Anda di halaman 1dari 52

Danau Toba, Sumatera Utara

Seoul, 13th of October 2013

Tinjauan Umum Modul 7


Secara umum, Modul 7 akan membahas tentang penyusunan anggaran variabel dan anggaran tetap perusahaan industri, perusahaan dagang, dan perusahaan jasa. Modul 7 terdiri dari dua kegiatan belajar: Kegiatan Belajar 1 Penyusunan Anggaran Perusahaan Industri; Kegiatan Belajar 2 Penyusunan Anggaran Perusahaan Dagang; Kegiatan Belajar 3 Penyusunan Anggaran Perusahaan Jasa. Setelah mempelajari Modul 7, diharapkan mampu: Menjelaskan penyusunan anggaran tetap dan variabel perusahaan industri; Menjelaskan penyusunan anggaran tetap dan variabel perusahaan dagang; Menjelaskan penyusunan anggaran tetap dan variabel perusahaan jasa; Menjelaskan analisis selisih anggaran bank.

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Tetap Data ilustrasi: 1. Rencana Jualan
Daerah A Produk X Produk Y Produk X Produk Y 208000 unit 171800 unit 379800 unit Daerah B 320000 unit 168400 unit 488400 unit 868200 unit

Rencana Jualan

Harga Jual per produk Produk X = Rp 9.9; Y = Rp 16.5. 2. Anggaran Sediaan Produk Jadi
Jenis Produk Sediaan Awal Sediaan Akhir Produk X 70000 unit 80000 unit Produk Y 50000 unit 60000 unit Jumlah 120000 unit 140000 unit

Harga Pokok Produk X = Rp 441.700; Y = Rp 527.000.


3

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Tetap Data ilustrasi: 3. Anggaran Sediaan Produk dalam Proses
Jenis Produk Produk X Produk Y Jumlah
Produk X BBB BTKL BOP Produk Y BBB BTKL BOP

Sediaan Awal Sediaan Akhir Kuantitas Tingkat Selesai Kuantitas Tingkat Selesai 9000 unit BBB 100% 10000 unit BBB 100% BTKL/BOP 40% BTKL/BOP 50% 4000 unit BBB 100% 5000 unit BBB 100% BTKL/BOP 40% BTKL/BOP 50% 13000 unit 15000 unit

Harga pokok sediaan produk dalam proses:


Rp 15,030 Rp 9,720 Rp 6,984 Rp 31,734 Rp 11,160 Rp 7,216 Rp 5,184 Rp 23,560 Rp 55,294
4

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Tetap Data ilustrasi: 4. Anggaran Sediaan Bahan Baku
Bahan Baku A B C Jumlah Sediaan Bahan Baku Awal 103000 unit 44000 unit 114200 unit 261200 unit Sediaan Bahan Baku Akhir 80000 unit 40000 unit 120000 unit 240000 unit

Harga pokok sediaan bahan baku:


Bahan Baku A Bahan Baku B Bahan Baku C Jumlah
A Produk X B C A Produk Y B C

Rp 61,800 Rp 74,800 Rp 114,200 Rp 250,800


0.9 unit 0 unit 1.2 unit 0.5 unit 0.8 unit 1 unit

Standar bahan baku dipakai:

Harga bahan baku per unit A = Rp 0.6; B = Rp 1.7; C = Rp 1.


5

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Tetap
Data ilustrasi: 5. Standar Upah Upah per jam pada Departemen I = Rp 10; II = Rp 8 Jam Kerja:
Departemen I Departemen II Departemen I Produk Y Departemen II Produk X 0.1 jam 0.2 jam 0.2 jam 0.4 jam

6.

Standar Biaya Overhead Pabrik Produk X memerlukan BOP Rp 1.9; Y = Rp 3.24 7. Beban Usaha: Beban Jualan = Rp 1.190.000 Beban Administrasi dan Umum = Rp 695.000 8. Dapatan Bunga Setahun = Rp 98.000 Beban Bunga Setahun = Rp 90.000 9. Saldo Kas Awal = Rp 600.000 Modal Saham = Rp 1.200.000 Laba Ditahan Awal = Rp 674.794 10. Seluruh produk yang dijual dan dibeli dilakukan secara tunai pada periode yang bersangkutan.
6

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Tetap Anggaran Operasional 1. Anggaran Jualan:
Kuantitas Produk X Daerah A Daerah B Jumlah Produk Y Daerah A Daerah B Jumlah Jumlah Total Harga Jual Jualan

208000 unit Rp 320000 unit Rp 528000 unit Rp 111600 unit Rp 168400 unit Rp 280000 unit Rp 808000 unit

9.90 Rp 2,059,200 9.90 Rp 3,168,000 9.90 Rp 5,227,200 16.50 Rp 1,841,400 16.50 Rp 2,778,600 16.50 Rp 4,620,000 Rp 9,847,200
Produk X 528000 unit 80000 unit 608000 unit 70000 unit 538000 unit 10000 unit 548000 unit 9000 unit 539000 unit Produk Y 280000 unit 60000 unit 340000 unit 50000 unit 290000 unit 5000 unit 295000 unit 4000 unit 291000 unit

2. Anggaran Produk:
Keterangan Jualan Sediaan Produk Jadi Akhir Produk Siap Dijual Sediaan Produk Jadi Awal Produk Jadi Sediaan Produk dalam Proses Akhir Produk Dihasilkan Sediaan Produk dalam Proses Awal Produk Masuk Proses Produksi

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Tetap Anggaran Operasional Perhitungan Unit Ekuivalen Metode FIFO
Jenis Biaya dan Produk Jadi Ekuivalen Produk + Produk Diproduksi Dalam Proses Akhir Biaya Bahan Baku Produk X 538000 unit + (10.000 x 100%) Produk Y 290000 unit + (5.000 x 100%) Biaya Tenaga Kerja Langsung Produk X 538000 unit (10.000 x 50%) Produk Y 290000 unit (5.000 x 50%) Ekuivalen Produk Dalam Proses Awal (9.000 x 100%) (4.000 x 100%) (9.000 x 40%) (4.000 x 40%) = = = = = Unit Ekuivalen yang Dihasilkan 539000 unit 291000 unit 539400 unit 290900 unit

