Anda di halaman 1dari 20

PERCOBAAN II PENGUJIAN AKTIVITAS LARVASIDA EKSTRAK DAUN TAPAK DARA (Catharantus roseus L.

), EKSTRAK KULIT BATANG CEMPEDAK (Artocarpus champeden) DAN EKSTRAK BIJI PEPAYA (Carica papaya) TERHADAP LARVA NYAMUK Culex sp. A. Tujuan 1. Mengetahui dan memahami teknik pengujian larvasida dengan menggunakan larva nyamuk sebagai hewan uji. 2. Mengetahui aktivitas larvasida ekstrak daun tapak dara (Catharantus roseus L.G Don), ekstrak kulit batang cempedak (Artocarpus chempeden) dan ekstrak biji pepaya (Carica papaya) terhadap larva nyamuk Culex sp 3. Mengetahui nilai LC95 ekstrak daun tapak dara (Catharantus roseus L.G Don), ekstrak kulit batang cempedak (Artocarpus chempeden) dan ekstrak biji pepaya (Carica papaya) terhadap larva nyamuk Culex sp.

B.

Dasar Teori 1. Uraian Tanaman a. Daun tapak dara 1) Klasifikasi Kingdom : Plantae Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Spermathopyta : Magnoliopsida : Gentialanes : Apocynaceae : Catharantus : Catharantus roseus L. (Suenanto, 2009) 2) Morfologi Tapak dara (Catharantus roseus L.) merupakan famili Apocynaceae. Memiliki nama daerah ratal-rutul, usia, cakar ayam,

26

kembang serdadu, dan kembang sari cina. Tapak dara termasuk tanaman semak atau terna tahunan yang tingginya bisa mencapai 120 cm, batangnya berbentuk bulat tidak berkayu, daun merupakan daun tunggal bertangkai pendek. Helai daun berbentuk elips dengan ujung runcing dan tepi rata (Dewani, 2008). 3) Kandungan kimia dan kegunaan Zat aktif dalam daun tapak dara yang berfungsi sebagai anti kanker adalah vincristin. Pada akar, batang, daun dan biji tapak dara ditemukan lebih dari 70 macam alkaloid (Dewi, 2009). b. Kulit batang cempedak 1) Klasifikasi Kingdom : Plantae Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Urticales : Moraceae : Artocarpus : Artocarpus champeden (Rukmana, 1997) 2) Morfologi Pohon cempedak tingginya dapat mencapai 20 meter. Daun tipis agak kaku seperti kulit, bertangkai bulat telur terbalik sampai sorong, bertepi rata dengan pangkal berbentuk pasak sampai membulat dan ujung meruncing (Rukmana, 1997). 3) Kandungan Kimia dan kegunaan Kulit batang cempedak bermanfaat sebagai antitumor dan antimalaria. Kulit batang cempedak mengandung senyawa utama golongan flavonoid antara lain artokarpin, heteroflavanon-A, senyawa baku siklocampedal bersama dengan 4 senyawa triterpen yaitu sikloeukulenol, glukinol, sikloartenon dan 24metilensikloortonon serta suatu sterol, sitosterol (Nuri, 2007).

27

c. Biji buah pepaya 1) Klasifikasi Dalam sistematika tumbuh-tumbuhan tanaman pepaya

dikasifikasikan sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angosperince Kelas Ordo Famili Spesies : Dicotylectonae : Caricales : Caricaceca : Carica papaya L. (Suprapti, 2005) 2) Morfologi Berdasarkan bentuk dan susunan tubuh bagian luarnya, tanaman pepaya termasuk tanaman perdu namun apabila ditinjau dari umur hingga sampai saat berbunganya dapat dikategorikan sebagai tanaman buah semusim. Tanaman pepaya memiliki sistem perakaran yang berupa akar tunggang. Batang tanaman pepaya berbentuk bulat lurus, berbuku-buku, berongga dibagian tengahnya dan tidak berkayu. Daun pepaya bertulang menjalar dengan warna hijau tua (Suprapti, 2005). 3) Kandungan kimia dan kegunaan Biji pepaya mengandung glucoside carpaine dan glucoside cacirin dapat berkhasiat sebagai obat cacing, meluruhkan haid dan sebagai karminatif (Dalimartha, 2009). 2. Larvasida Larvasida adalah istilah yang digunakan bagi bahan kimia yang dipakai untuk membunuh bentuk dewasa dari anthoropoda. Contoh dari larva adalah nyamuk Culex fatigans. Klasifikasi dari Culex fatigans adalah sebagai berikut :

