Anda di halaman 1dari 14

Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.

Per-02/Men/1999 Tahun 1999 Tentang Pembagian Uang Service Pada Usaha Hotel, Restoran Dan Usaha Pariwisata Lainnya

Peruntukan Dan Besarnya Tarif Service Charge Sebagaimana didefinisikan Pasal 1 Ayat (5) Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per02/Men/1999 Tahun 1999 Tentang Pembagian Uang Service Pada Usaha Hotel, Restoran Dan Usaha Pariwisata Lainnya (PERMEN 02/1999), uang service adalah tambahan dari tarif yang sudah ditetapkan sebelumnya dalam rangka jasa pelayanan pada usaha hotel, restoran dan usaha pariwisata lainnya. Uang service merupakan milik dan menjadi bagian pendapatan bagi pekerja yang tidak termasuk sebagai komponen upah (Pasal 2 Ayat (1) PERMEN 02/1999).

Pasal 3 PERMEN 02/1999 mengatur pengumpulan dan pengelolaan administrasi uang service sebelum dibagi (kepada pekerja), yang dilakukan sepenuhnya oleh pengusaha. Setelah terkumpul, dilakukan pembagian uang service sesuai dengan kesepakatan antara pengusaha dan pekerja yang ditetapkan sebelumnya (Lihat Pasal 6 Ayat (1) PERMEN 02/1999). Praktiknya, kesepakatan mengenai pembagian uang service dapat dicantumkan pada Perjanjian Kerja Bersama Perusahaan. Masih sekitar pembagian uang service, silakan simak artikel Hukumonline Gugatan Uang Pelayanan Jasa Karyawan Hotel Mulia Kandas.

Sekarang kita ketahui, pembagian uang service pada dasarnya diperuntukan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan bagi pekerja. Hal tersebut juga ditegaskan Surat Edaran Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Dan Pengawasan Ketenagakerjaan Nomor Se-04/Bw/1999 Tahun 1999 Tentang Petunjuk Pelaksanaan PERMEN 02/1999 (SE 04/1999). Sedangkan mengenai besarnya service charge, poin pertama dari SE 04/1999 menyebutkan:

uang service sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (5) ditetapkan sebesar 10% dari tarif adalah mengacu pada Keputusan Menteri Perekonomian No. 708 tahun 1956 Tentang Perusahaan yang Menyediakan Tempat Penginapan Termasuk Makanan, dan Keputusan Menteri pariwisata, Pos dan Telekomunikasi No. KM.95/ HK103/ MPPT-87 tahun 1987 Tentang Ketentuan Usaha dan penggolongan Restoran.

Jadi, berdasar SE 04/1999, pengusaha dapat mengenakan maksimal 10 % service charge atas layanannya. Namun, pada praktiknya besarnya pengenaan service charge berbeda-beda. Ada pengusaha restoran dan tempat hiburan yang membebankan 5 % atau bahkan 10 % service charge, dan memang pengenaan service charge pada pelanggan bukanlah suatu keharusan bagi pengusaha. Jadi, bisa saja pengusaha tidak mengenakan uang service sama sekali.

Sedikit informasi tambahan mengenai besarnya service charge pada praktik dapat ditemui pada artikel Hukumonline Kado Tahun Baru Buat Pekerja Hotel.

Cara Penghitungan Perlu diketahui, service charge ialah salah satu dasar pengenaan Pajak Daerah, baik itu pajak restoran maupun pajak hiburan (Lihat juga Pasal 5 Ayat (1) Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 92 Tahun 2011 Tentang Pelaksanaan Online System Atas Pelaporan Data Transaksi Usaha Wajib Pajak Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan Dan Pajak Parkir). Maka, bila suatu pelayanan dikenakan service charge, pada tagihan yang harus dibayar oleh pelanggan service charge akan terlebih dahulu ditambahkan pada total tagihan, sebelum akhirnya dikenakan pajak restoran ataupun pajak hiburan.