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Tetap Anggaran Operasional 3. Anggaran Biaya Bahan Baku dan Belian Bahan Baku:
Keterangan Produk X Produk Y Bahan Baku Dipakai Biaya Bahan Baku Sediaan Akhir (Unit) Sediaan Akhir (Rp) Produk Siap Dipakai (Unit) Produk Siap Dipakai (Rp) Sediaan Awal (Unit) Sediaan Awal (Rp) Belian Bahan Baku (Unit) Belian Bahan Baku (Rp) Bahan Baku A 485100 unit 145500 unit 630600 unit Rp 378,360 80000 unit Rp 48,000 710600 unit Rp 426,360 103000 unit Rp 61,800 607600 unit Rp 364,560 Bahan Baku B 232800 unit 232800 unit 395,760 40000 unit 68,000 272800 unit 463,760 44000 unit 74,800 228800 unit 388,960 Bahan Baku C 646800 unit 291000 unit 937800 unit Rp 937,800 120000 unit Rp 120,000 1057800 unit Rp 1,057,800 114200 unit Rp 114,200 943600 unit Rp 943,600 Jumlah 1131900 unit 669300 unit 1801200 unit Rp 1,711,920 240000 unit Rp 236,000 2041200 unit Rp 1,947,920 261200 unit Rp 250,800 1780000 unit Rp 1,697,120

Rp Rp Rp Rp Rp

4. Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung


Keterangan Produk X Produk Y Jumlah Jam Terpakai Biaya Tenaga Kerja Langsung Departemen I Departemen II Jumlah 53940 jam 107880 jam 161820 jam 43635 jam 116360 jam 159995 jam 97575 jam 224240 jam 321815 jam Rp 975,750 Rp 1,793,920 Rp 2,769,670
9

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Tetap Anggaran Operasional Perhitungan Harga Pokok Produk per Unit:
Keterangan Bahan Baku yang Dipakai Bahan Baku A Bahan Baku B Bahan Baku C Jumlah Produk Dihasilkan Biaya Bahan Baku per Unit Produk Tenaga Kerja Langsung Departemen I Departemen II Jumlah Produk Dihasilkan Biaya Tenaga Kerja Langsung per Unit Produk Biaya Overhead Pabrik per Unit Produk Harga Pokok per Unit Produk Produk X Rp Rp Rp Rp 291,060 646,800 937,860 539000 unit Rp 1.74 Rp Rp Rp 539,400 863,040 1,402,440 539400 unit Rp 2.60 Rp 1.94 Rp 6.28 Produk Y Rp Rp Rp Rp 87,300 395,760 291,000 774,060 291000 unit Rp 2.66 Rp Rp Rp 436,350 930,880 1,367,230 290900 unit Rp 4.70 Rp 3.24 Rp 10.60

10

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Tetap Anggaran Operasional Perhitungan Sediaan Produk Jadi Akhir:
Produk X Produk Y Jumlah
Produk X

= 80.000 unit x Rp 6.28 Rp = 60.000 unit x Rp 10.6 Rp Rp

502,400.00 636,000.00 1,138,400.00

Perhitungan Sediaan Produk dalam Proses Akhir:


BBB = 10.000 unit x 100% x Rp 1.74 Rp 17,400 BTKL = 10.000 unit x 50% x Rp 2.60 Rp 13,000 BOP = 10.000 unit x 50% x Rp 1.94 Rp 9,700 Jumlah Rp 40,100 Produk Y BBB = 5.000 unit x 100% x Rp 2.66 Rp 13,300 BTKL = 5.000 unit x 50% x Rp 4.70 Rp 11,750 BOP = 5.000 unit x 50% x Rp 3.24 Rp 8,100 Jumlah Rp 33,150 Jumlah Total Rp 73,250

Perhitungan Biaya Overhead Pabrik


Produk X Produk Y Jumlah = 539.400 unit x Rp 1.94 Rp = 290.900 unit x Rp 3.24 Rp Rp 1,046,436.00 942,516.00 1,988,952.00
11

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Tetap Anggaran Operasional 5. Anggaran Harga Pokok Jualan:
Keterangan Belian Bahan Baku Sediaan Bahan Baku Awal Bahan Baku Siap Dipakai Sediaan Bahan Baku Akhir Biaya Bahan Baku Biaya Tenaga Kerja Langsung Biaya Overhead Pabrik Biaya Pabrik Sediaan Produk dalam Proses Awal Produk Masuk dalam Proses Sediaan Produk dalam Proses Akhir Harga Pokok Produk Jadi Sediaan Produk Jadi Awal Produk Siap Dijual Sediaan Produk Jadi Akhir Harga Pokok Jualan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Nominal 1,697,120 250,800 1,947,920 236,000 1,711,920 2,769,670 1,988,952 6,470,542 55,294 6,525,836 73,250 6,452,586 968,700 7,421,286 1,138,400 6,282,886
12

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Tetap Anggaran Operasional 6. Anggaran Rugi-Laba:
Keterangan Jualan Harga Pokok Jualan Laba Kotor Beban Jualan Beban Administrasi dan Umum Beban Usaha Laba Usaha Dapatan Bunga Beban Bunga Laba Bukan Usaha Laba Bersih Sebelum Pajak Pajak Penghasilan 10% Laba Bersih Setelah Pajak Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Nominal 9,847,200 6,282,886 3,564,314 1,190,000 695,000 1,885,000 1,679,314 98,000 90,000 8,000 1,687,314 168,731.40 1,518,583

13

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Tetap Anggaran Keuangan 1. Anggaran Kas:
Keterangan Kas Masuk Jualan Dapatan Bunga Jumlah Kas Masuk Kas Keluar Beli Bahan Baku Upah Tenaga Kerja Langsung Biaya Overhead Pabrik Beban Usaha Beban Bunga Pajak Penghasilan 10% Jumlah Kas Keluar Surplus Saldo Kas Awal Saldo Kas Akhir Nominal Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 9,847,200 98,000 9,945,200 1,697,120 2,769,670 1,988,952 1,885,000 90,000 168,731.00 8,599,473 1,345,727 600,000 1,945,727

