasit. Virus menjadi penyebab kasus kematian denna persentasi yang signifikan pada semua umur.4 Diare akut sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan, tidak saja di negara berkembang tetapi juga di negara maju.Penyakit diare masih sering menimbulkan KLB

(Kejadian Luar Biasa) dengan penderita yang banyak dalam waktu yang singkat.Dinegara maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat tetapi insiden diare infeksi tetap tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan. Di Inggris, 1 dari 5 orang menderita diare infeksi setiap tahunnya dan 1 dari 6 orang pasien yang berobat ke praktek umum menderita diare infeksi. Tingginya kejadian diare di negara Barat ini oleh karena foodborne infections dan waterborne infections yang disebabkan bakteri Salmonella spp, Campylobacter jejuni, Stafilococcus aureus, Bacillus cereus, Clostridium perfringens dan Enterohemorrhagic Escherichia coli (EHEC).1 Di negara berkembang, diare infeksi menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk setiap tahun.Di Afrika anak anak terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya di banding di negara berkembang lainnya mengalami serangan diare 3 kali setiap tahun. Di Indonesia dari 2.812 pasien diare yang disebabkan bakteri yang datang kerumah sakit penyebab terbanyak adalah Vibrio cholerae, diikuti dengan Shigella spp, Salmonella spp, V. Parahaemoliticus, Salmonella typhi, Campylobacter Jejuni, V. Cholera non-01, dan Salmonella paratyphi A. Faktor utama tingginya kejadian dan tingkat kematian karena diare akut adalah karena penggunan air yang tidak bersih, sanitasi yang tidak memenuhi sehingga memungkinkan penyebaran agen penginfeksi, dan/ atau kondisi fisiologis seperti malnutrisi yang menebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh sehingga memudahkan proses infeksi oleh agen penginfeksi.1 DEFFERENSIAL DIAGNOSIS Diagnosis banding diare akut perlu dibuat sehingga kita dapat memberikan pengobatan yang lebih baik. Pasien diare akut dapat dibagi atas diare akut yang disertai demam/ tinja berdarah dan diare akut yang yang tidak disertai demam/tinja berdarah2,4,5 Pasien diare akut disertai demam dan tinja berdarah Observasi umum: diare sebagai akibat mikroorganisme infasif, lokasi sering di daerah kolon, diarenya berdarah, sering tapi jumlah volume sedikit, sering diawai dengan diae air. Pathogen: 1). Shigella spp (disentri basiller, shigellosis), 2). Campylobacterjejuni, 3).Salmonella spp, Aeromonas hydrophila, V. parahemolyticus, Plesiomonas shigelloides, Yersinia. Diagnosis : 1) diferensiasi klinik sulit, terutama membedakan dengan penyakit usus inflamatorik idiopatik non infeksi, 2). Banyak leukosit di tinja (pathogen infasif), 3). Kultur tinja untuk

Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, 4).Darah tebal untuk malaria. Diare akut tanpa demam ataupun darah tinja Obeservasi umum : pathogen non invasive ( tinja air banyak banyak, tidak ada leukosit ada leukosit tinja), sering disertai nausea, kadang vomitus, lebih sering manifestasi dari diare turis (85% kasus), pada kasus kolera, tinja seperti cucian beras, sering disertai muntah. Pathogen : 1. ETEC, penyebab tersering dari diare turis, 2. Giardia lambia, 3. Rotavirus, virus Norwalk 4. Eksotoksin Preformed dari S.aureus, Bacillus cereus. Colistrodium prefingers (A), diare disebabkan toksin dikarakterisasi oleh lama inkubasi yang pendek 6 jam, 5. Penyebab lain : Vibrio parahemolyticus (ikan laut dan shell fish) yang tidak cukup didinginkan), Vibrio cholera (kolera), bahan toksik pada makanan, logam berat missal preservative kaleng, nitrit, pestisida, histamine pada ikan, jamur, cryptosporidium, isospora belli (biasa pada pasien HIV positif meskipun dapat terjadi juga pada manusia normal).4 Diagnois : tidak ada leukosit dalam tinja, kultur tinja ( sangat rendah pada diare air), tes untuk ETEC tidak biasa, tersedia pada laboratorium rutin, pemeriksaan parasit untuk tinja segar, sering pemeriksaan ulangan dibutuhkan untuk mendeteksi Giardia lambia. Diare osmotik Diare tipe ini disebabkan meningkatnya tekanan osmotik intralumen dari usus halus yang disebabkan oleh obat-obat/zat kimia yang hiperosmotik.Terjadi akibat asupan sejumlah makanan yang sukar diserap bahkan dalam keadaan normal atau pada malabsorbsi. Termasuk dalam kelompok pertama adalah sorbitol(ada dalam obat bebas gula dan permen serte buah-buahan tertentu), fruktosa (jeruk, lemon, berbagai buah, madu), garam magnesium (antasida, laktasif) serta anion yang sukar diserap seperti sulfat, fosfat atau sitrat. Zat yang tidak diserap bersifat aktif secara osmotic pada usus halus sehingga menarik air ke dalam lumen. Pada malabsorbsi karbohidrat, penurunan absorbsi Na di usus halus bagian atas menyebabkan penyerapan air menjadi berkurang .Aktivitas osmotik dari karbohidrat yang tidak diserap juga menyebabkan sekresi air. Akan tetapi, bakteri di dalam usus besar dapat memetabolisme karbohidrat yang tidak diserap hingga sekitar 80 g/hari menjadi asam organik yang berguna untuk menghasilkan energi, yang bersama-sama dengan air akan diserap di dalam kolon. Hanya gas yang dihasilkan dalam jumlah besar yang akan memberikan bukti terjadinya malabsorbsi karbohidrat. Namun, jika jumlah yang tidak diserap >80 g/hari atau bakteri usus dihancurkan oleh antibiotik, akan terjadi diare.3

