Anda di halaman 1dari 27

KELOMPOK 1A SAINS & UTILITAS 1

TEKNIK ARSITEKTUR UDAYANA NONREGULER 12

DOSEN PEMBIMBING I NYOMAN SUSANTA, M.Erg

PENYUSUN LAPORAN
Kt. Ryan Budhi Saputra (1219251008) I Gede Rai Dwija Putra (1219251017) Dimi Elkana (1219251007) Ade Dwi Diah Savitri (1219251012) Gede Yudha Prasepta (1219251010)

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan Makalah mengenai Sistem Plambing mata kuliah Sains dan Utilitas 1. Adapun tujuan penulisan tugas ini yaitu untuk dapat memahami dan membagi pengetahuan tentang sistem plambing . Dengan dibuatnya tugas ini kami diharapkan mampu mengetahui dan memahami sistem dari plumbing itu sendiri, baik dari segi perancangan, maupun dari aspek teknisnya. Dalam penyelesaian tugas ini, kami banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang. Namun, berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan dengan cukup baik. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih atas bantuan dan bimbingannya. Kami sadar, sebagai seorang mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan tugas ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang positif, guna menyempurnakan penulisan makalah ini. Denpasar, 23 September 2013

kelompok 1A

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

DAFTAR ISI

4 5 24 25 26

LATAR BELAKANG TUJUAN PENULISAN

BAB I

BAB II
DEFINISI SISTEM PLAMBING SISTEM PEMBUANGAN DAN AIRHUJAN TUJUAN SISTEM AIR BUANGAN KLASIFIKASI AIR BUANGAN SISTEM PEMBUANGAN AIR BAGIAN SISTMEPEMBUNGAN AIR

BAB 3

KESIMPULAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PERTANYAAN BESERTA JAWABAN

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

BAb I
1.1. LATAR BELAKANG

Pendahuluan
Sistem plumbing adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari bangunan gedung, oleh karena itu perencanaan sistem plambing haruslah dilakukan bersamaan dan sesuai dengan tahapan-tahapan perencanaan gedung itu sendiri, dalam rangka penyediaan air bersih baik dari kualitas dan kuantitas serta kontinuitas maupun penyaluran air bekas pakai atau air kotor dari peralatan saniter ke tempat yang ditentukan agar tidak mencemari bagian-bagian lain dalam gedung atau lingkungan sekitarnya. Setiap usaha dan atau kegiatan pada dasarnya menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup yang perlu dianalisis sejak awal perencanaannya, sehingga langkah pengendalian dampak negatif dan pengembangan dampak positif dapat dipersiapkan sedini mungkin. Dan berdasarkan hal tersebut telah ditetapkan peraturan pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Plambing adalah seni dan teknologi pemipaan dan peralatan untuk menyediakan air bersih, baik dalam hal kualitas, kuantitas dan kontinuitas yang memenuhi syarat dan pembuang air bekas atau air kotor dari tempat-tempat tertentu tanpa mencemari bagian penting lainnya untuk mencapai kondisi higienis dan kenyamanan yang diinginkan. Perencanaan sistem plambing dalam suatu gedung, guna memenuhi kebutuhan air bersih sesuai jumlah penghuni dan penyaluran air kotor secara efesien dan efektif (drainase), sehingga tidak terjadi kerancuan dan pencemaran yang senantiasa terjadi ketika saluran mengalami gangguan. Drainase berasal dari bahasa Inggris drainage yang mempunyai arti mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air. Secara umum, sistem drainase dapat didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Sistem drainase terdiri dari saluran penerima (interceptor drain), saluran pengumpul (collector drain), saluran pembawa (conveyor drain), saluran induk (main drain) dan bagian penerima air (receiving waters). Di sepanjang sistem sering dijumpai bagian lainnya seperti gorong-gorong, siphon, jembatan air (aquaduct), pelimpah, pintu-pintu air, bangunan terjun, kolam tando, dan stasiun pompa. Fungsi utama peralatan plumbing gedung adalah menyediakan air bersih dan atau air panas ke tempat-tempat tertentu dengan tekanan cukup, menyediakan air sebagai proteksi kebakaran dan menyalurkan air kotor dari tempat-tempat tertentu tanpa mencemari lingkungan sekitarnya. namun pada kesempatan kali ini, titik fokus kami akan membahas tentang sistem pembuangan air buangan dan air hujan.

1.2. TUJUAN PENULISAN


Tujuan penulisan tugas ini yaitu untuk mengetahui dan memahami pentingnya keberadaan sistem plumbing dan sanitasi sebagai bagian dari utilitas bangunan yang mendukung aktivitas suatu bangunan yang titik fokusnya pada sistem pembuangan air buangan dan air hujan baik dari sistem, komponen, layout, maupun kapasitasnya.

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

PEMBAHASAN
SISTEM PLUMBING (SISTEM PEMBUNGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

Bab II

2.1. DEFINISI SISTEM PLUMBING Plumbing adalah seni dan teknologi pemipaan dan peralatan untuk menyediakan air bersih, baik dalam hal kualitas dan kontinuitas yang memenuhi syarat dan pembuangan air bekas atau kotor dari tempattempat tertentu tanpa mencemari bagian penting lainya untuk mencapai kondisi higenis dan kenyamanan yang diinginkan. Sedangkan pengertian plambing menurut SNI 03-6481-2000 adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan pemasangan pipa dengan peralatannya di dalam gedung maupun gedung yang berdekatan yang bersangkutan dengan; air hujan, air buangan dan air minum yang dihubungkan dengan sistem kota atau sistem lain yang dibenarkan. Sistem plumbing merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dalam pembangunan gedung. Oleh karena itu, perancangan sistem plambing haruslah dilakukan secara bersamaan dan sesuai dengan tahapan perancangan gedung itu sendiri. Dalam perencanaan sistem plumbing harus diperhatikan secara seksama mengenai hubungannya dengan bagian-bagian kontruksi gedung serta hubungannya dengan peralatan lain yang ada dalam gedung tersebut, seperti pendingin udara, listrik, dan lain-lain. Tujuan dan fungsi dari sistem plumbing adalah untuk menciptakan suatu bangunan yang memenuhi kesehatan dan sanitasi yang baik dengan suatu sistem pemipaan yang dapat mengalirkan air bersih ketempat tempat yang dituju dan membuang air kotor ke saluran pembuang tanpa mencemari bagian penting lainnya dengan tidak melupakan kenyamanan dan keindahan bangunan. Di Indoensia, peraturan yang berlaku mengenai Plambing selain SNI 03-6481-2000 tentang Sistem Plambing juga diatur dalam SNI 03-7065-2005 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Plambing.

AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN


2.2 DEFINISI AIR BUANGAN Air buangan atau limbah (waste water) adalah semua cairan yang dibuang, baik yang mengandung kotoran manusia, hewan, bekas tumbuh - tumbuhan maupun yang mengandung sisa - sisa proses industri. 2.3 TUJUAN SISTEM AIR BUANGAN Adapun tujuan dari dibuatnya sistem air buangan ini adalah sebagai berikut : - Untuk memisahkan sistem aliran air bersih dan pembuangan air kotor dalam suatu rancangan sistem plambing. - Agar air buangan yang tidak terpakai tersebut tidak mencemari lingkungan. - Agar tidak terjadi masalah kesehatan yang dapat menimbulkan penyakit. - Untuk menampung atau mengolah air buangan/limbah tersebut agar dapat dibuang pada saluran-saluran kota atau dapat digunakan kembali untuk keperluan tertentu seperti air untuk menyiram tanaman dll.

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

2.3 KLASIFIKASI SISTEM AIR BUANGAN Sistem pembuangan air umumnya dibagi dalam beberapa klasifikasi menurut jenis air buangan, cara membuang air, dan sifat-sifat lain dari lokasi di mana saluran itu akan dipasang.
2.3.1 BERDASARKAN JENIS AIR BUANGAN

Air buangan atau limbah (waste water) adalah semua cairan yang dibuang, baik yang mengandung kotoran manusia, hewan, bekas tumbuh - tumbuhan maupun yang mengandung sisa - sisa proses industri. Air buangan dapat dibagi menjadi 4 golongan yaitu : (a) Air kotor, merupakan air buangan yang berasal dari kloset, peturasan, bidet dan air buangan yang mengandung kotoran manusia yang berasal dari alat plambing. (b) Air bekas, merupakan air buangan yang berasal dari alat plambing lainnya seperti bak mandi (bath tub), bak cuci tangan bak dapur dan sebagainya. (c) Air hujan, merupakan air dari atap, halaman dan sebagainya. (d) Air buangan khusus, merupakan air yang mengandung gas, racun dan bahan-bahan berbahaya yang berasal dari pabrik, air buangan darilaboratorium, tempat pengobatan, tempat pemeriksaan di rumah sakit, rumah pemotongan hewan, air yang bersifat radio aktif dan lain - lain.
2.3.2 BERDASARKAN CARA PEMBUANGAN AIR

(a) Sistem pembuangan air campuran Yaitu sistem pembuangan, di mana segala macam air buangan dikumpulkan ke dalam satu saluran dan dialirkan ke luar gedung, tanpa memperhatikan jenis air buangannya. (b) Sistem pembuangan terpisah Yaitu sistem pembuangan, di mana setiap jenis air buangan dikumpulkan dan dialirkan ke luar gedung secara terpisah. (c) Sistem pembuangan tak langsung Yaitu sistem pembuangan, di mana air buangan dari beberapa lantai gedung bertingkat digabungkan dalam satu kelompok. Pada setiap akhir gabungan perlu dipasang pemecah aliran.
2.3.3. BERDASARKAN CARA PENGALIRAN

(a) Sistem Gravitasi Di mana air buangan mengalir dari tempat yang lebih tinggi secara gravitasi ke saluran umum yang letaknya lebih rendah. (b) Sistem Bertekanan Di mana saluran umum letaknya lebih tinggi dari letak alat-alat plambing, sehingga air buangan dikumpulkan lebih dahulu dalam suatu bak penampung kemudian dipompakan ke luar ke dalam roil umum.

SKEMA UMUM SISTEM PEMBUANGAN GRAVITASI SUMBER : http://arsitekistn.blogspot.com/2011/04/sistempembuangan-air-kotor.html

EFEK SIFON DAN PERANAN PIPA VEN PADA SISTEM PEMBUANGAN SUMBER : http://arsitekistn.blogspot.com/2011/04/sistem-

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

2.3.4 BERDASARKAN LETAKNYA

(a) Sistem pembuangan gedung Yaitu sistem pembuangan yang terletak dalam gedung, sampai jarak satu meter dari dinding paling luar gedung tersebut. (b) Sistem pembuangan di luar gedung atau roil gedung Yaitu sistem pembuangan di luar gedung atau riol gedung, di halaman, mulai satu meter dari dinding paling luar gedung tersebut sampai ke roil umum. Jarak satu meter tersebut bukanlah standar ataupun peraturan, melainkan pegangan yang digunakan untuk membedakan antara kedua sistem. Di Amerika Serikat, biasanya digunakan jarak 5 kaki. Jarak tersebut disepakati demi keseragaman dalam mebuat rancangan, taksiran biaya, dan pembagian tanggung jawab pelaksanaan/pemasangan. 2.4 SISTEM PEMBUANGAN AIR
2.4.1 SISTEM PEMBUANGAN AIR KOTOR.

1. Sistem pembuangan Air Bekas a. Sistem pembuangan air kotor dan bekas -Sistem Campuran : Sistem pembuangan dimana air kotor dan air bekas dikumpulkan dan dialirkan ke dalam satu saluran. -Sistem Terpisah : Sistem pembuangan dimana air kotor dan bekas masing - masing dikumpulkan dan dialirkan secara terpisah. Untuk daerah dimana tidak tersedia riol umum yang dapat menampung air bekas dan air kotor maka sistem pembuangan air kotor akan disambungkan ke instalasi pengolahan air kotor terlebih dahulu. Air bekas yang dimaksud adalah air bekas cucian, air bekas cucian pakaian, kendaraan, cucian peralatan masakan dan beberapa macam cucian lainnya. Untuk pipa pembuangan dapat digunakan pipa-pipa PVC ; untuk pipa-pipa vertikal dan pembuangan horizontal digunakan pia PVC atau pipa beton dengan diameter yang diperhitungkan ukurannya. Mengingat panjang PVC 400 cm, maka sistem pemipaan pembuangan air bekas, baik vertikal maupun horizontal diusahakan setiap 400 cm dibuat sambungan/dihubungkan dengan pipa-pipa lain. Untuk pipa vertikal, diusahakan hubungan menggunakan sambungan dengan sudut lebih kecil dari 90 derajat sehingga tidak terjadi air balik. Untuk sambungan-sambungan horizontal, juga dapat digunakan sambungan bersudut lebih dari 90 derajat atau menggunakan bak-bak control. Pembuangan air bekas ini dapat dialirkan ke saluran lingkungan atau saluran kota praja.
2.4.2 SISTEM PEMBUANGAN AIR LIMBAH

