Anda di halaman 1dari 21

I. HANDLING DAN RESTRAIN ANJING A.

Handling Mendekati anjing dengan tenang dan tidak menunjukkan gelagat adanya ancaman atau disakiti memanggil nama anjing dengan suara lebih tinggi dan keras, karena frekuensi pendegaran anjing lebih tinggi. Bila menurut anjing akan berposisi rebah, dan kelihatan lebih inferior. Setelah itu dekati anjing dengan gerakan wajar tidak terlalu cepat atau kaku lalu ulurkan tangan dengan telapak tangan menghadap ke bawah dan biarkan anjing mengendusnya. Bila anjing sudah mengendus setelah itu kita bisa menggaruk-garuk bagian bawah telinga atau dada. Ini berarti anjing sudah akrab dan percaya dengan kita (McCurnin, 1985). Jika berhadapan dengan anjing besar dan kecenderungan menggigit maka usahakan menangkap bagian lehernya dengan tali laso, apabila sudah dikuasai bagian leher anjing akan menurut (McCurnin, 1985). Handling anjing dapat dilakukan tanpa alat, namun karakter tiap anjing berbeda-beda. Untuk menghindari gigitan pada anjing agresif, handling dilakukan dengan peralatan restraint ataupun restraint kimiawi untuk menguasai hewan ketika pemeriksaan. B. Restrain Menguasai (restraint) dan menangani (handling) hewan yang dimaksudkan memiliki tujuan, misalnya untuk memberikan vaksinasi, merawat luka, memotong kuku, persiapan operasi, dan lain-lain. Upaya menguasai dan menangani hewan harus mempertimbangkan hal-hal berikut: Perhitungan tujuan yang dikehendaki Teknik yang paling efisien, tidak menyebabkan hewan tersiksa, kesakitan atau membahayakan Kapan sebaiknya teknik terpillih itu dilaksanakan Siapa yang qualified melakukannya 1. Secara Fisik (Physical Restraint) Restraint hewan untuk perlakuan (berdiri). Pemeriksaan ini menggunakan meja periksa yang tidak licin agar anjing tidak tergelincir. Untuk pemeriksaan, anjing diangkat ke meja periksa. Restraint dengan berdiri di salah satu sisi anjing, mengendalikan kepala dengan tangan mengelilingi leher dan pegang kepala bagian atas, sehingga dalam keadaan terkunci. Kemudian tangan yang satu memegang abdomen dengan erat untuk mencegah hewan berbalik. Restraint ini biasanya digunakan untuk injeksi di daerah tengkuk subcutan atau injeksi intramuscular. Restraint hewan dengan rebah lateral. Dilakukan casting, yaitu merebahkan hewan. Operator berdiri samping anjing yang berdiri di meja periksa, atau sering juga dilakukan di lantai. Kemudian pegang radius dan tibia anjing yang ada di sisi kita dan roll down anjing, gunakan sikut untuk menekan bagian pelvis ketika anjing sudah berhasil direbahkan. Restraint untuk pengambilan darah dan injeksi pada vena cephalica. Restraint anjing dengan posisi duduk, dari sisi kanan, genggam erat moncongnya. Kemudian operator dapat mengaambil darah atau injeksi intavena. Restraint dengan cara yang sama dilakukan untuk pengambilan darah di vena saphena. Restraint untuk pengambilan darah di vena jugularis. Pengambilan pada vena jugularis dilakukan jika membutuhkan sampel yang banyak. Anjing direstraint dengan posisi duduk, atau rebah sterna, angkat kepala kearah atas dengan memegang moncong anjing dan pegang kaki depan agar anjing tidak dapat berdiri, dan lakukan pengambilan darah Pada anjing moncong panjang: Loop dari tali kompor atau perban dengan simpul surgeons knot diselipkan ke moncong anjing kemudian dikencangkan (posisi organ searah dengan anjing, tidak berhadapan dengan anjing). Selanjutnya tali ditarik kebawah dagu dan disimpul dengan overhand knot, kemudian tali ditarik kearah dorsal leher dan disimpul dengan kuat dengan reeferss knot . Jika pada moncong pendek, caranya sama dengan anjing moncong panjang, tetapi harus dilanjutkan dengan menarik salah satu dari dua ujung tali didorsal leher ke arah rostral, dikaitkan dengan loop yang pert ama lalu ditarik kembali kearah dorsal. Kemudian dengan ujung tali yang lain disimpul atau dibuat simpul menggunakan metode reefers knot (Sonsthagen, 1991). Pict.1 2. Secara Kimiawi (Chemical Restraint) Obat yang biasanya diberikan untuk anjing adalah acepromazine, medetomidine, dan xylazine (Lane & Cooper, 1994). a. Golongan Phenotiazine (sedative transquilizer), memiliki efek hipotensif dan depresi jantung, contohnya adalah Prometazine untuk memblokir reseptor H1, Acepromazine adalah golongan phenotiazine paling kuat, chlorpromazine. Rute pemberian parenteral (iv,im) dan oral (Maddison et al, 2008) b. Golongan 2 agonist (sedative hipnotik), adrenoseptor terdiri dari 1,2 dan , memiliki efek bradikardi, hipotensi, relaksasi muskulus gastrointestinal, menurunkan motilitas gastrointestinal dan salivasi, menurunkan sekresi asam lambung , hormon insulin, renin, dan ADH sehingga menyebabkan diuresis dan hiperglisemia, contohnya adalah xylazin sifatnya adalah sedatif,

analgesik dan muskulorelaksan pada kuda dan ternak, kecuali babi dan medetomidin : lebih poten, durasi lebih lama ( 4 jam, xylazin kurang dari 10 menit) (Maddison et al, 2008). c. Etrophine Hydrochloride d. Fetanyl dan Droperidol, Fentanyl adalah derivate morphine sedangkan Droperidol adalah transquilizer. Efeknya analgesika 180 x dari morphine. Kombinasi Fentanyl dengan Droperidol mempunyai efek terhadap tekanan darah (menurun). Kecuali efek anelgesiknya juga berefek sdatif dan anesthesik. Dapat dipakai pada berbagai spesies seperti : karnivora, primate, dan beberapa mamalia kecil. Daya kerjanya singkat yaitu 10-15 menit, analgesika 40 menit dan transquilizer dapat beberapa jam. Antidotumnya adalah Naloxone dengan dosis 0,006 mg per kg berat badan dengan aplikasi per i.m atau per i.v (Dharmojono, 2002). e. Ketamine HCl, yaitu derivate dari Phecylidine HCl, merupakan serbuk putih larut di dalam air. Ketamine tidak membuat relaksasi otot skelet. Menyebabkan hopersalivasi. Untuk mengurangi hipersalivasi. Ketamine efektif untuk karnivora, reptile dan burung. Aplikasinya dapat peroral, i.m, i.v, atau s.c(Dharmojono, 2002) f. Tiletamine HCl h. Zylazine g. Acepromazine Maleate i. Diazepam

http://heyfifihindhis.blogspot.com/2011/06/blok-12-up-1-anjing-yang-galak.html

Handling dan Restrain Anjing Handling cara menangani hewan dengan tangan kosong agar hewan tenang dan tidak stress sehingga mempermudah perlakuan. Restrain adalah cara menguasai hewan dengan bantuan alat agar hewan dapat lebih mudah diberi perlakuan dengan cara aman baik untuk pemeriksa dan hewan itu sendiri(McCurnin, 1985). a. Fisik Membrangus.Pastikan ukuran moncong yang akan dibrangus sudah tepat dan tali pengikatnya juga sudah pas. Dekati anjing dari samping atau dari belakang. Pegang tengkuk dibelakang telinga dengan erat (bisa dengan bantuan asisten). Ikatkan tali melalui moncong anjing dan buat simpul dibawah moncong. Kemudian lanjut dengan simpul ikatan dibelakang kepala dengan kuat dan kencang(Crow, 2009).

