Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN 1.

1
Latar Belakang Radikal bebas merupakan sekolompok zat kimia yang sangat reaktif karena memiliki satu atau lebih electron yang tidak berpasangan pada orbital terluarnya dan dapat menyebabkan kerusakan pada biomolekul (Halliwel dan Gutteridge 1989). Hal tersebut menyebabkan radikal bebas bersifat sangat reaktif dan mampu mengambil elekron dari molekul lain, seperti protein, DNA, dan peroksidasi lipid. Radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan oksidatif pada jaringan biologis, kerusakan tersebut dapat menyebabkan penyakit kronis, seperti iskemia, katarak, kanker, diabetes melitus, penuaan, dan jantung koroner. Radikal bebas terbentuk melalui dua cara, yaitu secara endogen dan eksogen. Secara endogen, radikal bebas dihasilkan melalui reaksi biokimia di dalam tubuh, contohnya oksidasi enzimatis, fagositosis, transport elektron, dan oksidasi logam transisi melalui ischemic. Secara eksogen, radikal bebas dihasilkan dari lingkungan sekitar, seperti polusi udara, bahan tambahan pangan, dan radiasi ultraviolet (UV). Radikal eksogen tersebut, selanjutnya akan masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, pencernaan, dan absorbsi kulit. Reaksi ini akan berhenti bila radikal bebas diredam. Oleh karena itu, diperlukan zat antioksidan untuk mencegah dan melindungi sistem biologi tubuh dari serangan radikal radikal bebas. Antioksidan adalah senyawa yang memiliki kemampuan untuk menetralisir radikal bebas dengan cara menyumbangkan elektronnya pada molekul radikal bebas. Senyawa antioksidan dapat mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh radikal bebas terhadap sel normal, protein, lemak, dan DNA. Antioksidan dikelompokkan ke dalam antioksidan endogen dan antioksidan eksogen. Antioksidan endogen merupakan antioksidan enzimatis yang dihasilkan oleh tubuh, melalui proses metabolisme sel. Sedangkan antioksidan eksogen merupakan antioksidan yang diperoleh dari luar tubuh. Antioksidan eksogen kerap kali diperoleh dari makanan sehari-hari, terutama sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin (vitamin A, C, dan E) serta mineral (seperti Zn dan Se) (Kumalaningsih 2007). Berdasarkan fungsinya, antioksidan dikelompokkan menjadi antioksidan primer, antioksidan sekunder, antioksidan tersier, oxygen scavenger, dan chelator. Antioksidan primer adalah antioksidan yang berfungsi untuk mencegah

terbentuknya radikal bebas baru, karena memiliki kemampuan untuk menonaktifkan radikal bebas sebelumnya. Contoh antioksidan primer adalah enzim SOD, enzim tersebut dapat melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas. Kinerja enzim SOD dipengaruhi oleh beberapa mineral, seperti Zn, Mn, Cu, dan Se. Antioksidan sekunder adalah senyawa antioksidan yang mampu memotong reaksi berantai (propagasi) yang ditimbulkan oleh radikal bebas. Sehingga dapat mencegah terjadinya kerusakan yang lebih besar. Contoh antioksidan sekunder adalah betakaroten, vitamin C, dan vitamin E. Sedangkan antioksidan tersier merupakan antioksidan yang mampu memperbaiki kerusakan sel atau jaringan akibat oksidasi radikal bebas. Metionin sulfoksidan merupakan contoh antioksidan tersier yang mampu memperbaiki kerusakan DNA akibat oksidasi radikal bebas. Oxygen scavenger adalah antioksidan yang mampu mengikat radikal oksigen, sehingga tidak mendukung terjadinya reaksi oksidasi. Asam askorbat (vitamin C) merupakan contoh dari oxygen scavenger. Sedangkan chelator berfungsi mengikat kofaktor logam yang mampu mengkatalisis reaksi oksidasi, misalnya asam sitrat dan asam amino. Berdasarkan sumbernya, antioksidan dikelompokkan menjadi antioksidan alami dan antioksidan sintetik. Antioksidan alami dalam makanan, dapat berasal dari satu atau beberapa komponen makanan. Senyawa antioksidan tersebut dapat berupa antioksidan yang diisolasi dari sumber alami dan ditambahkan sebagai bahan tambahan pangan, maupun antioksidan yang terbentuk selama proses pengolahan. Antioksidan alami umumnya memiliki gugus hidroksil dalam struktur molekulnya. Senyawa antioksidan yang diisolasi dari sumber alami, berasal dari bagian tumbuhan seperti kayu, kulit kayu, akar, daun, buah, bunga, biji, rimpang, dan serbuk sari. Selain antioksidan alami, terdapat juga antioksidan sintetik. Jenis-jenis antioksidan sintetik yang sering dijumpai, diantaranya tokoferol, butylatedhydroxytoluene (BHT),

butylatedhydroxyanysole (BHA), propylgalate (PG), tert-butyl hydroxyquinone (TBHQ), dan noredihidroquairetic acid (NDGA). Senyawa BHT dan BHA adalah antioksidan yang paling banyak digunakan sebagai bahan tambahan pangan. Namun, antioksidan tersebut bersifat karsinogen terhadap sistem reproduksi, menyebabkan pembengkakan organ hati, mempengaruhi aktivitas enzim dalam hati, bahkan dalam jangka waktu lama tidak terjamin keamanannya. Berdasarkan uji toksisitas akut dan kronik pada hewan coba, pemakaian zat antioksidan maksimal yang diperbolehkan dalam campuran makanan adalah sebesar 200 ppm.

Senyawa antioksidan alami banyak terdapat pada tumbuh tumbuhan seperti vitamin C, vitamin E, karoten, golongan fenol, terutama polifenol dan flavonoid diketahui berpotensi mengurangi risiko penyakit degenerative ( Prakash, 2001). Salah satu tumbuhan yang telah banyak di gunakan oleh masyarakat dalam pengolahan tradisional yaitu tumbuhan kersen (Muntingia calabura L). Bagian tumbuhan ini dikatakan mampu menymbuhkan berbagai macam penyakit diantaranya diabetes, kanker, asam urat, radang, tekanan darah tinggi, dan lain lain. Namun, belum diketahui secara pasti golongan flavonoid dalam daun kersen, karena itu perlu dilakukan penelitian lanjut tentang isolasi dan karakterisasi senyawa golongan flavinoid ekstrak methanol dari daun kersen (Muntingia calabura L).

