Anda di halaman 1dari 64

MEDICINUS 24(1), January 2011 1

Chief Editor Dr. Raymond R. Tjandrawinata


Executive Editor Dwi Nofarny, Pharm., Msc.
Editorial Staf dr. Della Manik Worowerdi
Cintakaweni, dr. Lydia Fransisca Hermina
Tiurmauli Tambunan, Liana W Susanto,
M biomed., dr. Lubbi Ilmiawan, dr. Novita
Pangindo Manoppo, dr. Prihatini, Puji
Rahayu, Apt., dr. Ratna Kumalasari, Tri Galih
Arviyani, SKom.
Peer Review Prof. Arini Setiawati, Ph.D,
Jan Sudir Purba, M.D., Ph.D, Prof. Dr. Med.
Puruhito, M.D., F.I.C.S., F.C.T.S, Prof. DR. Dr.
Rianto Setiabudy, SpFK
Editorial Ofce Titan Center, Lantai 5, Jalan
Boulevard Bintaro B7/B1 No. 05, Bintaro
Jaya Sektor 7, Tangerang 15224, Indonesia,
Tel. +62 21 7454 111, Fax. +62 21 7453111,
Email: medical@dexa-medica.com, Website:
www.dexa-medica.com
M
E
D
I
C
I
N
U
S
contents
Content
Perspective
Instructur for author
Leading article
Radikal Bebas dan Peran Antioksidan Dalam
Mencegah Penuaan
Original Article (Research)
Effect of DLBS3233, an Insulin Sensitizer, on
Fructose-Induced Insulin Resistance Rat
Bioactive Protein Fraction DLBS1033 Exerts its
Positive Pleiotropic effects in the Vascular Cells
via Down Regulation of Gene Expression
Profil Kepatuhan Terhadap Program
Terapi Obat pada Epilepsi Onset Anak-Anak
Original Article (Case Report)
Malaria pada HIV: Suatu Tantangan dalam
Diagnosis
Technology
Formulation Technology of Phytopharmaceu-
ticals
Pengaruh Bahan Tambahan atau Eksipien
dalam Sediaan Farmasi bagi Keamanan Terapi
Obat
Medical review
Laser for Pigmentary Disorders
Vasospasmus Puting Payudara pada Wanita
Menyusui
Meet the Expert: dr. Amaranila Lalita Drijono,
SpKK
Medical News
Tips
1
2
3
4
13
18
25
29
34
39
42
47
51
55
59
I
N
Contribution
Medicinus Editors accept participation in
form of writings, photographs and other
materials in accordance with the mission of
this journal. Editors reserve the right to edit
or modify the writings, particulary redaction-
ally without changing the content of the
published articles, if necessary.
MEDICINUS 24(1), January 2011
2
Perspective
K
etika tahun 2011 baru saja dimulai,
pada minggu pertama tahun ini, dunia
kedokteran digoncangkan oleh suatu
editorial opinion dari sebuah majalah kedok-
teran terkemuka di Inggris, British Medical
Journal (BMJ), yang menyatakan bahwa suatu
studi yang dipublikasi pada tahun 1998 di jur-
nal yang saat itu terkenal. The Lancet, adalah
suatu kebohongan publik belaka. Artikel yang
ditulis oleh dokter Andrew Wakefeld dan ka-
wan-kawannya dari sekolah kedokteran Royal
Field di Inggris, menyatakan bahwa pembe-
rian vaksin MMR yang banyak diberikan pada
anak-anak berhubungan dengan kejadian
autisme. Betapa tidak, setelah artikel tersebut
dipublikasi, banyak teori-teori bermunculan
yang mengaitkan kejadian autisme dengan
senyawa merkuri timerosal yang dibutuhkan
untuk menstabilkan vaksin. Kebanyakan teori-
teori ini dibuat oleh para pengacara-pengacara
pengambil kesempatan yang dengan sengaja
mencari keluarga-keluarga dengan anak autis
untuk kemudian melakukan gugatan class ac-
tion terhadap pabrik-pabrik penghasil vaksin.
Suatu artikel lain dipublikasikan dalam jur-
nal yang sama dan pada edisi yang sama, yang
ditulis oleh jurnalis Brian Deer, mengemukakan
problema dari riset yang dilakukan oleh dokter
Andrew Wakefeld. Ternyata, menurut peneli-
tian Deer, dokter Wakefeld mengubah banyak
fakta dalam catatan medis pasien dan memilih
pasien yang cocok untuk mendukung klaimnya
tentang hubungan antara vaksin MMR dengan
autisme. Menurut artikel Deer, dokter Wakefled
saat itu bahkan menjadi konsultan salah satu
kantor pengacara yang memang sedang mem-
perkarakan kejadian autisme pada anak-anak
di Inggris. Bahkan ternyata, 3 dari 9 anak yang
dilaporkan mempunyai kondisi autisme regresif,
ternyata tidak di diagnosa menyandang penya-
kit itu. Sampai saat ini, tidak ada satupun studi
epidemiologi yang berhasil membuktikan kai-
tan antara kejadian autisme dengan pemberian
vaksin MMR. Lebih jauh lagi, bahkan, tidak ada
satupun peneliti di dunia yang bisa mereplikasi
hasil yang dilaporkan Wakefeld.
Patut disayangkan hal ini dapat sampai
terjadi. Tentunya kejadian tersebut sangat me-
malukan bagi dunia kedokteran Inggris, Eropa
dan seluruh dunia. Problem etika yang ber-
hubungan dengan kepercayaan dan kejujuran
riset sangat disayangkan. Dunia riset adalah
dunia yang penuh kepercayaan dan kredibili-
tas. Moralitas peneliti harus selalu dijunjung
tinggi menurut etika riset. Tidak terhitung
berapa besar kerugian yang ditanggung oleh
keluarga dan juga perusahaan pembuat vaksin
tersebut. Contoh: sejak tahun 2004, imunisasi di
Inggris turun menjadi 80% karena artikel terse-
but. Di Amerika Serikat (AS), 40% dari orang tua
menunda pemberian vaksin bagi anak-anak
mereka. Kita lihat menurut data WHO, bahwa
angka kejadian campak mulai menanjak be-
lakangan ini termasuk di Indonesia. Bahkan
di Inggris campak sekarang menjadi endemik.
Negara bagian Kalifornia di AS mengalami
peningkatan kasus batuk rejan pada anak-anak
(7.800 kasus) dan kematian sepuluh bayi baru-
baru ini. Ini semua karena ketakutan orang tua
untuk memvaksinasi anaknya. Betapa besar
dampak kesehatan suatu negara dikarenakan
artikel yang tidak bertanggung jawab itu.
Pada akhirnya, peristiwa ini membawa kita
berpikir bahwa dalam profesi kesehatan, etika
harus senantiasa dijunjung tinggi, karena pro-
fesi ini berhubungan erat dengan hidup seorang
manusia. Kejujuran adalah harkat paling dasar
yang harus dijunjung tinggi oleh semua ilmuwan
dalam profesi apapun. Dalam melakukan riset,
seorang ilmuwan harus memastikan bahwa data-
data yang didapatkan adalah murni dari eksperi-
men/percobaan/perlakuan yang dilakukannya.
Setidaknya ada 6 area etika yang harus dipatuhi
oleh seorang ilmuwan: kejujuran, obyektivitas,
integritas, kehati-hatian, keterbukaan dan kera-
hasiaan. Dunia riset dibangun atas dasar fondasi
kepercayaan satu sama lain. Setiap ilmuwan harus
percaya bahwa data-data yang dilaporkan oleh
koleganya adalah sah. Masyarakat juga percaya
bahwa hasil suatu penelitian sudah merefeksikan
usaha yang jujur oleh seorang atau sekelompok
ilmuwan dalam memecahkan suatu masalah
secara apa adanya, akurat dan tanpa bias. Keper-
cayaan ini akan terbina bila komunitas ilmu be-
nar-benar berdedikasi dalam memastikan bahwa
nilai-nilai etika itu dijunjung tinggi olehnya dan
terefeksi dari hasil pekerjaannya.
Raymond R. Tjandrawinata, Ph.D., M.S., M.B.A., Farmakologi
Molekuler dan Chief Editor Jurnal Medicinus
MEDICINUS 24(1), January 2011 3
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS Editors receive original papers/articles of literature re-
view, research or case reports with original photographs in the feld
of Medicine and Pharmacy.
1. The article that is sent to the Editor are any papers/articles that
have not been published elsewhere in print. Authenticity and ac-
curacy of the information to be the responsibility of the author(s).
2. The paper should be type in MS Word program and sent to our
editorial staf via e-mail: medical@dexa-medica.com
3. Should be type with Times New Roman font, 12 point, double
space on quarto size paper (A4) and should not two side of print-
ing.
4. The paper should be max. 8 pages.
5. All type of articles should be completed with abstract and key-
word. Abstract should not exceed 200 words.
6. The title does not exceed 16 words, if more please make it into
sub title.
7. The authors name should be completed with correct address.
8. Please avoid using abbreviations, acronyms.
9. Writing system using a reference number (Vancouver style)
10. If there are tables or images please be given a title and descrip-
tion.
11. The papers that have been edited if necessary will be consulted
to the peer reviewer.
12. The papers should be given with data of the authors / curriculum
vitae, and the email address (if any), telphone number / fax that
can be contacted directly.
ARTICLES IN JOURNALS
1. Standard journal article
Vega KJ, Pina I, Krevsky B. Heart transplantation is associated with
an increased risk for pancreatobiliary disease. Ann Intern Med
1996; 124(11):980-3. More than six authors: Parkin DM, Clayton
D, Black RJ, Masuyer E, Freidl HP, Ivanov E, et al. Childhood leu-
kaemia in Europe after Chernobyl: 5 years follow-up. Br J Cancer
1996; 73:1006-12
2. Organization as author
The Cardiac Society of Australia and New Zealand. Clinical Ex-
ercise Stress Testing. Safety and performance guidelines. Med J
Aust 1996; 164:282-4
3. No author given
21st century heart solution may have a sting in the tail. BMJ 2002;
325(7357):184
4. Article not in English
Ryder TE, Haukeland EA, Solhaug JH. Bilateral infrapatellar
seneruptur hos tidligere frisk kvinne. Tidsskr Nor Laegeforen
1996; 116:41-2
5. Volume with supplement
Shen HM, Zhang QE. Risk assessment of nickel carcinogenicity
and occupational lung cancer. Environ Health Perspect 1994; 102
Suppl 1:275-82
6. Issue with supplement
Payne DK, Sullivan MD, Massie MJ. Womens psychological reac-
tions to breast cancer. Semin Oncol 1996; 23(1 Suppl 2):89-97
7. Volume with part
Ozben T, Nacitarhan S, Tuncer N. Plasma and urine sialic acid in
non-insulin dependent diabetes mellitus. Ann Clin Biochem
1995;32(Pt 3):303-6
8. Issue with no volume
Poole GH, Mills SM. One hundred consecutive cases of fap lacera-
tions of the leg in ageing patients. N Z Med J 1990; 107(986 Pt
1):377-8
9. Issue with no volume
Turan I, Wredmark T, Fellander-Tsai L. Arthroscopic ankle arthrod-
esis in rheumatoid arthritis. Clin Orthop 1995; (320):110-4
10. No volume or issue
Browell DA, Lennard TW. Immunologic status of the cancer pa-
tient and the efects of blood transfusion on antitumor responses.
Curr Opin Gen Surg 1993:325-33
11. Pagination in roman numerals
Fischer GA, Sikic BI. Drug resistance in clinical oncology and he-
matology. Introduction Hematol Oncol Clin North Am 1995; Apr;
9(2):xi-xii
BOOKS AND OTHER MONOGRAPHS
12. Personal author(s)
Ringsven MK, Bond D. Gerontology and leadership skills for nur-
ses. 2
nd
ed. Albany (NY):Delmar Publishers; 1996
13. Editor(s), compiler(s) as author
Norman IJ, Redfern SJ, editors. Mental health care for eldery peo-
ple. New York:Churchill Livingstone; 1996
14. Organization(s) as author
Institute of Medicine (US). Looking at the future of the medicaid
program. Washington:The Institute; 1992
15. Chapter in a book
Note: This Vancouver patterns according to the page marked with
p, not a colon punctuation like the previous pattern).
Phillips SJ, Whisnant JP. Hypertension and stroke. In: Laragh JH,
Brenner BM, editors. Hypertension: Patophysiology, Diagnosis
and Management. 2
nd
ed. New York:Raven Press; 1995.p.465-78
16. Conference proceedings
Kimura J, Shibasaki H, editors. Recent Advances in clinical neu-
rophysiology. Proceedings of the 10
th
International Congress of
EMG and Clinical Neurophysiology; 1995 Oct 15-19; Kyoto, Japan.
Amsterdam:Elsevier; 1996
17. Conference paper
Bengstsson S, Solheim BG. Enforcement of data protection, pri-
vacy and security in medical information. In: Lun KC, Degoulet P,
Piemme TE, editors. MEDINFO 92. Proceedings of the 7
th
World
Congress on Medical Informatics; 1992 Sep 6-10; Geneva, Swit-
zerland. Amsterdam:North-Hollan; 1992.p.1561-5
18. Scientifc or technical report
Issued by funding/sponsoring agency:
Smith P, Golladay K. Payment for durable medical equipment billed
during skilled nursing facility stays. Final report. Dallas(TX):Dept.
of Health and Human Services (US), Ofce of Evaluation and In-
spections; 1994 Oct. Report No.: HHSIGOEI69200860
Issued by performing agency:
Field MJ, Tranquada RE, Feasley JC, editors. Health Services Re-
search: Work Force and Education Issues. Washington:National
Academy Press; 1995. Contract No.: AHCPR282942008. Spon-
sored by the Agency for Health Care Policy and Research
19. Dissertation
Kaplan SJ. Post-hospital home health care: The elderys access
and utilization [dissertation]. St. Louis (MO): Washington Univer-
sity; 1995
20. Newspaper article
Lee G. Hospitalizations tied to ozone pollution: study estimates
50,000 admissions annually. The Washington Post 1996 Jun 21;
Sept A:3 (col.5)
21. Audiovisual material
HIV + AIDS: The facts and the future [videocassette]. St. Louis
(MO): Mosby-Year Book; 1995
ELECTRONIC MATERIAL
22. Journal article on the Internet
Abood S. Quality improvement initiative in nursing homes: the
ANA acts in an advisory role. Am J Nurs [serial on the Internet].
2002 Jun [cited 2002 Aug 12]; 102(6):[about 3 p.]. Available from:
http://www.nursingworld.org/AJN/2002/june/Wawatch.htm
23. Monograph on the Internet
Foley KM, Gelband H, editors. Improving palliative care for can-
cer [monograph on the Internet]. Washington: National Academy
Press; 2001 [cited 2002 Jul 9]. Available from: http://www.nap.
edu/books/0309074029/html/
24. Homepage/Web site
Cancer-Pain.org [homepage on the Internet]. New York: Associa-
tion of Cancer Online Resources, Inc.; c2000-01 [updated 2002
May 16; cited 2002 Jul 9]. Available from: http://www.cancer-
pain.org/
25. Part of a homepage/Web site
American Medical Association [homepage on the Internet]. Chi-
cago: The Association; c1995-2002 [updated 2001 Aug 23; cited
2002 Aug 12]. AMA Ofce of Group Practice Liaison; [about 2
screens]. Available from: http://www.ama-assn.org/ama/pub/
category/1736.html
26. CD-ROM
Anderson SC, Poulsen KB. Andersons electronic atlas of hema-
tology [CD-ROM]. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins;
2002
Instruction for authors
MEDICINUS 24(1), January 2011
4
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
Leading article
Leading article
Radikal Bebas dan Peran Antioksidan
dalam Mencegah Penuaan
PENDAHULUAN
Adanya kaitan antara kesehatan dengan diet ber-
imbang sudah lama disadari, bahkan jauh sebelum
era Hipocrates (460-377 BC).
1
Diet yang kaya akan
buah dan sayur terbukti dapat mengurangi risiko
penyakit, khususnya kanker dan kardiovaskular
serta mampu menunda penuaan. Sayur dan buah
mengandung berbagai mikronutrien diantaranya
vitamin C, E, -karoten (prekursor vitamin A) dan
lainnya yang bersifat antioksidan (AO).
1,2
Karena
senyawa ini merupakan mikronutrien esensial, (ti-
dak dapat diproduksi oleh tubuh) maka harus dida-
pat dari konsumsi.
3,4

Penuaan merupakan proses alamiah dalam
kehidupan manusia. Menua erat kaitannya de-
ngan berbagai proses degeneratif.
5,6
Banyak teori
diajukan dan berbagai penelitian dilakukan untuk
mencegah penuaan. Terjadinya radikal bebas akibat
proses oksidatif merupakan teori yang paling sering
dianut.
7
Beragam cara diupayakan untuk mencegah
ataupun memperbaiki dampak penuaan. Penggu-
naan AO merupakan salah satu upaya yang sering
dilakukan untuk mencegah penuaan atau setidak-
nya menua secara sehat.
Pada tinjauan pustaka ini akan dibahas ten-
Ari Muhandari Ardhie
Klinik Kulit dan Kelamin, RSAB Harapan Kita, Jakarta
tang radikal bebas dan peran AO dalam bidang
kesehatan untuk mencegah penuaan, khususnya
penuaan kulit yang secara klinis relatif lebih mu-
dah diamati. Kulit merupakan organ terluas (1,5-2
m
2
) yang merupakan barier bagi berbagai organ
dalam, yang menghadapi kontak langsung de-
ngan lingkungan, termasuk pajanan matahari.
8,9

Penuaan kulit merupakan salah satu dampak
negatif, namun terjadinya kanker merupakan
dampak yang terberat.
4
Radikal Bebas, Stres Oksidatif dan Penuaan
Pada tahun 1983, Majid Ali mengajukan teori spon-
taneity of oxidation (SO) sebagai model dalam pro-
ses penuaan. Teori ini didasari oleh beragam teori.
Tiga teori yang utama diantaranya adalah:
(1) protein cross-linkage theory of aging by Johan
Bjorksten;
(2) free radical theory of aging Denham Harman;
(3) immune theory of aging Roy Walford.
10


Di antara berbagai teori tersebut, teori radikal
bebas yang pertama kali diajukan oleh Harmon
tahun 1956, merupakan teori yang paling banyak
dibahas dan berbagai penelitian telah dilakukan
ABSTRAK
Diet berimbang sudah lama disadari dapat mengurangi risiko pe-
nyakit. Beragam buah dan sayur diketahui dapat mencegah penya-
kit, khususnya kanker dan kelainan kardiovaskular serta mampu
menunda penuaan. Hal ini karena kandungan berbagai mikronu-
triennya antara lain vitamin C, E, -karoten dan lainnya yang ber-
sifat antioksidan (AO). Karena merupakan mikronutrien esensial
maka harus didapat dari konsumsi sehari-hari.
Penuaan merupakan proses alamiah yang erat kaitannya dengan
berbagai proses degeneratif. Terjadinya radikal bebas akibat pro-
ses oksidatif merupakan dasar teori yang paling sering dianut. AO
merupakan salah satu upaya yang sering dilakukan untuk mence-
gah penuaan.
Kata kunci: radikal bebas, proses oksidatif, antioksidan, penuaan
A healthy diet may help to maintain general health, may lower
disease risks especially cancer and cardiovascular diseases and
prevent aging process. Antioxidant-rich fruits and vegetables
contain essensial micronutrients such as vitamine C, E, -karoten.
The free radical theory of aging has long been discussed and de-
bated. Aging as a natural process is believed to be a consequence
of degenerative process linked to oxidative stress. Antioxidant
supplement is one of the methods used to prevent aging.
Key word: free radicals, oxidative process, antioxidants, aging
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
5
para ilmuwan lainnya.
7,8,11-13

Radikal bebas diartikan sebagai molekul yang
mempunyai satu atau lebih elektron yang tidak ber-
pasangan di orbit luarnya sehingga relatif tidak sta-
bil.
4,8,14,15
Untuk mendapatkan kestabilannya, mole-
kul yang bersifat reaktif tersebut mencari pasangan
elektronnya, sehingga disebut juga sebagai reactive
oxygen species (ROS). Mekanismenya dapat dengan
donasi, meski umumnya dengan mencuri dari sel
tubuh lain.
7

Terdapat 2 jenis ROS, yakni:
(1) molekul oksigen dengan elektron yang tidak
mempunyai pasangan dan,
(2) molekul oksigen tunggal.
16

Molekul yang termasuk ke dalam radikal bebas
tipe 1 diantaranya ialah anion superoksida (+O
2-
),
radikal hidroksil (OH
-
), dan radikal peroksil lipid
(LOO). +O
2-
merupakan molekul reaktif yang perta-
ma terbentuk saat metabolisme lipid dan protein,
untuk selanjutnya dapat dikonversi menjadi hid-
rogen peroksida (H
2
O
2
) atau dimetabolisme oleh
sistem enzim. H
2
O
2
merupakan oksidan yang relatif
lemah, namun mampu menginisiasi reaksi oksida-
tif dan membentuk spesies radikal bebas.
5
Peruba-
han bentuk H
2
O
2
menjadi OH terjadi melalui reaksi
yang dikatalisasi oleh metal transisi (Fe
2+
atau Cu
+
).
ROS dapat mengakibatkan disfusi sel akibat peng-
ambilan elektron dari komponen lipid, protein, dan
DNA. Saat sel tubuh kehilangan elektronnya, maka
sel tersebut juga akan menjadi radikal bebas yang
akan memulai rangkaian proses serupa berikutnya.
Hal ini akan berujung pada kerusakan sel termasuk
penuaan kulit.
4,16

Radikal bebas terbentuk selain secara alamiah
melalui sistem biologis tubuh, juga berasal dari
lingkungan. Reaksi infamasi maupun pada setiap
respirasi di mitokondria, akan menghasilkan oksi-
dan. Kelebihan gizi juga merupakan faktor pemicu
internal. Hal ini karena saat dimetabolisme, disam-
ping energi juga akan dihasilkan radikal bebas. Se-
dangkan sebagai faktor eksternal antara lain sinar
ultraviolet matahari antara pukul 10.0015.00, po-
lusi asap rokok dan pabrik, emisi kendaraan bermo-
tor maupun konsumsi alkohol.
4,6,7,17
Stres oksidatif adalah ketidakseimbangan
antara radikal bebas dan AO yang dipicu oleh dua
kondisi umum yakni kurangnya AO dan kelebihan
produksi radikal bebas. Berbagai enzim pada sel
dan proses metabolik yang terkontrol, akan men-
jaga agar kerusakan oksidatif ditingkat sel tetap
minimal. Pada saat produksi ROS meningkat, maka
kontrol protektif tidak akan mencukupi sehinggu
memicu kerusakan oksidatif.
18
Kondisi ini akan
memberi dampak berupa kerusakan oksidatif mu-
lai dari tingkat sel, jaringan hingga ke organ tubuh,
menyebabkan terjadinya percepatan proses penu-
aan dan munculnya beragam penyakit.
Penuaan dapat diartikan sebagai penumpukan
kerusakan,
13
maupun penurunan fungsi biologis
dan kemampuan organisme untuk beradaptasi ter-
hadap stres metabolik.
11
Berbagai penyakit yang telah diteliti dan di-
duga kuat berkaitan dengan aktivitas radikal
bebas antara lain adalah stroke, asma, diabetes
melitus, radang usus, penyumbatan kronis pem-
buluh darah di jantung, penyakit Parkinson, dan
lainnya.
5,6,19
PENUAAN KULIT
Proses menua pada kulit dibedakan atas:
20
1. Proses menua intrinsik yakni proses menua ala-
miah yang terjadi sejalan dengan waktu. Proses
biologic/genetic clock yang berperan dalam me-
nentukan jumlah multiplikasi pada setiap sel
sampai sel berhenti membelah diri dan kemudi-
an mati, diyakini merupakan penyebab penua-
an intrinsik.
2. Proses menua ekstrinsik yakni proses menua
yang dipengaruhi faktor eksternal yaitu pajanan
sinar matahari berlebihan (photoaging), polusi,
kebiasaan merokok, dan nutrisi tidak berim-
bang. Pada penuaan ekstrinsik, gambaran akan
lebih jelas terlihat pada area yang banyak terpa-
jan matahari.
Kedua tipe proses menua ini berkontribusi pada
terjadinya penuaan pada kulit.
8,11

Photoaging
Kulit merupakan organ tubuh yang secara lang-
sung terpajan sinar UV dari matahari.
9,13,18,21,22
Secara
in vitro diketahui bahwa bergantung dari panjang
gelombangnya, radiasi UV merupakan inisiator
pembentukan ROS pada kulit. Berdasarkan panjang
gelombangnya, sinar UV dibedakan atas UVA (320-
400 nm), UVB (290-320 nm) dan UVC (200-290 nm).
Sinar UV yang dapat mencapai bumi dan kulit ha-
nyalah 5-10% UVB dan 90-95% UVA karena sebagi-
an besar UVB dan UVC akan ditahan oleh lapisan
ozon.
14,15,18
Selain faktor lapisan ozon, jumlah sinar
UV juga dipengaruhi oleh faktor musim, ketinggian,
garis lintang dan waktu pajanan.
23

Sinar UVB terutama memicu produksi anion su-
peroksida (+O
2-
) melalui aktivasi nicotinamide ade-
nin dinucleotide phosphate (NADPH) oksidase dan
rantai reaksi pernafasan di mitokondria. Sedangkan
UVA terutama memicu terbentuknya 1O
2
. Selain
Leading article
MEDICINUS 24(1), January 2011
6
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
Leading article
melalui aktivasi NADPH oksidase, 1O
2
juga diben-
tuk melalui reaksi fotokimiawi saat UVA diabsorpsi
oleh ribofavin dan porfrin.
16
Kromofor adalah ber-
bagai substansi pada kulit yang mampu menyerap
UV.
4,8,14,16
Sinar UVB yang diserap oleh DNA, akan
menyebabkan kerusakan langsung, sedangkan kro-
mofor penyerap UVA akan menimbulkan kerusakan
melalui pembentukan ROS.
8,14,15,23
Oksigen tunggal
yang merupakan ROS utama di permukaan kulit
ini, dapat menyerang membran sel dan selanjutnya
membentuk ROS yang baru.
16
Proses oksidasi pada lipid dan protein yang di-
timbulkannya akan menyebabkan stres oksidatif se-
luler dan kerusakan DNA, serta menyebabkan ber-
bagai kelainan pada kulit. Diperkirakan setiap hari
terjadi kerusakan DNA pada setiap sel manusia aki-
bat 10.000 reaksi oksidasi. Reaksi ini akan berdam-
pak terhadap berbagai proses kerusakan kulit antara
lain photoaging, imunomodulasi, melanogenesis,
dan fotokarsinogenesis.
9,12
Terhadap melanosit, ROS dapat menyebabkan
efek paradoksikal karena dapat menimbulkan de-
pigmentasi maupun hiperpigmentasi, meskipun
mekanismenya masih belum diketahui pasti. Vitili-
go merupakan contoh terjadinya degenerasi mela-
nosit akibat stres oksidatif. Di sisi lain, kerusakan
DNA yang menstimulasi produksi pigmen pada
sel melanosit melalui peningkatan kadar tirosinase
akan memicu pigmentasi.
16

Terhadap kolagen, ROS akan mengaktifkan
matrix metalloproteinase (MMP), suatu enzim yang
berperan dalam degradasi matriks ekstraselular
dan penurunan sintesis kolagen.
16
Selain itu radiasi
UV juga memicu penurunan ekspresi transforming
growth factor B (TGF-B) pada epidermis dan dermis
yang merupakan promotor sintesis kolagen.
11
Hal
itu yang menjelaskan terjadinya keriput pada kulit
yang mengalami photoaging.
Terdapat perbedaan gambaran klinis penuaan
kulit pada kulit putih dibandingkan kulit Asia dan
Afrika. Pada ras Asia, melasma lebih menonjol diban-
dingkan keriput, yang umumnya baru akan muncul
pada dekade keenam, khususnya pada kelompok
yang banyak terpajan matahari.
20
Photodamage ber-
beda pada masing-masing ras, yang dipengaruhi
oleh faktor genetik dan jumlah pajanan sinar UV.
24

Perbedaan ini terutama ditentukan oleh sistem per-
tahanan terhadap UV. Pada ras Asia dan Afrika mela-
nin merupakan faktor utama. Sedangkan pada kulit
putih melanin kurang berperan dibandingkan peran
penebalan stratum korneum.
20

Antioksidan
AO adalah molekul yang mampu menghambat ok-
sidasi dari molekul oksidan.
19
Oksidasi merupakan
reaksi kimia yang memindahkan elektron dari satu
substansi ke agen oksidan. Sebagai pertahanan
terhadap kerusakan oksidatif, maka sel dilengkapi
dengan berbagai jenis AO yang akan bekerja mela-
lui beragam mekanisme.
16
Integritas selular diper-
tahankan oleh berbagai AO enzimatik antara lain
katalase, glutation peroksidase (GPX) dan glutation
reduktase (GRD) yang akan menahan dampak nega-
tif H
2
O
2
. Superoksida dismutase (SOD) merupakan
pelindung area ekstraseluler dari dampak nega-
tif (+O
2
-). Sedangkan sistem AO nonenzimatik akan
mempertahankan membran sel. Dalam hal ini ter-
masuk glutation dan asam askorbat (vitamin C) di
fase air serta -tokoferol (vitamin E) dan ubiquinol
(CoQ
10
) di fase lipid.
4
AO dalam sistem biologis,
dibedakan atas:
5,6,9,14,15,21

Sistem AO enzimatik: SOD, katalase, GPX, GRD,
Glukosa6 fosfat dehidrogenase (G6PD), sistem si-
tokrom oksidase, peroksidase.
(a) Sistem AO nonenzimatik:
Senyawa yang terbentuk in vivo seperti glu-
tation, albumin, transferin/laktoferin/serulo-
plasmin, feritin, sistein, bilirubin, dan lainnya
Senyawa yang digolongkan mikronutrien e-
sensial yakni karotenoid (-karoten), vitamin
E, vitamin C, dan sebagainya.
Berdasarkan mekanisme pertahanannya,
dibedakan atas:
25

1. Mekanisme pertahanan AO primer/chain break-
ing /scavenger antioxidants adalah menetralisir
radikal bebas dengan mendonasikan satu elek-
tronnya. Molekul AO yang telah kehilangan 1
elektronnya akan menjadi radikal bebas yang
baru, namun dianggap relatif stabil atau akan
dinetralisir oleh AO lainnya. Contoh AO tipe
ini ialah vitamin E,
16
vitamin C,
7
asam lipoat
(ALA),5 CoQ10, favonoid, asam urat dan bi-
lirubin.
19
2. Mekanisme pertahanan AO sekunder/preven-
tive antioxidants bekerja dengan mengikat
logam, menyingkirkan berbagai logam transisi
pemicu ROS, dan menyingkirkan ROS. Contoh
AO tipe ini ialah transferin, laktoferin, serulo-
plasmin, dan albumin.
19

3. Mekanisme pertahanan tersier dilakukan untuk
mencegah penumpukan biomolekul yang telah
rusak agar tidak menimbulkan kerusakan lebih
lanjut. Misalnya kerusakan DNA akan diperbaiki
oleh enzim metionin sulfaoksida reduktase, pro-
tein yang teroksidasi akan diproses oleh sistem
enzim proteolitik dan lipid teroksidasi oleh li-
pase, peroksidase dan sebagainya.
25
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
7
AO juga dapat dibedakan berdasarkan kelaru-
tannya. AO yang larut dalam lemak misalnya vi-
tamin A dan vitamin E dan CoQ10. AO yang larut
dalam air antara lain vitamin C dan glutation. Se-
dangkan ALA merupakan AO yang larut dalam le-
mak dan air.
7
Lebih lanjut AO juga dapat dibedakan atas:
25
a. AO alamiah misalnya favonoid, kumarin, asam
fenolat, asam linoleat, omega3, vitamin E,
-karoten, vitamin C, dan lainnya.
b. AO farmakologis/sintetik antara lain: probu-
kol, inhibitor xantin oksidase (alopurinol, asam
folat), SOD, katalase, NADPH inhibitors (ad-
enosin, calcium channel blockers), AO endogen
hasil akitivitas glutation peroksidase (glutation,
asetilsistein), inhibitor siklus redoks besi (de-
feroksmin, apotransferin, seruloplasmin), anti-
infamasi nonsteroid, oral antidiabetik (misalnya
metformin), statin (misalnya simvastatin), ome-
prazole, dan sebagainya.
Terdapat 2 strategi guna meredam dampak
negatif oksidan, yakni mencegah menumpuknya
senyawa oksidan dan mencegah rantai reaksi ber-
kelanjutan. Itu sebabnya, agar dapat bekerja secara
optimal maka diperlukan kerjasama sistem AO.
Hindari penggunaan AO tunggal sebagai pana-
cea.
13
Dalam industri kosmetik, dikenal istilah net-
work antioxidants yang bekerja sinergistik untuk
regenerasi dan saling meningkatkan kekuatan ma-
sing-masing. Baumann (2002), menyatakan bahwa
terdapat 5 jenis network AO yakni, vitamin A dan C,
ALA, glutation dan CoQ10.
7