Restrain anjing dengan posisi duduk Tempatkan satu tangan di bawah leher anjing sehingga lengan memegang kepala anjing aman terhadap restrainer tubuh. Tempatkan lengan lain di sekitar kaki belakang untuk mencegah anjing dari berdiri atau berbaring selama prosedur. Menarik anjing dekat dengan dada lebih memungkinkan kontrol jika binatang itu mencoba untuk bergerak (Crow, 2009).

Restraint anjing dengan posisi berdiri Tempatkan satu tangan di bawah leher anjing sehingga memegang lengan kepala anjing aman. Kepala harus sedemikian rupa sehingga tidak mungkin untuk anjing menggigit salah satu pemegang atau orang melakukan prosedur. Tempatkan lengan di bawah perut untuk mencegah anjing dari duduk atau berbaring selama. prosedur. Menarik anjing dekat tubuh untuk memungkinkan kontrol lebih jika binatang itu mencoba untuk bergerak(Crow, 2009).

Farmakologik Golongan obat-obatan tranquilizer / sedativa adalah golongan phenotiazine, benzodiazepin, dan thiazine, bekerja terhadap susunan syaraf pusat yang menghasilkan ketenangan dan tranquil, tetapi obat-obatan ini dapat juga mengakibatkan ataksia dan prolaps membran nictitans dan kebanyakan obat-obatan ini tidak menimbulkan efek analgesik (Boothe, 2001). Golongan Phenotiazin adalah Acepromazine maleat, chlorpromazine hydrochloride, tri flupromazine HCl. Golongan obat preanastesi yang dipakai sebgai sedasi ini tidak bersifat mendepresi pernafasan dan mempunyai efek minimal pada jantung sehingga sangat efektif digunakan pada semua spesies hewan. Aplikasi secara SC, IM, OV (dengan pengawasan). Efek klinis golongan obat ini sedasi, anti muntah, antiaritmia, antihistamin, vasodilatasi pembuluh darah perifer, dapat mengakibatkan kekejangan (Boothe, 2001). Golongan Benzodiazepin adalah diazepam, midozolan dan lorazepam. Efek golongan obat ini menghambat GABA (gama aminobutiric acid) dan menghambat neurotransmiter hewan, anti gelisah, relaksasi otot, antikonvulsan, efek minimalis pada sistem pernafasan dan kardiovaskuler. Tidak disarankan untuk diberikan pada hewan yang baru lahir dan hewan yang menderita disfungsi hati karena golongan obat ini sangat sukar di metabolisir oleh hati (Boothe, 2001). Golongan Thiazine antara lain xylazin, medetomidin, deltomidin, romitidin diklasifikasikan sebagai alpha-2 adrenoreceptor agonist yang merangsang reseptor alpha-2 adrenoreceptor yang menyebabkan penurunan tingkatan transmisi

neuro norepinephrin dalam otak yang menghasilkan efek sedasi dan analgesia, relaksasi otot terjadi karena penghambatan refleks dalam susunan sayaraf pusat (SSP) (Boothe, 2001). Xylazin dikemas dalam bentuk larutan 2% (20 mg/ml) untuk hewan kecil, dapat digunakan secara tunggal atau dikombinasi dengan ketamine, opoid dengan aplikasi IM atau IV. Antidota xylazin adalah yohimbin dengan dosis 0,1 mg/kg BB secara IV. Medetomidin dapat diaplikasikan secara IM atau IV , onset secara IV 1 menit dan 5 menit bila diberikan secara IM, sedangkan durasinya selama 45-90 menit. Untuk antidota medetomidin dapat diberikan atipamezol dengan dosis 0,1 0,4 mg/kg BB secara IM/IV (Boothe, 2001).

http://ardhie-phylami.blogspot.com/2013/05/blok-12-up-1_1543.html

Cara handing dan restrain pada anjing. Handling a) Handling anjing dalam posisi rebah lateral Dengan anjing di posisi berdiri, raih seluruh kaki anjing dan peganglah kaki depan dan belakang dan dekatkan dengan tubuh handler. Perlahan-lahan angkat kaki anjing dari meja (atau lantai), dan biarkan tubuhnya meluncur perlahan-lahan .Gunakan lengan untuk menekan di sisi kepala, sehingga mengurangi pergerakan kepala serta sedikit tekan panggul anjing dengan siku. b) Handling anjing dalam posisi rebah sterna Pada posisi rebah sternal biasanya berguna untuk membantu beberapa macam pemeriksaan seperti pemeriksaan mata dan telinga. Handling pada possisi ini dapat dilakukan dengan cara menemempatkan satu tangan di bawah leher dan tangan lainnya di punggung dengan tangan sepanjang sisi anjing. Kemudian tangan yang lain dicondongkan ke arah anjing untuk menarik kepala anjing ke arah bahu handler bila dibutuhkan kontrol pada keadaan tertentu. Hewan yang ditempatkan pada posisi ini dapat digunakan untuk pengambilan darah melalui vena jugularis. c) Handling anjing dengan posisi duduk Handling anjing pada posisi ini dapat dilakukan dengan cara menempatkan satu tangan di bawah leher anjing sehingga lengan memegang kepala anjing aman terhadap restrainer tubuh. Menempatkan lengan lain di sekitar kaki belakang untuk mencegah anjing dari berdiri atau berbaring selama prosedur. Menarik anjing dekat dengan dada lebih memungkinkan kontrol jika binatang itu mencoba untuk bergerak. d) Handling anjing dengan posisi berdiri Handling anjing pada posisi ini dapat dilakukan dengan cara menempatkan satu tangan di bawah leher anjing sehingga memegang lengan kepala anjing aman. Kepala harus sedemikian rupa sehingga tidak mungkin untuk anjing menggigit salah satu pemegang atau orang melakukan prosedur. Tempatkan lengan di bawah perut untuk mencegah anjing dari duduk atau berbaring selama. prosedur. Menarik anjing dekat tubuh untuk memungkinkan kontrol lebih jika binatang itu mencoba untuk bergerak (Lane, 2003). Restrain Pada dasarnya, prinsip dari restrain atau pengekangan terhadap pasien dalam hal ini anjing hanya dilakukan sesederhana mungkin, seminimal mungkin, dan mudah untuk dijalankan agar dapat menjamin keamanan dokter hewan yang memeriksa juga sebisa mungkin tidak menyebabkan hewan menjadi tertekan akibat proses restrain tersebut.Biasanya pada hewan yang telah cukup jinak dan sangat tergantung pada majikan, proses restrain dapat dilakukan dengan meminta bantuan pemilik untuk mengurangirasa gelisah pasien pada situasi yang asing. Secara umum yang perlu diperhatikan pada anjing adalah ketika mencoba untuk menggigit. Oleh karenanya, prosedur restrain hendaknya dipusatkan ke dareah moncong dan kepala. Pada beberapa anjing, metode restrain dapat dilakukan dengan cara menggenggam kulit leher pada dorsolateral telinga sehingga anjing tidak terlalu berontak ketika akan diperiksa. http://malekskh.blogspot.com/2013/06/pemeriksaan-anjing.html