28

Kingdom : Animalia Phylum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Arthropoda : Insecta : Diptera : Culcidae : Culex : Culex fatigans

Nyamuk ini termasuk ordo Diptera. Ciri-ciri Diptera adalah sebagai berikut: a. Memiliki satu pasang sayap depan dan sayap belakang dapat mengalami redukasi membentuk haiter (alat keseimbangan) b. Mengalami metamorfosis sempurna c. Tipe mulut menusuk dan menghisap serta menjilat d. Memiliki tubuh ramping Pada nyamuk betina, bagian mulutnya membentuk probasis untuk menembus kulit mamalia (atau dalam bagian kasus burung atau juga reptilia dan amfibia) untuk menghisap darah. Nyamuk betina memerlukan protein untuk pembentukan telur dan oleh karena nyamuk diet terdiri dari madu dan jus buah, yang tidak mengandung protein, kebanyakan nyamuk betina perlu menghisap darah untuk mendapatkan protein yang diperlukan. Nyamuk jantan berbeda dengan nyamuk betina, dengan bagian mulut yang tidak sesuai untuk menghisap darah. Agak rumit nyamuk betina dari satu genus toxorhynahites yang tidak pernah menghisap darah. Larva nyamuk besar ini merupakan pemangsa jentik-jentik nyamuk yang lain (Kusnindar, 2007). Morfologi nyamuk sebagaimana pada serangga lainnya mempunyai tanda pengenal diantaranya terdiri dari 3 bagian yaitu kepala, dada dan perut. Pada kepala terdapat sepasang antena yang berbulu dan moncong yang panjang (probosas) untuk menusuk kulit hewan atau manusia dan

29

menghisap darahnya. Pada dada ada 3 pasang kaki yang beruas serta sepasang sayap depan dan sayap belakang yang mengecil dan berfungsi sebagai penyeimbang (Iskandar, 1986). Nyamuk genus Culex merupakan nyamuk yang banyak terdapat disekitar kita nyamuk ini termasuk serangga yang beberapa spesiesnya terbukti berperan sebagai vektor penyakit yang penting seperti west nille, filariacisis, japanese enchepalitis, St. Louis enchepatitis (Rahmawati, 2013). Siklus nyamuk secara sempurna melalui empat stadium yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Pertama stadium telur, pada waktu dikeluarkan telur berwarna putih dan berubah menjadi hitam dalam waktu 30 menit telur ditetaskan satu demi satu dipermukaan air atau sedikit dibawah permukaan air dalam jarak lebih kurang 2,5 cm dari tempat perindukan. Telur dapat bertahan hingga berbulan-bulan dalam suhu 2-4oC namun akan menetas dalam waktu 1-2 hari pada kelembapan rendah pada kondisi normal, telur yang direndam dalam air akan menyerap sekitar 80 % dihari pertama dan 0,5 % dihari kedua. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tetas telur adalah suhu pH air, pelindung, cahaya serta kelembapan, disamping fertilitas telur itu sendiri (Kusnindar, 1990). Stadium kedua yaitu larva, setelah menetas kemudian berkembang menjadi larva (jentik-jentik). Pada fase ini, dapat dipengaruhi oleh suhu, pH air perindukkan, ketersediaan terhadap makanan, cahaya, kepadatan larva, lingkungan hidup serta dengan adanya predator. Adapun ciri-ciri dari larva antara lain: a. Adanya corong udara pada segmen terakhir b. Pada segmen abdomen tidak dijumpai adanya rambut yang berbentuk kipas c. Pada corong udara terdapat pecten d. Setiap sisi abdomen segmen 8 ada combscale sebanyak 8-21 e. Buat individu bentuk combscale seperti duri

