Anda di halaman 1dari 43

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG ABORSI DENGAN SIKAP REMAJA DALAM PENCEGAHAN ABORSI DI SMK

N I GODEAN SLEMAN YOGYAKARTA 2008


3 Mei 2009

Oleh : Istiani ABSTRAKSI Latar Belakang : Tingkat aborsi di Indonesia masih cukup tinggi dibanding dengan negaranegara maju di dunia, yakni mencapai 2,3 juta abortus per tahun. Dari data tersebut sebesar 50 % merupakan abortus-unsafe (tidak aman) yang banyak dilakukan oleh remaja yang belum menikah. Kejadian aborsi yang terjadi pada remaja disebabkan karena pendidikan seks masih dianggap tabu dan kurangnya pengetahuan serta informasi remaja tentang aborsi beserta pencegahannya. Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan remaja putri tentang aborsi dengan sikap remaja dalam pencegahan aborsi di SMK N 1 Godean Sleman Yoyakarta. Metode : penelitian deskriptif kuantitatif non eksperimen dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian ini adalah siswi putri kelas 2 SMK N 1 Godean Sleman Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008. Teknik pengambilan sampel menggunakan Random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner. Uji statistik menggunakan Kendall Tau. Hasil Penelitian : menunjukkan hasil adanya hubungan yang positif dan sangat bermakna antara tingkat pengetahuan remaja putri tentang aborsi dengan sikap remaja dala pencegahan aborsi di SMK N I Godean Sleman Yogyakarta yang dibuktikan dengan hasil uji hipotesis dengan rumus kendall tau diketahui bahwa koefisien korelasi sebesar 0,475 dengan nilai sig. 0,000 dengan taraf kesalahan 5% (0,05). Hal ini menunjukkan bahwa nilai p < 0,05. Kesimpulan : Terdapat hubungan yang positif dan sangat bermakna sebesar 0,475 atau 47,5 % antara tingkat pengetahuan remaja putri tentang aborsi dengan sikap remaja dalam pencegahan aborsi di SMK N I Godean Sleman. Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Aborsi Ingin mendapatkan lengkapnya hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan Anda

May 28

ANALISIS KASUS ABORTUS DI KALANGAN REMAJA PERKOTAAN DI INDONESIA


ANALISIS KASUS ABORTUS DI KALANGAN REMAJA PERKOTAAN DI INDONESIA oleh tati hardiyani G1DOO9OO7 UNSOED BAB.I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Remaja merupakan suatu massa peralihan antara kanak-kanak dan dewasa. Pada masa ini, libido atau energi seksual menjadi hidup yang tadinya laten pada massa pra remaja. Akibat dari perubahan ini maka dorongan pada remaja untuk berprilaku seksual bertambah besar. Akibat dari perubahan ini maka adanya dorongan pada masa remaja untuk berprilaku seksual bertambah. Seksual merupakan bagain dari kehidupan manusia, baik pria maupun perempuan. Seperti tubuh dan jiwa yang berkembang, seksualitas juga berkembang sejak masa kanak-kanak, remaja, sampai dewasa. Seksualitas diekpresikan dalam bentuk perilaku seksual, yang dialaminya mencakup fungsi seksual. Pada umumnya masa remaja merupakan perilaku yang selalu ingin mencoba-coba, hal yang baru ini membawa remaja masuk pada hubungan seks pranikah (premarital seksual) dengan segala akibatnya. Kurangnya pengetahuan tentang agama juga dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang, karena ketidaktahuannya tentang norma-norma agama dapat menjerumuskan seseorang kedalam kemaksiatan. Dari faktor ekonomi juga dapat mempengaruhi perilaku seksual seseorang tidak sedikit para remaja yang merelakan ke virginitasannya hanya merasa kurangnya ekonomi, yang menjerumuskan mereka untuk menjual diri. Dari lingkungan dan pergaulan remaja juga dapat berpengaruh. Pada era globalisasi sekarang ini remaja dihadapkan pada dilemma dua hal, yaitu disatu sisi mereka sangat diharapkan sebagai generasi penerus bangsa, tetapi di sisi lain mereka dihadapkan pada masalah rawannya pergaulan akibat dari arus globalisasi itu sendiri. Oleh karena itu peran serta berbagai pihak sangat diperlukan untuk menjadikan remaja generasi yang bertanggung jawab dan bermoral baik. Sehingga pada akhirnya mereka tidak akan salah langkah dalam bertindak, khususnya dalam berprilaku seksual. Beberapa survei yang bisa membuat banyak orang tercengang, terutama orang tua. survei yang pernah dilakukan pada sembilan kota besar di Indonesia menunjukkan, kehamilan tidak diinginkan mencapai 37.000 kasus, 27 persen di antaranya terjadi dalam lingkungan pranikah dan 12,5 persen adalah pelajar. Selain kehamilan yang tidak diinginkan perlu mendapat penanganan secara serius, juga

menyangkut penderita HIV/AIDS, mengingat lebih dari 50 persen menimpa kelompok usia 19-25 tahun dengan kondisinya semakin mengkhawatirkan. Berbagai hasil penelitian menunjukkan sekitar 28,5 persen para remaja telah melakukan hubungan seksual sebelum nikah dan 10 persen di antaranya akhirnya menikah dan memiliki anak. Kejadian Aborsi di Indonesia juga tinggi, menurut ahli demografi kesehatan masyarakat, lebih dari 1 juta bahkan ada yang mengatakan hingga 2 juta per tahun (Sawab, 2009). Mitra Citra Remaja Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (MCR PKBI) Jabar, mendapati 4 kasus aborsi di kalangan pelajar di Bandung. Sementara dari survei yang dilakukan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), setiap tahunnya sebanyak 160 ribu hingga 200 ribu remaja di Jabar melakukan aborsi. Sebelumnya pernah diberitakan dari survei yang dilakukan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), sekitar 160 ribu hingga 200 ribu remaja di Jabar lakukan aborsi. Tak hanya itu berdasarkan survey dari lembaga yang sama, di 5 kota, yaitu Cirebon, Tasikmalaya, Palembang, Singkawang, dan Kupang. Dari 1.388 responden remaja, diketahui 16,35 persen diantaranya telah melakukan hubungan seksual. Dari jumlah tersebut, 40,1 persen menggunakan kontrasepsi dan 23,79 persen menyatakan siap melakukan aborsi jika terjadi kehamilan (Haryanto, 2009).

B. Tujuan Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah: 1. Mahasiswa dapat menganalisis kasus abortus pada kalangan remaja perkotaan berkaitan dengan kebudayaan. 2. Mahasiswa dapat mengetahui alasan-alasan yang menyebabkan remaja melakukan abortus. 3. Mahasiswa dapat menanalisis langkah-langkah yang tepat untuk mengurangi atau mencegah kasus aborsi di kalangan remaja tersebut.

BAB.II.PERMASALAHAN Perubahan di era globalisasi semakin sepat, kadang kala kita belum siap menyikapinya. Perkembangan teknologi dalam segala bidang semakin canggih sehingga mau tidak mau kita juga terkena imbasnya. Sisi negatif dari perkembangan teknologi inilah yang perlu kita waspadai termasuk pada pergaulan remaja. Perubahan yang begitu cepat terjadi pada remaja karena era globalisasi yang mempermudah para remaja dalam mengakses informasi. Akibatnya pergaulan bebas semakin merajai kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Denpasar, Yogyakarta dan kota besar lainnya di Indonesia. Bahkan pergaulan bebas juga semakin menjalar ke wilayah pedesaan. Hasil penelitian di beberapa daerah menunjukkan bahwa seks pra-nikah belum terlampau banyak dilakukan. Di Jatim, Jateng, Jabar dan Lampung: 0,4 5% Di Surabaya: 2,3% Di Jawa Barat: perkotaan 1,3% dan pedesaan 1,4%. Di Bali: perkotaan 4,4.% dan pedesaan 0%. Tetapi beberapa penelitian lain menemukan jumlah yang jauh lebih

fantastis, 21-30% remaja Indonesia di kota besar seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta telah melakukan hubungan seks pra-nikah. Berdasarkan hasil penelitian Annisa Foundation pada tahun 2006 yang melibatkan siswa SMP dan SMA di Cianjur terungkap 42,3 persen pelajar telah melakukan hubungan seks yang pertama saat duduk di bangku sekolah. Beberapa dari siswa mengungkapkan, dia melakukan hubungan seks tersebut berdasarkan suka dan tanpa paksaan (GOI dan UNICEF, 2000). Pergaulan bebas ini menyudutkan para remaja pada kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Setiap tahunnya, dari 175 juta kehamilan yang terjadi di dunia terdapat sekitar 75 juta perempuan yang mengalami kehamilan tak diinginkan (WHO, 2000). Survei yang pernah dilakukan pada sembilan kota besar di Indonesia menunjukkan, KTD mencapai 37.000 kasus, 27 persen di antaranya terjadi dalam lingkungan pranikah dan 12,5 persen adalah pelajar. Selain kehamilan yang tidak diinginkan perlu mendapat penanganan secara serius, juga menyangkut penderita HIV/AIDS, mengingat lebih dari 50 persen menimpa kelompok usia 19-25 tahun dengan kondisinya semakin mengkhawatirkan (Sawab, 2009). Banyak hal yang menyebabkan KTD pada remaja misalnya karena perkosaan, kehamilan diluar nikah, gagal KB, janin cacat dan sebagainya. Jalan keluar yang diambil remaja untuk menyelesaikan permasalahan di atas tidak lain adalah aborsi. Aborsi sering kali ditafsirkan sebagai pembunuhan bayi, walaupun secara jelas Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan aborsi sebagai penghentian kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan atau kurang dari 22 minggu (WHO, 2000). Dengan perkembangan tehnologi kedokteran yang sedemikian pesatnya, sesungguhnya perempuan tidak harus mengalami kesakitan apalagi kematian karena aborsi sudah dapat diselenggarakan secara sangat aman dengan menggunakan tehnologi yang sangat sederhana. Bahkan dikatakan bahwa aborsi oleh tenaga profesional di tempat yang memenuhi standar, tingkat keamanannya 10 kali lebih besar dibandingkan dengan bila melanjutkan kehamilan hingga persalinan. Sayangnya, masih banyak perempuan di Indonesia tidak dapat menikmati kemajuan tehnologi kedokteran tersebut. Mereka yang tidak punya pilihan lain, terpaksa beralih ke tenaga yang tidak aman yang menyebabkan mereka beresiko terhadap kesakitan dan kematian. Terciptanya kondisi ini terutama disebabkan karena hukum di Indonesia masih belum berpihak kepada perempuan dengan melarang tindakan ini untuk dilakukan kecuali untuk menyelamatkan ibu dan bayinya. Akibatnya, banyak tenaga profesional yang tidak bersedia memberikan pelayanan ini; walaupun ada, seringkali diberikan dengan biaya yang sangat tinggi karena besarnya konsekuensi yang harus ditanggung bila diketahui oleh pihak yang berwajib. Perkiraan jumlah aborsi di Indonesia setiap tahunnya cukup beragam. Putra (2010) memperkirakan antara 750.000 hingga 1.000.000 atau 18 aborsi per 100 kehamilan. Saifuddin (2003) memperkirakan sekitar 2,3 juta. Sedangkan sebuah studi terbaru yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia memperkirakan angka kejadian aborsi di Indonesia per tahunnya sebesar 2 juta. Data WHO menyebutkan bahwa 15-50 persen kematian ibu disebabkan karena pengguguran kandungan yang tidak aman. Bahkan Departemen Kesehatan RI mencatat bahwa setiap tahunnya terjadi 700 ribu kasus aborsi pada remaja atau 30 persen dari total 2 juta kasus di mana sebgaian besar dilakukan oleh dukun.