14

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Tetap Anggaran Keuangan 2. Anggaran Neraca:
Keterangan Kas Sediaan Produk Jadi Akhir Sediaan Produk dalam Proses Akhir Sediaan Bahan Baku Akhir Aktiva Modal Saham Laba Ditahan Awal Laba Laba Ditahan Akhir Pasiva Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 674,794 Rp 1,518,583 Rp Rp 2,193,377 3,393,377 Nominal 1,945,727 1,138,400 73,250 236,000 3,393,377 1,200,000

15

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Variabel
Perbedaan metode penentuan penuh dengan metode penentuan harga pokok variabel Kelemahan metode penentuan harga pokok variabel: Biaya variabel dan biaya tetap dalam kenyataannya sulit dipisahkan secara tepat, karena masih terdapat biaya semi-varibel; Dalam kenyataannya biaya variabel per unit dalam suatu periode mudah berubah, sedangkan syarat berlakunya analisis penentuan harga pokok variabel antara lain biaya variabel per unit tidak berubah selama periode analisis; Penentuan harga pokok variabel tidak dapat digunakan untuk laporan pihak eksternal. Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tetap dalam kisaran volume kegiatan tertentu, tetapi biaya per unit berubah bila volume kegiatan berubah. Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan, tetapi biaya per unit tidak berubah walaupun volume kegiatan berubah.

16

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Variabel Metode pemisahan biaya semi-variabel. Biaya semi-variabel adalah biaya yang jumlahnya berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semi-variabel mempunyai unsur biaya variabel dan unsur biaya tetap sehingga sering disebut biaya campuran (mixed cost). Ada beberapa metode pemisahan biaya semi-variabel, di antaranya: Metode perkiraan langsung, Metode biaya berjaga, Metode korelasi, dan Metode titik tertinggi dan terrendah. Metode perkiraan langsung Metode ini dipergunakan apabila perusahaan tidak mempunyai data historis (baru berdiri) atau mempunyai data historis namun tidak dapat digunakan, misalnya karena datanya kurang. Dengan demikian, pemisahan biaya semi-variabel menjadi biaya variabel dan biaya tetap dilakukan oleh orang yang ahli (berpengalaman) dengan metode perkiraan.

17

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Variabel Metode pemisahan biaya semi-variabel: Metode biaya berjaga Misalkan biaya listrik pabrik selama satu tahun adalah Rp 3.500.000 dan digunakan untuk penerangan dan juga untuk menggerakkan mesin dan peralatan pabrik. Biaya listrik untuk penerangan pabrik merupakan biaya tetap sedangkan biaya listrik untuk menggerakkan mesin dan peralatan pabrik merupakan biaya variabel. Anggaplah selama satu tahun mesin dan peralatan dipakai selama 2.500 jam dan dihasilkan 1.000 unit produk. Apabila mesin dan peralatan pabrik tidak dijalankan selama satu tahun, perusahaan akan membayar listrik Rp 2.000.000 (merupakan biaya tetap). Maka, biaya variabel adalah Rp 1.500.000. Biaya variabel per unit produk = Rp 1.500.000 / 10.000 produk = Rp 150 Biaya variabel per jam = Rp 1.500.000 / 2.500 jam = Rp 600

18

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Variabel Metode pemisahan biaya semi-variabel: Metode korelasi 1. Secara grafik Biaya pemeliharaan mesin tiap bulan selama enam bulan adalah sebagai berikut:
No. 1 2 3 4 5 6 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Jumlah Jam Mesin 30 40 50 60 80 100 360 Biaya Pemeliharaan Rp 600 Rp 700 Rp 800 Rp 900 Rp 1,100 Rp 1,300 Rp 5,400

Titik A = Biaya tetap = Rp 300 Biaya variabel pemeliharaan mesin selama 100 jam: = Jam mesin Biaya tetap = Rp 1300 Rp 100 = Rp 1.000

19

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Variabel Metode pemisahan biaya semi-variabel: Metode korelasi 2. Secara matematis Biaya pemeliharaan mesin tiap bulan selama enam bulan adalah sebagai berikut:
No. 1 2 3 4 5 6 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Jumlah Rp Rp 10 300 Jam Mesin (X) 30 40 50 60 80 100 360 Biaya Pemeliharaan (Y) Rp 600 Rp 700 Rp 800 Rp 900 Rp 1,100 Rp 1,300 Rp 5,400 X2 900 1600 2500 3600 6400 10000 25000 XY 18000 28000 40000 54000 88000 130000 358000

Y a bX n XY X Y b n X X
2 2

Y b X a n

b a

Y = Jumlah biaya semi-variabel X = Jam mesin

a = Jumlah biaya tetap per periode b = Jumlah biaya variabel per unit

Bila jam mesin = 100, maka biaya semi variabel (Y) = Rp 300 + Rp 10 (100) = Rp 1.300,00
20

Manufacturing Company
Penyusunan Anggaran Variabel Metode pemisahan biaya semi-variabel: Metode titik tertinggi dan terrendah Untuk memisahkan biaya semi-variabel menjadi biaya variabel dan biaya tetap menggunakan metode ini, dilakukan dengan cara mencari selisih antara tingkat biaya dan satuan tertinggi dengan tingkat tertinggi dan satuan terrendah. Misalkan biaya semi-variabel pemeliharaan mesin pada tingkat kegiatan tertinggi sebulan 100 jam mesin langsung dengan biaya pemeliaraan mesin Rp 1.300. Pada tingkat kegiatan terrendah sebulan 30 jam mesin langsung dengan biaya pemeliharaan Rp 600.
Keterangan Tertinggi Terrendah Selisih Jam Mesin 100 jam 30 jam 70 jam Biaya Pemeliharaan Rp 1,300.00 Rp 600.00 Rp 700.00

Biaya pemeliharaan mesin per jam = Rp 700 : 70 jam = Rp 10 Biaya tetap pemeliharaan mesin = Rp 600 (30 Rp 10) = Rp 300

21

Manufacturing Company
Manfaat penentuan harga pokok variabel dalam pengambilan keputusan: 1. Keputusan untuk melayani pesanan khusus atau tidak; 2. Keputusan meningkatkan produk tertentu;