1.2

Perumusan Masalah Potensi tumbuhan Kersen sebagai obat antidiabetes dan antikanker perlu dilakukan

analisis lebih mendalam mengenai kandungan senyawa bioaktif yang ada. Untuk itu hal-hal yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Senyawa metabolit sekunder apa saja yang terkandung dalam ekstrak metanol daun kersen? 2. Bagaimana mengisolasi senyawa flavonoid ekstrak metanol daun kersen? 3. Bagaimana karakterisitik isolat senyawa flavonoid tersebut ?

1.3

Tujuan Tujuan penelitian ini adalah : 1. Mengetahui jenis senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak daun kersen. 2. Melakukan isolasi senyawa flavonoid ekstrak metanol daun kersen. 3. Mengkarakterisasi isolat senyawa flavonoid tersebut.

1.4

Manfaat Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. Dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang kandungan senyawa metabolit sekunder, khususnya flavonoid dalam ekstrak metanol daun kersen 2. Memberikan data pendukung bagi upaya pengembangan ekstrak metanol daun kersen menjadi produk antioksidan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Tentang Kersen


DIVISIO CLASSIS ORDO FAMILY GENUS SPECIES : MAGNOLIOPHYTA : MAGNOLIOPSIDA :: MALVALES : MUNTINGIACEAE : MUNTINGIA L. : M. calabura

2.1.1 Klasifikasi Tumbuhan

2.1.2 Deskripsi Tumbuhan

Gambar 1. Tumbuhan Kersen (M. calabura) Tanaman kersen biasanya tumbuh dengan ukuran kecil namun kadang juga bisa berukuran besar bahkan ada yang bisa mencapai tinggi hingga 12 meter. Selalu hijau terus menerus, berbunga, dan berbuah sepanjang tahun. Ranting ranting berambut halus bercampur dengan rambut kelenjar. Kayu kersen lunak dan mudah kering, sangat berguna sebagai katu bakar. Kulit kayunya yang mudah di kupas digunakan sebagai bahan tali dan kain pembalut. daun tanaman ini memiliki sistem pertulangan yang menyirip, tidak simetris, bentuk daun bundar telur lanset, tepinya bergerigi, terletak mendatar, berselin, berujung runcing, panjang daun 1 4 cm, lebar daun 4 14 cm, sisi bawah berambut kelabu rapat, dan bertangkai pendek. Bunga berisi 1 5 kuntum, terletak di ketiak agak di sebelah atas tumbuhnya daun, bertangkai panjang, berkelamin dua dan berbilangan lima, kelopak berbagi dalam: taju meruncing bentuk benang, berambut halus, mahkota bertepi rata, bundar telur terbalik, putih tipis, benang sari berjumlah

banyak 10 lebih dari 100 helai. Buah berbentuk bulat hampir sempurna, diameter 1 1,5 cm, hijau kuning dan akhirnya merah apabila masak, dan betangkai panjang.

2.2

Radikal Bebas Kemiripan sifat antara radikal bebas dan oksidan terletak pada agresivitas untuk menarik

electron di sekelilingnya. Berdasarkan sifat ini, radikal bebas dianggap sama dengan oksidan. Tetapi perlu diketahui, bahwa tidak setiap oksidann merupakan radikal bebas. Radikal bebas lebih berbahaya dibandingkan dengan senyawa oksidan non radikal (Winarsi, 2007). Radikal bebas merupakan sekelompok zat kimia yang sangat reaktif karena memeiliki satu atau lebih electron yang tidak pasangan. Oksidan merupakan senyawa yang dapat menerima electron dan radikal bebas merupakan atom atau gugus yang orbital luarnya memiliki electron yang tidak berpasangan (Fessenden dan Fessenden, 1986). Radikal bebas terpenting dalam tubuh adalah radikal derivat dari oksigen yang disebut kelompok oksigen reaktif (reactive oxygen species/ROS), termasuk didalamnya adalah nitri oksida (NO), peroksinitrit (ONOO), ion superoksida (O2), radikal hidroksil (OH), singlet oksigen (O2), peroksil (ROO), hydrogen peroksida (H2O2) dan asam hipoklorit (HOCl). Senyawa radikal bebas dapat timbul sebagai hasil samping dari proses metabolisme tubuh atau disebabkan oleh polusi lingkungan seperti asap kendaraan bermotor, bahan pencemar, radiasi dan lain lain. radikal bebas adalah atom atau molekul yang sifatnya sangat tidak stabil. Radikal bebas secara terus menerus terbentuk di dalam tubuh. Sebagian dari radikal bebas berguna untuk menghilangkan mikroorganisme, tetapi dengan adanya sifat reaktif tersebut maka sebagian besar diperkirakan terlibat di dalam berbagai proses penyakit degenerative seperti kanker, atherosclerosis, rheumatoid, arthritis, diabetes, menurunnya sistem tanggap kebal, hingga prosese penuaan dan menurunnya stamina tubuh. Radikal bebas mempunyai satu electron atau lebih yang tanpa pasangan sehingga untuk menjadi stabil ia cenderung mengambil electron dari molekul lain yang kemudian menimbulkan senyawa yang tidak normal dan memulai reaksi berantai yang dapat merusak jaringan. Reaksi rantai akan berhenti bila radikal bebass itu redam. Oleh karena itu diperlukan senyawa yang dapat meredam efek negative dari radikal bebas ini yang disebut antioksidan (Halliwel dan Gutteridge, 1995).

2.3

Antioksidan Dalam pengertian kimia, antiooksidan adalah atom atau senyawa atau molekul pemberi