Begitu mencengangkan angka KTD dan abortus di kalangan remaja, budaya barat semakin menggeserkan budaya timur. Bila hal ini terus berlanjut maka bangsa Indonesia tidak lagi mempunyai generasi penerus yang unggul. Sungguh memprihatinkan, disinilah peran dari berbagai pihak perlu dilibatkan dalam menyelesaikan atau minimal mengurangui angka KTD dan abortus di kalangan remaja khususnya.

BAB.III.PEMBAHASAN A. ABORTUS DIKALANGAN REMAJA 1. Pengertian Remaja Masalah remaja merupakan transisi yang unik dan ditandai oleh berbagai perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa remaja berlangsung antara usia 10-19 tahun dan merupakan masa yang khusus dan penting, karena merupakan periode pematangan organ refroduksi manusia dan sering juga disebut masa pubertas. Masa remaja merupakan periode peralihan dari masa anak ke masa remaja. Definisi agak berbeda dikemukakan oleh menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia), usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun (Pramukti, 2007). 2. Pengertian Abortus World Health Organization (WHO) memberikan definisi bahwa aborsi adalah terhentinya kehidupan buah kehamilan di bawah 28 minggu atau berat janin kurang dari 1000 gram. Aborsi juga diartikan mengeluarkaan atau membuang baik embrio atau fetus secara prematur (sebelum waktunya). Istilah Aborsi disebut juga Abortus Provokatus. Sebuah tindakan abortus yang dilakukan secara sengaja (Ida, 2011). Secara garis besar Aborsi dapat kita bagi menjadi dua bagian; yakni Aborsi Spontan (Spontaneous Abortion) dan Abortus Provokatus (Provocation Abortion). Yang dimaksud dengan Aborsi Spontan yakni Aborsi yang tanpa kesengajaan (keguguran). Aborsi Spontan ini masih terdiri dari berbagai macam tahap yakni: 1. Abortus Iminen. Dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan Threaten Abortion, terancam keguguran (bukan keguguran). Di sini keguguran belum terjadi, tetapi ada tanda-tanda yang menunjukkan ancaman bakal terjadi keguguran. 2. Abortus Inkomplitus. Secara sederhana bisa disebut Aborsi tak lengkap, artinya sudah terjadi pengeluaran buah kehamilan tetapi tidak komplit. 3. Abortus Komplitus. Yang satu ini Aborsi lengkap, yakni pengeluaran buah kehamilan sudah lengkap, sudah seluruhnya keluar.

4. Abortus Insipien. buah kehamilan mati di dalam kandungan-lepas dari tempatnya- tetapi belum dikeluarkan. Hampir serupa dengan itu, ada yang dikenal Missed Abortion, yakni buah kehamilan mati di dalam kandungan tetapi belum ada tanda-tanda dikeluarkan (Ida, 2011). Sedangkan Aborsi Provokatus (sengaja) masih terbagi dua bagian kategori besar yakni Abortus Provokatus Medisinalis dan Abortus Provokatus Kriminalis (kejahatan). Tindakan-tindakan Aborsi dapat mengakibatkan hal-hal yang negatif pada tubuh kita, yang meliputi dimensi jasmani dan psikologis. Akibat-akibatnya yakni: 1. Segi Jasmani a) Tindakan kuret pada Aborsi bisa menimbulkan efek-efek pendarahan atau infeksi, dan apabila dikerjakan bukan oleh dokter ahlinya maka alat-alat kuret yang dipakai mungkin tembus sampai ke perut dan dapat mendatangkan kematian. b) Infeksi di rahim dapat menutup saluran tuba dan menyebabkan kemandulan. c) Penyumbatan pembuluh darah yang terbuka oleh gelembung udara, karena banyak pembuluh darah yang terbuka pada luka selaput lendir rahim dan gelembung udara bisa masuk ikut beredar bersama aliran darah dan apabila tiba pada pembuluh darah yang lebih kecil, yaitu pada jantung, paru-paru, otak atau ginjal, maka bisa mengakibatkan kematian. d) Perobekan dinding rahim oleh alat-alat yang dimasukkan ke dalamnya akan mengakibatkan penumpukan darah dalam rongga perut yang makin lama makin banyak yang menyebabkan kematian. e) Penanganan Aborsi yang tidak steril bisa mengakibatkan keracunan yang membawa kepada kematian. f) Menstruasi menjadi tidak teratur. g) Tubuh menjadi lemah dan sering keguguran 2. Segi Psikologis a) Pihak wanita: Setelah seorang wanita melakukan tindakan Aborsi ini, maka ia akan tertindih perasaan bersalah yang dapat membahayakan jiwanya. Kalau tidak secepatnya ditolong, maka ia akan mengalami depresi berat, frustrasi dan kekosongan jiwa. b) Pihak pria: Rasa tanggung jawab dari si pria yang menganjurkan Aborsi akan berkurang, pandangannya tentang nilai hidup sangat rendah; penghargaannya terhadap anugerah Allah menjadi merosot. 3. Segi Hukum KUHP di Indonesia yang diberlakukan sejak 1918 tidak membenarkan tindakan Aborsi dengan dalih apapun. Aborsi dianggap tindak pidana yang dapat dikenakan hukuman, yang diatur dalam pasal 283, 299, 346 hingga 349 dan 535). Selain hal yang disebutkan di atas, ada akibat yang lebih buruk dan biasa disebut dengan PAS (Post Abortion Syndrome). Post Abortion Syndrome adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan sekumpulan gejala fisik dan psikis yang terjadi paska terjadinya aborsi.

PAS merupakan gangguan stress dan traumatik yang biasanya terjadi ketika seorang perempuan yang post-abortive tidak dapat menghadapi respon emosional yang dihasilkan akibat trauma aborsi. PAS terjadi berbeda-beda pada setiap orang tergantung berat atau tidaknya gejala yang terjadi, PAS dianggap telah berat ketika kondisi seorang perempuan post-abortive sudah mengarah pada gejala yang dapat mengganggu kelangsungan hidupnya ataupun keselamatan dirinya. PAS dapat terjadi tidak lama setelah aborsi atau bisa saja baru muncul ke permukaan beberapa bulan hingga bertahun-tahun kemudian. Banyak perempuan yang takut untuk membicarakannya karena merasa malu telah melakukan aborsi. Hal inilah yang kemudian membuat trauma tersebut terpendam di bawah alam sadar mereka hingga mereka tidak menyadari bahwa hal tersebut dapat mempengaruhi mereka dalam berpikir, berperilaku dan bahkan mempengaruhi kesehatan reproduksi mereka di kemudian hari. Post Abortion Syndrome tidak hanya terjadi pada perempuan post-abortive, namun juga pada laki-laki post-abortive, dalam arti pasangan perempuan post-abortive yang juga berperan penting dalam membuat pilihan aborsi. Namun pada lelaki post-abortive biasanya gejalanya ringan berupa gangguan emosi ringan seperti rasa malu, perasaan bersalah, bersedih dan menyesal. Perempuan post-abortive bisa mengalami gejala lebih berat karena mereka secara langsung baik itu fisik ataupun emosi langsung berhubungan dengan trauma aborsi. Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami hal-hal seperti berikut ini: a) Kehilangan harga diri (82%) b) Berteriak-teriak histeris (51%) c) Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%) d) Ingin melakukan bunuh diri (28%) e) Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%) f) Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%)

B. KETERKAITAN ANTARA ABORTUS DIKALANGAN REMAJA DENGAN PERGAULAN BEBAS YANG MEMBUDAYA Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas bertanggung jawab atas munculnya dorongan seks. Pemuasan dorongan seks masih dipersulit dengan banyaknya tabu sosial, sekaligus juga kekurangan pengetahuan yang benar tentang seksualitas. Namun sejak tahun 1960-an, aktivitas seksual telah meningkat di antara remaja; studi akhir menunjukan bahwa hampir 50 persen remaja dibawah usia 15 tahun dan 75 persen dibawah usia 19 tahun melaporkan telah malakukan hubungan seks. Terlepas dari keterlibatan mereka dalam aktivitas seksual, beberapa remaja tidak tertarik pada, atau tahu tentang, metode Keluarga Berencana atau gejala-gejala Penyakit Menular Seksual (PMS). Akibatnya, angka

kelahiran tidak sah dan timbulnya penyakit kelamin kian meningkat. Bagi remaja perbincangan mengenai hubungan seks bukan hal yang tabu, sudah menjadi hal yang biasa. Sekarang dianggap benar dan normal atau paling sedikit di perbolehkan. Bahkan hubungan seks di luar nikah dianggap benar apabila orang-orang yang terlibat saling mencintai dan saling terkait. Senggama yang disertai kasih sayang lebih diterima dari pada bercumbu sekedar melepas nafsu. Hurlock berpendapat, penggolongan peran seks atau belajar melakukan peran seks yang diakui lebih mudah bagi laki-laki dari pada perempuan. Pertama, sejak awal masa kanak-kanak laki-laki telah disadarkan akan perilaku yang patut dan didorong, didesak atau bahkan dipermalukan untuk upaya penyesuaian diri dengan standar-standar yang diakui. Kedua, dari tahun ke tahun laki-laki mengetahui bahwa peran pria memberi martabat yang lebih terhormat dari pada peran wanita (Roslina, 2007). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual menurut Elizabeth B Hurlock, beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku seks pada remaja: 1. Pertama, faktor perkembangan yang terjadi dalam diri mereka berasal dari keluarga di mana anak mulai tumbuh dan berkembang. 2. Kedua, faktor luar yang mencakup sekolah cukup berperan terhadap perkembangan remaja dalam mencapai kedewasaannya. 3. Ketiga, masyarakat yaitu adat kebiasaan, pergaulan dan perkembangan di segala perawatg khususnya teknologi yang dicapai manusia Pengetahuan seksual yang benar dapat memimpin seseorang kearah perilaku seksual yang rasional dan bertanggung jawab dan dapat membantu membuat keputusan pribadi yang penting tentang seksualitas. Sebaliknya pengetahuan seksual yang salah dapat mengakibatkan presepsi salah tentang seksualitas sehingga selanjutnya akan menimbulkan perilaku seksual yang salah dengan segala akibatnya. Informasi yang salah menyebabkan pengertian dan presepsi masyarakat khususnya remaja tentang seks menjadi salah pula. Hal ini diperburuk dengan adana berbagai mitos mengenai seks yang berkembang di masyarakat. Akhirnya, semua ini diekpresikan dalam bentuk perilaku seksual yang buruk pula, dengan segala akibatnya yang tidak diharapkan (Ida, 2011).