22

Manufacturing Company
Manfaat penentuan harga pokok variabel sebagai alat perencanaan laba Perencanaan laba dalam anggaran variabel menggunakan metode penentuan harga pokok variabel sangat bermanfaat dalam pembuatan anggaran jangka pendek. Data Ilustrasi:
Biaya bahan baku per unit Biaya tenaga kerja langsung per unit Biaya overhead pabrik variabel per unit Biaya usaha variabel per unit Biaya variabel per unit Biaya tetap per triwulan Harga jual per unit Rp 1,000 Rp 1,100 Rp 1,380 Rp 50 Rp 3,530 Rp 2,350,000 Rp 5,530.00

Jualan

Biaya tetap Biaya variabel Laba

Rp 5.530 Rp 2.350.000 Rp 3.530 0 Rp 2.000 Rp 2.350.000 BEP Rp 2.350.000 / Rp 2.000 1.175 unit

BEP = 1.175 unit artinya bila perusahaan menjual dalam satu triwulan sebanyak 1.175 unit, maka perusahaan tidak untung dan tidak rugi (impas) atau dalam keadaan BEP (break even point). Bila perusahaan menjual di bawah 1.175 unit, maka perusahaan akan rugi, dan bila perusahaan menjual di atas 1.175 unit, maka perusahaan akan untung.

23

Manufacturing Company
Manfaat penentuan harga pokok variabel sebagai alat perencanaan laba
Keterangan Jualan Biaya variabel Margin kontribusi Biaya tetap Laba (rugi) Rp Rp Rp Rp Rp Per unit 5,530 3,530 2,000 Rp Rp Rp Rp Rp Berbagai Tingkat Jualan 350 unit 1.175 unit 2.000 unit 1,935,500 Rp 6,497,750 Rp 11,060,000 1,235,500 Rp 4,147,750 Rp 7,060,000 700,000 Rp 2,350,000 Rp 4,000,000 2,350,000 Rp 2,350,000 Rp 2,350,000 (1,650,000) Rp Rp 1,650,000

24

Trading Company
Penyusunan Anggaran Tetap
Data Ilustrasi:
Kas Piutang dagang Sediaan barang Aktiva tetap bersih Aktiva Rp Rp Rp Rp Rp Neraca 50,000 Utang dagang 59,800 Modal saham 110,000 Laba ditahan 150,000 369,800 Pasiva Rp Rp Rp Rp 79,750 100,000 190,050 369,800

Syarat pembayaran: 50% dibayar pada bulan jualan; 40% dibayar satu bulan setelah bulan jualan; 9% dibayar dua bulan setelah bulan jualan; 1% ditaksir tidak tertagih Harga pokok jualan yang diinginkan 65% dari anggaran jualan. Sediaan barang dagangan akhir pada bulan bersangkutan direncanakan 65% dan jualan bulan akan datang setelah ditambah 50% dari jualan dua bulan berikutnya. Belian dibayar lunas bulan berikutnya. Beban jualan dan administrasi variabel 10% dari dapatan jualan bulan bersangkutan, kecuali beban piutang tak tertagih. Beban penjualan dan administrasi tetap Rp 25.000 per bulan dan biaya depresiasi Rp 6.000 per bulan dan dibayarkan tunai pada bulan bersangkutan. Manajemen menghendaki kas mininum Rp 60.000 yang dimulai dari bulan Januari. Untuk menambah kas awal tahun sebesar Rp 50.000 menjadi Rp 60.000, perusahaan bermaksud meminjam uang di bank sebesar Rp 10.000 pada awal tahun dan akan dilunasi pada akhir bulan ketiga. Bunga pinjaman bank 12% setahun dari pokok pinjaman yang dibayar pada akhir triwulan.
25

Realisasi dan Anggaran Jualan Realisasi November Rp 50,000 Desember Rp 59,800 Anggaran Januari Rp 120,000 Februari Rp 130,000 Maret Rp 115,000 April Rp 120,000 Mei Rp 130,000

Trading Company
Penyusunan Anggaran Tetap Anggaran Operasional 1. Anggaran Jualan
Keterangan Nopember Desember Jualan Rp 120,000 Rp 100,000 a. 50% x jualan bulan bersangkutan b. 40% x jualan bulan lalu c. 9% x jualan dua bulan lalu Jumlah Kas Masuk Januari Rp 120,000 Rp 60,000 Rp 40,000 Rp 10,800 Rp 110,800 Februari Rp 130,000 Rp 65,000 Rp 48,000 Rp 9,000 Rp 122,000 Maret Rp 115,000 Rp 57,500 Rp 52,000 Rp 10,800 Rp 120,300

2. Anggaran Belian
Keterangan Jualan Harga pokok jualan Sediaan barang dagangan akhir Barang siap dijual Sediaan barang dagangan awal Belian Bayar belian Januari Rp 120,000 Rp 78,000 Rp 121,875 Rp 199,875 Rp 110,000 Rp 89,875 Rp 79,750 Februari Rp 130,000 Rp 84,500 Rp 113,750 Rp 198,250 Rp 121,875 Rp 76,375 Rp 89,875 Maret April Rp 115,000 Rp 120,000 Rp 74,750 Rp 120,250 Rp 195,000 Rp 113,750 Rp 81,250 Rp 76,375 Mei Rp 130,000

26

Trading Company
Penyusunan Anggaran Tetap Anggaran Operasional 3. Anggaran Beban Penjualan dan Administrasi
Keterangan Jualan Beban Jualan dan Administrasi: Variabel Tetap Beban Penghapusan Piutang Jumlah Beban Usaha Beban Penghapusan Piutang Beban Depresiasi Beban Usaha Tidak Tunai Beban Usaha Tunai Januari Februari Maret Rp 120,000 Rp 130,000 Rp 115,000 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 12,000 25,000 1,200 38,200 1,200 6,000 7,200 31,000 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 13,000 25,000 1,300 39,300 1,300 6,000 7,300 32,000 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 11,500 25,000 1,150 37,650 1,150 6,000 7,150 30,500

4. Anggaran Rugi-Laba
Keterangan Jualan Harga Pokok Jualan Laba Kotor Beban Usaha Laba Usaha Bunga Laba Sebelum Pajak Januari Rp 120,000 Rp 78,000 Rp 42,000 Rp 38,200 Rp 3,800 Rp 100 Rp 3,700 Februari Rp 130,000 Rp 84,500 Rp 45,500 Rp 39,300 Rp 6,200 Rp 100 Rp 6,100 Maret Rp 115,000 Rp 74,750 Rp 40,250 Rp 37,650 Rp 2,600 Rp 100 Rp 2,500 Triwulan I Rp 365,000 Rp 237,250 Rp 127,750 Rp 115,150 Rp 12,600 Rp 300 Rp 12,300