Definisi: Anasthesi berasal dari bahasa Yunani an-"tidak, tanpa" dan aesthtos, "persepsi, kemampuan untuk merasa"), yang secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit seperti reversibel amnesia, analgesia, kehilangan kesadaran, hilangnya refleks otot rangka dan penurunan respons stres serta penurunan sistem pernafasan dan sirkulasi Kardiovaskuler. Anasthesia umum bisa diaplikasikan secara injeksi, inhalasi atau kombinasi keduanya. Obat untuk menghilangkan nyeri terbagi ke dalam 2 kelompok, yaitu analgetikanestesi. Analgetik adalah obat pereda nyeri tanpa disertai hilangnya rasa sakit secara total. Hewan yang diberi analgetik tetap berada dalam keadaan sadar. Analgesik tidak selalu menghilangkan seluruh rasa nyeri, tetapi selalu meringankan rasa nyeri. dan Beberapa jenis anestesi menyebabkan hilangnya kesadaran, sedangkan jenis yang lainnya hanya menghilangkan rasa nyeri dari bagian tubuh tertentu dan hewan tetap sadar.

Beberapa tipe anestesi adalah:

Pembiusan total hilangnya kesadaran total Pembiusan lokal hilangnya rasa pada daerah tertentu yang diinginkan (pada sebagian kecil daerah tubuh). Pembiusan regional hilangnya rasa pada bagian yang lebih luas dari tubuh oleh blokade selektif pada jaringan spinal atau saraf yang berhubungan dengannya

Anestesi diperlukan untuk banyak prosedur pembedahan pada hewan, selain itu dapat digunakan juga untuk prosedur diagnostik tertentu seperti endoskopi abdomen atau saluran pernafasan, pengambilan sampel sumsum tulang, dan kadang-kadang USG. Hewan yang agresif mungkin memerlukan anestesi untuk menangani dan melakukan pemeriksaan fisik serta pada prosedur pengambilan darah untuk pengujian, pada saat pengambilan foto rontgen (untuk burung atau hewan lain yang sulit ditangani). Anastesi juga diperlukan untuk penanganan kateterisasi saluran kencing untuk menghilangkan obstruksi, biopsi tumor, atau mengeluarkan cairan dari mata untuk mengobati glaucoma. Pembagian Anastesi. Anastesi Inhalasi Lebih aman dan lebih ampuh dibandingkan anastesi injeksi, karena sangat mudah untuk dikontrol kedalaman pembiusannya serta residu obatnya dikeluarkan melalui pernafasan proses ini akan mengurangi ketergantungan obat untuk dimetabolis dalam tubuh, sehingga proses toksisitasnya rendah. Golongan anastesi inhalasi diantaranya adalah: Dietil eter, Halothan, Isoflurane, Methoxyflurane, Enflurane, Sevoflurane, Desflurane, Nitrose Oxide. Anastesi Injeksi. Karena zat anastesi injeksi dimetabolisme oleh hati dan ginjal maka anastesi injeksi tidak disarankan untuk diberikan pada hewan yang mengalami gangguan pada ginjal dan hati. Proses pemasukan obat melalui suntikan secara subkutan (SC); Intramuskular (IM) serta Intravena (IV). Adapun golongan obat bius yang penggunaannya melalui suntikan/injeksi beberapa diantaranya adalah: Golongan Barbiturat : Sodium Thiopental, Sodium Thyamilal, Sodium Pentobarbital, Methohexital.

Golongan Cyclohexamine : Ketamine HCl, Tiletamin dan Propofol. Golongan Neuroleptanalgesik. Golongan anastesi lokal : Procaine, bupivicaine, lidocaine, Propaicaine,

Barbiturat. 1. 2. Phenobarbital, merupakan anestesi yang bersifat longest acting, pemakaiannya hanya untuk sedasi dan antikonvulsi. Phentobarbital, bersifat short acting dan dipakai sebagai anastesi tunggal ataupun analgesik yang diberikan secara intarvena. 50-70% obat yang disuntikan dalam sekejap akan menyebabkan hewan hilang kesadarannya diikuti dengan relaksasi otot rahang (indikasi untuk melakukan intubasi) (onset) sedangkan durasi obat ini cukup panjang 45 - 120 menit . Thiopental dan Thyamilal bersifat ultra short acting sama dengan methohexital dengan durasi sekitar 15 20 menit, biasanya digunakan sebagai obat induksi untuk intubasi pada saat akan dilakukan pemberian anestesi inhalasi. Sifat kerja golongan barbiturat ini adalah menekan sistem susunan syaraf pusat sehingga dapat digunakan sebagai obat analgesia atau anastesia. Kematian akibat pemberian anastesi golongan ini dikarenakan tidak dilakukannya perawatan yang serius. Barbiturat akan menekan enzim mikrosomal hati dan mungkin akan meningkatkan metabolik rate dari obat lain dosis yang diberikan harus diperhatikan. Barbiturat kurang larut dalam air dan hanya efektif diaplikasikan secara IV (dan IP pada hewan laboratorium). Karena sifatnya yang asam maka dapat menyebabkan iritasi apabila disuntikkan IP, serta mengakibatkan nekrosa bila injeksi IV nya mengalami kebocoran/ merembes.

3. 4.

5.

Cyclohexamine. Ketamine dan Tiletamin merupakan anastesi yang tidak menekan sistem syaraf pusat. Sediaan Ketamin adalah 100 mg/ml sedangkan Tiletamin dikombinasikan dengan zolezepam, obat ini dapat diaplikasikan secara IM, IV, IP dan apaibila diaplikasikan secara IM atau IP akan terasa sakit. Induksi secara IM dapat berlangsung 3 5 menit saja. Obat dapat ditambahkan sesuai dengan dosis yang telah diberikan.

Evaluasi Pasien Pasien sebelum dilakukan pembiusan terlebih dahulu harus dilakukan pemeriksaan terhadap umur, suhu badan, penampilan fisik dan kondisi umum. Apakah umur hewan sudah tua/masih muda? Hewan dalam keadaan ketakutan atau tidak? Hewan sedang marah/tidak? Dan lain-lain. Seorang dokter hewan harus menjelaskan secara terbuka kepada pemilik tentang semua efek dan proses pemberian anastesia, bahwa setiap obat bius yang diberikan akan menimbulkan efek samping pada tubuh hewan bahkan kemungkinan terburuk seperti kematian akibat efek shok pemberian obat biuspun harus dijelaskan, oleh karena itu sebaiknya dokter hewan/klinik hewan/rumah sakit disarankan untuk menyiapkan lembar persetujuan operasi sebagai media/bukti persetujuan pemilik (info concern) yang isinya menjelaskan efek samping dan proses operasi yang akan dilaksanakan dan menyatakan bahwa pemilik sudah memahami segala resiko yang akan terjadi. Adapun data yang perlu diketahui dari pasien yang akan di anasthesia: 1. 2. 3. 4. Sejarah Hewan Pemeriksaan fisik secara lengkap Prosedural pemberian anasthesia Tes dignostik penunjang

Sejarah Hewan Perlu diketahui hewan tersebut apakah sudah berumur atau belum kemudian apakah sudah pernah dioperasi sebelumnya, apakah mempunyai penyakit-penyakit kelainan metabolisme atau tidak serta apakah hewan tersebut mempunyai alergi terhadap obat. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik secara umum dilakukan pada hewan meliputi kondisi hewan tersebut apakah kegemukan, kaheksia, dehidrasi, lemah atau sedang hamil. Pada hewan yang gemuk pemberian anasthesi kadang dapat mengakibatkan dyspnoe sehingga pemberian dosis obat bius pada hewan yang obesitas sebaiknya dikalkulasi berdasarkan berat badan ideal ukuran hewan tersebut. Pada hewan yang sedang bunting muda sebaiknya tidak diberi xylazine sebagai anasthesi atau analgesi karena dapat mengakibatkan keguguran.