C. UPAYA PENANGANAN ABORTUS Membendung perilaku aborsi tidaklah semudah membalikkan kedua telapak tangan. Hal ini diperlukan kerjasama lintas sektoral secara komprehensif dan berkelanjutan. Tentu saja dimulai dari hal terkecil yang bersifat pencegahan hingga pertolongan pasca aborsi. Upaya-upaya dan pelayanan tersebut dapat kita rangkum dalam penjelasan berikut ini: 1. Memberikan edukasi seks di kalangan remaja. Hal ini dikarenakan masih banyaknya para remaja kita yang mempelajari fungsi reproduksi para sudut kenikmatan nya saja tanpa memandang efek-efek negatif di kemudian hari. Maka harapannya dengan pemahaman yang tepat dan lengkap, maka remaja akan dapat membuat keputusan yang tepat untuk menjaga kesucian dirinya masing-masing.

2. Menanamkan kembali nilai-nilai moral sosial dan juga keagamaan akan penting dan mulianya untuk menjaga kehormatan diri. Kebanyakan, para remaja ini karena memang semenjak kecil sudah dijauhkan oleh norma-norma yang mengatur hubungan antar laki-laki dan perempuan sedangkan media gencar mempromosikan tayangan-tayangan yang berbau seksualitas dengan mengedepankan nafsu semata. Ditambah lagi akses pornografi yang dapat dengan mudah didapatkan melalui internet via komputer maupun handphone. 3. Menguatkan kembali kontrol sosial di masyarakat. Tidak dipungkiri yang menjadikan remaja bebas melakukan apa saja adalah karena semakin melemahnya kontrol sosial dari lingkungan keluarga maupun masyarakat. Misalkan saja ada sepasang pelaku pacaran yang diperbolehkan orang tuanya berduaduaan di dalam kamar. Meskipun tidak terjadi perzinahan di sana, namun itu dapat memicu untuk melakukan tindakan-tindakan yang lebih untuk dilakukan pada lain kesempatan dan lain tempat. Begitu juga kontrol dari masyarakat itu penting ketika melihat ada pasangan muda-mudi yang menginap di kamar kostan dan bahkan terjadi berhari-hari. Hal ini sudah barang tentu dapat semakin mendorong terjadinya penyimpangan perilaku dalam artian melakukan tindakan-tindakan yang seharusnya baru boleh dilakukan oleh pasangan suami isteri yang resmi. 4. Para pelaku yang telah melakukan aborsi juga tak dapat dipandang sebelah mata. Mereka mempunyai hak untuk dapat kita tolong karena bisa saja hal telah mereka lakukan tersebut adalah suatu kekhilafan yang tak ingin diulanginya lagi. Maka, bagi para penyandang PAS, dapat kita tolong dengan memberikan pelayanan konseling serta dukungan sosial untuk dapat bangkit kembali menjalani kehidupan secara normal dengan diiringi taubat yang sebenar-benarnya (Ida, 2011).

BAB.IV.PENUTUP A. Kesimpulan 1. Masa remaja merupakan periode peralihan dari masa anak ke masa remaja. Sering remaja malah terjebak dengan mitos-mitos seputar permasalahan seks. Tidak sedikit diantara mereka yang akhirnya terjebak pada kehamilan yang tidak diinginkan. Banyak diantara mereka yang akhirnya memutuskan untuk melakukan aborsi, padahal tindakan tersebut banyak resiko. 2. Remaja melakukan abortus banyak diakibatkan karena merasa belum siap secara psikologis dan materil, kurangnya informasi juga merupakan alasan mengapa remaja terjebak dalam tindakan aborsi. 3. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah abortus diantaranya adalah memberikan edukasi seks di kalangan remaja, menanamkan kembali nilai-nilai moral sosial dan juga keagamaan akan penting dan mulianya untuk menjaga kehormatan diri, menguatkan kembali kontrol sosial di masyarakat dan memberikan pelayanan konseling serta dukungan sosial untuk dapat bangkit kembali menjalani kehidupan secara normal.

B. Saran 1. Orang tua diharapkan dapat merespon masalah remaja dengan tepat 2. Remaja dilibatkan oleh orang tua dalam setiap keputusan yang mencakup kehidupannya. 3. Pilak sekolah, tim kesehatan dan pihak yang terkait hendaknya memberikan informasi yang benar, konseling, dan pelayanan seksual dan reproduksi yang berkualitas. 4. Masyarakat ikut berperan serta dalam pengkontrol pergaulan remaja.

KEPUSTAKAAN

GOI & UNICEF. 2000. Laporan Nasional Tindak Lanjut Konferensi Tingkat Tinggi Anak (Draft). Haryanto, Andri. 2009. Marak Aborsi di Kalangan Remaja Bandung http://bandung.detik.com/read/2009/04/14/100043/1115056/486/marak-aborsi-di-kalangan-remajabandung diakses tanggal 14 April 2012. Ida, 2011, Abortus menjadi solusi remaja. http://kesehatan.kompasiana com/medis/ 2011/10/30/ketika-topik-aborsi-menjadi-hitz-di-kalanganremaja diakses tanggal 14 April 2012. Pramukti, I. 2007. Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang Seksualitas. Journal Of Public Health Nursing and Midwivery Sciences Vol. 1 (4): 64-71 diakses 14 April 2012. Putra. 2010. Aborsi pada Remajaa http://mily.wordpress.com/2010/01/02/makalah-aborsi-pada-remaja diakses tanggal 14 April 2012. Roslina, N. dan Nurhasanah, E. 2007. Hubungan Pengetahuan Tentang Penyakit Menular Seksual Dengan Perilaku Seksual Remaja. Sehat Masada Jurnal Penelitian Kesehatan Dharma Husada Bandung Vol. 1 (1): 90-103 diakses tanggal 14 April 2012 Sawabi. 2009. 2,3 Juta Kasus Aborsi Per Tahun, 30 Persen oleh http://regional.kompas.com/read/2009/02/16/11310897 diakses tanggal 14 April 2010 Remaja.

Syafruddin. 2003. Abortus Provocatus dan Hukum. Sumatra: USU-Library. WHO. 2000. Safe Abortion: Technical and Policy Guidance for Health System Draft 4 Diposkan 28th May 2012 oleh tati hardiyani

all about me

1. May 28

ANALISIS KASUS ABORTUS DI KALANGAN REMAJA PERKOTAAN DI INDONESIA


ANALISIS KASUS ABORTUS DI KALANGAN REMAJA PERKOTAAN DI INDONESIA oleh tati hardiyani G1DOO9OO7 UNSOED BAB.I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Remaja merupakan suatu massa peralihan antara kanak-kanak dan dewasa. Pada masa ini, libido atau energi seksual menjadi hidup yang tadinya laten pada massa pra remaja. Akibat dari perubahan ini maka dorongan pada remaja untuk berprilaku seksual bertambah besar. Akibat dari perubahan ini maka adanya dorongan pada masa remaja untuk berprilaku seksual bertambah. Seksual merupakan bagain dari kehidupan manusia, baik pria maupun perempuan. Seperti tubuh dan jiwa yang berkembang, seksualitas juga berkembang sejak masa kanak-kanak, remaja, sampai dewasa. Seksualitas diekpresikan dalam bentuk perilaku seksual, yang dialaminya mencakup fungsi seksual. Pada umumnya masa remaja merupakan perilaku yang selalu ingin mencoba-coba, hal yang baru ini membawa remaja masuk pada hubungan seks pranikah (premarital seksual) dengan segala akibatnya. Kurangnya pengetahuan tentang agama juga dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang, karena ketidaktahuannya tentang norma-norma agama dapat menjerumuskan seseorang kedalam kemaksiatan. Dari faktor ekonomi juga dapat mempengaruhi perilaku seksual seseorang tidak sedikit para remaja yang merelakan ke virginitasannya hanya merasa kurangnya ekonomi, yang menjerumuskan mereka untuk menjual diri. Dari lingkungan dan pergaulan remaja juga dapat berpengaruh.

