Anda di halaman 1dari 16

I. PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Pengangkutan merupakan mata rantai yang penting dalam penanganan, penyimpanan dan distribusi buah-buahan serta sayuran. Pengangkutan dilakukan untuk menyampaikan komoditas hasil pertanian secara cepat dari produsen ke konsumen. Di Indonesia perhubungan lewat darat sangat dominan terhadap pengangkutan buah yang hendak dipasarkan selanjutnya. alat angkut yang umum digunakan adalah truk, mobil bak terbuka atau sejenisnya, dan menggunakan kereta api. Truk dan alat angkut sejenisnya banyak dilakukan karena lebih fleksibel, tidak perlu mengikuti jadwal perjalanan seperti halnya dengan kereta api. Sayangnya pada pengangkutan dengan truk sering terjadi pemuatan yang terlalu padat (Satuhu, 2004). Tomat merupakan komoditas penting karena memilki potansi ekonomi untuk dikembangkan dan juga sebagai komoditas yang multiguna, berfungsi sebagai sayuran, bumbu masak, buah meja, penambah nafsu makan, minuman, sampai kepada bahan kosmetik dan obat-obatan. Tomat tergolong komoditas yang bernialai ekonomi tinggi tetapi halnya sayuran dan buahan lain, tomat mudah rusak (perishable) dan waktu simpan relatif pendek pada penyimpanan sehingga berpengaruh terhadap tingkat kesegaran buah tomat. Praktikum kali ini adalah dengan melakukan simulasi transportasi komoditas hortikultura yaitu tomat. Simulasi dilakukan pada meja getar rancangan Purwadaria (1992) yang ada di laboratorium TPPHP TMB IPB, selama 45 menit pada jalur luar kota. Pengemasan buah tomat dengan menggunakan peti karton atau disebut juga kardus. Setelah dilakukan simulasi kemudian tomat tersebut akan dikur kerusakn dan penurunan mutunya. B. Tujuan Adapun tujuan dari praktikum kali ini diantaranya untuk : 1. Mempelajari pengemasan untuk tujuan distribusi 2. Mempelajari cara kerja simulator transportasi 3. Menghitung kesetaraan jarak tempuh transportasi menggunakan simulator 4. Menganalisa penurunan mutu produk pasca simulasi transportasi

II. METODE PRAKTIKUM A. Waktu Pelaksaan Hari/ tanggal Waktu Tempat B. Alat dan Bahan Bahan : 1. Tomat apel 2. Kemasan karton Alat: 1. Refraktometer (TPT) 2. Timbangan digital 3. Simulator 4. Chromameter 5. Jangka sorong 6. Rheometer : Rabu/ 11 Desember 2013 : 11.00 14.00 WIB : Laboratorium TPPHP- IPB

C. Prosedur Kerja 1. Mengukur mutu awal tomat Mutu tomat yang diukur adalah warna, TPT, kekerasan. Warna diukur dengan menggunakan chromameter, tpt dengan refraktometer dan kekerasan dengan rheometer 2. Mempelajari cara kerja simulator transportasi a. menghidupkan simulator b. Simulator menggunakan kompresor untuk mengatur amplitudo c. Atur bukaan angin pada kompresor untuk mengatur amplitudo (tinggi getaran), d. Perhatikan pengaruh kerja kompresor (on-off) terhadap amplitudo dan frekuensi dari meja simulator e. Hasil dari kegiatan d untuk mengatur kapan waktu yang tepat dilakukannya pengukuran amplitudo dan frekuensi agar data yang diperoleh mencerminkan kondisi simulator saat dilakukan penelitian. 3. Kemasan distribusi a. Ukur dimensi tomat menggunakan jangka sorong (diameter mayor minor) b. timbang berat tomat c. hitung jumlah tomat untuk berat per kemasan adalah 5 kg

d. menentukan dimensi kemasan e. isi tomat ke dalam kemasan dengan cara: Disusun menggunakan pola FCC Secara curah (tanpa susunan) f. Dokumentasikan kondisi awal tomat dalam kemasan g. tutup dengan lak-ban (selotip besar) h. kemasan berisi tomat siap untuk ditransportasikan menggunakan meja simulator 4. Simulasi transportasi a. letakkan kemasan di atas meja simulator b. kedudukan kemasan pada meja simulator dijaga agar stabil dengan cara mengikat kemasan ke simulator sedemikian rupa sehingga mampu