Berikut adalah beberapa contoh cara penghitungan tagihan service charge dan pajak hiburan karaoke di Jakarta:

Invoice 1:

Room charge 75000 x 2 hours : 150.000 ----------Sub Total 20 % Tax : 150.000 : 30.000 ----------- + Grand Total : 180.000 ----------Invoice 2: Menu item a Menu item b : 78.000 : 29.000 ------------- + Sub Total Food and beverage 5 % Service Charge : 107.000 : 5.350 ------------- + Total 20 % Tax : 112.350 : 22.470 ------------- + Grand Total : 134.820 ------------Total Invoice 1 Total Invoice 2 : 134.820 : 180.000 ------------- + Grand Total (invoice 1 & 2) : 314.820

Pada cara penghitungan tagihan di atas tampak pada kali ini service charge hanya dikenakan pengusaha atas pelayanan food and beverage-nya, namun tidak untuk pelayanan ruang

karaoke. Hal tersebut sah-sah saja, karena memang pengusaha tidak diharuskan untuk mengenakan service charge untuk segala jenis layanan yang ia sediakan. Hal itu bukanlah suatu keharusan.

Cara penghitungan service charge dan pajak hiburan pada contoh yang pertama tadi dirasa sudah tepat, dalam artian tidak menyalahi aturan, karena penghitungan service charge dilakukan terlebih dahulu sehingga menjadi dasar pengenaan pajak. Namun, pada praktiknya tidak terdapat keseragaman cara penghitungan service charge dan pajak restoran ataupun pajak hiburan. Masih saja ditemui cara penghitungan suatu tempat hiburan karaoke seperti berikut:

Room Charge 70.000 x 2 hours

: 140.000

Room/member discount

: 35.000 ------------ (-)

Sub Total 20 % Tax 5 % Service Charge

: 105.000 : 21.000 : 5.250 ------------- +

Grand Total

: 131.250

Terlihat bedanya tidak? Pada contoh penghitungan yang terakhir ini, service charge justru dikenakan atas layanan ruang karaoke. Selain itu, ada perbedaan mendasar dalam cara penghitungan service charge-nya yang tidak dihitung untuk dikenakan pajak hiburan. Bila menggunakan metode penghitungan ini jumlah pajak hiburan yang nantinya akan diterima pemerintah daerah akan lebih kecil bila dibandingkan dengan metode penghitungan yang digunakan pada contoh yang pertama. Ini bisa jadi masalah bagi pengusaha bila sampai pihak Dinas Pelayanan Pajak mengetahuinya.

Yah, dari sisi konsumen, setidaknya sekarang sudah kita ketahui perkiraan besarnya service charge dan pajak restoran maupun pajak hiburan yang akan dikenakan. Jadi jangan kaget bila melihat total bill angkanya bisa mencapai lebih dari 25 % dari harga-harga yang tercantum di menu. Atau, bila tidak merasa yakin, sebelum memesan apa yang ada di menu sebaiknya tanyakan dahulu kepada waitress apakah harga yang tercantum sudah termasuk pajak dan service charge. Caveat emptor (buyer beware).

Service charge 10% reveue yang diterima dari tamu merupakan hak karyawan yang dibagi rata (sheraton, marriott, hyatt) atau sesuai jabatan (shangri la) setelah dipotong 7%. 5% untuk sport social activity dan 2% untuk cadangan loss&breakage (bila ada barang pecah) Pajaknya PP1 10% dari revenue setelah service charge (atau 11% dari revenue original) dibayar mingguan ke pemkot.

Bisnis jasa seperti perhotelan memang tidak akan lepas dengan instilah Service Charge dan Tax. Service charge adalah biaya tambahan yang dikenakan oleh pihak hotel sebagai penyedia jasa kepada guest sebagai pengguna jasa. Total service charge yang dikumpulkan dalam kurun waktu tertentu misalnya sebulan akan dibagikan kembali kepada karyawan sebagai tunjangan Service. Tentunya nilai tunjangan service untuk masing-masing karyawan tidak selalu sama tergantung kebijakan yang diterapkan masing-masing hotel, demikian juga tarif service charge masing-masing hotel juga bisa bervariasi. Secara umum, perhitungan service charge dan tax adalah saling terkait. Dasar pengenaan service charge adalah sub total penjualan. Sedangkan dasar pengenaan pajak adalah subtotal ditambah dengan service charge. Sebagai contoh, misalnya sub total penjualan kamar hotel adalah Rp. 1.000.000,00 dengan service charge dan tax exlusive masing-masing 10%, berapa total tagihan yang harus dibayar oleh guest ? Berikut contoh perhitungannya :
Service = 10% x Rp. 1.000.000,00 = Rp. 100.000,00 Tax = 10% x (Rp. 1.000.000,00 + Rp. 100.000,00) = Rp. 110.000,00

