Anda di halaman 1dari 8

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Saat ini lebih dari 450 juta penduduk dunia hidup dengan gangguan jiwa. Di Indonesia, berdasarkan Data Riskesdas tahun 2007, menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional seperti gangguan kecemasan dan depresi sebesar 11,6% dari populasi orang dewasa. Berarti dengan jumlah populasi orang dewasa Indonesia lebih kurang 150.000.000 ada 1.740.000 orang saat ini mengalami gangguan mental emosional. Mengingat besarnya masalah tersebut, setiap tanggal 10 Oktober diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Peringatan World Mental Health Day (WMHD) tahun 2009 merupakan Kampanye Kesadaran Global (Global Awareness Campaign) yang bertujuan untuk melanjutkan harapan menjadikan kesehatan jiwa sebagai prioritas global (make mental health health issues a global priority). Dengan demikian diharapkan tidak ada lagi diskriminasi dan pelanggaran hak asasi manusia dengan masalah kejiwaan (ODMK). Kesehatan jiwa adalah bagian integral dari aspek kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan.

BAB 2 TINJAUAN TEORI

2.1 Masalah Kesehatan Jiwa di Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang secara geografis terletak di kawasan Asia Tanggara. Secara historis, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki riwayat dijajah selama ratusan tahun bukan hanya oleh negara-negara dari Eropa tetapi juga dari negara dari kawasan Asia sendiri. Mungkin karena terlalu lama dijajah dan diperas ini menyebabkan bangs Indonesia mengalami kemajuan yang lambat dalam banyak hal dibanding negara Asia Tenggara lainnya seperti Singapura dan Malaysia. Kalo kita lihat sejarah dari saya lahir sampe segedhe ini, Indonesia masih saja disebut sebagai negara berkembang (developed country). Bahkan saya pernah mendengar "sruwingsruwing" bahwa Indonesia telah masuk golongan negara dunia ketiga. What an ironic. Cukup bicara tentang sejarah Indonesia yang bikin hati miris. Tapi.. kalo dipikirpikir lagi mungkin juga karena hal di atas, banyak masalah yang tidak diperhatikan oleh pemerintah kita, salah satunya adalah masalah kesehatan jiwa. Sampai era millenium ini maslah kesehatan jiwa masih dipandang sebelah mata. Kesehatan jiwa tidak pernah menjadi prioritas program kesehatan di kemenkes. Kesehatan jiwa tidak menjadi indikator keberhasilan program kesehatan nasional. Cukup memprihatinkan. Padahal kalo kita perhatikan pengertian kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Seseorang tidak bisa dikatakan sehat apabila salah satu dari unsur tadi tidak sehat. Masih ingat pepatah latin lama Mens sana in corpore sano (a healthy mind in a healthy body)? Kayaknya saya kurang sependapat. Kalo kita lihat dari hot issue yang dirilis WHO tahun 2009 saat hari kesehatan jiwa sedunia, bahwa tidak ada kesehatan tanpa sehat jiwa (no health without mental health) maka pepatah latin tersebut terpatahkan. Menurut WHO (World Health Organization) pada tahun 2020 diperkirakan gangguan jiwa terutama cemas dan depresi akan menjadi penyebab kematian kedua setelah penyakit jantung. Semakin beratnya persaingan dan tekanan hidup ditengarai sebagai penyebab meningkatnya jumlah gangguan jiwa.

