Anda di halaman 1dari 16

BAB V ANALISA MUTU

5.1.Penentuan Kadar Kotoran Inti sawit (Palm Kernel) Tujuan : Pemisahan kotoran (cangkang dan benda-benda lain selain inti sawit) yang terdapat dalam inti sawit dan penimbangan Metode : Manual dan diaplikasikan pada inti sawit Bahan : Sampel inti sawit Peralatan : 1.Neraca analitik kapasitas 2000 gram 2. Wadah plastik 3. Alat pembelah (mortar dan alu) Prosedur Kerja : 1. Timbang sampel inti sawit sebanyak 1 kg 2. Pisahkan kotoran yaitu semua bahan yang bukan inti sawit misalnya cangkang, serabut, batu dan lain-lain ke dalam wadah plastik. 3. Pisahkan wadah cangkang lepas dengan cangkang utuh dengan inti 4. Pisahkan cangkang dengan inti dengan alat pembelah,kemudian gabungkan dengan wadah berisi cangkang lepas. 5. Kemudian timbang kotoran tersebut dengan neraca analitik.

6. Hitung kadar kotoran inti sawit dengan mempergunakan rumus :

5.2. Penentuan Kadar Kotoran Bungkil Inti Sawit (palm kernel expeller) Tujuan : Pemisahan kotoran (cangkang dan benda-benda lain selain bungkil) yang terdapat dalam bungkil inti sawit dan penimbangan. Metode : Manual dan diaplikasikan pada bungkil inti sawit Bahan : Sampel bungkil inti sawit Peralatan : 1.Neraca analitik 2. Wadah atau beaker plastik 3. Air Prosedur Kerja : 1. Timbang sampel bungkil inti sawit sebanyak 100 gr kedalam wadah 2. Tambahkan air (sebaiknya air panas agar dapat cepat melepaskan bungkil dari cangkang). 3. Setelah agak dingin , pisahkan kotoran yaitu semua bahan yang bukan bungkil inti sawit misalnya cangkang, serabut, batu dan lain-lain ke dalam wadah plastik.

4. Kemudian timbang kotoran tersebut dengan neraca analitik. 5. Hitung kadar kotoran inti sawit dengan mempergunakan rumus :

5.3. Penentuan kadar air inti (palm kernel) dan bungkil inti sawit (palm kernel expeller) dengan oven. Tujuan : Menentukan kadar air atau zat-zat lain mudah menguap (volatile). Metode : Oven Bahan : Inti sawit (PK) dan bungkil inti sawit (PKE) dan minyak. Peralatan : - Oven udara, spesifikasi AOCS 3-45 Aluminium moisture dish 30 gauge, 2 x Desicator yang berisi desiccan yang efesien, seperti silik gel atau kupri sulfat. Neraca analitis Penggiling mekanis

Prosedur kerja Persiapan sampel Sampel minyak Karena air cenderung mengendap di dalam sampel minyak , maka harus diaduk dengan baik supaya air terdistribusi secara merata.

1. Timbang sampel minyak 5 gram dalam sebuah moisture dish aluminium atau beaker glass 100 ml yang sebelumnya telah dikeringkan dan didinginkan dalam desikator. 2. Letakkan dalam oven , atur suhu 105 oC selama 3 jam atau pada suhu
o

130

C selama 30 menit.

3. Keluarkan dari oven, dinginkan dalam desikator. 4. Setelah dingin, lakukan penimbangan pada sampel. Sampel inti sawit (PK) dan bungkil inti sawit (PKE)

PK dan PKE bentuknya masih kasar , maka bahan sampel tersebut dihaluskan dengan alat penggiling mekanis atau lumpang besi sehingga diperoleh diperoleh sampel dengan ukuran mesh yang seragam dan homogen. Prosedur 1. Timbang sampel PK/PKE 5 gram dalam sebuah moisture dish atau cawan yang sebelumnya telah dikeringkan dan didinginkan dalam desikator. 2. Letakkan dalam oven , atur suhu 105 oC selama 3 jam atau pada suhu selama 30 menit. 3. Keluarkan dari oven, dinginkan dalam desikator. 4. Setelah dingin, lakukan penimbangan pada sampel. 130 oC

Perhitungan

Perhitungan untuk penentuan kadar air dengan metode oven berlaku sama untuk, inti sawit (PK), bungkil inti sawit (PKE) dan minyak.