Inflammatory Bowel Disease Istilah penyakit inflamasi usus (IBD) merujuk pada keadaan kolitis ulserativa (UC) dan penyakit Crohn (CD). Inflammatory bowel disease adalah suatu kondisi kronis yang tidak diketahui etiologinya, yang dicirikan oleh episode berulang dari nyeri perut, sering kali disertai dengan diare. Diare kronik disertai atau tanpa darah dan nyeri perut merupakan manifestasi klinis IBD yang paling umum dengan beberapa manifestasi ekstraintestinal seperti arthritis, uveitis, pioderma gangrenosum, eritema nodusum dan kolangitis. Di samping itu tentunya disertai gambaran keadaan sistemik yang timbul sebagai dampak keadaan patologis yang ada sebagai gangguan nutrisi. Irritable Bowel Syndrome Irritable bowel syndrome (IBS) adalah gangguan umum pada usus besar. IBS biasanya menyebabkan kejang, nyeri pada area perut, perut kembung, diare dan konstipasi. IBS tidak menyebabkan kerusakan permanen pada usus besar anda. Tidak seperti penyakit pencernaan lain yang lebih serius, IBS tidak menyebabkan kerusakan atau pembengkakan pada jaringan usus dan juga tidak meningkatnya risiko kanker usus. Tanda dan gejala IBS dapat bervariasi pada setiap orang dan sering menyerupai penyakit lain. Tanda dan gejala IBS antara lain : nyeri pada area perut, perut kembung, diare atau konstipasi terkadang bahkan keduanya, dan lendir pada tinja.5 PROGNOSIS Dengan penggantian cairan yang adekuat, perawatan yang mendukung, dan terapi antimikrobial jika diindikasikan, prognosis diare infeksius hasilnya sangat baik dengan morbiditas dan mortalitas yang minimal. Seperti kebanyakan penyakit, morbiditas dan mortalitas ditujukan pada anak-anak dan pada lanjut usia. Di Amerika Serikat, mortalits berhubungan dengan diare infeksius <1,0 %. Pengecualiannya pada infeksi EHEC dengan mortalitas 1,2 % yang berhubungan dengan sindrom uremik hemolitik.2,4 KOMPLIKASI Kehilangan cairan dan kelainan elektrolit merupakan komplikasi utama, terutama pada usia lanjut dan anak-anak. Pada diare akut karena kolera kehilangan cairan secara mendadak sehingga terjadi shock hipovolemik yang cepat. Kehilangan elektrolit melalui feses potensial mengarah ke hipokalemia dan asidosis metabolik.

