Anda di halaman 1dari 6

REFERAT PENGELOLAAN JALAN NAFAS

OLEH : ERVAN SURYANTI UMBU LAPU MARGARETA JUMINARTY SONO ROMAN ROLANDA MESADA

PEMBIMBING: DR. BUDI YULIANTO SARIM, SP.AN

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bidang anastesi, salah satu usaha yang mutlak harus dilakukan oleh seorang dokter anastesi adalah menjaga berjalannya fungsi organ tubuh pasien secara normal, tanpa pengaruh yang berarti akibat proses pembedahan. Pengelolaan jalan nafas menjadi salah satu bagian yang terpenting dalam suatu tindakan anastesi. Karena beberapa efek dari obat-obatan yang digunakan dalam anastesi seperti obat sedativ, narkotik dan relaksan dapat mempengaruhi keadaan jalan nafas.1 Syarat utama yang harus diperhatikan dalam anastesi umum adalah menjaga agar jalan nafas selalu bebas dan nafas dapat berjalan dengan lancar serta teratur.2 Jalan nafas mengalirkan udara dari luar ke alveoli. Kesulitan atau kegagalan dalam mengelola jalan nafas merupakan faktor utama morbiditas dan mortalitas. Kegagalan oksigenasi merupakan pembunuh tercepat. Kematian dini karena masalah jalan nafas disebabkan oleh kegagalan mengetahui adanya sumbatan jalan nafas, gagal membuka jalan nafas, keliru dalam memasang alat bantu nafas dan aspirasi isi lambung.1 Untuk dapat mengelola jalan nafas dengan benar dibutuhkan untuk mengetahui anatomi dan fisiologi jalan nafas yang benar, kemampuan menilai jalan nafas pasien dan memiliki keterampilan dalam mengelola jalan nafas. Untuk menilai adanya sumbatan jalan nafas dapat dilakukan dengan melihat gerakan otot pernafasan (look), mendengar gerak udara nafas dengan telinga (listen) dan merasakan hembusan udara (feel). Adapun cara yang dapat dilakukan agar jalan nafas tetap baik dibagi menjadi dua yaitu pengelolaan jalan nafas dengan alat dan tanpa alat.1,3 Mempertahankan jalan nafas merupakan langkah pertama agar resusitasi bisa sukses. Petugas kesehatan harus menguasai teknik pengelolaan jalan nafas dengan baik serta alat-alat yang digunakan dalam pengelolaan jalan nafas.4

BAB II ISI 1. Anatomi Jalan Nafas Mengetahui anatomi jalan nafas penting dalam pengelolaan jalan nafas. Jalan nafas terdiri dari kavum nasi, faring, laring, trakea, bronkus, dan pulmo. Ada dua pintu masuk jalan nafas manusia, yaitu hidung yang menuju ke nasofaring dan mulut yang menuju ke orofaring. Kedua saluran ini dipisahkan oleh palatum di bagian anterior dan kemudian menyatu di daerah faring.5 Diafragma dan otot-otot pada dinding thorax dan abdomen bertanggung jawab terhadap gerakan pernapasan. Berikut dijelaskan beberapa anatomi yang berperan penting dalam pengelolaan jalan nafas. a) Nasal Nasal dibagi menjadi dua bagian yaitu nasus eksternus dan kavum nasal. Nasus eksternus merupakan struktur yang terlihat yang membentuk roman wajah seseorang. Sebagian besar nasus eksternus dibentuk oleh kartilago. Kavum nasal dimulai dari nares hingga ke khoanae. Nares adalah bagian yang terbuka keluar sedang khoanae adalah bagian yang terbuka ke faring. Bagian anterior kavum nasal, yang terdapat pada masing-masing naris disebut vestibulum. Palatum durum adalah suatu lapisan tulang yang ditutupi oleh membran mukosa membentuk dasar kavum nasal dan membatasi daerah kavum nasal dan kavum oris. Septum nasi merupakan sekat yang membagi kavum nasal dekstra dan sinistra. Pada kavum nasal terdapat 3 penonjolan tulang yang disebut concha yang membentuk dinding lateral kavum nasal. Pada dasar concha terdapat suatu lintasan yang disebut meatus. Diantara meatus superior dan medial terdapat suatu celah pintu masuk dari sinus paranasalis dan celah pintu masuk duktus nasolakrimalis pada tiap meatus inferior. 2

b) Faring Faring terdiri dari tiga bagian yaitu nasofaring, orofaring dan laringofaring. Nasofaring merupakan saluran nasal yang terdiri dari septum nasi dan kelenjar adenoid. Orofaring terdiri dari kavum oris, termasuk gigi dan lidah. Epiglotis memisahkan laringofaring dengan laring dan hipofaring. 3