menggambarkan posisi kemasan pada bak yang ada pada alat angkut c. Lakukan simulasi dengan menggetarkan meja simulator selama 45 menit d. Ukur amplitudo dan frequensi setiap menit (perhatikan fruktuasi gerakan meja simulator). Upayakan pengukuran amplitudo sesuai dengan kondisi lapang 5. Mengukur kerusakan mekanis pasca transportasi a. buka kemasan b. Dokumentasikan susunan tomat dalam kemasan pasca transportasi c. menghitung tingkat kerusakan mekanis pasca transportasi pisahkan tomat rusak dengan tomat utuh hitung jumlah tomat yang rusak Tomat yang rusak diidentifikasi jenis kerusakannya yaitu rusak retak, tergores dan memar hitung jumlah tomat untuk setiap jenis kerusakan hitung persentaswe tiap jenis kerusakan 6. Mengukur penurunan mutu pasca transportasi a. pisahkan tomat yang masih utuh dengan tomat rusak mekanis b. simpan tomat-tomat tersebut dalam suhu ruang c. ukur warna, kekerasan dan TPT setiap hari selama tujuh hari

d. Ulangan pengukuran disesuaikan dengan jumlah tomat yang ada. Berikut adalah diagram alir dari kegiatan praktikum simulasi transportasi. Tomat dibersihkan dari kotoran dan di sortasi baik bentuk maupun ukuran

Mengukur mutu awal tomat sebelum dilakukan


simulasi (TPT,Warna, Kekerasan)

ukur dimensi tomat dan timbang berat tomat kemudian hitung jumlah tomat per kemasan 5 kg

Tomat disusun dengan pola FCC

Tomat secara curah (tanpa susunan)

disimulasikan selama 45 menit di ulang 2 kali

Pengamatan kerusakan mekanis dan penurunan mutu setelah simulasi

Pengolahan data

Gambar 2.1 Diagram alir praktikum

III. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Dimensi Tomat Pengukuran dimensi buah tomat dilakukan pada sepuluh buah tomat yang dijadikan sampel secara umum. pengukuran dimensi menggunakan jangka sorong. Data yang diambil adalah berat buah dan diameter minor serta diameter mayor. Hasil dari pengukuran tersebut kemudian dirata-ratakan. Adapun hasil dari pengukuran dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 3.1 Rerata dimensi buah tomat Berat buah Diameter mayor Diameter minor 103.39 60.51 mm 54.69 mm Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa diameter mayor dan minor memiliki ukuran yang jauh berbeda. Bentuk ruang buah tomat adalah elips soidal yaitu bentuk elips yang menyerupai telur. Sehingga penyusunan buah buah dengan metode fcc yang menitik beratkan pada pola susun buah berdasarkan jumlah buah dalam satu jenis kemasan adalah metode penyusunan buah yang tepat bagi buah tomat. b. Kemasan distribusi Perancangan kemasan selama pengangkutan ditujukan untuk meredam goncangan dalam jalanan yang mengakibatkan kememaran dan penurunan kekerasan hasil hortikultura.Faktor yang perlu diperhatikan meliputi kemasan, jenis, sifat, tekstur dan dimensi bahan kemasan, komoditas yang diangkut, sifat fisik, bentuk ukuran struktur dan pola susunan biaya pengangkutan dibandingkan dengan harga komoditas, permintaan waktu, jarak dan keadaan jalan yang dilintasi (Purwadaria 1998). Pada praktikum kali ini buah tomat yang disimulasikan menggunakan kardus sebagai kemasannya. Peti karton atau kardus bergelombang adalah wadah yang ideal untuk buah selama pengangkutan (Liu dan Ma, 1983). Karton yang digunakan berukuran 21cm x 21cm x 21cm. Adapun hasil perhitungan dimensi dalam dan luar dari kemasan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 3.2 Hasil pengukuran dimensi kemasan Dimensi Luar (mm) Dimensi Dalam (mm) P L T P L T 231.2 208.9 170.36 237.2 214.92 176.362
5