Kembali ke masalah kesehatan jiwa di Indonesia. Karena masalah kesehatan jiwa tidak menjadi prioritas dan indikator kesehatan, maka tidak banyak program kegiatan dalam upaya pelayanan kesehatan. Selama ini pelayanan kesehatan jiwa hanya dititikberatkan pada pengobatan dan perawatan di rumah sakit. Padahal jika kita lihat dari besarnya jumlah penderita gangguan jiwa yang harus dirawat dengan jumlah tempat tidur yang ada masih belum seimbang. Berdasarkan riskesdas (2007), estimasi jumlah gangguan jiwa berat di Indonesia adalah 0,46% dari seluruh penduduk dewasa Indonesia. Jika penduduk Indonesia dewasa sebanyak 70% dari seluruh penduduk, maka 0,46%-nya mengalami ganggua jiwa berat. Maka estimasai jumlah gangguan jiwa berat di Indonesia adalah sekitar 1,75 juta jiwa. Secara nasional, fasilitas kesehatan dasar yang dimiliki adalah puskesmas berjumlah 8.932 buah dengan layanan kesehatan jiwa (rawat jalan) dan 48 RS khusus jiwa serta rumah sakit umum dengan layanan rawat jalan dan inap dengan kapasitas tempat tidur (TT) 7.700 buah. Bila 1 (satu) % dari satu juta jiwa penderita gangguan jiwa berat memerlukan layanan rawat inap, berarti baru sekitar 7.700 orang yang bisa dilayani rawat inap, sedang sisanya ada ditengah masyarakat tanpa mendapatkan perawatan yang berkualitas. Sehingga penderita gangguan jiwa banyak yang tidak mendapatkan perawatan yang tepat dan bahkan hak-haknya dirampas dengan dipasung. Dari fakta tersebut, maka dibutuhkan sistem layanan kesehatan jiwa yang komprehensif, sehingga seluruh penderita gangguan jiwa bisa mendapatkan akses pelayanan kesehatan jiwa yang berkualitas. Pelayanan kesehatan jiwa berbasis masyarakat diperlukan dalam penanganan masalah kesehatan jiwa di masyarakat. Berdasarkan renstra Kemenkes RI tahun 20102014, pembangunan kesehatan dititkberatkan pada peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setingg-tingginya dapat terwujud. Untuk mencapai itu semua diperlukan strategi. Paradigma kesehatan di Indonesia berfokus pada peningkatan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat. Kemandirian masyarakat dalam menangani masalah kesehatannya menjadi tujuan utama perawatan kesehatan di komunitas. Pemberdayaan keluarga dan komunitas merupakan salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dalam menjaga kesehatannya. Komunitas/masyarakat digugah agar dapat bersama-sama peduli dan aktif melakukan upaya kesehatan sehingga terwujud derajat kesehatan jiwa yang berkualitas ditengah-tengah masyarakat. Pemberdayaan dalam masyarakat ini digerakan melalui kader kesehatan yang dilatih tentang kesehatan jiwa.

BAB 3 PEMBAHASAN

3.1 Dasar Undang-Undang Kesehatan Jiwa Di Indonesia Negara-negara Asia seperti Jepang, Cina dan Korea telah memiliki UU Kesehatan Jiwa. Adapun keperluan Indonesia memiliki UU Kesehatan Jiwa adalah untuk memberikan perlindungan yang menyeluruh kepada para penderita gangguan jiwa yang pada berbagai kondisi rentan mengalami perlakuan salah. Tahun 1966 kita pernah mempunyai UU Kesehatan Jiwa walaupun akhirnya tidak berlaku lagi. Permasalahan kesehatan jiwa sebenarnya tidak hanya dipandang sebagai masalah kesehatan saja. Hal ini sangat tergantung juga pada faktor sosial, hukum dan budaya di negara masing-masing. Alasan ini pula yang membuat kita tidak dapat hanya menyelipkan pasal-pasal tentang Kesehatan Jiwa pada UU Kesehatan yang telah ada. Hal ini karena pada prakteknya kesehatan jiwa akan terhubung dengan banyak pemegang kebijakan di berbagai kementrian yang ada di republik ini bahkan lintas sektoral termasuk swasta. Untuk itulah diperlukan adanya UU tersendiri yang mengatur masalah kesehatan jiwa. UU ini juga diharapkan akan memberikan akses yang besar kepada masyarakat berkaitan dengan pelayanan kesehatan jiwa yang masih sulit didapatkan di beberapa daerah. Bukan hanya pada pelayanan kesehatan jiwa semata tetapi juga perlindungan hukum dan sosial, advokasi dan hal-hal yang berhubungan dengan penderita gangguan jiwa. Hal ini tentunya juga termasuk dalam pembiayaan bagi para penderita gangguan jiwa baik yang diharapkan datang dari pemerintah maupun keterbukaan pihak asuransi swasta dalam menanggung penderita gangguan jiwa. Kita berharap ke depan para wakil rakyat kita di DPR mampu untuk menggolkan RUU Kesehatan Jiwa ini menjadi UU agar saudara-saudara kita yang menderita gangguan jiwa mendapatkan pelayanan kesehatan serta perlindungan hukum dan sosial yang semestinya. Inilah investasi di Kesehatan Jiwa.