30

f. Pada sisi thyrax terdapat duri panjang dengan bentuk kurva dan adanya sepasang rambut di kepala (Hendarto, 2010) Larva bergerak sangat lincah dan aktif, larva mengambil makanan di dasar wadah. Temperatur optimal untuk perkembangan larva adalah 25oC30oC. Larva berubah menjadi pupa yang memerlukan 4-9 hari melewati fase yang disebut sebagai instar. Perubahan tersebut dapat disebabkan larva mengalami pelepasan kulit atau disebut ecdisi atau moulting. Perkembangan dari instar I ke II berlangsung dalam 2-3 hari, kemudian dari instar II ke III dalam waktu 2 hari dan dari III ke IV dalam waktu 3 hari (Poerwosudarmo, 1993). Setelah keluar dari selongsong pupa, nyamuk akan diam beberapa saat di selongsong untuk mengeringkan sayap. Nyamuk betina dewasa menghisap darah sebagai makanannya, sedangkan nyamuk jantan hanya memakan sari buah dan bunga. Nyamuk dapat hidup dengan baik pada suhu 24oC-39oC, dan akan mati bila pada suhu 6oC dalam waktu 24 jam. (Iskandar, 1985) Larvasida merupakan golongan dari pestisida yang dapat membunuh serangga yang belum dewasa dan sebagai pembunuh larva. Larvasida berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua suku kata yaitu lar berarti serangga belum dewasa dan sida berarti pembunuh. Jadi larvasida dapat diartikan sebagai pembunuh serangga yang belum dewasa atau pembunuh ulat (larva) (Rumengan, 2010). Berbagai larvasida dan insektisida telah digunakan untuk membunuh larva dan nyamuk dewasa. Penggunaan senyawa kimia sintetik sebagai insektisida ini dapat menyebabkan sifat resisten pada nyamuk. Biopeptisida yang berupa agen hayati dan bahan nabati merupakan salah satu alternatif pengendalian yang ramah lingkungan, mudah

diaplikasikan dan tidak berbahaya bagi musuh alami dan serangga menguntungkan lainnya (Astuti, 2011).

31

C.

Alat dan Bahan 1. Alat a. Batang pengaduk b. Botol vial c. Cawan porselin d. Corong e. Gelas kimia 100 mL, 500 mL f. Labu ukur 100 mL g. Pipet tetes h. Spatel i. Spoid 5 mL j. Timbangan analitik k. Vortex 2. Bahan a. Air hujan b. Aluminum foil c. Aquades d. Ekstrak biji pepaya e. Ekstrak daun tapak dara f. Ekstrak kulit batang cempedak g. Larva nyamuk Culex sp. h. Tween 80

D.

Prosedur Kerja 1. Pembuatan larutan stok bahan uji a. Ditimbang ekstrak sesuai dengan perhitungan. b. Dilarutkan ekstrak tersebut dengan sedikit aquades, ditambahkan tween 80 sedikit demi sedikit bila tidak larut. c. Dimasukkan ke dalam labu ukur, lalu ditambahkan aquades hingga tanda batas. d. Dihomogenkan dengan membolak-balikkan labu ukur.

32

2. Pengujian larvasida a. Dikalibrasi sejumlah botol vial dengan volume tiap vial 10 mL b. Dibuat 3 replikasi untuk tiap sampel uji. c. Dibuat 5 variasi konsentrasi 0,5%; 1%; 1,5%; 2% dan 2,5% dari larutan stok yang telah dibuat d. Dimasukkan larva nyamuk Culex sp. sebanyak 20 ekor di dalam masing-masing botol vial. e. Ditambahkan larutan ekstrak uji sesuai konsentrasi yang telah ditentukan pada tiap botol vial, ditambahkan dengan aquades hingga tanda batas. f. Ditutup botol vial dengan aluminum foil dan dilubangi g. Diamati dan dicatat jumlah larva nyamuk yang mati setelah 24 jam. h. Dihitung nilai LC95 dengan menggunakan metode analisis Reed and Muench

33

E.

