Anda di halaman 1dari 11

LIZIYYANNIDA 115070507111007

TUGAS TOKSIKOLOGI KLINIK Toxicology antineoplastic


SOAL
A) Mengapa obat-obat yang digunakan sebagai antikanker juga dapat menimbulkan efek karsinogenik? B) Pilih satu jenis obat antikanker yang bersifat neutropenia, sebutkan kapan dan di mana efek neutropenianya akan muncul! C) Bagaimana mengatasi efek toksik obat antikanker tersebut?

JAWABAN
A. Karsinogenik adalah substansi yang menyebabkan kanker atau meningkatkan resiko timbulnya kanker. Kanker sendiri terjadi akibat perubahan (mutasi) gen (DNA) dari sel-sel tubuh sehingga berkembang menjadi sel abnormal yang tidak akan mati dan tumbuh tanpa bisa dikendalikan. Karsinogenik menimbulkan kanker bisa secara langsung, yaitu substansi tersebut menyebabkan perubahan atau mutasi pada DNA sel tubuh dan secara tidak langsung dengan cara memicu pembelahan sel secara cepat sehingga akibat terlalu cepat tersebut terjadi kegagalan menciptakan sel yang sempurna dan sel kanker pun timbul. Menurut WHO (World Health Organization), 35% karsinogenik berasal dari makanan dan minuman yang kita konsumsi sehari-hari, 30%-nya berasal dari rokok yang anda hisap setiap harinya dan sisanya dari paparan lingkungan lainnya. Secara garis besar sumber karsinogenik dapat dibagi menjadi : 1. Obat-obatan. Beberapa macam obat seperti obat penenang, obat penurun panas, antibiotik, obat penurun panas, obat anti nyeri dll memiliki kandungan kimia yang bila menumpuk bisa meningkatkan resiko terkena kanker. Karena itu penting untuk mengkonsumsi obat sesuai dengan indikasinya dan dosis yang tepat pula. Begitu pula dengan berbagai produk yang digunakan dalam proses pertanian seperti pupuk, pestisida dll. Penting juga untuk menggunakan bahan berbahaya tersebut secara bijaksana. 2. Polusi lingkungan. Polusi yang dihasilkan oleh pabrik, kendaraan, maupun sumber pembangkit tenaga listrik memiliki potensi besar menimbulkan kanker pada paparan terus menerus. 3. Virus. Berbagai macam virus telah diakui berhubungan dengan timbulnya kanker. Seperti Hepatitis virus, Epstein-barr virus, Human papiloma virus dll. Virus-virus ini menimbulkan perubahan pada tingkat seluler sehingga terjadi mutasi gen.

LIZIYYANNIDA 115070507111007
4. Gaya hidup. Berbagai gaya hidup tak sehat menuntun anda pada paparan karsinogenik seperti merokok, meminum alkohol, obesitas, kurang olahraga dll. 5. Makanan. Tidak hanya makanan kaleng atau buatan pabrik yang mengandung karsinogenik tapi juga pada makanan alamiah misalnya aflatoksin pada kacang tanah. 6. Sinar matahari. Dengan adanya fenomena rumah kaca dan bolongnya ozon, tubuh kita terpapar dengan sinar ultraviolet yang dapat memicu timbulnya kanker. Bila terkena karsinogenik dapat memicu kanker tergantung dari potensial karsinogeniknya. Tetapi rata-rata membutuhkan paparan dalam waktu yang lama dan dosis besar untuk menimbulkan kanker. Menurut The International Agency for Research on Cancer (IARC), karsinogenik dibagi menjadi : Grup 1 : karsinogenik pada manusia. Grup 2 : kemungkinan besar karsinogenik pada manusia Grup 3 : mungkin karsinogenik pada manusia Grup 4 : tidak terklasifikasi sebagai karsinogenik pada manusia Grup 5 : mungkin tidak karsinogenik pada manusia Grup 4 : tidak terklasifikasi sebagai karsinogenik pada manusia Grup 5 : mungkin tidak karsinogenik pada manusia