proton. Namun dalam arti biologi, pengertian antioksidan lebih luas, yaitu semua senyawa yang dapat meredam dampak negative radikal bebas, (Sidik, 1997). Antioksidan merupakan zat yang dapat menetralkan radikal bebas, atau suatu bahan yang berfungsi mencegah sistem biologi tubuh dari efek yang merugikan yang timbul dari proses ataupun reaksi yang menyebabkan oksidasi yang berlebihan (Hariyatmi, 2004). Pada umumnya antioksidan mengandung struktur inti yang sama yaitu mengandung cincin benzene disertai gugus hidroksi (-OH) dan amino (NH2) yang terikat pada cincin aromatis dan substituen pada cincin benzene. Potensi antioksidan tersebut diperbesar oleh adanya substitusi gugus pemberi electron yang terikat pada cincin aromatis (Ketaren, 1986). 2.3.1 Pengelompokan Antioksidan Berdasarkan Cara Kerjanya Berdasarkan cara kerjanya, antioksidan dibadakan atas 3, yaitu: 1. Antioksidan primer Antioksidan primer (antiooksidan endogen atau antioksidan enzimatis) bekerja untuk mencegah pembentukan senyawa radikal bebas baru dengan cara mengubahnya menjadi produk stabil. Antioksidan ini mengubah radikal bebas yang adsa menjadi molekul yang berkurang dampak negatifnya, sebelum radikal bebas ini sempapt bereaksi. Contoh antioksidan ini adalah enzim SOD (superoksida dismutase), katalase, dan glutatioon peroksida (GPx). SOD merupakan antioksidan alami berupa enzim, yang berasal dari dalam tubuh. Enzim SOD berfungsi sebagai pelindung hancurnya sel sel dalam tubuh serta mencegah proses peradangan karena radikal bebas. 2. Antioksidan sekunder Antioksidan sekunder (antioksidan eksogen atau antioksidan nonenzimatis) berfungsi menangkap radikal bebas serta mencegah terjadinya reaksi berantai. Contoh antioksidan sekunder, yaitu vitamin E, vitamin C, betakaroten, asam urat, isoflavon, bilirubin, dan albumin. 3. Antioksidan tersier Antioksidan jenis ini bekerja untuk memperbaiki kerusakan sel dan jaringan yang disebabkan oleh radikal bebas. Contohnya adalah enzim metionin sulfoksidan reduktase

dan enzim DNA-repair yang berperan memperbaiki DNA pada inti sel. Adanya enzim enzim perbaikan DNA ini berguna untuk mencegah penyakit kanker (Wijaya, 1996). 2.3.2 Pengelompokkan Antioksidan berdasarkan Sumbernya Berdasarkan sumbernya, antioksidan dibedakan atas 2, yaitu: 1. Antioksidan Alami Antioksidan alami adalah senyawa antioksidan yang berasal dari tumbuh tumbuhan. Secara umum tumbuhan mengandung senyawa antioksidan alami, di senyawa ini tersebar luas pada bagian tumbuhan seperti bijih, batang, kulit, ranting, bunga dan akar. Senyawa antioksidan alami tubuhan terutama senyawa fenolik atau polifenolik yang dapat berupa golongan flavonoid, turunan asam sinamat, kumarin, tokoferol, asam askorbat, terpenoid, dan karotenoid (Winarno, 1992). 2. Antioksidan Sintetik Antioksidan sintetik merupakan antioksidan yang ditambahkan ke dalam bahan pangan untuk mencegah ketengikan. Antoksidan Sintetik yang banyak diigunakan sekarang ini adalah senyawa senyawa fenol yang biasanya agak beracun. Karena sifatnya tersebut, maka penggunaan antioksidan sintetik mulai dibatasi. Antioksidan sintetik harus memenuhi persyaratan berikut, yaitu: tidak berbahaya bagi kesehatan, ekonomi, mudah didapat, tidak menimbulkan warna yang tidak diinginkan, efektif pada konsentrasi rendah dan larut dalam lemak. Antioksidan sintetik terdiri dari empat macam yaitu: Butylated hydroxianisole (BHA), Butylated hydroxytoluen (BHT), Propygallate (PG), Nordihidroqualretic Acid (NOGA), (Winarno, 1992).
OH (CH3)3C C(CH3)3 (CH3)3C OH C(CH3)3 (CH3)3C OH C(CH3)3

OCH3

CH3

COOCH2CH2CH3

BHA

BHT

PG

Gambar 2. Struktur BHA, BHT, PG

2.4

Senyawa Metabolit Sekunder Setiap tanaman memproduksi bermacam-macam senyawa kimia untuk tujuan tertentu.

Senyawa kimia yang dihasilkan disebut sebagai metabolit sekunder. Menurut Lenny (2006), senyawa metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang umumnya memiliki kemampuan bioaktifitas dan berfungsi sebagai pelindung dari gangguan hama penyakit untuk tumbuhan itu atau lingkungannya. Metabolit sekunder tertentu hanya ditemukan pada organisme spesifik, atau bahkan strain (galur) yang spesifik, dan hanya diproduksi pada kondisi-kondisi tertentu (Dewick, 1999). Sampai dengan saat ini telah diidentifikasi lebih dari 100.000 senyawa metabolit sekunder yang dapat digolongkan ke dalam: a) Senyawa tanpa atom nitrogen dalam strukturnya, seperti golongan terpen, poliketid, saponin, poliasetilen, flavonoid dan sebagainya. b) Senyawa mengandung nitrogen, seperti golongan alkaloid, amina, glikosidasianogenik, asam amino non protein, protein/enzim tertentu, dan sebagainya (Wink, 1999). Pada kenyataannya di alam terdapat beberapa senyawa organik yang secara tegas tidak dapat digolongkan sebagai metabolit primer atau sekunder, contohnya asam-asam lemak dan gula-gula (Dewick, 1999). Metabolit sekunder telah banyak digunakan sejak ribuan tahun yang lalu, seperti contohnya sebagai pewarna makanan dan kosmetik (contoh: kurkuminoid, indigo), penyedap makanan (vanillin, kapsaisin, minyak mustard), pengharum (minyak mawar, lavender, jasmin), stimulan (kafein, nikotin, efedrin), halusinogen (skopolamin, kokain, morfin), insektisid (nikotin, piretrin, piperin), racun (koniin, strichnin, akonitin), obat-obatan (atropin, kuinin, kuinidin, kodein) (Wink, 1999), akan tetapi fungsinya didalam organisme penghasilnya tidak jelas dan masih diperdebatkan (Cavalier-Smith,1992; Dewick, 1999).

2.5

Flavonoid Flavonoid merupakan salah satu golongan fenol alam yang terbesar. Menurut perkiraan,

kira-kira 2% dari seluruh karbon yang difotosintesis oleh tumbuhan (atau kira-kira 1 x 109 ton/tahun) diubah menjadi flavonoid atau senyawa yang berkaitan erat dengannya (Smith, 1972). Flavonoid terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, nektar, buah, bunga, dan biji.