Pada era globalisasi sekarang ini remaja dihadapkan pada dilemma dua hal, yaitu disatu sisi mereka sangat diharapkan sebagai generasi penerus bangsa, tetapi di sisi lain mereka dihadapkan pada masalah rawannya pergaulan akibat dari arus globalisasi itu sendiri. Oleh karena itu peran serta berbagai pihak sangat diperlukan untuk menjadikan remaja generasi yang bertanggung jawab dan bermoral baik. Sehingga pada akhirnya mereka tidak akan salah langkah dalam bertindak, khususnya dalam berprilaku seksual. Beberapa survei yang bisa membuat banyak orang tercengang, terutama orang tua. survei yang pernah dilakukan pada sembilan kota besar di Indonesia menunjukkan, kehamilan tidak diinginkan mencapai 37.000 kasus, 27 persen di antaranya terjadi dalam lingkungan pranikah dan 12,5 persen adalah pelajar. Selain kehamilan yang tidak diinginkan perlu mendapat penanganan secara serius, juga menyangkut penderita HIV/AIDS, mengingat lebih dari 50 persen menimpa kelompok usia 19-25 tahun dengan kondisinya semakin mengkhawatirkan. Berbagai hasil penelitian menunjukkan sekitar 28,5 persen para remaja telah melakukan hubungan seksual sebelum nikah dan 10 persen di antaranya akhirnya menikah dan memiliki anak. Kejadian Aborsi di Indonesia juga tinggi, menurut ahli demografi kesehatan masyarakat, lebih dari 1 juta bahkan ada yang mengatakan hingga 2 juta per tahun (Sawab, 2009). Mitra Citra Remaja Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (MCR PKBI) Jabar, mendapati 4 kasus aborsi di kalangan pelajar di Bandung. Sementara dari survei yang dilakukan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), setiap tahunnya sebanyak 160 ribu hingga 200 ribu remaja di Jabar melakukan aborsi. Sebelumnya pernah diberitakan dari survei yang dilakukan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), sekitar 160 ribu hingga 200 ribu remaja di Jabar lakukan aborsi. Tak hanya itu berdasarkan survey dari lembaga yang sama, di 5 kota, yaitu Cirebon, Tasikmalaya, Palembang, Singkawang, dan Kupang. Dari 1.388 responden remaja, diketahui 16,35 persen diantaranya telah melakukan hubungan seksual. Dari jumlah tersebut, 40,1 persen menggunakan kontrasepsi dan 23,79 persen menyatakan siap melakukan aborsi jika terjadi kehamilan (Haryanto, 2009).

B. Tujuan Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah: 1. Mahasiswa dapat menganalisis kasus abortus pada kalangan remaja perkotaan berkaitan dengan kebudayaan. 2. Mahasiswa dapat mengetahui alasan-alasan yang menyebabkan remaja melakukan abortus. 3. Mahasiswa dapat menanalisis langkah-langkah yang tepat untuk mengurangi atau mencegah kasus aborsi di kalangan remaja tersebut.

BAB.II.PERMASALAHAN Perubahan di era globalisasi semakin sepat, kadang kala kita belum siap menyikapinya. Perkembangan teknologi dalam segala bidang semakin canggih sehingga mau tidak mau kita juga terkena imbasnya. Sisi negatif dari perkembangan teknologi inilah yang perlu kita waspadai termasuk pada pergaulan remaja. Perubahan yang begitu cepat terjadi pada remaja karena era globalisasi yang mempermudah para remaja dalam mengakses informasi. Akibatnya pergaulan bebas semakin merajai kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Denpasar, Yogyakarta dan kota besar lainnya di Indonesia. Bahkan pergaulan bebas juga semakin menjalar ke wilayah pedesaan. Hasil penelitian di beberapa daerah menunjukkan bahwa seks pra-nikah belum terlampau banyak dilakukan. Di Jatim, Jateng, Jabar dan Lampung: 0,4 5% Di Surabaya: 2,3% Di Jawa Barat: perkotaan 1,3% dan pedesaan 1,4%. Di Bali: perkotaan 4,4.% dan pedesaan 0%. Tetapi beberapa penelitian lain menemukan jumlah yang jauh lebih fantastis, 21-30% remaja Indonesia di kota besar seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta telah melakukan hubungan seks pra-nikah. Berdasarkan hasil penelitian Annisa Foundation pada tahun 2006 yang melibatkan siswa SMP dan SMA di Cianjur terungkap 42,3 persen pelajar telah melakukan hubungan seks yang pertama saat duduk di bangku sekolah. Beberapa dari siswa mengungkapkan, dia melakukan hubungan seks tersebut berdasarkan suka dan tanpa paksaan (GOI dan UNICEF, 2000). Pergaulan bebas ini menyudutkan para remaja pada kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Setiap tahunnya, dari 175 juta kehamilan yang terjadi di dunia terdapat sekitar 75 juta perempuan yang mengalami kehamilan tak diinginkan (WHO, 2000). Survei yang pernah dilakukan pada sembilan kota besar di Indonesia menunjukkan, KTD mencapai 37.000 kasus, 27 persen di antaranya terjadi dalam lingkungan pranikah dan 12,5 persen adalah pelajar. Selain kehamilan yang tidak diinginkan perlu mendapat penanganan secara serius, juga menyangkut penderita HIV/AIDS, mengingat lebih dari 50 persen menimpa kelompok usia 19-25 tahun dengan kondisinya semakin mengkhawatirkan (Sawab, 2009). Banyak hal yang menyebabkan KTD pada remaja misalnya karena perkosaan, kehamilan diluar nikah, gagal KB, janin cacat dan sebagainya. Jalan keluar yang diambil remaja untuk menyelesaikan permasalahan di atas tidak lain adalah aborsi. Aborsi sering kali ditafsirkan sebagai pembunuhan bayi, walaupun secara jelas Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan aborsi sebagai penghentian kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan atau kurang dari 22 minggu (WHO, 2000). Dengan perkembangan tehnologi kedokteran yang sedemikian pesatnya, sesungguhnya perempuan tidak harus mengalami kesakitan apalagi kematian karena aborsi sudah dapat diselenggarakan secara sangat aman dengan menggunakan tehnologi yang sangat sederhana. Bahkan dikatakan bahwa

aborsi oleh tenaga profesional di tempat yang memenuhi standar, tingkat keamanannya 10 kali lebih besar dibandingkan dengan bila melanjutkan kehamilan hingga persalinan. Sayangnya, masih banyak perempuan di Indonesia tidak dapat menikmati kemajuan tehnologi kedokteran tersebut. Mereka yang tidak punya pilihan lain, terpaksa beralih ke tenaga yang tidak aman yang menyebabkan mereka beresiko terhadap kesakitan dan kematian. Terciptanya kondisi ini terutama disebabkan karena hukum di Indonesia masih belum berpihak kepada perempuan dengan melarang tindakan ini untuk dilakukan kecuali untuk menyelamatkan ibu dan bayinya. Akibatnya, banyak tenaga profesional yang tidak bersedia memberikan pelayanan ini; walaupun ada, seringkali diberikan dengan biaya yang sangat tinggi karena besarnya konsekuensi yang harus ditanggung bila diketahui oleh pihak yang berwajib. Perkiraan jumlah aborsi di Indonesia setiap tahunnya cukup beragam. Putra (2010) memperkirakan antara 750.000 hingga 1.000.000 atau 18 aborsi per 100 kehamilan. Saifuddin (2003) memperkirakan sekitar 2,3 juta. Sedangkan sebuah studi terbaru yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia memperkirakan angka kejadian aborsi di Indonesia per tahunnya sebesar 2 juta. Data WHO menyebutkan bahwa 15-50 persen kematian ibu disebabkan karena pengguguran kandungan yang tidak aman. Bahkan Departemen Kesehatan RI mencatat bahwa setiap tahunnya terjadi 700 ribu kasus aborsi pada remaja atau 30 persen dari total 2 juta kasus di mana sebgaian besar dilakukan oleh dukun. Begitu mencengangkan angka KTD dan abortus di kalangan remaja, budaya barat semakin menggeserkan budaya timur. Bila hal ini terus berlanjut maka bangsa Indonesia tidak lagi mempunyai generasi penerus yang unggul. Sungguh memprihatinkan, disinilah peran dari berbagai pihak perlu dilibatkan dalam menyelesaikan atau minimal mengurangui angka KTD dan abortus di kalangan remaja khususnya.

BAB.III.PEMBAHASAN A. ABORTUS DIKALANGAN REMAJA 1. Pengertian Remaja Masalah remaja merupakan transisi yang unik dan ditandai oleh berbagai perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa remaja berlangsung antara usia 10-19 tahun dan merupakan masa yang khusus dan penting, karena merupakan periode pematangan organ refroduksi manusia dan sering juga disebut masa pubertas. Masa remaja merupakan periode peralihan dari masa anak ke masa remaja. Definisi agak berbeda dikemukakan oleh menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia), usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun (Pramukti, 2007). 2. Pengertian Abortus

World Health Organization (WHO) memberikan definisi bahwa aborsi adalah terhentinya kehidupan buah kehamilan di bawah 28 minggu atau berat janin kurang dari 1000 gram. Aborsi juga diartikan mengeluarkaan atau membuang baik embrio atau fetus secara prematur (sebelum waktunya). Istilah Aborsi disebut juga Abortus Provokatus. Sebuah tindakan abortus yang dilakukan secara sengaja (Ida, 2011). Secara garis besar Aborsi dapat kita bagi menjadi dua bagian; yakni Aborsi Spontan (Spontaneous Abortion) dan Abortus Provokatus (Provocation Abortion). Yang dimaksud dengan Aborsi Spontan yakni Aborsi yang tanpa kesengajaan (keguguran). Aborsi Spontan ini masih terdiri dari berbagai macam tahap yakni: 1. Abortus Iminen. Dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan Threaten Abortion, terancam keguguran (bukan keguguran). Di sini keguguran belum terjadi, tetapi ada tanda-tanda yang menunjukkan ancaman bakal terjadi keguguran. 2. Abortus Inkomplitus. Secara sederhana bisa disebut Aborsi tak lengkap, artinya sudah terjadi pengeluaran buah kehamilan tetapi tidak komplit. 3. Abortus Komplitus. Yang satu ini Aborsi lengkap, yakni pengeluaran buah kehamilan sudah lengkap, sudah seluruhnya keluar. 4. Abortus Insipien. buah kehamilan mati di dalam kandungan-lepas dari tempatnya- tetapi belum dikeluarkan. Hampir serupa dengan itu, ada yang dikenal Missed Abortion, yakni buah kehamilan mati di dalam kandungan tetapi belum ada tanda-tanda dikeluarkan (Ida, 2011). Sedangkan Aborsi Provokatus (sengaja) masih terbagi dua bagian kategori besar yakni Abortus Provokatus Medisinalis dan Abortus Provokatus Kriminalis (kejahatan). Tindakan-tindakan Aborsi dapat mengakibatkan hal-hal yang negatif pada tubuh kita, yang meliputi dimensi jasmani dan psikologis. Akibat-akibatnya yakni: 1. Segi Jasmani a) Tindakan kuret pada Aborsi bisa menimbulkan efek-efek pendarahan atau infeksi, dan apabila dikerjakan bukan oleh dokter ahlinya maka alat-alat kuret yang dipakai mungkin tembus sampai ke perut dan dapat mendatangkan kematian. b) Infeksi di rahim dapat menutup saluran tuba dan menyebabkan kemandulan. c) Penyumbatan pembuluh darah yang terbuka oleh gelembung udara, karena banyak pembuluh darah yang terbuka pada luka selaput lendir rahim dan gelembung udara bisa masuk ikut