27

Trading Company
Penyusunan Anggaran Tetap Anggaran Keuangan 1. Anggaran Kas
Keterangan Saldo Kas Awal Kas Masuk dari Jualan Kas Tersedia Bayar Sebelum Pinjaman Belian Beban Usaha Tunai Bayar Sebelum Pinjaman Kas Minimum Jumlah Kas Diperlukan Surplus (Defisit) Terima Pinjaman Bank Bayar Bunga Bayar Pinjaman Bank Saldo Kas Akhir Seluruhnya Januari Februari Maret Rp 50,000 Rp 60,050 Rp 60,175 Rp 110,800 Rp 122,000 Rp 120,300 Rp 160,800 Rp 182,050 Rp 180,475 Rp 79,750 Rp Rp 31,000 Rp Rp 110,750 Rp Rp 60,000 Rp Rp 170,750 Rp Rp (9,950) Rp Rp 10,000 Rp Rp Rp Rp Rp Rp 60,050 Rp 89,875 32,000 121,875 60,000 181,875 175 60,175 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 76,375 30,500 106,875 60,000 166,875 13,600 300 10,000 63,300

28

Trading Company
Penyusunan Anggaran Tetap Anggaran Keuangan 2. Anggaran Neraca
Keterangan AKTIVA Kas Piutang Dagang Bersih Sediaan Barang Dagangan Akhir Aktiva Tetap Bersih Jumlah Aktiva PASIVA Utang Bank Utang Dagang (Belian) Utang Bunga Modal Saham Laba Ditahan Jumlah Pasiva Januari Rp 60,050 Rp Rp 67,800 Rp Rp 121,875 Rp Rp 144,000 Rp Rp 393,725 Rp Rp 10,000 Rp Rp 89,875 Rp Rp 100 Rp Rp 100,000 Rp Rp 193,750 Rp Rp 393,725 Rp Februari 60,175 74,500 113,750 138,000 386,425 10,000 76,375 200 100,000 199,850 386,425 Maret Rp 63,300 Rp 68,050 Rp 120,250 Rp 132,000 Rp 383,600 Rp Rp Rp Rp Rp Rp 81,250 100,000 202,350 383,600

29

Trading Company
Penyusunan Anggaran Variabel
Data Ilustrasi:
Estimasi Jualan 25.000 kg Harga jual per kg Rp Biaya variabel per kg Harga pokok jualan per kg Rp 2.00 Angkutan penjualan per kg Rp 0.30 Komisi penjualan per kg Rp 0.50 Pernik penjualan per kg Rp 0.20 Jumah biaya variabel per kg Rp Biaya tetap per bulan Depresiasi alat penjualan Gaji penjualan Gaji administrasi Depresiasi alat kantor Administrasi lainnya Jumlah biaya tetap per bulan 5.00

3.00

Realisasi Jualan 27.000 kg Harga jual per kg Rp Biaya variabel per kg Harga pokok jualan per kg Rp 1.52 Angkutan penjualan per kg Rp 0.18 Komisi penjualan per kg Rp 0.20 Pernik penjualan per kg Rp 0.10 Jumah biaya variabel per kg Rp Biaya tetap per bulan Depresiasi alat penjualan Gaji penjualan Gaji administrasi Depresiasi alat kantor Administrasi lainnya Jumlah biaya tetap per bulan

6.00

2.00

Rp Rp Rp Rp Rp

3,750 8,800 6,200 500 750 Rp 20,000

Rp Rp Rp Rp Rp

3,710 12,500 11,250 485 900 Rp 28,845

30

Trading Company
Penyusunan Anggaran Variabel
Anggaran Variabel Rugi-Laba
Keterangan Jualan Biaya variabel Harga pokok jualan Angkutan penjualan Komisi penjualan Pernik penjualan Jumah biaya variabel Margin Kontribusi Biaya tetap Depresiasi alat penjualan Gaji penjualan Gaji administrasi Depresiasi alat kantor Administrasi lainnya Jumlah biaya tetap Laba (Rugi) Per kg Rp Rp Rp Rp Rp Rp 5.000 kg 10.000 kg 15.000 kg 20.000 kg 25.000 kg 30.000 kg 5 Rp 25,000 Rp 50,000 Rp 75,000 Rp 100,000 Rp 125,000 Rp 150,000 Rp 10,000 Rp 1,500 Rp 2,500 Rp 1,000 Rp 15,000 Rp 10,000 Rp 3,750 Rp 8,800 Rp 6,200 Rp 500 Rp 750 Rp 20,000 Rp (10,000) Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 20,000 3,000 5,000 2,000 30,000 20,000 3,750 8,800 6,200 500 750 20,000 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 30,000 4,500 7,500 3,000 45,000 30,000 3,750 8,800 6,200 500 750 20,000 10,000 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 40,000 6,000 10,000 4,000 60,000 40,000 3,750 8,800 6,200 500 750 20,000 20,000 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 50,000 7,500 12,500 5,000 75,000 50,000 3,750 8,800 6,200 500 750 20,000 30,000 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 60,000 9,000 15,000 6,000 90,000 60,000 3,750 8,800 6,200 500 750 20,000 40,000

2.00 0.30 0.50 0.20 3.00

31

Service Company
Penyusunan Anggaran Tetap Perusahaan Jasa Perbankan Data Ilustrasi:
Kas Giro di BI Giro di bank lain Kredit modal kerja Kredit konsumsi Kredit investasi Aktiva tetap bersih Aktiva Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 1,000 2,000 1,500 10,000 5,000 40,000 30,500 90,000 Pasiva Neraca Simpanan giro Simpanan tabungan Simpanan deposito Kewajiban segera lainnya Modal saham Laba tahun berjalan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 20,000 10,000 5,000 5,000 49,000 1,000 90,000

