Anda di halaman 1dari 13

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

1.1.

Pendahuluan Tetanus merupakan penyakit yang akut dan seringkali fatal, penyakit ini

disebabkan oleh eksotoksin yuang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Kata tetanus berasal dari bahasa Yunani tetanos, yang diambil dari kata teinein yang berarti teregang. Tetanus dikarakteristikan dengan kekakuan umum dan kejang kompulsif pada otot-otot rangka. Kekakuan otot biasanya dimulai pada rahang ( lockjaw) dan leher dan kemudian menjadi umum. Penyakit ini merupakan penyakit yang serius namun dapat dicegah kejadiannya pada manusia. 1.2. Definisi Tetanus didefinisakan sebagai penyakit yang timbul karena sistem saraf pusat terintoksikasi oleh Clostridium tetani, suatu kuman basil gram positif yang memproduksi neurotoksin spesifik. 1.3. Epidemiologi Tetanus terjadi secara luas di seluruh dunia namun paling sering pada daerah dengan populasi padat, pada iklim hangat dan lembab. rganisme penyebab ditemukan secara primer pada tanah dan saluran cerna he!an dan manusia. Transmisi secara primer terjadi melalui luka yang terkontaminasi. "uka dapat berukuran besar atau kecil. Pada tahun-tahun terakhir ini, tatanus sering terjadi melalui luka- luka yang kecil. Tetanus juga dapat menyertai setelah luka operasi elektif, luka bakar, luka tusuk yang dalam, luka robek, otitis media, infeksi gigi, gigitan binatang, aborsi dan kehamilan. #i $merika %erikat, insidensi tetanus telah berhasil diturunkan sejak pertengahan tahun &'(), sejalan degan penggunaan imunisasi tetanus secara luas. Pelaporan kasus pada tahun &'*& + &''& oleh ,#, di $merika menunjukkan bah!a

&

angka kematian pasien dengan tetanus hanya sekitar ()-. #ari tahun &''& -&''( telah dilaporkan bah!a .)- pasien berusia /) -0' tahun dan 10- 2.)tahun. %ecara internasional pada tahun &''/ terhitung sekitar 03*.))) bayi mengalami kematian karena tetanus neonatorum. Pada tahun /))), dengan data dari 45 menghitung insidensi secara global kejadian tetanus di dunia secara kasar berkisar antara ),0 + & juta kasus dan tetanus neonatorum terhitung sekitar 0)- dari kematian akibat tetanus di negara + negara berkembang. Perkiraan insidensi tetanus secara global adalah &* per &)).))) populasi per tahun. #i negara berkembang, tetanus lebih sering mengenai laki + laki dibanding perempuan dengan perbandingan 1 6 & atau ( 6&. %ecara epidemiologi, angka kematian tetanus sekitar (0-, dan . - diketahui mendapatkan & -/ dosis tetanus toksoid, dan &0- pada indi7idu yang tidak di7aksin. $ngka kematian tertinggi diketahui pada penderita dengan usia 2.) tahun (&*-). 1. . E!iologi Penayakit tetanus ini disebabkan karena Clostridium tetani yang merupakan basil gram positif obligat anaerobik yang dapat ditemukan pada permukaan tanah yang gembur dan lembab dan pada usus halus dan feses he!an. 8empunyai spora yang mudah bergerak dan spora ini merupkan bentuk 7egetatif. Kuman ini bisa masuk melalui luka di kulit. %pora yang ada tersebar secara luas pada tanah dan karpet, serta dapat diisolasi pada banyak feses binatang pada kuda, domba, sapi, anjing, kucing, marmot dan ayam. Tanah yang dipupuk dengan pupuk kandang mungkin mengandung sejumlah besar spora. #i daerah pertanian, jumlah yang signifikan pada manusia de!asa mungkin mengandung organisme ini. %pora juga dapat ditemukan pada permukaan kulit yang terkontaminasi. %pora ini akan menjadi bentuk aktif kembali ketika masuk ke dalam luka dan kemudian berproliferasi jika potensial reduksi jaringan rendah. %pora ini sulit di!arnai dengan pe!arnaan gram, dan dapat bertahan hidup bertahun-tahun jika tidak terkena sinar matahari. 9entuk 7egetatif ini akan mudah mati dengan pemanasan &/)o, selama &0-/) menit tapi dapat betahan hidup terhadap antiseptik seperi fenol, kresol. Kuman ini juga menghasilkan / macam eksotoksin yaitu tetanolisin dan tetanospasmin. :ungsi tetanolisin belum diketahui secara pasti, namun diketahui dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang sehat pada luka terinfeksi, menurunkan /

