Anda di halaman 1dari 26

MUH.

FURQON FAHLULY G 501 08 049

PEMBIMBING KLINIK dr. KARTIN AKUNE, Sp. A

Leukemia (kanker darah) adalah jenis penyakit kanker yang menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone marrow). Istilah leukemia pertama kali dijelaskan oleh Virchow sebagai darah putih pada tahun 1874, adalah penyakit neoplastik yang ditandai dengan diferensiasi dan proliferasi sel induk hematopoetik. Leukemia adalah suatu keganasan yang berasal dari perubahan genetik pada satu atau banyak sel di sumsum tulang. Pertumbuhan dari sel yang normal akan tertekan pada waktu sel leukemia bertambah banyak sehingga akan menimbulkan gejala klinis.

Type sel darah :

- sel darah putih : berfungsi sebagai daya tahan tubuh melawan infeksi - sel darah merah : berfungsi membawa oxigen kedalam tubuh - platelet : bagian kecil sel darah yang membantu proses pembekuan darah

Leukemia akut cepat, mematikan, dan memburuk Leukemia kronis tidak begitu cepat, harapan hidup

lebih lama

Berdasarkan jenis sel : Leukemia limfositik akut (LLA)

paling sering terjadi pada anak-anak. pada dewasa (65 tahun). Leukemia mielositik akut (LMA) sering terjadi pada dewasa daripada anak-anak. Leukemia limfositik kronis (LLK) sering diderita oleh orang dewasa (> 55 tahun.), dewasa muda, dan hampir tidak ada pada anak-anak. Leukemia mielositik kronis (LMK) sering terjadi pada orang dewasa., anak-anak.

Keganasan atau maligna yang muncul dari perbanyakan klonal sel-sel pembentuk sel darah yang tidak terkontrol. Mekanisme kontrol seluler normal mungkin tidak bekerja dengan baik akibat adanya perubahan pada kode genetik yang seharusnya bertanggung jawab atas pengaturan pertubuhan sel dan diferensiasi.

Sel-sel leukemia menjalani waktu daur

ulang yang lebih lambat dibandingkan sel normal. Proses pematangan atau maturasi berjalan tidak lengkap dan bertahan hidup lebih lama dibandingkan sel sejenis yang normal

Radiasi Leukemogenik Herediter Virus

Pucat

Penurunan berat badan


Kelelahan Palpitasi Dyspnea Perdarahan

Gejala lain : demam, memar, nyeri tulang,

kejang, sakit kepala, dan diplopia Splenomegali, hematologi, limfadenopati.

Diagnosa umum Leukemia dapat dipastikan dengan beberapa pemeriksaan : Biopsy Pemeriksaan darah CT or CAT scan Magnetic Resonance Imaging (MRI) X-ray USG

Terapi non farmakologi : HSCT (transplantasi stem cell) a. Autologous : ekstraksi HSC dari pasien dan penyimpanan sel ke dalam freezer kemoterapi dosis tinggi dengan atau tanpa radioterapi Stem cell dikembalikan ke dalam tubuh pasien memperbaiki jaringan yang rusak dan mengembalikan produksi sel darah menjadi normal kembali. b. Allogenic transplantasi stem cell dari pasien donor (sehat) ke pasien resipien (sakit). Syarat pendonor adalah memiliki tipe jaringan (HLA) yang cocok dengan resipien. Sumber stem cell dapat diambil dari umbilical cord blood.

Fase remisi Tujuan : membunuh sel-sel tumor dan menghasilkan perbaikan klinis dan hematologi secara cepat. Anak-anak : vinkristin, deksametason atau prednisone, dan asparaginase atau pegasparase, LLA yang berisiko tinggi, ditambahkan antrasiklin. Terapi profilaksis Kemoterapi intratekal, irradiasi cranial, dan metotreksat atau sitarabin i.v. dosis tinggi dapat mengatasi dan mencegah penyakit SSP.

Fase konsolidasi Tujuan : menghilangkan penyakit yang tidak terdeteksi agar kondisi pasien tetap baik, terutama untuk anak-anak. Pengobatannya meliputi vinkristin, merkaptopurin, dan metotreksat intratekal.
Fase intensifikasi tertunda/pemeliharaan sementara Tujuan : untuk menjaga perbaikan kondisi dan menurunkan tokisitas kumulatif. Pengobatan : deksametason, vinkristin, doksorubisin, pegaspargase, siklofosfamid, tiguanin atau merkaptopurin, sitarabin dosis rendah, dan metotreksat intratekal. Sedangkan untuk fase pemeliharaan sementara meliputi deksametason, vinkristin, metotreksat tiap minggu, merkaptopurin, dan metotreksat intratekal.