Bunga simpanan giro 4%/tahun; Bunga simpanan tabungan 14%/tahun; Bunga simpanan deposito 12%/tahun; Bunga kewajiban segera lainnya 10%/tahun. Bunga kredit modal 24%/tahun; Bunga kredit konsumsi 18%/tahun; Bunga kredit investasi 20%/ tahun; Simpanan masyarakat di bank berupa simpanan giro, tabungan, dan deposito ditaksir meningkat 10% dari tahun lalu. Peningkatan ini digunakan untuk peningkatan pemberian kredit dengan alokasi: (i) Peningkatan simpanan giro untuk kredit modal kerja; (ii) Peningkatan simpanan tabungan untuk kredit konsumsi; (iii) Peningkatan simpanan deposito untuk kredit investasi. Pajak hasilan 10% dan bunga dibayar periode bersangkutan; Aktiva tetap disusut 10% dan bunga dari nilai bersih (nilai buku); Beban usaha lainnya ditaksir Rp 3.570 dibayar tunai setahun.
32

Service Company
Penyusunan Anggaran Tetap Perusahaan Jasa Perbankan Anggaran Rugi-Laba
Dapatan Usaha Dapatan bunga kredit modal kerja Dapatan bunga kredit konsumsi Dapatan bunga kredit investasi Dapatan bunga giro di BI dan lainnya Jumlah Dapatan Usaha Beban Usaha Beban usaha simpanan giro Beban usaha simpanan tabungan Beban usaha simpanan deposito Beban bunga kewajiban segera lainnya Beban depresiasi Beban usaha lainnya Jumlah Beban Usaha Laba Usaha Sebelum Pajak Pajak 10% Laba Bersih Setelah Pajak Rp Rp Rp Rp 2,880 1,080 8,100 140 Rp 12,200 Rp Rp Rp Rp Rp Rp 880 1,540 660 500 3,050 3,570 Rp 10,200 Rp 2,000 Rp 200 Rp 1,800
33

Service Company
Penyusunan Anggaran Tetap Perusahaan Jasa Perbankan Anggaran Neraca
AKTIVA Kas Giro pada BI Giro pada bank lainnya Kredit modal kerja Kredit konsumsi Kredit investasi Aktiva tetap bersih Jumlah Aktiva PASIVA Simpanan giro Simpanan tabungan Simpanan deposito Utang segera lainnya Modal saham Sisa laba tahun lalu Laba tahun berjalan Jumlah Pasiva Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 22,000 11,000 5,500 5,000 49,000 1,000 1,800 95,300 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 5,850 2,000 1,500 12,000 6,000 40,500 27,450 95,300

34

Service Company
Penyusunan Anggaran Tetap Perusahaan Jasa Taksi Data Ilustrasi:
Kas Mobil taksi Aktiva Rp Rp Rp Neraca 1,000 Modal saham 50,000 51,000 Pasiva Rp Rp 51,000 51,000

Dapatan taksi dianggarkan 100% tunai bulan Januari Rp 10.000; Februari Rp 11.000; Maret Rp 12.000; Bahan bakar ditaksir 25% dari dapatan taksi bulan bersangkutan. Komisi sopir 10% dari dapatan taksi bulan bersangkutan. Bahan bakar dan komisi sopir dibayar pada bulan bersangkutan; Beban usaha lainnya 100% tunai tiap bulan Rp 3.000 tidak termasuk penyusutan. Penyusutan taksi tiap bulan Rp 1.000

35

Service Company
Penyusunan Anggaran Tetap Perusahaan Jasa Perbankan Anggaran Rugi-Laba
Keterangan Dapatan taksi Bahan bakar Komisi sopir Penyusutan Beban usaha lainnya Beban usaha Laba Januari Rp 10,000 Rp 2,500 Rp 2,000 Rp 1,000 Rp 3,000 Rp 8,500 Rp 1,500 Februari Rp 11,000 Rp 2,750 Rp 2,200 Rp 1,000 Rp 3,000 Rp 8,950 Rp 2,050 Maret Rp 12,000 Rp 3,000 Rp 2,400 Rp 1,000 Rp 3,000 Rp 9,400 Rp 2,600 Triwulan I Rp 33,000 Rp 8,250 Rp 6,600 Rp 3,000 Rp 9,000 Rp 26,850 Rp 6,150

36

Service Company
Penyusunan Anggaran Tetap Perusahaan Jasa Perbankan Anggaran Keuangan 1. Anggaran Kas
Keterangan Dapatan taksi Bahan bakar Komisi sopir Lainnya Kas keluar Saldo kas awal Saldo kas akhir Januari Rp 10,000 Rp 2,500 Rp 2,000 Rp 3,000 Rp 7,500 Rp 1,000 Rp 3,500 Februari Rp 11,000 Rp 2,750 Rp 2,200 Rp 3,000 Rp 7,950 Rp 3,500 Rp 6,550 Maret Rp 12,000 Rp 3,000 Rp 2,400 Rp 3,000 Rp 8,400 Rp 6,550 Rp 10,150

2. Anggaran Neraca
Keterangan Kas Mobil taksi bersih Aktiva Modal saham Laba ditahan Pasiva Januari Rp 3,500 Rp 49,000 Rp 52,500 Rp 51,000 Rp 1,500 Rp 52,500 Februari Rp 6,550 Rp 48,000 Rp 54,550 Rp 51,000 Rp 3,550 Rp 54,550 Maret Rp 10,150 Rp 47,000 Rp 57,150 Rp 51,000 Rp 6,150 Rp 57,150
37

Service Company
Penyusunan Anggaran Tetap Perusahaan Jasa Bioskop Data Ilustrasi:
Kas Alat Aktiva Rp Rp Rp Neraca 2,000 Modal 70,000 72,000 Pasiva Rp Rp 72,000 72,000

Alat disusut sebulan Rp 1.000; Sehari tiga kali pertunjukan, harga tiket per orang Rp 10. Sekali pertunjukan ditaksir 50 penonton untuk bulan Januari, 60 penonton untuk bulan Februari, dan 70 penonton untuk bulan Maret. Sebulan diasumsikan 30 hari dan tiket dibayar tunai; Sewa film dibayar tunai dan setiap kali pertunjukan seharga Rp 250; Beban pemeliharaan ditaksir 5% dari dapatan tontonan dan dibayar tunai; Komisi penjualan tiket 10% dari dapatan tontonan dibayar tunai; Beban usaha lainnya sebulan Rp 10.000 tunai.