beredar bersama aliran darah dan apabila tiba pada pembuluh darah yang lebih kecil, yaitu pada jantung, paru-paru, otak atau ginjal, maka bisa mengakibatkan kematian. d) Perobekan dinding rahim oleh alat-alat yang dimasukkan ke dalamnya akan mengakibatkan penumpukan darah dalam rongga perut yang makin lama makin banyak yang menyebabkan kematian. e) Penanganan Aborsi yang tidak steril bisa mengakibatkan keracunan yang membawa kepada kematian. f) Menstruasi menjadi tidak teratur. g) Tubuh menjadi lemah dan sering keguguran 2. Segi Psikologis a) Pihak wanita: Setelah seorang wanita melakukan tindakan Aborsi ini, maka ia akan tertindih perasaan bersalah yang dapat membahayakan jiwanya. Kalau tidak secepatnya ditolong, maka ia akan mengalami depresi berat, frustrasi dan kekosongan jiwa. b) Pihak pria: Rasa tanggung jawab dari si pria yang menganjurkan Aborsi akan berkurang, pandangannya tentang nilai hidup sangat rendah; penghargaannya terhadap anugerah Allah menjadi merosot. 3. Segi Hukum KUHP di Indonesia yang diberlakukan sejak 1918 tidak membenarkan tindakan Aborsi dengan dalih apapun. Aborsi dianggap tindak pidana yang dapat dikenakan hukuman, yang diatur dalam pasal 283, 299, 346 hingga 349 dan 535). Selain hal yang disebutkan di atas, ada akibat yang lebih buruk dan biasa disebut dengan PAS (Post Abortion Syndrome). Post Abortion Syndrome adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan sekumpulan gejala fisik dan psikis yang terjadi paska terjadinya aborsi. PAS merupakan gangguan stress dan traumatik yang biasanya terjadi ketika seorang perempuan yang post-abortive tidak dapat menghadapi respon emosional yang dihasilkan akibat trauma aborsi. PAS terjadi berbeda-beda pada setiap orang tergantung berat atau tidaknya gejala yang terjadi, PAS dianggap telah berat ketika kondisi seorang perempuan post-abortive sudah mengarah pada gejala yang dapat mengganggu kelangsungan hidupnya ataupun keselamatan dirinya. PAS dapat terjadi tidak lama setelah aborsi atau bisa saja baru muncul ke permukaan beberapa bulan hingga bertahun-tahun kemudian. Banyak perempuan yang takut untuk membicarakannya karena merasa malu telah melakukan aborsi. Hal inilah yang kemudian membuat trauma tersebut terpendam di bawah alam sadar mereka hingga mereka tidak menyadari bahwa hal tersebut dapat mempengaruhi mereka dalam berpikir, berperilaku dan bahkan mempengaruhi kesehatan reproduksi mereka di kemudian hari.

Post Abortion Syndrome tidak hanya terjadi pada perempuan post-abortive, namun juga pada laki-laki post-abortive, dalam arti pasangan perempuan post-abortive yang juga berperan penting dalam membuat pilihan aborsi. Namun pada lelaki post-abortive biasanya gejalanya ringan berupa gangguan emosi ringan seperti rasa malu, perasaan bersalah, bersedih dan menyesal. Perempuan post-abortive bisa mengalami gejala lebih berat karena mereka secara langsung baik itu fisik ataupun emosi langsung berhubungan dengan trauma aborsi. Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami hal-hal seperti berikut ini: a) Kehilangan harga diri (82%) b) Berteriak-teriak histeris (51%) c) Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%) d) Ingin melakukan bunuh diri (28%) e) Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%) f) Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%)

B. KETERKAITAN ANTARA ABORTUS DIKALANGAN REMAJA DENGAN PERGAULAN BEBAS YANG MEMBUDAYA Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas bertanggung jawab atas munculnya dorongan seks. Pemuasan dorongan seks masih dipersulit dengan banyaknya tabu sosial, sekaligus juga kekurangan pengetahuan yang benar tentang seksualitas. Namun sejak tahun 1960-an, aktivitas seksual telah meningkat di antara remaja; studi akhir menunjukan bahwa hampir 50 persen remaja dibawah usia 15 tahun dan 75 persen dibawah usia 19 tahun melaporkan telah malakukan hubungan seks. Terlepas dari keterlibatan mereka dalam aktivitas seksual, beberapa remaja tidak tertarik pada, atau tahu tentang, metode Keluarga Berencana atau gejala-gejala Penyakit Menular Seksual (PMS). Akibatnya, angka kelahiran tidak sah dan timbulnya penyakit kelamin kian meningkat. Bagi remaja perbincangan mengenai hubungan seks bukan hal yang tabu, sudah menjadi hal yang biasa. Sekarang dianggap benar dan normal atau paling sedikit di perbolehkan. Bahkan hubungan seks di luar nikah dianggap benar apabila orang-orang yang terlibat saling mencintai dan saling terkait. Senggama yang disertai kasih sayang lebih diterima dari pada bercumbu sekedar melepas nafsu. Hurlock berpendapat, penggolongan peran seks atau belajar melakukan peran seks yang diakui lebih mudah bagi laki-laki dari pada perempuan. Pertama,

sejak awal masa kanak-kanak laki-laki telah disadarkan akan perilaku yang patut dan didorong, didesak atau bahkan dipermalukan untuk upaya penyesuaian diri dengan standar-standar yang diakui. Kedua, dari tahun ke tahun laki-laki mengetahui bahwa peran pria memberi martabat yang lebih terhormat dari pada peran wanita (Roslina, 2007). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual menurut Elizabeth B Hurlock, beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku seks pada remaja: 1. Pertama, faktor perkembangan yang terjadi dalam diri mereka berasal dari keluarga di mana anak mulai tumbuh dan berkembang. 2. Kedua, faktor luar yang mencakup sekolah cukup berperan terhadap perkembangan remaja dalam mencapai kedewasaannya. 3. Ketiga, masyarakat yaitu adat kebiasaan, pergaulan dan perkembangan di segala perawatg khususnya teknologi yang dicapai manusia Pengetahuan seksual yang benar dapat memimpin seseorang kearah perilaku seksual yang rasional dan bertanggung jawab dan dapat membantu membuat keputusan pribadi yang penting tentang seksualitas. Sebaliknya pengetahuan seksual yang salah dapat mengakibatkan presepsi salah tentang seksualitas sehingga selanjutnya akan menimbulkan perilaku seksual yang salah dengan segala akibatnya. Informasi yang salah menyebabkan pengertian dan presepsi masyarakat khususnya remaja tentang seks menjadi salah pula. Hal ini diperburuk dengan adana berbagai mitos mengenai seks yang berkembang di masyarakat. Akhirnya, semua ini diekpresikan dalam bentuk perilaku seksual yang buruk pula, dengan segala akibatnya yang tidak diharapkan (Ida, 2011).

C. UPAYA PENANGANAN ABORTUS Membendung perilaku aborsi tidaklah semudah membalikkan kedua telapak tangan. Hal ini diperlukan kerjasama lintas sektoral secara komprehensif dan berkelanjutan. Tentu saja dimulai dari hal terkecil yang bersifat pencegahan hingga pertolongan pasca aborsi. Upaya-upaya dan pelayanan tersebut dapat kita rangkum dalam penjelasan berikut ini: 1. Memberikan edukasi seks di kalangan remaja. Hal ini dikarenakan masih banyaknya para remaja kita yang mempelajari fungsi reproduksi para sudut kenikmatan nya saja tanpa memandang efek-efek negatif di kemudian hari. Maka harapannya dengan pemahaman yang tepat dan lengkap, maka remaja akan dapat membuat keputusan yang tepat untuk menjaga kesucian dirinya masing-masing.

2. Menanamkan kembali nilai-nilai moral sosial dan juga keagamaan akan penting dan mulianya untuk menjaga kehormatan diri. Kebanyakan, para remaja ini karena memang semenjak kecil sudah dijauhkan oleh norma-norma yang mengatur hubungan antar laki-laki dan perempuan sedangkan media gencar mempromosikan tayangan-tayangan yang berbau seksualitas dengan mengedepankan nafsu semata. Ditambah lagi akses pornografi yang dapat dengan mudah didapatkan melalui internet via komputer maupun handphone. 3. Menguatkan kembali kontrol sosial di masyarakat. Tidak dipungkiri yang menjadikan remaja bebas melakukan apa saja adalah karena semakin melemahnya kontrol sosial dari lingkungan keluarga maupun masyarakat. Misalkan saja ada sepasang pelaku pacaran yang diperbolehkan orang tuanya berdua-duaan di dalam kamar. Meskipun tidak terjadi perzinahan di sana, namun itu dapat memicu untuk melakukan tindakan-tindakan yang lebih untuk dilakukan pada lain kesempatan dan lain tempat. Begitu juga kontrol dari masyarakat itu penting ketika melihat ada pasangan muda-mudi yang menginap di kamar kostan dan bahkan terjadi berhari-hari. Hal ini sudah barang tentu dapat semakin mendorong terjadinya penyimpangan perilaku dalam artian melakukan tindakan-tindakan yang seharusnya baru boleh dilakukan oleh pasangan suami isteri yang resmi. 4. Para pelaku yang telah melakukan aborsi juga tak dapat dipandang sebelah mata. Mereka mempunyai hak untuk dapat kita tolong karena bisa saja hal telah mereka lakukan tersebut adalah suatu kekhilafan yang tak ingin diulanginya lagi. Maka, bagi para penyandang PAS, dapat kita tolong dengan memberikan pelayanan konseling serta dukungan sosial untuk dapat bangkit kembali menjalani kehidupan secara normal dengan diiringi taubat yang sebenar-benarnya (Ida, 2011).

BAB.IV.PENUTUP A. Kesimpulan 1. Masa remaja merupakan periode peralihan dari masa anak ke masa remaja. Sering remaja malah terjebak dengan mitos-mitos seputar permasalahan seks. Tidak sedikit diantara mereka yang akhirnya terjebak pada kehamilan yang tidak diinginkan. Banyak diantara mereka yang akhirnya memutuskan untuk melakukan aborsi, padahal tindakan tersebut banyak resiko. 2. Remaja melakukan abortus banyak diakibatkan karena merasa belum siap secara psikologis dan materil, kurangnya informasi juga merupakan alasan mengapa remaja terjebak dalam tindakan aborsi. 3. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah abortus diantaranya adalah memberikan edukasi seks di kalangan remaja, menanamkan kembali nilai-nilai moral sosial dan

juga keagamaan akan penting dan mulianya untuk menjaga kehormatan diri, menguatkan kembali kontrol sosial di masyarakat dan memberikan pelayanan konseling serta dukungan sosial untuk dapat bangkit kembali menjalani kehidupan secara normal.