TREATMENT mencegah terpapar karsinogenik : Perbanyak makan sayuran dan buah-buahan dan sumber makanan yang alamiah Seringlah memilih masakan yang direbus atau dikukus , Hindari merokok, alkohol, minuman dan makanan dalam kemasan Perbanyak minum air putih untuk detoksifikasi racun dalam tubuh Olahraga yang teratur (minimal 30 menit sehari) Kurangi penyimpanan makanan dalam plastik, kalaupun harus pilihlah wadah plastik yang aman Minumlah obat sesuai dengan dosis dan anjuran pemakaian Kurangi paparan sinar matahari pada siang hari (jam 10.00 15.00) Gunakan Kondom saat berhubungan seksual karen banyak virus penyebab kanker ditularkan dari cairan tubuh dan gunakan penutup mulut dan hidung saat berpergian Teliti dalam menilai kandungan bahan kimia yang ada dalam produk yang akan anda gunakan.

LIZIYYANNIDA 115070507111007
Dari penjelasan diatas diketahui bahwa yang terutama menimbulkan efek karsiogenik adalah obat obatan salah satunya obat antikanker itu sendiri . Obat antikanker obat yang digunakan untuk mengobati kanker menghambat mekanisme poliferasi sel kanker. Obat anti kanker dapat bersifat toksik bagi sel tumor maupun sel normal yang berpoliferasi khususnya pada sumsum tulang belakang, epitel gastrointestinal, dan folikel rambut. Karena obat kanker tidak selektif pada target sel yang dituju, tetapi zat kemoterapi yang ada saat

inimerusak DNA dari sel kanker maupun selyang sehat. Sehingga obat kanker bersifat toksik = cytotoksik agen = mematikan sel yang sehat dan tidak sehat = dosis terapi obat kanker sama dengan dosis toxicnya
Selektifitas terjadi karena tumor ganas mempunyai proporsi komponen sel yang membelah lebih tinggi daripada jaringan yang berproliferasi normal. Selektifitas sel normal lebih rendah dibanding dengan sel tumor tetapi walaupun demikian sel normal juga dapat merespon obat antikanker yang diberikan sehingga dapat menimbulkan efek karsiogenik yang tidak diharapkan.

Obat Kanker yang Rasional Hanya membunuh atau menghambat pertumbuhan sel kanker dan tidak mengganggu sel normal (Selektif). Zat kemoterapi yang paling baik merusak DNA atau menghalangi sintesa DNA, dengandemikian akan menghalangi pembelahan sel,tetapi zat kemoterapi yang ada saat inimerusak DNA dari sel kanker maupun selyang sehat. Oleh karena itu obat kanker itu toksik = cytotoksik agen = mematikan sel yang sehat dan gak sehat = dosis terapi obat kanker sama dengan dosis toxicnya.

Contohnya : jika flourouracil diberikan kepada pasien kanker sebagai bagian dari kemoterapi, tubuh akan mengubahnya menjadi flourouridine, yang merupakan suatu senyawa ireversibel penghambat enzim yang memproduksi timidin dari uridin, sehingga sangat mengurangi sintesis DNA. Karena hambatan ini akan mempengaruhi sel-sel kanker membelah dengan cepat sel yang lebih sehat, sehingga pertumbuhan tumor dan penyebaran kanker ditangkap. Sayangnya, kemoterapi dengan fluorourasil atau obat antikanker lain juga melemahkan tubuh, karena itu mengganggu sintesis DNA dalam sel normal.