Air limbah adalah air bekas buangan yang bercampuran kotoran. Air bekas/air limbah tidak diperbolehkan dibuang sembarangan/dibuang ke seluruh lingkungan, tetapi harus ditampung ke dalam bak penampungan. - Limbah Kotoran Cair (Grey Water) Adalah limbah buangan nonkakus yang berasal dari sisa buangan cucian dapur, wastafel, sisa buangan air cuci pakaian, sisa air buangan kamar mandi yang bias digunakan kembali tetapi masih membutuhkan beberapa proses filterisasi (penyaringan). Hal yang paling berbahaya yang terkandung dalam greywater adalah zat-zat deterjen yang berasal dari sabun cuci rumah tangga seperti sabun mandi, sabun cuci alat masak, dan sabun cuci pakaian. Pada umumnya, limbah rumah tangga ini hanya dibuang langsung ke selokan tanpa melewati prosesproses penyaringan terlebih dahulu. Hal ini dapat mengakibatkan banyak permasalahan, yang meliputi : 1. Perkembangbiakan penyakit seperti Disentri dan Kolera. 2. Polusi udara yang menyebabkan bau tidak sedap. 3. Pencemaran lingkungan, seperti air sungai yang menjadi tempat bermuaranya limbah ini akan menjadi keruh dan akan membunuh ikan-ikan yang ada di sungai tersebut. Maka dari itu, untuk menghindari permasalahan tersebut, dibuatlah instalasi pengolahan greywater system yang disebut SPAL (System Pengolahan Air Limbah ). Cara memebuatnya mudah dan membutuhkan biaya yang murah juga . jadi sistem pengolahan limbah ini sanagat mungkin direalisasikan di rumah . 7
SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

Instalasi SPAL (Sistem Pengolahan Air Limbah) terdiri dari 2 bagian yaitu : A. Bak Pengumpulan Di dalam bak pengumpulan terdiri dari beberpa ruang yang meliputi ruang pengumpulan samapah, ruang penangkap lemak , dan ruang penangkap pasir yang nanti akan melakukan proses pembersihan secara berkala di tiap ruang-ruang tersebut untuk menghindari penumpukan sampah , lemak, maupun endapan pasir. B. Tangki Resapan Di dalam tangki resapan terdapat arang dan batu koral yang dapat menyaring zat zat pencemaran yang terkandung dalam greywater . posisi tangki resapan berada lebih rendah daripada bak pengumpulan untuk memudahkan air mengalir dengan pipa PVC dengan diameter kurang lebih 4 inci.

INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH UNTUK GREY WATER SEDERHANA SUMBER : ArchSketch. (2012). Panduan Griya Sehat. Yogyakarta : Cahaya Atma Pustaka

CARA KERJA : Air limbah buangan nonkakus (greywater) dialirkan menuju ruang pertama yaitu ruang penangkap sampah (A) yang telah diliengkapi saringan di dasarnya. Air yang sudah dipisahkan dengan sampah lalu dialirkan ke ruang yang di bawahnya yaitu ruang penangkap pasir (B). pasir yang terkandung dalam air limbah tersbut akan mengendap di dasar ruang ini. Lalu minyak/lemak yang terkandung dalam air ini juga akan mengambang ke atas karena berat jenisnya lebih ringan dan ditangkap oleh ruang penangkap lemak yang berada di bagian atas (C). air yang sudah bebas dari sampah , pasir, dan lemak akan dialirkan ke tangki resapan yang di dalamnya ada penyaringan berupa batu koral dan batok kelapa yang mampu menyaring zat zat pencemaran . setelah itu , air yang sudah melewati proses ini sudah aman untuk dialirkan ke selokan . MANFAAT DARI PENGOLAHAN LIMBAH GREY WATER : 1. Air olahan dapat digunakan lagi untuk menyiram tanaman , mengguyur kloset , dan menccuci mobil. 2. Menghindari pencemaran lingkungan , baik udara , tanah , maupun air, dari zat polutan yang terkandung dalam greywater tersebut. 3. Di singapur dan Negara Negara maju , greywater bahkan sudah diolah dan dapat dijadikan sebagai air minum.

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

- Limbah Kotoran Padat (Black Water) Limbah kotoran padat (blackwater) adalah limbah buangan kotoran yang berasal dari kakus (tinja) manusia dan mengandung zat zat penyakit yang berbahya. Maka dari itu, perlu adanya pengolahan yang benar agar tidak menjadi pencemaran yag merugikan kesehatan dan lingkungan. Pengolahan blackwater memerlukan instalasi yang lebih rumit dan lama daripada pengolahan greywater karena limbah blackwater memiliki zat pathogen yang lebih banyak di bandingkan limbah grey water. Secara umum, jalur distribusi air limbah padat (blackwater) dapat dilihat dalam skema berikut ini.

INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH PADAT SUMBER : ArchSketch.(2012). Panduan Griya Sehat. Yogyakarta : Cahaya Atma

PENJELASAN jalur pengolahan distribusi air limbah padat melewati beberapa proses yang meliputi : 1. KLOSET Adalah tempat di mana limbah kotoran padat (tinja) yang berasal dari manusia dibuang. Secara umum, kloset dibedadakan menjadi 2, yaitu kloset duduk dan kloset jongkok. Pemakainnya digunakan sesuai dengan kebiasaan pemilik rumah. Di dalam kloset ada sistem penutup bau yang bias disebut dengan leher anagsa. Di dalam leher angassa ini terdapat air yang dapat menutup bau yang berasal dari buangan kotoran maanusia agar bau yang ditimbulkan tidak menyebar. Untuk mengalirkan tinja ke saluran berikutnya biasanya digunakan air sehingga tinja bias terdoromg dan mengalir ke septic tank. 2. SEPTIC TANK Adalah tempat pengolahan kotoran padat manusia setelah kloset. DI dalam septic tank terjadi penguraian kotoran padat oleh bakteri-bakteri yang nati pada akhirnya akan menjadi kotoran cair yang akan disalurkan atau diresapkan ke sumur peresapan. Pada umumnya, beton dibuat dari campuran semen, kerikil, dan air, dan diberi lapisan kedap air agar saat proses penguraian kotoran padat ini, kotoran yang diuraikan tidak meresap ke tanah yang nantinya dapat mencemari tanah.

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

Prinsip kerja dari septic tank adalah mengolah dan memisahkan antara air dengan kotoran dengan cara pengendapan. Pengolahan dilakukan oleh bakteri anaerobic yang merubah kotoran baku menjadi Lumpur. Air hasil pemisahan (70% lebih bersih) dialirkan keluar secara gravitasi dan diresapkan ketanah, sedangkan hasil endapan (Lumpur) harus dibuang secara berkala dengan bantuan layanan mobil tangki air kotor pemerintah setempat. Dengan demikian tangki septic biasanya terletak diluar bangungan (mudah dicapai mobil tangki) dan tidak ada peralatan pompa yang dipasangkan.