Indikasi dari fungsi kardiovaskuler dapat dideteksi dengan melakukan pemeriksaan CRT (Capillary Refill Time) pada selaput lendir gusi, konjungtiva, vulva atau ujung prepucium. Pemeriksaan lainnya adalah refleks pupil (kontriksi atau dilatasi), Jantung dan paru-paru (Detak Jantung normal anjing adalah 60 180 detak per menit, anjing ras kecil akan lebih cepat dibandingkan ras besar. Sedangkan kucing 110-120 detak per menit) hewan stress ketakutan atau selesai latihan biasanya denyut jantungnya akan lebih cepat dari normal. Pulsus dapat dipemeriksa melalui a. femoralis, a.metacarpal/tarsal untuk mengetahui tekanan darah sistolik, bila pulsusnya lemah menunjukkan hipotensi. Pemeriksaan Laboratorium Sebelum melakukan pembiusan sebaiknya dilakukan juga pemeriksaan laboratorium sebagai referensi kelayakan hewan untuk dibius. Adapun uji laboratorium yang harus dilakukan ; Pemeriksaan CBC, Hematologi, Kimia darah dan urin analisis. CBC meliputi PCV, Hb, TPP, WBC, RBC dan Platelet sedangkan kimia darah diantaranya adalah pemeriksaan untuk fungsi hati (ALT, ALP dan TP), fungsi ginjal (BUN, Creatinin, Ureum), glukosa darah dan serum elektrolit. Pemeriksaan Diagnostik lain yang diperlukan adalah Radiologi dan EKG. Tahapan Pelaksanaan Anastesi

Pre anastesi Hewan setelah dilakukan pemeriksaan klinis dan laboratorium disarankan untuk puasa selama 8 12 jam sebelum pemberian anastesi, hal ini dikarenakan salah satu efek dari obat bius adalah dapat menimbulkan reaksi muntah, yang berakibat hewan akan mengalami tersedak (slick pneumonia) karena saluran pernafasannya tersumbat. Obat-obatan preanastesi yang umum diberikan sebelum dilakukan pembiusan antara lain : Acepromazine, Atropin Sulfat, Xylazine, Medetomidine, Diazepam, dan agen opoid yang lain. Tidak ada obat-obatan preanastesi yang tidak mempunyai efek samping. Semua pemberian preanastesi harus dilakukan setelah pemeriksaan kondisi hewan (spesies hewan, status fisik, temperamen hewan). Pemakaian obat preanastesi Atropin Sulfat Merupakan antikolinergik yang mempunyai efek sebagai reseptor dalam menekan neurotransmitter asetil alkalin. Atropin bekerja setelah 20 menit disuntikan secara SC. Efek atropin antara lain:

Menghambat stimulasi syaraf vagus sehingga efek pemberian atropin adalah mempercepat kerja denyut jantung (takikardia). Mengurangi produksi air liur. Mengurangi aktivitas peristaltik gastrointestinal Menyebabkan dilatasi pupil (mydriasis) Mengurangi sekresi air mata, oleh karena itu hewan yang disuntik atropin harus diberi salep mata untuk mencegah mata kering. Menyebabkan dilatasi bronchus Meningkatkan produksi sekresi mukus dalam saluran pernafasan (terjadi pada kucing) akan menjadi predisposisi menghambat saluran pernafasan. Oleh karena itu tidak disarankan untuk memberikan atropin pada kucing sebagai obat preanastesi.

Glikopirolat merupakan obat antikolinergik lain yang mempunyai efek sama dengan atropin hanya saja glikkopirolat bertendensi sedikit mempunyai efek takikardia dan aritmia dibandingkan atropin, oleh sebab itu glikopirolat disarankan untuk dipakai sebagai obat preanastesi pada anjing yang mempunyai gejala takikardia.

Obat-obatan antikolinergik sebaiknya tidak diberikan pada hewan yang mengalami konstipasi atau gangguan penyumbatan ilium sifatnya yang mengurangi reaksi peristaltik usus. Antidota untuk kelebihan dosis atropin adalah physostigmin 0.02 mg/kg BB atau maksimal 0.5 mg/ hewan disuntikkan secara IV dan diulangi setiap 5-10 menit sekali jika diperlukan hingga mencapai dosis 2 mg/hewan. Tranquilizer/Sedativa Golongan obat-obatan tranquilizer adalah golongan phenotiazine, benzodiazepin, dan thiazine, bekerja terhadap susunan syaraf pusat yang menghasilkan ketenangan dan tranquil, tetapi obat-obatan ini dapat juga mengakibatkan ataksia dan prolaps membran nictitans dan kebanyakan obat-obatan ini tidak menimbulkan efek analgesik. Golongan Phenotiazin adalah Acepromazine maleat, chlorpromazine hydrochloride, tri flupromazine HCl. Golongan obat preanastesi yang dipakai sebgai sedasi ini tidak bersifat mendepresi pernafasan dan mempunyai efek minimal pada jantung sehingga sangat efektif digunakan pada semua spesies hewan. Aplikasi secara SC, IM, OV (dengan pengawasan). Efek klinis golongan obat ini sedasi, anti muntah, antiaritmia, antihistamin, vasodilatasi pembuluh darah perifer, dapat mengakibatkan kekejangan. Golongan Benzodiazepin adalah diazepam, midozolan dan lorazepam. Efek golongan obat ini menghambat GABA (gama aminobutiric acid) dan menghambat neurotransmiter hewan, anti gelisah, relaksasi otot, antikonvulsan, efek minimalis pada sistem pernafasan dan kardiovaskuler. Tidak disarankan untuk diberikan pada hewan yang baru lahir dan hewan yang menderita disfungsi hati karena golongan obat ini sangat sukar di metabolisir oleh hati. Golongan Thiazine antara lain xylazin, medetomidin, deltomidin, romitidin diklasifikasikan sebagai alpha-2 adrenoreceptor agonist yang merangsang reseptor alpha-2 adrenoreceptor yang menyebabkan penurunan tingkatan transmisi neuro norepinephrin dalam otak yang menghasilkan efek sedasi dan analgesia, relaksasi otot terjadi karena penghambatan refleks dalam susunan sayaraf pusat (SSP). Xylazin dikemas dalam bentuk larutan 2% (20 mg/ml) untuk hewan kecil, dapat digunakan secara tunggal atau dikombinasi dengan ketamine, opoid dengan aplikasi IM atau IV. Antidota xylazin adalah yohimbin dengan dosis 0,1 mg/kg BB secara IV. Medetomidin dapat diaplikasikan secara IM atau IV , onset secara IV 1 menit dan 5 menit bila diberikan secara IM, sedangkan durasinya selama 45-90 menit. Untuk antidota medetomidin dapat diberikan atipamezol dengan dosis 0,1 0,4 mg/kg BB secara IM/IV. Kombinasi Medetomidin dengan ketamin memberikan efek analgesia dan relaksasi otot yang lebih baik daripada kombinasi ketamin dengan xylazin atau ketamin dengan diazepam. Tetapi harus diperhatikan bahwa kombinasi ketamin dengan medetomidin dapat menyebabkan hipoksemia, sehingga pemberian oksigen sebaiknya dilakukan. Proses Tahapan Perlakuan Anastesi Untuk memperoleh Anestesi umum dapat dicapai dengan cara bertahap. Keberhasilan proses perlakuan anestesi tergantung pada setiap tahapan: Stadium I : Induksi atau Analgesia Pada tahapan ini hewan akan mengalami pusing, kehilangan orientasi, kurang peka terhadap sentuhan dan rasa sakit. Indera pendengaran peka terhadap suara-suara Stadium II : Eksitasi Mulai mengalami kehilangan kesadaran. Tetapi refleks masih ada,pupil dilatasi, mulut pasien masih ada gerakan seperti mengunyah rasa sakit masih ada. Pernafasan tidak teratur Stadium III: Anastesi Pasien mengalami hilang kesadarannya, rasa sakit dan refleks sudah tidak terasa, pernafasan teratur, pupil kontriksi dan bola mata sudah berputar ke bawah, pada stadium ini pembedahan sudah bisa dilakukan