Terapi remisi Diberikan sitarabin dengan dosis 100-200 mg/m2 infus secara kontinyu selama 7 hari ditambah dengan antrasiklin (idarubisin atau daunorubisin) selama 3 hari (regimen 7+3). Untuk regimen ini membutuhkan 2 siklus.

Terapi suportif Transfusi darah untuk pasien dengan Hb 8 mg/dL atau dengan gejala anemia atau platelet <10.000/mcL atau adanya tanda-tanda perdarahan. Pemberian produk darah yang telah diradiasi untuk pasien yang menerima terapi imunosupresif (fludarabin, HSCT).
Berhasilnya terapi ditunjukkan dengan tercapainya respon komplit yang ditandai dengan: jumlah netrofil absolut >1000/mcL platelet 100.000/mcL tidak ada penyakit ekstramedula respon morfologi-pasien bebas dari transfusi darah respon sitogenetik-sitogenetik normal respon molekuler-tidak adanya mutasi Jika respon komplit tidak tercapai, maka dipertimbangkan dilakukan HSCT atau terapi suportif.

Terapi konsolidasi (postremission) Terapi ini dilakukan setelah respon komplit telah tercapai. Sitarabin dosis tinggi pada terapi induksi selama 3 jam tiap 12 jam pada hari ke-1, 3, 5 selama 4 kali.

Fase pemeliharaan Tujuan : untuk menghilangkan sisa-sisa sel leukemia dan memperpanjang durasi kesembuhan. Pengobatannya terdiri dari metotreksat dan merkaptopurin oral, dengan atau tanpa vinkristin dan kortikosteroid tiap bulan.

Kemoterapi Terapi awal : agen pengkhelat (klorambusil dan siklofosfamid) atau analog purin, (fludarabine.) Kombinasi klorambusil-siklofosfamid berefek lebih tinggi dibandingkan penggunaan tunggal. Selain itu, dapat digunakan alemtuzumab yang lebih banyak digunakan pada pasien yang memiliki resiko yang tinggi.

Kambuh : kombinasi obat, seperti fludarabine

dengan siklofosfamid/epirubicin.

Dapat

juga dapat digunakan metilprednisolon dosis tinggi (1 g/m2 i.v./p.o. per hari selama 5 hari tiap bulan) selama 12 bulan. Obat ini kontraindikasi pada pasien dengan tukak peptik dan diberikan secara hati-hati pada pasien DM atau gagal jantung.

Radioterapi

Irradiasi splenic untuk mengurangi ukuran splenic dan meringankan nyeri abdominal.
Pembedahan (splenektomi)

untuk pasien dengan splenomegali masif yang menunjukkan gejala, ataupun refractory cytopenia (karena autoimun atau hipersplenism). Respon : pengurangan gejala karena spenomegali, dan perbaikan cytopenia.

Transplantasi stem cell transplantasi allogeneic

karena kurang beresponnya kemoterapi yang diberikan (telah mengalami resistensi). Biasanya pada pasien anak-anak dengan LLK yang terus memburuk. transplantasi autologous pada pasien yang menunjukkan remisi yang komplit atau parsial yang baik dengan kemoterapi dosis tinggi dan irradiasi total.

Kemoterapi (lini pertama ) : Imatinib mesilat. Jika berhasil dilanjutkan selama pasien berespon. Jika gagal atau penyakit bertambah buruk, alternatif terapi : transplantasi stem cell allogeneic meningkatkan dosis imatinib mesilat hingga 800 mg/hari pertimbangkan penggunaan terapi lini kedua, seperti dasatinib (70 mg 2x sehari), ilotinib (400-600 mg 2x sehari), ataupun interferon-alfa

Monitoring sewaktu terapi Pemeriksaan fisik harian Complete blood count Biopsi sumsum tulang dan aspirasi setelah 7-10 pengobatan kemoterapi. Diulang setelah pemulihan hematologik untuk mendokumentasi respon komplit Koagulasi (PT,PPT,Ddimers, fibrinogen [jika APL]) Kurva suhu

Monitoring setelah terapi Pemeriksaan fisik rutin setiap lawatan klinik Complete blood count Biopsi sumsum tulang dan aspirasi pada interval yang ditentukan untuk mengevaluasi pengobatan yang diterima, dan, jika peripheral blood count abnormal, atau, jika pasien tidak pulih 5 minggu setelah terapi

Angka ketahanan hidup rata-rata adalah sekitar 6

tahun dan 25% pasien dapat hidup lebih dari 10 tahun. Pasien dengan stadium 0 atau 1 dapat bertahan hidup rata-rata 10 tahun. Sedangkan pada pasien dengan stadium III atau IV rata-rata dapat bertahan hidup kurang dari 2 tahun.(2)