Jadi total tagihan yang harus dibayar oleh guest adalah :


Total = Sub total + Service + Tax = Rp. 1.000.000,00 + Rp. 100.000,00 + Rp. 110.000,00 = Rp. 1.210.000,00

Untuk perhitungan service dan tax yang inclusive ke sub total, pola perhitungannya sama saja. Cuma ada satu proses tambahan yaitu mencari subtotal original diluar service dan tax. Sebagai contoh, misalnya transaksi sama seperti di atas, dengan service dan tax inclusive. Berikut perhitungannya :
Ori Sub Total = Rp. 1.000.000,00 / (1+10%+10%+(10%x10%)) = Rp. 826.446,28 Service = 10% x Rp. 826.446,28 = Rp. 82.644.63 Tax = 10% x (Rp. 826.446,28 + Rp. 82.644.63) = Rp. 90.909,09

Jadi total tagihan yang harus dibayar oleh guest adalah :


Total = Ori Sub total + Service + Tax = Rp. 826.446,28 + Rp. 82.644.63 + Rp. 90.909,09 = Rp. 1.000.000,00

Mengenal Service Charge atau Biaya Pelayanan Di Hotel


Service Charge atau Biaya Pelayanan adalah suatu komponen yang menjadi satu kesatuan dengan harga produk layanan tertentu pada transaksi penjualan di Hotel. Kisaran besar nilai service charge yang umum adalah 10 % tergantung dari management Hotel. Service charge dikenakan pada saat terjadi transaksi penjualan seperti penjualan kamar, Makanan dan minuman, laundry, kolam renang, dan lain-lain yang ditetapkan oleh management. Service charge yang diterima akan diperhitungkan setiap bulannya dan kebanyakan management operator Hotel akan membagi nilai service tersebut kepada karyawannya namun ada pula management yang tidak membagikan service charge tersebut. Kebijakan membagi service charge adalah merupakan kebijakan management sebagai operator pada suatu Hotel. Untuk management yang membagikan service charge setiap bulannya terkadang juga menyisihkan beberapa persen dari service charge untuk kepentingan lain seperti untuk keperluan sumber daya manusia, penggantian barang pecah belah yang rusak, penghapusan piutang, biaya debt kolektor, dan biaya lain-lain yang diperlukan dan harus dianggarkan dari service charge/biaya pelayanan. Nilai prosentase bermacam-macam dan hal ini pun merupakan kewenangan management. Pernah ada pertanyaan, apakah untuk pembagian service charge ini diatur juga dalam UU tenaga kerja ? Sepanjang yang penulis tahu, tidak ada peraturan yang mengatur secara khusus mengenai biaya pelayanan ini, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan pembagian service charge, adalah merupaka kebijakan management Hotel. Rumus Pembagian Service Charge Pembagian service charge setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dianggarkan oleh management seperti biaya SDM dan anggaran pecah belah, dan lain-lain terdapat bermacammacam cara, pada kesempatan ini, penulis akan mengetengahkan 3 cara yang penulis ketahui yaitu sebagai berikut :

Pembagian Sama Rata. Pembagian Sama Rata + Poin. Pembagian Poin ; a. Spiral. b.Kerucut.

Pembagian Sama Rata Adalah service charge yang telah dihitung dan siap dibagi dimana nilai yang didapat dibagi jumlah karyawan yang berhak mendapat service. Nilai service charge yang diterima oleh masing-masing karyawan jumlahnya sama antara karyawan satu dengan karyawan lainnya tanpa memandang posisi dan jabatan.

Pembagian Sama Rata dan Poin Adalah service charge yang telah dihitung dan siap dibagi dimana nilai yang didapat akan dibagi 2 kembali, 50 % yang pertama akan dibagikan secara rata dengan nilai yang sama kepada semua karyawan yang berhakmendapat service charge dalam hal ini sama dengan perhitungan diatas, sedangkan 50 % lagi akan dibagi kepada seluruh karyawan berdasarkan poin sesuai kebijakan management Hotel.