B. Saran 1. Orang tua diharapkan dapat merespon masalah remaja dengan tepat 2. Remaja dilibatkan oleh orang tua dalam setiap keputusan yang mencakup kehidupannya. 3. Pilak sekolah, tim kesehatan dan pihak yang terkait hendaknya memberikan informasi yang benar, konseling, dan pelayanan seksual dan reproduksi yang berkualitas. 4. Masyarakat ikut berperan serta dalam pengkontrol pergaulan remaja.

KEPUSTAKAAN

GOI & UNICEF. 2000. Laporan Nasional Tindak Lanjut Konferensi Tingkat Tinggi Anak (Draft). Haryanto, Andri. 2009. Marak Aborsi di Kalangan Remaja Bandung http://bandung.detik.com/read/2009/04/14/100043/1115056/486/marak-aborsi-di-kalanganremaja-bandung diakses tanggal 14 April 2012. Ida, 2011, Abortus menjadi solusi remaja. http://kesehatan.kompasiana com/medis/ 2011/10/30/ketika-topik-aborsi-menjadi-hitz-dikalangan-remaja diakses tanggal 14 April 2012. Pramukti, I. 2007. Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang Seksualitas. Journal Of Public Health Nursing and Midwivery Sciences Vol. 1 (4): 64-71 diakses 14 April 2012. Putra. 2010. Aborsi pada Remajaa http://mily.wordpress.com/2010/01/02/makalah-aborsipada-remaja diakses tanggal 14 April 2012. Roslina, N. dan Nurhasanah, E. 2007. Hubungan Pengetahuan Tentang Penyakit Menular Seksual Dengan Perilaku Seksual Remaja. Sehat Masada Jurnal Penelitian Kesehatan Dharma Husada Bandung Vol. 1 (1): 90-103 diakses tanggal 14 April 2012 Sawabi. 2009. 2,3 Juta Kasus Aborsi Per Tahun, 30 Persen oleh Remaja. http://regional.kompas.com/read/2009/02/16/11310897 diakses tanggal 14 April 2010

Syafruddin. 2003. Abortus Provocatus dan Hukum. Sumatra: USU-Library. WHO. 2000. Safe Abortion: Technical and Policy Guidance for Health System Draft 4 Diposkan 28th May 2012 oleh tati hardiyani 2. May 27

PUZZLE ALAT PERMAINAN ANAK YANG MENDIDIK


1. Bahan : Kardus Bekas (Susu/makanan bayi), gambar di koran/kertas kado/majalah/brosur bekas/kalender 2. Peralatan : Gunting, Lem 3. Cara : Potong kardus menjadi bentuk geometri tertentu untuk digunakan sebagai alasnya Gunting gambar, lalu tempelkan ke bagian karton yang tidak bergambar Buatlah pola potongan puzzle dan gunting sesuai pola tersebut. (sesuaikan dengan usia anak)

Tips: 4. Buatlah alas bentuk geometri yang ingin anda kenalkan kepada anak Biarkan anak memilih gambar yang mereka sukai (atau anda bisa mencari gambar sesuai dengan tema yang anda pilih sebelumnya, namun tetap biarkan anak memilih) 5. Biarkan anak menggunting gambar untuk melatih jari-jari tangannya, lalu menempelkan ke karton. Kenalkan kosa kata yang berkaitan dengan gambar yang mereka pilih Misal anak memilih gambar nyamuk. 6. Rangsang anak sambil berdialog (bisa juga dalam rangka menuansakan agama) Alhamdulillah, kakak sudah memilih gambar Nyamuk, serangga ciptaan Allah yang disebut dalam Al-Quran, jangan lupa sebelum memulai bermain mengucapkan Basmallah dan doa. 7. Berikan informasi yang berkaitan dengan nyamuk misal : bagian tubuh nyamuk, penyakit yang disebabkan nyamuk (Secara singkat dan jelas). Firman Allah : Q.S. Al-Baqarah:26 yang artinya Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan : Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tiada ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang fasik

Diposkan 27th May 2012 oleh tati hardiyani 3. May 26

dompet elegan

Diposkan 26th May 2012 oleh tati hardiyani 4. May 25

nama lengkap saya tati hardiyani,...bisa dipanggil tati ajah... asal cilacap tepatnya dikarangpucung bahasa sehari-hari campuran kadang sunda, jawa n bahasa ind... sekarang masih menjadi mahasiswi jurusan keperawatan UNSOED

saya bangga menjadi calon perawat...

Diposkan 25th May 2012 oleh tati hardiyani

Memuat Kirim masukan GAMBARAN PENGETAHUAN SISWI KELAS X 4 TENTANG ABORSI DI SMA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bermula dari hubungan seks pranikah atau seks bebas sehingga terjadi kehamilan yang tidak diharapkan (KTD). Ada 2 hal yang bisa dilakukan oleh remaja, yaitu mempertahankan kehamilan dan mengakhiri kehamilan (aborsi). Semua tindakan tersebut membawa dampak baik fisik, psikis, sosial dan ekonomi. Kematian ibu yang disebabkan komplikasi aborsi sering tidak muncul dalam laporan kematian tetapi dilaporkan sebagai perdarahan atau sepsis. Hal ini terjadi karena hingga saat ini aborsi masih merupakan masalah kontroversial di masyarakat. (Widyastuti, dkk, 2009). WHO memperkirakan ada 20 juta kejadian aborsi tidak aman di dunia, 9,5 % ( 19 dari 20 juta tindakan aborsi tidak aman ) diantaranya terjadi di Negara berkembang. Sekitar 13% dari total perempuan yang melakukan aborsi tidak aman berakhir dengan kematian. Resiko kematian akibat aborsi yang tidak aman di wilayah Asia di perkirakan 1 berbanding 3700 dibanding dengan aborsi yang aman (http://www.medical-journal.co.cc ).

Diperkirakan setiap tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,4 juta jiwa. Parahnya, 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja. Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ( BkkbN ) Sumut, mengaku perihatin dengan keberadaan remaja saat ini. Sebab menurut data 2010, baik dari Badan Pusat Statistik ( BPS ) sebagian dari 63 juta jiwa remaja berusia 10 24 tahun di indonesia berprilaku tidak sehat. Kasus aborsi dikalangan remaja, diperoleh data 2,5 juta jiwa perempuan pernah melakukan aborsi dan dari jumlah ini 27 % atau 700 ribu dilakukan remaja ( http://beritasore.com ). Beberapa wilayah lain di Indonesia, seks pranikah juga dilakukan beberapa remaja. Misalnya saja di Surabaya tercatat 54 %, Bandung 47 %, dan 52 % di Medan (http://populerfashion.blogspot.com ). Menurut hasil survey pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 10 April 2011 di SMA Negeri 8 padangsidimpuan tahun 2011di dapatkan 9 dari 10 siswi yang diwawancarai belum mengetahui tentang aborsi. Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti pengetahuan tindakan aborsi yang di lakukan oleh remaja puteri. Oleh karena itu penulis ingin melakukan penelitian di SMA Negeri 8 Padangsidimpuan Tahun 2011 di kelas X-4. Oleh karena keterbatasan waktu, maka Penulis hanya melakukan penelitian pada abortus provokatus. Abortus provokatus, yaitu aborsi yang disengaja. Disengaja maksudnya adalah bahwa seorang wanita hamil sengaja menggugurkan kandungan janinnya baik dengan sendiri atau dengan bantuan orang lain

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka dapat dibuat rumusan masalah yaitu bagaimanakah pengetahuan remaja tentang aborsi pada siswa kelas X 4 di SMA Negeri 8 Padangsidimpuan tahun 2011.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum


Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja tentang aborsi pada siswi kelas X-4 di SMA Negeri 8 Padangsidimpuan Tahun 2011.

1.3.2 Tujuan khusus


1. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja tentang aborsi di SMA Negeri 8 Padangsidimpuan Tahun 2011 berdasarkan umur. 2. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja tentang aborsi di SMA Negeri 8 Padangsidimpuan Tahun 2011 berdasarkan oleh pendidikan orangtua. 3. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja tentang aborsi di SMA Negeri 8 Padangsidimpuan Tahun 2011 berdasarkan sumber informasi.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi penulis


Mampu menerapkan mata kuliah yang telah diajarkan, menambah pengalaman dan

wawasan mengenai penelitian khususnya penelitian pengetahuan remaja tentang aborsi yang dilakukan oleh remaja.

1.4.2 Bagi Tempat Penelitian


Menambah wawasan dan informasi bagi tempat penelitian, terutama bagi guru BP untuk memberi penyuluhan tentang aborsi.

1.4.3 Bagi institusi pendidikan


Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan untuk memperluas wawasan mahasiswa tentang aborsi dan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.

1.4.4 Bagi Responden


Untuk menambah wawasan dan pengetahuan siswi kelas X 4 SMA Negeri 8 Padangsidimpuan Tentang Aborsi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengetahuan


2.1.1 Defenisi Pengetahuan (knowledge) adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah oramg melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi terjadi melalui panca indra manusia yaitu indra pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia di peroleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangt penting untuk terbentuknya tindakan seseorang ( Notoatmodjo, 2003 ).

2.1.2 Tingkat pengetahuan


Menurut Notoatmodjo pengetahuan yang tercakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yaitu : 1. Tahu (Know ) Tahu diartikan sebagai mengigat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah meningkat kembali terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang di pelajari atau rangsangan yang telah diterima. 2. Memahami (Komprehension )

Memahami di artikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang di ketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau meteri harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang di pelajari. 3. Aplikasi (Aplication ) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks 4. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain kemampuan analisis ini dapat di lihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya. 5. Sintesis (Syntesis) Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian - bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalaah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada. 6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang di tentukan sendiri atau menggunakan kriteria - kriteria yang telah ada (Notoatmodjo,2003).