Stadium IV: Toxic Apabila stadium III ditingkatkan akan berbahaya bagi pasien, pasien akan kolaps, pernafasan dan denyut jantung akan berhenti dan mati.

http://wahidweb.blogspot.com/2010/01/anastesia-dan-analgesia-pada-anjing-dan.html

ANESTESI I. II. III. Apa yg harus dilakukan sebelum pemberian anestesi ? Anestesi apa yg akan diberikan ? Apa saja yg perlu dipertimbangkan dlm memilih anestesi ? I.A. EVALUASI PASIEN # Anamnesa Sejarah system cardiopulmonary, hati, ginjal Toleransi thd latihan Derajat aktivitas fisik Keletihan, dispnea, batuk, cyanosis, vol. urin, kemampuan minum, nafsu makan, defikasi Pengalaman pasien thd anestesi penggunaan obat tertentu (organofosfat, antibiotika, kortikosteroid) # Pemeriksaan fisik denyut jantung & ritme jantung frekuensi, ritme & kedalaman respirasi pulsus, suhu tubuh, warna mukosa, CRT, refleks pupil, refleks & ketegangan otot # Uji laboratorium total erytrosit, total leukosit Hb, PCV Urinalisis

I.B. PERSIAPAN PASIEN - Puasa : min 6 jam (makan) 2 jam (minum) - Premedikasi I.C. PERSIAPAN ALAT - Spuit, - Mesin anestesi, endotraceal tube, iv catheter - infus set II. PENGGOLONGAN ANESTESI 1. Anestesi Lokal a. Surface application : tetes, spray b. Subdermal/intradermal/subcutan c. Infiltrasi : field anestesi/field block Contoh : Procain HCl 2%, 4%, Lidocain 2%, 4%, Tetracain, Dibucain, Pehacaine, Chlorbutanol Dosis : secukupnya (qs) 2. Anestesi Regional a. Epidural

Lokasi penyuntikan : Os lumbal terakhir dan sacrum 1 (hwn kecil), os coccygea 1 dan 2 (hwn besar) b. Spinal Langsung mengenai saraf spinal, efek segera c. Paravertebral Lokasi penyuntikan : os v thorac terakhir dan lumbar 1, antara lumbar 1 dan 2, antara lumbar 2 dan 3 Contoh : sama dgn anestesi local; Lidocaine 2% atau mepivacaine 2% Dosis : 0,5 1,0 ml/100 lb BB (ringan) 1 ml/10 lb BB (tinggi) umum : 1 ml/ 10kg BB 1ml/5 kg BB 3. Anestesi umum a. Injeksi (non volatile) b. Inhalasi (volatile) I. Anestesi umum injeksi A. Gol. Barbiturate : 1. Short acting (Thiobarbiturat) 2. Ultra short acting (Thipentone sodium/pentothal, thialbarbitone sodium/kemithal) 3. Intermediate acting (omobarbithal) 4. Long acting (Phenobarbithal) B. Gol. Anestesi disosiatif 1. Ketamine HCl 2. Tiletamine Dosis : Pentothal, pd hwn kecil : 20 26 mg/kg BB (IV), konsentrasi 2,5 % (25 mg/ml) Ketamine HCl, anjing : 10 15 mg/kg BB, Kucing : 10 33 mg/kg BB Sediaan : 50 mg/ml; 100 mg/ml Tiletamin + Zolazepam (1 : 1)/ Zoletil Dosis : anjing : 7 25 mg/kg BB (IM) 5 10 mg/kg BB (IV) kucing : 10 15 mg/kg BB (IM) 5 7,5 mg/kg BB (IV) (0,1 0,2 ml/kg BB)

II. Anestesi Inhalasi 1. Anestesi inhalasi mayor Methoxyflurance, Halothane, Nitous oxide 2. Anestesi inhalasi minor Ether, Chloroform, Cyclopropane 3. Anestesi inhalasi lain Ethylchloride, Carbondioxide Cara pemberian : a. Autoinhalasi b. Metode umpan balik positif : 1. Metode terbuka 2. Metode semi terbuka 3. Metode tertutup 4. Metode semi tertutup

IV.

PERTIMBANGAN PEMILIHAN ANESTESI kecilnya operasi, letak/daerah operasi, lama operasi. anestesi umum pada hewan bunting

1. Keadaan operasi yg akan dilakukan : besar 2. Pertimbangan khusus : hindari penggunaan

3. Bentuk gerakan pasien selama operasi yg akan membahayakan keselamatan pasien. 4. Ukuran dan tipe individu pasien : pada hewan brachyocephalic perlu tracheal tube 5. Kepekaan individu atau breed : barbiturate pada kuda, chloroform pada kucing. 6. Faktor-faktor yg dapat meningkatkan 7. Type operasi : a. operasi Caesar b. operasi pada rongga mulut c. operasi orthopedik Emergency atau elective. 9. Spesies hewan/pasien : Hwn besar local, regional lebih baik Aves/burung halothan, local kontra indikas Anjing dan kucing semua jenis anestesi dapat digunakan http://veteriner-zone.blogspot.com/2009/11/bedah-surgery-anestesi.html 8. Jenis tindakan operasi yg akan dijalankan kepekaan thd efek toksik anestesi : puasa yg lama, status kesehatan, penyakit respirasi, jantung atau ginjal.

PENDAHULUAN Obat bius local / anastesi local atau yang sering disebut pemati rasa adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila digunakan secara local pada jaringan saraf dengan kadar yang cukup. Anastetika local atau zat-zat penghalang rasa setempat adlah obat yang pada penggunaan local merintangi secara reversible penerusan impuls-impuls saraf ke SSP dan dengan demikian menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas atau dingin. Obat bius local mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf. Tempat kerjanya terutama di selaput lender. Di samping itu anastesi local mengganggu fungsi semua organ dimana terjadi konduksi/transmisi dari beberapa impuls. Artinya anestesi local mempunyai efek yang penting terhadap SSP, ganglion otonom, cabang-cabang neuromuscular dan semua jaringan otot. Sejak tahun 1892 dikembangkan pembuatan anastetika local secara sintesis dan yang pertama adalah prokain dan benzokain pada tahun 1905, yang disusul oleh banyak derivate lain seperti tetrakain, butakain, dan cinchokain. Kemudian muncul anastetika modern seperti lidokain (1947), mepivakain (1957), prilokain (1963), dan bupivakain (1967). Sesuai dengan uraian di atas, maka penulis akan membahas lebih lanjut tentang jenis anastesi local yaitu prokain, serta reaksi kerja obat prokain, farmakokinetik, farmakodinamik, efek samping, interaksi obat, pengkajian, perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi dan berbagai hal lain yang berkaitan dengan prokain.