LIZIYYANNIDA 115070507111007
Jarang obat anti kanker dapat membunuh seluruh sel kanker sekaligus. Demikian pula dalam satu tumor tidak semua sel kanker peka terhadap obat anti kanker. Jika pertumbuhan sel kanker bertambah secara logaritma maka sel yang mati pun bertambah secara logaitma pula. Jumlah sel kanker yang terbunuh oleh obat anti kanker adalah konstan secara proporsional atau persentase teori ini disebut dengan Hypotesa Log Sel yang terbunuh atau Log Cell Kill Hypotesis. Teori Log Cell Kill Hypotesis menyatakan bahwa pemberian obat dengan rute CCS mengikuti kinetika orde pertama yaitu dosis yang diberikan membunuh PROPORSI konstan populasi sel tumor (bukan NUMBER konstan sel). Berdasarkan hipotesa tersebut pengobatan kanker perlu diberikan beberapa kali paparan obat, sampai jumlah sel kanker yang masih tinggal hidup minimal. Makin besar jumlah beban sel, makin banyak paparan diperlukan sehingga makin luas dan ganas sel kanker menyerang maka makin sering pemberian obat untuk terapi diberikan. Dapat disimpulkan bahwa, untuk dapat membunuh sel kanker sebanyak mungkin maka pengobatan harus diulang beberapa kali. B. Obat antikanker dikelompokkan kedalam beberapa kategori yaitu : 1. Alkylating agents (cotoh : klorambusil, siklofosfamid, ifosfamid)

2. Antimetabolit (contoh : metotreksat, merkaptopurin, tioguanin, fluorourasil, gemsitabin) 3. Alkaloid tanaman ( contoh : vinkristin, vinblastin, etoposid, teniposid, paklitaksel, topotekan) 4. Antibiotik sitotoksik (contoh : daunorubisin, doksorubisin, bleomisin, mitomisin, plikamisin) 6. Hormon steroid (contoh: prednison, tamoksifen, flutamid, leuprolid, goserelin) 7. antibodi monoklonal (contoh : trastuzumab, rituximab) Obat yang saya pilih adalah fluorourasil golongan anti metabolit, obat ini menyerupai struktur metabolik normal (asam folat, pirimidin, atau purin) sehingga dapat menghambat enzim-enzim yang diperlukan untuk regenerasi asam folat atau aktivasi pirimidin atau purin untuk sintesis DNA atau RNA pada sel kanker.

LIZIYYANNIDA 115070507111007
Fluorourasil Mekanisme kerja obat : Obat antikanker fluorourasil merupakan suatu contoh obat yang beraksi sebagai substrat palsu. Pada proses normal , urasil dalam 2-deoksiuridilat ( DUMP) diubah menjadi 2-deoksitimidilat ( DTMP) melalui enzim timidilat sintetase. Timidilat tersebut digunakan dalam proses sintesis purine atau sintesis DNA sel. Pada pemberian fluorourasil, senyawa ini kan mengalami transformasi kimia untuk membentuk produk abnormal yang mengganti jalur metabolisme yang normal. Fluorourasil mengganti urasil sebagai intermediet pada biosintesis purine. Dalam tubuh fluorourasil diubah menjadi fluorodeoksiuridin monofosfat ( FDUMP), dapat berinteraksi dengan timifilat sintetase namun tidak mngahasilkan DTMP. Hal ini mengakibatkan penghambatan sintesis DNA dan pada akhirnya pembelahan sel terhenti. Dari gambar dibawah ini menunjukkan bahwa obat antikanker fluorasil bekerja dengan cara menghambat timidilat sintetase .