2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan


Menurut Notoatmodjo, faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah : 1. Umur

Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan dalam penyelidikan epidemiologi. Angkaangka kesakitan dan kematian didalam hampir semua kesadaran menunjukkan hubungan umur. Dengan cara ini orang dapat membacanya dengan mudah dan melihat pola kesakitan maupun kematian menurut golongan umur personal yang dihadapi adalah apakah umur yang di laporkan tepat, apakah peranan panjang umur interval pada dalam pengelompokan dan cukup umur atau tidak

menyembunyikan

pola kesakitan

kematian,

apakah

pengelompokan umur dapat dibandingkan dengan pengelompokan umur pada penelitian orang lain. 2. Pendidikan Secara luas pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan individu sejak dalam ayunan hingga liang lahat, berupa interaksi individu dengan lingkungannya, baik secara formal maupun informal. Proses dan kegiatan pendidikan pada dasarnya melibatkan masalah perilaku individu maupun kelompok. Kegiatan pendidikan formal maupun informal berfokus pada proses belajar mengajar dengan tujuan akan terjadai perubahan perilaku,yaitu dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti dan dari tidak dapat menjadi dapat. 3. Sumber-sumber informasi Sumber informasi adalah semua bentuk informasi yang dapat meningkatkan pengetahuan pasien, sumber informasi kesehatan biasanya berasal dari petugas kesehatan. Stimulasi tentang suatu penyakit dan melakukan sosialis tentang pemakaian produk-produk baru kesehatan, sedangkat informasi melalui media massa adalah media elektronik, media cetak, maupun billboard (berisi informasi kesehatan yang dipasang di pinggir jalan). Sumber informasi kesehatan yang tepat mempunyi peran yang besar dalam meningkatkan pengetahuan individu seseorang (Notoatmodjo 2003).

2.2 Remaja

2.2.1 Defenisi Remaja atau adolescence (inggris), berasal dari bahasa latin Adolescere yang berarti tumbuh kearah kematangan. Kematangan yang dimaksud adalah bukan hanya kematangan fisik, tetapi juga kematangan sosial dan psikologis. Batas usia remaja menurut WHO ( 2009 ) adalah 12 samapi 24 tahun menurut Depkes RI ( 2009 ) adalah antara 10 sampai 19 tahun dan belum kawin. Menurut BKKBN adalah 10 sampai 19 tahun. Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosi dan psikis, masa remaja yakni antara usia 10 samapi 19 tahun, adalah suatu periode masa pematangan organ reproduksi manusia, dan sering disebut masa pubertas. Masa remaja adalah periode peralihan dari masa anak ke - masa dewasa. Pada masa remaja tersebut terjadilah suatu perubahan organ organ fisik

(Organobiologik) secara cepat, dan perubahan tersebut tidak seimbang dengan perubahan kewajiban (mental emosional). Terjadinya perubahan besar ini umumnya membingungkan remaja yang mengalaminya. Dalam hal inilah bagi para ahli dalam bidang ini, memandang perlu akan adanya pengertian, bimbingan dan dukungan dari lingkungan sekitarnya, agar dalam system perubahan tersebut terjadi perubahan tersebut terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang sehat sedemikian rupa sehingga kelak remaja tersebut menjadi manusia dewasa yang sehat secara jasmani, rohani dan sosial. Terjadinya kematangan seksual atau alat alat reproduksi yang berkaitan dengan system reproduksi, merupakan suatu bagian penting dalam kehidupan remaja sehingga diperlukan perhatian khusus, karena bila timbul dorongan dorongan seksual yang tidak sehat akan menimbulkan perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab. Inilah sebabnya maka para ahli dalam bidang ini berpendapat bahwa kesetaraan perlakuan terhadap remaja pria dan wanita diperlakukan dan mengatasi masalah kesehatan reproduksi remaja, agar dapat tertangani secara tuntas ( Widiyastuti, 2009 ).

2.3 Aborsi 2.3.1 Defenisi


Gugur kandungan atau aborsi (bahasa Latin: abortus) adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin. Apabila janin lahir selamat (hidup) sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, maka istilahnya adalah kelahiran prematur (http://situs.kesrepro.info/gendervaw ). Aborsi merupakan upaya terminasi kehamilan dengan alasan sosial, ekonomi dan kesehatan ( widyastuti, 2009 ). Aborsi atau bahasa ilmiahnya abortus adalah proses pengguguran pada bayi yang masih dalam usia kandungan ( Imam, 2010). Abortus provocatus ( abortus yang disengaja dibuat ) menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup diluar tubuh ibu. Pada umumnya dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandungan apabila kehamilan belum mencapai umur 28 minggu atau berat badan bayi belum 1000 gram, walaupun tedapat kasus bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup ( http ://.kti-kebidanan.co.cc ). Abortus provokatus adalah abortus buatan yamg terjadi akibat intervensi tertentu yang bertujuan untuk mengakhiri proses kehamilan ( Sarwono, 2009 ).
[[[[[

2.4 Klasifikasi 2.4.1 Abortus provocatus medisinalis

Abortus provokatus medisinalis karena alasan kesehatan ibu hamil tersebut tidak dapat melanjutkan kehamilannya. Misalnya sakit jantung, karena jika kehamilannya dilanjutkan terjadi penambahan beban kerja jantung sehingga sangat berbahaya bagi jiwanya.

2.4.2 Abortus provocatus kriminalis


Abortus provokatus kriminalis, tindakan pengosongan rahim dari buah kehamilan yang dilakukan dengan sengaja bukan karena alasan medis, tetapi alasan lain biasanya karena hamil diluar nikah, atau terjadi pada pasangan yang menikah karena gagal kontrasepsi maupun karena tidak menginginkan kehamilannya.

2.5 Etiologi 2.5.1 Etiologi Aborsi Provokatus medisinalis


1. Faktor Ibu seperti penyakit kronis yang diderita oleh sang ibu seperti radang paru paru, tipus, anemia berat, keracunan dan infeksi virus toxoplasma. 2. Kelainan yang terjadi pada organ kelamin ibu seperti gangguan pada mulut rahim, kelainan bentuk rahim terutama rahimnya yang melengkung kebelakang (secara umum rahim melengkung kedepan), Mioma uteri, dan kelainan bawaan pada rahim.

2.5.2 Etiologi Abortus provokatus kriminalis


1. Ketidaktahuan atau minimnya pengetahuan tentang perilaku seksual yang dapat meyebabkan kehamilan. 2. Kehamilan yang diakibatkan pemerkosaan. 3. Alasan karir atau masih sekolah (karena kehamilan dan konsekuensi lainnya dianggap dapat menghambat karir atau kegiatan belajar). 4. Kehamilan karena incest

(http://www.kti-kebidanan.co.cc ).

2.6 Patofsiologi Keguguran


Patofsiologi terjadinya keguguran mulai dari terlepasnya sebagian atau seluruh jaringan plasenta, yang menyebabkan perdarahan sehingga janin kekurangan nutrisi dan O2. Bagian yang terlepas dianggap benda asing, sehingga rahim berusaha untuk mengeluarkan dengan kontraksi. Pengeluaran tersebut dapat terjadi spontan seluruhnya atau sebagian masih tertinggal yang menyebabkan berbagai penyulit. Oleh karena itu, keguguran memberikan gejala umum sakit perut karena kontraksi rahim, terjadi perdarahan, dan disertai pengeluaran seluruh atau sebagian hasil konsepsi ( Manuaba, 2003 ).

2.7 Alasan melakukan tindakan abortus Provokatus 2.7.1 Abortus Provokatus Medisinalis
1. Abortus yang mengancam (threatened abortion) disertai dengan perdarahan yang terus menerus, atau jika janin telah meninggal (missed abortion). 2. Molahidatidosa atau hidramnion akut. 3. Infeksi uterus akibat tindakan abortus kriminalis. 4. Penyakit keganasan pada saluran jalan lahir, misalnya kanker serviks atau jika dengan adanya kehamilan akan menghalangi pengobatan untuk penyakit keganasan lainnya pada tubuh seperti nker payudara. 5. Telah berulang kali mengalami operasi caesar. 6. Penyakit-penyakit dari ibu yang sedang mengandung, misalnya penyakit jantung organik dengan kegagalan jantung, hipertensi, nephritis, tuberkulosis paru aktif, toksemia gravidarum yang berat. 7. Penyakit-penyakit metabolik, misalnya diabetes yang tidak terkontrol

yang disertai komplikasi vaskuler, hipertiroid, dan lain-lain. 8. Epilepsi, sklerosis yang luas dan berat. 9. Hiperemesis gravidarum yang berat

2.7.2 Abortus Provokatus Kriminalis


1. ketidak tahuan atau minimnya pengetahuan tentang prilaku menyebabkan kehamilan. 2. Kehamilan yang diakibatkan perkosaan. 3. Alasan karir atau masih sekolah ( karena kehamilan dan konsekuensi lainnya dianggap dapat menghambat karir atau kegiatan belajar ). 4. Kehamilan karena incest. seksual yang dapat

2.8 Pelaku Abortus Provokatus Kriminalis


Pelaku Abortus Provokatus Kriminalis biasanya adalah: 1. Wanita bersangkutan. 2. Dokter atau tenaga medis lain (demi keuntungan atau demi rasa simpati). 3. Orang lain yang bukan tenaga medis misalnya dukun ( http://situs.kesrepro.info/gendervaw ).

2.9 Isu pokok Aborsi di indonesia dan dampaknya


Ada 2 isu pokok aborsi di indonesia, yaitu masalah aspek legal atau bersifat ilegal dan pelaksanan aborsi yang tidak profesional atau dilakukan oleh tenaga profesional. Dampak aborsi ilegal ada beberapa hal , yaitu :

1. Pengawasaan dan pemantauan pada praktek aborsi ilegal tidak dapat diawasi, mempengaruhi standarisasi mutu 2. Berhubungan dengan obyek pemerasan sehingga mempengaruhi biaya Biaya tinggi mengakibatkan terhambatnya tindakan aborsi sehingga begitu biaya terkumpul kehamilan sudah diatas 20 minggu bukan lagi pengguguran tapi pembunuhan. Hal ini juga yang menyebabkan pelaku aborsi menggunakan tenaga tradisional.