SISTEM KERJA SEPTIC TANK SUMBER : http://angankeyen.wordpress.com/2011/11/27/ proses-dan-cara-pengolahan-limbah-rumah-tangga-sanitasi/

Pada dasarnya , septic tank harus dapat menampung limbah buangan 15 manusia. Setiap orang setiap harinya kira-kira membuang 25 liter air kotor dan bakteri tifus yang ada di dalamnya akan mati selama selang waktu 3 hari. Jadi, septic tank harus dapat menampung 75 liter untuk setiap pemakainya. Total yang harus bias ditampung oleh septic tank yaitu 75x15 = 1.125 liter.

SEPTIC TANK SUMBER : ArchSketch. (2012). Panduan Griya Sehat. Yogyakarta : Cahaya Atma Pustaka

10

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

10

SYARAT- SYARAT SEPTIC TANK Ada beberapa persyaratan khusus dalam proses pengelolaan di dalam septic tank, yang meliputi : 1. Septic tank dibangun di atas permukaan air tanah minimal dengan jarak 1 meter 2. Jarak antara septic tank dan sumur peresapan minimal 11 meter dari sumur air bersih untuk menghindari peresapan air yang bisa tercampur dengan sumber air bersih. 3. Perlu diperhatikan aliran air tanahnya. Usahakan posisi sumber air bersih berada di dataran tanah yang paling tinggi lalu diikuti dengan septic tank, dan yang terakhir sumur resapan. 4. Buangan air kotor yang mengandung deterjen tidak diperbolehkan masuk ke dalam saluran septic tank karena dapat membunuh bakteri-bakteri yang bertugas mengurai kotoran padat (tinja) tersebut.

SYARAT SEPTIC TANK SUMBER : http://arsitekistn.blogspot.com/2011/04/sistempembuangan-air-kotor.html

PERHITUNGAN VOLUME SEPTIC TANK 1/3 V = N X C X T 1/3 : Bagian volume tangki untuk akumulasi lumpur dan busa V : Volume septic tank (M3) N : Jumlah penghuni (orang) C : Akumulasi lumpur (0,04 M3/kapita/tahun) T : Jangka waktu pengurasan septic tank (tahun)

11

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

11

TABEL PERSYARATAN JARAK MINIMUM TANGKI SEPTIC & PERESAPAN, KONDISI TANAH BIASA

3. SUMUR PERESAPAN Adalah tempat penyaringan terakhir untuk pengolahan air kotoran padat (blackwater). Di dalam sumur peresapan ada beberapa penyaring yaitu kerikil kasar, kerikil halus, dan pasir yang berfungsi untuk menyaring zat-zat patogen yang masih terkandung dalam air buangan dari septic tank. Blackwater yang masuk ke dalam sumur peresapan akan disaring sehingga air limbah penyaringan terakhir aman untuk diresapkan ke dalam tanah.

SUMUR PERESAPAN SUMBER : ArchSketch. (2012). Panduan Griya Sehat. Yogyakarta : Cahaya Atma Pustaka

4. SEWAGE TREATMENT PLANT Untuk bangunan-bangunan yang banyak penghuninya, penampungan air limbah harus menggunakan septic tank berukuran besar yang sering disebut sebagai pengolahan limbah (sewage treatment). Sewage Treatment Plant (STP) adalah tempat pengolahan limbah yang jumlah kotorannya banyak.

12

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

12

Limbah yang terkumpul, diolah secara mekanis, diaduk, diberi udara supaya bakteri-bakteri yang ikut mengolah limbah dapat hidup dengan baik sehingga dapat segera memproses kotoran-kotoran/limbah tersebut. Hasil pengolahan limbah diberi zat pembersih sehingga air bekas pengolahan limbah dapat di pompa keluar untuk dibuang melalui saluran-saluran kota atau dapat digunakan kembali, seperti untuk menyiram tanaman dan mendinginkan alat pendingin (air condition) Sewage Treatment dapat diletakkan di luar gedung/halaman atau dapat juga dibuat di bagian lantai yang paling bawah/lebih rendah dari toilet yang terendah. Di dalam ruangan sewage tersebut, orang harus dapat masuk untuk mengontrol sehingga diperlukan penerangan dan ventilasi (exhaust fan).

SEWAGE TREATMENT PLANT SUMBER : http://www.cotterillcivils.co.uk/products/sewagetreatment-and-pollution-control/sewage-treatment-plant.aspx SKEMA PROSES SEWAGE TREATMENT SUMBER : http://www.biosolids.com.au/what-are-biosolids. php

- Air Limbah Khusus Air limbah khusus adalah air bekas buangan dari kebutuhan-kebutuhan khusus, seperti restoranrestoran yang besar, pabrik-pabrik/isdustri kimia, bengkel, rumah sakit, dan laboraturium. Air limbah khusus ini harus ditampung di tempat tertentu, dengan treatment tersendiri, lalu dapat dibuang bersama-sama dengan air bekas biasa. Sebagai contoh, restoran besar yang membuang air limbah khusus/air buangan yang mengandung lemak, sedangkan lemak tidak dapat hancur/menyatu dengan air bekas buangan. Oleh karena itu, perlu diadakan treatment lebih dulu. alat ini disebut grease trap.

GREASE TRAP SUMBER : https://drain-net.com/images/stories/ Grease/thermaco-big-dipper-grease-trap-lg%20 w200-is.jpg

13

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

13

2.4.3 SISTEM PEMBUANGAN AIR HUJAN

Air hujan adalah air dari awan yang jatuh di permukaan tanah. hujan rata-rata di indonedia antara 300-500mm/m2/jam atau setara dengan 5 - 8,3 liter/ menit. Air Hujan dialirkan ke saluran-saluran tertentu. Mengingat air yang jatuh tidak sama dialami oleh setiap bangunan, tergantung dari letak dan kondisi bangunan berbeda, maka untuk penyalurannya diperlukan pipa-pipa plambing tersendiri yang dihitung dan diukur dari atap yang menerima air hujan tersebut. Air hujan yang jatuh pada rumah tinggal atau kompleks perumahan disalurkan melalui talangtalang vertikal dengan diameter 3 (minimal) yang diterukan ke saluran-saluran horizontal dengan kemiringan 0,5-1% dengan jarak terpendek menuju ke saluran terbuka lingkungan. Air hujan tersebut disalurkan dengan pipa tersendiri dengan saringan khusus yang terpisah dengan pipa air bekas.

POLA ALIRAN AIR HUJAN

Untuk daerah-daerah tertentu yang penyerapan air tanahnya cukup baik, dibuat bak penampungan air hujan, lalu diresapkan pada tanah gembur dengan dasar yang dibuat dari pasangan koral-koral dan ijuk. Peresapan air ini bertujuan agar air hujan yang datang tidak terbuang percuma ke selokan lingkungan, tetapi meresap sehingga tanah tersebut menjadi daerah yang mengandung banyak air, yang nantinya akan digunakan untuk kebutuhan air di daerah tersebut. Air hujan yang jatuh pada atap bangunan tinggi, perlu diadakan penyelesaian yang baik sehingga tidak terjadi kebocoran dan tumpahan yang tidak teratur. Pipa pembuangan/pipa vertikal dipasang pada shaft untuk air hujan yang dapat dibuang sejajar dengan pipa-pipa plambing lainnya. Pipa ini dipasang sesuai dengan luas atap yang menampuang air hujan tersebut.