Dalam tumbuhan, aglikon flavonoid (yaitu flavonoid tanpa gula terikat) terdapat dalam berbagai bentuk struktur. Semuanya mengandung 15 atom karbon dalam inti dasarnya yang tersusun dalam konfigurasi C6-C3-C6, yaitu dua cincin aromatik yang dihubungkan oleh satuan tiga karbon yang dapat atau tak dapat membentuk cincin ketiga. Agar mudah, cincin diberi tanda A, B, dan C dan atom karbon dinomori menurut sistem penomoran yang menggunakan angka biasa untuk cincin A dan C, serta nomor beraksen untuk cincin B. Struktur umum flavonoid dapat ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 3. Struktur flavonoid (Sumber : Markham, 1988)

Flavonoid yang lazim ditemukan pada tumbuhan tingkat tinggi (Angiospermae) adalah flavon dan flavonol dengan C- dan O-glikosida, isoflavon C- dan O-glikosida, flavanon Cdan Oglikosida, khalkon dengan C- dan O-glikosida, dan dihidrokhalkon, proantosianidin dan antosianin, auron O-glikosida, dan dihidroflavonol O-glikosida. Golongan flavon, flavonol, flavanon, isoflavon, dan khalkon juga sering ditemukan dalam bentuk aglikonnya. Flavonoid mengandung sistem aromatik yang terkonjugasi dan karena itu menunjukkan pita serapan kuat pada daerah spektrum UV dan spektrum tampak. Flavonoid terdapat dalam tumbuhan sebagai campuran, jarang sekali dijumpai hanya flavonoid tunggal dalam jaringan tumbuhan. Disamping itu, sering terdapat campuran yang terdiri atas flavonoid yang berbeda kelas. Antosianin berwarna yang terdapat dalam daun bunga selalu disertai oleh flavon atau flavonol tanpa warna. Hasil penelitian akhir-akhir ini telah membuktikan bahwa flavon merupakan ko-pigmen penting karena sangat diperlukan untuk menyatakan warna antosianin secara penuh dalam jaringan bunga. Biasanya antosianin terdapat juga sebagai campuran, terutama dalam bunga, dan suatu jaringan bunga dapat mengandung sampai sepuluh pigmen yang berlainan (Harborne, 1987).Pada tumbuhan, flavonoid dapat meningkatkan dormansi, meningkatkan pembelahan sel-sel kalus, sebagai enzim penghambat pembentukan protein, menghasilkan zat warna pada bunga, untuk merangsang serangga, burung

dan satwa lainnya untuk mendatangi tumbuhan tersebut sebagai agen dalam penyerbukan dan penyebaran biji. Dalam dunia pengobatan, beberapa senyawa flavonoid berfungsi sebagai antibodi, misalnya antivirus dan jamur, peradangan pembuluh darah dan dapat digunakan sebagai racun ikan (Vickery dan Vickery, 1981). Berikut ini beberapa contoh flavonid pilihan yang sering dijumpai pada ekstrak tumbuhan seperti pada Tabel 2.1. Tabel 2.1 Aglikon flavonoid pilihan yang sering dijumpai, nama lazim, struktur, dan sumber utama.
Aglikon flavonoid Flavon Krisin Baikalein Krisoeriol Trisin Flavonol Galangin Fisetin Kemferol Antosianidin Sianidin Malvidin Isoflavon Daidzein Formononetin Genistein Flavonon Pinosembrin Eriodiktiol Hesperetin Dihidroflavonol 5,7-OH 5,7,3,4-OH 4-Me eriodiktiol Pinus Eriodictyon Prunus 7,4-OH 4-Me daidzein 5,7,4-OH Pueraria Ononis Genista 3,5,7,3,4-OH 3,5-Me delfinidin Centaurea Malva 3,5,7-OH 3,7,3,4-OH 3,5,7,4-OH Alpinia Rhus Delphinium 5,7-OH 5,6,7-OH 3-Me luteolin 3,5,-Me trisetin Populus Scutellaria Eriodictyon Triticum Struktur Sumber

Pinobanksin Fustin Taksifolin Biflavonoid Agatisflavon Amentoflavon Ginkgetin

3,5,7-OH 3,7,3,4-OH 3,5,7,3,4-OH

Pinus Rhus Pseudotsuga

6,8-biapigenin 8,8-biapigenin Amentoflavon dimetileter

Agathis Cupressus 7,4- Ginkgo

Sumber: Markham (1988) Pemeriksaan pendahuluan golongan flavonoid dilakukan dengan pereaksi spesifik. Reaksi yang terjadi antara pereaksi spesifik dan suatu golongan flavonoid akan menghasilkan warna tertentu seperti pada Tabel 2.2. Tabel 2.2 Uji kualitatif golongan flavonoid
Pereaksi Golongan flavonoid CH3COONa FeCl3 Na2CO3 Antosianidin Antosianidin Antosianidin Warna reaksi Merah Biru Ungu, biru, atau hijau CH3COOPb Kalkon Auron Jingga Merah Jingga Flavon Jingga krem NaOH 0,1 N Kalkon auron Flavonol flavon H2SO4 pekat Flavonol flavon dan Kuning dan Merah ungu dan Kuning hingga hingga hasil

Flavonol

Jingga krem

hingga

Kalkon

Merah

Sumber: Harborne (1987)

2.6

Isolasi dan Karakterisasi Flavonoid Aglikon flavonoid adalah polifenol dan karena itu mempunyai sifat kimia seperti

senyawa fenol, yaitu bersifat agak asam sehingga dapat larut dalam basa. Karena mempunyai sejumlah gugus hidroksil yang tak tersulih, atau suatu gula, flavonoid merupakan senyawa polar, maka umumnya flavonoid larut dalam pelarut polar seperti etanol (EtOH), metanol (MeOH), butanol (BuOH), aseton, dimetilsulfoksida (DMSO), air dan sebagainya (Markham, 1988). Penelitian yang berhubungan dengan isolasi dan identifikasi senyawa golongan flavonoid pada berbagai jenis tumbuhan telah banyak dilakukan, diantaranya dari daun katu (Harsodjo dan Wijono, 2003), rimpang temu ireng (Nugrahaningtyas dkk, 2005), kulit batang tumbuhan Saccopetalium hirsfieldii BENN (Mahmiah, 2006), daging buah mahkota dewa (Rohyami, 2008), buah terung pirus (Ellizar dan Yustini, 2009), dan daun dandang gendis (Akbar, 2010). Proses isolasi dan pemurnian senyawa golongan flavonoid dapat dilakukan dengan berbagai cara. Harsodjo dan Wijono (2003) telah melakukan isolasi flavonoid pada sampel daun katu dengan cara maserasi bertingkat menggunakan pelarut n-heksana lalu etanol 95% yang dilanjutkan dengan pemurnian menggunakan kromatografi kertas 2 arah (KKt 2A) dan diperoleh 6 senyawa flavonoid dimana terdapat 1 golongan rutin dan 5 golongan flavon. Nugrahaningtyas dkk, (2005) serta Rohyami (2008) telah melakukan isolasi flavonoid pada sampel rimpang temu ireng dan buah mahkota dewa dengan cara soxhletasi menggunakan pelarut yang berbeda yaitu petroleum eter dan methanol, sedangkan proses pemurnian dilakukan dengan Kromatografi Kolom (KK) dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Senyawa flavonoid yang berhasil diisolasi dari rimpang temu ireng berupa golongan isoflavon sedangkan dari sampel buah mahkota dewa diperoleh kandungan flavonoid pada buah mentah sebanyak 0,005% yang bermanfaat sebagai antioksidan. Sedangkan Mahmiah (2006), Ellizar dan Yustini (2009), serta Akbar (2010) melakukan isolasi flavonoid pada kulit batang S. hirsfieldii BENN, buah terung pirus dan daun dandang gendis dengan cara maserasi menggunakan pelarut methanol dan etanol 70% kemudian proses pemurnian dilakukan juga dengan KLT dan KK dengan berbagai jenis eluen. Isolat yang