Dimensi luar dan dalam dari kemasan ini akan berpengaruh terhadap penyusunan buah dalam kemasan dengan metode fcc. Dimana metode ini dipengaruhi oleh bentuk geometri tomat itu sendiri, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tomat memiliki bentuk geometri elips soidal dimana diameter minor dan mayornya tidak jauh berbeda. Sedangkan kemasan yang digunakan memiliki geometri kubus dimana tinggi, panjang dan lebarnya sama sehingga cocok untuk digunakan sebagai kemasan buah tomat. Pada praktikum ini digunakan dua jenis metode dalam penyusunan buah dalam kemasan yang akan disimulasikan. Metode pertama adalah fcc seperti yang telah dijelaskan diatas dengan susunan buah, 5 sejajar denga sumbu x, 4 sejajar dengan sumbu y dan 5 sejajar dengan sumbu z. Jumlah buah pada kemasan fcc adalah 50 buah karena rata-rata buah tomat 103.39 gram x 50 = 5169.7 gram = 5kg. Maka dapat diketahui kapasitas dari kemasan tersebut adalah 5 kg. Metode kedua adalah dengan sistem curah atau tidak ada penyusunan dengan rapih, tomat hanya dimasukan ke dalam sebanyak 5 kg. Berdasarkan dari penjelasan dan hasil pengamatan selama praktikum, dapat diketahui bahawa metode fcc memberikan beberapa keuntungan, yaitu penyusunan buah jauh lebih teratur, jumlah buah per kemasan sama, jumlah buah yang disusun pada tiap baris juga sudah dapat ditentukan dari awal, kepadatan kemasan dapat ditentukan sesuai kepadatan kemasan yang dianjurkan untuk komoditi hortikultura (Peleg, 1985). Sehingga masih memberikan ruang dalam kemasan untuk pertukaran udara agar buah tidak busuk dan ruang dalam kemasan tidak lembab. Kondisi kemasan yang teratur dan tidak lembab ini dapat mempertahankan mutu buah selama distribusi dan transportasi. Dengan kemampuan mempertahankan mutu dengan lebih baik maka susut dapat dikurangi. Hal ini sejalan dengan pernyataan

(Sunarjono,1976) bahwa susut bobot dapat dicegah dengan pengemasan yang baik, pengangkutan yang baik dan pemilihan varietas yang tahan angkut jarak jauh. Metode fcc mengatur penyusunan buah menjadi sedemikian rupa sehingga setiap buah mendapat tekanan yang sama dan merata baik pada buah yang disimpan pada bagian bawah maupun pada bagian atas. selain itu metode

fcc juga membuat buah yang disusun terkunci pada sudut-sudutnya sehingga dapat mengurangi atau mencegah buah saling bergesekan atau menakan pada saat transportasi. Hal ini sangat menguntungkan dalam upaya mempertahankan dan mengurangi kerusakan secara mekanis selama transportasi. c. Simulasi transportasi dan distribusi Simulasi transportasi menggunakan meja getar berfrekuensi 3.47 Hz amplitudo 4.48 cm selama 45 menit atau setara dengan transportasi sejauh 58.08 km pada jalur luar kota menggunakan truk yang berfrekuensi 1.4 Hz dan amplitudo 1.74 cm. Kemasan disimpan di atas meja getar kemudian diikiat sedemikian rupa sehingga dapat menahan kemasan untuk jatuh. Percobaan di ulang dua kali, dengan prosedur yang sama. Meja getar rancangan Purwadaria (1992) yang dignakan pada percobaan ini terdiri dari kompresor yang apabila katup kompresor dibuka, udaka bertekanan masuk ke dalam silinder pneumatik, sedangkan ketika katup ditutup maka udara yang ada pada tabung pneumatik menjadi keluar. Selain itu alat ini terdapat motor listrik dan regulator yang berfungsi untk mengatur kecepatan dari reducer. Alat juga dilengkapi meja yang digunakan sebagai tempat menaruh kemasan yang akan disimulasikan. Adapun berikut adalah hasil perhitungan dari percobaan ini. Tabel 3.3 Hasil perhitungan kesetaraan jarak No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Aspek yang diukur Nilai Amplitudo (A) 4.48 cm Frekuensi (f) 3.47 Hz Tm 0.287777 detik/getaran Wm 21.84229 getaran/detik Luas 1 siklus getaran vibrator (Lm) 0.001232 cm2/getaran Jumlah seluruh getaran vibrator selama 1 12509.67 getaran/jam jam (Gm) Jumlah Luas seluruh getaran vibrator selam 15.41094 cm2/jam 1 jam (Lm (1)) Kesetaraan jalan selama 30 menit dengan 77.44191 km 30 km Kesetaraan jalan selama 45 menit 58.08 km Dalam kondisi jalan yang sebenarnya, permukaan jlana ternyata memiliki