38

Service Company
Penyusunan Anggaran Tetap Perusahaan Jasa Bioskop Anggaran Operasional 1. Anggaran Dapatan
Keterangan Sekali pertunjukan Pertunjukan sebulan Penonton sebulan Tiket per orang Dapatan tontonan
Keterangan Penyusutan alat Sewa film Pemeliharaan Komisi penjualan Lainnya Beban usaha Penyusutan alat Beban usaha tunai

2. Anggaran beban Usaha

Januari Februari Maret 50 orang 60 orang 70 orang 90 90 90 4500 5400 6300 Rp 10 Rp 10 Rp 10 Rp 45,000 Rp 54,000 Rp 63,000
Januari Rp 1,000 Rp 22,500 Rp 2,250 Rp 4,500 Rp 10,000 Rp 40,250 Rp 1,000 Rp 39,250 Februari Rp 1,000 Rp 22,500 Rp 2,700 Rp 5,400 Rp 10,000 Rp 41,600 Rp 1,000 Rp 40,600

Triwulan I 180 orang Rp 90 Rp 16,200 Rp 10 Rp 162,000

Maret Triwulan I Rp 1,000 Rp 3,000 Rp 22,500 Rp 67,500 Rp 3,150 Rp 8,100 Rp 6,300 Rp 16,200 Rp 10,000 Rp 30,000 Rp 42,950 Rp 124,800 Rp 1,000 Rp 3,000 Rp 41,950 Rp 121,800

39

Service Company
Penyusunan Anggaran Tetap Perusahaan Jasa Bioskop Anggaran Operasional 3. Anggaran Rugi-Laba
Keterangan Dapatan tontonan Beban usaha Laba Januari Februari Maret Rp 45,000 Rp 54,000 Rp 63,000 Rp 40,250 Rp 41,600 Rp 42,950 Rp 4,750 Rp 12,400 Rp 20,050 Triwulan I Rp 162,000 Rp 124,800 Rp 37,200

40

Service Company
Penyusunan Anggaran Tetap Perusahaan Jasa Bioskop Anggaran Keuangan 1. Anggaran Kas
Keterangan Dapatan tontonan Beban usaha tunai Surplus kas Saldo kas awal Saldo kas akhir
Keterangan Kas Alat bersih Aktiva Modal Laba Pasiva

2. Anggaran Neraca

Januari Rp 45,000 Rp 39,250 Rp 5,750 Rp 2,000 Rp 7,750


Januari Rp 7,750 Rp 69,000 Rp 76,750 Rp 72,000 Rp 4,750 Rp 76,750

Februari Rp 54,000 Rp 40,600 Rp 13,400 Rp 7,750 Rp 21,150


Februari Rp 21,150 Rp 68,000 Rp 89,150 Rp 76,750 Rp 12,400 Rp 89,150

Maret Rp 63,000 Rp 41,950 Rp 21,050 Rp 21,150 Rp 42,200


Maret Rp 42,200 Rp 67,000 Rp 109,200 Rp 89,150 Rp 20,050 Rp 109,200

41

Service Company
Penyusunan Anggaran Variabel Perusahaan Jasa Perbankan Data Ilustrasi: Bank menetapkan bunga kredit 20% setahun, bunga simpanan 10% setahun, dan biaya tetap setahun sebesar Rp 10.000.
Bunga kredit Biaya tetap Bunga simpanan Laba 20% 10% Rp 10.000 10% 0 Rp 10.000

BEP Rp 10.000 / 10% Rp 100.000 BEP = Rp 100.000 artinya bila bank dalam setahun memberikan kredit sebanyak Rp 100.000, maka perusahaan tidak untung dan tidak rugi (impas) atau dalam keadaan BEP (break even point).

42

Service Company
Penyusunan Anggaran Variabel Perusahaan Jasa Perbankan Bila bank ingin memperoleh laba setahun Rp 1.000, maka bank harus memberikan kredit: 20% Rp 10.000 10% Rp 1.000 10% Rp 11.000 Kredit Rp 11.000 / 10% Rp 110.000 Bila bank ingin tahun pada pemberian kredit berapakah bank akan menderita rugi Rp 1.000: 20% Rp 10.000 10% Rp 1.000 10% Rp 9.000 Kredit Rp 9.000 / 10% Rp 90.000 Anggaran Variabel Rugi-Laba
Keterangan Dapatan bunga Biaya variabel Margin kontribusi Biaya tetap Laba (rugi) Per unit 20% 10% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Berbagai Tingkat Kredit Diberikan 90,000 Rp 100,000 Rp 110,000 18,000 Rp 20,000 Rp 22,000 9,000 Rp 10,000 Rp 11,000 9,000 Rp 10,000 Rp 11,000 10,000 Rp 10,000 Rp 10,000 (1,000) Rp Rp 1,000
43

Service Company
Penyusunan Anggaran Variabel Perusahaan Jasa Parkir Data Ilustrasi: Tarif parkir per mobil adalah Rp 4.200 dan sepeda motor adalah Rp 100. Biaya tetap sebulan:

Gaji pegawai dan transport Sewa tempat parkir Jumlah biaya tetap

Rp Rp Rp

15,000 20,000 35,000

Biaya variabel per buah mobil berupa biaya komisi Rp 100; Biaya variabel per buah sepeda motor berupa biaya komisi Rp 75; Kapasitas untuk parkir mobil adalah 3.000 buah dan sepeda motor 2.000 buah. Proporsi parkir: Mobil = 3.000/5.000 = 60% Sepeda motor = 2.000/5.000 = 40% Margin kontribusi: Mobil = Rp 200 Rp 100 = Rp 100 Sepeda motor = Rp 100 Rp 75 = Rp 25
44

Service Company
Penyusunan Anggaran Variabel Perusahaan Jasa Parkir 1. BEP
Rp 35.000 Rp 100 60% Rp 25 40% 500 mobil dan sepeda motor Dengan demikian, yang harus diparkir adalah: Mobil : 60% x 500 = 300 buah; Sepeda motor : 40% x 500 = 200 buah. Perhitungan rugi-laba: BEP
Dapatan parkir mobil Dapatan parkir sepeda motor Dapatan parkir sebulan Biaya variabel mobil Biaya variabel sepeda motor Biaya variabel sebulan Margin kontribusi sebulan Biaya tetap sebulan Laba Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 60,000 20,000 80,000 30,000 15,000 45,000 35,000 35,000 45

