Anda di halaman 1dari 37

PENANGANAN MEDIKAMENTOSA PADA ENDOMETRIOSIS

PEMBIMBING : Dr. Batara Sirait, SpOG

Oleh : Maria Octaviany Gabur (05-109)

ENDOMETRIOSIS
DEFINISI Jar endometrium yg masih berfungsi terdapat di luar kavum uteri. Kelenjar dan stroma endometrium berada di luar lokasi normal. Terkait dengan hormonal, sering ditemukan pada wanita usia reproduksi.

Epidemiologi
Paling sering terjadi pada usia reproduksi. Prevalensinya pada kelompok tertentu cukup tinggi.

Pada wanita yang dilakukan laparoskopi diagnostik,

ditemukan endometriosis 10-53% Wanita dgn infertilitas yg belum diketahui penyebabnya ditemukan endometriosis 70-80% Wanita dengan infertilitas primer ditemukan endometriosis 25%. Meskipun endometriosis dikatakan penyakit wanita reproduktif, namun telah ditemukan pula endometriosis pada usia remaja dan pascamenopause.

Lokasi Endometriosis
1. 2. 3.

4.
5. 6. 7. 8. 9.

10.
11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20.

Ovarium Cavum Douglassi Lig. Sacrouterina Lig. Latum Tuba falopii Plica vesicouterina Lig. Rotundum appendiks vagina septum rectovagina colon rectosigmoid caecum ileum Kanalis inguinalis Jar. Parut abdomen Ureter Vesica urinaria Umbilikus Vulva Tempat yang jauh

Etiologi
Teori Retrograde menstruation Oleh Sampson (1920) Implantasi sel endometrium oleh regurgitasi darah haid tuba menyebar ke dalam rongga peritoneum.

Teori Metaplasia Selom Oleh Robert Meyer Transformasi (metaplasia) epitel selom ke jaringan endometrium Ovarium dan bentuk awal dari endometrium yaitu tuba Muller berasal dari epitel selom tjdi rangsangan pada sel epitel transformasi metaplastik dan terjadi perkembangan endometriosis ovarium. Teori ini masih ditentang. Teori Limfogen dan Hematogen Menjelaskan adanya endometriosis di organ yang jauh.

Faktor resiko
1. Faktor genetik
warisan poligenik multifaktorial

2. Mutasi genetik
kromosom 10q26 kromosom 20p13.

3. Defek anatomi 4. Faktor imunologi dan inflamasi


kekebalan sel sel endometrium di rongga panggul.

Klasifikasi Endometriosis
Pada tahun 1997, American Society for

Reproductive Medicine (ASRM), mbagi endometriosis menjadi 4 stadium yi : stadium I (minimal), stadium II (ringan), stadium III (sedang), dan stadium IV (berat).

Gambaran Klinik
1.

Nyeri
keluhan bervariasi, siklik atau kronis Disebabkan sitokin pro inflamasi &

prostaglandin dirilis oleh endometriosis ke dalam cairan peritoneal rasa sakit dari endometriosis berkorelasi dengan kedalaman invasi

2.

Dismenorhea

Insidens 40-60%. 69.9% wanita yang mengalami nyeri pelvis stlh laparaskopi ditemukan endometriosis. Berlangsung dari sebelum haid dimulai selama haid

3.

Dispareunia Berkaitan dengan septum rektovaginal atau penyakit ligamen uterosakral. Selama coitus, ketegangan pada ligamen uterosakral mungkin menjadi pemicu nyeri. Disuria Jarang dikeluhkan. Keluhan : sakit ketika berkemih, frekuensi kencing siklik, dan tidak dapat menahan untuk berkemih. Bisa dicurigai jika gejala ini bersamaan dengan kultur urin negatif.

4.

5.

Dischezia Jika tjd implan endometriotik pada rectosigmoid


Infertilitas Akibat dari adhesi yang disebabkan oleh endometriosis dan

6.

Diagnosis
1. Anamnesis 2. Pemeriksaan visual

3. Pemeriksaan Speculum dan Bimanual


4. Pemeriksaan laboratorium (CA-125)

5. Imaging diagnostics
Sonography MRI

Endometrioma pd ovarium Diameter 19 x28mm Jar ovarium terlihat pd bag atas dan bag kiri lesi.

Diagnostik Laparoskopi

Kista coklat

Penanganan

1. Expectant Management
Pada pasien tanpa gejala, mereka dengan rasa tidak

nyaman ringan, atau wanita dengan endometriosis minimal atau ringan, manajemen ini mungkin sesuai.
Kehamilan adalah cara pencegahan yang paling baik

untuk endometriosis. Gejala , bahkan menghilang pada waktu dan sesudah kehamilan karena regresi endometrium dalam sarang sarang endometriosis.

2. Medikamentosa
A. NonSteroidal Anti-Inflamatory Drugs Menghambat COX-1 & COX-2. COX-2 inh secara selektif hambat COX-2. Harus digunakan dengan dosis serendah mungkin dan untuk jangka waktu terpendek yang diperlukan.

Williams

B. Terapi Hormonal
1.

Kontrasepsi oral kombinasi (Estrogen & Progestin)

Bagi pasien dengan gejala minimal/ringan.