permukaan yang tidak rata. Permukaan jalan yang tidak rata ini menyebabkan produk mengalami berbagai guncangan jika ditransportasikan. Besarnya

guncangan yang terjadi bergantung kepada kondisi jalan yang dilalui. Ketidakrataan ini disebut amplitudo dan tingkat kekerapan yang terjadinya guncangan akibat ketidakrataan jalan tersebut dinamakan frekuensi. Dari (tabel 3.3) di atas kita dapat mengetahui dengan jelas besarnya amplitudo dan frekuensi dari meja getar yang digunakan untuk alat simulasi. Pengaturan amplitudo dan frekuensi pada saat pengujian simulasi meja getar diharapkan mampu mendekati nilai yang sama seperti frekuensi dan amplitudo di permukaan jalan. semakin tinggi amplitudo dan semakin besar frekuensi maka bnyaknya benturan dan kerusakan mekanis juga kan semakin tinggi. terutama apabila kemasan tidak mampu menahan tekanan dan goncangan pada saat transportasi berlangsung. Kondisi transportasi yang buruk ini dan penanganan yang tidak tepat pada komoditi yang ditransportasikan (buah dan sayuran) dapat menyebabkan kerugian berupa turunnya kualitas komoditi yang akan disampaikan ke tangan konsumen. Penurunana kualitas yang sering terjadi adalah kerusakan mekanis apada buah dan sayuran (Tirtisoekotjo, 1992). Dasar perbedaan antara jalan dalam kota dan jalan luar kota adalah besar amplitudo yang terukur dalam suatu panjang tertentu. Jalan dalam kota mempunyai amplitudo yang rendah dibanding dengan jalan luar kota, jalan buruk aspal dan jalan buruk batu. Dari hasil perhitungan tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan simulasi penggetaran di atas meja getar untuk percobaan selanjutnya. (Darmawati, 1994). Seperti pada percobaan ini dengan melakukan simulasi meja getar selama 45 menit pada amplitudo dan frekuensi tersebut maka dapat diperoleh data prediksi yang terjadi pada buah tomat selama perjalanan sepanjang 58.08 km pada jalan luar kota. d. Kerusakan mekanis dan Penurunan Mutu Setelah simulasi, buah tomat sampel diamati kerusakannya selama 6 hari pada ruangan bersuhu 24oC. Parameter yang diamati adalah Kerusakan secara mekanis serta penurunan mutunya seperti kekerasan, warna dan total padatan terlarut. Kerusakan buah tomat yang terjadi terdiri atas memar, tergores dan retak.

Kerusakan Mekanis Hambali (1995) menyatakan bahwa selama distribusi produk-produk

hortikultura biasanya mengalami luka memar akibat pukulan, kompresi, vibrasi serta gesekan. Memar pukulan terjadi karena komoditas atau kemasannya jatuh di atas permukaan yang keras. Penanganan jenis memar ini dapat dilakukan dengan menggunakan bantalan di dalam kemasan dengan baik. Memar akibat kompresi terjadi karena pengisisna kemasan yang berlebihan sehingga komoditas harus menahan beban dalam kemasan atau gesekan antara produk dengan kemasan. Kerusakan tipe ini dapat dikurangi dengan merancang ukuran kemasan serta pengisian yang tepat dengan menghindari adanya ruang kosong terlalu besar di bagian atas kemasan. Adapun persentase dari kerusakan yang terjadi dari percobaan ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 3.4 Persentase kerusakan mekanis Perlakuan FCC Acak Persentase kerusakan (%) Memar Gores Retak 20.94 0.08 0 22.65 0.02 0

Keterangan : FCC : penyusunan buah dengan metode FCC Acak : Penyusunan buah secara curah (tidak disusun)

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa kerusakan mekanis terbesar yaitu memar, baik pada metode fcc maupun acak. Akan tetapi pada metode acak kerusakan memar labih besar dibandingkan pada metode fcc. Hal ini disebabkan pada metode acak buah tidak diatur atau ditata, sehingga tekanan tidak merata. Pada buah yang diletakan di bagian bawah akan mendapatkan tekanan yang jauh lebih besar dari pada buah yang disimpan di bagian atas.Hal ini sejalan dengan yang diungakapkan (Suherman, 2011) faktor-faktor yang terjadi selama pengengkutan dapat terjadi karena tumpukan buah yang terlalu tinggi, hal tersebut mengakibatkan tekanan yang besar terhadap buah yang terdapat pada barisan bawah sehingga meningkatkan kerusakan akibat kompresi. Selain itu pada metode acak jarak antar buah tidak diatur sedemikian rupa sehingga jumlah buah dalam kemasan tidak dapat diprediksi dengan tepat. Memar ditandai dengan adanya jaringan buah yang lembek, secara visual biasanya berubah warna menjadi agak gelap pada hari ke-0 pengamatan.