Berdasarkan cara pemberiannya, AO dapat
diberikan secara sistemik (oral maupun injeksi) dan
topikal.
4,7,13,20
Keuntungan pemberian secara oral
antara lain mudah dilakukan, tidak seperti terapi
topikal yang dipengaruhi oleh kondisi keringat atau
basah. Kelebihan lainnya, karena memberi efek sis-
temik dan mudah dikombinasikan dengan strategi
proteksi lainnya.
15
Adanya kelebihan berupa efek sis-
temik yang terjadi, akan memberi nilai tambah bila
diingat bahwa dampak negatif UV bersifat menye-
luruh. Selain itu perlindungan juga dapat mencapai
dermis, area tempat penuaan juga terjadi.
21
Beberapa jenis AO
Terdapat beberapa jenis vitamin, 2 diantaranya
adalah vitamin terapeutik (yakni vitamin A dan vi-
tamin D) dan lainnya adalah vitamin AO (vitamin A
dan E). Di samping itu ada beberapa vitamin lainnya
(misalnya vitamin D, B dan K),
3,24
dan mikronutrien
(antara lain mineral zinc, selenium) serta karotenoid
dan favonoid yang berperan penting dalam ke-
hidupan.
24,26
Vitamin C
Vitamin C merupakan AO yang larut dalam air, per-
tama kali diisolasi oleh Scent-Gyorgyi pada tahun
1928.
24
Senyawa ini banyak dijumpai pada sitrus
dan sayuran berdaun hijau gelap.
3
Vitamin C sa-
ngat esensial dalam biosintesis kolagen dan mampu
menurunkan sintesis pigmen dengan menghambat
enzim tirosinase
3,4,23,24
dan dianggap mampu me-
ngurangi keluhan kelopak mata yang gelap.
16
Vita-
min C juga merupakan senyawa reduktor terbanyak
di tubuh dan merupakan AO yang paling dominan
di kulit.
14,21,22
Bentuk radikal bebas yang terjadi sesu-
dah donasi elektronnya, relatif stabil, masih mampu
berfungsi sebagai scavenger AO dan dapat direduksi
oleh sistem enzim.
4
Vitamin C mampu mendaur
ulang radikal bebas vitamin E. Namun adanya lo-
gam transisi (Fe
2+
atau Cu
2+
) akan memicu vitamin C
menjadi prooksidan,
2,24
suatu kondisi paradoks. Do-
sis harian vitamin C yang dianjurkan (Recommended
Daily Allowance/RDA) bervariasi dari 40-60 mg/hari
12

sampai 100 mg/hari.
3
Vitamin E
Vitamin E merupakan scavenger AO fase lipid
utama
4,14,24
yang banyak dijumpai dalam kacang-
kacangan, minyak sayur dan sayur-sayuran hijau.
3

Saat terjadi stress oksidatif di stratum korneum, ka-
dar vitamin E akan menurun namun adanya vitamin
C dan CoQ10,
2,13,22-24
dan selenium sebagai co-AO
3

dapat mempertahankan proses regenerasi vitamin
E. RDA vitamin E ialah 22 IU/hari
7
atau 30 mg/hari.
12

Vitamin A, retinol dan karotenoid
Retinol dan karotenoid merupakan dua bentuk uta-
ma vitamin A di alam. Retinol (preformed vitamin A)
banyak dijumpai di telur, hati dan susu. Sedangkan
karotenoid (provitamin A) banyak dijumpai di buah
dan sayuran berwarna.
3
Terdapat 3 jenis karotenoid
utama yang berasal dari diet yakni -karoten, lutein
dan likopen. -karoten merupakan mikronutrien
terbanyak
21
dengan senyawa yang efektif dalam
fotoproteksi sebagai scavenger AO natural terhadap
oksigen tunggal.
16,26
Karotenoid mempunyai struk-
tur kimia dan mekanisme kerja menyerupai vitamin
A, namun dengan efek AO yang lebih tinggi.
12

Flavonoid
Flavonoid merupakan beragam senyawa polife-
nol aromatik dengan efek AO. Diantaranya yang
Leading article
MEDICINUS 24(1), January 2011
8
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
paling sering digunakan ialah genistein (berasal
dari kacang kedele) suatu ftoestrogen yang juga
merupakan scavenger AO terhadap gugus peroksil.
2

Senyawa lainnya ialah ekstrak teh hijau dan silima-
rin.
4,21,22
ALA
ALA merupakan senyawa scavenger AO terhadap
gugus radikal hidroksil
22
yang utama pada mi-
tokondria
14
dengan efek antiinfamasi yang terbukti
secara klinis dan objektif efektif dalam penanganan
photoaging.
11
ALA dikenal sebagai outstanding AO
yang dapat menembus sawar darah-otak. ALA juga
disebut AO metabolik karena bentuk reduksinya
yakni dihydro lipoic acid (DHLA) dapat didaur ulang
sendiri.
5
ALA diperlukan untuk efsiensi fungsi bio-
kimiawi vitamin C dan E.
13
Belum ada RDA yang
ditetapkan, namun dosis yang umum digunakan
bervariasi dari 25-500 mg/hari.
21

CoQ10
CoQ10 adalah suatu koenzim yang di pasaran ser-
ing dikategorikan sebagai vitamin.
2
CoQ10 dike-
nal sebagai AO intraseluler
16
dan banyak berperan
dalam reaksi biokimiawi di mitokondria
11,17
dan
merupakan komponen GPX.
12
CoQ10 merupakan
AO pertahanan lini pertama sesudah pajanan UV,
dengan efek AO menyerupai vitamin E,
24
dan mam-
pu meningkatkan vitalitas sel karena berfungsi se-
bagai stabilisator mitokondria.
17
RDA CoQ10 ialah
30-90 mg/hari.
Selenium
Selenium merupakan mikronutrien esensial yang
diperlukan untuk bekerjanya enzim GPX yang pen-
ting dalam sistem pertahanan terhadap stres oksi-
datif.
4,23
RDA selenium ialah 55 g/hari.
7

Zinc
Zinc termasuk mineral esensial yang memiliki efek
AO yang efektif di jaringan.
4,14
Kulit dan adneksanya
merupakan area yang kaya akan zinc, yakni 20% dari
total kadar di tubuh. Zinc dianggap mempunyai 2
mekanisme AO, yakni kemampuan mengganti lo-
gam transisi (Fe
2+
atau Cu
2+
) dan menginduksi ter-
bentuknya protein yang dapat menetralisir ROS.
4

Kontroversi
Adanya peran stres oksidatif dalam patogenesis be-
berapa penyakit, telah banyak dipahami. Berbagai
penelitian tentang manfaat AO dalam penanga-
nannya juga telah dilaksanakan. Namun beberapa
memberikan hasil yang kontroversial. Ada pakar
yang tidak saja menyatakan bahwa AO tidak efektif
bahkan mempertanyakan keamanan AO.
1,27,28
Ble-
jakovic (2007) mengajukan beberapa kemungkinan
penyebab efek negatif AO, yakni:
(1) ROS dalam konsentrasi tertentu harusnya di-
anggap sebagai mekanisme pertahanan tubuh
dari sel yang mungkin bersifat prekanker;
(2) Jumlah AO yang dianggap bisa memberikan
perlindungan belum diketahui;
(3) Efek AO dianggap dipengaruhi oleh kondisi sta-
tus pertahanan tubuh yang berbeda-beda pada
masing-masing individu.
1
Namun Asgari dkk
(2009) menyimpulkan bahwa AO dengan dosis
nutrisional tidak meningkatkan risiko terjadinya
melanoma.
29

Penanganan Photoaging
Terlepas dari masih adanya kontroversi, namun
pemberian AO diyakini akan meningkatkan keta-
hanan tubuh terhadap stres oksidatif dan khusus-
nya dalam mencegah penuaan kulit.
12,14,16
Masalah
penuaan yang merupakan dampak terbentuknya
ROS sepanjang hayat,
5
khususnya photoaging me-
merlukan penanganan yang harus dimulai dari
pencegahan.
11,14,21,23
Kesadaran atas perilaku per-
lindungan diri terhadap dampak negatif UV harus
terus ditekankan.
30
Pencegahan primer berupa pemilihan pakaian,
topi dan kacamata pelindung, serta aplikasi tabir
surya (baik organik, inorganik, spektrum sempit
maupun luas).
11,23,30
Pada tahun 1996 Australia te-
lah menetapkan UPF (UV Protection Factor) sebagai
standar dalam menentukan kemampuan bahan
pakaian, topi memberikan fotoproteksi. UPF sa-
ngat dipengaruhi oleh ketebalan bahan, kerapatan
jalinan, warna, dan kondisi basah atau kering, serta
menciut atau tidaknya bahan sesudah dicuci. Untuk
mendapat efek proteksi yang optimal, baju seti-
daknya harus menutupi tubuh dari leher ke pinggul
dan melewati bahu sampai ke proksimal lengan
atas.
23

Termasuk dalam tatalaksana sekunder ialah
aplikasi asam retinoat topikal (yang juga berfungsi
dalam terapi bila sudah terjadi kondisi photoa-
ging)
11,13
dan pemanfaatan AO baik topikal maupun
sistemik.
7,13,21,22

Lini ketiga penanganan photoaging berupa be-
berapa teknik peremajaan termasuk terapi peeling
kimiawi, laser, injeksi Botox, injeksi fller, tehnik ra-
diofrekuensi dan lain-lain.
11

Draelos (2010) menyatakan bahwa kecenderu-
leading article
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
9
1. Bjelakovic G, Gluud C. Surviving antioxidants supplements. JNCI,
2007; 99 (10): 742-3
2. Draelos ZD. Nutrition and enhancing youthful- appearing skin. Clin-
ics in Dermatology 2010; 28: 4008
3. Zussman J, Ahdout J, Kim J. Vitamins and photoaging:
Do scientifc data support their use? J Am Acad Dermatol
10.1016/j.jaad.2009.07.037. ARTICLE IN PRESS.xa09rfHc36omk
-rB0wad2lta,e9o cUl
4. Pinnell SR. Cutaneous photodamage, oxidative stress, and topical
antioxidant protection. J Am Acad Dermatol 2003; 48: 1-19
5. Moini H, Packer L, Saris N-E L. antioxidant and prooxidant activities
of lipoic acid and dihydrolipoic acid. Toxicology and Applied Phar-
macology 2002; 182: 84-90
6. Ames BN, Shigenaga MK, Hagen TM. Oxidants, antioxidants, and
the generative diseases of aging. Proc. Natl. Acad. Sci. USA 1993; 90:
7915-22
7. Baumann L. Antioxidants. In: Cosmetic Dermatology: Principles and
Practice. Hongkong: McGraw-Hill; 2002.p.105-16
8. Fisher GJ, Kang S, Varani J, Bata-Csorgo Z, Wan Y, Datta S, et al.
Mechanisms of photoaging and chronological skin aging. Arch Der-
matol. 2002; 138:1462-70
9. Hakozaki T, Date A, Yoshii T, Toyokuni S, Yasui H, Sakurai H. Visu-
alization and characterization of UVB-induced reactive oxygen spe-
cies in a human skin equivalent model. Arch Dermatol Res 2008;
300 (Suppl 1): S51S56. DOI 10.1007/s00403-007-0804-3
10. Ali M. The oxidative-dysoxygenative model of aging. J Integrative
Medicine. 2003; 7(1):1-19. Available from http://www.jintmed.
com/vol7.htm
11. Rabe JH, Mamelak AJ, McElgunn PJS, Morison WL, Sauder DN. Pho-
toaging: Mechanism and repair. J Am Acad Dermatol 2006; 55: 1-19
12. Riad HMA. The role of antioxidants in dermatology. Gulf J Dermatol
2001; 8 (2): 1-14
13. Angerhofer CK, Maes D, Giacomoni PU. The use of natural com-
pounds and botanicals in the development of anti-aging skin care
products. In: Dayan N, ed. Skin Aging Handbook: an integrated Ap-
proach to Biochemistry and Product Development. New York: Wil-
liam Andrew Inc; 2008.p.205-63
14. DeBuys HV, Levy SB, Murray JC, Madey DL, Pinnel SR. Modern ap-
proach to photoprotection. Derm Clinics 2000; 18 (4): 577-90
15. Verschooten L, Claerhout S, Van Laethem A, Agostinis P, Garmyn M.
Invited Review. New strategies of photoprotection. Photochemistry
and Photobiology 2006; 82:1016-23
16. Masaki H. Role of antioxidants in the skin: Anti-aging efects. J Derm
Sci 2010; 58:8590
17. Prahl S, Kueper T, Biernoth T, Whrmann Y, Mnster A, Frstenau M,
et al. Aging skin is functionally anaerobic: Importance of coenzyme
Q10 for anti aging skin care. Bio Factors 2008; 32:24555. IOS Press.
18. Nichols JA, Katiyar SK. Skin photoprotection by natural polyphe-
nols: anti-infammatory, antioxidant and DNA repair mechanisms.
Arch Dermatol Res 2010; 302:7183. DOI 10.1007/s00403-009-
1001-3
19. McDaniel CF. Understanding antioxidants. Available from http://
www.fsherinstitute.org/live_pages/antioxidents.php. 2003 -
2007 Fisher Institute.
20. Yaar M, Gilchrest BA. Aging of skin. In: Freedberg IM, Eisen AZ, Wolf
K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SL, eds. Fitzpatricks Dermatology
in General Medicine, 7
th
ed. New York: McGraw-Hill; 2008.p.963-75
21. Stahl W, Mukhtar H, Afaq F, Sies H. Vitamins and polyphenols in sys-
temic photoprotection. In: Gilchrest BA, Krutmann J, eds. Skin Ag-
ing. Germany: Springer-Verlag Berlin Heidelberg 2006.p.113-21
22. Lupo MP. Antioxidants and vitamins in cosmetics. Clinics in Derma-
tology 2001; 19:46773
23. Wang SQ, Balagula Y, Osterwalder U. Photoprotection: a review of
the current and future technologie. Dermatologic Therapy 2010; 23:
3147
24. Shapiro SS, Saliou C. Role of vitamins in skin care. Nutrition
2001;17:83944. Elsevier Science Inc. 2001.
25. Tandon R. Antioxidants: Past and present. Available from http://
www.pharmainfo.net/reviews/antioxidants-past-and-present.
2005; 3(4)
26. Stahl W, Heinrich U, Aust O, Tronnier H, Sies H. Lycopene-rich prod-
ucts and dietary photoprotection. Photochem. Photobiol. Sci.,
2006; 5:23842
27. Bjelakovic G, Nikolova D, Gluud LL, Simonetti RG, Gluud C. Mortal-
ity in randomized trials of antioxidant supplements for primary and
secondary prevention. Systematic review and meta-analysis. JAMA
2007; 297(8):842-57. doi:10.1001/jama.297.8.842
28. Gann PH. Randomized trials of antioxidant supplementation for
cancer prevention. First bias, now chance next, cause. JAMA. 2009;
301(1):102-3. Published online December 9, 2008. (doi:10.1001/
jama.2008.863)
29. Asgari MM, Maruti SS, Kushi LH, White E. Antioxidant supplementa-
tion and risk of incident melanomas. Results of a large prospective
cohort study. Arch Dermatol. 2009;145(8):879-82. Available from:
http://archderm.ama-assn.org/cgi/content/full/145/8/879
30. Rosen CF. Topical and systemic photoprotection. Dermatologic
Therapy, 2003; 16:815
Daftar Pustaka
ngan perawatan kulit terkini adalah menggabung-
kan diet dengan konsumsi suplemen vitamin dan
AO. Konsep pendekatan inside-out ini memicu
pengembangan produk yang dikategorikan se-
bagai nutricosmetic.
2
Dalam konteks ini, dikenalkan
istilah nutraceutical
2,19
yang mengacu pada istilah
cosmeceutical yakni produk suplemen vitamin oral
untuk kesehatan.
KESIMPULAN
Radikal bebas/ROS akan terus menerus terbentuk
baik melalui proses metabolisme maupun akibat
dampak negatif lingkungan. Radikal bebas terse-
but terkait dengan terjadinya stres oksidatif yang
berperan dalam patogenesis berbagai penyakit
degeneratif termasuk penuaan. Dalam kondisi ini
AO diyakini memainkan peran yang penting. Mes-
ki demikian, memang masih diperlukan penelitian
lebih lanjut untuk menjawab beberapa pertanyaan
yang masih ada. Misalnya kapan waktu paling tepat,
berapa lama dan berapa dosis serta AO mana yang
paling efektif.
leading article
MEDICINUS 24(1), January 2011
10
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
Iklan Seloxy AA
No. POM
P0V SB. 081 534 131
with
ALA
(A/hu /ioi: u:id)
PT FERRON PAR PHARMACEUTlCALS
A Member oI Dexa MedIca Croup
TItan Center, LantaI 7
]aIan 8ouIevard 8Intaro 8Iok 87J81 No. 05 8Intaro ]aya Sektor 7 Tangerang 15224
TeIp: +62 21 7454 333 } Fax: +62 21 7453 939
www.Ierronpharma.com
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
11
A
ging merupakan proses yang dinamis dan
kompleks yang dihasilkan oleh perubahan-
perubahan sel, fsiologis dan psikologis. Ada
3 fase penuaan yakni fase subklinis(25-35 tahun,
dalam fase ini tidak ada gejala, fase transisi (35-45
tahun), pada fase ini mulai terlihat gejala, hormon
tubuh menurun sampai dengan 25%, gula darah
meningkat, gangguan jantung dan kegemukan
dan fase klinis (>45 tahun). Pada fase klinis penuaan
berlanjut seperti gangguan penyerapan nutrisi dan
mineral, menurunnya kepadatan tulang, gejala pe-
nyakit kronis, serta menurunnya fungsi seksual.
Proses penuaan dini ditandai dengan menurunnya
produksi kelenjar keringat kulit, yang lalu diikuti
dengan kelembaban dan kekenyalan kulit menurun
karena daya elastisitas kulit dan kemampuan kulit
untuk menahan air sudah berkurang, proses pig-
mentasi kulit semakin meningkat. Pada dari wajah
biasanya terlihat wrinkle atau kerut/keriput, kulit
kering dan kasar, bercak ketuaan/pigmentasi dan
kekenyalan kulit menurun. Biasanya bukan hanya
garis tawa yang merupakan tanda alami dari pe-
nuaan yang terlihat tetapi garis-garis lain seperti di
sekitar sudut mata, kerut antara hidung dan bibir
bagian atas disebabkan serat elastis dalam kulit
berkurang sehingga menyebabkan kulit mengen-
dur dan melipat menjadi kerut/keriput. Pada orang
yang mengalami penuaan dini akan lebih mudah
mengidap penyakit degeneratif, kanker dan gang-
guan pernapasan.
Penuaan pada kulit dapat terjadi melalui proses
intinsik dan proses ektrinsik. Proses intrisik adalah
proses penuaan yang terjadi akibat faktor dari dalam
tubuh seperti faktor keturunan (genetik), faktor ras,
dan faktor hormonal. Kedua proses penuaan ekstrin-
sik yaitu proses penuaan yang terjadi akibat faktor
dari luar tubuh yang dapat menginduksi penuaan
kulit. Sinar matahari merupakan Faktor ekstrinsik
utama yang dapat menyebabkan terjadi penuaan
kulit (photoaging), di mana paparan sinar matahari
berlebihan dapat mengakibatkan berbagai keru-
sakan pada kulit, karena efek fotobiologik UVA dan
UVB yang menimbulkan radikal bebas akan meru-
sak struktur kulit dan menimbulkan kerusakan DNA
serta menurunkan respon imun. Photoaging biasa-
nya akan tampak pada bagian tubuh yang terpapar
langsung sinar matahari seperti wajah, leher, dada
atau lengan dalam bentuk kelainan klinis seprti tim-
bulnya hiperpigmentasi (bercak coklat kehitaman)
atau hipopigmentasi (bercak keputihan). Selain
itu faktor ekternal lainnya dapat meningkatkan
radikal bebas seperti sinar x, polusi, rokok, petisida,
merokok, minuman beralkohol, obat-obatan dan
nutrisi yang tidak seimbang dan lain-lainnya.
Banyak teori yang mengemukan mengapa manu-
sia mengalami penuaan. Ada teori Replikasi DNA,
Teori Ikatan Silang, Teori Pakai dan Rusak, Teori Hor-
monal dan Teori Radikal Bebas. Teori Radikal Bebas
merupakan salah satu teori yang sangat terkenal
yang di kemukan oleh Dr. Denham Harman pada
tahun 1954. Radikal bebas adalah suatu elektron
dalam tubuh yang tidak memiliki pasangan, sehing-
ga akan berusah mencari pasangan supaya dapat
berikatan dan stabil. Sifat radikal bebas akan terus
berusaha menyerang sel sel tubuh yang sudah stabil
untuk mendapatkan pasangannya, sehingga sel-sel
akan cepat rusak dan menua, dan bahkan juga da-
pat mempercepat timbulnya kanker.
Antioksidan merupakan molekul atau senyawa
yang dapat meredam aktivitas radikal bebas de-
ngan mencegah oksidasi sel. Antioksidan mence-
gah kerusakan DNA akibat reaksi oksidasi di dalam
tubuh, sehingga dapat dijadikan salah satu alterna-
tif untuk menunda atau memperlambat proses pe-
nuaan. Antioksidan dibagi menjadi 2 yaitu antioksi-
dan yang disediakan oleh tubuh atau yang di kenal
dengan antioksidan enzimatik misalnya superok-
sida dismutase, katalase, glutation peroksida, dan
antioksidan yang diperoleh dari luar tubuh seperti
Alpha Lipoic Acid (ALA), Beta Karoten, Vitamin C, Vi-
Sekilas tentang
Seloxy AA
MEDICINUS 24(1), January 2011
12
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
tamin E, Zinc, Selenium dan lainlain. Antioksidan
yang berasal dari luar tubuh dapat ditemukan di
dalam makanan seharihari misalnya Wortel, mi-
nyak ikan, hati, jeruk, nanas, sayursayuran yang
berwarna hijau dan lainlain.

SELOXY AA merupakan preparat antioksidan yang
memiliki komposisi Alpha Lipoic Acid , Beta Karoten,
Calsium Ascorbate, Zinc Picolinate, Selenium.
Alpha Lipoic Acid (ALA) merupakan asam lemak yang
mengandung gugus sulfur yang terdapat pada se-
tiap sel tubuh yang dapat membantu menghambat
penuaan akibat glycation (reaksi glukosa-protein)
sehingga akan mengurangi kerusakan kolagen pada
kulit, selain itu ALA merupakan antioksidan yang
bersifat universal karena kemampuannya yang ber-
sifat lipoflik (larut dalam lemak) dan hidroflik (larut
dalam air) sehingga mampu menembus membran
sel lapisan lemak maupun air. ALA juga mempunyai
aktivitas kemampuan antioksidan secara bbiologi
dan aktivitas mere-cycle abtioksidan lain (Vitamin C,
Vitamin E, Ubikuinone dan Glutathione) serta mampu
me-regenerate it self (me-recycle dari bentuk radikal
bebas menjadi antioksidan kembali)
Beta Carotene merupakan provitamin A yang mem-
punyai fungsi dapat meredam reaktivitas radikal
bebas dan melindungi sel dari kerusakan oksidatif,
meningkatkan sistem imun dan dapat menurunkan
risiko terjadinya kanker.
Calsium ascorbate merupakan bentuk garam dari
Ascorbic acid (Vitamin C), sehingga mempunyai efek
iritasi yang minimal dilambung, yang mempunyai
efektivitas sebagai kofaktor pembentuk kolagen
dan dapat meningkatkan elastisitas dan meremaja-
kan kulit.
Selenium adalah trace mineral esensial bagi tubuh
manusia yang dapat berfungsi sebagai immu-
nomodulator, detoksifkasi logam berat, anti carcino-
genic, selenium dapat dijumpai di daging, ikan, bro-
koli dan lain-lain. Sedangkan Zinc dapat membantu
proses pembentukan struktur dan fungsi membran
sel, mempercepat penyembuhan luka, sebagai imu-
nitas seluler, meredam radikal bebas dan membantu
penyembuhan infeksi.
Komposisi SELOXY AA yang multi antioksidan ini
merupakan pilihan tepat untuk dapat meredam
radikal bebas dalam tubuh.
KESIMPULAN
1. Skin aging adalah proses yang di pengaruhi oleh
faktor Internal dan eksternal, yang terperlambat
atau hambat.
2. Radikal bebas merupakan salah faktor yang da-
pat mengakibat terjadi skin aging.
3. Antioksidan dapat meminimalkan kerusakan
yang diakibatkan radikal bebas sehingga mem-
perlambat proses skin aging.
4. SELOXY AA merupakan antioksidan yang da-
pat meredam radikal bebas dengan komposisi
Alpha Lipoic Acid , Beta Karoten, Calsium Ascor-
bate, Zinc Picolinate dan Selenium.
Daftar Pustaka
1. Daniel S., et al, Collagen glycation and skin ag-
ing. Cosmetics and Toiletries manufacture
Worldwide
2. Erin E. Boh, Free Radicals and Aging of the Skin.
Cosmetic Dermatology Journal, Desember 2001
Vol.14 No.12
3. Percival Mark, Antioxidants, Nut031 1/96
Rev.10/98
4. Glucotize Scientifc Overview, Alpha Lipoic Acid
Overview, June 2005
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
13
Effect of DLBS3233, an Insulin
Sensitizer, on Fructose-Induced
Insulin Resistance Rat
INTRODUCTION
Diabetes is a chronic disease that occurs when pan-
creas does not produce enough insulin, or when
body cannot efectively use the insulin it produces.
It is preceded by long period of asymptomatic hy-
perglycemia which may lead to serious damage to
many of bodys system, including nerves and blood
vessels.
1
Diabetes can be caused by too little, resis-
tance to insulin or both of them. Insulin resistance
is a condition where insulin sensitivity decreases.
This condition afects the ability of insulin hormone
to decrease blood glucose level and stimulate u-
sage of glucose in muscle and adipose tissue, which
causes high level of blood glucose in blood.
Insulin resistance have been increasing world-
wide and plays a role in the pathophysiology of the
most common human disease including diabetes
mellitus type 2, hypertension, obesity, dyslipidemia,
and coronary heart disease.
2
It is commonly associ-
ated with lipoprotein abnormalities that are risk
factors for atherosclerosis, including hypertriglyce-
ridemia, high levels of very low density lipoprotein
(VLDL), low levels of high density lipoprotein (HDL),
and small dense Low Density Lipoprotein (LDL).
These metabolic abnormalities together with hy-
pertension and type 2 diabetes mellitus may cluster
Florensia Nailufar*,** and Raymond R. Tjandrawinata**
*Department of Animal Pharmacology, Division of Protein Biochemistry and Molecular Pharmacology,
Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences, PT. Dexa Medica
** Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences, PT. Dexa Medica
ABSTRACT
Increased insulin and glucose in the blood plasma is believed to be the beginning of insulin resistance and type 2 diabetes mellitus, which
can lead to the development of cardiovascular diseases. In order to elucidate the pharmacological action of DLBS3233, a natural insulin syn-
thesizer, we performed a pharmacodynamic study in Wistar rats (Rattus norvegicus Wistar strain). The rats were divided into three groups (n =
7): control group, insulin-resistant group and treated group. Random glucose, postprandial glucose, fasting glucose, and fasting insulin levels
were measured. In addition, total cholesterol, triglycerides (TG), High Density Lipoprotein (HDL), and Low Density Lipoprotein (LDL) were also
measured to investigate the efect of DLBS3233 on lipid panel. The results showed that DLBS3233 lower the level of blood glucose, insulin,
total cholesterol, LDL, and TG while increasing HDL cholesterol in blood signifcantly. HOMA score was also decreased signifcantly suggesting
that DLBS3233 is a potential insulin sensitizer.
in the same individual, constituting a syndrome re-
ferred to as the metabolic syndrome X.
3
Here, we investigated DLBS3233, a bioactive
fraction containing Lagerstroemia speciosa and Cin-
namomum burmanii, in Wistar strain rats. Some pre-
vious studies showed that Lagerstroemia speciosa
leaves could be used to decrease blood glucose level
in diabetic rats and could enhance glucose transport
to adipocyte cells as well.
4-5
It possess a few active
compounds (such as triterpene and corosolic acid)
having a characte-ristic of insulin mimetics which
can activate tyrosine kinase as an insulin recep-
tor and inhibit tyrosine phosphatase. On the other
hand, several studies have reported that cinnamon
has antidiabetic efect on db/db mice and type 2
diabetic patients.
6
Therefore, studying the activity of
DLBS3233 would be important to provide a promis-
ing treatment for diabetes. In addition, the clinical
trial phase I and II of DLBS3233 had been conducted
and showed good safety and efcacy profle.
MATERIALS AND METHOD
Materials
DLBS3233 was developed and prepared by Dexa
Laboratories of Biomolecular Sciences. Fructose and
research original article
MEDICINUS 24(1), January 2011
14
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
Homeostasis Model Assessment (HOMA) was calcu-
lated by multiplying the glucose (mmol/L) with the
insulin concentration, followed by dividing it with a
factor of 22.5.7 Data was analyzed using ANOVA test
and signifcance level was measured using posthoc
Bonnferoni from Biostat software.
Data statistics
Results were expressed as mean standard devia-
tion. To confrm the normal distribution, the data
were analyzed with normality test and subjected to
statistical analysis using the ANOVA test. To measure
statistical tests, posthoc Bonnferoni from Biostat
software was used.
RESULTS
Wistar strain rats were treated with normal saline per
oral as the control group in this experiment. Fruc-
tose 15% and glucose 10% were given to the ani-
mals to stimulate insulin resistance condition, while
DLBS3233, 9 mg/kg of body weight, was given as a
treatment on top of fructose-glucose intake.
Administration of fructose and glucose increase
the concentration of blood glucose level to 41.33%
for random glucose level, 49.02% for postprandial
glucose, and 60.22% for fasting glucose. Total cho-
lesterol in blood was increased by 59.59%, similar
profle was also seen in insulin level which was in-
creased to 220.38% (Fig. 1), LDL concentration in
blood to 31.70% and triglycerides to 61.39%. Moreo-
ver, the HDL level decreased up to 17.15% (Table 1).
Treatment with DLBS3233 for 2 (two) weeks de-
crease the concentration of random glucose, post-
prandial glucose, fasting glucose, insulin, total cho-
lesterol, LDL, and triglycerides by 29.64%, 30.62%,
31.41%, 65.01%, 33.78%, 21.36%, 30.81%, respec-
tively, compared to positive control groups which
have been treated with fructose 15% (Table 1 and
Fig. 1). On the other hand, the level of HDL was in-
creased by 18.20% (Table 1) .
glucose were purchased from Merck.
Animals Experiment
Wistar strain rats (Rattus norvegicus) (male, 8 weeks
old, 200-220 g) were housed in individual cages in
a room with controlled temperature and light (12-
h light:12-h dark cycle; lighting between 08:00 and
20:00 h) and had free access to a standard diet and
water. The animal study was conducted according
to the regulation proposed by AAALAC (Association
for Assessment and Accreditation of Laboratory Ani-
mal Care). The rats were aclimated for a week before
treatment.
Experimental Design
Rats were allocated into 3 groups. The frst group
(n=7) was control group that was maintained on a
standard diet. The second (n=7) and the third group
(n=7) were maintained on a high-glucose diet for
two weeks to make them insulin resistant with fruc-
tose 15% and glucose 10%. The third group was later
on treated with DLBS3233 at 9 mg/kg body weight
for another two weeks. At the end of treatment pe-
riod, blood samples were collected from tail veins of
rats to measure the random glucose level. The rats
of each group were then fasted overnight, fed and
2 h later their blood samples were taken to meas-
ure the postprandial glucose. Furthermore, animals
were fasted overnight again and blood sample was
later collected by cardiac puncture which then was
centrifuged at 8500 g for 25 min. The serum was
separated out to measure the level of fasting glu-
cose, insulin, triglycerides, total cholesterol, Low
Density Lipoprotein (LDL), and High Density Lipo-
protein (HDL). Mercodia Ultrasensitive Rat Insulin
ELISA enzyme immunoassay (Uppsala, Sweden) and
microplate reader (Bio-Rad) were used to measure
the insulin level. Other tests were carried out using
Semi Automated Clinical Chemistry Analyzer Micro-
lab 300 (Vital Scientifc, Netherlands). In addition,
Group Glucose (mg/dl) Insulin
(mg/dl)
Total
Cholesterol
(mg/dl)
LDL
(mg/dl)
HDL
(mg/dl)
Triglycerides
(mg/dl)
Random Postprandial Fasting
Control 84.23 5.5 76.87 7.73 69.83 4.52 64.63 3.68 168.29 10.84 156.56 3.76 28.04 1.33 59.97 6.98
Insulin-
resistant
119.04 7.54 114.55 8.36 111.88 7.65 207.06 13.63 268.57 11.86 206.19 6.38 23.23 1.33 97.11 5.75
Treated 83.76 8.95 79.48 9.93 76.74 8.63 72.45 11.49 177.86 11.1 162.14 6.67 28.40 1.34 67.19 5.35
Table 1. Effect of DLBS3233 on the level of glucose, insulin, total cholesterol, LDL, HDL and triglycerides
research original article
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
15
Figure 1. Effect of DLBS3233 (9 mg/kg body weight) on the insulin level of the Wistar strain rats.
tion, the calculation result shows that HOMA of in-
sulin resistant group was increased up to 5-fold and
then decrease signifcantly after being treated with
DLBS3233 (Fig. 3).
Further, the level of fasting glucose and insulin
for each individual rat was compared, shown in Fig.
2. The level of insulin and fasting glucose in insulin
resistant group was increased, that in the graph, the
position was far from the normal condition. In addi-
Figure 2. Comparison between the level of fasting glucose and insulin of animal model. Rats were divided into 3
group: control, insulin-resistant group administered with high-sugar diet and treated group administered with
high-sugar diet and DLBS3233 (9 mg/kg body weight).
research
original article
MEDICINUS 24(1), January 2011
16
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
DISCUSSION
In this study, we demonstrate the efect of DLBS3233
in insulin resistant animal model. The animals were
treated to be insulin resistant by administration of
high amount of fructose and glucose, which may
lead to uncontrolled insulin action. Previous studies
provide direct evidence that the insulin resistance
occurs due to changes in hepatic carbohydrate me-
tabolism, leading to increased hepatic glucose efux
under basal conditions, and to a loss of the ability
of insulin to suppress hepatic glucose efux. These
changes are most likely due to an efect of fructose
at several control steps in the regulation of hepatic
glycogenesis, glycogenolysis and/or gluconeoge-
nesis.
8