Hasil pengamatan 1. Tabel pengamatan a. Tabel kematian 1) Ekstrak biji pepaya Replikasi 1 2 3 Kematian Kontrol 0 0 0 0 Konsentrasi 0,5 % 17 13 15 45 1% 20 18 20 58 1,5 % 20 17 19 56 2% 20 19 20 59 2,5 % 20 20 20 60

2) Ekstrak tapak dara Replikasi 1 2 3 Kematian Kontrol 0 0 0 0 Konsentrasi 0,5 % 5 1 15 21 1% 11 6 8 25 1,5 % 10 8 7 25 2% 4 9 12 25 2,5 % 17 18 15 50

3) Ekstrak kulit batang cempedak Replikasi 1 2 3 Kematian Kontrol 1 0 1 2 Konsentrasi 0,5 % 18 11 16 45 1% 13 17 15 45 1,5 % 17 18 7 42 2% 12 13 12 36 2,5 % 12 9 4 25

34

b. Tabel Reed and Muench 1) Ekstrak biji pepaya


Konsentrasi (ppm) Kontrol 5000 10000 15000 20000 25000 Log konsentrasi 3,69 4 4,17 4,3 4,39 Total Mati 0 45 58 56 59 60 Hidup 20 15 2 4 1 0 Terakumulasi X 0 45 103 159 218 278 Y 42 22 7 5 1 0 Total 42 67 110 164 219 278 Rasio X:(X+Y) 0 0,67 0,93 0,96 0,99 1 Kadar (%) 0% 67% 93% 96% 99% 100%

2) Ekstrak tapak dara


Konsentrasi (ppm) Kontrol 5000 10000 15000 20000 25000 Log konsentrasi 3,69 4 4,17 4,3 4,39 Total Mati 0 21 25 25 25 50 Hidup 20 39 35 35 35 10 Terakumulasi X 0 21 46 71 96 146 Y 42 154 115 80 45 10 Total 42 175 161 151 141 156 Rasio X:(X+Y) 0 0,12 0,28 0,47 0,68 0,93 Kadar (%) 0% 12% 28% 47% 68% 93%

3) Ekstrak kulit batang cempedak


Konsentrasi (ppm) Kontrol 5000 10000 15000 20000 25000 Log konsentrasi 3,69 4 4,17 4,3 4,39 Total Mati 2 45 45 42 36 25 Hidup 58 15 15 18 24 35 Terakumulasi X 2 47 92 134 178 195 Y 165 107 92 77 59 35 Total 167 154 184 211 229 230 Rasio X:(X+Y) 0,012 0,305 0,5 0,635 0,742 0.848 Kadar (%) 1,2% 30,5% 50% 63,5% 74,2% 84,8%

Keterangan: X = Mati, Y = Hidup

35

2.

Perhitungan a. Pembuatan larutan stok 5% 5 % = 5 gram dalam 100 mL m m

Jadi ditimbang 2,5 gram ekstrak dan dilarutkan dalam 50 mL aquades b. Larutan seri konsentrasi 1) 0,5%

m 2) 1%

m 3) 1,5%

m 4) 2%

m 5) 2,5%

36

c. Perhitungan ppm 1) 0,5% m 2) 1% m 3) 1,5% m 4) 2% m 5) 2,5% m

d. Metode Reed and Munch 1) Ekstrak biji buah pepaya a) Nilai h a a

= 0,66 b) Nilai i i = Log 15000 Log 10000 = 4,17 4 = 0,17

37

c) Nilai g g=h i 0,17

= 0,66 = 0,11 d) Nilai y

y = g + Log s = 0,11 + Log 10000 = 0,11 + 4 = 4,11 e) LC95 LC95 = antilog y = antilog 4,11 = 12882 ppm 2) Ekstrak daun tapak dara a) Nilai h a a

= 0,88 b) Nilai i i = Log 25000 Log 20000 = 4,39 4,3 = 0,09 c) Nilai g g=h i 0,09

= 0,88

38

= 0,0792 d) Nilai y y = g + Log s = 0,0792 + Log 20000 = 0,0792 + 4,3 = 4,3792 e) LC90 LC90 = antilog y = antilog 4,3792 = 23944,18 ppm 3) Ekstrak kulit batang cempedak a) Nilai h a a

= 0,547 b) Nilai i i = Log 25000 Log 20000 = 4,398 4,301 = 0,097 c) Nilai g g=h i 0,097

= 0,547 = 0,053 d) Nilai y

y = g + Log s = 0,053 + Log 20000

39

= 4,354 e) LC80 LC80 = antilog y = antilog 4,354 = 22594 ppm

40

F.