potensial reduksi dan meningkatkan pertumbuhan organisme anaerob. Tetanolisin ini diketahui dapat merusak membran sel lebih dari satu mekanisme. Tetanospasmin (toksin spasmogenik) ini merupakan neurotoksin potensial yang menyebabkan penyakit. Tetanospasmin merupakan suatu toksin yang poten yang dikenal berdasarkan beratnya. Toksin ini disintesis sebagai suatu rantai tunggal asam amino polipeptida &0&-k# &1&0 yang dikodekan pada plsmid 30 kb. Tetanospasmin ini mempengaruhi pembentukan dan pengeluaran neurotransmiter glisin dan ;$9$ pada terminal inhibisi daerah presinaps sehingga pelepasan neurotransmiter inhibisi dihambat dan menyebabkan relaksasi otot terhambat. 9atas dosis terkecil tetanospasmin yang dapat menyebabkan kematian pada manusia adalah /,0 nanogram per kilogram berat badan atau &30 nanogram untuk manusia dengan berat badan 30kg. 1.". Pa!ogenesis C.tetani biasa memasuki tubuh melalui luka. Pada keadaan yang anaerobik, spora dapat tumbuh. <aringan nekrosis, benda asing atau infeksi aktif juga merupakan tempat yang baik untuk perkembangan spora dan pelepasan toksin. Tetanospasmin merupakan suatu zinc metalloprotease, suatu substansi amino acid polyperptide chain yang dilepaskan di dalam luka. Toksin kemudian dapat menyebar melalui otot yang terkena kepada otot di sekitarnya, dan terikat pada ujung terminal motor neuron perifer, kemudian memasuki akson dan ditransport secara retrograd mealui intraneuronal. Toksin ini bekerja pada sistem saraf simpatis. %elain itu toksin juga dapat menyebar melalui sistem predaran darah dan limfatik. Toksin tetanus ini memblokade pelepasan neurotransmitter dengan membelah permukaan protein dari 7esikel sinaps, hal ini mencegah eksositosis normal dari neurotransmiter. Toksin ini menginterfensi fungsi arkus refleks dengan memblokade transmiter inhibisi, terutama ;$9$, pada daerah presinaps pada medula spinalis dan brainstem. Pada pasien dengan tetanus, terdapat kegagalan dari mekanisme inhibisi, yang menghasilkan peningkatan pada akti7asi saraf-saraf yang menginer7asi muskulus maseter (trismus or lockjaw). #ari semua sistem neuromuskular, persarafan maseter merupakan yang paling sensitif terhadap toksin. %timulus yang berbeda ini bukan hanya menghasilkan efek yang berlebihan, tetapi juga menghilangkan iner7asi resiprokal= kontraksi agonis dan antagonis, meningkatkan spasme muskular. %elain terjadi efek generalisata pada saraf-saraf motorik di medula spinalis dan brainstem, 1