I.I Judul kelompok obat Di dalam makalah ini, penulis akan membahas mengenai anastesi local dimana jenis obat dari anastesi local yang akan di bahas adalah jenis obat yang dikenal dengan prokain. Juga akan dibahas mengenai farmakokinetik, farmakodinamik,efek samping , interaksi obat, pengkajian, serta pelaksanaannya.

1.2 Jenis obat-obat yang termasuk kelompok obat Anastesi local dapat digolongkan secara kimiawi dalam beberapa kelompok sebagai berikut : a. b. c. Senyawa-ester (PABA) : kokain, benzokain,prokain, oksibuprokain, dan tetrakain ; Senyawa-amida : lidokain dan prilokain, mepivakain dan bupivakain, cinchokain, artikain, dan pramokain; Lainnya : fenol, benzilalkohol, cryofluo-ran, dan etilklorida. Semua obat tersebut di atas adalah sintetis, kecuali kokain yang alamiah. I.3 Farmakokinetik Distribusi : Semua anestesi local tidak baik diabsorpsi di saluran cerna setelah pemakaian secara oral, kecuali untuk kokain. Hampir semua anestesi local mengalami first-pass effect di hepar sehingga obat dimetabolisme menjadi metabolit inaktif. Anestesi local diabsorpsi dengan kecepatan yang berbeda pada membrane mukosa yang berbeda. Pada mukosa trakea, absorpsi yang terjadi hampir sama dengan pada pemberian secara intravena. Pada mukosa faring, absorpsi lebih lambat dan pada mukosa esophagus dan kandung kemih, absorpsi lebih lambat dari aplikasi topical faring. Sedangkan kecepatan absorpsi anestesi local pada pemberian secara parenteral, tergantung pada vaskularisasi tempat injeksi dan vasoaktivitas obat. Pemberian anestesi local secara intravena merupakan cara pemberian yang memungkinkan kadar obat dalam darah mempunyai level yang palng tinggi dalam waktu yang cepat. Distribusi : Ketika anestesi local masuk ke peredaran darah, mereka didistribusikan keseluruh jaringan tubuh. Metabolisme : Toksisitas tergantung pada keseimbangan absorpsi dengan metabolism, Senyawa ester hidrolisisnya di plasma dengan bantuan enzim pseudokolinesterase. Makin cepat keccepatan hidrolisis, makin kecil potensi toksisitas anestesi local.biotrasnformasi anestesi local amida lebih kompleks daripada golongan ester. Organ metabolism lidokain, etidokain, bupivakain di hepar sedangkan prilokain, dimetabolisme di hepar dan paru-paru. Ekskresi : Organ utama proses ekskresi adalah ginjal. Fungsi ginjal yang sehat merupakan factor yang berperan penting pada proses ekskresi. Senyawa ester sejumalah besar dimetabolisme sehingga hanya sejumlah kecil yang tidak mengalami perubahan. Sedangakan senyawa amida karena lebih kompleks maka bentuk asalnya dapat ditemukan lebih besar di urin.

1.4 Farmakodinamik Efek obat anestesi local : Kegelisahan dan tremor

Kejang Mempengaruhi transmisi disambungan saraf otot. Kolaps kardiovaskuler alergi

1.5 Efek samping Efek samping anestesi local adalah akibat dari efek depresi terhadap SSP dan efek kardiodepresifnya (menekan fungsi jantung) dengan gejala penghambatan pernafasan dan sirkulasi darah. Anestesi local dapat pula mengakibatkan reaksi hipersensitasi, yang seringkali berupa axantema, urticaria, dan bronchospasme alergis sampai adakalanya shock anafilaksis yang dapat mematikan. Yang terkenal dalam hal ini adalah zat-zat dari tipe-ester prokain dan tetrrakain, yang karena itu tidak digunakan lagi dalam sediaan local. Reaksi hipersensitivitas tersebut diakibatkan oleh PABA (para-amino-benzoic acid), yang terbentuk melalui hidrolisa. PABA ini dapat meniadakan efek antibaktriil dari sulfoamida, yang berdasarkan antagonism persaingan dengan PABA. Oleh karena itu, terapi dengan sulfa tidak boleh dikombinasi dengan penggunaan ester-ester tersebut.

1.6 Interaksi Obat Pusat mekanisme kerjanya terletak di membran sel. Seperti juga alkohol dan barbital, anestetika lokal menghambat penerusan impuls dengan jalan menurunkan permeabilitas membran sel saraf untuk ion-natrium, yang perlu bagi fungsi saraf yang layak. Hal ini disebabkan adanya persaingan dengan ion-ion kalsium yang berada berdekatan dengan saluran-saluran natrium di membran sel saraf. Pada waktu bersamaan, akibat turunnya laju depolarisasi, ambang kepekaan terhadap rangsangan listrik lambat Iaun meningkat, sehingga akhirnya terjadi kehilangan rasa setempat secara reversible. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Defenisi Prokain adalah ester aminobenzoat untuk infiltrasi, blok, spinal, epidural, merupakan obat standart untuk perbandingan potensi dan toksisitas terhadap jenis obat-obat anestetik local lain. 2.2 Pengkajian 2.2.1. Indikasi Diberikan intarvena untuk pengobatan aritmia selama anestesi umum, bedah jantung, atau induced hypothermia. 2.2.2. Kontraindikasi

Pemberian intarvena merupakan kontraindikasi untuk penderita miastemia gravis karena prokain menghasilkan derajat blok neuromuskuler. Dan prokain juga tidak boleh diberikan bersama-sama dengan sulfonamide. 2.2.3. Bentuk sediaan obat Sediaan suntik prokain terdapat dalam kadar 1-2% dengan atau tanpa epinefrin untuk anesthesia infiltrasi dan blockade saraf dan 520% untuk anestesi spinal.sedangkan larutan 0,1-0,2 % dalam garam faali disediakan untuk infuse IV. Untuk anestesi kaudal yang terus menerus, dosis awal ialah 30 mlnlarutan prokain 1,5%. 2.2.4. Diagnosis Kelas therapy : obat anastesi Sub kelas therapy : anestesi local Nama obat dagang : novokain,etokain, gerovital Nama obat generic : prokain Rumus bangun :

2.3. Perencanaan 2.3.1. Mekanisme kerja obat Pemberian prokain dengan anestesi infiltrasi maximum dosis 400 mg dengan durasi 30-50, dosis 800 mg, durasi 30-45 Pemberian dengan anestesi epidural dosis 300-900, durasi 30-90, onset 5-15 mnt Pemberian dengan anestesi spinal : preparatic 10%, durasi 30-45 menit. 2.3.2. Efek therapy Pada penyuntikan prokain dengan dosis 100-800 mg, terjadi analgesia umum ringan yang derajatnya berbanding lurus dengan dosis. Efek maksimal berlangsung 10-20 menit, dan menghilang sesudah 60 menit. Efek ini mungkin merupakan efek sentral, atau mungkin efek dari dietilaminoetanol yaitu hasil hidrolisis prokain. 2.3.3. Efek samping Efek samping yang serius adalah hipersensitasi,yang kadang-kadang pada dosis rendah sudah dapat mengakibatkan kolaps dan kematian. Efek samping yang harus dipertimbangkan pula adalah reaksi alergi terhadap kombinasi prokain penisilin. Berlainan dengan kokain, zat ini tidak mengakibatkan adikasi.