Pembagian berdasarkan system Poin. Pembagian berdasarkan poin ini lebih cenderung berupa rumus dan berdasarkan pula kepada jabatan karyawan yang bersangkutan. Ada 2 system pembagian poin yaitu system kerucut dan spiral. System kerucut adalah system poin yang memandang semakin tinggi jabatan maka semakin kecil nilai sevice yang akan diterima, sedangkan jabatan dengan posisi paling bawah akan menerima nilai sebaliknya, hal ini di asumsikan dari banyaknya kerjaan yang dtanggung jabatan paling bawah lebih banyak dan berat. System spiral adalah system poin kebalikan dari kerucut yaitu semakin tinggi jabatan karyawan di hotel, semakin besar nilai service yang akan diterimanaya, sementara karyawan dengan posisi paling bawah akan menerima nilai service yang kecil, hal ini diasumsikan dari besarnya tanggung jawab jabatan lebih tinggi lebih besar resikonya.

Demikian sedikit share dari penulis sejauh pengetahuan yang dimiliki.

Kenapa muncul istilah nett dan ++? Hotel sebagai salah satu industri bidang jasa pariwisata mempunyai hitungan tersendiri mengenai harga jual jasanya karena adanya dua tambahan komponen harga jual yaitu service charge dan pajak pembangunan (PB 1).

Service charge Adalah tambahan biaya jasa yang hanya ada di dunia industri jasa perhotelan yang besarannya ditetapkan sebesar 10% dari harga jual. Penggunaan pendapatan service charge ini biasanya dibagi 3. 1. Sebagai tambahan penghasilan pekerja. Pendapatan service charge yang terkumpul selama satu bulan biasanya akan dibagikan rata kepada pekerja yang berstatus karyawan tetap dan atau karyawan kontrak pada bulan berikutnya, 2. Corporate Social Responsibility. Sebagai sumber dana bagi hotel untuk melakukan fungsi sosialnya entah dalam bentuk bantuan kepada pekerja atau masyarakat sekitar yang membutuhkan bantuan. Bisa melalui program yang sifatnya reguler atau insidentil. 3. Loss & Breakage. Dipakai oleh hotel sebagai dana cadangan guna menggantikan barang-barang hotel yang berpotensi hilang dan rusak namun bukan merupakan barang fixed asset. Biasanya seperti gelas, piring, sendok, garpu, atau mangkok. Maka sebenarnya jika kita tidak memberikan tip kepada pekerja hotel sebenarnya tidak mengapa karena pada dasarnya kita sudah memberikan tip melalui harga yang kita bayar kepada hotel. Pajak Pembangunan (PB1) Pajak pembangunan ini ditetapkan besarannya sebesar 10% dari total penerimaan hotel atau 11% dari harga pokoknya. Pajak ini harus dibayarkan melalui Dispenda setiap bulannya paling terlambat tanggal 15 bulan depannya. Jika terlambat akan dikenakan denda 2% per bulan Lumayan Harga nett atau harga sudah nett? Istilah harga nett sebenarnya agak berbeda antara hotel dengan pelanggan. Bagi hotel harga nett adalah harga yang dicantumkan hotel sebagai harga yang akan diterima sebagai pendapatan bersih hotel karena sudah tidak harus menyisihkan service charge dan pajak, sedangkan bagi pelanggan harga nett adalah harga keseluruhan yang sudah termasuk service charge dan pajak. Gambarannya sebagai berikut: Jika ada harga 100.000, ++ maka bagi hotel yang disebut harga nett adalah yang 100.000 sedangkan pelanggan harga nett-nya adalah 100.000 + 10.000 (service) + 11.000 (tax) = 121.000. Pakai harga nett atau ++? Lalu sebaiknya hotel memakai tampilan yang mana pada media promosinya? Nett atau ++? Dari apa yang saya pernah alami, ini tergantung dari orientasi manajemen sendiri. Apakah berorientasi pada kemudahan manajemen atau kemudahan pelanggan?