Insulin resistant condition induced by treatment
of sugar showed that the levels of random glucose,
postprandial glucose, and fasting glucose as well
as insulin increased signifcantly when compared
to control group treated with only normal saline.
However, administration of DLBS3233 to the insulin
resistant rats for two weeks could reverse the levels
of glucose and insulin into the levels similar to those
of normal condition (Table 1 and Fig. 1). Insulin re-
sistance may occur through diferent mechanisms,
including defects in insulin binding and signal trans-
duction, or defects at the level of efector molecules
such as glucose transporters and enzymes involved
in carbohydrate metabolism.
9
DLBS3233 demon-
strated its activity in controlling blood glucose by
mediating the upregulation of PPAR and GLUT4
expression. Activation of PPAR induces adipocyte
diferentiation and lipid accumulation by adipocytes
through modulating numerous genes regulating
adipogenesis, lipid uptake and lipid metabolism. Re-
sult of that study also indicated that DLBS3233 is a
glucose transport-stimulant as it upregulates GLUT4
expression signifcantly.
10
Fructose feeding may result in hypertriglyceri-
demia, resistance to insulin-stimulated glucose up-
take, and impaired endothelium-dependent vasodi-
lation, but not in an elevation of arterial pressure. In
the fructose-fed rat, hypertriglyceridemia has been
attributed to impaired triglyceride removal due to
insulin resistance.
11
In addition, hypertiglyceridemia
also has a strong correlation with increased LDL-
cholesterol and decreased HDL-cholesterol.
3
Results
of this study also showed that levels of other bio-
logical parameters including total cholesterol, LDL,
and triglycerides were increased in insulin-resistant
model while the level of HDL for the insulin resist-
ant group decreased. However, the levels of those
biological parameters were back to normal when
DLBS3233 was administered in the treated rats. This
fnding suggests that DLBS3233 posses the ability to
control the triglyceride and cholesterol level includ-
ing LDL and HDL level.
Furthermore, indirect method for assesment of
insulin resistance was also perfomed by determin-
ing HOMA level. It is usually perfomed for early iden-
tifcation of insulin resistant individuals as it is im-
portant for the management strategies of diabetes
mellitus. HOMA (homeostasis model assesment) is a
Figure 3. Effect of DLBS3233 (9 mg/kg body weight) on the HOMA level of Wistar strain rats.
research original article
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
17
commonly used method to assess insulin resistance
and -cell function and requires only fasting glucose
and insulin levels.
12
It is believed that HOMA index
possesses high sensitivity and specifcity for meas-
uring insulin resistance.
13
In this study, the HOMA
index was signifcantly reduced to normal after
DLBS3233 administration suggesting that DLBS3233
has a strong activity to control insulin resistant con-
dition (Fig. 2 and 3).
Taken together, this study indicates that
DLBS3233 has the activity to control blood sugar, in-
sulin and other lipoproteins including High Density
Lipoprotein (HDL), Low Density Lipoprotein (LDL),
triglycerides, and total cholesterol level. Accordingly,
DLBS3233 is suggested to be a potential agent for
treatment of diabetes and minimizing the risk of that
diabetic complication including atherosclerosis.
ACKNOWLDEGMENTS
We thank Audrey Clarissa and Venni Carolina for
critical review on this manuscript.
1. Laakso M. Hyperglycemia and cardiovascular disease in type 2 dia-
betes. Diabetes 1999; 48(5):937-42
2. Bressler P, Bailey SR, Matsuda M, DeFronzo RA. Insulin resistance
and coronary heart disease. Diabetologia 1996; 39:1345-50
3. Taghibiglou C, Carpentier A, Iderstine SCV, Chen B, Rudy D, Aiton A,
et al. Mechanisms of hepatic very low density lipoprotein overpro-
duction in insulin resistance. J Biol Chem 2000; 275(12):8416-25
4. Liu F, Kim J-K, Li Y, Liu X, Li J, Chen X. An extract of Lagerstroemia
speciosa L. has insulin like glucose uptake stimulatory and adi-
pocytes diferentiation-inhibitory activities in 3T3-L1 cells. J Nutr
2001; 131:2242-7
5. Liu X, Kim J-K, Li Y, Li J, Liu F, Chen X. Tannic acid stimulates glucose
transport and inhibits adipocyte diferentiation in 3T3-L1 cells. J
Nutr 2004; 135:165-71
6. Sheng X, Zhang Y, Gong Z, Huang C, Zang YQ. Improved insulin re-
sistance and lipid metabolism by cinnamon extract through activa-
tion of peroxisome proliferator-activated receptors. PPAR Res 2008;
2008:581348
7. Pickavance LC, Tadayyon M, Widdowson PS, Buckingham RE, Wild-
ing JPH. Therapeutic index for rosiglitazone in dietery obese rats:
separation of efcacy and haemodilution. Br J Pharmacol 1999;
128:1570-6
8. Tobey TA, Mondon CE, Zavaroni I and Reaven GM. Mechanism of
insulin resistance in fructose-fed rats. Metabolism 1982; 31(6):608-
12
9. Catena C, Giacchetti G, Novello M, Colussi G, Cavarape A, Sechi
LA. Cellular mechanisms of insulin resistance in rats with fructose-
induced hypertension. Am J Hypertens 2003; 16(11):973-8
10. Tandrasasmita OM, Wulan DDR, Nailufar F, Sinambela J, Tjandrawi-
nata RR. In press. DLBS3233 increases glucose uptake by mediating
upregulation of PPAR and GLUT4 expression. J Biomed Biotech.
11. Kotchen TA, Reddy S, Zhang HY. Increasing insulin sensitivity low-
ers blood pressure in the fructose-fed rat. Am J Hypertens 1997;
10:10206
12. Chang AM, Smith MJ, Bloem CJ, Galecki AT, Halter JB, Supiano MA.
Limitation of the homeostasis model assessment to predict insulin
resistance and beta-cell dysfunction in older people. J Clin Endocri-
nol Metab 2006; 91(2):629-34
13. Keskin M, Kurtoglu S, Kendirci M, Atabek ME, Yazici C. Homeostasis
model assessment is more reliable than the fasting glucose/insulin
ratio and quantitative insulin sensitivity check index for assessing
insulin resistance among obese children and adolescents. Pediat-
rics 2005; 115(4):500-3
References
research
original article
MEDICINUS 24(1), January 2011
18
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
Bioactive Protein Fraction DLBS1033
Exerts its Positive Pleiotropic Effects in
the Vascular Cells via Down Regulation
of Gene Expression
Frans Kurnia*
,
** and Raymond R. Tjandrawinata**
* Department of Protein Biochemistry, Division of Protein Biochemistry and Molecular Pharmacology
** Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS), Industri Selatan V Block PP No. 7,
Jababeka Industrial II, Cikarang, Bekasi 17520, Indonesia
There is accumulating evidence suggesting that cardio- and cerebrovascular diseases have a positive correlation with the events of infam-
mation that in addition to plaque instability occurs in the vasculature. Providing a therapy that exerts its anti-infammatory action and inhibi-
tion of proliferation and migration of smooth muscle cells may be promising and efective in fghting the cardiovascular disease (CVD). The
bioactive protein fraction DLBS1033 is shown to posses such activities. DLBS1033 down-regulates infammatory markers including JAK1,
STAT1, TNF, NF-kB as well as decreasing vascular smooth muscle cells proliferation and migration. As Matrix Metaloproteinase-9 (MMP-9)
expression was downregulated by DLBS1033, it was suggested that DLBS1033 also permitted plaque stabilization to occur in the vasculature.
Taken together, these data suggest DLBS1033 exerts its positive pleiotropic efects on the vascular cells primarily via its anti infammatory
activities, plaque stabilization, vascular smooth muscle cells inhibition of proliferation and migration.
ABSTRACT
INTRODUCTION
Cardiovascular disease (CVD) is one of the leading
causes of death worldwide. CVD covers a wide array
of disorders, including diseases of the cardiac mus-
cle and other vascular system supplying the heart,
brain, and other vital organs. CVD related with occlu-
sion of a blood vessel (thrombus) or the rupture of
a blood vessel.
1
Several studies have demonstrated
that infammation is also involved in development
of CVD. Increased plasma levels of infammation
markers have been identifed in patients with a risk
of atherosclerotic diseases. Activated leukocytes
emigrate, adhere to the endothelial wall and mi-
grate through the arterial wall, resulting in the trans-
fer of macrophages rich in oxidized lipoproteins that
trigger the onset of atherosclerotic plaque forma-
tion. Atherosclerosis is also characterized by degen-
eration of extracellular matrix (ECM). The resulting is
dissolution and fragmentation of collagen and elas-
tin, leading to invasion of vessel wall, that could lead
to development of atherosclerotic plaque.
2

Thickening of the intimal area in blood vessels
occur spontaneously with age or in response to in-
creased intraluminal pressure.
3
Intimal thickening
can also be triggered in response to injury, for exam-
ple, after balloon dilatation, stent implantation or
during atherosclerosis formation.
3,4
All these forms
of intimal thickening are associated with increases
in numbers of vascular smooth muscle cells (VSMC)
and the amount of VSMC-associated extracellular
matrix (ECM). Most intimal VSMC probably originate
by migration from the underlying media. Intimal
thickening occurs in blood vessels in response to in-
jury or atherosclerosis. The balance of migration and
proliferation of vascular smooth muscle cells (VSMC)
over death by apoptosis has an important impact on
the fnal size of intimal thickening and may also af-
fect atherosclerotic plaque stability.
5
Treatment of the disease involves medical thera-
pies that restore blood fow by inhibiting platelet
aggregation or dissolving the thrombus occluding
the arterial lumen.
1
Thrombolytic agents, such as
streptokinase and urokinase have been used to treat
stroke and cardiovascular disease. Those enzymes
could dissolve blood fbrin clots and, to a certain
research original article
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
19
extend, could also inhibit the platelet activation and
aggregation.
6
We have shown previously the acti-
vity of DLBS1033 as antithrombotic and thromboly-
sis agent.
7
DLBS1033, a bioactive fraction contai-
ning 8 diferent proteins have four diferent modes
of actions in treating the cardiovascular disease.
However, the efects of DLBS1033 on the structure
of the vasculature have not been explored, particu-
larly those pertaining to its efects on infammation,
smooth muscle cells as well as plaque structure. This
present research was aimed at studying the efects
of DLBS1033 at the molecular levels.
MATERIALS AND METHODS
Cell Culture
RAW 264.7 cells obtained from American Type Cul-
ture Collection (ATCC) were grown in a 75 ml fask
containing DMEM medium, 10% Fetal Calf Serum
(FCS), and 1% Penicillin/Streptomycin at 37
o
C, 5%
CO
2
. Human aortic smooth muscle cells (HVSMC;
Clonetics, San Diego, CA) were cultured in SMC basal
medium according to the supplier's instructions.
Preparation of DLBS1033
DLBS1033 powder was diluted in phosphate bufer
pH 8 and the suspension was centrifuged at 5000 x g
for 10 minutes. The supernatant was then collected
and fltered before use as described previously by
Jessica et al.
7
Treatment of DLBS1033
Before treatment, the cells were poured into six-well
plate containing DMEM medium, 10% FCS, and 1%
Penicillin/Streptomycin and incubated at 37oC for
18 hours. On the next day, the medium was replaced
with DMEM medium containing only 1% Penicillin/
Streptomycin and 0.5 g/ml DLBS1033. The cells
were then incubated again until the next day for
RNA isolation.
Cell Viability Assay

The number of viable cells was determined using
Cell Titer 96 Aqueous Assay (Promega, Madison, WI).
This assay was performed according to the manu-
facturers protocol. The absorbance at 490 nm was
measured with a microplate reader type 680 (Biorad,
Hercules, CA). Each experiment was performed in
quadruplicate. The statistical analysis methods were
carried out in ProStat.
RNA Isolation and RT-PCR
RNA isolation was done using TRIzol reagent (Invi-
trogen) which was then processed in RT-PCR. RT-PCR
was used to determine mRNA expression of genes
that involve in infammation and platelet stabiliza-
tion. 0.1 g total RNAs were added to 25 l reaction
mixture containing 5 l AMV Reverse Transcriptase
5x reaction bufer (250 mM Tris-HCl, 250 mM KCl,
50 mM MgCl
2
, 2.5 mM spremidine and 50 mM DTT),
30 units AMV Reverse Transcriptase, 40 units Rnasin
Ribonuclease Inhibitor, 0.5 mM dNTPs, and 0.5 g
oligo(dT) 15 primer. The cDNA was then processed
for PCR screening.
PCR for Screening and Analysis
PCR for screening the target gene was done using
GoTaq MasterMix (Promega). PCR was performed
with 2.5 l cDNA in 25 l reaction mixture containing
12.5 l MasterMix, 1 l 10 M sense and antisense
primer each. PCR conditions were initial denatura-
tion 95
o
C for 2 min followed by 30 cycles of 95
o
C 1
min, annealing for 1 min, 72
o
C for 1 min and exten-
sion 72
o
C for 10 min. PCR products were resolved in
2% agarose gel containing ethidium bromide. Imag-
es were taken by a Gel Doc apparatus (BioRad) and
analyze with 2D software (BioRad).
Binding Assay with Monocytic Cells

RAW 264.7 cells were preincubated in DMEM con-
taining 2% FBS and 5 g/ml fuorescent BCECF-AM
at 37C for 30 min in foil-covered tubes. Fluores-
cently labeled cells were washed twice to remove
unincorporated dye and were then resuspended
in DMEM containing 0.2% BSA. Loaded monocytic
RAW cells (5x104) were added to each well of VSMC
and incubated at 37C. After 30 min, unbound
monocytes were withdrawn and VSMC layers with
attached monocytes were gently washed twice with
DMEM and lysed with 0.2 ml of 0.1% Triton X-100 in
0.1 M Tris per well. Fluorescence (excitation 485 nm,
emission 535 nm) was measured using a microplate
reader (BioTek, Winooski, VT, United States).
Cell Migration Assay
Chemotaxis cell migration assay was performed us-
ing modifed Boyden chambers with polyvinylpyrro-
lidone-free polycarbonate flter membranes, 8-m
pore size. 25,00030,000 cells in serum-free SMC
basal medium were added to the upper well of the
Boyden chamber. Angiotensin II was added to the
bottom of Boyden chamber as a chemoattractant,
research
original article
MEDICINUS 24(1), January 2011
20
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
RESULTS
Efects of DLBS1033 on Infammatory Genes
To observe the efects of DLBS1033 over infamma-
tion, several markers of infammation were screened:
research
original article
and migration was allowed for 4 h. All experiments
were performed in triplicates. Cell migration was
quantifed by densitometry, and cell migration in the
absence of chemoattractant was taken as 100%. Ang
II was obtained from Peninsula Laboratories (San
Carlos, CA).
Figure 1. Effect of 0.5 g/ml DLBS1033 on expression of NF-kB (a), TNF (b), VCAM-1 (c), and P-selectin (d).
Figure 1a.
Figure 1b.
Figure 1c. Figure 1d.
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
21
NF-kB, TNF, VCAM-1 and P-selectin. These markers
were important in infammation related to athero-
sclerosis. RAW 264.7 cells were able to down-regulate
the expressions of NF-kB by 45% (Fig. 1a), TNF by
22% (Fig. 1b), VCAM-1 by 22% (Fig. 1c) and P-selectin
(Fig. 1d) by 20%. To ascertain the efect of DLBS1033
on macrophage, a macrophage binding assay to Vas-
cular Smooth Muscle Cells (VSMC) was conducted. As
seen in Fig.2, the attachment of monocytic RAW264.7
to VSMC was reduced to a level 10% of the control
cells. This suggested that reduction in expression of
adhesion molecules V-CAM and P-Selectine, were
able to reduce binding macrophage to VSMC.
Efects of DLBS1033 on Plaque Stabilization Marker
Plaque stabilization is also related to prevention of
acute CVD events. Suppression of about 25-50% in
the expression of MMP-9, a marker of plaque insta-
bility was seen after treatment with DLBS1033 (Fig.
3) suggesting that this bioactive protein fraction has
the ability to control plaque stabilization.
Efects of DLBS1033 on Smooth Muscle Cells Viabi-
lity and Migration
We observed the efects of DLBS1033 on VSMC cell
viability. As can be inferred in Fig. 4a, DLBS1033, was
able to inhibit the proliferation of the VSMC signif-
cantly. In addition, after 4 hours following adminis-
tration of DLBS1033, VSMC migration in the presence
of Angiotensin II was signifcantly reduced to a level
2-fold lower when compared to that of Angiotensin
II alone (Fig. 4b). The data suggested that DLBS1033
had a positive efect on smooth muscle cells viabil-
ity and migration. Thus reducing the potentiality of
plaque enlargement via intimal medial thickness
and/or plaque stability. In addition, the expression of
growth signal JAK1 (Fig. 5a) and STAT1 (Fig. 5b) were
also reduced in the presence of DLBS1033 signifying
the growth arresting efect of DLBS1033 on VSMC.

research
original article
Figure 3. Effect of 0.5 g/ml DLBS1033 on expression of MMP-9.
Figure 2. Effect of DLBS1033 on the attachment of monocytic RAW246.7 cells to Vascular Smooth Muscle Cells (VSMC).
Control DLBS1033
MEDICINUS 24(1), January 2011
22
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
DISCUSSION
There are increasing evidences that
platelets play an important role in the
development of atherosclerosis and an-
tiplatelet therapy has become a useful
means for preventing this disease. This
present study was undertaken to inves-
tigate the role of DLBS1033, a bioactive
protein fraction, in preventing cardiovas-
cular disease by observing its efect on
infammatory and plaque stabilization
systems. Infammation plays a role in all
stages of atherothrombosis, the under-
lying cause of approximately 80% of all
sudden cardiac death.
8
This study was
carried out using monocytic and vascular
smooth muscle cells (VSMC) treated with
DLBS1033; and genes which have been
known to contribute in the infammatory
system and plaque stabilization were iso-
lated from the cells.
To investigate DLBS1033 efect
on inhibiting infammation, here, we
frst examined the expression of NF-kB,
a transcription factor and function as the
central player in a chronic infammatory
disease development.
9
DLBS1033 was
seen to reduce the expression of NF-kB
(Fig. 1a). This gene has a role in signaling
pathway of atherosclerosis. In addition,
the suppression of NF-kB inhibited the
production or activation of other prima-
research
original article
Figure 5. Effect of 0.5 g/ml DLBS1033 on expression of JAK1 (a) and STAT1 (b).
Figure 5a.
Figure 5b.
Figure 4. Inhibition in the proliferation of Vascular Smooth Muscle Cells
(VSMC) in the presence and absence of serum after treatment with DLBS1033
(a) and VSMC migration in the presence of angiotensin II and DLBS1033.
Figure 4a.
Figure 4b.
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
23
rily infammatory function, especially that for pro-
moting leukocytes infltration to endothelium.
10
This
highlights the fnding that the downregulation of NF-
kB has a link to the inhibition of atheroma formation,
suggesting that DLBS1033 can be used as an antia-
therogenesis agent.
To confrm such fnding, we observed other in-
fammation gene TNF that activates NF-kB. TNF is
a cytokine that regulates many biological responses
in cells, including infammation, proliferation, dife-
rentiation, and cell death.
11
The production of TNF is
regulated by p38 MAPK through NF-kB activation. As
a key mediator of infammation, TNF is related with
the progression of IL-6 and chemokines and the ad-
herence of leukocytes to the endothelium as well as
afecting lipid metabolism.
12
This study showed that
DLBS1033 decreased the expression of TNF (Fig. 1b).
It indicated that DLBS1033 can inhibit the progres-
sion of other cytokines that are activated by TNF
and adherence of leukocytes to endothelium. In the
end, it will avoid the development of plaque on the
endothelium.
In this recent research, DLBS1033 was shown to
suppress the expression of P-selectin. Previous stu-
dies suggest a causal relationship between P-Selectin
and TNF.
13-15
P-selectin is stored within endothelial
cells may be recruited to the cell surface following
stimulation with infammatory mediators.
16
Those p-
selectin in platelets and endothelial cells mediates
adhesive interaction with leucocytes to form thrombi.
Surface expression of P-selectin in endothelial cells is
regulated by two diferent mechanisms with a secre-
tagogue and with a cytokine. Activation by secre-
tagogue leads the translocation P-selectin to the cell
surface, meanwhile the cytokine leads to de novo
synthesis of P-selectin.
17
Activity of DLBS1033 in de-
creasing the expression of P-selectin may be related
to the suppresion of de novo synthesis of P-selectin
mediated by cytokine. In addition, it suggested that
the suppression of NF-kB and TNF expression leads
to the decrease in the amount of of cytokines, which
therefore could lead to suppression of P-selectin. That
evidence supported the hypothesis that DLBS1033
conferred the ability as antiplatelet agent by inhibi-
ting the activity of P-selectin to mediate the adhesive
between platelets.
DLBS1033 suppressed the expression of VCAM-1
(Fig. 1c), a member of the immunoglobulin gene su-
perfamily that mediates leukocyte binding to the en-
dothelial cell. VCAM-1 expression is rapidly induced
by proinfammatory cytokines such as TNF-. It ac-
tivates endothelial cell NADPH oxidase, and this ac-
tivity is required for VCAM-1-dependent lymphocyte
migration. The lymphocyte migration therefore can
trigger the atherosclerotic plaque formation.
18-19
These fndings frst demonstrated the mechanism of
DLBS1033 in maintaining plaque stabilization that in-
volves infammatory response.
Plaque instability is associated with high macro-
phage content and a thin fbrous cap. Several genes
have been investigated including MMP-9 which has
been known to play a role in the regulation of plaque.
MMP-9 is a protease that degrades extracellular ma-
trix proteins including gelatin, collagen, elastin, and
laminin that are important in tissue destruction; and
also in tissue remodeling and infammation.
20-21
It is
synthesized in atheromatous plaques and elevated
levels are present in rupture prone shoulder regions
of arterial vessels. Increased MMP9 activity has also
been correlated with CVD,
2
since it has the capabil-
ity to degrade extracellular matrix of the fbrous cap,
predisposing to plaque rupture. In our research, the
MMP9 was markedly suppressed by DLBS1033 (Fig.3).
The expression was suppressed approximately by
50% compared to that of control. MMP9 expression
is regulated by transcriptional factors including AP-1
and NF-kB which bind to the corresponding binding
sites in MMP9 promoter region.
20
The above fndings
support the evidence that DLBS1033 could regulate
the uncontrolled event of plaque rupture by inhibit-
ing the expression of MMP9.
DLBS1033 inhibited the proliferation of the VSMC
signifcantly. Proliferation of VSMC is a crucial event in
the formation of atherosclerotic tissues and is regula-
ted by nuclear transcriptional factors including NF-kB.
Studies have shown that difuse intimal medial thick-
ening is also characterized by Angiotensin II.
22-23
In
this recent study, DLBS1033 signifcantly reduced An-
giontensin II and therefore inhibits the intimal medial
thickening.
In addition to these fndings, we observed JAK1-
STAT1 system. This system plays an important role in
the proliferation of VSMC. DLBS1033 decreased the
expression of JAK1 (Fig. 5a) and STAT1 (Fig. 5b). JAK1 is
required for myoblast proliferation and also functions
as a checkpoint to prevent myoblasts from premature
diferentiation. Deliberate knockdown of JAK1 in both
primary and immortalized myoblasts induces preco-
cious myogenic diferentiation with a concomitant
reduction in cell proliferation.
24
Inhibition of JAK1
phosphorylation could induce the inhibition of STAT1
phosphorylation.
25
These results together indicated
that DLBS1033 reduced cardiovascular events also via
reducing intimal medial thickness.
The investigation of DLBS1033 activity as for pro-
viding an efective mean to prevent cardiovascular
disease was appeared to bring a good result. Taken
together, the data shows the anti-infammatory ef-
fect of DLBS1033 through the suppression of various
genes such as NF-kB. Furthermore, the data indicates
research
original article
MEDICINUS 24(1), January 2011
24
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
research
original article
References
1. Jamison DT, Breman JG, Measham AR, Alleyne G, Claeson M,
Evans DB, Jha P, Mills A, Musgrove P. Disease control priorities
in developing countries. Oxford University Press and The World
Bank, 2006.p.645-662.
2. Signorelli SS, Mazzatino MC, Spandidos DA, Malaponte G.
Proinfammatory circulating molecules in peripheral arterial
disease. Int J Mol Med 2007; 20:279-286.
3. Newby AC, Zaltsman AB. Molecular mechanisms in intimal hy-
perplasia. J Pathol 2000;190:300 9.
4. Newby AC, Zaltsman AB. Fibrous cap formation or destruc-
tion the critical importance of vascular smooth muscle cell
proliferation, migration and matrix formation. Cardiovasc Res
1999;41:345 60.
5. Newby AC. Matrix metalloproteinases regulate migration, pro-
lifera, and death of vascular smooth muscle cells by degrad-
ing matrix and non-matrix substrates. Cardiovasc Res 2006;
69:614-624.
6. Ji H, Wang L, Bi, H, Cai B, Wang Y, Zhao J, Du Z. Mechanisms of
lumbrokinase in protection of cerebral ischemia. Eur J Pharma-
col 2008; 590:281-289.
7. Trisina J, Sunardi F, Suhartono M, Tjandrawinata. In press.
DLBS1033, a protein extract from Lumbricus rubellus, pos-
sesses antithrombotic and thrombolytic activities. J Biomed
Biotech.
8. Willerson JT, Ridker PM. Infammation as a cardiovascular risk
factor. Circulation 2004; 109:II-2 II-10.
9. Brodsky M, Halpert G, Albeck M, Sredni B. The anti-infammato-
ry efects of the tellurium redox modulating compound, AS101,
are associated with regulation of NfB signalling pathway and
nitric oxide induction in macrophages. J Infamm 2010;7:3
10. Kempe S, Kestler H, Lasar A, Wirth T. NFkB controls the global
pro-infammatory response in endothelial cells: evidence for
the regulation of a pro-atherogenic program. Nucleic Acid Res
2005; 33(16):5308-5319.
11. Han D, Ybanez MD, Ahmadi S, Yeh Kelvin, Kaplowits N. Redox
regulation of tumor necrosis factor signaling. Antioxid Redox
Signal 2009; 11(9):2245-2263.
12. Liu N, Liu J, Lu P, Ji Y, Wang C, Guo F. C-reactive protein induces
TNF secretion by p38 MAPK-TLR4 signal pathway in rat vascu-
lar smooth muscle cell. Infammation; DOI: 10.1007/s10753-
010-9234-z.
13. Kunkel EJ, Jung U, Ley K. TNF alpha induces selecten-mediated
leukocyte rolling in mouse cremaster muscle arterioles. Am J
Physiol 1991; 272(3Pt2):H1391-400.
14. Gotsch U, Jager U, Dominis M, Vestweber D. Expression of P-
selectin on endothelial cells is upregulated by LPS and TNF-
alpha in vivo. Cell Adhes Commun 1994; 217-14.
15. Wakefeld TW, Strieter RM. Downing LJ, Kadell AM, Wilke CA,
Burdick MD, Wrobleski SK, Phillips ML, Paulson JC, Anderson
DC, Greenfeld LJ. P-selectin and TNF inhibition reduce venous
thrombosis infammation. J Surg Res 1996;64(1):26-31.
16. Barthel SR, Gavino JD, Descheny L, Dimitrof CJ. Targetting se-
lectins and selectins ligands in infammation and cancer. Ex-
pert Opin Ther Targets 2007; 11(1):1473-1491.
17. Tchernychev B, Furie B, Furie BC. Peritoneal macrophages ex-
press both P-selectin and PSGL-1. J Cell Biol 2003; 163(5):1145-
1155.
18. Deem TL, Cook-Mills JM. Vascular cell adhesion molecule 1
(VCAM-1) activation of reactive oxygen species. Blood 2004;
104(8)2385-2393.
19. Tong Q, Zheng L, Lin L, Li B, Wang D, Li D. Hypoxia-induced mi-
togenic factor promotes vascular adhesion molecule-1 expres-
sion via the PI3K/Akt-NF-kB signaling pathway. Am J Respir Cell
Mol Biol 2006;35:444-456.
20. Lee YS, Tran HTL, Ta QV. Regulation of expression of matrix
metalloproteinase-9 by JNK in RAW 264.7 cells: presence of in-
hibitory factor(s) suppressing MMP-9 induction in serum and
conditioned media. Exp Mol Med 2009; 41(4) 259-268.
21. Page-McCaw A, Ewald AJ, Werb Z. Matrix metalloproteinnase
and the regulation of tissue remodelling. Nat Rev Mol Cell Biol
2007; 8(3):221-233.
22. Wang M, Takagi G, Asai K, Resuello RG, Natividad FF, Vatner DE,
Vatner SF, Lakatta EG. Aging increases aortic MMP-2 activity
and angiotensin II nonhuman primates. Hypertension 2003;
41:1308-1316.
23. Mukai Y, Shimokawa H, Higashi M, Morikawa K, Matoba T, Hi-
roki J, Kunihiro I, Talukder HM, Takeshita A. Inhibition of renin-
angiotensin system ameliorates endothelial dysfunction asso-
ciated with aging in rats. Arterioscler Thromb Vasc Biol 2002;
22:14451450.
24. Sun L, Ma K, Wang H, Xiao F, Gao Y, Zhang W, Wang K, Gao X, Ip
N, Wu Z. JAK1-STAT1-STAT3, a key pathway promoting prolifer-
ation and preventing premature diferentiation of myoblasts. J
Cell Biol 2007; 179(1):129-38.
25. Kim HY, Park EJ, Joe EH, Jou I. Curcumin suppresses Janus
Kinase-STAT infammatory signalling through activation of Src
homology 2 domain-containing tyrosine phsphatse 2 in brain
microglia. J Immunol 2003; 171-6072-6079.
that DLBS1033 could increase plaque stabilization
and reduce the intimal medial thickness and hence
this drug is promising in terms of treatment cardio-
vascular patients and decreasing the burden of car-
diovascular diseases.
Acknowledgement
We thank Jessica Trisina for preparing the sample of
DLBS1033, Audrey Clarissa and Venni Carolina for
critical review on this manuscript.
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
25
Rizaldy Pinzon
SMF Saraf RS Bethesda Yogyakarta
research original article
Profil Kepatuhan Terhadap Program
Terapi Obat pada Epilepsi Onset
Anak-Anak
PENDAHULUAN
Epilepsi merupakan salah satu penyakit neurologis
yang utama.
1
Epilepsi dihubungkan dengan angka
cedera yang tinggi, angka kematian yang tinggi,
stigma sosial yang buruk, ketakutan, kecemasan,
gangguan kognitif, dan gangguan psikiatrik.
2
Pada
tahun 2000, diperkirakan penderita epilepsi di se-
luruh dunia berjumlah 50 juta orang, 37 juta orang
diantaranya adalah epilepsi primer, dan 80% tinggal
di negara berkembang.
1

Sebagai salah satu bentuk penyakit kronik, maka
kepatuhan terhadap program pengobatan merupa-
kan hal yang penting. Permasalahan yang muncul
adalah tingkat kepatuhan yang cenderung rendah
pada berbagai penelitian terdahulu. Penelitian
Jones, dkk
3
memperlihatkan bahwa 59% penyan-
dang epilepsi tidak patuh terhadap program pengo-
batannya. Ketidakpatuhan terhadap regimen terapi
dihubungkan dengan peningkatan frekuensi kejang
dan kecemasan.
3
Penelitian lain oleh Gomes, dkk
4

memperlihatkan bahwa angka ketidakpatuhan pen-
derita epilepsi terhadap program pengobatannya
mencapai 40%. Penelitian tentang kepatuhan terapi
obat anti epilepsi di Indonesia masih cukup terba-
tas. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur profl
kepatuhan penderita epilepsi terhadap program pe-
ngobatan epilepsi, dan dampak kepatuhan terhadap
kemungkinan tercapainya remisi dalam terapi.
METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini rancangan yang akan digunakan
adalah rancangan kohort historis (historical prospec-
tive cohort). Pada penelitian ini sampel penelitian
diambil dari populasi penderita epilepsi anak-anak
dengan bangkitan konvulsif dengan onset usia
anak-anak (225 tahun). Kriteria inklusi adalah:
1. Penderita epilepsi onset anak-anak (2 tahun - 25
tahun),
2. Tipe bangkitan konvulsif,
3. Didiagnosa epilepsi dan mulai mendapat terapi
rutin obat antiepilepsi minimal 2 tahun saat
penelitian dimulai,
Epilepsi merupakan penyakit neurologi utama dengan permasa-
lahan yang kompleks. Kepatuhan terhadap program terapi obat
merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai remisi. Tu-
juan penelitian adalah mendeskripsikan profl kepatuhan terhadap
program terapi pasien epilepsi onset anak-anak. Data dikumpulkan
dengan kuesioner sebagai bagian dari penelitian tentang prog-
nosis epilepsi. Metode penelitian adalah kohort historis. Regresi
logistik digunakan untuk melihat faktor yang berhubungan den-
gan kepatuhan terhadap program terapi obat anti epilepsi. Data
diperoleh dari 110 penyandang epilepsi onset anak-anak, terdiri
dari 42,7% laki-laki dan 57,3% perempuan. Sebagian besar pasien
(60%) hanya memperoleh satu jenis obat antiepilepsi. Proporsi pa-
sien yang patuh pada program terapi adalah 63%. Ketidakpatuhan
terhadap program terapi dihubungkan dengan pencapaian remisi
yang lebih rendah.
Kata kunci: epilepsy, childhood and young, adult onset, compli-
ance, treatment
ABSTRAK
Epilepsy is one of the major neurological diseases in the childhood
with complex additional problems. Compliance to the drug treat-
ment program is very important for achieving remission in epi-
lepsy. The purpose of this paper was to describe the compliance of
people with epilepsy. The data were collected by questionnaires
from children with epilepsy. This study is a part of prognosis study
in childhood epilepsy. Historical cohort method is used for this
study. Logistic regression was used to indicate the predictors and
impact of good compliance. Data were obtained from 110 child-
hood onset epilepsy patients, consisting of 42,7% male and 57,3%
female patients. Most of the patients (60%) only received 1 medi-
cation. The proportion of patients that complied with treatment
program is 63%. Non compliance was signifcantly related to the
failure of achieving remission.
Keywords: epilepsy, childhood and young, adult onset, compli-
ance, treatment
MEDICINUS 24(1), January 2011 26
4. Didampingi oleh orang tua atau keluarga ter-
dekat pada saat kontrol, dan
5. Catatan medik lengkap.
Sementara kriteria eksklusi penelitian adalah:
1. menolak ikut dalam penelitian,
2. penderita dan keluarga yang tidak yakin akan
data karakteristik sebelum terapi rutin obat anti
epilepsi.
Pertanyaan tentang kepatuhan terapi diadaptasi
dari kuesioner Kyngas, dkk
5
yang menilai berbagai
aspek kepatuhan dalam program terapi obat an-
tiepilepsi. Peran kepatuhan terhadap tercapainya
remisi diukur dengan analisis univariat dan multivar-
iat. Penelitian ini menggunakan power sebesar 80%
dengan interval kepercayaan 95%. Paket program
statistik (SPSS dan WinPepi) digunakan untuk peng-
ukuran dan analisis statistik.
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian diperoleh dari 110 penderita epilepsi
bangkitan konvulsif dengan usia onset anak-anak
dan dewasa muda (2-25 tahun). Jumlah subjek laki-
laki dan perempuan hampir seimbang (42,7% VS
57,3%). Sebagian besar subjek memiliki bangkitan
konvulsif yang general (80%) dibanding hanya 20%
dengan bangkitan parsial.
Epilepsi idiopatik didapatkan pada hampir 60%
kasus. Bangkitan epilepsi yang disertai dengan de-
fsit neurologis dijumpai pada 15,5% kasus. Sebagi-
an besar kasus memperlihatkan gambaran EEG yang
abnormal. Kurang lebih 2/3 subyek mendapatkan
terapi obat antiepilepsi setelah lebih dari 10 bangki-
tan konvulsif. Tabel 1 memperlihatkan karakteristik
dasar subyek penelitian.
Tabel 1. Karakteristik dasar subyek penelitian
Karakteristik Jumlah %
1 Jenis kelamin
- laki-laki
- perempuan
47
63
42,7%
57,3%
2 Usia saat onset
- kurang dari 5 tahun
- 5-12 tahun
- lebih dari 12 tahun
32
38
40
29,1%
34,5%
36,4%
3 Tipe bangkitan konvulsif
- general
- parsial
88
22
80%
20%
4 - Epilepsi idiopatik
- Epilepsi simptomatik
65
45
59,1%
40,9%
5 Jumlah bangkitan sebelum
terapi rutin
- kurang atau sama dengan 10
- lebih dari 10
73
37
33,6%
66,4%
6 Gambaran EEG
- normal
- abnormal
- tidak ada data
17
81
12
15,5%
73,6%
10,9%
7 Riwayat kejang demam
- ada
- tidak ada
31
79
28,2%
71,9%
8 Riwayat keluarga penyandang
epilepsi
- ada
- tidak ada
13
97
11,8%
88,2%
9 Riwayat status epileptikus
- ada
- tidak ada
12
98
10,9%
89,1%
10 Defisit neurologi
- ada
- tidak ada
17
93
15,5%
84,5%
Sebagian besar pasien hanya mengkonsumsi
satu macam jenis obat anti epilepsi saja. Aspek ke-
patuhan terhadap terapi ditunjukkan dengan 4 as-
pek, yaitu:
1. Ketaatan terhadap instruksi pengobatan,
2. Tidak menghentikan pengobatan tanpa kon-
sultasi,
3. Kepatuahn terhadap pola hidup yang dianjur-
kan, dan
4. Keteraturan kunjungan ke RS.
Grafk 1 dan tabel 2 memperlihatkan pola pen-
gobatan dan kepatuhan penderita epilepsi terha-
dap program terapinya.