diperoleh dari kulit batang S. hirsfieldii BENN adalah 3,7-dimetoksi kuersetin, pada buah terung pirus berupa golongan flavon-O-glikosida yang berfungsi sebagai senyawa antibakteri, sedangkan pada daun dandang gendis berupa golongan flavon dan flavonol yang berfungsi sebagai antioksidan. Proses identifikasi dan karakterisasi isolat yang diperoleh dari hasil isolasi dan pemurnian dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara, yaitu karakterisasi dengan UV-Vis (seperti yang dilakukan oleh Harsodjo dan Wijono, 2003; Nugrahaningtyas dkk, 2005; Mahmiah, Ellizar dan Yustini, 2009) untuk melihat pergeseran batokromik sehingga dapat diperkirakan posisi ikatan rangkap maupun gugus fungsi lain yang memiliki serapan pada panjang gelombang tertentu; karakterisasi dengan FT-IR (seperti yang dilakukan oleh Harsodjo dan Wijono, 2003; Nugrahaningtyas dkk, 2005; dan Akbar, 2010) untuk mengidentifikasi adanya gugus-gugus fungsi khas yang dimiliki oleh flavonoid pada serapan bilangan gelombang yang khas; dan dengan menggunakan GC-MS ( seperti yang dilakukan oleh Nugrahaningtyas dkk, 2005) untuk dapat mengetahui berat molekul serta perkiraan struktur dari senyawa hasil isolasi. Adapun beberapa hasil karakterisasi dengan FT-IR dan GC-MS dari senyawa flavonoid yang berhasil diisolasi dapat dilihat pada Gambar 3 dan 4.

Gambar 4. Spektrum inframerah senyawa rutin (Harsodjo dan Wijono, 2003)

2.7

Ekstraksi dengan Solven Metanol Ekstraksi adalah suatu metode pemisahan komponen-komponen dari suatu campuran

dimana komponen yang larut masuk ke dalam pelarut yang dipakai sedangkan komponen yang tidak larut akan tertinggal di dalam bahan. Metode yang paling sederhana yang digunakan untuk

mengekstraksi padatan adalah mencampurkan seluruh bahan dengan pelarut, kemudian memisahkannya dari padatan yang tidak terlarut (Lehniger dan Baverloo, 1976). Hasil ekstraksi yang diperoleh tergantung pada kandungan ekstrak yang terdapat pada contoh uji dan jenis pelarut yang digunakan. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan pelarut adalah selektivitas, kapasitas, kemudahan untuk diuapkan, dan harga pelarut tersebut. Prinsip kelarutan adalah like dissolve like, yaitu (1) pelarut polar akan melarutkan senyawa polar, demikian juga sebaliknya pelarut non-polar akan melarutkan senyawa non-polar, (2) pelarut organik akan melarutkan senyawa organik (Khopar, 1990 dalam Yunita, 2004). Ekstraksi daun meliputi sejumlah besar senyawa berbeda yang dapat diekstraksi dari daun dengan menggunakan pelarut polar dan non-polar. Ekstraksi dengan pelarut dapat dilakukan dengan pelarut yang berbeda seperti eter, aseton, benzene, etanol, diklorometana atau campuran dari pelarut-pelarut tersebut. Tahapan yang harus diperhatikan dalam mengekstraksi jaringan tumbuhan adalah penyiapan bahan sebelum ekstraksi yang meliputi penghalusan atau perajangan simplisia, pemilihan pelarut dan kondisi ekstrak, proses pengambilan pelarut, pengawasan mutu dan pengujian serta usulan proses ekstraksi yang akan digunakan (Sabel dan Warren, 1973). Prosedur klasik untuk memperoleh kandungan senyawa organik dari jaringan tumbuhan kering adalah dengan proses ekstraksi berkesinambungan dengan menggunakan sederetan pelarut yang berbeda tingkat kepolarannya (Harborne, 1987). Menurut Markham (1988) dalam bukunya yang berjudul Cara Mengidentifikasi Flavonoid, pelarut yang disarankan untuk mengekstrak flavonoid dari jaringan tumbuhan adalah metanol (MeOH). Prosedur ekstraksi flavonoid ini dilakukan dengan cara maserasi dua tahap, dimana pada tahap pertama dengan menggunakan MeOH:H2O (9:1) dan tahap kedua dengan MeOH:H2O (1:1). Pelarut ditambahkan pada sampel secukupnya sehingga terbentuk bubuk cair, lalu campuran dibiarkan selama 6-12 jam agar proses ekstraksi dapat berlangsung dengan baik. Cara yang serupa juga telah dilakukan oleh Mahmiah (2006) dan Ellizar dan Yustini (2009) pada sampel kulit batang tumbuhan S. horsfieldii BENN dan buah terung pirus. Mahmiah melakukan maserasi dengan metanol yang ditambah dengan air hangat pada suhu 500 C dan flavonoid yang berhasil diisolasi berupa golongan O-glikosida flavon, sedangkan Ellizar dan Yustini melakukan maserasi dengan methanol pada suhu kamar selama 5 hari yang kemudian mendapatkan isolat berupa kuarsetin 3,7-dimetil eter. 2.8 Uji fitokimia