5.4. Penentuan kadar air inti (palm kernel) dan bungkil inti sawit (palm kernel expeller) dengan moisture analyzer. Tujuan : Menentukan kadar air atau zat-zat lain mudah menguap (volatile). Metode : Automatic moisture analyzer Bahan : Inti sawit (PK) dan bungkil inti sawit (PKE) dan minyak. Peralatan : Moisture analyzer Aluminium moisture dish 30 gauge, 2 x Desicator yang berisi desiccan yang efesien, seperti silik gel atau kupri sulfat. Neraca analitis Penggiling mekanis

Prosedur Belum ada 5.5. Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) Tujuan : Menentukan kadar asam lemak bebas (FFA) yang terdapat dalam contoh minyak Metode : Titrasi asam basa Bahan : Sampel minyak PKO

Peralatan : 1. Labu Erlenmeyer 250 ml 2. Gelas ukur 100 ml 3. Buret 25 ml 4. Neraca analitis Reagensia 1. Isopropil alkohol atau etanol 95%. Alkohol tersebut harus memberikan titik akhir titrasi yang tajam dengan adanya indikator fenolptalein (PP) dan harus dinetralkan dengan alkali (NaOH atau KOH) hingga menimbulkan warna merah jambu yang tetap sebelum digunakan 2. Indikator Fenolptalein (PP), ACS grade 3. Natrium Hidroksida, ACS grade 4. Kalium Hidrogen Ptalat, ACS Grade 5. Asam Oksalat, ACS Grade Larutan 1. Larutan indikator Fenolptalein (PP) 1 %. Larutkan 10 gram kristal PP dalam 1 liter alkohol 95% 2. Larutan NaOH 0,1 N. Larutkan 4,25 4,30 gram kristal NaOH dalam labu ukur 1 liter dengan air suling hingga tanda garis. Diamkan satu malam, keesokan harinya disaring, kemudian distandarisasi dengan tepat, ataau dapat juga dibuat dengan cara menyiapkan alakali (1:1) dengan menambahakna air suling pada NAOH kristal/pellet, diaduk hingga NaOH larut. Dibiarkan 1 hari hingga semua karbonat mengendap.

Kemudian dipipet 5,4 ml ke dalam labu ukur 1 liter, diencerkan hingga garis tanda, dan distandarisasi dengan tepat.

Standarisasi Larutan NaOH Standarisasi dengan kalium Hidrogen Ptalat 1. Timbang dengan teliti 0,5 gram kalium Hidrogen Ptalat (BM = 204,2) yang telah dipanaskan pada suhu 1100 C selama 4 jam, dan dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 ml. Dibuat tiga kali ulangan 2. Kristal KH-Ptalat ini dilarutkan ke dalam 25 ml air suling dan dipanaskan perlahanlahan sampai semuanya terlarut 3. Tambahkan 2-3 tetes indikator PP dan dititrasi dengan larutan NaOH yang akan distandarisasi sampai munculnya warna merah jambu 4. Perhitungan normalits (N) NaOH dari hasil rata-rata tiga kali ulangan :

Standarisasi larutan NaOH dengan asam Oksalat 1. Timbang dengan teliti 0,1 gram oksalat, C2H2O4.2H2O (BM=126), dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 250 ml dan ditambah air suling 25 ml. 2. Setelah larut tambahakan 2-3 tetes indikator PP dan dittrasi dengan larutan NaOH yang akan di standarisasi sampai muncul warna merah jambu. 3. Perhitungan Normalitas NaOH dari hasil rata-rata tiga kali ulangan:

Catatan : larutan NaOH harus disimpan dalam botol tertentu

Prosedur 1. Sampel minyak diaduk dengan baik, merata dan benar-benar cair sebelum penimbangan dilakukan 2. Timbang sampel minyak ke dalam labu Erlenmeyer 250 ml 3. Tambahkan 25 ml pelarut isopropil alkohol (IPA) yang telah dinetralkan dan tambahkan 2 ml indikator PP 4. Titrasi dengan larutan alkali (NaOH atau KOH) sambil dikocok kuat-kuat hingga timbul warna merah jambu permanen pertama dengan intensitas yang sama seperti alkohol yang dinetralkan sebelum penambahan sampel dan warna tersebut harus hilang dalam 30 detik. Perhitungan 1. Persentase asam lemak bebas (FFA) dalam berbagai jenis minyak dan lemak dihitung sebagai asam oleat, meskipun demikuan, untuk minyak kelapa dan minyak inti sawit (PKO) sering dinyatakan sebagai asam laurat dan CPO sebagai asam palmitat