Grafk 1. Jumlah obat anti epilepsi yang dikonsumsi
research original article
MEDICINUS 24(1), January 2011 27

Tabel 2. Profl kepatuhan terhadap program pengobatan
Pertanyaan
Jawaban
Ya
Jawaban
Tidak
1. Apakah anda/ anak anda
selalu mentaati instruksi yang
diberikan untuk pengobatan
anda ?
93 (84,5%) 17 (15,5%)
2. Apakah anda/ anak anda
pernah menghentikan sendiri
pengobatan anda ?
36 (31,7%) 74 (67,3%)
3. Apakah anda/ anak anda
melakukan pola hidup seperti
yang dianjurkan ?
99 (90%) 11 (10%)
4. Apakah anda / anak anda
selalu datang kontrol secara
teratur ?
91 (82,7%) 19 (17,3%)
Responden yang menjawab ya pada pertan-
yaan 1, 3, dan 4, dan menjawab tidak pada per-
tanyaan 2 dikategorikan sebagai pasien yang patuh.
Dengan demikian ada 63,6% pasien yang patuh dan
36,4% pasien yang tidak patuh terhadap program
terapi obat antiepilepsi.
Kepatuhan terhadap terapi terbukti sebagai
faktor predictor yang bermakna untuk tercapainya
remisi 12 bulan berturut-turut. Penderita epilepsi
yang patuh terhadap program terapi memiliki pro-
babilitas yang lebih tinggi untuk mencapai remisi 12
bulan berturut-turut dengan terapi OAE dibanding
penderita yang tidak patuh (RR: 0,583, 95% CI: 0,345-
0,986).
Tabel 3 menunjukkan bahwa faktor predictor
yang bermakna untuk tercapainya remisi 12 bu-
lan berturut-turut dengan terapi obat anti epilepsi
adalah jumlah serangan sebelum terapi, defsit neu-
rologi, dan kepatuhan terhadap program terapi.
Analisis multivariat memperlihatkan bahwa
jumlah serangan yang tinggi sebelum terapi dan
adanya defsit neurologis penyerta merupakan fak-
tor prediktor untuk tidak tercapainya remisi 6 bu-
lan dengan terapi OAE. Adanya defsit neurologis
Faktor B SE Exp (B) / RR 95% CI p
Adanya defisit neurologis penyerta 2,086 0,817 8,056 1,623-39,975 0,011*
Tipe bangkitan parsial 1,440 0,639 4,222 1,207-14,766 0,024*
Jumlah bangkitan konvulsif yang tinggi 0,548 0,465 1,730 0,682-4,387 0,248
Ketidakpatuhan pada program terapi 1,071 0,475 2,917 1,173-7,257 0,021*
Tabel 3. Analisa multivariat tidak tercapainya remisi 12 bulan dalam terapi OAE
penyerta, tipe bangkitan parsial, dan ketidakpatu-
han terhadap program terapi merupakan faktor
predictor untuk tidak tercapainya remisi 12 bulan
dengan terapi OAE (obat antiepilepsi).
PEMBAHASAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa angka ketidak-
patuhan mencapai 36,4%. Hasil ini hampir serupa
dengan penelitian Kyngas
5
pada 300 orang pe-
nyandang epilepsi usia remaja (13-17 tahun) yang
memperlihatkan angka ketidakpatuhan sebesar
34%. Kompleksnya regimen pengobatan, ketaku-
tan akan munculnya efek samping obat, akses yang
terbatas terhadap pelayanan, edukasi yang kurang,
dan faktor psikologis yang buruk dihubungkan de-
ngan ketidakpatuhan terhadap program terapi obat
anti epilepsi.
6
Kajian Zaccara,
7
dkk memperlihatkan
bahwa obat antiepilepsi yang lebih baru dihubung-
kan dengan efkasi dan tolerabilitas yang lebih baik.
Hasil penelitian
memperlihatkan pula bahwa
kepatuhan terhadap terapi
merupakan salah satu faktor
penentu tercapainya remisi.
Pemahaman yang kurang
tentang epilepsi dan
program terapi epilepsi
akibat informasi yang tidak
adekuat merupakan faktor
utama terjadinya
ketidakpatuhan terhadap
program terapi.
8

research
original article
MEDICINUS 24(1), January 2011
28
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
Hal ini tentu pula akan meningkatkan kepatuhan.
Penggunaan obat antiepilepsi generasi baru dibata-
si oleh harganya yang relatif mahal.
Hasil penelitian memperlihatkan pula bahwa ke-
patuhan terhadap terapi merupakan salah satu fak-
tor penentu tercapainya remisi. Pemahaman yang
kurang tentang epilepsi dan program terapi epilepsi
akibat informasi yang tidak adekuat merupakan fak-
tor utama terjadinya ketidakpatuhan terhadap pro-
gram terapi.
8
Penelitian Kemp, dkk
9
menunjukkan
bahwa stigma dan pandangan yang salah tentang
epilepsi berkontribusi terhadap ketidakpatuhan
penyandang epilepsi terhadap program terapinya.
Dukungan dari keluarga, staf medis, dan perawat
terbukti meningkatkan kepatuhan program terapi
bagi para penyandang penyakit kronik.
10

Penelitian yang dilakukan oleh Basuki dan
Dikot
11
terhadap 31 orang pasien dengan epilepsi
tidak terkendali menunjukkan bahwa ketidakpatu-
han merupakan faktor yang sangat berperan untuk
terjadinya epilepsi yang tidak terkendali. Peneli-
tian prospektif yang dilakukan oleh Kaliaperumal,
dkk
12
terhadap 95 pasien epilepsi parsial di India
menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap terapi
merupakan faktor prediktor remisi yang utama
dalam analisis multivariat. Penderita yang teratur
berobat memiliki kemungkinan sebesar 3,42 kali
untuk mencapai remisi 2 tahun dibanding penderita
yang tidak teratur berobat. Penelitian lain menun-
jukkan bahwa pasien yang tidak taat minum obat
memiliki risiko sebesar 23 (95% CI 8,28-63,84) kali
untuk berkembang menjadi epilepsi tak terkendali
dibanding pasien yang taat berobat.
13

Strategi untuk meningkatkan kepatuhan terapi
sangat bersifat individual. Edukasi, konseling, dan
dukungan dari keluarga dan petugas kesehatan
sangat diperlukan. Informasi tentang pengoba-
tan antiepilepsi harus dijelaskan secara mendetail
pada penyandang dan keluarga penderita epilepsi.
Pengawasan akan keberhasilan terapi, efek samp-
ing obat, dan pembukaan akses komunikasi antara
pasien/ keluarga pasien dengan petugas kesehatan
diharapkan meningkatkan pula ketaatan pasien.
6

KESIMPULAN
Sebagian besar pasien epilepsi akan mengalami re-
misi 6 bulan berturut-turut dalam terapi rutin OAE,
namun hanya kurang lebih 50% saja yang akan
mengalami remisi 12 bulan berturut-turut. Faktor
prediktor buruk untuk tercapainya remisi adalah
bangkitan parsial, adanya defsit neurologis peny-
erta, jumlah bangkitan yang tinggi sebelum terapi,
dan ketidakpatuhan pada program terapi.
1. WHR, Epilepsy in The World Health Report, Mental Health : New Un-
derstanding, New Hope, WHO, 2001.
2. Shafer PO, Improving The Quality of Life in Epilepsy: Non Medical Is-
sues Too Often Overlooked, Postgraduate Medicine, 2002, January
3. Jones RM, Butler JA, Thomas VA, Peveler RS, Prevett M, 2006, Ad-
herence To Treatment In Patients With Epilepsy: Associations with
Seizure Control and Illness Beliefs, Seizure, 2006, 15(7): 504-8
4. Gomes MM, Filho MH, Medication-Taking Behavior and Drug Self
Regulation In People With Epilepsy, Arq Neuropsiquatr, 1998, 56(4):
714-9
5. Kyngas H, Compliance with Health Regimens of Adolescents with
Epilepsy, Seizure, 2000, (7): 598-604
6. Wagner ML, Murad D, Patel D, Compliance in Epilepsy: A Review, US
Pharmacist, 1998, 12(1)
7. Zaccara G, Messori A, Cincotta M, Burchini G, Comparison of the ef-
fcacy and tolerability of new antiepileptic drugs: what can we learn
from long-term studies? Acta Neurol Scand, 2006, 114(3): 157-68
8. Smith D, Chadwick D, The Management of Epilepsy, J Neurol Neuro-
surg Psychiatry; 2001, 70(Suppl 2) ( June )
9. Kemp S, Feely M, Hay A, Wild H, Cooper C, Psychological Factors and
Use of Antiepileptic Drugs: Pilot Work Using An Objective Measure
of Adherence, Psychol Health Med, 2007, 12(1); 107-113
10. Kyngas H, Rissanen M, Support as A Crucial Predictor of Good Com-
pliance of Adolescents with A Chronic Disease, J Clin Nurs, 2001,
10(6): 767-774
11. Basuki A, Dikot Y, Evaluasi Penatalaksanaan Pada Penderita Epilepsi
yang Tidak Terkendali, Epilepsi, 1998, 3(1) : 44-49
12. Kaliaperumal VG, Sundararaj N, Mani KS, Seizure Prognosis For Par-
tial Epilepsies in India, Epilepsy Res, 1989, 3. 86-91
13. Amang A, Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan Pengobatan Epilepsi
di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, Laporan Penelitian Akhir IP Saraf
FK UGM Yogyakarta, 1990
14. Kyngas H, Predictors of Good Compliance in Adolescents with Epi-
lepsy, Seizure, 2001, 10: 549-553
Daftar Pustaka
research original article
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
29
Kristoforus Hendra Djaya
PPDS Penyakit Dalam FKUI-RSCM Jakarta
case report
Koinfeksi HIV dengan malaria dapat saling mempengaruhi per-
jalanan penyakit satu sama lain. Keluhan demam memiliki banyak
diagnosa banding. Tidak mudah membuat diagnosa yang benar
terutama jika demam ini terkait dengan suatu penyakit imunokom-
promais sehingga diperlukan ketelitian anamnesa, pemeriksaan
fsik dan penunjang yang tepat. Hubungan interaksi infeksi malaria
dan HIV hingga saat ini masih banyak diperdebatkan sehingga
diperlukan penelitian lebih lanjut.
Kata Kunci: HIV, malaria, demam, koinfeksi
ABSTRAK
Abstract. HIV co-infected with malaria can afect each course of
the disease to each other. A complaint of fever has many difer-
ent diagnoses. It is not easy to make the correct diagnosis, es-
pecially if the fever is associated with an immunocompromised
disease so that the necessary accuracy anamnesis, physical ex-
amination and further laboratory fndings are needed. The inter-
actions of malaria and HIV infection are still much debated so
that needed further research.
Keywords: HIV, malariae, fever, coinfection
PENDAHULUAN
Malaria telah menjadi salah satu penyebab utama
morbiditas dan mortalitas manusia, terutama di
daerah Afrika sub-Sahara, di mana sekitar 300500
juta infeksi terjadi setiap tahunnya, yang mana
90% dari angka tersebut terjadi di daerah Afrika
sub-Sahara dan menyebabkan sekitar 1 juta kema-
tian per tahunnya.
1,2
Di Indonesia, pada tahun 2006
diperkirakan terdapat 2,518,046 kasus malaria dari
sekitar 240,271,522 penduduk Indonesia.
3
Infeksi virus HIV telah menjadi pandemi di ber-
bagai daerah di negara-negara berkembang yang
sudah cukup menderita akibat beban infeksi ma-
laria.
4
The Joint United Nations Program on HIV/AIDS
(UNAIDS) memperkirakan sekitar 29,4 juta pen-
duduk Afrika terinfeksi HIV,
5
sedangkan di Indonesia
jumlah penduduk yang menderita HIV/AIDS pada
tahun 2007 diperkirakan mencapai 270,000.
6
Malaria dan HIV dapat saling mempengaruhi
perjalanan penyakit satu sama lain.
4
Patnaik et al,
dalam sebuah studi kohort prospektif yang dilaku-
kannya pada sebuah populasi rural di Malawi, mene-
mukan bahwa seseorang yang terinfeksi HIV di dae-
rah endemik malaria akan mengalami peningkatan
risiko menderita malaria. Sedangkan di Indonesia,
ko-infeksi antara HIV dan malaria memang belum
banyak dilaporkan. Namun demikian, dengan ting-
ginya prevalensi malaria di beberapa daerah di Indo-
nesia, dengan semakin meningkatnya jumlah pen-
derita HIV/AIDS di Indonesia, kasus-kasus seperti ini
bukan tidak mungkin akan lebih sering kita jumpai
di masa depan. Pengertian akan bagaimana kedua
Malaria pada HIV :
Suatu Tantangan dalam Diagnosis
original article
infeksi berinteraksi satu sama lain sangat diperlukan
untuk mengontrol kedua penyakit.
1
ILUSTRASI KASUS
Seorang pria, 28 tahun, datang dengan keluhan
utama demam tinggi sejak 9 hari sebelum masuk ru-
mah sakit (SMRS). Pasien masuk bangsal umum (non-
SIDA) dikirim dari IGD RSP dengan diagnosa kerja ob-
servasi febris suspek demam tifoid dd/ DHF. Demam
tinggi, pernah hingga 41
o
C, naik-turun, dan hanya tu-
run dengan pengobatan. Setiap hari demam muncul
namun waktunya tidak menentu, terkadang malam,
terkadang juga siang. Pasien tidak menggigil dan
tidak pernah kejang. Pasien merasakan nyeri kepala,
nyeri perut, dan mual namun tidak muntah. Nafsu
makan menurun. Batuk maupun pilek disangkal. Se-
jak 5 hari SMRS pasien mulai buang-buang air. BAB
cair, terdapat ampas namun jumlahnya lebih sedikit
dari cairannya, frekuensi 5-6x per hari, tak ada darah,
namun terdapat lendir. BAK normal.
Pasien bekerja di Papua sebagai petugas bea cu-
kai dan saat ini datang ke Jakarta untuk menjalani
training perpajakan. Pasien telah bekerja selama 5
tahun dan belum pernah terkena malaria sekalipun.
Pasien tidak pernah menggunakan obat proflaksis
malaria. Pasien pernah memakai obat-obatan sun-
tik sekitar tahun 2000 selama 2 tahun. Riwayat seks
bebas disangkal. Tiga bulan yang lalu, pasien pernah
dirawat di Papua dan diperiksa kemungkinan HIV.
Dokter yang memeriksa menyatakan pasien mend-
erita HIV positif dan memberikan ARV zidovudin 2x1
dan efavirenz 1x1. Viral load terakhir tidak terdeteksi.
MEDICINUS 24(1), January 2011
30
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
case report
original article
Pasien dan keluarga pasien tidak memiliki penyakit
darah tinggi, kencing manis, maupun alergi.
Pada pemeriksaan fsik saat pasien masuk RSP
didapati kesadaran pasien kompos mentis, tampak
sakit sedang, kesan gizi baik, TD 120/85 mmHg, nadi
96x/menit, suhu 38,8
o
C, pernafasan 18x/menit. Di-
dapatkan konjungtiva anemis namun sklera tidak
ikterik, pada pemeriksaan rongga mulut didapati
adanya oral trush, tidak terdapat atrof papil. Pada
pemeriksaan leher didapati tekanan vena jugularis
52 cmH
2
O dan tidak ditemukan pembesaran KGB.
Hasil pemeriksaan paru dan jantung dalam batas
normal. Pada pemeriksaan abdomen didapati perut
pasien datar, lemas, hepar dan limpa tidak teraba,
shifting dullness (-), terdapat nyeri tekan epigastrium,
serta bising usus yang meningkat. Ekstremitas pa-
sien hangat, tanpa adanya edema maupun petekie
pada kedua tungkai, bahkan setelah dilakukan tes
Rumpell-Leed. Tanda-tanda dehidrasi seperti penuru-
nan turgor kulit juga tidak ditemukan.
Hasil pemeriksaan laboratorium pada saat pa-
sien masuk IGD RSP adalah sebagai berikut: Hb: 9.8
g/dL, Ht 26%, Leukosit 3130 /uL, Trombosit 32000/
uL, MCV 99.1 f, MCH 37.4 pg, MCHC 37.7 g/dL, Hi-
tung jenis: 1,3/1,9/58,8/25,8/12,2. Widal: S. Typhi
O+1/80; S.Typhi H+1/80; S. Paratyphi AO+1/80; S.
Paratyphi AH+1/160; S. Paratyphi BO+1/80; S. Para-
typhi CH+1/80, lain-lain negative. DPL satu hari
berikutnya (IGD RSP): Hb/Ht/L/T: 8.6/23/3550/38000.
Pada saat itu, pada pasien ditegakkan masalah
observasi febris e.c. demam tifoid dd/ malaria; SIDA
dalam terapi ARV dengan kandidiasis oral; serta ane-
mia makrositik hiperkrom.
Observasi febris e.c demam tifoid ditegakkan
atas dasar adanya keluhan demam tinggi sejak 9
hari SMRS yang naik-turun, disertai keluhan nyeri
perut, mual, dan diikuti BAB mencret. Adanya bradi-
kardi relatif pada pasien ini (suhu 38,8
o
C, nadi hanya
96x/menit), serta nyeri tekan abdomen serta hasil
pemeriksaan widal turut memperkuat dugaan de-
mam tifoid pada pasien ini. Adanya imunodefsiensi
pada pasien tersebut akibat HIV positif yang diidap
pasien dipikirkan menjadi salah satu penyebab keti-
daksesuaian pola demam tifoid yang seharusnya
dengan pola demam pada pasien ini serta mem-
persulit pemeriksaan rongga mulut, sebab penam-
pakan lidah kotor menjadi tersamar akibat adanya
oral trush. Pada pasien direncanakan untuk dilaku-
kan pemeriksaan Tubex-T untuk konfrmasi adanya
infeksi tifoid (yang pada hari ke-8 baru keluar hasil-
nya yaitu negatif ), pemeriksaan feses lengkap untuk
mencari kemungkinan penyebab diare pada pasien
ini, serta pemeriksaan serologi dan pulasan darah
tebal-tipis untuk mengkonfrmasi malaria sebagai
diagnosis bandingnya (pada hari ke-8 hasil keluar
ditemukan tropozoid Plasmodium falciparum). Pada
pasien juga direncanakan pemantauan DPL/24 jam,
serta pemeriksaan morfologi darah tepi, urinalisa,
SGOT/SGPT, ureum, kreatinin, GDS, elektrolit, albu-
min, serta globulin. Pada saat itu, terhadap pasien
direncanakan pemberian cairan rumatan KaEN 3B/8
jam, diet lunak 1700 Kal/hari, antibiotika seftriakson
1x2 g, serta parasetamol 3x500 mg. Untuk keluhan
mual pada pasien ini diberikan pantoprazol 1x40 mg
serta domperidon 3x10 mg.
SIDA dalam terapi ARV dengan kandidiasis oral
dipikirkan dari adanya riwayat IVDU selama 2 tahun
(2000-2002), riwayat pemeriksaan HIV di Papua de-
ngan hasil HIV (+), serta penggunaan obat-obatan
ARV. Pada pemeriksaan fsik juga ditemukan adanya
oral trush. Pasien belum pernah dilakukan pemerik-
saan hitung CD4 maka direncanakan untuk dilaku-
kan pemeriksaan hitung CD4 dan viral load serta
konseling HIV dan perencanaan pemberian ARV
baru, yaitu neviral 1x1 dan duviral 2x1. Pada pasien
juga diberikan terapi empirik kotrimoksasol 2x2 tab-
let, serta fukonazol 1x200 mg.
Anemia makrositik hiperkrom pada pasien ini
dipikirkan merupakan anemia megaloblastik maka
pasien direncanakan pemeriksaan morfologi darah
tepi dan diberikan asam folat 1x3 tablet serta Vita-
min B
12
3x1 tablet. Pada hari ketiga perawatan, hasil
pemeriksaan DPL menunjukkan penurunan kadar
hemoglobin yang cukup signifkan (5,8). Kadar re-
tikulosit 2,4%. Sedangkan trombosit 28.000.
Demam yang dialami pasien juga masih promin-
ens, dengan bentuk kurva yang tidak beraturan dan
suhu puncak yang tinggi. Hal ini menyebabkan ke-
curigaan terhadap malaria semakin kuat. Maka diren-
canakan untuk pemeriksaan serologi malaria dan
pulasan darah tebal-tipis, serta diberikan transfusi
PRC 800 cc. Hasil pemeriksaan sediaan pulasan darah
tebal-tipis di laboratorium Parasitologi FKUI-RSCM
tersebut adalah plasmodium falciparum dalam stadi-
um tropozoit dan gametosit, serta hasil pemeriksaan
rapid test malaria adalah positif P. falciparum. Hasil
ini menegakkan diagnosis malaria tropikana (falci-
parum) terhadap pasien, serta merubah tatalaksana
terhadap pasien.
Pengobatan malaria pada pasien HIV+ dapat
diberikan Artesunate 4-4-4 dan Amodiakuin 4-4-2,
yang tersedia di RSCM dengan sediaan bermerek
Arsuamoon, yang harus segera diberikan. Obat
tersebut diberikan kepada pasien pada hari keem-
pat perawatan selama tiga hari, kemudian dilakukan
pemeriksaan pulasan darah tebal-tipis untuk me-
monitor hasil pengobatan.
Setelah pasien minum Arsuamoon dosis ke-
dua, pada pemeriksaan pulasan darah tebal-tipis ter-
dapat plasmodium falciparum dalam fase gametosit
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
31
saja, sehingga pengobatan dilanjutkan. Pemeriksaan
DPL pasca transfusi telah menunjukkan perbaikan,
di mana Hb 9,7, Ht 27, leukosit 2860, serta trombosit
pasien 73.000. Pemeriksaan dengue blot yang di-
mintakan terhadap pasien pada saat pasien masuk
menunjukkan hasil negatif baik pada pemeriksaan
dengue IgG maupun dengue IgM.
Setelah dosis terakhir Arsuamoon diberikan, pu-
lasan darah tebal-tipis menunjukkan tidak diketemu-
kannya plasmodium (laboratorium RSP), sebagai
konfrmasinya dilakukan juga pemeriksaan yang
sama di laboratorium parasitologi FKUI, didapati
Plasmodium falciparum dalam fase gametosit. Ber-
dasarkan hasil konsultasi terhadap divisi tropik infek-
si RSCM, dikatakan bahwa gametosit tidaklah berba-
haya terhadap pasien, namun pasien akan menjadi
carrier dan menjadi sumber penularan Plasmodium
falsiparum, sebab gametosit tersebut akan menjadi
aktif bila masuk ke tubuh nyamuk. Maka disarankan
pemberian Primakuin 3 tablet single dose, serta di-
lakukan pengecekan pulasan darah tebal-tipis setiap
7 hari (H+7, 14, 21, 28) sebagai tindak lanjutnya.
Pada hari kesepuluh perawatan, dilakukan
pemeriksaan DPL dan pulasan darah tebal-tipis di
RSP dengan hasil perbaikan, yaitu Hb 9,6, Ht 29, leu-
kosit 3220, trombosit 107.000, serta tidak ditemukan
plasmodium. Pada hari kesebelas perawatan, yaitu 7
hari pasca pemberian Arsuamoon, hasil pemerik-
saan hitung CD4 pada awal perawatan telah keluar
dengan hasil CD4 absolut 109 (16%) dan berdasar-
kan hasil konsultasi dengan konsultan HIV di RSP,
dikatakan perlunya penggunaan ARV sesuai standar,
yaitu Duviral (zidovudin + lamivudin) 2x1 dan Nevi-
ral (Efavirenz) 1x1, serta perlunya dilakukan edukasi
dan konseling terhadap pasien dan keluarga. Selain
itu, dilakukan pula pemeriksaan pulasan darah te-
bal-tipis kembali di parasitologi FKUI dan hasilnya
adalah tidak ditemukannya lagi parasit malaria. In-
feksi telah teratasi, dan pasien dipulangkan dalam
keadaan sehat.
PEMBAHASAN
Malaria pada manusia disebabkan oleh satu dari
empat jenis parasit: Plasmodium falciparum, Plasmo-
dium malariae, Plasmodium ovale, dan Plasmodium
vivax. P. falciparum yang terutama memiliki risiko
kematian tertinggi, dan merupakan penyebab mor-
biditas dan mortalitas tertinggi.
1

Diagnosis malaria ditegakkan melalui beberapa
aspek. Diagnosa klinis ditegakkan berdasarkan geja-
la dan pemeriksaan fsik. Gejala utama malaria yaitu
demam, menggigil, berkeringat, sakit kepala, nyeri
otot, mual, dan muntah. Pada malaria berat yang
disebabkan Plasmodium falciparum, gejalanya lebih
mencolok, seperti delirium, koma, gejala neurologis
fokal, anemia berat, dan kesulitan bernafas. Pada
sebagian besar kasus, gejala klinis ini tidak khas di
awal, sehingga diagnosa tersebut perlu dikonfrmasi
dengan pemeriksaan laboratorium.
9
Diagnosa pasti malaria ditegakkan melalui diag-
nosa mikroskopik, yang ditegakkan dengan mengi-
dentifkasi adanya parasit malaria pada apus darah
pasien di bawah mikroskop. Biasanya preparat diberi
pewarnaan Giemsa untuk memperjelas warna para-
sit malaria. Teknik ini masih menjadi gold standard
dari konfrmasi diagnosis malaria. Namun demikian,
akurasi pemeriksaan ini sangat tergantung kualitas
reagen, mikroskop, dan pengalaman dari laboran.
Deteksi antigen parasit malaria dengan metode
imunologik disebut tes imunokromatografk (ICT),
biasanya dilakukan dengan menggunakan dipstik
dan hasilnya dapat dibaca dalam 215 menit. ICT
sangat berguna di mana pemeriksaan mikroskopis
sukar disediakan. Namun demikian, setelah peng-
gunaan ICT tetap sangat disarankan untuk dilaku-
kan pemeriksaan lanjutan secara mikroskopis untuk
mengkonfrmasi hasilnya, dan seandainya positif,
perlu dilakukan kuantifkasi jumlah eritrosit yang
terinfeksi.
9
Metode PCR (Polymerase Chain Reaction) dika-
takan bahkan lebih akurat dibandingkan pemerik-
saan mikroskopis. Namun demikian, harganya yang
masih tinggi dan diperlukannnya laboratorium den-
gan alat-alat khusus menyebabkan pemeriksaan ini
tidak mudah diaplikasikan, terutama di daerah en-
demis malaria.
9
Bukti-bukti mutakhir mulai menunjukkan adan-
ya interaksi patologis antara HIV dan malaria pada
infeksi ganda, walaupun implikasinya di masyarakat
masih belum jelas.
1
Beberapa peneliti mempostu-
lasikan bahwa HIV merubah presentasi klinis malar-
ia.
7
Hal ini semakin meningkatkan angka kesukaran
diagnosis malaria pada pasien HIV. Demam, yang
merupakan keluhan utama pada pasien-pasien HIV
dan dapat disebabkan oleh sekumpulan penyebab
lainnya selain malaria, termasuk infeksi viral, bakte-
rial, infeksi oportunistik atau parasitik, di mana ge-
jala-gejala klinisnya sukar dibedakan dari malaria.
8

Efek samping dari obat-obatan antiretroviral dan
beberapa obat lainnya, dan juga IRIS (immune recon-
stitution syndrome) juga dapat menyebabkan gejala
demam. Namun demikian, fakta bahwa penduduk
daerah endemis dapat mengalami parasitemia ma-
laria yang asimptomatik membuat diagnosis malaria
pada pasien HIV tampak semakin kompleks.
8
Berg dalam penelitiannya menyebutkan bahwa
dari perbandingan antara temuan gejala, tanda, dan
hasil laboratorium pasien-pasien yang didiagnosis
pasti di akhir sebagai malaria dengan pasien-pasien
case report
original article
MEDICINUS 24(1), January 2011
32
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
case report
original article
yang tidak terbukti malaria, nyeri kepala adalah satu-
satunya gejala yang berhubungan secara signifkan
dengan kasus yang terbukti malaria. Menurut Berg,
tidak ada perbedaan yang signifkan antara gejala,
tanda, maupun hasil laboratorium antara pasien-
pasien malaria pada HIV positif dan HIV negatif.
8
Di area-area endemis malaria, penduduk setem-
pat akan mendapatkan imunitas hingga tingkat
tertentu terhadap manifestasi klinis infeksi malaria.
Pada area di mana terjadi fuktuasi transmisi malaria,
demam tinggi yang akut merupakan manifestasi
klinis yang signifkan dan dapat menyebabkan
anemia berat, malaria serebral, dan kematian pada
berbagai usia, di mana pada daerah dengan trans-
misi malaria yang lebih tinggi dan stabil, penyakit ini
akan menyerang anak-anak dan orang dewasa den-
gan cara yang berbeda. Anak-anak akan mengalami
parasitemia asimptomatik yang rekuren atau kronis,
yang dapat juga menyebabkan anemia berat dan
kematian. Beberapa individu akan mendapatkan
kekebalan pada usia 5 tahun, yang akan mereka
bawa hingga usia dewasa dan seringkali hanya
muncul sebagai infeksi asimtomatik.
1