Nasofaring adalah regio superior faring, dari khoanae sampai palatum molle. Uvula merupakan perluasan dari palatum molle. Palatum molle berfungsi mencegah material yang tertelan ke kavum nasi. Nasofaring dilapisi membran mukosa yang mengandung epitel kolumner pseudostratified bersilia dan sel goblet. Debris yang diangkut oleh mukus dari kavum nasi akan bergerak melalui nasofaring dan kemudian akan ditelan oleh saluran pencernaan. Dua tuba auditorium dari telinga tengah terbuka ke nasofaring. Udara akan melewati tuba tersebut untuk menyamakan tekanan udara di atmosfer dan telinga tengah. Daerah permukaan posterior nasofaring terdapat tonsila faringeal atau adenoid yang membantu sistem pertahanan tubuh. Orofaring memanjang dari uvula hingga ke epiglotis. Kavum oris terbuka terhubung dengan orofaring melalui fauses. Udara, makanan dan minuman akan masuk ke melalui orofaring yang dilapisi epitel skuamous stratified yang lembab untuk mencegah abrasi. Satu pasang tonsil yang disebut tonsila palatina dan tonsila lingual terletak dekat fauses. Laringofaring memanjang dari ujung epiglotis ke esofagus dan saluran posterior ke laring. Laringofaring dilapisi epitel skuamosa yang lembab. c) Laring Lokasi laring setinggi dengan vertebra cervicalis C4-C5 dengan batas atas basis cranii dan batas bawah kartilago krikoid yang terdiri dari sembilan tulang rawan (tiga yang tidak berpasangan yaitu tiroid, krikoid, epiglotis dan tiga yang berpasangan yaitu corniculat, cuneiform, aritenoid), ligamen dan otot. Kartilago krikoid (setinggi C5-6) merupakan satu-satunya tulang rawan yang berstruktur cincin penuh dari jalan

nafas.3 Penekanan tulang rawan krikoid dalam intubasi dilakukan untuk mencegah muntah.

d) Trakea Trakea bermula dari batas bawah cincin krikoid. Diameter trakea orang dewasa adalah sekitar 9-15 mm dan panjang 12-15 cm.2 Trakhea adalah tuba membranosa yang mengandung jaringan ikat yang tebal dan otot polos serta diperkuat kartilago bentuk C sebanyak 15-20. Kartilago tersebut menjaga trakhea agar tidak kolaps sehingga tetap saluran napas tetap terbuka. Pada dinding posterior sama sekali tidak memiliki kartilago namun mengandung membran ligamentum elastis dan serabut otot polos yang disebut muskulus trakhealis. Kontraksi otot polos dapat memperkecil diameter trakhea. Saat batuk, udara akan mengalir bergerak sangat cepat pada trakhea yang akan membantu mengeluarkan mukus dan benda asing. 2. Indikasi Endotrakeal intubasi: obstruksi jalan nafas yang akut misalnya trauma pada mandibula atau laring; inhalasi misalnya asap rokok atau bahan kimia; infeksi misalnya epiglotitis akut, batuk, atau abses retrofaringeal; hematoma; tumor; anomali kongenital

a. Obstruksi jalan nafas akut b. Sekret paru yang berlebihan c. Refleks protektif menurun d. Gagal nafas e. aaa

Dunn, P.F dan Zeleznik, M.W. Airway Evaluation and Management. Dalam: Dunn, P.F. Editor. Clinical Anesthesia Procedures of the Massachussets General Hospital, 7th edition. Massachusetts: 2007: p 209. Editors: Walls, Ron M.; Murphy, Michael F. Title: Manual of Emergency Airway Management, 2nd Edition Copyright 2004 Lippincott Williams & Wilkins 8.Acute Medicine A practical guide to the management of medical emergencies David Sprigings Consultant Physician Northampton General Hospital Northampton UK John B. Chambers Reader and Consultant Cardiologist Guys and St Thomas Hospitals London UK FOURTH EDITION 2450252