SKEMA SISTEM PEMBUANGAN AIR HUJAN SUMBER : http:// arsitekistn.blogspot. com/2011/04/sistempembuangan-air-kotor. html

14

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

14

SISTEM PEMANFAATAN AIR HUJAN


Sistem Pemanfaatan Air Hujan Secara Langsung

Saat ini teknologi pemanfaatan air hujan secara langsung mulai banyak digunakan oleh masyarakat. Mulai dari sistem pengolahan sederhana untuk kebutuhan rumah tangga hingga pengolahan dengan menggunakan mesin untuk kebutuhan dalam skala besar. Dalam skala rumah tangga, air hujan dapat diolah dengan teknologi sederhana. Contohnya dengan menggunakan bak penampung air hujan untuk kebutuhan air sehari-hari.

SUMBER : http:// arsitekistn.blogspot. com/2011/04/sistempembuangan-air-kotor. html

SKEMA PENAMPUNGAN AIR HUJAN SUMBER : ArchSketch.(2012). Panduan Griya Sehat. Yogyakarta : Cahaya Atma Pustaka

SKEMA DISTRIBUSI AIR HUJAN MENUJU FIXTURE DALAM RUMAH SUMBER : ArchSketch.(2012). Panduan Griya Sehat. Yogyakarta : Cahaya Atma Pustaka

Dari skema diatas dapat dilihat bahwa air hujan dari talang langsung masuk ke dalam bak penampungan I, kemudian dilanjutkan ke bak penampungan air hujan bersih melalui pipa yang dilengkapi dengan penyaring seperti kasa agar kotoran dan binatang yang ikut terbawa air hujan tidak masuk kedalam bak. Air bersih dalam bak kemudian dinaikkan menggunakan pompa dan siap digunakan untuk mandi dan mencuci. Sedangkan, kelebihan air dalam bak akan disalurkan ke sumur resapan untuk diresapkan kembali ke dalam tanah. Tentunya bak penampungan ini akan lebih optimal saat musim hujan. Bak ini bisa berfungsi menggantikan sumur sebangai penyedia air bersih sehingga mengurangi konsumsi dalam penggunaan air tanah maupun bagi penggunaan air PAM. Dengan memperhatikan beberapa poin penting diatas
Sistem Pemanfaatan Air Hujan Secara Tidak Langsung

Pada dasarnya, tanpa disadari air hujan secara alami akan meresap kedalam tanah. Hal ini membuat tanah menjadi subur serta terisinya kesediaan air yang ada di dalam tanah yang selama ini kita gunakan secara terus-menerus. Namun, saat terdapat sebuah bangunan atau perkerasan yang menutupi bidang tanah, maka jumlah luasan resapan tanah menjadi berkurang. Secara desain, ada beberapa cara alami yang bisa dipakai untuk menyiasati agar tanah tetap bisa meresapkan air. Yaitu dengan membuat sumur resapan dan biopori.
1. SUMUR RESAPAN

Sumur resapan pada dasarnya adalah teknologi sederhana yang hampir selalu digunakan dalam perencanaan suatu bangunan. Sistem dari sumur resapan adalah lubang yang menyaring air sebelum air masuk ke dalam tanah. Di dalam sumur resapan terdapat ruang yang berisikan lapisan-lapisan penyaring. Biasanya berisikan batu kerikil kasar, batu kerikil halus, kemudian ijuk yang disusun berurutan dari kerikil halus berada paling atas hingga pasir pada bagian paling bawah. Jumlah susunan penyaring ini cukup sederhana saja mengingat pada dasarnya air hujan itu sendiri adalah air bersih.

15

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

15

PENGAPLIKASIAN SUMUR RESAPAN SUMBER : http://angankeyen.wordpress.com/2011/11/27/ proses-dan-cara-pengolahan-limbah-rumah-tangga-sanitasi/

Jumlah dan perletakan sumur resapan ini tidak memiliki ketentuan secara pasti, disesuaikan menurut desain dan kebutuhannya. Hanya saja biasanya, sumur resapan berada didekat talang tempat air hujan diturunkan serta di ujung dari jalur drainase air hujan. Ada pula sumur resapan sebagai penyaring dari air limbah yang masih bisa untuk diresapkan ke dalam tanah. Karena sistemnya berupa penyaring, maka pada waktu tertentu sumur resapan ini memerlukan perawatan berkala. Seperti halnya penggantian material penyaring, maupun sekedar pengecekan agar sirkulasi air pada sumur tetap lancar.
PENAMPANG SUMUR RESAPAN SUMBER : ArchSketch.(2012). Panduan Griya Sehat. Yogyakarta : Cahaya Atma Pustaka

1. BIOPORI

Metode ini dicetuskan oleh Dr. Kamir R. Brata, salah satu penelitian senior di IPB. Pada dasarnya, biopori memiliki sistem yang hambir sama dengan sumur resapan. Hanya saja biopori memiliki fungsi tambahan yakni dalam lubang biopori ini kita dapat menimbun sampah-sampah organik seperti guguran daun, kertas, dan sampah yang mudah hancur. Hasil dari proses penguraian ini berupa kompos yang siap pakai yang tentunya memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Prosesnya yaitu sampah-sampah tersebut akan memancing binatang-binatang penguraian di dalam tanah yang nantinya secara tidak langsung membuat pori-pori di dalam tanah. Pori-pori ini yang nantinya akan mempermudah tanah dalam penyerapan air.

16

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

16

PENAMPANG BIOPORI SUMBER : ArchSketch.(2012). Panduan Griya Sehat. Yogyakarta : Cahaya Atma Pustaka

Cara pembuatannya pun cukup mudah, lubang biopori ini dibuat dengan membuat lubang selebar 20 cm sedalam 50 cm 100 cm ke dalam tanah yang kemudian diberi penutup diatasnya. Sangat memungkinkan membuat lubang dengan jumlah yang banyak, disesuaikan dengan luasan tanah yang ada. Lubang biopori ini dapat ditempatkan pada banyak tempat seperti halnya di taman, area paving, bahkan pada saluran pembuangan air. Lubang biopori ini tidak memerlukan banyak perawatan, hanya saja pengecekan berkala berkaitan dengan umur sampah organik yang nantinya akan terrurai menjadi kompos. Selain oemanfaatan air hujan sebagai media penyediaan air untuk konsumsi rumah tangga, kita pun harus sadar akan jumlah air yang selalu kita pakai dan konsumsi setiap hari. Akan sangat baik jika pola hidup hemat bisa kita terapkan dalam pengunaan air, baik penggunaan air yang berasal dari sumur tanah maupun air PAM. 2.4.3.2. Menghitung Curah Hujan
Tabel Ukuran Pipia Vertikal/ Tegak untuk Menampung Air Hujan