Adanya perubahan terhadap manifestasi klinis,
peningkatan imunitas, hingga munculnya individu
yang mengalami parasitemia asimtomatik rekuren
dan kronis, akan semakin memperberat tantangan
dokter dalam mendiagnosa penyakit malaria terse-
but, terutama bila pasien yang bersangkutan ting-
gal di daerah endemis malaria dan melakukan per-
jalanan ke area-area non-endemis dan jatuh sakit di
sana, seperti yang terjadi pada pasien ini.
Pada pasien ini keluhan-keluhannya sangat be-
ragam dan meliputi demam-demam tinggi yang
menjadi keluhan utama pasien, tidak menggigil dan
tidak pernah kejang, nyeri perut, dan mual namun
tidak muntah, serta nafsu makan menurun dan BAB
cair, merupakan gejala-gejala yang non-spesifk dan
dapat terjadi baik pada pasien malaria ataupun bu-
kan malaria, HIV positif maupun HIV negatif. Kelu-
han nyeri kepala dapat ditemukan pada pasien ini,
yang merupakan satu gejala yang berhubungan sig-
nifkan dengan malaria, seperti dikemukakan oleh
Berg dalam penelitiannya tersebut di atas.
Berg juga menyatakan bahwa dalam penelitian-
nya, proporsi pasien dengan malaria parasitemia
juga tidak berbeda bermakna antara pasien pengi-
dap HIV positif dan pasien dengan HIV negatif (9,8%
vs 10,4%). Pada pasien-pasien yang mengalami par-
asitemia terdokumentasi, derajat parasitemia yang
dikategorikan menjadi derajat 15, tidak berbeda
bermakna antara kelompok pasien pengidap HIV
positif dan HIV negatif (mean: 2.8 vs 3.5).
8
Dalam penelitian tersebut, dari data retrospektif
yang ada, diagnosa malaria ternyata gagal dibuk-
tikan pada lebih dari separuh kasus yang sejak
awalnya mendapat diagnosa kerja sebagai malaria.
Pasien-pasien dengan keluhan demam yang diang-
gap sebagai malaria, ternyata lebih sedikit yang
terbukti sebagai malaria pada kasus dengan HIV
positif dibandingkan pada pasien HIV negatif. Hal ini
mencerminkan tingkat kesukaran mendiagnosa ke-
luhan demam pada pasien dengan HIV positif yang
diakibatkan oleh banyaknya kemungkinan infeksi
oportunistik, sehingga secara klinis, malaria menjadi
lebih sukar dibedakan dari infeksi lainnya dan risiko
misdiagnosa menjadi lebih sering terjadi.
8
Salah satu pelajaran utama yang dapat kita petik
dari sini adalah bahwa diagnosa malaria pada pasien
HIV positif tidak semudah pada pasien HIV negatif,
dan adalah sangat penting untuk mempertimbang-
kan kemungkinan-kemungkinan diagnosa diferen-
sialnya, terutama infeksi oportunistik, pada pasien
HIV yang tinggal di area endemis yang mengalami
demam. Pada studi tersebut, meningoensefalitis
dan tuberkulosis merupakan salah satu penyakit
yang paling sering disangka malaria. Pasien demam
tersangka atau bahkan sudah terdiagnosa pasti
HIV positif, terutama mereka yang mengalami kaku
pada tengkuk atau keluhan yang menetap lebih dari
2 minggu, harus dievaluasi dengan cermat adanya
kemungkinan diagnosa banding lainnya selain ma-
laria. Probabilitas adanya infeksi ganda antara mala-
ria dengan infeksi lainnya juga harus dipertimbang-
kan.
8
Satu hal yang menarik untuk kita pelajari juga
adalah efek dari infeksi HIV positif terhadap malaria,
dalam hubungannya dengan proses penegakan di-
agnosa malaria itu sendiri. Walaupun parasitemia be-
rat dapat dijumpai pada orang Afrika dengan infeksi
HIV simptomatik, beberapa peneliti mengatakan
bahwa mereka terproteksi dari malaria serebral dan
kematian akibat malaria serebral. Hal ini mungkin
berhubungan dengan rendahnya kadar TNF pada
anak-anak yang terinfeksi HIV, seperti diungkapkan
oleh Dayachi et al dalam publikasinya pada Inter-
national Conference of AIDS. TNF telah dilaporkan
memiliki efek potensiasi adhesi endotelial dan pe-
nyumbatan pada mikrosirkulasi akibat eritrosit ber-
parasit. Studi mengenai TNF pada pasien-pasien di
institusi tersebut menunjukkan adanya peningkatan
kadar TNF pada pasien malaria. Namun, pada pasien
dengan AIDS, kadar TNF justru menurun. Salah satu
penjelasan akan terjadinya penurunan mortalitas
pada anak-anak dengan malaria dan AIDS adalah
adanya penurunan kadar TNF yang memberikan
efek protektif terhadap malaria.
10
Eckwalanga mengatakan bahwa AIDS yang
menginfeksi mencit telah terbukti memberikan efek
proteksi terhadap beratnya manifestasi serebral
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
33
malaria, dan proteksi ini meningkat sejalan dengan
meningkatnya durasi infeksi virus dan imunode-
fsiensi. Interleukin-10 dari sel-T splenik tampaknya
memegang peranan di sini.
11
Salah satu hal yang
menarik pada kasus ini adalah bagaimana seorang
penderita HIV dapat tinggal dan bekerja di Papua,
suatu daerah yang sangat endemis malaria, selama
5 tahun, tanpa proflaksis, dan tidak pernah menga-
lami gejala malaria sekali pun. Saat pasien masuk
untuk di rawat di RSCM pun, pasien sudah menga-
lami demam selama 9 hari, terinfeksi malaria falci-
parum, tanpa mengalami malaria berat. Hitung CD4
pada pasien ini (109) tampaknya bukan merupakan
suatu faktor risiko untuk terjadinya malaria berat.
Dan bahkan, jika menilik kedua literatur di atas, hal
ini malah menjadi faktor proteksi terhadap terja-
dinya malaria berat. Fakta ini memang masih belum
terbukti dengan jelas dan masih abu-abu, namun
menjadi sangat menarik untuk digali lebih lanjut
pada penelitian-penelitian berikutnya, baik in vitro
maupun in vivo.
KESIMPULAN
Pada studi kasus ini kita dapat mempelajari adanya
bahwa proses mendiagnosa suatu keluhan sesimpel
demam, tidaklah semudah yang kita bayangkan.
Banyak kesalahan diagnosa yang seringkali terjadi,
apalagi jika demam ini terkait dengan suatu pen-
yakit imunokompromais, salah satunya yang sedang
mewabah saat ini adalah SIDA. Gejala demam telah
memiliki banyak diagnosa banding, apalagi pada
pasien-pasien dengan HIV positif atau bahkan SIDA,
dimana banyak infeksi oportunistik maupun efek
samping obat yang dapat ditimbulkannya.
Adanya anggapan para peneliti yang mempostu-
lasikan bahwa HIV merubah presentasi klinis malaria
itu sendiri telah mempersulit dokter dalam proses
mendiagnosa, sehingga dibutuhkan ketelitian dan
pemeriksaan yang komprehensif. Ditambah lagi
dengan banyaknya kemungkinan infeksi oportun-
istik, adanya pasien dengan malaria parasitemia
asimptomatik pada penduduk area endemis, serta
tingginya beban kerja, keterbatasan sumber daya
dan fasilitas diagnostik dan keilmuan yang dimiliki
oleh para klinisi di daerah-daerah endemis malaria,
semakin menghambat proses diagnostik malaria
dan menambah tingkat kesalahan diagnosa.
Satu penelitian yang dilakukan oleh Berg yang
menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang sig-
nifkan antara gejala, tanda, maupun hasil laborato-
rium antara pasien-pasien malaria pada HIV positif
dan HIV negatif, memberikan kelegaan bagi para
klinisi untuk dapat mendiagnosa malaria dengan
lebih baik.
Namun demikian adanya beberapa penelitian
yang menyatakan adanya efek protektif dari infeksi
HIV positif terhadap infeksi malaria, justru memberi-
kan harapan baru bagi pengidap HIV positif yang
tinggal di daerah endemis malaria, dan membuka
peluang untuk penelitian-penelitian terhadap pen-
garuh koinfeksi malaria pada pasien SIDA, maupun
koinfeksi SIDA pada pasien malaria asimtomatik dan
hubungan antara kedua penyakit tersebut.
1. Idemyor V. Human immunodefciency virus (HIV) and malaria
interaction in sub-Saharan Africa: the Collision of Two Titans.
HIV Clin Trials 2007; 8(4):24653
2. WHO. Malaria. Wkly Epidemiol Rec 1982-1997; 74:265-72
3. WHO. World Malaria Report 2008. Downloaded at March 10
th
,
2009, Available from: http://www.who.int/malaria/
4. Suri V, Bhalla A, Sharma N, Jain S, Varma S. HIV Immunosupres-
sion and malaria: Is there a correlation? Indian J Med Sci. 2006;
9 (60):3769
5. Byakika-Kibwika P, Ddumba E, and Kamya M. Efect of HIV-1
infection on malaria treatment outcome in Ugandan patients.
African Health Sciences 2007; 6(7): 8692
6. UNAIDS. 2008 Report on the Global AIDS Epidemic. 2008.
Downloaded at March 10
th
, 2009. Available from: http://www.
unaids.org
7. Cohen C, Karstaedt A, Frean J, Thomas J, Govender N, Prentice
E, et al. Increased prevalence of severe malaria in HIV-infected
adults in South Africa. Clin Infect Dis 2005; 41:1631-7
8. Berg A, Patel S, Langeland N, Blomberg B . Falciparum malaria
and HIV-1 in hospitalized adults in Maputo, Mozambique: does
Daftar Pustaka
HIV-infection obscure the malaria diagnosis? Malaria Journal
2008, 7:252. Downloaded at March 10th, 2009. Available from:
http://www.malariajournal.com/content/7/1/252
9. Division of Parasitic Diseases, National Center for Zoonotic,
Vector-Borne, and Enteric Diseases (ZVED). Malaria: Diagno-
sis. Departement of Health and Human Services. Centers for
Disease Control and Prevention. Downloaded at March 10th,
2009. Available from: http://www.cdc.gov/malaria/diagnosis_
treatment/diagnosis.htm
10. Dayachi F, Kabongo L, Ngoie K; International Conference on
AIDS. Decreased mortality from malaria in children with symp-
tomatic HIV infection. Int Conf AIDS. 1991 Jun 16-21; 7:164
11. Eckwalanga M, Marussig M, Tavares MD, Bouanga JC, Hulier
E, Pavlovitch JH, et al. Murine AIDS protects mice against ex-
perimental cerebral malaria: down-regulation by interleukin
10 of a T-helper type 1 CD4+ cell-mediated pathology. Institut
National de la Sant et de la Recherche Mdicale, Unit 313,
Dpartement de Parasitologie, Paris, France. Proc Natl Acad Sci
U S A. 1994 Aug 16; 91(17):8097-101 8058763
case report
original article
MEDICINUS 24(1), January 2011
34
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
Achmad Fudholi
Laboratory of Pharmaceutical Technology
Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
technology
INTRODUCTION
Drugs, in the form of vegetation and minerals, have
existed longer than man himself. The use of drugs,
crude though they may have been, for the instinct
of primitive man to relieve the pain of a wound by
bathing it in cool water or by soothing it with a fresh
leaf. From experience primitive man would learn that
certain therapy was more efective than others, and
from the beginnings the practice of drug therapy be-
gan.
Due to the patience and intellect of the archeolo-
gists, the types and specifcs drugs employed in the
early history of drug therapy are not indefnable as
one might suspect. The most famous of these survi-
ving memorials is Papyrus Ebers, a continuous scroll
some 60 feet long and foot wide dating back to the
16
th
century before Christ. The text of Papyrus Ebers
is dominated by drug formulas, with more than 800
formulas or prescriptions being described and over
than 700 diferent drugs being mentioned. The drugs
referred to are chiefy botanic, although mineral and
animal drugs are also noted.
Throughout history many individuals have con-
tributed to the advancement of natural product in
the health sciences. Dioscorides (1
st
century AD), a
Greek physician and botanist described some of
drugs such as opium, ergot and hyoscyamus. He
identifed and collected natural of drugs and pro-
posed the methods of their proper storage, and the
mean of detecting adulterants or contaminants.
Claudius Galen (130-200 AD), described descriptions
of numerous drugs of natural origin with a profusion
Formulation Technology of Phytopharmaceuticals
of drug formulas and methods of compounding. Many
preparations of vegetable drugs by mixing or melting
the individual ingredients was once commonly referred
to as Galenic pharmacy. French pharmacist such as
Joseph Pelletier (17881842) and Joseph Caventou
(17951877) , they isolated quinine and cinchonine
from cinchona, and strychnine and brucine from nux
vomica. After then the extraction and isolation of vari-
ous active constituents from crude natural drugs were
major breakthroughs in the development of concen-
trated dosage forms of uniform strength containing ef-
fective therapeutics agents from natural drug.
Old pharmacists were concerned with the prepa-
ration and dispensing of drugs. At the time practi-
cally all drugs were of natural product this comprised
both the collection of raw material and the manu-
facture of preparations thereof. Nowadays the raw
materials are of quite diferent nature, chemical com-
pounds made synthetically or isolated from natural
products and purifed. The modern dosage forms
concentrate fully on making dosage forms from ma-
terials purchased from elsewhere.
The formulation that should be developed
should show to full advantage the medicinal quali-
ties of the raw materials. It is possible to improve the
biological quality of a drug substance in human by
the application of special techniques or by the choice
of specifc auxiliary substances. All factors which con-
tribute directly or indirectly to the quality of medica-
ment can describe by: the safety, the efectiveness
and the acceptability of the product. A drug is safe
when it does not give rise to any undesired side-
efect, when it used in the therapeutically required
The proper design and formulation of a dosage form requires consideration of the physical, chemical and biological characteristics both of
the drug substances and pharmaceutics ingredients to be used in fabricating the product. The drug and pharmaceutics material utilized must
be compatible with one another to produce a dosage forms product that is safe, efective and acceptable. The formulation of traditional me-
dicinal drugs consist of medical plants that can be considered to include all plant materials such as foliage, root, fower, fruit and seed which
may be used as such or in the form of their extracts. The formulation of phytopharmaceutical raw material into dosage forms is a complex
operation which cannot be regarded only as a problem of pharmaceutical technology. It is more demanding in that it calls for close collabora-
tion between manufacturer and formulator especially of extract based products. The problem of controlling extract has two aspects; those
are pharmaceutical technology and phytochemical aspects.
ABSTRAK
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
35
technology
product type insofar as possible in order to estab-
lish the framework for product development. Most
commonly, a pharmaceutical manufacturer pre-
pares a drug substance in several dosage forms and
strengths for the efcacious and convenient treat-
ment disease. The formulation of modern drug that
best meet the goals for the product, normally consist
of one active substance in combination with one or
more pharmaceutical ingredients , and there are se-
veral dosage forms into which a combination active
substances are needed.
2
Active substance should be checked for identity,
purity and potency, prescription for which can be
found in pharmacopoeias or comparable compen-
dia. Sometimes these prescriptions have to be com-
pleted with specifc ones when special requirements
have to be set for the preparations to be made of
these.
Modern drug treatment uses preparations that
are frequently prepared by manufacturer and which
require no further manipulation in the pharmacy.
Most modern drugs are available in tablets, capsules
or injections. The efcacy of the drug in the body de-
pends on the dose of active substance. The dose of
a drug has been appropriately described as amount
which is enough but not too much, the idea being
to produce the drugs optimum therapeutic efect
in a particular patient with the lowest possible dose.
The dose of a given drug is specifc to the patient,
with many factors contributing to its size and efec-
tiveness. Table 1 presents examples of some drugs
with relatively low usual doses.
dosage and the efectiveness of a drug describes as
its biological activity in animals or in men. Both safe-
ty and efectiveness are primarily a quality of drug
substance to show that they are not of prime interest
within the scope of pharmaceutical technology. Ac-
ceptability of a drug is a more complex notion since
it comprises both properties which make it easier to
take a medicine, such as its taste, its smell, its appear-
ance and qualities contamination.
1

DOSAGE FORM DESIGN
Drug substances are seldom administered alone,
but rather as part of formulation in combination
with one or more nonmedical agents that serve
varied and specialized pharmaceutical functions
referred to pharmaceutical ingredients. The func-
tions of pharmaceutics ingredients may be served
as: fller, binder, desintegrant, glidant, lubricant, anti
adherant, solubilize, suspend, thicken, dilute, emul-
sify, stabilize, preserve, color, favor, etc.
The proper design and formulation of a dosage
form requires consideration of the physical, chemical
and biological characteristics both of the drug subs-
tances and pharmaceutical ingredients to be used in
fabricating the product. The drug and pharmaceuti-
cal material utilized must be compatible with one an-
other to produce a dosage forms product that is safe,
efective and acceptable. Dosage forms are needed
for many reasons as follows:
1. For the protection of a drug substance from the
destructive infuences of atmospheric oxygen or
humidity
2. For the protection of a drug substance from de-
structive infuence of gastric acid after oral ad-
ministration
3. To conceal the bitter, salty, or ofensive taste or
odor of a drug substance
4. To provide liquid preparations of substances that
are either insoluble or unstable in the desired ve-
hicle
5. To provide clear liquid dosage forms of substan-
ces
6. To provide time-controlled drug action
7. To provide optimal drug action from topical ad-
ministration sites
8. To provide for the insertion of a drug into one of
the bodys orifces
9. To provide for the placement of drugs directly
into bloodstream or into body tissues
10. To provide for optimal drug action through inha-
lation therapy.
Before formulating a drug substance into dosage
form, it is important to predetermine the desired
No. Drug Usual
dose
(mg)
Category
1 Lithium carbonate 300 Antidepressant
2 Ferrous sulfate 300 Hematinic
3 Cimetidine 300 Antiulcer
4 Ibuprofen 300 Antiinflamatory
5 Amoxicillin 250 Antibacterial
6 Erithromycin 250 Antibacterial
7 Nitrofurantoin 100 Antibacterial
8 Propoxyphene HCl 65 Analgesic
9 Hidrochlorothia-zide 50 Diuretic
10 Codeine phosphate 30 Analgesic
11 Phenobarbital 30 Sedative
12 Diphenhydramine
HCl
25 Antihistaminic
Table 1. Examples of some drugs with relatively low
usual doses
3
MEDICINUS 24(1), January 2011
36
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
technology
products ranging from parts of plants, through their
simple extracts. As the natural drugs are derived from
heterogeneous source they are subject to variability.
This variability can have both an advantageous and
disadvantageous efect. The advantages are that
some control of variability can be introduced to pro-
duce a superior product. For example, the selection
of particular varieties of cinchona raised the average
quinine content of bark drug from 5 percent to 15
percent. The main disadvantages are that the acti-
vity of the material may vary and that inferior mate-
rial may be produced. For example, the alkaloid level
in the basal leaves of belladonna falls from April to
June, whilst there is a concurrent increase in the leaf
size which keeps the total alkaloid per plants almost
constant. The level quinine in Chinchona ledgeriana
grown in Java increases markedly for the frst fve
years and then falls slowly.
Main extrinsic factors which are involved in de-
termining the morphological aspects of a plant and
the production of active compounds is described as
follows: (Wijeskera)
A. Climatic and geophysical factors
1. Temperature is the major factor controlling the
development and the metabolism of plants:
temperature periodic efects, seasonal varia-
tions.
2. Light (intensity, radiation
wavelength)
3. Rainfall, water supply
4. Altitude
5. Wind
6. Soil (physical, chemical, and
microbiological properties,
presence of pesticides)
7. Nutrition conditions, including
materials.
B. Biotic factors
1. Fungal, bacterial, and
viral infections
2. Presence of insects or deposition of eggs
3. Grazing, browsing, and trampling, fre
4. Planting density
5. Competition with other plants species.
C. Ontogenic factors and seeding times
Their infuence described mainly in the case of
medicinal plants containing essential oils and al-
kaloids.
D. Genetic factors
A plant population is dynamic entity. Its geo-
graphical repartition could be diferent from one
year to another.
There is a series of herbal drugs used on their
own, they care called mono- valent drug: exam-
In the other hand, the formulation of traditional
medicinal drugs consist of medical plants that can
be considered to include all plant materials such as
foliage, root, fower, fruit and seed which may be
used as such or in the form of their extracts. These
plants are closely related to those that produce sti-
mulants, condiments, spices, essential oils, and such
other higher forms of plant life that produce specifc
infuences on cell metabolism. The drugs derived
from plants continue to be a valuable source of the-
rapeutic agents in the armory of modern medicine
itself. Some phytochemical agents (Table 2) current-
ly employed in modern medical formulations.
In any case, many traditional remedies are still
in therapeutics use, including drugs as such, or ex-
tracts prepared in accordance with pharmacopoeia of
the country where they are used or according to the
requirements of use in the pharmaceutical forms for
which they are intended. All these preparations, when
therapeutically used in man, whether as drugs or their
derivatives, must comply with the requirements of
constancy, stability, purity, limits of residual solvents,
and pesticides. This is the source of manufacturing
problems that are often difcult to solve. The crucial
stages in the process are, as a rule, the choice of raw
materials and the procedure of extraction.
RAW MATERIALS
Natural drug raw materials are a diverse group of
Compounds Plant species Compounds Plant species
Adenoside
Ajmaline
Brucine
Curcumin
Hyoscyamine
Adonis vernalis
Rauwolfa vomitoria
Brucea species
Curcuma longa
Datura metel
Lanatosides
Physostigmine
Quinine
Strychnine
Thepbromine
Digitalis purpurea
Physostigma venenosum
Cinchona species
Strychnos nux-vomica
Theobroma cacao
Table 2. Some phytochemical agents currently employed in modern medi-
cal formulations
4
13 Morphine sulfate 10 Narcotic
analgesic
14 Prednisolon 5 Adrenocortical-
steroid
15 Chlorpheniramine
maleat
4 Antihistaminic
16 Colchicine 0,5 Gout supressant
17 Nitroglycerin 0,4 Antianginal
18 Digoxin 0,25 Cardiotonic
19 Levothyroxine 0,1 Thyroid
20 Ethinyl estradiol 0,05 Estrogen
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
37
ples of these are: caryophilli fos, chamomile fowers,
peppermint leaves, etc.
Caryophylli fos, is a drug consist of the dried
buds, dark brown, 1217 mm long, and has a strong-
ly aromatic odor, pungently spicy. The drug consti-
tuents are: 15% to more than 20% essential oil with
eugenol as the main component, a little eugenol
acetate, -caryophyllene and its oxide, humulene
and its epoxide, favonoids (quercetin and kaemferol
derivatives), tannins, Gallic acids and sterol glyco-
sides.
5
The drug is used primarily as a spice. The es-
sential oil has marked antibacterial activity and used
as an antiseptic in dentistry.
Besides these single herbal drugs, a few of which
may also be intended for internal use in powder
form, e.g. cucurbita seeds, ratanhia root, etc., in
practice herbal mixtures also have a major role to
play. These are mixtures which are either prepared
in the pharmacy or industrially, comprising several
drugs often belonging to the same indication group,
to which are added other drugs which assist the ac-
tion or are included to correct the taste. It is a good
pharmaceutical rule that herbal mixture should con-
sist of only a few, about 47 drugs. The composition
of herbal mixtures with 2030 drugs, which are pre-
pared by a number of manufactures, represents an
attempt at treatment with many drugs below thera-
peutically useful levels, which is likely to be of little
help. If the dosage forms consisting of herbal mix-
tures is consumed by a patient, the patient would
receive a lot of active substances, each of which has
diferent pharmacological efects.
The choice of the extraction solvents is an impor-
tant factor in fnished product quality, and the choice
of drug is pivotal. The drug must frst be thoroughly
checked before extraction as far as botanical, phy-
topathological, and chemical aspects are concerned.
One needs to consider that plants normally contain
several active substances, and in certain ratio to one
another. Present regulations require that this ratio
be kept, within narrow limits, constant from one
preparation to another, which means starting from
an already standardized raw material. To attain this
objective, if the plant to be extracted is still harvested
in the wild, the area of origin, time of harvesting, the
condition of drying and of storage must be specifed,
and in the extraction stage several batches must be
combined to achieve a homogeneous mix.
The extraction of a drug is the separation by
physical or chemical means of a solid or liquid ma-
terial from a solid. Normally, when an operation is
performed with solvents for extracting the vegeta-
ble material, it is called solid/liquid extraction. Every
extractive procedure that leads to concentration
equilibrium stops when the distribution of extract-
able substances between solvent and residual drug
is constant. The parameters infuencing extraction
are:
1. Swelling of the drug
Pretreatment of the ground drug with solvent
outside the extractor is a rule indispensable, to
avoid sudden swelling of the drug, to ensure
uniform moistening at the material, and to in-
crease the porosity of the cell wall.
2. Difusion, pH, particle size and temperature
For the extraction of a substance from vegetable
material the solvent must difuse into the cell
and in its turn the substance must be sufciently
soluble in the solvent. Equilibrium will be esta-
blished between solute and solvent, the speed
of with which it is attained depending on tem-
perature, pH, and particle size.
3. Choice of extraction solvent
The ideal solvent is obviously one of that pre-
senting maximum selectivity, has the best ca-
pacity for extraction in terms of coefciency of
saturation of the product in the medium and
is compatible with the properties of the mate-
rial to be extracted. Ethyl alcohol is the solvent
of choice according to the pharmacopeias for
obtaining classic extracts such as soft, fuid and
dry extracts still widely used in pharmaceutical
formulations. As these solvents have a great ex-
tractive power, the ideal alcohol/water ratio for
the extraction of plants woody parts or barks,
roots and seeds is about 7:3 or 8:2, whereas it
must be lower than 1:1 for extracting leaves or
aerial green parts. With an alcohol/water ratio of
1:1 it is possible to avoid the extraction of chlo-
rophyll, or resinous or polymeric substances that
are normally of no importance to the activity of
the extract but that greatly complicate the sub-
sequent stage of concentration by giving rise to
gummy precipitates that are hard to eliminate,
and push serious problems of phytopharmaceu-
tical formulation.
PHYTOPHARMACEUTICAL FORMULATION
The formulation of phytopharmaceutical raw mate-
rial into dosage forms is a complex operation which
cannot be regarded only as a problem of pharma-
ceutical technology. It is more demanding in that it
calls for close collaboration between manufacturer
and formulator especially of extract based products.
The problem of controlling extract has two aspects;
those are pharmaceutical technology and phyto-
chemical aspects.
The types of tests to be done on an extract are
essentially three: for the determination of the physi-
technology
MEDICINUS 24(1), January 2011
38
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
technology
cal characteristics, for chemical characteristics such
as qualitative and quantitative standardization, and
for potential impurities, and total aerobic microbial
count. All three types of test are relevant at the time
of formulation into dosage forms. The testing of
physical properties of soft extracts determines for-
mulation into dosage form, and its testing of chemi-
cal properties infuencing the method of fabrication.
For the preparation of solid dosage forms mostly
dry extracts are used. Except in rare cases, dry ex-
tracts are hygroscopic and so they cannot be used
without prior granulation for preparing tablets.
Granulation is thus the critical stage in the process of
preparing all solid dosage forms containing extracts.
To overcome the problem of hygroscopic, Aerosil,
a high porosity excipient, is widely used. Further
when operating with wet granulation, it is advisable
to use binders such us cellulose derivatives or poly-
vinylpirolidon in solution with organic solvents. If
aqueous solutions of cellulose derivatives, gum ara-
bic, gelatin, or aqueous gel such as starch mucilage
are used, several problems may arise in the course
of processing, especially if the formulation involves
large quantities of extracts.
The steps required in the preparation of tablets
from soft extracts by wet granulation are shown in
schematic diagram as follows:

Sugar or saponins, frequently present as second-
ary components of extracts, dissolve in water used for
mixing and form granules that are difcult to dry du-
ring the drying process, very hard fakes of glassy ap-
pearance, making granules hard to compress. Another
snag found in granulation with aqueous solutions is
the formation of compressed tablets that are difcult
to disintegrate. With dry extracts, after dry mixing with
appropriate excipients it is possible to obtain by direct
compression, without further manipulation. In these
cases, tablet obtained are technologically satisfactory
in terms of hardness, friability and disintegration time.
The excipients most commonly used for this purpose
are microcrystalline.
Fluid, soft, or dry extracts may be used for prepar-
ing liquid dosage forms that are undoubtedly far more
difcult to prepare than solid dosage forms. While the
main problem with the latter is the hygroscopic of
the extracts used, with liquid dosage forms there is
the problem of solubility of the extracts. Variation in
the pH can defnitely improve the solubility and stabi-
lity of some extracts. The stability, both chemical and
physical of a liquid dosage forms is afected by other
factors, for example, the possibility of fermentation
and interference with other component of the f-
nished product.
CONCLUSION
For the conclusion, it can be noted that: the formu-
lation and fabrication of phytopharmaceutical into
dosage forms is a complex operation which cannot be
regarded only as a problem of pharmaceutical tech-
nology. It is need more close collaboration between
manufacturer and formulator especially of extract
based products.
The source of manufacturing problems those are
often difcult to solve as the crucial stages in the pro-
cess are the choice of raw materials and the procedure
of extraction.
Problems involved in phytopharmaceutical fabri-
cation depend on the type of dosage forms produced.
It means that for powdered in sachet are focused is on
fuidity and homogeneity combination of raw materi-
als, for tablets these must be ensure both the fuidity
and compressibility of active substances and pharma-
ceutical ingredients used.
1. Polderman J. Introduction to pharmaceutical production. Novib, The
Hague; 1990
2. Lieberman HA, Lachman L. Pharmaceutical dosage forms, tablets. Vol. 2,
New York & Basel:Marcel Dekker, Inc.; 1985
3. Ansel HC, Popovich NG and Allen LV. Pharmaceutical dosage forms and
drug delivery systems. Lea & Febiger Book. Baltimore, Philadelphia; 1995
4. Bisset NG and Wichtl M. Herbal drugs and phytopharmaceuticals. 2
nd
ed.
Stutgart:Medpharm GmbH Scientifc Publisher; 2001
5. Brain KR, Turner TD. The practical evaluation of phytopharmaceuticals.
Bristol:Wright-Scientechnica; 1975
6. Wijeskera ROB. The medicinal plant industry. INTECNOS Associates, Inter-
national; 1991
Daftar Pustaka
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
39
Sugiyartono
Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga
Surabaya
Pengaruh Bahan Tambahan atau
Eksipien dalam Sediaan Farmasi Bagi
Keamanan Terapi Obat
PENDAHULUAN
Bahan tambahan atau eksipien, berasal dari kata latin
yakni: excipere, yang berarti menerima atau meng-
gabung. Pada tahun 1957, eksipien didefnisikan
sebagai bahan yang digunakan sebagai untuk me-
dia bahan obat dan mempunyai fungsi pendukung
yang inert terhadap bahan aktif. Pada tahun 1974,
defnisi eksipien diperbarui, yakni: bahan yang lebih
kurang inert, yang ditambahkan untuk menghasil-
kan konsistensi sediaan farmasi yang sesuai, atau un-
tuk membentuk obat (pengisi). National Formulatory
(NF) 1994 menyatakan bahwa eksipien adalah se-
mua bahan yang ada dalam formula sediaan farmasi,
kecuali bahan aktif.
Terdapat berbagai jenis eksipien, diantaranya
adalah: bahan yang mencegah terjadinya oksidasi
bahan aktif (antioksidan), menghambat pertumbu-
han mikroorganisme (antimikroba atau pengawet),
pengatur pH sediaan (bufer), pembuat isotoni, men-
stabilkan emulasi (emulgator), menambah kelarutan
obat (kosolven) dan sebagainya. Dengan demikian,
eksipien mempunyai peranan yang sangat besar
dalam meningkatkan kualitas, keamanan dan ke-
manfaatan sediaan farmasi dan juga untuk mening-
katkan kenyamanan pasien dalam menggunakan
obat, kemudahan dalam pengaturan dosis, penyim-
panan obat, dan sebagainya.
Oleh karena keamanan eksipien juga harus men-
jadi pertimbangan, maka formulator di Industri far-
masi harus melakukan kajian yang cukup mendalam
untuk menentukan jenis eksipien yang akan ditam-
bahkan dalam sediaan farmasi yang diproduksi.
Selain itu, kemungkinan terjadinya efek yang tidak
diinginkan akibat eksipien juga harus senantiasa di-
waspadai dan diperhatikan. Saat ini sudah mulai ada
pemahaman mengenai pentingnya memperhatikan
aspek keamanan dari eksipien ini, walaupun masih
didominasi oleh penelitian eksipien pada industri
makanan, seperti: antioksidan, pewarna, pemanis
dan sebagainya.
PENGARUH EKSIPIEN TERHADAP KEAMANAN
TERAPI OBAT
Eksipien, seperti halnya obat (bahan aktif dalam
sediaan farmasi), juga mempunyai aktivitas termo-
dinamika, sehingga walaupun rendah, tetap memi-
liki pengaruh pada reaksi degradasi dan interaksi
dengan bahan obat. Pengaruh eksipien ini tentunya
sudah dipertimbangkan para formulator di indutri
farmasi, ketika melakukan studi praformulasi.
Beberapa contoh interaksi antara eksipien de-
ngan bahan obat adalah lubrikan (pelincir) lipoflik,
Obat yang diserahkan kepada pasien harus terjamin keamanan, kualitas dan kemanfaatannya. Keamanan suatu obat dapat dipengaruhi oleh
bahan aktifnya maupun bahan tambahan atau eksipien obat tersebut. Pengaruh eksipien terhadap keamanan obat saat ini menjadi perha-
tian oleh karena perkembangan teknologi dan formulasi. Walaupun formulator di Industri Farmasi telah memilih eksipien yang aman bagi
obat yang diproduksi, namun tenaga kesehatan di sektor pelayanan, khususnya para apoteker, harus memahami masalah ini dan melakukan
pengamatan serius terhadap pengaruh eksipien, oleh karena ada efek individual yang mungkin terjadi, misalnya alergi, pengaruh umur (
dewasa, anak-anak) dan sebagainya .
Untuk mencegah terjadinya pengaruh yang tidak diinginkan dari eksipien ini, perlu adanya informasi dalam brosur/kemasan obat,
home-care dan pendokumentasian pelayanan (PMR).
Kata kunci: eksipien, keamanan obat, informasi pada brosur, home-care, PMR
ABSTRAK
technology
MEDICINUS 24(1), January 2011
40
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
technology
yang bila didispersikan secara halus pada bahan obat
dapat menurunkan disolusi bahan obat. Kelompok
karbonilat, misalnya polivinilpirolidon, dapat ber-
interaksi dengan bahan obat yang termasuk dalam
golongan donor hidrogen misalnya famotidine dan
atenolol. Formulator tentu tidak akan menggu-
nakan eksipien yang dapat berinteraksi dengan ba-
han obat, karena akan berpengaruh pada kualitas
sediaan farmasi.
Pemilihan eksipien yang tidak menimbulkan
interaksi dengan bahan obat, dilakukan dengan
menggunakan uji DSC (diferential scanning calori-
metry) dan TLC (thin layer chromatography) dengan
skema sebagai berikut :
Selain interaksi dengan bahan obat, eksipien
juga dapat menimbulkan efek yang tidak dike-
hendaki, baik efek yang terjadi secara umum mau-
pun yang mungkin terjadi secara spesifk hanya
pada individu tertentu.
Efek yang terjadi secara umum biasanya timbul
sebagai akibat penggunaan eksipien yang melebihi
batasan yang ditetapkan. Eksipien seperti halnya
obat atau bahan lainnya, mempunyai kemungkinan
menimbulkan efek yang tidak diinginkan apabila
digunakan dengan jumlah yang melebihi batasan
tertentu.
Berikut adalah contoh eksipien golongan fenol
dan efek samping yang dapat terjadi:
- Vaselin: iritan dan dermatitis
- Bakterisidal-fungisidal: iritan
- Pengawet: contact dermatitis
- Paraben: kontak dermatitis
- Butilhidroksi toluene (BHT) dan butilhidroksi ani-
sol (BHA): animal toxicity
- Antioksidan: contact dermatitis
- Antioksidan: pruiritis, sensitisasi
Antioksidan golongan sulft (Na/K Bisulft, K
Metabisulft, Na Sulft dan sebagainya) banyak di-
gunakan pada industri farmasi dan makanan, dan
dapat menimbulkan reaksi hipersensitivitas pada
individu yang peka. Hipersensitivitas dapat ditandai
dengan munculnya bronkhokonstriksi, pruritus, ur-
tikaria, nyeri dada atau sesak napas, angioderma
dan hipotensi yang dapat mengakibatkan uncon-
sciousness. Hal ini dapat dialami oleh penderita
yang mempunyai riwayat asma. Walaupun jarang,
senyawa golongan sulft juga dapat menyebabkan
terjadinya paradoxical bronchospasm.
Eksipien golongan alkohol :
- Etanol: interaksi obat, intoksikasi ethanol (25
mg/dl),
- Benzil-alkohol: pada dosis rendah (0,9-2,0%: se-
bagai preservatif ) memberikan efek pada system
neurologi dan pada dosis yang lebih tinggi (>5%,
sebagai solubilizer) dapat menyebabkan terja-
dinya sindroma fatal pada bayi prematur 99-234
mg/kg/hari.
- Pengawet golongan merkuri, misalkan thio-
merosal, sebagai pengawet dan desinfektan
pada contact lens, ternyata dijumpai banyak
menyebabkab terjadinya hipersensitivitas (10%
pada pengguna contact lens).
Eksipien golongan hidrokarbon terhalogenasi,
misalkan chlorbutol (antimikroba), dapat berpe-
ngaruh pada penurunan tekanan darah, efek terha-
dap susunan saraf pusat, seperti somnolence.
Efek samping khusus akibat penggunaan ek-
sipien dapat terjadi walaupun jumlah eksipien yang
digunakan tidak berlebih. Hal ini terkait dengan
karakter spesifk dari subyek atau individu yang
bersangkutan, seperti keadaan patologi yang di-
transmisikan secara genetik (penyakit metabolisme,
(Diterjemahkan dari Aulton, 2002)
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
41
intoleransi terhadap terhadap phenylketonurea dan
laktosa), predisposisi genetika (diabet dan alergi).
Beberapa eksipien, diantaranya adalah tartrazin,
dapat menyebabkan terjadinya kasus intoleransi
pada beberapa individu, khususnya yang mempu-
nyai riwayat alergi dan juga intoleransi. Pelarut go-
longan minyak bagai pembawa sediaan injeksi juga
dapat menyebabkan alergi pada beberapa individu,
sehingga eksipien tersebut harus dicantumkan pada
brosur atau kemasan obat jadi.
Bahan pewarna, yang berasal dari alam ternyata
mempunyai efek samping yang lebih banyak terjadi.
Sebagai contoh sirup antibiotika tertentu, dapat
menyebabkan terjadinya abdominal pain dan nau-
sea serta muntah, karena adanya tingtur of orange
sebagai favour. Penambahan bahan pewarna dan
bahan perasa ke dalam formulasi harus memperha-
tikan adanya kemungkinan individu yang alergi.
Eksipien yang digunakan dalam sediaan farmasi
yang dikonsumsi anak juga harus diperhatikan kare-
na ada kemungkinan eksipien yang aman bagi pasi-
en dewasa, tetapi tidak diperbolehkan untuk anak.
Sebagai contoh: benzalkonium klorida (pengawet
yang banyak digunakan pada sediaan parenteral) da-
pat menyebabkan terjadinya spasme pada bronkus,
pemanis aspartam menyebabkan terjadinya sakit
kepala, pemanis sakarin dapat menyebabkan terja-
dinya hipersensitiftas pada penggunaan sulfona-
mida, laktose seringkali menyebabkan terjadinya
intoleransi karena adanya pengaruh fsiologis dari
aktivitas laktase pada orang dewasa dan propilen
glikol dapat menyebabkan terjadinya hiperosmolali-
tas dan asidosis laktat .
KESIMPULAN
Walaupun efek samping eksipien umumnya hanya
terjadi pada individu tertentu dan data angka ke-
jadian akibat efek samping dari eksipien ini me-
mang belum ada, namun tidak berarti bahwa pe-
ngaruh eksipien terhadap keamanan terapi obat ini
dapat diabaikan. Apoteker sebagai tenaga profesi
kesehatan yang bertanggung jawab terhadap kua-
litas, keamanan dan kemanfaatan obat, mempu-
nyai peran yang sangat penting dalam melakukan
pelayanan seleksi obatkepada masyarakat. Oleh
karena itu, ada beberapa saran yang dapat kita te-
laah bersama, yakni:
1. Industri Farmasi perlu mencantumkan data ek-
sipien (minimal jenis eksipien) yang digunakan,
pada brosur atau kemasan sediaan farmasi, se-
1. Aulton,M.E., (Eds.) 2002, Pharmaceutics The Science of Dosage Form De-
sign, 2nd Ed., Edinburgh London New York Philadelphia St Louis Sydney
Toronto
2. Blumer, J., 2003. Use of Excipients in Pediatric Formulation-Revisited.,
School of Medicine Case western Reserve University., Cleveland-Ohio
3. Piferi G., and Restani P.,2002., The Safety of Pharmaceutical Excipients.
Departemen of Pharmaceutical Sciences ., Institute of Pharmaceutical
and Toxicological Sciences., Via Balzaretti 9, Milan Italy
4. Rowe, C.R., Sheskey, P.J. and Owen,S.C. (Eds) 2006., Hand Book of Pharma-
ceutical Excipients , VTh Ed., Pharmaceuical Press and American Pharma-
cist Association, 2215 Constitution Avenue, NW, Washington
5. Troy D., and Hauber, M.J., (Eds) 2009.,Remington, The Science and Prac-
tice of Pharmacy,21Th Ed., Lippincot Williams and Wilkin, 351 West Cam-
den Street, Baltimore, Maryland-USA
Daftar Pustaka
hingga apoteker di sektor pelayanan (apotik dan
rumah sakit) dapat menentukan apakah obat
yang akan dilayankan kepada masyarakat ter-
jamin keamanannya, ditinjau dari bahan aktifnya,
maupun dari eksipien. Termasuk, ketika apote-
ker melayani permintaan dokter dalam bentuk
puyer, apoteker dapat memilihkan sediaan yang
aman untuk dibuat puyer bagi pasien, dan tidak
menggerus sediaan tablet dewasa yang me-
ngandung eksipien yang tidak bisa dikonsumsi
oleh pasien anak. Untuk keperluan pencantu-
man jenis eksipien oleh Industri Farmasi, ten-
tunya memerlukan keterlibatan Pemerintah
(badan POM).
2. Apoteker di apotik atau rumah sakit perlu melak-
sanakan monitoring terapi obat dari pasien yang
dilayani (home-care), sehingga keberhasilan, ke-
gagalan atau hal lain yang dialami pasien ketika
melaksanakan terapi obat dapat dipantau se-
hingga apoteker dapat membantu pasien dalam
melaksanakan pengatasan permasalahan yang
timbul, termasuk saran untuk memeriksakan diri
ke dokter atau rumah sakit.
3. Apoteker di apotik dan rumah sakit, perlu
melaksanakan dokumentasi pelayanan (Patient
Medication Record) yang dapat dijadikan sebagai
acuan bagi pelayanan berikutnya, di samping
dapat dijadikan sebagai dokumen yang valid
terhadap hasil terapi obat. Patient Medication
Record dapat menjadi alibi dan perlindungan
hukum bagi para apoteker. Selain itu, data
yang terdokumentasi dapat dikirimkan kepada
pemerintah sebagai masukan kejadian di lapa-
ngan, khususnya efek samping yang terjadi,
yang mungkin ditimbulkan oleh eksipien.
technology
MEDICINUS 24(1), January 2011 42
Technologi
Ary Widhyasti Bandem
Surabaya Skin Centre
medical review
PENDAHULUAN
Laser semakin populer dalam mengatasi berbagai
masalah kulit, seperti untuk eksisi tumor kulit, pe-
remajaan kulit, penghilangan rambut yang tidak di-
inginkan, penghilangan tato, terapi kelainan vasku-
lar dan berbagai kelainan pigmentasi kulit. Berbagai
kelainan pigmentasi yang pernah dilaporkan dapat
diterapi dengan laser antara lain: lentigo, ephelides
(freckles), caf au lait macules, melasma, dan ber-
bagai nevus; walaupun dengan efektivitas dan efek
samping yang bervariasi terutama untuk kulit Fitz-
patrick tipe IV-VI. Di samping itu pilihan terapi de-
ngan laser ini relatif mahal, dan seringkali laser tidak
dapat mengatasi kelainan pigmentasi dalam satu
kali kunjungan. Variasi efektivitas terapi dengan la-
ser tergantung dari beberapa faktor, seperti: jenis
laser yang digunakan, pengalaman dalam pena-
nganan, ketepatan diagnosis kelainan pigmentasi
serta faktor pasien dalam menjalani terapi laser.
1-6

Makalah ini membahas tentang berbagai ke-
lainan pigmentasi yang dapat diterapi dengan laser,
jenis laser yang dapat digunakan untuk mengatasi
kelainan pigmentasi, manfaat dan kerugian peng-
gunaan laser, serta berbagai pendekatan yang perlu
dilakukan agar terapi laser ini efektif dalam menga-
tasi kelainan pigmentasi dalam praktek sehari-hari.
Laser for Pigmentary Disorders
PRINSIP DASAR LASER UNTUK TERAPI KE-
LAINAN PIGMENTASI
Penggunaan laser untuk terapi kelainan pigmentasi
didasari oleh prinsip selective photothermolysis se-
perti dikemukakan oleh Anderson dan Parrish yaitu:
ketepatan sasaran berupa kromofor, ketepatan pan-
jang gelombang laser yang digunakan, durasi yang
lebih pendek dari TRT (thermal relaxation time) serta
ketercukupan fuence untuk merusak sasaran.
1-5
Pada hiperpigmentasi, kromofornya berupa
melanin atau melanosom; dan absorpsi energi
oleh melanin paling optimal terletak pada panjang
gelombang 500-1100 nm, sedang TRT melanin
adalah kuadrat dari diameter melanin, yaitu 0.25-1
sec. Absorpsi energi laser oleh melanin semakin
menurun seiring dengan meningkatnya panjang
gelombang cahaya, sehingga jenis laser yang dipa-
kai adalah laser dengan panjang gelombang yang
dapat merusak melanin dalam melanosit dan kerati-
nosit secara selektif seperti jenis Q (quality) switched.
Mekanisme terapi gangguan pigmentasi dengan
laser jenis ini dikenal sebagai penghilangan pigmen
secara primer. Q-switched mengandung pengertian
bahwa laser ini mampu menyimpan energi yang
sangat tinggi dalam kavitasnya melalui optical shut-
ter, sehingga saat laser ditembakkan ke target, alat
ini akan mengeluarkan energi yang sangat tinggi,
Laser semakin populer dalam mengatasi berbagai masalah kulit,
seperti untuk eksisi tumor kulit, peremajaan kulit, penghilangan
rambut yang tidak diinginkan, penghilangan tato, terapi kelainan
vaskular dan berbagai kelainan pigmentasi kulit. Laser yang secara
spesifk menghilangkan melanin adalah jenis laser quality switched
(QS) seperti QS ruby, QS alexandrite, dan QS Nd:YAG. Secara umum
dikatakan bahwa lesi pigmentasi jinak yang berespon baik terhadap
laser adalah lentigo, ephelides (freckles), nevus Ota, nevus Ito dan
nevus biru; sedangkan lesi caf au lait macule, nevus spilus, nevus
Becker memberi hasil yang bervariasi. Melasma dan hiperpigmentasi
pasca infamasi memberi respon kurang memuaskan. Variasi efek-
tivitas terapi dengan laser tergantung dari beberapa faktor, seperti:
jenis laser yang digunakan, pengalaman dokter dalam penanganan,
ketepatan diagnosis kelainan pigmentasi serta faktor pasien dalam
menjalani terapi laser.
Kata kunci: laser, kelainan hiperpigmentasi
Laser become more popular in dermatology practice, providing
treatment such as tumor excision, resurfacing, unwanted hair re-
moval, tattoo removal, vascular and pigmented disorders. Qua-
lity Switched lasers, such as QS Ruby, QS Alexandrite, QS Nd:YAG
disrupt melanin specifcally at epidermal and dermal level. Lenti-
genes, ephelides (freckles), Ota and Ito nevus, blue nevus have
good results with laser treatment, while caf au lait macule, spillus
nevus, and Beckers nevus have inconsistent results. Melasma and
post infammatory hyperpigmentation have unsatisfactory results.
The success of laser treatment for pigmented disorders depend on
several factors such as; the device used, the operators experience,
diagnosis of the disorders, and the patient being treated.
Keywords: laser, pigmentary disorders
ABSTRAK
MEDICINUS 24(1), January 2011 43
Daftar Pustaka
yaitu 109 watt dalam nano second. Dikenal berbagai
jenis laser Q-switched, seperti: laser QS Nd:YAG 1064
nm, frequency doubled QS Nd:YAG 532 nm, laser QS
Ruby 694 nm serta laser QS Alexandrite 755 nm.
1-5
Laser Q-switched

Di antara jenis laser Q-switched yang efektif untuk
terapi lesi pigmen epidermis atau tato superfsial
adalah frequency doubled QS Nd:YAG 532 nm. Seper-
ti diketahui bahwa laser QS Nd:YAG mengeluarkan
gelombang inframerah 1064 nm, yang apabila di-
pasangkan kristal potassium titanyl phosphate (PTP)
seperti pada frequency doubled QS NdYAG 532 nm,
akan terjadi penggandaan frekuensi dan menghasil-
kan panjang gelombang 532 nm yang berwarna
hijau. Absorpsi energi laser panjang gelombang
532 nm dengan pulse width ultra short (nanosec-
ond) pada melanin inilah yang menyebabkan laser
ini paling baik untuk mengatasi lesi pigmen di epi-
dermis maupun tato superfsial; sedangkan laser QS
Nd:YAG 1064, laser QS Ruby 694 nm serta laser QS
Alexandrite 755 nm dapat mencapai lesi pigmen
yang lebih dalam atau pigmen yang terletak di der-
mis. Di antara jenis Q-switched untuk kelainan pig-
men yang dalam, QS Nd:YAG 1064 nm lebih dipilih
untuk pasien dengan kulit gelap karena risiko terja-
dinya hipopigmentasi lebih kecil dibandingkan QS
jenis lainnya.
1-5
Laser Continuous Wave dan Laser Lainnya
Walaupun laser Q-Switched menjadi pilihan uta-
ma untuk mengatasi kelainan pigmentasi, akan
tetapi laser continuous wave juga masih dipakai
untuk lesi superfisial. Target laser ini adalah air di
epidermis dan tidak spesifik untuk melanin, se-
hingga menyebabkan kerusakan termal yang non
spesifik. Mekanisme ini dikenal dengan penghi-
langan pigmen secara sekunder. Contoh laser ini:
laser CO
2
(10600 nm), laser erbium (2490 nm), dan
laser argon (488 nm, 514 nm); sedangkan laser
fractional (1500 nm), pulsed dye laser, long pulsed
laser dan intense pulse lights (IPL) walaupun dapat
dipakai untuk menghilangkan lesi pigmentasi se-
cara nonselektif, tetapi hasilnya tidak optimal dan
tidak dapat dipakai untuk menghilangkan tato.
1,2
Pendekatan terapi laser yang baik untuk ke-
lainan pigmentasi, di samping prinsip dasar selective
photothermolysis juga harus diketahui letak pigmen
dalam struktur kulit, letak melanin di intra atau eks-
traselular, kepadatan distribusi melanin dan asal
pigmen (melanin atau tato). Secara umum dika-
takan bahwa lesi pigmentasi jinak yang berespon
baik terhadap laser adalah lentigo, ephelides (freck-
les), nevus Ota, nevus Ito dan nevus biru; sedangkan
lesi caf au lait macule, nevus spilus, nevus Becker
memberi hasil yang bervariasi. Melasma dan hiper-
pigmentasi pasca infamasi memberi respon kurang
memuaskan karena terapi laser sendiri mempunyai
efek hiperpigmentasi pasca infamasi sebagai efek
yang tidak diinginkan.
1-2
LESI PIGMENTASI DI EPIDERMIS
Secara umum lesi pigmentasi di permukaann seper-
ti epidermis lebih mudah dihilangkan dengan laser
daripada yang di dermis. Berikut kelainan pigmenta-
si di epidermis yang responsif terhadap laser adalah:
1. Lentigo simplek, solar lentigo
1-4,7,9,10
Lentigo berupa makula di epidermis bersifat
jinak terjadi akibat paparan sinar UV. Mela-
nin pada kelainan ini terdistribusi superfisial
yaitu di keratinosit dan melanosit, sehingga
lesi ini mudah dihilangkan dengan berbagai
laser, seperti laser QS ruby, QS alexandrite, fre-
quency doubled QS Nd:YAG 532 nm, laser CO
2
,
laser erbium dan IPL. Biasanya lentigo dapat
diterapi dengan hasil yang memuaskan dalam
1-3 kali sesi. Di antara bermacam-macam jenis
laser, terapi solar lentigo dengan laser QS ruby
dan QS 532 nm Nd:YAG menduduki level of
evidence A.
Lesi ini harus dibedakan dengan lesi lentigo
maligna, yaitu bentuk premaligna yang tidak
dianjurkan untuk diterapi dengan laser karena
lesi lentigo maligna mengandung amelanotik
melanosit yang tidak suseptibel dengan laser,
sehingga sering terjadi kekambuhan. Walaupun
demikian Orten SS, dkk dalam jurnal Otolaryngol
Head Neck Surg, March 1999, melaporkan 2 dari
8 penderita lentigo maligna yang diterapi QS
Nd:YAG laser (532 nm, 1064 nm) dengan dosis
4-11 J/cm
2
sebanyak 1 sampai 3 kali sesi mem-
beri respon hilangnya lesi secara total, baik klinis
maupun histopatologi serta tidak terjadi reku-
rensi selama 3,5 tahun.
2. Ephelides
1-4,7,11
Ephelides atau freckles adalah makula hiper-
pigmentasi, ukuran 1-2 mm, terdistribusi pada
daerah paparan sinar UV. Histopatologi ephe-
lids berupa hiperpigmentasi di lapisan basal
tanpa disertai peningkatan jumlah melanosit.
Ephelides sangat responsif terhadap terapi la-
ser QS.
Wang dkk., membandingkan efektivitas te-
rapi freckles pada 15 subyek ras oriental antara
QS Alexandrite (755 nm), 1 sesi (6,5-7,5 J/cm
2
),
de-ngan IPL (Quantum SR), 2 sesi (26-30 J/cm
2

dan 28-32 J/cm
2
). Hasilnya laser QS ini lebih efek-
medical review
MEDICINUS 24(1), January 2011
44
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
medical review
tif menghilangkan freckles, tetapi 28% kasus me-
ngalami hiperpigmentasi pasca infamasi yang
hilang dalam 3-6 bulan pasca terapi, sedangkan
subjek yang diterapi dengan IPL tidak ada yang
mengalami hiperpigmentasi pasca infamasi.
Oleh karena lesi ini sering kambuh terutama
dengan adanya paparan sinar UV, maka selama
perawatan dianjurkan harus selalu memakai tabir
surya.
3. Caf au lait macules
1-7,12
Caf au lait macules (CALM) adalah makula
warna kecokelatan berbatas tegas, biasanya
soliter atau kadang merupakan bagian dari
sindrom neurofibromatosis ataupun sindrom
Al Bright. Secara histopatologi didapatkan
peningkatan jumlah melanosit, hipermelano-
sis melanosit dan keratinosit dengan granula
melanin raksasa. Walaupun lesi CALM relatif
tipis dan superfisial, lesi ini sangat sulit untuk
dihilangkan. Efikasi terapi laser untuk CALM
bervariasi dan hasilnya tidak dapat diprediksi.
Shimbasi dkk, melakukan terapi CALM de-
ngan laser QS ruby (594 nm), sebanyak 1-6 sesi
terjadi lightening, walaupun dalam follow up
10-21 bulan terjadi repigmentasi.
4. Nevus spilus
1-5,13
Nevus ini terdiri dari makula yang berwarna
kecokelatan (caf au lait macules) yang disertai
dengan makula atau papula lebih gelap (junc-
tional melanocytic nevi ataupun campuran).
Histopatologi menunjukkan adanya hipermela-
nosis, pemanjangan rete ridges dan hipermela-
nositosis di membran basalis. Lesi yang gelap
dapat terdiri dari hiperplasia melanositik, nevus
melanositik, nevus junctional maupun nevus
campuran. Grevellink dkk., melaporkan hilang-
nya lesi nevus spilus pada 80-100% penderita
yang diterapi dengan laser QS ruby, walaupun
1 pasien mengalami rekurensi setelah 2 tahun,
dan satu pasien lainnya mengalami rekurensi 3
tahun setelah terapi. Efek samping yang muncul
setelah penggunaan laser ini adalah hipo dan
hiperpigmentasi. Pada pengamatan juga tam-
pak bahwa bagian lesi nevus spilus yang lebih
gelap ternyata lebih responsif terhadap laser
dibandingkan lesi yang lebih cerah.
LESI PIGMENTASI DI EPIDERMIS DAN DERMIS
1. Nevus Becker
1-5,14
Hamartoma ini sering dijumpai pada laki-laki
dewasa dengan ratio 4:1 dibandingkan wanita.
Lesi berupa hiperpigmentasi disertai hiper-
trikosis yang terdistribusi unilateral pada bahu,
lengan atas, skapula dan badan. Histopatologis
adanya hiperkeratosis ringan, akantosis, elongasi
pars retikularis dan hipermelanosis di membran
basalis. Pada pemeriksaan dengan mikroskop
elektron didapatkan peningkatan ukuran dan
jumlah melanosom pada keratinosit di lapisan
basal, serta didapatkan melanofag di dermis su-
perfsial. Kadang juga didapatkan pembesaran
serat otot halus pada dermis pars retikularis.
Terapi dengan laser QS ruby maupun QS
Nd:YAG dilaporkan efektif untuk lesi hiperpig-
mentasi walaupun sering pula terjadi rekurensi.
Hal ini diduga karena laser QS tidak dapat men-
capai melanin yang terdapat pada rambut. Laser
long pulsed yang banyak digunakan saat ini un-
tuk penghilang rambut, dapat menghilangkan
lesi hipertrikosis dan lesi hiperpigmentasi pada
nevus Becker. Dilaporkan dengan 3 sesi laser
long pulsed pada follow up 10 bulan ternyata
lesi hilang sampai 90%. Trelies dkk., memban-
dingkan efektivitas erbium: YAG laser dengan QS
Nd:YAG untuk terapi nevus Becker, didapatkan
bahwa satu pass erbium:YAG (2940 nm), 28 J/cm
2
,
ukuran spot 3 mm, lebih unggul dibandingkan 3
sesi QS Nd:YAG (1064 nm), 10 J/cm
2
, ukuran spot
3 mm.
2. Hiperpigmentasi pasca infamasi
2,4,15
Hiperpigmentasi pasca infamasi dapat berupa
hiperpigmentasi pada epidermis, dermis mau-
pun kombinasi. Terapi dengan laser tidak da-
pat diprediksi, tidak konsisten, dan sering tidak
memuaskan. Pada area yang luas dianjurkan trial
spot test sebelum seluruh lesi diterapi. Energi yang
dikeluarkan oleh laser QS Nd:YAG 532 nm untuk
lesi epidermal dianjurkan sebesar 2,5-4 J/cm
2
de-
ngan ukuran spot 2 mm; sedangkan untuk lesi
dermal dipakai QS Nd:YAG 1064 nm 10-12 J/cm
2
.
3. Melasma
1-4,6,7,16
Melasma dibagi menjadi tipe melasma epider-
mal, dermal dan kombinasi epidermal dan der-
mal. Tipe epidermal responsif terhadap laser QS
Nd:YAG 532 nm pada 2,5-3,5 J/cm
2
, ukuran spot
2 mm, sedangkan melasma tipe dermal sering
tidak memuaskan, karena terjadi hiperpigmen-
tasi pasca infamasi dan mudah terjadi rekurensi.
Pada melasma refrakter, Polnikorn melapor-
kan hilangnya lesi sampai 80% dan tidak terjadi
rekurensi selama 18 bulan pada penggunaan QS
Nd:YAG 1064 nm (Medlite C6) 3,4 J/cm
2
, ukuran
spot 6 mm, setiap minggu, selama 10 kali.
4. Nevus melanositik
1-6,17
Terapi dengan laser masih kontroversial karena
tidak jelas apakah iradiasi laser yang nonletal
dapat menyebabkan perubahan keganasan
pada nevus melanositik. Walaupun perubahan
keganasan karena terapi laser belum pernah
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
45
nm yang diikuti oleh QS Nd:YAG 1064 nm dan
ternyata lebih efektif menghilangkan lesi diban-
dingkan QS Nd:YAG 1064 nm saja.
PENDEKATAN DALAM PENGGUNAAN LASER
UNTUK KELAINAN PIGMENTASI
1,6,8,23
1. Seleksi pasien
Hal yang paling utama dipertimbangkan sebe-
lum melakukan terapi laser untuk kelainan pig-
mentasi adalah ketepatan penegakan diagnosis,
identifkasi faktor risiko rekurensi, faktor prog-
nostik dalam terapi laser, rencana terapi, biaya
terapi, efek yang muncul selama dan setelah
terapi serta dibuatkan informed consent.
Anamnesis meliputi: onset kemunculan lesi,
riwayat biopsi, riwayat perubahan dalam perja-
lan penyakit (membesar, berdarah, berubah war-
na), riwayat kanker kulit dalam keluarga, riwayat
terapi lesi, riwayat pemakaian asam retinoat oral,
riwayat herpes, riwayat keloid, riwayat berjemur
atau tanning, fototerapi dan tipologi kulit. Pada
penderita yang akan dilaser sebaiknya dilakukan
priming minimal 2-8 minggu sebelum tindakan
laser agar terapi menjadi lebih efektif dan me-
ngurangi efek hiperpigmentasi pasca infamasi.
2. Prosedur operasional terapi
Anestesi: setiap pulse laser menyebabkan rasa
nyeri yang sebenarnya dapat ditoleransi oleh
pasien, tetapi apabila lesi cukup luas dapat
diberikan anestesi topikal oklusif 1 jam sebelum
tindakan laser.
Perlindungan mata operator dan pasien de-
ngan kacamata yang optical density-nya sesuai
laser yang dipakai. Perlu diketahui bahwa laser
QS dapat merusak retina secara permanen. Apa-
bila terapi laser dilakukan pada lesi di kelopak
mata, maka bola mata penderita harus dilin-
dungi dengan metal corneal eye shield.
Lakukan uji spot test, dengan memakai uku-
ran spot yang disesuaikan dengan lesi, laser
dicobakan pada beberapa tempat pada lesi, di-
mulai dengan energi yang terendah. Kemudian
catat ukuran spot dan energi yang digunakan.
Tes ini dievaluasi 4-8 minggu kemudian. Evalua-
sinya adalah melihat adanya efek lightening de-
ngan energi terendah. Parameter itu yang dipa-
kai untuk terapi keseluruhan lesi.
Posisikan laser tegak lurus terhadap lesi.
Bila memakai QS laser, pada saat ditem-
bakkan dan mengenai partikel pigmen, akan ter-
dengar bunyi meledak (popping sound). End point
primernya adalah kavitasi berupa warna keputi-
han pada lesi. Untuk lesi pigmen yang dalam se-
perti nevus Ota, end point ini tidak terlihat tetapi
dilaporkan, tetapi sementara waktu terapi laser
disarankan hanya untuk lesi yang jelas jinak, dan
bila dicurigai ada keganasan maka sebaiknya di-
lakukan biopsi. Terapi laser tidak disarankan pula
untuk pasien yang mempunyai riwayat keluarga
melanoma maligna.
LESI PIGMENTASI DI DERMIS
1. Nevus Ota dan Ito
1-6,18,19
Nevus Ota adalah hamartoma melanositik der-
mal yang disertai warna kebiruan pada regio
trigeminus. Sedangkan Nevus Ito, distribusinya
pada bahu dan lengan atas sesuai dengan iner-
vasi nervus supraklavikula dan branchialis lateral.
Secara histopatologis terdapat melanosit dermal
yang tersebar pada dermis bagian atas, sehingga
terapi dengan laser pigmen yang dapat menca-
pai dermis seperti QS Nd:YAG 1064 nm, QS Ruby
dan QS Alexandrite sangat efektif untuk nevus
Ota dan Ito. Terapi biasanya memerlukan 4-10
kali sesi, dan hilangnya lesi mencapai 70-100
persen dengan rekurensi hanya 0,6-1,2%.
2. Nevus biru
1-4
Lesi melanositik jinak berwarna biru ini muncul
secara spontan pada anak-anak atau dewasa
muda. Histopatologi lesi ini tampak melanosit
yang terletak di dermis bawah. Warna biru dari
lesi disebabkan adanya efek Tyndall sebagai aki-
bat adanya efek scattering jaringan di atasnya.
Nevus biru sangat jarang berubah menjadi ben-
tuk ganas sehingga lesi ini dapat dihilangkan
dengan laser jenis QS ruby, alexandrite, Nd:YAG.
Pada Nevus biru dengan kedalaman lesi mela-
nositik meluas sampai ke subkutis, maka respon
terapi biasanya tidak baik.
3. Acquired bilateral nevus of Ota-like macules (AB-
NOMs)/nevus Hori/nevus fuscoceruleus zygo-
maticus
2,20-22
Nevus ini sangat sering ditemukan pada ras Asia,
ditandai adanya lesi hiperpigmentasi kebiruan,
terdistribusi bilateral pada daerah malar. Beda-
nya dengan nevus Ota, selain nevus ini muncul
setelah usia 20 tahun juga tidak disertai lesi pada
mukosa. Gambaran histopatologis berupa mela-
nosit dermal yang mensintesis melanin lebih ak-
tif dan tersebar pada dermis papilaris dan dermis
intermedius.
Polnikorn dkk melaporkan bahwa nevus
Hori kurang responsif terhadap laser QS diband-
ingkan lesi nevus Ota pada sesi pertama, kedua,
sehingga penghilangan lesi memerlukan sesi
yang lebih banyak. Walaupun demikian Leong
dkk mencoba meningkatkan efektivitasnya den-
gan mengkombinasi 2 laser, yaitu QS Nd:YAG 532
medical review
MEDICINUS 24(1), January 2011
46
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
pasien biasanya merasakan lebih panas atau ny-
eri saat laser ditembakkan pada lesi.
End point sekunder, adalah terbentuknya
purpura karena terjadi kerusakan pembuluh
darah di dermis. End point ini akan hilang dalam
beberapa jam.
3. Post-operasi
Bersihkan luka dua kali sehari dengan larutan f-
siologis, kemudian diikuti pemberian antibiotik
topikal, jaga luka selalu lembab; biasanya luka
akan sembuh dalam 5-14 hari.
EFEK SAMPING DAN KOMPLIKASI
1,2,6,8
Berbagai efek samping dan komplikasi penggu-
naan laser dapat terjadi seperti hiperpigmentasi,
hipopigmentasi dan jaringan parut. Bila hiperpig-
mentasi terjadi, dapat diatasi dengan pemakaian
hidrokuinon untuk beberapa bulan dan pemaka-
ian tabir surya SPF 30. Komplikasi lainnya adalah
terjadi hipopigmentasi terutama dengan QS ruby
dan QS alexandrite karena lebih merusak melanosit
di epidermis. Komplikasi jaringan parut pada peng-
gunaan laser spesifk pigmen sangat jarang terjadi.
KESIMPULAN
Dalam makalah ini telah diuraikan berbagai kel-
ainan pigmentasi yang dapat diterapi dengan laser,
jenis laser yang digunakan serta efek samping terapi
laser yang dapat terjadi. Agar terapi laser lebih ber-
daya dan berhasil guna, perlu dilakukan beberapa
pendekatan seperti: ketepatan dalam mendiagnosis
kelainan pigmentasi, ketepatan seleksi pasien, pera-
watan pre dan post-laser yang benar.
1 Rohrer TE, Ort RJ, Arndt KA and Dover JS. Laser in the treat-
ment of pigmented lesions. In: Kaminer MS, Arndt KA, Dover
JS RohreTE, Zachary CB (eds). Atlas of Cosmetic Surgery, 2
nd
ed,
Philadelphia:Saunders Elsevier; 2009.p.155-177
2. Dierickx CC. Laser treatment of pigmented lesions. In: Gold-
berg DJ(ed). Laser Dermatology. Berlin:Springer; 2005.p.37-60
3. Railan D and Kilmer S. Treatment of benign pigmented cuta-
neous lesions. In: Goldman MP (ed). Cutaneous and Cosmetic
Laser Surgery. Mosby:Elsevier; 2006.p.93-108
4. Kilmar LS and Garden JM. Laser treatment of pigmented le-
sions and tattoos. In: Seminars in cutaneous medicine and
surgery, Vol 19 (4) December 2000; 232-44.
5. Carpo BG, Grevlink , Grevelink SV. Laser treatment of pigmen-
ted lesions in children. Seminars in Cutaneous Medicine and
Surgery 2000; Vol 18(3):233-43
6. Golberg DJ. Pigmented lesions, tattoos, and disorders of hy-
popigmentation. In: Laser Dermatology Pearls and Problems.
Blackwell Publishing; 2008.p.73-113
7. Avram MR, Tsao S, Tannous Z, Avram MM. Disorders of pig-
mentation. In: Color Atlas of Cosmetic Dermatology. New
York:McGraw Hill; 2007.p.121-48
8. Wheeland RG, Marmur ES. Pigmented lesions and tattoos. In:
Goldberg DJ, Rohrer TE (eds). Laser and Lights, Volume 1, 2
nd
ed. Saunders Elsevier; 2009.p.29-51
9. Ortonne JP, Pandya AG, Lui H, and Hexsel D. Treatment of solar
lentigenes. J Am Dermatol 2006; 54:s262-71
10. Orten SS, Warner M, Dinehart SM, Bardales RH and FlockST. Q-
switched deodynium: yttrium-aluminium-garnet laser treat-
ment of lentigo maligna. Otolaryngol Head Neck Surg 1999;
120:296-302
11. Wang CC, Sue YM, Yang CH, Chen CK. A comparison of q-
switched alexandrite laser and intense pulsed light for the
treatment of freckles and lentigenes in Asian persons: a ran-
domised, physician-blinded, spit-face comparative trial. J Am
Acad Dermatol 2006; 54:804-10
12. ShimbaseT, Kamide R, Hashimoto T. Long-term follow up
Daftar Pustaka
in treatment of solar lentigo and caf au lait macules with Q
switched ruby laser. Aesth Plast Surg 1997; 21:445-448(ab-
stract)
13. Grevelink JM, Gonzalez S, Bonoan R, Vibhagool C, Gonzalez E.
Treatment of nevus spilus with the Q switched ruby laser. Der-
matol Surg 1997; 23:365-70
14. Trilies MA, Allones I, Morena_Aias GA, Velez M. Beckers Naevus:
A comparative study between erbium:YAG and Q-switvhed
neodynium: YAG; clinical and histopathological fndings. Brit-
ish J of Dermatol. 2005;152:308-13
15. Lask GP, Glassberg E. Neodymium:Yttrium-Aluminum-Garnet
laser for the treatment of cutaneous lesions. Clinics in Derma-
tology 1995; 13:81-6
16. Polnikorn N. Treatment of refractory dermal melasma with the
MedLite C6 Q-switched Nd:YAG laser: Two case reports. Journal
of Cosmetic and Laser Therapy 2008; 10: 67-73
17. Suzuki H, Anderson RR. Treatment of melanocytic nevi. Derma-
tol Therapy 2005; 18:217-26
18. Chan H, Kono T. Nevus of Ota: Clinical aspects and manage-
ment. Skinmed 2003; 2: 89-98
19. Alam M, Arndt KA, Dover JS. Laser treatment of nevus of Ota.
Dermatol Therapy 2001; 14:55-9
20. Park JM,Tsao H, Tsao S. Acquired bilateral nevus of Ota-like
macules (Hori Nevus): Etiologic and therapeuitic considera-
tions. J Am Acad Dermatol 2009; 61:66-93
21. Polnikorn. NdYAG laser for Horis Nevus. Dermatol Surg 2000;
26(5):477-80
22. Leong H, Goh CL, Khoo, Chan, Ang P. Treatment of acquired
bilateral nevus of Ota-lie macules (Horis Nevus) with a com-
bination of the 532nm Q-switched Nd:YAG laser followed by
the 1064 nm Q-Switched NdYAG is more efective: Prospective
study. Dermatol Surg 2006; 32:34-40
23. Aurangabadkar A, Mysore V. Standard guidelines of care: La-
sers for tattoos and pigmented lesions. Indian Journal of Der-
matology, Venerology and Leprology 2009; 75(8):111-26
medical review
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
47
Tantur Syahdrajat*, Era Mahyuli**
* Klinik Bersalin Rumah Zakat Indonesia
** Advanced Medical Science Student di Key Centre for Womens Health in Society, University of
Melbourne, 2004-200
medical review
Vasospasmus Puting Payudara
pada Wanita Menyusui
Vasospasmus puting payudara sebagai manifestasi dari fenomena Raynaud pada wanita menyusui dikenali sebagai salah satu penyebab nyeri
saat menyusui. Hal ini menyebabkan rasa tidak nyaman dan penundaan proses menyusui lebih awal. Vasospasmus puting payudara sering
diartikan sebagai infeksi candida atau akibat posisi dan attachment bayi yang buruk pada payudara. Oleh karena itu, penyebab tersebut harus
dinilai dan disingkirkan terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan diagnosis fenomena Raynaud. Untuk mendiagnosis fenomena Raynaud,
timbulnya gejala yang dipicu oleh rangsang dingin, gejala ketika tidak menyusui, dan perubahan tiga warna (putih ke biru ke merah) atau
dua warna (putih ke biru) harus ada. Pilihan terapi fenomena Raynaud pada wanita menyusui yakni mengurangi paparan dingin, menghindari
obat-obatan/zat yang dapat memicu gejala, dan terapi farmakologis. Terdapat laporan mengenai terapi dengan obat herbal, latihan aerobik
dan suplemen diet. Karena kebanyakan pasien perlu pemulihan nyeri segera agar dapat melanjutkan menyusui, penting untuk menawarkan
terapi yang akan mengurangi nyeri dengan cepat. Dalam hal ini, nifedipine telah digunakan untuk mengobati fenomena Raynaud dan aman
digunakan pada ibu menyusui.
Kata Kunci: vasospasmus puting payudara, menyusui, fenomena Raynaud
ABSTRAK
PENDAHULUAN
Vasospasmus puting payudara sebagai manifestasi
dari fenomena Raynaud telah dilaporkan terjadi
pada ibu menyusui dan dikenali sebagai salah satu
penyebab nyeri saat menyusui.
1
Fenomena Raynaud
merupakan suatu istilah yang digunakan untuk me-
nerangkan iskemia intermiten akibat vasospasmus,
yang terutama terjadi pada bagian akral dari tubuh.
2