Pembahasan Larvasida adalah golongan dari pestisida yang dapat membunuh serangga belum dewasa atau sebagai pembunuh larva. Pemberantasan nyamuk menggunakan larvasida merupakan metode yang baik untuk mencegah pertumbuhan dan penyebaran nyamuk. Parameter aktivitas larvasida suatu senyawa kimia dapat dilihat dari kematian larva. Pemakaian senyawasenyawa kimia sebagai larvasida dapat memberikan dampak negatif bagi kehidupan manusia, hewan dan polusi lingkungan. Hal tersebut mendorong untuk ditemukan dan digunakannya larvasida dari bahan-bahan alami yang berasal dari tumbuhan sehingga lebih ramah bagi lingkungan hidup. Percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak biji papaya, ekstrak daun tapak dara dan ekstrak kulit batang cempedak sebagai larvasida. Hewan uji yang digunakan adalah nyamuk Culex sp. instar III. Nyamuk Culex sp. ini digunakan karena memiliki siklus hidup yang cepat dan mudah diamati. Telur nyamuk akan menetas dalam waktu 1-3 hari pada suhu 30oC. Stadium larva berlangsung selama 6-8 hari. Stadium larva dibagi menjadi 4 tingkatan perkembangan instar. Instar I terjadi setelah 1-2 hari telur meneta, instar II terjadi setelah 2-3 hari telur menetas, instar III terjadi setelah 3-4 hari telur menetas dan instar IV terjadi setelah 4-6 hari telur menetas. Penggunaan nyamuk Culex sp. instar III karena pada fase ini nyamuk sudah memiliki organ-organ yang lengkap dan baik dan merupakan fase transisi menuju fase dewasa. Pada fase dewasa dikhawatirkan efek larvasida tidak tampak karena sudah baiknya perkembangan organ tubuh nyamuk. Kematian pada instar III larva nyamuk dapat menunjukkan gambaran kematian pada instar I dan instar II larva nyamuk. Pengujian larvasida ini merupakan pengujian yang kedepannya diharapkan dapat ditemukan senyawa alami yang mampu memberantas larva nyamuk, karena larva nyamuk yang tergenang di air lebih mudah diberantas daripada nyamuk dewasa yang hidupnya terbang dan berpindahpindah.

41

Percobaan dilakukan dalam 2 tahap yaitu pembuatan larutan stok bahan uji dan pengujian larvasida. Pembuatan larutan stok dimaksudkan untuk mengencerkan ekstrak sehingga tidak terlalu pekat konsentrasinya. Ekstrak biji pepaya, daun tapak dara dan kulit batang cempedak dilarutkan dengan aquades dan apabila tidak larut maka ditambahkan sedikit tween 80. Tween 80 tidak memiliki efek apapun dalam pengujian karena hanya bertindak dalam mengurangi atau menurunkan tegangan permukaan sehingga bahan dapat melarut dalam air. Tween 80 digunakan karena bahan tersebut tidak menghilangkan kandungan dari ekstrak sehingga tidak mempengaruhi hasil pengujian. Setelah penambahan tween 80, larutan sampel di vortex untuk mempercepat homogenisasi larutan. Pembuatan 5 variasi konsentrasi dari larutan stok dengan tujuan untuk mengetahui tingkatan konsentrasi yang dapat menyebabkan kematian larva nyamuk. Dari variasi konsentrasi tersebut dapat ditentukan nilai konsentrasi letal atau konsentrasi ekstrak yang menyebabkan kematian pada larva. Variasi konsentrasi yang dibuat adalah 0,5%; 1%; 1,5%; 2%; dan 2,5% yang kemudian masing-masing konsentrasi dibuat dalam 3 replikasi. Replikasi dilakukan agar perhitungan dapat lebih teliti dan akurat. Botol-botol vial dikalibrasi 10 mL dan dimasukkan 20 ekor nyamuk Culex sp. instar III lalu ditambahkan larutan ekstrak kemudian ditambahkan air hujan sampai tanda batas kalibrasi. Air hujan digunakan untuk membuat kondisi yang sama bagi larva nyamuk yang biasanya dapat hidup di air yang tergenang. Botol vial ditutup dan diberi lubang pada aluminum foil dengan tujuan memberi jalan bagi udara untuk keluar masuk botol untuk menjaga pertumbuhan larva nyamuk. Kematian larva nyamuk diamati dan dicatat setelah 24 jam perlakuan. Konsentrasi aktivitas ekstrak sebagai larvasida ditentukan dengan menggunakan metode Reed and Muench. Metode Reed and Muench merupakan suatu metode yang menggunakan nilai-nilai kumulatif dalam analisis data. Asumsi yang digunakan bahwa kematian seekor hewan akibat dosis tertentu akan mengalami kematian juga oleh dosis yang lebih besar