2. Asam lemak bebas (FFA) seringkali dinyatakan dalam bentuk angka asam selain persen asam lemak bebas. Angka asam didefinisikan sebagai jumlah miligram KOH yang dibutuhkan untuk menetralkan 1 gram contoh. Untk mengkonversikan % asam lemak bebas ke angka asam dapat dikalikan asam lemak bebas dengan: a. 1,99 sebagai asam oleat b. 2,29 sebagai asam palmitat c. 2,81 sebagai asam laurat 5.6. Penentuan Iodium Value IV (Metode wijs) Tujuan : Menentukan angka iodium (IV) ialah suatu ukuran ketakjenuhan lemak dan minyak yang dinyatakan dengan centigram iodium yang diserap per gram sampel ( iodium yang diserap). Metode : Metode Wijs Bahan : Sampel minyak PKO Peralatan 1. Labu Erlenmeyer bertutup yang lebih besar ukuran 500 ml. Botol atau labu yang lebih besar sangat bermanfaat bila pengadukan dilakukan dengan cara mekanis. 2. Labu ukur bertutup gelas, sesuai dengan Bureau of Standard yang toleran dan dikalibrasi secra akurat hingga kandungan 1000 ml. 3. Buret ukuran 50 ml 4. Botol Pyrex bertutup gelas actinic ukuran 1000 ml 5. Keras saring Whatman no.41. 6. Pipet ukuran 10 ml

7. Pipet volume ukuran 25 ml

Reagensia 1. Asam asetat glasial, ACS grade. Uji permanganat harus diterapkan untuk meyakinkan bahwa spesifikasi ini tercapai. Pengujian : Encerkan 2 ml asam tersebut dengan 10 ml air suling dan tambahan 0,1 ml larutan KmnO4 0,1 N. Warna merah jambu tidak akan hilang dalam 2 jam. 2. Kalium iodida, KI, ACS grade 3. Klor, 99,5%, Commercial grade yang sesuai tersedia dalam kemasan khusus tetapi gas ini harus dikeringkan dengan melewatkan melalui asam sulfat (sp.Fr.1,84) sebelum dimasukkan ke dalam larutan iodium. Klor dapat dibuat dengan membiarkan asam klorida (sp.Gr.1,19) menetes pada kalium permanganat atau pada suatu campuran kalium permanganat dan magnesium dioksida (MgO2). Gas ini lalu dihasilkan melalui sebuah tabung gelas yang dimasukkan ke dalam asam sulfat dan kemudian dimasukkan ke dalam larutan iodium. 4. Siklo heksana,ACS grade. Siklo heksana digunakan untuk pembuatan pelarut campuran asam asetat glacial-siklo heksana (1:1) sebagai pengganti karbon tetraklorida yang selama ini digunakan. 5. HCl,ACS grade, sp.GR.1,19 6. Amilum/Kanji (soluble starch) 7. Kalium dikromat,K2Cr2O7,ACS grade. 8. Natrium tiosulfat, Na2S2O3.5H2O,ACS grade 9. Iodium,I2,ACS grade

10. Iodium monoklorida,ICI,Technical grade,Easman atau baker 11. Asam sulfat,H2SO4,ACS grade,Sp.Gr.1,84 Larutan 1. Larutan kalium iodida 10 %. Larutkan 100 gram kristal KI dalam air suling dan buatkan hingga 1 liter 2. Larutan indikator amilum/kanji 1 %. Buatlah suatu pasta homogen dengan 10 gram kanji (starch) yang dapat larut dalam air suling dingin. Tambahkan hingga air suling mendidih hingga 1 liter ke dalam pasta tersebut, aduk segera dan dinginkan.