Vasospasmus puting payudara pertama kali di-
uraikan oleh Gunther pada tahun 1970 sebagai nye-
ri puting payudara psikosomatik.
2
Dia menyatakan
ketika puting payudara diperiksa tampak pucat,
pada umumnya secara keseluruhan menjadi putih
karena menurunnya aliran darah. Kadang-kadang,
ketika diperiksa, aliran darah kembali membaik dan
puting payudara dapat diamati menjadi warna mul-
berry. Wanita yang mempunyai gangguan tersebut
pada umumnya mengalami ketakutan atau kece-
masan yang dihubungkan dengan payudara atau
menyusui.
Pada tahun 1992 Coates menduga bahwa va-
sospasmus puting payudara berkaitan dengan fe-
nomena Raynaud.
1
Tahun 1997 Lawlor-Smith dan
Lawlor-Smith melaporkan lima orang wanita menyu-
sui dengan fenomena Raynaud di Australia.
3
Dalam
literatur pediatrik, pada tahun 2004 Anderson, Held
dan Wright melaporkan 12 wanita menyusui dengan
fenomena Raynaud di Amerika Serikat.
1
Dalam lite-
ratur Obstetri dan Ginekologi, pada tahun 2006 Page
dan McKenna juga telah melaporkan kasus wanita
menyusui dengan vasospasmus puting payudara di
Amerika Serikat.
4
Fenomena Raynaud pada wanita menyusui
menyebabkan masalah ganda yaitu rasa nyeri yang
menyusahkan pasien disertai risiko peningkatan ke-
gagalan menyusui.
3
Nyeri puting payudara adalah
gejala yang paling umum pada wanita menyusui
dan alasan kedua tersering yang menyebabkan pe-
nundaan menyusui, setelah kurangnya persediaan
air susu ibu. Rasa nyeri yang berat karena vasospas-
mus puting payudara pada ibu menyusui dapat di-
jadikan alasan ibu untuk menunda menyusui,
1
se-
hingga meningkatkan kegagalan proses menyusui.
FENOMENA RAYNAUD
Fenomena Raynaud terjadi pada 5-10% dari populasi
umum.
5
Fenomena ini lebih sering terjadi pada wa-
nita dibanding pria, dengan rasio 9:1.
3
Diperkirakan
hingga 22% wanita usia antara 21-50 tahun menga-
lami fenomena ini.
MEDICINUS 24(1), January 2011
48
medical review
Fenomena Raynaud pertama kali dijelaskan Mau-
rice Raynaud pada tahun 1862.
3
Fenomena ini digam-
barkan sebagai iskemia intermiten akibat vasospas-
mus arteriol yang mempengaruhi bagian akral dari
tubuh, terutama jari tangan atau jari kaki. Manifestasi
klinisnya berupa perubahan tiga warna, diawali
dengan pucat, kemudian diikuti sianosis ketika da-
rah vena mengalami deoxygenation.
1
Ketika refeks
vasodilatasi terjadi, tampak eritema dari bagian tu-
buh yang terkena. Perubahan tiga warna tersebut
terjadi pada dua pertiga pasien dengan fenomena
Raynaud.
2
Gejala yang timbul dapat berupa nyeri,
tersengat, rasa terbakar, dan parestesia. Fenomena
ini dapat dipicu oleh rangsang dingin atau oleh stres
emosional.
Walaupun pada awalnya fenomena ini dilapor-
kan mempengaruhi bagian akral dari tubuh, kini
dilaporkan dapat juga terjadi pada pembuluh darah
koroner, pulmoner, okuler, gastrointestinal, penile,
dan plasenta.
2
Fenomena ini bisa bersifat primer den-
gan etiologi yang tidak diketahui. Bisa juga sekunder
dengan etiologi berupa penyakit rheumatology (mis-
alnya, systemic lupus erythematosus atau rheumatoid
arthritis), penyakit endokrin (misalnya, hipotiroidis-
me atau karsinoid) dan sejumlah pengobatan.
1,2
Rokok dan kafein dilaporkan dapat memicu ge-
jala fenomena Raynaud.
2
Merokok dua sigaret per-
hari dapat meningkatkan resistensi vaskular 100%
dan menurunkan aliran darah cutaneus hingga 40%
sehingga berpotensi memicu fenomena Raynaud.
Meskipun bersifat vasodilator, kafein dihubungkan
dengan vasokonstriksi rebound melalui mekanisme
sentral sehingga dapat memicu fenomena Ray-
naud. Seperti halnya nikotin dan kafein, teoflin dan
terbutalin telah dihubungkan dengan fenomena
Raynaud.
6
Ini mungkin juga merupakan komponen
alergi yang menyebabkan vasospasmus.
VASOSPASMUS PUTING PAYUDARA PADA
WANITA MENYUSUI
Vasospasmus puting payudara pada wanita menyu-
sui terjadi ketika pembuluh darah pada puting pa-
yudara mengalami konstriksi dan menimbulkan rasa
nyeri. Rasa nyeri yang dialami dapat ringan hingga
berat.
5
Nyeri dapat dirasakan seperti rasa terbakar
dan berdenyut, yang diperberat pada keadaan di-
ngin.
7
Puting payudara berubah warna menjadi pu-
cat diikuti biru kemudian merah sebelum kembali
normal. Gejala ini dapat terjadi selama, segera sete-
lah, dan di antara proses menyusui. Gejala ini dapat
berlangsung beberapa detik, menit atau bahkan
lebih lama.
Vasospasmus puting payudara sebagai mani-
festasi dari fenomena Raynaud dapat didiagnosis
sebagai infeksi jamur karena nyeri yang berat dan
berdenyut.
1
Nyeri atau pucat pada puting payudara
dapat juga disebabkan oleh posisi dan attachment
bayi yang buruk pada saat menyusui. Posisi dan at-
tachment bayi yang buruk merupakan penyebab
nyeri payudara yang paling sering.
2
Posisi dan at-
tachment bayi yang buruk bisa juga dihubungkan
dengan memucatnya puting payudara akibat kom-
presi mekanis.
Oleh karena itu, sebelum mendiagnosis feno-
mena Raynaud, infeksi jamur ataupun posisi dan at-
tachment bayi yang buruk harus dinilai dan disingkir-
kan terlebih dahulu.
1
Adanya gejala ketika hamil atau
ketika tidak menyusui, timbulnya gejala akibat rang-
sang dingin dan perubahan tiga warna (putih diikuti
biru kemudian merah) atau dua warna (putih ke biru)
harus dicari untuk mendiagnosis fenomena ini.
Fenomena Raynaud telah dihubungkan dengan
penyakit rheumatology, penyakit endokrin, dan se-
jumlah pengobatan. Fenomena ini juga dihubung-
kan dengan operasi payudara sebelumnya.
1
Namun,
belum dilaporkan sebelumnya mengenai kemung-
kinan hubungan fenomena Raynaud pada puting
payudara dengan operasi payudara sebelumnya.
Beberapa sumber mengindikasikan bahwa
penggunaan fuconazole mungkin berhubungan
dengan vasospasmus, walaupun pabriknya tidak
melaporkan ini sebagai komplikasi dari penggu-
naan fuconazole.
8
Sumber lain menyatakan bahwa
vasospasmus pada ibu yang menggunakan fucona-
zole disebabkan oleh nyeri/trauma puting payudara
dalam kaitan dengan sejenis jamur (bukan dalam
kaitan dengan pengobatan untuk jamur).
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan vasospasmus puting payudara
pada wanita menyusui dibatasi perlunya untuk
memastikan keamanan setiap terapi tidak hanya un-
tuk ibu tetapi juga untuk bayi yang disusui.
2
Pilihan
terapi meliputi metode untuk mencegah atau me-
ngurangi paparan dingin, menghindari obat-oba-
tan/nikotin yang dapat memicu gejala, dan terapi
farmakologis.
1
Menghindari paparan udara dingin adalah tata-
laksana utama dari fenomena ini.
2
Kompres hangat
pada daerah puting payudara dan areola sebelum
menyusui dapat membantu mencegah reaksi yang
berat dan nyeri berikutnya.
6
Pasien disarankan untuk
mengenakan pakaian hangat dan menyusui di ling-
kungan yang hangat.
2
Ini menjadi menarik bahwa
tidak hanya bagian yang terkena tetapi keseluru-
han tubuh perlu dijaga hangat untuk menghindari
refek vasokonstriksi simpatis. Pasien juga harus
menghindari zat vasokonstriktor termasuk kafein
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011 49
dan merokok. Mereka juga disarankan untuk meng-
hindari stres emosional.
5
Pilihan terapi yang lain meliputi latihan aerobik,
biofeedback, suplementasi magnesium dan kalsium,
vitamin B6, dan penggunaan minyak evening prim-
rose dan minyak ikan.
1
Latihan aerobik moderate
dilaporkan bermanfaat dalam terapi fenomena Ray-
naud dan mungkin berharga pada pasien menyu-
sui.
2
Teknik biofeedback juga telah dilaporkan bergu-
na dalam terapi fenomena Raynaud pada jari tangan
atau kaki sehingga diduga dapat diaplikasikan pada
vasospasmus puting payudara. Suplementasi kal-
sium dan magnesium disebutkan telah memulihkan
nyeri pada sejumlah ibu.
6
Meskipun tidak ada bukti ilmiah yang mendu-
kung, vitamin B6 disarankan bagi ibu yang me-
ngalami vasospasmus puting payudara.
6
Dosis yang
diberikan 150-200 mg sekali sehari untuk 4 hari, di-
ikuti 25 mg/hari sekali sehari.
9
Ibu melanjutkannya
sampai bebas rasa nyeri untuk beberapa minggu. Ini
dapat diulang jika perlu. Jika nyeri dapat diatasi de-
ngan dosis yang lebih besar tetapi kambuh dengan
dosis yang lebih kecil, dapat diulang dengan dosis
yang lebih tinggi. Jika rasa nyeri sudah hilang dalam
satu atau dua minggu, upayakan menghentikannya.
Lawrence dan Lawrence menyatakan bahwa
penambahan minyak ikan pada diet ibu telah me-
ngurangi gejala, seperti halnya minyak evening
primrose.
1
Minyak evening primrose dan minyak ikan
secara individu didapatkan bermanfaat bagi pasien
dengan fenomena Raynaud primer.
2
Kedua suple-
men ini aman untuk wanita menyusui dan bayinya.
Dosis yang besar dari suplemen ini diperlukan untuk
mengatasi gejala, 12 kapsul per hari minyak evening
primrose (ekuivalen dengan 540 mg asam gama li-
noleat) atau 12 kapsul minyak ikan per hari (ekuiva-
len dengan 3,96 g eicosapentanoic acid dan 2,64 g do-
cosahexanoic acid). Untuk mendapatkan respon klinis
yang signifkan, terapi ini diberikan dalam 6 minggu.
Banyak wanita dengan vasospasmus puting
payudara yang nyeri perlu memulihkan nyeri segera
agar dapat meneruskan menyusui.
1
Oleh karena itu,
penting untuk menawarkan terapi yang akan me-
ngurangi nyeri dengan cepat. Dari semua obat yang
diselidiki sejauh ini untuk terapi fenomena Raynaud,
nifedipine adalah yang paling efektif.
2
Pada fenome-
na Raynaud primer, nifedipine dihubungkan dengan
pengurangan frekuensi serangan antara 50-91%.
Nifedipine merupakan suatu calcium channel blocker
dari golongan dihidropiridine. Karena efek vasodila-
tornya, nifedipine telah digunakan untuk mengobati
fenomena Raynaud, termasuk fenomena Raynaud
pada puting payudara.
1
Nifedipine bekerja dengan
melebarkan pembuluh darah, dengan demikian da-
pat memulihkan vasospasmus puting.
5
The American Academy of Pediatrics telah menye-
tujui penggunaan nifedipine pada ibu menyusui.
1

Hale mendokumentasikan tingkat yang rendah dari
nifedipine (<1-10.3 g/L) ditemukan dalam air susu
ibu dalam satu hingga tiga jam setelah ibu minum
nifedipine. Ehrenkranz dkk., menunjukkan bahwa
suatu fraksi yang sangat tidak signifkan (<5%) dari
dosis nifedipine yang diberikan pada seorang ibu
yang menyusui bayi prematurnya, terukur dalam
ASI. Pemberian nifedipine tidak mengubah kompo-
sisi ASI.
2
Nifedipine aman digunakan untuk pengoba-
tan fenomena Raynaud pada wanita menyusui.
Nifedipine dapat diberikan 5 mg (3 kali sehari)
atau tablet slow-release 30 mg sekali sehari.
1
Pe-
ngobatan diberikan untuk 2 minggu dan kemudian
dihentikan. Dosis dapat ditingkatkan berangsur-
angsur hingga tingkat yang diperlukan.
6
Sering-
kali jangka waktu dua minggu adalah cukup untuk
mengatasi gejala, tetapi kadang-kadang pasien
memerlukan jangka terapi kedua atau ketiga.
1
Jika
sakit kambuh (sekitar 10% dari para ibu), mulai te-
rapi kembali.
9
Efek samping nifedipine disebutkan
terjadi pada sekitar 1/3 pasien, umumnya akibat
sekunder dari vasodilatasi perifer.
2
Ini meliputi sakit
kepala, fushing, pusing, refeks takikardia dan ede-
ma perifer.

PENUTUP
Sejauh ini kasus vasospasmus puting payudara se-
bagai manifestasi fenomena Raynaud pada wanita
menyusui yang telah dilaporkan dalam literatur be-
rasal dari negara subtropis. Belum ada laporan dari
negara tropis, seperti Indonesia. Literatur-literatur
yang dikemukakan dalam tinjauan pustaka ini teru-
tama berupa laporan kasus. Oleh karena itu, diper-
lukan studi lebih lanjut khususnya dalam hal terapi.
Studi yang lebih banyak mengenai penggunaan
nifedipine pada wanita menyusui dengan fenomena
Raynaud mungkin diperlukan. Begitu juga dengan
penggunaan suplemen-suplemen tambahan seper-
ti magnesium, minyak evening primrose, dan terapi
yang lainnya.
Walaupun demikian, dengan tinjauan pustaka
ini diharapkan para dokter untuk mempertim-
bangkan kemungkinan fenomena Raynaud pada
ibu menyusui dengan vasospasmus puting payu-
dara yang nyeri. Ibu perlu ditanya secara spesifk
tentang gejala-gejala fenomena Raynaud. Dengan
mengenali fenomena Raynaud sejak dini, maka ibu
menyusui akan mendapatkan terapi yang sesuai,
menghindari terapi antijamur yang tidak perlu dan
membuat para ibu berhasil melanjutkan proses
menyusui dan bebas nyeri dalam jangka waktu yang
lebih panjang.
1
medical review
MEDICINUS 24(1), January 2011
50
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
1 Anderson JE, Held N, Wright K. Raynaud's phenomenon of the
nipple: a treatable cause of painful breastfeeding. Pediatrics
2004; 113:360-4
2. Lawlor-Smith LS, Lawlor-Smith CL. Nipple vasospasm-a mani-
festation of Raynauds phenomenon and a preventable cause
of breastfeeding failure. Available from: http://www.sdgp.com.
au/client_images/18175.pdf
3. Lawlor-Smith LS, Lawlor-Smith CL. Vasospasm of the nipple-a
manifestation of Raynauds phenomenon: case reports. BMJ
1997; 314:644-5
4. Page SM, McKenna DS. Vasospasm of the nipple presenting as
painful lactation (abstract). Obstet Gynecol 2006; 108:806-8
5. Nipple vasospasms during breastfeeding. Available from:
http://www.itsamomsworld.com/baby_breastfeeding_nip-
ple_vasospasms.html
6. Donovan D. Nipple blanching: "my nipples turn white".
Available from: http://parenting.ivillage.com/newborn/
nbreastfeed/0,,40sz,00.html
7. Mahyuli E, Amir L. Breastfeeding-nipple vasospasm. Available
from: http://rch.org.au/womensinfo/factsheets.cfm
8. Bonyata K. Nipple blanching and vasospasm. Available from:
http://www.kellymom.com/bf/concerns/mom/nipple-blanch-
ing.html
9. Newman J. Treatments for Raynaud's Phenomenon (blanch-
ing of the nipple). Available from: http://www.asklenore.info/
breastfeeding/raynaud.html
Daftar Pustaka
medical review
Toward Better Management in Neuro Infection
11-12 February 2011, the Ritz Carlton Hotel, Jakarta
Secretariat:
Phone: +62 8129627199, +62899970282
Fax: +62 21 3912144/3914154
E-mail: retno wardani@yahoo.com
hanjar rahmawati@yahoo.com
Contact Person: Retno S. Wardani, MD
22
nd
Annual Scientific Meeting of Indonesia
Digestive Surgeon (PIT XXII IKABDI)
11-13 February 2011, Building D, Pelita Harapan Uni-
versity (UPH), Karawaci, Tangerang
Secretariat:
Ruang Mawar RSU Tangerang
Jl. A. Yani No. 9, Tangerang, Banten
Phone/Fax: +62 21 55798927
E-mail: pitikabdi22@pharma-pro.com
4
th
International Symposium on Hand Surgery
and the Advances of Hand Therapy
Theme: Reconstruction of the Hand
17-19 February 2011, Aston Primera & Convention,
Bandung
Secretariat:
Department Orthopedic & Traumatology, Fakultas
Kedokteran UNPAD/RSHS
Jl. Pasteur No. 38, Bandung
Phone: +62 22 93071719
Fax: +62 22 2035477
E-mail: hands@pharma-pro.com
4th.hand.symposium@gmail.com
Website: http://www.handind.org
Contact Person: Ririn (081282996104),
Vina (081214523398)
FEBRUARY 2011
Calendar Event
ISICM (Indonesian Society of Intensive Care
Medicine) Early Year Symposium
Theme: From Research to Bedside
10-13 February 2011, Sheraton Hotel, Surabaya
Secretariat:
Indonesian Society of Intensive Care Medicine
Gedung Makmal Lt. 2, Komplek FKUI, Jl. Salemba
Raya No. 6, Jakarta Pusat
Phone: 021-68599155 / 31909033
Fax: 021-31909033
CP: Ms. Ade Syariah
E-mail: info@perdici.org
Website: http://www.perdici.org
atau
Dep./SMF Anesthesiology & Reanimation and
Intensive Care Unit Faculty of Medicine, Airlangga
University Dr. Soetomo General Hospital
Jl. Prof. dr. Moestopo No. 6-8, Surabaya 60286
Phone: 031-5501501
Fax: 031-5028951
The 9
th
Scientific Respiratory Medicine Meeting
PIPKRA 2011
Theme: Through Evidence to Clinical Practice
11-13 February 2011, Borobudur Hotel, Jakarta
Secretariat:
Contact Person: Ms. Lena (+62 21 70726355);
Mrs. Narti (+62 21 4705684);
Mr. Zaenal (+62 21 4893536)
Fax: +62 21 4890744
E-mail: pipkraparu@yahoo.com
Jakarta Neuroinfection Updates
Theme: Looking the Past & Facing the Future:
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
51
P
ada kesempatan kali ini, kami berkesempatan
untuk mewawancarai dr. Amaranila Lalita Drijon0,
SpKK di mana beliau juga adalah pendiri dari
Puan Jakarta Boutique Clinic yang terkenal di Jakarta.
dr. Amaranila Lalita Drijono, SpKK mungkin
sudah tidak asing lagi di kalangan kedokteran. dr.
Amaranila sering menjadi pembicara diberbagai
acara seminar dan simposium. Selain itu beliau
juga aktif berorganisasi antara lain sebagai pengu-
rus Studi Dermatologi Laser Indonesia, pengurus
Perhimpunan Kedokteran Anti Penuaan Indonesia
(PERKAPI), anggota PERDOSKI, anggota Ikatan Ke-
dokteran Laser Indonesia (IKLASI), anggota Interna-
tional Academy of Cosmetic Dermatology (IACD).
Berikut adalah wawancara kami:
Redaksi MEDICINUS (RM): Apakah sejak kecil cita-cita
dokter memang sudah ingin menjadi seorang dokter?
dr. Amaranila Lalita Drijono, SpKK (ALD): Sebenar-
nya cita-cita sejak kecil agak banyak, yaitu ingin
menjadi ballerina, masuk sekolah seni rupa, tapi juga
ingin menjadi dokter yang bekerja untuk anak-anak.
RM: Mengapa dokter tertarik mengambil spesialis
Kulit? Adakah alasan-alasan tertentu?
ALD: Masa penantian yangg cukup lama untuk men-
dapatkan buah hati (setelah menikah 6 tahun) sam-
bil menyelesaikan wajib kerja sarjana di DKI Jakarta
yaitu selama hampir 7 tahun, memberi kesempatan
saya melihat bidang-bidang studi lain selain pedia-
tri, internal medicine (khususnya alergi imunologi)
dan bedah (3 bidang studi favorit semasa S1). Saya
tetap menyukai bekerja di lingkungan anak-anak,
senang dengan ilmu tumbuh kembang anak yang
amat dinamis. Sayapun menyukai ilmu alergi imu-
nologi (mungkin karena saya berasal dari keluarga
sangatatopi), biologi molekular dan ilmu bedah.
Saya melihat di bagian Kulit saya akan mendapat-
kan kesemua ilmu yang saya minati tersebut. Der-
matologi Anak, Alergi Imunologi, Bedah (khususnya
bedah kulit, kimia, laser) dan dengan perkemba-
ngan ilmu dermatologi kosmetik menuntut kita un-
tuk lebih mempelajari biologi molekular yang dulu
lebih dipelajari untuk mengobati penyakit-penyakit,
namun sekarang dengan kemajuan teknologi anti
aging medicine, biologi molekular banyak dipelajari
untuk meningkatkan kualitas kesehatan kulit se-
seorang tidak semata hanya untuk mengobati suatu
penyakit kulit saja.
RM: Dalam menjalani profesi dokter, sebenarnya
pengalaman apa yang paling membanggakan?
ALD: 1. Membuka wawasan masyarakat akan pelaya-
nan kesehatan yang baik dengan mengembangkan
klinik spesialis kesehatan wanita Puan (Puan Jakarta
Boutique Clinic yang merupakan one stop female
clinic) selama kurang lebih 9 tahun yang kini ber-
transformasi menjadi Rumah Puan yang merupakan
rumah pemberdayaan perempuan bekerjasama
dengan berbagai disiplin ilmu. 2. Mengembangkan
klinik wellness dan anti aging bekerjasama dengan
Bunda International Clinic (RS Bunda). 3. Menjadi
Ketua Ikatan Orang Tua Murid Perguruan Al Izhar Ja-
karta 2006-2010 berhasil mengembangkan Gerakan
Makan Sehat Sekolah dan Kantin Sehat Sekolah yg
menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain (bekerjasa-
ma dengan Yayasan Gizi Kuliner (Anak) Tuti Soenardi
MSc, Asosiasi Kuliner Profesional Indonesia). Dengan
terlebih dahulu membuat survey gizi anak sekolah
yg komprehensif hampir 800 responden siswa SD,
SMP, SMA dan 600 responden orangtua siswa di se-
kolah yang bersangkutan ini, di mana data tersebut
kini dipakai oleh seorang kandidat S3 ahli ilmu gizi
kesehatan masyarakat UI dan seorang magister ilmu
gizi. 4. Mengembangkan Kelompok Studi Derma-
dr. Amaranila Lalita Drijono, SpKK
Pendiri Klinik Spesialis Kesehatan Wanita
"Puan Jakarta Boutique Clinic"
dr. Amaranila Lalita Drijono, SpKK
meet the expert
MEDICINUS 24(1), January 2011
52
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
tologi Laser Indonesia di bawah PERDOSKI bersama
para teman sejawat seminat se-Indonesia.
RM: Untuk prestasi dr. Amaranila, apa saja yang su-
dah pernah dokter dapatkan?
ALD: Menjadi ibu dari Sabila Duhita dan Karima
Duhita (selain pernah menjadi Mahasiswa Teladan
FKUI 1986, terpilih sebagai Wanita Eksekutif Indone-
sia versi majalah DEWI-FEMINA 2005).
RM: Kebiasaan apa yang biasa diterapkan dilingkungan
sekitar dr. Amaranila untuk mananamkan pola hidup
sehat dan terutama dalam menjaga kesehatan kulit?
ALD: Kulit adalah cermin kesehatan tubuh kita (body-
mind-soul). Jadi berusaha seimbang dalam ketiga-
nya. Tidak mungkin memiliki kulit sehat bila ketiga
faktor terkait ini tidak sehat, seimbang, selaras.
RM: Dengan begitu banyaknya kegiatan dokter,
apa yang biasa dokter lakukan di waktu luang (akhir
pekan/hari libur)?
ALD: Akhir pekan biasanya menikmati tinggal di ru-
mah, berenang, mendengarkan anak-anak bermain
musik, menyanyi bersama, nonton film, lihat pame-
ran/pertunjukkan seni. Selain itu di waktu senggang
ada kegemaran atau hobi yang saya tekuni kembali
sejak usia 40 tahun (setelah 25 tahun tidak menari)
yaitu menari Jawa Klasik Jogjakarta-Surakarta.
RM: dr. Amaranila adalah pendiri dari Puan Jakarta
Boutique Clinic. Apa yang membedakan Clinic ini
dengan Clinic Khusus Kesehatan Wanita lainnya?
ALD: Personal appointment system, family physician
approach, suasana seperti di rumah sendiri.
RM: Bagaimana peranan anti aging dalam ke-
hidupan sehari-hari?
ALD: Anti Aging Medicine amat berkembang dan ha-
rus dilihat tidak hanya semata untuk masalah kulit
saja. Penerapan kedokteran holistik yg menjadi kun-
ci anti aging medicine ini. Penerapannya haruslah
dimulai sejak dari bayi dalam kandungan utk men-
ciptakan manusia yang sehat. Peran bidang ilmu ini
amat besar dalam kehidupan sehari-hari bila dipakai
dengan optimal, dan menyangkut semua disiplin
ilmu kedokteran. Semoga perkembangan di Indo-
nesia mendasarkan pada Evidence based Medicine,
sehingga dapat memberi sumbangan yang efektif
bagi pengembangan manusia Indonesia seutuhnya.
Jangan hanya senantiasa dikaitkan dengan semata
bidang dermatologi kosmetik saja atau bahkan ha-
nya untuk bidang kecantikan.
RM: Bagaimana caranya merawat kulit yang sehat teru-
tama untuk orang-orang yang tinggal di daerah tropis?
ALD: Pembersihan kulit harus optimal. Kelembaban
yang tinggi dan cuaca panas membuat kelenjar
minyak kulit dan keringat lebih aktif sehingga ke-
mungkinannya terjadi iritasi kerap timbul selain
tumpukan kulit mati umumnya lebih lekat. Pemakai-
an produk perawatan kulit yang mendinginkan kulit
dan menenangkan kulit amat disarankan (kearifan
lokal nenek moyang kita perlu dipelajari: lain ladang
lain belalangnya, lain georgrafi lain perawatan kulit-
nya). Hindari pemakaian pelembab berlebihan (bi-
jak dalam memilih kosmetika khususnya yang me-
ngandung pelembab). Lindungi kulit, rambut dari
pajanan sinar matahari berlebihan dengan sedapat
mungkin menggunakan tabir surya fisik (payung,
topi dan lain-lain), bila perlu baru dengan tabir surya
kimiawi (perhatikan cara pakainya yang benar).
RM: Banyak wanita aktif biasanya tidak punya waktu
luang untuk pergi ke salon atau ke klinik kecantikan
muka. Bagaimana saran dokter untuk mereka yang
aktif bisa merawat kecantikan wajahnya di rumah?
ALD: Saat ini sudah sangat banyak produk home
care yg baik utk merawat kulit di rumah, begitu pula
dengan produk chemical peeling yg amat ragam. Ke-
nali dengan baik kulit kita bila perlu mintalah advis
dari dokter sebelum memulai perawatan di rumah
dengan produk yg tepat dari segi usia, jenis kulit,
kegiatan/aktivitas atau bila ada penyakit/kondisi/
gangguan kesehatan yg dimiliki.
RM: Saat ini penyakit-penyakit kulit yang paling se-
ring dihadapi apa ya dok? Lalu bagaimana penata-
laksanaannya penyakit tersebut?
ALD: Terbanyak masih masalah jerawat pada rema-
ja dan dewasa muda beserta komplikasinya yaitu
acne scar/parut jerawat, disusul kelainan melasma
pada wanita dewasa atau paruh baya (karena 80%
pasien yg kebetulan ke tempat praktek saya adalah
kasus dermatologi kosmetik).
Pemakaian retinoic acid masih menjadi pilihan
utama pada kedua kasus ini, selain mengobati atau
menghindari faktor penyebab bila mungkin. Bedah
kimiawi juga masih merupakan pilihan terapi dan
menempati urutan ke dua setelah retinoic acid.
RM: Adakah metode terapi yang baru untuk kasus-
kasus penyakit tersebut?
ALD: perkembangan teknologi terkini mesin laser
atau radiofrequency amat membantu mengontrol
sekaligus mengobati dan merehabilitasi kelainan-
kelainan jerawat dan bekas yang ditinggalkannya
juga kelainan melasma yang masih menjadi tanta-
ngan di bidang dermatologi kosmetik.
RM: Pertanyaan terakhir, apa harapan dokter di
pekerjaan dan kehidupan pribadi dokter 5 tahun
mendatang?
ALD: Menjadi ibu yang terbaik bagi ke dua anak saya.
Membantu memberdayakan perempuan (dan anak)
Indonesia untuk memiliki keseimbangan body-
mind-soul, karena semua bermula dari perempuan
sehat, keluarga sehat, masyarakat sehat maka Ne-
gara akan kuat dan sejahtera. Redaksi
meet the expert
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
53
MEDICINUS 24(1), January 2011
54
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
55
medical news
S
alah satu penyebab kematian
utama di dunia adalah pe-
nyakit jantung koroner dan
stroke. Berbagai penelitian me-
ngungkapkan bahwa pada pasien
yang telah mengalami infark mio-
kard memiliki risiko 5-7 kali me-
ngalami infark miokard kembali
dan 3-4 kali risiko stroke. Sedang-
kan pada pasien yang telah menga-
lami stroke pun memiliki risiko 2-3
kali mengalami infark miokard dan
9 kali mengalami stroke kembali.
Pasien yang mengalami peripheral
arterial disease (PAD) juga memiliki
risiko infark miokard sebanyak 4x
dan stroke sebanyak 2-3 kali. Oleh
karena itu, penyakit-penyakit ini
memerlukan perhatian agar tidak
berkembang menjadi masalah ke-
sehatan yang cukup besar. Hal ini
disampaikan pada salah satu sesi
acara Weekend Course on Cardiology
(WECOC) 2010 yang dilaksanakan
pada tanggal 29-31 Oktober 2010 di
Hotel Borobudur Jakarta.
Dalam acara ini, Dexa Medica
mengambil peran dalam salah satu
simposium dengan tema The Bene-
fcial Role of Clopidogrel in Daily Prac-
tice: Whats New? dengan dr. Daniel
P.L Tobing dari Departemen Kar-
diologi dan Kedokteran Vaskuler
FKUI sebagai pembicaranya. Selain
membahas mengenai risiko-risiko
pada penyakit jantung koroner
dan stroke, dr. Daniel juga mem-
bahas mengenai guideline-guideline
penggunaan clopidogrel pada ber-
bagai macam kasus penanganan
penyakit jantung koroner. Dalam
salah satu penelitian, clopidogrel
as adjunctive reperfusion therapy
thrombolysis in myocardial infarction
(CLARITY TIMI) 28, didapatkan
hasil bahwa clopidogrel memiliki
kemampuan menurunkan coronary
death/infark miokard sebesar 36%
dibandingkan dengan plasebo dan
20% menurunkan risiko kejadian
kardiovaskular dibandingkan de-
ngan plasebo. Sering kali terda-
pat pertanyaan mengenai loading
dose penggunaan clopidogrel, apa-
kah loading dose 600 mg lebih baik
dibandingkan 300 mg. Dalam pene-
litian antiplatelet therapy for reduction
of myocardial damage during angio-
plasty (ARMYDA-2) diungkapkan
bahwa penggunaan clopidogrel 600
mg memiliki kemampuan lebih
baik terhadap penurunan angka
kematian, infark miokard dan TVR
dibanding clopidogrel 300 mg. Pene-
litian ini juga menunjukkan bahwa
peningkatan kreatinin kinase dan
troponin lebih baik pada kelompok
clopidogrel 600 mg.
Untuk melihat risiko perda-
rahan pada penggunaan clopido-
grel, penelitian clopidogrel aspirin
stent international cooperative study
dapat menjawab hal ini. Peneli-
tian ini ditujukan untuk melihat
keamanan antara clopidogrel dan
aspirin dibandingkan ticlopidine
dan aspirin. Hasil penelitian me-
nunjukkan pada kelompok yang
mendapatkan ticlopidine memi-
liki risiko perdarahan yang lebih
tinggi dibandingkan dengan ke-
lompok clopidogrel, dengan demi-
kian makin menunjukkan bahwa
clopidogrel cukup aman sebagai
antiplatelet yang dikombinasi de-
ngan aspirin.
Quality Assurance of Drugs
Makin banyaknya obat branded
generic (me too) yang beredar mem-
buat para klinisi perlu pertim-
bangan untuk memilih obat me
too mana yang akhirnya dipilih.
Secara umum, obat dibagi dalam
2 kelompok besar, yaitu branded
Peran Menguntungkan
Clopidogrel dalam
Penggunaannya Sehari-hari
(inovator) dan me too (generic).
Tapi hal ini bukan merupakan
kriteria pemilihan obat, karena hal
terpenting dalam penilaian obat
adalah bioekivalensi dan bioavai-
bilitasnya, ujar dr. Daniel. Dalam
tinjauan yang dilakukan oleh Kes-
selheim dan kawan-kawan terha-
dap 47 artikel menunjukkan bahwa
tidak terdapat bukti superioritas
produk-produk branded (inovator)
dibandingkan dengan me too (ge-
nerick).
Clopidogrel sendiri memiliki
bentuk form 1 (me too) dan form 2
(inovator). Perbedaan dari kedua
form ini hanya pada bentuk crys-
tallographically (pembawanya) saja,
sementara bentuk clopidogrel-nya
sama. Bukti lain dapat dilihat pada
surat edaran yang dikeluarkan
FDA tahun 2002 yang menyatakan
adanya kesamaan indikasi obat-
obat form 1 dan form 2.
Menurut dr. Daniel, VACLO