toksin ini juga beraksi langsung pada otot skeletal pada titik akson membentuk end plate (mungkin terjadi pada tetanus terlokalisasi) dan pada korteks serebral dan sistem saraf simpatis, pada hipotalamus. Efek Tetanospasmin terhadap Pelepasan Neurotransmiter Pengaruh tetanospasmin terhadap pelepasan neurotransmiter dapat terjadi melalui in7asi saraf terminal, aksi potensial dependent calcium entry, dan peranan kalsium itu sendiri terhadap pelepasan transmiter. Terdapatnya hambatan aliran kalsium oleh toksin juga dapat menghambat pelepasan neurotransmiter, selain itu pelepasan transmiter dari saraf terminal presinaps juga tergantung pada kalsium. Toksin diketahui dapat memodifikasi proses mekanisme perubahan ( ,a dependent menajadi & ,a dependent, bersamaan dengan meningkatnya daya ikat kalsium. >esikel sinaptik memerlukan ( kalsium untuk dapat berataut pada membran presinaps bagian dalam, untuk kemudian bergabung dan melepaskan transmiter. Tetanospasmin ini mengubah keadaan tadi menjadi & ca dependent, bersamaan dengna menurunnya afinitas terhadap kalsium. #engan demikian 7esikel sinaps menjauhi membran presinaps yang aktif dan neurotransmiter gagal dilepaskan. 5ipotesa lain oleh ;ambale dan 8ontal, yang menyebutkan bah!a setelah toksin masuk ke dalam sel, meniumbulkan passive cation channel yang menyebabkan sel tetap berdepolarisasi sehingga mencegah pelepasan transmiter. %edangkan %anberg dkk mengemukakan bah!a tetanospasmin dapat menginhibisi pelepasan asetilkolin dari sel faeokromositoma adrenal tikus dan mencegah akumulasi c;8P (cyclic guanosin monophosphate). 1.#. $am%a&an Klinis Tetanus biasanya mengikuti luka-luka yang dikenali. Kontaminasi benda tajam dengan tanah, pupuk atau besi yang berkarat dapat menyebabkan tetanus. Penyakit ini juga dapat sebagai komplikasi dari luka bakar, ulkus, gangren, gigitan ular yang telah nekrotik, infeksi telinga tengah, aborsi, kelahiran, infeksi intramuskular dan pembedahan. $da trias gejala yaitu rigiditas atau kekauan, spasme dari otot, dan jika parah maka bisa didapatkan disfungsi otonom. Kekakuan otot leher, nyeri tenggorok, dan kesulitan membuka mulut sering merupakan gejala a!al. %pasme otot masseter bisa (

menyebabkan trismus atau lockjaw. %pasme yang progesif meluas dari otot muka menyebabkan ekspresi khusus yang disebut ?@isus %ardonicus? dan pada otot menelan menyebabkan disfagia. Kekakuan dari otot leher menyebabkan retraksi kepala. Kekauan otot-otot rangka tubuh menyebabkan opisthotonus dan kesulitan bernafas dengan complience dinding dada yang menurun. %pasme pada tetanus dapat terjadi secara spontan atau dipengaruhi oleh sentuhan, 7isual, suara, atau emosi. %pasme yang terjadi ber7ariasi kekuatan dan frekuensinya tapi cukup kuat untuk menyebabkan patah tulang dan robeknya suatu jaringan (a7ulsi). %pasme bisa terjadi terus-menerus yang bisa mengakibatkan gagal napas. %pasme faring sering diikuti spasme laring dan berhubungan dengan aspirasi dan obstruksi jalan nafas. 8asa inkubasi ber7ariasi antara 1 sampai /& hari, biasanya sekitar * hari. Pada umumnya tergantung pada lokasi dan jarak antara luka dengan sistem saraf pusat, sehingga lokasi luka yang jauh dapat menyebabkan masa inkubasi yang lebih lama. 8asa inkubasi yang pendek mempunyai angka kematian yang cukup tinggi. Pada tetanus neonatorum gejala biasanya muncul antara ( sampai &( hari setelah lahir dengan rata-rata 3 hari. Karakteristik #ari Tetanus6 &. Kejang bertambah berat selama 1 hari pertama, dan menetap selama 0-3 hari. /. %etelah &) hari kejang mulai berkurang frekuensinya. 1. %etelah / minggu kejang mulai hilang. (. 9iasanya didahului dengan ketegangan otot terutama pada rahang dan leher. 0. Kemudian timbul kesukaran membuka mulut (trismus A lockjaw) karena spasme otot masseter. .. Kejang otot berlanjut ke kaku kuduk (nuchal rigidity) 3. @isus %ardonicus karena spasme otot muka dengan gambaran alis tertarik ke atas, sudut mulut tertarik keluar dan keba!ah, bibir tertekan kuat. *. ;ambaran umum yang khas berupa badan kaku dengan opistotonus, tungkai ekstensi, lengan kaku dengan mengepal, biasanya kesadaran tetap baik.