Sedangkan persentase kerusakan lainnya yaitu 0.08 % pada metode fcc dan 0.02 % pada metode acak, atau sangat kecil bila dibandingkan dengan kerusakan memar.pada jenis kerusakan retak tidak terdapat satu buahpun yang mengalami kerusakan hingga retak. sedikitnya persentase pada kerusakan tergores mungkin juga dikarenakan pemilihan jenis kemasan yang cukup halus yaitu kardus, sehingga gesekan dengan buah tidak menyebabkan kulit buah sampai tergores, berbeda apabila kita menggunakan peti kayu atau plastik, tekstur mereka lebih keras dan kasar sehingga kerusakan goresan mungkin lebih banyak ditemukan. Warna Perubahan warna pada buah tomat merupakan parameter untuk menilai mutu fisik tomat dan cukup penting untuk meningkatkan daya tarik dari konsumen karena pada umumnya penilaian konsumen terhadap tomat dimulai dari penampakan luarnya termasuk warna. Menurut Harianto et, al. (2006), perubahan warna kulit buah selama pemasakan disebabkan adanya transformasi kloroplas menjadi kromoplas. Pada kloroplas pigmen yang dikandung adalah klorofil dan karotenoid sedangkan pada kromoplas pigmen yang dikandung adalah karoten dan xantofil. Nilai perubahan L, a, dan b dari warna tomat pada setiap perlakuan diketahui dengan mengukur warna tomat setiap hari mulai dari hari ke 0 sebagai mutu awal tomat hingga hari ke 6. Pengukuran dengan menggunakan chromameter dengan cara mengukur 3 titik secara konsisten pada setiap buah yang diukur. Hasil pengukuran tersebut kemudia di rata-rata kemudian ditampilkan ke dalam bentuk kurva seperti di bawah ini.
52.50 52.00 51.50 51.00 50.50 50.00 49.50 49.00 48.50 0 2 hari 4 6 FCC Curah

Nilai L

Gambar 3.1 Perubahan nilai L pada tomat


10

Nilai L menyatakan tingkat kecerahan warna buah yang dikukur dimana cahaya pantul menghasilkan warna akromatik putih, abu-abu, dan hitam. Parameter L memiliki skala nilai dari 0 (hitam) sampai dengan 100 (putih). Pada pengukuran awal tomat memiliki nilai L sebesar 51.50. Dari kurva di atas dapat dilihat bahwa metode penyusunan buah dalam kemasan memberi efek yang berbeda pada perubahan kecerahan buah. Metode fcc mengalami penurunan kecerahan pada hari petama hingga hari ke tiga pengamatan, pada hari ke empat hingga hari ke enam terjadi kenaikan secara perlahan. Sedangkan pada buah tomat yang disimpan secara curah perubahan nilai L lebih fluktuatif, pada hari kedua terjadi penurunan yang tajam, kemudian kembali naik, dan pada hari ke lima kembali turun hingga mencapai angka 49.00. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa warna pada buah tomat setelah simulasi lebih gelap dibandingkan pada awal sebelum simulasi. Nilai a menyatakan tingkat warna hijau-merah diman nilai a positif (+) menyatakan warna merah dan nilai a negatif (-) menyatakan warna hijau. Perubahan nilai a pada buah tomat dapat dilihat pada kurva di bawah ini.
16.00 14.00 12.00 Nilai a* 10.00 8.00 6.00 4.00 2.00 0.00 0 2 hari 4 6 8 FCC Curah

Gambar 3.2 Perubahan nilai a* pada tomat Dari kuva di atas dapat dilihat bahwa pada kedua metode penyusunan buah pada kemasan tidak terdapat perbedaan yang terlalu mencolok. Nilai a pada pengukuran awal adalah 10 yang berarti dominan warna merah, perubahan menurun terjadi pada hari pertama pengamatan setelah itu keduanya sama meningkat pada hari kedua kemudian meurun sedikit dan kembali cenderung untuk terus meningkat. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor

11

penyimpanan setelah simulasi, dimana keduanya disimpan pada kondisi yang sama sehingga perubahan yang terjadi pada keduanya tidak mengalami perbedaan yang mencolok. Nilai b menyatakan tingkatan warna biru-kuning diman niali b positif (+) menyatakan warna kuning dan nilai b negatif (-) menyatakan warna biru. Perubahan nilai b dapat dilihat pada kurva di bawah ini.
18 16 14 12 Nilai b* 10 8 6 4 2 0 0 2 hari 4 6 8 FCC Curah

Gambar 3.3 Perubahan nilai b* pada tomat Pada kurva diatas dapat dilihat bahwa nilai b apada pengukuran awal adalah 17.03 yang menunjukkan bahawa warna yang ditembak cenderung berwarna kuning. Pola perubahan yang terjadi pada nilai b tidak jauh berbeda baik untuk metode fcc maupun metode acak. Perbedaan sedikit terjadi pada hari ketiga diman fcc mengalami penurunan sedangkan curah mengalami kenaikan akan tetapi pada hari terakhir pengamatan yaitu hari ke enam keduanya berada di titik yang sama yaitu 13. Kekerasan Kekerasan merupakan salah satu parameter yang menunjukkan kualitas tekstural produk segar hortikultura. Tekstur buah tergantung pada ketegangan, ukuran, bentuk dan keterikana sel-sel, adanya jaringan penunjang dan susunan tanamannya. Selain itu, tekstur ini amat bervariasi dan tergantung pada tebalnya kulit luar, kandungan total zat pada dan kandungan pati (Pantastico, 1986). Perubahan kekerasan pada tomat berdasarkan kedua metode penyusunan buah dapat dilihat pada kurva di bawah ini.

12

1.60 1.40 kekerasan (kg/cm2) 1.20 1.00 0.80 0.60 0.40 0.20 0.00 0 2 hari 4 6 8 FCC Curah

Gambar 3.4 Perubahan kekerasan pada tomat Hasil pengukuran kekerasan awal adalah 1.45, metode fcc dapat mempertahankan kekerasan hingga ankhirnya pada hari ke tiga mulai turun dan sama dengan metode acak yaitu 1.19. Kemudian keduanya mengalami penurunan kekerasan hingga pada hari terakhir pengamatan keduanya mencapai angka 1.09. Secara umum perubahan kekerasan ini tidak terlalu terlihat karena keduanya tidak berbeda jauh dalam hal mempertahankan kekerasan. Kekuatan dinding sel buah tomat mempengaruhi kekerasan buah; semakin lemah dinding sel maka kekerasan buah akan makin rendah karena makin rendahnya beban yang dibutuhkan Rheometer (alat ukur kekerasan) untuk menekan daging buah. TPT (Total Padatan Terlarut) Kandungan total padatan terlarut (TPT) pada suatu bahan menunjukkan kandungan gula yang terdapat pada bahan tersebut (Sjaifullah, 1996). Perubahan total padatan terlarut pada tomat kemudian diukur setiap hari dengan menggunakan refraktometer. Hasil hari pengukuran tersebut dapat dilihat pada kurva di bawah ini.
8.00 TPT (oBrix) 6.00 4.00 2.00 0.00 0 1 2 hari 3 4 5 6 7 FCC Curah

