Anda di halaman 1dari 2

Hal kedua yang perlu dicermati dalam pengembangan perpustakaan adalah manajemen perpustakaan yang digunakan.

Manajemen ini juga tergantung pada SDM dalam perpustakaan tersebut. Jika SDM-nya cukup berkemampuan untuk membuat kebijakan yang membuat perpustakaan maju, maka perpustakaan akan cepat berkembang. Manajemen yang terkesan berbelit-belit dan kolot tak lagi berlaku di jaman sekarang. Untuk itu dibutuhkan segalanya yang serba praktis dan efektif termasuk dalam mengatur perpustakaan. Mereka membangun perpustakaan seperti tempat belajar dan rekreasi yang tenang dan nyaman, sehingga masyarakat sangat antusias untuk menggunakannya. Selain membaca buku mereka dapat berbelanja untuk kebutuhan belajar-nya di perpustakaan.

barometer kemajuan suatu bangsa, artinya maju dan mundurnya suatu bangsa dapat dilihat dari peran perpustakaannya. Untuk itu kita perlu merintis perkembangan perpustakaan sesuai kebutuhan pengguna, di masing-masing unit organisasi

Kemajuan sebuah bangsa dapat dilihat dari seberapa hebatnya penyelenggaraan pendidikan yang ada dibangsa tersebut. Karena melalui pendidikanlah karakter sebuah bangsa akan dikenal oleh bangsa lain. Tetapi apakah kita tahu, apa sebenarnya yang mempengaruhi perkembangan pendidikan, khususnya pola belajar - mengajar bangsa luar, selain guru sebagai tenaga pendidik wajib? Jawabannya hanya satu, keberadaan sebuah perpustakaan sebagai sarana penunjang dalam memenuhi kebutuhan informasi bagi anak didik mereka. Gaya belajar Bangsa Barat dan Bangsa Asia Timur, memang kita akui sangat berbeda dengan gaya bangsa kita. Mereka sudah terbiasa dengan pola belajar mandiri dan terkadang tidak segan meminta bimbingankepada pustakawan setempat dan duduk berjam-jam didalam ruangan perpustakaan diluar jam belajar sekolah mereka. Keberadaan sebuah perpustakaan benar-benar mereka manfaatkan dengan baik, tanpa mengeluh akan kekurangan bahan bacaan, karena negara sudah memberikan yang terbaik bagi mereka yang ingin pintar.

http://swa.co.id/updates/binus-menghasilkan-lulusan-bukan-sekadar-pintar-tapi-juga-inovatif

Indonesia Negara Konsumen Terbesar, Mahasiswa Hanya Incar PNS Dari Diskusi Akhir Tahun Univeristas Fajar Indonesia dicap sebagai negara konsumen terbesar di dunia. Rakyatnya senang mengkonsumsi produk-produk impor, padahal di negeri sendiri terdapat produk yang jauh lebih baik.

Director of Research Centre of Politic and Governance Studies (CPGS), Politic Science Departement of Bakrie University Indonesia, Asmiati Abdul Malik mengungkapkan hal itu dalam dialog akhir tahun di Kampus Unifa terkait kompetisi pasar bebas. Dia mengatakan, masyarakat Indonesia masih demam pada persoalan tren, buka pada kualitas, sehingga tak heran konsumsi masyarakat lebih pada merek luar. khususnya barang elektronik, pakaian hingga makanan. Masyarakat Indonesia lebih memiliki jeruk dari Cina dari pada jeruk lokal. Lebih memilih belanja di carrefour dari pada di pasar tradisional. Hal ini disebabkan demam tren yang berlebihan, yang tidak disesuaikan dengan pendapatan. Padahal, di luar negeri, produksi Indonesia sangat mahal. Di Osaka, Jepang, Kopi Toraja lebih mahal dari kopi mereka dengan harga yang berkali lipat. Tapi masyarakat kita lebih memilih kopi impor dari luar negeri. Padahal di luar negeri, produk dan kekayaan alam Indonesia cukup mahal dan sangat di minati, paparnya. Menurutnya, perkembangan ekonomi, ditandai dengan pusat perkembangan bisnis. Dan yang harus dipahami setiap mahasiswa bahwa pengertian bisnis cukup luas. Dan pemahaman bisnis ini juga masih buram di kalangan mahasiswa, karena Indonesia belum menempatkan diri sebagai apa dalam dunia bisnis. Apakah konsumen atau produsen. Hal ini juga berbenturan dengan pola pikir mahasiswa dalam menempuh pendidikan di bangku kuliah. Menjadi pebisnis harus jadi PNS atau pekerja perusahaan dulu. Padahal jumlah perusahaan dan kuota untuk menjadi PNS sangat kurang. Jika semua mahasiswa hanya berfikir untuk jadi pekerja, maka bangsa ini akan menghasilkan ribuan pengangguran dengan pendidikan sarjana. Sehingga nantinya, mahasiswa yang ingin bekerja lagi-lagi harus mengeluarkan uang, sebab saat ini menjadi PNS juga harus mengeluarkan dan melakukan suap agar lulus. Sehingga pembentukan karakter dan pola pikir mahasiswa dan masyarakat kita saat ini harus dirubah, terangnya. Panitia pelaksana, Kardina SIp mengatakan, pembahasan tentangan kompetisi pasar bebas yang dirangkaikan dengan sejumlah kegiatan akhir tahun Unifa dilaksanakan Fakultas ekonomi dan Ilmi Sosial dan diikuti semua mahasiswa civitas akademika Unifa. Menurutnya, saat ini pembahasan pengembangan ekonomi global menjadi pembicaraan di semua instansi. Sehingga sebagai akademisi, Unifa mengajak mahasiswanya untuk berdiskusi, hal ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan pemahaman mahasiswa maupun dosen tentang pasar modal. Kegiatan ini dikemas diskusi santai dan terbuka untuk semua mahasiswa, baik unifa maupun mahasiswa STIM Nitro, paparnya. BERITA LAIN
http://www.ujungpandangekspres.com/index.php?option=read&newsid=77967 (21 feb 2012)

Anda mungkin juga menyukai