2.4. Pelaksanaaan 2.4.1. Cara pemberian obat.

Cara pemberian obat bius prokain deberikan secara injeksi interavena pada atau sekitar jaringan yang akan di anestesi, sehingga mengakibatkan hilangnya rasa di kulit dan di jaringan yang terletak lebih dalam, misalnya: pada praktek THT atau pencabutan gigi. 2.4.2. Dosis pemberian obat Dosis 15 mg/kgbb. Untuk infiltrasi : larutan 0,25-0,5 dosis maksimum 1000 mg. onset : 2-5 menit, durasi 30-60 menit. Bisa ditambah adrenalin (1 : 100.000). Dosis untuk blok epidural (maksimum) 25 ml larutan 1,5%. Untuk kaudal : 25 ml larutan 1,5%. Spinal analgesia 50-200 mg tergantung efek yang di kehendaki, lamanya 1 jam. 2.4.3. Nasib obat (farmakokinetik) Absorpsi berlangsung cepat dari tempat suntikan dan untuk memperlambat absorpsi perlu ditambahkan vasokonstriktor. Sesudah diabsorpsi, prokain cepat dihidrolisis oleh esterase dalam plasma menjadi PABA dan dietilaminoetanol. PABA diekskresi dalam urine, kira-kira 80% dalam bentuk utuh dan bentuk konjugasi. 30% dietilaminoetanol ditemukan dalam urine, dan selebihnya mengalami degradasi lebih lanjut. 2.4.4. Interaksi obat Prokain dan anestetik local lain dalam badan dihidrolisis menjadi PABA(para amino benzoic acid), yang dapat menghambat daya kerja sulfonamide. Oleh karena itu sebaiknya prokian dan asnestetik local lain tidak diberikan bersamaan dengan terapi sulfonamide. Prokain dapat membentuk garam atau konjugat dengan obat lain sehingga memperpanjang masa kerja obat tesebut. Misalnya garam prokain penisilin dan prokain heparin.

2.5. Evaluasi Sebagai anestetik local, prokain pernah digunakan untuk anesthesia infiltrasi, anesthesia blok sararf, anesthesia spinal, anesthesia epidural dan anesthesia kaudal. Namun karena potensinya rendah, mula kerja lambat serta masa kerjanya pendek, maka penggunaannya sekarang ini hanya terbatas untuk anesthesia blok saraf. Di dalam tubuh,prokain akan dihidrolisis menjadi PABA, yang dapat menghambat kerja sulfonamide. BAB III KESIMPULAN Anestesi lokal atau yang sering disebut pemati rasa adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar yang cukup. Anestesi lokal bekerja pada tiap bagian susunan saraf dengan cara merintangi secara bolak- balik penerusan impuls-impuls saraf ke Susunan Saraf Pusat (SSP) dan dengan demikian menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas atau rasa dingin.

Anestesi lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf. Tempat kerjanya terutama di selaput lendir. Disamping itu, anestesia lokal mengganggu fungsi semua organ dimana terjadi konduksi/transmisi dari beberapa impuls. Artinya, anestesi lokal mempunyai efek yang penting terhadap SSP, ganglia otonom, cabang-cabang neuromuskular dan semua jaringan otot. Anastesi local dapat digolongkan secara kimiawi dalam beberapa kelompok sebagai berikut : a. b. c. Senyawa-ester (PABA) : kokain, benzokain,prokain, oksibuprokain, dan tetrakain ; Senyawa-amida : lidokain dan prilokain, mepivakain dan bupivakain, cinchokain, artikain, dan pramokain; Lainnya : fenol, benzilalkohol, cryofluo-ran, dan etilklorida. Semua obat tersebut di atas adalah sintetis, kecuali kokain yang alamiah. Prokain adalah ester aminobenzoat untuk infiltrasi, blok, spinal, epidural, merupakan obat standart untuk perbandingan potensi dan toksisitas terhadap jenis obat-obat anestetik local lain. Diberikan intarvena untuk pengobatan aritmia selama anestesi umum, bedah jantung, atau induced hypothermia. Pemberian intarvena merupakan kontraindikasi untuk penderita miastemia gravis karena prokain menghasilkan derajat blok neuromuskuler. Dan prokain juga tidak boleh diberikan bersama-sama dengan sulfonamide. Sediaan suntik prokain terdapat dalam kadar 1-2% dengan atau tanpa epinefrin untuk anesthesia infiltrasi dan blockade saraf dan 520% untuk anestesi spinal.sedangkan larutan 0,1-0,2 % dalam garam faali disediakan untuk infuse IV. Untuk anestesi kaudal yang terus menerus, dosis awal ialah 30 mlnlarutan prokain 1,5%.

JENIS ANESTESI Jenis anestesi lokal dalam bentuk parenteral yang paling banyak digunakan adalah: 1. Anestesi permukaan. Sebagai suntikan banyak digunakan sebagai penghilang rasa oleh dokter gigi untuk mencabut geraham atau oleh dokter keluarga untuk pembedahan kecil seperti menjahit luka di kulit. Sediaan ini aman dan pada kadar yang tepat tidak akan mengganggu proses penyembuhan luka.

2.

Anestesi Infiltrasi. Tujuannya untuk menimbulkan anestesi ujung saraf melalui injeksi pada atau sekitar jaringan yang akan dianestesi sehingga mengakibatkan hilangnya rasa di kulit dan jaringan yang terletak lebih dalam, misalnya daerah kecil di kulit atau gusi (pada pencabutan gigi).

3.

Anestesi Blok Cara ini dapat digunakan pada tindakan pembedahan maupun untuk tujuan diagnostik dan terapi.

4.

Anestesi Spinal Obat disuntikkan di tulang punggung dan diperoleh pembiusan dari kaki sampai tulang dada hanya dalam beberapa menit. Anestesi spinal ini bermanfaat untuk operasi perut bagian bawah, perineum atau tungkai bawah.

5.

Anestesi Epidural Anestesi epidural (blokade subarakhnoid atau intratekal) disuntikkan di ruang epidural yakni ruang antara kedua selaput keras dari sumsum belakang.

6.

Anestesi Kaudal Anestesi kaudal adalah bentuk anestesi epidural yang disuntikkan melalui tempat yang berbeda yaitu ke dalam kanalis sakralis melalui hiatus skralis.

D.

CARA PEMBERIAN Obat penghilang rasa sakit epidural diberikan dalam beberapa cara :

1.

Injeksi dengan top-up : Anestesi akan disuntikkan dengan obat penghilang rasa sakit ke dalam tabung untuk mematikan bagian bawah perut pasien.

2.

Infus kontinu : Anestesi yang mengatur kateter epidural. Ujung tabung terpasang pada pompa, yang akan menghilangkan rasa sakit pada punggung pasien terus-menerus.

E.