Gambar 3.5 Perubahan TPT pada tomat

13

Dari kurva di atas dapat dilihat pola perubahan TPT dari kedua jenis metode nyaris sama. Hal ini bisa berarti perbedaan metode penyusunan buah pada kemasan tidak mempengaruhi total padatan terlarut dari buah tomat itu sendiri. Nilai TPT dipengaruhi oleh penyimpanan dan selama penyimpanan tomat mengalami proses respirasi. Buah non-klimakterik menimbun gula selama pendewasaan, sementara buah klimakterik menimbun karbohidrat selama pendewasaan dalam bentuk tepung (starch) dan saat buah mengalami pematangan, tepung dipecah menjadi gula. Tomat merupakan salah satu dari buah klimaterik, salah satu ciri khas buah klimaterik adalah dengan laju respirasi yang tinggi. Proses respirasi ini memerlukan energi yang diperoleh dengan cara merombak zat gula melalui proses oksidasi. Semakin tinggi laju respirasi maka pengurangan kandungan gula suatu bahan akan semakin cepat dan sebaliknya semakin kecil laju respirasi maka kandungan gulanya akan berkurang secara lambat (pelan). Oleh sebab itu terjadi penurunan yang cepat pada pada hari pertama. Suhu penyimpanan juga mempengaruhi susunan gula pada buah, karena suhu penyimpanan buah tomat cukup konstan mungkin itu juga penyebab kontannya nilai TPT pada buah tomat yang disimpan hingga hari pengamatan terakhir. IV. Kesimpulan Berdasarkan dari hasil dan pembahasan yang telah dipaparkan di atas, maka kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum kali ini diantaranya: 1. Dimensi pada buah tomat memiliki diameter mayor dan diameter minor yang tidak jauh berbeda, geometri buah tomat adalah elips soidal. 2. Dimensi kemasan kardus yang digunakan cukup cocok digunakan sebagai kemasan buah tomat, dengan kapasitas 5 kg. 3. Simulasi transportasi selama 45 menit dengan amplitudo 4.48 cm dan frekuensi 3.47 Hz setara dengan perjalanan 58.08 km jalan luar kota. 4. Kerusakan mekanis terbanyak setelah simulasi transportasi adalah memar dengan persentase 20.94 % pada metode fcc dan 22.65 % pada metode curah. 5. Perubahan nilai L, a* dan b* pada warna tidak berbeda jauh antara metode fcc dengan metode curah.

14

6. Perubahan tingkat kekerasan buah antara metode fcc dengan acak tidak berbeda jauh. 7. Perubahan TPT (total padatan terlarut) pada buah tomat tidak berbeda jauh antara metode fcc dengan metode curah. DAFTAR PUSTAKA Darmawati, E. 1994. Simulasi Komputer Untuk Perancangan Kemasan Karton Bergelombang Dalam Pengangkutan Buah-buahan. Tesis. Program Studi Keteknikan Pertanian, IPB, Bogor. Hambali. 1995. Pola Distribusi dan Transportasi produk hortikultura. Teknologi Industri Pertanian. Edisi Khusus. Harianto, L, Purnomo, Issirep Sumardi. 2006. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Pantastico, Er. B. 1986. Fisiologi Pascapanen, Penanganan dan Pemanfaatan Buah-buahan dan Sayur-sayuran Tropika dan Subtropika. Penerjemah: Kamariyani dan Tjitrosoepomo G. Gadjah Mada University Press Peleg, K. 1985. Produce Handling, Packaging and Distribution. AVI Publishing Co., Inc., Wesport, Connecticut, USA. Purwadaria, H.K. 1992. Peranan Teknik Pertanian Dalam Penanganan Pasca Panen Hasil Hortikultura. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Mekanisasi Pertanian Bogor. Purwadaria, H.K. 1992. Sistem Pengangkutan Buah-buahan dan Sayuran. Makalah Pelatihan Teknologi Pasca Panen Buah-buahan dan Sayuran. PAU Pangan dan Gizi, IPB. Bogor, 24 Februari 1992. Satuhu, Suryatin. 2004. Penangannan dan Pengolahan Buah. Penebar Swadaya. Jakarta. Sjaifullah. 1996. Petunjuk Memilih Buah Segar. Jakarta : Penebar Swadaya. Sjaifullah. 1996. Petunjuk Memilih Buah Segar. Penebar Swadaya. Jakarta. Soedibyo Tirtosoekotjo, M. 1992. Alat Simulasi Pengangkutan Buah-buahan Segar dengan Mobil dan Kereta Api. Jurnal Hortikultura 2(1) : 66-73. Suherman. 2011. Perubahan <utu Fisik Mentimun (Cucumis sativus L.) Pada Kemasan Plastik Polietilen dan Keranjang Bambu dalam transportasi Darat. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Sunarjono, H. 2008. Berkebun 21 Jenis Tanaman Buah. Jakarta : Penebar Swadaya.

15

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENANGANAN PASCAPANEN TANAMAN HORTIKULTURA


SIMULASI TRANSPORTASI DAN PENURUNAN MUTU PADA BUAH TOMAT

Disusun oleh : IRNA DWI DESTIANA F152130151

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PASCAPANEN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013

16