'. Karena kontraksi otot yang sangat kuat, dapat terjadi asfiksia dan sianosis, retensi urin, bahkan dapat terjadi fraktur collumna 7ertebralis (pada anak). 9erdasarkan pada temuan klinis terdapat ( bentuk tetanus yang telah dideskripsikan yaitu6 &. Tetanus lokal, merupakan bentuk yang tidak umum dimana pasien mengalami kontraksi otot yang persisten pada daerah luka yang terjadi (agonis, antagonis, dan fiBator). 5al inilah merupakan tanda dari tetanus likal. Kontraksi otot biasanya ringan, bisa bertahan dalam beberapa bulan tanpa progresif dan biasanya menghilang secara bertahap. Tetanus lokal dapat mendahului tetanus umum namun dalam bentuk yang relatif lebih ringan dan jarang menimbulkan kematian. Prognosis pada pasien dengan tetanus lokal ini sangat baik, hanya berkisar &- dari kasus yang mengalami kematian. /. Tetanus sefalik, merupakan bentuk tetanus yang jarang terjadi, bisanya terjadi menyertai otitis media dimana C. tetani ditemukan sebagai flora pada telinga tengah atau menyertai trauma kepala. Tetanus bentuk ini dapat mengenai ner7us kranialis, khususnya pada daerah !ajah. 9entuk tetanus ini merupakan bentuk yang tidak biasa dengan masa inkubasi &-/ hari. 1. Tetanus Cmum, merupakan bentuk yang paling sering terjadi (sekitar *)-). Penyakit ini biasanya muncul dalam bentuk descending. ;ejala pertama yang muncul adalah trismus dan lockjaw, kemudian diikuti dengan kekakuan leher, kesulitan menelan, dan rigiditas abdomen. ;ejala lain berupa @isus sardonicus (%ardonic grin) yakni spasme otot-otot muka, opistotonus (kekakuan otot punggung), kejang dinding punggung. %pasme dari laring dan otot-otot pernafasan bisa menimbulkan sumbatan saluran nafas, sianosis asfiksia. ;ejala lainnya adalah suhu tubuh yang meningkat /D-(D , di atas suhu normal, berkeringat, peningkatan tekanan darah, dan denyut jantung yang cepat secara episodik. %pasme dapat terjadi secara berkala selama beberapa menit. %pasme dapat berkelanjutan selama 1-( minggu. Penyembuhan secara komplit dapat memakan !aktu selama beberapa bulan. (. Tetanus neonatorum, merupakan bentuk tetanus umum yang terjadi pada bayi baru lahir. Tetanus neonatorum terjadi pada bayi yang tidak mendapatkan perlindungan imunisasi pasif, karena ibu yang tidak diimunisasi. Enfeksi biasanya terjadi melalui umbilikus yang dipotong dengan perangkat yang tidak steril. .

Tetanus neonatorum sering terjadi di negara-negara berkembang (terhitung sekitar lebih dari /&0.))) kematian di dunia pada tahun &''*). 1.'. Diagnosis #iagnosis tetanus mutlak didasarkan pada gejala klinis dan anamnesa. Tetanus tidaklah mungkin apabila terdapat ri!ayat serial 7aksinasi yang telah diberikan secara lengkap dan 7aksin ulangan yang sesuai telah diberikan. Pemeriksaan laboratorium hanya dipakai untuk eksklusi diagnosa-diagnosa yang lain. 9iakan anaerob dari jaringan luka yang terkontaminasi didapat organisme ,lostridium tetani, dan elektromiogram mungkin menunjukkan impuls unit-unit motorik dan pemendekan atau tidak adanya inter7al tenang yang secara normal dijumpai setelah potensial aksi. Perubahan non-spesifik dapat dijumpai pada elektrokardiogram, dan enFim otot (,PK) mungkin meningkat. 1.(. Peme&i)saan *a%o&a!o&ium Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang karakteristik untuk tetanus. Pada pemeriksaan darah, jumlah lekosit mungkin meningkat, laju endap darah sedikit meningkat. Pemeriksaan cairan serebrospinal masih dalam batas normal. Tingkat serum enFim otot mungkin meningkat. #iagnosis ditegakkan secara klinis dari anamnesa dan pemeriksaan fisik dan tidak tergantung pada konfirmasi bakteriologis. ,. Tetani hanya ditemukan pada 1)- pada luka pasien dengan kasus tetanus, dan dapat diisolasi dari pasien yang tidak memberikan gejala tetanus. 1.+. Klasifi)asi 9erdasarkan gambaran klinis yang telah dideskripsikan, maka tingkatan penyakit tetanus dapat dibuat dalam suatu kriteriaAderajat berat + ringannya penyakit. 8enurut ablettGs, kriteria tetanus ini dibagi menjadi 1 tingkatan, yaitu 6 E (@ingan) 6 kasus tanpa disfagia dan gangguan respirasi EE (%edang) 6 kasus dengan spastisitas nyata, gangguan menelan (disfagia) dan gangguan respirasi EEEa (9erat) 6 kasus dengan spastisitas berat disertai spasme berat 3