yang diproduksi Dexa Medica te-
lah melakukan uji bioekivalensi
dan bioavaibilitas dibandingkan
dengan inovatornya yaitu Plavix

,
baik dilihat dari metabolit mau-
pun parent drug-nya. Dalam uji ini
menunjukkan bahwa tingkat pen-
capaian konsentrasi plasma VA-
CLO

adalah sama dengan Plavix


dalam hitungan waktu hingga 24
jam, sehingga dapat disimpulkan
bahwa clopidogrel yang diproduk-
si oleh Dexa Medica yaitu VACLO


bioekivalen dengan inovatornya
yaitu Plavix

dan memiliki indikasi


yang sama.
Dirangkum dari:
The Beneft Role of Clopidogrel in DailyPrac-
tice: Whats New?? yang dibawakan oleh dr.
Daniel P.L Tobing pada acara Weekend Course
on Cardiology (WECOC) 2010 pada tanggal
29-31 Oktober 2010 di Hotel Borobudur, Ja-
karta
MEDICINUS 24(1), January 2011
56
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
medical news
Efek Suplementasi
Vitamin E pada Stroke
Hemoragik dan Stroke Iskemik
Bakteri vs Bakteri
V
itamin E merupakan antioksidan larut lemak
yang dapat mempertahankan membran sel
dan menghambat peroksidasi lipid dengan
cara menangkap reactive oxygen species. Peroksidasi li-
pid dikenal memegang peranan penting pada proses
atherogenesis yang berkontribusi pada penyakit kar-
diovaskular. Oleh karena itu, diharapkan antioksidan
seperti vitamin E dapat memberikan perlindungan
terhadap penyakit kardiovaskular. Data dari penelitian
observasional mendukung bahwa ternyata vitamin E
mempunyai efek protektif terhadap penyakit jantung
koroner.
Beberapa studi dan meta analisis meneliti ten-
tang efek penggunaan suplementasi vitamin E pada
kejadian penyakit kardiovaskular. Hasil penelitian-
penelitian tersebut ternyata mengecewakan, vitamin
E tidak memberikan efek pada keseluruhan end point
utama yang diteliti seperti infark miokard, total stroke,
dan kematian karena penyakit kardiovaskular. Selain
itu, penggunaan vitamin E dosis tinggi ternyata dapat
meningkatkan risiko mortalitas karena berbagai sebab.
Meskipun penelitian-penelitian yang ada menun-
jukkan bahwa vitamin E tidak mempunyai efek kese-
luruhan pada infark miokard, namun efek vitamin E
pada kejadian stroke, termasuk subtipe didalamnya,
menunjukkan hasil yang berbeda. Ada indikasi bahwa
vitamin E mungkin bermanfaat pada stroke iskemik
tetapi bersifat merugikan pada stroke hemoragik.
Sebuah meta analisis me-review sembilan penelitian
tentang efek vitamin E pada kejadian stroke, tujuh
diantaranya melaporkan tentang total stroke, lima di-
antaranya masing-masing tentang stroke hemoragik
dan stroke iskemik. Hasil meta analisis menunjukkan
bahwa suplementasi vitamin E tidak mempunyai efek
pada risiko total stroke. Suplementasi vitamin E dapat
menurunkan risiko stroke iskemik sebesar 10%, namun
meningkatkan risiko kejadian stroke hemoragik sebe-
sar 22%. Risiko absolutnya termasuk moderat; terdapat
satu kejadian stroke hemoragik per 1.250 individu yang
mendapat suplementasi vitamin E. Pada stroke iskemik,
satu kejadian stroke iskemik dapat dicegah per 476 indi-
vidu yang mendapat suplementasi vitamin E.
Dari hasil meta analisis tersebut, suplementasi vi-
tamin E, selain relatif kecil dalam mengurangi risiko
stroke iskemik, ternyata juga secara umum memperpa-
rah outcome stroke hemoragik. Oleh karena itu, pem-
berian suplementasi vitamin E harus diperhatikan agar
tidak digunakan sembarangan.
Sumber:
Schurks M, Glynn RJ, Rist PM, Tzourio C, Kurth T. Efects of vitamin E
on stroke subtypes: meta-analysis of randomized controlled trials. BMJ
2010;341(c5702):1-8
P
enelitian yang dilakukan oleh para ahli biologi
di Universitas California Santa Barbara (UCSB)
menunjukkan adanya kompetisi untuk saling
membunuh antara bakteri yang satu dengan yang
lainya dengan menggunakan "toxic darts". Hasil pe-
nemuan toxic darts ini dapat membuka alur baru untuk
mengontrol penyakit yang disebabkan oleh bakteri
patogen. Hal ini menjadi sesuatu yang penting karena
saat ini resistensi bakteri terhadap antibiotik semakin
meningkat.
Dalam penelitian ini, diperlukan suatu pembela-
jaran tentang bagaimana bakteri dapat berperang me-
lawan bakteri lainya. Banyak cara yang dapat dilaku-
kan bakteri untuk membunuh bakteri lainnya, karena
bakteri tersebut memiliki beraneka ragam toxic darts.
Para peneliti mempelajari berbagai spesies bak-
teri, termasuk beberapa bakteri patogen. Mereka
menemukan bahwa sel bakteri memiliki sulur, seperti
protein pada bagian permukaan sel, dengan toxic dart
pada bagian ujungnya. Bakteri akan menggunakan
darts tersebut untuk berkompetisi dengan sel bakteri
tetangga ketika bakteri saling bersentuhan. Proses ber-
sentuhan dan pengeluaran toxic dart ini disebut "con-
tact dependent growth inhibition" (CDI).
Beberapa bakteri target memiliki perisai biolo-
gis. Bakteri dilindungi oleh protein imun yang dapat
menahan toxic darts dari bakteri lain. Protein imun ini
disebut "contact dependent growth inhibition immunity".
Protein tersebut akan menginaktivasi toxic dart.
Tim peneliti UCSB menemukan beragam protein
yang berpotensi toksik dibawa oleh sel bakteri. Se-
tiap sel bakteri juga harus memiliki imun terhadap
toxic dart yang dimilikinya karena jika tidak dapat
menyebabkan sel bakteri itu sendiri yang mati.
Ketika sel bakteri diserang, dan tidak memiliki
protein imun, sel tersebut kemungkinan tidak mati.
Namun sel seringkali berhenti bertumbuh. Sel tersebut
diinaktivasi, dihambat pertumbuhannya. Dalam hal
ini serupa dengan banyak antibiotik yang tidak mem-
bunuh bakteri, tetapi hanya menghambat pertumbu-
han bakteri itu. Kemudian tubuh akan membuang sel-
sel bakteri yang sudah tidak aktif tersebut.
Beberapa racun bakteri beraksi pada bagian dalam
bakteri target yaitu dengan memutus rantai RNA se-
hingga sel tidak dapat melakukan sintesis protein dan
bertumbuh. Jenis racun lainya beraksi dengan memu-
tus rantai DNA sehingga mencegah replikasi sel.
Sistem CDI juga terdapat pada beragam bak-
teri, termasuk bakteri patogen seperti E. coli yang
menyebabkan infeksi saluran kemih, dan Yersinia
yang merupakan agen penyebab wabah penyakit in-
feksi. Bakteri menggunakan sistem ini untuk berkom-
petisi satu dengan lainnya pada tanah, tanaman, atau
pada hewan.
Sumber:
Medical New Today. 2010. Scientists discover that bacteria use 'toxic
darts' to disable each other. Downloaded from htp://www.medicalnew-
stoday.com/articles/208687.php, on November 22
nd
2010
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011
57
medical news
C
okelat mungkin mengandung banyak kalori
tetapi penelitian baru-baru ini menunjukkan
bahwa cokelat juga baik untuk jantung jika di-
makan secukupnya dan merupakan cokelat kualitas
tinggi. Peneliti di Boston melakukan studi selama 9 ta-
hun terhadap 31.823 wanita di Swedia untuk melihat
efek cokelat pada penyakit jantung dan hasilnya me-
nunjukkan bahwa memakan beberapa makanan manis
(cokelat) dapat menurunkan risiko gagal jantung.
Hasil dari penelitian tersebut:
Wanita yang memakan cokelat rata-rata satu atau
dua porsi cokelat kualitas tinggi perminggu mem-
punyai risiko terkena gagal jantung yang lebih ren-
dah sebesar 32%.
Wanita yang memakan cokelat 1-3 porsi perbulan
penurunan risikonya sebesar 26%.
Wanita yang memakan cokelat paling tidak satu
porsi perhari tidak menunjukkan keuntungan efek
perlindungan, hal ini mungkin dikarenakan ada-
nya tambahan kalori dari cokelat dibanding asu-
pan makanan yang bernutrisi.
Dari sebuah penelitian jangka pendek disebutkan
bahwa di dalam cokelat terkandung senyawa favonoid
dengan konsentrasi tinggi yang dapat menurunkan
tekanan darah. Tetapi Murray Mitleman, MD, DrPH
dari Harvard Medical School direktur Cardiovascular
Epidemiology Research Unit di Beth Israel Deaconess
mengatakan bahwa studi yang baru ini adalah studi
yang pertama kali dilakukan untuk menunjukkan hasil
dalam jangka panjang yang khusus terkait dengan
gagal jantung, di mana gagal jantung dapat disebab-
kan oleh tingginya tekanan darah yang tidak diterapi.
Mitleman juga mengatakan bahwa tentu saja kita tidak
bisa mengesampingkan cokelat adalah makanan yang
mengandung banyak kalori dan kebiasaan memakan
cokelat dalam jumlah banyak akan berisiko menaikkan
berat badan, tetapi jika akan melakukan terapi, cokelat
murni (dark chocolate) merupakan pilihan yang baik se-
lama dikonsumsi dengan jumlah sedang.
Studi ini melibatkan 39.227 wanita dari Swedia
yang berusia antara 48 sampai 83 tahun. Wanita-wanita
tersebut merupakan peserta dalam studi besar yang
sedang berlangsung untuk menilai hubungan antara
berbagai macam faktor gaya hidup dan risiko penyakit
kronis. Para peserta studi mengisi kuesioner tentang
kesehatan dan gaya hidupnya termasuk pertanyaan
yang mendetil tentang diet dan asupan cokelat. Wanita
yang tidak mengisi kuesioner dengan benar atau wa-
nita yang mempunyai riwayat penyakit gagal jantung,
serangan jantung, diabetes, atau yang sebelumnya
didiagnosis menderita kanker tidak dilibatkan dalam
penelitian sehingga jumlah akhir subjek penelitian se-
banyak 31.823 wanita. Penelitian tersebut merupakan
penelitian jangka panjang yang disebut Swedish Mam-
mography Cohort. Peneliti menggabungkan hasil peneli-
tian dengan data rawat inap di rumah sakit dan dafar
penyebab kematian di Swedia antara tahun 1998 dan
Cokelat Dapat Mengurangi
Risiko Gagal Jantung
2006.
Di Swedia, cokelat susu (milk chocolate) mempunyai
konsentrasi kakao yang lebih tinggi dari pada cokelat
murni (dark chocolate) yang diual di Amerika. Kandu-
ngan kakao yang lebih tinggi berhubungan dengan efek
perlindungan yang lebih baik pada jantung. Peneliti
mengatakan bahwa meskipun 90% cokelat yang digu-
nakan untuk penelitian di Swedia adalah cokelat susu
(milk chocolate), tetapi cokelat tersebut mengandung
30% kakao padat. Di Amerika, cokelat hanya mempu-
nyai kandungan 15% kakao padat yang digolongkan
sebagai cokelat murni (dark chocolate). Penulis menye-
butkan bahwa dengan jumlah kandungan kakao yang
setara, wanita di Amerika mungkin mendapatkan efek
dari konsumsi cokelat lebih sedikit dan kalori yang le-
bih tinggi dibandingkan dengan cokelat yang dimakan
oleh wanita Swedia pada penelitian tersebut.
Ukuran porsi konsumsi cokelat untuk wanita
Swedia berkisar dari 19 gram pada wanita usia 62 ta-
hun ke atas sampai 30 gram pada wanita 61 tahun dan
yang lebih muda. Namun, di Amerika ukuran porsi
standar sebesar 20 gram. Perhatikan porsi cokelat yang
dikonsumsi, sejumlah kecil cokelat murni (dark choco-
late) dapat bermanfaat untuk kesehatan jantung selama
tidak ada perubahan tingkah laku seperti kenaikan be-
rat badan atau asupan makanan berlebihan yang tidak
bernutrisi dan tidak berkalori.
Peneliti menyarankan masih diperlukan studi
lebih lanjut untuk menguatkan hasil penelitian terse-
but karena apapun yang dapat digunakan untuk mem-
bantu menurunkan kejadian gagal jantung layak untuk
diteliti.
Sumber:
Does chocolate cut heart risk?. NHS Knowledge Service. Available at:
http://www.nhs.uk/news/2010/08August/Pages/chocolate-and-heart-
failure-risk.aspx
Hendrick, B. 2010. Chocolate May Cut Heart Failure Risk. Available at:
www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=118959
P
ara peneliti mengemukakan bahwa wanita yang
melakukan setidaknya 150 menit latihan fsik se-
dang sampai berat per minggu dapat mengura-
ngi kemungkinan terkena kanker endometrium, ter-
lepas dari indeks massa tubuh mereka.
Menurut Hannah Arem, seorang mahasiswa dok-
tor di Yale School of Public Health, mereka yang melaku-
kan aktivitas fsik dalam jumlah yang disarankan
memiliki kemungkinan terjadinya kanker endometri-
um 34% lebih rendah dibandingkan dengan wanita
yang tidak aktif (OR 0,66, 95% CI 0,50-0,87).
Terdapat penurunan yang konsisten terhadap
Latihan Fisik
Bisa Mengurangi Kanker
Endometrium
MEDICINUS 24(1), January 2011
MEDICINUS 24(1), January 2011 58
Pengaruh ASI dan
Susu Formula
Terhadap Perkembangan
Saluran Cerna Bayi
kemungkinan kanker endometrium yang diperoleh
melalui latihan, baik pada wanita dengan berat badan-
normal maupun wanita gemuk, dia melaporkan dalam
konferensi American Association for Cancer Research Can-
cer Prevention.
Kanker endometrial adalah kanker ke-empat yang
paling umum di Amerika Serikat dan menurut Arem
ada lebih dari 42.000 kasus baru di tahun 2009. Kira-
kira 80% risiko peningkatan penyakit ini dapat di-
sebabkan oleh faktor hormon dan gaya hidup, dan BMI
sebagai faktor paling kuat.
Arem dan rekan kerjanya mengevaluasi hubungan
antara aktivitas fsik dan risiko kanker endometrial, ter-
lepas dari BMI. Mereka melihat data dari 1.333 wanita
668 orang dengan kanker endometrial dari populasi
berdasarkan Rapid Case Ascertainment Shared Resource
di Yale Cancer Center dan 665 orang sebagai kontrol de-
ngan umur yang cocok.
Semua wanita tersebut melengkapi kuesioner ten-
tang demograf, paparan lingkungan, sejarah kanker,
faktor-faktor gaya hidup, dan variabel lain yang mung-
kin berkontribusi pada risiko kanker endometrial.
Mereka menyediakan informasi dalam 29 jenis ak-
tivitas fsik yang berbeda. Peneliti kemudian mengubah
jumlah dan intensitas latihan sehingga metabolic equiva-
lents (METs) 7,5 MET jam/minggu setara dengan 150
menit aktivitas yang sedang sampai berat per minggu.
Setelah mengontrol BMI dan umur, wanita ak-
tif (wanita yang beraktivitas lebih dari 7,5 MET jam/
minggu) mempunyai kemungkinan terjadinya kanker
endometrial yang berkurang 34% dibandingkan de-
ngan yang tidak aktif.
Meskipun ada pengurangan kemungkinan kanker
endometrial baik pada wanita dengan berat badan nor-
mal dan wanita gemuk, penurunan berat badan ter-
besar adalah pada wanita dengan berat badan normal
yang aktif dibandingankan dengan wanita gemuk yang
tidak aktif (OR 0,27 , 95% CI 0,19 sampai 0,38).
Sumber: Arem H, et al. Physical activity and BMI in a population-based
case-control study of endometrial cancer risk. AACR-CP 2010; Abstract B70
A
ir Susu Ibu (ASI) sudah jarang diberikan para
ibu untuk bayi-bayi mereka yang baru lahir.
Mereka cenderung memberikan susu formula
untuk bayinya, tapi tahukah bahwa ASI berbeda dari
susu formula? Kemampuan untuk melacak gen apa-
kah yang bekerja pada saluran cerna bayi, telah mem-
buat tim peneliti dari Universitas Illinois untuk mem-
bandingkan perkembangan awal dari bayi-bayi yang
diberikan ASI dengan bayi-bayi yang diberikan susu
formula, dan hasil penelitian mereka menunjukkan
perbedaan yang signifkan.
Dalam penelitian yang dilakukan tim dari Univ.
of Illinois, yang dipimpin Profesor Sharon Donovan,
menunjukkan bahwa ASI bisa menginduksi jalur pem-
bentukan gen yang berbeda pada bayi-bayi yang baru
lahir apabila dibandingkan dengan bayi-bayi yang
diberikan susu formula. Dan sampai sekarang belum
ada susu formula yang bisa menyamai ASI dalam pem-
bentukan gen-gen tersebut. Walaupun bayi-bayi dalam
kedua kelompok studi tersebut Nampak sama dalam
pertumbuhan dan perkembangannya, peneliti menge-
tahui bahwa bayi-bayi yang diberikan ASI memiliki
risiko sakit lebih rendah yang dikarenakan adanya
komponen imun-protektif pada ASI.
Pada perkembangan saluran cerna bayi yang baru
lahir, ASI pun memiliki peran yang tidak kalah pen-
ting. Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa
ASI memberikan efek yang baik dalam perkembangan
saluran cerna, khususnya pada usus. Hal ini ditun-
jukkan pada penelitian terhadap sel-sel usus yang di-
isolasi dari feses bayi, 12 bayi yang dberikan ASI dan
10 bayi yang diberikan susu formula, siklus sel-sel usus
yang berlangsung hanya tiga hari ini dapat memberi-
kan gambaran bagaimana perkembangan jutaan sel-sel
usus dari mulai yang sederhana sampai sel-sel yang
telah terdeferensiasi dan telah menunjukkan fungsinya
terlihat bahwa perkembangan sel-sel usus bayi yang
diberikan ASI lebih baik, di mana hal ini sangat pen-
ting karena saluran cerna pada bayi akan berkembang
secara signifkan karena adanya respons makanan.
Perkembangan sel-sel usus ini juga berperan dalam
menjaga keseimbangan bakteri di saluran cerna kare-
na seiring pertumbuhannya maka bakteri juga mulai
muncul dalam saluran cerna bayi, sehingga saluran
cerna perlu belajar dalam mengenali bakteri dan virus
yang tidak baik bagi saluran cerna. Dan yang tidak kalah
pentingnya dalam pertumbuhan bayi adalah kemam-
puan saluran cerna dalam mengenal protein makanan
sehingga tidak mengenalnya sebagai benda asing dan
membentuk respons imun terhadapnya, karena apabila
tahap ini terganggu maka bayi bisa mengembangkan
dan mengidap alergi terhadap makanan berprotein.
Potensi lain yang tidak kalah penting secara klinis
dari perkembangan bayi adalah gen yang sering muncul
(terekspresi) pada kelompok bayi yang diberikan ASI
adalah gen yang berpengaruh terhadap respon sel terha-
dap kekurangan oksigen. Kekurangan oksigen merupa-
kan salah satu faktor yang berperan dalam perkemba-
ngan necrotizing enterocolitis (NEC), semacam gangrene
pada usus yang dapat berakibat fatal terhadap bayi pre-
matur. NEC merupakan penyebab utama penyakit dan
kematian pada bayi yang baru lahir prematur, dengan
kejadian 2.500 kasus yang dilaporkan per tahunnya di
AS dengan tingkat kematian mencapai 26%.
Sumber:
Chapkin RS, Donovan SM, et al. 2010. Noninvasive stool-based detection
of infant gastrointestinal development using gene expression profles
from exfoliated epithelial cells. American Journal of Physiology, Gastroin-
testinal and Liver Physiology. 2010
medical news
MEDICINUS 24(1), January 2011 59
Pencegahan Ulkus Diabetikum
Tips Sukses
Ulkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi kro-
nik yang sering terjadi pada pasien Diabetes Melitus (DM).
Sekitar 15% dari pasien DM akan mengalami ulkus diabe-
tikum. Sedangkan insiden ulkus diabetikum setiap tahun-
nya lebih dari 2% di antara pasien DM dan sekitar 5-7,5%
diantara pasien DM dengan neuropati perifer. Sekitar 85%
amputasi ekstremitas bawah pada pasien DM didahului
dengan ulkus diabetikum.
1-3
DM merupakan gangguan metabolik yang ditandai de-
ngan peningkatan kadar gula darah yang disebabkan oleh
adanya resistensi jaringan terhadap insulin, kelainan sekre-
si insulin, atau keduanya.
4,5
Sedangkan gejala klinis yang
dapat ditemukan diantaranya gejala klasik berupa poliuria,
polidipsia, polifagia, penurunan berat badan tanpa sebab
yang jelas dan juga gejala lain seperti lemah badan, ke-
semutan, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi pada pria serta
pruritus vulvae pada wanita. Untuk mendiagnosis pasien
DM dapat dilihat pada bagan berikut.
Ketika kadar gula darah tidak terkontrol, maka dapat me-
nimbulkan berbagai komplikasi, baik akut maupun kronik.
Salah satu komplikasi kronik yang sering menimbulkan
masalah adalah ulkus diabetikum.
4
Diperkirakan biaya yang diperlukan untuk terapi satu pa-
sien ulkus DM dalam 2 tahun adalah sekitar 28.000 US
dollar (Rp. 263.200.000,-). Oleh karena itu, sangat penting
bagi kita untuk mengetahui bagaimana cara mencegah
terjadinya ulkus DM dan pada akhirnya dapat mencegah
terjadinya amputasi akibat ulkus DM.
1-3
Dalam penangan pasien DM, harus dilakukan secara kom-
prehensif agar gula darah terkontrol dan dapat menguran-
gi risiko terjadinya komplikasi. Empat pilar penangan DM
tetap menjadi landasan yaitu edukasi, terapi gizi medis,
latihan jasmani dan terapi farmakologis.
4
Selain itu, untuk
mencegah terjadinya komplikasi ulkus DM, ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan diantaranya: edukasi pasien,
foot care/perawatan kaki, dan penggunaan alas kaki dan
kaos kaki yang sesuai.
1
Tips mencegah terjadinya ulkus diabetikum
Pasien DM dan keluarga yang mendampinginya harus
mendapatkan informasi yang cukup mengenai perawa-
tan kaki yang baik untuk mencegah terjadinya ulkus DM,
diantaranya:
2,4
- Cuci kaki setiap hari dengan air hangat dan sabun, air
dicoba terlebih dahulu dengan tangan (jangan terlalu
panas), kaki jangan direndam, kemudian kaki dikering-
kan dengan handuk secara hati-hati, terutama daerah
di antara jari kaki.
- Gunakan lotion pelembab untuk menjaga kaki biar ti-
dak kering, tapi jangan digunakan pada area di antara
jari kaki.
- Gunting kuku secukupnya, jangan terlalu pendek/
panjang, haluskan ujungnya biar tidak mudah melukai
dan sebaiknya jangan memotong bagian pojok kuku
terlalu dalam.
- Jagalah kaki dalam keadaan hangat, gunakan kaos
kaki yang longgar selama tidur.
- Jangan merokok atau duduk dengan menyilangkan
kaki karena dapat mengurangi aliran darah ke kaki.
- Jangan berjalan dengan telanjang kaki atau menggu-
nakan sandal jepit terbuka, sebaiknya gunakan sepatu
dan kaos kaki yang sesuai, kering dan bersih, jangan
terlalu sempit atau terlalu longgar. Biasakan memerik-
sa sepatu sebelum memakai dan jangan menggu-
nakan sepatu lebih dari 2 jam.
- Ingatkan pasien agar segera melaporkan kepada dok-
ter apabila ada kulit yang terkelupas/luka.
Dengan diberikannya informasi yang lengkap kepada
pasien dan keluarga, diharapkan dapat mencegah terja-
dinya komplikasi DM terutama ulkus diabetikum dan da-
pat meningkatkan kualitas hidup pasien DM.
Daftar Pustaka:
1. Boulton AJM, et al. Neuropathic Diabetic Foot Ulcers. N Engl J Med
2004;351(1):48-55
2. Pinzur MS. Diabetic Foot. Emedicine 2009. (cited 2010 Nov 22). Available
from: http://emedicine.medscape.com/article/1234396-overview.
3. American Diabetes Assosciation. Consensus development conference on
diabetic foot wound care. Diabetes Care 1999;22(8):1354-60
4. PERKENI. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe
2 di Indonesia. PB Perkeni: Jakarta; 2006
5. American Diabetes Association. Diabetes Care. 2006; 29(suppl 1): S43S48
Lubbi Ilmiawan
Medical Affairs Department, PT Dexa Medica, Jakarta,
MEDICINUS 24(1), January 2011 60