Service Company
Penyusunan Anggaran Variabel Perusahaan Jasa Parkir 2. Laba Rp 7.000 sebulan
Rp 35.000 Rp 7.000 Rp 100 60% Rp 25 40% 600 mobil dan sepeda motor Dengan demikian, yang harus diparkir adalah: Mobil : 60% x 600 = 360 buah; Sepeda motor : 40% x 600 = 240 buah. Perhitungan rugi-laba: Unit
Dapatan parkir mobil Dapatan parkir sepeda motor Dapatan parkir sebulan Biaya variabel mobil Biaya variabel sepeda motor Biaya variabel sebulan Margin kontribusi sebulan Biaya tetap sebulan Laba Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 72,000 24,000 96,000 36,000 18,000 54,000 42,000 35,000 7,000
46

Service Company
Penyusunan Anggaran Variabel Perusahaan Jasa Parkir 3. Anggaran variabel
Keterangan Proporsi parkir Mobil 60% Sepeda motor 40% Dapatan parkir Mobil Sepeda motor Jumlah dapatan parkir Biaya variabel Mobil Sepeda motor Jumlah biaya variabel Margin kontribusi Biaya tetap Laba (rugi) Berbagai Tingkat Parkir 400 buah 500 buah 600 buah 240 buah 160 buah Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 300 buah 200 buah 360 buah 240 buah 72,000 24,000 96,000 36,000 18,000 54,000 42,000 35,000 7,000

48,000 Rp 16,000 Rp 64,000 Rp 24,000 12,000 36,000 28,000 35,000 (7,000) Rp Rp Rp Rp Rp Rp

60,000 Rp 20,000 Rp 80,000 Rp 30,000 15,000 45,000 35,000 35,000 Rp Rp Rp Rp Rp Rp

47

Service Company
Penyusunan Anggaran Variabel Perusahaan Jasa Parkir 4. Margin laba 20%
Biaya tetap Margin laba Biaya variabel 1 Dapatan/unit Rp 35.000 20% Rp 100 Rp 75 1 Rp 200 Rp 100 Rp 35.000 0.2 0.41667 0.41667 - 0.2 Rp 35.000 0.21667 Rp 35.000 Dapatan Dapatan Rp 35.000 Rp 161.536 0.21667

Parkir: Mobil Sepeda motor

: Rp 107.691/Rp 200 = 538.45; : Rp 53.845/Rp 100 = 538.45.

Perhitungan laba-rugi:
Dapatan parkir mobil Dapatan parkir sepeda motor Dapatan parkir sebulan Biaya variabel mobil Biaya variabel sepeda motor Biaya variabel sebulan Margin kontribusi sebulan Biaya tetap sebulan Laba Rp 107,691 Rp 53,845 Rp 161,536 Rp 53,845 Rp 40,384 Rp 94,229 Rp 67,307 Rp 35,000 Rp 32,307

Dengan demikian, dapatan parkir adalah: Mobil : 200/300 x Rp 161.536 = Rp 107.691; Sepeda motor : 100/300 x Rp 161.536 = Rp 53.845.
48

Budget Variance Analysis


Apabila dapatan aktual lebih besar daripada dapatan yang dianggarkan, maka terjadi selisih laba (L), sebaliknya jika dapatan aktual kurang dari dapatan yang dianggarkan terjadi selisih rugi (R). Jika biaya aktual lebih besar daripada biaya yang dianggarkan maka terjadi selisih rugi (R), seba -liknya jika biaya aktual kurang dari biaya yang dianggarkan terjadi selisih laba (L). Realisasi Anggaran Rugi-Laba
Keterangan Volume kredit/simpanan Dapatan bunga kredit Biaya bunga simpanan Margin kontribusi Biaya tetap Laba (rugi) Tingkat bunga Anggaran Aktual 20% 10% 10% 19% 11% 8% Anggaran Rp 110,000 Rp 22,000 Rp 11,000 Rp 11,000 Rp 10,000 Rp 1,000 Aktual Rp Rp Rp Rp Rp Rp 120,000 22,800 13,200 9,600 10,000 (400) Rp Rp Rp Rp Rp Rp Selisih 10,000 800 2,200 (1,400) (1,400) L L R R R

49

Budget Variance Analysis


1. Analisis Selisih Kredit Selisih volume kredit = Tingkat bunga margin kontribusi anggaran x selisih volume kredit = 10% x (Rp 110.000 Rp 120.000) = Rp 1.000 (L) 2. Analisis Selisih Simpanan Selisih volume simpanan = Tingkat bunga simpanan anggaran x selisih volume simpanan = 10% x (Rp 110.000 Rp 120.000) = Rp 1.000 (R) Selisih tingkat bunga simpanan = Volume simpanan aktual x selisih tingkat bunga simpanan = Rp 120.000 x (10% - 11%) = Rp 1.200 (R) Selisih biaya bunga simpanan = (Tingkat bunga simpanan anggaran x Volume simpanan angaran) (Tingkat bunga simpanan aktual x Volume simpanan aktual) = (10% x Rp 110.000) (11% x Rp 120.000) = Rp 11.000 Rp 13.200 = Rp 2.200 (R)
50

Budget Variance Analysis


Laporan Rugi-Laba Model Analisis Selisih Standar

Dapatan bunga kredit Biaya bunga simpanan dianggarkan Margin kontribusi dianggarkan Selisih volume simpanan (rugi) Selisih tingkat bunga simpanan (rugi) Selisih biaya bunga simpanan (rugi) Selisih volume kredit (laba) Selisih standar (rugi) Margin kontribusi Biaya tetap Rugi

Rp Rp Rp Rp Rp Rp

22,800 12,000 Rp 10,800 1,000 1,200 2,200 1,000 Rp 1,200 Rp 9,600 Rp 10,000 Rp (400)

51

Terima Kasih

Sampai Bertemu Lagi di Pertemuan Kedelapan

Danau Toba, Sumatera Utara

Seoul, 13th of October 2013

Anda mungkin juga menyukai