EEEb (%angat 9erat) 6 sama dengan tingkat EEEa hanya disertai adanya akti7itas simpatis berlebihan (disotonomia) 8odifikasi klasifikasi $blettGs 6 E Trismus ringan dan sedang dengan kekakuan umum. Tidak disertai dengan kejang, gangguan respirasi dengan sedikit atau tanpa gangguan menelan EE Trismus sedang, kaku disertai spasme kejang ringan sampai sedang yang berlangsung singkat, disertai disfagia ringan dan takipnea 21)+10BA menit EEE Trismus berat, kekakuan umum, spasme dan kejang spontan yang berlangsung lama. ;angguan pernapasan dengan takipnea 2()BAmenit, kadang apnea, disfagia berat dan takikardia 2&/)BAmenit. Terdapat peningkatan akti7itas saraf otonom yang moderat dan menetap. E> ;ambaran tingkat EEE disertai gangguan saraf otonom berat dimana dijumpai hipertensi berat dengan takikardi berselang dengan hipotensi relatif dan bradikardia atau hipertensi diastolik yang berat dan menetap (tekanan diastolik 2&&) mm5g) atau hipotensi sistolik yang menetap (tekanan sistolik H') mm5g). #ikenal juga dengan autonomic storm. %edangkan Patel dan <oag membagi penyakit tetanus ini dalam tingkatan dengan berdasarkan gejala klinis yang dibaginya dalam 0 kriteria 6 Kriteria & 6 rahang kaku, spasme terbatas, disfagia, dan kekakuan otot tulang belakang Kriteria / 6 spasme saja tanpa melihat frekuensi dan derajatnya Kriteria 1 6 inkubasi antara 3 hari atau kurang Kriteria ( 6 !aktu onset adalah (* jam atau kurang Kriteria 0 6 kenaikan suhu rektal sampai &))o: dan aksila sampai ''o: #engan berdasarkan 0 kriteria di atas, maka dibuatlah tingkatan penyakit tetanus sebagai berikut 6 Tingkat E Tingkat EE 6 @ingan, minimal & kriteria (K&AK/) mortalitas ) 6 %edang, minimal / kriteria (K&IK/) dengan masa inkubasi 2 3 hari dan onset 2/ hari, moirtalitas &) *

Tingkat EEE Tingkat E> Tingat >

6 9erat, minimal 1 kriteria dengan masa inkubasi H3 hari dan onset H/ hari, mortalitas 1/6 %angat berat, minimal ada ( kriteria dengan mortalitas .)6 9iasanya mortalitas *( - dengan 0 kriteria, termasuk di dalamnya adalah tetanus neonatorum maupun puerpurium

1.1,.