42

dan hewan yang bertahan hidup pada dosis tertentu juga akan bertahan hidup pada dosis yang lebih rendah. Keuntungan metode Reed and Muench adalah didasarkan pada penentuan kadar bahan uji untuk membunuh, dengan analogi tidak membunuh jika dosis di bawah hasil, dan begitu sebaliknya. Kelemahan metode Reed and Muench adalah tidak

menampilkan profil regresi yang linearitas saat didapatkan hasil kadar bahan uji yang dapat membunuh. Aktivitas ekstrak biji pepaya sebagai larvasida ditentukan dengan metode Reed and Muench dan menghasilkan nilai LC95 yaitu 12.882 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa pada konsentrasi 12.882 ppm ekstrak biji pepaya mampu membunuh larva nyamuk sebesar 95%. LC95 atau Lethal Concentrations 95 adalah konsentrasi ekstrak bahan dalam percobaan yang dapat menyebabkan kematian pada 95% hewan uji. LC95 digunakan karena hewan uji yang digunakan adalah 20 ekor per botol vial, sehingga dianggap bahwa 5% adalah nilai kematian per ekor larva nyamuk. Aktivitas ekstrak kulit batang cempedak dengan menggunakan metode yang sama, dihitung LC80 dan menghasilkan nilai konsentrasi 22.594 ppm. Digunakannya LC80 daripada LC95 adalah karena pada konsentrasi tertinggi yaitu 25.000 ppm, ekstrak kulit batang cempedak hanya dapat membunuh 84,8% dari hewan uji. Hal yang sama juga berlaku pada ekstrak daun tapak dara dimana konsentrasi letalnya dihitung dengan LC90. Nilai LC90 ekstrak daun tapak dara adalah 23944,18 ppm. LC95 dapat saja dicapai apabila konsentrasi larutan ekstrak kulit batang cempedak dan ekstrak daun tapak dara diubah dalam pengujian. Dari percobaan didapat LC95 untuk ekstrak biji pepaya sebesar 12882 ppm, LC80 ekstrak daun tapak dara sebesar 23944,18 ppm dan LC80 ekstrak kulit batang cempedak sebesar 22594 ppm. Dari literatur didapat bahwa nilai LC50 standar untuk larvasida nabati (senyawa murni) yaitu berkisar 0.1-49 ppm. Sehingga dapat dikatakan bahwa dengan konsentrasi tinggi ekstrak biji pepaya, ekstrak daun tapak dara dan ekstrak kulit batang cempedak memiliki aktivitas larvasida.

43

Larvasida alami dapat ditemukan dalam tumbuhan yang di dalamnya terkandung senyawa yang dapat berfungsi sebagai larvasida, diantaranya adalah golongan sianida, saponin, tanin, flavonoid, alkaloid, steroid dan minyak atsiri. Salah satu tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai larvasida alami adalah papaya (Carica papaya). Biji pepaya merupakan bagian yang mengandung senyawa kimia golongan alkaloid, saponin dan flavonoid. Kandungan senyawa kimia biji papaya mampu memberi efek mortalitas pada larva nyamuk. Dari percobaan yang dilakukan, maka diharapkan biji pepaya dapat digunakan sebagai larvasida alami yang mampu membunuh larva nyamuk yang juga aman bagi lingkungan.

44

G.

Kesimpulan Berdasarkan pada percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Nilai LC95 ekstrak biji buah pepaya sebagai larvasida pada larva nyamuk Culex sp. adalah 12.882 ppm. 2. Nilai LC90 ekstrak daun tapak dara sebagai larvasida pada larva nyamuk Culex sp. adalah 23944,18 ppm. 3. Nilai LC80 ekstrak kulit batang cempedak sebagai larvasida pada larva nyamuk Culex sp. adalah 22.594 ppm.

45