3.2 Strategi Kesehatan Jiwa Di Indonesia 1. Advokasi kebijakan publik yang memperhatikan masalah kesehatan jiwa 2. Peningkatan jumlah dan mutu SDM kesehatan Jiwa 3. Integrasi pembiayaan Pelayanan Kesehatan Jiwa melalui system asuransi kesehatan 4. Desentralisasi program kesehatan Jiwa pada propinsi/kabupaten/kota 5. Pemantapan kerjasama lintas sector dan kemitraan dengan swasta 6. Pemberdayaan masyarakat melalui promosi kesehatan jiwa

BAB 4 PENUTUP

4.1 Kesimpulan Kesehatan jiwa telah dipandang dengan penuh stigma sejak lama. Kehadirannya dianggap tidak lebih penting dibandingkan dengan kondisi kesehatan fisik. Padahal dalam definisi kesehatan jiwa menurut WHO, kesehatan individu tidak hanya bergantung pada tiadanya penyakit tetapi juga keseimbangan psikologis dan fungsi sosialnya juga (Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity., WHO). Orang lebih melihat Kesehatan Jiwa sebagai bagian dari sakit jiwa alias GILA. Padahal kesehatan jiwa adalah bagian yang paling banyak terintegrasi dalam semua aspek kehidupan. Pendidikan, hukum, perlindungan anak dan perempuan, kesehatan, sosial, budaya, bahkan politik dan keamanan. Semua membutuhkan suatu pendekatan kesehatan jiwa dalam artian yang lebih luas daripada sekadar berbicara tentang mengobati pasien sakit jiwa. Sayangnya dalam hal ini peran negara dan pemerintah belum begitu kelihatan dalam mengaplikasikan kesehatan jiwa dalam setiap ranah kehidupan. Tidak usah jauhjauh bicara tentang aspek kesehatan jiwa di bidang non-kesehatan, sedangkan di bidang kesehatan jiwa sendiri, para penderita sakit jiwa sering merupakan bagian yang termarginalkan dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. Selain tidak mendapatkan pelayanan yang semestinya, penderita gangguan jiwa juga mendapatkan stigma dari masyarakat yang memang belum memahami gangguan jiwa sebagai bagian dari kesehatan secara keseluruhan. Pemasungan jadi sesuatu hal yang paling dianggap terbaik dalam penanganan kasus gangguan jiwa berat. Belum lagi jika kita bicara tentang peran media dan masyarakat yang seringkali menempatkan penderita gangguan jiwa terutama yang berat sebagai bahan eksploitasi dan dramatisasi hal yang tidak semestinya. Pemberitaan pasien gangguan jiwa terkadang tidak menjunjung tinggi asas-asas kemanusiaan dan hak asasi manusia. Dramatisasi lebih

ditekankan daripada pembelajaran agar masyarakat lebih mengerti tentang kondisi kesehatan jiwa yang tidak sesempit kata gila. Ini hanya jika berbicara tentang gangguan jiwa berat yang lebih sering dipahami secara salah oleh masyarakat. Belum lagi kita bicara tentang kasus-kasus terkait kesehatan jiwa lainnya seperti kecemasan, depresi, psikosomatik, kenakalan anak dan remaja, perlindungan perempuan, kekerasan rumah tangga dan peran hukum bagi para penderita gangguan jiwa.

DAFTAR PUSTAKA http://syehaceh.wordpress.com/2009/03/16/pelayanan-kesehatan-jiwa-komunitas-diindonesia/