Kimia tumbuhan atau fitokimia adalah cabang kimia organik yang berada diantara kimia organik bahan alam dan biokimia tumbuhan, serta berkaitan erat dengan keduanya. Bidang perhatian dari fitokimia adalah keanekaragaman senyawa organik yang dibentuk dan disimpan oleh tumbuhan, yaitu mengenai struktur kimia, biosintesis, perubahan serta metabolismenya, penyebaran secara ilmiah, dan fungsi biologis (Rafi, 2003). Analisis fitokimia atau uji fitokimia merupakan uji pendahuluan untuk mengetahui keberadaan senyawa kimia spesifik seperti alkaloid, senyawa fenol (termasuk flavonoid), steroid, saponin, dan terpenoid tanpa menghasilkan penapisan biologis. Uji ini sangat bermanfaat untuk memberikan informasi jenis senyawa kimia yang terdapat pada tumbuhan. Senyawa-senyawa ini merupakan metabolit sekunder yang mungkin dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat. Analisis ini merupakan tahapan awal dalam isolasi senyawa bahan alam sehingga menjadi panduan bersama-sama dengan uji aktivitas biologis senyawa tersebut. Tanaman yang diuji fitokimianya dapat berupa tanaman segar, kering yang berupa rajangan, serbuk, ekstrak atau dalam bentuk sediaan (Rafi, 2003). 2.8.1 Alkaloid Menurut Harborne (1987), alkaloid sekitar 5.500 jenis telah diketahui dan merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang terbesar. Tidak ada satupun istilah alkaloid yang memuaskan, tetapi pada umumnya alkaloid mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan sebagai bagian dari system siklik. Alkaloid seringkali bersifat racun bagi manusia dan banyak mempunyai kegiatan fisiologi yang menonjol yang secara luas banyak digunakan dalam bidang pengobatan. Alkaloid biasanya tanpa warna, seringkali bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk kristal tetapi hanya sedikit yang berupa cairan (misalnya nikotina) pada suhu kamar. Uji sederhana yang sama sekali tidak sempurna untuk alkaloid dalam daun atau buah segar adalah rasa pahitnya di lidah. Misalnya, alkaloid kuinina adalah zat yang dikenal paling pahit dan pada konsentrasi molar 1 x 10-3 memberikan rasa pahit yang berarti. Alkaloid dahulu sebagai sumber utamanya hanya berasal dari tanaman yang berbunga (angiospermae). Tetapi pada waktu terakhir ini ternyata alkaloid ditemukan juga dalam beberapa jenis hewan baik yang jidup di laut maupun di darat, berupa serangga, makroorganisme dan tanaman rendah lainnya (Pandji, 1989). Alkaloid dapat ditemukan dalam berbagai bagian tumbuhan seperti biji, daun, ranting dan kulit kayu. Alkaloid

memang jarang ditemukan dalam jaringan mati. Umumnya alkaloid terakumulasi dalam jaringan yang tumbuh aktif seperti epidermis, hypodermis dan kelenjar lateks. Adapun fungsi alkaloid dalam tumbuhan belum diketahui begitu pasti, walaupun beberapa senyawa ditafsirkan

berperan sebagai pengatur atau penolak dan pengikat serangga. Sampai saat ini, penggolongan senyawa alkaloid belum ada yang digunakan secara umum. Hal ini disebabkan karena alkaloid mempunyai struktur yang banyak jenisnya, sehingga penggolongan alkaloid berdasarkan strukturnya untuk membedakan jenis yang satu dengan yang lain sukar dilakukan (Suradikusumah, 1989). Dalam pengobatan, alkaloid memberikan efek fisiologis yang pada umumnya di susunan syaraf pusat, misalnya sebagai obat anti rasa sakit dan obat tidur, dalam jumlah besar sangat beracun bagi manusia (Vickery dan Vickery, 1981). Menurut Sumiwi (1992), fungsi alkaloid bagi tumbuhan antara lain sebagai zat beracun untuk melawan serangga atau hewan pemakan tumbuhan, faktor pengatur tumbuh, substansi cadangan untuk memenuhi kebutuhan akan nitrogen dan elemen-elemen lain yang penting bagi tumbuhan dan hasil akhir reaksi detoksifikasi dari suatu zat yang berbahaya bagi tumbuhan.

2.8.2

Saponin Saponin termasuk dalam golongan senyawa terpenoid dan bagian dari triterpenoid

(diturunkan dari hidrokarbon C30). Saponin merupakan glikosida triterpenoid dan sterol. Senyawa ini merupakan senyawa aktif permukaan yang bersifat seperti sabun dan dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa yang stabil dan dapat menghemolisis sel darah. Pembentukan busa yang mantap sewaktu mengekstrak tumbuhan atau pemekatan ekstrak tumbuhan merupakan bukti adanya saponin. Untuk uji saponin yang sederhana adalah dengan menggunakan ekstrak alkohol, air dari tumbuhan dalam tabung reaksi dan perhatikan terbentuknya busa yang tahan lama pada permukaan cairan (Harborne, 1987). Pada tumbuhan, saponin mempunyai fungsi yang sama dengan triterpenoid karena mengandung turunan dari senyawa ini, diantaranya dapat meningkatkan daya kecambah benih dan menghambat pertumbuhan akar, menghambat pertumbuhan sel-sel tumor pada tumbuhan dan satwa. Saponin digunakan sebagai bahan pencuci karena memiliki sifat emulsi, dapat digunakan untuk meningkatkan kolesterol serum, sebagai zat antibiotik, tahan jamur, anti influenza dan peradangan tenggorokan, sebagai bahan dasar untuk mendapatkan sapogenin yang

berguna untuk menghasilkan hormon pertumbuhan pada satwa dan dapat digunakan sebagai racun ikan (Vickery dan Vickery, 1981). 2.8.3 Triterpenoid dan Steroid Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik, yaitu skualena. Senyawa ini berstruktur siklik yang nisbi rumit, kebanyakan berupa alcohol, aldehida atau asam karboksilat. Mereka berupa senyawa tanpa warna, berbentuk kristal, seringkali bertitik leleh tinggi dan optis aktif, yang umumnya sukar dicirikan karena tak ada kereaktifan kimianya. Uji yang banyak digunakan adalah reaksi Lieberman-Burchard (anhidrida asetat- H2SO4 pekat) yang dengan kebanyakan triterpena dan sterol memberikan warna hijau-biru. Sterol dianggal senyawa satwa (sebagai hormon kelamin, asam empedu dan lain-lain), tetapi pada tahun-tahun terakhir ini makin banyak senyawa tersebut yang ditemukan dalam jaringan tumbuhan. Memang tiga senyawa yang biasa disebut fitosterol mungkin terdapat pada setiap tumbuhan tingkat tinggi: sitosterol, stigmasterol dan kampesterol (Harborne, 1987). Triterpenoid dan turunannya termasuk saponin dan steroid pada tumbuhan berfungsi sebagai racun serangga, bakteri dan jamur. Steroid dapat meningkatkan permeabilitas membran sel dan merangsang proses pembungaan. Dalam pengobatan, senyawa ini berguna sebagai zat antibiotik diantaranya anti jamur, bakteri dan virus. Steroid dapat merangsang aktivitas hormon estrogen dan progesteron pada satwa dan manusia. Steroid menjadi sumber energi bagi mikroorganisme pada pengurai (Vickery dan Vickery, 1981).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


Penelitian ini akan dilaksanakan dalam beberapa tahap pengerjaan yang meliputi pengambilan sampel, preparasi sampel, ekstraksi metabolit sekunder dengan maserasi, mempartisi ekstrak dengan beberapa jenis pelarut yang berbeda kepolaran, uji fitokimia, pemisahan setiap fraksi dengan Kromatografi Lapis Tipis dan Kromatografi Kolom, dan karakterisasi senyawa golongan flavonoid dengan spektrofotometri IR dan GC-MS.

