Anda di halaman 1dari 3

Hasil Diskusi : 1.

Peranan daur karbon bagi kelangsungan makhluk hidup dalam ekosistem Penjelasan : Daur Karbon merupakan salah satu siklus biogeokimia dimana terjadi pertukaran/ perpindahan karbon antara bidang-bidang biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer. Biogeokimia adalah pertukaran atau perubahan yang terus menerus, antara komponen biosfer yang hidup dan tak hidup. Di daerah perairan : karbon yang ada diudara diserap oleh organisme fotoautotrof (tumbuhan, ganggang, dll yang dapat melakukan fotosintesis). Organisme tersebut menyerap karbon digunakan untuk proses fotosintesis yang dapat membangun sel-sel tumbuhan. Organisme fotoautotrof didalam laut mengalami proses pembusukan sehingga mengalami penguraian yang mengeluarkan zat karbon yaitu CO2 ke udara. Cangkang yang ada dilaut juga berperan dalam proses daur karbon, cangkang yang dimiliki makhluk hidup dilaut mengandung kalsium bikarbonat, yang jika mati akan terurai dan menghasilkan karbon yang akan kembali ke atmosfer atau udara. Selain itu, laut berpotensi menyerap CO2 lebih tinggi disbanding hutan. Melalui berbagai organisme laut yang melimpah seperti terumbu karang, hutan bakau dan padang lamun serta biota kecil seperti plankton atau mikro alga, ekosistem laut menyerap CO2 dari atmosfer dalam jumlah yang sangat besar. Plankton dapat menyerap CO2 melalui proses asimilasi, dan fotosintesa. Demikian pula, karang yang hidup di dalam cangkang karang, akan bersimbiosis dengan algae hijau untuk menyerap CO2. Cuma bedanya CO2 dalam karang didepositkan sendiri menjadi karang keras atau CaCO3. Proses pelepasan kembali CO2 ke udara, bisa melalui dua cara, yaitu proses respirasi (pernapasan) yang berlangsung terus menerus. Selain itu, melalui karang yang mendepositkan CO2 dalam bentuk sel, atau lainnya. Proses pelepasan CO2 dari karang biasanya sangat lambat. Di daerah daratan : proses pengubahan CO2 dilakukan oleh tumbuhan darat, manusia, dan hewan yang ada didaratan. Tumbuhan menyerap CO2 yang ada diudara untuk proses fotosintesis, proses fotosintesis tumbuhan menghasilkan karbohidrat dan membentuk selsel jaringan yang dapat membentuk daun, batang, bunga dll. Daun yang terbentuk akan

gugur ke tanah dan terurai dan para detrivor (pembusuk) akan melepaskan CO2 yang terkandung dalam daun ke udara melalui proses pembusukan. Hal ini sama dengan yang terjadi pada jasad hewan. Jasad hewan akan tertimbun tanah dan menjadi fosil. Fosil kemudian diuraikan oleh bakteri pengurai dan karbon yang terdapat pada fosil-fosil tersebut akan kembali lagi ke udara. Selain menyerap CO2 tumbuhan juga mengeluarkan oksigen yang nantinya akan diserap oleh manusia dan hewan yang ada dibumi untuk bernafas. Respirasi yang terjadi juga akan mengeluarkan karbon yaitu CO2 saat pernafasan. Manusia juga tidak kalah peran dalam proses ini. Hasil segala pembakaran, mulai dari pembakaran sampah, pembakaran bahan bakar minyak di dalam kendaraan bermotor, asap pabrik, dan lain-lain juga melepaskan CO2 ke udara. CO2 di udara nantinya akan ditangkap oleh tumbuhan lagi dan siklus mulai dari awal lagi.

2. Emisi Karbon Emisi (buangan) gas karbon adalah gas-gas yang dkeluarkan dari hasil pembakaran senyawa yang mengandung karbon, contoh CO2, merupakan gas buang dari pembakaran bensin, solar, kayu, daun, gas LPG (elpiji) dan bahan bakar lain yang banyak mengandung hidro karbon (senyawa yang mengandung hidrogen dan karbon). Contoh lain, CFC (Chlor Fluoro Karbon) dari gas pendingin (gas Freon) pada AC, kulkas, cat piloks, obat nyamuk semprot, hair spray semprot, dll. Bisa juga emisi karbon berupa atom karbon (C) yang terlepas ke udara saat terjadi peristiwa pembakaran seperti jelaga, butiran-butiran karbon yang berwarna hitam saat kita menyulut ban bekas, membakar aspal, membakar lilin, dll. Tetapi ini bentuknya padat, bukan gas. Emisi karbon adalah salah satu penyebab utama pemanasan global yang menimbulkan efek perubahan iklim. Jenis gas rumah kaca yang memberikan sumbangan paling besar bagi emisi gas rumah kaca adalah karbondioksida, metana, dan dinitro oksida. Sebagian besar dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) di sektor energi dan transportasi Selain itu, adanya pembalakan liar mengakibatkan hutan kita luasnya banyak berkurang. Sementara, untuk gas rumah kaca lainnya hanya menyumbang emisi kurang dari 1%. Karbondioksida menyumbang 75% emisi gas rumah kaca, sehingga dapat

disimpulkan bahwa konsentrasi gas rumah kaca dapat meningkat drastis akibat emisi karbondioksida dan gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh berbagai aktivitas manusia di muka bumi ini. Secara global, 25% atau seperempat dari seluruh emisi karbondioksida dunia berasal dari masalah-masalah kehutanan, sedangkan sisanya dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, yaitu minyak bumi dan batu bara. Pembakaran bahan bakar fosil ini bersumber dari:

36% dari industri energi (pembangkit listrik/kilang minyak dan industri lain) 27% dari sektor transportasi 21% dari sektor industri 15% dari sektor rumah tangga & jasa 1% dari sektor lain-lain.