2.10 Penanganan kasus aborsi pada remaja


Saat menemukan kasus aborsi pada remaja, sebagai petugas kesehatan harus : 1. Bersikap bersahabat dengan remaja 2. Memberikan konseling pada remaja dan keluarganya 3. Apabila ada masalah yang serius agar diberikan jalan keluar yang terbaik dan apabila belum bisa terlaksanakan supaya di konsultasikan kepada dokter ahli 4. Memberikan alternatif penyelesaian masalah apabila terjadi kehamilan pada remaja yaaitu : a. Diselesaikan secara kekeluargaan

b. Segera menikah c. Konseling kehamilan, persalinan dan keluarga berencana d. Pemeriksaan kehamilan sesuai standar e. Bila ada gangguan jiwa, rujuk ke psikiater f. Bila ada resiko tinggi kehamilan, rujuk ke SpOG.

g. Bila tidak terselesaikan dengan menikah, anjurkan pada keluarga supaya menerima dengan baik. h. Bila ingin melakukan aborsi, berikan konseling resiko aborsi ( Widiyastuti, 2009 ).

2.11

Pencegahan Aborsi
1. Tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah

2. Memanfaatkan waktu luang dengan melakukan kegiatan positif seperti berolahraga, seni dan keagamaan. 3. Hindari perbuatan yang akan menimbulkan dorongan seksual, seperti meraba raba tubuh pasangannya dan menonton video porno. 4. Mendekatkan diri pada tuhan 5. Jangan terjebak pada rayuan gombal ( Ambarwati, 2009 ).

2.12

Resiko Bila Melakukan Aborsi


1. Resiko fisik Perdarahan dan komplikasi lain merupakan salah satu resiko Aborsi yang berulang selain bisa mengakibatkan komplikasi juga dapat menyebabkan kemandulan.

2. Resiko Pisikis Pelaku aborsi sering kali mengalami perasaan perasaan takut, panik, tertekan atau stress, trauma mengingat proses aborsi dan kesakitan, kecemasan karena rasa bersalah, atau dosa akibat aborsi bisa berlangsung lama. Selain itu pelaku Aborsi juga sering kehilangan percaya diri.

3. Resiko Sosial Ketergantungan pada pasangan sering kali menjadi lebih besar karena perempuan merasa tidak perawan, pernah mengalami Aborsi. Selanjutnya remaja perempuan lebih sulit menolak ajakan seksual pasangannya. Resiko ini adalah pendidikan menjadi terputus atau masa depan terganggu.

4. Resiko Ekonomi Biaya aborsi cukup tinggi. Bila terjadi komplikasi biaya makin tinggi ( Widayastuti, 2009 ).

2.13

Aspek hukum
Di Negara Indonesia, dalam Kitab Undang Undang Hukum Pidana ( KUHP) tindakan pengguguran kandungan yang disengaja di golongkan kedalam kejahatan terhadap nyawa ( BAB XIX pasal 346 349 dan BAB XIV pasal 229 ). Dalam KUHP BAB XIX padal 346 349 dinyatakan sebagai berikut : :Dikatakan bahwa wanita yang dengan sengaja menggugurkan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk melakukan hal itu di ancam hukuman penjara paling lama 4 tahun. : ( 1 )disebutkan orang yang menggugurkan atau mematikan kehamilan seorang wanita tanpa persetujuan wanita itu diancam hukuman paling lama 12 tahun penjara, ( 2 ) menyebutkan jika dalam menggugurkan kandungan tersebut berakibat pada hilangnya nyawa wanita yang mengandung itu, maka pihak pelaku dikenakan hukuman penjara paling lama 15 tahun. : ( 1 ) disebutkan bahwa orang yang dengan sengaja menggugurkan kandungan seorang wanita atas persetujuan wanita itu di ancam hukuman paling lama 15 tahun penjara, ( 2 ) jika dalam perbuatan itu menyebabkan wanita itu meninggal, maka pelaku diancam hukuman paling lama 17 tahun penjara. : Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346 ataupun membantu melakukan salah satu kejahatan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu ditambah dengan sepertiga dan dapat di cabut hak untuk menjalankan pencaharian mana kejahatan yang dilakukan.

Pasal 346

pasal 347

asal 348

asal 349

alam KUHP BAB XIV pasal 229 dinyatakan sebagai berikut : : ( 1 ) dikatakan bahwa perbuatan aborsi yang disengaja atas perbuatan sendiri atau meminta bantuan orang lain dianggap sebagai tindakan pidana yang diancam dengan huku paling lama 4 tahun penjara atau denda. ( 2 ) bahwa apabila yang bersalah dalam aborsi tersebut adalah pihak luar ( bukan Ibu yang hamil) dan perbuatan itu dilakukan unutk tujuan ekonomi, sebagai mata pencarian, maka hukumannya dapat ditambah sepertiga hukum pada ayat 1 diatas ( Imam, 2010 ).

asal 229

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Konsep


Kerangka konsep adalah suatu hubungan atau kaitan antara satu konsep dengan konsep lainnya dari masalah yang diteliti. Berdasarkan uraian teori dan rumusan masalah di atas, dapat dikembangkan kerangka konsep sebagai berikut: Variabel Independen Variabel Dependen

Umur Pendidikan orang tua Sumber Informasi

Pengetahuan remaja tentang Aborsi

Variabel Independen adalah sebab atau variabel yang mempengaruhi terdiri dari tingkat pengetahuan berdasarkan umur, pendidikan orang tua,dan sumber informasi. Variabel Dependen adalah akibat atau variabel yang dipengaruhi di dalam pengetahuan remaja tentang Aborsi.

3.2 Defenisi Operasional 3.2.1 Pengetahuan


Pengetahuan yaitu kemampuan Remaja dalam menjawab pertanyaan pertanyaan yang dianjukan melalui kuesioner yang berhubungan dengan Aborsi. Kategori pengetahuan yaitu: 1. Dikatakan pengetahuan baik apabila responden dapat menjawab dengan benar 76 100% dari seluruh pertanyaan 2. Dikatakan pengetahuan cukup apabila responden dapat menjawab dengan benar 60 75% dari seluruh pertanyaan. 3. Dikatakan pengetahuan kurang apabila responden dapat menjawab dengan benar < 60% dari seluruh pertanyaan

3.2.2 Umur
Lamanya hidup yang dihitung mulai dari sejak tahun dimana responden dilahirkan sampai penelitian berlangsung. Dengan kategori: 1. Masa Remaja Awal ( 10 12 tahun ) 2. Masa Remaja Tengah ( 13 15 tahun ) 3. Masa Remaja Akhir ( 16 19 tahun )

3.2.3 Pendidikan Orang Tua


Kemampuan orang tua dalam memberikan asuhan, pemahaman dan penjelasan terhadap anak yang berhubungan dengan Aborsi. Dengan kategori:

1. Pendidikan Dasar 2. Pendidikan Menengah 3. Perguruan Tinggi

: SD/MI atau SMP/MTS : SMU / SMK : Perguruan Tinggi/ Akademik

3.2.4 Sumber Informasi


Sumber Informasi adalah informasi yang di dapat oleh responden yang berhubungan dengan pengetahuan Remaja tentang Aborsi, yang terdiri dari: Media Cetak : Selebaran, Koran, majalah, poster dan

buku buku bacaan.

2. Media Elektronik 3. Petugas kesehatan

: Radio, TV, Internet : Dokter, Bidan, Perawat

3.3 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah bersifat deskriptif, yaitu dengan menggunakan data primer yang langsung dikumpulkan melalui pengisian kuesioner. Deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara objektif.

3.4 Lokasi dan waktu penelitian 3.4.1 Lokasi Penelitian


Lokasi yang dipilih menjadi tempat penelitian Gambaran Pengetahuan siswi X- 4 tentang Aborsi adalah SMA Negeri 8 Padangsidimpuan karena di SMA Negeri 8 Padangsidimpuan mudah di jangkau dan berdasarkan survey awal populasinya cukup sehingga memudahkan peneliti untuk pengumpulan data.

3.4.2 Waktu Penelitian


Dilakukan dari bulan maret juli Tahun 2011, dimana penelitian ini diawali dengan penelusuaran pustaka, pengajuan judul survey awal, bimbingan proposal, seminar proposal, penelitian, bimbingan hasil penelitian, dan sidang, KTI ( Sidang Komprehensif ).

3.5 Populasi dan Sampel 3.5.2 Populasi


Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang akan diteliti. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi Putri kelas X 4 Padangsidimpuan Tahun 2011, yang berjumlah 24 oarang. di SMA Negeri 8

3.5.3 Sampel
Sampel adalah objek yang akan di teliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Adapun sampel dalam penelitian ini diambil dari siswi kelas X 4 SMA Negeri 8 Padangsidimpuan yang berjumlah 24 orang atau total sampling.

3.6 Metode Pengumpulan Data 3.6.1 Data Primer


Data primer adalah data yang diperoleh penulis langsung dari responden melalui tanya jawab dengan menyatakan kuesioner, berupa pertanyaan tertutup 20 soal pengumpulan data yang penulis lakukan adalah: 1. Wawancara Pada saat penelitian penulis melakukan wawancara antara penulis dan responden dengan melakukan tanya jawab 2. Angket atau Kuesioner Pada saat penelitian penulis juag membagikan Angket / Kuesioner kepada responden untuk di isi, dimana responden hanya melakukan checklist ( ) pada jawaban yang sudah tersedia berupa pertanyaan tertutup 3. Pengukuran Dalam penelitian ini penulis melakukan pengukuran dengan menggunakan kuesioner, jika responden dapat menjawab dengan benar dibuat nilai 5, dan jika responden menjawab salah maka diberi nilai 0.

3.6.2 Data Skunder


Data skunder adalah data yang diperoleh dari instansi pendidikan dengan mengambil data absensi siswi kelas X 4 SMA Negeri 8 Padangsidimpuan.

3.7 Pengolahan Data dan Analisa Data

7.1 Pengolahan Data


Data yang sudah dikumpulkan kemudian diolah dengan langkah langkah sebagai berikut: 1. Proses Editing Dilakukan pengecekan kelengkapan data pada data yang terkumpul, bila terdapat data yang tidak lengkap atau kurang dilakukan pendataan ulang. 2. Coding Data yang telah diedit di rubah kedalam bentuk (kode) untuk memenuhi data yang ada 3. Tabulating Sebagai alat ukur dengan variabel yang dibutuhkan lalu dimasukkan kedalam tabel distribusi frekuensi.

3.7.2 Analisa Data


Analisa data dilakukan secara deskriptif dengan melihat persentase data yang telah dilakukan dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Agar mudah dipahami digunakan rumus P = f N x100%

Keterangan: P = persentase f = Frekuensi N = jumlah soal ( Arikunto, 2006 ). sumber : Sri Wahyuni Nasution

Mengenai Saya
Poel nisa Lihat profil lengkapku