Pada kasus-kasus yang terlambat meminta pertolongan medis, sehingga syok hipovolemik yang terjadi sudah tidak dapat diatasi lagi maka dapat timbul Tubular Nekrosis Akut pada ginjal yang selanjutnya terjadi gagal multi organ. Komplikasi ini dapat juga terjadi bila penanganan pemberian cairan tidak adekuat sehingga tidak tecapai rehidrasi yang optimal.3 Haemolityc uremic Syndrome (HUS) adalah komplikasi yang disebabkan terbanyak oleh EHEC. Pasien dengan HUS menderita gagal ginjal, anemia hemolisis, dan trombositopeni 12-14 hari setelah diare. Risiko HUS akan meningkat setelah infeksi EHEC dengan penggunaan obat anti diare, tetapi penggunaan antibiotik untuk terjadinya HUS masih kontroversi. Sindrom Guillain Barre, suatu demielinasi polineuropati akut, adalah merupakan komplikasi potensial lainnya dari infeksi enterik, khususnya setelah infeksi C. jejuni. Dari pasien dengan Guillain Barre, 20 40 % nya menderita infeksi C. jejuni beberapa minggu sebelumnya. Biasanya pasien menderita kelemahan motorik dan memerlukan ventilasi mekanis untuk mengaktifkan otot pernafasan. Mekanisme dimana infeksi menyebabkan Sindrom Guillain Barre tetap belum diketahui.2 Artritis pasca infeksi dapat terjadi beberapa minggu setelah penyakit diare karena Campylobakter, Shigella, Salmonella, atau Yersinia spp. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan dari diare akut antara lain : Rehidrasi .bila pasien keadaan umum baik tidak dehidrasi, asupan cairan yang adekuat dapat di capai dengan minuman ringan, sari buah, sup dan keripik asin. Bila pasien kelhilangan cairan yang banyak dan dehidrasi, penatalaksanaan yang agresif seperti pemberian intravena atau rehidrasi oral dengan cairan isotonic mengandung elektrolit dan gula atau starch harus di berikan. Terapi cairan oral murah dan lebih efektif daripada intravena. Cairan oral antara lain pedialit, oralit dll. Cairan diberikan 50-200mg/KgBB/24jam tergantung kebutuhan status hidrasi Jumlah cairan yang hendak diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan memakai cara:1 1. BJ plasma, dengan memakai rumus :

Kebutuhan cairan=

X Berat badan (Kg) X 4 ml

2. 3.

Metode Pierce berdasarkan keadaan klinis : Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan 5% X KgBB Dehidrasi sedang, kebutuhan cairan 8% X KgBB Dehidrasi berat, kebutuhan cairan 10% X KgBB Metode Daldiyono berdasarkan keadaan klinis yang diberi penilaian/skor
Skor 1 1 2 1 1 2 1 2 2 1 1 1 2 -1 -2

Klinis - rasa haus/muntah - Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg - Tekanan darah sistolik < 60 mmHg - Frekwensi Nadi > 120 x/menit - kesadaran apatis - Kesadaran somnolen, sopor atau koma - Frekwensi nafas > 30 x/menit - Facies cholerica - Vox cholerica - Turgor kulit menurun - Washers womans hand - Ekstremitas dingin - Sianosis - Umur 50-60 tahun - Umur > 60 tahun Tabel 4. Skor Penilaian Klinis Dehidrasi

Kebutuhan cairan =

X 10% X KgBB X 1 liter

Bila skor kurang dari 3 dan tidak ada syok, maka diberikan cairan peroral (sebanyak munkin dan sedikit demi sedikit). Bila skor lebih atau sama dengan tida atau disertai syok diberikan cairan intravena. Cairan rehidrasi dapat diberikan oral, enteral melalui selang, nasogastrik atau intravena. Bila dehidrasi sedang atau berat sebaiknya pasien diberikan cairan melalui infuse pembuluh darah. Pemberian oral diberikan larutan oralit yang hipotonik dengan komposisi 29 g glukosa, 3,5 g NaCl , 2,5 g Natrium Bikarbonat dan 1,5 g KCL setiap liter. Contoh oralit generic, renalyte, pharolit dll.1 a. Dua jam pertama saat (tahap rehidrasi inisial) : jumlah total kebutuhan cairan menurut rumus BJ plasma atau skor Daldiyono diberikan lagsung 2 jam ini agar terdapati rehidrasi optimal secepat mungkin. b. Satu jam berikut atau jam ke 3 (tahap kedua) pemberian diberikan berdasarkan kehilangan cairan selama 2 jam pemberian cairan rehidrasi inisial sebelumnya. Bila tidak ada syok atau skor Daldiyono kurang dari 3 dapat diganti cairan peroral.

c.