Sekresi gonadotropin dihambat Menekan sekresi LH

dan FSH Obat ini bekerja dengan menghambat pelepasan gonadotropin, mengurangi aliran menstruasi, dan decidualizing implant. Selama 6-12 bulan

2. Progestin Merupakan agen Progestational Efektif, murah, efek samping lebih ringan. Mekanisme kerja = OCP sebabkan desidualisasi dlm jaringan endometriosis. Progestin dapat menghasilkan efek anti-endometriotic dengan menyebabkan desidualisasi awal jaringan endometrium diikuti atrofi. Progestin oral, asetat depot medroksiprogesteron (DMPA), levonorgestrel-releasing (IUD), dan progesteron-reseptor modulator (SPRMs).

3. Danazol
Danazol adalah turunan testosteron etinil 17-alpha

dengan efek progestinlike. Menghambat pelepasan gonadotropin menghambat lonjakan siklus LH dan FSH Di hati, sintesis SHBG terjadi kadar testoteron bebas jaringan endometrium dan lesi endometriosis menjadi atrofi. Menghambat enzim steroidogenik di ovarium lingkungan tinggi androgen, rendah estrogen. Menekan aktivitas makrofag rasa nyeri berkurang.

Diberikan pada awal siklus haid

Selama 3-6 bulan.


Dosis : 400 - 800 mg / hari dalam dosis terbagi selama 6

bulan.
Efek samping mirip dengan yang disebabkan testoteron. Efek samping yang paling sering adalah akne, kulit

berminyak, BB , edema, dan gangguan libido, perubahan pada suara (spt suara laki-laki).

4. GnRH Agonis
Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) agonis adalah

analog dari GnRH peptida 10-asam amino-peptida. agonis GnRH menduduki reseptor di hipofisis anterior sensitifitas hipofisis thd rangsangan agonis GnRH sekresi LH-FSH prod E & P ovarium kondisi kekurangan estrogen dan amenore menghilangkan semua kemungkinan pertumbuhan baru endometriosis). Efek samping : densitas tulang menurun, kekeringan vagina, dan perubahan mood.

Add Back Therapy


Suatu agonis GnRH

dapat digunakan lebih lama dgn add back therapy dalam bentuk asetat norethindrone, 5 mg po tiap hari. Sbg penghilang rasa sakit dan memelihara kepadatan tulang. Estrogen dalam bentuk COCs dapat ditambahkan ke terapi GnRH agonis untuk menangkal keroposnya

5. Aromatase Inhibitor
Aromatase, enzim yang mengubah androgen ke

estrogen. Anastrozole 1 mg per hari atau letrozole 2,5 mg per Lesi Endometriosis mungkin berisi aromatase dan kekurangan enzim yang mendegradasi estrogen lingkungan kaya mikro estrogen.

3. Pembedahan
Tujuan : mengeluarkan semua lesi endometriotik

yang terlihat, merilis perlengketan, dan mengembalikan anatomi normal. Pembedahan ini berusaha untuk mengeluarkan atau menghancurkan semua jaringan endometriosis, menghilangkan semua adhesi, dan mengembalikan anatomi panggul pada kondisi terbaik.

a. Laparoskopi
Gold standar diagnosis sekaligus dapat

menangani masalah endometriosis. Efektif, pasien dirawat lebih singkat, biaya murah, tingkat morbiditas rendah. Adhesiolysis sebaiknya dengan laparoskopi.

b. Adhesiolisis.
..\..\..\..\..\Downloads\Laparoscopic

Adhesiolysis.flv

c. Presakral Neurectomy (PSN) Bagi beberapa wanita, transeksi saraf presacral yang berada dalam segitiga interiliac dapat menghilangkan nyeri panggul kronis. rasa sakit secara signifikan akan lebih berkurang pada 12 bulan pasca operasi pada wanita yang diterapi dengan PSN dan eksisi endometriosis (86 %) dibandingkan dengan eksisi endometriosis saja (57 %)

d. Pendekatan Histerektomi dan Ooforektomi Merupakan terapi definitif dan paling efektif untuk wanita dengan endometriosis yang tidak ingin mempertahankan fungsi reproduksi mereka. Histerektomi tanpa ooforektomi bilateral risiko 6x lipat CPP dan risiko 8x lipat membutuhkan operasi tambahan

DAFTAR PUSTAKA
1.

Carr,Bruce. William's Gynecology; Benign General Gynecology : Endometriosis. 22nd Edition. McGraw-Hill Companies. Dallas. 2008 Cunningham, G. Leveno, K. Bloom, S. Hauth, J. Rouse, D. Spong, C. Williams Obstetry : Maternal Anatomy. 23rd Edition. McGraw-Hill Companies. Dallas. 2010 DHooghe, T. Hill, J. Berek & Novaks Gynecology; Reproductive Endocrinology : Endometriosis. 14th Edition. Lippincott Williams & Wilkins. Baltimore. 2007. Curtis, M. Overholt, S. Hopkins, M. Glass Office Gynecology : Endometriosis. 6th Edition. Lippincott Williams & Wilkins. Baltimore. 2006. Muse, K. Sarajari, S. Current Diagnosis & Treatment Obstetrics & Gynecology. 10th Edition. McGraw-Hill Companies. Dallas. 2007 Prabowo, R.P. Ilmu Kandungan : Endmetriosis. Edisi 2. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. 2008.

2.

3.

4.

5.

6.