Biasanya jika mengacu pada hitungan manajemen, maka harga yang dimunculkan adalah harga ++ karena ini akan mempermudah manjemen menghitung secara cepat potensi pendapatan dan profit terutama bagi para manajer yang tidak terlalu kuat dalam mengkalkulasia angka. Hal ini bermanfaat dalam briefing atau meeting, terutama dengan General Manager atau Owning Company. Tetapi jika berorientasi pada kemudahan pelanggan biasanya akan menggunakan harga nett. Pelanggan akan lebih mudah mencerna angka Rp. 150.000, nett dibanding Rp. 115.000, ++. Artinya pelanggan siap dengan uang Rp. 150.000,00 dibanding harus berhitung lagi Rp. 115.000 + 21%nya

Service Service dalam hal ini adalah potongan yang dikenakan kepada konsumen hotel atau restoran atas : pelayanan, dedikasi dan perhatian yang diberikan oleh manajemen dan karyawan hotel atau restoran, yang nantinya akan dibagikan kepada seluruh karyawan hotel secara merata. Kebanyakan hotel atau restoran mengenakan service kepada konsumennya, akan tetapi ada juga hotel atau restoran yang untuk alasan tertentu (promosi) tidak mengenakan service. Besarnya service yang dikenakan beragam, berkisar antara 7% sampai dengan 10% atas jasa yang diserahkan.

Tarif Pajak Hotel dan Restoran

Tarif Pajak Hotel dan Restoran adalah 10% atas Jasa dan service

Formulasi dan Contoh Perhitungan Berdasarkan tarif di atas, maka besarnya Pajak Hotel dan Restoran dapat diformulasikan menjadi : (a). Jika dikenakan service, maka formulanya : Pajak Hotel dan Restoran = 10% x ( Obyek Pajak + Service)

(b) Jika tidak dikenakan service, maka formulanya : Pajak Hotel dan Restoran = 10% x Nilai Jasa Diserahkan

Contoh : Si A, menginap dihotel The Royal Bali 5 malam dengan rincian bill sebagai berikut : (-) 5 Nights Delux Ocean Terace ( 5 x USD 500.00) = USD 2,500.00 (-) Laundry = USD 35.00 (-) Mini Bar = USD 65.00 (-) Oriental Dinner = USD 150.00 (-) American Lunch = USD 250.00 Total = USD 3,000.00 * Subject to : 10% service & 10% Tax Hitung pajak & service-nya dengan 4 langkah. Langkah-1 : Tentukan nilai obyek pajaknya Dari contoh di atas, semuanya merupakan obyek pajak hotel dan restoran, KECUALI makanan dan minuman dari MINIBAR. Mengapa makanan dan minuman dari minibar tidak termasuk obyek pajak hotel dan restoran ?, karena : makanan dan minuman dari minibar adalah makanan & minuman yang sifatnya instant, yang mana untuk membuatnya tersedia, hotel samasekali tidak melakukan proses apapun selain menyimpannya di minibar, dengan kata lain makanan dan minuman dari minibar samasekali tidak diolah dihotel, melainkan dibeli dalam kondisi sudah jadi dari supermarket, sehingga bukan merupakan obyek Pajak Hotel dan Restoran. Dengan demikian maka nilai obyek pajaknya hanya sebesar USD 2,935.00 saja. Sedanagkan atas makanan dan minuman dari Mini Bar sebesar USD 65.00 adalah obyek PPn yang biasanya telah termasuk dalam pembeliannya di Supermarket. Langkah-2 : Hitung Servicenya Dalam contoh ini, hotel mematok tarif service 10%. Maka besarnya service dapat dihitung

sebagai berikut : Service = 10% x (USD 3,000.00 USD 65.00) Service = 10% x USD 2,935.00 Service = USD 293.50 Langkah-3 : Hitung Pajak Hotel & Restoran" Pajak Hotel dan Resto = 10% x (Nilai Jasa Diserahkan + service) Pajak Hotel dan Resto = 10% x (USD 2,935 + USD 293.50) Pajak Hotel dan Resto = 10% x USD 3,228.50 Pajak Hotel dan Resto = USD 322.85 Langkah-4 : Hitung Pajak dan Service -nya Pajak & Service = USD 293.50 + 322.85 Pajak & Service = USD 616.35 Total yang harus dibayarkan adalah : 3,000.00 + 616.35 = USD 3,616.35