Larutan Natrium Thiosulfat (Na2S2O3) Cara I a. Pipet 25 ml larutan kalium dikromat (K2Cr2O7) ke dalam labu erlenmeyer 500 ml b. Tambahkan 5 ml HCl(p), 10 ml larutan KI 10% lalu kocok hingga merata.Biarkan selama 5 menit dan tambahkan 100 ml air suling c. Titrasi dengan larutan Na2S2O3, hingga warna kuning hampir hilang. d. Tambahkan 1-2 ml indikator kanji (warna menjadi biru) dan lanjutkan titrasi dengan larutan Na2S2O3 hingga warna biru hilang (titik akhir titrasi) e. Hitung normlitas larutan Na2S2O3 dengan perhitungan :

Cara II

a. Timbang 0,16 0,22 gr larutan kalium dikromat (K2Cr2O7) ke dalam labu erlenmeyer 500 ml b. Tambahkan 5 ml HCl(p), 10 ml larutan KI 10% lalu kocok hingga merata.Biarkan selama 5 menit dan tambahkan 100 ml air suling c. Titrasi dengan larutan Na2S2O3, hingga warna kuning hampir hilang. d. Tambahkan 1-2 ml indikator kanji (warna menjadi biru) dan lanjutkan titrasi dengan larutan Na2S2O3 hingga warna biru hilang (titik akhir titrasi) e. Hitung normlitas larutan Na2S2O3 dengan perhitungan :

Prosedur Timbang sampel minyak secara tepat ke dalam erlenmeyer 500 ml dan tambahkan pelarut campuran sikloheksana asam asetat glacial (1:1). Pipet 25 ml larutan Wijs ke dalam labi yang berisi sampel minyak dan aduk agar bercampur rata. Buat larutan blanko yanh berisi pelarut campuran sikloheksana asam asetat glacial (1:1) dan larutan Wijs Simpan labu dalam tempat gelap selama 1 jam pada suhu kamar. Setelah selesai, pindahkan labu dari tempat gelap dan tambahkan 20 ml larutan KI 10% dan 100 ml air suling Titrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 N hingga warna kuning hampir hilang

Tambahkan 1-2 ml larutan indikator kanji , larutan menjadi warna biru. Lanjutkan titrasi sampai titik akhir titrasi ditandai dengan warna biru hilang. Hitung nilai IV (bilangan iodium) dengan mempergunakan rumus :

dimana : B = Titrasi Blanko (ml) S = Titrasi sampel (ml) N = Normalitas Na2S2O3 6. Analisa Kandungan Minyak (Oil Content) Tujuan : Menentukan kandungan minyak (oil contetnt) Metode : Ekstraksi soxhlet cair-padat Bahan : Inti sawit (PK) dan bungkil inti sawit (PKE) dan minyak. Peralatan : 1. Satu set soxhlet ekstractor apparatus 2. Mantel heater 3. Larutan n-hexane 4. Pembalut sampel Prosedur kerja

1. Sampel digiling/ dihaluskan, kemudian ditimbang. 2. Masukkan sampel ke dalam pembalut sampel pada peralatan soxclet 3. Masukkan pelarut (N.Hexane) ke dalam labu sebanyak volume labu. 4. Rangkaikanlah seluruh peralatan extractor, lalu alirkan air pendingin dalam kondensor kemudian panaskan dengan water bath. 5. Solven di sirkulasi sebanyak 8 kali, dan jagalah temperatur proses. 6. Timbang labu destilasi dan masukkan pelarut yang telah bercampur dengan minyak atsiri.

BAB VI HASIL ANALISA MUTU

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN


7.1.Kesimpulan Dari uraian di atas maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut : 1. PT. Agro Jaya Perdana merupakan salah satu perusahaan terbesar penanaman modal dalam negeri yang bergerak di bidang industri pengolahan inti sawit .

7.2.Saran Adapun saran-saran yang ingin penulis paparkan sebagai berikut : 1. Keselamatan kerja perlu diperhatikan demi menghindari kecelakaan kerja yang berakibat fatal. 2. PT. Agro Jaya Perdana harus memperhatikan dan meningkatkan kuantitas produksi dan juga kualitas mutu produksinya demi memenuhi kebutuhan dan standar mutu yang diinginkan pelanggan.