RUMUS

Ch = L X R Ch = Curah hujan (liter/menit) L = Luas bidang atap yang terkena hujan M2 R = Hujan rata-rata (liter/menit) Di Indonesia berkisar 300-500 mm/m2/jam = 5 - 8,3 Menghitung jumlah pipa tegak : Pt = Ch : Vp Pt = Jumlah pipa tegak (unik) dibulatkan keatas Ch = Curah hujan (liter/menit) Vp = Volume pipa tegak yang dipakai (liter/menit) Dapat dilihat sesuai tabel 17
SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

17

CONTOH PERHITUNGAN VOLUME PIPA TEGAK AIR HUJAN

Luas atap (L) = 1200 M2 Hujan rata- rata di Indonesia = 300-500 mm/m2/jam =5 - 8,3 liter/menit Curah hujan (Ch) = 1200 M2 X 5 - 8,3 lt/menit = kisaran 6000 9960 liter/menit Luas atap 1200 m2 (lihat tabel, maka pipa yang paling efisien dengan kapasitas 1610 liter/menit) Jika curah hujan diasumsikan 8000, maka jumlah pipa tegak yang diperlukan : = 8000 : 1610 = 4,97 ~ 5 5 unit pipa tegak yang disebar merata 2.5 PERANGKAP DAN PENANGKAP (INTERSEPTOR)
PERANGKAP

-DEFINISI Merupakan bagian dari sistem pembuangan yang biasanya berbentuk huruf U yang akan menahan bagian terakhir dari air penggelontor, sehingga merupakan suatu penyekat/air penutup/water seal yang berfungsi mencegah masuknya gas-gas/bau dari instalasi pengolahan. - Jenis Jenis Perangkap Perangkapa alat plambing dapat dikelompokkan sebagai berikut : (a) Yang dipasang pada alat plambing (b) Yang dipasang pada pipa pembuangan (c) Yang menjadi satu dengan alat pelambing

A. Perangkap yang dipasang alat plambing

1. Perangkap jenis P Perangkap jenis ini bentuknya menyerupai huruf P dan banyak digunakan. perangkap jenis ini dapat diandalkan dan sangat stabil kalau dipasang pipa ven. 2. Perangkap jenis S Perangkap ini bentuknya menyerupai huruf S dan seringkali menimbulkan kesulitan akibat efek sifon. Di amerika serikat jenis ini dilarang dipasang . di jepang jenis ini banyak digunakan , terutama dalam hal dinding gedung tidak cukup tebal ; kalau digunakan perangkap jenis P , pipa pembuangan akan menembus ke dalam ruang sebelahnya .

B. perangkap yag dipasang pada pembuangan

3. perangkap jenis U Perangkap jenis ini bentuknya menyerupai huruf U dan dipasang pada pipa pembungan mendatar , umumnya untuk pembuangan air hujan . kelemahan jenis ini adalah karena dapat memberikan tambahan tahanan terhadap aliran . 18
SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

18

karena perangkap jenis P , S dan U tersebut di atas dibuat dengan membengkokkan pipa , seringkali disebut pula perangkap pipa . kelbihan diri yang cukup baik .

Perangkap ini merupakan bangian dari alat plambing itu sendiri , misalnya pada kleset duduk dan beberap jenis peturasan. Perangkap ini merupakan suatu bagian dari alat plambing itu sendiri , seperti terlihat pada gambar dibawah ( CONTOH PERANGKAP YANG DIGUNAKAN PADA PERALATAN SANITASI )

C .Perangkap yang mejadi satu dengan alat plambing

D. Bak perangkap
Jenis ini dipasang di luar gedung . bak ini berfungsi sebegai perangkap bila ujung pipa pembuangan terbenam dalam air di dalam bak tersebut. Kalau digunakan penutup yang berlubang gas yang berbau masih mungkin masuk dari riol gedung.

CONTOH PEMASANGAN PERANGKAP S SUMBER : buku Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plumbing Sofyan + Morimura

kalau digunakan penutup berlubang, terlihat pada gambar (CONTOH BAK PENAMPUNG BERPERANGKAP ) (a) gas yang berbau masih mungkin masuk riol gedung. untuk mencegah hal tersebut, sebaiknya digunakan cara seperti yang dinyatakan dalam gambar (b)

CONTOH PERANGKAP YANG DIGUNAKAN PADA PERALATAN SANITASI SUMBER : buku Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plumbing Sofyan + Morimura

CONTOH BAK PENAMPUNG BERPERANGKAP SUMBER : buku Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plumbing Sofyan + Morimura

(a) 19

(b)
SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

19

-Syarat-syarat Perangakap Kedalaman air penyekat berkisar antara 50 100 mm. Konstruksi perangkap harus sedemikian rupa sehingga tak terjadi pengendapan atau tertahannya kotoran dalam perangkap. Konstruksi perangkap harus sederhana sehingga mudah di pe rbaiki bila ada kerusakan dan dari bahan tak berkarat. Tidak ada bagian bergerak atau bersudut dalam perangkap yang dapat menghambat aliran air. PENANGKAP (INTERSEPTOR) 1.Tujuan Penangkap Air buangan yang keluar dari alat plambing mungkin mengandung bahan-bahan yang berbahaya, yang dapat menyumbat atau mempersempit penampang pipa, dapat mempengaruhi kemampuan instalasi pengolahan air buangan. Untuk mencegah masuknya bahan-bahan tersebut ke dalam pipa , perlu dipasang suatu penangkap (interceptor). Kadang-kadang air buangan dari proses masih mengandung bahan yang cukup berharga (misalnya, logam mulai) sehingga perlu dipasang penangkap untuk mengambil kembali bahan tersebut. -Syarat-syarat Penangakap - Penangkap yang sesuai harus dipasang sedekat mungkin dengan alat plambing yang di lainnya, dengan maksud agar pipa pembuangan yang mungkin mengalami gangguan sependek mungkin. Konstruksinya harus mudah dibersihkan, dilengkapi dengan tutup yang mudah dibuka dan letak dari penangkap dalam ruang sedemikian rupa sehingga sampah dari penangkap mudah dibuang keluar ruang. Konstruksi penangkap harus mampu secara efektif memisahkan minyak, lemak dan sebagainya dari air buangan.Konstruksi penangkap umumnya juga merupakan perangkap, karena itu bila telah dipasang penangkap dilarang memasang perangkap, sebab dapat terjadi perangkap ganda -Jenis Penangkap a. Penangkap Lemak Penangkap berfungsi untuk memisahkan minyak dan lemak yang ada dalam air buangan dari misalnya mesin pencuci piring, bak cuci dapur, saluran pembersih lantai dapur. Dahulu penangkap ini banyak dibuat dari konstruksi beton (termasuk dinding pemisahnya) dengan ukuran besar dan menjadi satu dengan lantai ruang dapur. Pada masa kini lebih banyak dibuat dari baja atau baja tahan karat dipasang pada lantai ruang dapur, atau digantung di bawah lantai (kalau masih ada ruangan di bawah lantai tersebut). Penangkap ukuran kecil, yang biasanya dibuat dari besi cor, pelat baja, atau pelat baja tahan karat, umumnya dipasang langsung di bawah bak pencuci piring atau alat plambing sejenis. Di dalam penangkap dibuat beberapa dinding pemisah untuk memperlambat aliran air buangan, untuk memperpanjang waktu retensinya (retention time), agar lemak sempat membeku dan terpisah dari air buangan. b. Penangkap Minyak Penangkap minyak biasanya dipasang misalnya di bengkel kendaraan, di mana berbagai cairan yang bisa terbakar (seperti bensin dan minyak) tercampur dalam air buangan dari lantai. Tutup penangkap sejenis ini harus rapat, dan disediakan pipa ven khusus, agar gas-gas yang timbul dan mudah terbakar dapat dikeluarkan dengan aman. c. Penangkap Pasir Pada beberapa tempat seringkali aie buangan mengandung pasir, lumpur, atau tanah, misalnya tempat cuci kaki dan mandi di pantai. Untuk mencegah masuknya pasir dsb ke dalam pipa air pembuangan, perlu dipasang alat penangkap pasir ini. Penangkap pasir sebaiknya dipasang pula pada saluran terbuka air hujan di luar gedung. 20
SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