Jam berikutnya pemberian cairan diberikan berdasarkan kehilangan cairan melalui tinja dan Inseneible water loss (IWL)

Diet. Pasien diare tidak dianjurkan puasa kecuali muntah-muntah hebat.Pasien justru dianjurkan minum minuman sari buah, teh, minuman tak bergas, makanan mudah dicerna seperti, pisang, keripik dan sup.Susu sapi harus dihindarkan karna adanya defesiensi lactase transien yang disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri.Minuman berkafein dan alkohl harus dihindari karena dapat meningkatkan motilitas dan sekresi usus.1,2 Obat anti-diare. Obat-obat ini mengurangi gejala-gejala:2,3 a) yang paling efektif yaitu derivate opoid missal loperamide, difenoksilat-atropin dan tnktur opium. Loperamide paling disukai karena tidak addictive dan mempunyai efek samping kecil. Bismuth subsalisilat merupakan obat lain yang digunakan tetapi kontraindikasi pada pasien HIV Karen menimbulkan enseliphati Bismuth. Obat anti motiliyas penggunaannya harus hati-hati pada penderita disentri yang panas (termasuk infeksi Shigella) bila tanpa diesrtai antimikroba, karena dapat memperlama penyembuhan penyakit. b) Obat yang mengeraskan tinja Antapulgite 4x2 tab/hari, smectite 3x1 saset diberikan tiap diare /BAB encer sampai diare berhanti. c) Obat anti sekretorik atau enkephalinase, Hidrasec 3x1 tab/hari. Obat antimikroba.Karena kebanyakkan pasien memiliki penyakit yang ringan, self limited disease karena virus atau bakteri non-invasif, pengobatan empirik tidak dianjurkan pada semua pasien.Pengobatan empirik diindikasikan pada pasien-pasien yang di duga mengalami infeksi bakteri invasif, diare turis (travellers diarrhea) atau imunosupresif.Dapat dilihat pada tabel. Penyebab Shigellosis (serius) S. (para) typhi Terapi Siprofloksasin 500 mg 2 kali/hari; 3 hari Siprofloksasin 500 mg, 2 kali/hari; 10 hari (pilihan ke 1) Amoksisilin 750 mg 4 kali/hari; 14 hari (alternatif 1) Ko-trimoksazol 960 mg 2 kali/hari;14 hari (alternatif 2) Salmonellosis lain Siprofloksasin 500 mg, 2 kali/hari; 10 hari (pilihan ke 1) Amoksisilin 750 mg 4 kali/hari;(alternatif 1) Ko-trimoksazol 960 mg kali/hari;14 hari (alternatif 2) Campylobacter (keluhan Eritromisin 250 mg 4 kali/hari; 5 hari serius dan persisten) Klaritromisin 250 mg 4 kali/hari; 5 hari Yersinia Doksisiklin 200 mg hari ke-1;lalu 100 mg 1 kali hari; 4 hari

Ko-trimoksazol 960 mg 2 kali/hari;5 hari (alternatif 1) Siprofloksasin 500 mg 2 kali/hari; 5 hari (alternatif 2) Disentri amebik Tinidazol 2 g 1 kali/hari; 3 hari (pilihan ke 1) Metronidazol 750 mg 2 kali/hari; 5 hari (alternatif 1) (diikuti oleh diloksanid furoat 500 mg 3 kali/hari; 10 hari) Vibrio cholera Sifrofloksasin 1 g sekali sehari Vibrimisin 300 mg satu kali sehari Giardia lamblia Tinidazol 2 gr satu kali sehari Schistosoma spp Praziquantel 40 mg/kg sekali sehari Stongyloides stercoralis Albendazol 400 mg 1 kali/hari;3 hari Invermektin 150-200 mikrogram/kg satu kali sehari Tiabendazol 25 mg/kg 2 kali/hari (maks. 1500 mg per dos) Trichuris trichiura Mebendazol 100 mg 2 kali/hari, 3 hari Cryptosporidiosis sembuh Paromisin 500-1000 mg 3 kali/hari; 14 hari spontan dengan status Azitromisin 500 mg 1 kali/hari;3 hari imun normal. Jika pejamu immunocompromised dengan diare persisten Cyclospora Ko-trimoksazol 960 mg 3 kali/hari; 14 hari Isospora belli Ko-trimoksazol 960 mg 2 kali/hari; 14 hari Clostridium difficele Metronidazol 500 mg 3 kali/hari; 7-10 hari (jika Biasanya penyembuhan diperlukan) spontan setelah Vancomisin 125 mg 4 kali/hari; 7-10 hari (alternatif) menghentikan antibiotik
Catatan:Salmonella typhi multiresisten dan mikroorganisme multiresisten, terutama negara berkembang. Terapi dengan amoksisilin dan ko-trimokzasol tidak efektif di beberapa negara. Lama terapi antimikroba dalam literatur