LIZIYYANNIDA 115070507111007

Antimetabolit adalah sekumpulan obat yang mempengaruhi sintesa (pembuatan) DNA atau RNA dan mencegah perkembang biakan sel. Antimetabolit lebih sering membunuh sel pada fase S. Obat golongan ini menimbulkan efek neutropenia ditambah dengan terjadinya ruam kulit, warna kulit menjadi lebih gelap (meningkatkan pigmentasi),stomatitis, diare, dan hand-food syndrome. Masing-masing efek ini terkait dengan metode pemberian yang diterapkan pada pasien (Meyerhardt and Mayer, 2005). Pada kasus yang efek samping 5-FU yang paling parah adalah kardiotoksisitas meskipun hal ini jarang ditemui (Thomas et al., 2004). Dibandingkan dengan agen kemoterapi yang lain, 5-FU memiliki selektivitas yang tinggi pada aktivitas TS dan efek samping yang ditimbulkan relatif lebih ringan. Meskipun demikian, efektivitas 5-FU sebagai agen kemoterapi baru mencapai 15% sehingga diperlukan pengembangan agen kokemoterapi untuk meningkatkan efektivitas terapi dengan 5-FU (Meyerhardt and Mayer, 2005).

LIZIYYANNIDA 115070507111007
Neutropenia adalah kelainan pada darah yang diidentifikasi dengan jumlah sel neutrofil (salah satu tipe sel darah putih) yang rendah. Sel-sel neutrofil adalah bagian dari sel darah putih atau leukosit (sekitar 50-70% dari total sel darah putih) yang berada dalam sirkulasi, dan sel neutrofil ini berperan sebagai penangkal infeksi dengan membunuh bakteri yang berada dalam darah. Oleh karena itu, pasien yang mengalami neutropenia menjadi lebih rentan terhadap infeksi bakteri dan hal ini dapat secara langsung mengancam kehidupan mereka bila tidak segera ditangani. Neutropenia dapat berlangsung akut atau kronis, yaitu tergantung dari lama terjadinya penyakit. Pasien dinyatakan menderita neutropenia kronis bilamana ia mengalaminya selama lebih dari 3 bulan. Penyakit ini terkadang disebut juga dengan istilah leukopenia. Tetapi, neutropenia lebih tepat dikatakan sebagai bagian dari leukopenia. KLASIFIKASI Klasifikasi neutropenia berdasarkan perhitungan absolute neutrophil count (ANC) yang mengukur sel-sel neutrofil per mikroliter adalah sebagai berikut: Neutropenia ringan (1000<ANC<1500) dihubungkan dengan resiko infeksi yang minimal Neutropenia sedang (500<ANC<1000) dihubungkan dengan resiko infeksi yang sedang Neutropenia berat (ANC<500) dihubungkan dengan resiko infeksi yang tinggi

Neutropenia yang berbahaya adalah Drug-induced neutropenia (akibat obat anti kanker ) obat antikanker dapat menyebabkan agranulositosis (tidak adanya sel darah putih sama sekali) dan neutropenia. Banyak obat-obatan anti-neoplastic menyebabkan agranulositosis dan neutropenia melalui penekanan sumsum tulang. Sekitar 75% dari kasus-kasus neutropenia di Amerika Serikat berhubungan erat dengan pengobatan. Efek ini muncul seringkali pada waktu proses kemoterapi yang dijalani seorang pasien bekerja dengan membunuh sel-sel kanker yang ada di tubuh. Sayangnya, proses pengobatan ini umumnya tidak bisa mengenali perbedaan antara sel kanker dengan sel sehat. Akibatnya, kemoterapi menghancurkan juga sel-sel sehat pada rambut, kulit, tulang, darah dan lainnya. Karena kemoterapi juga mempengaruhi darah, salah satu sel yang dapat dipengaruhinya adalah sel darah putih. Oleh karena itu, Neutropenia menjadi salah satu efek samping yang kerap terjadi. TANDA DAN GEJALA