3.1

Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli September 2013 di laboratorium Kimia Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana Kupang.

3.2

Bahan dan Alat

3.2.1 Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun kersen, silica gel GF60, petroleum eter (p.a), metanol (p.a), kloroform, n-butanol, asam asetat, akuades, NH4OH, H2SO4 pekat, NaOH 0,1 N, CH3COONa, Na2CO3, CH3COOPb, pereaksi Mayer, pereaksi Wagner, pereaksi Dragendorf, etanol, eter, anhidridaasetat, FeCl3 1%, serbuk Mg, HCl pekat, amilalkohol. 3.2.2 Alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah pisau, mortal, neraca analitik, gelas beker, corong, erlenmeyer, pipet tetes, pipet volum, rotary evaporator, botol semprot, tabung reaksi, gelas arloji, seperangkat alat KLT, seperangkat alat Kromatografi Kolom, lampu UV 254 nm dan 366 nm, spektrofotometer IR, dan spektrometer GC-MS.

3.3 Tahap-Tahap Pengerjaan 3.3.1 Preparasi Sampel Daun Kersen segar dibersihkan dengan air. Selanjutnya dikeringkan pada suhu kamar di ruangan terbuka yang tidak terkena cahaya matahari secara langsung sampai berat sampel konstan. Dari

proses pengeringan diperoleh sampel kering daun Kersen. Sampel tersebut selanjutnya digiling halus dengan menggunakan mortal atau lumpang. 3.3.2 Ekstraksi Metabolit Sekunder Daun Kersen Serbuk kering daun Kersen sebanyak 2 kg diekstraksi secara maserasi melalui dua tahap, yaitu pertama kali dengan menggunakan pelarut metanol:air (9:1) sebanyak 1 L selama 24 jam kemudian tahap kedua dengan pelarut methanol air (1:1) sebanyak 1 L selama 24 jam. Maserat yang diperoleh lalu dievaporasi pada suhu 600C dengan menggunakan rotary evaporator untuk menghilangkan pelarut yang ada sehingga diperoleh ekstrak yang kental. Ekstrak kental kemudian dipartisi dengan Petroleum Eter (10x25 mL). Ekstrak PE yang diperoleh lalu diuapkan sampai kental, sedangkan ekstrak MeOH:H2O diuapkan sampai semua MeOH menguap. Bagian ekstrak air yang tersisa lalu dipartisi dengan kloroform (8x25 mL) sehingga didapat ekstrak air dan ekstrak kloroform yang selanjutnya masing-masing ekstrak pelarutnya diuapkan sehingga diperoleh ekstrak kental air dan ekstrak kental kloroform. 3.3.3 Uji Fitokimia Setiap ekstrak PE, kloroform dan air dilakukan uji kandungan fitokimianya. Uji fitokimia dilakukan dengan metode Harborne (1987). a) Uji Saponin Sebanyak 0,1 g ekstrak dimasukkan ke dalam gelas piala kemudian ditambahkan 10 mL air panas dan dididihkan selama 5 menit. Setelah itu disaring dan filtratnya digunakan untuk pengujian. Filtrat dimasukkan ke dalam tabung reaksi tertutup kemudian dikocok selama 10 detik dan dibiarkan selama 10 menit. Adanya saponin ditunjukkan dengan terbentuknya buih yang stabil. b) Uji Triterpenoid dan Steroid Sebanyak 0,1 g ekstrak dilarutkan dengan 25 mL etanol panas (500C) kemudian hasilnya disaring ke dalam pinggan porselin dan diuapkan sampai kering. Residu ditambahkan eter dan ekstrak eter dipindahkan ke dalam lempeng tetes kemudian ditambahkan 3 tetes anhidridaasetat dan 1 tetes H2SO4 pekat (Uji Lieberman-Buchard). Warna merah atau ungu menunjukkan kandungan triterpenoid sedangkan warna hijau atau biru menunjukkan kandungan steroid.

c) Uji Tanin Sebanyak 0,1 g ekstrak ditambahkan 10 mL air panas, dididihkan selama 5 menit dan disaring. Sebagian filtrat yang diperoleh ditambahkan larutan FeCl3 1%. Hasil positif ditunjukkan oleh terbentuknya warna hijau kehitaman. d) Uji Flavonoid Uji flavonoid secara umum Sebanyak 0,1 g ekstrak dimasukkan ke dalam gelas piala kemudian ditambahkan 10 mL air panas dan dididihkan selama 5 menit. Setelah itu disaring dan filtratnya digunakan untuk pengujian. Filtrat dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu ditambahkan 0,5 g serbuk Mg, 1 mL HCl pekat, dan 1 mL amilalkohol kemudian dikocok dengan kuat. Uji positif flavonoid ditandai dengan terbentuknya warna merah, kuning, atau jingga pada lapisan amilalkohol. Ekstrak yang mengandung flavonoid dengan konsentrasi paling tinggi (dilihat dari intensitas warna) digunakan untuk proses isolasi dan identifikasi golongan flavonoid. Uji golongan flavonoid secara khusus Sebanyak 0,1 g ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan beberapa pereaksi spesifik untuk mengidentifikasi golongan flavonoid. Warna hasil reaksi dari masing-masing pereaksi tertera pada tabel 2. 3.3.4 Isolasi dan Karakterisasi Golongan Flavonoid Ekstrak difraksinasi menggunakan Kromatografi Kolom dengan elusi gradien. Analisis eluen terbaik dilakukan menggunakan KLT. Plat KLT GF254 atau GF366 digunakan sebagai fase diam. Eluennya adalah berbagai macam pelarut yang berbeda kepolarannya yaitu n-butanol, asam asetat, dan air (BAA). Noda pemisahan dideteksi di bawah lampu UV 254 nm atau 366 nm. Pemisahan dengan Kromatografi Kolom dilakukan dengan menampung fraksi tiap 5 mL. Laju alir eluen yang dipakai ialah 0,2 mL/menit. Fraksi kemudian diperiksa dengan menggunakan KLT dengan larutan pengembang yang sama. Fraksi yang memberikan nilai Rf dan noda yang sama digabungkan dan dilakukan uji flavonoid untuk tiap fraksi. Fraksi yang positif mengandung flavonoid lalu dikarakterisasi dengan menggunakan spektrofotometer IR dan spektrometer GCMS. Melalui spektrofotometer IR akan dianalisis apakah spekrum yang dihasilkan menunjukkan serapan karakteristik OH dengan intensitas yang tinggi dan melebar pada daerah 3300-3500 cm-