20

Berbeda dengan penangkap lemak dan penangkap minyak yang memisahkan lemak/minyak denngan mengapungkan lemak/minyak tersebuat, penangkap pasir mengendapkan pasir, tanah dsb pada dasar bak penangkap. Dengan demikian akan jelas terlihat perbedaan pada letak lubang keluar air buangan dari bak penangkap tersebut. Penangkap jenis ini juga digunakan kalau air buangan mengandung bahan yang ingin digunakan kembali, misalnya serbuk gurinda, yang berat jenisnya lebih besar dari air. d. Penangkap Rambut Penangkap rambut dipasang di dekat bak cuci untuk salon kecantikan atau tempat pangkas rambut, yang akan memisahkan dan mencegah masuknya rambut ke dalam pipa pembuangan. Untuk ruang rias panggung pertunjukan, penangkap ini juga harus dapat menangkap lempung atau lemak bekas bahan perias yang biasanya dibuang ke dalam bak cuci. b. Penangkap Gips Bahan gips (plaster) biasanya digunakan dalam kamar operasi plastik, kamar operasi lainnya di rumah sakit, sebagai bahan pencetak atau pelindung/pengaman patah tulang. Bahan gips kalau tidak ditangkap dalam alat penangkap jenis ini akan masuk ke dalam pipa pembuangan dan kalau mengendap akan sulit membersihkannya dari dinding pipa. Pada tempat perawatan gigi selain menggunakan bahan gips, kadang-kadang potongan emas atau logam mulia lainnya sebagai pelapis gigi terjatuh ke dalam bak cuci, dengan menggunakan penangkap logam mulia tersebut dapat dikumpulkan kembali. c. Penangkap pada Tempat Cuci Pakaian Penangkap jenis ini biasanya dipasang pada sistem air buangan dari tempat cuci pakaian komersial, berfungsi untuk menangkap potongan kain, benang, kancing dsb agar tidak masuk dan menyumbat pipa pembuangan. Dalam bak penangkap dipasang suatu keranjang, terbuat dari saringan kawat, yang dapat diangkat untuk membuang kotoran tersebut di atas d. Penangkap Lainnya Ada jenis penangkap lainnya yang berfungsi untuk menagkap potongan gelas atau kaca dari air buangan misalnya pada mesin pengisian botol, tempat pembuatan/pemotongan gelas atau kaca. Juga ada pengangkap yang digunakan pada rumah pemotong hewan, yang berfungsi menangkap potongan sisa dading, bulu, kulit dsb yang mungkin terjatuh ke dalam saluran pembuangan. 2.5 LUBANG PEMBERSIH DAN BAK KONTROL LUBANG PEMBERSIH (a) Syarat dan pemasangan lubang pembersih Kotoran dan kerak akan mengendap pada dasar dinding pipa pembuangan setelah digunakan dalam jangka waktu lama. Di samping itu kadang-kadang ada juga benda-benda kecil yang sengaja ataupun tidak jatih dan masuk ke dalam pipa. Semuanya itu akan menyebabkan tersumbatnya pipa. Sehingga perlu dilakukan tindakan pengamanan dengan di pasangnya lubang pembersih untuk membersihkan pipa pembuangan gedung. - Lubang pembersih harus dipasang pada tempat yang mudah dicapai dan sekelilingnya cukup luas untuk orang melakukan pembersihan pipa. - Untuk pipa ukuran sampai 65mm jarak bebas sekelililng lubang pembersih sekurang-kurangnya 30cm, dan untuk ukuran pipa 75mm dan lebih besar jarak tersebut sekurang-kurangnya 45cm. (b)Lokasi Lubang Pembersih Lokasi Lubang Pembersih harus dipasang pada lokasi berikut ini : (1) Awal dari cabang mendatar atau pipa pembuangan gedung. (2) Pada pipa mendatar yang panjang (3) Pada tempat di mana pipa pembuangan membelok dengan sudut lebih dari 45.

21

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

21

(4) Baguian bawah dari pipa tegak atau didekatnya (lihat gambar disamping) Lebih baik lagi memasang lubang pembersih pada setiap 2 atau 3 lantai pada pipa tegak gedung bertingkat. (5) Dekat dengan sambungan antara pipa pembuangan gedung dengan roil gedung. (6) Pada beberapa tempat sepanjang pipa pembuangan yang ditanam dalam tanah. Disamping itu, lubang pembersih sebaiknya dipasang pula pada tempat-tempat yang dianggap perlu untuk memudahkan pembersihan.

CONTOH PEMASANGAN LUBANG PEMBERSIHAN PADA BAGIAN ATAS DARI PIPA TEGAK PEMBUANGAN SUMBER : buku Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plumbing Sofyan + Morimura

22

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

22

BEBERAPA CONTOH CARA PEMASANGAN INSTALASI PEMBERSIHAN UNTUK PIPA KURAS BAWAH TANAH SUMBER : buku Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plumbing Sofyan + Morimura

TABEL PERSYARATAN JARAK LUBANG PEMBERSIH

BAK KONTROL Bak control dipasang dimana pipa bawah tanah membelok tajam,berubah diameternya, bercabang atau pada lokasi-lokasi yang mirip penempatan lubang-lubang pembersih. Ukuran bak control harus sesuai ukuran pipa dan cukup besar untuk memudahkan pembersih. Pada dasar bak control untuk pembuanga air hujan dipasang tumpukan batu koral setebal 15cm atau lebih. Jarak Antara bak control sebaiknya tidak lebih dari 120 kali diameter-dalam pipanya.