Pena!ala)sanaan

Prinsip 6 &. 8engeliminasi bakteri dalam tubuh untuk mencegah pengeluaran tetanospasmin lebih lanjut /. 8enetralisir tetanospasmin yang beredar bebas dalam sirkulasi (belum terikat dengan sistem saraf pusat) 1. 8eminimalisasi gejala yang timbul akibat ikatan tetanospasmin dengan sistem saraf pusat Terapi umum 6 &. %emua pasien disarankan untuk menjalani pera!atan di ruang E,C yang tenang supaya bisa dimonitor terus-menerus fungsi 7italnya. Pasien dengan tetanus tingkat EE, EEE, E> sebaiknya dira!at di ruang khusus dengan peralatan intensif yang memadai serta pera!at yang terlatih untuk memantau fungsi 7ital dan mengenali tanda aritmia. 5endaknya pasien berada di ruangan yang tenang dengan maksud untuk meminimalisasi stimulus yang dapat memicu terjadinya spasme. /. 9erikan cairan infus #0 untuk mencegah dehidrasi dan hipoglikemi 1. #ebridement luka. %emua luka harus dibersihkan. <aringan nekrotik dan benda-benda asing harus dikeluarkan. %emua luka yang berpotensial harus didebridement, abses harus diinsisi dan didrainase. %elama dilakukannya manipulasi terhadap luka yang diduga menjadi sumber inkubasi tetanus ini, harus diberikan hTE; dan terapi antibiotika. <uga penting diberikan obatobatan pengontrol spasme otot selama manipulasi luka. Terapi khusus 6

'

&. 5uman Tetanus Emunoglobulin (hTE; 1)))-.))) EC i.m) 6 untuk menetralisir tetanospasmin bebas. $ntitoksin ini tidak mempunyai efek pada toksin yang telah terikat pada jaringan saraf pada susunan saraf pusat ataupun sistem otonom. Toksin bebas mungkin terdapat pada sekeliling luka tempat pertumbuhan ,. tetani. #iberikan secepat mungkin setelah diagnosis klinis tetanus ditegakkan. #osis efektif yang direkomendasikan adalah 1)))-&).))) EC i7Aim, dengan kadar puncak dalam darah dicapai dalam (*-3/ jam. %ebagai pengobatan secara aktif &0))-1))) EC diinfiltrasikan pada sekeliling luka. #i Endonesia umumnya masih memakai $nti Tetanus %erum. /. $ntibiotik 6 untuk menghilangkan sumber tetanospasmin # , 6 8etronidaFole 0)) mg P tiap . jam atau &gr tiap &/ jam selama &)&( hari, aktif menghambat pertumbuhan bakteri anaerob dan protoFoa. 1. 9enFodiaFepine 6 untuk meminimalisasi spasme otot dan rigiditas karena bersifat ;$9$ enhancer. # , 6 #iaFepam karena dapat mengurangi anBietas, menyebabkan sedasi dan relaksasi otot. #osis pemberian berdasarkan derajat keparahan spasme otot. Pada orang de!asa 6 %pasme ringan 6 0-&) mg P tiap (-. jam %pasme sedang 6 0-&) mg E> %pasme berat 6 0)-&)) mg dalam 0)) ml #0, infuskan dengan kecepatan &)-&0 mgAjam 9ila refrakter terhadap benFodiaFepine, berikan neuromuscular blocking agents (7ecuronium) (. Tetanus ToBoid (Td ),0 ml E8) 6 untuk merangsang dibentuknya antibodi terhadap eksotoksin bakteri. Td ini merupakan suatu eksotoksin yang telah didetoksikasi dengan formaldehid dan diabsorbsi ke dalam garam aluminium. $ntigen ini akan menginduksi produksi antibodi yang mela!an eksotoksin. 0. !adrenergik blocking agents ("abetolol ),/0-& mgAmenit melalui infus E> setelah dititrasi) untuk mengontrol disfungsi otonom yang didominasi akti7itas simpatis, yakni menurunkan tekanan darah tanpa memperberat takikardi .. Entubasi endotrakeal atau trakeostomi pada tetanus berat (stadium EEE-E>) untuk atasi gangguan napas. 5endaknya trakeostomi dilakukan pada pasien yang memerlukan intubasi lebih dari &) hari, disamping itu trakeostomi juga direkomendasikan setelah onset kejang umum yang pertama. &)

3. 4alaupun imunisasi aktif tidak &))- efektif mencegah tetanus, namun imunisasi tetanus telah memperlihatkan sebagai salah satu yang paling efektif sebagai pencegahan terhadap kejadian tetanus. Pemberian imunisasi dan penanganan luka yang baik diketahui merupakan komponen yang penting dalam mencegah penyakit ini. Pada pasien dengan tetanus, imunisasi aktif dengan Td harus mulai diberikan atau dilanjutkan sesegera mungkin setelah kondisi pasien stabil. 1.11. Kompli)asi