, serapan tajam gugus karbonil pada daerah 1540-1870 cm-1, serapan C=C aromatik pada daerah

1500 cm-1, dan serapan C-H alifatik pada daerah 2800-2900 cm-1. Sedangkan melalui GC-MS dapat diukur kemurnian isolatnya dari spektra kromatogram dan informasi fragmentasi dari spektra massa dapat dibandingkan dengan literatur yang ada sehingga dapat ditentukan senyawa golongan flavonoid yang telah diisolasi.

DAFTAR PUSTAKA
Akbar, H. R., 2010, Isolasi dan Identifikasi Golongan Flavonoid Daun Dandang Gendis (Clinacanthus nutans) Berpotensi Sebagai Antioksidan [skripsi], Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. Alisyahbana, H.M., D.A. Limyati, M. Ervina & R. Halim., 2002, Perbedaan Daya Antioksidan dari Daun Dewa (Gynura procumbens (Lour) Merr), Jurnal Obat Bahan Alam 1(2) : 19-23. Cavalier-Smith, T, 1992, Origins of Secondary Metabolism, op cit. Chadwick, D.J. and Whelan, J., Secondary Metabolites: Their Function and Evolution, Ciba Symposium 171, John Wiley & Sons, New York, 64-87. Dalimartha, S., 1999, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid I-V, Jakarta: Trubus Agriwidya. Dewick, P.M., 1999, Medicinal Natural Products: A Biosynthetic Approach. John Wiley & Sons Ltd. England. Ellizar & Yustini Maaruf, 2009, Isolasi Flavonoid dan Uji Bioaktivitas Dari Terung Pirus (Cyphomandra betacea (Cav.) Sendtn), SAINSTEK Vol.XII 1: 26-32. Fessenden R.J., Fessenden J.S., 1986, Kimia Organik Edisi Ketiga, terjemahan: Aloysius H. Pujaatmaka, Erlangga, Jakarta. Halliwell, B., and Gutteridge, J.M.C., 1995, Free Radical in Biology and Medicine, Oxford University Press, New York. Harborne, J.B., 1987, Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan, Padmawinata, K., Soedira, I., penerjemah; Bandung: Penerbit Institut Teknelogi Bandung, Terjemahan dari: Phytochemical Methods. Hariyatmi, 2004, Kemampuan Vitamin Sebagai Antioksidan Terhadap Radikal Bebas Pada lanjut Usia, MIPA. Harsodjo S. dan Wijono S., 2003, Isolasi dan Identifikasi Flavonoid Pada Daun Katu (Sauropus androgynus (L.) Merr), Makara Sains, Vol. 7- (2): 51-64. Ketaren, S., 1986, Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan, universitas Indonesia Press, Jakarta. Lehniger, H.H, and Baverloo, W.A., 1976, Food Process Engineering, Boston: D Reidel Pulb Co. Foundation

Lenny, Sofia, 2006, Senyawa Terpenoida dan Steroida [karya ilmiah], Medan: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara. Mahmiah, 2006, Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid dari Kulit Batang Tumbuhan Saccopetalum hirsfieldii BENN, Indo. J. Chem., 6 (3): 312-315. Markham, K.R., 1988, Techniques of Flavonoids Identification, diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata, Bandung: Penerbit ITB. Maryuni, A.E., 2002, Pengaruh Pemberian Dekokta Daun Jati Pada Tikus Putih Hiperglikemik, [Skripsi], Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. Nugrahaningtyas, K.D, S. Matsjeh, T. D. Wahyuni, 2005, Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid dalam Rimpang Temu Ireng (Curcuma aeruginosa Roxb.), Biofarmasi, 3 (1): 32-38. Pandji, C., 1989, Bahan Pengajaran Biosintesis dan Biogenesis Turunan Alkaloid, Bogor: Pusat Antar Universitas Bioteknologi ITB, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Prakash, D. R., 1988, Cara Mengidentifikasi Flavonoid, ITB, Bandung Rafi, M., 2003, Identifikasi Fisik dan Senyawa Kimia pada Tumbuhan Obat: Fokus pada Tanaman Obat untuk Diabetes Mellitus, Di dalam: Pelatihan Tanaman Obat (Swamedikasi): Pengobatan Penyakit Diabetes Mellitus, 3-4 Mei 2003, Bogor: Pusat Studi Biofarmaka Lembaga Penelitian IPB. Rohyami, Yuli., 2008, Penentuan Kandungan Flavonoid dari Ekstrak Metanol Daging Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa Scheff Boerl), Jurnal Penelitian dan

Pengabdian, Vol.5-No.1-2005. Sabel, W., dan Warren, J.D.F., 1973, Theory and Practice of Oleoresin Extraction, London: Tropical Products Institute. Smith, H., 1972, Dalam Phytochrome (K. Mitrakos dan W. Shropshire, pny.), hal. 433, New York and London: Academic Press. Sumiwi, 1992, Kromatografi Lapis Tipis Alkaloid dari Daun Kelor (Moringa oleifera L.), Laporan Penelitian, Bandung: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Padjajaran.

Suradikusumah, E., 1989, Kimia Tumbuhan, Bogor: Pusat Antar Universitas Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor. Vickery, M.L. and Vickery, B., 1981, Secondary Plant Metebolism, London and Basiing Stoke: The Memillan Press Ltd. Wijaya, A., 1996, Radikal Bebas dan Parameter Status Antioksidan, Laboratorium Klinik Prodia. Winarno, F.G., 1992, Kimia Pangan Dan Gizi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Winarsi, W., 2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas, Penerbit Kanisius Laboratorium Klinik Prodia Wink, M., 1999, Functions of Plant Secondary Metabolites and Their Exploitation in Biotechnology, Annual Plant Review, Vol.3. Yunita, F.C., 2004, Ekstraksi Daging Biji Picung (Pangium edute) dan Uji Toksisitas Terhadap Artemia salina L, [skripsi], Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Institut Pertanian Bogor. Alam,