LIZIYYANNIDA 115070507111007
Neutropenia bisa terjadi tanpa terdeteksi, tetapi umumnya bisa diketahui saat seorang pasien mengalami infeksi berat. Beberapa gejala umum neutropenia diantaranya: Demam, sariawan, diare, rasa terbakar saat kencing, adanya pembengkakan dan atau rasa sakit yang tidak lazim saat luka, serak di tenggorokan, nafas yang tersengal-sengal, rasa dingin yang menggigil. DIAGNOSA Pada penderita yang mengalami neutropenia (jumlah neutrofil-sejenis sel darah putih-yang rendah) memiliki resiko tinggi untuk terjadinya infeksi. Karena itu demam yang melebihi 38 Celsius ditangani sebagai keadaan darurat. Rendahnya kadar neutrofil dalam darah hanya dapat terdeteksi saat mengukur kadar darah keseluruhan. Pada umumnya, pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk menentukan diagnosa yang tepat. Saat diagnosanya tidak pasti, biopsi sumsum tulang terkadang dianggap perlu dilakukan. Adapun PEMERIKSAAN FISIK yang menunjang diagnosis :

C.

Neutropenia merupakan gejala yang menyertai perjalanan suatu penyakit atau juga sebagai efek samping dari suatu pengobatanyaitu yang paling sering terjadi pada kemoterapi penyakit kanker. Kekurangan neutropil dapat menuntun terjadinya response peradangan yang menurun, oleh sebab itu demam menjadi satu- satunya pertanda telah terjadinya infeksi. Pengobatan neutropenia tergantung pada penyakit dan beratnya penyakit :

LIZIYYANNIDA 115070507111007
Pada Neutropenia yang disebabkan karena obat obatan tertentu yaitu obat antikanker maka perlu dihentikan pemakaian obat yang memicu efek neutropenia. Pada penderita neutropenia ringan biasanya tidak menunjukan gejala dan tidak memerlukan pengobatan pada penderitasedang dan berat maka memerlukan pengobatan.

Bila terjadi infeksi (ditandai dengan demam neutropenia ) maka pasien harus dirawat di rumah sakit dan diberi antibiotik yang kuat. Demam neutropenia adalah satu dari komplikasi radioterapi dan kemoterapi yang paling sering terjadi. Selain antibotik perlu pemberian GR yang merangsang pembentukan sel darah putih yaitu Granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF) dan granulocyte-makrofag colony-stimulating factor (GM-CSF ). Jarang dilakukan transfusi sel darah putih karena hanya bertahan selama beberapa jam dan menyebabkan berbagai efek samping. Adapun pada pasien yang menunjukkan adanya infeksi pada efek neutropenia yang ditimbulkan dari pengobatan antikanker :

LIZIYYANNIDA 115070507111007
GUIDLINE DAN LOGARITMA TERAPI ANTIBIOTIK UNTUK INFEKSI NEUTROPENIA

PENCEGAHAN Adapun pencegahan yang dapat dilakukan oleh pasien Neutropenia adalah :

LIZIYYANNIDA 115070507111007

DAFTAR PUSTAKA
Daly J.M, Bertagnolli , De Cosse JJ, Morton D.L : Oncology in Schwartz: Principles of Surgery.6 th Ed. Mc Graw-Hill,New York, 1999. De Vita V.T. Jr : Principles of Cancer Management : Chemoterapy, in De Vita V.T.Jr. Hellman S, Rosenberg.S.A., : Cancer: Principles and Practice of Oncology,5 th edition.
Dockrell

dan Lewis. Patients with neutropenia & fever. Dalam: Current diagnosis & treatment in

infectious diseases. Wilson WR, Sande MA., penyunting. Edisi pertama. New york, Toronto; Langr med books/ McGraw-Hill 2001. h. 347-55. I Dewa G , Dasar - Dasar Kemoterapi, Onkologi Klinik,UPF Bedah FK UNAIR , RSUD Dr.Sutomo Surabaya. International Agency for Research on Cancer (IARC). Monograph: Overall Evaluations of Carcinogenicity to Humans. 2008. Available at:

http://monographs.iarc.fr/ENG/Classification/crthall.php. Accessed August 27, 2008. Lippincott WA, et.al, Handbook of Cancer 7Ed : Editor : Roland T. Skeel MD, Toledo, Ohio :, 2009

Anda mungkin juga menyukai