Tabel 5. Pengobatan antimikroba (oral,dosis dewasa) PENCEGAHAN Karena penularan diare menyebar melalui jalur fekal-oral, penularannya dapat dicegah dengan menjaga higiene pribadi yang baik. Ini termasuk sering mencuci tangan setelah keluar dari toilet dan khususnya selama mengolah makanan. Kotoran manusia harus diasingkan dari daerah pemukiman, dan hewan ternak harus terjaga dari kotoran manusia.2 Karena makanan dan air merupakan penularan yang utama, ini harus diberikan perhatian khusus. Minum air, air yang digunakan untuk membersihkan makanan, atau air yang digunakan untuk memasak harus disaring dan diklorinasi.Jika ada kecurigaan tentang keamanan air atau air yang tidak dimurnikan yang diambil dari danau atau air, harus direbus dahulu beberapa menit sebelum dikonsumsi. Ketika berenang di danau atau sungai, harus diperingatkan untuk tidak menelan air.1

Semua buah dan sayuran harus dibersihkan menyeluruh dengan air yang bersih (air rebusan, saringan, atau olahan) sebelum dikonsumsi.Limbah manusia atau hewan yang tidak diolah tidak dapat digunakan sebagai pupuk pada buah-buahan dan sayuran.Semua daging dan makanan laut harus dimasak. Hanya produk susu yang dipasteurisasi dan jus yang boleh dikonsumsi. Wabah EHEC terakhir berhubungan dengan meminum jus apel yang tidak dipasteurisasi yang dibuat dari apel terkontaminasi, setelah jatuh dan terkena kotoran ternak. Vaksinasi cukup menjanjikan dalam mencegah diare infeksius, tetapi efektivitas dan ketersediaan vaksin sangat terbatas.Pada saat ini, vaksin yang tersedia adalah untuk V. colera, dan demam tipoid.Vaksin kolera parenteral kini tidak begitu efektif dan tidak direkomendasikan untuk digunakan.Vaksin oral kolera terbaru lebih efektif, dan durasi imunitasnya lebih panjang. Vaksin tipoid parenteral yang lama hanya 70 % efektif dan sering memberikan efek samping. Vaksin parenteral terbaru juga melindungi 70 %, tetapi hanya memerlukan 1 dosis dan memberikan efek samping yang lebih sedikit.Vaksin tipoid oral telah tersedia, hanya diperlukan 1 kapsul setiap dua hari selama 4 kali dan memberikan efikasi yang mirip dengan dua vaksin lainnya.1

PENUTUP
KESIMPULAN: Diare akut merupakan masalah yang sering terjadi baik di negara berkembang maupun negara maju. Sebagian besar bersifat self limiting sehingga hanya perlu diperhatikan keseimbangan cairan dan elektrolit. Bila ada tanda dan gejala diare akut karena infeksi bakteri dapat diberikan terapi antimikrobial secara empirik, yang kemudian dapat dilanjutkan dengan terapi spesifik sesuai dengan hasil kultur. Pengobatan simtomatik dapat diberikan karena efektif dan cukup aman bila diberikan sesuai dengan aturan. Prognosis diare akut infeksi bakteri baik, dengan morbiditas dan mortalitas yang minimal. Dengan higiene dan sanitasi yang baik merupakan pencegahan untuk penularan diare infeksi bakteri. Diare akut pada orang dewasa banyak ditemukan di klinik dalam praktek seharihari.Salah satu etiologinya adalah infeksi yang dapat disebabkan oleh berbagai organisme seperti virus, bakteri, protozoa, dan helminth.Pemahaman tentang patofisiologi diare akut dapat mengarahkan kita untuk mencari dan mengetahui etiologi dan memberikan terapi yang sesuai.Terapi simtomatik sebagai tambahan terhadap terapi kausal kadang diperlukan untuk mengurangi keluhan penderita yang mengganggu aktifitas sehari-hari akibat diare akut.

DAFTAR PUSTAKA 1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S, editor. 2006. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke-4. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2. Mansjoer, Arief. 2001. Kapita selekta kedokteran. Edisi 3. Jilid 1. Jakarta : FKUI 3. K Marcellius Simadibrata, Daldiyono. 2009. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing. 4. Umar Zein, Kholid, danJosia. 2004. Diare Akut Disebabkan Bakteri. Diunduh dari: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3371/1/penydalam-umar5.pdf. 21 Mei 2011. 5. Infeksi diare akut. 8 Mei 2011. Diunduh dari: http://www.infodiknas.com/diare-akutkarena-infeksi/. 21 Mei 2011.

PROBLEM BASED LEARNING

BLOK 14 MUSKULOSKELETAL 2
DIARE AKUT PADA DEWASA

EVI MELIA SUSAN 10 2009 121 B-6

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA Jln. Arjuna Utara no. 6 Kebon Jeruk, Jakarta 11510 Email: evimeliasusan@gmail.com