23

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

23

PENUTUP
3.1. KESIMPULAN

Bab III

Setelah menyimak dan memahami uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa sistem plambing khususnya sistem pembuangan air buangan dan air hujan sangat penting keberadaannya. hal ini untuk mengantisipasi terjadinya pencemaran lingkungan akibat air buangan yang mengandung zat kimia yang beracun, yang berdampak besar terhadap kelangsungan hidup mahluk hidup sekitar. dengan adanya sistem pembuangan air buangan dan air hujan, air tersebut dapat dibuang ke tempat-tempat yang dikehendaki melalui suatu proses tertentu.
3.2. SARAN

Untuk menghindari terjadinya pencemaran lingkungan akibat air limbah/air kotoran , maka diperlukan perancangan yang baik pada sistem pembuangan air buangan yang dirancang secara terintegrasi. sistem yang dirancang harus mematuhi peraturan-peraturan mengenai standar-standar sitem plambing khususnya sistem pembuangan air.

24

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

24

DAFTAR PUSTAKA
http://angankeyen.wordpress.com/2011/11/27/proses-dan-cara-pengolahan-limbahrumah-tangga-sanitasi/ http://arsitekistn.blogspot.com/2011/04/sistem-pembuangan-air-kotor.html http://www.kelair.bppt.go.id/Sitpa/Artikel/Limbahrs/limbahrs.html Noerbambang, Soufyan M.(1991). Perancangan dan pemeliharaan sistem plambing. Jakarta : Pradnya Paramita ArchSketch.(2012). Panduan Griya Sehat. Yogyakarta : Cahaya Atma Pustaka Tangoro.Dwi.(1999). Utilitas Bangunan. Jakarta: Universitas Indonesia

25

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

25

BESERTA JAWABAN

daftar pertanyaan

1. NIM Penanya : 1019251039 Tolong berikan contoh bangunan di Bali yang sudah memakai system Pembuangan Khusus dan apakah air limbah yang sudah bercampur minyak dapat diolah dan dipakai kembali? Jelaskan! Jawaban : Contoh bangunan di Bali yang menggunakan system pembuangan limbah khusus atau grease trap sudah sangat banyak. Misalnya seperti rumah sakit dan restoran-restoran di Bali hampir seluruhnya sudah menggunakan system tersebut. Karena system pembuangan limbah khusus dan grease trap sangat penting dalam memisahkan bahan-bahan berbahaya hasil limbah rumah sakit dan campuran lemak pada limbah restoran agar tidak tercampur dengan saluran lain yang dapat mencemari lingkungan. Hasil limbah dari grease trap dapat digunakan kembali untuk menyiram tanaman dan lain-lain. 2. NIM Penanya : 1219251004 Sistem Septic tank apa yang cocok untuk rumah yang sempit ? Apakah septic tank yang digabung dengan beberapa rumah atau dipisah? Jelaskan! Jawaban : Untuk rumah yang sempit, septic tank masih bisa dipakai pada rumah itu sendiri tanpa memerlukan tambahan luasan lahan. Septic tank masih dapat dipasang langsung di bawah toilet/kamar mandi. Dengan demikian penggunaan septic tank masih tetap dapat dipakai tanpa memerlukan tambahan lahan ataupun digabung dengan bangunan lain. 3. NIM Penanya : 1219251001 Jika limbah seperti air kotor bahkan lumpur lama tidak disedot, kemana lumpur itu akan mengalir ? Lalu setiap berapa tahun sekali dilakukan pembersihan atau penyerapan air kotor/lumpur tersebut? Jawaban : Air limbah/lumpur dalam jangka waktu lama tidak disedot tentu saja akan menimbulkan permasalahan lingkungan. Bisa saja suatu saat lumpur tersebut dapat meluap keluar dan mengotori lingkungan. Dan biasanya oleh pemerintah kota penyedotan kotoran/air kotor dan air lumpur tersebut dilakukan setidaknya setiap setahun sekali. Namun kebijakan waktu penyedotan tersebut kembali lagi pada peraturan daerah masing-masing. 4. NIM Penanya : 1219251005 Pada system plambing perangkap jenis apa yang paling baik digunakan khususnya di Indonesia ? Jawaban : Perangkap yang paling baik dipakai akan tergantung dari kebutuhan dari system sanitair pada bangunan tersebut. Setiap jenis perangkap pula memiliki masing-masing fungsinya. Misalnya, pada wastafel dan sink di dapur jenis perangkap yang baik dipakai adalah perangkap jenis P karena bentuknya yang sesuai dengan arah saluran dari wastafel dan sink.

26

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

26

5. NIM Penanya : 1019251021 Sumur Resapan umumnya memerlukan luasan yang lebar, apakah ada jenis dari sumur resapan yang lebih kecil agar dapat diaplikasikan pada rumah yang luasannya sempit? Jelaskan! Jawaban : Selain sumur resapan, ada sebuah system resapan yang cara kerjanya sama dengan sumur resapan dan bahkan bisa terbilang lebih baik yaitu biopori. Biopori dapat digunakan sebagai alternative dari sumur resapan karena tidak memerlukan ukuran yang lebih besar disbanding sumur resapan. Biopori juga ramah lingkungan karena menggunakan fauna dan akar tanaman dalam tanah yang berperan memberikan rongga-rongga resapan. 6. NIM Penanya : 1219251003 Resapan pada setiap daerah berbeda-beda, misal pada daerah bukit yang tanahnya berkapur, system resapan apakah yang cocok digunakan pada daerah tersebut? Jawaban : Setiap daerah memang memiliki system resapannya masing-masing sesuai kebutuhan dan kondisi dari wilayah tempat bangunan tersebut berdiri. Namun umumnya penggunaan septic tank sudah cukup baik dalam melakukan penyerapan air kotor yang sudah dipisahkan dengan kotoran/lumpur. Terkadang ada beberapa septic tank yang memiliki system resapan tersendiri. Sistem peresapan tersebut mengandalkan media tanah pada lingkungan bangunan untuk peresapannya. Air yang sudah dipisahkan dengan kotoran akan dibawa oleh saluran-saluran kecil menuju tanah. Umumnya tanah berkapur dapat diaplikasian system septic tank seperti ini.

27

SISTEM PLAMBING (SISTEM PEMBUANGAN AIR BUANGAN DAN AIR HUJAN)

27