&. Kematian (sudden cardiac death) Kasus fatal sering terjadi terutamanya pada pasien yang berusia lebih dari .) tahun (&*-) dan pasien yang tidak mendapat 7aksinasi (//-). Kematian sering diakibatkan oleh adanya produksi katekolamin yang berlebihan dan adanya efek langsung tetanospasmin atau tetanolisin pada miokardium. /. bstruksi jalan napas Pasien tetanus sering terjadi laringospasme hingga menyebabkan obstruksi dan gangguan pada jalan napas. 1. :raktur :raktur pada tulang 7ertebra atau tulang panjang bisa terjadi karena kontraksi yang berlebih atau kejang yang kuat. (. 5iperaktifitas sistem saraf otonomik Jfek samping yang terjadi pada keadaan ini adalah dengan meningkatnya tekanan darah (hipertensi) dan denyut jantung yang tidak normal. 0. Enfeksi nosokomial Enfeksi nosokomial sering terjadi karena pera!atan di rumah sakit yang lama. .. Enfeksi sekunder Enfeksi sekunder dapat berupa sepsis akibat pemasangan kateter, hospital! ac"uired pneumonias dan ulkus dekubitus. 3. #ypo$ic injury, aspirasi pneumonia dan emboli paru Jmboli paru adalah masalah yang sering ditemukan pada pasien lanjut usia dan pasien dengan penggunaan obat-obatan. $spirasi pneumonia adalah komplikasi lanjut pada tetanus dan sering ditemukan pada 0) -3)- pasien yang diotopsi. *. Eleus paralitik, luka akibat tekanan, retensi urin dan konstipasi &&

'. 8alnutrisi dan stress ulcers &). Koma &&. Keuropati &/. Kelainan psikis &1. Kontraktur otot &(. #islokasi sendi glenohumeral dan temporomandibular 1.12. P&ognosis Prognosis tergantung pada masa inkubasi, !aktu dari inokulasi spora sampai timbul gejala a!al dan !aktu dari timbulnya gejala a!al sampai spasme tetanik a!al. %ecara umum, inter7al yang lebih pendek menunjukkan tetanus yang lebih berat dan prognosis yang lebih buruk. Kebanyakan pasien yang bertahan dari tetanus ini biasanya akan kembali pada kondisi kesehatan sebelumnya !alau pun perbaikan berjalan secara lambat (sekitar / hingga ( bulan) dan pasien seringkali tetap menjadi hipotonus. Pasien yang sembuh harus mendapatkan imunisasi aktif dengan tetanus toksoid untuk mengelakkan dari terjadinya rekurensi. %elain itu, prognosis dan angka kematian pasien dengan tetanus juga dipengaruhi oleh faktor usia, giFi yang buruk serta penangan terhadap komplikasi yang mungkin terjadi. #ari data terkini yang diperolehi, kadar kematian pada penderita tetanus ringan dan sedang adalah .- dan pada penderita tetanus berat bisa mencapai .)-. 8eningkatnya kadar kematian pada penderita tetanus adalah berhubung dengan faktor + faktor berikut6 a. 8asa inkubasi yang pendek b. nset kejang yang dini (early onset) c. Penanganan yang lambat d. $pabila terdapat lesi di kepala dan muka yang terkontaminasi e. Tetanus neonatorum 9erdasarkan 0 kriteria menurut Patel dan <oag, dibuat 0 tingkatan yaitu6 a. Ting)a! 1 -&ingan./ minimal & kriteria (K& atau K/), mortalitas )b. Ting)a! 2 -sedang./ minimal / kriteria (K&atau K/) dengan masa inkubasi 2 3 hari dan a!itan 2 / hari, mortalitas &)c. Ting)a! 3 -%e&a!./ minimal 1 kriteria (K&atau K/) dengan masa inkubasi H 3 hari dan a!itan H / hari, mortalitas 1/d. Ting)a! -sanga! %e&a!./ minimal ( kriteria, mortalitas .)&/

e. Ting)a! "/ minimal 0 kriteria termasuk tetanus neonatorum maupun puerperium, mortalitas *)-.

&1