MEKANISME KERJA ANESTESI Mencegah timbulnya konduksi impuls saraf Meningkatkan ambang membran, eksitabilitas berkurang dan kelancaran hantaran terhambat. Meningkatkan tegangan permukaan selaput lipid molekuler.

Resistensi Bius Ketika dilakukan anestesi, terkadang dapat terjadi seseorang tak mendapatkan efek bius seperti yang diharapkan. Atau, yang kerap disebut resisten terhadap obat bius. Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan seseorang resisten terhadap obat bius di antaranya: 1. 2. 3. Pecandu alcohol Pengguna obat psikotropika seperti morfin, ekstasi dan lainnya Pengguna obat anelgesik

Agar Obat Bius Optimal & Aman Untuk menghindari terjadinya efek samping dan resistensi terhadap obat bius, sebaiknya pasien benar-benar memastikan kondisi tubuhnya cukup baik untuk menerima anestesi. 1. 2. 3. 4. 5. Menghentikan penggunaan obat anelgetik, paling tidak 1-2 hari sebelum dilakukan prosedur anestesi. Menghentikan konsumsi obat-obatan yang berefek pada saraf pusat seperti morfin, barbiturat, amfetamin dan lainnya, paling tidak 1-3 hari sebelum anestesi dilakukan. Berhenti mengonsumsi alkohol paling tidak 2 minggu sebelum penggunaan anestesi, Berhenti merokok setidaknya 2 minggu sebelum anestesi dilakukan. (nova/lia)

F.

CARA PENGGUNAAN ANESTESI Kebutuhan dan cara kerja anestesi beranekaragam. Anestesi juga memiliki cara penggunaan yang berbeda sesuai kebutuhannya. Tak hanya cara disuntikkan saja, tetapi juga dihirup melalui alat bantu nafas. Beberapa cara penggunaan anestesi ini di antaranya :

1.

Melalui Pernafasan Beberapa obat anestesi berupa gas seperti isoflurane dan nitrous oxide, dapat dimasukkan melalui pernafasan atau secara inhalasi. Gasgas ini mempengaruhi kerja susunan saraf pusat di otak, otot jantung, serta paru-paru sehingga bersama-sama menciptakan kondisi tak sadar pada pasien. Penggunaan bius jenis inhalasi ini lebih ditujukan untuk pasien operasi besar yang belum diketahui berapa lama tindakan operasi diperlukan. Sehingga, perlu dipastikan pasien tetap dalam kondisi tak sadar selama operasi dilakukan.

2.

Injeksi Intravena Sedangkan obat ketamine, thiopetal, opioids (fentanyl, sufentanil) dan propofol adalah obat-obatan yang biasanya dimasukkan ke aliran vena. Obat-obatan ini menimbulkan efek menghilangkan nyeri, mematikan rasa secara menyeluruh, dan membuat depresi pernafasan sehingga membuat pasien tak sadarkan diri. Masa bekerjanya cukup lama dan akan ditambahkan bila ternyata lamanya operasi perlu ditambah.

3.

Injeksi Pada Spinal/ Epidural Obat-obatan jenis iodocaine dan bupivacaine yang sifatnya lokal dapat diinjeksikan dalam ruang spinal (rongga tulang belakang) maupun epidural untuk menghasilkan efek mati rasa pada paruh tubuh tertentu. Misalnya, dari pusat ke bawah. Beda dari injeksi epidural dan spinal adalah pada teknik injeksi. Pada epidural,injeksi dapat dipertahankan dengan meninggalkan selang kecil untuk menambah obat anestesi jika diperlukan perpanjangan waktu tindakan. Sedang pada spinal membutuhkan jarum lebih panjang dan hanya bisa dilakukan dalam sekali injeksi untuk sekitar 2 jam ke depan.

4.

Injeksi Lokal Iodocaine dan bupivacaine juga dapat di injeksi di bawah lapisan kulit untuk menghasilkan efek mati rasa di area lokal. Dengan cara kerja memblokade impuls saraf dan sensasi nyeri dari saraf tepi sehingga kulit akan terasa kebas dan mati rasa.

G.

SIFAT ANESTESI

Tidak mengiritasi / merusak jaringan saraf secara permanen Batas keamanan harus lebar Larut dalam air Stabil dalam larutan Dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan Indikasi & Keuntungan anastesi lokal Penderita dalam keadaan sadar serta kooperatif. Tekniknya relatif sederhana dan prosentase kegagalan dalam penggunaanya relatif kecil. Pada daerah yang diinjeksi tidak terdapat pembengkakan. Peralatan yang digunakan, sedikit sekali dan sederhana serta obat yang digunakan relatif murah. Dapat digunakan sesuai dengan yang dikehendaki pada daerah anatomi tertentu.Mula kerja harus sesingkat mungkinDurasi kerja harus cukup lama.

H.

TIPE ANESTESI

Beberapa tipe anestesi adalah : Pembiusan total hilangnya kesadaran total Pembiusan lokal hilangnya rasa pada daerah tertentu yang diinginkan (pada sebagian kecil daerah tubuh). Pembiusan regional hilangnya rasa pada bagian yang lebih luas dari tubuh oleh blokade selektif pada jaringan spinal atau saraf yang berhubungan dengannya.

I.

MANFAAT ANESTESI

Digunakan sebagai diagnostic, untuk menentukan sumber nyeri Digunakan sebagai terapi, local anestesi merupakan bagian dari terapi untuk kondisi operasi yang sangat nyeri, kemampuan dokter gigi dalam menghilangkan nyeri pada pasien meski bersifat sementara merupakan ukuran tercapainya tujuan terapi Digunakan untuk kepentingan perioperatif dan postoperasi. Proses operasi yang bebas nyeri sebagian besar menggunakan anestesi local, mempunyai metode yang aman dan efektif untuk semua pasien operasi dentoalveolar. Digunakan untuk kepentingan postoperasi. Setelah operasi dengan menggunakan anestesi umum atau lokal, efek anestesi yang berlanjut sangat penting untuk mengurangi ketidaknyamanan pasien.

J.

KEUNTUNAN DAN KERUGIAN Keuntungan :

Tidak diperlukan persiapan khusus pada pasien. Tidak membutuhkan alat dan tabung gas yang kompleks Tidak ada resiko obstruksi pernapasan. Durasi anestesi sedikitnya satu jam dan jika pasien setuju dapat diperpanjang sesuai kebutuhan operasi gigi minor atau adanya kesulitan dalam prosedur Pasien tetap sadar dan kooperatif dan tidak ada penanganan pasca anestesi Pasien-pasien dengan penyakit serius, misalnya penyakit jantung biasanya dapat mentolerir pemberian anestesi lokal tanpa adanya resiko yang tidak diinginkan. Kerugian : Ini mungkin tidak bekerja dengan baik pada awal penggunaan Menimbulkan rasa gatal atau demam Pasien mungkin merasakan hanya mati rasa di bagian perut

K.

EFEK SAMPING Ada beberapa macam efek samping yang ditimbulkan pada penggunaan diantaranya :

Penurunan tekanan darah. Sakit kepala (juga dikenal sebagai tulang punggung sakit kepala). Pada bayi,mungkin membuat penurunan tekanan darah. Sakit kepala juga sangat jarang, tetapi mungkin dapat terjadi. Reaksi terhadap obat-obatan yang berlebihan, sepert ruam. Pendarahan jika pembuluh darah yang secara tidak sengaja rusak. http://satyaexcel.blogspot.com/2012/10/makalah-anestesi-anesthesia.html